Hak Seorang Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya (2)

وَمِنْهَا أَنْ يُصْلِحَ ذَاتَ الْبَيْنِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ مَهْمَا وَجَدَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Di antaranya adalah mendamaikan perselisihan di antara kaum muslimin, kapan pun ia menemukan jalan untuk itu.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan yang lebih utama daripada derajat shalat, puasa, dan sedekah?"

قَالُوا بَلَى

Mereka menjawab, "Tentu saja."

قَالَ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ

Beliau bersabda, "Mendamaikan perselisihan."

وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

"Dan rusaknya hubungan adalah pencukur (agama)."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah mendamaikan perselisihan."

وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ إِذْ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ ثَنَايَاهُ

Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dalam riwayat Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa hingga tampak gigi gerahamnya."

فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي مَا الَّذِي أَضْحَكَكَ

Lalu Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang membuatmu tertawa?"

قَالَ رَجُلَانِ مِنْ أُمَّتِي جَثَيَا بَيْنَ يَدَيْ رَبِّ الْعِزَّةِ

Beliau menjawab, "Dua orang laki-laki dari umatku berlutut di hadapan Tuhan Yang Maha Mulia."

فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَبِّ خُذْ لِي مَظْلَمَتِي مِنْ هَذَا

Salah satunya berkata, "Ya Rabbi, ambilkanlah kezaliman yang ia perbuat atasku darinya."

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى رُدَّ عَلَى أَخِيكَ مَظْلَمَتَهُ

Maka Allah Ta'ala berfirman, "Kembalikanlah kepada saudaramu haknya yang telah engkau zalimi."

فَقَالَ يَا رَبِّ لَمْ يَبْقَ لِي مِنْ حَسَنَاتِي شَيْءٌ

Ia menjawab, "Ya Rabbi, tidak ada lagi kebaikan yang tersisa padaku."

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِلطَّالِبِ كَيْفَ تَصْنَعُ بِأَخِيكَ وَلَمْ يَبْقَ لَهُ مِنْ حَسَنَاتِهِ شَيْءٌ

Maka Allah Ta'ala berfirman kepada yang menuntut, "Apa yang akan engkau perbuat terhadap saudaramu, sementara tidak ada lagi kebaikan yang tersisa padanya?"

فَقَالَ يَا رَبِّ فَلْيَحْمِلْ عَنِّي مِنْ أَوْزَارِي

Ia menjawab, "Ya Rabbi, biarlah ia menanggung sebagian dari dosa-dosaku."

ثُمَّ فَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبُكَاءِ

Kemudian kedua mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berlinang air mata.

فَقَالَ إِنَّ ذَلِكَ لَيَوْمٌ عَظِيمٌ يَوْمٌ يَحْتَاجُ النَّاسُ فِيهِ إِلَى أَنْ يُحْمَلَ عَنْهُمْ مِنْ أَوْزَارِهِمْ

Lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya itu adalah hari yang sangat dahsyat, hari di mana manusia membutuhkan orang lain untuk menanggung dosa-dosa mereka."

قَالَ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَي لِلْمُتَظَلِّمِ ارْفَعْ بَصَرَكَ فَانْظُرْ فِي الْجِنَانِ

Beliau melanjutkan, "Maka Allah Ta'ala berfirman (kepada orang yang dizalimi), 'Angkatlah pandanganmu dan lihatlah ke dalam surga.'"

فَقَالَ يَا رَبِّ أَرَى مَدَائِنَ مِنْ فِضَّةٍ وَقُصُورًا مِنْ ذَهَبٍ مُكَلَّلَةً بِاللُّؤْلُؤِ

Ia berkata, "Ya Rabbi, aku melihat kota-kota dari perak dan istana-istana dari emas yang dihiasi dengan mutiara."

لِأَيِّ نَبِيٍّ هَذَا أَوْ لِأَيِّ صِدِّيقٍ أَوْ لِأَيِّ شَهِيدٍ

"Untuk nabi manakah ini, atau untuk shiddiq (orang yang jujur) manakah ini, atau untuk syahid manakah ini?"

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا لِمَنْ أَعْطَى الثَّمَنَ

Allah Ta'ala berfirman, "Ini untuk orang yang membayar harganya."

قَالَ يَا رَبِّ وَمَنْ يَمْلِكُ ذَلِكَ

Ia bertanya, "Ya Rabbi, siapakah yang memilikinya?"

قَالَ أَنْتَ تَمْلِكُهُ

Allah berfirman, "Engkau memilikinya."

قَالَ بِمَاذَا يَا رَبِّ

Ia bertanya, "Dengan apa, ya Rabbi?"

قَالَ بِعَفْوِكَ عَنْ أَخِيكَ

Allah menjawab, "Dengan maafmu kepada saudaramu."

قَالَ يَا رَبِّ قَدْ عَفَوْتُ عَنْهُ

Ia berkata, "Ya Rabbi, sungguh aku telah memaafkannya."

فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى خُذْ بِيَدِ أَخِيكَ فَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ

Maka Allah Ta'ala berfirman, "Peganglah tangan saudaramu, lalu masukkanlah ia ke dalam surga."

ثُمَّ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُصْلِحُ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bertakwalah kalian dan damaikanlah perselisihan di antara kalian, karena sesungguhnya Allah Ta'ala akan mendamaikan kaum mukminin pada hari kiamat."

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِكَذَّابٍ مَنْ أَصْلَحَ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَقَالَ خَيْرًا

Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Bukanlah seorang pendusta, orang yang mendamaikan dua orang lalu ia mengatakan kebaikan."

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ الْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ لِأَنَّ تَرْكَ الْكَذِبِ وَاجِبٌ وَلَا يَسْقُطُ الْوَاجِبُ إِلَّا بِوَاجِبٍ آكَدَ مِنْهُ

Ini menunjukkan wajibnya mendamaikan manusia, karena meninggalkan dusta adalah wajib, dan suatu kewajiban tidak gugur kecuali oleh kewajiban lain yang lebih kuat darinya.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ الْكَذِبِ مَكْتُوبٌ إِلَّا أَنْ يَكْذِبَ الرَّجُلُ فِي الْحَرْبِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Setiap kebohongan itu tercatat, kecuali jika seseorang berbohong dalam peperangan."

فَإِنَّ الْحَرْبَ خُدْعَةٌ

"Karena perang adalah tipu daya."

أَوْ يَكْذِبَ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَيُصْلِحَ بَيْنَهُمَا

"Atau ia berbohong di antara dua orang untuk mendamaikan keduanya."

أَوْ يَكْذِبَ لِامْرَأَتِهِ لِيُرْضِيَهَا

"Atau ia berbohong kepada istrinya untuk menyenangkannya."

