Hak-Hak Kerabat dan Rahim

حُقُوقُ الْأَقَارِبِ وَالرَّحِمِ

Hak-hak Kerabat dan Rahim

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا الرَّحْمَنُ وَهَذِهِ الرَّحِمُ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman: 'Aku adalah Ar-Rahman, dan ini adalah Ar-Rahim (rahim/kekerabatan).'"

شَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنِ اسْمِي

"'Aku telah mengambilkan nama untuknya dari nama-Ku.'"

فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

"'Barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambung (rahmat-Ku) untuknya. Dan barangsiapa memutuskannya, Aku akan memutuskannya.'"

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ وَيُوَسَّعَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa senang jika umurnya dipanjangkan dan rezekinya dilapangkan, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahminya."

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمُرِهِ وَيُوَسَّعَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dalam riwayat lain, "Barangsiapa senang jika umurnya dipanjangkan dan rezekinya dilapangkan, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung tali silaturahminya."

وَقِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ

Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Siapakah manusia yang paling utama?"

قَالَ أَتْقَاهُمْ لِلَّهِ وَأَوْصَلُهُمْ لِرَحِمِهِ وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ

Beliau menjawab, "Yang paling bertakwa kepada Allah, yang paling menyambung tali silaturahmi, yang paling menyeru kepada kebaikan, dan yang paling mencegah dari kemungkaran."

وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَوْصَانِي خَلِيلِي عَلَيْهِ السَّلَامُ بِصِلَةِ الرَّحِمِ وَإِنْ أَدْبَرَتْ

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, "Kekasihku 'alaihissalam mewasiatkan kepadaku untuk menyambung tali silaturahmi meskipun mereka berpaling."

وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

"Dan beliau memerintahkanku untuk mengatakan kebenaran meskipun itu pahit."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّحِمَ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya rahim itu tergantung di 'Arsy."

وَلَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا انْقَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Orang yang menyambung (silaturahmi) itu bukanlah orang yang membalas (kebaikan), tetapi orang yang menyambung adalah yang ketika tali silaturahminya terputus, ia menyambungnya kembali."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا صِلَةُ الرَّحِمِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya ketaatan yang paling cepat pahalanya adalah menyambung tali silaturahmi."

حَتَّى إِنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ لَيَكُونُونَ فَجَّارًا فَتَنْمُوا أَمْوَالُهُمْ وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ إِذَا وَصَلُوا أَرْحَامَهُمْ

"Hingga sesungguhnya suatu keluarga, meskipun mereka adalah orang-orang durhaka, harta mereka akan berkembang dan jumlah mereka akan bertambah jika mereka menyambung tali silaturahmi mereka."

وَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ لَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ

Zaid bin Aslam berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menuju Mekkah, seorang laki-laki menemuinya."

فَقَالَ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ النِّسَاءَ الْبِيضَ وَالنُّوقَ الْأُدْمَ فَعَلَيْكَ بِبَنِي مُدْلِجٍ

Ia berkata, "Jika engkau menginginkan wanita-wanita berkulit putih dan unta-unta yang bagus, maka bergabunglah dengan Bani Mudlij."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ مَنَعَنِي مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ بِصِلَتِهِمُ الرَّحِمَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Sesungguhnya Allah telah melindungiku dari (serangan) Bani Mudlij karena mereka menyambung tali silaturahmi."

وَقَالَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ عَلَيَّ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ أَفَأَصِلُهَا

Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma berkata, "Ibuku datang menemuiku. Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku datang menemuiku dan ia seorang musyrik. Apakah aku boleh menyambung (hubungan) dengannya?'"

قَالَ {نَعَمْ}

Beliau menjawab, "{Ya}."

وَفِي رِوَايَةٍ أَفَأُعْطِيهَا قَالَ نَعَمْ صِلِيهَا

Dalam riwayat lain, "Apakah aku boleh memberinya (hadiah)? Beliau menjawab, 'Ya, sambunglah hubungan dengannya.'"

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّدَقَةُ عَلَى الْمَسَاكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, dan kepada kerabat bernilai dua (sedekah dan silaturahmi)."

وَلَمَّا أَرَادَ أَبُو طَلْحَةَ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِحَائِطٍ كَانَ لَهُ يُعْجِبُهُ عَمَلًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ}

Ketika Abu Thalhah hendak menyedekahkan sebuah kebun yang sangat ia sukai, sebagai pengamalan firman Allah Ta'ala, "{Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai}."

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Ia berkata, "Wahai Rasulullah, ini untuk jalan Allah, dan untuk orang-orang fakir dan miskin."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَ أَجْرُكَ عَلَى اللَّهِ قَسِّمْهُ فِي أَقَارِبِكَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Pahalamu telah wajib di sisi Allah. Bagikanlah ia kepada kerabat-kerabatmu."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memusuhi."

وَهُوَ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَصْفَحَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ

Ini senada dengan sabdanya, "Keutamaan yang paling utama adalah engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskanmu, memberi kepada orang yang menghalangimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu."

وَرَوَى أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ إِلَى عُمَّالِهِ مُرُوا الْأَقَارِبَ أَنْ يَتَزَاوَرُوا وَلَا يَتَجَاوَرُوا

Diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu menulis surat kepada para gubernurnya, "Perintahkanlah para kerabat untuk saling mengunjungi, dan jangan saling bertetangga."

وَإِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ لِأَنَّ التَّجَاوُرَ يُورِثُ التَّزَاحُمَ عَلَى الْحُقُوقِ وَرُبَّمَا يُورِثُ الْوَحْشَةَ وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ

Ia mengatakan itu karena bertetangga dekat dapat menimbulkan persaingan dalam hak-hak, dan terkadang menimbulkan permusuhan dan putusnya tali silaturahmi.

حُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَالْوَلَدِ

Hak-hak Orang Tua dan Anak

لَا يَخْفَى أَنَّهُ إِذَا تَأَكَّدَ حَقُّ الْقَرَابَةُ وَالرَّحِمُ فَأَخَصُّ الْأَرْحَامِ وَأَمَسُّهَا الْوِلَادَةُ

Tidak diragukan lagi, jika hak kekerabatan dan rahim itu sudah ditekankan, maka hubungan rahim yang paling khusus dan paling dekat adalah hubungan kelahiran (orang tua dan anak).

