Kepedulian Pedagang Terhadap Agamanya

الْبَابُ الْخَامِسُ فِي شَفَقَةِ التَّاجِرِ عَلَىٰ دِينِهِ فِيمَا يَخُصُّهُ وَيَعُمُّ آخِرَتَهُ

Bab kelima tentang kepedulian pedagang terhadap agamanya dalam hal yang khusus baginya dan yang mencakup akhiratnya.

وَلَا يَنْبَغِي لِلتَّاجِرِ أَنْ يَشْغَلَهُ مَعَاشُهُ عَنْ مَعَادِهِ، فَيَكُونَ عُمْرُهُ ضَائِعًا وَصَفْقَتُهُ خَاسِرَةً، وَمَا يَفُوتُهُ مِنَ الرِّبْحِ فِي الْآخِرَةِ لَا يَفِي بِهِ مَا يَنَالُ فِي الدُّنْيَا، فَيَكُونَ قَدِ اشْتَرَى الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ.

Tidak patut bagi pedagang bahwa urusan penghidupannya menyibukkannya dari akhiratnya, sehingga umurnya sia-sia dan perdagangannya merugi. Apa yang luput darinya berupa keuntungan di akhirat tidak akan terbayar oleh apa yang ia peroleh di dunia; berarti ia telah membeli kehidupan dunia dengan akhirat.

بَلِ الْعَاقِلُ يَنْبَغِي أَنْ يُشْفِقَ عَلَىٰ نَفْسِهِ، وَشَفَقَتُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ تَحْفَظُ رَأْسَ مَالِهِ، وَرَأْسُ مَالِهِ دِينُهُ، وَتِجَارَتُهُ فِيهِ.

Bahkan orang yang berakal hendaknya mengasihani dirinya sendiri. Kepeduliannya terhadap dirinya itulah yang menjaga modal utamanya. Modal utamanya ialah agamanya, dan perdagangannya ada pada agama itu.

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: أَوْلَى الْأَشْيَاءِ بِالْعَاقِلِ أَحْوَجُهُ إِلَيْهِ فِي الْعَاجِلِ، وَأَحْوَجُ شَيْءٍ إِلَيْهِ فِي الْعَاجِلِ أَحْمَدُهُ عَاقِبَةً فِي الْآجِلِ.

Sebagian salaf berkata: hal yang paling patut bagi orang berakal ialah yang paling ia butuhkan segera. Dan sesuatu yang paling ia butuhkan segera ialah yang akibat akhirnya paling terpuji.

وَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي وَصِيَّتِهِ: إِنَّهُ لَا بُدَّ لَكَ مِنْ نَصِيبِكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنْتَ إِلَىٰ نَصِيبِكَ مِنَ الْآخِرَةِ أَحْوَجُ، فَابْدَأْ بِنَصِيبِكَ مِنَ الْآخِرَةِ فَخُذْهُ، فَإِنَّكَ سَتَمُرُّ عَلَىٰ نَصِيبِكَ مِنَ الدُّنْيَا فَتُنَظِّمُهُ.

Mu'adz bin Jabal r.a. berkata dalam wasiatnya: “Sesungguhnya engkau pasti memiliki bagianmu di dunia, sedangkan engkau lebih membutuhkan bagianmu di akhirat. Maka mulailah dengan bagianmu dari akhirat, lalu ambillah. Sebab engkau akan melewati bagianmu dari dunia, lalu mengaturnya.”

قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.

Allah Ta'ala berfirman: “Dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.”

أَيْ لَا تَنْسَ فِي الدُّنْيَا نَصِيبَكَ مِنْهَا لِلْآخِرَةِ، فَإِنَّهَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، وَفِيهَا تُكْتَسَبُ الْحَسَنَاتُ.

Maksudnya: janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia untuk akhirat. Sebab dunia adalah ladang akhirat, dan di dalamnya kebaikan-kebaikan diperoleh.

وَإِنَّمَا تَتِمُّ شَفَقَةُ التَّاجِرِ عَلَىٰ دِينِهِ بِمُرَاعَاةِ سَبْعَةِ أُمُورٍ.

Dan kepedulian pedagang terhadap agamanya hanya sempurna dengan memperhatikan tujuh perkara.

الْأَوَّلُ: حُسْنُ النِّيَّةِ وَالْعَقِيدَةِ فِي ابْتِدَاءِ التِّجَارَةِ، فَلْيَنْوِ بِهَا الِاسْتِعْفَافَ عَنِ السُّؤَالِ، وَكَفَّ الطَّمَعِ عَنِ النَّاسِ، وَالِاسْتِغْنَاءَ بِالْحَلَالِ عَنْهُمْ، وَالِاسْتِعَانَةَ بِمَا يَكْسِبُهُ عَلَى الدِّينِ، وَقِيَامًا بِكِفَايَةِ الْعِيَالِ، لِيَكُونَ مِنْ جُمْلَةِ الْمُجَاهِدِينَ بِهِ.

Yang pertama ialah baiknya niat dan keyakinan pada awal berdagang. Hendaklah ia berniat menjaga diri dari meminta-minta, menahan tamak terhadap manusia, merasa cukup dengan yang halal dari mereka, memanfaatkan hasil yang ia peroleh untuk agama, serta mencukupi nafkah keluarga, agar ia termasuk golongan orang yang berjihad dengannya.

وَلْيَنْوِ النُّصْحَ لِلْمُسْلِمِينَ، وَأَنْ يُحِبَّ لِسَائِرِ الْخَلْقِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ، وَلْيَنْوِ اتِّبَاعَ طَرِيقِ الْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ فِي مُعَامَلَتِهِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ.

Hendaklah ia berniat memberi nasihat kepada kaum muslimin, mencintai bagi seluruh makhluk apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan berniat mengikuti jalan keadilan dan ihsan dalam muamalahnya sebagaimana telah kami sebutkan.

وَلْيَنْوِ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ فِي كُلِّ مَا يَرَاهُ فِي السُّوقِ، فَإِذَا أَضْمَرَ هَذِهِ الْعَقَائِدَ وَالنِّيَّاتِ كَانَ عَامِلًا فِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ.

Dan hendaklah ia berniat memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar dalam setiap yang dilihatnya di pasar. Jika ia menyimpan keyakinan dan niat-niat seperti ini, ia berarti bekerja di jalan akhirat.

فَإِنِ اسْتَفَادَ مَالًا فَهُوَ مَزِيدٌ، وَإِنْ خَسِرَ فِي الدُّنْيَا رَبِحَ فِي الْآخِرَةِ.

Jika ia memperoleh harta, itu menjadi tambahan. Dan jika ia rugi di dunia, ia untung di akhirat.

الثَّانِي: أَنْ يَقْصِدَ الْقِيَامَ فِي صَنْعَتِهِ أَوْ تِجَارَتِهِ بِفَرْضٍ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ، فَإِنَّ الصِّنَاعَاتِ وَالتِّجَارَاتِ لَوْ تُرِكَتْ بَطَلَتِ الْمَعَايِشُ وَهَلَكَ أَكْثَرُ الْخَلْقِ.

Yang kedua ialah ia bermaksud menjalankan pekerjaannya atau perdagangannya sebagai salah satu kewajiban kolektif. Sebab, bila pekerjaan-pekerjaan dan perdagangan ditinggalkan, maka penghidupan akan rusak dan kebanyakan makhluk akan binasa.

فَانْتِظَامُ أَمْرِ الْكُلِّ بِتَعَاوُنِ الْكُلِّ وَتَكفُّلِ كُلِّ فَرِيقٍ بِعَمَلٍ، وَلَوْ أَقْبَلَ كُلُّهُمْ عَلَىٰ صِنَاعَةٍ وَاحِدَةٍ لَتَعَطَّلَتِ الْبَوَاقِي وَهَلَكُوا.