وَمِنْهَا أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِينَ كُلِّهِمْ

Di antaranya adalah menutupi aib seluruh kaum muslimin.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah Ta'ala akan menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat."

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) hamba yang lain, melainkan Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat."

لَا يَرَى امْرُؤٌ مِنْ أَخِيهِ عَوْرَةً فَيَسْتُرُهَا عَلَيْهِ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Tidaklah seseorang melihat aib saudaranya lalu ia menutupinya, melainkan ia akan masuk surga."

لَوْ سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ كَانَ خَيْرًا لَكَ

"Seandainya engkau menutupinya dengan pakaianmu, itu lebih baik bagimu."

فَإِذَنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَةَ نَفْسِهِ

Maka, seorang muslim wajib menutupi aibnya sendiri.

فَحَقُّ إِسْلَامِهِ وَاجِبٌ عَلَيْهِ كَحَقِّ إِسْلَامِ غَيْرِهِ

Sebab, hak Islamnya atas dirinya wajib ia penuhi, sebagaimana hak Islam orang lain.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَوْ وَجَدْتُ شَارِبًا لَأَحْبَبْتُ أَنْ يَسْتُرَهُ اللَّهُ

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, "Seandainya aku menemukan seorang peminum (khamar), aku lebih suka jika Allah menutupinya."

وَلَوْ وَجَدْتُ سَارِقًا لَأَحْبَبْتُ أَنْ يَسْتُرَهُ اللَّهُ

"Dan seandainya aku menemukan seorang pencuri, aku lebih suka jika Allah menutupinya."

وَرَوَى أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَعُسُّ بِالْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَرَأَى رَجُلًا وَامْرَأَةً عَلَى فَاحِشَةٍ

Diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu sedang berpatroli di Madinah pada suatu malam, lalu ia melihat seorang pria dan wanita sedang berbuat keji.

فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ لِلنَّاسِ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ إِمَامًا رَأَى رَجُلًا وَامْرَأَةً عَلَى فَاحِشَةٍ فَأَقَامَ عَلَيْهِمَا الْحَدَّ مَا كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

Ketika pagi tiba, ia berkata kepada orang-orang, "Bagaimana pendapat kalian, jika seorang pemimpin melihat seorang pria dan wanita berbuat keji, lalu ia menegakkan hukum had atas keduanya, apa yang akan kalian lakukan?"

قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ إِمَامٌ

Mereka berkata, "Engkau adalah pemimpin."

فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْسَ ذَلِكَ لَكَ إِذًا يُقَامُ عَلَيْكَ الْحَدُّ

Lalu Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Engkau tidak berhak melakukan itu. Jika demikian, engkau yang akan dikenai hukum had."

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمَنْ عَلَى هَذَا الْأَمْرِ أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ شُهُودٍ

"Sesungguhnya Allah tidak mempercayakan urusan ini kepada saksi yang kurang dari empat orang."

ثُمَّ تَرَكَهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَتْرُكَهُمْ ثُمَّ سَأَلَهُمْ

Kemudian Umar meninggalkan mereka beberapa waktu, lalu bertanya lagi kepada mereka.

فَقَالَ الْقَوْمُ مَقَالَتَهُمُ الْأُولَى

Orang-orang pun mengatakan jawaban yang sama seperti semula.

فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ مَقَالَتِهِ الْأُولَى

Dan Ali radhiyallahu 'anhu pun mengatakan jawaban yang sama seperti semula.

وَهَذَا يُشِيرُ إِلَى أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ مُتَرَدِّدًا فِي أَنَّ الْوَالِيَ هَلْ لَهُ أَنْ يَقْضِيَ بِعِلْمِهِ فِي حُدُودِ اللَّهِ

Ini mengisyaratkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu ragu apakah seorang penguasa berhak memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri dalam urusan hukum had Allah.

فَلِذَلِكَ رَاجَعَهُمْ فِي مَعْرَضِ التَّقْدِيرِ لَا فِي مَعْرَضِ الْإِخْبَارِ خِيفَةً مِنْ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ ذَلِكَ فَيَكُونَ قَاذِفًا بِإِخْبَارِهِ

Oleh karena itu, ia bertanya kepada mereka dalam bentuk pengandaian, bukan pemberitahuan, karena khawatir ia tidak berhak melakukannya, sehingga ia akan menjadi penuduh (qadzaf) dengan pemberitahuannya itu.

وَمَالَ رَأْيُ عَلِيٍّ إِلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ ذَلِكَ

Dan pendapat Ali cenderung menyatakan bahwa penguasa tidak berhak melakukan itu.

وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الْأَدِلَّةِ عَلَى طَلَبِ الشَّرْعِ لِسَتْرِ الْفَوَاحِشِ

Ini adalah salah satu dalil terkuat tentang anjuran syariat untuk menutupi perbuatan-perbuatan keji.

فَإِنَّ أَفْحَشَهَا الزِّنَا وَقَدْ نِيطَ بِأَرْبَعَةٍ مِنَ الْعُدُولِ يَشَاهِدُونَ ذَلِكَ مِنْهُ فِي ذَلِكَ مِنْهَا كَالْمِرْوَدِ فِي الْمُكْحُلَةِ

Karena perbuatan paling keji adalah zina, dan (pembuktiannya) disyaratkan dengan empat saksi yang adil yang melihat perbuatan itu laksana celak masuk ke dalam tempatnya.

وَهَذَا قَطُّ لَا يَتَّفِقُ

Dan hal ini hampir tidak mungkin terjadi.

وَإِنْ عَلِمَهُ الْقَاضِي تَحْقِيقًا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَكْشِفَ عَنْهُ

Dan jika pun seorang hakim mengetahuinya secara pasti, ia tidak berhak untuk mengungkapkannya.

فَانْظُرْ إِلَى الْحِكْمَةِ فِي حَسْمِ بَابِ الْفَاحِشَةِ بِإِيجَابِ الرَّجْمِ الَّذِي هُوَ أَعْظَمُ الْعُقُوبَاتِ

Maka lihatlah hikmah dalam menutup pintu perbuatan keji dengan mewajibkan hukuman rajam, yang merupakan hukuman terberat.

ثُمَّ انْظُرْ إِلَى كَثِيفِ سِتْرِ اللَّهِ كَيْفَ أَسْبَلَهُ عَلَى الْعُصَاةِ مِنْ خَلْقِهِ بِتَضْيِيقِ الطَّرِيقِ فِي كَشْفِهِ

Kemudian lihatlah betapa tebalnya tirai penutup dari Allah, bagaimana Dia membentangkannya untuk para pelaku maksiat dari makhluk-Nya dengan mempersempit jalan untuk mengungkapnya.

