Rahasia-Rahasia Puasa dan Syarat-Syarat Bathinnya
اَلْفَصْلُ الثَّانِي فِي أَسْرَارِ الصَّوْمِ وَشُرُوطِهِ الْبَاطِنَةِ.
Fasal kedua tentang rahasia-rahasia puasa dan syarat-syarat batinnya.
اِعْلَمْ
أَنَّ الصَّوْمَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ، وَصَوْمُ الْخُصُوصِ،
وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.
Ketahuilah bahwa puasa itu memiliki tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus,
dan puasa khusus dari yang khusus.
وَأَمَّا
صَوْمُ الْعُمُومِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ،
كَمَا سَبَقَ تَفْصِيلُهُ.
Adapun puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat,
sebagaimana telah dijelaskan rinciannya sebelumnya.
وَأَمَّا
صَوْمُ الْخُصُوصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ
وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ.
Adapun puasa khusus ialah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan,
kaki, dan seluruh anggota badan dari dosa-dosa.
وَأَمَّا
صَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ
وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ، وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
بِالْكُلِّيَّةِ.
Adapun puasa khusus dari yang khusus ialah puasanya hati dari cita-cita yang
rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahannya secara total dari selain
Allah عز وجل.
وَيَحْصُلُ
الْفِطْرُ فِي هٰذَا الصَّوْمِ بِالْفِكْرِ فِيمَا سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ.
Batalnya puasa pada tingkatan ini terjadi dengan memikirkan selain Allah عز وجل
dan selain hari akhir.
وَبِالْفِكْرِ
فِي الدُّنْيَا، إِلَّا دُنْيَا تُرَادُ لِلدِّينِ.
Juga dengan memikirkan dunia, kecuali dunia yang dimaksudkan untuk mendukung
agama.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ مِنْ زَادِ الْآخِرَةِ، وَلَيْسَ مِنَ الدُّنْيَا.
Karena yang demikian itu termasuk bekal akhirat, bukan dunia semata.
حَتَّى
قَالَ أَرْبَابُ الْقُلُوبِ: مَنْ تَحَرَّكَتْ هِمَّتُهُ بِالتَّصَرُّفِ فِي
نَهَارِهِ لِتَدْبِيرِ مَا يُفْطِرُ عَلَيْهِ، كُتِبَتْ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
Sampai para pemilik hati berkata: “Barang siapa perhatiannya pada siang hari
bergerak untuk mengatur apa yang akan ia pakai berbuka, maka dituliskan baginya
satu kesalahan.”
فَإِنَّ
ذٰلِكَ مِنْ قِلَّةِ الْوُثُوقِ بِفَضْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِلَّةِ
الْيَقِينِ بِرِزْقِهِ الْمَوْعُودِ.
Karena hal itu menunjukkan sedikitnya kepercayaan kepada karunia Allah عز وجل
dan lemahnya keyakinan terhadap rezeki yang telah dijanjikan-Nya.
وَهٰذِهِ
رُتْبَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَالصِّدِّيقِينَ وَالْمُقَرَّبِينَ.
Dan ini adalah tingkatan para nabi, shiddiqin, dan orang-orang yang didekatkan
kepada Allah.
وَلَا
يَطُولُ النَّظَرُ فِي تَفْصِيلِهَا قَوْلًا، وَلٰكِنْ فِي تَحْقِيقِهَا عَمَلًا.
Pembahasan tentang rincian tingkatan ini tidak panjang dari sisi ucapan, tetapi
berat pada sisi pengamalannya.
فَإِنَّهُ
إِقْبَالٌ بِكُنْهِ الْهِمَّةِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَانْصِرَافٌ عَنْ
غَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Karena ia adalah mengarahkan seluruh himmah dengan hakikatnya kepada Allah عز وجل
dan berpaling dari selain Allah سبحانه.
وَتَلَبُّسٌ
بِمَعْنَى قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ
يَلْعَبُونَ.
Serta berhias dengan makna firman-Nya عز وجل: “Katakanlah: Allah,
kemudian biarkanlah mereka tenggelam dalam kebatilan mereka bermain-main.”
وَأَمَّا
صَوْمُ الْخُصُوصِ، وَهُوَ صَوْمُ الصَّالِحِينَ، فَهُوَ كَفُّ الْجَوَارِحِ عَنِ
الْآثَامِ.
Adapun puasa khusus, yaitu puasanya orang-orang saleh, maka ia adalah menahan
anggota badan dari dosa-dosa.
وَتَمَامُهُ
بِسِتَّةِ أُمُورٍ.
Kesempurnaannya terwujud dengan enam perkara.
اَلْأَوَّلُ:
غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّهُ عَنِ الِاتِّسَاعِ فِي النَّظَرِ إِلَى كُلِّ مَا
يُذَمُّ وَيُكْرَهُ، وَإِلَى كُلِّ مَا يُشْغِلُ الْقَلْبَ وَيُلْهِي عَنْ ذِكْرِ
اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Yang pertama: menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang secara
leluasa kepada segala sesuatu yang tercela dan dibenci, serta kepada segala hal
yang menyibukkan hati dan melalaikan dari zikir kepada Allah عز وجل.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ
إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللهُ، فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ أَتَاهُ اللهُ
عَزَّ وَجَلَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak
panah Iblis, semoga Allah melaknatnya. Barang siapa meninggalkannya karena
takut kepada Allah, Allah عز وجل
akan memberinya iman yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya.”
