Hak Seorang Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya (4)

وَمِنْهَا أَنْ يَزُورَ قُبُورَهُمْ

Di antaranya adalah menziarahi kuburan mereka.

وَالْمَقْصُودُ مِنْ ذَلِكَ الدُّعَاءُ وَالِاعْتِبَارُ وَتَرْقِيقُ الْقَلْبِ

Dan tujuan dari hal itu adalah berdoa, mengambil pelajaran, dan melembutkan hati.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Aku tidak pernah melihat suatu pemandangan pun melainkan kuburan lebih mengerikan darinya."

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى الْمَقَابِرَ

Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mendatangi pekuburan."

فَجَلَسَ إِلَى قَبْرٍ وَكُنْتُ أَدْنَى الْقَوْمِ مِنْهُ

Beliau duduk di dekat sebuah kuburan, dan aku adalah orang yang paling dekat dengan beliau.

فَبَكَى وَبَكَيْنَا

Lalu beliau menangis, dan kami pun menangis.

فَقَالَ مَا يُبْكِيكُمْ

Beliau bertanya, "Apa yang membuat kalian menangis?"

قُلْنَا بَكَيْنَا لِبُكَائِكَ

Kami menjawab, "Kami menangis karena tangisanmu."

قَالَ هَذَا قَبْرُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبٍ

Beliau bersabda, "Ini adalah kuburan Aminah binti Wahb."

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي زِيَارَتِهَا فَأَذِنَ لِي

"Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk menziarahinya, dan Dia mengizinkanku."

وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَأَبَى عَلَيَّ

"Dan aku meminta izin kepada-Nya untuk memohonkan ampunan baginya, namun Dia tidak mengizinkanku."

فَأَدْرَكَنِي مَا يُدْرِكُ الْوَلَدَ مِنَ الرِّقَّةِ

"Lalu aku merasakan kelembutan (hati) yang dirasakan seorang anak."

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ بَكَى حَتَّى تَبْتَلَّ لِحْيَتُهُ

Umar radhiyallahu 'anhu jika berdiri di dekat kuburan, ia akan menangis hingga jenggotnya basah.

وَيَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ

Dan ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya kuburan adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat.'"

فَإِنْ نَجَا مِنْهُ صَاحِبُهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ

"'Jika penghuninya selamat darinya, maka apa yang sesudahnya akan lebih mudah.'"

وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ

"'Dan jika ia tidak selamat darinya, maka apa yang sesudahnya akan lebih berat.'"

وَقَالَ مُجَاهِدٌ أَوَّلُ مَا يُكَلِّمُ ابْنَ آدَمَ حُفْرَتُهُ

Mujahid berkata, "Hal pertama yang berbicara kepada anak Adam adalah liang lahatnya."

فَتَقُولُ أَنَا بَيْتُ الدُّودِ وَبَيْتُ الْوَحْدَةِ وَبَيْتُ الْغُرْبَةِ وَبَيْتُ الظُّلْمَةِ

Ia berkata, "Aku adalah rumah cacing, rumah kesendirian, rumah keterasingan, dan rumah kegelapan."

فَهَذَا مَا أَعْدَدْتُ لَكَ فَمَا أَعْدَدْتَ لِي

"Inilah yang telah kusiapkan untukmu, lalu apa yang telah engkau siapkan untukku?"

وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِيَوْمِ فَقْرِي يَوْمَ أُوضَعُ فِي قَبْرِي

Abu Dzar berkata, "Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang hari kemiskinanku? Yaitu hari ketika aku diletakkan di dalam kuburku."

كَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقْعُدُ إِلَى الْقُبُورِ فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ

Abu Darda biasa duduk di dekat kuburan, lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu.

فَقَالَ أَجْلِسُ إِلَى قَوْمٍ يُذَكِّرُونَنِي مَعَادِي وَإِنْ قُمْتُ عَنْهُمْ لَمْ يَغْتَابُونِي

Ia menjawab, "Aku duduk bersama kaum yang mengingatkanku akan hari kembaliku, dan jika aku meninggalkan mereka, mereka tidak akan menggunjingku."

وَقَالَ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ مَنْ مَرَّ بِالْمَقَابِرِ فَلَمْ يَتَفَكَّرْ لِنَفْسِهِ وَلَمْ يَدْعُ لَهُمْ فَقَدْ خَانَ نَفْسَهُ وَخَانَهُمْ

Hatim Al-Asham berkata, "Barangsiapa melewati pekuburan lalu tidak merenung untuk dirinya sendiri dan tidak mendoakan mereka (penghuni kubur), maka ia telah mengkhianati dirinya sendiri dan mengkhianati mereka."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ لَيْلَةٍ إِلَّا وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ مَنْ تَغْبِطُونَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada satu malam pun kecuali ada penyeru yang berseru, 'Wahai penghuni kubur, siapakah yang kalian irikan?'"

قَالُوا نَغْبِطُ أَهْلَ الْمَسَاجِدِ لِأَنَّهُمْ يَصُومُونَ وَلَا نَصُومُ وَيُصَلُّونَ وَلَا نُصَلِّي وَيَذْكُرُونَ اللَّهَ وَلَا نَذْكُرُهُ

Mereka menjawab, "Kami mengirikan para ahli masjid, karena mereka berpuasa sedangkan kami tidak, mereka shalat sedangkan kami tidak, dan mereka berzikir kepada Allah sedangkan kami tidak."

وَقَالَ سُفْيَانُ مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْقَبْرِ وَجَدَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

Sufyan berkata, "Barangsiapa banyak mengingat kubur, ia akan mendapatinya sebagai sebuah taman dari taman-taman surga."

وَمَنْ غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ وَجَدَهُ حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النَّارِ

"Dan barangsiapa lalai dari mengingatnya, ia akan mendapatinya sebagai sebuah jurang dari jurang-jurang neraka."

وَكَانَ الرَّبِيعُ بْنُ خُيْثَمٍ قَدْ حَفَرَ فِي دَارِهِ قَبْرًا

Ar-Rabi' bin Khutsaim pernah menggali kuburan di rumahnya.

فَكَانَ إِذَا وَجَدَ فِي قَلْبِهِ قَسَاوَةً دَخَلَ فِيهِ فَاضْطَجَعَ فِيهِ وَمَكَثَ سَاعَةً

Apabila ia merasakan kekerasan dalam hatinya, ia masuk ke dalamnya, berbaring di situ, dan diam sejenak.

ثُمَّ قَالَ {رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ}

Kemudian ia berkata, "{Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan}."

ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِيعُ قَدْ أُرْجِعْتَ فَاعْمَلِ الْآنَ قَبْلَ أَنْ لَا تَرْجِعَ

Lalu ia berkata (kepada dirinya), "Wahai Rabi', engkau telah dikembalikan. Maka beramallah sekarang sebelum engkau tidak dapat kembali lagi."

وَقَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ

Maimun bin Mihran berkata, "Aku keluar bersama Umar bin Abdul Aziz ke pekuburan."

فَلَمَّا نَظَرَ إِلَى الْقُبُورِ بَكَى وَقَالَ يَا مَيْمُونُ هَذِهِ قُبُورُ آبَائِي بَنِي أُمَيَّةَ

Ketika ia melihat kuburan-kuburan itu, ia menangis dan berkata, "Wahai Maimun, inilah kuburan nenek moyangku, Bani Umayyah."

كَأَنَّهُمْ لَمْ يُشَارِكُوا أَهْلَ الدُّنْيَا فِي لَذَّاتِهِمْ

"Seolah-olah mereka tidak pernah ikut serta merasakan kenikmatan dunia bersama penghuninya."

أَمَا تَرَاهُمْ صَرْعَى قَدْ خَلَتْ بِهِمُ الْمَثُلَاتُ وَأَصَابَ الْهَوَامُ مِنْ أَبْدَانِهِمْ

"Tidakkah engkau lihat mereka terbaring, telah ditimpa kehancuran, dan serangga-serangga telah mengenai tubuh-tubuh mereka."

ثُمَّ بَكَى وَقَالَ وَاللَّهِ مَا أَعْلَمُ أَحَدًا أَنْعَمَ مِمَّنْ صَارَ إِلَى هَذِهِ الْقُبُورِ وَقَدْ أَمِنَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ

Kemudian ia menangis dan berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih nikmat daripada orang yang telah sampai ke kuburan-kuburan ini, sementara ia telah aman dari azab Allah."

وَآدَابُ الْمُعَزِّي خَفْضُ الْجَنَاحِ وَإِظْهَارُ الْحُزْنِ وَقِلَّةُ الْحَدِيثِ وَتَرْكُ التَّبَسُّمِ

Adab orang yang bertakziah adalah: merendahkan diri, menunjukkan kesedihan, sedikit berbicara, dan tidak tersenyum.

وَآدَابُ تَشْيِيعِ الْجِنَازَةِ لُزُومُ الْخُشُوعِ وَتَرْكُ الْحَدِيثِ وَمُلَاحَظَةُ الْمَيِّتِ وَالتَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَالِاسْتِعْدَادُ لَهُ

Adab mengantar jenazah adalah: senantiasa khusyuk, tidak berbicara, memperhatikan jenazah, merenungkan kematian, dan mempersiapkan diri untuknya.

وَأَنْ يَمْشِيَ أَمَامَ الْجِنَازَةِ بِقُرْبِهَا

Dan berjalan di depan jenazah di dekatnya.

وَالْإِسْرَاعُ بِالْجِنَازَةِ سُنَّةٌ

Menyegerakan (pengurusan) jenazah adalah sunnah.

فَهَذِهِ جُمَلُ آدَابٍ تُنَبِّهُ عَلَى آدَابِ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ عُمُومِ الْخَلْقِ

Inilah kumpulan adab yang mengingatkan tentang adab-adab bergaul dengan seluruh makhluk.

وَالْجُمْلَةُ الْجَامِعَةُ فِيهِ أَنْ لَا تَسْتَصْغِرَ مِنْهُمْ أَحَدًا حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا فَتَهْلِكَ

Kesimpulan utamanya adalah: janganlah engkau meremehkan seorang pun dari mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah mati, agar engkau tidak binasa.

لِأَنَّكَ لَا تَدْرِي لَعَلَّهُ خَيْرٌ مِنْكَ

Karena engkau tidak tahu, bisa jadi ia lebih baik darimu.

فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ فَاسِقًا فَلَعَلَّهُ يُخْتَمُ لَكَ بِمِثْلِ حَالِهِ وَيُخْتَمُ لَهُ بِالصَّلَاحِ

Sebab, meskipun ia seorang yang fasik, bisa jadi akhir hayatmu seperti keadaannya (saat ini), dan akhir hayatnya adalah kebaikan.

وَلَا تَنْظُرْ إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ التَّعْظِيمِ لَهُمْ فِي حَالِ دُنْيَاهُمْ

Dan janganlah memandang mereka dengan pandangan mengagungkan karena keadaan dunia mereka.

فَإِنَّ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ عِنْدَ اللَّهِ صَغِيرٌ مَا فِيهَا

Karena sesungguhnya dunia itu kecil di sisi Allah, dan kecil pula apa yang ada di dalamnya.

وَمَهْمَا عَظَّمْتَ أَهْلَ الدُّنْيَا فِي نَفْسِكَ فَقَدْ عَظَّمْتَ الدُّنْيَا فَتَسْقُطُ مِنْ عَيْنِ اللَّهِ

Setiap kali engkau mengagungkan para pengejar dunia dalam dirimu, berarti engkau telah mengagungkan dunia, sehingga engkau akan jatuh dari pandangan Allah.

وَلَا تَبْذُلْ لَهُمْ دِينَكَ لِتَنَالَ مِنْ دُنْيَاهُمْ فَتَصْغَرَ فِي أَعْيُنِهِمْ ثُمَّ تُحْرَمَ دُنْيَاهُمْ

Janganlah engkau korbankan agamamu untuk mereka demi mendapatkan dunia mereka, karena engkau akan menjadi hina di mata mereka, lalu dihalangi dari dunia mereka.

فَإِنْ لَمْ تُحْرَمْ كُنْتَ قَدِ اسْتَبْدَلْتَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Jika engkau tidak dihalangi pun, berarti engkau telah menukar sesuatu yang lebih rendah dengan sesuatu yang lebih baik.

وَلَا تُعَادِهِمْ بِحَيْثُ تُظْهِرُ الْعَدَاوَةَ فَيَطُولَ الْأَمْرُ عَلَيْكَ فِي الْمُعَادَاةِ وَيَذْهَبَ دِينُكَ وَدُنْيَاكَ فِيهِمْ وَيَذْهَبَ دِينُهُمْ فِيكَ

Dan janganlah memusuhi mereka dengan menampakkan permusuhan, karena urusan permusuhan itu akan menjadi panjang bagimu, dan agamamu serta duniamu akan hilang karena mereka, dan agama mereka pun akan hilang karenamu.

إِلَّا إِذَا رَأَيْتَ مُنْكَرًا فِي الدِّينِ فَتُعَادِي أَفْعَالَهُمُ الْقَبِيحَةَ

Kecuali jika engkau melihat suatu kemungkaran dalam agama, maka musuhilah perbuatan-perbuatan mereka yang buruk.

