Penjelasan Tentang Tugas-Tugas Penerima Zakat
بَيَانُ وَظَائِفِ الْقَابِضِ، وَهِيَ خَمْسٌ.
Penjelasan tentang tugas-tugas penerima zakat, dan jumlahnya ada lima.
اَلْأُولَى:
أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْجَبَ صَرْفَ الزَّكَاةِ إِلَيْهِ
لِيَكْفِيَ هَمَّهُ وَيَجْعَلَ هُمُومَهُ هَمًّا وَاحِدًا.
Yang pertama: hendaknya ia mengetahui bahwa Allah عز وجل mewajibkan zakat
dialirkan kepadanya agar dapat mencukupi kesusahannya dan menjadikan seluruh
kegelisahannya hanya satu kegelisahan saja.
فَقَدْ
تَعَبَّدَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْخَلْقَ بِأَنْ يَكُونَ هَمُّهُمْ وَاحِدًا،
وَهُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَالْيَوْمُ الْآخِرُ.
Sesungguhnya Allah عز وجل
telah membebani makhluk agar perhatian mereka hanya satu, yaitu Allah سبحانه
dan hari akhir.
وَهُوَ
الْمَعْنَى بِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ.
Inilah makna firman Allah Ta‘ala: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia
kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
وَلٰكِنْ
لَمَّا اقْتَضَتِ الْحِكْمَةُ أَنْ يُسَلِّطَ عَلَى الْعَبْدِ الشَّهَوَاتَ
وَالْحَاجَاتِ، وَهِيَ تُفَرِّقُ هَمَّهُ.
Akan tetapi, karena hikmah Allah menuntut agar seorang hamba dikelilingi oleh
syahwat dan kebutuhan, sedangkan semua itu memecah perhatiannya.
اِقْتَضَى
الْكَرَمُ إِفَاضَةَ نِعْمَةٍ تَكْفِي الْحَاجَاتِ.
Maka kemurahan Allah menuntut dicurahkannya nikmat yang mencukupi
kebutuhan-kebutuhan itu.
فَأَكْثَرَ
الْأَمْوَالَ وَصَبَّهَا فِي أَيْدِي عِبَادِهِ، لِتَكُونَ آلَةً لَهُمْ فِي
دَفْعِ حَاجَاتِهِمْ وَوَسِيلَةً لِتَفَرُّغِهِمْ لِطَاعَاتِهِمْ.
Karena itu Allah memperbanyak harta dan menumpahkannya ke tangan
hamba-hamba-Nya, agar harta itu menjadi alat untuk menolak kebutuhan-kebutuhan
mereka dan sarana agar mereka dapat berkonsentrasi dalam ketaatan.
فَمِنْهُمْ
مَنْ أَكْثَرَ مَالَهُ فِتْنَةً وَبَلِيَّةً، فَأَقْحَمَهُ فِي الْخَطَرِ.
Di antara mereka, ada orang yang hartanya dibuat banyak sebagai fitnah dan
ujian, sehingga ia terjerumus ke dalam bahaya karenanya.
وَمِنْهُمْ
مَنْ أَحَبَّهُ فَحَمَاهُ عَنِ الدُّنْيَا، كَمَا يَحْمِي الْمُشْفِقُ مَرِيضَهُ.
Dan ada pula yang Allah cintai, lalu Dia melindunginya dari dunia, sebagaimana
orang yang penyayang melindungi orang sakitnya.
فَزَوَى
عَنْهُ فُضُولَهَا، وَسَاقَ إِلَيْهِ قَدْرَ حَاجَتِهِ عَلَى يَدِ الْأَغْنِيَاءِ.
Maka Allah menjauhkan darinya kelebihan dunia dan hanya mengirimkan kepadanya
sekadar kebutuhannya melalui tangan orang-orang kaya.
لِيَكُونَ
سَهْلُ الْكَسْبِ وَالتَّعَبِ فِي الْجَمْعِ وَالْحِفْظِ عَلَيْهِمْ،
وَفَائِدَتُهُ تَنْصَبُّ إِلَى الْفُقَرَاءِ.
Agar kemudahan mendapatkan, keletihan mengumpulkan, dan susah payah menjaganya
ditanggung oleh orang-orang kaya, sementara manfaatnya tertuju kepada para
fakir.
فَيَتَجَرَّدُونَ
لِعِبَادَةِ اللهِ وَالِاسْتِعْدَادِ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ.
Maka para fakir itu dapat mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah dan
mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati.
فَلَا
تَصْرِفُهُمْ عَنْهَا فُضُولُ الدُّنْيَا، وَلَا تَشْغَلُهُمْ عَنِ التَّأَهُّبِ
الْفَاقَةُ.
Kelebihan dunia tidak akan memalingkan mereka darinya, dan kefakiran tidak akan
menyibukkan mereka dari bersiap-siap.
