Hak Seorang Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya (1)
اَلْبَابُ الثَّالِثُ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ وَالرَّحِمِ وَالْجِوَارِ وَالْمُلْكِ وَكَيْفِيَّةِ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ مَنْ يُدْلِي بِهَذِهِ الْأَسْبَابِ
Bab Ketiga: Tentang Hak Seorang Muslim, Kerabat, Tetangga,
Hamba Sahaya, dan Tata Cara Bergaul dengan Orang-orang yang Memiliki
Keterikatan Ini.
اِعْلَمْ
أَنَّ الْإِنْسَانَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ غَيْرِهِ
Ketahuilah, manusia adakalanya hidup sendiri atau bersama
orang lain.
وَإِذَا
تَعَذَّرَ عَيْشُ الْإِنْسَانِ إِلَّا بِمُخَالَطَةِ مَنْ هُوَ مِنْ جِنْسِهِ لَمْ
يَكُنْ لَهُ بُدٌّ مِنْ تَعَلُّمِ آدَابِ الْمُخَالَطَةِ
Dan apabila manusia tidak mungkin bisa hidup kecuali dengan
bergaul bersama sesamanya, maka ia tidak punya pilihan selain mempelajari
adab-adab pergaulan.
وَكُلُّ
مُخَالِطٍ فَفِي مُخَالَطَتِهِ أَدَبٌ
Setiap interaksi sosial memiliki adabnya.
وَالْأَدَبُ
عَلَى قَدْرِ حَقِّهِ
Dan adab itu sesuai dengan kadar haknya.
وَحَقُّهُ
عَلَى قَدْرِ رَابِطَتِهِ الَّتِي بِهَا وَقَعَتِ الْمُخَالَطَةُ
Dan haknya sesuai dengan kadar ikatan yang menjadi sebab
terjadinya interaksi tersebut.
وَالرَّابِطَةُ
إِمَّا الْقَرَابَةُ وَهِيَ أَخَصُّهَا
Ikatan itu adakalanya kekerabatan, dan ini adalah yang
paling khusus.
أَوْ
أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَعَمُّهَا
Atau persaudaraan Islam, dan ini adalah yang paling umum.
وَيَنْطَوِي
فِي مَعْنَى الْأُخُوَّةِ الصَّدَاقَةُ وَالصُّحْبَةُ
Di dalam makna persaudaraan tercakup pula persahabatan dan
pertemanan.
وَإِمَّا
الْجِوَارُ وَإِمَّا صُحْبَةُ السَّفَرِ وَالْمَكْتَبِ وَالدَّرْسِ وَإِمَّا
الصَّدَاقَةُ أَوِ الْأُخُوَّةِ
Adakalanya pula ikatan itu berupa ketetanggaan, pertemanan
dalam perjalanan, di kantor, atau di tempat belajar, dan adakalanya pula
persahabatan atau persaudaraan.
وَلِكُلِّ
وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الرَّوَابِطِ دَرَجَاتٌ
Setiap satu dari ikatan-ikatan ini memiliki
tingkatan-tingkatan.
فَالْقَرَابَةُ
لَهَا حَقٌّ وَلَكِنَّ حَقَّ الرَّحِمِ الْمُحَرَّمِ آكَدُ
Kekerabatan memiliki hak, tetapi hak kerabat mahram lebih
kuat.
وَلِلْمَحْرَمِ
حَقٌّ وَلَكِنَّ حَقَّ الْوَالِدَيْنِ آكَدُ
Dan mahram memiliki hak, tetapi hak kedua orang tua lebih
kuat lagi.
وَكَذَلِكَ
حَقُّ الْجَارِ وَلَكِنْ يَخْتَلِفُ بِحَسَبِ قُرْبِهِ مِنَ الدَّارِ وَبُعْدِهِ
Demikian pula hak tetangga, tetapi ia berbeda-beda
tergantung dekat atau jauhnya dari rumah.
وَيَظْهَرُ
التَّفَاوُتُ عِنْدَ النِّسْبَةِ حَتَّى إِنَّ الْبَلَدِيَّ فِي بِلَادِ
الْغُرْبَةِ يَجْرِي مَجْرَى الْقَرِيبِ فِي الْوَطَنِ لِاخْتِصَاصِهِ بِحَقِّ
الْجِوَارِ فِي الْبَلَدِ
Perbedaan ini menjadi jelas ketika dibandingkan,
sampai-sampai orang sekampung halaman di negeri perantauan menempati posisi
kerabat di tanah air, karena ia memiliki kekhususan hak bertetangga di satu
negeri.
وَكَذَلِكَ
حَقُّ الْمُسْلِمِ يَتَأَكَّدُ بِتَأَكُّدِ الْمَعْرِفَةِ
Demikian pula hak seorang muslim, ia menjadi lebih kuat
seiring menguatnya pengenalan.
وَلِلْمَعَارِفِ
دَرَجَاتٌ
Kenalan itu bertingkat-tingkat.
فَلَيْسَ
حَقُّ الَّذِي عُرِفَ بِالْمُشَاهَدَةِ كَحَقِّ الَّذِي عُرِفَ بِالسَّمَاعِ بَلْ
آكَدُ مِنْهُ
Hak orang yang dikenal karena pernah bertemu langsung tidak
sama dengan hak orang yang dikenal hanya dari pendengaran, bahkan hak yang
pertama lebih kuat.
وَالْمَعْرِفَةُ
بَعْدَ وُقُوعِهَا تَتَأَكَّدُ بِالْاخْتِلَاطِ
Dan pengenalan setelah terjadi, akan semakin kuat dengan
adanya pergaulan.
وَكَذَلِكَ
الصُّحْبَةُ تَتَفَاوَتُ دَرَجَاتُهَا
Demikian pula pertemanan, tingkatannya berbeda-beda.
فَحَقُّ
الصُّحْبَةِ فِي الدَّرْسِ وَالْمَكْتَبِ آكَدُ مِنْ حَقِّ صُحْبَةِ السَّفَرِ
Hak pertemanan di tempat belajar dan di kantor lebih kuat
daripada hak pertemanan dalam perjalanan.
وَكَذَلِكَ
الصَّدَاقَةُ تَتَفَاوَتُ
Demikian pula persahabatan, ia bertingkat-tingkat.
فَإِنَّهَا
إِذَا قَوِيَتْ صَارَتْ أُخُوَّةً
Jika ia menguat, ia menjadi persaudaraan.
فَإِنِ
ازْدَادَتْ صَارَتْ مَحَبَّةً
Jika bertambah kuat, ia menjadi cinta (mahabbah).
فَإِنِ
ازْدَادَتْ صَارَتْ خُلَّةً
Jika bertambah kuat lagi, ia menjadi persahabatan paling
akrab (khullah).
وَالْخَلِيلُ
أَقْرَبُ مِنَ الْحَبِيبِ
Seorang khalil (sahabat paling akrab) lebih dekat daripada
seorang habib (kekasih).
فَالْمَحَبَّةُ
مَا تَتَمَكَّنُ مِنْ حَبَّةِ الْقَلْبِ
Cinta adalah apa yang menguasai biji hati.
وَالْخُلَّةُ
مَا تَتَخَلَّلُ سِرَّ الْقَلْبِ
Sedangkan khullah adalah apa yang merasuk ke dalam rahasia
hati.
فَكُلُّ
خَلِيلٍ حَبِيبٌ وَلَيْسَ كُلُّ حَبِيبٍ خَلِيلًا
Maka, setiap khalil adalah habib, tetapi tidak setiap habib
adalah khalil.
