Penjelasan Tentang Keutamaan Sedekah
بَيَانُ فَضِيلَةِ الصَّدَقَةِ.
Penjelasan tentang keutamaan sedekah.
مِنَ
الْأَخْبَارِ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَصَدَّقُوا وَلَوْ
بِتَمْرَةٍ، فَإِنَّهَا تَسُدُّ مِنَ الْجَائِعِ، وَتُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا
يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ.
Di antara hadis-hadis tentang keutamaan sedekah adalah sabda Nabi صلى الله عليه
وسلم: “Bersedekahlah walaupun hanya dengan sebutir kurma, karena ia
dapat menutup lapar orang yang lapar dan memadamkan kesalahan sebagaimana air
memadamkan api.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ،
فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Jagalah diri kalian dari neraka walaupun hanya
dengan separuh butir kurma. Jika tidak mendapatkannya, maka dengan perkataan
yang baik.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَتَصَدَّقُ
بِصَدَقَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلَا يَقْبَلُ اللهُ إِلَّا طَيِّبًا، إِلَّا
كَانَ اللهُ آخِذَهَا بِيَمِينِهِ، فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ
فَصِيلَهُ، حَتَّى تَبْلُغَ التَّمْرَةُ مِثْلَ أُحُدٍ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang hamba Muslim bersedekah dengan
sedekah dari hasil yang baik—dan Allah tidak menerima kecuali yang
baik—melainkan Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu menumbuhkannya
sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak untanya, hingga sebutir
kurma itu menjadi sebesar Gunung Uhud.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي الدَّرْدَاءِ: إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً
فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، ثُمَّ انْظُرْ إِلَى أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ
فَأَصِبْهُمْ مِنْهُ بِمَعْرُوفٍ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda kepada Abu ad-Darda’: “Apabila engkau memasak kuah,
maka perbanyaklah airnya, lalu perhatikan keluarga dari tetanggamu dan
berikanlah kepada mereka sebagiannya dengan cara yang baik.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَحْسَنَ عَبْدٌ الصَّدَقَةَ إِلَّا
أَحْسَنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْخِلَافَةَ عَلَى تَرِكَتِهِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang hamba memperbagus sedekahnya,
melainkan Allah عز وجل
akan memperbagus pengurusan terhadap apa yang ia tinggalkan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى
يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Setiap orang akan berada dalam naungan sedekahnya
hingga diputuskan perkara di antara manusia.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ
الشَّرِّ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sedekah menutup tujuh puluh pintu kejahatan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ
عَزَّ وَجَلَّ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sedekah secara rahasia memadamkan murka Tuhan عز وجل.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا الْمُعْطِي مِنْ سَعَةٍ
بِأَفْضَلَ أَجْرًا مِنَ الَّذِي يَقْبَلُ مِنْ حَاجَةٍ.
Dan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Orang yang memberi dari kelapangan tidak lebih besar
pahalanya daripada orang yang menerima karena kebutuhan.”
وَلَعَلَّ
الْمُرَادَ بِهِ الَّذِي يَقْصِدُ مِنْ دَفْعِ حَاجَتِهِ التَّفَرُّغَ لِلدِّينِ،
فَيَكُونُ مُسَاوِيًا لِلْمُعْطِي الَّذِي يَقْصِدُ بِإِعْطَائِهِ عِمَارَةَ
دِينِهِ.
Barangkali yang dimaksud dengan hadis ini adalah orang yang menerima demi
menutupi kebutuhannya agar bisa fokus pada agama, sehingga ia sebanding dengan
pemberi yang bertujuan dengan pemberiannya untuk menegakkan agamanya.
وَسُئِلَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم ditanya: “Sedekah yang mana yang paling utama?”
قَالَ:
أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ تَأْمُلُ الْبَقَاءَ وَتَخْشَى الْفَاقَةَ، وَلَا
تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ: لِفُلَانٍ كَذَا،
وَلِفُلَانٍ كَذَا، وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ.
Beliau menjawab: “Yaitu engkau bersedekah saat engkau masih sehat, masih
berharap hidup lama, dan takut miskin. Jangan menunda sampai ruh telah sampai
di kerongkongan, lalu engkau berkata: ‘Untuk si fulan sekian, dan untuk si
fulan sekian,’ padahal harta itu sebenarnya sudah menjadi milik si fulan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا لِأَصْحَابِهِ: تَصَدَّقُوا.
Suatu hari Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda kepada para sahabatnya: “Bersedekahlah.”
فَقَالَ
رَجُلٌ: إِنَّ عِنْدِي دِينَارًا.
Lalu seorang lelaki berkata: “Aku memiliki satu dinar.”
فَقَالَ:
أَنْفِقْهُ عَلَى نَفْسِكَ.
Beliau bersabda: “Nafkahkanlah untuk dirimu.”
فَقَالَ:
إِنَّ عِنْدِي آخَرَ.
Orang itu berkata: “Aku punya satu lagi.”
قَالَ:
أَنْفِقْهُ عَلَى زَوْجَتِكَ.
Beliau bersabda: “Nafkahkanlah untuk istrimu.”
قَالَ:
إِنَّ عِنْدِي آخَرَ.
Ia berkata: “Aku punya satu lagi.”
قَالَ:
أَنْفِقْهُ عَلَى وَلَدِكَ.
Beliau bersabda: “Nafkahkanlah untuk anakmu.”
قَالَ:
إِنَّ عِنْدِي آخَرَ.
Ia berkata: “Aku punya satu lagi.”
قَالَ:
أَنْفِقْهُ عَلَى خَادِمِكَ.
Beliau bersabda: “Nafkahkanlah untuk pelayanmu.”
قَالَ:
إِنَّ عِنْدِي آخَرَ.
Ia berkata: “Aku punya satu lagi.”
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْتَ أَبْصَرُ بِهِ.
Maka Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Engkau lebih tahu ke mana menempatkannya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِآلِ مُحَمَّدٍ،
إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sedekah tidak halal bagi keluarga Muhammad.
Sesungguhnya ia hanyalah kotoran manusia.”
وَقَالَ:
رُدُّوا مَذَمَّةَ السَّائِلِ وَلَوْ بِمِثْلِ رَأْسِ الطَّائِرِ مِنَ الطَّعَامِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tolaklah celaan dari orang yang meminta, walaupun
hanya dengan makanan sebesar kepala burung.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ صَدَقَ السَّائِلُ مَا أَفْلَحَ مَنْ
رَدَّهُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Seandainya si peminta benar dalam kebutuhannya,
niscaya tidak akan beruntung orang yang menolaknya.”
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَنْ رَدَّ سَائِلًا خَائِبًا مِنْ بَيْتِهِ لَمْ
تَغْشَ الْمَلَائِكَةُ ذٰلِكَ الْبَيْتَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ.
Isa عليه السلام
berkata: “Barang siapa menolak seorang peminta dari rumahnya dalam keadaan
kecewa, maka para malaikat tidak akan menaungi rumah itu selama tujuh hari.”
وَكَانَ
نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَكِلُ خَصْلَتَيْنِ إِلَى
غَيْرِهِ: كَانَ يَضَعُ طَهُورَهُ بِاللَّيْلِ وَيُخَمِّرُهُ، وَكَانَ يُنَاوِلُ
الْمِسْكِينَ بِيَدِهِ.
Nabi kita صلى
الله عليه وسلم tidak menyerahkan dua perkara kepada orang lain: beliau
meletakkan air bersucinya di malam hari dan menutupnya, serta memberikan kepada
orang miskin dengan tangannya sendiri.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ
التَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ وَاللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، إِنَّمَا
الْمِسْكِينُ الْمُتَعَفِّفُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Orang miskin bukanlah orang yang dapat ditolak
dengan satu atau dua butir kurma, atau satu atau dua suap makanan, tetapi orang
miskin adalah orang yang menjaga kehormatan dirinya.”
اِقْرَءُوا
إِنْ شِئْتُمْ: لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا.
“Bacalah jika kalian mau: ‘Mereka tidak meminta-minta kepada manusia secara
mendesak.’”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَكْسُو مُسْلِمًا إِلَّا
كَانَ فِي حِفْظِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا دَامَتْ عَلَيْهِ مِنْهُ رُقْعَةٌ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang Muslim memberi pakaian kepada
Muslim lainnya, kecuali ia akan senantiasa berada dalam penjagaan Allah عز وجل
selama pada tubuh saudaranya itu masih ada sepotong pakaian darinya.”
اَلْآثَارُ.
Atsar-atsar.
قَالَ
عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ: لَقَدْ تَصَدَّقَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا
بِخَمْسِينَ أَلْفًا، وَإِنَّ دِرْعَهَا لَمُرَقَّعٌ.
‘Urwah bin az-Zubair berkata: “Sungguh Aisyah رضي الله عنها pernah bersedekah
lima puluh ribu, sementara bajunya sendiri bertambal.”
وَقَالَ
مُجَاهِدٌ فِي قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى
حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا، فَقَالَ: وَهُمْ يَشْتَهُونَهُ.