وَرَوَى
جَابِرٌ عَنْ أَنَسٍ عَنِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ: خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْكَذِبُ، وَالْغِيبَةُ، وَالنَّمِيمَةُ،
وَالْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ، وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ.
Jabir meriwayatkan dari Anas, dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, bahwa beliau
bersabda: “Lima perkara membatalkan puasa: dusta, ghibah, adu domba, sumpah
dusta, dan memandang dengan syahwat.”
اَلثَّانِي:
حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْهَذَيَانِ وَالْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ
وَالْفُحْشِ وَالْجَفَاءِ وَالْخُصُومَةِ وَالْمِرَاءِ.
Yang kedua: menjaga lisan dari omong kosong, dusta, ghibah, namimah, kata-kata
kotor, kekasaran, pertengkaran, dan perdebatan.
وَإِلْزَامُهُ
السُّكُوتَ، وَشَغْلُهُ بِذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ.
Lalu membiasakannya diam serta menyibukkannya dengan zikir kepada Allah سبحانه
dan tilawah Al-Qur’an.
فَهٰذَا
صَوْمُ اللِّسَانِ.
Inilah puasanya lisan.
وَقَدْ
قَالَ سُفْيَانُ: الْغِيبَةُ تُفْسِدُ الصَّوْمَ.
Sufyan berkata: “Ghibah merusak puasa.”
رَوَاهُ
بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ عَنْهُ.
Bisyr bin al-Harits meriwayatkannya darinya.
وَرَوَى
لَيْثٌ عَنْ مُجَاهِدٍ: خَصْلَتَانِ يُفْسِدَانِ الصِّيَامَ: الْغِيبَةُ
وَالْكَذِبُ.
Laits meriwayatkan dari Mujahid: “Dua sifat merusak puasa: ghibah dan dusta.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ
أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ
أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Sesungguhnya puasa itu perisai. Maka apabila salah
seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan jangan pula
bersikap bodoh. Jika seseorang mengajaknya bertengkar atau mencacinya,
hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku
sedang berpuasa.’”
وَجَاءَ
فِي الْخَبَرِ: إِنَّ امْرَأَتَيْنِ صَامَتَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجْهَدَهُمَا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ مِنْ آخِرِ
النَّهَارِ حَتَّى كَادَتَا أَنْ تَتْلَفَا.
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: “Sesungguhnya ada dua perempuan yang
berpuasa pada masa Rasulullah صلى
الله عليه وسلم. Pada akhir siang, rasa lapar dan haus sangat melelahkan
keduanya hingga hampir binasa.”
فَبَعَثَتَا
إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْتَأْذِنَانِ فِي
الْإِفْطَارِ.
Lalu keduanya mengutus seseorang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk meminta izin
berbuka.
فَأَرْسَلَ
إِلَيْهِمَا قَدَحًا، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُلْ لَهُمَا
قِيئَا فِيهِ مَا أَكَلْتُمَا.
Maka beliau mengirimkan sebuah bejana kepada keduanya dan bersabda: “Katakan
kepada keduanya agar memuntahkan ke dalamnya apa yang kalian makan.”
فَقَاءَتْ
إِحْدَاهُمَا نِصْفَهُ دَمًا عَبِيطًا وَلَحْمًا غَرِيضًا.
Maka salah satu dari keduanya memuntahkan setengah bejana berupa darah segar
dan daging mentah.
وَقَاءَتِ
الْأُخْرَى مِثْلَ ذٰلِكَ، حَتَّى مَلَأَتَاهُ.
Dan yang lainnya memuntahkan hal yang sama, hingga bejana itu penuh.
فَعَجِبَ
النَّاسُ مِنْ ذٰلِكَ.
Orang-orang pun heran melihat hal itu.
فَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَاتَانِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللهُ
لَهُمَا، وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمَا.
Maka Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Kedua perempuan ini berpuasa dari apa yang Allah
halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas
mereka.”
قَعَدَتْ
إِحْدَاهُمَا إِلَى الْأُخْرَى، فَجَعَلَتَا يَغْتَابَانِ النَّاسَ.
“Keduanya duduk bersama, lalu saling mengghibahi manusia.”
فَهٰذَا
مَا أَكَلَتَا مِنْ لُحُومِهِمْ.
“Maka inilah daging-daging manusia yang telah mereka makan.”
اَلثَّالِثُ:
كَفُّ السَّمْعِ عَنِ الْإِصْغَاءِ إِلَى كُلِّ مَكْرُوهٍ.
Yang ketiga: menahan pendengaran dari mendengarkan segala sesuatu yang dibenci.
لِأَنَّ
كُلَّ مَا حُرِّمَ قَوْلُهُ حُرِّمَ الْإِصْغَاءُ إِلَيْهِ.
Karena setiap perkataan yang haram diucapkan, haram pula didengarkan.