وَتَفَاوُtُ
دَرَجَاتِ
الصَّدَاقَةِ لَا يُخْفَى بِحُكْمِ الْمُشَاهَدَةِ وَالتَّجْرِبَةِ
Perbedaan tingkatan persahabatan ini tidaklah tersembunyi
berdasarkan pengamatan dan pengalaman.
فَأَمَّا
كَوْنُ الْخُلَّةِ فَوْقَ الْأُخُوَّةِ فَمَعْنَاهُ أَنَّ لَفْظَ الْخُلَّةِ
عِبَارَةٌ عَنْ حَالَةٍ هِيَ أَتَمُّ مِنْ الْأُخُوَّةِ
Adapun kedudukan khullah yang berada di atas persaudaraan,
maknanya adalah bahwa lafal khullah merupakan ungkapan untuk suatu keadaan yang
lebih sempurna daripada persaudaraan.
وَتَعْرِفُهُ
مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا
لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا وَلَكِنَّ صَاحِبَكُمْ خَلِيلُ اللَّهِ
Engkau dapat mengetahuinya dari sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam: "Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat
paling akrab), niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil, akan
tetapi sahabat kalian ini adalah khalilullah (sahabat paling akrab bagi
Allah)."
إِذِ
الْخَلِيلُ هُوَ الَّذِي يَتَخَلَّلُ الْحُبُّ جَمِيعَ أَجْزَاءِ قَلْبِهِ
ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَيَسْتَوْعِبُهُ
Sebab, khalil adalah orang yang cintanya merasuk ke seluruh
bagian hatinya, lahir dan batin, dan meliputi seluruhnya.
وَلَمْ
يَسْتَوْعِبْ قَلْبَهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ سِوَى حُبِّ اللَّهِ
Dan hati Nabi ‘alaihissalam tidak diliputi kecuali oleh
cinta kepada Allah.
وَقَدْ
مَنَعَتْهُ الْخُلَّةُ عَنِ الِاشْتِرَاكِ فِيهِ
Kedudukan khullah (dengan Allah) ini telah menghalanginya
untuk berbagi (kedudukan khalil) dengan yang lain.
مَعَ
أَنَّهُ اتَّخَذَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخًا
Meskipun beliau telah menjadikan Ali radhiyallahu ‘anhu
sebagai saudara.
فَقَالَ
عَلِيٌّ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَرُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا النُّبُوَّةَ
Seraya bersabda, "Kedudukan Ali bagiku adalah seperti
kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada kenabian (setelahku)."
فَعَدَلَ
بِعَلِيٍّ عَنِ النُّبُوَّةِ كَمَا عَدَلَ بِأَبِي بَكْرٍ عَنِ الْخُلَّةِ
Maka, beliau mengecualikan Ali dari kenabian sebagaimana
beliau mengecualikan Abu Bakar dari khullah.
فَشَارَكَ
أَبُو بَكْرٍ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي الْأُخُوَّةِ
Abu Bakar pun berbagi kedudukan persaudaraan dengan Ali
radhiyallahu ‘anhuma.
وَزَادَ
عَلَيْهِ بِمُقَارَبَةِ الْخُلَّةِ وَأَهْلِيَّتِهِ لَهَا لَوْ كَانَ لِلشَّرْكَةِ
فِي الْخُلَّةِ مَجَالٌ
Namun ia memiliki kelebihan karena kedekatannya dengan
derajat khullah dan kelayakannya untuk itu, seandainya ada ruang untuk berbagi
dalam khullah.
فَإِنَّهُ
نَبَّهَ عَلَيْهِ بِقَوْلِهِ لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا
Hal ini beliau isyaratkan dengan sabdanya, "Niscaya aku
akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil."
وَكَانَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَبِيبَ اللَّهِ وَخَلِيلَهُ
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah habibullah
(kekasih Allah) dan khalilullah (sahabat terakrab Allah).
وَقَدْ
رُوِيَ أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَوْمًا مُسْتَبْشِرًا فَرِحًا
Diriwayatkan bahwa suatu hari beliau naik ke mimbar dengan
wajah gembira dan berseri-seri.
فَقَالَ
إِنَّ اللَّهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Lalu bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menjadikanku
sebagai khalil sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai khalil."
فَأَنَا
حَبِيبُ اللَّهِ وَأَنَا خَلِيلُ اللَّهِ تَعَالَى
"Maka aku adalah habibullah dan aku adalah khalilullah
Ta’ala."
فَإِذَنْ
لَيْسَ قَبْلَ الْمَعْرِفَةِ رَابِطَةٌ وَلَا بَعْدَ الْخُلَّةِ دَرَجَةٌ
Jadi, tidak ada ikatan sebelum adanya pengenalan, dan tidak
ada tingkatan setelah khullah.
وَمَا
سِوَاهُمَا مِنَ الدَّرَجَاتِ بَيْنَهُمَا
Adapun tingkatan-tingkatan lainnya berada di antara
keduanya.
وَقَدْ
ذَكَرْنَا حَقَّ الصُّحْبَةِ وَالْأُخُوَّةِ
Kami telah menyebutkan hak pertemanan dan persaudaraan.
وَيَدْخُلُ
فِيهِمَا مَا وَرَاءَهُمَا مِنَ الْمَحَبَّةِ وَالْخُلَّةِ
Dan di dalamnya tercakup apa yang berada di atasnya, yaitu
cinta (mahabbah) dan persahabatan terakrab (khullah).
وَإِنَّمَا
تَتَفَاوَتُ الرُّتَبُ فِي تِلْكَ الْحُقُوقِ كَمَا سَبَقَ بِحَسَبِ تَفَاوُتِ
الْمَحَبَّةِ وَالْأُخُوَّةِ
Tingkatan dalam hak-hak tersebut hanyalah berbeda-beda
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sesuai dengan perbedaan tingkat cinta
dan persaudaraan.
حَتَّى
يَنْتَهِيَ أَقْصَاهَا إِلَى أَنْ يُوجِبَ الْإِيثَارَ بِالنَّفْسِ وَالْمَالِ
Hingga puncaknya mewajibkan itsar (mendahulukan orang lain)
dengan jiwa dan harta.
كَمَا
آثَرَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَبِيَّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Sebagaimana Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mendahulukan Nabi
kita shallallahu ‘alaihi wasallam.
وَكَمَا
آثَرَهُ طَلْحَةُ بِبَدَنِهِ إِذْ جَعَلَ نَفْسَهُ وِقَايَةً لِشَخْصِهِ
الْعَزِيزِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan sebagaimana Thalhah mendahulukannya dengan badannya,
ketika ia menjadikan dirinya sebagai perisai bagi pribadi beliau yang mulia
shallallahu ‘alaihi wasallam.
فَنَحْنُ
الْآنَ نُرِيدُ أَنْ نَذْكُرَ حَقَّ أُخُوَّةِ الْإِسْلَامِ وَحَقَّ الرَّحِمِ
وَحَقَّ الْوَالِدَيْنِ وَحَقَّ الْجِوَارِ وَحَقَّ الْمُلْكِ أَعْنِي مِلْكَ
الْيَمِينِ
Sekarang, kami ingin menyebutkan hak persaudaraan Islam, hak
kekerabatan, hak kedua orang tua, hak tetangga, dan hak kepemilikan, yaitu hak
hamba sahaya.