فَيَتَضَاعَفُ تَأَكُّدُ الْحَقِّ فِيهَا

Maka penekanan haknya menjadi berlipat ganda.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَجْزِيَ وَلَدٌ وَالِدَهُ حَتَّى يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, sampai ia mendapatinya sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya."

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَالصَّوْمِ وَالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Berbakti kepada kedua orang tua lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan jihad di jalan Allah."

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مَرْضِيًّا لِأَبَوَيْهِ أَصْبَحَ لَهُ بَابَانِ مَفْتُوحَانِ إِلَى الْجَنَّةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Barangsiapa di pagi hari diridhai oleh kedua orang tuanya, maka di pagi itu terbuka baginya dua pintu menuju surga."

وَمَنْ أَمْسَى فَمِثْلُ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدًا وَإِنْ ظَلَمَا وَإِنْ ظَلَمَا وَإِنْ ظَلَمَا

"Dan barangsiapa di sore hari (diridhai), maka demikian pula. Jika hanya satu (orang tua), maka satu (pintu). Meskipun keduanya menzalimi, meskipun keduanya menzalimi, meskipun keduanya menzalimi."

وَمَنْ أَصْبَحَ مُسْخِطًا لِأَبَوَيْهِ أَصْبَحَ لَهُ بَابَانِ مَفْتُوحَانِ إِلَى النَّارِ

"Dan barangsiapa di pagi hari dimurkai oleh kedua orang tuanya, maka di pagi itu terbuka baginya dua pintu menuju neraka."

وَمَنْ أَمْسَى مِثْلُ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدًا وَإِنْ ظَلَمَا وَإِنْ ظَلَمَا وَإِنْ ظَلَمَا

"Dan barangsiapa di sore hari (dimurkai), maka demikian pula. Jika hanya satu (orang tua), maka satu (pintu). Meskipun keduanya menzalimi, meskipun keduanya menzalimi, meskipun keduanya menzalimi."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْجَنَّةَ يُوجَدُ رِيحُهَا مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya aroma surga dapat tercium dari jarak perjalanan lima ratus tahun."

وَلَا يَجِدُ رِيحَهَا عَاقٌّ وَلَا قَاطِعُ رَحِمٍ

"Namun, aromanya tidak akan tercium oleh orang yang durhaka (kepada orang tua) dan orang yang memutus tali silaturahmi."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَّ أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ فَأَدْنَاكَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Berbaktilah kepada ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, dan saudara laki-lakimu. Kemudian kerabatmu yang terdekat, lalu yang terdekat."

وَيُرْوَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا مُوسَى إِنَّهُ مَنْ بَرَّ وَالِدَيْهِ وَعَقَّنِي كَتَبْتُهُ بَارًّا

Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman kepada Musa 'alaihissalam, "Wahai Musa, sesungguhnya barangsiapa berbakti kepada kedua orang tuanya dan durhaka kepada-Ku, Aku akan mencatatnya sebagai orang yang berbakti."

وَمَنْ بَرَّنِي وَعَقَّ وَالِدَيْهِ كَتَبْتُهُ عَاقًّا

"Dan barangsiapa berbakti kepada-Ku namun durhaka kepada kedua orang tuanya, Aku akan mencatatnya sebagai orang yang durhaka."

وَقِيلَ لَمَّا دَخَلَ يَعْقُوبُ عَلَى يُوسُفَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ لَمْ يَقُمْ لَهُ

Dikatakan bahwa ketika Ya'qub masuk menemui Yusuf 'alaihimaassalam, Yusuf tidak berdiri untuknya.

فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَتَتَعَاظَمُ أَنْ تَقُومَ لِأَبِيكَ وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَخْرَجْتُ مِنْ صُلْبِكَ نَبِيًّا

Maka Allah mewahyukan kepadanya, "Apakah engkau merasa agung untuk berdiri menyambut ayahmu? Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengeluarkan seorang nabi pun dari sulbimu."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا عَلَى أَحَدٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ أَنْ يَجْعَلَهَا لِوَالِدَيْهِ إِذَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada salahnya bagi seseorang jika ia ingin bersedekah, untuk meniatkannya bagi kedua orang tuanya jika keduanya muslim."

فَيَكُونُ لِوَالِدَيْهِ أَجْرُهَا وَيَكُونُ لَهُ مِثْلُ أُجُورِهِمَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمَا شَيْءٌ

"Maka pahalanya akan sampai kepada kedua orang tuanya, dan ia akan mendapatkan pahala seperti pahala keduanya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."

وَقَالَ مَالِكُ بْنُ رَبِيعَةَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ

Malik bin Rabi'ah berkata, "Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah."

فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِمَا

Ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah masih ada sisa bakti kepada kedua orang tuaku yang bisa kulakukan setelah keduanya wafat?"

قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

Beliau menjawab, "Ya. Mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji-janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambung tali silaturahmi yang tidak akan tersambung kecuali melalui keduanya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ الْأَبُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya di antara bakti yang paling utama adalah seseorang menyambung hubungan dengan teman-teman akrab ayahnya setelah sang ayah tiada."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرُّ الْوَالِدَةِ عَلَى الْوَلَدِ ضِعْفَانِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bakti kepada ibu nilainya dua kali lipat bagi anak."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْوَةُ الْوَالِدَةِ أَسْرَعُ إِجَابَةً

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Doa seorang ibu lebih cepat terkabul."

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلِمَ ذَاكَ

Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, mengapa demikian?"

قَالَ هِيَ أَرْحَمُ مِنَ الْأَبِ وَدَعْوَةُ الرَّحِمِ لَا تَسْقُطُ

Beliau menjawab, "Karena ia lebih penyayang daripada ayah, dan doa dari (rasa) kasih sayang tidak akan tertolak."

وَسَأَلَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ

Seorang laki-laki bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti?"

فَقَالَ بِرَّ وَالِدَيْكَ

Beliau menjawab, "Berbaktilah kepada kedua orang tuamu."

فَقَالَ لَيْسَ لِي وَالِدَانِ

Ia berkata, "Aku tidak punya orang tua."

فَقَالَ بِرَّ وَلَدَكَ كَمَا أَنَّ لِوَالِدَيْكَ عَلَيْكَ حَقًّا كَذَلِكَ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

Beliau menjawab, "Berbuat baiklah kepada anakmu. Sebagaimana kedua orang tuamu memiliki hak atasmu, begitu pula anakmu memiliki hak atasmu."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِمَ اللَّهُ وَالِدًا أَعَانَ وَلَدَهُ عَلَى بِرِّهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Semoga Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya untuk berbakti kepadanya."