وَلِذٰلِكَ
سَوَّى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ الْمُسْتَمِعِ وَآكِلِ السُّحْتِ.
Karena itu Allah عز وجل
menyamakan antara pendengar kebatilan dan pemakan harta haram.
فَقَالَ
تَعَالَى: سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka itu suka mendengar kebohongan dan banyak
memakan yang haram.”
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ
قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ.
Dan Allah عز وجل
berfirman: “Mengapa para rabbani dan ahbar tidak melarang mereka dari perkataan
dosa dan memakan yang haram?”
فَالسُّكُوتُ
عَلَى الْغِيبَةِ حَرَامٌ.
Maka diam terhadap ghibah itu haram.
قَالَ
تَعَالَى: إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya kalian saat itu sama saja dengan mereka.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُغْتَابُ وَالْمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ
فِي الْإِثْمِ.
Karena itu Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Orang yang mengghibahi dan pendengarnya adalah dua
sekutu dalam dosa.”
اَلرَّابِعُ:
كَفُّ بَقِيَّةِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ، مِنَ الْيَدِ وَالرِّجْلِ عَنِ
الْمَكَارِهِ، وَكَفُّ الْبَطْنِ عَنِ الشُّبُهَاتِ وَقْتَ الْإِفْطَارِ.
Yang keempat: menahan sisa anggota badan dari dosa-dosa, menahan tangan dan
kaki dari keburukan, serta menjaga perut dari yang syubhat saat berbuka.
فَلَا
مَعْنَى لِلصَّوْمِ وَهُوَ الْكَفُّ عَنِ الطَّعَامِ الْحَلَالِ، ثُمَّ
الْإِفْطَارُ عَلَى الْحَرَامِ.
Tidak ada makna puasa jika seseorang menahan diri dari makanan halal, lalu
berbuka dengan yang haram.
فَمِثَالُ
هٰذَا الصَّائِمِ مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا.
Perumpamaan orang yang berpuasa seperti ini seperti orang yang membangun istana
tetapi merobohkan sebuah kota.
فَإِنَّ
الطَّعَامَ الْحَلَالَ إِنَّمَا يَضُرُّ بِكَثْرَتِهِ لَا بِنَوْعِهِ، فَالصَّوْمُ
لِتَقْلِيلِهِ.
Makanan halal itu berbahaya karena berlebihan, bukan karena jenisnya. Maka
puasa bertujuan menguranginya.
وَتَارِكُ
الِاسْتِكْثَارِ مِنَ الدَّوَاءِ خَوْفًا مِنْ ضَرَرِهِ، إِذَا عَدَلَ إِلَى
تَنَاوُلِ السُّمِّ كَانَ سَفِيهًا.
Orang yang meninggalkan banyak obat karena takut bahayanya, lalu beralih
meminum racun, tentu adalah orang bodoh.
وَالْحَرَامُ
سُمٌّ مُهْلِكٌ لِلدِّينِ.
Yang haram adalah racun yang membinasakan agama.
وَالْحَلَالُ
دَوَاءٌ يَنْفَعُ قَلِيلُهُ وَيَضُرُّ كَثِيرُهُ.
Sedangkan yang halal adalah obat; sedikitnya bermanfaat, dan banyaknya
berbahaya.
وَقَصْدُ
الصَّوْمِ تَقْلِيلُهُ.
Tujuan puasa adalah menguranginya.
وَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ
صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak
memperoleh dari puasanya selain lapar dan haus.”
فَقِيلَ:
هُوَ الَّذِي يُفْطِرُ عَلَى الْحَرَامِ.
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah orang yang berbuka dengan yang haram.
وَقِيلَ:
هُوَ الَّذِي يُمْسِكُ عَنِ الطَّعَامِ الْحَلَالِ وَيُفْطِرُ عَلَى لُحُومِ
النَّاسِ بِالْغِيبَةِ، وَهُوَ حَرَامٌ.
Dan ada yang mengatakan: ia adalah orang yang menahan diri dari makanan halal
tetapi berbuka dengan memakan daging manusia melalui ghibah, dan itu haram.
وَقِيلَ:
هُوَ الَّذِي لَا يَحْفَظُ جَوَارِحَهُ عَنِ الْآثَامِ.
Dan ada pula yang mengatakan: ia adalah orang yang tidak menjaga anggota
badannya dari dosa-dosa.
اَلْخَامِسُ:
أَنْ لَا يَسْتَكْثِرَ مِنَ الطَّعَامِ الْحَلَالِ وَقْتَ الْإِفْطَارِ، بِحَيْثُ
يَمْتَلِئُ جَوْفُهُ.
Yang kelima: jangan terlalu banyak makan makanan halal saat berbuka hingga
memenuhi perutnya.
فَمَا
مِنْ وِعَاءٍ أَبْغَضُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ بَطْنٍ مَلِيءٍ مِنْ
حَلَالٍ.
Tidak ada wadah yang lebih dibenci Allah عز وجل daripada perut yang
penuh dengan makanan halal.