وَهٰذَا
مُنْتَهَى النِّعْمَةِ.
Inilah puncak nikmat.
فَحَقُّ
الْفَقِيرِ أَنْ يَعْرِفَ قَدْرَ نِعْمَةِ الْفَقْرِ.
Maka kewajiban orang fakir adalah mengetahui kadar nikmat dari kefakirannya.
وَيَتَحَقَّقَ
أَنَّ فَضْلَ اللهِ عَلَيْهِ فِيمَا زَوَى عَنْهُ أَكْثَرُ مِنْ فَضْلِهِ فِيمَا
أَعْطَاهُ.
Dan hendaknya ia benar-benar menyadari bahwa karunia Allah kepadanya dalam apa
yang dijauhkan darinya lebih besar daripada karunia-Nya dalam apa yang
diberikan kepadanya.
كَمَا
سَيَأْتِي فِي كِتَابِ الْفَقْرِ تَحْقِيقُهُ وَبَيَانُهُ إِنْ شَاءَ اللهُ
تَعَالَى.
Sebagaimana penjelasan dan pembuktiannya akan datang dalam Kitab al-Faqr, insya
Allah Ta‘ala.
فَلْيَأْخُذْ
مَا يَأْخُذُهُ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ رِزْقًا لَهُ وَعَوْنًا لَهُ عَلَى
الطَّاعَةِ.
Maka hendaknya ia memandang apa yang ia terima sebagai rezeki dari Allah سبحانه
dan bantuan dari-Nya untuk taat.
وَلْتَكُنْ
نِيَّتُهُ فِيهِ أَنْ يَتَقَوَّى بِهِ عَلَى طَاعَةِ اللهِ.
Dan hendaknya niatnya terhadap harta itu adalah untuk menguatkan diri dalam
ketaatan kepada Allah.
فَإِنْ
لَمْ يَقْدِرْ عَلَى ذٰلِكَ فَلْيَصْرِفْهُ إِلَى مَا أَبَاحَهُ اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ.
Jika ia tidak mampu mencapai niat itu, maka hendaknya ia menggunakannya pada
hal-hal yang dihalalkan oleh Allah عز وجل.
فَإِنِ
اسْتَعَانَ بِهِ عَلَى مَعْصِيَةِ اللهِ كَانَ كَافِرًا لِأَنْعُمِ اللهِ عَزَّ
وَجَلَّ، مُسْتَحِقًّا لِلْبُعْدِ وَالْمَقْتِ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Jika ia menjadikannya alat bantu untuk bermaksiat kepada Allah, maka ia telah
kufur terhadap nikmat Allah عز وجل
dan layak mendapatkan kejauhan serta kemurkaan dari Allah سبحانه.
اَلثَّانِيَةُ:
أَنْ يَشْكُرَ الْمُعْطِيَ وَيَدْعُوَ لَهُ وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ.
Yang kedua: hendaknya ia berterima kasih kepada pemberi, mendoakannya, dan
memujinya.
وَيَكُونَ
شُكْرُهُ وَدُعَاؤُهُ بِحَيْثُ لَا يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ وَاسِطَةً.
Akan tetapi syukurnya dan doanya harus pada batas yang tidak mengeluarkannya
dari posisi bahwa si pemberi hanyalah perantara.
وَلٰكِنَّهُ
طَرِيقُ وُصُولِ نِعْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ.
Karena ia hanyalah jalan sampainya nikmat Allah سبحانه kepadanya.
وَلِلطَّرِيقِ
حَقٌّ مِنْ حَيْثُ جَعَلَهُ اللهُ طَرِيقًا وَوَاسِطَةً.
Dan jalan itu memang memiliki hak, karena Allah menjadikannya jalan dan
perantara.
وَذٰلِكَ
لَا يُنَافِي رُؤْيَةَ النِّعْمَةِ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Namun hal itu tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa nikmat itu berasal dari
Allah سبحانه.
فَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ
يَشْكُرِ اللهَ.
Karena Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia,
maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
وَقَدْ
أَثْنَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عِبَادِهِ فِي مَوَاضِعَ عَلَى أَعْمَالِهِمْ،
وَهُوَ خَالِقُهَا وَفَاطِرُ الْقُدْرَةِ عَلَيْهَا.
Dan Allah عز وجل
telah memuji para hamba-Nya dalam beberapa tempat atas amal-amal mereka,
padahal Dialah pencipta amal itu dan pencipta kemampuan untuk melakukannya.
نَحْوَ
قَوْلِهِ تَعَالَى: نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ، إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ.
Seperti firman-Nya Ta‘ala: “Sebaik-baik hamba, sesungguhnya ia sangat kembali
kepada Allah,” dan yang semisal itu.
