Berbuat Baik dalam Muamalah
ٱلْبَابُ الرَّابِعُ فِي ٱلْإِحْسَانِ فِي ٱلْمُعَامَلَةِ
Bab keempat tentang berbuat baik dalam bermuamalah.
وَقَدْ
أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ جَمِيعًا، وَٱلْعَدْلُ سَبَبُ
ٱلنَّجَاةِ فَقَطْ، وَهُوَ يَجْرِي مِنَ ٱلتِّجَارَةِ مَجْرَىٰ رَأْسِ ٱلْمَالِ.
Dan Allah Ta'ala telah memerintahkan keadilan dan kebaikan
sekaligus. Keadilan hanyalah sebab keselamatan. Ia dalam perdagangan laksana
modal pokok.
وَٱلْإِحْسَانُ
سَبَبُ ٱلْفَوْزِ وَنَيْلِ ٱلسَّعَادَةِ، وَهُوَ يَجْرِي مِنَ ٱلتِّجَارَةِ
مَجْرَى ٱلرِّبْحِ.
Dan ihsan adalah sebab kemenangan dan perolehan kebahagiaan.
Ia dalam perdagangan laksana laba.
وَلَا
يُعَدُّ مِنَ ٱلْغُفَلَاءِ مَنْ قَنَعَ فِي مُعَامَلَاتِ ٱلدُّنْيَا بِرَأْسِ
مَالِهِ، فَكَذَٰلِكَ فِي مُعَامَلَاتِ ٱلْآخِرَةِ.
Orang yang puas dalam urusan dunia dengan modalnya tidaklah
dianggap lalai; demikian pula dalam urusan akhirat.
فَلَا
يَنْبَغِي لِلْمُتَدَيِّنِ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى ٱلْعَدْلِ وَٱجْتِنَابِ
ٱلظُّلْمِ، وَيَدَعَ أَبْوَابَ ٱلْإِحْسَانِ.
Maka tidak patut bagi orang yang beragama untuk hanya
berhenti pada keadilan dan menjauhi kezaliman, lalu meninggalkan pintu-pintu
kebaikan.
وَقَدْ
قَالَ اللَّهُ: وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ.
Dan Allah telah berfirman: “Berbuatlah baik sebagaimana
Allah telah berbuat baik kepadamu.”
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ.
Dan Dia Yang Mahamulia lagi Mahaagung berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan.”
وَقَالَ
سُبْحَانَهُ: إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ ٱلْمُحْسِنِينَ.
Dan Dia Mahasuci berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah dekat
dengan orang-orang yang berbuat ihsan.”
وَنَعْنِي
بِٱلْإِحْسَانِ فِعْلَ مَا يَنْتَفِعُ بِهِ ٱلْمُعَامِلُ، وَهُوَ غَيْرُ وَاجِبٍ
عَلَيْهِ، وَلَٰكِنَّهُ تَفَضُّلٌ مِنْهُ.
Yang kami maksud dengan ihsan ialah melakukan sesuatu yang
memberi manfaat kepada pihak yang bertransaksi, padahal itu tidak wajib atas
dirinya; tetapi itu merupakan kemurahan darinya.
فَإِنَّ
ٱلْوَاجِبَ يَدْخُلُ فِي بَابِ ٱلْعَدْلِ وَتَرْكِ ٱلظُّلْمِ، وَقَدْ ذَكَرْنَاهُ.
Karena yang wajib masuk dalam bab keadilan dan meninggalkan
kezaliman, sebagaimana telah kami sebutkan.
وَتَنَالُ
رُتْبَةَ ٱلْإِحْسَانِ بِوَاحِدٍ مِنْ سِتَّةِ أُمُورٍ.
Dan derajat ihsan dapat diraih dengan satu dari enam
perkara.
ٱلْأَوَّلُ
فِي ٱلْمُغَابَنَةِ، فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَغْبِنَ صَاحِبَهُ بِمَا لَا
يَتَغَابَنُ بِهِ فِي ٱلْعَادَةِ.
Yang pertama ialah dalam masalah tawar-menawar. Hendaknya ia
tidak mengambil untung dari temannya dengan cara yang dalam kebiasaan tidak
dianggap saling mengambil untung.
فَأَمَّا
أَصْلُ ٱلْمُغَابَنَةِ فَمَأْذُونٌ فِيهِ، لِأَنَّ ٱلْبَيْعَ لِلرِّبْحِ، وَلَا
يُمْكِنُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِغَبْنٍ مَا.
Adapun dasar tawar-menawar itu memang diizinkan, karena jual
beli bertujuan untuk laba, dan itu tidak mungkin kecuali dengan sedikit selisih
untung.
وَلَٰكِنْ
يُرَاعَى فِيهِ ٱلتَّقْرِيبُ.
Tetapi di dalamnya harus diperhatikan kewajaran dan
kedekatan pada kebiasaan.
فَإِنْ
بَذَلَ ٱلْمُشْتَرِي زِيَادَةً عَلَى ٱلرِّبْحِ ٱلْمُعْتَادِ إِمَّا لِشِدَّةِ
رَغْبَتِهِ أَوْ لِشِدَّةِ حَاجَتِهِ إِلَيْهِ فِي ٱلْحَالِ، فَيَنْبَغِي أَنْ
يَمْتَنِعَ مِنْ قَبُولِهِ.
Jika pembeli menawarkan tambahan di atas laba yang biasa,
baik karena sangat menginginkannya atau karena sangat membutuhkannya saat itu,
maka sepatutnya ia menahan diri untuk tidak menerimanya.
فَذَٰلِكَ
مِنَ ٱلْإِحْسَانِ.
Itulah bagian dari ihsan.
وَمَهْمَا
لَمْ يَكُنْ تَلْبِيسٌ لَمْ يَكُنْ أَخْذُ ٱلزِّيَادَةِ ظُلْمًا.
Selama tidak ada penipuan, mengambil tambahan itu tidaklah
menjadi kezaliman.
وَقَدْ
ذَهَبَ بَعْضُ ٱلْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ ٱلْغَبْنَ بِمَا يَزِيدُ عَلَى ٱلثُّلُثِ
يُوجِبُ ٱلْخِيَارَ، وَلَسْنَا نَرَى ذَٰلِكَ.
Sebagian ulama berpendapat bahwa selisih untung yang
melebihi sepertiga mewajibkan adanya hak memilih untuk membatalkan transaksi,
tetapi kami tidak berpendapat demikian.
وَلَٰكِنْ
مِنَ ٱلْإِحْسَانِ أَنْ يُحَطَّ ذَٰلِكَ ٱلْغَبْنُ.
Tetapi termasuk ihsan ialah mengurangi selisih untung itu.
يُرْوَى
أَنَّهُ كَانَ عِنْدَ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ حُلَلٌ مُخْتَلِفَةُ ٱلْأَثْمَانِ،
بَعْضُهَا بِأَرْبَعُمِائَةٍ وَبَعْضُهَا بِمِائَتَيْنِ.