Mujahid berkata tentang firman Allah عز وجل: “Dan mereka memberikan makanan yang
mereka cintai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,” yakni mereka
memberikannya padahal mereka sendiri menginginkannya.
وَكَانَ
عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْفَضْلَ عِنْدَ
خِيَارِنَا، لَعَلَّهُمْ يَعُودُونَ بِهِ عَلَى ذَوِي الْحَاجَةِ مِنَّا.
Dan Umar رضي
الله عنه berkata: “Ya Allah, jadikanlah kelebihan harta pada orang-orang
terbaik di antara kami, agar mereka mengembalikannya kepada orang-orang yang
membutuhkan di antara kami.”
وَقَالَ
عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: الصَّلَاةُ تُبَلِّغُكَ نِصْفَ الطَّرِيقِ،
وَالصَّوْمُ يُبَلِّغُكَ بَابَ الْمَلِكِ، وَالصَّدَقَةُ تُدْخِلُكَ عَلَيْهِ.
Umar bin Abdul Aziz berkata: “Salat menyampaikanmu ke setengah jalan, puasa
menyampaikanmu ke pintu Raja, dan sedekah memasukkanmu kepada-Nya.”
وَقَالَ
ابْنُ أَبِي الْجَعْدِ: إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتَدْفَعُ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ
السُّوءِ، وَفَضْلُ سِرِّهَا عَلَى عَلَانِيَتِهَا بِسَبْعِينَ ضِعْفًا،
وَإِنَّهَا لَتَفُكُّ لَحْيَي سَبْعِينَ شَيْطَانًا.
Ibnu Abi al-Ja‘d berkata: “Sesungguhnya sedekah menolak tujuh puluh pintu
keburukan. Keutamaan sedekah rahasia di atas sedekah terang-terangan adalah
tujuh puluh kali lipat, dan ia mematahkan rahang tujuh puluh setan.”
وَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ: إِنَّ رَجُلًا عَبَدَ اللهَ سَبْعِينَ سَنَةً، ثُمَّ أَصَابَ
فَاحِشَةً، فَأَحْبَطَتْ عَمَلَهُ.
Ibnu Mas‘ud berkata: “Sesungguhnya ada seorang lelaki yang beribadah kepada
Allah selama tujuh puluh tahun, lalu ia melakukan satu kekejian, maka amalnya
menjadi gugur.”
ثُمَّ
مَرَّ بِمِسْكِينٍ فَتَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِرَغِيفٍ، فَغَفَرَ اللهُ لَهُ ذَنْبَهُ
وَرَدَّ عَلَيْهِ عَمَلَ السَّبْعِينَ سَنَةً.
Kemudian ia melewati seorang miskin lalu bersedekah kepadanya dengan sepotong
roti, maka Allah mengampuni dosanya dan mengembalikan pahala amal tujuh puluh
tahunnya.
وَقَالَ
لُقْمَانُ لِابْنِهِ: إِذَا أَخْطَأْتَ خَطِيئَةً فَأَعْطِ الصَّدَقَةَ.
Luqman berkata kepada putranya: “Apabila engkau melakukan satu kesalahan, maka
berikanlah sedekah.”
وَقَالَ
يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: مَا أَعْرِفُ حَبَّةً تَزِنُ جِبَالَ الدُّنْيَا إِلَّا
الْحَبَّةَ مِنَ الصَّدَقَةِ.
Yahya bin Mu‘adz berkata: “Aku tidak mengetahui satu biji pun yang dapat
menandingi berat gunung-gunung dunia selain satu biji dari sedekah.”
وَقَالَ
عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي رَوَّادٍ: كَانَ يُقَالُ: ثَلَاثٌ مِنْ كُنُوزِ
الْجَنَّةِ: كِتْمَانُ الْمَرَضِ، وَكِتْمَانُ الصَّدَقَةِ، وَكِتْمَانُ
الْمَصَائِبِ.
Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata: “Dahulu dikatakan: ada tiga hal yang
termasuk perbendaharaan surga, yaitu menyembunyikan sakit, menyembunyikan
sedekah, dan menyembunyikan musibah.”
وَرُوِيَ
مُسْنَدًا: قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: إِنَّ
الْأَعْمَالَ تَبَاهَتْ، فَقَالَتِ الصَّدَقَةُ: أَنَا أَفْضَلُكُنَّ.
Dan diriwayatkan secara musnad bahwa Umar bin al-Khattab رضي الله عنه berkata: “Amal-amal
saling berbangga, lalu sedekah berkata: ‘Aku yang paling utama di antara
kalian.’”
وَكَانَ
عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ يَتَصَدَّقُ بِالسُّكَّرِ، وَيَقُولُ: سَمِعْتُ اللهَ
يَقُولُ: لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ، وَاللهُ
يَعْلَمُ أَنِّي أُحِبُّ السُّكَّرَ.
Abdullah bin Umar biasa bersedekah dengan gula, dan ia berkata: “Aku mendengar
Allah berfirman: ‘Kalian tidak akan mencapai kebajikan sampai kalian
menginfakkan apa yang kalian cintai,’ dan Allah tahu bahwa aku mencintai gula.”
وَقَالَ
النَّخَعِيُّ: إِذَا كَانَ الشَّيْءُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَسُرُّنِي أَنْ
يَكُونَ فِيهِ عَيْبٌ.
An-Nakha‘i berkata: “Apabila sesuatu itu dipersembahkan untuk Allah عز وجل,
maka aku tidak suka jika di dalamnya ada kekurangan.”
وَقَالَ
عُبَيْدُ بْنُ عُمَيْرٍ: يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْوَعَ مَا
كَانُوا قَطُّ، وَأَعْطَشَ مَا كَانُوا قَطُّ، وَأَعْرَى مَا كَانُوا قَطُّ.
‘Ubaid bin ‘Umair berkata: “Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam
keadaan paling lapar, paling haus, dan paling telanjang yang pernah mereka
alami.”
فَمَنْ
أَطْعَمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَشْبَعَهُ اللهُ.
Maka siapa yang memberi makan karena Allah عز وجل, Allah akan
membuatnya kenyang.
وَمَنْ
سَقَى لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَقَاهُ اللهُ.
Dan siapa yang memberi minum karena Allah عز وجل, Allah akan
memberinya minum.
وَمَنْ
كَسَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَسَاهُ اللهُ.
Dan siapa yang memberi pakaian karena Allah عز وجل, Allah akan
memberinya pakaian.
وَقَالَ
الْحَسَنُ: لَوْ شَاءَ اللهُ لَجَعَلَكُمْ أَغْنِيَاءَ لَا فَقِيرَ فِيكُمْ،
وَلٰكِنَّهُ ابْتَلَى بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ.
Al-Hasan berkata: “Seandainya Allah menghendaki, Dia pasti menjadikan kalian
semua kaya tanpa ada seorang fakir pun di antara kalian, tetapi Dia menguji
sebagian kalian dengan sebagian yang lain.”
وَقَالَ
الشَّعْبِيُّ: مَنْ لَمْ يَرَ نَفْسَهُ إِلَى ثَوَابِ الصَّدَقَةِ أَحْوَجَ مِنَ
الْفَقِيرِ إِلَى صَدَقَتِهِ، فَقَدْ أَبْطَلَ صَدَقَتَهُ وَضَرَبَ بِهَا وَجْهَهُ.
Asy-Sya‘bi berkata: “Barang siapa tidak melihat dirinya lebih membutuhkan
pahala sedekah daripada si fakir membutuhkan sedekahnya, maka ia telah
membatalkan sedekahnya dan seakan-akan melemparkannya ke wajahnya sendiri.”
وَقَالَ
مَالِكٌ: لَا نَرَى بَأْسًا بِشُرْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْمَاءِ الَّذِي
يُتَصَدَّقُ بِهِ وَيُسْقَى فِي الْمَسْجِدِ، لِأَنَّهُ إِنَّمَا جُعِلَ
لِلْعَطْشَانِ مَنْ كَانَ، وَلَمْ يُرَدْ بِهِ أَهْلُ الْحَاجَةِ وَالْمَسْكَنَةِ
عَلَى الْخُصُوصِ.
Malik berkata: “Kami tidak memandang mengapa seorang mukmin minum dari air yang
disedekahkan dan disediakan di masjid, karena air itu diperuntukkan bagi siapa
saja yang haus, dan tidak dikhususkan hanya bagi orang-orang yang membutuhkan
dan miskin.”
وَيُقَالُ:
إِنَّ الْحَسَنَ مَرَّ بِهِ نَخَّاسٌ وَمَعَهُ جَارِيَةٌ.
Dan dikatakan bahwa al-Hasan pernah dilewati seorang penjual budak yang bersama
dirinya ada seorang budak perempuan.
فَقَالَ
لِلنَّخَّاسِ: أَتَرْضَى فِي ثَمَنِهَا الدِّرْهَمَ وَالدِّرْهَمَيْنِ؟
Al-Hasan berkata kepada penjual itu: “Apakah engkau rela harga budak itu hanya
satu atau dua dirham?”
قَالَ:
لَا.
Penjual itu menjawab: “Tidak.”
