Hak Seorang Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya (3)

وَمِنْهَا أَنْ يَصُونَ عِرْضَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ وَنَفْسِهِ وَمَالِهِ عَنْ ظُلْمِ غَيْرِهِ مَهْمَا قَدَرَ

Di antaranya adalah menjaga kehormatan, jiwa, dan harta saudaranya sesama muslim dari kezaliman orang lain, sebisa mungkin.

وَيَرُدَّ عَنْهُ وَيُنَاضِلَ دُونَهُ وَيَنْصُرَهُ

Dan ia harus membela, mempertahankan, serta menolongnya.

فَإِنَّ ذَلِكَ يَجِبُ عَلَيْهِ بِمُقْتَضَى أُخُوَّةِ الْإِسْلَامِ

Karena sesungguhnya hal itu wajib atasnya sebagai konsekuensi dari persaudaraan Islam.

رَوَى أَبُو الدَّرْدَاءِ أَنَّ رَجُلًا نَالَ مِنْ رَجُلٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Abu Darda meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mencela laki-laki lain di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

فَرَدَّ عَنْهُ رَجُلٌ

Lalu seorang laki-laki lain membelanya.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ كَانَ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa membela kehormatan saudaranya, maka itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَرُدُّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَرُدَّ عَنْهُ نَارَ جَهَنَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang muslim membela kehormatan saudaranya, melainkan menjadi hak bagi Allah untuk menjauhkannya dari api neraka jahanam pada hari kiamat."

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ذُكِرَ عِنْدَهُ أَخُوهُ الْمُسْلِمُ وَهُوَ يَسْتَطِيعُ نَصْرَهُ فَلَمْ يَنْصُرْهُ أَذَلَّهُ اللَّهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang saudaranya sesama muslim disebut (keburukannya) di hadapannya sementara ia mampu menolongnya namun tidak menolongnya, maka Allah akan menghinakannya karenanya di dunia dan akhirat."

وَمَنْ ذُكِرَ عِنْدَهُ أَخُوهُ الْمُسْلِمُ فَنَصَرَهُ نَصَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Dan barangsiapa yang saudaranya sesama muslim disebut (keburukannya) di hadapannya lalu ia menolongnya, maka Allah Ta'ala akan menolongnya di dunia dan akhirat."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَمَى عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ فِي الدُّنْيَا بَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ مَلَكًا يَحْمِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ النَّارِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa melindungi kehormatan saudaranya sesama muslim di dunia, maka Allah Ta'ala akan mengutus seorang malaikat untuk melindunginya dari api neraka pada hari kiamat."

وَقَالَ جَابِرٌ وَأَبُو طَلْحَةَ سَمِعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَهَكُ فِيهِ عِرْضُهُ وَيُسْتَحَلُّ حُرْمَتُهُ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نَصْرَهُ

Jabir dan Abu Thalhah berkata, "Kami mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Tidaklah seorang muslim menolong muslim lainnya di tempat di mana kehormatannya dilanggar dan kemuliaannya diinjak-injak, melainkan Allah akan menolongnya di tempat di mana ia suka mendapat pertolongan-Nya.'"

وَمَا مِنِ امْرِئٍ خَذَلَ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْضِعٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

"Dan tidaklah seseorang membiarkan seorang muslim (tanpa pertolongan) di tempat di mana kemuliaannya dilanggar, melainkan Allah akan membiarkannya (tanpa pertolongan) di tempat di mana ia suka mendapat pertolongan-Nya."

وَمِنْهَا تَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

Di antaranya adalah mendoakan orang yang bersin (tasymit).

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعَاطِسِ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang orang yang bersin, "Ia mengucapkan, 'Alhamdulillahi 'ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan).'"

وَيَقُولُ الَّذِي يُشَمِّتُهُ يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

"Dan orang yang mendoakannya mengucapkan, 'Yarhamukumullah (Semoga Allah merahmatimu).'"

وَيَرُدُّ عَلَيْهِ الْعَاطِسُ فَيَقُولُ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

"Lalu orang yang bersin itu menjawabnya dengan ucapan, 'Yahdikumullahu wa yushlihu baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).'"

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا يَقُولُ إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kami, beliau bersabda, 'Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, 'Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).'"

فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ فَلْيَقُلْ مَنْ عِنْدَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ

"Jika ia telah mengucapkan itu, maka hendaklah orang yang ada di sisinya mengucapkan, 'Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu).'"

فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ فَلْيَقُلْ يَغْفِرُ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ

"Jika mereka telah mengucapkan itu, maka hendaklah ia (yang bersin) mengucapkan, 'Yaghfirullahu lii wa lakum (Semoga Allah mengampuni aku dan kalian).'"

وَشَمَّتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاطِسًا وَلَمْ يُشَمِّتْ آخَرَ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendoakan seseorang yang bersin, dan tidak mendoakan yang lain.

فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّهُ حَمِدَ اللَّهَ وَأَنْتَ سَكَتَّ

Lalu orang itu bertanya kepada beliau tentang hal itu, maka beliau menjawab, "Sesungguhnya ia memuji Allah, sedangkan engkau diam."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشَمَّتُ الْعَاطِسُ الْمُسْلِمُ إِذَا عَطَسَ ثَلَاثًا فَإِنْ زَادَ فَهُوَ زُكَامٌ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang muslim yang bersin didoakan jika ia bersin tiga kali. Jika lebih dari itu, maka itu adalah flu."

وَرَوِيَ أَنَّهُ شَمَّتَ عَاطِسًا ثَلَاثًا فَعَطَسَ أُخْرَى فَقَالَ إِنَّكَ مَزْكُومٌ

Diriwayatkan bahwa beliau mendoakan seseorang yang bersin tiga kali. Ketika ia bersin lagi, beliau bersabda, "Sesungguhnya engkau sedang flu."

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَطَسَ غَضَّ صَوْتَهُ وَاسْتَتَرَ بِثَوْبِهِ أَوْ يَدِهِ

Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika bersin, beliau merendahkan suaranya dan menutupinya dengan pakaian atau tangannya."

وَرُوِيَ خَمَّرَ وَجْهَهُ

Diriwayatkan juga, "beliau menutupi wajahnya."

وَقَالَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَاءَ أَنْ يَقُولَ يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Orang-orang Yahudi sengaja bersin-bersin di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan harapan beliau akan mengucapkan, 'Yarhamukumullah (Semoga Allah merahmatimu).'"

فَكَانَ يَقُولُ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ

Maka beliau hanya mengucapkan, "Yahdikumullah (Semoga Allah memberi kalian petunjuk)."

وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا عَطَسَ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يَرْضَى رَبُّنَا وَيَرْضَى وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah meriwayatkan dari ayahnya bahwa seorang laki-laki bersin di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat shalat, lalu ia mengucapkan, "Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi kamaa yardhaa rabbunaa wa yardhaa, walhamdu lillahi 'alaa kulli haal (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah, sebagaimana yang diridhai Tuhan kami dan Ia ridha. Dan segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan)."

فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَاحِبُ الْكَلِمَاتِ

Setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selesai shalat, beliau bertanya, "Siapa yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?"

فَقَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَرَدْتُ بِهِنَّ إِلَّا خَيْرًا

Laki-laki itu menjawab, "Saya, wahai Rasulullah. Aku tidak bermaksud dengannya kecuali kebaikan."

فَقَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ اثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا كُلُّهُمْ يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا

Beliau bersabda, "Sungguh aku melihat dua belas malaikat, semuanya berlomba-lomba siapa di antara mereka yang akan mencatatnya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَطَسَ عِنْدَهُ فَسَبَقَ إِلَى الْحَمْدِ لَمْ يَشْتَكِ خَاصِرَتَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa bersin di dekatnya, lalu ia lebih dahulu memuji Allah, maka ia tidak akan mengeluhkan sakit pinggang."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعُطَاسُ مِنَ اللَّهِ وَالتَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bersin itu dari Allah dan menguap itu dari setan."

فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَضَعْ يَدَهُ عَلَى فِيهِ

"Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia meletakkan tangannya di mulutnya."

فَإِذَا قَالَ هَا هَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَضْحَكُ مِنْ جَوْفِهِ

"Karena jika ia mengucapkan 'ha... ha...', maka setan akan tertawa dari dalam perutnya."

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ إِذَا عَطَسَ فِي قَضَاءِ الْحَاجَةِ فَلَا بَأْسَ بِأَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ

Ibrahim An-Nakha'i berkata, "Jika seseorang bersin saat buang hajat, tidak mengapa ia menyebut nama Allah."

وَقَالَ الْحَسَنُ يَحْمَدُ اللَّهَ فِي نَفْسِهِ

Al-Hasan berkata, "Ia memuji Allah di dalam hatinya."

وَقَالَ كَعْبٌ قَالَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا رَبِّ أَقَرِيبٌ أَنْتَ فَأُنَاجِيكَ إِمْ بَعِيدٌ فَأُنَادِيكَ

Ka'ab berkata, "Musa 'alaihissalam bertanya, 'Ya Rabbi, apakah Engkau dekat sehingga aku dapat berbisik kepada-Mu, ataukah Engkau jauh sehingga aku harus menyeru-Mu?'"

فَقَالَ أَنَا جَلِيسُ مَنْ ذَكَرَنِي

Allah menjawab, "Aku adalah teman duduk orang yang mengingat-Ku."

فَقَالَ فَإِنَّا نَكُونُ عَلَى حَالٍ نُجِلُّكَ أَنْ نَذْكُرَكَ عَلَيْهَا كَالْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ

Musa berkata, "Sesungguhnya kami terkadang berada dalam keadaan di mana kami merasa tidak pantas untuk mengingat-Mu, seperti saat junub atau buang hajat."