فَنَرْجُو أَنْ لَا نُحْرَمَ هَذَا الْكَرَمَ يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

Maka kita berharap agar tidak dihalangi dari kemurahan ini pada hari ketika semua rahasia dibongkar.

فَفِي الْحَدِيثِ إِنَّ اللَّهَ إِذَا سَتَرَ عَلَى عَبْدٍ عَوْرَتَهُ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ يَكْشِفَهَا فِي الْآخِرَةِ

Dalam sebuah hadis disebutkan, "Sesungguhnya jika Allah menutupi aib seorang hamba di dunia, maka Dia terlalu mulia untuk membukanya di akhirat."

وَإِنْ كَشَفَهَا فِي الدُّنْيَا فَهُوَ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ يَكْشِفَهَا مَرَّةً أُخْرَى

"Dan jika Dia membukanya di dunia, maka Dia terlalu mulia untuk membukanya sekali lagi."

وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي الْمَدِينَةِ

Dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Aku keluar bersama Umar radhiyallahu 'anhu pada suatu malam di Madinah."

فَبَيْنَمَا نَحْنُ نَمْشِي إِذْ ظَهَرَ لَنَا سِرَاجٌ فَانْطَلَقْنَا نَؤُمُّهُ

Ketika kami sedang berjalan, tampaklah oleh kami sebuah pelita, lalu kami pun menuju ke arahnya.

فَلَمَّا دَنَوْنَا مِنْهُ إِذَا بَابٌ مُغْلَقٌ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ أَصْوَاتٌ وَلَغَطٌ

Ketika kami mendekat, ternyata ada sebuah pintu tertutup di mana di dalamnya ada sekelompok orang yang bersuara gaduh.

فَأَخَذَ عُمَرُ بِيَدِي وَقَالَ أَتَدْرِي بَيْتَ مَنْ هَذَا

Umar memegang tanganku dan berkata, "Tahukah engkau ini rumah siapa?"

قُلْتُ لَا

Aku menjawab, "Tidak."

فَقَالَ هَذَا بَيْتُ رَبِيعَةَ بْنِ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ وَهُمُ الْآنَ شُرَّبٌ فَمَا تَرَى

Ia berkata, "Ini rumah Rabi'ah bin Umayyah bin Khalaf, dan mereka sekarang sedang minum-minum (khamar). Bagaimana menurutmu?"

قُلْتُ أَرَى أَنَّا قَدْ أَتَيْنَا مَا نَهَانَا اللَّهُ عَنْهُ

Aku berkata, "Menurutku kita telah melakukan apa yang dilarang Allah."

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {وَلَا تَجَسَّسُوا}

"Allah Ta'ala berfirman, '{Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain}'."

فَرَجَعَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَتَرَكَهُمْ

Maka Umar radhiyallahu 'anhu pun kembali dan meninggalkan mereka.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ السَّتْرِ وَتَرْكِ التَّتَبُّعِ

Ini menunjukkan kewajiban untuk menutupi (aib) dan meninggalkan perbuatan mencari-cari kesalahan.

وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاوِيَةَ إِنَّكَ إِنْ تَتَبَّعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ تُفْسِدُهُمْ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda kepada Mu'awiyah, "Sesungguhnya jika engkau mencari-cari aib manusia, engkau akan merusak mereka, atau hampir merusak mereka."

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ

"Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan janganlah mencari-cari aib mereka."

وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَوْ رَأَيْتُ أَحَدًا عَلَى حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ تَعَالَى مَا أَخَذْتُهُ وَلَا دَعَوْتُ لَهُ أَحَدًا حَتَّى يَكُونَ مَعِي غَيْرِي

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata, "Seandainya aku melihat seseorang melakukan perbuatan yang pantas dihukum had Allah Ta'ala, aku tidak akan menangkapnya dan tidak akan memanggil seorang pun untuknya, sampai ada orang lain bersamaku."

وَقَالَ بَعْضُهُمْ كُنْتُ قَاعِدًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ بِآخَرَ

Sebagian orang berkata, "Aku sedang duduk bersama Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ketika seorang laki-laki datang membawa orang lain."

فَقَالَ هَذَا نَشْوَانٌ

Ia berkata, "Orang ini mabuk."

فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ اسْتَنْكِهُوهُ

Abdullah bin Mas'ud berkata, "Ciumlah bau mulutnya."

فَاسْتَنْكَهُوهُ فَوَجَدُوهُ نَشْوَانًا

Mereka pun mencium bau mulutnya dan mendapatinya mabuk.

فَحَبَسَهُ حَتَّى ذَهَبَ سُكْرُهُ

Lalu ia menahannya hingga hilang mabuknya.

ثُمَّ دَعَا بِسَوْطٍ فَكَسَرَ ثَمَرَهُ

Kemudian ia meminta sebuah cambuk lalu mematahkan ujungnya.

ثُمَّ قَالَ لِلْجَلَّادِ اجْلِدْ وَارْفَعْ يَدَكَ وَأَعْطِ كُلَّ عُضْوٍ حَقَّهُ

Lalu ia berkata kepada algojo, "Cambuklah, angkat tanganmu, dan berikan setiap anggota badan haknya."

فَجَلَدَهُ وَعَلَيْهِ قَبَاءٌ أَوْ مِرْطٌ

Algojo pun mencambuknya sementara ia masih mengenakan jubah atau selimut.

فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ لِلَّذِي جَاءَ بِهِ مَا أَنْتَ مِنْهُ

Setelah selesai, ia bertanya kepada orang yang membawanya, "Apa hubunganmu dengannya?"

قَالَ عَمُّهُ

Ia menjawab, "Pamannya."

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَا أَدَّبْتَ فَأَحْسَنْتَ الْأَدَبَ وَلَا سَتَرْتَ الْحُرْمَةَ

Abdullah berkata, "Engkau tidak mendidiknya dengan baik, dan engkau juga tidak menutupi kehormatannya."

إِنَّهُ يَنْبَغِي لِلْإِمَامِ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ حَدٌّ أَنْ يُقِيمَهُ

"Sesungguhnya seorang pemimpin, jika suatu kasus had sampai kepadanya, wajib untuk menegakkannya."

وَإِنَّ اللَّهَ عَفُوٌّ يُحِبُّ الْعَفْوَ

"Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan."

ثُمَّ قَرَأَ {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا}

Kemudian ia membaca ayat, "{Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada}."

ثُمَّ قَالَ إِنِّي لَأَذْكُرُ أَوَّلَ رَجُلٍ قَطَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Lalu ia berkata, "Sungguh aku ingat orang pertama yang dihukum potong tangan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."