قَالَ:
فَاذْهَبْ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رَضِيَ فِي الْحُورِ الْعِينِ بِالْفَلْسِ
وَاللُّقْمَةِ.
Al-Hasan berkata: “Kalau begitu pergilah. Sesungguhnya Allah عز وجل meridhai untuk
mendapatkan bidadari surga dengan satu keping uang kecil dan satu suapan
makanan.”
بَيَانُ
إِخْفَاءِ الصَّدَقَةِ وَإِظْهَارِهَا.
Penjelasan tentang menyembunyikan sedekah dan menampakkannya.
قَدِ
اخْتَلَفَ طَرِيقُ طُلَّابِ الْإِخْلَاصِ فِي ذٰلِكَ.
Jalan para pencari keikhlasan berbeda-beda dalam hal ini.
فَمَالَ
قَوْمٌ إِلَى أَنَّ الْإِخْفَاءَ أَفْضَلُ.
Sebagian condong kepada pendapat bahwa menyembunyikan sedekah lebih utama.
وَمَالَ
قَوْمٌ إِلَى أَنَّ الْإِظْهَارَ أَفْضَلُ.
Dan sebagian lain condong kepada pendapat bahwa menampakkannya lebih utama.
وَنَحْنُ
نُشِيرُ إِلَى مَا فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمَعَانِي وَالْآفَاتِ.
Kami akan menjelaskan makna-makna dan bahaya-bahaya yang terdapat pada
masing-masing.
ثُمَّ
نَكْشِفُ الْغِطَاءَ عَنِ الْحَقِّ فِيهِ.
Kemudian kami akan menyingkap kebenaran dalam persoalan ini.
أَمَّا
الْإِخْفَاءُ فَفِيهِ خَمْسَةُ مَعَانٍ.
Adapun menyembunyikan sedekah, di dalamnya ada lima makna.
اَلْأَوَّلُ:
أَنَّهُ أَبْقَى لِلسَّتْرِ عَلَى الْآخِذِ.
Pertama, karena itu lebih menjaga kehormatan si penerima.
فَإِنَّ
أَخْذَهُ ظَاهِرًا هَتْكٌ لِسِتْرِ الْمُرُوءَةِ، وَكَشْفٌ عَنِ الْحَاجَةِ،
وَخُرُوجٌ عَنْ هَيْئَةِ التَّعَفُّفِ وَالتَّصَوُّنِ الْمَحْبُوبِ.
Sebab menerima sedekah secara terang-terangan berarti membuka tirai harga diri,
menampakkan kebutuhan, dan keluar dari sikap menjaga kehormatan serta menahan
diri yang dicintai.
اَلَّذِي
يَحْسَبُ الْجَاهِلُ أَهْلَهُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ.
Sampai orang yang tidak tahu mengira mereka kaya karena sifat iffah mereka.
اَلثَّانِي:
أَنَّهُ أَسْلَمُ لِقُلُوبِ النَّاسِ وَأَلْسِنَتِهِمْ.
Kedua, karena itu lebih menjaga hati dan lisan manusia.
فَإِنَّهُمْ
رُبَّمَا يَحْسُدُونَ أَوْ يُنْكِرُونَ عَلَيْهِ أَخْذَهُ، وَيَظُنُّونَ أَنَّهُ
أَخْذٌ مَعَ الِاسْتِغْنَاءِ، أَوْ يَنْسُبُونَهُ إِلَى أَخْذِ زِيَادَةٍ.
Karena bisa jadi mereka iri kepadanya atau mengingkari pengambilannya,
menyangka bahwa ia mengambil padahal tidak butuh, atau menuduhnya mengambil
lebih dari yang berhak.
وَالْحَسَدُ
وَسُوءُ الظَّنِّ وَالْغِيبَةُ مِنَ الذُّنُوبِ الْكَبَائِرِ.
Padahal hasad, buruk sangka, dan ghibah termasuk dosa-dosa besar.
وَصِيَانَتُهُمْ
عَنْ هٰذِهِ الْجَرَائِمِ أَوْلَى.
Maka menjaga mereka dari jatuh ke dalam kejahatan-kejahatan itu lebih utama.
قَالَ
أَبُو أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِيُّ: إِنِّي لَأَتْرُكُ لُبْسَ الثَّوْبِ الْجَدِيدِ
خَشْيَةَ أَنْ يُحْدِثَ فِي جِيرَانِي حَسَدًا.
Abu Ayyub as-Sikhtiyani berkata: “Sungguh aku meninggalkan memakai pakaian baru
karena takut ia menimbulkan hasad pada tetanggaku.”
وَقَالَ
بَعْضُ الزُّهَّادِ: رُبَّمَا تَرَكْتُ اسْتِعْمَالَ الشَّيْءِ لِأَجْلِ
إِخْوَانِي، يَقُولُونَ: مِنْ أَيْنَ لَهُ هٰذَا؟
Sebagian ahli zuhud berkata: “Kadang aku meninggalkan penggunaan suatu barang
demi saudara-saudaraku, agar mereka tidak berkata: dari mana ia mendapatkan
ini?”
وَعَنْ
إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ أَنَّهُ رُئِيَ عَلَيْهِ قَمِيصٌ جَدِيدٌ، فَقَالَ
بَعْضُ إِخْوَانِهِ: مِنْ أَيْنَ لَكَ هٰذَا؟
Dan dari Ibrahim at-Taimi diriwayatkan bahwa ia pernah terlihat memakai baju
baru. Maka sebagian saudaranya bertanya: “Dari mana engkau mendapatkan ini?”
فَقَالَ:
كَسَانِيهِ أَخِي خَيْثَمَةُ، وَلَوْ عَلِمْتُ أَنَّ أَهْلَهُ عَلِمُوا بِهِ مَا
قَبِلْتُهُ.
Ia menjawab: “Saudaraku Khaithamah yang memakaikannya kepadaku. Seandainya aku
tahu keluarganya mengetahuinya, niscaya aku tidak akan menerimanya.”
اَلثَّالِثُ:
إِعَانَةُ الْمُعْطِي عَلَى إِسْرَارِ الْعَمَلِ.
Ketiga, membantu si pemberi untuk merahasiakan amalnya.
فَإِنَّ
فَضْلَ السِّرِّ عَلَى الْجَهْرِ فِي الْإِعْطَاءِ أَكْثَرُ.
Karena keutamaan memberi secara rahasia lebih besar daripada secara
terang-terangan.
وَالْإِعَانَةُ
عَلَى إِتْمَامِ الْمَعْرُوفِ مَعْرُوفٌ.
Dan membantu menyempurnakan suatu kebaikan juga merupakan kebaikan.
وَالْكِتْمَانُ
لَا يَتِمُّ إِلَّا بِاثْنَيْنِ.
Menyembunyikan sedekah itu tidak sempurna kecuali dengan kerjasama dua pihak.
فَمَهْمَا
أَظْهَرَ هٰذَا انْكَشَفَ أَمْرُ الْمُعْطِي.
Jika si penerima menampakkannya, maka urusan si pemberi pun tersingkap.
وَدَفَعَ
رَجُلٌ إِلَى بَعْضِ الْعُلَمَاءِ شَيْئًا ظَاهِرًا، فَرَدَّهُ إِلَيْهِ.
Pernah seorang lelaki memberikan sesuatu secara terang-terangan kepada salah
seorang ulama, lalu sang alim mengembalikannya.
وَدَفَعَ
إِلَيْهِ آخَرُ شَيْئًا فِي السِّرِّ فَقَبِلَهُ.
Kemudian orang lain memberinya sesuatu secara rahasia, lalu ia menerimanya.
فَقِيلَ
لَهُ فِي ذٰلِكَ.
Lalu ia ditanya tentang hal itu.
فَقَالَ:
إِنَّ هٰذَا عَمِلَ الْأَدَبَ فِي إِخْفَاءِ مَعْرُوفِهِ فَقَبِلْتُهُ، وَذَاكَ
أَسَاءَ أَدَبَهُ فِي عَمَلِهِ فَرَدَدْتُهُ عَلَيْهِ.
Ia menjawab: “Orang ini telah beradab dengan menyembunyikan kebaikannya, maka
aku menerimanya. Sedangkan orang itu buruk adabnya dalam amalnya, maka aku
kembalikan kepadanya.”
وَأَعْطَى
رَجُلٌ لِبَعْضِ الصُّوفِيَّةِ شَيْئًا فِي الْمَلَإِ فَرَدَّهُ.
Ada seorang lelaki memberikan sesuatu kepada salah seorang sufi di hadapan
orang banyak, lalu ia menolaknya.
فَقَالَ
لَهُ: لِمَ تَرُدُّ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا أَعْطَاكَ؟
Pemberi itu bertanya: “Mengapa engkau menolak apa yang Allah عز وجل berikan kepadamu?”
فَقَالَ:
إِنَّكَ أَشْرَكْتَ غَيْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ فِيمَا كَانَ لِلَّهِ تَعَالَى،
وَلَمْ تَقْنَعْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَرَدَدْتُ عَلَيْكَ شِرْكَكَ.