وَتَنْظُرَ إِلَيْهِمْ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ لَهُمْ لِتَعَرُّضِهِمْ لِمَقْتِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ بِعِصْيَانِهِمْ

Dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang, karena mereka telah menjerumuskan diri pada kemurkaan dan siksa Allah dengan kemaksiatan mereka.

فَحَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَمَالَكَ تَحْقِدُ عَلَيْهِمْ

Cukuplah bagi mereka neraka jahanam yang akan mereka masuki, maka mengapa engkau harus mendengki mereka?

وَلَا تَسْكُنْ إِلَيْهِمْ فِي مَوَدَّتِهِمْ لَكَ وَثَنَائِهِمْ عَلَيْكَ فِي وَجْهِكَ وَحُسْنِ بِشْرِهِمْ لَكَ

Janganlah engkau merasa tenang dengan cinta mereka kepadamu, pujian mereka di hadapanmu, dan wajah ceria mereka kepadamu.

فَإِنَّكَ إِنْ طَلَبْتَ حَقِيقَةَ ذَلِكَ لَمْ تَجِدْ فِي الْمِائَةِ إِلَّا وَاحِدًا وَرُبَّمَا لَا تَجِدُهُ

Karena jika engkau mencari hakikat dari semua itu, engkau tidak akan menemukannya kecuali satu dari seratus orang, dan bahkan mungkin engkau tidak menemukannya sama sekali.

وَلَا تَشْكُ إِلَيْهِمْ أَحْوَالَكَ فَيَكِلَكَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ

Janganlah engkau mengadukan keadaanmu kepada mereka, karena Allah akan menyerahkan urusanmu kepada mereka.

وَلَا تَطْمَعْ أَنْ يَكُونُوا لَكَ فِي الْغَيْبِ وَالسِّرِّ كَمَا فِي الْعَلَانِيَةِ فَذَلِكَ طَمَعٌ كَاذِبٌ

Dan janganlah berharap mereka akan bersikap sama kepadamu saat engkau tidak ada dan secara rahasia, sebagaimana sikap mereka di hadapanmu. Itu adalah harapan yang palsu.

وَأَنَّى تَظْفَرُ بِهِ

Dan bagaimana mungkin engkau mendapatkannya?

وَلَا تَطْمَعْ فِيمَا فِي أَيْدِيهِمْ فَتَسْتَعْجِلَ الذُّلَّ وَلَا تَنَالَ الْغَرَضَ

Janganlah engkau menginginkan apa yang ada di tangan mereka, karena engkau akan menyegerakan kehinaan dan tidak akan mencapai tujuan.

وَلَا تَعْلُ عَلَيْهِمْ تَكَبُّرًا لِاسْتِغْنَائِكَ عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ يَلْجِئُكَ إِلَيْهِمْ عُقُوبَةً عَلَى التَّكَبُّرِ بِإِظْهَارِ الِاسْتِغْنَاءِ

Janganlah engkau menyombongkan diri atas mereka karena merasa tidak butuh, karena Allah akan membuatmu membutuhkan mereka sebagai hukuman atas kesombonganmu dengan menampakkan rasa tidak butuh itu.

وَإِذَا سَأَلْتَ أَخًا مِنْهُمْ حَاجَةً فَقَضَاهَا فَهُوَ أَخٌ مُسْتَفَادٌ

Jika engkau meminta suatu keperluan kepada seorang saudara dari mereka lalu ia memenuhinya, maka ia adalah saudara yang bermanfaat.

وَإِنْ لَمْ يَقْضِ فَلَا تُعَاتِبْهُ فَيَصِيرَ عَدُوًّا تَطُولُ عَلَيْكَ مُقَاسَاتُهُ

Dan jika ia tidak memenuhinya, janganlah mencelanya, karena ia akan menjadi musuh yang akan lama engkau hadapi.

وَلَا تَشْتَغِلْ بِوَعْظِ مَنْ لَا تَرَى فِيهِ مَخَايِلَ الْقَبُولِ

Janganlah sibuk menasihati orang yang tidak engkau lihat padanya tanda-tanda akan menerima.

فَلَا يَسْمَعُ مِنْكَ وَيُعَادِيكَ

Ia tidak akan mendengarkanmu dan justru akan memusuhimu.

وَلِيَكُنْ وَعْظُكَ عَرَضًا وَاسْتِرْسَالًا مِنْ غَيْرِ تَنْصِيصٍ عَلَى الشَّخْصِ

Hendaklah nasihatmu bersifat umum dan mengalir, tanpa menunjuk langsung kepada seseorang.

وَمَهْمَا رَأَيْتَ مِنْهُمْ كَرَامَةً وَخَيْرًا فَاشْكُرِ اللَّهَ الَّذِي سَخَّرَهُمْ لَكَ

Setiap kali engkau melihat kemuliaan dan kebaikan dari mereka, maka bersyukurlah kepada Allah yang telah menundukkan mereka untukmu.

وَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ أَنْ يَكِلَكَ إِلَيْهِمْ

Dan berlindunglah kepada Allah agar Dia tidak menyerahkan urusanmu kepada mereka.

وَإِذَا بَلَغَكَ عَنْهُمْ غِيبَةٌ أَوْ رَأَيْتَ مِنْهُمْ شَرًّا أَوْ أَصَابَكَ مِنْهُمْ مَا يَسُوءُكَ فَكِلْ أَمْرَهُمْ إِلَى اللَّهِ

Jika sampai kepadamu gunjingan tentang mereka, atau engkau melihat keburukan dari mereka, atau engkau ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan dari mereka, maka serahkanlah urusan mereka kepada Allah.

وَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهِمْ

Dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatan mereka.

وَلَا تَشْغَلْ نَفْسَكَ بِالْمُكَافَأَةِ فَيَزِيدَ الضَّرَرُ وَيَضِيعَ الْعُمْرُ بِشُغْلِهِ

Janganlah sibukkan dirimu dengan membalas, karena itu akan menambah mudarat dan menyia-nyiakan umur dengan kesibukan itu.

وَلَا تَقُلْ لَهُمْ لَمْ تَعْرِفُوا مَوْضِعِي

Dan jangan katakan kepada mereka, "Kalian tidak tahu kedudukanku."

وَاعْتَقِدْ أَنَّكَ لَوْ اسْتَحْقَيْتَ ذَلِكَ لَجَعَلَ اللَّهُ لَكَ مَوْضِعًا فِي قُلُوبِهِمْ

Dan yakinilah bahwa seandainya engkau memang berhak atas hal itu, niscaya Allah akan memberimu tempat di hati mereka.

فَاللَّهُ الْمُحَبِّبُ وَالْمُبَغِّضُ إِلَى الْقُلُوبِ

Karena Allahlah yang membuat hati mencintai dan membenci.