فَقَالَ اذْكُرْنِي عَلَى كُلِّ حَالٍ

Allah berfirman, "Ingatlah Aku dalam setiap keadaan."

وَمِنْهَا أَنَّهُ إِذَا بُلِيَ بِذِي شَرٍّ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَحَمَّلَهُ وَيَتَّقِيَهُ

Di antaranya adalah jika ia diuji dengan orang jahat, maka hendaknya ia bersabar dan menghindarinya.

قَالَ بَعْضُهُمْ خَالِصِ الْمُؤْمِنَ مُخَالَصَةً وَخَالِقِ الْفَاجِرَ مُخَالَقَةً

Sebagian ulama berkata, "Perlakukanlah orang mukmin dengan tulus, dan bergaullah dengan orang fasik dengan akhlak (yang baik)."

فَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرْضَى بِالْخُلُقِ الْحَسَنِ فِي الظَّاهِرِ

Karena sesungguhnya orang fasik itu akan merasa senang dengan akhlak yang baik secara lahiriah.

وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ إِنَّا لَنَبَشُّ فِي وُجُوهِ أَقْوَامٍ وَإِنَّ قُلُوبَنَا لَتَلْعَنُهُمْ

Abu Darda berkata, "Sesungguhnya kami benar-benar tersenyum di hadapan sebagian orang, padahal hati kami melaknat mereka."

وَهَذَا مَعْنَى الْمُدَارَاةِ وَهِيَ مَعَ مَنْ يُخَافُ شَرُّهُ

Inilah makna dari *mudarah* (bersikap baik untuk menghindari keburukan), yaitu terhadap orang yang ditakuti kejahatannya.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ}

Allah Ta'ala berfirman, "{Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik}."

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ {وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ} أَيِ الْفُحْشَ وَالْأَذَى بِالسَّلَامِ وَالْمُدَارَاةِ

Ibnu Abbas berkata tentang makna firman-Nya, "{dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan}", yaitu (menolak) perkataan keji dan gangguan dengan ucapan salam dan *mudarah*.

وَقَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى {وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ} قَالَ بِالرَّغْبَةِ وَالرَّهْبَةِ وَالْحَيَاءِ وَالْمُدَارَاةِ

Dan ia berkata tentang firman Allah Ta'ala, "{Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain}", ia berkata, "(Menolak) dengan harapan, rasa takut, rasa malu, dan *mudarah*."

وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Seorang laki-laki meminta izin untuk bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

قَالَ ائْذَنُوا لَهُ فَبِئْسَ رَجُلُ الْعَشِيرَةِ هُوَ

Beliau bersabda, "Izinkanlah ia masuk. Ia adalah seburuk-buruknya anggota kabilah."

فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْقَوْلَ حَتَّى أَنَّ لَهُ عِنْدَهُ مَنْزِلَةً

Ketika ia masuk, beliau melembutkan perkataannya kepadanya, hingga ia merasa memiliki kedudukan di sisi beliau.

فَلَمَّا خَرَجَ قُلْتُ لَهُ لَمَّا دَخَلَ قُلْتَ الَّذِي قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ الْقَوْلَ

Setelah ia keluar, aku berkata kepada beliau, "Ketika ia masuk, engkau mengatakan apa yang engkau katakan tadi, kemudian engkau melembutkan perkataan kepadanya."

فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

Beliau menjawab, "Wahai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kejahatannya."

وَفِي الْخَبَرِ مَا وَقَى الرَّجُلُ بِهِ عِرْضَهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ

Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Apa pun yang digunakan seseorang untuk menjaga kehormatannya, maka itu adalah sedekah baginya."

وَفِي الْأَثَرِ خَالِطُوا النَّاسَ بِأَعْمَالِكُمْ وَزَايِلُوهُمْ بِالْقُلُوبِ

Dalam sebuah atsar disebutkan, "Bergaullah dengan manusia dengan perbuatanmu, dan pisahkanlah dirimu dari mereka dengan hatimu."

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَنَفِيَّةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْسَ بِحَكِيمٍ مَنْ لَمْ يُعَاشِرْ بِالْمَعْرُوفِ مَنْ لَا يَجِدُ مِنْ مُعَاشَرَتِهِ بُدًّا حَتَّى يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْهُ فَرَجًا

Muhammad bin Al-Hanafiyyah radhiyallahu 'anhu berkata, "Bukanlah orang yang bijaksana, orang yang tidak bergaul dengan baik terhadap orang yang ia terpaksa harus bergaul dengannya, sampai Allah memberinya jalan keluar."

وَمِنْهَا أَنْ يَجْتَنِبَ مُخَالَطَةَ الْأَغْنِيَاءِ وَيَخْتَلِطَ بِالْمَسَاكِينِ وَيُحْسِنَ إِلَى الْأَيْتَامِ

Di antaranya adalah menjauhi pergaulan dengan orang-orang kaya, dan bergaul dengan orang-orang miskin, serta berbuat baik kepada anak-anak yatim.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa berdoa, "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin."