Diriwayatkan bahwa di sisi Yunus bin Ubaid ada
pakaian-pakaian dengan harga yang berbeda-beda; sebagian seharga empat ratus,
dan sebagian seharga dua ratus.
فَمَرَّ
إِلَى ٱلصَّلَاةِ، وَخَلَّفَ ٱبْنَ أَخِيهِ فِي ٱلدُّكَّانِ.
Lalu ia pergi salat dan meninggalkan anak saudaranya di
toko.
فَجَاءَ
أَعْرَابِيٌّ وَطَلَبَ حُلَّةً بِأَرْبَعُمِائَةٍ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مِنْ حُلَلِ
ٱلْمِائَتَيْنِ.
Kemudian datanglah seorang Arab badui dan meminta pakaian
seharga empat ratus. Maka ditawarkan kepadanya salah satu pakaian yang harganya
dua ratus.
فَٱسْتَحْسَنَهَا
وَرَضِيَهَا فَٱشْتَرَاهَا.
Ia menyukainya dan menerimanya, lalu membelinya.
فَمَضَىٰ
بِهَا وَهِيَ عَلَىٰ يَدَيْهِ، فَٱسْتَقْبَلَهُ يُونُسُ فَعَرَفَ حُلَّتَهُ.
Ia pun pergi membawa pakaian itu, lalu Yunus menemuinya dan
mengenali pakaian itu.
فَقَالَ
لِلْأَعْرَابِيِّ: بِكَمْ ٱشْتَرَيْتَ؟
Maka Yunus berkata kepada orang Arab itu: “Dengan berapa
engkau membelinya?”
فَقَالَ:
بِأَرْبَعُمِائَةٍ.
Ia menjawab: “Dengan empat ratus.”
فَقَالَ:
لَا تَسْتَوْجِبُ أَكْثَرَ مِنْ مِائَتَيْنِ، فَٱرْجِعْ حَتَّىٰ تَرُدَّهَا.
Yunus berkata: “Itu tidak lebih berharga dari dua ratus.
Kembalilah agar engkau mengembalikannya.”
فَقَالَ:
هَٰذِهِ تَسْتَوْجِبُ فِي بَلَدِنَا خَمْسَمِائَةٍ، وَأَنَا أَرْتَضِيهَا.
Ia menjawab: “Barang ini di negeri kami bernilai lima ratus,
dan aku rela menerimanya.”
فَقَالَ
لَهُ يُونُسُ: ٱنْصَرِفْ، فَإِنَّ ٱلنُّصْحَ فِي ٱلدِّينِ خَيْرٌ مِنَ ٱلدُّنْيَا
بِمَا فِيهَا.
Maka Yunus berkata kepadanya: “Pulanglah, sebab nasihat
dalam agama lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya.”
ثُمَّ
رَدَّهُ إِلَى ٱلدُّكَّانِ، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ، وَخَاصَمَ ٱبْنَ
أَخِيهِ فِي ذَٰلِكَ وَقَاتَلَهُ.
Lalu ia mengembalikannya ke toko, mengembalikan dua ratus
dirham kepadanya, dan menegur keras keponakannya karena hal itu.
وَقَالَ:
أَمَا ٱسْتَحْيَيْتَ؟ أَمَا ٱتَّقَيْتَ اللَّهَ؟ تَرْبَحُ مِثْلَ ٱلثَّمَنِ
وَتَدَعُ ٱلنُّصْحَ لِلْمُسْلِمِينَ.
Ia berkata: “Tidakkah engkau malu? Tidakkah engkau bertakwa
kepada Allah? Engkau mengambil laba sebesar harga itu, lalu meninggalkan
nasihat kepada kaum muslimin.”
بَابُ
ٱلظُّلْمِ وَقَدْ سَبَقَ، وَفِي ٱلْحَدِيثِ: غَبْنُ ٱلْمُسْتَرْسِلِ حَرَامٌ.
Bab kezaliman telah disebutkan sebelumnya. Dalam hadis:
merugikan orang yang pasrah dalam jual beli itu haram.
وَكَانَ
ٱلزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ يَقُولُ: أَدْرَكْتُ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مِنَ
ٱلصَّحَابَةِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يُحْسِنُ يَشْتَرِي لَحْمًا بِدِرْهَمٍ.
Zubair bin Adi berkata: Aku pernah menjumpai delapan belas
orang sahabat; tidak seorang pun di antara mereka yang pandai membeli daging
seharga satu dirham.
فَغَبْنُ
مِثْلِ هَؤُلَاءِ ٱلْمُسْتَرْسِلِينَ ظُلْمٌ، وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ تَلْبِيسٍ
فَهُوَ مِنْ تَرْكِ ٱلْإِحْسَانِ، وَقَلَّمَا يَتِمُّ هَٰذَا إِلَّا بِنَوْعٍ
تَلْبِيسٍ وَإِخْفَاءِ سِعْرِ ٱلْوَقْتِ.
Maka mengambil untung dari orang-orang yang pasrah seperti
mereka adalah kezaliman. Jika tanpa penipuan, itu berarti meninggalkan ihsan;
dan itu pun jarang dapat sempurna kecuali dengan sedikit penipuan dan
menyembunyikan harga pasar saat itu.
وَإِنَّمَا
ٱلْإِحْسَانُ ٱلْمَحْضُ مَا نُقِلَ عَنِ ٱلسَّرِيِّ ٱلسَّقَطِيِّ أَنَّهُ
ٱشْتَرَىٰ كُرَّ لَوْزٍ بِسِتِّينَ دِينَارًا، وَكَتَبَ فِي رَوْزَنَامَجِهِ
ثَلَاثَةَ دَنَانِيرَ رِبْحَهُ، كَأَنَّهُ رَأَىٰ أَنْ يَرْبَحَ عَلَى ٱلْعَشَرَةِ
نِصْفَ دِينَارٍ، فَصَارَ ٱللَّوْزُ بِتِسْعِينَ.
Adapun ihsan murni ialah sebagaimana diriwayatkan dari
as-Sari as-Saqati: ia membeli satu kar almond seharga enam puluh dinar dan
mencatat dalam buku catatannya tiga dinar sebagai labanya. Seakan-akan ia
menilai bahwa laba atas setiap sepuluh adalah setengah dinar, sehingga harga
almond itu menjadi sembilan puluh.
فَأَتَاهُ
ٱلدَّلَّالُ وَطَلَبَ ٱللَّوْزَ، فَقَالَ: خُذْهُ.
Maka datanglah seorang makelar dan meminta almond itu. Ia
berkata: “Ambillah.”
قَالَ:
بِكَمْ؟
Ia berkata: “Dengan berapa?”
فَقَالَ:
بِثَلَاثَةٍ وَسِتِّينَ.
Ia menjawab: “Dengan enam puluh tiga.”