فَإِنَّ
مِلْكَ النِّكَاحِ قَدْ ذَكَرْنَا حُقُوقَهُ فِي كِتَابِ آدَابِ النِّكَاحِ
Karena hak kepemilikan melalui pernikahan telah kami
sebutkan hak-haknya dalam Kitab Adab-adab Pernikahan.
حُقُوقُ
الْمُسْلِمِ
Hak-hak Seorang Muslim.
هِيَ
أَنْ تُسَلِّمَ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيتَهُ
Yaitu engkau mengucapkan salam kepadanya jika bertemu.
وَتُجِيبَهُ
إِذَا دَعَاكَ
Memenuhi undangannya jika ia mengundangmu.
وَتُشَمِّتَهُ
إِذَا عَطَسَ
Mendoakannya (tasymit) jika ia bersin.
وَتَعُودَهُ
إِذَا مَرِضَ
Menjenguknya jika ia sakit.
وَتَشْهَدَ
جِنَازَتَهُ إِذَا مَاتَ
Mengantarkan jenazahnya jika ia meninggal.
وَتَبَرَّ
قَسَمَهُ إِذَا أَقْسَمَ عَلَيْكَ
Memenuhi sumpahnya jika ia bersumpah atasmu.
وَتَنْصَحَ
لَهُ إِذَا اسْتَنْصَحَكَ
Menasihatinya jika ia meminta nasihatmu.
وَتَحْفَظَهُ
بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِذَا غَابَ عَنْكَ
Menjaganya di belakangnya saat ia tidak ada.
وَتُحِبَّ
لَهُ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ
Mencintai untuknya apa yang engkau cintai untuk dirimu
sendiri.
وَتَكْرَهَ
لَهُ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ
Dan membenci untuknya apa yang engkau benci untuk dirimu
sendiri.
وَرَدَ
جَمِيعُ ذَلِكَ فِي أَخْبَارٍ وَآثَارٍ
Semua itu telah disebutkan dalam berbagai hadis dan atsar.
وَقَدْ
رَوَى أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَرْبَعٌ مِنْ حَقِّ الْمُسْلِمِينَ عَلَيْكَ
Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, "Ada empat hak kaum
muslimin atasmu:"
أَنْ
تُعِينَ مُحْسِنَهُمْ
"Engkau membantu orang yang berbuat baik di antara
mereka."
وَأَنْ
تَسْتَغْفِرَ لِمُذْنِبِهِمْ
"Memintakan ampun untuk orang yang berdosa di antara
mereka."
وَأَنْ
تَدْعُوَ لِمُدْبِرِهِمْ
"Mendoakan orang yang berpaling di antara mereka."
وَأَنْ
تُحِبَّ تَائِبَهُمْ
"Dan mencintai orang yang bertaubat di antara
mereka."
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata tentang makna firman
Allah Ta'ala, "saling berkasih sayang di antara mereka,"
قَالَ
يَدْعُو صَالِحُهُمْ لِطَالِحِهِمْ وَطَالِحُهُمْ لِصَالِحِهِمْ
"Orang saleh di antara mereka mendoakan orang yang
tidak saleh, dan orang yang tidak saleh mendoakan orang yang saleh."
فَإِذَا
نَظَرَ الطَّالِحُ إِلَى الصَّالِحِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِيمَا قَسَمْتَ لَهُ مِنَ
الْخَيْرِ وَثَبِّتْهُ عَلَيْهِ وَانْفَعْنَا بِهِ
Apabila orang yang tidak saleh melihat orang saleh dari umat
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, 'Ya Allah, berkahilah
kebaikan yang telah Engkau berikan kepadanya, tetapkanlah ia di atasnya, dan
berilah kami manfaat darinya.'
إِذَا
نَظَرَ الصَّالِحُ إِلَى الطَّالِحِ قَالَ اللَّهُمَّ اهْدِهِ وَتُبْ عَلَيْهِ
وَاغْفِرْ لَهُ عَثْرَتَهُ
Apabila orang saleh melihat orang yang tidak saleh, ia
berkata, 'Ya Allah, berilah ia petunjuk, terimalah taubatnya, dan ampunilah
kesalahannya.'
وَمِنْهَا
أَنْ يُحِبَّ لِلْمُؤْمِنِينَ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ وَيَكْرَهَ لَهُمْ مَا
يَكْرَهُ لِنَفْسِهِ
Di antaranya adalah mencintai untuk kaum mukminin apa yang
ia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang ia benci
untuk dirinya sendiri.
قَالَ
النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ
كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى سَائِرُهُ بِالْحُمَّى
وَالسَّهَرِ
An-Nu'man bin Basyir berkata, "Aku mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Perumpamaan kaum mukminin dalam saling
mencintai dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu
anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan demam dan tidak
bisa tidur.'"
وَرَوَى
أَبُو مُوسَى عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Abu Musa meriwayatkan dari beliau shallallahu 'alaihi
wasallam, bahwa beliau bersabda, "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya
adalah seperti sebuah bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian yang
lain."
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يُؤْذِيَ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ بِفِعْلٍ وَلَا قَوْلٍ
Di antaranya adalah tidak menyakiti seorang pun dari kaum
muslimin dengan perbuatan maupun ucapan.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ
لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang
muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan
tangannya."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ يَأْمُرُ فِيهِ
بِالْفَضَائِلِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَدَعِ النَّاسَ مِنَ الشَّرِّ فَإِنَّهَا
صَدَقَةٌ تَصَدَّقْتَ بِهَا عَلَى نَفْسِكَ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam sebuah
hadis yang panjang yang memerintahkan berbagai keutamaan, "Jika engkau
tidak mampu (melakukannya), maka tahanlah dirimu dari berbuat jahat kepada
orang lain, karena itu adalah sedekah yang engkau sedekahkan untuk dirimu
sendiri."
وَقَالَ
أَيْضًا أَفْضَلُ الْمُسْلِمِينَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ
وَيَدِهِ
Beliau juga bersabda, "Muslim yang paling utama adalah
orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُسْلِمُ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tahukah
kalian siapa muslim itu?"
فَقَالُوا
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui."
قَالَ
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Beliau bersabda, "Seorang muslim adalah orang yang kaum
muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya."
قَالُوا
فَمَنِ الْمُؤْمِنُ
Mereka bertanya, "Lalu siapa mukmin itu?"
قَالَ
مَنْ أَمِنَهُ الْمُؤْمِنُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ
Beliau menjawab, "Orang yang kaum mukminin merasa aman
darinya atas diri dan harta mereka."
قَالُوا
فَمَنِ الْمُهَاجِرُ
Mereka bertanya, "Lalu siapa muhajir itu?"
قَالَ
مَنْ هَجَرَ السُّوءَ وَاجْتَنَبَهُ
Beliau menjawab, "Orang yang meninggalkan keburukan dan
menjauhinya."
وَقَالَ
رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ
Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah
Islam itu?"
قَالَ
أَنْ يَسْلَمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ وَيَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ
وَيَدِكَ
Beliau menjawab, "Yaitu hatimu pasrah kepada Allah, dan
kaum muslimin selamat dari lisan dan tanganmu."
وَقَالَ
مُجَاهِدٌ يُسَلَّطُ عَلَى أَهْلِ النَّارِ الْجَرَبُ فَيَحْتَكُّونَ حَتَّى
يَبْدُوَ عَظْمُ أَحَدِهِمْ مِنْ جِلْدِهِ
Mujahid berkata, "Penyakit kudis akan ditimpakan kepada
penghuni neraka, lalu mereka menggaruk-garuk hingga tampak tulang salah seorang
dari mereka dari balik kulitnya."