Ia menjawab: “Engkau telah menyekutukan selain Allah سبحانه dalam sesuatu yang
seharusnya untuk Allah Ta‘ala, dan engkau tidak merasa cukup dengan Allah عز وجل.
Maka aku mengembalikan syirikmu kepadamu.”
وَقَبِلَ
بَعْضُ الْعَارِفِينَ فِي السِّرِّ شَيْئًا كَانَ يَرُدُّهُ فِي الْعَلَانِيَةِ.
Sebagian ahli ma‘rifat menerima sesuatu secara rahasia yang biasanya ia tolak
jika diberikan secara terang-terangan.
فَقِيلَ
لَهُ فِي ذٰلِكَ.
Lalu ia ditanya tentang hal itu.
فَقَالَ:
عَصَيْتَ اللهَ بِالْجَهْرِ فَلَمْ أَكُنْ عَوْنًا لَكَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ،
وَأَطَعْتَهُ بِالْإِخْفَاءِ فَأَعَنْتُكَ عَلَى بِرِّكَ.
Ia menjawab: “Ketika engkau memberikannya secara terang-terangan, engkau
bermaksiat kepada Allah, maka aku tidak mau menjadi pembantumu dalam maksiat.
Tetapi ketika engkau menyembunyikannya, engkau taat kepada-Nya, maka aku
membantumu dalam kebaikanmu.”
وَقَالَ
الثَّوْرِيُّ: لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَذْكُرُ صَدَقَتَهُ وَلَا
يَتَحَدَّثُ بِهَا لَقَبِلْتُ صَدَقَتَهُ.
Ats-Tsauri berkata: “Seandainya aku tahu bahwa salah seorang dari kalian tidak
akan menyebut-nyebut sedekahnya dan tidak akan membicarakannya, niscaya aku
akan menerima sedekahnya.”
اَلرَّابِعُ:
أَنَّ فِي إِظْهَارِ الْأَخْذِ ذُلًّا وَامْتِهَانًا، وَلَيْسَ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ
يُذِلَّ نَفْسَهُ.
Keempat, karena menampakkan penerimaan sedekah mengandung kehinaan dan
perendahan, padahal seorang mukmin tidak pantas merendahkan dirinya.
كَانَ
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ يَأْخُذُ فِي السِّرِّ وَلَا يَأْخُذُ فِي الْعَلَانِيَةِ.
Sebagian ulama dahulu mau menerima dalam keadaan rahasia, tetapi tidak mau
menerimanya secara terang-terangan.
وَيَقُولُ:
إِنَّ فِي إِظْهَارِهِ إِذْلَالًا لِلْعِلْمِ وَامْتِهَانًا لِأَهْلِهِ.
Ia berkata: “Karena menampakkannya berarti merendahkan ilmu dan menghinakan
para pemiliknya.”
فَمَا
كُنْتُ بِالَّذِي أَرْفَعُ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا بِوَضْعِ الْعِلْمِ
وَإِذْلَالِ أَهْلِهِ.
“Maka aku bukan orang yang akan mengangkat sesuatu dari dunia dengan cara
merendahkan ilmu dan menghinakan ahlinya.”
اَلْخَامِسُ:
الِاحْتِرَازُ عَنْ شُبْهَةِ الشَّرِكَةِ.
Kelima, menghindari syubhat adanya keserupaan dengan hadiah yang menjadi milik
bersama.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أُهْدِيَ لَهُ هَدِيَّةٌ وَعِنْدَهُ قَوْمٌ
فَهُمْ شُرَكَاؤُهُ فِيهَا.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Barang siapa diberi hadiah, sementara di sisinya ada
suatu kaum, maka mereka adalah sekutunya dalam hadiah itu.”
وَبِأَنْ
يَكُونَ وَرِقًا أَوْ ذَهَبًا لَا يَخْرُجُ عَنْ كَوْنِهِ هَدِيَّةً.
Dan hadiah berupa perak atau emas juga tetap tidak keluar dari makna hadiah.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ مَا يُهْدِي الرَّجُلُ إِلَى أَخِيهِ
وَرِقًا أَوْ يُطْعِمَهُ خُبْزًا.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Sebaik-baik yang dihadiahkan seseorang kepada
saudaranya ialah perak atau memberinya makan roti.”
فَجَعَلَ
الْوَرِقَ هَدِيَّةً بِانْفِرَادِهِ.
Maka beliau menjadikan perak sebagai hadiah dengan sendirinya.
فَمَا
يُعْطَى فِي الْمَلَإِ مَكْرُوهٌ إِلَّا بِرِضَا جَمِيعِهِمْ.
Maka apa yang diberikan di hadapan orang banyak adalah makruh kecuali dengan
kerelaan semua yang hadir.
وَلَا
يَخْلُو عَنْ شُبْهَةٍ.
Dan hal itu tidak lepas dari syubhat.
فَإِذَا
انْفَرَدَ سَلِمَ مِنْ هٰذِهِ الشُّبْهَةِ.
Jika dilakukan secara terpisah, maka selamatlah dari syubhat ini.
أَمَّا
الْإِظْهَارُ وَالتَّحَدُّثُ بِهِ، فَفِيهِ مَعَانٍ أَرْبَعَةٌ.
Adapun menampakkan dan membicarakan penerimaan sedekah, maka di dalamnya ada
empat makna.
اَلْأَوَّلُ:
الْإِخْلَاصُ وَالصِّدْقُ وَالسَّلَامَةُ عَنْ تَلْبِيسِ الْحَالِ وَالْمُرَاءَاةِ.
Pertama: keikhlasan, kejujuran, dan keselamatan dari pemalsuan keadaan serta
riya.
وَالثَّانِي:
إِسْقَاطُ الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ، وَإِظْهَارُ الْعُبُودِيَّةِ
وَالْمَسْكَنَةِ، وَالتَّبَرِّي عَنِ الْكِبْرِيَاءِ وَدَعْوَى الِاسْتِغْنَاءِ،
وَإِسْقَاطُ النَّفْسِ مِنْ أَعْيُنِ الْخَلْقِ.
Kedua: menjatuhkan kedudukan dan kemuliaan diri, menampakkan kehambaan dan
kemiskinan, berlepas diri dari kesombongan serta klaim merasa cukup, dan
merendahkan diri dari pandangan makhluk.
قَالَ
بَعْضُ الْعَارِفِينَ لِتِلْمِيذِهِ: أَظْهِرِ الْأَخْذَ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِنْ
كُنْتَ آخِذًا، فَإِنَّكَ لَا تَخْلُو عَنْ أَحَدِ رَجُلَيْنِ.
Sebagian ahli ma‘rifat berkata kepada muridnya: “Tampakkanlah penerimaan dalam
setiap keadaan jika engkau memang menerima, karena engkau tidak lepas dari
salah satu dari dua keadaan.”
رَجُلٌ
تَسْقُطُ مِنْ قَلْبِهِ إِذَا فَعَلْتَ ذٰلِكَ، فَذٰلِكَ هُوَ الْمُرَادُ،
لِأَنَّهُ أَسْلَمُ لِدِينِكَ وَأَقَلُّ لِآفَاتِ نَفْسِكَ.
“Pertama, ada orang yang akan jatuh kedudukannya dalam hatinya terhadapmu jika
engkau menampakkannya. Maka itulah yang dimaksud, karena itu lebih selamat bagi
agamamu dan lebih sedikit bencana bagi jiwamu.”
أَوْ
رَجُلٌ تَزْدَادُ فِي قَلْبِهِ بِإِظْهَارِكَ الصِّدْقَ، فَذٰلِكَ الَّذِي
يُرِيدُهُ أَخُوكَ، لِأَنَّهُ يَزْدَادُ ثَوَابًا بِزِيَادَةِ حُبِّهِ لَكَ
وَتَعْظِيمِهِ إِيَّاكَ، فَتُؤْجَرُ أَنْتَ إِذْ كُنْتَ سَبَبَ مَزِيدِ ثَوَابِهِ.
“Atau ada orang yang karena engkau menampakkannya justru bertambah keyakinannya
akan kejujuranmu. Maka itulah yang dikehendaki oleh saudaramu, karena pahalanya
bertambah dengan bertambahnya cintanya kepadamu dan pengagungannya terhadapmu.
Dan engkau pun diberi pahala karena menjadi sebab bertambahnya pahala dirinya.”
اَلثَّالِثُ:
هُوَ أَنَّ الْعَارِفَ لَا نَظَرَ لَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ،
وَالسِّرُّ وَالْعَلَانِيَةُ فِي حَقِّهِ وَاحِدٌ.
Ketiga: orang yang arif sejati tidak memandang kecuali kepada Allah عز وجل,
sehingga rahasia dan terang-terangan sama saja baginya.
وَاخْتِلَافُ
الْحَالِ شِرْكٌ فِي التَّوْحِيدِ.
Perbedaan sikap karena hadir atau tidak hadirnya manusia merupakan bentuk
syirik dalam tauhid.
قَالَ
بَعْضُهُمْ: كُنَّا لَا نُبَالِي بِدُعَاءِ مَنْ يَأْخُذُ فِي السِّرِّ وَيَرُدُّ
فِي الْعَلَانِيَةِ.