وَكَيْفَ
يُسْتَفَادُ مِنَ الصَّوْمِ قَهْرُ عَدُوِّ اللهِ وَكَسْرُ الشَّهْوَةِ، إِذَا
تَدَارَكَ الصَّائِمُ عِنْدَ فِطْرِهِ مَا فَاتَهُ ضُحْوَةَ نَهَارِهِ؟
Bagaimana mungkin tujuan puasa, yaitu menundukkan musuh Allah dan mematahkan
syahwat, bisa tercapai jika orang yang berpuasa justru mengejar pada saat
berbuka apa yang terlewat dari dirinya sepanjang siang hari?
وَرُبَّمَا
يَزِيدُ عَلَيْهِ فِي أَلْوَانِ الطَّعَامِ.
Bahkan terkadang ia menambahinya dengan beragam jenis makanan.
حَتَّى
اسْتَمَرَّتِ الْعَادَاتُ بِأَنْ تُدَّخَرَ جَمِيعُ الْأَطْعِمَةِ لِرَمَضَانَ،
فَيُؤْكَلُ مِنَ الْأَطْعِمَةِ فِيهِ مَا لَا يُؤْكَلُ فِي عِدَّةِ أَشْهُرٍ.
Sampai-sampai kebiasaan manusia menjadi demikian, yaitu semua makanan disimpan
untuk Ramadan, lalu di bulan itu dimakan berbagai makanan yang sebenarnya tidak
dimakan dalam beberapa bulan sekaligus.
وَمَعْلُومٌ
أَنَّ مَقْصُودَ الصَّوْمِ الْخَوَاءُ وَكَسْرُ الْهَوَى لِتَقْوَى النَّفْسُ
عَلَى التَّقْوَى.
Padahal telah diketahui bahwa tujuan puasa adalah mengosongkan perut dan
mematahkan hawa nafsu agar jiwa menjadi kuat untuk bertakwa.
وَإِذَا
دُفِعَتِ الْمَعِدَةُ مِنْ ضَحْوَةِ نَهَارٍ إِلَى الْعِشَاءِ، حَتَّى هَاجَتْ
شَهْوَتُهَا وَقَوِيَتْ رَغْبَتُهَا، ثُمَّ أُطْعِمَتْ مِنَ اللَّذَّاتِ
وَأُشْبِعَتْ، زَادَتْ لَذَّتُهَا وَتَضَاعَفَتْ قُوَّتُهَا.
Apabila perut dibiarkan kosong dari waktu pagi hingga malam, sampai syahwatnya
bangkit dan keinginannya menguat, kemudian ketika berbuka ia diberi berbagai
kenikmatan makanan dan dibuat kenyang, maka kenikmatannya justru bertambah dan
kekuatannya berlipat ganda.
وَانْبَعَثَ
مِنَ الشَّهَوَاتِ مَا عَسَاهَا كَانَتْ رَاكِدَةً لَوْ تُرِكَتْ عَلَى عَادَتِهَا.
Dan berbagai syahwat akan bangkit, padahal mungkin sebelumnya ia tenang jika
dibiarkan pada kebiasaannya semula.
فَرُوحُ
الصَّوْمِ وَسِرُّهُ تَضْعِيفُ الْقُوَى الَّتِي هِيَ وَسَائِلُ الشَّيْطَانِ فِي
الْعَوْدِ إِلَى الشُّرُورِ.
Padahal ruh puasa dan rahasianya adalah melemahkan kekuatan-kekuatan yang
merupakan sarana setan untuk mengembalikan manusia kepada keburukan.
وَلَنْ
يَحْصُلَ ذٰلِكَ إِلَّا بِالتَّقْلِيلِ.
Dan hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan mengurangi makan.
وَهُوَ
أَنْ يَأْكُلَ أُكْلَتَهُ الَّتِي كَانَ يَأْكُلُهَا كُلَّ لَيْلَةٍ لَوْ لَمْ
يَصُمْ.
Yaitu seseorang cukup makan pada malam hari sebagaimana biasanya ia makan
setiap malam jika ia tidak berpuasa.
فَأَمَّا
إِذَا جَمَعَ مَا كَانَ يَأْكُلُهُ ضُحْوَةً إِلَى مَا كَانَ يَأْكُلُهُ لَيْلًا،
فَلَمْ يَنْتَفِعْ بِصَوْمِهِ.
Adapun jika ia menggabungkan makanan siang yang biasa ia makan dengan makanan
malam yang biasa ia makan, maka ia tidak mendapatkan manfaat puasa.
بَلْ
مِنَ الْآدَابِ أَنْ لَا يُكْثِرَ النَّوْمَ بِالنَّهَارِ حَتَّى يَحِسَّ
بِالْجُوعِ وَالْعَطَشِ.
Bahkan termasuk adab puasa ialah tidak memperbanyak tidur di siang hari, agar
ia merasakan lapar dan haus.
وَيَسْتَشْعِرَ
ضَعْفَ الْقُوَى.
Dan agar ia merasakan lemahnya kekuatan tubuh.
فَيَصْفُوَ
عِنْدَ ذٰلِكَ قَلْبُهُ.
Dengan demikian, hatinya akan menjadi jernih.