فَيُنَادِي
يَا فُلَانُ هَلْ يُؤْذِيكَ هَذَا
Lalu diserukan, 'Wahai fulan, apakah ini menyakitimu?'
فَيَقُولُ
نَعَمْ
Ia menjawab, 'Ya.'
فَيَقُولُ
هَذَا بِمَا كُنْتَ تُؤْذِي الْمُؤْمِنِينَ
Maka dikatakan, 'Ini adalah balasan karena dahulu engkau
menyakiti orang-orang beriman.'
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي
الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا عَنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي
الْمُسْلِمِينَ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sungguh
aku telah melihat seorang laki-laki bersenang-senang di surga karena sebuah
pohon yang ia tebang dari tengah jalan yang dahulu mengganggu kaum
muslimin."
وَقَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا
أَنْتَفِعُ بِهِ
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Wahai
Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bermanfaat bagiku."
قَالَ
اعْزِلِ الْأَذَى عَنْ طَرِيقِ الْمُسْلِمِينَ
Beliau menjawab, "Singkirkanlah gangguan dari jalan
kaum muslimin."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ زَحْرَجَ عَنْ طَرِيقِ الْمُسْلِمِينَ
شَيْئًا يُؤْذِيهِمْ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهِ حَسَنَةً
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa menyingkirkan sesuatu yang mengganggu kaum muslimin dari
jalan mereka, maka Allah akan mencatat satu kebaikan untuknya."
وَمَنْ
كَتَبَ اللَّهُ لَهُ حَسَنَةً أَوْجَبَ لَهُ بِهَا الْجَنَّةَ
"Dan barangsiapa yang Allah catat satu kebaikan
untuknya, maka Dia wajibkan surga baginya dengan kebaikan itu."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُشِيرَ إِلَى
أَخِيهِ بِنَظْرَةٍ تُؤْذِيهِ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak
halal bagi seorang muslim untuk menatap saudaranya dengan pandangan yang
menyakitinya."
وَقَالَ
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
Dan beliau bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim
untuk menakut-nakuti muslim lainnya."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَكْرَهُ أَذَى الْمُؤْمِنِينَ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah membenci gangguan terhadap orang-orang beriman."
وَقَالَ
الرَّبِيعُ ابْنُ خُيْثَمٍ النَّاسُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٌ فَلَا تُؤْذِهِ وَجَاهِلٌ
فَلَا تُجَاهِلْهُ
Ar-Rabi' bin Khutsaim berkata, "Manusia itu ada dua
macam: orang beriman, maka janganlah engkau menyakitinya; dan orang bodoh, maka
janganlah engkau meladeni kebodohannya."
وَمِنْهَا
أَنْ يَتَوَاضَعَ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَلَا يَتَكَبَّرَ عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ
لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Di antaranya adalah bersikap tawaduk kepada setiap muslim
dan tidak sombong kepadanya, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap
orang yang sombong lagi membanggakan diri.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى
أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah Ta'ala mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap
tawaduk, sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri atas orang
lain."
ثُمَّ
إِنْ تَفَاخَرَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ فَلْيَحْتَمِلْ
Kemudian, jika orang lain menyombongkan diri kepadanya,
hendaklah ia bersabar.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {خُذِ الْعَفْوَ
وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ}
Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi
wasallam, "{Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf,
serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.}"
وَعَنِ
ابْنِ أَبِي أَوْفَى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَتَوَاضَعُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَلَا يَأْنَفُ وَلَا يَتَكَبَّرُ أَنْ يَمْشِيَ
مَعَ الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ فَيَقْضِيَ حَاجَتَهُ
Dan dari Ibnu Abi Aufa, "Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam selalu bersikap tawaduk kepada setiap muslim, beliau tidak merasa
jijik dan tidak sombong untuk berjalan bersama janda dan orang miskin untuk
memenuhi kebutuhan mereka."
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يَسْمَعَ بَلَاغَاتِ النَّاسِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَا يُبَلِّغَ
بَعْضَهُمْ مَا يَسْمَعُ مِنْ بَعْضٍ
Di antaranya adalah tidak mendengarkan aduan orang-orang
satu sama lain, dan tidak menyampaikan kepada sebagian mereka apa yang ia
dengar dari sebagian yang lain.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak
akan masuk surga seorang pengadu domba."
وَقَالَ
الْخَلِيلُ بْنُ أَحْمَدَ مَنْ نَمَّ لَكَ نَمَّ عَلَيْكَ
Al-Khalil bin Ahmad berkata, "Barangsiapa mengadu domba
kepadamu, maka ia akan mengadu domba tentangmu."
وَمَنْ
أَخْبَرَكَ بِخَيْرِ غَيْرِكَ أَخْبَرَ غَيْرَكَ بِخَبَرِكَ
"Dan barangsiapa memberitahumu kebaikan orang lain,
maka ia akan memberitahu orang lain tentang beritamu."
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يَزِيدَ فِي الْهَجْرِ لِمَنْ يَعْرِفُهُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
مَهْمَا غَضِبَ عَلَيْهِ
Di antaranya adalah tidak mendiamkan orang yang ia kenal
lebih dari tiga hari, seberapa pun marahnya ia kepadanya.
قَالَ
أَبُو أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا
يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ يَلْتَقِيَانِ
فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
Abu Ayyub Al-Anshari berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, 'Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya
lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu
pun berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan
salam.'"
وَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا عَثْرَتَهُ
أَقَالَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan
memaafkan (kesalahannya) pada hari kiamat."
قَالَ
عِكْرِمَةُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِيُوسُفَ بْنِ يَعْقُوبَ بِعَفْوِكَ عَنْ
إِخْوَانِكَ رَفَعْتُ ذِكْرَكَ فِي الدَّارَيْنِ
Ikrimah berkata, "Allah Ta'ala berfirman kepada Yusuf
bin Ya'qub, 'Dengan maafmu kepada saudara-saudaramu, Aku angkat namamu di dua
negeri (dunia dan akhirat).'"
قَالَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ قَطُّ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ
فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri
sama sekali, kecuali jika kehormatan Allah dilanggar, maka beliau membalas
karena Allah."
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَا عَفَا رَجُلٌ عَنْ مَظْلَمَةٍ إِلَّا
زَادَهُ اللَّهُ بِهَا عِزًّا
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Tidaklah
seseorang memaafkan suatu kezaliman, melainkan Allah akan menambah kemuliaan
baginya karenanya."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Harta
tidak akan berkurang karena sedekah."
وَمَا
زَادَ اللَّهُ رَجُلًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
"Dan Allah tidak menambah bagi seorang hamba yang
pemaaf melainkan kemuliaan."
وَمَا
مِنْ أَحَدٍ تَوَاضَعَ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
"Dan tidaklah seseorang bersikap tawaduk karena Allah,
melainkan Allah akan mengangkat (derajat)nya."
وَمِنْهَا
أَنْ يُحْسِنَ إِلَى كُلِّ مَنْ قَدَرَ عَلَيْهِ مِنْهُمْ مَا اسْتَطَاعَ لَا
يُمَيِّزُ بَيْنَ الْأَهْلِ وَغَيْرِ الْأَهْلِ
Di antaranya adalah berbuat baik kepada siapa saja di antara
mereka semampunya, tanpa membeda-bedakan antara orang yang layak dan yang tidak
layak.
