Keutamaan Wirid-Wirid

كِتَابُ تَرْتِيبِ الْأَوْرَادِ وَتَفْصِيلِ إِحْيَاءِ اللَّيْلِ

Kitab tentang penataan wirid dan perincian menghidupkan malam.

وَهُوَ الْكِتَابُ الْعَاشِرُ مِنْ إِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ، وَبِهِ اخْتِتَامُ رُبْعِ الْعِبَادَاتِ. نَفَعَ اللَّهُ بِهِ الْمُسْلِمِينَ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.

Ini adalah kitab kesepuluh dari Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, dan dengannya berakhirlah seperempat bagian ibadah. Semoga Allah memberi manfaat dengannya kepada kaum muslimin. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

نَحْمَدُ اللَّهَ عَلَى آلَائِهِ حَمْدًا كَثِيرًا، وَنَذْكُرُهُ ذِكْرًا لَا يُغَادِرُ فِي الْقَلْبِ اسْتِكْبَارًا وَلَا نُفُورًا، وَنَشْكُرُهُ إِذْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا، وَنُصَلِّي عَلَى نَبِيِّهِ الَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِينَ وَصَحْبِهِ الْأَكْرَمِينَ، الَّذِينَ اجْتَهَدُوا فِي عِبَادَةِ اللَّهِ غُدْوَةً وَعَشِيًّا وَبُكْرَةً وَأَصِيلًا، حَتَّى أَصْبَحَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ نَجْمًا فِي الدِّينِ هَادِيًا وَسِرَاجًا مُنِيرًا.

Kami memuji Allah atas segala nikmat-Nya dengan pujian yang banyak. Kami mengingat-Nya dengan zikir yang tidak menyisakan kesombongan dan kebencian dalam hati. Kami bersyukur kepada-Nya karena Dia menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur. Kami bersalawat kepada Nabi-Nya yang diutus dengan kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta kepada keluarga beliau yang suci dan para sahabat beliau yang mulia, yang bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah pada pagi dan petang, awal dan akhir hari, hingga masing-masing dari mereka menjadi bintang dalam agama, pemberi petunjuk, dan pelita yang menerangi.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ الْأَرْضَ ذَلُولًا لِعِبَادِهِ، لَا لِيَسْتَقِرُّوا فِي مَنَاكِبِهَا، بَلْ لِيَتَّخِذُوهَا مَنْزِلًا، فَيَتَزَوَّدُوا مِنْهَا زَادًا يَحْمِلُهُمْ فِي سَفَرِهِمْ إِلَى أَوْطَانِهِمْ، وَيَكْتَنِزُوا مِنْهَا تُحَفًا لِأَنْفُسِهِمْ عَمَلًا وَفَضْلًا، مُحْتَرِزِينَ مِنْ مَصَائِدِهَا وَمَعَاطِبِهَا، وَيَتَحَقَّقُوا أَنَّ الْعُمْرَ يَسِيرُ بِهِمْ سَيْرَ السَّفِينَةِ بِرَاكِبِهَا.

Adapun selanjutnya, sesungguhnya Allah تعالى telah menjadikan bumi ini mudah bagi hamba-hamba-Nya, bukan agar mereka menetap di penjuru-penjuru bumi, melainkan agar mereka menjadikannya tempat singgah, lalu mengambil bekal darinya yang akan membawa mereka dalam perjalanan menuju negeri asal mereka. Mereka pun menyimpan darinya hadiah-hadiah untuk diri mereka berupa amal dan keutamaan, sambil waspada terhadap perangkap dan tempat-tempat kebinasaannya, serta meyakini bahwa umur membawa mereka berjalan sebagaimana kapal membawa penumpangnya.