Tertibnya urusan semua orang terjadi dengan saling kerja sama dan dengan setiap kelompok menanggung satu pekerjaan. Jika semuanya mengarah pada satu jenis pekerjaan saja, pekerjaan-pekerjaan yang lain akan terbengkalai dan mereka pun binasa.

وَعَلَىٰ هَذَا حُمِلَ قَوْلُ بَعْضِ النَّاسِ: اخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ.

Atas dasar ini dipahami ucapan sebagian orang: “Perbedaan umatku adalah rahmat.”

أَيْ اخْتِلَافُ هِمَمِهِمْ فِي الصِّنَاعَاتِ وَالْحِرَفِ.

Yaitu perbedaan perhatian mereka dalam pekerjaan-pekerjaan dan keterampilan-keterampilan.

وَمِنَ الصِّنَاعَاتِ مَا هُوَ مُهِمٌّ، وَمِنْهَا مَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ لِرُجُوعِهَا إِلَىٰ طَلَبِ النِّعَمِ وَالتَّزَيُّنِ فِي الدُّنْيَا، فَلْيَشْتَغِلْ بِصِنَاعَةٍ مُهِمَّةٍ لِيَكُونَ فِي قِيَامِهِ بِهَا كَافِيًا عَنِ الْمُسْلِمِينَ، مُهِمًّا فِي الدِّينِ.

Di antara pekerjaan-pekerjaan ada yang penting, dan ada yang dapat ditinggalkan karena kembali kepada mencari kemewahan dan berhias di dunia. Maka hendaklah ia bekerja pada pekerjaan yang penting, agar dengan menunaikannya ia dapat mencukupi kaum muslimin dan bermanfaat dalam agama.

وَلْيَجْتَنِبْ صِنَاعَةَ النَّقْشِ وَالصِّيَاغَةِ وَتَشْيِيدَ الْبُنْيَانِ بِالْجَصِّ وَجَمِيعَ مَا تُزَخْرَفُ بِهِ الدُّنْيَا، فَكُلُّ ذَٰلِكَ كَرِهَهُ ذَوُو الدِّينِ.

Hendaklah ia menjauhi pekerjaan mengukir, pandai emas, membangun bangunan dengan plester, dan segala sesuatu yang dengannya dunia dihias-hiasi. Semua itu dibenci oleh orang-orang yang beragama.

وَأَمَّا عَمَلُ الْمَلَاهِي وَالْآلَاتِ الَّتِي يُحَرَّمُ اسْتِعْمَالُهَا فَاجْتِنَابُ ذَلِكَ مِنْ قَبِيلِ تَرْكِ الظُّلْمِ.

Adapun pekerjaan membuat hiburan-hiburan dan alat-alat yang haram dipakai, maka menjauhinya termasuk dalam meninggalkan kezaliman.

وَمِنْ جُمْلَةِ ذَٰلِكَ خِيَاطَةُ الْخَيَّاطِ الْقَبَاءَ مِنَ الْإِبْرِيسَمِ لِلرِّجَالِ، وَصِيَاغَةُ الصَّائِغِ مَرَاكِبَ الذَّهَبِ أَوْ خَوَاتِيمَ الذَّهَبِ لِلرِّجَالِ، فَكُلُّ ذَٰلِكَ مِنَ الْمَعَاصِي، وَالْأُجْرَةُ الْمَأْخُوذَةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ.

Di antaranya ialah penjahit yang menjahit jubah dari sutra untuk laki-laki, dan pembuat perhiasan yang membuat perhiasan emas atau cincin emas untuk laki-laki. Semua itu termasuk kemaksiatan, dan upah yang diambil darinya adalah haram.

وَلِذَٰلِكَ أَوْجَبْنَا الزَّكَاةَ فِيهَا، وَإِنْ كُنَّا لَا نُوجِبُ الزَّكَاةَ فِي الْحُلِيِّ؛ لِأَنَّهَا إِذَا قُصِدَتْ لِلرِّجَالِ فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ، وَكَوْنُهَا مَهَيَّأَةً لِلنِّسَاءِ لَا يُلْحِقُهَا بِالْحُلِيِّ الْمُبَاحِ مَا لَمْ يُقْصَدْ ذَلِكَ بِهَا، فَيَكْتَسِبَ حُكْمَهَا مِنَ الْقَصْدِ.

Karena itu kami mewajibkan zakat padanya, walaupun kami tidak mewajibkan zakat pada perhiasan; sebab jika perhiasan itu ditujukan untuk laki-laki, maka ia haram. Adapun karena ia disiapkan untuk perempuan, itu tidak menjadikannya seperti perhiasan yang mubah selama tidak dimaksudkan demikian, karena hukumnya mengikuti tujuan niatnya.

وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ بَيْعَ الطَّعَامِ وَبَيْعَ الْأَكْفَانِ مَكْرُوهٌ، لِأَنَّهُ يُوجِبُ انْتِظَارَ مَوْتِ النَّاسِ وَحَاجَتِهِمْ بِغَلَاءِ السِّعْرِ.

Kami telah menyebutkan bahwa menjual makanan dan menjual kafan hukumnya makruh, karena itu menimbulkan harapan akan kematian orang dan kebutuhan mereka demi mahalnya harga.

وَيُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ جَزَّارًا لِمَا فِيهِ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ، وَأَنْ يَكُونَ حَجَّامًا أَوْ كَنَّاسًا لِمَا فِيهِ مِنْ مُخَامَرَةِ النَّجَاسَةِ، وَكَذَا الدَّبَّاغُ وَمَا فِي مَعْنَاهُ.

Dan dimakruhkan menjadi penjagal karena hal itu mengeraskan hati; dimakruhkan pula menjadi tukang bekam atau penyapu karena bersinggungan dengan najis, demikian pula penyamak kulit dan yang semakna dengannya.

وَكَرِهَ ابْنُ سِيرِينَ الدَّلَالَةَ، وَكَرِهَ قَتَادَةُ أُجْرَةَ الدَّلَّالِ، وَلَعَلَّ السَّبَبَ فِيهِ قِلَّةُ اسْتِغْنَاءِ الدَّلَّالِ عَنِ الْكَذِبِ وَالْإِفْرَاطِ فِي الثَّنَاءِ عَلَى السِّلْعَةِ لِتَرْوِيجِهَا.

Ibn Sirin membenci pekerjaan perantara jual beli, dan Qatadah membenci upah makelar. Barangkali sebabnya ialah sulitnya seorang makelar untuk tidak berbohong dan berlebihan memuji barang demi melariskannya.

وَلِأَنَّ الْعَمَلَ فِيهِ لَا يَتَقَدَّرُ، فَقَدْ يَقِلُّ وَقَدْ يَكْثُرُ، وَلَا يُنْظَرُ فِي قَدْرِ الْأُجْرَةِ إِلَىٰ عَمَلِهِ بَلْ إِلَىٰ قَدْرِ قِيمَةِ الثَّوْبِ، وَهَذَا هُوَ الْعَادَةُ وَهُوَ ظُلْمٌ، بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُنْظَرَ إِلَىٰ قَدْرِ التَّعَبِ.

Dan karena pekerjaan itu tidak terukur; kadang sedikit, kadang banyak. Besar upahnya tidak dilihat dari pekerjaannya, melainkan dari nilai kain itu sendiri. Itulah kebiasaan, dan itu adalah kezaliman. Seharusnya yang dilihat ialah kadar susah payahnya.

وَكَرِهُوا شِرَاءَ الْحَيَوَانِ لِلتِّجَارَةِ؛ لِأَنَّ الْمُشْتَرِيَ يَكْرَهُ قَضَاءَ اللَّهِ فِيهِ، وَهُوَ الْمَوْتُ الَّذِي هُوَ بِصَدَدِهِ لَا مَحَالَةَ وَحُلُولُهُ.