وَلْيَقُلِ
الْقَابِضُ فِي دُعَائِهِ: طَهَّرَ اللهُ قَلْبَكَ فِي قُلُوبِ الْأَبْرَارِ،
وَزَكَّى عَمَلَكَ فِي أَعْمَالِ الْأَخْيَارِ، وَصَلَّى عَلَى رُوحِكَ فِي
أَرْوَاحِ الشُّهَدَاءِ.
Hendaknya penerima berkata dalam doanya: “Semoga Allah menyucikan hatimu
bersama hati orang-orang saleh, mensucikan amalmu bersama amal orang-orang
baik, dan merahmati ruhmu bersama ruh para syuhada.”
وَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَسْدَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا
فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِيعُوا فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا
أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Barang siapa berbuat baik kepada kalian, maka
balaslah dia. Jika kalian tidak mampu, maka doakanlah dia sampai kalian merasa
telah membalasnya.”
وَمِنْ
تَمَامِ الشُّكْرِ أَنْ يَسْتُرَ عُيُوبَ الْعَطَاءِ إِنْ كَانَ فِيهِ عَيْبٌ.
Termasuk kesempurnaan syukur ialah menutup kekurangan pemberian itu jika memang
ada kekurangannya.
وَلَا
يُحَقِّرَهُ وَلَا يَذُمَّهُ.
Dan tidak meremehkannya serta tidak mencelanya.
وَلَا
يُعَيِّرَهُ بِالْمَنْعِ إِذَا مَنَعَ.
Dan tidak mencela si pemberi jika suatu saat ia tidak memberi.
وَلْيُفَخِّمْ
عِنْدَ نَفْسِهِ وَعِنْدَ النَّاسِ صَنِيعَهُ.
Bahkan hendaknya ia membesarkan kebaikan pemberi itu, baik dalam dirinya
sendiri maupun di hadapan orang lain.
فَوَظِيفَةُ
الْمُعْطِي الِاسْتِصْغَارُ، وَوَظِيفَةُ الْقَابِضِ تَقَلُّدُ الْمِنَّةِ
وَالِاسْتِعْظَامُ.
Tugas pemberi ialah menganggap kecil pemberiannya, sedangkan tugas penerima
ialah memandang besar jasa pemberi dan merasa menerima nikmatnya.
وَعَلَى
كُلِّ عَبْدٍ الْقِيَامُ بِحَقِّهِ.
Dan atas setiap hamba wajib menunaikan haknya masing-masing.
وَذٰلِكَ
لَا تَنَاقُضَ فِيهِ، إِذْ مُوجِبَاتُ التَّصْغِيرِ وَالتَّعْظِيمِ تَتَعَارَضُ.
Tidak ada pertentangan dalam hal ini, karena sebab-sebab yang menuntut
memandang kecil dan memandang besar itu berbeda arah.
وَالنَّافِعُ
لِلْمُعْطِي مُلَاحَظَةُ أَسْبَابِ التَّصْغِيرِ، وَيَضُرُّهُ خِلَافُهُ،
وَالْآخِذُ بِالْعَكْسِ مِنْهُ.
Yang bermanfaat bagi pemberi adalah memperhatikan sebab-sebab untuk memandang
kecil pemberiannya, dan lawannya membahayakannya. Sedangkan penerima
sebaliknya.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ لَا يُنَاقِضُ رُؤْيَةَ النِّعْمَةِ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Semua itu tidak bertentangan dengan memandang bahwa nikmat berasal dari Allah عز وجل.
فَإِنَّ
مَنْ لَا يَرَى الْوَاسِطَةَ وَاسِطَةً فَقَدْ جَهِلَ.
Sebab siapa yang tidak melihat bahwa perantara itu hanyalah perantara, maka ia
telah bodoh.
وَإِنَّمَا
الْمُنْكَرُ أَنْ يَرَى الْوَاسِطَةَ أَصْلًا.
Yang tercela adalah jika ia memandang perantara itu sebagai sumber asal.
اَلثَّالِثَةُ:
أَنْ يَنْظُرَ فِيمَا يَأْخُذُهُ.
Yang ketiga: hendaknya ia memperhatikan apa yang ia ambil.
فَإِنْ
لَمْ يَكُنْ مِنْ حِلٍّ تَوَرَّعَ عَنْهُ.
Jika harta itu tidak berasal dari yang halal, maka hendaknya ia bersikap wara‘
dan meninggalkannya.
وَقَدْ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka.”
وَلَنْ
يُعْدَمَ الْمُتَوَرِّعُ عَنِ الْحَرَامِ فُتُوحًا مِنَ الْحَلَالِ.
Orang yang wara‘ dari yang haram tidak akan kehilangan kelapangan dari yang
halal.
فَلَا
يَأْخُذُ مِنْ أَمْوَالِ الْأَتْرَاكِ وَالْجُنُودِ وَعُمَّالِ السَّلَاطِينِ
وَمَنْ أَكْثَرُ كَسْبِهِ مِنَ الْحَرَامِ.