فَالنَّاسُ فِي هٰذَا الْعَالَمِ سُفَّارٌ، وَأَوَّلُ مَنَازِلِهِمُ الْمَهْدُ، وَآخِرُهَا اللَّحْدُ، وَالْوَطَنُ هُوَ الْجَنَّةُ أَوِ النَّارُ، وَالْعُمْرُ مَسَافَةُ السَّفَرِ، فَسِنُونُهُ مَرَاحِلُهُ، وَشُهُورُهُ فَرَاسِخُهُ، وَأَيَّامُهُ أَمْيَالُهُ، وَأَنْفَاسُهُ خُطُوَاتُهُ، وَطَاعَتُهُ بَضَاعَتُهُ، وَأَوْقَاتُهُ رُءُوسُ أَمْوَالِهِ، وَشَهَوَاتُهُ وَأَغْرَاضُهُ قُطَّاعُ طَرِيقِهِ، وَرِبْحُهُ الْفَوْزُ بِلِقَاءِ اللَّهِ تَعَالَى فِي دَارِ السَّلَامِ مَعَ الْمَلِكِ الْكَبِيرِ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، وَخُسْرَانُهُ الْبُعْدُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى مَعَ الْأَنْكَالِ وَالْأَغْلَالِ وَالْعَذَابِ الْأَلِيمِ فِي دَرَكَاتِ الْجَحِيمِ.

Maka manusia di dunia ini adalah para musafir. Tempat singgah pertama mereka adalah buaian, dan tempat singgah terakhir mereka adalah liang lahat. Tempat tinggal yang hakiki adalah surga atau neraka. Umur adalah jarak perjalanan; tahunnya adalah tahap-tahap perjalanan, bulannya adalah farsakh-farsaknya, harinya adalah mil-milnya, napasnya adalah langkah-langkahnya, ketaatannya adalah modal perniagaannya, dan waktunya adalah pokok modalnya. Syahwat dan tujuan-tujuannya adalah para perampok di jalannya. Keuntungannya ialah meraih perjumpaan dengan Allah تعالى di Darussalam bersama Raja Yang Mahaagung dan kenikmatan yang kekal. Kerugiannya ialah dijauhkan dari Allah تعالى bersama belenggu-belenggu, rantai-rantai, dan azab yang pedih di tingkatan-tingkatan neraka Jahanam.

فَالْغَافِلُ فِي نَفَسٍ مِنْ أَنْفَاسِهِ حَتَّى يَنْقَضِيَ فِي غَيْرِ طَاعَةٍ تُقَرِّبُهُ إِلَى اللَّهِ زُلْفَى، مُتَعَرِّضٌ فِي يَوْمِ التَّغَابُنِ لِغَبْنَةٍ وَحَسْرَةٍ مَا لَهَا مُنْتَهَى.

Maka orang yang lalai dalam salah satu napasnya hingga habis tanpa ketaatan yang mendekatkannya kepada Allah sedang menghadapkan dirinya pada kerugian dan penyesalan yang tiada akhirnya pada hari saling merugi.

وَلِهٰذَا الْخَطْرِ الْعَظِيمِ وَالْخَطْبِ الْهَائِلِ شَمَّرَ الْمُوَفَّقُونَ عَنْ سَاقِ الْجِدِّ، وَوَدَّعُوا بِالْكُلِّيَّةِ مَلَاذَّ النَّفْسِ، وَاغْتَنَمُوا بَقَايَا الْعُمْرِ، وَرَتَّبُوا بِحَسَبِ تَكَرُّرِ الْأَوْقَاتِ وَظَائِفَ الْأَوْرَادِ، حِرْصًا عَلَى إِحْيَاءِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ فِي طَلَبِ الْقُرْبِ مِنَ الْمَلِكِ الْجَبَّارِ وَالسَّعْيِ إِلَى دَارِ الْقَرَارِ.

Karena bahaya yang besar dan perkara yang mengerikan ini, orang-orang yang diberi taufik mengerahkan kesungguhan mereka sepenuhnya, meninggalkan seluruh kenikmatan nafsu, memanfaatkan sisa umur, dan menyusun wirid-wirid sesuai dengan berulangnya waktu-waktu, demi menghidupkan malam dan siang dalam mencari kedekatan dengan Raja Yang Mahaperkasa dan berusaha menuju negeri yang abadi.

فَصَارَ مِنْ مُهِمَّاتِ عِلْمِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ تَفْصِيلُ الْقَوْلِ فِي كَيْفِيَّةِ قِسْمَةِ الْأَوْرَادِ وَتَوْزِيعِ الْعِبَادَاتِ الَّتِي سَبَقَ شَرْحُهَا عَلَىٰ مَقَادِيرِ الْأَوْقَاتِ.

Maka termasuk perkara penting dalam ilmu jalan akhirat adalah merinci pembahasan tentang cara membagi wirid-wirid dan menempatkan ibadah-ibadah yang telah dijelaskan sebelumnya sesuai dengan ukuran-ukuran waktu.