Mereka memakruhkan membeli hewan untuk diperdagangkan, karena pembeli membenci ketetapan Allah atasnya, yaitu kematian yang pasti sedang mengintainya dan kedatangannya yang tak terelakkan.

وَقِيلَ: بِعِ الْحَيَوَانَ وَاشْتَرِ الْمَوْتَانَ.

Dan dikatakan: jual hewan, dan belilah barang yang mati.

وَكَرِهُوا الصَّرْفَ؛ لِأَنَّ الِاحْتِرَازَ فِيهِ عَنْ دَقَائِقِ الرِّبَا عَسِرٌ، وَلِأَنَّهُ طَلَبٌ لِدَقَائِقِ الصِّفَاتِ فِيمَا لَا يُقْصَدُ أَعْيَانُهَا وَإِنَّمَا يُقْصَدُ رَوَاجُهَا.

Mereka memakruhkan jual beli valuta atau penukaran uang, karena berhati-hati darinya terhadap rincian-rincian riba itu sulit, dan karena di dalamnya ada pencarian rincian sifat pada sesuatu yang bukan zatnya yang dituju, melainkan hanya peredarannya saja.

وَقَلَّمَا يَتِمُّ لِلصَّيْرَفِيِّ رِبْحٌ إِلَّا بِاعْتِمَادِ جَهَالَةِ مُعَامِلِهِ بِدَقَائِقِ النَّقْدِ، فَقَلَّمَا يَسْلَمُ الصَّيْرَفِيُّ وَإِنِ احْتَاطَ.

Jarang sekali keuntungan lengkap bagi pedagang uang kecuali dengan memanfaatkan ketidaktahuan lawan transaksinya terhadap rincian mata uang. Maka jarang seorang pedagang uang selamat, sekalipun ia berhati-hati.

وَيُكْرَهُ لِلصَّيْرَفِيِّ وَغَيْرِهِ كَسْرُ الصَّحِيحِ وَالدَّنَانِيرِ إِلَّا عِنْدَ الشَّكِّ فِي جَوْدَتِهَا أَوْ عِنْدَ ضَرُورَةٍ.

Dimakruhkan bagi pedagang uang dan selainnya memecah uang yang masih utuh, baik dirham maupun dinar, kecuali bila diragukan kualitasnya atau ada kebutuhan mendesak.

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: وَرَدَ نَهْيٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.

Ahmad bin Hanbal berkata: telah datang larangan dari Rasulullah .

وَعَنْ أَصْحَابِهِ فِي الصِّيَاغَةِ مِنَ الصِّحَاحِ أَنَا أَكْرَهُ الْكَسْرَ.

Dan dari para sahabatnya dalam hal perhiasan emas yang utuh, aku membenci pemecahan.

وَقَالَ: يَشْتَرِي بِالدَّنَانِيرِ دَرَاهِمَ، ثُمَّ يَشْتَرِي بِالدِّرْهَمِ ذَهَبًا وَيُصَوِّغُهُ.

Ia berkata: hendaklah ia membeli dirham dengan dinar, lalu membeli emas dengan dirham, kemudian menempa dan membentuknya.

وَاسْتَحَبُّوا تِجَارَةَ الْبَزِّ.

Mereka menyukai perdagangan kain.

قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: مَا مِنْ تِجَارَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الْبَزِّ مَا لَمْ يَكُنْ فِيهَا أَيْمَانٌ.

Sa'id bin al-Musayyab berkata: tidak ada perdagangan yang lebih aku sukai daripada perdagangan kain, selama tidak ada sumpah di dalamnya.

وَقَدْ رُوِيَ: خَيْرُ تِجَارَاتِكُمُ الْبَزُّ، وَخَيْرُ صَنَائِعِكُمُ الْخَرَزُ.

Dan diriwayatkan: “Perdagangan kalian yang terbaik ialah kain, dan pekerjaan kalian yang terbaik ialah merangkai manik-manik.”

وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ: لَوِ اتَّجَرَ أَهْلُ الْجَنَّةِ لَاتَّجَرُوا فِي الْبَزِّ، وَلَوِ اتَّجَرَ أَهْلُ النَّارِ لَاتَّجَرُوا فِي الصَّرْفِ.

Dalam hadis lain: “Seandainya penduduk surga berdagang, niscaya mereka akan berdagang kain; dan seandainya penduduk neraka berdagang, niscaya mereka akan berdagang penukaran uang.”

وَقَدْ كَانَ غَالِبُ أَعْمَالِ الْأَخْيَارِ مِنَ السَّلَفِ عَشْرَ صَنَائِعَ: الْخَرْزُ، وَالتِّجَارَةُ، وَالْحَمْلُ، وَالْخِيَاطَةُ، وَالْحِذَاءُ، وَالْقَصَّارَةُ، وَعَمَلُ الْخِفَافِ، وَعَمَلُ الْحَدِيدِ، وَعَمَلُ الْمَغَازِلِ، وَمُعَالَجَةُ صَيْدِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، وَالْوَرَاقَةُ.

Kebanyakan pekerjaan orang-orang saleh dari kalangan salaf adalah sepuluh macam: merangkai manik-manik, berdagang, mengangkut barang, menjahit, membuat alas kaki, mencuci atau memproses pakaian, membuat sepatu kulit, mengerjakan besi, membuat alat pemintal, mengurus perburuan darat dan laut, serta menyalin dan memeriksa naskah.

قَالَ عَبْدُ الْوَهَّابِ الْوَرَّاقُ: قَالَ لِي أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: مَا صِنْعَتُكَ؟ قُلْتُ: الْوَرَّاقَةُ، قَالَ: كَسْبٌ طَيِّبٌ، وَلَوْ كُنْتُ صَانِعًا بِيَدِي لَصَنَعْتُ صِنْعَتَكَ، ثُمَّ قَالَ لِي: لَا تَكْتُبْ إِلَّا مُوَاسَطَةً، وَاسْتَبْقِ الْحَوَاشِيَ وَظُهُورَ الْأَجْزَاءِ.

Abdul Wahhab al-Warraq berkata: Ahmad bin Hanbal bertanya kepadaku, “Apa pekerjaanmu?” Aku menjawab, “Menyalin buku.” Ia berkata, “Itu penghasilan yang baik. Seandainya aku bekerja dengan tanganku, niscaya aku akan memilih pekerjaanmu.” Lalu ia berkata kepadaku, “Jangan menulis kecuali di bagian tengah, dan sisakan pinggir-pinggir serta bagian belakang lembaran.”

وَأَرْبَعَةٌ مِنَ الصُّنَّاعِ مَوْسُومُونَ عِنْدَ النَّاسِ بِضَعْفِ الرَّأْيِ: الْحَاكَةُ، وَالْقَطَّانُونَ، وَالْمَغَازِلِيُّونَ، وَالْمُعَلِّمُونَ.

Ada empat golongan pekerja yang di mata manusia dikenal lemah pendapatnya: para penenun, para pengolah kapas, para pemintal, dan para guru.

وَلَعَلَّ ذَٰلِكَ لِأَنَّ أَكْثَرَ مُخَالَطَتِهِمْ مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ، وَمُخَالَطَةُ ضُعَفَاءِ الْعُقُولِ تُضْعِفُ الْعَقْلَ، كَمَا أَنَّ مُخَالَطَةَ الْعُقَلَاءِ تَزِيدُ فِي الْعَقْلِ.

Barangkali sebabnya ialah karena kebanyakan pergaulan mereka dengan perempuan dan anak-anak. Bergaul dengan orang-orang yang lemah akalnya dapat melemahkan akal, sebagaimana bergaul dengan orang-orang berakal justru menambah kekuatan akal.

وَعَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ مَرْيَمَ عَلَيْهَا السَّلَامُ مَرَّتْ فِي طَلَبِهَا لِعِيسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِحَاكَةٍ، فَطَلَبَتِ الطَّرِيقَ فَأَرْشَدُوهَا غَيْرَ الطَّرِيقِ، فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ انْزِعِ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ، وَأَمِتْهُمْ فُقَرَاءَ، وَحَقِّرْهُمْ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ، فَاسْتُجِيبَ دُعَاؤُهَا.

Diriwayatkan dari Mujahid bahwa Maryam a.s. ketika mencari Isa a.s. melewati para penenun. Ia bertanya jalan, lalu mereka menunjukkan jalan yang bukan sebenarnya. Maka Maryam berdoa, “Ya Allah, cabutlah keberkahan dari penghasilan mereka, matikanlah mereka dalam keadaan fakir, dan rendahkanlah mereka di mata manusia.” Doanya pun dikabulkan.

وَكَرِهَ السَّلَفُ أَخْذَ الْأُجْرَةِ عَلَىٰ كُلِّ مَا هُوَ مِنْ قَبِيلِ الْعِبَادَاتِ وَفُرُوضِ الْكِفَايَاتِ، كَغَسْلِ الْمَوْتَىٰ وَدَفْنِهِمْ، وَكَذَٰلِكَ الْأَذَانُ وَصَلَاةُ التَّرَاوِيحِ، وَإِنْ حُكِمَ بِصِحَّةِ الِاسْتِئْجَارِ عَلَيْهِ، وَكَذَٰلِكَ تَعْلِيمُ الْقُرْآنِ وَتَعْلِيمُ عِلْمِ الشَّرْعِ.

Para salaf membenci mengambil upah atas segala sesuatu yang termasuk ibadah dan kewajiban kolektif, seperti memandikan dan menguburkan jenazah. Demikian pula adzan dan salat tarawih, meskipun dihukumi sah untuk disewa layanannya. Demikian pula mengajarkan Al-Qur'an dan mengajarkan ilmu syariat.

فَإِنَّ هَذِهِ أَعْمَالٌ حَقُّهَا أَنْ يُتَّجَرَ فِيهَا لِلْآخِرَةِ، وَأَخْذُ الْأُجْرَةِ عَلَيْهَا اسْتِبْدَالٌ بِالدُّنْيَا عَنِ الْآخِرَةِ، وَلَا يُسْتَحَبُّ ذَٰلِكَ.

Sebab pekerjaan-pekerjaan itu seharusnya diniagakan untuk akhirat. Mengambil upah atasnya berarti menukar akhirat dengan dunia, dan itu tidak disukai.

الثَّالِثُ: أَنْ يَمْنَعَهُ سُوقُ الدُّنْيَا عَنْ سُوقِ الْآخِرَةِ، وَأَسْوَاقُ الْآخِرَةِ الْمَسَاجِدُ.

Yang ketiga ialah hendaknya pasar dunia tidak menghalanginya dari pasar akhirat. Pasar-pasar akhirat itu ialah masjid.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ.

Allah Ta'ala berfirman: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.”

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ.

Dan Allah Ta'ala berfirman tentang rumah-rumah yang diizinkan Allah untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلَ أَوَّلَ النَّهَارِ إِلَىٰ وَقْتِ دُخُولِ السُّوقِ لِآخِرَتِهِ، فَيُلَازِمَ الْمَسْجِدَ وَيُوَاظِبَ عَلَى الْأَوْرَادِ.

Maka hendaklah ia menjadikan awal siang sampai waktu masuk pasar untuk akhiratnya. Ia mesti selalu berada di masjid dan tekun pada wirid-wirid.

كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ لِلتُّجَّارِ: اجْعَلُوا أَوَّلَ نَهَارِكُمْ لِآخِرَتِكُمْ، وَمَا بَعْدَهُ لِدُنْيَاكُمْ.

Umar r.a. biasa berkata kepada para pedagang: “Jadikanlah awal hari kalian untuk akhirat kalian, dan sesudah itu untuk dunia kalian.”

وَكَانَ صَالِحُو السَّلَفِ يَجْعَلُونَ أَوَّلَ النَّهَارِ وَآخِرَهُ لِلْآخِرَةِ، وَالْوَسَطَ لِلتِّجَارَةِ.

Orang-orang saleh dari kalangan salaf menjadikan awal dan akhir siang untuk akhirat, sedangkan bagian tengah untuk berdagang.

وَلَمْ يَكُنْ يَبِيعُ الْهَرِيسَةَ وَالرُّءُوسَ بِكُرَةٍ إِلَّا الصِّبْيَانُ وَأَهْلُ الذِّمَّةِ، لِأَنَّهُمْ كَانُوا فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ ذَٰلِكَ.

Tidak ada yang menjual harisah dan kepala-kepala pada pagi hari kecuali anak-anak dan orang-orang dzimmi, karena setelah itu mereka berada di masjid.

وَفِي الْخَبَرِ: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ إِذَا صَعِدَتْ بِصَحِيفَةِ الْعَبْدِ، وَفِيهَا فِي أَوَّلِ النَّهَارِ وَفِي آخِرِهِ ذِكْرُ اللَّهِ وَخَيْرٌ، كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَا بَيْنَهُمَا مِنْ سَيِّئِ الْأَعْمَالِ.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: bila para malaikat naik membawa catatan seorang hamba, dan di dalamnya pada awal hari dan akhir harinya ada zikir kepada Allah dan kebaikan, maka Allah menghapus dosa-dosa buruk yang ada di antara keduanya.

وَفِي الْخَبَرِ: تَلْتَقِي مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ عِنْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ وَعِنْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَىٰ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَجِئْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، فَيَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ: أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ.

Dalam riwayat disebutkan: malaikat malam dan siang saling bertemu saat fajar terbit dan saat salat Asar. Allah Ta'ala berfirman, padahal Dia lebih mengetahui mereka, “Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan salat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan salat.” Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, “Aku jadikan kalian saksi bahwa Aku telah mengampuni mereka.”

ثُمَّ مَهْمَا سَمِعَ الْأَذَانَ فِي وَسَطِ النَّهَارِ لِلْأُولَىٰ وَالْعَصْرِ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَعْرِجَ عَلَىٰ شُغْلٍ، وَيَنْزَعِجَ عَنْ مَكَانِهِ، وَيَدَعَ كُلَّ مَا كَانَ فِيهِ، فَمَا يَفُوتُهُ مِنْ فَضِيلَةِ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَىٰ مَعَ الْإِمَامِ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ لَا تُوَازِيهَا الدُّنْيَا بِمَا فِيهَا.

Kemudian, bila ia mendengar adzan di tengah hari untuk salat pertama dan Asar, hendaklah ia tidak menoleh ke pekerjaan apa pun, bangkit dari tempatnya, dan meninggalkan segala yang sedang ia kerjakan. Keutamaan takbir pertama bersama imam pada awal waktu tidak sebanding dengan dunia beserta seluruh isinya.

وَمَهْمَا لَمْ يَحْضُرِ الْجَمَاعَةَ عَصَىٰ عِنْدَ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ.

Siapa pun yang tidak menghadiri salat berjamaah, menurut sebagian ulama, ia telah berbuat maksiat.

وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَبْتَدِرُونَ عِنْدَ الْأَذَانِ، وَيُخَلُّونَ الْأَسْوَاقَ لِلصِّبْيَانِ وَأَهْلِ الذِّمَّةِ، وَكَانُوا يَسْتَأْجِرُونَ بِالْقَرَارِيطِ لِحِفْظِ الْحَوَانِيتِ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ، وَكَانَ ذَٰلِكَ مَعِيشَةً لَهُمْ.

Salaf dahulu segera bergerak ketika adzan, dan mereka membiarkan pasar untuk anak-anak dan ahli dzimmah. Mereka menyewa penjaga dengan imbalan qirath untuk menjaga toko-toko pada waktu salat, dan itulah mata pencaharian mereka.