فَقَالَ
ٱلدَّلَّالُ - وَكَانَ مِنَ ٱلصَّالِحِينَ -: فَقَدْ صَارَ ٱللَّوْزُ بِتِسْعِينَ.
Maka makelar itu—dan ia termasuk orang saleh—berkata:
“Sesungguhnya almond itu telah menjadi sembilan puluh.”
فَقَالَ
ٱلسَّرِيُّ: قَدْ عَقَدْتُ عَقْدًا لَا أُحِلُّهُ، لَسْتُ أَبِيعُهُ إِلَّا
بِثَلَاثَةٍ وَسِتِّينَ.
As-Sari berkata: “Aku telah membuat akad yang tidak akan aku
batalkan. Aku tidak akan menjualnya kecuali dengan enam puluh tiga.”
فَقَالَ
ٱلدَّلَّالُ: وَأَنَا عَقَدْتُ بَيْنِي وَبَيْنَ اللَّهِ أَنْ لَا أَغُشَّ
مُسْلِمًا، لَسْتُ آخُذُ مِنْكَ إِلَّا بِتِسْعِينَ.
Makalel itu berkata: “Dan aku telah berjanji antara diriku
dan Allah untuk tidak menipu seorang muslim. Aku tidak akan mengambil darimu
kecuali dengan sembilan puluh.”
قَالَ:
فَلَا ٱلدَّلَّالُ ٱشْتَرَىٰ مِنْهُ وَلَا ٱلسَّرِيُّ بَاعَهُ.
Maka makelar itu tidak jadi membeli darinya, dan as-Sari pun
tidak jadi menjual kepadanya.
فَهَٰذَا
مَحْضُ ٱلْإِحْسَانِ مِنَ ٱلْجَانِبَيْنِ، فَإِنَّهُ مَعَ ٱلْعِلْمِ بِحَقِيقَةِ
ٱلْحَالِ.
Inilah ihsan murni dari kedua pihak, karena keduanya tahu
keadaan sebenarnya.
وَرُوِيَ
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ٱلْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ كَانَ لَهُ شِقَقٌ بَعْضُهَا
بِخَمْسَةٍ وَبَعْضُهَا بِعَشَرَةٍ، فَبَاعَ غُلَامُهُ فِي غَيْبَتِهِ شَقَّةً
مِنَ ٱلْخَمْسِيَّاتِ بِعَشَرَةٍ، فَلَمَّا عَرَفَ لَمْ يَزَلْ يَطْلُبُ ذَٰلِكَ
ٱلْأَعْرَابِيَّ ٱلْمُشْتَرِيَ طُولَ ٱلنَّهَارِ حَتَّىٰ وَجَدَهُ.
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa ia memiliki
beberapa potong kain; sebagian seharga lima dan sebagian seharga sepuluh.
Hambanya menjual salah satu potong kain yang seharga lima itu dengan harga
sepuluh saat ia tidak ada. Ketika ia mengetahui hal itu, ia terus mencari
pembeli Arab badui itu sepanjang hari sampai menemukannya.
فَقَالَ
لَهُ: إِنَّ ٱلْغُلَامَ قَدْ غَلِطَ فَبَاعَكَ مَا يَسْتَوْجِبُ خَمْسَةً
بِعَشَرَةٍ.
Ia berkata kepadanya: “Hamba itu telah salah, ia menjual
kepadamu barang yang seharusnya bernilai lima dengan harga sepuluh.”
فَقَالَ:
يَا هَٰذَا، قَدْ رَضِيتُ.
Orang itu berkata: “Wahai ini, aku telah rela.”
فَقَالَ:
وَإِنْ رَضِيتَ، فَإِنَّا لَا نَرْضَىٰ لَكَ إِلَّا مَا نَرْضَاهُ لِأَنْفُسِنَا،
فَاخْتَرْ إِحْدَىٰ ثَلَاثِ خِصَالٍ: إِمَّا أَنْ تَأْخُذَ شَقَّةً مِنَ
ٱلْعَشَرِيَّاتِ بِدَرَاهِمِكَ، وَإِمَّا أَنْ نَرُدَّ عَلَيْكَ خَمْسَةً،
وَإِمَّا أَنْ تَرُدَّ شِقَّتَنَا وَتَأْخُذَ دَرَاهِمَكَ.
Ia berkata: “Sekalipun engkau rela, kami tidak rela untukmu
kecuali apa yang kami rela untuk diri kami sendiri. Maka pilihlah satu dari
tiga hal: engkau mengambil sepotong kain dari yang seharga sepuluh dengan
uangmu, atau kami mengembalikan lima kepadamu, atau engkau mengembalikan kain
kami dan mengambil kembali uangmu.”
فَقَالَ:
أَعْطِنِي خَمْسَةً، فَرَدَّ عَلَيْهِ خَمْسَةً وَٱنْصَرَفَ ٱلْأَعْرَابِيُّ
يَسْأَلُ وَيَقُولُ: مَنْ هَٰذَا ٱلشَّيْخُ؟ فَقِيلَ لَهُ: هَٰذَا مُحَمَّدُ بْنُ
ٱلْمُنْكَدِرِ.
Ia berkata: “Berikan aku lima.” Maka ia pun mengembalikan
lima kepadanya. Lalu orang Arab badui itu pergi sambil bertanya, “Siapakah
syekh ini?” Maka dikatakan kepadanya: “Itu Muhammad bin al-Munkadir.”
فَقَالَ:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، هَٰذَا ٱلَّذِي نَسْتَسْقِي بِهِ فِي ٱلْبَوَادِي
إِذَا قَحَطْنَا.
Ia berkata: “Tiada ilah selain Allah. Dialah orang yang kami
jadikan perantara memohon hujan di padang-padang pasir ketika kami dilanda
kekeringan.”
فَهَٰذَا
إِحْسَانٌ فِي أَنْ لَا يَرْبَحَ عَلَى ٱلْعَشَرَةِ إِلَّا نِصْفًا أَوْ وَاحِدًا،
عَلَىٰ مَا جَرَتْ بِهِ ٱلْعَادَةُ فِي مِثْلِ ذَٰلِكَ ٱلْمَتَاعِ فِي ذَٰلِكَ
ٱلْمَكَانِ.
Inilah ihsan: tidak mengambil laba atas setiap sepuluh
kecuali setengah atau satu, sesuai kebiasaan pada barang semacam itu di tempat
tersebut.
وَمَنْ
قَنِعَ بِرِبْحٍ قَلِيلٍ كَثُرَتْ مُعَامَلَاتُهُ، وَٱسْتَفَادَ مِنْ تَكَرُّرِهَا
رِبْحًا كَثِيرًا، وَبِهِ تَظْهَرُ ٱلْبَرَكَةُ.
Siapa yang puas dengan laba sedikit, akan banyak
transaksinya. Dari berulangnya transaksi itu ia memperoleh laba yang banyak,
dan dengannya tampak keberkahan.
كَانَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدُورُ فِي سُوقِ ٱلْكُوفَةِ بِٱلدِّرَّةِ،
وَيَقُولُ: يَا مَعْشَرَ ٱلتُّجَّارِ، خُذُوا ٱلْحَقَّ تَسْلَمُوا، لَا تَرُدُّوا
قَلِيلَ ٱلرِّبْحِ فَتُحْرَمُوا كَثِيرَهُ.
Ali r.a. pernah berkeliling di pasar Kufah sambil membawa
cemeti, dan berkata: “Wahai para pedagang, ambillah yang hak agar kalian
selamat. Jangan menolak laba sedikit sehingga kalian kehilangan laba yang
banyak.”
قِيلَ
لِعَبْدِ ٱلرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا سَبَبُ يُسَارِكَ؟
Kepada Abdurrahman bin Auf r.a. ditanyakan: “Apa sebab
kekayaanmu?”
قَالَ:
ثَلَاثٌ: مَا رَدَدْتُ رِبْحًا قَطُّ، وَلَا طُلِبَ مِنِّي حَيَوَانٌ فَأَخَّرْتُ
بَيْعَهُ، وَلَا بَعْتُ بِنَسِيئَةٍ.
Ia menjawab: “Tiga hal: aku tidak pernah menolak laba sama
sekali; tidak pernah ada hewan yang diminta dariku lalu aku menunda
penjualannya; dan aku tidak pernah menjual secara kredit.”
وَيُقَالُ
إِنَّهُ بَاعَ أَلْفَ نَاقَةٍ، فَمَا رَبِحَ إِلَّا عِقَالَهَا، بَاعَ كُلَّ
عِقَالٍ بِدِرْهَمٍ، فَرَبِحَ فِيهَا أَلْفًا، وَرَبِحَ مِنْ نَفَقَتِهِ عَلَيْهَا
لِيَوْمِهِ أَلْفًا.
Dikatakan bahwa ia menjual seribu unta, dan ia tidak
mendapat laba kecuali dari tali pengikatnya. Ia menjual setiap tali pengikat
seharga satu dirham, lalu memperoleh seribu dirham darinya; dan dari biaya
pemeliharaannya pada hari itu ia juga memperoleh seribu dirham.
ٱلثَّانِي
فِي ٱحْتِمَالِ ٱلْغَبْنِ، وَٱلْمُشْتَرِي إِنِ ٱشْتَرَىٰ طَعَامًا مِنْ ضَعِيفٍ
أَوْ شَيْئًا مِنْ فَقِيرٍ، فَلَا بَأْسَ أَنْ يَحْتَمِلَ ٱلْغَبْنَ
وَيَتَسَاهَلَ، وَيَكُونَ بِهِ مُحْسِنًا.
Yang kedua ialah menanggung selisih untung. Jika pembeli
membeli makanan dari orang yang lemah atau sesuatu dari orang miskin, tidak
mengapa ia menanggung selisih itu dan bersikap mudah; dengan begitu ia menjadi
orang yang berbuat ihsan.
وَيَدْخُلُ
فِي قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَحِمَ اللَّهُ ٱمْرَأً سَهْلَ
ٱلْبَيْعِ سَهْلَ ٱلشِّرَاءِ.
Ia termasuk dalam sabda Nabi ﷺ: “Semoga Allah merahmati seseorang yang
mudah dalam menjual dan mudah dalam membeli.”
فَأَمَّا
إِذَا ٱشْتَرَىٰ مِنْ غَنِيٍّ تَاجِرٍ يَطْلُبُ ٱلرِّبْحَ زِيَادَةً عَلَىٰ
حَاجَتِهِ، فَٱحْتِمَالُ ٱلْغَبْنِ مِنْهُ لَيْسَ مَحْمُودًا، بَلْ هُوَ تَضْيِيعُ
مَالٍ مِنْ غَيْرِ أَجْرٍ وَلَا حَمْدٍ.
Adapun bila ia membeli dari orang kaya yang berdagang dan
mencari laba melebihi kebutuhannya, maka menanggung selisih seperti itu
tidaklah terpuji. Bahkan itu hanyalah menyia-nyiakan harta tanpa pahala dan
tanpa pujian.
وَقَدْ
وَرَدَ فِي حَدِيثٍ مِنْ طَرِيقِ أَهْلِ ٱلْبَيْتِ: ٱلْمَغْبُونُ فِي ٱلْبَيْعِ
لَا مَحْمُودٌ وَلَا مَأْجُورٌ.
Dalam sebuah hadis melalui jalur Ahlul Bait disebutkan:
“Orang yang dirugikan dalam jual beli tidak terpuji dan tidak berpahala.”
وَكَانَ
إِيَاسُ بْنُ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ قَاضِيَ ٱلْبَصْرَةِ، وَكَانَ مِنْ
عُقَلَاءِ ٱلتَّابِعِينَ، يَقُولُ: لَسْتُ بِخَبٍّ، وَٱلْخَبُّ لَا يَغْبِنُنِي،
وَلَا يَغْبِنُ ٱبْنَ سِيرِينَ، وَلَٰكِنْ يَغْبِنُ ٱلْحَسَنَ وَيَغْبِنُ أَبِي،
يَعْنِي مُعَاوِيَةَ بْنَ قُرَّةَ.
Iyas bin Mu'awiyah bin Qurrah adalah hakim Basrah, dan ia
termasuk orang cerdas di kalangan tabi'in. Ia berkata: “Aku bukan orang licik.
Orang licik tidak akan mampu menipuku, dan Ibn Sirin pun tidak akan mampu
menipuku. Tetapi yang bisa ditipu ialah al-Hasan dan ayahku, yaitu Mu'awiyah
bin Qurrah.”
وَٱلْكَمَالُ
فِي أَنْ لَا يَغْبِنَ وَلَا يُغْبَنَ، كَمَا وَصَفَ بَعْضُهُمْ عُمَرَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: كَانَ أَكْرَمَ مِنْ أَنْ يُخْدَعَ، وَأَعْقَلَ مِنْ
أَنْ يُخْدَعَ.
Kesempurnaan itu ialah tidak menipu dan tidak tertipu,
sebagaimana sebagian orang menggambarkan Umar r.a.; ia terlalu mulia untuk
menipu dan terlalu cerdas untuk ditipu.
وَكَانَ
ٱلْحَسَنُ وَٱلْحُسَيْنُ وَغَيْرُهُمَا مِنْ خِيَارِ ٱلسَّلَفِ يَسْتَقْصُونَ فِي
ٱلشِّرَاءِ، ثُمَّ يَهَبُونَ مَعَ ذَٰلِكَ ٱلْجَزِيلَ مِنَ ٱلْمَالِ.
