Rukun, Sunnat, dan Pembatal Puasa

لْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي الْوَاجِبَاتِ وَالسُّنَنِ الظَّاهِرَةِ وَلَوَازِمِ الْإِفْسَادِ.

Fasal pertama tentang kewajiban-kewajiban lahiriah, sunah-sunah lahiriah, dan hal-hal yang mengikuti pembatalan puasa.

أَمَّا الْوَاجِبَاتُ الظَّاهِرَةُ فَسِتَّةٌ.
Adapun kewajiban-kewajiban lahiriah, maka jumlahnya ada enam.

اَلْأَوَّلُ مُرَاقَبَةُ أَوَّلِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَذٰلِكَ بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ.
Yang pertama: memperhatikan awal bulan Ramadan, yaitu dengan melihat hilal.

فَإِنْ غُمَّ فَاسْتِكْمَالُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا مِنْ شَعْبَانَ.
Jika tertutup mendung, maka disempurnakan tiga puluh hari bulan Sya‘ban.

وَنَعْنِي بِالرُّؤْيَةِ الْعِلْمَ، وَيَحْصُلُ ذٰلِكَ بِقَوْلِ عَدْلٍ وَاحِدٍ.
Yang kami maksud dengan “ru’yah” di sini adalah pengetahuan yang meyakinkan, dan hal itu dapat diperoleh dengan keterangan satu orang adil.

وَلَا يَثْبُتُ هِلَالُ شَوَّالٍ إِلَّا بِقَوْلِ عَدْلَيْنِ احْتِيَاطًا لِلْعِبَادَةِ.
Adapun hilal Syawal, maka tidak ditetapkan kecuali dengan kesaksian dua orang adil, sebagai bentuk kehati-hatian dalam ibadah.

وَمَنْ سَمِعَ عَدْلًا وَوَثِقَ بِقَوْلِهِ وَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ صِدْقُهُ لَزِمَهُ الصَّوْمُ، وَإِنْ لَمْ يَقْضِ الْقَاضِي بِهِ.
Barang siapa mendengar keterangan dari seorang yang adil, lalu ia percaya kepadanya dan kuat sangkaannya bahwa orang itu benar, maka wajib atasnya berpuasa meskipun hakim belum memutuskannya.

فَلْيَتَّبِعْ كُلُّ عَبْدٍ فِي عِبَادَتِهِ مُوجِبَ ظَنِّهِ.
Maka hendaknya setiap hamba mengikuti apa yang ditunjukkan oleh dugaan kuatnya dalam ibadahnya.

وَإِذَا رُؤِيَ الْهِلَالُ بِبَلْدَةٍ وَلَمْ يُرَ بِأُخْرَى، وَكَانَ بَيْنَهُمَا أَقَلَّ مِنْ مَرْحَلَتَيْنِ، وَجَبَ الصَّوْمُ عَلَى الْكُلِّ.
Jika hilal terlihat di suatu negeri dan tidak terlihat di negeri lain, sementara jarak antara keduanya kurang dari dua marhalah, maka puasa wajib atas semuanya.

وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ، كَانَ لِكُلِّ بَلْدَةٍ حُكْمُهَا، وَلَا يَتَعَدَّى الْوُجُوبُ.
Jika jaraknya lebih dari itu, maka masing-masing negeri memiliki hukumnya sendiri, dan kewajiban itu tidak meluas ke negeri lain.

اَلثَّانِي: النِّيَّةُ.
Yang kedua: niat.

وَلَا بُدَّ لِكُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ نِيَّةٍ مُبَيَّتَةٍ مُعَيَّنَةٍ جَازِمَةٍ.
Setiap malam harus ada niat yang dilakukan di malam hari, ditentukan secara jelas, dan bersifat tegas.

فَلَوْ نَوَى أَنْ يَصُومَ شَهْرَ رَمَضَانَ دُفْعَةً وَاحِدَةً لَمْ يَكْفِهِ.
Jika seseorang berniat puasa Ramadan sekaligus untuk sebulan penuh dalam satu niat, maka itu tidak mencukupinya.