أُتِيَ بِسَارِقٍ فَقَطَعَهُ فَكَأَنَّمَا أُسِفَ وَجْهُهُ

"Seorang pencuri dibawa kepada beliau, lalu beliau memotong tangannya, dan wajah beliau seakan-akan muram."

فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّكَ كَرِهْتَ قَطْعَهُ

Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, sepertinya engkau tidak menyukai hukuman potong ini."

فَقَالَ وَمَا يَمْنَعُنِي لَا تَكُونُوا عَوْنًا لِلشَّيَاطِينِ عَلَى أَخِيكُمْ

Beliau menjawab, "Apa yang menghalangiku? Janganlah kalian menjadi penolong setan atas saudara kalian."

فَقَالُوا أَلَا عَفَوْتَ عَنْهُ

Mereka berkata, "Mengapa engkau tidak memaafkannya saja?"

فَقَالَ إِنَّهُ يَنْبَغِي لِلسُّلْطَانِ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ حَدٌّ أَنْ يُقِيمَهُ

Beliau menjawab, "Sesungguhnya seorang penguasa, jika suatu kasus had sampai kepadanya, wajib untuk menegakkannya."

إِنَّ اللَّهَ عَفُوٌّ يُحِبُّ الْعَفْوَ

"Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan."

وَقَرَأَ {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

Lalu beliau membaca ayat, "{Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang}."

وَفِي رِوَايَةٍ فَكَأَنَّمَا سُفِيَ فِي وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَادٌ لِشِدَّةِ تَغَيُّرِهِ

Dalam riwayat lain, "Seolah-olah wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditaburi abu karena saking berubahnya (raut wajah beliau)."

وَرَوَى أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَعُسُّ بِالْمَدِينَةِ مِنَ اللَّيْلِ فَسَمِعَ صَوْتَ رَجُلٍ فِي بَيْتٍ يَتَغَنَّى

Diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu 'anhu sedang berpatroli di Madinah pada malam hari, lalu ia mendengar suara seorang laki-laki bernyanyi di dalam sebuah rumah.

فَتَسَوَّرَ عَلَيْهِ فَوَجَدَهُ عِنْدَهُ امْرَأَةً وَعِنْدَهُ خَمْرٌ

Ia pun memanjat (dinding) rumah itu dan mendapatinya bersama seorang wanita dan ada minuman keras.

فَقَالَ يَا عَدُوَّ اللَّهِ أَظَنَنْتَ أَنَّ اللَّهَ يَسْتُرُكَ وَأَنْتَ عَلَى مَعْصِيَتِهِ

Umar berkata, "Wahai musuh Allah! Apakah engkau mengira Allah akan menutupi (aib)mu padahal engkau sedang berbuat maksiat kepada-Nya?"

فَقَالَ وَأَنْتَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَلَا تَعْجَلْ

Laki-laki itu menjawab, "Dan engkau juga, wahai Amirul Mukminin, janganlah terburu-buru."

فَإِنْ كُنْتُ قَدْ عَصَيْتُ اللَّهَ وَاحِدَةً فَقَدْ عَصَيْتَ اللَّهَ فِيَّ ثَلَاثًا

"Jika aku telah bermaksiat kepada Allah satu kali, maka engkau telah bermaksiat kepada Allah dalam urusanku ini sebanyak tiga kali."

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {وَلَا تَجَسَّسُوا} وَقَدْ تَجَسَّسْتَ

"Allah Ta'ala berfirman, '{Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain}', dan engkau telah melakukannya."

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى {وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا} وَقَدْ تَسَوَّرْتَ عَلَيَّ

"Allah Ta'ala berfirman, '{Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya}', dan engkau telah memanjat (dinding) rumahku."

وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ} الْآيَةَ وَقَدْ دَخَلْتَ بَيْتِي بِغَيْرِ إِذْنٍ وَلَا سَلَامٍ

"Dan Allah Ta'ala telah berfirman, '{Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu...}' (dst), dan engkau telah memasuki rumahku tanpa izin dan tanpa salam."

فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ هَلْ عِنْدَكَ مِنْ خَيْرٍ إِنْ عَفَوْتُ عَنْكَ

Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Apakah engkau akan berbuat baik jika aku memaafkanmu?"

قَالَ نَعَمْ وَاللَّهِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَئِنْ عَفَوْتَ عَنِّي لَا أَعُودُ إِلَى مِثْلِهَا أَبَدًا

Ia menjawab, "Ya, demi Allah, wahai Amirul Mukminin. Jika engkau memaafkanku, aku tidak akan pernah kembali kepada perbuatan seperti ini selamanya."

فَعَفَا عَنْهُ وَخَرَجَ وَتَرَكَهُ

Maka Umar memaafkannya, lalu keluar dan meninggalkannya.

وَقَالَ رَجُلٌ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْوَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah bin Umar, "Wahai Abu Abdurrahman, bagaimana engkau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang 'najwa' (percakapan rahasia) pada hari kiamat?"

قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَيُدْنِي مِنْهُ الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ

Ia menjawab, "Aku mendengar beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang mukmin kepada-Nya, lalu meletakkan tirai-Nya di atasnya dan menutupinya dari pandangan manusia.'"

فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا

"Lalu Dia berfirman, 'Apakah engkau mengakui dosa ini? Apakah engkau mengakui dosa itu?'"

فَيَقُولُ نَعَمْ يَا رَبِّ

"Ia menjawab, 'Ya, wahai Tuhanku.'"

حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ فَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ

"Hingga ketika Allah telah membuatnya mengakui dosa-dosanya, dan ia merasa dalam dirinya bahwa ia telah binasa."

قَالَ لَهُ يَا عَبْدِي إِنِّي لَمْ أَسْتُرْهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا إِلَّا وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أَغْفِرَهَا لَكَ الْيَوْمَ

"Allah berfirman kepadanya, 'Wahai hamba-Ku, Aku tidak menutupi dosa-dosamu di dunia melainkan karena Aku ingin mengampuninya untukmu pada hari ini.'"

فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ

"Lalu ia diberi kitab catatan kebaikannya."

وَأَمَّا الْكَافِرُونَ وَالْمُنَافِقُونَ فَتَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

"Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata, 'Mereka inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.'"

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat dosa)."

وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ السُّوءَ سِرًّا ثُمَّ يُخْبِرُ بِهِ

"Dan termasuk perbuatan terang-terangan adalah seseorang yang melakukan keburukan secara sembunyi-sembunyi, lalu ia menceritakannya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ اسْتَمَعَ خَبَرَ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak menyukainya, maka akan dituangkan timah cair ke telinganya pada hari kiamat."