Al-Hasan, al-Husain, dan selain keduanya dari para salaf
pilihan dahulu sangat teliti dalam membeli, kemudian setelah itu mereka tetap
memberikan harta yang banyak sebagai hadiah.
فَقِيلَ
لِبَعْضِهِمْ: تَسْتَقْصِي فِي شِرَائِكَ عَلَى ٱلْيَسِيرِ، ثُمَّ تَهَبُ
ٱلْكَثِيرَ وَلَا تُبَالِي؟
Kepada sebagian dari mereka dikatakan: “Engkau sangat teliti
ketika membeli barang yang sedikit harganya, lalu engkau menghibahkan harta
yang banyak dan tidak peduli?”
فَقَالَ:
إِنَّ ٱلْوَاهِبَ يُعْطِي فَضْلَهُ، وَإِنَّ ٱلْمَغْبُونَ يَغْبِنُ عَقْلَهُ.
Ia menjawab: “Orang yang memberi itu memberikan
kelebihannya, sedangkan orang yang tertipu itulah yang menipu akalnya sendiri.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا أُغْبِنُ عَقْلِي وَبَصَرِي، فَلَا أُمَكِّنُ ٱلْغَابِنَ
مِنْهُمَا.
Sebagian yang lain berkata: “Sesungguhnya aku hanya merugi
pada akal dan penglihatanku, maka aku tidak membiarkan orang yang menipu itu
menguasai keduanya.”
وَإِذَا
وَهَبْتُ أُعْطِي لِلَّهِ، وَلَا أَسْتَكْثِرُ مِنْهُ شَيْئًا.
Dan bila aku memberi, aku memberikannya karena Allah, dan
aku tidak mengharapkan sesuatu yang besar darinya.
ٱلثَّالِثُ
فِي ٱسْتِيفَاءِ ٱلثَّمَنِ وَسَائِرِ ٱلدُّيُونِ، وَٱلْإِحْسَانُ فِيهِ مَرَّةً
بِٱلْمُسَامَحَةِ وَحَطِّ ٱلْبَعْضِ، وَمَرَّةً بِٱلْإِمْهَالِ وَٱلتَّأْخِيرِ،
وَمَرَّةً بِٱلْمُسَاهَلَةِ فِي طَلَبِ جَوْدَةِ ٱلنَّقْدِ.
Yang ketiga ialah dalam penagihan harga dan utang-utang
lainnya. Ihsan di dalamnya terkadang dilakukan dengan bersikap toleran dan
mengurangi sebagian, terkadang dengan memberi tenggang waktu dan menunda, dan
terkadang dengan memudahkan dalam menuntut kualitas uang pembayaran.
وَكُلُّ
ذَٰلِكَ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ وَمَحْثُوثٌ عَلَيْهِ.
Semua itu dianjurkan dan sangat ditekankan.
قَالَ
ٱلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَحِمَ اللَّهُ ٱمْرَأً سَهْلَ
ٱلْبَيْعِ، سَهْلَ ٱلشِّرَاءِ، سَهْلَ ٱلِٱقْتِضَاءِ.
Nabi ﷺ
bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang mudah dalam menjual, mudah
dalam membeli, dan mudah dalam menagih.”
فَلْيَغْتَنِمْ
دُعَاءَ ٱلرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Maka hendaklah ia memanfaatkan doa Rasulullah ﷺ.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ٱسْمَحْ يُسْمَحْ لَكَ.
Dan beliau ﷺ
bersabda: “Berlapang-lapanglah, niscaya akan dilapangkan untukmu.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ تَرَكَ لَهُ،
حَاسَبَهُ اللَّهُ حِسَابًا يَسِيرًا، وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: أَظَلَّهُ اللَّهُ
تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ.
Dan beliau ﷺ
bersabda: “Siapa memberi tangguh kepada orang yang kesulitan atau
membebaskannya, Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah. Dalam lafaz
lain: Allah akan menaunginya di bawah naungan 'Arasy-Nya pada hari tidak ada
naungan selain naungan-Nya.”
وَذَكَرَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا كَانَ مُسْرِفًا
عَلَىٰ نَفْسِهِ، حُوسِبَ فَلَمْ يُوجَدْ لَهُ حَسَنَةٌ.
Rasulullah ﷺ
menyebut seorang lelaki yang telah berlebihan terhadap dirinya. Ia dihisab,
tetapi tidak ditemukan satu pun kebaikan baginya.
فَقِيلَ
لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطُّ؟
Lalu ditanya kepadanya: “Apakah engkau pernah melakukan
kebaikan sama sekali?”
فَقَالَ:
لَا، إِلَّا أَنِّي كُنْتُ رَجُلًا أُدَايِنُ ٱلنَّاسَ، فَأَقُولُ لِفِتْيَانِي:
سَامِحُوا ٱلْمُوسِرَ، وَٱنْظُرُوا ٱلْمُعْسِرَ.
Ia menjawab: “Tidak, kecuali bahwa aku dahulu pernah
menghutangi orang-orang. Maka aku berkata kepada para pembantuku: maafkanlah
orang yang mampu, dan beri tangguhlah orang yang kesulitan.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: وَتَجَاوَزُوا عَنِ ٱلْمُعْسِرِ.
Dalam lafaz lain: “Dan berlapang dadalah terhadap orang yang
kesulitan.”
فَقَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: نَحْنُ أَحَقُّ بِذَٰلِكَ مِنْهُ، فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ
وَغَفَرَ لَهُ.
Maka Allah Ta'ala berfirman: “Kami lebih berhak atas itu
daripadanya.” Lalu Allah memaafkannya dan mengampuninya.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَقْرَضَ دِينَارًا إِلَىٰ أَجَلٍ،
فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ إِلَىٰ أَجَلِهِ، فَإِذَا حَلَّ ٱلْأَجَلُ
فَأَنْظَرَهُ بَعْدَهُ، فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلُ ذَٰلِكَ ٱلدَّيْنِ صَدَقَةً.
Dan beliau ﷺ
bersabda: “Siapa meminjamkan satu dinar hingga waktu tertentu, maka baginya
pada setiap hari sedekah sampai jatuh temponya. Jika waktu itu telah tiba lalu
ia menangguhkannya setelah itu, maka baginya pada setiap hari sedekah seperti
nilai utang tersebut.”
وَقَدْ
كَانَ مِنَ ٱلسَّلَفِ مَنْ لَا يُحِبُّ أَنْ يَقْضِيَ غَرِيمُهُ ٱلدَّيْنَ
لِأَجْلِ هَٰذَا ٱلْخَبَرِ، حَتَّىٰ يَكُونَ كَالْمُتَصَدِّقِ بِجَمِيعِهِ فِي
كُلِّ يَوْمٍ.
Sebagian salaf dahulu tidak suka jika orang yang berutang
segera melunasi utangnya karena hadis ini, agar ia seperti bersedekah
seluruhnya setiap hari.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَأَيْتُ عَلَىٰ بَابِ ٱلْجَنَّةِ مَكْتُوبًا:
ٱلصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَٱلْقَرْضُ بِثَمَانِيَ عَشْرَةَ.