أَيْ لَمْ يَحْمِلْهُ عَلَى الْعُقُوقِ بِسُوءِ عَمَلِهِ

Maksudnya, ia tidak mendorong anaknya untuk durhaka dengan perbuatannya yang buruk.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاوُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فِي الْعَطِيَّةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Berlakulah adil di antara anak-anak kalian dalam pemberian."

وَقَدْ قِيلَ وَلَدُكَ رَيْحَانَتُكَ تَشُمُّهَا سَبْعًا وَخَادِمُكَ سَبْعًا ثُمَّ هُوَ عَدُوُّكَ أَوْ شَرِيكُكَ

Telah dikatakan, "Anakmu adalah bunga wewangianmu yang engkau ciumi selama tujuh (tahun), dan pelayanmu selama tujuh (tahun berikutnya), kemudian ia adalah musuhmu atau rekanmu."

وَقَالَ أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغُلَامُ يُعَقُّ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُمَاطُ عَنْهُ الْأَذَى

Anas radhiyallahu 'anhu berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang anak laki-laki diakikahi pada hari ketujuh, diberi nama, dan dibersihkan dari kotoran."

فَإِذَا بَلَغَ سِتَّ سِنِينَ أُدِّبَ

"Jika ia mencapai usia enam tahun, ia dididik."

فَإِذَا بَلَغَ تِسْعَ سِنِينَ عُزِلَ فِرَاشُهُ

"Jika ia mencapai usia sembilan tahun, tempat tidurnya dipisahkan."

فَإِذَا بَلَغَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ضُرِبَ عَلَى الصَّلَاةِ

"Jika ia mencapai usia tiga belas tahun, ia dipukul (jika meninggalkan) shalat."

فَإِذَا بَلَغَ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً زَوَّجَهُ أَبُوهُ

"Jika ia mencapai usia enam belas tahun, ayahnya menikahkannya."

ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ قَدْ أَدَّبْتُكَ وَعَلَّمْتُكَ وَأَنْكَحْتُكَ

"Kemudian ayahnya memegang tangannya dan berkata, 'Aku telah mendidikmu, mengajarimu, dan menikahkanmu.'"

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَتِكَ فِي الدُّنْيَا وَعَذَابِكَ فِي الْآخِرَةِ

"'Aku berlindung kepada Allah dari fitnahmu di dunia dan azabmu di akhirat.'"

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَقِّ الْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ أَنْ يُحْسِنَ أَدَبَهُ وَيُحْسِنَ اسْمَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Di antara hak orang tua atas anak adalah memperbaiki adabnya dan memberikan nama yang baik."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينٌ أَوْ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Setiap anak tergadai dengan akikahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh dan dicukur rambutnya."

وَقَالَ قَتَادَةُ إِذَا ذُبِحَتِ الْعَقِيقَةُ أُخِذَتْ صُوفَةٌ مِنْهَا فَاسْتُقْبِلَتْ بِهَا أَوْدَاجُهَا

Qatadah berkata, "Jika hewan akikah disembelih, ambillah sedikit bulunya, lalu oleskan pada urat lehernya (yang dipotong)."

ثُمَّ تُوضَعُ عَلَى يَافُوخِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَسِيلَ عَنْهُ مِثْلُ الْخَيْطِ

"Kemudian letakkan di ubun-ubun bayi hingga mengalir (darah) darinya seperti benang."

ثُمَّ يُغْسَلُ رَأْسُهُ وَيُحْلَقُ بَعْدُ

"Setelah itu, kepalanya dicuci lalu dicukur."

وَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ فَشَكَا إِلَيْهِ بَعْضَ وَلَدِهِ

Seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Al-Mubarak lalu mengadukan perihal salah seorang anaknya.

فَقَالَ هَلْ دَعَوْتَ عَلَيْهِ

Ia bertanya, "Apakah engkau pernah mendoakan keburukan untuknya?"

قَالَ نَعَمْ

Laki-laki itu menjawab, "Ya."

قَالَ أَنْتَ أَفْسَدْتَهُ

Abdullah bin Al-Mubarak berkata, "Engkaulah yang telah merusaknya."

وَيُسْتَحَبُّ الرِّفْقُ بِالْوَلَدِ

Dan dianjurkan untuk bersikap lembut kepada anak.

رَأَى الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُقَبِّلُ وَلَدَهُ الْحَسَنَ

Al-Aqra' bin Habis melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang mencium putranya, Al-Hasan.

فَقَالَ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Ia berkata, "Sesungguhnya aku punya sepuluh orang anak, tidak pernah aku mencium satu pun dari mereka."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi."

وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا اغْسِلِي وَجْهَ أُسَامَةَ

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam suatu hari berkata kepadaku, 'Cucilah wajah Usamah.'"

فَجَعَلْتُ أَغْسِلُهُ وَأَنَا أَنِفَةٌ

"Aku pun mulai mencucinya sambil merasa jijik."

فَضَرَبَ يَدِي ثُمَّ أَخَذَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثُمَّ قَبَّلَهُ

"Lalu beliau menepis tanganku, kemudian mengambilnya, mencuci wajahnya, lalu menciumnya."

ثُمَّ قَالَ قَدْ أَحْسَنَ بِنَا إِذْ لَمْ يَكُنْ جَارِيَةً

"Kemudian beliau bersabda, 'Sungguh ia telah berbuat baik kepada kita karena ia bukan seorang anak perempuan.'"

وَتَعَثَّرَ الْحَسَنُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِنْبَرِهِ فَنَزَلَ فَحَمَلَهُ

Al-Hasan pernah tersandung ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang berada di atas mimbar, lalu beliau turun dan menggendongnya.

وَقَرَأَ قَوْلَهُ {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ}

Dan beliau membaca firman-Nya, "{Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan}."

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَدَّادٍ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ إِذْ جَاءَهُ الْحُسَيْنُ فَرَكِبَ عُنُقَهُ وَهُوَ سَاجِدٌ

Abdullah bin Syaddad berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang mengimami shalat, datanglah Al-Husain lalu menaiki leher beliau saat beliau sedang sujud."

فَأَطَالَ السُّجُودَ بِالنَّاسِ حَتَّى ظَنُّوا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ

"Beliau pun memperlama sujudnya, hingga orang-orang mengira telah terjadi sesuatu."

فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالُوا قَدْ أَطَلْتَ السُّجُودَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ

"Setelah selesai shalat, mereka bertanya, 'Engkau memperlama sujud, wahai Rasulullah, hingga kami mengira telah terjadi sesuatu.'"

فَقَالَ إِنَّ ابْنِي قَدِ ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

Beliau menjawab, "Sesungguhnya cucuku ini telah menjadikanku tunggangannya, dan aku tidak ingin mengganggunya sampai ia menyelesaikan hajatnya."

وَفِي ذَلِكَ فَوَائِدُ إِحْدَاهَا الْقُرْبُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنَّ الْعَبْدَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى إِذَا كَانَ سَاجِدًا

Dalam peristiwa itu terdapat beberapa faedah. Salah satunya adalah kedekatan dengan Allah Ta'ala, karena seorang hamba paling dekat dengan Allah Ta'ala adalah ketika ia sedang sujud.

وَفِيهِ الرِّفْقُ بِالْوَلَدِ وَالْبِرُّ وَتَعْلِيمٌ لِأُمَّتِهِ

Dan di dalamnya terdapat pelajaran tentang kelembutan kepada anak, berbuat baik, dan pengajaran bagi umatnya.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِيحُ الْوَلَدِ مِنْ رِيحِ الْجَنَّةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Aroma anak adalah bagian dari aroma surga."

وَقَالَ يَزِيدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ أَرْسَلَ أَبِي إِلَى الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ

Yazid bin Mu'awiyah berkata, "Ayahku mengutus (seseorang) kepada Al-Ahnaf bin Qais."

فَلَمَّا وَصَلَ إِلَيْهِ قَالَ لَهُ يَا أَبَا بَحْرٍ مَا تَقُولُ فِي الْوَلَدِ

Ketika ia sampai, ayahnya berkata kepadanya, "Wahai Abu Bahr, apa pendapatmu tentang anak?"

قَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ثِمَارُ قُلُوبِنَا وَعِمَادُ ظُهُورِنَا

Ia menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, mereka adalah buah hati kita dan penopang punggung kita."

وَنَحْنُ لَهُمْ أَرْضٌ ذَلِيلَةٌ وَسَمَاءٌ ظَلِيلَةٌ

"Kita bagi mereka adalah tanah yang subur dan langit yang menaungi."

وَبِهِمْ نَصُولُ عَلَى كُلِّ جَلِيلَةٍ

"Dan dengan mereka kita menghadapi setiap perkara besar."

فَإِنْ طَلَبُوا فَأَعْطِهِمْ وَإِنْ غَضِبُوا فَأَرْضِهِمْ

"Jika mereka meminta, berilah mereka. Dan jika mereka marah, buatlah mereka ridha."

يَمْنَحُوكَ وُدَّهُمْ وَيُحِبُّوكَ جُهْدَهُمْ

"Mereka akan memberimu cinta mereka dan mencintaimu dengan segenap usaha mereka."

وَلَا تَكُنْ عَلَيْهِمْ ثِقْلًا ثَقِيلًا فَيَمَلُّوا حَيَاتَكَ وَيَوَدُّوا وَفَاتَكَ وَيَكْرَهُوا قُرْبَكَ

"Dan janganlah engkau menjadi beban yang berat bagi mereka, sehingga mereka bosan dengan hidupmu, mengharapkan kematianmu, dan membenci kedekatan denganmu."

فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ لِلَّهِ أَنْتَ يَا أَحْنَفُ لَقَدْ دَخَلْتَ عَلَيَّ وَأَنَا مَمْلُوءٌ غَضَبًا وَغَيْظًا عَلَى يَزِيدَ

Mu'awiyah berkata kepadanya, "Luar biasa engkau, wahai Ahnaf! Sungguh engkau masuk menemuiku saat aku dipenuhi amarah dan kemurkaan kepada Yazid."

فَلَمَّا خَرَجَ الْأَحْنَفُ مِنْ عِنْدِهِ رَضِيَ عَنْ يَزِيدَ وَبَعَثَ إِلَيْهِ بِمِائَتَيْ أَلْفِ دِرْهَمٍ وَمِائَتَيْ ثَوْبٍ

Ketika Al-Ahnaf keluar dari sisinya, ia menjadi ridha kepada Yazid dan mengiriminya dua ratus ribu dirham dan dua ratus helai pakaian.

فَأَرْسَلَ يَزِيدُ إِلَى الْأَحْنَفِ بِمِائَةِ أَلْفِ دِرْهَمٍ وَمِائَةِ ثَوْبٍ فَقَاسَمَهُ إِيَّاهَا عَلَى الشَّطْرِ

Lalu Yazid mengirimkan kepada Al-Ahnaf seratus ribu dirham dan seratus helai pakaian, lalu ia membaginya separuh untuk dirinya.

فَهَذِهِ هِيَ الْأَخْبَارُ الدَّالَّةُ عَلَى تَأَكُّدِ حَقِّ الْوَالِدَيْنِ

Inilah riwayat-riwayat yang menunjukkan betapa ditekankannya hak kedua orang tua.

وَكَيْفِيَّةُ الْقِيَامِ بِحَقِّهِمَا تُعْرَفُ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ فِي حَقِّ الْأُخُوَّةِ

Dan cara menunaikan hak keduanya dapat diketahui dari apa yang telah kami sebutkan tentang hak persaudaraan.

فَإِنَّ هَذِهِ الرَّابِطَةَ آكَدُ مِنَ الْأُخُوَّةِ

Karena ikatan ini lebih kuat daripada ikatan persaudaraan.

بَلْ يَزِيدُ هَهُنَا أَمْرَانِ

Bahkan, di sini ada tambahan dua perkara.

أَحَدُهُمَا أَنَّ أَكْثَرَ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّ طَاعَةَ الْأَبَوَيْنِ وَاجِبَةٌ فِي الشُّبُهَاتِ

Pertama, bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa menaati kedua orang tua adalah wajib dalam hal-hal yang syubhat (samar).

وَإِنْ لَمْ تَجِبْ فِي الْحَرَامِ الْمَحْضِ

Meskipun tidak wajib dalam hal yang jelas-jelas haram.

حَتَّى إِذَا كَانَا يَتَنَغَّصَانِ بِانْفِرَادِكَ عَنْهُمَا بِالطَّعَامِ فَعَلَيْكَ أَنْ تَأْكُلَ مَعَهُمَا

Hingga jika keduanya merasa tidak nyaman jika engkau makan terpisah dari mereka, maka engkau harus makan bersama mereka.