رَوَى
عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ عَلَى أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعِ
الْمَعْرُوفَ فِي أَهْلِهِ وَفِي غَيْرِ أَهْلِهِ
Ali bin Al-Husain meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya
radhiyallahu 'anhum, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, 'Lakukanlah kebaikan kepada orang yang layak menerimanya dan kepada
yang tidak layak.'"
فَإِنْ
أَصَبْتَ أَهْلَهُ فَهُوَ أَهْلُهُ
"Jika engkau melakukannya kepada yang layak, maka ia
memang berhak menerimanya."
وَإِنْ
لَمْ تُصِبْ أَهْلَهُ فَأَنْتَ مِنْ أَهْلِهِ
"Dan jika engkau tidak melakukannya kepada yang layak,
maka engkaulah yang layak (melakukan kebaikan itu)."
وَعَنْهُ
بِإِسْنَادِهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الدِّينِ التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ وَاصْطِنَاعُ
الْمَعْرُوفِ إِلَى كُلِّ بَرٍّ وَفَاجِرٍ
Dan darinya dengan sanadnya, ia berkata, "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Pangkal akal setelah agama adalah
bersikap ramah kepada manusia dan berbuat baik kepada setiap orang, baik yang
saleh maupun yang jahat.'"
قَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا
يَأْخُذُ أَحَدٌ بِيَدِهِ فَيَنْزِعُ يَدَهُ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ
الَّذِي يُرْسِلُهَا
Abu Hurairah berkata, "Jika seseorang memegang tangan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau tidak akan melepaskan tangannya
sampai orang itu sendiri yang melepaskannya."
وَلَمْ
تَكُنْ تُرَى رُكْبَتُهُ خَارِجَةً عَنْ رُكْبَةِ جَلِيسِهِ
"Tidak pernah terlihat lutut beliau lebih maju dari
lutut teman duduknya."
وَلَمْ
يَكُنْ أَحَدٌ يُكَلِّمُهُ إِلَّا أَقْبَلَ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ
"Dan tidak ada seorang pun yang berbicara kepada
beliau, melainkan beliau akan menghadap kepadanya dengan wajahnya."
ثُمَّ
لَمْ يَصْرِفْهُ عَنْهُ حَتَّى يَفْرَغَ مِنْ كَلَامِهِ
"Kemudian tidak memalingkannya sampai orang itu selesai
dari pembicaraannya."
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يَدْخُلَ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Di antaranya adalah tidak masuk ke (rumah) salah seorang
dari mereka kecuali dengan izinnya.
بَلْ
يَسْتَأْذِنَ ثَلَاثًا فَإِنْ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ انْصَرَفَ
Bahkan hendaklah ia meminta izin tiga kali. Jika tidak
diizinkan, hendaklah ia pergi.
قَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الِاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Meminta izin itu tiga kali.'"
فَالْأُولَى
يَسْتَنْصِتُونَ
"Yang pertama agar mereka mendengar."
وَالثَّانِيَةُ
يَسْتَصْلِحُونَ
"Yang kedua agar mereka bersiap-siap."
وَالثَّالِثَةُ
يَأْذَنُونَ أَوْ يَرُدُّونَ
"Dan yang ketiga, mereka akan mengizinkan atau
menolak."
وَمِنْهَا
أَنْ يُخَالِقَ الْجَمِيعَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَيُعَامِلَهُمْ بِحَسَبِ طَرِيقَتِهِ
Di antaranya adalah bergaul dengan semua orang dengan akhlak
yang baik dan memperlakukan mereka sesuai dengan cara mereka.
فَإِنَّهُ
إِنْ أَرَادَ لِقَاءَ الْجَاهِلِ بِالْعِلْمِ وَالْأُمِّيِّ بِالْفِقْهِ
وَالْعَيِيِّ بِالْبَيَانِ آذَى وَتَأَذَّى
Karena jika ia ingin menghadapi orang bodoh dengan ilmu,
orang awam dengan fikih, dan orang yang gagap dengan kefasihan, maka ia akan
menyakiti dan tersakiti.
وَمِنْهَا
أَنْ يُوَقِّرَ الْمَشَايِخَ وَيَرْحَمَ الصِّبْيَانَ
Di antaranya adalah menghormati orang yang lebih tua dan
menyayangi anak-anak.
قَالَ
جَابِرٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَلَمْ يَرْحَمْ
صَغِيرَنَا
Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Bukan termasuk golongan kami orang yang
tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami dan tidak menyayangi yang
lebih kecil di antara kami.'"
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامُ ذِي
الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Termasuk
mengagungkan Allah adalah memuliakan seorang muslim yang sudah beruban."
وَمِنْ
تَمَامِ تَوْقِيرِ الْمَشَايِخِ أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ إِلَّا
بِالْإِذْنِ
Dan di antara kesempurnaan menghormati orang yang lebih tua
adalah tidak berbicara di hadapan mereka kecuali dengan izin.
وَقَالَ
جَابِرٌ قَدِمَ وَفْدُ جُهَيْنَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَامَ غُلَامٌ لِيَتَكَلَّمَ
Jabir berkata, "Ketika delegasi dari Juhainah datang
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seorang pemuda berdiri untuk
berbicara."
فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ فَأَيْنَ الْكَبِيرُ
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Tunggu, di
mana yang lebih tua?'
وَفِي
الْخَبَرِ وَمَا وَقَّرَ شَابٌّ شَيْخًا إِلَّا قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ فِي سِنِّهِ
مَنْ يُوَقِّرُهُ
Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Tidaklah seorang
pemuda menghormati orang yang sudah tua, melainkan Allah akan menakdirkan
baginya di usia tuanya orang yang akan menghormatinya."
وَهَذِهِ
بِشَارَةٌ بِدَوَامِ الْحَيَاةِ فَلْيَتَنَبَّهْ لَهَا
Ini adalah kabar gembira tentang panjangnya umur, maka
perhatikanlah.
فَلَا
يُوَفَّقُ لِتَوْقِيرِ الْمَشَايِخِ إِلَّا مَنْ قَضَى اللَّهُ لَهُ بِطُولِ
الْعُمْرِ
Seseorang tidak akan diberi taufik untuk menghormati orang
yang lebih tua kecuali orang yang telah Allah takdirkan untuknya umur yang
panjang.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ
الْوَلَدُ غَيْظًا وَالْمَطَرُ قَيْظًا وَتَفِيضَ اللِّئَامُ فَيْضًا وَتَغِيضَ
الْكِرَامُ غَيْضًا وَيَجْتَرِئَ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ وَاللَّئِيمُ عَلَى
الْكَرِيمِ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kiamat
tidak akan terjadi sampai anak menjadi sumber kemarahan, hujan menjadi panas
terik, orang-orang tercela melimpah ruah, orang-orang mulia menyusut drastis,
anak kecil berani kepada orang dewasa, dan orang hina berani kepada orang
mulia."
وَالتَّلَطُّفُ
بِالصِّبْيَانِ مِنْ عَادَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bersikap lemah lembut kepada anak-anak adalah kebiasaan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
كَانَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْدِمُ مِنَ السَّفَرِ فَيَتَلَقَّاهُ
الصِّبْيَانُ فَيَقِفُ عَلَيْهِمْ
Ketika beliau shallallahu 'alaihi wasallam kembali dari
perjalanan, anak-anak akan menyambutnya. Beliau berhenti untuk mereka.