وَمِنْهَا أَنْ يَتَّقِيَ مَوَاضِعَ التُّهَمِ صِيَانَةً لِقُلُوبِ النَّاسِ عَنْ سُوءِ الظَّنِّ وَلِأَلْسِنَتِهِمْ عَنِ الْغِيبَةِ

Di antaranya adalah menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan tuduhan, untuk menjaga hati manusia dari prasangka buruk dan menjaga lisan mereka dari menggunjing.

فَإِنَّهُمْ إِذَا عَصَوُا اللَّهَ بِذِكْرِهِ وَكَانَ هُوَ السَّبَبَ فِيهِ كَانَ شَرِيكًا

Karena jika mereka berbuat maksiat kepada Allah dengan membicarakannya, dan ia menjadi penyebabnya, maka ia ikut serta (dalam dosa itu).

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَرَوْنَ مَنْ يَسُبُّ أَبَوَيْهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bagaimana pendapat kalian tentang orang yang mencela kedua orang tuanya?"

فَقَالُوا وَهَلْ مِنْ أَحَدٍ يَسُبُّ أَبَوَيْهِ

Mereka menjawab, "Apakah ada orang yang mencela kedua orang tuanya?"

فَقَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَوَيْ غَيْرِهِ فَيَسُبُّونَ أَبَوَيْهِ

Beliau bersabda, "Ya, ia mencela orang tua orang lain, lalu mereka pun mencela kedua orang tuanya."

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَّمَ إِحْدَى نِسَائِهِ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berbicara dengan salah seorang istrinya.

فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَدَعَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا فُلَانُ هَذِهِ زَوْجَتِي صَفِيَّةُ

Lalu seorang laki-laki lewat, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggilnya dan berkata, "Wahai fulan, ini adalah istriku, Shafiyyah."

فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ كُنْتُ أَظُنُّ فِيهِ فَإِنِّي لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ فِيكَ

Laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah, jika aku mungkin berprasangka kepada orang lain, aku tidak akan pernah berprasangka kepadamu."

فَقَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

Beliau bersabda, "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam melalui aliran darah."

وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا

Dalam riwayat lain ditambahkan, "Aku khawatir setan akan membisikkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua."

وَكَانَا رَجُلَيْنِ فَقَالَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ

Keduanya adalah dua orang laki-laki, lalu beliau bersabda, "Tenanglah kalian berdua, sesungguhnya ini adalah Shafiyyah."

وَكَانَتْ قَدْ زَارَتْهُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Saat itu Shafiyyah sedang mengunjungi beliau pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَنْ أَقَامَ نَفْسَهُ مَقَامَ التُّهَمِ فَلَا يَلُومَنَّ مَنْ أَسَاءَ بِهِ الظَّنَّ

Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa menempatkan dirinya pada posisi yang menimbulkan tuduhan, maka janganlah ia menyalahkan orang yang berprasangka buruk kepadanya."

وَمَرَّ بِرَجُلٍ يُكَلِّمُ امْرَأَةً عَلَى ظَهْرِ الطَّرِيقِ فَعَلَاهُ بِالدِّرَّةِ

Ia pernah melewati seorang laki-laki yang sedang berbicara dengan seorang wanita di tengah jalan, lalu ia memukulnya dengan tongkat.

فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّهَا امْرَأَتِي

Laki-laki itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, dia adalah istriku."

فَقَالَ هَلَّا حَيْثُ لَا يَرَاكَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ

Umar berkata, "Mengapa tidak (berbicara) di tempat yang tidak dilihat oleh seorang pun?"

وَمِنْهَا أَنْ يَشْفَعَ لِكُلِّ مَنْ لَهُ حَاجَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَى مَنْ لَهُ عِنْدَهُ مَنْزِلَةٌ وَيَسْعَى فِي قَضَاءِ حَاجَتِهِ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ

Di antaranya adalah memberikan syafaat (perantaraan) bagi setiap muslim yang memiliki keperluan kepada orang yang memiliki kedudukan, dan berusaha memenuhi keperluannya semampunya.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أُوتَى وَأُسْأَلُ وَتُطْلَبُ إِلَيَّ الْحَاجَةُ وَأَنْتُمْ عِنْدِي

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Aku didatangi, diminta, dan diajukan keperluan kepadaku saat kalian ada di sisiku."

فَاشْفَعُوا لِتُؤْجَرُوا وَيَقْضِيَ اللَّهُ عَلَى يَدَيْ نَبِيِّهِ مَا أَحَبَّ

"Maka berilah syafaat agar kalian mendapat pahala, dan Allah akan menetapkan apa yang Dia sukai melalui lisan Nabi-Nya."

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْفَعُوا إِلَيَّ لِتُؤْجَرُوا

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Berilah syafaat kepadaku agar kalian mendapat pahala."

إِنِّي أُرِيدُ الْأَمْرَ وَأُؤَخِّرُهُ كَيْ تَشْفَعُوا إِلَيَّ فَتُؤْجَرُوا

"Sesungguhnya aku menginginkan suatu perkara, lalu aku menundanya agar kalian memberi syafaat kepadaku sehingga kalian mendapat pahala."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ صَدَقَةٍ أَفْضَلُ مِنْ صَدَقَةِ اللِّسَانِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada sedekah yang lebih utama daripada sedekah lisan."

قِيلَ وَكَيْفَ ذَلِكَ

Ditanyakan, "Bagaimana itu?"

قَالَ الشَّفَاعَةُ يُحْقَنُ بِهَا الدَّمُ وَتُجَرُّ بِهَا الْمَنْفَعَةُ إِلَى آخَرَ وَيُدْفَعُ بِهَا الْمَكْرُوهُ عَنْ آخَرَ

Beliau menjawab, "Syafaat (perantaraan) yang dapat mencegah pertumpahan darah, mendatangkan manfaat bagi orang lain, dan menolak keburukan dari orang lain."

وَرَوَى عِكْرِمَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa suami Barirah adalah seorang budak bernama Mughits.

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ خَلْفَهَا وَهُوَ يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ

"Seakan-akan aku melihatnya berjalan di belakang Barirah sambil menangis, dan air matanya mengalir di jenggotnya."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ شِدَّةِ حُبِّ مُغِيثٍ لِبَرِيرَةَ وَشِدَّةِ بُغْضِهَا لَهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Al-Abbas, "Tidakkah engkau heran dengan dalamnya cinta Mughits kepada Barirah dan dalamnya kebencian Barirah kepadanya?"

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ فَإِنَّهُ أَبُو وَلَدِكِ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (kepada Barirah), "Bagaimana jika engkau kembali kepadanya? Sesungguhnya ia adalah bapak dari anakmu."

فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَأْمُرُنِي فَأَفْعَلَ

Ia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku? Jika demikian, aku akan melakukannya."

فَقَالَ لَا إِنَّمَا أَنَا شَافِعٌ

Beliau menjawab, "Tidak, aku hanyalah pemberi syafaat (perantara)."

وَمِنْهَا أَنْ يَبْدَأَ كُلَّ مُسْلِمٍ مِنْهُمْ بِالسَّلَامِ قَبْلَ الْكَلَامِ وَيُصَافِحَهُ عِنْدَ السَّلَامِ

Di antaranya adalah memulai (pertemuan) dengan setiap muslim dengan mengucapkan salam sebelum berbicara, dan menjabat tangannya ketika mengucapkan salam.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَأَ بِالْكَلَامِ قَبْلَ السَّلَامِ فَلَا تُجِيبُوهُ حَتَّى يَبْدَأَ بِالسَّلَامِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa memulai dengan pembicaraan sebelum salam, maka janganlah kalian menjawabnya sampai ia memulai dengan salam."

وَقَالَ بَعْضُهُمْ دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ أُسَلِّمْ وَلَمْ أَسْتَأْذِنْ

Sebagian sahabat berkata, "Aku masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tanpa mengucapkan salam dan tanpa meminta izin."

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ فَقُلِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kembalilah, lalu katakan, 'Assalamu'alaikum, bolehkah aku masuk?'"

وَرَوَى جَابِرٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتَكُمْ فَسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا

Jabir radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Apabila kalian memasuki rumah kalian, maka ucapkanlah salam kepada penghuninya.'"

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَلَّمَ أَحَدُكُمْ لَمْ يَدْخُلْ بَيْتَهُ

"Karena sesungguhnya setan, apabila salah seorang dari kalian mengucapkan salam, ia tidak akan masuk ke rumahnya."

يَا أَنَسُ أَسْبِغِ الْوُضُوءَ يَزِدْ مِنْ عُمْرِكَ وَسَلِّمْ عَلَى مَنْ لَقِيتَهُ مِنْ أُمَّتِي تَكْثُرْ حَسَنَاتُكَ وَإِذَا دَخَلْتَ بَيْتَكَ فَسَلِّمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ يَكْثُرْ خَيْرُ بَيْتِكَ

"Wahai Anas, sempurnakanlah wudhu, niscaya usiamu akan bertambah. Ucapkanlah salam kepada siapa pun yang engkau temui dari umatku, niscaya kebaikanmu akan banyak. Dan jika engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam kepada penghuni rumahmu, niscaya kebaikan rumahmu akan banyak."

إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُنْ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ

"Jika engkau masuk menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam, niscaya akan menjadi berkah bagimu dan bagi penghuni rumahmu."

وَقَالَ أَنَسٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُؤْمِنَانِ فَتَصَافَحَا قُسِمَتْ بَيْنَهُمَا سَبْعُونَ مَغْفِرَةً تِسْعٌ وَسِتُّونَ لِأَحْسَنِهِمَا بِشْرًا

Anas berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Apabila dua orang mukmin bertemu lalu berjabat tangan, maka dibagikan di antara keduanya tujuh puluh ampunan. Enam puluh sembilan di antaranya untuk yang paling ceria wajahnya.'"

وَقَالَ تَعَالَى {وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا}

Allah Ta'ala berfirman, "{Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)}."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai."

أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ

"Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang jika kalian kerjakan, kalian akan saling mencintai?"

قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ

Mereka menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah."

قَالَ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Beliau bersabda, "Sebarkanlah salam di antara kalian."

وَقَالَ أَيْضًا إِذَا سَلَّمَ الْمُسْلِمُ عَلَى الْمُسْلِمِ فَرَدَّ عَلَيْهِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ سَبْعِينَ مَرَّةً

Beliau juga bersabda, "Apabila seorang muslim mengucapkan salam kepada muslim yang lain lalu ia menjawabnya, maka para malaikat akan mendoakannya sebanyak tujuh puluh kali."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَعْجَبُ مِنَ الْمُسْلِمِ يَمُرُّ عَلَى الْمُلِمِ وَلَا يُسَلِّمُ عَلَيْهِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya para malaikat merasa heran terhadap seorang muslim yang melewati muslim lainnya namun tidak mengucapkan salam kepadanya."

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَإِذَا سَلَّمَ مِنَ الْقَوْمِ أَحَدٌ أَجْزَأَ عَنْهُمْ

"Orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan kaki. Dan jika salah seorang dari suatu kaum telah memberi salam, maka itu sudah mencukupi bagi mereka semua."

يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ وَيُجْزِئُ عَنِ الْجُلُوسِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ

"Cukup bagi sekelompok orang yang lewat jika salah seorang dari mereka memberi salam, dan cukup bagi yang sedang duduk jika salah seorang dari mereka menjawab salam."

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي

"Orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan kaki."

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata, "Salamun 'alaik (salam atasmu)."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sepuluh kebaikan."

كَانَ يَمُرُّ عَلَى الصِّبْيَانِ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ

Beliau (Anas) biasa melewati anak-anak lalu memberi salam kepada mereka.

وَيُرْوَى عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ فَعَلَ ذَلِكَ

Dan diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau melakukan hal itu.

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا وَعُصْبَةٌ مِنَ النَّاسِ قُعُودٌ فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ بِالسَّلَامِ

Bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari melewati masjid sementara sekelompok orang sedang duduk, lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya sebagai salam.

وَأَشَارَ عَبْدُ الْحَمِيدِ بِيَدِهِ إِلَى الْحِكَايَةِ

Dan Abdul Hamid (perawi) memberi isyarat dengan tangannya untuk menirukan (isyarat Nabi).

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janganlah kalian memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani."

وَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي الطَّرِيقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

"Dan jika kalian bertemu salah seorang dari mereka di jalan, maka paksalah ia ke bagian yang paling sempit."

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُصَافِحُوا أَهْلَ الذِّمَّةِ وَلَا تَبْدَءُوهُمْ بِالسَّلَامِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Janganlah kalian berjabat tangan dengan ahli dzimmah dan jangan memulai salam kepada mereka.'"

فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فِي الطَّرِيقِ فَاضْطَرُّوهُمْ إِلَى أَضْيَقِ الطُّرُقِ

"Jika kalian bertemu mereka di jalan, maka paksalah mereka ke jalan yang paling sempit."

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِنَّ رَهْطًا مِنَ الْيَهُودِ دَخَلُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Sesungguhnya sekelompok orang Yahudi masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka berkata, 'Assaamu 'alaik (kematian atasmu).'"