وَكُنْ فِيهِمْ سَمِيعًا لِحَقِّهِمْ أَصَمَّ عَنْ بَاطِلِهِمْ

Jadilah di antara mereka orang yang mendengar hak-hak mereka, namun tuli dari kebatilan mereka.

نَطُوقًا بِحَقِّهِمْ صَمُوتًا عَنْ بَاطِلِهِمْ

Banyak bicara tentang hak-hak mereka, dan diam tentang kebatilan mereka.

وَاحْذَرْ صُحْبَةَ أَكْثَرِ النَّاسِ فَإِنَّهُمْ لَا يُقِيلُونَ عَثْرَةً وَلَا يَغْفِرُونَ زَلَّةً وَلَا يَسْتُرُونَ عَوْرَةً

Waspadalah terhadap pertemanan dengan kebanyakan manusia, karena mereka tidak memaafkan kesalahan, tidak mengampuni ketergelinciran, dan tidak menutupi aib.

وَيُحَاسِبُونَ عَلَى النَّقِيرِ وَالْقِطْمِيرِ وَيَحْسُدُونَ عَلَى الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ

Mereka akan menghisab hal yang sekecil-kecilnya, dan mereka iri atas yang sedikit maupun yang banyak.

يَنْتَصِفُونَ وَلَا يُنْصِفُونَ

Mereka menuntut keadilan (untuk diri mereka) tetapi tidak berlaku adil (kepada orang lain).

وَيُؤَاخِذُونَ عَلَى الْخَطَأِ وَالنِّسْيَانِ وَلَا يَعْفُونَ

Mereka menghukum atas kesalahan dan kelupaan, dan tidak memaafkan.

يُغْرُونَ الْإِخْوَانَ عَلَى الْإِخْوَانِ بِالنَّمِيمَةِ وَالْبُهْتَانِ

Mereka mengadu domba saudara dengan saudara lainnya melalui fitnah dan kebohongan.

فَصُحْبَةُ أَكْثَرِهِمْ خُسْرَانٌ وَقَطِيعَتُهُمْ رُجْحَانٌ

Maka, berteman dengan kebanyakan mereka adalah kerugian, dan memutuskan hubungan dengan mereka adalah keuntungan.

إِنْ رَضُوا فَظَاهِرُهُمُ الْمَلَقُ وَإِنْ سَخِطُوا فَبَاطِنُهُمُ الْحَنَقُ

Jika mereka senang, lahiriah mereka adalah sanjungan. Dan jika mereka marah, batiniah mereka adalah kedengkian.

لَا يُؤْمَنُونَ فِي حَنَقِهِمْ وَلَا يُرْجَوْنَ فِي مَلَقِهِمْ

Tidak ada keamanan dari kedengkian mereka, dan tidak ada harapan dari sanjungan mereka.

ظَاهِرُهُمْ ثِيَابٌ وَبَاطِنُهُمْ ذِئَابٌ

Penampilan luar mereka adalah pakaian, namun batin mereka adalah serigala.

يَقْطَعُونَ بِالظُّنُونِ وَيَتَغَامَزُونَ وَرَاءَكَ بِالْعُيُونِ

Mereka memutuskan (hubungan) berdasarkan prasangka dan saling memberi isyarat mata di belakangmu.

وَيَتَرَبَّصُونَ بِصَدِيقِهِمْ مِنَ الْحَسَدِ رَيْبَ الْمَنُونِ

Mereka menantikan malapetaka menimpa teman mereka karena rasa iri.

يُحْصُونَ عَلَيْكَ الْعَثَرَاتِ فِي صُحْبَتِهِمْ لِيُوَاجِهُوكَ بِهَا فِي غَضَبِهِمْ وَوَحْشَتِهِمْ

Mereka menghitung-hitung kesalahanmu selama berteman dengan mereka, agar bisa mengungkitnya saat mereka marah dan bermusuhan denganmu.

وَلَا تُعَوِّلْ عَلَى مَوَدَّةِ مَنْ لَمْ تَخْبَرْهُ حَقَّ الْخِبْرَةِ

Dan janganlah engkau bersandar pada cinta seseorang yang belum engkau uji dengan sebenar-benarnya.

بِأَنْ تَصْحَبَهُ مُدَّةً فِي دَارٍ أَوْ مَوْضِعٍ وَاحِدٍ فَتُجَرِّبَهُ فِي عَزْلِهِ وَوِلَايَتِهِ وَغَنَاهُ وَفَقْرِهِ

Yaitu dengan menemaninya selama beberapa waktu di satu rumah atau tempat, lalu engkau mengujinya saat ia tidak menjabat dan saat ia menjabat, saat ia kaya dan saat ia miskin.

أَوْ تُسَافِرَ مَعَهُ أَوْ تُعَامِلَهُ فِي الدِّينārِ وَالدِّرْهَمِ

Atau engkau bepergian bersamanya, atau engkau bermuamalah dengannya dalam urusan dinar dan dirham.

أَوْ تَقَعَ فِي شِدَّةٍ فَتَحْتَاجَ إِلَيْهِ

Atau engkau jatuh dalam kesulitan lalu membutuhkannya.

فَإِنْ رَضِيتَهُ فِي الْأَحْوَالِ فَاتَّخِذْهُ أَبًا لَكَ إِنْ كَانَ كَبِيرًا أَوْ ابْنًا لَكَ إِنْ كَانَ صَغِيرًا أَوْ أَخَاكَ إِنْ كَانَ مِثْلَكَ

Jika engkau ridha dengannya dalam semua keadaan itu, maka jadikanlah ia sebagai ayahmu jika ia lebih tua, atau sebagai anakmu jika ia lebih muda, atau sebagai saudaramu jika ia sebayadamu.

فَهَذِهِ جُمْلَةُ آدَابِ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ أَصْنَافِ الْخَلْقِ

Inilah kumpulan adab bergaul dengan berbagai macam manusia.

حُقُوقُ الْجِوَارِ

Hak-hak Tetangga.

اعْلَمْ أَنَّ الْجِوَارَ يَقْضِي حَقًّا وَرَاءَ مَا تَقْتَضِيهِ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ

Ketahuilah bahwa hubungan tetangga menuntut hak yang lebih dari apa yang dituntut oleh persaudaraan Islam.

فَيَسْتَحِقُّ الْجَارُ الْمُسْلِمُ مَا يَسْتَحِقُّهُ كُلُّ مُسْلِمٍ وَزِيَادَةٌ

Maka tetangga yang muslim berhak mendapatkan apa yang menjadi hak setiap muslim, ditambah lagi (hak tetangga).

إِذْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجِيرَانُ ثَلَاثَةٌ

Karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tetangga itu ada tiga macam:"

جَارٌ لَهُ حَقٌّ وَاحِدٌ وَجَارٌ لَهُ حَقَّانِ وَجَارٌ لَهُ ثَلَاثَةُ حُقُوقٍ

"Tetangga yang memiliki satu hak, tetangga yang memiliki dua hak, dan tetangga yang memiliki tiga hak."

فَالْجَارُ الَّذِي لَهُ ثَلَاثَةُ حُقُوقٍ الْجَارُ الْمُسْلِمُ ذُو الرَّحِمِ

"Adapun tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga muslim yang masih kerabat."

فَلَهُ حَقُّ الْجِوَارِ وَحَقُّ الْإِسْلَامِ وَحَقُّ الرَّحِمِ

"Baginya ada hak tetangga, hak Islam, dan hak kekerabatan."

وَأَمَّا الَّذِي لَهُ حَقَّانِ فَالْجَارُ الْمُسْلِمُ لَهُ حَقُّ الْجِوَارِ وَحَقُّ الْإِسْلَامِ

"Adapun yang memiliki dua hak adalah tetangga muslim. Baginya ada hak tetangga dan hak Islam."

وَأَمَّا الَّذِي لَهُ حَقٌّ وَاحِدٌ فَالْجَارُ الْمُشْرِكُ

"Dan adapun yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik."

فَانْظُرْ كَيْفَ أَثْبَتَ لِلْمُشْرِكِ حَقًّا بِمُجَرَّدِ الْجِوَارِ

Maka lihatlah bagaimana beliau menetapkan hak bagi orang musyrik hanya karena hubungan ketetanggaan.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا

Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Berbuat baiklah dalam bertetangga dengan orang yang menjadi tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang muslim."

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa ia akan menjadikannya sebagai ahli waris."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah beriman seorang hamba sampai tetangganya merasa aman dari kejahatannya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ خَصْمَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَارَانِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Dua pihak yang pertama kali berseteru pada hari kiamat adalah dua orang tetangga."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَنْتَ رَمَيْتَ كَلْبَ جَارِكَ فَقَدْ آذَيْتَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika engkau melempar anjing tetanggamu, maka engkau telah menyakitinya."

وَيُرْوَى أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ لَهُ إِنَّ لِي جَارًا يُؤْذِينِي وَيَشْتُمُنِي وَيُضَيِّقُ عَلَيَّ

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dan berkata, "Sesungguhnya aku punya tetangga yang menyakitiku, mencaciku, dan menyusahkanku."

فَقَالَ اذْهَبْ فَإِنْ هُوَ عَصَى اللَّهَ فِيكَ فَأَطِعِ اللَّهَ فِيهِ

Ibnu Mas'ud menjawab, "Pergilah. Jika ia durhaka kepada Allah dalam urusanmu, maka taatilah Allah dalam urusannya."

وَقِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فُلَانَةَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا

Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya si Fulanah berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, tetapi ia menyakiti tetangganya."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ فِي النَّارِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ia di neraka."

وَجَاءَ رَجُلٌ إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُو جَارَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {اصْبِرْ}

Seorang laki-laki datang kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengadukan tetangganya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya, "{Bersabarlah}."

ثُمَّ قَالَ لَهُ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ اطْرَحْ مَتَاعَكَ فِي الطَّرِيقِ

Kemudian pada kali ketiga atau keempat, beliau berkata kepadanya, "Letakkan barang-barangmu di jalan."

قَالَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَمُرُّونَ بِهِ وَيَقُولُونَ مَالَكَ فَيُقَالُ آذَاهُ جَارُهُ

Laki-laki itu berkata, "Lalu orang-orang mulai melewatinya dan bertanya, 'Ada apa denganmu?' Lalu dijawab, 'Tetangganya telah menyakitinya.'"

قَالَ فَجَعَلُوا يَقُولُونَ لَعَنَهُ اللَّهُ

"Maka orang-orang pun mulai berkata, 'Semoga Allah melaknatnya.'"

فَجَاءَهُ جَارُهُ فَقَالَ لَهُ رُدَّ مَتَاعَكَ فَوَاللَّهِ لَا أَعُودُ

Lalu tetangganya datang dan berkata kepadanya, "Ambil kembali barang-barangmu. Demi Allah, aku tidak akan mengulanginya lagi."

وَرَوَى الزُّهْرِيُّ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَشْكُو جَارَهُ

Az-Zuhri meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu mulai mengadukan tetangganya.

فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنَادِيَ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ أَلَا إِنَّ أَرْبَعِينَ دَارًا جَارٌ

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya untuk menyeru di pintu masjid, "Ketahuilah, sesungguhnya empat puluh rumah adalah tetangga."

قَالَ الزُّهْرِيُّ أَرْبَعُونَ هَكَذَا وَأَرْبَعُونَ هَكَذَا وَأَرْبَعُونَ هَكَذَا وَأَرْبَعُونَ هَكَذَا وَأَوْمَأَ إِلَى أَرْبَعِ جِهَاتٍ

Az-Zuhri berkata, "Empat puluh ke arah sini, empat puluh ke arah sini, empat puluh ke arah sini, dan empat puluh ke arah sini," sambil menunjuk ke empat arah.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيُمْنُ وَالشُّؤْمُ فِي الْمَرْأَةِ وَالْمَسْكَنِ وَالْفَرَسِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Keberuntungan dan kesialan ada pada wanita, tempat tinggal, dan kuda."

فَيُمْنُ الْمَرْأَةِ خِفَّةُ مَهْرِهَا وَيُسْرُ نِكَاحِهَا وَحُسْنُ خُلُقِهَا

"Keberuntungan seorang wanita adalah ringannya maharnya, mudahnya pernikahannya, dan baiknya akhlaknya."

وَشُؤْمُهَا غَلَاءُ مَهْرِهَا وَعُسْرُ نِكَاحِهَا وَسُوءُ خُلُقِهَا

"Dan kesialannya adalah mahalnya maharnya, sulitnya pernikahannya, dan buruknya akhlaknya."

وَيُمْنُ الْمَسْكَنِ سَعَتُهُ وَحُسْنُ جِوَارِ أَهْلِهِ

"Keberuntungan tempat tinggal adalah keluasannya dan baiknya tetangganya."

وَشُؤْمُهُ ضِيقُهُ وَسُوءُ جِوَارِ أَهْلِهِ

"Dan kesialannya adalah kesempitannya dan buruknya tetangganya."

وَيُمْنُ الْفَرَسِ ذُلُّهُ وَحُسْنُ خُلُقِهِ وَشُؤْمُهُ صُعُوبَتُهُ وَسُوءُ خُلُقِهِ

"Keberuntungan kuda adalah kepatuhannya dan baiknya perangainya. Dan kesialannya adalah keliarannya dan buruknya perangainya."