Dan beliau ﷺ
bersabda: “Aku melihat di pintu surga tertulis: sedekah dilipatgandakan sepuluh
kali, sedangkan pinjaman delapan belas kali.”
فَقِيلَ
فِي مَعْنَاهُ: إِنَّ ٱلصَّدَقَةَ تَقَعُ فِي يَدِ ٱلْمُحْتَاجِ وَغَيْرِ
ٱلْمُحْتَاجِ، وَلَا يَتَحَمَّلُ ذُلَّ ٱلِٱسْتِقْرَاضِ إِلَّا مُحْتَاجٌ.
Dijelaskan maknanya bahwa sedekah sampai ke tangan orang
yang membutuhkan dan yang tidak membutuhkan, sedangkan kehinaan karena meminjam
hanya ditanggung oleh orang yang benar-benar membutuhkan.
وَنَظَرَ
ٱلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَىٰ رَجُلٍ يُلَازِمُ رَجُلًا
بِدَيْنٍ، فَأَوْمَأَ إِلَىٰ صَاحِبِ ٱلدَّيْنِ بِيَدِهِ أَنْ ضَعِ ٱلشَّطْرَ،
فَفَعَلَ، فَقَالَ لِلْمَدْيُونِ: قُمْ فَأَعْطِهِ.
Nabi ﷺ
melihat seorang lelaki terus menagih lelaki lain karena utang. Lalu beliau
memberi isyarat kepada pemilik utang dengan tangannya: “Kurangi setengahnya.”
Orang itu pun melakukannya. Maka beliau berkata kepada orang yang berutang:
“Berdirilah, lalu bayarlah kepadanya.”
وَكُلُّ
مَنْ بَاعَ شَيْئًا وَتَرَكَ ثَمَنَهُ فِي الْحَالِ وَلَمْ يُرْهِقْ إِلَىٰ
طَلَبِهِ فَهُوَ فِي مَعْنَى ٱلْمُقْرِضِ.
Setiap orang yang menjual sesuatu lalu membiarkan harganya
tidak segera ditagih dan tidak mendesaknya untuk dibayar, maka ia berada dalam
makna pemberi pinjaman.
وَرُوِيَ
أَنَّ ٱلْحَسَنَ ٱلْبَصْرِيَّ بَاعَ بَغْلَةً لَهُ بِأَرْبَعُمِائَةِ دِرْهَمٍ،
فَلَمَّا ٱسْتَوْجَبَ ٱلْمَالَ قَالَ لَهُ ٱلْمُشْتَرِي: ٱسْمَحْ يَا أَبَا
سَعِيدٍ.
Diriwayatkan bahwa al-Hasan al-Bashri menjual seekor baghal
miliknya seharga empat ratus dirham. Ketika harga itu telah jatuh tempo,
pembeli berkata kepadanya: “Berilah kelonggaran, wahai Abu Sa'id.”
قَالَ:
قَدْ أَسْقَطْتُ عَنْكَ مِائَةً.
Ia berkata: “Aku sudah menghapus seratus darimu.”
قَالَ
لَهُ: فَأَحْسِنْ يَا أَبَا سَعِيدٍ.
Pembeli berkata lagi: “Maka berbuat baiklah, wahai Abu
Sa'id.”
فَقَالَ:
قَدْ وَهَبْتُ لَكَ مِائَةً أُخْرَىٰ، فَقَبَضَ مِنْ حَقِّهِ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ.
Maka ia berkata: “Aku telah menghibahkan seratus lagi
kepadamu.” Akhirnya ia hanya mengambil dua ratus dirham dari haknya.
فَقِيلَ
لَهُ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، هَٰذَا نِصْفُ ٱلثَّمَنِ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Sa'id, ini hanya
setengah harga.”
فَقَالَ:
هَٰكَذَا يَكُونُ ٱلْإِحْسَانُ، وَإِلَّا فَلَا.
Ia menjawab: “Beginilah ihsan itu; jika tidak demikian, maka
bukan ihsan.”
وَفِي
ٱلْخَبَرِ: خُذْ حَقَّكَ فِي كِفَافٍ وَعَفَافٍ، وَافٍ أَوْ غَيْرَ وَافٍ،
يُحَاسِبْكَ اللَّهُ حِسَابًا يَسِيرًا.
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: “Ambillah hakmu
secukupnya dan secara bersih; baik ia penuh ataupun tidak, Allah akan
menghisabmu dengan hisab yang mudah.”
ٱلرَّابِعُ
فِي تَوْفِيَةِ ٱلدَّيْنِ.
Yang keempat ialah melunasi utang.
وَمِنَ
ٱلْإِحْسَانِ فِيهِ حُسْنُ ٱلْقَضَاءِ، وَذَٰلِكَ بِأَنْ يَمْشِيَ إِلَىٰ صَاحِبِ
ٱلْحَقِّ وَلَا يُكَلِّفَهُ أَنْ يَمْشِيَ إِلَيْهِ يَتَقَاضَاهُ.
Dan di antara ihsan di dalamnya ialah pembayaran yang baik,
yaitu dengan ia sendiri mendatangi pemilik hak dan tidak membebaninya untuk
datang menagih kepadanya.
فَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً.
Karena Nabi ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam
membayar.”
وَمَهْمَا
قَدَرَ عَلَىٰ قَضَاءِ ٱلدَّيْنِ فَلْيُبَادِرْ إِلَيْهِ وَلَوْ قَبْلَ وَقْتِهِ،
وَلْيُسَلِّمْ أَجْوَدَ مِمَّا شُرِطَ عَلَيْهِ وَأَحْسَنَ.
Jika ia mampu melunasi utang, hendaklah ia segera
melakukannya, sekalipun sebelum waktunya. Hendaklah ia membayar lebih baik
daripada yang disyaratkan dan lebih bagus lagi.
وَإِنْ
عَجَزَ فَلْيَنْوِ قَضَاءَهُ مَهْمَا قَدَرَ.
Jika ia tidak mampu, hendaklah ia berniat melunasinya kapan
pun ia mampu.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ دَانَ دَيْنًا وَهُوَ يَنْوِي قَضَاءَهُ،
وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ مَلَائِكَةً يَحْفَظُونَهُ وَيَدْعُونَ لَهُ حَتَّىٰ
يَقْضِيَهُ.
Nabi ﷺ
bersabda: “Siapa berutang sementara ia berniat untuk melunasinya, Allah
menugaskan malaikat untuk menjaganya dan mendoakannya sampai ia melunasinya.”
وَكَانَ
جَمَاعَةٌ مِنَ ٱلسَّلَفِ يَسْتَقْرِضُونَ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ لِهَٰذَا ٱلْخَبَرِ.
Sebagian salaf dahulu meminjam tanpa kebutuhan karena hadis
ini.