Maka hendaknya ia tidak mengambil dari harta orang-orang Turki, tentara,
pegawai para penguasa, dan orang yang kebanyakan penghasilannya berasal dari
yang haram.
إِلَّا
إِذَا ضَاقَ الْأَمْرُ عَلَيْهِ، وَكَانَ مَا يُسَلَّمُ إِلَيْهِ لَا يَعْرِفُ
لَهُ مَالِكًا مُعَيَّنًا.
Kecuali jika keadaan sangat sempit baginya, dan harta yang diberikan kepadanya
itu tidak diketahui pemilik tertentu.
فَلَهُ
أَنْ يَأْخُذَ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ.
Maka dalam keadaan itu ia boleh mengambil sekadar kebutuhan.
فَإِنَّ
فَتْوَى الشَّرْعِ فِي مِثْلِ هٰذَا أَنْ يُتَصَدَّقَ بِهِ، عَلَى مَا سَيَأْتِي
بَيَانُهُ فِي كِتَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ.
Karena fatwa syariat dalam kasus seperti ini adalah agar harta itu
disedekahkan, sebagaimana nanti akan dijelaskan dalam Kitab al-Halāl wal-Harām.
وَذٰلِكَ
إِذَا عَجَزَ عَنِ الْحَلَالِ.
Dan itu berlaku jika ia benar-benar tidak mampu memperoleh yang halal.
فَإِذَا
أَخَذَ لَمْ يَكُنْ أَخْذُهُ أَخْذَ زَكَاةٍ، إِذْ لَا يَقَعُ زَكَاةً عَنْ
مُؤَدِّيهِ وَهُوَ حَرَامٌ.
Maka jika ia mengambilnya, pengambilannya itu bukan sebagai zakat, sebab zakat
tidak sah dari orang yang mengeluarkannya jika hartanya haram.
اَلرَّابِعَةُ:
أَنْ يَتَوَقَّى مَوَاقِعَ الرِّيبَةِ وَالِاشْتِبَاهِ فِي مِقْدَارِ مَا
يَأْخُذُهُ.
Yang keempat: hendaknya ia menghindari tempat-tempat keraguan dan syubhat dalam
kadar yang ia ambil.
فَلَا
يَأْخُذُ إِلَّا الْمِقْدَارَ الْمُبَاحَ.
Maka ia tidak mengambil kecuali مقدار yang dibolehkan.
وَلَا
يَأْخُذُ إِلَّا إِذَا تَحَقَّقَ أَنَّهُ مَوْصُوفٌ بِصِفَةِ الِاسْتِحْقَاقِ.
Dan ia tidak mengambil kecuali jika benar-benar yakin bahwa dirinya memiliki
sifat yang menjadikannya berhak.
فَإِنْ
كَانَ يَأْخُذُ بِالْكِتَابَةِ وَالْغَرَامَةِ فَلَا يَزِيدُ عَلَى مِقْدَارِ
الدَّيْنِ.
Jika ia mengambil karena alasan kitabah atau hutang, maka ia tidak boleh
melebihi مقدار
hutang.
وَإِنْ
كَانَ يَأْخُذُ بِالْعَمَلِ فَلَا يَزِيدُ عَلَى أُجْرَةِ الْمِثْلِ.
Jika ia mengambil karena menjadi amil, maka ia tidak boleh melebihi upah yang
sepadan.
وَإِنْ
أُعْطِيَ زِيَادَةً أَبَى وَامْتَنَعَ، إِذْ لَيْسَ الْمَالُ لِلْمُعْطِي حَتَّى
يَتَبَرَّعَ بِهِ.
Jika ia diberi lebih, hendaknya ia menolak, karena harta zakat itu bukan milik
si pemberi sehingga ia bebas memberikannya sesuka hati.
وَإِنْ
كَانَ مُسَافِرًا لَمْ يَزِدْ عَلَى الزَّادِ وَكِرَاءِ الدَّابَّةِ إِلَى
مَقْصِدِهِ.
Jika ia seorang musafir, maka ia tidak mengambil lebih dari bekal dan ongkos
kendaraan menuju tujuannya.
وَإِنْ
كَانَ غَازِيًا لَمْ يَأْخُذْ إِلَّا مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ لِلْغَزْوِ خَاصَّةً
مِنْ خَيْلٍ وَسِلَاحٍ وَنَفَقَةٍ.
Jika ia seorang pejuang, maka ia tidak mengambil kecuali apa yang dibutuhkannya
khusus untuk peperangan, seperti kuda, senjata, dan nafkah.
وَتَقْدِيرُ
ذٰلِكَ بِالِاجْتِهَادِ، وَلَيْسَ لَهُ حَدٌّ.
Menentukan semua itu diserahkan kepada ijtihad, dan tidak ada batas pasti
baginya.
وَكَذٰلِكَ
زَادُ السَّفَرِ.
Demikian pula bekal perjalanan.
