Puasa Puasa Sunnah
اَلْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي التَّطَوُّعِ بِالصِّيَامِ وَتَرْتِيبِ الْأَوْرَادِ فِيهِ
Bab ketiga tentang puasa sunah dan pengaturan wirid-wirid di dalamnya.
اِعْلَمْ
أَنَّ اسْتِحْبَابَ الصَّوْمِ يَتَأَكَّدُ فِي الْأَيَّامِ الْفَاضِلَةِ،
وَفَوَاضِلُ الْأَيَّامِ بَعْضُهَا يُوجَدُ فِي كُلِّ سَنَةٍ، وَبَعْضُهَا يُوجَدُ
فِي كُلِّ شَهْرٍ، وَبَعْضُهَا فِي كُلِّ أُسْبُوعٍ.
Ketahuilah bahwa anjuran puasa semakin ditekankan pada hari-hari utama.
Hari-hari utama itu sebagiannya ada setiap tahun, sebagiannya ada setiap bulan,
dan sebagiannya ada setiap pekan.
أَمَّا
فِي السَّنَةِ بَعْدَ أَيَّامِ رَمَضَانَ فَيَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ
عَاشُورَاءَ، وَالْعَشْرُ الْأُوَلُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَالْعَشْرُ الْأُوَلُ
مِنَ الْمُحَرَّمِ، وَجَمِيعُ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ مَظَانُّ الصَّوْمِ، وَهِيَ
أَوْقَاتٌ فَاضِلَةٌ.
Adapun dalam satu tahun, setelah hari-hari Ramadan, maka yang utama ialah hari
Arafah, hari Asyura, sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, sepuluh hari pertama
bulan Muharam, dan seluruh bulan-bulan haram adalah waktu-waktu yang layak
untuk berpuasa. Semua itu adalah waktu-waktu yang mulia.
وَكَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ صَوْمَ شَعْبَانَ
حَتَّى كَانَ يُظَنُّ أَنَّهُ فِي رَمَضَانَ.
Rasulullah saw. dahulu banyak berpuasa pada bulan Syakban, sampai-sampai
disangka beliau sedang berada dalam Ramadan.
وَفِي
الْخَبَرِ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ
الْمُحَرَّمُ.
Dalam sebuah hadis disebutkan: Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan
adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.
لِأَنَّهُ
ابْتِدَاءُ السَّنَةِ، فَبِنَاؤُهَا عَلَى الْخَيْرِ أَحَبُّ وَأَرْجَى لِدَوَامِ
بَرَكَتِهِ.
Karena bulan itu adalah permulaan tahun, maka memulainya dengan kebaikan lebih
dicintai dan lebih diharapkan keberlangsungan berkahnya.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ أَفْضَلُ
مِنْ ثَلَاثِينَ مِنْ غَيْرِهِ، وَصَوْمُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ
ثَلَاثِينَ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ.
Beliau saw. bersabda: Berpuasa satu hari pada bulan haram lebih utama daripada
tiga puluh hari pada selainnya, dan berpuasa satu hari pada Ramadan lebih utama
daripada tiga puluh hari pada bulan haram.
وَفِي
الْحَدِيثِ: مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ: الْخَمِيسَ
وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ عِبَادَةَ
تِسْعِمِائَةِ عَامٍ.
Dalam hadis disebutkan: Siapa berpuasa tiga hari pada bulan haram, yaitu Kamis,
Jumat, dan Sabtu, Allah menuliskan baginya untuk setiap hari pahala ibadah
sembilan ratus tahun.
وَفِي
الْخَبَرِ: إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلَا صَوْمَ حَتَّى رَمَضَانَ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Apabila telah datang pertengahan bulan
Syakban, maka jangan ada puasa sampai Ramadan.
وَلِهَذَا
يُسْتَحَبُّ أَنْ يُفْطِرَ قَبْلَ رَمَضَانَ أَيَّامًا.
Karena itu, disunahkan untuk berbuka beberapa hari sebelum Ramadan.
فَإِنْ
وَصَلَ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ فَجَائِزٌ.
Namun, jika seseorang menyambungkan puasa Syakban dengan Ramadan, maka itu
boleh.
فَعَلَ
ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً، وَفَصَلَ
مِرَارًا كَثِيرَةً.
Rasulullah saw. pernah melakukannya sekali, dan lebih sering memisahkannya
berkali-kali.
وَلَا
يَجُوزُ أَنْ يَقْصِدَ اسْتِقْبَالَ رَمَضَانَ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ،
إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ وِرْدًا لَهُ.