وَقَدْ جَاءَ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ، أَنَّهُمْ كَانُوا حَدَّادِينَ وَخَرَّازِينَ، فَكَانَ أَحَدُهُمْ إِذَا رَفَعَ الْمِطْرَقَةَ أَوْ غَرَزَ الْإِشْفَىٰ فَسَمِعَ الْأَذَانَ لَمْ يُخْرِجِ الْإِشْفَىٰ مِنَ الْمَغْرِزِ، وَلَمْ يُوقِعِ الْمِطْرَقَةَ، وَرَمَىٰ بِهَا وَقَامَ إِلَى الصَّلَاةِ.

Dalam penafsiran firman-Nya: “Mereka tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah,” disebutkan bahwa mereka adalah para pandai besi dan penjahit sepatu. Jika salah seorang dari mereka mengangkat palu atau menusukkan alat penusuk, lalu mendengar adzan, ia tidak jadi mencabut alat itu dari tempatnya, tidak pula menjatuhkan palunya; ia lalu melemparkannya dan berdiri menuju salat.

الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَقْتَصِرَ عَلَىٰ هَٰذَا، بَلْ يُلَازِمَ ذِكْرَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ فِي السُّوقِ، وَيَشْتَغِلَ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّسْبِيحِ؛ فَذِكْرُ اللَّهِ فِي السُّوقِ بَيْنَ الْغَافِلِينَ أَفْضَلُ.

Yang keempat ialah jangan hanya berhenti pada hal itu, tetapi hendaklah ia selalu berzikir kepada Allah سبحانه وتعالى di pasar, dan menyibukkan diri dengan tahlil serta tasbih; sebab zikir kepada Allah di pasar di tengah orang-orang lalai adalah lebih utama.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَاكِرُ اللَّهِ فِي الْغَافِلِينَ كَالْمُقَاتِلِ خَلْفَ الْفَارِّينَ، وَكَالْحَيِّ بَيْنَ الْأَمْوَاتِ.

Nabi bersabda: “Orang yang berzikir kepada Allah di tengah orang-orang lalai laksana orang yang berperang di belakang orang-orang yang lari, dan laksana yang hidup di antara orang-orang mati.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: كَالشَّجَرَةِ الْخَضْرَاءِ بَيْنَ الْهَشِيمِ.

Dalam lafaz lain: “Seperti pohon yang hijau di tengah rerumputan kering.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ.

Nabi bersabda: “Barang siapa masuk pasar lalu mengucapkan: ‘Tiada ilah selain Allah, semata-mata Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup yang tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,’ Allah akan mencatat baginya satu juta kebaikan.”

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَسَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَمُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ وَغَيْرُهُمْ يَدْخُلُونَ السُّوقَ قَاصِدِينَ لِنَيْلِ فَضِيلَةِ هَٰذَا الذِّكْرِ.

Ibn Umar, Salim bin Abdullah, Muhammad bin Wasi', dan selain mereka masuk ke pasar dengan maksud memperoleh keutamaan zikir ini.

وَقَالَ الْحَسَنُ: ذَاكِرُ اللَّهِ فِي السُّوقِ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ ضَوْءٌ كَضَوْءِ الْقَمَرِ، وَبُرْهَانٌ كَبُرْهَانِ الشَّمْسِ، وَمَنْ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ فِي السُّوقِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ بِعَدَدِ أَهْلِهَا.

Al-Hasan berkata: orang yang berzikir kepada Allah di pasar akan datang pada hari kiamat dengan cahaya seperti cahaya bulan dan bukti seperti bukti matahari. Siapa memohon ampun kepada Allah di pasar, Allah akan mengampuninya sebanyak jumlah penduduk pasar itu.

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا دَخَلَ السُّوقَ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفُسُوقِ، وَمِنْ شَرِّ مَا أَحَاطَتْ بِهِ السُّوقُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ يَمِينٍ فَاجِرَةٍ وَصَفْقَةٍ خَاسِرَةٍ.

Umar r.a. bila memasuki pasar berkata: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefasikan, dan dari keburukan yang meliputi pasar. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sumpah palsu dan transaksi yang merugi.”

وَقَالَ أَبُو جَعْفَرٍ الْفَرْغَانِيُّ: كُنَّا يَوْمًا عِنْدَ الْجُنَيْدِ، فَجَرَىٰ ذِكْرُ نَاسٍ يَجْلِسُونَ فِي الْمَسَاجِدِ وَيَتَشَبَّهُونَ بِالصُّوفِيَّةِ وَيُقَصِّرُونَ عَمَّا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ الْجُلُوسِ، وَيَعِيبُونَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ، فَقَالَ الْجُنَيْدُ: كَمْ مِنْ مَنْ هُوَ فِي السُّوقِ حُكْمُهُ أَنْ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ وَيَأْخُذَ بِأُذُنِ بَعْضِ مَنْ فِيهِ فَيُخْرِجَهُ وَيَجْلِسَ مَكَانَهُ، وَإِنِّي لَأَعْرِفُ رَجُلًا يَدْخُلُ السُّوقَ وَوِرْدُهُ كُلَّ يَوْمٍ ثَلْثُمِائَةِ رَكْعَةٍ وَثَلَاثُونَ أَلْفَ تَسْبِيحَةٍ.

Abu Ja'far al-Farghani berkata: suatu hari kami bersama Junayd. Lalu dibicarakan orang-orang yang duduk di masjid, menyerupai kaum sufi, tetapi mengurangi kewajiban yang semestinya mereka tunaikan, dan mencela orang yang masuk pasar. Maka Junayd berkata: “Betapa banyak orang yang berada di pasar, padahal semestinya ia masuk masjid, memegang telinga sebagian orang di dalamnya lalu mengusirnya dan duduk di tempatnya. Aku benar-benar mengenal seorang lelaki yang masuk pasar, sedangkan wiridnya setiap hari adalah tiga ratus rakaat dan tiga puluh ribu tasbih.”

قَالَ: فَسَبَقَ إِلَىٰ وَهْمِي أَنَّهُ يَعْنِي نَفْسَهُ، فَهَكَذَا كَانَتْ تِجَارَةُ مَنْ يَتَّجِرُ لِطَلَبِ الْكِفَايَةِ لَا لِلتَّنَعُّمِ فِي الدُّنْيَا.

Ia berkata: “Maka terlintas dalam benakku bahwa yang dimaksudnya adalah dirinya sendiri.” Demikianlah perdagangan orang yang berdagang untuk mencari kecukupan, bukan untuk bermewah-mewah di dunia.

فَإِنَّ مَنْ يَطْلُبُ الدُّنْيَا لِلِاسْتِعَانَةِ بِهَا عَلَى الْآخِرَةِ كَيْفَ يَدَعُ رِبْحَ الْآخِرَةِ؟ وَالسُّوقُ وَالْمَسْجِدُ وَالْبَيْتُ لَهُ حُكْمٌ وَاحِدٌ، وَإِنَّمَا النَّجَاةُ بِالتَّقْوَىٰ.

Sesungguhnya orang yang mencari dunia untuk membantunya mencapai akhirat, bagaimana mungkin ia meninggalkan keuntungan akhirat? Pasar, masjid, dan rumah baginya hukumnya satu. Yang menyelamatkan hanyalah takwa.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ.

Nabi bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”

فَوَظِيفَةُ التَّقْوَىٰ لَا تَنْقَطِعُ عَنِ الْمُتَجَرِّدِينَ لِلدِّينِ كَيْفَمَا تَقَلَّبَتْ بِهِمُ الْأَحْوَالُ، وَبِهَا تَكُونُ حَيَاتُهُمْ وَمَعِيشَتُهُمْ، إِذْ فِيهَا يَرَوْنَ تِجَارَتَهُمْ وَرِبْحَهُمْ.

Tugas takwa tidak terputus dari orang-orang yang mengkhususkan diri untuk agama, bagaimanapun keadaan membolak-balik mereka. Dengannya kehidupan dan penghidupan mereka berjalan, karena di dalamnya mereka melihat perdagangan dan keuntungan mereka.