ثُمَّ
يَأْمُرُ بِهِمْ فَيُرْفَعُونَ إِلَيْهِ فَيُرْفَعُ مِنْهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ
وَمِنْ خَلْفِهِ
Kemudian memerintahkan agar mereka diangkat ke arahnya.
Sebagian dari mereka diangkat di depan beliau dan sebagian lagi di belakang
beliau.
وَيَأْمُرُ
أَصْحَابَهُ أَنْ يَحْمِلُوا بَعْضَهُمْ
Dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk menggendong
sebagian anak-anak yang lain.
فَرُبَّمَا
تَفَاخَرَ الصِّبْيَانُ بَعْدَ ذَلِكَ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ حَمَلَنِي
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ يَدَيْهِ وَحَمَلَكَ
أَنْتَ وَرَاءَهُ
Terkadang setelah itu, anak-anak saling berbangga. Sebagian
dari mereka berkata kepada yang lain, "Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam menggendongku di depan beliau, dan menggendongmu di belakangnya."
وَيَقُولُ
بَعْضُهُمْ أَمَرَ أَصْحَابَهُ أَنْ يَحْمِلُوكَ وَرَاءَهُمْ
Sebagian yang lain berkata, "Beliau memerintahkan para
sahabatnya untuk menggendongmu di belakang mereka."
وَكَانَ
يُؤْتَى بِالصَّبِيِّ الصَّغِيرِ لِيَدْعُوَ لَهُ بِالْبَرَكَةِ وَلِيُسَمِّيَهُ
Dan pernah seorang bayi kecil dibawa kepada beliau agar
beliau mendoakan keberkahan untuknya dan memberinya nama.
فَيَأْخُذُهُ
فَيَضَعُهُ فِي حِجْرِهِ
Beliau mengambilnya lalu meletakkannya di pangkuannya.
فَرُبَّمَا
بَالَ الصَّبِيُّ فَيَصِيحُ بِهِ بَعْضُ مَنْ يَرَاهُ
Terkadang bayi itu kencing, lalu sebagian orang yang
melihatnya berteriak kepadanya.
فَيَقُولُ
لَا تُزْرِمُوا الصَّبِيَّ بَوْلَهُ
Maka beliau berkata, "Jangan hentikan kencing bayi
itu."
فَيَدَعُهُ
حَتَّى يَقْضِيَ بَوْلَهُ
Beliau membiarkannya sampai selesai kencing.
ثُمَّ
يَفْرَغُ مِنْ دُعَائِهِ لَهُ وَتَسْمِيَتِهِ
Kemudian menyelesaikan doanya dan pemberian namanya.
وَيُبْلِغُ
سُرُورَ أَهْلِهِ فِيهِ لِئَلَّا يَرَوْا أَنَّهُ تَأَذَّى بِبَوْلِهِ
Serta menampakkan kegembiraan kepada keluarganya agar mereka
tidak melihat bahwa beliau terganggu oleh kencingnya.
فَإِذَا
انْصَرَفُوا غَسَلَ ثَوْبَهُ بَعْدَهُ
Setelah mereka pergi, barulah beliau mencuci pakaiannya.
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ مَعَ كَافَّةِ الْخَلْقِ مُسْتَبْشِرًا طَلْقَ الْوَجْهِ رَفِيقًا
Di antaranya adalah bersikap gembira, berwajah ceria, dan
lemah lembut kepada seluruh makhluk.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ عَلَى مَنْ حُرِّمْتِ النَّارُ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tahukah
kalian siapa orang yang diharamkan atas neraka?"
قَالُوا
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui."
قَالَ
عَلَى اللَّيِّنِ الْهَيِّنِ السَّهْلِ الْقَرِيبِ
Beliau bersabda, "Atas orang yang lembut, ramah, mudah,
dan dekat (dengan manusia)."
وَقَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ السَّهْلَ الطَّلْقَ الْوَجْهِ
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya Allah mencintai orang yang
mudah bergaul dan berwajah ceria.'"
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ
Sebagian sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkan
kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga."
فَقَالَ
إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلَ السَّلَامِ وَحُسْنَ الْكَلَامِ
Beliau bersabda, "Sesungguhnya di antara hal-hal yang
mendatangkan ampunan adalah menebarkan salam dan perkataan yang baik."
وَقَالَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِنَّ الْبِرَّ شَيْءٌ هَيِّنٌ وَجْهٌ طَلِيقٌ
وَكَلَامٌ لَيِّنٌ
Abdullah bin Umar berkata, "Sesungguhnya kebaikan itu
adalah sesuatu yang ringan: wajah yang ceria dan ucapan yang lembut."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Jagalah diri kalian dari api neraka meskipun dengan separuh kurma."
فَمَنْ
لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
"Barangsiapa tidak mendapatinya, maka dengan perkataan
yang baik."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَغُرَفًا يُرَى
ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat
dari dalamnya dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya."
فَقَالَ
أَعْرَابِيٌّ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
Seorang Arab Badui bertanya, "Untuk siapa kamar-kamar
itu, wahai Rasulullah?"
قَالَ
لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ
نِيَامٌ
Beliau menjawab, "Bagi orang yang memperindah
perkataannya, memberi makan, dan shalat di malam hari ketika manusia sedang
tidur."
وَقَالَ
مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَصِدْقِ الْحَدِيثِ وَوَفَاءِ الْعَهْدِ وَأَدَاءِ
الْأَمَانَةِ وَتَرْكِ الْخِيَانَةِ وَحِفْظِ الْجَارِ وَرَحْمَةِ الْيَتِيمِ
وَلِينِ الْكَلَامِ وَبَذْلِ السَّلَامِ وَخَفْضِ الْجَنَاحِ
Mu'adz bin Jabal berkata, "Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam berwasiat kepadaku, 'Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa
kepada Allah, berkata jujur, menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan
khianat, menjaga tetangga, menyayangi anak yatim, melembutkan ucapan,
menebarkan salam, dan merendahkan diri.'"
وَقَالَ
أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَرَضَتْ لِنَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ وَقَالَتْ لِي مَعَكَ حَاجَةٌ
Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Seorang wanita
mendatangi Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, 'Aku punya
keperluan denganmu.'"
وَكَانَ
مَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ
Saat itu beliau sedang bersama beberapa sahabatnya.
فَقَالَ
اجْلِسِي فِي أَيِّ نَوَاحِي السِّكَكِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ
Beliau pun berkata, 'Duduklah di sudut jalan mana pun yang
engkau suka, aku akan duduk menemanimu.'
فَفَعَلَتْ
فَجَلَسَ إِلَيْهَا حَتَّى قَضَتْ حَاجَتَهَا
Wanita itu pun melakukannya, lalu beliau duduk bersamanya
hingga ia menyelesaikan keperluannya.
وَقَالَ
وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ صَامَ سَبْعِينَ
سَنَةً يُفْطِرُ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ
Wahb bin Munabbih berkata, "Seorang laki-laki dari Bani
Israil berpuasa selama tujuh puluh tahun, ia berbuka setiap tujuh hari
sekali."
فَسَأَلَ
اللَّهَ تَعَالَى أَنَّهُ يُرِيَهُ كَيْفَ يُغْوِي الشَّيْطَانُ النَّاسَ
Ia memohon kepada Allah Ta'ala agar diperlihatkan bagaimana
setan menyesatkan manusia.