لِأَنَّ تَرْكَ الشُّبْهَةِ وَرَعٌ وَرِضَا الْوَالِدَيْنِ حَتْمٌ

Karena meninggalkan syubhat adalah wara' (kehati-hatian), sedangkan keridhaan orang tua adalah sebuah kepastian (kewajiban).

وَكَذَلِكَ لَيْسَ لَكَ أَنْ تُسَافِرَ فِي مُبَاحٍ أَوْ نَافِلَةٍ إِلَّا بِإِذْنِهِمَا

Demikian pula, engkau tidak boleh bepergian untuk urusan yang mubah atau sunnah kecuali dengan izin keduanya.

وَالْمُبَادَرَةُ إِلَى الْحَجِّ الَّذِي هُوَ فَرْضُ الْإِسْلَامِ نَفْلٌ لِأَنَّهُ عَلَى التَّأْخِيرِ

Dan menyegerakan haji, yang merupakan kewajiban Islam, (hukumnya) menjadi sunnah (jika orang tua tidak mengizinkan), karena ia boleh ditunda.

وَالْخُرُوجُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ نَفْلٌ إِلَّا إِذَا كُنْتَ تَطْلُبُ عِلْمَ الْفَرْضِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَلَمْ يَكُنْ فِي بَلَدِكَ مَنْ يُعَلِّمُكَ

Pergi untuk menuntut ilmu hukumnya sunnah, kecuali jika engkau menuntut ilmu fardhu 'ain seperti shalat dan puasa, dan di negerimu tidak ada yang mengajarimu.

وَذَلِكَ كَمَنْ يُسْلِمُ ابْتِدَاءً فِي بَلَدٍ لَيْسَ فِيهَا مَنْ يُعَلِّمُهُ شَرْعَ الْإِسْلَامِ فَعَلَيْهِ الْهِجْرَةُ وَلَا يَتَقَيَّدُ بِحَقِّ الْوَالِدَيْنِ

Contohnya seperti orang yang baru masuk Islam di suatu negeri yang tidak ada orang yang bisa mengajarinya syariat Islam. Maka ia wajib berhijrah dan tidak terikat dengan hak kedua orang tua.

قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ هَاجَرَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْيَمَنِ وَأَرَادَ الْجِهَادَ

Abu Sa'id Al-Khudri berkata, "Seorang laki-laki dari Yaman berhijrah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ingin berjihad."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ بِالْيَمَنِ أَبَوَاكَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah di Yaman ada kedua orang tuamu?"

قَالَ نَعَمْ

Ia menjawab, "Ya."

قَالَ هَلْ أَذِنَا لَكَ

Beliau bertanya, "Apakah keduanya mengizinkanmu?"

قَالَ لَا

Ia menjawab, "Tidak."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَارْجِعْ إِلَى أَبَوَيْكَ فَاسْتَأْذِنْهُمَا

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Maka kembalilah kepada kedua orang tuamu dan mintalah izin kepada mereka."

فَإِنْ فَعَلَا فَجَاهِدْ وَإِلَّا فَبِرَّهُمَا مَا اسْتَطَعْتَ

"Jika keduanya mengizinkan, maka berjihadlah. Jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya semampumu."

فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرُ مَا تَلْقَى اللَّهَ بِهِ بَعْدَ التَّوْحِيدِ

"Karena sesungguhnya itu adalah amalan terbaik yang akan engkau persembahkan kepada Allah setelah tauhid."

وَجَاءَ آخَرُ إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَسْتَشِيرَهُ فِي الْغَزْوِ

Orang lain datang kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta nasihat tentang perang.

فَقَالَ أَلَكَ وَالِدَةٌ

Beliau bertanya, "Apakah engkau punya ibu?"

قَالَ نَعَمْ

Ia menjawab, "Ya."

قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا

Beliau bersabda, "Maka tetaplah bersamanya, karena surga berada di bawah telapak kakinya."

وَجَاءَ آخَرُ يَطْلُبُ الْبَيْعَةَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَقَالَ مَا جِئْتُكَ حَتَّى أَبْكَيْتُ وَالِدَيَّ

Orang lain datang untuk berbaiat hijrah dan berkata, "Aku tidak datang kepadamu sampai aku telah membuat kedua orang tuaku menangis."

فَقَالَ ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

Beliau bersabda, "Kembalilah kepada keduanya, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقُّ كَبِيرِ الْإِخْوَةِ عَلَى صَغِيرِهِمْ كَحَقِّ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hak saudara yang lebih tua atas yang lebih muda adalah seperti hak orang tua atas anaknya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَصْعَبَتْ عَلَى أَحَدِكُمْ دَابَّتُهُ أَوْ سَاءَ خُلُقُ زَوْجَتِهِ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَلْيُؤَذِّنْ فِي أُذُنِهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika tunggangan salah seorang dari kalian sulit dikendalikan, atau istrinya berperangai buruk, atau salah seorang anggota keluarganya, maka hendaklah ia mengumandangkan adzan di telinganya."

حُقُوقُ الْمَمْلُوكِ

Hak-hak Hamba Sahaya

اعْلَمْ أَنَّ مِلْكَ النِّكَاحِ قَدْ سَبَقَتْ حُقُوقُهُ فِي آدَابِ النِّكَاحِ

Ketahuilah, hak-hak kepemilikan melalui pernikahan telah disebutkan sebelumnya dalam Adab-adab Pernikahan.

فَأَمَّا مِلْكُ الْيَمِينِ فَهُوَ أَيْضًا يَقْتَضِي حُقُوقًا فِي الْمُعَاشَرَةِ لَا بُدَّ مِنْ مُرَاعَاتِهَا

Adapun kepemilikan hamba sahaya, ia juga menuntut hak-hak dalam pergaulan yang harus diperhatikan.

فَقَدْ كَانَ مِنْ آخِرِ مَا أَوْصَى بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Sungguh, di antara wasiat terakhir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah beliau bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dalam urusan hamba sahaya kalian."

أَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَاكْسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ

"Beri mereka makan dari apa yang kalian makan, dan beri mereka pakaian dari apa yang kalian pakai."

وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مِنَ الْعَمَلِ مَا لَا يُطِيقُونَ

"Dan janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mereka sanggupi."