وَقَدْ قِيلَ: مَنْ أَحَبَّ الْآخِرَةَ عَاشَ، وَمَنْ أَحَبَّ الدُّنْيَا طَاشَ، وَالْأَحْمَقُ يَغْدُو وَيَرُوحُ فِي لَاشٍ، وَالْعَاقِلُ عَنْ عُيُوبِ نَفْسِهِ فَتَّاشٌ.

Telah dikatakan: siapa mencintai akhirat, ia akan hidup; siapa mencintai dunia, ia akan bingung dan goyah. Orang bodoh pergi pagi dan pulang petang dalam kebinasaan, sedangkan orang berakal selalu meneliti cacat dirinya sendiri.

الْخَامِسُ: أَنْ لَا يَكُونَ شَدِيدَ الْحِرْصِ عَلَى السُّوقِ وَالتِّجَارَةِ، وَذَٰلِكَ بِأَنْ يَكُونَ أَوَّلَ دَاخِلٍ وَآخِرَ خَارِجٍ، وَبِأَنْ يَرْكَبَ الْبَحْرَ فِي التِّجَارَةِ، فَهُمَا مَكْرُوهَانِ.

Yang kelima ialah jangan terlalu serakah terhadap pasar dan perdagangan. Itu ditandai dengan menjadi orang pertama yang masuk dan orang terakhir yang keluar, serta menempuh laut untuk berdagang. Keduanya dimakruhkan.

يُقَالُ: إِنَّ مَنْ رَكِبَ الْبَحْرَ فَقَدِ اسْتَقْصَىٰ فِي طَلَبِ الرِّزْقِ.

Dikatakan: siapa menempuh laut, maka sungguh ia telah bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki.

وَفِي الْخَبَرِ: لَا يَرْكَبُ الْبَحْرَ إِلَّا لِحَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ أَوْ غَزْوٍ.

Dalam riwayat disebutkan: tidak boleh menaiki laut kecuali untuk haji, umrah, atau perang di jalan Allah.

وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: لَا تَكُنْ أَوَّلَ دَاخِلٍ فِي السُّوقِ وَلَا آخِرَ خَارِجٍ مِنْهَا، فَإِنَّ بِهَا بَاضَ الشَّيْطَانُ وَفَرَّخَ.

Abdullah bin Amr bin al-‘Ash r.a. biasa berkata: “Janganlah engkau menjadi orang pertama yang masuk pasar dan jangan pula orang terakhir yang keluar darinya, sebab di sana setan bertelur dan menetas.”

وَرُوِيَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ إِبْلِيسَ يَقُولُ لِوَلَدِهِ زَلَنْبُورَ: سِرْ بِكَبَائِدِكَ فَأْتِ أَصْحَابَ الْأَسْوَاقِ، زَيِّنْ لَهُمُ الْكَذِبَ وَالْحَلِفَ وَالْخِدَاعَ وَالْمَكْرَ وَالْخِيَانَةَ، وَكُنْ مَعَ أَوَّلِ دَاخِلٍ وَآخِرِ خَارِجٍ مِنْهَا.

Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal dan Abdullah bin Umar bahwa Iblis berkata kepada anaknya, Zalanbur: “Pergilah dengan pasukanmu kepada para pedagang pasar. Hiasilah bagi mereka kebohongan, sumpah, tipu daya, siasat, dan pengkhianatan. Dan jadilah bersama orang yang pertama masuk dan yang terakhir keluar darinya.”

وَفِي الْخَبَرِ: شَرُّ الْبِقَاعِ الْأَسْوَاقُ، وَشَرُّ أَهْلِهَا أَوَّلُهُمْ دُخُولًا وَآخِرُهُمْ خُرُوجًا.

Dalam riwayat disebutkan: tempat yang paling buruk adalah pasar, dan penduduknya yang paling buruk ialah yang paling awal masuk dan paling akhir keluar.

وَتَمَامُ هَذَا الِاحْتِرَازِ أَنْ يُرَاقِبَ وَقْتَ كِفَايَتِهِ، فَإِذَا حَصَلَتْ كِفَايَةُ وَقْتِهِ انْصَرَفَ وَاشْتَغَلَ بِتِجَارَةِ الْآخِرَةِ.

Sempurnanya kehati-hatian ini ialah ia mengawasi waktu kecukupannya. Jika kebutuhannya telah tercukupi, hendaklah ia pulang dan menyibukkan diri dengan perdagangan akhirat.

هَكَذَا كَانَ صَالِحُو السَّلَفِ، فَقَدْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ إِذَا رَبِحَ دَانِقًا انْصَرَفَ قَنَاعَةً بِهِ.

Demikianlah para salaf yang saleh. Di antara mereka ada yang bila mendapat laba satu daniq saja, ia langsung pulang karena merasa cukup dengannya.

وَكَانَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ يَبِيعُ الْخَزَّ فِي سُفْطٍ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَكَانَ إِذَا رَبِحَ حَبَّتَيْنِ رَفَعَ سُفْطَهُ وَانْصَرَفَ.

Hammad bin Salamah menjual kain khazz dalam sebuah keranjang di hadapannya. Bila ia telah memperoleh laba dua keping kecil, ia mengangkat keranjangnya lalu pergi.

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ بَشَّارٍ: قُلْتُ لِإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَمْرُ الْيَوْمِ أَعْمَلُ فِي الطِّينِ، فَقَالَ: يَا ابْنَ بَشَّارٍ، إِنَّكَ طَالِبٌ وَمَطْلُوبٌ، يَطْلُبُكَ مَنْ لَا تَفُوتُهُ، وَتَطْلُبُ مَا قَدْ كُفِيتَهُ، أَمَا رَأَيْتَ حَرِيصًا مَحْرُومًا وَضَعِيفًا مَرْزُوقًا؟

Ibrahim bin Bashshar berkata: aku berkata kepada Ibrahim bin Adham, semoga Allah merahmatinya, “Bagaimana kalau hari ini aku bekerja di tanah liat?” Ia menjawab: “Wahai Ibn Bashshar, engkau ini pencari sekaligus yang dicari. Yang mencarimu tidak akan luput darimu, sedangkan engkau mencari sesuatu yang sebenarnya sudah dicukupkan bagimu. Tidakkah engkau melihat orang yang rakus justru terhalang rezeki dan orang yang lemah justru diberi rezeki?”

فَقُلْتُ: إِنَّ لِي دَانِقًا عِنْدَ الْبَقَّالِ.

Aku berkata: “Aku punya satu daniq di toko sayur.”

فَقَالَ: عَزَّ عَلَيَّ بِكَ تَمْلِكُ دَانِقًا وَتَطْلُبُ الْعَمَلَ.

Ia berkata: “Sungguh mengherankan bagiku, engkau memiliki satu daniq lalu masih mencari pekerjaan.”

وَكَانَ فِيهِمْ مَنْ يَنْصَرِفُ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَمِنْهُمْ بَعْدَ الْعَصْرِ، وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَعْمَلُ فِي الْأُسْبُوعِ إِلَّا يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ، وَكَانُوا يَكْتَفُونَ بِذَٰلِكَ.

Di antara mereka ada yang pulang setelah zuhur, ada yang pulang setelah Asar, dan ada yang tidak bekerja dalam seminggu kecuali sehari atau dua hari. Mereka pun cukup dengan itu.

السَّادِسُ: أَنْ لَا يَقْتَصِرَ عَلَى اجْتِنَابِ الْحَرَامِ، بَلْ يَتَّقِي مَوَاقِعَ الشُّبُهَاتِ وَمَظَانَّ الرَّيْبِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَى الْفَتَاوَىٰ، بَلْ يَسْتَفْتِي قَلْبَهُ، فَإِذَا وَجَدَ فِيهِ حَزَازَةً اجْتَنَبَهُ، وَإِذَا حُمِلَ إِلَيْهِ سِلْعَةٌ رَابَهُ أَمْرُهَا سَأَلَ عَنْهَا حَتَّىٰ يَعْرِفَ، وَإِلَّا أَكَلَ الشُّبْهَةَ.