فَلَمَّا
طَالَ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَلَمْ يُجَبْ قَالَ لَوْ اطَّلَعْتُ عَلَى خَطِيئَتِي
وَذَنْبِي بَيْنِي وَبَيْنَ رَبِّي لَكَانَ خَيْرًا لِي مِنْ هَذَا الْأَمْرِ
الَّذِي طَلَبْتُهُ
Ketika penantiannya lama dan tidak juga dikabulkan, ia
berkata, 'Seandainya aku mengetahui kesalahanku dan dosaku antara aku dan
Tuhanku, itu lebih baik bagiku daripada perkara yang aku minta ini.'
فَأَرْسَلَ
اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا فَقَالَ لَهُ إِنَّ اللَّهَ أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ
Maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya, yang
berkata, 'Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu.'
وَهُوَ
يَقُولُ لَكَ إِنَّ كَلَامَكَ هَذَا الَّذِي تَكَلَّمْتَ بِهِ أَحَبُّ إِلَيَّ
مِمَّا مَضَى مِنْ عِبَادَتِكَ
"Dan Dia berfirman kepadamu: 'Sesungguhnya ucapanmu
yang baru saja engkau katakan ini lebih Aku cintai daripada seluruh ibadahmu
yang telah lalu.'"
وَقَدْ
فَتَحَ اللَّهُ بَصَرَكَ فَانْظُرْ
"'Sungguh, Allah telah membuka penglihatanmu, maka
lihatlah.'"
فَنَظَرَ
فَإِذَا جُنُودُ إِبْلِيسَ قَدْ أَحَاطَتْ بِالْأَرْضِ
Ia pun melihat, dan ternyata bala tentara Iblis telah
meliputi bumi.
وَإِذَا
لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ إِلَّا وَالشَّيَاطِينُ حَوْلَهُ كَالذِّئَابِ
Dan tidak ada seorang manusiapun kecuali setan-setan berada
di sekelilingnya seperti serigala.
فَقَالَ
أَيْ رَبِّ مَنْ يَنْجُو مِنْ هَذَا
Ia pun berkata, 'Wahai Tuhanku, siapa yang bisa selamat dari
ini?'
قَالَ
الْوَرِعُ اللَّيِّنُ
Allah berfirman, 'Orang yang wara' (menjaga diri) lagi
lembut.'
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يَعِدَ مُسْلِمًا بِوَعْدٍ إِلَّا وَيَفِي بِهِ
Di antaranya adalah tidak menjanjikan sesuatu kepada seorang
muslim kecuali ia menepatinya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِدَةُ عَطِيَّةٌ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janji
adalah sebuah pemberian."
وَقَالَ
الْعِدَةُ دَيْنٌ
Dan beliau bersabda, "Janji adalah utang."
وَقَالَ
ثَلَاثٌ فِي الْمُنَافِقِ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا
ائْتُمِنَ خَانَ
Dan beliau bersabda, "Ada tiga (tanda) pada orang
munafik: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan
apabila dipercaya ia berkhianat."
وَقَالَ
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى
Dan beliau bersabda, "Ada tiga perkara, barangsiapa
memilikinya maka ia adalah munafik, meskipun ia berpuasa dan shalat."
وَذَكَرَ
ذَلِكَ
Dan beliau menyebutkan hal yang sama.
وَمِنْهَا
أَنْ يُنْصِفَ النَّاسَ مِنْ نَفْسِهِ وَلَا يَأْتِيَ إِلَيْهِمْ إِلَّا بِمَا
يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
Di antaranya adalah bersikap adil kepada orang lain dari
dirinya sendiri, dan tidak berbuat kepada mereka kecuali apa yang ia suka
diperbuat kepadanya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْتَكْمِلُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ حَتَّى
يَكُونَ فِيهِ ثَلَاثُ خِصَالٍ الْإِنْفَاقُ مِنَ الْإِقْتَارِ وَالْإِنْصَافُ
مِنْ نَفْسِهِ وَبَذْلُ السَّلَامِ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seorang
hamba tidak akan sempurna imannya sampai ia memiliki tiga sifat: berinfak dalam
keadaan kekurangan, bersikap adil dari dirinya sendiri, dan menebarkan
salam."
وَقَالَ
عَلَيْهِ السَّلَامُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ
الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَلِيُؤْتِ إِلَى النَّاسِ مَا
يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
Beliau 'alaihissalam bersabda, "Barangsiapa ingin
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaklah kematian menjemputnya
dalam keadaan ia bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad
adalah utusan Allah, dan hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia
ingin diperlakukan."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ أَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ
مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Wahai
Abu Darda, berbuat baiklah dalam bertetangga dengan orang yang menjadi
tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin."
وَأَحِبَّ
لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا
"Dan cintailah untuk orang lain apa yang engkau cintai
untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim."
قَالَ
الْحَسَنُ أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى آدَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِأَرْبَعِ خِصَالٍ
Al-Hasan berkata, "Allah Ta'ala mewahyukan kepada Adam
'alaihissalam empat perkara."
وَقَالَ
فِيهِنَّ جِمَاعُ الْأَمْرِ لَكَ وَلِوَلَدِكَ وَاحِدَةٌ لِي وَوَاحِدَةٌ لَكَ
وَوَاحِدَةٌ بَيْنِي وَبَيْنَكَ وَوَاحِدَةٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْخَلْقِ
"Dan Dia berfirman, 'Di dalamnya terdapat pokok segala
urusan bagimu dan bagi anak keturunanmu: satu untuk-Ku, satu untukmu, satu
antara Aku dan kamu, dan satu antara kamu dan makhluk.'"
فَأَمَّا
الَّتِي لِي تَعْبُدُنِي وَلَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا
"'Adapun yang untuk-Ku, adalah engkau menyembah-Ku dan
tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun.'"
وَأَمَّا
الَّتِي لَكَ فَعَمَلُكَ أُجْزِيكَ بِهِ أَفْقَرَ مَا تَكُونُ إِلَيْهِ
"'Adapun yang untukmu, adalah amalanmu yang akan Aku
balas kepadamu di saat engkau sangat membutuhkannya.'"
وَأَمَّا
الَّتِي بَيْنِي وَبَيْنَكَ فَعَلَيْكَ الدُّعَاءُ وَعَلَيَّ الْإِجَابَةُ
"'Adapun yang antara Aku dan kamu, adalah engkau berdoa
dan Aku yang mengabulkan.'"
وَأَمَّا
الَّتِي بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ فَتَصْحَبُهُمْ بِالَّذِي تُحِبُّ أَنْ
يَصْحَبُوكَ بِهِ
"'Dan adapun yang antara kamu dan manusia, adalah
engkau bergaul dengan mereka sebagaimana engkau suka mereka bergaul
denganmu.'"
وَسَأَلَ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ اللَّهَ تَعَالَى فَقَالَ أَيْ رَبِّ أَيُّ عِبَادِكَ
أَعْدَلُ
Musa 'alaihissalam bertanya kepada Allah Ta'ala, "Wahai
Tuhanku, manakah hamba-Mu yang paling adil?"
قَالَ
مَنْ أَنْصَفَ مِنْ نَفْسِهِ
Allah berfirman, "Orang yang bersikap adil dari dirinya
sendiri."
وَمِنْهَا
أَنْ يَزِيدَ فِي تَوْقِيرِ مَنْ تَدُلُّ هَيْئَتُهُ وَثِيَابُهُ عَلَى عُلُوِّ
مَنْزِلَتِهِ
Di antaranya adalah menambah penghormatan kepada orang yang
penampilan dan pakaiannya menunjukkan kedudukannya yang tinggi.