وَيَسْتَدِيمَ
فِي كُلِّ لَيْلَةٍ قَدْرًا مِنَ الضَّعْفِ، حَتَّى يَخِفَّ عَلَيْهِ تَهَجُّدُهُ
وَأَوْرَادُهُ.
Dan pada setiap malam ia tetap membawa sedikit rasa lemah itu, sampai tahajud
dan wirid-wiridnya menjadi ringan baginya.
فَعَسَى
الشَّيْطَانَ أَنْ لَا يَحُومَ عَلَى قَلْبِهِ، فَيَنْظُرَ إِلَى مَلَكُوتِ
السَّمَاءِ.
Maka mudah-mudahan setan tidak lagi berputar di atas hatinya, sehingga ia dapat
memandang kerajaan langit.
وَلَيْلَةُ
الْقَدْرِ عِبَارَةٌ عَنِ اللَّيْلَةِ الَّتِي يَنْكَشِفُ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ
الْمَلَكُوتِ.
Lailatul Qadar adalah malam ketika tersingkap sesuatu dari alam malakut.
وَهُوَ
الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ.
Inilah yang dimaksud oleh firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya Kami menurunkannya
pada malam kemuliaan.”
وَمَنْ
جَعَلَ بَيْنَ قَلْبِهِ وَبَيْنَ صَدْرِهِ مِخْلَاةً مِنَ الطَّعَامِ فَهُوَ
عَنْهُ مَحْجُوبٌ.
Dan barang siapa memenuhi rongga antara hati dan dadanya dengan makanan, maka
ia terhijab dari hal itu.
وَمَنْ
أَخْلَى مَعِدَتَهُ فَلَا يَكْفِيهِ ذٰلِكَ لِرَفْعِ الْحِجَابِ مَا لَمْ يُخْلِ
هِمَّتَهُ عَنْ غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun orang yang mengosongkan perutnya, itu saja belum cukup untuk mengangkat
hijab sampai ia juga mengosongkan himmahnya dari selain Allah عز وجل.
وَذٰلِكَ
هُوَ الْأَمْرُ كُلُّهُ.
Dan itulah inti seluruh perkara.
وَمَبْدَأُ
جَمِيعِ ذٰلِكَ تَقْلِيلُ الطَّعَامِ.
Awal dari semua itu adalah mengurangi makanan.
وَسَيَأْتِي
لَهُ مَزِيدُ بَيَانٍ فِي كِتَابِ الْأَطْعِمَةِ إِنْ شَاءَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan penjelasan lebih lanjut tentang hal ini akan datang dalam Kitab Makanan,
insya Allah عز وجل.
اَلسَّادِسُ:
أَنْ يَكُونَ قَلْبُهُ بَعْدَ الْإِفْطَارِ مُعَلَّقًا مُضْطَرِبًا بَيْنَ
الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ.
Perkara keenam ialah hendaknya hatinya setelah berbuka tetap tergantung dan
bergetar antara rasa takut dan harapan.
إِذْ
لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ، أَوْ يُرَدُّ
عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ.
Sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga ia termasuk orang-orang
yang didekatkan kepada Allah, atau ditolak sehingga ia termasuk orang-orang
yang dimurkai.
وَلْيَكُنْ
كَذٰلِكَ فِي آخِرِ كُلِّ عِبَادَةٍ يَفْرُغُ مِنْهَا.
Dan hendaknya demikian pula keadaannya pada akhir setiap ibadah yang telah
selesai ia lakukan.
فَقَدْ
رُوِيَ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ أَنَّهُ مَرَّ بِقَوْمٍ
وَهُمْ يَضْحَكُونَ.
Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa ia melewati sekelompok orang yang
sedang tertawa.
فَقَالَ:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مُضْمَارًا لِخَلْقِهِ
يَسْتَبِقُونَ فِيهِ لِطَاعَتِهِ.
Lalu ia berkata: “Sesungguhnya Allah عز وجل menjadikan bulan Ramadan sebagai arena
perlombaan bagi makhluk-Nya, yang di dalamnya mereka berlomba-lomba menuju
ketaatan kepada-Nya.”
فَسَبَقَ
قَوْمٌ فَفَازُوا، وَتَخَلَّفَ أَقْوَامٌ فَخَابُوا.
Sebagian orang mendahului lalu mereka beruntung, dan sebagian lain tertinggal
lalu mereka merugi.
فَالْعَجَبُ
كُلُّ الْعَجَبِ لِلضَّاحِكِ اللَّاعِبِ فِي الْيَوْمِ الَّذِي فَازَ فِيهِ
السَّابِقُونَ وَخَابَ فِيهِ الْمُبْطِلُونَ.
Sungguh sangat mengherankan orang yang tertawa dan bermain-main pada hari
ketika orang-orang yang lebih dahulu telah menang dan orang-orang yang batil
telah merugi.
أَمَا
وَاللهِ لَوْ كُشِفَ الْغِطَاءُ لَاشْتَغَلَ الْمُحْسِنُ بِإِحْسَانِهِ،
وَالْمُسِيءُ بِإِسَاءَتِهِ.
Demi Allah, seandainya tabir disingkap, niscaya orang yang berbuat baik akan
sibuk dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan sibuk dengan
keburukannya.