وَقَالَ كَعْبُ الْأَحْبَارِ كَانَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي مُلْكِهِ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَرَأَى مِسْكِينًا جَلَسَ إِلَيْهِ وَقَالَ مِسْكِينٌ جَالِسٌ مِسْكِينًا

Ka'ab Al-Ahbar berkata, "Nabi Sulaiman 'alaihissalam, di tengah kerajaannya, jika ia masuk masjid lalu melihat seorang miskin, ia akan duduk di dekatnya dan berkata, 'Seorang miskin duduk bersama seorang miskin.'"

وَقِيلَ مَا كَانَ مِنْ كَلِمَةٍ تُقَالُ لِعِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُقَالَ لَهُ يَا مِسْكِينُ

Dikatakan, tidak ada ucapan yang lebih disukai oleh Isa 'alaihissalam selain jika dikatakan kepadanya, "Wahai orang miskin."

وَقَالَ كَعْبُ الْأَحْبَارِ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنْ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} فَهُوَ فِي التَّوْرَاةِ يَا أَيُّهَا الْمَسَاكِينُ

Ka'ab Al-Ahbar berkata, "Setiap seruan {Wahai orang-orang yang beriman} di dalam Al-Qur'an, maka di dalam Taurat seruannya adalah 'Wahai orang-orang miskin'."

وَقَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ إِنَّ لِلنَّارِ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ ثَلَاثَةٌ لِلْأَغْنِيَاءِ وَثَلَاثَةٌ لِلنِّسَاءِ وَوَاحِدٌ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Ubadah bin Ash-Shamit berkata, "Sesungguhnya neraka memiliki tujuh pintu. Tiga untuk orang-orang kaya, tiga untuk para wanita, dan satu untuk orang-orang fakir dan miskin."

وَقَالَ الْفُضَيْلُ بَلَغَنِي أَنَّ نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ رِضَاكَ عَنِّي

Al-Fudhail berkata, "Telah sampai kepadaku bahwa seorang nabi dari para nabi berkata, 'Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mengetahui keridhaan-Mu kepadaku?'"

قَالَ انْظُرْ كَيْفَ رِضَا الْمَسَاكِينِ عَنْكَ

Allah menjawab, "Lihatlah bagaimana keridhaan orang-orang miskin terhadapmu."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَمُجَالَسَةَ الْمَوْتَى

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jauhilah oleh kalian duduk-duduk bersama orang mati."

قِيلَ وَمَنِ الْمَوْتَى يَا رَسُولَ اللَّهِ

Ditanyakan, "Siapakah orang mati itu, wahai Rasulullah?"

قَالَ الْأَغْنِيَاءُ

Beliau menjawab, "Orang-orang kaya."

وَقَالَ مُوسَى إِلَهِي أَيْنَ أَبْغِيكَ

Musa berkata, "Tuhanku, di manakah aku harus mencari-Mu?"

قَالَ عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ

Allah menjawab, "Di sisi orang-orang yang hancur hatinya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَغْبِطَنَّ فَاجِرًا بِنِعْمَةٍ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janganlah engkau iri kepada seorang pendosa karena nikmat yang ia peroleh."

فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي إِلَى مَا يَصِيرُ بَعْدَ الْمَوْتِ

"Karena engkau tidak tahu apa yang akan menimpanya setelah mati."

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ طَالِبًا حَثِيثًا

"Sebab di belakangnya ada pencari (maut) yang sigap."

وَأَمَّا الْيَتِيمُ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَمَّ يَتِيمًا مِنْ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ أَلْبَتَّةَ

Adapun tentang anak yatim, beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa menanggung seorang anak yatim dari kedua orang tua muslim hingga ia mandiri, maka surga pasti wajib baginya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَهُوَ يُشِيرُ بِأُصْبُعَيْهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Aku dan penanggung anak yatim di surga adalah seperti ini," sambil beliau menunjuk dengan kedua jarinya.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ تَرَحُّمًا كَانَتْ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ تَمُرُّ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَةٌ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim karena kasih sayang, maka baginya satu kebaikan untuk setiap helai rambut yang disentuh tangannya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan baik."

وَشَرُّ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ

"Dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan buruk."