Sebagian mereka berkata: “Kami tidak menganggap doa orang yang menerima secara
rahasia tetapi menolak secara terang-terangan sebagai sesuatu yang bernilai.”
وَالِالْتِفَاتُ
إِلَى الْخَلْقِ حَضَرُوا أَمْ غَابُوا نُقْصَانٌ فِي الْحَالِ.
Menoleh kepada makhluk, baik mereka hadir ataupun tidak, adalah kekurangan
dalam keadaan spiritual.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ النَّظَرُ مَقْصُورًا عَلَى الْوَاحِدِ الْفَرْدِ.
Bahkan seharusnya pandangan itu dibatasi hanya kepada Dzat Yang Esa lagi
Tunggal.
حُكِيَ
أَنَّ بَعْضَ الشُّيُوخِ كَانَ كَثِيرَ الْمَيْلِ إِلَى وَاحِدٍ مِنْ جُمْلَةِ
الْمُرِيدِينَ، فَشَقَّ ذٰلِكَ عَلَى الْآخَرِينَ.
Dikisahkan bahwa salah seorang syekh sangat cenderung kepada satu orang dari
para muridnya, dan hal itu memberatkan yang lain.
فَأَرَادَ
أَنْ يُظْهِرَ لَهُمْ فَضْلَ ذٰلِكَ الْمُرِيدِ، فَأَعْطَى كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ
دَجَاجَةً، وَقَالَ: لِيَنْفَرِدْ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْكُمْ بِهَا، وَلْيَذْبَحْهَا
حَيْثُ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ.
Maka sang syekh ingin menampakkan kelebihan murid itu kepada mereka. Ia
memberikan seekor ayam kepada masing-masing dan berkata: “Hendaklah setiap
kalian menyendiri dengan ayam ini, lalu menyembelihnya di tempat yang tidak
dilihat seorang pun.”
فَانْفَرَدَ
كُلُّ وَاحِدٍ وَذَبَحَ، إِلَّا ذٰلِكَ الْمُرِيدَ، فَإِنَّهُ رَدَّ الدَّجَاجَةَ.
Masing-masing pun menyendiri dan menyembelihnya, kecuali murid itu. Ia justru
mengembalikan ayam tersebut.
فَسَأَلَهُمْ،
فَقَالُوا: فَعَلْنَا مَا أَمَرَنَا بِهِ الشَّيْخُ.
Sang syekh bertanya kepada mereka, lalu mereka menjawab: “Kami telah melakukan
apa yang diperintahkan syekh.”
فَقَالَ
لِلْمُرِيدِ: مَا لَكَ لَمْ تَذْبَحْ كَمَا ذَبَحَ أَصْحَابُكَ؟
Lalu ia bertanya kepada murid itu: “Mengapa engkau tidak menyembelih
sebagaimana teman-temanmu menyembelih?”
فَقَالَ
ذٰلِكَ الْمُرِيدُ: لَمْ أَقْدِرْ عَلَى مَكَانٍ لَا يَرَانِي فِيهِ أَحَدٌ،
فَإِنَّ اللهَ يَرَانِي فِي كُلِّ مَوْضِعٍ.
Murid itu menjawab: “Aku tidak mampu menemukan tempat yang di sana tidak ada
seorang pun yang melihatku, karena Allah melihatku di setiap tempat.”
فَقَالَ
الشَّيْخُ: لِهٰذَا أَمِيلُ إِلَيْهِ، لِأَنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ لِغَيْرِ اللهِ
عَزَّ وَجَلَّ.
Maka sang syekh berkata: “Karena inilah aku cenderung kepadanya, sebab ia tidak
menoleh kepada selain Allah عز وجل.”
اَلرَّابِعُ:
أَنَّ الْإِظْهَارَ إِقَامَةٌ لِسُنَّةِ الشُّكْرِ.
Keempat: menampakkan penerimaan sedekah itu berarti menegakkan sunnah
bersyukur.
وَقَدْ
قَالَ تَعَالَى: وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”
وَالْكِتْمَانُ
كُفْرَانُ النِّعْمَةِ.
Menyembunyikan nikmat, dalam بعض
الأحوال, dapat menjadi bentuk tidak mensyukurinya.
وَقَدْ
ذَمَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ كَتَمَ مَا آتَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ،
وَقَرَنَهُ بِالْبُخْلِ.
Allah عز وجل
telah mencela orang yang menyembunyikan apa yang Allah berikan kepadanya dan
menghubungkannya dengan sifat bakhil.
فَقَالَ
تَعَالَى: الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ
وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Yaitu orang-orang yang bakhil, menyuruh manusia
berbuat bakhil, dan menyembunyikan apa yang Allah berikan kepada mereka dari
karunia-Nya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً
أَحَبَّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَيْهِ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Apabila Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang
hamba, Dia suka melihat bekas nikmat-Nya tampak pada hamba itu.”
وَأَعْطَى
رَجُلٌ بَعْضَ الصَّالِحِينَ شَيْئًا فِي السِّرِّ، فَرَفَعَ بِهِ يَدَهُ وَقَالَ:
هٰذَا مِنَ الدُّنْيَا، وَالْعَلَانِيَةُ فِيهَا أَفْضَلُ، وَالسِّرُّ فِي أُمُورِ
الْآخِرَةِ أَفْضَلُ.
Seseorang memberikan sesuatu kepada salah seorang saleh secara rahasia. Maka
orang saleh itu mengangkat tangannya dengannya dan berkata: “Ini termasuk
urusan dunia. Maka menampakkannya dalam urusan dunia lebih utama, sedangkan
merahasiakan itu lebih utama dalam urusan akhirat.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ بَعْضُهُمْ: إِذَا أُعْطِيتَ فِي الْمَلَإِ فَخُذْ، ثُمَّ رُدَّ فِي
السِّرِّ.
Karena itu sebagian mereka berkata: “Jika engkau diberi di hadapan orang
banyak, maka ambillah, kemudian kembalikanlah secara rahasia.”
وَالشُّكْرُ
فِيهِ مَحْثُوثٌ عَلَيْهِ.
Dan syukur dalam keadaan seperti itu memang dianjurkan.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia,
maka ia tidak bersyukur kepada Allah عز وجل.”
وَالشُّكْرُ
قَائِمٌ مَقَامَ الْمُكَافَأَةِ.
Rasa syukur menempati kedudukan membalas kebaikan.
حَتَّى
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَسْدَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا
فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِيعُوا فَأَثْنُوا عَلَيْهِ بِهِ خَيْرًا
وَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ.
Sampai Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa berbuat baik kepada kalian, maka
balaslah ia. Jika kalian tidak mampu, maka pujilah dia dengan baik dan
doakanlah dia sampai kalian merasa telah membalasnya.”
وَلَمَّا
قَالَ الْمُهَاجِرُونَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا رَأَيْنَا خَيْرًا مِنْ قَوْمٍ
نَزَلْنَا عَلَيْهِمْ، قَاسَمُونَا الْأَمْوَالَ، حَتَّى خِفْنَا أَنْ يَذْهَبُوا
بِالْأَجْرِ كُلِّهِ.
Ketika kaum Muhajirin berkata: “Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat
kaum yang lebih baik daripada kaum yang kami singgahi. Mereka membagi harta
mereka kepada kami, sampai-sampai kami khawatir mereka akan membawa seluruh
pahala.”
فَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَا شَكَرْتُمْ لَهُمْ وَأَثْنَيْتُمْ
عَلَيْهِمْ بِهِ فَهُوَ مُكَافَأَةٌ.
Maka Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Segala bentuk syukur dan pujian kalian kepada mereka
itu adalah balasan bagi mereka.”
فَالْآنَ
إِذَا عَرَفْتَ هٰذِهِ الْمَعَانِي فَاعْلَمْ أَنَّ مَا نُقِلَ مِنِ اخْتِلَافِ
النَّاسِ فِيهِ لَيْسَ اخْتِلَافًا فِي الْمَسْأَلَةِ، بَلْ هُوَ اخْتِلَافُ حَالٍ.
Sekarang, jika engkau telah mengetahui makna-makna ini, ketahuilah bahwa apa
yang dinukil dari perbedaan pendapat manusia dalam masalah ini sebenarnya bukan
perbedaan tentang hukum pokoknya, tetapi perbedaan keadaan.
فَكَشْفُ
الْغِطَاءِ فِي هٰذَا أَنَّا لَا نَحْكُمُ حُكْمًا بَتًّا بِأَنَّ الْإِخْفَاءَ
أَفْضَلُ فِي كُلِّ حَالٍ، أَوْ أَنَّ الْإِظْهَارَ أَفْضَلُ.
Penjelasan yang sebenarnya adalah bahwa kita tidak menetapkan secara mutlak
bahwa menyembunyikan lebih utama dalam setiap keadaan, atau bahwa menampakkan
lebih utama.
بَلْ
يَخْتَلِفُ ذٰلِكَ بِاخْتِلَافِ النِّيَّاتِ، وَتَخْتَلِفُ النِّيَّاتُ
بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ.