وَيَتَّضِحُ هٰذَا الْمُهِمُّ بِذِكْرِ بَابَيْنِ.

Perkara penting ini akan menjadi jelas dengan menyebutkan dua bab.

الْبَابُ الْأَوَّلُ فِي فَضِيلَةِ الْأَوْرَادِ وَتَرْتِيبِهَا فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ.

Bab pertama tentang keutamaan wirid dan penataannya pada malam dan siang.

الْبَابُ الثَّانِي فِي كَيْفِيَّةِ إِحْيَاءِ اللَّيْلِ وَفَضِيلَتِهِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ.

Bab kedua tentang cara menghidupkan malam, keutamaannya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

الْبَابُ الْأَوَّلُ فِي فَضِيلَةِ الْأَوْرَادِ وَتَرْتِيبِهَا وَأَحْكَامِهَا

Bab pertama tentang keutamaan wirid, penataannya, dan hukum-hukumnya.

فَضِيلَةُ الْأَوْرَادِ وَبَيَانُ أَنَّ الْمُوَاظَبَةَ عَلَيْهَا هِيَ الطَّرِيقُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Keutamaan wirid dan penjelasan bahwa terus-menerus menjalaninya adalah jalan menuju Allah تعالى.

اعْلَمْ أَنَّ النَّاظِرِينَ بِنُورِ الْبَصِيرَةِ عَلِمُوا أَنَّهُ لَا نَجَاةَ إِلَّا فِي لِقَاءِ اللَّهِ تَعَالَى، وَأَنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى اللِّقَاءِ إِلَّا بِأَنْ يَمُوتَ الْعَبْدُ مُحِبًّا لِلَّهِ تَعَالَى وَعَارِفًا بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ.

Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya mata batin mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam perjumpaan dengan Allah تعالى, dan bahwa tidak ada jalan menuju perjumpaan itu kecuali bila seorang hamba mati dalam keadaan mencintai Allah تعالى dan mengenal Allah سبحانه.

وَأَنَّ الْمَحَبَّةَ وَالْأُنْسَ لَا تَحْصُلُ إِلَّا مِنْ دَوَامِ ذِكْرِ الْمَحْبُوبِ وَالْمُوَاظَبَةِ عَلَيْهِ، وَأَنَّ الْمَعْرِفَةَ بِهِ لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِدَوَامِ الْفِكْرِ فِيهِ وَفِي صِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، وَلَيْسَ فِي الْوُجُودِ سِوَى اللَّهِ تَعَالَى وَأَفْعَالِهِ.

Dan bahwa cinta dan keakraban tidak akan diperoleh kecuali dengan terus-menerus mengingat yang dicintai dan melaziminya. Pengetahuan tentang-Nya juga tidak akan diperoleh kecuali dengan terus-menerus memikirkan Dia, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan tidak ada dalam wujud ini selain Allah تعالى dan perbuatan-perbuatan-Nya.

وَلَنْ يَتَيَسَّرَ دَوَامُ الذِّكْرِ وَالْفِكْرِ إِلَّا بِوَدَاعِ الدُّنْيَا وَشَهَوَاتِهَا، وَالِاجْتِزَاءِ مِنْهَا بِقَدْرِ الْبُلْغَةِ وَالضَّرُورَةِ.

Keberlangsungan zikir dan pikir tidak akan mudah kecuali dengan meninggalkan dunia dan syahwat-syahwatnya, serta cukup mengambil darinya sekadar yang menyampaikan kepada kebutuhan dan darurat.

وَكُلُّ ذٰلِكَ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِاسْتِغْرَاقِ أَوْقَاتِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ فِي وَظَائِفِ الْأَذْكَارِ وَالْأَفْكَارِ.

Dan semua itu tidak akan sempurna kecuali dengan menghabiskan waktu malam dan siang dalam tugas-tugas zikir dan pikir.

وَالنَّفْسُ لِمَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ مِنَ السَّآمَةِ وَالْمَلَلِ لَا تَصْبِرُ عَلَىٰ فَنٍّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُعِينَةِ عَلَى الذِّكْرِ وَالْفِكْرِ، بَلْ إِذَا رُدَّتْ إِلَىٰ نَمَطٍ وَاحِدٍ أَظْهَرَتِ الْمَلَلَ وَالِاسْتِثْقَالَ، وَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّىٰ تَمَلُّوا.