فَمَا أَحْبَبْتُمْ فَأَمْسِكُوا وَمَا كَرِهْتُمْ فَبِيعُوا

"Apa yang kalian sukai, maka pertahankanlah. Dan apa yang kalian benci, maka juallah."

وَلَا تُعَذِّبُوا خَلْقَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ مَلَّكَكُمْ إِيَّاهُمْ وَلَوْ شَاءَ لَمَلَّكَهُمْ إِيَّاكُمْ

"Dan janganlah kalian menyiksa makhluk Allah. Sesungguhnya Allah telah menjadikan kalian sebagai pemilik mereka. Jika Dia berkehendak, niscaya Dia akan menjadikan mereka sebagai pemilik kalian."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ مَا لَا يُطِيقُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya dengan cara yang ma'ruf, dan tidak dibebani pekerjaan yang tidak ia sanggupi."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ خِبٌّ وَلَا مُتَكَبِّرٌ وَلَا خَائِنٌ وَلَا سَيِّئُ الْمَلَكَةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang licik, sombong, khianat, dan orang yang buruk dalam memperlakukan hamba sahayanya."

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ نَعْفُو عَنِ الْخَادِمِ

Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, berapa kali kita harus memaafkan seorang pembantu?'"

فَصَمَتَ عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diam.

ثُمَّ قَالَ اعْفُ عَنْهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً

Kemudian beliau bersabda, "Maafkanlah ia setiap hari sebanyak tujuh puluh kali."

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَذْهَبُ إِلَى الْعَوَالِي فِي كُلِّ يَوْمِ سَبْتٍ

Umar radhiyallahu 'anhu biasa pergi ke daerah 'Awali setiap hari Sabtu.

فَإِذَا وَجَدَ عَبْدًا فِي عَمَلٍ لَا يُطِيقُهُ وَضَعَ عَنْهُ مِنْهُ

Jika ia menemukan seorang budak mengerjakan pekerjaan yang tidak ia sanggupi, ia akan meringankannya.

وَيُرْوَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا عَلَى دَابَّتِهِ وَغُلَامُهُ يَسْعَى خَلْفَهُ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa ia melihat seorang laki-laki menunggangi hewannya sementara pembantunya berlari di belakangnya.

فَقَالَ لَهُ يَا عَبْدَ اللَّهِ احْمِلْهُ خَلْفَكَ فَإِنَّمَا هُوَ أَخُوكَ رُوحُهُ مِثْلُ رُوحِكَ

Ia berkata kepadanya, "Wahai hamba Allah, boncenglah ia di belakangmu. Sesungguhnya ia adalah saudaramu, ruhnya sama seperti ruhmu."

فَحَمَلَهُ

Laki-laki itu pun memboncengnya.

ثُمَّ قَالَ لَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَزْدَادُ مِنَ اللَّهِ بُعْدًا مَا مَشَى خَلْفَهُ

Kemudian (Abu Hurairah) berkata, "Seorang hamba (majikan) akan terus bertambah jauh dari Allah selama ia berjalan (sementara pembantunya) di belakangnya."

وَقَالَتْ جَارِيَةٌ لِأَبِي الدَّرْدَاءِ إِنِّي سَمَمْتُكَ مُنْذُ سَنَةٍ فَمَا عَمِلَ فِيكَ شَيْئًا

Seorang budak wanita berkata kepada Abu Darda, "Aku telah meracunimu sejak setahun yang lalu, namun tidak berpengaruh apa-apa padamu."

فَقَالَ لِمَ فَعَلْتِ ذَلِكَ

Ia bertanya, "Mengapa engkau melakukan itu?"

فَقَالَتْ أَرَدْتُ الرَّاحَةَ مِنْكَ

Ia menjawab, "Aku ingin beristirahat darimu."

فَقَالَ اذْهَبِي فَأَنْتِ حُرَّةٌ لِوَجْهِ اللَّهِ

Abu Darda berkata, "Pergilah, engkau merdeka karena Allah."

وَقَالَ الزُّهْرِيُّ مَتَى قُلْتَ لِلْمَمْلُوكِ أَخْزَاكَ اللَّهُ فَهُوَ حُرٌّ

Az-Zuhri berkata, "Kapan pun engkau berkata kepada seorang hamba sahaya, 'Semoga Allah menghinakanmu,' maka ia menjadi merdeka."

وَقِيلَ لِلْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ مِمَّنْ تَعَلَّمْتَ الْحِلْمَ

Dikatakan kepada Al-Ahnaf bin Qais, "Dari siapa engkau belajar sifat sabar?"

قَالَ مِنْ قَيْسِ بْنِ عَاصِمٍ

Ia menjawab, "Dari Qais bin 'Ashim."

قِيلَ فَمَا بَلَغَ مِنْ حِلْمِهِ

Ditanyakan, "Seberapa jauh tingkat kesabarannya?"

قَالَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي دَارِهِ إِذْ أَتَتْهُ خَادِمَةٌ لَهُ بِسَفُّودٍ عَلَيْهِ شِوَاءٌ

Ia menjawab, "Ketika ia sedang duduk di rumahnya, datanglah seorang pembantu wanitanya membawa tusuk sate yang berisi daging panggang."

فَسَقَطَ السَّفُّودُ مِنْ يَدِهَا عَلَى ابْنٍ لَهُ فَعَقَرَهُ فَمَاتَ

Tusuk sate itu jatuh dari tangannya mengenai seorang putranya, melukainya, lalu putranya itu meninggal.

فَدَهِشَتِ الْجَارِيَةُ

Pembantu wanita itu pun terkejut.

فَقَالَ لَيْسَ يُسَكِّنُ رَوْعَ هَذِهِ الْجَارِيَةِ إِلَّا الْعِتْقُ

Qais berkata, "Tidak ada yang bisa menenangkan ketakutan pembantu ini kecuali kemerdekaan."

فَقَالَ لَهَا أَنْتِ حُرَّةٌ لَا بَأْسَ عَلَيْكِ

Lalu ia berkata kepadanya, "Engkau merdeka, tidak ada salah atasmu."

وَكَانَ عَوْنُ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ إِذَا عَصَاهُ غُلَامُهُ قَالَ مَا أَشْبَهَكَ بِمَوْلَاكَ

'Aun bin Abdullah jika pembantunya tidak menaatinya, ia akan berkata, "Betapa miripnya engkau dengan majikanmu."

مَوْلَاكَ يَعْصِي مَوْلَاهُ وَأَنْتَ تَعْصِي مَوْلَاكَ

"Majikanmu durhaka kepada Tuhannya, dan engkau durhaka kepada majikanmu."