وَهُوَ الَّذِي عَنَيْنَاهُ بِقَوْلِنَا: كُلَّ لَيْلَةٍ.
Inilah yang kami maksud dengan ucapan kami: “setiap malam.”

وَلَوْ نَوَى بِالنَّهَارِ لَمْ يُجْزِهِ صَوْمُ رَمَضَانَ وَلَا صَوْمُ الْفَرْضِ، إِلَّا التَّطَوُّعَ.
Jika ia berniat pada siang hari, maka niat itu tidak sah untuk puasa Ramadan dan tidak pula untuk puasa wajib lainnya, kecuali puasa sunah.

وَهُوَ الَّذِي عَنَيْنَاهُ بِقَوْلِنَا: مُبَيَّتَةٌ.
Inilah yang kami maksud dengan ucapan kami: “dibuat pada malam hari.”

وَلَوْ نَوَى الصَّوْمَ مُطْلَقًا أَوِ الْفَرْضَ مُطْلَقًا لَمْ يُجْزِهِ حَتَّى يَنْوِيَ فَرِيضَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صَوْمَ رَمَضَانَ.
Jika ia hanya berniat puasa secara mutlak atau berniat “puasa wajib” secara umum, maka itu tidak mencukupi sampai ia meniatkan secara khusus puasa fardu Ramadan karena Allah عز وجل.

وَلَوْ نَوَى لَيْلَةَ الشَّكِّ أَنْ يَصُومَ غَدًا إِنْ كَانَ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يُجْزِهِ، فَإِنَّهَا لَيْسَتْ جَازِمَةً.
Jika pada malam syak ia berniat: “Aku akan berpuasa besok jika memang itu Ramadan,” maka niat itu tidak sah, karena tidak tegas.

إِلَّا أَنْ تَسْتَنِدَ نِيَّتُهُ إِلَى قَوْلِ شَاهِدٍ عَدْلٍ، وَاحْتِمَالُ غَلَطِ الْعَدْلِ أَوْ كَذِبِهِ لَا يُبْطِلُ الْجَزْمَ.
Kecuali jika niatnya bersandar kepada perkataan seorang saksi yang adil, karena kemungkinan orang adil itu salah atau berdusta tidak membatalkan ketegasan niat.

أَوْ تَسْتَنِدَ إِلَى اسْتِصْحَابِ حَالٍ، كَالشَّكِّ فِي اللَّيْلَةِ الْأَخِيرَةِ مِنْ رَمَضَانَ، فَذٰلِكَ لَا يَمْنَعُ جَزْمَ النِّيَّةِ.
Atau niat itu bersandar pada istishab keadaan, seperti ragu pada malam terakhir Ramadan, maka hal itu tidak menghalangi ketegasan niat.

أَوْ تَسْتَنِدَ إِلَى اجْتِهَادٍ، كَالْمَحْبُوسِ فِي الْمَطْمُورَةِ إِذَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ دُخُولُ رَمَضَانَ بِاجْتِهَادِهِ، فَشَكُّهُ لَا يَمْنَعُهُ مِنَ النِّيَّةِ.
Atau niat itu bersandar pada ijtihad, seperti orang yang dipenjara di tempat gelap lalu dengan ijtihad kuat menduga Ramadan telah masuk, maka keraguannya tidak menghalanginya untuk berniat.

وَمَهْمَا كَانَ شَاكًّا لَيْلَةَ الشَّكِّ لَمْ يَنْفَعْهُ جَزْمُ النِّيَّةِ بِاللِّسَانِ، فَإِنَّ النِّيَّةَ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ.
Bagaimanapun juga, jika ia benar-benar masih ragu pada malam syak, maka ketegasan niat dengan lisan tidak akan bermanfaat, karena tempat niat adalah hati.

وَلَا يُتَصَوَّرُ فِيهِ جَزْمُ الْقَصْدِ مَعَ الشَّكِّ.
Tidak dapat dibayangkan ada ketegasan maksud di dalam hati bersamaan dengan keraguan.