Sebaliknya, hal itu berbeda sesuai dengan perbedaan niat, dan niat itu sendiri
berbeda sesuai perbedaan keadaan dan orangnya.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَكُونَ الْمُخْلِصُ مُرَاقِبًا لِنَفْسِهِ حَتَّى لَا يَتَدَلَّى بِحَبْلِ
الْغُرُورِ، وَلَا يَنْخَدِعَ بِتَلْبِيسِ الطَّبْعِ وَمَكْرِ الشَّيْطَانِ.
Maka orang yang ingin ikhlas harus selalu mengawasi dirinya, agar ia tidak
terjerumus dengan tali غرور
dan tidak tertipu oleh tipu daya tabiat serta makar setan.
وَالْمَكْرُ
وَالْخِدَاعُ أَغْلَبُ فِي مَعَانِي الْإِخْفَاءِ مِنْهُ فِي الْإِظْهَارِ، مَعَ
أَنَّ لَهُ دَخْلًا فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.
Makar dan tipu daya lebih banyak menyelinap dalam makna menyembunyikan daripada
dalam menampakkan, meskipun keduanya sama-sama bisa dimasuki penyakit hati.
فَأَمَّا
مَدْخَلُ الْخِدَاعِ فِي الْإِسْرَارِ فَمِنْ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلَيْهِ، لِمَا
فِيهِ مِنْ خَفْضِ الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ وَسُقُوطِ الْقَدْرِ عَنْ أَعْيُنِ
النَّاسِ، وَنَظَرِ الْخَلْقِ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الِازْدِرَاءِ، وَإِلَى
الْمُعْطِي بِعَيْنِ الْمُنْعِمِ الْمُحْسِنِ.
Adapun masuknya tipu daya dalam bersikap rahasia itu berasal dari kecenderungan
tabiat kepada hal tersebut, karena di dalamnya ada kesan menjatuhkan kedudukan
dan martabat, hilangnya kehormatan dari pandangan manusia, pandangan makhluk
kepadanya dengan mata merendahkan, dan pandangan kepada pemberi sebagai orang
yang berjasa dan memberi nikmat.
فَهٰذَا
هُوَ الدَّاءُ الدَّفِينُ، وَيَسْتَكِنُّ فِي النَّفْسِ.
Inilah penyakit yang tersembunyi dan tersimpan dalam jiwa.
وَلِلشَّيْطَانِ
بِوَاسِطَتِهِ أَنْ يُظْهِرَ مَعَانِيَ الْخَيْرِ، حَتَّى يَتَعَلَّلَ
بِالْمَعَانِي الْخَمْسَةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا.
Melalui celah ini setan bisa menampilkan seolah-olah ada makna kebaikan,
sehingga seseorang berdalih dengan lima makna yang telah kami sebutkan.
وَمِعْيَارُ
كُلِّ ذٰلِكَ وَمِحَكُّهُ أَمْرٌ وَاحِدٌ.
Ukuran dan batu ujinya hanya satu.
وَهُوَ
أَنْ يَكُونَ تَأَلُّمُهُ بِانْكِشَافِ أَخْذِهِ الصَّدَقَةَ كَتَأَلُّمِهِ
بِانْكِشَافِ صَدَقَةٍ أَخَذَهَا بَعْضُ نُظَرَائِهِ وَأَمْثَالِهِ.
Yaitu bahwa rasa sakitnya karena terbukanya ia menerima sedekah sama seperti
rasa sakitnya jika terbuka bahwa salah satu orang yang setara dengannya
menerima sedekah.
فَإِنْ
كَانَ يَبْغِي صِيَانَةَ النَّاسِ عَنِ الْغِيبَةِ وَالْحَسَدِ وَسُوءِ الظَّنِّ،
أَوْ يَتَّقِي انْتِهَاكَ السِّتْرِ، أَوْ إِعَانَةَ الْمُعْطِي عَلَى
الْإِسْرَارِ، أَوْ صِيَانَةَ الْعِلْمِ عَنِ الِابْتِذَالِ، فَكُلُّ ذٰلِكَ
مِمَّا يَحْصُلُ بِانْكِشَافِ صَدَقَةِ أَخِيهِ.
Jika tujuan dirinya ialah menjaga manusia dari ghibah, hasad, dan buruk sangka,
atau menjaga kehormatan dari tersingkap, atau membantu pemberi untuk
merahasiakan amalnya, atau menjaga ilmu dari kehinaan, maka semua itu juga
terjadi apabila sedekah saudaranya tersingkap.
فَإِنْ
كَانَ انْكِشَافُ أَمْرِهِ أَثْقَلَ عَلَيْهِ مِنِ انْكِشَافِ أَمْرِ غَيْرِهِ،
فَتَقْدِيرُهُ الْحَذَرَ مِنْ هٰذِهِ الْمَعَانِي أَغَالِيطُ وَأَبَاطِيلُ مِنْ
مَكْرِ الشَّيْطَانِ وَخِدَعِهِ.
Jika tersingkapnya keadaan dirinya terasa lebih berat baginya daripada
tersingkapnya keadaan orang lain, maka klaim bahwa ia hanya sedang menjaga
makna-makna tersebut adalah kekeliruan dan kepalsuan, yang berasal dari tipu
daya dan makar setan.
فَإِنَّ
إِذْلَالَ الْعِلْمِ مَحْذُورٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ عِلْمٌ، لَا مِنْ حَيْثُ
إِنَّهُ عِلْمُ زَيْدٍ أَوْ عِلْمُ عَمْرٍو.
Karena merendahkan ilmu itu tercela dari sisi bahwa ia adalah ilmu, bukan
karena ia ilmu milik Zaid atau Amr.
وَالْغِيبَةُ
مَحْظُورَةٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا تَعَرُّضٌ لِعِرْضٍ مَصُونٍ، لَا مِنْ حَيْثُ
إِنَّهَا تَعَرُّضٌ لِعِرْضِ زَيْدٍ عَلَى الْخُصُوصِ.
Ghibah juga terlarang karena ia menyerang kehormatan yang terjaga, bukan
semata-mata karena ia menyerang kehormatan Zaid secara khusus.
وَمَنْ
أَحْسَنَ مِنْ مُلَاحَظَةِ مِثْلِ هٰذَا رُبَّمَا يَعْجِزُ الشَّيْطَانُ عَنْهُ.
Barang siapa baik dalam memperhatikan ukuran semacam ini, maka setan mungkin
akan lemah di hadapannya.
وَإِلَّا
فَلَا يَزَالُ كَثِيرَ الْعَمَلِ قَلِيلَ الْحَظِّ.
Kalau tidak demikian, ia akan tetap menjadi orang yang banyak beramal tetapi
sedikit bagian pahalanya.
وَأَمَّا
جَانِبُ الْإِظْهَارِ فَمَيْلُ الطَّبْعِ إِلَيْهِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ تَطْيِيبٌ
لِقَلْبِ الْمُعْطِي، وَاسْتِحْثَاثٌ لَهُ عَلَى مِثْلِهِ، وَإِظْهَارٌ عِنْدَ
غَيْرِهِ أَنَّهُ مِنَ الْمُبَالِغِينَ فِي الشُّكْرِ، حَتَّى يَرْغَبُوا فِي
إِكْرَامِهِ وَتَفَقُّدِهِ.
Adapun sisi menampakkan penerimaan, maka kecenderungan tabiat kepadanya berasal
dari anggapan bahwa hal itu menyenangkan hati si pemberi, mendorongnya untuk
memberi lagi, dan menampakkan kepada orang lain bahwa ia termasuk orang yang
sangat pandai bersyukur, sehingga mereka pun tertarik untuk memuliakan dan
memperhatikannya.
وَهٰذَا
دَاءٌ دَفِينٌ فِي الْبَاطِنِ.
Dan ini adalah penyakit batin yang tersembunyi.
وَالشَّيْطَانُ
لَا يَقْدِرُ عَلَى الْمُتَدَيِّنِ إِلَّا بِأَنْ يُرَوِّجَ عَلَيْهِ هٰذَا
الْخُبْثَ فِي مَعْرِضِ السُّنَّةِ.
Setan tidak mampu menipu orang yang beragama kecuali dengan menghiasi keburukan
ini dalam bungkus sunah.
وَيَقُولَ
لَهُ: الشُّكْرُ مِنَ السُّنَّةِ، وَالْإِخْفَاءُ مِنَ الرِّيَاءِ.
Ia berkata kepadanya: “Bersyukur itu sunah, sedangkan menyembunyikan penerimaan
itu riya.”
وَيُورِدَ
عَلَيْهِ الْمَعَانِيَ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا، لِيَحْمِلَهُ عَلَى الْإِظْهَارِ،
وَقَصْدُهُ الْبَاطِنُ مَا ذَكَرْنَاهُ.
Setan mengajukan makna-makna yang telah kami sebutkan untuk mendorongnya
menampakkan penerimaan, padahal tujuan batinnya adalah apa yang telah kami
jelaskan tadi.
وَمِعْيَارُ
ذٰلِكَ وَمِحَكُّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَيْلِ نَفْسِهِ إِلَى الشُّكْرِ، حَيْثُ
لَا يَنْتَهِي الْخَبَرُ إِلَى الْمُعْطِي وَلَا إِلَى مَنْ يَرْغَبُ فِي
عَطَائِهِ.