Tidak boleh seseorang sengaja menyongsong Ramadan dengan berpuasa dua atau tiga
hari sebelumnya, kecuali jika itu bertepatan dengan kebiasaan wirid puasanya.
وَكَرِهَ
بَعْضُ الصَّحَابَةِ أَنْ يُصَامَ رَجَبٌ كُلُّهُ، حَتَّى لَا يُضَاهَى بِشَهْرِ
رَمَضَانَ.
Sebagian sahabat memakruhkan puasa sebulan penuh pada Rajab, agar bulan itu
tidak diserupakan dengan bulan Ramadan.
فَالْأَشْهُرُ
الْفَاضِلَةُ: ذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ، وَشَعْبَانُ.
Maka bulan-bulan yang utama ialah Zulhijah, Muharam, Rajab, dan Syakban.
وَالْأَشْهُرُ
الْحُرُمُ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ؛ وَاحِدٌ
فَرْدٌ وَثَلَاثَةٌ سَرْدٌ.
Adapun bulan-bulan haram ialah Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab; satu
berdiri sendiri dan tiga berurutan.
وَأَفْضَلُهَا
ذُو الْحِجَّةِ؛ لِأَنَّ فِيهِ الْحَجَّ وَالْأَيَّامَ الْمَعْلُومَاتِ
وَالْمَعْدُودَاتِ.
Yang paling utama di antaranya adalah Zulhijah, karena di dalamnya terdapat
ibadah haji serta hari-hari yang telah dikenal dan hari-hari yang terhitung.
وَذُو
الْقَعْدَةِ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَهُوَ مِنْ أَشْهُرِ الْحَجِّ،
وَشَوَّالٌ مِنْ أَشْهُرِ الْحَجِّ وَلَيْسَ مِنَ الْحُرُمِ، وَالْمُحَرَّمُ
وَرَجَبٌ لَيْسَا مِنْ أَشْهُرِ الْحَجِّ.
Zulkaidah termasuk bulan haram dan juga termasuk bulan-bulan haji. Syawal
termasuk bulan-bulan haji tetapi bukan bulan haram. Sedangkan Muharam dan Rajab
bukan termasuk bulan-bulan haji.
وَفِي
الْخَبَرِ: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِنَّ أَفْضَلُ وَأَحَبُّ إِلَى
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، إِنَّ صَوْمَ يَوْمٍ
مِنْهُ يَعْدِلُ صِيَامَ سَنَةٍ، وَقِيَامَ لَيْلَةٍ مِنْهُ يَعْدِلُ قِيَامَ
لَيْلَةِ الْقَدْرِ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Tidak ada hari-hari di mana amal pada
hari-hari itu lebih utama dan lebih dicintai Allah عز وجل daripada hari-hari
sepuluh Zulhijah. Sesungguhnya puasa satu hari darinya sebanding dengan puasa
setahun, dan qiyam satu malam darinya sebanding dengan qiyam pada malam
Lailatul Qadar.
قِيلَ:
وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِلَّا مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ.
Ditanyakan: Bahkan tidak pula jihad di jalan Allah? Beliau menjawab: Tidak pula
jihad di jalan Allah عز وجل,
kecuali orang yang kudanya terluka atau terbunuh dan darahnya ditumpahkan.
وَأَمَّا
مَا يَتَكَرَّرُ فِي الشَّهْرِ فَأَوَّلُ الشَّهْرِ وَأَوْسَطُهُ وَآخِرُهُ،
وَوَسَطُهُ الْأَيَّامُ الْبِيضُ، وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَالرَّابِعَ عَشَرَ
وَالْخَامِسَ عَشَرَ.
Adapun waktu yang berulang setiap bulan ialah awal bulan, pertengahan bulan,
dan akhir bulan. Adapun pertengahannya adalah hari-hari putih, yaitu tanggal
tiga belas, empat belas, dan lima belas.
وَأَمَّا
فِي الْأُسْبُوعِ فَالِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ وَالْجُمُعَةِ.
Adapun dalam satu pekan, maka hari-hari utamanya adalah Senin, Kamis, dan
Jumat.
فَهَذِهِ
هِيَ الْأَيَّامُ الْفَاضِلَةُ، فَيُسْتَحَبُّ فِيهَا الصِّيَامُ وَتَكْثِيرُ
الْخَيْرَاتِ؛ لِتَضَاعُفِ أُجُورِهَا بِبَرَكَةِ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ.
Itulah hari-hari yang utama. Karena itu, disunahkan berpuasa padanya dan
memperbanyak kebaikan, sebab pahala dilipatgandakan berkat kemuliaan
waktu-waktu tersebut.