كَمَا لَوْ قَالَ فِي وَسَطِ رَمَضَانَ: أَصُومُ غَدًا إِنْ كَانَ مِنْ رَمَضَانَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَضُرُّهُ، لِأَنَّهُ تَرْدِيدُ لَفْظٍ، وَمَحَلُّ النِّيَّةِ لَا يُتَصَوَّرُ فِيهِ تَرَدُّدٌ.
Seperti jika di tengah Ramadan ia berkata: “Aku akan berpuasa besok jika memang itu Ramadan,” maka ucapan itu tidak membahayakannya, karena itu hanya keraguan dalam lafaz, sedangkan tempat niat tidak dapat dibayangkan ada keraguan padanya.

بَلْ هُوَ قَاطِعٌ بِأَنَّهُ مِنْ رَمَضَانَ.
Karena pada hakikatnya ia yakin bahwa itu memang Ramadan.

وَمَنْ نَوَى لَيْلًا ثُمَّ أَكَلَ لَمْ تَفْسُدْ نِيَّتُهُ.
Barang siapa telah berniat pada malam hari lalu makan, maka niatnya tidak rusak.

وَلَوْ نَوَتِ امْرَأَةٌ فِي الْحَيْضِ ثُمَّ طَهُرَتْ قَبْلَ الْفَجْرِ صَحَّ صَوْمُهَا.
Jika seorang perempuan berniat ketika masih haid lalu suci sebelum fajar, maka puasanya sah.

اَلثَّالِثُ: الْإِمْسَاكُ عَنْ إِيصَالِ شَيْءٍ إِلَى الْجَوْفِ عَمْدًا مَعَ ذِكْرِ الصَّوْمِ.
Yang ketiga: menahan diri dari memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh dengan sengaja sambil ingat bahwa ia sedang berpuasa.

فَيَفْسُدُ صَوْمُهُ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالسَّعُوطِ وَالْحُقْنَةِ.
Maka puasanya batal karena makan, minum, memasukkan obat melalui hidung, dan enema.

وَلَا يَفْسُدُ بِالْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ.
Puasa tidak batal dengan berbekam atau mengeluarkan darah.

وَالِاكْتِحَالِ وَإِدْخَالِ الْمِيلِ فِي الْأُذُنِ وَالْإِحْلِيلِ، إِلَّا أَنْ يُقَطِّرَ فِيهِ مَا يَبْلُغُ الْمَثَانَةَ.
Demikian juga tidak batal dengan bercelak, memasukkan alat ke telinga, atau ke saluran kencing, kecuali jika ia meneteskan sesuatu yang sampai ke kandung kemih.

وَمَا يَصِلُ بِغَيْرِ قَصْدٍ مِنْ غُبَارِ الطَّرِيقِ، أَوْ ذُبَابَةٍ تَسْبِقُ إِلَى جَوْفِهِ، أَوْ مَا يَسْبِقُ إِلَى جَوْفِهِ فِي الْمَضْمَضَةِ، فَلَا يُفْطِرُ.
Apa yang masuk ke dalam perut tanpa sengaja, seperti debu jalan, lalat yang tiba-tiba masuk ke tenggorokannya, atau air yang masuk ke perut ketika berkumur, maka tidak membatalkan puasa.

إِلَّا إِذَا بَالَغَ فِي الْمَضْمَضَةِ فَيُفْطِرُ، لِأَنَّهُ مُقَصِّرٌ.
Kecuali jika ia berlebihan dalam berkumur, maka puasanya batal, karena ia dianggap lalai.

وَهُوَ الَّذِي أَرَدْنَا بِقَوْلِنَا: عَمْدًا.
Inilah yang kami maksud dengan ucapan kami: “dengan sengaja.”

فَأَمَّا ذِكْرُ الصَّوْمِ فَأَرَدْنَا بِهِ الِاحْتِرَازَ عَنِ النَّاسِي، فَإِنَّهُ لَا يُفْطِرُ.
Adapun syarat “ingat puasa”, maka yang kami maksud adalah mengecualikan orang yang lupa, karena ia tidak batal puasanya.

أَمَّا مَنْ أَكَلَ عَامِدًا فِي طَرَفَيِ النَّهَارِ ثُمَّ ظَهَرَ لَهُ أَنَّهُ أَكَلَ نَهَارًا بِالتَّحْقِيقِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ.
Adapun orang yang makan dengan sengaja pada tepi waktu siang, lalu kemudian jelas baginya bahwa ia benar-benar telah makan di siang hari, maka wajib atasnya qadha.