أَيْ
كَانَ سُرُورُ الْمَقْبُولِ يَشْغَلُهُ عَنِ اللَّعِبِ، وَحَسْرَةُ الْمَرْدُودِ
تَسُدُّ عَلَيْهِ بَابَ الضَّحِكِ.
Artinya, kegembiraan orang yang diterima amalnya akan menyibukkannya dari
bermain-main, sedangkan penyesalan orang yang ditolak amalnya akan menutup
pintu tertawa baginya.
وَعَنِ
الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: إِنَّكَ شَيْخٌ كَبِيرٌ وَإِنَّ
الصِّيَامَ يُضْعِفُكَ.
Dan dari al-Ahnaf bin Qais, diriwayatkan bahwa dikatakan kepadanya: “Engkau
sudah sangat tua, dan puasa itu melemahkanmu.”
فَقَالَ:
إِنِّي أُعِدُّهُ لِسَفَرٍ طَوِيلٍ.
Ia menjawab: “Aku menyiapkannya untuk sebuah perjalanan yang panjang.”
وَالصَّبْرُ
عَلَى طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ أَهْوَنُ مِنَ الصَّبْرِ عَلَى عَذَابِهِ.
Dan sabar dalam menaati Allah سبحانه
lebih ringan daripada sabar menanggung azab-Nya.
فَهٰذِهِ
هِيَ الْمَعَانِي الْبَاطِنَةُ فِي الصَّوْمِ.
Inilah makna-makna batin dalam puasa.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَنِ اقْتَصَرَ عَلَى كَفِّ شَهْوَةِ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ وَتَرَكَ
هٰذِهِ الْمَعَانِي، فَقَدْ قَالَ الْفُقَهَاءُ: صَوْمُهُ صَحِيحٌ، فَمَا
مَعْنَاهُ؟
Jika engkau bertanya: orang yang hanya menahan syahwat perut dan kemaluan
tetapi meninggalkan makna-makna batin ini, padahal para fuqaha mengatakan
puasanya sah, maka apa maknanya?
فَاعْلَمْ
أَنَّ فُقَهَاءَ الظَّاهِرِ يُثْبِتُونَ شُرُوطَ الظَّاهِرِ بِأَدِلَّةٍ هِيَ
أَضْعَفُ مِنْ هٰذِهِ الْأَدِلَّةِ الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا فِي هٰذِهِ الشُّرُوطِ
الْبَاطِنَةِ، لَا سِيَّمَا الْغِيبَةَ وَأَمْثَالَهَا.
Ketahuilah bahwa fuqaha ahli الظاهر
menetapkan syarat-syarat lahiriah dengan dalil-dalil yang bahkan lebih lemah
daripada dalil-dalil yang telah kami sebutkan mengenai syarat-syarat batin ini,
khususnya dalam masalah ghibah dan yang semisalnya.
وَلٰكِنْ
لَيْسَ إِلَى فُقَهَاءِ الظَّاهِرِ مِنَ التَّكْلِيفَاتِ إِلَّا مَا يَتَيَسَّرُ
عَلَى عُمُومِ الْغَافِلِينَ الْمُقْبِلِينَ عَلَى الدُّنْيَا الدُّخُولُ تَحْتَهُ.
Akan tetapi, para fuqaha zahir tidak membebani manusia kecuali dengan apa yang
dapat masuk dalam kemampuan umum orang-orang yang lalai dan sibuk dengan dunia.
فَأَمَّا
عُلَمَاءُ الْآخِرَةِ فَيَعْنُونَ بِالصِّحَّةِ الْقَبُولَ، وَبِالْقَبُولِ
الْوُصُولَ إِلَى الْمَقْصُودِ.
Adapun ulama akhirat, maka yang mereka maksud dengan “sah” ialah “diterima”,
dan yang mereka maksud dengan “diterima” ialah sampai kepada tujuan sebenarnya.
وَيَفْهَمُونَ
أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الصَّوْمِ التَّخَلُّقُ بِخُلُقٍ مِنْ أَخْلَاقِ اللهِ
عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ الصَّمَدِيَّةُ.
Mereka memahami bahwa tujuan puasa adalah meneladani salah satu sifat Allah عز وجل,
yaitu aṣ-Ṣamadiyyah.
وَالِاقْتِدَاءُ
بِالْمَلَائِكَةِ فِي الْكَفِّ عَنِ الشَّهَوَاتِ بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ،
فَإِنَّهُمْ مُنَزَّهُونَ عَنِ الشَّهَوَاتِ.
Dan meneladani para malaikat dalam menahan diri dari syahwat sebatas kemampuan,
karena para malaikat suci dari syahwat.
وَالْإِنْسَانُ
رُتْبَتُهُ فَوْقَ رُتْبَةِ الْبَهَائِمِ لِقُدْرَتِهِ بِنُورِ الْعَقْلِ عَلَى
كَسْرِ شَهْوَتِهِ.
Manusia derajatnya berada di atas hewan, karena dengan cahaya akal ia mampu
mematahkan syahwatnya.
وَدُونَ
رُتْبَةِ الْمَلَائِكَةِ لِاسْتِيلَاءِ الشَّهَوَاتِ عَلَيْهِ وَكَوْنِهِ
مُبْتَلًى بِمُجَاهَدَتِهَا.