Ukuran dan ujian bagi hal ini ialah ia melihat kecenderungan dirinya untuk
bersyukur, dalam keadaan ketika berita itu tidak sampai kepada si pemberi dan
tidak pula sampai kepada orang yang ia harap akan memberinya.
وَبَيْنَ
يَدَيْ جَمَاعَةٍ يَكْرَهُونَ إِظْهَارَ الْعَطِيَّةِ وَيَرْغَبُونَ فِي
إِخْفَائِهَا، وَعَادَتُهُمْ أَنَّهُمْ لَا يُعْطُونَ إِلَّا مَنْ يُخْفِي وَلَا
يَشْكُرُ.
Di hadapan orang-orang yang membenci penampakan hadiah dan menyukai
penyembunyiannya, serta kebiasaan mereka tidak memberi kecuali kepada orang
yang menyembunyikan dan tidak berterima kasih secara terbuka.
فَإِنِ
اسْتَوَتْ هٰذِهِ الْأَحْوَالُ عِنْدَهُ، فَلْيَعْلَمْ أَنَّ بَاعِثَهُ هُوَ
إِقَامَةُ السُّنَّةِ فِي الشُّكْرِ وَالتَّحَدُّثِ بِالنِّعْمَةِ، وَإِلَّا
فَهُوَ مَغْرُورٌ.
Jika seluruh keadaan ini terasa sama baginya, maka ketahuilah bahwa
pendorongnya benar-benar adalah menegakkan sunah syukur dan menceritakan
nikmat. Jika tidak, maka ia tertipu.
ثُمَّ
إِذَا عَلِمَ أَنَّ بَاعِثَهُ السُّنَّةُ فِي الشُّكْرِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ
يَغْفُلَ عَنْ قَضَاءِ حَقِّ الْمُعْطِي.
Kemudian apabila ia tahu bahwa yang mendorongnya adalah sunah dalam bersyukur,
maka hendaknya ia tidak lalai dari menunaikan hak si pemberi.
فَيَنْظُرْ،
فَإِنْ كَانَ هُوَ مِمَّنْ يُحِبُّ الشُّكْرَ وَالنَّشْرَ، فَيَنْبَغِي أَنْ
يُخْفِيَ وَلَا يَشْكُرَ، لِأَنَّ قَضَاءَ حَقِّهِ أَنْ لَا يَنْصُرَهُ عَلَى
الظُّلْمِ، وَطَلَبُهُ الشُّكْرَ ظُلْمٌ.
Maka hendaknya ia memperhatikan. Jika si pemberi termasuk orang yang suka
dipuji dan suka نشر
pemberiannya, maka sebaiknya si penerima menyembunyikan dan tidak bersyukur
secara terang-terangan, karena menunaikan hak si pemberi berarti tidak
membantunya dalam kezaliman, dan tuntutannya terhadap pujian adalah kezaliman.
وَإِذَا
عَلِمَ مِنْ حَالِهِ أَنَّهُ لَا يُحِبُّ الشُّكْرَ وَلَا يَقْصِدُهُ، فَعِنْدَ
ذٰلِكَ يَشْكُرُهُ وَيُظْهِرُ صَدَقَتَهُ.
Dan jika ia mengetahui dari keadaannya bahwa si pemberi tidak menyukai pujian
dan tidak bermaksud mencarinya, maka pada saat itulah si penerima boleh
bersyukur kepadanya dan menampakkan bahwa ia menerima sedekah itu.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلرَّجُلِ الَّذِي مُدِحَ بَيْنَ
يَدَيْهِ: ضَرَبْتُمْ عُنُقَهُ، لَوْ سَمِعَهَا مَا أَفْلَحَ.
Karena itu Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda tentang seorang lelaki yang dipuji di hadapannya:
“Kalian telah memenggal lehernya. Seandainya ia mendengarnya, niscaya ia tidak
akan beruntung.”
مَعَ
أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُثْنِي عَلَى قَوْمٍ فِي
وُجُوهِهِمْ، لِثِقَتِهِ بِيَقِينِهِمْ، وَعِلْمِهِ بِأَنَّ ذٰلِكَ لَا
يَضُرُّهُمْ، بَلْ يَزِيدُ فِي رَغْبَتِهِمْ فِي الْخَيْرِ.
Padahal Nabi صلى
الله عليه وسلم juga pernah memuji sebagian orang di hadapan mereka secara
langsung, karena beliau percaya pada keyakinan mereka dan mengetahui bahwa hal
itu tidak akan membahayakan mereka, bahkan akan menambah semangat mereka dalam
kebaikan.
فَقَالَ
لِوَاحِدٍ: إِنَّهُ سَيِّدُ أَهْلِ الْوَبَرِ.
Beliau berkata tentang seseorang: “Sesungguhnya ia adalah pemimpin penduduk
pedalaman.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخَرَ: إِذَا جَاءَكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ
فَأَكْرِمُوهُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda tentang orang lain: “Apabila datang kepada kalian
orang yang mulia di tengah kaumnya, maka muliakanlah dia.”
وَسَمِعَ
كَلَامَ رَجُلٍ فَأَعْجَبَهُ، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ
مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا.
Beliau mendengar ucapan seseorang lalu kagum dengannya, maka beliau صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Sesungguhnya sebagian kefasihan itu benar-benar
seperti sihir.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا عَلِمَ أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ خَيْرًا
فَلْيُخْبِرْهُ، فَإِنَّهُ يَزْدَادُ رَغْبَةً فِي الْخَيْرِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian mengetahui suatu
kebaikan pada saudaranya, hendaklah ia memberitahukannya, karena itu akan
menambah keinginannya dalam kebaikan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مُدِحَ الْمُؤْمِنُ رَبَا الْإِيمَانُ فِي
قَلْبِهِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Apabila seorang mukmin dipuji, maka iman tumbuh di
dalam hatinya.”
وَقَالَ
الثَّوْرِيُّ: مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ لَمْ يَضُرَّهُ مَدْحُ النَّاسِ.
Ats-Tsauri berkata: “Barang siapa mengenal dirinya, maka pujian manusia tidak
akan membahayakannya.”
وَقَالَ
أَيْضًا لِيُوسُفَ بْنِ أَسْبَاطٍ: إِذَا أَوْلَيْتُكَ مَعْرُوفًا كُنْتُ أَنَا
أَسَرُّ بِهِ مِنْكَ، وَرَأَيْتُ ذٰلِكَ نِعْمَةً مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
عَلَيَّ، فَاشْكُرْ، وَإِلَّا فَلَا تَشْكُرْ.
Dan ia juga berkata kepada Yusuf bin Asbath: “Jika aku berbuat baik kepadamu,
maka aku lebih gembira dengannya daripada dirimu, dan aku memandang hal itu
sebagai nikmat dari Allah عز وجل
atasku. Maka jika engkau mau, bersyukurlah. Jika tidak, maka jangan.”
وَرَقَائِقُ
هٰذِهِ الْمَعَانِي يَنْبَغِي أَنْ يُلَاحِظَهَا مَنْ يُرَاعِي قَلْبَهُ.
Rincian halus dari makna-makna ini harus diperhatikan oleh orang yang menjaga
hatinya.
فَإِنَّ
أَعْمَالَ الْجَوَارِحِ مَعَ إِهْمَالِ هٰذِهِ الدَّقَائِقِ ضَحِكَةٌ
لِلشَّيْطَانِ وَشَمَاتَةٌ لَهُ، لِكَثْرَةِ التَّعَبِ وَقِلَّةِ النَّفْعِ.
Karena amal-amal anggota badan, jika dilakukan sambil mengabaikan rincian halus
ini, akan menjadi bahan tertawaan setan dan sebab ia bergembira, sebab banyak
lelah namun sedikit manfaat.
وَمِثْلُ
هٰذَا الْعِلْمِ هُوَ الَّذِي يُقَالُ فِيهِ: إِنَّ تَعَلُّمَ مَسْأَلَةٍ
وَاحِدَةٍ مِنْهُ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ.
Ilmu seperti inilah yang disebut bahwa mempelajari satu masalah darinya lebih
utama daripada ibadah setahun.
إِذْ
بِهٰذَا الْعِلْمِ تَحْيَا عِبَادَةُ الْعَمَلِ، وَبِالْجَهْلِ بِهِ تَمُوتُ
عِبَادَةُ الْعَمَلِ كُلِّهِ وَتَتَعَطَّلُ.
Karena dengan ilmu inilah ibadah amal menjadi hidup, dan dengan kebodohan
terhadapnya seluruh ibadah amal menjadi mati dan sia-sia.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَالْأَخْذُ فِي الْمَلَإِ وَالرَّدُّ فِي السِّرِّ أَحْسَنُ
الْمَسَالِكِ وَأَسْلَمُهَا.
Secara umum, menerima di hadapan orang banyak lalu mengembalikannya secara
rahasia adalah jalan yang paling baik dan paling selamat.