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَيْسَ حَقُّ الْجِوَارِ كَفَّ الْأَذَى فَقَطْ بَلِ احْتِمَالَ الْأَذَى

Ketahuilah, hak tetangga itu bukan hanya menahan diri dari menyakiti, tetapi juga sabar terhadap gangguan.

فَإِنَّ الْجَارَ أَيْضًا قَدْ كَفَّ أَذَاهُ فَلَيْسَ فِي ذَلِكَ قَضَاءُ حَقٍّ

Karena tetangga itu (sendiri) juga telah menahan gangguannya, maka hal itu (sekadar menahan diri) belumlah memenuhi hak.

وَلَا يَكْفِي احْتِمَالُ الْأَذَى بَلْ لَابُدَّ مِنَ الرِّفْقِ وَإِسْدَاءِ الْخَيْرِ وَالْمَعْرُوفِ

Dan tidak cukup hanya sabar terhadap gangguan, tetapi harus ada kelembutan serta pemberian kebaikan dan kebajikan.

إِذْ يُقَالُ إِنَّ الْجَارَ الْفَقِيرَ يَتَعَلَّقُ بِجَارِهِ الْغَنِيِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ سَلْ هَذَا لِمَ مَنَعَنِي مَعْرُوفَهُ وَسَدَّ بَابَهُ دُونِي

Karena dikatakan bahwa tetangga yang miskin akan bergantung pada tetangganya yang kaya pada hari kiamat, lalu berkata, "Ya Rabbi, tanyakanlah kepada orang ini, mengapa ia menahan kebaikannya dariku dan menutup pintunya untukku."

وَبَلَغَ ابْنَ الْمُقَفَّعِ أَنَّ جَارًا لَهُ يَبِيعُ دَارَهُ فِي دَيْنٍ رَكِبَهُ

Telah sampai berita kepada Ibnu Al-Muqaffa' bahwa seorang tetangganya akan menjual rumahnya karena terlilit utang.

وَكَانَ يَجْلِسُ فِي ظِلِّ دَارِهِ

Dan ia (Ibnu Al-Muqaffa') biasa duduk di bawah naungan rumah tetangganya itu.

فَقَالَ مَا قُمْتُ إِذًا بِحُرْمَةِ ظِلِّ دَارِهِ إِنْ بَاعَهَا مُعْدَمًا

Ia berkata, "Kalau begitu, aku tidak memenuhi hak naungan rumahnya jika ia menjualnya karena miskin."

فَدَفَعَ إِلَيْهِ ثَمَنَ الدَّارِ وَقَالَ لَا تَبِعْهَا

Lalu ia memberikan harga rumah itu kepadanya dan berkata, "Janganlah engkau menjualnya."

وَشَكَا بَعْضُهُمْ كَثْرَةَ الْفَأْرِ فِي دَارِهِ

Seseorang mengeluhkan banyaknya tikus di rumahnya.

فَقِيلَ لَهُ لَوِ اقْتَنَيْتَ هِرًّا

Lalu dikatakan kepadanya, "Bagaimana jika engkau memelihara seekor kucing?"

فَقَالَ أَخْشَى أَنْ يَسْمَعَ الْفَأْرُ صَوْتَ الْهِرِّ فَيَهْرُبَ إِلَى دُورِ الْجِيرَانِ فَأَكُونَ قَدْ أَحْبَبْتُ لَهُمْ مَا لَا أُحِبُّ لِنَفْسِي

Ia menjawab, "Aku khawatir tikus-tikus itu mendengar suara kucing lalu lari ke rumah-rumah tetangga, sehingga aku telah menyukai untuk mereka sesuatu yang tidak aku sukai untuk diriku sendiri."

وَجُمْلَةُ حَقِّ الْجَارِ أَنْ يَبْدَأَهُ بِالسَّلَامِ وَلَا يُطِيلَ مَعَهُ الْكَلَامَ

Kesimpulan hak tetangga adalah: engkau memulai salam kepadanya, tidak memperpanjang pembicaraan dengannya,

وَلَا يُكْثِرَ عَنْ حَالِهِ السُّؤَالَ

tidak banyak bertanya tentang keadaannya,

وَيَعُودَهُ فِي الْمَرَضِ

menjenguknya ketika sakit,

وَيُعَزِّيَهُ فِي الْمُصِيبَةِ

menghiburnya ketika mendapat musibah,

وَيَقُومَ مَعَهُ فِي الْعَزَاءِ

menemaninya saat berduka,

وَيُهَنِّئَهُ فِي الْفَرَحِ

memberinya selamat saat ia bahagia,

وَيُظْهِرَ الشَّرِكَةَ فِي السُّرُورِ مَعَهُ

menunjukkan keikutsertaan dalam kegembiraannya,

وَيَصْفَحَ عَنْ زَلَّاتِهِ

memaafkan kesalahannya,

وَلَا يَتَطَلَّعَ مِنَ السَّطْحِ إِلَى عَوْرَاتِهِ

tidak mengintip aibnya dari atap rumah,

وَلَا يُضَايِقُهُ فِي وَضْعِ الْجِذْعِ عَلَى جِدَارِهِ

tidak menyusahkannya saat ia meletakkan balok kayu di dindingnya,

وَلَا فِي مَصَبِّ الْمَاءِ فِي مِيزَابِهِ

tidak (menyusahkannya) pada saluran airnya,

وَلَا فِي مَطْرَحِ التُّرَابِ فِي فِنَائِهِ

tidak (menyusahkannya) pada tempat membuang debu di halamannya,

وَلَا يُضَيِّقَ طُرُقَهُ إِلَى الدَّارِ

tidak mempersempit jalannya menuju rumah,

وَلَا يُتْبِعُهُ النَّظَرَ فِيمَا يَحْمِلُهُ إِلَى دَارِهِ

tidak terus memandangi apa yang ia bawa ke rumahnya,

وَيَسْتُرَ مَا يَنْكَشِفُ لَهُ مِنْ عَوْرَاتِهِ

menutupi aib-aibnya yang terlihat olehmu,

وَيُنْعِشُهُ مِنْ صَرْعَتِهِ إِذَا نَابَتْهُ نَائِبَةٌ

menolongnya dari kejatuhannya jika ia ditimpa musibah,

وَلَا يَغْفُلُ عَنْ مُلَاحَظَةِ دَارِهِ عِنْدَ غَيْبَتِهِ

tidak lalai dari memperhatikan rumahnya saat ia tidak ada,

وَلَا يَسْمَعُ عَلَيْهِ كَلَامًا

tidak mendengarkan (gunjingan) tentangnya,

وَيَغُضُّ بَصَرَهُ عَنْ حُرْمَتِهِ

menundukkan pandangan dari istrinya (dan keluarganya),

وَلَا يُدِيمُ النَّظَرَ إِلَى خَادِمَتِهِ

tidak terus-menerus memandangi pembantunya,

وَيَتَلَطَّفُ بِوَلَدِهِ فِي كَلِمَتِهِ

bersikap lembut kepada anaknya dalam berbicara,

وَيُرْشِدُهُ إِلَى مَا يَجْهَلُهُ مِنْ أَمْرِ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ

dan membimbingnya pada apa yang tidak ia ketahui tentang urusan agama dan dunianya.