وَالْوَرَعُ
تَرْكُ مَا يَرِيبُهُ إِلَى مَا لَا يَرِيبُهُ.
Dan wara‘ adalah meninggalkan apa yang meragukannya menuju apa yang tidak
meragukannya.
وَإِنْ
أَخَذَ بِالْمَسْكَنَةِ فَلْيَنْظُرْ أَوَّلًا إِلَى أَثَاثِ بَيْتِهِ وَثِيَابِهِ.
Jika ia mengambil zakat karena alasan kemiskinan, maka hendaknya ia terlebih
dahulu melihat perabot rumah dan pakaiannya.
وَكُتُبِهِ،
هَلْ فِيهَا مَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ بِعَيْنِهِ، أَوْ يُسْتَغْنَى عَنْ
نَفَاسَتِهِ فَيُمْكِنُ أَنْ يُبَدَّلَ بِمَا يَكْفِي، وَيَفْضُلُ بَعْضُ
قِيمَتِهِ.
Dan kitab-kitabnya, apakah ada di antaranya yang sebenarnya tidak dibutuhkan,
atau apakah kemewahan dan nilainya bisa dikurangi dengan menukarnya kepada yang
sekadar mencukupi sehingga sisa nilainya dapat dimanfaatkan.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ إِلَى اجْتِهَادِهِ.
Semua itu diserahkan kepada ijtihad dirinya.
وَفِيهِ
طَرَفٌ ظَاهِرٌ يَتَحَقَّقُ مَعَهُ أَنَّهُ مُسْتَحِقٌّ، وَطَرَفٌ آخَرُ مُقَابِلٌ
يَتَحَقَّقُ مَعَهُ أَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَحِقٍّ.
Dalam masalah ini ada sisi yang jelas, sehingga dipastikan bahwa ia berhak, dan
ada sisi lawannya yang juga jelas, sehingga dipastikan ia tidak berhak.
وَبَيْنَهُمَا
أَوْسَاطٌ مُشْتَبِهَةٌ.
Di antara keduanya terdapat banyak keadaan tengah yang samar.
وَمَنْ
حَامَ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ.
Barang siapa berkisar di sekitar daerah larangan, hampir saja ia jatuh ke
dalamnya.
وَالِاعْتِمَادُ
فِي هٰذَا عَلَى قَوْلِ الْآخِذِ ظَاهِرًا.
Dalam hal ini, secara lahiriah sandarannya adalah ucapan orang yang mengambil
zakat.
وَلِلْمُحْتَاجِ
فِي تَقْدِيرِ الْحَاجَاتِ مَقَامَاتٌ فِي التَّضْيِيقِ وَالتَّوْسِيعِ، وَلَا
تُحْصَرُ مَرَاتِبُهَا.
Orang yang membutuhkan memiliki berbagai tingkat dalam mempersempit atau
meluaskan pengertian kebutuhan, dan tingkatan-tingkatan itu tidak dapat
dibatasi secara pasti.
وَمَيْلُ
الْوَرَعِ إِلَى التَّضْيِيقِ، وَمَيْلُ الْمُتَسَاهِلِ إِلَى التَّوْسِيعِ.
Orang wara‘ cenderung kepada sikap mempersempit, sedangkan orang yang longgar
cenderung kepada memperluas.
حَتَّى
يَرَى نَفْسَهُ مُحْتَاجًا إِلَى فُنُونٍ مِنَ التَّوَسُّعِ، وَهُوَ مَمْقُوتٌ فِي
الشَّرْعِ.
Sampai ia menganggap dirinya butuh kepada berbagai bentuk kemewahan dan
keluasan, padahal itu dibenci dalam syariat.
ثُمَّ
إِذَا تَحَقَّقَتْ حَاجَتُهُ فَلَا يَأْخُذَنَّ مَالًا كَثِيرًا، بَلْ مَا يُتِمُّ
كِفَايَتَهُ مِنْ وَقْتِ أَخْذِهِ إِلَى سَنَةٍ.
Kemudian apabila kebutuhannya memang nyata, maka janganlah ia mengambil harta
yang banyak, tetapi hanya sebanyak yang mencukupi kebutuhannya dari saat ia
mengambil sampai satu tahun.
فَهٰذَا
أَقْصَى مَا يُرَخَّصُ فِيهِ.
Inilah batas maksimal keringanan yang dibolehkan.
مِنْ
حَيْثُ إِنَّ السَّنَةَ إِذَا تَكَرَّرَتْ تَكَرَّرَتْ أَسْبَابُ الدَّخْلِ.
Karena dengan berlalunya satu tahun, sebab-sebab datangnya pemasukan biasanya
terulang kembali.
وَمِنْ
حَيْثُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادَّخَرَ
لِعِيَالِهِ قُوتَ سَنَةٍ.
Dan karena Rasulullah صلى
الله عليه وسلم pernah menyimpan makanan keluarganya untuk setahun.