Namun manusia berada di bawah derajat malaikat, karena syahwat menguasainya dan
ia diuji dengan perjuangan melawannya.
فَكُلَّمَا
انْهَمَكَ فِي الشَّهَوَاتِ انْحَطَّ إِلَى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ وَالْتَحَقَ
بِغِمَارِ الْبَهَائِمِ.
Maka setiap kali ia tenggelam dalam syahwat, ia turun ke serendah-rendah tempat
dan bergabung dengan kumpulan hewan.
وَكُلَّمَا
قَمَعَ الشَّهَوَاتِ ارْتَفَعَ إِلَى أَعْلَى عِلِّيِّينَ وَالْتَحَقَ بِأُفُقِ
الْمَلَائِكَةِ.
Dan setiap kali ia menundukkan syahwat, ia naik ke tingkat ‘Illiyyin dan
mendekati ufuk para malaikat.
وَالْمَلَائِكَةُ
مُقَرَّبُونَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالَّذِي يَقْتَدِي بِهِمْ وَيَتَشَبَّهُ
بِأَخْلَاقِهِمْ يَقْرُبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَقُرْبِهِمْ.
Para malaikat adalah makhluk yang didekatkan kepada Allah عز وجل, dan orang yang
meneladani mereka serta menyerupai akhlak mereka akan menjadi dekat kepada
Allah seperti kedekatan mereka.
فَإِنَّ
الشَّبِيهَ مِنَ الْقَرِيبِ قَرِيبٌ.
Karena siapa yang menyerupai orang yang dekat, ia pun menjadi dekat.
وَلَيْسَ
الْقُرْبُ ثَمَّ بِالْمَكَانِ بَلْ بِالصِّفَاتِ.
Dan kedekatan di sana bukanlah dengan tempat, tetapi dengan sifat.
وَإِذَا
كَانَ هٰذَا سِرَّ الصَّوْمِ عِنْدَ أَرْبَابِ الْأَلْبَابِ وَأَصْحَابِ
الْقُلُوبِ، فَأَيُّ جَدْوَى لِتَأْخِيرِ أُكْلَةٍ وَجَمْعِ أُكْلَتَيْنِ عِنْدَ
الْعِشَاءِ، مَعَ الِانْهَمَاكِ فِي الشَّهَوَاتِ الْأُخَرِ طُولَ النَّهَارِ؟
Jika inilah rahasia puasa menurut orang-orang berakal dan pemilik hati, lalu
apa gunanya menunda satu kali makan dan menggabungkan dua kali makan saat
malam, sementara sepanjang hari ia tenggelam dalam syahwat-syahwat yang lain?
وَلَوْ
كَانَ لِمِثْلِهِ جَدْوَى، فَأَيُّ مَعْنًى لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ
وَالْعَطَشُ؟
Seandainya hal seperti itu memang bermanfaat, maka apa makna sabda Nabi صلى الله عليه
وسلم: “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan
dari puasanya selain lapar dan haus?”
وَلِهٰذَا
قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: يَا حُبَّذَا نَوْمُ الْأَكْيَاسِ وَفِطْرُهُمْ، كَيْفَ
لَا يَعِيبُونَ صَوْمَ الْحُمْقَى وَسَهَرَهُمْ؟
Karena itu Abu ad-Darda’ berkata: “Betapa indah tidurnya orang-orang cerdas dan
berbukanya mereka. Mengapa mereka tidak mencela puasa orang-orang bodoh dan
begadang mereka?”
وَلَذَرَّةٌ
مِنْ ذَوِي يَقِينٍ وَتَقْوَى أَفْضَلُ وَأَرْجَحُ مِنْ أَمْثَالِ الْجِبَالِ
عِبَادَةً مِنَ الْمُغْتَرِّينَ.
Satu ذرّة
dari amal orang yang memiliki keyakinan dan takwa lebih utama dan lebih berat
timbangannya daripada ibadah sebesar gunung dari orang-orang yang tertipu.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: كَمْ مِنْ صَائِمٍ مُفْطِرٍ، وَكَمْ مِنْ مُفْطِرٍ
صَائِمٍ.
Karena itu sebagian ulama berkata: “Betapa banyak orang yang ظاهراً berpuasa padahal
hakikatnya berbuka, dan betapa banyak orang yang ظاهراً berbuka padahal
hakikatnya berpuasa.”
وَالْمُفْطِرُ
الصَّائِمُ هُوَ الَّذِي يَحْفَظُ جَوَارِحَهُ عَنِ الْآثَامِ وَيَأْكُلُ
وَيَشْرَبُ.
Orang yang berbuka tetapi sebenarnya berpuasa adalah orang yang menjaga anggota
tubuhnya dari dosa, meskipun ia makan dan minum.
وَالصَّائِمُ
الْمُفْطِرُ هُوَ الَّذِي يَجُوعُ وَيَعْطَشُ وَيُطْلِقُ جَوَارِحَهُ.
Sedangkan orang yang berpuasa tetapi sebenarnya berbuka adalah orang yang lapar
dan haus, tetapi membiarkan anggota tubuhnya bebas berbuat dosa.