هَذَا إِلَى جُمْلَةِ الْحُقُوقِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا لِعَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ

Ini semua di samping kumpulan hak-hak yang telah kami sebutkan untuk seluruh kaum muslimin.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Tahukah kalian apa hak tetangga?"

إِنِ اسْتَعَانَ بِكَ أَعَنْتَهُ

"Jika ia meminta pertolonganmu, engkau menolongnya."

وَإِنِ اسْتَنْصَرَكَ نَصَرْتَهُ

"Jika ia meminta pembelaanmu, engkau membelanya."

وَإِنِ اسْتَقْرَضَكَ أَقْرَضْتَهُ

"Jika ia meminjam darimu, engkau meminjaminya."

وَإِنِ افْتَقَرَ عُدْتَ عَلَيْهِ

"Jika ia miskin, engkau membantunya."

وَإِنْ مَرِضَ عُدْتَهُ

"Jika ia sakit, engkau menjenguknya."

وَإِنْ مَاتَ تَبِعْتَ جِنَازَتَهُ

"Jika ia meninggal, engkau mengantar jenazahnya."

وَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ هَنَّأْتَهُ

"Jika ia mendapat kebaikan, engkau memberinya selamat."

وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ عَزَّيْتَهُ

"Jika ia ditimpa musibah, engkau menghiburnya."

وَلَا تَسْتَعْلِ عَلَيْهِ بِالْبِنَاءِ فَتَحْجُبَ عَنْهُ الرِّيحَ إِلَّا بِإِذْنِهِ

"Janganlah engkau meninggikan bangunanmu di atasnya sehingga menghalangi angin darinya, kecuali dengan izinnya."

وَإِذَا اشْتَرَيْتَ فَاكِهَةً فَاهْدِ لَهُ

"Jika engkau membeli buah-buahan, maka berilah hadiah kepadanya."

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَأَدْخِلْهَا سِرًّا

"Jika tidak, maka masukkanlah secara diam-diam."

وَلَا يَخْرُجْ بِهَا وَلَدُكَ لِيُغِيظَ بِهَا وَلَدَهُ

"Dan jangan biarkan anakmu keluar membawanya sehingga membuat anaknya iri."

وَلَا تُؤْذِهِ بِقُتَارِ قِدْرِكَ إِلَّا أَنْ تَغْرِفَ لَهُ مِنْهَا

"Dan janganlah engkau mengganggunya dengan bau masakanmu, kecuali engkau menyendokkan sebagian untuknya."

ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ

Kemudian beliau bersabda, "Tahukah kalian apa hak tetangga?"

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَبْلُغُ حَقَّ الْجَارِ إِلَّا مَنْ رَحِمَهُ اللَّهُ

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang dapat memenuhi hak tetangga kecuali orang yang dirahmati Allah."

هَكَذَا رَوَاهُ عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Demikianlah hadis ini diriwayatkan oleh 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

قَالَ مُجَاهِدٌ كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَغُلَامٌ لَهُ يَسْلُخُ شَاةً

Mujahid berkata, "Aku berada di sisi Abdullah bin Umar ketika seorang pembantunya sedang menguliti seekor kambing."

فَقَالَ يَا غُلَامُ إِذَا سَلَخْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ

Ia berkata, "Wahai pembantu, jika engkau selesai menguliti, mulailah (memberi) dengan tetangga kita yang Yahudi."

حَتَّى قَالَ ذَلِكَ مِرَارًا

Hingga ia mengatakannya berulang kali.

فَقَالَ لَهُ كَمْ تَقُولُ هَذَا

Aku bertanya kepadanya, "Berapa kali engkau mengatakan ini?"

فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَزَلْ يُوصِينَا بِالْجَارِ حَتَّى خَشِينَا أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Ia menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak henti-hentinya mewasiatkan kepada kami tentang tetangga, hingga kami khawatir beliau akan menjadikannya sebagai ahli waris."

وَقَالَ هِشَامٌ كَانَ الْحَسَنُ لَا يَرَى بَأْسًا أَنْ تُطْعِمَ الْجَارَ الْيَهُودِيَّ وَالنَّصْرَانِيَّ مِنْ أُضْحِيَتِكَ

Hisyam berkata, "Al-Hasan berpendapat tidak mengapa engkau memberi makan tetangga yang Yahudi dan Nasrani dari hewan kurbanmu."

وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ إِذَا طَبَخْتَ قِدْرًا فَأَكْثِرْ مَاءَهَا

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, "Kekasihku shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat kepadaku, beliau bersabda, 'Jika engkau memasak sesuatu dalam panci, maka perbanyaklah kuahnya.'"

ثُمَّ انْظُرْ بَعْضَ أَهْلِ بَيْتٍ فِي جِيرَانِكَ فَاغْرِفْ لَهُمْ مِنْهَا

"'Kemudian lihatlah beberapa keluarga tetanggamu, lalu sendokkanlah sebagian untuk mereka.'"

وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ أَحَدُهُمَا مُقْبِلٌ عَلَى بَابِهِ وَالْآخَرُ نَاءٍ بِبَابِهِ عَنِّي

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga. Salah satunya pintunya menghadap ke arahku, dan yang lain pintunya jauh dariku.'"

وَرُبَّمَا كَانَ الَّذِي عِنْدِي لَا يَسَعُهُمَا فَأَيُّهُمَا أَعْظَمُ حَقًّا

"'Terkadang apa yang kumiliki tidak cukup untuk keduanya. Maka manakah di antara keduanya yang haknya lebih besar?'"

فَقَالَ الْمُقْبِلُ عَلَيْكَ بِبَابِهِ

Beliau menjawab, "Yang pintunya menghadap ke arahmu."

وَرَأَى الصِّدِّيقُ وَلَدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ وَهُوَ يُنَاصِي جَارًا لَهُ

Ash-Shiddiq (Abu Bakar) melihat putranya, Abdurrahman, sedang bertengkar dengan tetangganya.