Dan jiwa, karena tabiatnya yang diliputi rasa bosan dan jemu, tidak sabar terhadap satu macam saja dari sebab-sebab yang membantu zikir dan pikir. Bahkan bila ia dikembalikan pada satu pola saja, ia akan menampakkan kejenuhan dan rasa berat. Dan bahwa Allah تعالى tidak bosan sampai kalian bosan.

فَمِنْ ضَرُورَةِ اللُّطْفِ بِهَا أَنْ تُرَوَّحَ بِالتَّنَقُّلِ مِنْ فَنٍّ إِلَىٰ فَنٍّ، وَمِنْ نَوْعٍ إِلَىٰ نَوْعٍ، بِحَسَبِ كُلِّ وَقْتٍ، لِتَغْزُرَ بِالِانْتِقَالِ لَذَّتُهَا، وَتَعْظُمَ بِاللَّذَّةِ رَغْبَتُهَا، وَتَدُومَ بِدَوَامِ الرَّغْبَةِ مُوَاظَبَتُهَا.

Maka demi berbuat lembut kepadanya, ia perlu disegarkan dengan berpindah dari satu jenis ke jenis lain, dan dari satu macam ke macam lain, sesuai dengan setiap waktu, agar dengan berpindah-pindah kenikmatannya menjadi lebih melimpah, dengan kenikmatan itu keinginannya menjadi lebih besar, dan dengan terus adanya keinginan itu kelanggengan amalnya tetap terjaga.

فَلِذٰلِكَ تُقَسَّمُ الْأَوْرَادُ قِسْمَةً مُخْتَلِفَةً، فَالذِّكْرُ وَالْفِكْرُ يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَغْرِقَا جَمِيعَ الْأَوْقَاتِ أَوْ أَكْثَرَهَا.

Karena itu wirid-wirid dibagi dengan pembagian yang beragam. Zikir dan pikir seharusnya mengisi seluruh waktu atau sebagian besar darinya.

فَإِنَّ النَّفْسَ بِطَبْعِهَا مَائِلَةٌ إِلَىٰ مَلَاذِّ الدُّنْيَا، فَإِنْ صَرَفَ الْعَبْدُ شَطْرَ أَوْقَاتِهِ إِلَىٰ تَدْبِيرَاتِ الدُّنْيَا وَشَهَوَاتِهَا الْمُبَاحَةِ مَثَلًا، وَالشَّطْرَ الْآخَرَ إِلَىٰ الْعِبَادَاتِ، رَجَحَ جَانِبُ الْمَيْلِ إِلَى الدُّنْيَا لِمُوَافَقَتِهَا الطَّبْعَ.

Sesungguhnya jiwa secara tabiat condong kepada kenikmatan-kenikmatan dunia. Jika seorang hamba membagi separuh waktunya untuk urusan-urusan dunia dan syahwat-syahwatnya yang mubah, dan separuh yang lain untuk ibadah, maka sisi kecenderungan kepada dunia lebih berat karena sesuai dengan tabiat.

إِذْ يَكُونُ الْوَقْتُ مُتَسَاوِيًا، فَأَنَّىٰ يَتَقَاوَمَانِ وَالطَّبْعُ لِأَحَدِهِمَا مُرَجِّحٌ، إِذِ الظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ يَتَعَاوَنَانِ عَلَىٰ أُمُورِ الدُّنْيَا، وَيَصْفُو فِي طَلَبِهَا الْقَلْبُ وَيَتَجَرَّدُ، وَأَمَّا الرَّدُّ إِلَى الْعِبَادَاتِ فَمُتَكَلَّفٌ، وَلَا يَسْلَمُ إِخْلَاصُ الْقَلْبِ فِيهِ وَحُضُورُهُ إِلَّا فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ.

Karena waktu menjadi seimbang, bagaimana keduanya bisa sebanding jika tabiat lebih cenderung kepada salah satunya? Sebab yang lahir dan yang batin saling membantu dalam urusan dunia, dan hati menjadi jernih serta terlepas untuk mencarinya. Adapun mengembalikannya kepada ibadah, itu terasa dipaksakan, dan keikhlasan hati serta kehadirannya di dalamnya hanya selamat pada sebagian waktu saja.