وَإِنْ بَقِيَ عَلَى حُكْمِ ظَنِّهِ وَاجْتِهَادِهِ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ.
Jika ia tetap berada di bawah hukum sangkaannya dan ijtihadnya, maka tidak ada qadha atasnya.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَأْكُلَ فِي طَرَفَيِ النَّهَارِ إِلَّا بِنَظَرٍ وَاجْتِهَادٍ.
Dan tidak sepatutnya seseorang makan pada awal atau akhir siang kecuali dengan pertimbangan dan ijtihad.

اَلرَّابِعُ: الْإِمْسَاكُ عَنِ الْجِمَاعِ، وَحَدُّهُ تَغْيِيبُ الْحَشَفَةِ.
Yang keempat: menahan diri dari jima‘, dan batasnya adalah tenggelamnya hasyafah.

وَإِنْ جَامَعَ نَاسِيًا لَمْ يُفْطِرْ.
Jika seseorang berjima‘ karena lupa, maka puasanya tidak batal.

وَإِنْ جَامَعَ لَيْلًا أَوِ احْتَلَمَ فَأَصْبَحَ جُنُبًا لَمْ يُفْطِرْ.
Jika ia berjima‘ pada malam hari atau bermimpi lalu pagi hari masih dalam keadaan junub, maka puasanya tidak batal.

وَإِنْ طَلَعَ الْفَجْرُ وَهُوَ مُخَالِطٌ أَهْلَهُ فَنَزَعَ فِي الْحَالِ صَحَّ صَوْمُهُ.
Jika fajar terbit sementara ia sedang berhubungan dengan istrinya lalu ia segera melepaskan diri saat itu juga, maka puasanya sah.

فَإِنْ صَبَرَ فَسَدَ وَلَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ.
Jika ia tetap melanjutkan, maka puasanya batal dan wajib atasnya kafarah.

اَلْخَامِسُ: الْإِمْسَاكُ عَنِ الِاسْتِمْنَاءِ.
Yang kelima: menahan diri dari istimna’.

وَهُوَ إِخْرَاجُ الْمَنِيِّ قَصْدًا بِجِمَاعٍ أَوْ بِغَيْرِ جِمَاعٍ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُفْطِرُ.
Yaitu mengeluarkan mani dengan sengaja, baik melalui jima‘ maupun selain jima‘, dan hal itu membatalkan puasa.

وَلَا يُفْطِرُ بِقُبْلَةِ زَوْجَتِهِ وَلَا بِمُضَاجَعَتِهَا مَا لَمْ يُنْزِلْ.
Puasa tidak batal hanya karena mencium istri atau berbaring bersamanya selama tidak keluar mani.

لٰكِنْ يُكْرَهُ ذٰلِكَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ شَيْخًا أَوْ مَالِكًا لِإِرْبِهِ، فَلَا بَأْسَ بِالتَّقْبِيلِ، وَتَرْكُهُ أَوْلَى.
Namun hal itu makruh kecuali jika orang tersebut sudah tua atau mampu mengendalikan dirinya. Dalam keadaan demikian, tidak mengapa mencium, tetapi meninggalkannya lebih utama.

وَإِذَا كَانَ يَخَافُ مِنَ التَّقْبِيلِ أَنْ يُنْزِلَ، فَقَبَّلَ وَسَبَقَ الْمَنِيُّ أَفْطَرَ لِتَقْصِيرِهِ.
Jika ia khawatir bahwa ciuman akan menyebabkan mani keluar, lalu tetap mencium dan mani pun keluar, maka puasanya batal karena ia telah lalai menjaga diri.

اَلسَّادِسُ: الْإِمْسَاكُ عَنْ إِخْرَاجِ الْقَيْءِ.
Yang keenam: menahan diri dari mengeluarkan muntah.

فَالِاسْتِقَاءُ يُفْسِدُ الصَّوْمَ.
Memuntahkan dengan sengaja merusak puasa.

وَإِنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ لَمْ يَفْسُدْ صَوْمُهُ.
Jika muntah mengalahkannya tanpa sengaja, puasanya tidak batal.

وَإِذَا ابْتَلَعَ نُخَامَةً مِنْ حَلْقِهِ أَوْ صَدْرِهِ لَمْ يَفْسُدْ صَوْمُهُ رُخْصَةً لِعُمُومِ الْبَلْوَى بِهِ.
Jika ia menelan dahak dari tenggorokan atau dadanya, maka puasanya tidak batal, sebagai rukhsah karena hal itu banyak terjadi dan sulit dihindari.

إِلَّا أَنْ يَبْتَلِعَهُ بَعْدَ وُصُولِهِ إِلَى فِيهِ، فَإِنَّهُ يُفْطِرُ عِنْدَ ذٰلِكَ.
Kecuali jika ia menelannya setelah sampai ke mulutnya, maka saat itu puasanya batal.

وَأَمَّا لَوَازِمُ الْإِفْطَارِ فَأَرْبَعَةٌ.
Adapun konsekuensi dari berbuka atau batalnya puasa, maka ada empat.

اَلْقَضَاءُ، وَالْكَفَّارَةُ، وَالْفِدْيَةُ، وَإِمْسَاكُ بَقِيَّةِ النَّهَارِ تَشْبِيهًا بِالصَّائِمِينَ.
Yaitu qadha, kafarah, fidyah, dan tetap menahan diri pada sisa hari itu sebagai bentuk menyerupai orang-orang yang berpuasa.

أَمَّا الْقَضَاءُ فَوُجُوبُهُ عَامٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ تَرَكَ الصَّوْمَ بِعُذْرٍ أَوْ بِغَيْرِ عُذْرٍ.
Adapun qadha, maka kewajibannya berlaku umum atas setiap Muslim mukallaf yang meninggalkan puasa, baik karena uzur maupun tanpa uzur.

فَالْحَائِضُ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَكَذٰلِكَ الْمُرْتَدُّ.
Perempuan haid wajib mengqadha puasanya, demikian pula orang yang murtad.

وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالصَّبِيُّ وَالْمَجْنُونُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمْ.
Adapun orang kafir, anak kecil, dan orang gila, maka tidak ada qadha atas mereka.

وَلَا يُشْتَرَطُ التَّتَابُعُ فِي قَضَاءِ رَمَضَانَ.
Berturut-turut tidak disyaratkan dalam qadha Ramadan.

وَلٰكِنْ يَقْضِي كَيْفَ شَاءَ، مُتَفَرِّقًا وَمَجْمُوعًا.
Akan tetapi ia boleh mengqadhanya sesuka hati, baik terpisah-pisah maupun berturut-turut.

وَأَمَّا الْكَفَّارَةُ فَلَا تَجِبُ إِلَّا بِالْجِمَاعِ.
Adapun kafarah, maka tidak wajib kecuali karena jima‘.

وَأَمَّا الِاسْتِمْنَاءُ وَالْأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَمَا عَدَا الْجِمَاعَ فَلَا تَجِبُ بِهِ كَفَّارَةٌ.
Adapun istimna’, makan, minum, dan selain jima‘, maka tidak mewajibkan kafarah.

فَالْكَفَّارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ.
Kafarah itu adalah memerdekakan seorang budak.

فَإِنْ أَعْسَرَ فَصَوْمُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ.
Jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut.

وَإِنْ عَجَزَ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا مُدًّا مُدًّا.
Jika ia tidak mampu juga, maka memberi makan enam puluh orang miskin, masing-masing satu mud.

وَأَمَّا إِمْسَاكُ بَقِيَّةِ النَّهَارِ فَيَجِبُ عَلَى مَنْ عَصَى بِالْفِطْرِ أَوْ قَصَّرَ فِيهِ.
Adapun menahan diri pada sisa hari itu, maka wajib atas orang yang berbuka karena maksiat atau karena kelalaiannya.

وَلَا يَجِبُ عَلَى الْحَائِضِ إِذَا طَهُرَتْ إِمْسَاكُ بَقِيَّةِ نَهَارِهَا.
Tidak wajib atas perempuan haid, jika ia suci di siang hari, untuk menahan diri pada sisa hari itu.