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يُدْفَعَ بِالتَّزْوِيقَاتِ إِلَّا أَنْ تَكْمُلَ الْمَعْرِفَةُ،
بِحَيْثُ يَسْتَوِيَ السِّرُّ وَالْعَلَانِيَةُ.
Maka janganlah seseorang tertipu oleh hiasan-hiasan alasan sampai
pengetahuannya benar-benar sempurna, yakni ketika baginya rahasia dan
terang-terangan telah sama.
وَذٰلِكَ
هُوَ الْكِبْرِيتُ الْأَحْمَرُ الَّذِي يُتَحَدَّثُ بِهِ وَلَا يُرَى.
Itulah “belerang merah” yang sering dibicarakan tetapi hampir tidak pernah
ditemukan.
نَسْأَلُ
اللهَ الْكَرِيمَ حُسْنَ الْعَوْنِ وَالتَّوْفِيقِ.
Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia pertolongan dan taufik yang baik.
بَيَانُ
الْأَفْضَلِ مِنْ أَخْذِ الصَّدَقَةِ أَوِ الزَّكَاةِ.
Penjelasan tentang mana yang lebih utama: menerima sedekah atau menerima zakat.
كَانَ
إِبْرَاهِيمُ الْخَوَّاصُّ وَالْجُنَيْدُ وَجَمَاعَةٌ يَرَوْنَ أَنَّ الْأَخْذَ
مِنَ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ.
Ibrahim al-Khawwāṣ, al-Junaid, dan sekelompok ulama memandang bahwa menerima
dari sedekah sunah lebih utama.
فَإِنَّ
فِي أَخْذِ الزَّكَاةِ مُزَاحَمَةً لِلْمَسَاكِينِ وَتَضْيِيقًا عَلَيْهِمْ.
Karena dalam menerima zakat ada persaingan dengan orang-orang miskin dan dapat
menyempitkan bagian mereka.
وَلِأَنَّهُ
رُبَّمَا لَا يَكْمُلُ فِي أَخْذِهِ صِفَةُ الِاسْتِحْقَاقِ، كَمَا وُصِفَ فِي
الْكِتَابِ الْعَزِيزِ.
Dan karena boleh jadi pada orang yang menerima zakat belum sempurna sifat
berhak menerima sebagaimana digambarkan dalam Kitab Allah.
وَأَمَّا
الصَّدَقَةُ فَالْأَمْرُ فِيهَا أَوْسَعُ.
Sedangkan pada sedekah sunah, perkaranya lebih luas.
وَقَالَ
قَائِلُونَ بِأَخْذِ الزَّكَاةِ دُونَ الصَّدَقَةِ، لِأَنَّهَا إِعَانَةٌ عَلَى
الْوَاجِبِ.
Sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa menerima zakat lebih utama
daripada sedekah sunah, karena zakat itu membantu terlaksananya kewajiban.
وَلَوْ
تَرَكَ الْمَسَاكِينُ كُلُّهُمْ أَخْذَ الزَّكَاةِ لَأَثِمُوا.
Seandainya semua orang miskin menolak menerima zakat, niscaya mereka berdosa.
وَلِأَنَّ
الزَّكَاةَ لَا مِنَّةَ فِيهَا، وَإِنَّمَا هِيَ حَقٌّ وَاجِبٌ لِلَّهِ
سُبْحَانَهُ، رِزْقًا لِعِبَادِهِ الْمُحْتَاجِينَ.
Dan karena dalam zakat tidak ada unsur jasa pemberi, melainkan ia adalah hak
wajib milik Allah سبحانه
sebagai rezeki bagi hamba-hamba-Nya yang membutuhkan.
وَلِأَنَّهُ
أَخْذٌ بِالْحَاجَةِ، وَالْإِنْسَانُ يَعْلَمُ حَاجَةَ نَفْسِهِ قَطْعًا.
Dan karena menerima zakat itu didasarkan pada kebutuhan, sedangkan seseorang
mengetahui kebutuhannya sendiri secara pasti.
وَأَخْذُ
الصَّدَقَةِ أَخْذٌ بِالدِّينِ، فَإِنَّ الْغَالِبَ أَنَّ الْمُتَصَدِّقَ يُعْطِي
مَنْ يَعْتَقِدُ فِيهِ خَيْرًا.
Sedangkan menerima sedekah sunah lebih banyak berkaitan dengan agama, sebab
biasanya orang yang bersedekah memberi kepada orang yang ia yakini memiliki
kebaikan.
وَلِأَنَّ
مُرَافَقَةَ الْمَسَاكِينِ أَدْخَلُ فِي الذُّلِّ وَالْمَسْكَنَةِ، وَأَبْعَدُ
مِنَ التَّكَبُّرِ.
Dan karena menyertai keadaan orang-orang miskin lebih dekat kepada kerendahan
hati dan kemiskinan, serta lebih jauh dari kesombongan.
إِذْ
قَدْ يَأْخُذُ الْإِنْسَانُ الصَّدَقَةَ فِي مَعْرِضِ الْهَدِيَّةِ فَلَا
تَتَمَيَّزُ عَنْهَا، وَهٰذَا تَنْصِيصٌ عَلَى ذُلِّ الْآخِذِ وَحَاجَتِهِ.
Sebab seseorang mungkin menerima sedekah sunah dalam bentuk hadiah sehingga
tidak tampak sebagai kebutuhan, sedangkan menerima zakat lebih jelas
menunjukkan kehinaan dan kebutuhannya.
وَالْقَوْلُ
الْحَقُّ فِي هٰذَا يَخْتَلِفُ بِأَحْوَالِ الشَّخْصِ، وَمَا يَغْلِبُ عَلَيْهِ،
وَمَا يَحْضُرُهُ مِنَ النِّيَّةِ.
Pendapat yang benar dalam masalah ini berbeda sesuai keadaan orangnya, sifat
yang dominan padanya, dan niat yang hadir dalam dirinya.
فَإِنْ
كَانَ فِي شُبْهَةٍ مِنِ اتِّصَافِهِ بِصِفَةِ الِاسْتِحْقَاقِ، فَلَا يَنْبَغِي
أَنْ يَأْخُذَ الزَّكَاةَ.
Jika dirinya masih berada dalam syubhat apakah ia benar-benar memiliki sifat
berhak menerima, maka tidak patut baginya mengambil zakat.
فَإِذَا
عَلِمَ أَنَّهُ مُسْتَحِقٌّ قَطْعًا، إِذَا حَصَلَ عَلَيْهِ دَيْنٌ صَرَفَهُ إِلَى
خَيْرٍ، وَلَيْسَ لَهُ وَجْهٌ فِي قَضَائِهِ، فَهُوَ مُسْتَحِقٌّ قَطْعًا.
Jika ia tahu secara pasti bahwa dirinya benar-benar berhak, misalnya karena ia
memiliki utang yang timbul untuk kebaikan dan tidak punya jalan untuk
melunasinya, maka ia benar-benar berhak.
فَإِذَا
خُيِّرَ هٰذَا بَيْنَ الزَّكَاةِ وَبَيْنَ الصَّدَقَةِ، فَإِنْ كَانَ صَاحِبُ
الصَّدَقَةِ لَا يَتَصَدَّقُ بِذٰلِكَ الْمَالِ لَوْ لَمْ يَأْخُذْهُ هُوَ،
فَلْيَأْخُذِ الصَّدَقَةَ.
Jika orang seperti ini diberi pilihan antara zakat dan sedekah sunah, lalu si
pemberi sedekah tidak akan memberi harta itu jika bukan kepadanya, maka
hendaknya ia mengambil sedekah sunah.
فَإِنَّ
الزَّكَاةَ الْوَاجِبَةَ يَصْرِفُهَا صَاحِبُهَا إِلَى مُسْتَحِقِّهَا، فَفِي
ذٰلِكَ تَكْثِيرُ الْخَيْرِ وَتَوْسِيعٌ عَلَى الْمَسَاكِينِ.
Karena zakat wajib pasti akan disalurkan pemiliknya kepada yang berhak,
sehingga dengan mengambil sedekah sunah itu, kebaikan menjadi lebih banyak dan
kesempatan bagi fakir miskin pun lebih luas.
وَإِنْ
كَانَ الْمَالُ مُعَرَّضًا لِلصَّدَقَةِ وَلَمْ يَكُنْ فِي أَخْذِ الزَّكَاةِ
تَضْيِيقٌ عَلَى الْمَسَاكِينِ، فَهُوَ مُخَيَّرٌ، وَالْأَمْرُ فِيهِمَا
يَتَفَاوَتُ.
Namun jika harta itu memang disiapkan untuk sedekah, dan mengambil zakat tidak
menyempitkan bagian orang-orang miskin, maka ia boleh memilih. Dan perkara
keduanya berbeda-beda sesuai keadaan.
وَأَخْذُ
الزَّكَاةِ أَشَدُّ فِي كَسْرِ النَّفْسِ وَإِذْلَالِهَا فِي أَغْلَبِ
الْأَحْوَالِ، وَاللهُ أَعْلَمُ.
Menerima zakat dalam kebanyakan keadaan lebih kuat dalam mematahkan ego dan
merendahkan jiwa. Dan Allah lebih mengetahui.