وَمِنْهَا النَّصِيحَةُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَالْجُهْدُ فِي إِدْخَالِ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِهِ

Di antaranya adalah menasihati setiap muslim dan berusaha memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ يُحِبُّ لِلْمُؤْمِنِ كَمَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang mukmin mencintai untuk mukmin lainnya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيهِ فَإِذَا رَأَى فِيهِ شَيْئًا فَلْيُمِطْهُ عَنْهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya salah seorang dari kalian adalah cermin bagi saudaranya. Jika ia melihat sesuatu (yang tidak baik) padanya, maka hendaklah ia menghilangkannya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَضَى حَاجَةً لِأَخِيهِ فَكَأَنَّمَا خَدَمَ اللَّهَ عُمْرَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka seolah-olah ia telah mengabdi kepada Allah seumur hidupnya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَقَرَّ عَيْنَ مُؤْمِنٍ أَقَرَّ اللَّهُ عَيْنَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa menyenangkan hati seorang mukmin, maka Allah akan menyenangkan hatinya pada hari kiamat."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَشَى فِي حَاجَةِ أَخِيهِ سَاعَةً مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ قَضَاهَا أَوْ لَمْ يَقْضِهَا كَانَ خَيْرًا لَهُ مِنِ اعْتِكَافِ شَهْرَيْنِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa berjalan untuk (membantu) kebutuhan saudaranya sesaat pada malam atau siang hari, baik terpenuhi maupun tidak, maka itu lebih baik baginya daripada i'tikaf selama dua bulan."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُؤْمِنٍ مَغْمُومٍ أَوْ أَعَانَ مَظْلُومًا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ثَلَاثًا وَسَبْعِينَ مَغْفِرَةً

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang mukmin yang sedang berduka atau menolong orang yang terzalimi, maka Allah akan memberinya tujuh puluh tiga ampunan."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tolonglah saudaramu, baik ia zalim maupun dizalimi."

فَقِيلَ كَيْفَ يَنْصُرُهُ ظَالِمًا

Ditanyakan, "Bagaimana menolongnya saat ia zalim?"

قَالَ يَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ

Beliau menjawab, "Mencegahnya dari berbuat zalim."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِ الْمُؤْمِنِ أَوْ أَنْ يُفَرِّجَ عَنْهُ غَمًّا أَوْ يَقْضِيَ عَنْهُ دَيْنًا أَوْ يُطْعِمَهُ مِنْ جُوعٍ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya di antara amalan yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin, atau menghilangkan kesusahannya, atau melunasi utangnya, atau memberinya makan saat ia lapar."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَمَى مُؤْمِنًا مِنْ مُنَافِقٍ يُعَنِّتُهُ بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِي لَحْمَهُ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa melindungi seorang mukmin dari seorang munafik yang menyusahkannya, maka Allah akan mengutus seorang malaikat kepadanya pada hari kiamat yang akan melindungi dagingnya dari api neraka jahanam."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَصْلَتَانِ لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ مِنَ الشَّرِّ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالضُّرُّ لِعِبَادِ اللَّهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ada dua sifat yang tidak ada keburukan yang lebih besar daripadanya: syirik kepada Allah dan berbuat mudarat kepada hamba-hamba Allah."

وَخَصْلَتَانِ لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ مِنَ الْبِرِّ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالنَّفْعُ لِعِبَادِ اللَّهِ

"Dan ada dua sifat yang tidak ada kebaikan yang lebih besar daripadanya: beriman kepada Allah dan berbuat manfaat bagi hamba-hamba Allah."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka."

وَقَالَ مَعْرُوفٌ الْكَرْخِيُّ مَنْ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ كَتَبَهُ اللَّهُ مِنَ الْأَبْدَالِ

Ma'ruf Al-Karkhi berkata, "Barangsiapa setiap hari berdoa, 'Ya Allah, rahmatilah umat Muhammad,' maka Allah akan mencatatnya sebagai salah satu Wali Abdal."

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ كُلَّ يَوْمٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ كَتَبَهُ اللَّهُ مِنَ الْأَبْدَالِ

Dalam riwayat lain, "Barangsiapa berdoa, 'Ya Allah, perbaikilah umat Muhammad. Ya Allah, hilangkanlah kesulitan dari umat Muhammad,' setiap hari tiga kali, maka Allah akan mencatatnya sebagai salah satu Wali Abdal."

وَبَكَى عَلِيُّ بْنُ الْفُضَيْلِ يَوْمًا فَقِيلَ لَهُ مَا يُبْكِيكَ

Ali bin Al-Fudhail suatu hari menangis, lalu ditanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?"

قَالَ أَبْكِي عَلَى مَنْ ظَلَمَنِي إِذَا وَقَفَ غَدًا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُئِلَ عَنْ ظُلْمِهِ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ حُجَّةٌ

Ia menjawab, "Aku menangisi orang yang menzalimiku, ketika besok ia berdiri di hadapan Allah Ta'ala dan ditanya tentang kezalimannya, sementara ia tidak memiliki alasan."

وَمِنْهَا أَنْ يَعُودَ مَرْضَاهُمْ

Di antaranya adalah menjenguk orang sakit di antara mereka.

فَالْمَعْرِفَةُ وَالْإِسْلَامُ كَافِيَانِ فِي إِثْبَاتِ هَذَا الْحَقِّ وَنَيْلِ فَضْلِهِ

Pengenalan dan keislaman sudah cukup untuk menetapkan hak ini dan meraih keutamaannya.