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَلْيَسْتَغْرِقْ أَوْقَاتَهُ فِي الطَّاعَةِ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ تَتَرَجَّحَ كَفَّةُ حَسَنَاتِهِ وَتَثْقُلَ مَوَازِينُ خَيْرَاتِهِ فَلْيَسْتَوْعِبْ فِي الطَّاعَةِ أَكْثَرَ أَوْقَاتِهِ.

Maka barang siapa ingin masuk surga tanpa hisab, hendaklah ia menghabiskan waktunya dalam ketaatan. Dan barang siapa ingin agar timbangan kebaikannya lebih berat dan neraca amal baiknya lebih berat, hendaklah ia mengisi sebagian besar waktunya dengan ketaatan.

فَإِنْ خَلَطَ عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا فَأَمْرُهُ مُخَاطِرٌ، وَلَكِنَّ الرَّجَاءَ غَيْرُ مُنْقَطِعٍ، وَالْعَفْوُ مِنْ كَرَمِ اللَّهِ مُنْتَظَرٌ، فَعَسَى اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَغْفِرَ لَهُ بِجُودِهِ وَكَرَمِهِ.

Jika ia mencampur amal saleh dengan amal buruk, maka urusannya berbahaya. Namun harapan tidak terputus, dan ampunan dari kemurahan Allah selalu dinanti. Mudah-mudahan Allah تعالى mengampuninya dengan kemurahan dan kedermawanan-Nya.

فَهٰذَا مَا انْكَشَفَ لِلنَّاظِرِينَ بِنُورِ الْبَصِيرَةِ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ مِنْ أَهْلِهِ فَانْظُرْ إِلَىٰ خِطَابِ اللَّهِ تَعَالَىٰ لِرَسُولِهِ وَاقْتَبِسْهُ بِنُورِ الْإِيمَانِ.

Inilah apa yang tersingkap bagi orang-orang yang memandang dengan cahaya mata batin. Jika engkau bukan termasuk ahlinya, maka lihatlah خطاب Allah تعالى kepada Rasul-Nya dan ambillah darinya dengan cahaya iman.

فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ لِأَقْرَبِ عِبَادِهِ إِلَيْهِ وَأَرْفَعِهِمْ دَرَجَةً لَدَيْهِ: {إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا}.

Sungguh Allah تعالى berfirman kepada hamba-Nya yang paling dekat kepada-Nya dan yang paling tinggi derajatnya di sisi-Nya: “Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang, dan sebutlah nama Rabbmu serta beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh pengabdian.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ۝ وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا}.

Allah تعالى juga berfirman: “Dan sebutlah nama Rabbmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian malam, sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ}.

Allah تعالى berfirman: “Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya, serta setelah sujud.”

وَقَالَ سُبْحَانَهُ: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ}.

Dan Dia سبحانه berfirman: “Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu ketika engkau bangun berdiri, dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya, serta ketika bintang-bintang berpaling.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْأً وَأَقْوَمُ قِيلًا}.

Allah تعالى berfirman: “Sesungguhnya bangun malam itu lebih kuat pengaruhnya dan lebih teguh ucapannya.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ}.

Allah تعالى berfirman: “Dan pada sebagian malam bertasbihlah, dan pada ujung-ujung siang, agar engkau ridha.”

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ}.

Dan Allah عزَّ وَجَلَّ berfirman: “Dirikanlah salat pada kedua ujung siang dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.”

ثُمَّ انْظُرْ كَيْفَ وَصَفَ الْفَائِزِينَ مِنْ عِبَادِهِ، وَبِمَاذَا وَصَفَهُمْ، فَقَالَ تَعَالَىٰ: {أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ}.

Kemudian lihatlah bagaimana Dia وصف orang-orang yang beruntung dari hamba-hamba-Nya, dan dengan apa Dia وصف mereka. Dia تعالى berfirman: “Apakah orang yang taat itu sama, yang pada malam hari bersujud dan berdiri, takut kepada akhirat dan mengharap rahmat Rabbnya? Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا}.

Allah تعالى berfirman: “Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap.”

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا}.

Dan Allah عزَّ وَجَلَّ berfirman: “Dan orang-orang yang menghabiskan malam untuk Rabb mereka dalam keadaan sujud dan berdiri.”