وَمَهْمَا
كَلَّمَهُ صَاحِبُ ٱلْحَقِّ بِكَلَامٍ خَشِنٍ فَلْيَحْتَمِلْهُ وَلْيُقَابِلْهُ
بِاللُّطْفِ، ٱقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Jika pemilik hak berbicara kepadanya dengan kasar, hendaklah
ia menanggungnya dan membalasnya dengan kelembutan, mengikuti Rasulullah ﷺ.
إِذْ
جَاءَهُ صَاحِبُ ٱلدَّيْنِ عِنْدَ حُلُولِ ٱلْأَجَلِ وَلَمْ يَكُنْ قَدِ ٱتَّفَقَ
قَضَاؤُهُ، فَجَعَلَ ٱلرَّجُلُ يُشَدِّدُ ٱلْكَلَامَ عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ، فَقَالَ: دَعُوهُ،
فَإِنَّ لِصَاحِبِ ٱلْحَقِّ مَقَالًا.
Ketika pemilik utang datang kepada beliau saat jatuh tempo,
dan pembayaran belum disepakati, lelaki itu berbicara keras kepada Rasulullah ﷺ.
Para sahabat hampir menghukumnya, tetapi beliau bersabda: “Biarkan dia, karena
pemilik hak memang memiliki kesempatan untuk berbicara.”
وَمَهْمَا
دَارَ ٱلْكَلَامُ بَيْنَ ٱلْمُسْتَقْرِضِ وَٱلْمُقْرِضِ فَٱلْإِحْسَانُ أَنْ
يَكُونَ ٱلْمَيْلُ ٱلْأَكْثَرُ لِلْمُتَوَسِّطِينَ إِلَىٰ مَنْ عَلَيْهِ ٱلدَّيْنِ.
Jika pembicaraan berputar antara peminjam dan pemberi
pinjaman, maka ihsan ialah lebih condong kepada pihak yang menanggung utang.
فَإِنَّ
ٱلْمُقْرِضَ يُقْرِضُ عَنْ غِنًى، وَٱلْمُسْتَقْرِضَ يَسْتَقْرِضُ عَنْ حَاجَةٍ.
Sebab pemberi pinjaman memberi karena lapang, sedangkan
peminjam meminjam karena kebutuhan.
وَكَذَٰلِكَ
يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ ٱلْإِعَانَةُ لِلْمُشْتَرِي أَكْثَرَ، فَإِنَّ ٱلْبَائِعَ
رَاغِبٌ عَنِ ٱلسِّلْعَةِ يَبْغِي تَرْوِيجَهَا، وَٱلْمُشْتَرِي مُحْتَاجٌ
إِلَيْهَا.
Demikian pula, pertolongan hendaknya lebih banyak diberikan
kepada pembeli, karena penjual sedang ingin melepas barangnya dan berusaha
melariskannya, sedangkan pembeli membutuhkannya.
هَٰذَا
هُوَ ٱلْأَحْسَنُ إِلَّا أَنْ يَتَعَدَّى مَنْ عَلَيْهِ ٱلدَّيْنُ حَدَّهُ،
فَعِنْدَ ذَٰلِكَ نُصْرَتُهُ فِي مَنْعِهِ عَنْ تَعَدِّيهِ وَإِعَانَةُ صَاحِبِهِ.
Itulah yang terbaik, kecuali bila orang yang berutang
melampaui batas. Pada saat itu, menolongnya ialah mencegahnya dari pelanggaran
dan membantu pihak lawannya.
إِذْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ٱنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ
مَظْلُومًا، فَقِيلَ: كَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ فَقَالَ: مَنْعُكَ إِيَّاهُ
مِنَ ٱلظُّلْمِ نُصْرَةٌ لَهُ.
Karena Nabi ﷺ bersabda: “Tolonglah saudaramu, baik ia zalim maupun dizalimi.”
Lalu ditanyakan: “Bagaimana kami menolongnya jika ia zalim?” Beliau menjawab:
“Dengan mencegahnya dari kezaliman, itulah pertolongan baginya.”
ٱلْخَامِسُ
أَنْ يُقِيلَ مَنْ يَسْتَقِيلُهُ، فَإِنَّهُ لَا يَسْتَقِيلُ إِلَّا مُتَنَدِّمٌ
مُسْتَضِرٌّ بِٱلْبَيْعِ.
Yang kelima ialah hendaklah ia membatalkan transaksi bagi
orang yang memintanya membatalkan, sebab yang meminta pembatalan hanyalah orang
yang menyesal dan dirugikan oleh jual beli itu.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَرْضَىٰ لِنَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ سَبَبَ ٱسْتِضْرَارِ أَخِيهِ.
Dan tidak patut ia rela menjadi sebab mudarat bagi
saudaranya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَقَالَ نَادِمًا صَفْقَتَهُ، أَقَالَ
اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ.
Nabi ﷺ
bersabda: “Siapa membatalkan transaksi orang yang menyesal, Allah akan
memaafkan kesalahannya pada hari kiamat.”
أَوْ
كَمَا قَالَ.
Atau sebagaimana sabdanya.
ٱلسَّادِسُ
أَنْ يَقْصِدَ فِي مُعَامَلَتِهِ جَمَاعَةً مِنَ ٱلْفُقَرَاءِ بِٱلنَّسِيئَةِ،
وَهُوَ فِي ٱلْحَالِ عَازِمٌ عَلَىٰ أَنْ لَا يُطَالِبَهُمْ إِنْ لَمْ تَظْهَرْ
لَهُمْ مَيْسَرَةٌ.
Yang keenam ialah hendaklah ia bermuamalah dengan sekelompok
orang miskin secara kredit, sementara saat itu ia sudah berniat tidak menagih
mereka jika belum tampak kemampuan mereka untuk membayar.
فَقَدْ
كَانَ فِي صَالِحِي ٱلسَّلَفِ مَنْ لَهُ دَفْتَرَانِ لِلْحِسَابِ، أَحَدُهُمَا
تَرْجَمَتُهُ مَجْهُولَةٌ، فِيهِ أَسْمَاءُ مَنْ لَا يَعْرِفُهُ مِنَ ٱلضُّعَفَاءِ
وَٱلْفُقَرَاءِ.
Sesungguhnya di kalangan salaf yang saleh ada yang memiliki
dua buku الحساب,
salah satunya tidak jelas judul keterangannya, dan di dalamnya ada nama-nama
orang lemah dan miskin yang tidak ia kenal.
وَذَٰلِكَ
أَنَّ ٱلْفَقِيرَ كَانَ يَرَىٰ ٱلطَّعَامَ أَوِ ٱلْفَاكِهَةَ فَيَشْتَهِيهِ،
فَيَقُولُ: أَحْتَاجُ إِلَىٰ خَمْسَةِ أَرْطَالٍ مِثْلًا مِنْ هَٰذَا وَلَيْسَ
مَعِي ثَمَنُهُ.