فَهٰذَا
أَقْرَبُ مَا يُحَدُّ بِهِ حَدُّ الْفَقِيرِ وَالْمِسْكِينِ.
Maka inilah ukuran terdekat untuk membatasi keadaan fakir dan miskin.
وَلَوِ
اقْتَصَرَ عَلَى حَاجَةِ شَهْرِهِ أَوْ حَاجَةِ يَوْمِهِ فَهُوَ أَقْرَبُ
لِلتَّقْوَى.
Akan tetapi, jika ia mencukupkan diri dengan kebutuhan satu bulan atau bahkan
satu hari, itu lebih dekat kepada ketakwaan.
وَمَذَاهِبُ
الْعُلَمَاءِ فِي قَدْرِ الْمَأْخُوذِ بِحُكْمِ الزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ
مُخْتَلِفَةٌ.
Pendapat para ulama berbeda tentang kadar yang boleh diambil dari zakat dan
sedekah.
فَمِنْ
مُبَالِغٍ فِي التَّقْلِيلِ إِلَى حَدٍّ أَوْجَبَ الِاقْتِصَارَ عَلَى قَدْرِ
قُوتِ يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ.
Ada yang sangat memperkecilnya sampai mewajibkan cukup pada kadar makanan satu
hari siang dan malam.
وَتَمَسَّكُوا
بِمَا رَوَى سَهْلُ بْنُ الْحَنْظَلِيَّةِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ السُّؤَالِ مَعَ الْغِنَى، فَسُئِلَ عَنْ غِنَاهُ فَقَالَ:
غَدَاؤُهُ وَعَشَاؤُهُ.
Mereka berdalil dengan riwayat Sahl bin al-Hanzhaliyyah bahwa Nabi صلى الله عليه
وسلم melarang meminta-minta saat seseorang masih dianggap kaya. Lalu
beliau ditanya tentang batas kayanya, maka beliau menjawab: “Makanan siangnya
dan makan malamnya.”
وَقَالَ
آخَرُونَ: يَأْخُذُ إِلَى حَدِّ الْغِنَى.
Dan ulama lain berkata: ia boleh mengambil sampai batas menjadi kaya.
وَحَدُّ
الْغِنَى نِصَابُ الزَّكَاةِ، إِذْ لَمْ يُوجِبِ اللهُ تَعَالَى الزَّكَاةَ إِلَّا
عَلَى الْأَغْنِيَاءِ.
Batas kaya menurut mereka adalah nisab zakat, karena Allah Ta‘ala tidak
mewajibkan zakat kecuali atas orang-orang kaya.
فَقَالُوا:
لَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِنَفْسِهِ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ عِيَالِهِ نِصَابَ زَكَاةٍ.
Mereka berkata: ia boleh mengambil untuk dirinya sendiri dan juga untuk setiap
anggota keluarganya sampai mencapai nisab.
وَقَالَ
آخَرُونَ: حَدُّ الْغِنَى خَمْسُونَ دِرْهَمًا أَوْ قِيمَتُهَا مِنَ الذَّهَبِ.
Dan ulama lain berkata: batas kaya adalah lima puluh dirham atau nilai emas
yang setara dengannya.
لِمَا
رَوَى ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ
سَأَلَ وَلَهُ مَالٌ يُغْنِيهِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَفِي وَجْهِهِ خُمُوشٌ.
Mereka berdalil dengan riwayat Ibnu Mas‘ud bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang
siapa meminta-minta padahal ia memiliki harta yang mencukupinya, maka ia akan
datang pada hari kiamat dengan luka-luka di wajahnya.”
فَسُئِلَ:
وَمَا غِنَاهُ؟
Lalu beliau ditanya: “Apa batas kayanya?”
قَالَ:
خَمْسُونَ دِرْهَمًا أَوْ قِيمَتُهَا مِنَ الذَّهَبِ.
Beliau menjawab: “Lima puluh dirham atau nilainya dari emas.”
وَقِيلَ:
رَاوِيهِ لَيْسَ بِقَوِيٍّ.
Namun dikatakan bahwa perawi hadis ini tidak kuat.
وَقَالَ
قَوْمٌ: أَرْبَعُونَ، لِمَا رَوَى عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مُنْقَطِعًا أَنَّهُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ سَأَلَ وَلَهُ أُوقِيَّةٌ فَقَدْ
أَلْحَفَ فِي السُّؤَالِ.
Dan ada yang mengatakan: empat puluh, berdasarkan riwayat ‘Aṭā’ bin Yasār
secara mursal bahwa Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa meminta padahal ia memiliki satu
uqiyah, maka ia telah berlebih-lebihan dalam meminta.”
وَبَالَغَ
آخَرُونَ فِي التَّوْسِيعِ، فَقَالُوا: لَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِقَدْرِ مَا يَشْتَرِي
بِهِ ضَيْعَةً فَيَسْتَغْنِي بِهَا طُولَ عُمْرِهِ.