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {عَلَيْكُمْ}

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "{'Alaikum} (atas kalian juga)."

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقُلْتُ بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Lalu aku berkata, 'Bahkan atas kalianlah kematian dan laknat.'"

فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي كُلِّ شَيْءٍ

Beliau 'alaihissalam bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala hal."

قَالَتْ عَائِشَةُ أَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا

Aisyah berkata, "Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan?"

قَالَ فَقَدْ قُلْتُ عَلَيْكُمْ

Beliau menjawab, "Aku sudah menjawab, ''Alaikum (atas kalian juga).'"

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ وَالصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yang muda kepada yang tua."

لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

"Janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nasrani, karena salam orang Yahudi adalah isyarat dengan jari-jari, dan salam orang Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى مَجْلِسٍ فَلْيُسَلِّمْ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian sampai di suatu majelis, maka hendaklah ia memberi salam."

فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ

"Jika ia ingin duduk, maka hendaklah ia duduk."

ثُمَّ إِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ

"Kemudian jika ia bangkit (untuk pergi), maka hendaklah ia memberi salam."

فَلَيْسَتِ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الْآخِرَةِ

"Karena salam yang pertama tidaklah lebih berhak daripada salam yang terakhir."

وَقَالَ أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُؤْمِنَانِ فَتَصَافَحَا قُسِمَتْ بَيْنَهُمَا سَبْعُونَ مَغْفِرَةً تِسْعَةٌ وَسِتُّونَ لِأَحْسَنِهِمَا بِشْرًا

Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Apabila dua orang mukmin bertemu lalu berjabat tangan, maka dibagikan di antara keduanya tujuh puluh ampunan. Enam puluh sembilan di antaranya untuk yang paling ceria wajahnya.'"

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ وَسَلَّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ وَتَصَافَحَا نَزَلَتْ بَيْنَهُمَا مِائَةُ رَحْمَةٍ لِلْبَادِئِ تِسْعُونَ وَلِلْمُصَافِحِ عَشَرَةٌ

Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Apabila dua orang muslim bertemu, lalu masing-masing memberi salam kepada sahabatnya dan berjabat tangan, maka turun di antara keduanya seratus rahmat. Sembilan puluh untuk yang memulai (salam) dan sepuluh untuk yang menjawabnya (dengan jabat tangan).'"

وَقَالَ الْحَسَنُ الْمُصَافَحَةُ تَزِيدُ فِي الْوَدِّ

Al-Hasan berkata, "Jabat tangan menambah rasa cinta."

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَمَامُ تَحِيَّاتِكُمُ الْمُصَافَحَةُ

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Kesempurnaan penghormatan di antara kalian adalah jabat tangan.'"

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبْلَةُ الْمُسْلِمِ أَخَاهُ الْمُصَافَحَةُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ciuman seorang muslim kepada saudaranya adalah jabat tangan."

وَلَا بَأْسَ بِقُبْلَةِ يَدِ الْمُعَظَّمِ فِي الدِّينِ تَبَرُّكًا بِهِ وَتَوْقِيرًا لَهُ

Dan tidak mengapa mencium tangan orang yang dimuliakan dalam agama untuk mengharap berkah dan memuliakannya.

وَرَوِيَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَبَّلْنَا يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Kami mencium tangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."

وَعَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ تَوْبَتِي أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْتُ يَدَهُ

Dari Ka'ab bin Malik, ia berkata, "Ketika (ayat tentang) diterimanya taubatku turun, aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu mencium tangan beliau."

وَرَوِيَ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فَأُقَبِّلَ رَأْسَكَ وَيَدَكَ

Diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk mencium kepala dan tanganmu."

قَالَ فَأَذِنَ لَهُ فَفَعَلَ

Beliau pun mengizinkannya, lalu ia melakukannya.

وَلَقِيَ أَبُو عُبَيْدَةَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَصَافَحَهُ وَقَبَّلَ يَدَهُ وَتَنَحَّيَا يَبْكِيَانِ

Abu Ubaidah bertemu dengan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhuma, lalu ia menjabat tangannya dan menciumnya, kemudian keduanya menyendiri sambil menangis.

وَعَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ وُضُوئِهِ

Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, bahwa ia memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau sedang berwudhu. Beliau tidak menjawabnya sampai selesai dari wudhunya.

فَرَدَّ عَلَيْهِ وَمَدَّ يَدَهُ إِلَيْهِ فَصَافَحَهُ

Lalu beliau menjawab salamnya dan mengulurkan tangannya kepadanya, lalu menjabat tangannya.

فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كُنْتُ أَرَى هَذَا إِلَّا مِنْ أَخْلَاقِ الْأَعَاجِمِ

Ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak mengira ini (jabat tangan) kecuali bagian dari akhlak orang-orang non-Arab."

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُسْلِمَيْنِ إِذَا الْتَقَيَا فَتَصَافَحَا تَحَاتَّتْ ذُنُوبُهُمَا

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya jika dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, maka dosa-dosa keduanya akan berguguran."

وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَّ الرَّجُلُ بِالْقَوْمِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ فَرَدُّوا عَلَيْهِ كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ لِأَنَّهُ ذَكَّرَهُمُ السَّلَامَ

Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Apabila seseorang melewati suatu kaum lalu memberi salam kepada mereka dan mereka menjawabnya, maka ia memiliki keutamaan satu derajat di atas mereka, karena ia telah mengingatkan mereka akan salam."

وَإِنْ لَمْ يَرُدُّوا عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَأَطْيَبُ أَوْ قَالَ وَأَفْضَلُ

"Dan jika mereka tidak menjawabnya, maka akan dijawab oleh sekelompok (malaikat) yang lebih baik, lebih suci, atau beliau bersabda, 'lebih utama' dari mereka."

وَالِانْحِنَاءُ عِنْدَ السَّلَامِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ

Membungkuk ketika memberi salam adalah perbuatan yang dilarang.

قَالَ أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ

Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah sebagian dari kami boleh membungkuk kepada yang lain?'"

قَالَ {لَا}

Beliau menjawab, "{Tidak}."

قَالَ أَيُقَبِّلُ بَعْضُنَا بَعْضًا

Ia bertanya, "Apakah sebagian dari kami boleh mencium yang lain?"

قَالَ {لَا}

Beliau menjawab, "{Tidak}."

قَالَ أَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا

Ia bertanya, "Apakah sebagian dari kami boleh berjabat tangan dengan yang lain?"

قَالَ {نَعَمْ}

Beliau menjawab, "{Ya}."