Yang keenam ialah jangan hanya berhenti pada menjauhi yang haram, tetapi juga menghindari tempat-tempat syubhat dan sangkaan-sangkaan meragukan. Jangan sekadar melihat fatwa, tetapi mintalah fatwa dari hatinya sendiri. Jika ia merasakan ada rasa tidak enak di dalam hatinya, hendaklah ia menjauhinya. Jika ada barang yang dibawa kepadanya dan urusannya meragukan, hendaklah ia menanyakannya sampai jelas; kalau tidak, ia memakan yang syubhat.

وَقَدْ حُمِلَ إِلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَبَنٌ، فَقَالَ: مِنْ أَيْنَ لَكُمْ هَٰذَا؟ فَقَالُوا: مِنَ الشَّاةِ، فَقَالَ: وَمِنْ أَيْنَ لَكُمْ هَٰذِهِ الشَّاةُ؟ فَقِيلَ: مِنْ مَوْضِعِ كَذَا، فَشَرِبَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ: إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ لَا نَأْكُلَ إِلَّا طَيِّبًا وَلَا نَعْمَلَ إِلَّا صَالِحًا.

Pernah dibawakan kepada Rasulullah susu, lalu beliau bertanya, “Dari mana kalian memperoleh ini?” Mereka menjawab, “Dari kambing.” Beliau bertanya lagi, “Lalu dari mana kalian memperoleh kambing ini?” Dikatakan, “Dari tempat ini dan itu.” Maka beliau meminumnya, lalu bersabda: “Sesungguhnya kami, para nabi, diperintahkan agar tidak makan kecuali yang baik dan tidak berbuat kecuali yang saleh.”

وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَىٰ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ.

Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta'ala memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul, lalu berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian.’”

وَالْوَاجِبُ أَنْ يَنْظُرَ التَّاجِرُ إِلَىٰ مَنْ يُعَامِلُهُ، فَكُلُّ مَنْسُوبٍ إِلَىٰ ظُلْمٍ أَوْ خِيَانَةٍ أَوْ سَرِقَةٍ أَوْ رِبًا فَلَا يُعَامِلْهُ، وَكَذَٰلِكَ الْأَجْنَادُ وَالظَّلَمَةُ لَا يُعَامِلُهُمْ بَتَّةً، وَلَا يُعَامِلُ أَصْحَابَهُمْ وَأَعْوَانَهُمْ؛ لِأَنَّهُ مُعِينٌ بِذَٰلِكَ عَلَى الظُّلْمِ.

Yang wajib ialah pedagang memperhatikan siapa yang ia ajak bermuamalah. Siapa pun yang dikenal dengan kezaliman, pengkhianatan, pencurian, atau riba, janganlah ia bertransaksi dengannya. Demikian pula para tentara dan para zalim, ia sama sekali tidak boleh bermuamalah dengan mereka, juga tidak dengan para pendukung dan pembantu mereka; sebab dengan itu ia telah membantu kezaliman.

وَحُكِيَ عَنْ رَجُلٍ أَنَّهُ تَوَلَّىٰ عِمَارَةَ سُورٍ لِثَغْرٍ مِنَ الثُّغُورِ، فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَٰلِكَ شَيْءٌ، وَإِنْ كَانَ ذَٰلِكَ الْعَمَلُ مِنَ الْخَيْرَاتِ بَلْ مِنْ فَرَائِضِ الْإِسْلَامِ، وَلَٰكِنْ كَانَ الْأَمِيرُ الَّذِي تَوَلَّىٰ فِي مَحَلَّتِهِ مِنَ الظَّلَمَةِ.

Diceritakan tentang seorang lelaki yang menangani pembangunan benteng pertahanan di salah satu wilayah perbatasan. Hati saya sempat merasa tidak enak karena itu, meskipun pekerjaan itu termasuk kebaikan, bahkan termasuk kewajiban Islam. Namun gubernur yang memerintah di daerah itu adalah orang zalim.

قَالَ: فَسَأَلْتُ سُفْيَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: لَا تَكُنْ عَوْنًا لَهُمْ عَلَىٰ قَلِيلٍ وَلَا كَثِيرٍ.

Ia berkata: lalu aku bertanya kepada Sufyan, semoga Allah merahmatinya, maka ia berkata: “Janganlah engkau menjadi penolong mereka, sedikit maupun banyak.”

فَقُلْتُ: هَٰذَا سُورٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لِلْمُسْلِمِينَ.

Aku berkata: “Ini adalah benteng di jalan Allah untuk kaum muslimin.”

فَقَالَ: نَعَمْ، وَلَٰكِنْ أَقَلُّ مَا يَدْخُلُ عَلَيْكَ أَنْ تُحِبَّ بَقَاءَهُمْ لِيُوفُّوكَ أَجْرَكَ، فَتَكُونَ قَدْ أَحْبَبْتَ بَقَاءَ مَنْ يَعْصِي اللَّهَ.

Ia menjawab: “Benar, tetapi paling sedikit yang akan masuk kepadamu adalah bahwa engkau mencintai keberlangsungan mereka agar mereka membayar upahmu dengan sempurna; berarti engkau telah mencintai keberlangsungan orang yang bermaksiat kepada Allah.”

وَقَدْ جَاءَ فِي الْخَبَرِ: مَنْ دَعَا لِظَالِمٍ بِالْبَقَاءِ فَقَدْ أَحَبَّ أَنْ يُعْصَى اللَّهُ فِي أَرْضِهِ.

Dalam riwayat disebutkan: siapa mendoakan seorang zalim agar tetap ada, maka ia telah menyukai agar Allah durhakai di bumi-Nya.

وَفِي الْحَدِيثِ: إِنَّ اللَّهَ لَيَغْضَبُ إِذَا مُدِحَ الْفَاسِقُ.

Dalam hadis disebutkan: sesungguhnya Allah benar-benar murka bila orang fasik dipuji.

وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ: مَنْ أَكْرَمَ فَاسِقًا فَقَدْ أَعَانَ عَلَىٰ هَدْمِ الْإِسْلَامِ.

Dalam hadis lain disebutkan: siapa memuliakan orang fasik, maka ia telah membantu meruntuhkan Islam.

وَدَخَلَ سُفْيَانُ عَلَى الْمَهْدِيِّ وَبِيَدِهِ دَرْجٌ أَبْيَضُ، فَقَالَ: يَا سُفْيَانُ، أَعْطِنِي الدَّوَاةَ حَتَّىٰ أَكْتُبَ، فَقَالَ: أَخْبِرْنِي أَيَّ شَيْءٍ تَكْتُبُ، فَإِنْ كَانَ حَقًّا أَعْطَيْتُكَ.

Sufyan pernah masuk menemui al-Mahdi sambil membawa gulungan putih. Al-Mahdi berkata: “Wahai Sufyan, berikan tinta kepadaku agar aku menulis.” Sufyan menjawab: “Beritahukan kepadaku apa yang akan engkau tulis; jika itu benar, akan kuberikan kepadamu.”

وَطَلَبَ بَعْضُ الْأُمَرَاءِ مِنْ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ الْمَحْبُوسِينَ عِنْدَهُ أَنْ يُنَاوِلَهُ طِينًا لِيَخْتِمَ بِهِ الْكِتَابَ، فَقَالَ: نَاوِلْنِي الْكِتَابَ أَوَّلًا حَتَّىٰ أَنْظُرَ مَا فِيهِ.