Sebabnya, bila seorang fakir melihat makanan atau buah lalu
menginginkannya, ia berkata: “Aku butuh, misalnya, lima rطل dari ini, tetapi aku
tidak punya harganya.”
فَكَانَ
يَقُولُ: خُذْهُ وَٱقْضِ ثَمَنَهُ عِنْدَ ٱلْمَيْسَرَةِ.
Maka ia berkata: “Ambillah, lalu bayar harganya ketika
engkau lapang.”
وَلَمْ
يَكُنْ يَعُدُّ هَٰذَا مِنَ ٱلْخِيَارِ، بَلْ عُدَّ مِنَ ٱلْخِيَارِ مَنْ لَمْ
يَثْبُتِ ٱسْمُهُ فِي ٱلدَّفْتَرِ أَصْلًا، وَلَا يَجْعَلُهُ دَيْنًا، لَٰكِنْ
يَقُولُ: خُذْ مَا تُرِيدُ، فَإِنْ يُسِّرَ لَكَ فَٱقْضِ، وَإِلَّا فَأَنْتَ فِي
حِلٍّ مِنْهُ وَسَعَةٍ.
Dan itu tidak dianggap sebagai bentuk terbaik. Yang dianggap
terbaik ialah orang yang sama sekali tidak mencatat namanya dalam buku, tidak
menjadikannya utang, tetapi berkata: “Ambillah apa yang engkau mau; jika nanti
dimudahkan bagimu, bayarlah. Jika tidak, engkau bebas darinya dan lapang.”
فَهَٰذِهِ
طُرُقُ تِجَارَاتِ ٱلسَّلَفِ، وَقَدِ ٱنْدَرَسَتْ، وَٱلْقَائِمُ بِهَا مُحْيٍ
لِهَٰذِهِ ٱلسُّنَّةِ.
Inilah cara-cara berdagang para salaf. Semua itu telah
pudar, dan orang yang menghidupkannya berarti menghidupkan sunnah ini.
وَبِٱلْجُمْلَةِ،
ٱلتِّجَارَةُ مَحَكُّ ٱلرِّجَالِ، وَبِهَا يُمْتَحَنُ دِينُ ٱلرَّجُلِ وَوَرَعُهُ.
Secara umum, perdagangan adalah batu ujian bagi manusia.
Melalui perdagangan itulah agama dan wara' seseorang diuji.
وَلِذَٰلِكَ
قِيلَ:
Karena itu dikatakan:
لَا
يَغُرَّنَّكَ مِنَ ٱلْمَرْءِ قَمِيصٌ رُقِعَ، أَوْ إِزَارٌ فَوْقَ كَعْبِ ٱلسَّاقِ
مِنْهُ رَفَعَهُ.
Janganlah engkau terpedaya oleh seseorang hanya karena baju
yang bertambal, atau kain sarung yang diangkat di atas mata kaki.
أَوْ
جَبِينٌ لَاحَ فِيهِ أَثَرٌ قَدْ قَلَعَهُ.
Atau karena dahi yang tampak bekas sujud yang telah ia buat
itu.
وَلَدَىٰ
ٱلدِّرْهَمِ فَٱنْظُرْ غَيَّهُ أَوْ وَرَعَهُ.
Tetapi saat berhadapan dengan dirham, lihatlah penyelewengan
atau ketakwaannya.
وَلِذَٰلِكَ
قِيلَ: إِذَا أَثْنَىٰ عَلَى ٱلرَّجُلِ جِيرَانُهُ فِي ٱلْحَضَرِ، وَأَصْحَابُهُ
فِي ٱلسَّفَرِ، وَمُعَامِلُوهُ فِي ٱلْأَسْوَاقِ، فَلَا تَشُكُّوا فِي صَلَاحِهِ.
Karena itu dikatakan: jika tetangganya ketika di rumah,
sahabat-sahabatnya ketika bepergian, dan orang-orang yang bermuamalah dengannya
di pasar memujinya, maka janganlah ragukan kesalihannya.
وَشَهِدَ
عِنْدَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ شَاهِدٌ، فَقَالَ: ائْتِنِي بِمَنْ
يَعْرِفُكَ.
Seorang saksi bersaksi di hadapan Umar r.a., lalu Umar
berkata: “Datangkan kepadaku orang yang mengenalmu.”
فَأَتَاهُ
بِرَجُلٍ، فَأَثْنَىٰ عَلَيْهِ خَيْرًا.
Maka ia mendatangkan seorang lelaki, lalu lelaki itu
memujinya dengan baik.
فَقَالَ
عُمَرُ: أَنْتَ جَارُهُ ٱلْأَدْنَى ٱلَّذِي يَعْرِفُ مَدْخَلَهُ وَمَخْرَجَهُ؟
Umar berkata: “Apakah engkau tetangganya yang paling dekat,
yang mengetahui keluar masuknya?”
قَالَ:
لَا.
Ia menjawab: “Tidak.”
قَالَ:
فَكُنْتَ رَفِيقَهُ فِي ٱلسَّفَرِ ٱلَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَىٰ مَكَارِمِ
ٱلْأَخْلَاقِ؟
Umar berkata: “Apakah engkau teman safarnya, yang darinya
dapat diketahui akhlak-akhlak yang mulia?”
قَالَ:
لَا.
Ia menjawab: “Tidak.”
قَالَ:
فَعَامَلْتَهُ بِٱلدِّينَارِ وَٱلدِّرْهَمِ ٱلَّذِي يَسْتَبِينُ بِهِ وَرَعُ
ٱلرَّجُلِ؟
Umar berkata: “Apakah engkau bermuamalah dengannya dengan
dinar dan dirham, yang dengannya tampak wara' seseorang?”
قَالَ:
لَا.
Ia menjawab: “Tidak.”
قَالَ:
فَأَظُنُّكَ رَأَيْتَهُ قَائِمًا فِي ٱلْمَسْجِدِ يَهْمَهِمُ بِٱلْقُرْآنِ،
يُخْفِضُ رَأْسَهُ طَوْرًا وَيَرْفَعُهُ أُخْرَىٰ؟
Umar berkata: “Maka aku kira engkau pernah melihatnya
berdiri di masjid, bergumam membaca Al-Qur'an, menundukkan kepalanya sekali
lalu mengangkatnya lagi?”
قَالَ:
نَعَمْ.
Ia menjawab: “Ya.”
فَقَالَ:
ٱذْهَبْ، فَلَسْتَ تَعْرِفُهُ.
Maka Umar berkata: “Pergilah, karena engkau belum
mengenalnya.”
وَقَالَ
لِلرَّجُلِ: ٱذْهَبْ فَأْتِنِي بِمَنْ يَعْرِفُكَ.
Dan beliau berkata kepada orang itu: “Pergilah, lalu
datangkan kepadaku orang yang mengenalmu.”