وَأَدَبُ الْعَائِدِ خِفَّةُ الْجِلْسَةِ وَقِلَّةُ السُّؤَالِ وَإِظْهَارُ الرِّقَّةِ وَالدُّعَاءُ بِالْعَافِيَةِ وَغَضُّ الْبَصَرِ عَنْ عَوْرَاتِ الْمَوْضِعِ

Adab orang yang menjenguk adalah duduk sebentar, sedikit bertanya, menunjukkan rasa iba, mendoakan kesembuhan, dan menundukkan pandangan dari aib-aib tempat itu.

وَعِنْدَ الِاسْتِئْذَانِ لَا يُقَابِلُ الْبَابَ وَيَدُقُّ بِرِفْقٍ

Ketika meminta izin, jangan menghadap langsung ke pintu dan ketuklah dengan lembut.

وَلَا يَقُولُ أَنَا إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ

Jangan menjawab "Saya" jika ditanya "Siapa?".

وَلَا يَقُولُ يَا غُلَامُ وَلَكِنْ يَحْمَدُ وَيُسَبِّحُ

Dan jangan memanggil "Wahai anak kecil!", tetapi ucapkanlah tahmid dan tasbih.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَمَامُ عِيَادَةِ الْمَرِيضِ أَنْ يَضَعَ أَحَدُكُمْ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ أَوْ عَلَى يَدِهِ وَيَسْأَلَهُ كَيْفَ هُوَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kesempurnaan menjenguk orang sakit adalah salah seorang dari kalian meletakkan tangannya di kening atau di tangannya, lalu bertanya bagaimana keadaannya."

وَتَمَامُ تَحِيَّاتِكُمُ الْمُصَافَحَةُ

"Dan kesempurnaan penghormatan kalian adalah jabat tangan."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَادَ مَرِيضًا قَعَدَ فِي مَخَارِفِ الْجَنَّةِ حَتَّى إِذَا قَامَ وُكِّلَ بِهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى اللَّيْلِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa menjenguk orang sakit, ia duduk di taman surga. Hingga ketika ia berdiri (untuk pulang), ditugaskan kepadanya tujuh puluh ribu malaikat yang mendoakannya sampai malam."

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَادَ الرَّجُلُ الْمَرِيضَ خَاضَ فِي الرَّحْمَةِ فَإِذَا قَعَدَ عِنْدَهُ قَرَّتْ فِيهِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila seseorang menjenguk orang sakit, ia menyelam dalam rahmat. Jika ia duduk di sisinya, maka rahmat itu menetap padanya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَادَ الْمُسْلِمُ أَخَاهُ أَوْ زَارَهُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مَنْزِلًا فِي الْجَنَّةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila seorang muslim menjenguk atau mengunjungi saudaranya, Allah Ta'ala berfirman, 'Engkau telah berbuat baik, langkahmu pun baik, dan engkau telah menempati sebuah rumah di surga.'"

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ بَعَثَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَيْهِ مَلَكَيْنِ فَقَالَ انْظُرَا مَاذَا يَقُولُ لِعُوَّادِهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila seorang hamba sakit, Allah Tabaraka wa Ta'ala mengutus dua malaikat kepadanya dan berfirman, 'Lihatlah apa yang ia katakan kepada para penjenguknya.'"

فَإِنْ هُوَ إِذَا جَاءُوهُ حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ رَفَعَا ذَلِكَ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ أَعْلَمُ

"Jika saat mereka datang ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, keduanya akan melaporkan hal itu kepada Allah, dan Dia Maha Mengetahui."

فَيَقُولُ لِعَبْدِي عَلَيَّ إِنْ تَوَفَّيْتُهُ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

"Maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku ini berhak atas-Ku, jika Aku wafatkan dia, Aku akan memasukkannya ke surga.'"

وَإِنْ أَنَا شَفَيْتُهُ أَنْ أُبْدِلَ لَهُ لَحْمًا خَيْرًا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمًا خَيْرًا مِنْ دَمِهِ وَأَنْ أُكَفِّرَ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ

"'Dan jika Aku sembuhkan dia, Aku akan mengganti dagingnya dengan daging yang lebih baik dan darahnya dengan darah yang lebih baik, serta Aku akan menghapus dosa-dosanya.'"

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memberinya musibah."

وَقَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرِضْتُ فَعَادَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Utsman radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku sakit, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjengukku."

فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أُعِيذُكَ بِاللَّهِ الْأَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ مِنْ شَرِّ مَا تَجِدُ

Beliau berdoa, "Bismillahir-rahmanir-rahim. Aku melindungimu dengan (nama) Allah Yang Maha Esa, Yang menjadi tumpuan segala sesuatu, Yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia, dari keburukan apa yang engkau rasakan."

قَالَهَا مِرَارًا

Beliau mengucapkannya berulang kali.

وَدَخَلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقَالَ لَهُ قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ تَعْجِيلَ عَافِيَتِكَ أَوْ صَبْرًا عَلَى بَلِيَّتِكَ أَوْ خُرُوجًا مِنَ الدُّنْيَا إِلَى رَحْمَتِكَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam masuk menemui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu saat ia sakit, lalu berkata kepadanya, "Ucapkanlah, 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kesembuhan yang segera, atau kesabaran atas cobaan-Mu, atau keluar dari dunia menuju rahmat-Mu.'"

فَإِنَّكَ سَتُعْطَى إِحْدَاهُنَّ

"Karena sesungguhnya engkau akan diberi salah satunya."

وَيُسْتَحَبُّ لِلْعَلِيلِ أَيْضًا أَنْ يَقُولَ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Dianjurkan pula bagi orang sakit untuk mengucapkan, "A'uudzu bi 'izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan)."

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا شَكَا أَحَدُكُمْ بَطْنَهُ فَلْيَسْأَلِ امْرَأَتَهُ شَيْئًا مِنْ صَدَاقِهَا وَيَشْتَرِي بِهِ عَسَلًا وَيَشْرَبُهُ بِمَاءِ السَّمَاءِ

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, "Jika salah seorang dari kalian mengeluh sakit perut, hendaklah ia meminta sedikit dari mahar istrinya, lalu membeli madu dengannya, dan meminumnya dengan air hujan."

فَيَجْتَمِعُ لَهُ الْهَنِيءُ وَالْمَرِيءُ وَالشِّفَاءُ وَالْمُبَارَكُ

"Maka akan terkumpul padanya sesuatu yang lezat, nikmat, menyembuhkan, dan penuh berkah."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَمْرٍ هُوَ حَقٌّ مَنْ تَكَلَّمَ بِهِ فِي أَوَّلِ مَضْجَعِهِ مِنْ مَرْضِهِ نَجَّاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Wahai Abu Hurairah, maukah aku beritahukan kepadamu suatu perkara yang benar, barangsiapa mengucapkannya di awal pembaringannya saat sakit, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari api neraka?"

قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ

Aku menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah."

قَالَ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ

Beliau bersabda, "Ia mengucapkan: 'Laa ilaaha illallah, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa yamuut (Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Menghidupkan dan Mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak akan mati).'"

سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

"'Subhanallah, Rabb para hamba dan negeri-negeri. Walhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi 'alaa kulli haal (Maha Suci Allah, Tuhan para hamba dan negeri-negeri. Dan segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah dalam setiap keadaan).'"

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا إِنَّ كِبْرِيَاءَ رَبِّنَا وَجَلَالَهُ وَقُدْرَتَهُ بِكُلِّ مَكَانٍ

"'Allahu akbar kabiiraa. Inna kibriyaa-a rabbinaa wa jalaalahu wa qudratahu bikulli makaan (Allah Maha Besar dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Tuhan kami ada di setiap tempat).'"

اللَّهُمَّ إِنْ أَنْتَ أَمْرَضْتَنِي لِتَقْبِضَ رُوحِي فِي مَرْضِي هَذَا فَاجْعَلْ رُوحِي فِي أَرْوَاحِ مَنْ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنْكَ الْحُسْنَى وَبَاعِدْنِي مِنَ النَّarِ كَمَا بَاعَدْتَ أَوْلِيَاءَكَ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنْكَ الْحُسْنَى

"'Ya Allah, jika Engkau membuatku sakit untuk mencabut ruhku dalam sakitku ini, maka jadikanlah ruhku bersama ruh-ruh orang yang telah Engkau tetapkan kebaikan bagi mereka. Dan jauhkanlah aku dari neraka sebagaimana Engkau menjauhkan para wali-Mu yang telah Engkau tetapkan kebaikan bagi mereka.'"

وَرَوِيَ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ بَعْدَ ثَلَاثٍ فُوَاقَ نَاقَةٍ

Diriwayatkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Menjenguk orang sakit (dimulai) setelah tiga hari. (Dan hendaknya) sekejap seperti waktu memerah susu unta."

وَقَالَ طَاوُسٌ أَفْضَلُ الْعِيَادَةِ أَخَفُّهَا

Thawus berkata, "Jengukan yang paling utama adalah yang paling singkat."

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عِيَادَةُ الْمَرِيضِ مَرَّةً سُنَّةٌ فَمَا ازْدَادَتْ فَنَافِلَةٌ

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Menjenguk orang sakit sekali adalah sunnah. Adapun yang lebih dari itu adalah nafilah (tambahan)."

وَقَالَ بَعْضُهُمْ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ بَعْدَ ثَلَاثٍ

Sebagian ulama berkata, "Menjenguk orang sakit itu setelah tiga hari (ia sakit)."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَغِبُّوا فِي الْعِيَادَةِ وَأَرْبِعُوا فِيهَا

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Berilah jeda dalam menjenguk, dan jenguklah setiap empat hari sekali."