وَأَمَّا
صَوْمُ الدَّهْرِ فَإِنَّهُ شَامِلٌ لِلْكُلِّ وَزِيَادَةٌ، وَلِلسَّالِكِينَ
فِيهِ طُرُقٌ.
Adapun puasa sepanjang tahun, maka ia mencakup semuanya bahkan lebih. Bagi
orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah, dalam hal ini ada beberapa cara.
فَمِنْهُمْ
مَنْ كَرِهَ ذَلِكَ؛ إِذْ وَرَدَتْ أَخْبَارٌ تَدُلُّ عَلَى كَرَاهَتِهِ.
Sebagian dari mereka memakruhkan hal itu, karena ada riwayat-riwayat yang
menunjukkan kemakruhannya.
وَالصَّحِيحُ
أَنَّهُ إِنَّمَا يُكْرَهُ لِشَيْئَيْنِ.
Pendapat yang benar adalah bahwa hal itu dimakruhkan karena dua hal.
أَحَدُهُمَا:
أَنْ لَا يُفْطِرَ فِي الْعِيدَيْنِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ، فَهُوَ الدَّهْرُ
كُلُّهُ.
Pertama, jika ia tidak berbuka pada dua hari raya dan hari-hari tasyrik, maka
itu berarti puasa sepanjang masa secara penuh.
وَالْآخَرُ:
أَنْ يَرْغَبَ عَنِ السُّنَّةِ فِي الْإِفْطَارِ، وَيَجْعَلَ الصَّوْمَ حِجْرًا
عَلَى نَفْسِهِ، مَعَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ
كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ.
Kedua, jika ia tidak menyukai sunnah berbuka dan menjadikan puasa sebagai
pembatas atas dirinya sendiri, padahal Allah سبحانه menyukai apabila
keringanan-keringanan-Nya diambil sebagaimana Dia juga menyukai
ketetapan-ketetapan-Nya dijalankan.
فَإِذَا
لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ، وَرَأَى صَلَاحَ نَفْسِهِ فِي صَوْمِ الدَّهْرِ،
فَلْيَفْعَلْ ذَلِكَ، فَقَدْ فَعَلَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Jika tidak ada salah satu dari dua hal itu, dan seseorang memandang bahwa
kebaikan dirinya terletak pada puasa sepanjang tahun, maka hendaklah ia
melakukannya. Sebab hal itu pernah dilakukan oleh sejumlah sahabat dan tabiin رضي الله عنهم.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ:
مَنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ ضُيِّقَتْ عَلَيْهِ جَهَنَّمُ، وَعَقَدَ تِسْعِينَ.
Nabi saw. bersabda dalam riwayat Abu Musa al-Asy'ari: Siapa berpuasa sepanjang
tahun, neraka Jahanam akan disempitkan baginya, dan beliau memberi isyarat
sembilan puluh.
وَمَعْنَاهُ:
لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهَا مَوْضِعٌ.
Maknanya ialah: tidak ada tempat baginya di dalam neraka itu.
وَدُونَهُ
دَرَجَةٌ أُخْرَى، وَهُوَ صَوْمُ نِصْفِ الدَّهْرِ بِأَنْ يَصُومَ يَوْمًا
وَيُفْطِرَ يَوْمًا.
Di bawah tingkatan itu ada tingkatan lain, yaitu puasa setengah tahun, dengan
cara berpuasa sehari dan berbuka sehari.
وَذَلِكَ
أَشَدُّ عَلَى النَّفْسِ وَأَقْوَى فِي قَهْرِهَا.
Cara itu lebih berat bagi jiwa dan lebih kuat dalam menundukkannya.
وَقَدْ
وَرَدَ فِي فَضْلِهِ أَخْبَارٌ كَثِيرَةٌ؛ لِأَنَّ الْعَبْدَ فِيهِ بَيْنَ صَوْمِ
يَوْمٍ وَشُكْرِ يَوْمٍ.
Telah datang banyak riwayat tentang keutamaannya, karena seorang hamba dalam
keadaan itu berada antara puasa sehari dan syukur sehari.
فَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عُرِضَتْ عَلَيَّ مَفَاتِيحُ خَزَائِنِ
الدُّنْيَا وَكُنُوزُ الْأَرْضِ، فَرَدَدْتُهَا، وَقُلْتُ: أَجُوعُ يَوْمًا
وَأَشْبَعُ يَوْمًا، أَحْمَدُكَ إِذَا شَبِعْتُ، وَأَتَضَرَّعُ إِلَيْكَ إِذَا
جُعْتُ.