وَلَا عَلَى الْمُسَافِرِ إِذَا قَدِمَ مُفْطِرًا مِنْ سَفَرٍ بَلَغَ مَرْحَلَتَيْنِ.
Dan tidak pula atas musafir jika ia sampai dari perjalanan sejauh dua marhalah dalam keadaan sudah berbuka.

وَيَجِبُ الْإِمْسَاكُ إِذَا شَهِدَ بِالْهِلَالِ عَدْلٌ وَاحِدٌ يَوْمَ الشَّكِّ.
Menahan diri menjadi wajib apabila seorang yang adil bersaksi melihat hilal pada hari syak.

وَالصَّوْمُ فِي السَّفَرِ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ إِلَّا إِذَا لَمْ يُطِقْ.
Puasa dalam safar lebih utama daripada berbuka, kecuali jika ia memang tidak kuat.

وَلَا يُفْطِرُ يَوْمَ يَخْرُجُ وَهُوَ مُقِيمٌ فِي أَوَّلِهِ.
Dan ia tidak boleh berbuka pada hari ketika ia mulai bepergian, selama awal hari itu ia masih sebagai orang mukim.

وَلَا يَوْمَ يَقْدَمُ إِذَا قَدِمَ صَائِمًا.
Dan ia juga tidak berbuka pada hari kedatangannya jika ia datang dalam keadaan berpuasa.

وَأَمَّا الْفِدْيَةُ فَتَجِبُ عَلَى الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ إِذَا أَفْطَرَتَا خَوْفًا عَلَى وَلَدَيْهِمَا.
Adapun fidyah, maka wajib atas perempuan hamil dan menyusui jika keduanya berbuka karena khawatir terhadap anak mereka.

لِكُلِّ يَوْمٍ مُدُّ حِنْطَةٍ لِمِسْكِينٍ وَاحِدٍ، مَعَ الْقَضَاءِ.
Untuk setiap hari, fidyahnya satu mud gandum kepada satu orang miskin, disertai qadha.

وَالشَّيْخُ الْهَرِمُ إِذَا لَمْ يَصُمْ تَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا.
Orang tua renta, jika tidak berpuasa, bersedekah satu mud untuk setiap hari.

وَأَمَّا السُّنَنُ فَسِتٌّ.
Adapun sunah-sunah puasa ada enam.

تَأْخِيرُ السُّحُورِ.
Mengakhirkan sahur.

وَتَعْجِيلُ الْفِطْرِ بِالتَّمْرِ أَوِ الْمَاءِ قَبْلَ الصَّلَاةِ.
Menyegerakan berbuka dengan kurma atau air sebelum salat.

وَتَرْكُ السِّوَاكِ بَعْدَ الزَّوَالِ.
Meninggalkan siwak setelah zawal.

وَالْجُودُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لِمَا سَبَقَ مِنْ فَضَائِلِهِ فِي الزَّكَاةِ.
Bersikap dermawan pada bulan Ramadan karena keutamaannya yang telah disebutkan pada pembahasan zakat.

وَمُدَارَسَةُ الْقُرْآنِ.
Mempelajari dan saling mengulang Al-Qur’an.

وَالِاعْتِكَافُ فِي الْمَسْجِدِ، لَا سِيَّمَا فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ.
Dan beriktikaf di masjid, terutama pada sepuluh hari terakhir.

فَهُوَ عَادَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Itulah kebiasaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

كَانَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ طَوَى الْفِرَاشَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ وَدَأَبَ وَأَدْأَبَ أَهْلَهُ.
Apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau melipat alas tidurnya, mengencangkan sarungnya, bersungguh-sungguh, dan mengajak keluarganya bersungguh-sungguh.

أَيْ أَدَامُوا النَّصَبَ فِي الْعِبَادَةِ.
Maksudnya, mereka terus-menerus dalam kesungguhan ibadah.

إِذْ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ.
Karena di dalamnya ada Lailatul Qadar.

وَالْأَغْلَبُ أَنَّهَا فِي أَوْتَارِهَا.
Dan yang lebih غالب bahwa ia berada pada malam-malam ganjilnya.