وَمَنْ
فَهِمَ مَعْنَى الصَّوْمِ وَسِرَّهُ عَلِمَ أَنَّ مَثَلَ مَنْ كَفَّ عَنِ
الْأَكْلِ وَالْجِمَاعِ وَأَفْطَرَ بِمُخَالَطَةِ الْآثَامِ كَمَثَلِ مَنْ مَسَحَ
عَلَى عُضْوٍ مِنْ أَعْضَائِهِ فِي الْوُضُوءِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.
Barang siapa memahami makna puasa dan rahasianya, ia akan tahu bahwa orang yang
menahan makan dan jima‘ tetapi “berbuka” dengan melakukan berbagai dosa,
seperti orang yang hanya mengusap salah satu anggota wudunya tiga kali.
فَقَدْ
وَافَقَ فِي الظَّاهِرِ الْعَدَدَ، إِلَّا أَنَّهُ تَرَكَ الْمُهِمَّ وَهُوَ
الْغَسْلُ، فَصَلَاتُهُ مَرْدُودَةٌ عَلَيْهِ بِجَهْلِهِ.
Ia hanya cocok dalam jumlah secara lahiriah, tetapi meninggalkan yang
terpenting, yaitu membasuh. Maka salatnya tertolak karena kebodohannya.
وَمَثَلُ
مَنْ أَفْطَرَ بِالْأَكْلِ وَصَامَ بِجَوَارِحِهِ عَنِ الْمَكَارِهِ كَمَثَلِ مَنْ
غَسَلَ أَعْضَاءَهُ مَرَّةً مَرَّةً، فَصَلَاتُهُ مُتَقَبَّلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ
لِإِحْكَامِهِ الْأَصْلَ وَإِنْ تَرَكَ الْفَضْلَ.
Dan perumpamaan orang yang berbuka dengan makan tetapi anggota tubuhnya
berpuasa dari keburukan seperti orang yang membasuh anggota wudunya
sekali-sekali. Maka salatnya diterima insya Allah karena ia telah menegakkan
asal, meskipun meninggalkan keutamaan.
وَمَثَلُ
مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا كَمَثَلِ مَنْ غَسَلَ كُلَّ عُضْوٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ،
فَجَمَعَ بَيْنَ الْأَصْلِ وَالْفَضْلِ وَهُوَ الْكَمَالُ.
Dan perumpamaan orang yang menggabungkan keduanya seperti orang yang membasuh
setiap anggota wudunya tiga kali, sehingga menggabungkan antara pokok dan
keutamaan, dan itulah kesempurnaan.
وَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الصَّوْمَ أَمَانَةٌ، فَلْيَحْفَظْ
أَحَدُكُمْ أَمَانَتَهُ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Sesungguhnya puasa adalah amanah, maka hendaklah
salah seorang dari kalian menjaga amanahnya.”
وَلَمَّا
تَلَا قَوْلَهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا
الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا، وَضَعَ يَدَهُ عَلَى سَمْعِهِ وَبَصَرِهِ،
فَقَالَ: السَّمْعُ أَمَانَةٌ وَالْبَصَرُ أَمَانَةٌ.
Ketika beliau membaca firman Allah عز وجل: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian
untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya,” beliau meletakkan
tangannya pada pendengaran dan penglihatannya, lalu bersabda: “Pendengaran
adalah amanah dan penglihatan adalah amanah.”
وَلَوْلَا
أَنَّهُ مِنْ أَمَانَاتِ الصَّوْمِ لَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ.
Kalau bukan karena itu termasuk amanah puasa, tentu beliau tidak akan bersabda:
“Maka hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
أَيْ
إِنِّي أَوْدَعْتُ لِسَانِي لِأَحْفَظَهُ، فَكَيْفَ أُطْلِقُهُ بِجَوَابِكَ؟
Artinya: “Aku telah menitipkan lisanku untuk kujaga, lalu bagaimana mungkin aku
melepaskannya untuk menjawabmu?”
فَإِذًا
قَدْ ظَهَرَ أَنَّ لِكُلِّ عِبَادَةٍ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.
Maka jelaslah bahwa setiap ibadah memiliki sisi lahir dan sisi batin.
وَقِشْرًا
وَلُبًّا.
Ada kulitnya dan ada intinya.
وَلِقِشْرِهَا
دَرَجَاتٌ، وَلِكُلِّ دَرَجَةٍ طَبَقَاتٌ.
Bahkan untuk kulitnya pun ada tingkatan-tingkatan, dan tiap tingkatan memiliki
lapisan-lapisan.
فَإِلَيْكَ
الْخِيَرَةُ الْآنَ فِي أَنْ تَقْنَعَ بِالْقِشْرِ عَنِ اللُّبَابِ، أَوْ
تَتَحَيَّزَ إِلَى غِمَارِ أَرْبَابِ الْأَلْبَابِ.
Sekarang pilihan ada padamu: apakah engkau akan merasa cukup dengan kulit tanpa
inti, ataukah engkau akan bergabung dengan golongan orang-orang yang memiliki
akal dan hati yang jernih.