Sebagian yang lain lebih meluaskan lagi. Mereka berkata: ia boleh mengambil
hingga kadar yang dapat dipakai membeli suatu lahan atau usaha yang membuatnya
cukup sepanjang hidup.
أَوْ
يُهَيِّئَ بِضَاعَةً لِيَتَّجِرَ بِهَا وَيَسْتَغْنِيَ بِهَا طُولَ عُمْرِهِ.
Atau ia boleh mengambil hingga kadar modal perdagangan yang membuatnya dapat
berdagang dan mencukupi dirinya sepanjang hidupnya.
لِأَنَّ
هٰذَا هُوَ الْغِنَى.
Karena itulah kekayaan yang sebenarnya.
وَقَدْ
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: إِذَا أَعْطَيْتُمْ فَأَغْنُوا.
Umar رضي الله عنه
berkata: “Apabila kalian memberi, maka buatlah ia cukup.”
حَتَّى
ذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّ مَنِ افْتَقَرَ فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِقَدْرِ مَا
يَعُودُ بِهِ إِلَى مِثْلِ حَالِهِ، وَلَوْ عَشَرَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ، إِلَّا
إِذَا خَرَجَ عَنْ حَدِّ الِاعْتِدَالِ.
Bahkan ada yang berpendapat bahwa siapa yang jatuh miskin, ia boleh mengambil
hingga kadar yang mengembalikannya kepada keadaan semisal sebelumnya, meskipun
sampai sepuluh ribu dirham, selama tidak keluar dari batas kewajaran.
وَلَمَّا
شَغَلَ أَبَا طَلْحَةَ بُسْتَانُهُ عَنِ الصَّلَاةِ قَالَ: جَعَلْتُهُ صَدَقَةً.
Ketika kebun Abu Thalhah menyibukkannya dari salat, ia berkata: “Aku jadikan
kebun ini sebagai sedekah.”
فَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْعَلْهُ فِي قَرَابَتِكَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ.
Maka Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Jadikanlah itu untuk kerabatmu, karena itu lebih
baik bagimu.”
فَأَعْطَاهُ
حَسَّانًا وَأَبَا قَتَادَةَ.
Lalu ia memberikannya kepada Hassan dan Abu Qatadah.
فَحَائِطٌ
مِنْ نَخْلٍ لِرَجُلَيْنِ كَثِيرٌ مُغْنٍ.
Maka satu kebun kurma untuk dua orang sudah merupakan harta yang banyak dan
mencukupi.
وَأَعْطَى
عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَعْرَابِيًّا نَاقَةً مَعَهَا ظِئْرٌ لَهَا.
Dan Umar رضي
الله عنه pernah memberi seorang Arab Badui seekor unta beserta anaknya
yang masih menyusu.
فَهٰذَا
مَا حُكِيَ فِيهِ.
Inilah yang diriwayatkan dalam masalah ini.
فَأَمَّا
التَّقْلِيلُ إِلَى قُوتِ الْيَوْمِ أَوِ الْأُوقِيَّةِ، فَذٰلِكَ وَرَدَ فِي
كَرَاهِيَةِ السُّؤَالِ وَالتَّرَدُّدِ عَلَى الْأَبْوَابِ.
Adapun pendapat yang membatasi hingga sekadar makanan sehari atau satu uqiyah,
maka hal itu datang dalam konteks makruhnya meminta-minta dan mondar-mandir di
pintu orang lain.
وَذٰلِكَ
مُسْتَنْكَرٌ وَلَهُ حُكْمٌ آخَرُ.
Sedangkan itu adalah masalah lain yang memiliki hukum tersendiri.
بَلِ
التَّجْوِيزُ إِلَى أَنْ يَشْتَرِيَ ضَيْعَةً فَيَسْتَغْنِيَ بِهَا أَقْرَبُ إِلَى
الِاحْتِمَالِ، وَهُوَ أَيْضًا مَائِلٌ إِلَى الْإِسْرَافِ.
Bahkan membolehkan sampai ia dapat membeli suatu lahan atau sumber usaha yang
membuatnya cukup lebih dapat diterima, meskipun hal itu juga cenderung dekat
kepada berlebihan.
وَالْأَقْرَبُ
إِلَى الِاعْتِدَالِ كِفَايَةُ سَنَةٍ، فَمَا وَرَاءَهُ فِيهِ خَطَرٌ، وَفِيمَا
دُونَهُ تَضْيِيقٌ.
Yang paling dekat kepada sikap pertengahan adalah cukup untuk satu tahun. Lebih
dari itu mengandung bahaya berlebihan, sedangkan kurang dari itu terlalu
menyempitkan.