Dan seorang penguasa pernah meminta kepada salah seorang ulama yang dipenjarakannya agar menyerahkan tanah liat kepadanya untuk menyegel surat. Ulama itu menjawab: “Berikan dahulu suratnya kepadaku, agar aku melihat apa isinya.”

فَهَكَذَا كَانُوا يَحْتَرِزُونَ عَنْ مُعَاوَنَةِ الظَّلَمَةِ، وَمُعَامَلَتُهُمْ أَشَدُّ أَنْوَاعِ الْإِعَانَةِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْتَنِبَهَا ذَوُو الدِّينِ مَا وَجَدُوا إِلَيْهِ سَبِيلًا.

Demikianlah mereka dahulu sangat berhati-hati agar tidak membantu para zalim. Bermuamalah dengan mereka adalah bentuk bantuan yang paling kuat; karena itu orang-orang beragama hendaklah menjauhinya selama mereka menemukan jalan untuk menghindarinya.

وَبِالْجُمْلَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَنْقَسِمَ النَّاسُ عِنْدَهُ إِلَىٰ مَنْ يُعَامِلُ وَمَنْ لَا يُعَامِلُ، وَلْيَكُنْ مَنْ يُعَامِلُهُ أَقَلَّ مِمَّنْ لَا يُعَامِلُهُ فِي هَٰذَا الزَّمَانِ.

Secara umum, hendaknya orang-orang di sisinya terbagi menjadi: orang yang boleh ia ajak bermuamalah dan orang yang tidak boleh ia ajak bermuamalah. Dan hendaklah yang ia ajak bermuamalah jumlahnya lebih sedikit daripada yang tidak ia ajak bermuamalah pada zaman ini.

قَالَ بَعْضُهُمْ: أَتَىٰ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ كَانَ الرَّجُلُ يَدْخُلُ السُّوقَ وَيَقُولُ: مَنْ تَرَوْنَ لِي أَنْ أُعَامِلَ مِنَ النَّاسِ؟ فَيُقَالُ لَهُ: عَامِلْ مَنْ شِئْتَ.

Sebagian orang berkata: pernah datang suatu masa ketika seseorang masuk pasar dan berkata, “Menurut kalian, siapa yang boleh aku ajak bermuamalah?” Lalu dikatakan kepadanya, “Bertransaksilah dengan siapa saja yang engkau kehendaki.”

ثُمَّ أَتَىٰ زَمَانٌ آخَرُ كَانُوا يَقُولُونَ: عَامِلْ مَنْ شِئْتَ إِلَّا فُلَانًا وَفُلَانًا.

Kemudian datang masa lain, mereka berkata: “Bertransaksilah dengan siapa saja yang engkau kehendaki, kecuali si Fulan dan si Fulan.”

ثُمَّ أَتَىٰ زَمَانٌ آخَرُ فَكَانَ يُقَالُ: لَا تُعَامِلْ أَحَدًا إِلَّا فُلَانًا وَفُلَانًا، وَأَخْشَىٰ أَنْ يَأْتِيَ زَمَانٌ يَذْهَبُ هَٰذَا أَيْضًا.

Lalu datang masa lain lagi, dikatakan: “Janganlah bertransaksi dengan siapa pun kecuali si Fulan dan si Fulan.” Dan aku khawatir akan datang masa ketika hal ini pun ikut hilang.

وَكَأَنَّهُ قَدْ كَانَ الَّذِي كَانَ يَحْذَرُ أَنْ يَكُونَ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.

Seakan-akan yang dulu dikhawatirkan adalah: “Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”

السَّابِعُ: يَنْبَغِي أَنْ يُرَاقِبَ جَمِيعَ مَجَارِي مُعَامَلَتِهِ مَعَ وَاحِدٍ مِنْ مُعَامِلِيهِ، فَإِنَّهُ مُرَاقَبٌ وَمُحَاسَبٌ، فَلْيَعُدَّ الْجَوَابَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ وَالْعِقَابِ فِي كُلِّ فِعْلَةٍ وَقَوْلَةٍ، إِنَّهُ لِمَ أَقْدِمْ عَلَيْهَا وَلِأَجْلِ مَاذَا.

Yang ketujuh ialah hendaknya ia mengawasi seluruh alur muamalahnya dengan salah seorang yang bertransaksi dengannya, sebab ia diawasi dan akan dihisab. Maka hendaklah ia menyiapkan jawaban untuk hari perhitungan dan hukuman, atas setiap perbuatan dan ucapan: mengapa ia melakukannya dan untuk apa.

فَإِنَّهُ يُقَالُ: إِنَّهُ يُوقَفُ التَّاجِرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ كُلِّ رَجُلٍ كَانَ بَاعَهُ شَيْئًا وَقْفَةً، وَيُحَاسَبُ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ، فَهُوَ مُحَاسَبٌ عَلَىٰ عَدَدِ مَنْ عَامَلَهُ.

Karena dikatakan: pada hari kiamat, pedagang akan dihentikan bersama setiap orang yang pernah ia juali sesuatu, satu per satu, lalu ia dihisab untuk masing-masing. Ia dihisab sesuai jumlah orang yang pernah ia ajak bermuamalah.

قَالَ بَعْضُهُمْ: رَأَيْتُ بَعْضَ التُّجَّارِ فِي النَّوْمِ، فَقُلْتُ: مَاذَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ فَقَالَ: نَشَرَ عَلَيَّ خَمْسِينَ أَلْفَ صَحِيفَةٍ.

Sebagian orang berkata: aku melihat seorang pedagang dalam mimpi, lalu aku bertanya, “Apa yang Allah lakukan kepadamu?” Ia menjawab, “Allah membentangkan kepadaku lima puluh ribu lembar catatan.”

فَقُلْتُ: هَٰذِهِ كُلُّهَا ذُنُوبٌ؟

Aku berkata: “Apakah semuanya itu dosa?”

فَقَالَ: هَٰذِهِ مُعَامَلَاتُ النَّاسِ، بِعَدَدِ كُلِّ إِنْسَانٍ عَامَلْتُهُ فِي الدُّنْيَا، لِكُلِّ إِنْسَانٍ صَحِيفَةٌ مُفْرَدَةٌ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ مِنْ أَوَّلِ مُعَامَلَتِهِ إِلَىٰ آخِرِهَا.

Ia menjawab: “Itu adalah muamalah dengan manusia. Menurut jumlah setiap orang yang pernah kuberi transaksi di dunia, setiap orang memiliki lembar catatan tersendiri antara aku dan dia, dari awal transaksi sampai akhirnya.”

فَهَٰذَا مَا عَلَى الْمُكْتَسِبِ فِي عَمَلِهِ مِنَ الْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى الدِّينِ.

Inilah kewajiban orang yang mencari nafkah dalam pekerjaannya: keadilan, ihsan, dan kepedulian terhadap agama.

فَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى الْعَدْلِ كَانَ مِنَ الصَّالِحِينَ، وَإِنْ أَضَافَ إِلَيْهِ الْإِحْسَانَ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ، وَإِنْ رَاعَىٰ مَعَ ذَٰلِكَ وَظَائِفَ الدِّينِ كَمَا ذُكِرَ فِي الْبَابِ الْخَامِسِ كَانَ مِنَ الصِّدِّيقِينَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Jika ia hanya mencukupkan diri pada keadilan, ia termasuk orang-orang saleh. Jika ia menambahkan ihsan, ia termasuk orang-orang yang didekatkan. Jika ia menjaga bersama itu kewajiban-kewajiban agama sebagaimana disebutkan dalam bab kelima, ia termasuk orang-orang yang sangat benar. Dan Allah lebih mengetahui yang benar.

تَمَّ كِتَابُ الْكَسْبِ وَالْمَعِيشَةِ بِحَمْدِ اللَّهِ وَمِنَّتِهِ.

Selesailah Kitab al-Kasb wa al-Ma'isyah dengan puji bagi Allah dan karunia-Nya.