فَأَغْضَبَهُ يَوْمًا فَقَالَ إِنَّمَا تُرِيدُ أَنْ أَضْرِبَكَ اذْهَبْ فَأَنْتَ حُرٌّ

Suatu hari pembantunya membuatnya marah, lalu ia berkata, "Engkau hanya ingin aku memukulmu. Pergilah, engkau merdeka."

وَكَانَ عِنْدَ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ ضَيْفٌ

Maimun bin Mihran kedatangan seorang tamu.

فَاسْتَعْجَلَ عَلَى جَارِيَتِهِ بِالْعَشَاءِ

Ia menyuruh pembantu wanitanya untuk segera menyiapkan makan malam.

فَجَاءَتْ مُسْرِعَةً وَمَعَهَا قَصْعَةٌ مَمْلُوءَةٌ فَعَثَرَتْ وَأَرَاقَتْهَا عَلَى رَأْسِ سَيِّدِهَا مَيْمُونٍ

Pembantu itu datang dengan tergesa-gesa membawa sebuah mangkuk penuh, lalu ia tersandung dan menumpahkannya ke atas kepala majikannya, Maimun.

فَقَالَ يَا جَارِيَةُ أَحْرَقْتِنِي

Maimun berkata, "Wahai pembantu, engkau membakarku!"

قَالَتْ يَا مُعَلِّمَ الْخَيْرِ وَمُؤَدِّبَ النَّاسِ ارْجِعْ إِلَى مَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى

Ia menjawab, "Wahai guru kebaikan dan pendidik manusia, kembalilah kepada apa yang difirmankan Allah Ta'ala."

قَالَ وَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى

Maimun bertanya, "Dan apa yang difirmankan Allah Ta'ala?"

قَالَتْ قَالَ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

Ia berkata, "Dia berfirman, '...dan orang-orang yang menahan amarahnya.'"

قَالَ قَدْ كَظَمْتُ غَيْظِي

Maimun berkata, "Aku telah menahan amarahku."

قَالَتْ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

Ia berkata, "'...dan memaafkan (kesalahan) orang.'"

قَالَ قَدْ عَفَوْتُ عَنْكِ

Maimun berkata, "Aku telah memaafkanmu."

قَالَتْ زِدْ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Ia berkata, "Tambahlah, karena Allah Ta'ala berfirman, '...Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.'"

قَالَ أَنْتِ حُرَّةٌ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى

Maimun berkata, "Engkau merdeka karena wajah Allah Ta'ala."

وَقَالَ ابْنُ الْمُنْكَدِرِ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ عَبْدًا لَهُ

Ibnu Al-Munkadir berkata bahwa seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memukul budaknya.

فَجَعَلَ الْعَبْدُ يَقُولُ أَسْأَلُكَ بِاللَّهِ أَسْأَلُكَ بِوَجْهِ اللَّهِ فَلَمْ يَعْفُهُ

Budak itu terus berkata, "Aku memohon kepadamu demi Allah! Aku memohon kepadamu demi wajah Allah!" namun majikannya tidak memaafkannya.

فَسَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَاحَ الْعَبْدِ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendengar teriakan budak itu lalu menghampirinya.

فَلَمَّا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْسَكَ يَدَهُ

Ketika majikan itu melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia menahan tangannya.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ سَأَلَكَ بِوَجْهِ اللَّهِ فَلَمْ تَعْفُهُ فَلَمَّا رَأَيْتَنِي أَمْسَكْتَ يَدَكَ

Rasulullah bersabda, "Ia memohon kepadamu demi wajah Allah dan engkau tidak memaafkannya. Ketika engkau melihatku, engkau menahan tanganmu."

قَالَ فَإِنَّهُ حُرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Majikan itu berkata, "Kalau begitu, ia merdeka karena wajah Allah, wahai Rasulullah."

فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلْ لَسَفَعَتْ وَجْهَكَ النَّارُ

Beliau bersabda, "Seandainya engkau tidak melakukannya, niscaya api neraka akan membakar wajahmu."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَبْدُ إِذَا نَصَحَ لِسَيِّدِهِ وَأَحْسَنَ عِبَادَةَ اللَّهِ فَلَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang hamba, jika ia tulus kepada majikannya dan baik dalam ibadahnya kepada Allah, maka ia mendapatkan pahala dua kali lipat."

وَلَمَّا أُعْتِقَ أَبُو رَافِعٍ بَكَى وَقَالَ كَانَ لِي أَجْرَانِ فَذَهَبَ أَحَدُهُمَا

Ketika Abu Rafi' dimerdekakan, ia menangis dan berkata, "Dahulu aku punya dua pahala, sekarang salah satunya telah hilang."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُرِضَ عَلَيَّ أَوَّلُ ثَلَاثَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَأَوَّلُ ثَلَاثَةٍ يَدْخُلُونَ النَّارَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Telah diperlihatkan kepadaku tiga golongan pertama yang masuk surga dan tiga golongan pertama yang masuk neraka."

فَأَمَّا أَوَّلُ ثَلَاثَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَالشَّهِيدُ وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ وَنَصَحَ لِسَيِّدِهِ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ

"Adapun tiga golongan pertama yang masuk surga adalah: orang yang mati syahid, seorang hamba sahaya yang baik ibadahnya kepada Tuhannya dan tulus kepada majikannya, dan orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya serta memiliki tanggungan keluarga."

وَأَوَّلُ ثَلَاثَةٍ يَدْخُلُونَ النَّارَ أَمِيرٌ مُسَلَّطٌ وَذُو ثَرْوَةٍ لَا يُعْطِي حَقَّ اللَّهِ وَفَقِيرٌ فَخُورٌ

"Dan tiga golongan pertama yang masuk neraka adalah: penguasa yang sewenang-wenang, orang kaya yang tidak menunaikan hak Allah, dan orang miskin yang sombong."

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أَضْرِبُ غُلَامًا لِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِي اعْلَمْ يَا أَبَا مَسْعُودٍ مَرَّتَيْنِ

Dari Abu Mas'ud Al-Anshari, ia berkata, "Ketika aku sedang memukul pembantuku, tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku, 'Ketahuilah, wahai Abu Mas'ud!' dua kali."

فَالْتَفَتُّ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Aku menoleh, dan ternyata itu adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

فَأَلْقَيْتُ السَّوْطَ مِنْ يَدِي

"Maka aku pun menjatuhkan cambuk dari tanganku."