وَهٰذِهِ
الْأُمُورُ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهَا تَقْدِيرٌ جَزْمٌ بِالتَّوْقِيفِ، فَلَيْسَ
لِلْمُجْتَهِدِ إِلَّا الْحُكْمُ بِمَا يَقَعُ لَهُ.
Dalam perkara-perkara seperti ini, ketika tidak ada batasan pasti dari nash,
maka mujtahid tidak memiliki jalan selain menetapkan menurut apa yang tampak
baginya.
ثُمَّ
يُقَالُ لِلْوَرِعِ: اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَوْكَ وَأَفْتَوْكَ، كَمَا
قَالَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan kepada orang yang wara‘ dikatakan: “Mintalah fatwa dari hatimu meskipun
mereka telah memberimu fatwa,” sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم.
إِذِ
الْإِثْمُ حَوَازُّ الْقُلُوبِ.
Karena dosa itu adalah sesuatu yang menggelisahkan hati.
فَإِذَا
وَجَدَ الْقَابِضُ فِي نَفْسِهِ شَيْئًا مِمَّا يَأْخُذُهُ فَلْيَتَّقِ اللهَ
فِيهِ، وَلَا يَتَرَخَّصْ تَعَلُّلًا بِالْفُتْيَا مِنْ عُلَمَاءِ الظَّاهِرِ.
Jika penerima merasakan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya terhadap apa yang
ia ambil, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah dalam hal itu dan tidak
mencari-cari keringanan dengan alasan adanya fatwa dari ulama الظاهر.
فَإِنَّ
لِفَتَاوَاهُمْ قُيُودًا وَمُطْلَقَاتٍ مِنَ الضَّرُورَاتِ، وَفِيهَا تَخْمِيناتٌ
وَاقْتِحَامُ شُبُهَاتٍ.
Karena fatwa-fatwa mereka memiliki ikatan-ikatan dan pelepasan-pelepasan yang
terkait dengan kebutuhan, dan di dalamnya ada perkiraan serta memasuki wilayah
syubhat.
وَالتَّوَقِّي
مِنَ الشُّبُهَاتِ مِنْ شِيَمِ ذَوِي الدِّينِ وَعَادَاتِ السَّالِكِينَ لِطَرِيقِ
الْآخِرَةِ.
Menghindari syubhat adalah ciri orang-orang beragama dan kebiasaan para
penempuh jalan akhirat.
اَلْخَامِسَةُ:
أَنْ يَسْأَلَ صَاحِبَ الْمَالِ عَنْ قَدْرِ الْوَاجِبِ عَلَيْهِ.
Yang kelima: hendaknya penerima bertanya kepada pemilik harta tentang kadar
yang wajib atasnya.
فَإِنْ
كَانَ مَا يُعْطِيهِ فَوْقَ الثُّمُنِ فَلَا يَأْخُذْهُ مِنْهُ.
Jika yang diberikan kepadanya melebihi bagian yang semestinya, maka jangan ia
mengambilnya.
فَإِنَّهُ
لَا يَسْتَحِقُّ مَعَ شَرِيكِهِ إِلَّا الثُّمُنَ.
Karena bersama partnernya, ia tidak berhak kecuali pada bagian tertentu itu.
فَلْيَنْقُصْ
مِنَ الثُّمُنِ مِقْدَارَ مَا يُصْرَفُ إِلَى اثْنَيْنِ مِنْ صِنْفِهِ.
Maka hendaknya ia mengurangi dari bagian itu مقدار yang semestinya diberikan kepada dua orang
dari golongannya.
وَهٰذَا
السُّؤَالُ وَاجِبٌ عَلَى أَكْثَرِ الْخَلْقِ، فَإِنَّهُمْ لَا يُرَاعُونَ هٰذِهِ
الْقِسْمَةَ، إِمَّا لِجَهْلٍ وَإِمَّا لِتَسَاهُلٍ.
Pertanyaan seperti ini wajib pada kebanyakan manusia, karena mereka sering
tidak memperhatikan pembagian seperti ini, baik karena tidak tahu maupun karena
meremehkan.
وَإِنَّمَا
يَجُوزُ تَرْكُ السُّؤَالِ عَنْ مِثْلِ هٰذِهِ الْأُمُورِ إِذَا لَمْ يَغْلِبْ
عَلَى الظَّنِّ احْتِمَالُ التَّحْرِيمِ.
Meninggalkan pertanyaan tentang perkara seperti ini hanya boleh jika dugaan
kuat terhadap kemungkinan keharamannya tidak ada.
وَسَيَأْتِي
ذِكْرُ مَظَانِّ السُّؤَالِ وَدَرَجَةِ الِاحْتِمَالِ فِي كِتَابِ الْحَلَالِ
وَالْحَرَامِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Penjelasan tentang tempat-tempat perlunya bertanya dan tingkat kemungkinan itu
akan datang dalam Kitab al-Halāl wal-Harām, insya Allah Ta‘ala.