فَقَالَ لَا تُنَاصِ جَارَكَ فَإِنَّ هَذَا يَبْقَى وَالنَّاسُ يَذْهَبُونَ

Ia berkata, "Janganlah engkau bertengkar dengan tetanggamu, karena ia akan tetap tinggal (di situ) sementara orang-orang (yang lain) akan pergi."

وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى النَّيْسَابُورِيُّ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ

Al-Hasan bin 'Isa An-Naisaburi berkata, "Aku bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarak."

فَقُلْتُ الرَّجُلُ الْمُجَاوِرُ يَأْتِينِي فَيَشْكُو غُلَامِي أَنَّهُ أَتَى إِلَيْهِ أَمْرًا وَالْغُلَامُ يُنْكِرُهُ

"Aku berkata, 'Seorang tetangga datang kepadaku dan mengadukan pembantuku bahwa ia telah melakukan sesuatu, sementara pembantuku mengingkarinya.'"

فَأَكْرَهُ أَنْ أَضْرِبَهُ وَلَعَلَّهُ بَرِيءٌ وَأَكْرَهُ أَنْ أَدَعَهُ فَيَجِدَ عَلَيَّ جَارِي فَكَيْفَ أَصْنَعُ

"'Aku tidak ingin memukulnya karena mungkin ia tidak bersalah, dan aku juga tidak ingin membiarkannya karena tetanggaku akan marah kepadaku. Apa yang harus kulakukan?'"

قَالَ إِنَّ غُلَامَكَ لَعَلَّهُ أَنْ يُحْدِثَ حَدَثًا يَسْتَوْجِبُ فِيهِ الْأَدَبَ فَاحْفَظْهُ عَلَيْهِ

Ia menjawab, "Bisa jadi pembantumu melakukan suatu perbuatan yang pantas dihukum, maka ingatlah perbuatan itu."

فَإِذَا شَكَاهُ جَارُكَ فَأَدِّبْهُ عَلَى ذَلِكَ الْحَدَثِ فَتَكُونَ قَدْ أَرْضَيْتَ جَارَكَ وَأَدَّبْتَهُ عَلَى ذَلِكَ الْحَدَثِ

"Jika tetanggamu mengadukannya, maka hukumlah ia atas perbuatan (yang telah engkau ingat) itu. Dengan begitu, engkau telah menyenangkan tetanggamu dan telah menghukumnya atas perbuatannya."

وَهَذَا تَلَطُّفٌ فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الْحَقَّيْنِ

Ini adalah cara yang lembut untuk menyatukan dua hak (hak tetangga dan hak pembantu).

وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا خِلَالُ الْمَكَارِمِ عَشْرٌ تَكُونُ فِي الرَّجُلِ وَلَا تَكُونُ فِي أَبِيهِ وَتَكُونُ فِي الْعَبْدِ وَلَا تَكُونُ فِي سَيِّدِهِ

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Sifat-sifat mulia ada sepuluh. Bisa jadi ada pada seseorang namun tidak ada pada ayahnya, dan bisa jadi ada pada seorang budak namun tidak ada pada tuannya."

يُقَسِّمُهَا اللَّهُ تَعَالَى لِمَنْ أَحَبَّ صِدْقُ الْحَدِيثِ وَصِدْقُ النَّاسِ وَإِعْطَاءُ السَّائِلِ وَالْمُكَافَأَةُ بِالصَّنَائِعِ وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحِفْظُ الْأَمَانَةِ وَالتَّذَمُّمُ لِلْجَارِ وَالتَّذَمُّمُ لِلصَّاحِبِ وَقِرَى الضَّيْفِ وَرَأْسُهُنَّ الْحَيَاءُ

"Allah Ta'ala membagikannya kepada siapa yang Dia cintai: berkata jujur, jujur kepada manusia, memberi kepada peminta, membalas kebaikan, menyambung silaturahmi, menjaga amanah, melindungi tetangga, melindungi sahabat, menjamu tamu, dan puncaknya adalah rasa malu."

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Wahai kaum muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan (pemberian) tetangganya, meskipun hanya berupa kuku kambing.'"

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ الْمَسْكَنَ الْوَاسِعَ وَالْجَارَ الصَّالِحَ وَالْمَرْكَبَ الْهَنِيَّ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya di antara kebahagiaan seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman."

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ إِذَا أَحْسَنْتُ أَوْ أَسَأْتُ

Abdullah berkata, "Seorang laki-laki bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana aku bisa tahu jika aku telah berbuat baik atau berbuat buruk?'"

قَالَ إِذَا سَمِعْتَ جِيرَانَكَ يَقُولُونَ قَدْ أَحْسَنْتَ فَقَدْ أَحْسَنْتَ

Beliau menjawab, "Jika engkau mendengar tetanggamu berkata, 'Engkau telah berbuat baik,' maka engkau telah berbuat baik."

وَإِذَا سَمِعْتَهُمْ يَقُولُونَ قَدْ أَسَأْتَ فَقَدْ أَسَأْتَ

"Dan jika engkau mendengar mereka berkata, 'Engkau telah berbuat buruk,' maka engkau telah berbuat buruk."

وَقَالَ جَابِرٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ لَهُ جَارٌ فِي حَائِطٍ أَوْ شَرِيكٌ فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَعْرِضَهُ عَلَيْهِ

Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa memiliki tetangga di sebuah kebun atau rekan kongsi, maka janganlah ia menjualnya sampai ia menawarkannya terlebih dahulu kepadanya.'"

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْجَارَ يَضَعُ جِذْعَهُ فِي حَائِطِ جَارِهِ شَاءَ أَمْ أَبَى

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memutuskan bahwa seorang tetangga boleh meletakkan balok kayunya di dinding tetangganya, baik tetangganya itu mau maupun tidak."

لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِي حَائِطِهِ

"Janganlah salah seorang dari kalian melarang tetangganya untuk menancapkan kayu di dindingnya."

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَضَعَ خَشَبَةً فِي جِدَارِهِ

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Janganlah salah seorang dari kalian melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di dindingnya.'"

وَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ مَالِي أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَاللَّهِ لَأَرْمِيَنَّهَا بَيْنَ أَكْنَافِكُمْ

Dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu biasa berkata, "Mengapa aku melihat kalian berpaling darinya (sunnah ini)? Demi Allah, aku akan melemparkannya di antara bahu-bahu kalian."

وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِلَى وُجُوبِ ذَلِكَ

Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu wajib.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَرَادَ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا عَسَّلَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan 'meng-asalkan'-nya."

قِيلَ وَمَا عَسَّلَهُ

Ditanyakan, "Apa itu 'meng-asalkan'-nya?"

قَالَ يُحَبِّبُهُ إِلَى جِيرَانِهِ

Beliau menjawab, "Dia membuatnya dicintai oleh para tetangganya."