Beliau saw. bersabda: Telah diperlihatkan kepadaku kunci-kunci perbendaharaan
dunia dan harta-harta bumi, lalu aku menolaknya. Aku berkata: Aku lapar sehari
dan kenyang sehari; aku memuji-Mu ketika kenyang, dan aku merendah serta berdoa
kepada-Mu ketika lapar.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ صَوْمُ أَخِي دَاوُدَ،
كَانَ يَصُومُ وَيُفْطِرُ يَوْمًا.
Beliau saw. bersabda: Puasa yang paling utama adalah puasa saudaraku Daud; ia
berpuasa sehari dan berbuka sehari.
وَمِنْ
ذَلِكَ مُنَازَلَتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي الصَّوْمِ، وَهُوَ يَقُولُ: إِنِّي أُطِيقُ
أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ.
Termasuk dalam hal ini adalah dialog beliau saw. dengan Abdullah bin Amr رضي الله عنهما
tentang puasa, ketika Abdullah berkata: Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu.
فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا.
Maka Nabi saw. bersabda: Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari.
فَقَالَ:
إِنِّي أُرِيدُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ.
Ia berkata: Aku menginginkan yang lebih utama daripada itu.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ.
Beliau saw. bersabda: Tidak ada yang lebih utama daripada itu.
وَقَدْ
رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا صَامَ شَهْرًا كَامِلًا
قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ.
Diriwayatkan bahwa beliau saw. tidak pernah berpuasa sebulan penuh sama sekali
selain Ramadan.
بَلْ
كَانَ يُفْطِرُ مِنْهُ.
Bahkan pada bulan-bulan selain itu beliau selalu ada hari berbukanya.
وَمَنْ
لَا يَقْدِرُ عَلَى صَوْمِ نِصْفِ الدَّهْرِ فَلَا بَأْسَ بِثُلُثِهِ، وَهُوَ أَنْ
يَصُومَ وَيُفْطِرَ يَوْمَيْنِ.
Siapa yang tidak mampu berpuasa setengah tahun, maka tidak mengapa berpuasa
sepertiganya, yaitu dengan berpuasa satu hari lalu berbuka dua hari.
وَإِذَا
صَامَ ثَلَاثَةً مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ، وَثَلَاثَةً مِنَ الْوَسَطِ، وَثَلَاثَةً
مِنَ الْآخِرِ، فَهُوَ ثُلُثٌ وَوَاقِعٌ فِي الْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةِ.
Jika ia berpuasa tiga hari pada awal bulan, tiga hari pada pertengahan, dan
tiga hari pada akhir bulan, maka itu termasuk sepertiga dan juga jatuh pada
waktu-waktu yang utama.
وَإِنْ
صَامَ الِاثْنَيْنَ وَالْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ فَهُوَ قَرِيبٌ مِنَ الثُّلُثِ.
Jika ia berpuasa pada hari Senin, Kamis, dan Jumat, maka itu mendekati
sepertiga.
وَإِذَا
ظَهَرَتْ أَوْقَاتُ الْفَضِيلَةِ، فَالْكَمَالُ فِي أَنْ يَفْهَمَ الْإِنْسَانُ
مَعْنَى الصَّوْمِ، وَأَنَّ مَقْصُودَهُ تَصْفِيَةُ الْقَلْبِ وَتَفْرِيغُ
الْهَمِّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Apabila waktu-waktu utama itu telah diketahui, maka kesempurnaannya terletak
pada pemahaman seseorang terhadap makna puasa, yaitu bahwa tujuannya adalah
menjernihkan hati dan mengosongkan perhatian hanya untuk Allah عز وجل.
وَالْفَقِيهُ
بِدَقَائِقِ الْبَاطِنِ يَنْظُرُ إِلَى أَحْوَالِهِ، فَقَدْ يَقْتَضِي حَالُهُ
دَوَامَ الصَّوْمِ، وَقَدْ يَقْتَضِي دَوَامَ الْفِطْرِ، وَقَدْ يَقْتَضِي مَزْجَ
الْإِفْطَارِ بِالصَّوْمِ.
Orang yang memahami seluk-beluk batin akan melihat keadaannya sendiri. Bisa
jadi keadaannya menuntut terus-menerus berpuasa, bisa jadi menuntut
terus-menerus berbuka, dan bisa jadi menuntut perpaduan antara berbuka dan
berpuasa.
وَإِذَا
فَهِمَ الْمَعْنَى وَتَحَقَّقَ حَدُّهُ فِي سُلُوكِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ
بِمُرَاقَبَةِ الْقَلْبِ، لَمْ يَخْفَ عَلَيْهِ صَلَاحُ قَلْبِهِ.