فَقَالَ وَاللَّهِ لَلَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا

Beliau bersabda, "Demi Allah, sungguh Allah lebih berkuasa atasmu daripada engkau atas anak ini."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ابْتَاعَ أَحَدُكُمُ الْخَادِمَ فَلْيَكُنْ أَوَّلُ شَيْءٍ يُطْعِمُهُ الْحُلْوَ فَإِنَّهُ أَطْيَبُ لِنَفْسِهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika salah seorang dari kalian membeli seorang pembantu, hendaklah hal pertama yang ia berikan sebagai makanan adalah sesuatu yang manis, karena itu lebih menenangkan hatinya."

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ فَلْيُجْلِسْهُ وَلْيَأْكُلْ مَعَهُ

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Jika pembantumu datang membawakan makananmu, maka ajaklah ia duduk dan makan bersamanya.'"

فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلْيُنَاوِلْهُ لُقْمَةً

"'Jika tidak, maka berilah ia sesuap.'"

وَفِي رِوَايَةٍ إِذَا كَفَى أَحَدَكُمْ مَمْلُوكُهُ صَنْعَةَ طَعَامِهِ فَكَفَاهُ حَرَّهُ وَمُؤْنَتَهُ وَقَرَّبَهُ إِلَيْهِ فَلْيُجْلِسْهُ وَلْيَأْكُلْ مَعَهُ

Dalam riwayat lain, "Jika hamba sahayamu telah menyelesaikan tugas menyiapkan makananmu, telah menanggung panas dan kesulitannya, lalu membawanya kepadamu, maka ajaklah ia duduk dan makan bersamanya."

فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلْيُنَاوِلْهُ أَوْ لِيَأْخُذَ أُكْلَةً فَلْيُرَوِّغْهَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ وَلْيَضَعْهَا فِي يَدِهِ وَلْيَقُلْ كُلْ هَذِهِ

"Jika tidak, maka berilah ia, atau ambillah sesuap lalu lumurilah (dengan lauk), –beliau memberi isyarat dengan tangannya–, letakkan di tangannya, dan katakanlah, 'Makanlah ini.'"

وَدَخَلَ عَلَى سَلْمَانَ رَجُلٌ وَهُوَ يَعْجِنُ

Seseorang masuk menemui Salman saat ia sedang mengadoni adonan.

فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ مَا هَذَا

Ia bertanya, "Wahai Abu Abdillah, apa ini?"

فَقَالَ بَعَثْنَا الْخَادِمَ فِي شُغْلٍ فَكَرِهْنَا أَنْ نَجْمَعَ عَلَيْهِ عَمَلَيْنِ

Salman menjawab, "Kami mengutus pembantu untuk suatu urusan, dan kami tidak suka membebaninya dengan dua pekerjaan sekaligus."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ جَارِيَةٌ فَصَانَهَا وَأَحْسَنَ إِلَيْهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَذَلِكَ لَهُ أَجْرَانِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa memiliki seorang budak wanita, lalu ia menjaganya dan berbuat baik kepadanya, kemudian ia memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala."

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya."

فَجُمْلَةُ حَقِّ الْمَمْلُوكِ أَنْ يُشْرِكَهُ فِي طُعْمَتِهِ وَكِسْوَتِهِ

Maka, kesimpulan hak seorang hamba sahaya adalah: majikannya harus menyertakannya dalam makanan dan pakaiannya.

وَلَا يُكَلِّفُهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ

Tidak membebaninya di luar kemampuannya.

وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الْكِبْرِ وَالِازْدِرَاءِ

Tidak memandangnya dengan pandangan sombong dan meremehkan.

وَأَنْ يَعْفُوَ عَنْ زَلَّتِهِ

Dan memaafkan kesalahannya.

وَأَنْ يَتَفَكَّرَ عِنْدَ غَضَبِهِ عَلَيْهِ بِهَفْوَتِهِ أَوْ بِجِنَايَتِهِ فِي مَعَاصِيهِ وَجِنَايَتِهِ عَلَى حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى

Dan hendaknya ia merenung, ketika marah atas kesalahan atau kejahatan budaknya, akan kemaksiatan dan kejahatannya sendiri terhadap hak Allah Ta'ala.

وَتَقْصِيرِهِ فِي طَاعَتِهِ مَعَ أَنَّ قُدْرَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ فَوْقَ قُدْرَتِهِ

Dan kelalaiannya dalam menaati-Nya, padahal kekuasaan Allah atas dirinya lebih besar daripada kekuasaannya (atas budaknya).

وَرَوَى فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يُسْأَلُ عَنْهُمْ

Fadhalah bin 'Ubaid meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ada tiga golongan yang tidak perlu ditanya (tentang kebinasaan mereka)."

رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَرَجُلٌ عَصَى إِمَامَهُ فَمَاتَ عَاصِيًا فَلَا يُسْأَلُ عَنْهُمَا

"Seorang laki-laki yang memisahkan diri dari jama'ah, dan seorang laki-laki yang durhaka kepada pemimpinnya lalu mati dalam keadaan durhaka, maka tidak perlu ditanya tentang keduanya."

وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلَا يُسْأَلُ عَنْهَا

"Dan seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya padahal suaminya telah mencukupi kebutuhan dunianya, lalu ia berhias (bertabarruj) setelahnya, maka tidak perlu ditanya tentangnya."

وَثَلَاثَةٌ لَا يُسْأَلُ عَنْهُمْ رَجُلٌ يُنَازِعُ اللَّهَ رِدَاءَهُ وَرِدَاؤُهُ الْكِبْرِيَاءُ وَإِزَارُهُ الْعِزُّ

"Dan tiga (golongan lain) yang tidak perlu ditanya: seorang laki-laki yang merebut selendang Allah, dan selendang-Nya adalah kesombongan, serta sarung-Nya adalah kemuliaan."

وَرَجُلٌ فِي شَكٍّ مِنَ اللَّهِ وَقُنُوطٍ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

"Dan seorang laki-laki yang ragu terhadap Allah dan berputus asa dari rahmat Allah."

تَمَّ كِتَابُ آدَابِ الصُّحْبَةِ وَالْمُعَاشَرَةِ مَعَ أَصْنَافِ الْخَلْقِ

Telah Selesai Kitab Adab-adab Berteman dan Bergaul dengan Berbagai Macam Manusia.