وَالِالْتِزَامُ وَالتَّقْبِيلُ قَدْ وَرَدَ بِهِ الْخَبَرُ عِنْدَ الْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ

Adapun berpelukan dan mencium, terdapat riwayat yang menyebutkannya ketika baru datang dari perjalanan.

وَقَالَ أَبُو ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا لَقِيتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا صَافَحَنِي

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku tidak pernah bertemu dengan beliau shallallahu 'alaihi wasallam melainkan beliau menjabat tanganku."

وَطَلَبَنِي يَوْمًا فَلَمْ أَكُنْ فِي الْبَيْتِ فَلَمَّا أُخْبِرْتُ جِئْتُ وَهُوَ عَلَى سَرِيرٍ فَالْتَزَمَنِي

"Suatu hari beliau mencariku dan aku tidak ada di rumah. Ketika aku diberitahu, aku datang saat beliau sedang berada di atas ranjang, lalu beliau memelukku."

فَكَانَتْ أَجْوَدَ وَأَجْوَدَ

"Dan pelukan itu terasa sangat erat dan sangat erat."

وَالْأَخْذُ بِالرِّكَابِ فِي تَوْقِيرِ الْعُلَمَاءِ وَرَدَ بِهِ الْأَثَرُ

Adapun memegang pijakan kaki (kendaraan) untuk memuliakan ulama, terdapat atsar yang menyebutkannya.

فَعَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ ذَلِكَ بِرِكَابِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ

Ibnu Abbas melakukan hal itu pada pijakan kaki kendaraan Zaid bin Tsabit.

وَأَخَذَ عُمَرُ يَغْرِزُ زَيْدٍ حَتَّى رَفَعَهُ وَقَالَ هَكَذَا فَافْعَلُوا بِزَيْدٍ وَأَصْحَابِ زَيْدٍ

Dan Umar memegangi Zaid hingga menaikkannya (ke kendaraan) dan berkata, "Beginilah, maka perlakukanlah Zaid dan para sahabat Zaid (dengan cara seperti ini)."

وَالْقِيَامُ مَكْرُوهٌ عَلَى سَبِيلِ الْإِعْظَامِ لَا عَلَى سَبِيلِ الْإِكْرَامِ

Berdiri (untuk menyambut) hukumnya makruh jika tujuannya untuk pengagungan yang berlebihan, bukan untuk penghormatan.

قَالَ أَنَسٌ مَا كَانَ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Anas berkata, "Tidak ada pribadi yang lebih kami cintai daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ

"Dan jika mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri, karena mereka tahu beliau tidak menyukai hal itu."

وَرُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَرَّةً إِذَا رَأَيْتُمُونِي فَلَا تَقُومُوا كَمَا تَصْنَعُ الْأَعَاجِمُ

Diriwayatkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Jika kalian melihatku, janganlah berdiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang non-Arab."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa senang jika orang-orang berdiri untuknya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُقِمِ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ وَلَكِنْ تَوَسَّعُوا وَتَفَسَّحُوا

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ, tetapi lapangkanlah dan berilah kelonggaran."

وَكَانُوا يَحْتَرِزُونَ عَنْ ذَلِكَ لِهَذَا النَّهْيِ

Dan para sahabat berhati-hati dari perbuatan itu karena adanya larangan ini.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ الْقَوْمُ مَجَالِسَهُمْ فَإِنْ دَعَا أَحَدٌ أَخَاهُ فَأَوْسَعَ لَهُ فَلْيَأْتِهِ فَإِنَّمَا هِيَ كَرَامَةٌ أَكْرَمَهُ بِهَا أَخُوهُ

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila suatu kaum telah mengambil tempat duduk mereka, lalu salah seorang memanggil saudaranya dan memberinya tempat, maka hendaklah ia mendatanginya. Karena itu adalah suatu kehormatan yang diberikan oleh saudaranya."

فَإِنْ لَمْ يُوَسِّعْ لَهُ فَلْيَنْظُرْ إِلَى أَوْسَعِ مَكَانٍ يَجِدُهُ فَيَجْلِسُ فِيهِ

"Jika tidak ada yang memberinya tempat, maka hendaklah ia mencari tempat paling lapang yang ia temukan, lalu duduk di situ."

وَرُوِيَ أَنَّهُ سَلَّمَ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُولُ فَلَمْ يُجِبْ

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau sedang buang air kecil, dan beliau tidak menjawabnya.

فَيُكْرَهُ السَّلَامُ عَلَى مَنْ يَقْضِي حَاجَتَهُ

Maka dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang buang hajat.

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ ابْتِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامُ

Dan dimakruhkan untuk memulai dengan ucapan, "'Alaikas salam."

فَإِنَّهُ قَالَهُ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Karena seorang laki-laki pernah mengucapkannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامَ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya 'alaikas salam adalah salam untuk orang yang telah mati."

قَالَهَا ثَلَاثًا

Beliau mengucapkannya tiga kali.

ثُمَّ قَالَ إِذَا لَقِيَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَقُلِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Kemudian beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian bertemu saudaranya, hendaklah ia mengucapkan, 'Assalamu'alaikum warahmatullah.'"

وَيُسْتَحَبُّ لِلدَّاخِلِ إِذَا سَلَّمَ وَلَمْ يَجِدْ مَجْلِسًا أَنْ لَا يَنْصَرِفَ بَلْ يَقْعُدُ وَرَاءَ الصَّفِّ

Dan dianjurkan bagi orang yang masuk (majelis), jika ia telah memberi salam namun tidak menemukan tempat duduk, agar tidak pergi, melainkan duduk di belakang shaf (barisan).

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang duduk di masjid, ketika tiga orang datang.

فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dua orang di antaranya menghampiri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَوَجَدَ فُرْجَةً فَجَلَسَ فِيهَا

Adapun yang pertama, ia menemukan celah lalu duduk di situ.

وَأَمَّا الثَّانِي فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ

Sedangkan yang kedua, ia duduk di belakang mereka.

وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا

Adapun yang ketiga, ia berpaling dan pergi.

فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai, beliau bersabda, "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ketiga orang tadi?"

أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ

"Adapun yang pertama, ia berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya."

وَأَمَّا الثَّانِي فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ

"Adapun yang kedua, ia merasa malu, maka Allah pun malu kepadanya."

وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

"Dan adapun yang ketiga, ia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya."

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah."

وَسَلَّمَتْ أُمُّ هَانِئٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ {مَنْ هَذِهِ}

Ummu Hani' memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bertanya, "{Siapa ini?}"

فَقِيلَ لَهُ أُمُّ هَانِئٍ

Dijawab kepada beliau, "Ummu Hani'."

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ

Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Selamat datang, Ummu Hani'."