Apabila ia telah memahami makna itu dan benar-benar menegakkannya dalam
menempuh jalan akhirat dengan mengawasi hati, maka tidak akan samar baginya apa
yang baik bagi hatinya.
وَذَلِكَ
لَا يُوجِبُ تَرْتِيبًا مُسْتَمِرًّا.
Hal itu tidak mengharuskan adanya pola yang tetap secara terus-menerus.
وَلِذَلِكَ
رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ حَتَّى يُقَالَ:
لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى يُقَالَ: لَا يَصُومُ، وَيَنَامُ حَتَّى يُقَالَ:
لَا يَقُومُ، وَيَقُومُ حَتَّى يُقَالَ: لَا يَنَامُ.
Karena itu diriwayatkan bahwa beliau saw. berpuasa sampai-sampai dikatakan:
beliau tidak berbuka. Dan beliau berbuka sampai-sampai dikatakan: beliau tidak
berpuasa. Beliau tidur sampai-sampai dikatakan: beliau tidak bangun malam. Dan
beliau bangun malam sampai-sampai dikatakan: beliau tidak tidur.
وَكَانَ
ذَلِكَ بِحَسَبِ مَا يَنْكَشِفُ لَهُ بِنُورِ النُّبُوَّةِ مِنَ الْقِيَامِ
بِحُقُوقِ الْأَوْقَاتِ.
Semua itu beliau lakukan sesuai dengan apa yang tersingkap baginya melalui
cahaya kenabian dalam menunaikan hak-hak setiap waktu.
وَقَدْ
كَرِهَ الْعُلَمَاءُ أَنْ يُوَالَى بَيْنَ الْإِفْطَارِ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةِ
أَيَّامٍ تَقْدِيرًا بِيَوْمِ الْعِيدِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ.
Para ulama memakruhkan seseorang terus-menerus berbuka lebih dari empat hari,
dengan memperhitungkan hari raya dan hari-hari tasyrik.
وَذَكَرُوا
أَنَّ ذَلِكَ يُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُوَلِّدُ رَدِيءَ الْعَادَاتِ وَيَفْتَحُ
أَبْوَابَ الشَّهَوَاتِ.
Mereka menyebutkan bahwa hal itu dapat mengeraskan hati, menimbulkan
kebiasaan-kebiasaan buruk, dan membuka pintu-pintu syahwat.
وَلَعَمْرِي
هُوَ كَذَلِكَ فِي حَقِّ أَكْثَرِ الْخَلْقِ، لَا سِيَّمَا مَنْ يَأْكُلُ فِي
الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّتَيْنِ.
Demi umurku, memang demikianlah adanya bagi kebanyakan manusia, terlebih lagi
bagi orang yang makan dua kali dalam siang dan malam.
فَهَذَا
مَا أَرَدْنَا ذِكْرَهُ مِنْ تَرْتِيبِ الصَّوْمِ الْمُتَطَوَّعِ بِهِ، وَاللَّهُ
أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
Inilah yang ingin kami sebutkan mengenai pengaturan puasa sunah. Dan Allah
lebih mengetahui kebenaran yang tepat.
تَمَّ
كِتَابُ أَسْرَارِ الصَّوْمِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ بِجَمِيعِ مَحَامِدِهِ كُلِّهَا
مَا عَلِمْنَا مِنْهَا وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، عَلَى جَمِيعِ نِعَمِهِ كُلِّهَا مَا
عَلِمْنَا مِنْهَا وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.
Selesailah Kitab Rahasia-Rahasia Puasa. Segala puji bagi Allah dengan seluruh
pujian-Nya, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, atas seluruh
nikmat-Nya, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.
وَصَلَّى
اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَكَرَّمَ،
وَعَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ.
Semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan kami Muhammad, kepada
keluarganya, sahabat-sahabatnya, serta melimpahkan salam dan kemuliaan, juga
kepada setiap hamba pilihan dari penduduk bumi dan langit.
يَتْلُوهُ
إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى كِتَابُ أَسْرَارِ الْحَجِّ، وَاللَّهُ الْمُعِينُ،
لَا رَبَّ غَيْرُهُ، وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ، وَحَسْبُنَا اللَّهُ
وَنِعْمَ الْوَكِيلُ.
Setelah ini, insyaallah, akan menyusul Kitab Rahasia-Rahasia Haji. Allah-lah
Yang Maha Menolong, tidak ada Tuhan selain Dia. Tidak ada taufik bagiku kecuali
dengan pertolongan Allah. Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik
Pelindung.