وَأَشْبَهُ الْأَوْتَارِ لَيْلَةُ إِحْدَى وَثَلَاثٍ وَخَمْسٍ وَسَبْعٍ.
Dan malam-malam ganjil yang paling mirip adalah malam ke-21, 23, 25, dan 27.

وَالتَّتَابُعُ فِي هٰذَا الِاعْتِكَافِ أَوْلَى.
Berturut-turut dalam i‘tikaf ini lebih utama.

فَإِنْ نَذَرَ اعْتِكَافًا مُتَتَابِعًا أَوْ نَوَاهُ انْقَطَعَ تَتَابُعُهُ بِالْخُرُوجِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ.
Jika seseorang bernazar i‘tikaf berturut-turut atau meniatkannya demikian, maka kesinambungannya terputus dengan keluar tanpa darurat.

كَمَا لَوْ خَرَجَ لِعِيَادَةٍ أَوْ شَهَادَةٍ أَوْ جَنَازَةٍ أَوْ زِيَارَةٍ أَوْ تَجْدِيدِ طَهَارَةٍ.
Seperti jika ia keluar untuk menjenguk orang sakit, menjadi saksi, menghadiri jenazah, berkunjung, atau memperbarui wudu.

وَإِنْ خَرَجَ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ لَمْ يَنْقَطِعْ.
Jika ia keluar untuk buang hajat, maka tidak terputus.

وَلَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فِي الْبَيْتِ.
Ia juga boleh berwudu di rumah.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَعْرُجَ عَلَى شُغْلٍ آخَرَ.
Namun tidak sepatutnya ia menyibukkan diri dengan urusan lain.

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ، وَلَا يَسْأَلُ عَنِ الْمَرِيضِ إِلَّا مَارًّا.
Nabi صلى الله عليه وسلم tidak keluar kecuali untuk hajat manusiawi, dan tidak bertanya tentang orang sakit kecuali sekadar sambil lewat.

وَيَقْطَعُ التَّتَابُعَ بِالْجِمَاعِ.
Dan hubungan suami-istri memutus kesinambungan i‘tikaf.

وَلَا يَنْقَطِعُ بِالتَّقْبِيلِ.
Akan tetapi, ciuman tidak memutuskannya.

وَلَا بَأْسَ فِي الْمَسْجِدِ بِالطِّيبِ وَعَقْدِ النِّكَاحِ وَبِالْأَكْلِ وَالنَّوْمِ وَغَسْلِ الْيَدِ فِي الطَّسْتِ.
Tidak mengapa di masjid memakai wewangian, melakukan akad nikah, makan, tidur, dan mencuci tangan di bejana.

فَكُلُّ ذٰلِكَ قَدْ يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي التَّتَابُعِ.
Karena semua itu mungkin dibutuhkan dalam استمرار i‘tikaf.

وَلَا يَنْقَطِعُ التَّتَابُعُ بِخُرُوجِ بَعْضِ بَدَنِهِ.
Kesinambungan i‘tikaf tidak terputus jika hanya sebagian tubuhnya yang keluar.

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْنِي رَأْسَهُ فَتُرَجِّلُهُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَهِيَ فِي الْحُجْرَةِ.
Nabi صلى الله عليه وسلم biasa mendekatkan kepalanya, lalu Aisyah رضي الله عنها menyisir rambut beliau, sementara ia berada di dalam kamar.

وَمَهْمَا خَرَجَ الْمُعْتَكِفُ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ، فَإِذَا عَادَ يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَأْنِفَ النِّيَّةَ.
Setiap kali orang yang i‘tikaf keluar untuk hajatnya, lalu kembali, maka sebaiknya ia memperbarui niatnya.

إِلَّا إِذَا كَانَ قَدْ نَوَى أَوَّلًا عَشَرَةَ أَيَّامٍ مَثَلًا.
Kecuali jika sejak awal ia telah berniat sepuluh hari, misalnya.

وَالْأَفْضَلُ مَعَ ذٰلِكَ التَّجْدِيدُ.
Namun tetap saja yang lebih utama adalah memperbaruinya.