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ}.

Dan Allah عزَّ وَجَلَّ berfirman: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ}.

Dan Allah عزَّ وَجَلَّ berfirman: “Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu memasuki waktu petang dan ketika kamu memasuki waktu pagi.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ}.

Allah تعالى berfirman: “Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka pada pagi dan petang, semata-mata karena menghendaki wajah-Nya.”

فَهٰذَا كُلُّهُ يُبَيِّنُ لَكَ أَنَّ الطَّرِيقَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مُرَاقَبَةُ الْأَوْقَاتِ وَعِمَارَتُهَا بِالْأَوْرَادِ عَلَىٰ سَبِيلِ الدَّوَامِ.

Semua ini menjelaskan kepadamu bahwa jalan menuju Allah تعالى adalah menjaga waktu-waktu dan memakmurkannya dengan wirid-wirid secara terus-menerus.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ يُرَاعُونَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْأَظِلَّةَ لِذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَىٰ.

Karena itu Nabi bersabda: “Hamba-hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang memperhatikan matahari, bulan, dan bayang-bayang untuk zikir kepada Allah تعالى.”

وَقَدْ قَالَ تَعَالَىٰ: {الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ}.

Dan Allah تعالى telah berfirman: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا ۝ ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا}.

Allah تعالى berfirman: “Tidakkah engkau memperhatikan Rabbmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang? Seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikannya tetap. Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atasnya, lalu Kami menariknya kepada Kami dengan tarikan yang mudah.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ}.

Allah تعالى berfirman: “Dan bulan, Kami tetapkan baginya beberapa manzilah.”

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ}.

Dan Allah تعالى berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu agar kalian mendapat petunjuk dengannya dalam kegelapan darat dan laut.”

فَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ سَيْرِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ بِحُسْبَانٍ مَنْظُومٍ مُرَتَّبٍ، وَمِنْ خَلْقِ الظِّلِّ وَالنُّورِ وَالنُّجُومِ، أَنْ يُسْتَعَانَ بِهَا عَلَىٰ أُمُورِ الدُّنْيَا.

Janganlah sekali-kali engkau menyangka bahwa tujuan peredaran matahari dan bulan dengan perhitungan yang teratur, dan penciptaan bayang-bayang, cahaya, serta bintang-bintang, adalah agar semuanya itu dipakai membantu urusan dunia.

بَلْ لِتُعْرَفَ بِهَا مَقَادِيرُ الْأَوْقَاتِ فَتَشْتَغِلَ فِيهَا بِالطَّاعَاتِ وَالتِّجَارَةِ لِلدَّارِ الْآخِرَةِ، يَدُلُّكَ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَىٰ: {وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا}.

Melainkan agar melalui semuanya itu diketahui ukuran-ukuran waktu, lalu engkau sibukkan diri di dalamnya dengan ketaatan dan perniagaan untuk negeri akhirat. Hal itu ditunjukkan oleh firman-Nya تعالى: “Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang hendak mengambil pelajaran atau hendak bersyukur.”

أَيْ يَخْلُفُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ لِيَتَدَارَكَ فِي أَحَدِهِمَا مَا فَاتَ فِي الْآخَرِ، وَبَيَّنَ أَنَّ ذٰلِكَ لِلذِّكْرِ وَالشُّكْرِ لَا غَيْرُ.

Yakni, salah satunya menggantikan yang lain agar pada salah satunya dapat ditebus apa yang terlewat pada yang lain. Dia menjelaskan bahwa hal itu adalah untuk zikir dan syukur, tidak untuk yang lain.

وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ}.

Dan Allah تعالى berfirman: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda. Lalu Kami hapus tanda malam, dan Kami jadikan tanda siang terang-benderang, agar kalian mencari karunia dari Rabb kalian dan agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.”

وَإِنَّمَا الْفَضْلُ الْمُبْتَغَىٰ هُوَ الثَّوَابُ وَالْمَغْفِرَةُ، وَنَسْأَلُ اللَّهَ حُسْنَ التَّوْفِيقِ لِمَا يُرْضِيهِ.

Karunia yang dicari itu tidak lain adalah pahala dan ampunan. Dan kami memohon kepada Allah taufik yang baik untuk apa yang diridai-Nya.