فَيُنْزِلَ
النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
Sehingga ia menempatkan orang sesuai dengan kedudukannya.
رُوِيَ
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَتْ فِي سَفَرٍ فَنَزَلَتْ مَنْزِلًا
فَوَضَعَتْ طَعَامَهَا
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha sedang dalam
perjalanan lalu singgah di suatu tempat. Ia meletakkan makanannya.
فَجَاءَ
سَائِلٌ فَقَالَتْ عَائِشَةُ نَاوِلُوا هَذَا الْمِسْكِينَ قُرْصًا
Lalu datang seorang peminta-minta. Aisyah berkata,
"Berikan kepada orang miskin ini sepotong roti."
ثُمَّ
مَرَّ رَجُلٌ عَلَى دَابَّةٍ فَقَالَتِ ادْعُوهُ إِلَى الطَّعَامِ
Kemudian, seorang laki-laki yang menunggangi hewan lewat,
lalu Aisyah berkata, "Undanglah dia untuk makan."
فَقِيلَ
لَهَا تُعْطِينَ الْمِسْكِينَ وَتَدْعِينَ هَذَا الْغَنِيَّ
Lalu ditanyakan kepadanya, "Engkau hanya memberi orang
miskin itu dan mengundang orang kaya ini?"
فَقَالَتْ
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَنْزَلَ النَّاسَ مَنَازِلَ لَا بُدَّ لَنَا مِنْ أَنْ
نُنْزِلَهُمْ تِلْكَ الْمَنَازِلَ
Ia menjawab, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah
menempatkan manusia pada kedudukannya masing-masing, dan kita harus menempatkan
mereka pada kedudukan tersebut."
هَذَا
الْمِسْكِينُ يَرْضَى بِقُرْصٍ
"Orang miskin ini ridha dengan sepotong roti."
وَقَبِيحٌ
بِنَا أَنْ نُعْطِيَ هَذَا الْغَنِيَّ عَلَى هَذِهِ الْهَيْئَةِ قُرْصًا
"Sedangkan tidak pantas bagi kita untuk memberikan
sepotong roti kepada orang kaya dengan penampilannya yang seperti ini."
وَرُوِيَ
أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَعْضَ بُيُوتِهِ فَدَخَلَ
عَلَيْهِ أَصْحَابُهُ حَتَّى غَصَّ الْمَجْلِسُ وَامْتَلَأَ
Diriwayatkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam masuk
ke salah satu rumahnya, lalu para sahabatnya masuk menemuinya hingga majelis
menjadi sesak dan penuh.
فَجَاءَ
جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيُّ فَلَمْ يَجِدْ مَكَانًا فَقَعَدَ عَلَى
الْبَابِ
Kemudian datanglah Jarir bin Abdullah Al-Bajali, namun ia
tidak menemukan tempat, maka ia duduk di depan pintu.
فَلَفَّ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ
إِلَيْهِ وَقَالَ لَهُ اجْلِسْ عَلَى هَذَا
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melipat selendangnya
lalu melemparkannya kepada Jarir seraya berkata, "Duduklah di atas
ini."
فَأَخَذَهُ
جَرِيرٌ وَوَضَعَهُ عَلَى وَجْهِهِ وَجَعَلَ يُقَبِّلُهُ وَيَبْكِي
Jarir mengambilnya, meletakkannya di wajahnya, lalu
menciumnya sambil menangis.
ثُمَّ
لَفَّهُ وَرَمَى بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kemudian ia melipatnya kembali dan melemparkannya kepada
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
وَقَالَ
مَا كُنْتُ لِأَجْلُسَ عَلَى ثَوْبِكَ أَكْرَمَكَ اللَّهُ كَمَا أَكْرَمْتَنِي
Seraya berkata, "Aku tidak akan duduk di atas
pakaianmu. Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau telah
memuliakanku."
فَنَظَرَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينًا وَشِمَالًا
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu menoleh ke kanan dan
ke kiri.
ثُمَّ
قَالَ إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوهُ
Kemudian bersabda, "Apabila datang kepada kalian orang
yang mulia dari suatu kaum, maka muliakanlah ia."
وَكَذَلِكَ
كُلُّ مَنْ لَهُ عَلَيْهِ حَقٌّ قَدِيمٌ فَلْيُكْرِمْهُ
Demikian pula setiap orang yang memiliki hak lama atasnya,
hendaklah ia memuliakannya.
رُوِيَ
أَنَّ ظِئْرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي
أَرْضَعَتْهُ جَاءَتْ إِلَيْهِ
Diriwayatkan bahwa ibu susu Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam yang telah menyusuinya datang kepada beliau.
فَبَسَطَ
لَهَا رِدَاءَهُ ثُمَّ قَالَ لَهَا مَرْحَبًا بِأُمِّي
Beliau membentangkan selendangnya untuknya, lalu berkata,
"Selamat datang, wahai ibuku."
ثُمَّ
أَجْلَسَهَا عَلَى الرِّدَاءِ
Kemudian beliau mendudukkannya di atas selendang itu.
ثُمَّ
قَالَ لَهَا اشْفَعِي تُشَفَّعِي وَسَلِي تُعْطَيْ
Lalu berkata kepadanya, "Berilah syafaat, niscaya
syafaatmu diterima. Mintalah, niscaya engkau akan diberi."
فَقَالَتْ
قَوْمِي
Wanita itu berkata, "(Aku meminta untuk) kaumku."
فَقَالَ
أَمَّا حَقِّي وَحَقُّ بَنِي هَاشِمٍ فَهُوَ ذَلِكَ
Beliau menjawab, "Adapun hakku dan hak Bani Hasyim,
maka itu untukmu."
فَقَامَ
النَّاسُ مِنْ كُلِّ نَاحِيَةٍ وَقَالُوا وَحَقُّنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
Lalu orang-orang dari segala penjuru berdiri dan berkata,
"Dan hak kami juga, wahai Rasulullah."
ثُمَّ
وَصَلَهَا بَعْدُ وَأَخْدَمَهَا وَوَهَبَ لَهَا سُهْمَانَهُ بِحُنَيْنٍ
Kemudian setelah itu, beliau memberinya hadiah, memberinya
pelayan, dan menghadiahkan kepadanya bagian rampasan perang beliau di Hunain.
فَبِيعَ
ذَلِكَ مِنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمِائَةِ أَلْفِ
دِرْهَمٍ
Bagian rampasan itu kemudian dijual kepada Utsman bin Affan
radhiyallahu 'anhu seharga seratus ribu dirham.
وَلَرُبَّمَا
أَتَاهُ مَنْ يَأْتِيهِ وَهُوَ عَلَى وِسَادَةٍ جَالِسٌ وَلَا يَكُونُ فِيهَا
سَعَةٌ يَجْلِسُ مَعَهُ
Dan terkadang, datang seseorang kepada beliau saat beliau
sedang duduk di atas bantal, dan tidak ada tempat yang cukup untuk duduk
bersamanya.
فَيَنْزِعُهَا
وَيَضَعُهَا تَحْتَ الَّذِي يَجْلِسُ إِلَيْهِ
Maka beliau akan mengambil bantal itu dan meletakkannya di
bawah orang yang duduk di dekatnya.
فَإِنْ
أَبَى عَزَمَ عَلَيْهِ حَتَّى يَفْعَلَ
Jika orang itu menolak, beliau akan mendesaknya hingga ia
mau melakukannya.