وَجُمْلَةُ أَدَبِ الْمَرِيضِ حُسْنُ الصَّبْرِ وَقِلَّةُ الشَّكْوَى وَالضَّجَرِ وَالْفَزَعُ إِلَى الدُّعَاءِ وَالتَّوَكُّلُ بَعْدَ الدَّوَاءِ عَلَى خَالِقِ الدَّوَاءِ

Kesimpulan adab orang sakit adalah: kesabaran yang baik, sedikit mengeluh dan resah, segera berdoa, dan bertawakal kepada Pencipta obat setelah berobat.

وَمِنْهَا أَنْ يُشَيِّعَ جَنَائِزَهُمْ

Di antaranya adalah mengantarkan jenazah mereka.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَيَّعَ جِنَازَةً فَلَهُ قِيرَاطٌ مِنَ الْأَجْرِ فَإِنْ وَقَفَ حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mengantarkan jenazah, maka baginya pahala satu qirath. Jika ia menunggu hingga jenazah dikuburkan, maka baginya dua qirath."

وَفِي الْخَبَرِ الْقِيرَاطُ مِثْلُ أُحُدٍ

Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Satu qirath itu sebesar Gunung Uhud."

وَلَمَّا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ هَذَا الْحَدِيثَ وَسَمِعَهُ ابْنُ عُمَرَ قَالَ لَقَدْ فَرَّطْنَا إِلَى الْآنَ فِي قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ

Ketika Abu Hurairah meriwayatkan hadis ini dan didengar oleh Ibnu Umar, ia berkata, "Sungguh kita telah menyia-nyiakan banyak sekali qirath hingga saat ini."

وَالْقَصْدُ مِنَ التَّشْيِيعِ قَضَاءُ حَقِّ الْمُسْلِمِينَ وَالِاعْتِبَارُ

Tujuan dari mengantar jenazah adalah memenuhi hak sesama muslim dan mengambil pelajaran.

وَكَانَ مَكْحُولٌ الدِّمَشْقِيُّ إِذَا رَأَى جِنَازَةً قَالَ اغْدُوا فَإِنَّا رَائِحُونَ

Makhul Ad-Dimasyqi jika melihat jenazah, ia akan berkata, "Pergilah (mengantar), karena kita pun akan pergi (menyusul)."

مَوْعِظَةٌ بَلِيغَةٌ وَغَفْلَةٌ سَرِيعَةٌ يَذْهَبُ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ لَا عَقْلَ لَهُ

"Nasihat yang sangat menyentuh, namun kelalaian yang cepat datang. Orang pertama pergi (mati), dan yang terakhir (yang hidup) tidak memikirkannya."

وَخَرَجَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ خَلْفَ جِنَازَةِ أَخِيهِ وَهُوَ يَبْكِي وَيَقُولُ وَاللَّهِ لَا تَقَرُّ عَيْنِي حَتَّى أَعْلَمَ إِلَى مَا صِرْتَ

Malik bin Dinar berjalan di belakang jenazah saudaranya sambil menangis dan berkata, "Demi Allah, mataku tidak akan tenang sampai aku tahu ke mana engkau akan berakhir."

وَلَا وَاللَّهِ لَا أَعْلَمُ مَا دُمْتُ حَيًّا

"Dan demi Allah, aku tidak akan mengetahuinya selama aku masih hidup."

وَقَالَ الْأَعْمَشُ كُنَّا نَشْهَدُ الْجَنَائِزَ فَلَا نَدْرِي لِمَنْ نُعَزِّي لِحُزْنِ الْقَوْمِ كُلِّهِمْ

Al-A'masy berkata, "Dahulu kami menghadiri jenazah, dan kami tidak tahu kepada siapa harus mengucapkan takziah, karena semua orang tampak berduka."

وَنَظَرَ إِبْرَاهِيمُ الزَّيَّاتُ إِلَى قَوْمٍ يَتَرَحَّمُونَ عَلَى مَيِّتٍ فَقَالَ لَوْ تَرَحَّمُونَ أَنْفُسَكُمْ لَكَانَ أَوْلَى

Ibrahim Az-Zayyat melihat sekelompok orang sedang mendoakan rahmat untuk seorang mayit, lalu ia berkata, "Seandainya kalian mendoakan rahmat untuk diri kalian sendiri, itu lebih utama."

إِنَّهُ نَجَا مِنْ أَهْوَالٍ ثَلَاثٍ وَجْهَ مَلَكِ الْمَوْتِ قَدْ رَأَى وَمَرَارَةَ الْمَوْتِ قَدْ ذَاقَ وَخَوْفَ الْخَاتِمَةِ قَدْ أَمِنَ

"Sesungguhnya ia telah selamat dari tiga kengerian: wajah malaikat maut telah ia lihat, pahitnya kematian telah ia rasakan, dan dari ketakutan akan akhir hayat ia telah aman."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Mayit diikuti oleh tiga hal, dua akan kembali dan satu akan tinggal."

يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

"Ia diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarganya dan hartanya akan kembali, dan yang tinggal adalah amalnya."