Keutamaan Haji, Mekkah, dan Ka'bah
كِتَابُ أَسْرَارِ الْحَجِّ
Kitab Rahasia-Rahasia Haji.
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ كَلِمَةَ التَّوْحِيدِ لِعِبَادِهِ حِرْزًا وَحِصْنًا،
وَجَعَلَ الْبَيْتَ الْعَتِيقَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، وَأَكْرَمَهُ
بِالنِّسْبَةِ إِلَى نَفْسِهِ تَشْرِيفًا وَتَحْصِينًا وَمَنًّا، وَجَعَلَ
زِيَارَتَهُ وَالطَّوَافَ بِهِ حِجَابًا بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْعَذَابِ
وَمَجَنًّا.
Segala puji bagi Allah yang menjadikan kalimat tauhid sebagai penjagaan dan
benteng bagi hamba-hamba-Nya, yang menjadikan Baitul Atiq sebagai tempat
kembali bagi manusia dan sebagai tempat yang aman, yang memuliakannya dengan
menisbahkannya kepada diri-Nya sendiri sebagai bentuk pemuliaan, penjagaan, dan
anugerah, serta yang menjadikan ziarah kepadanya dan thawaf di sekelilingnya
sebagai penghalang antara seorang hamba dan azab, serta sebagai perisai.
وَالصَّلَاةُ
عَلَى مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ وَسَيِّدِ الْأُمَّةِ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ قَادَةِ الْحَقِّ وَسَادَةِ الْخَلْقِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Semoga salawat tercurah kepada Muhammad, nabi pembawa rahmat dan pemimpin umat,
serta kepada keluarga dan para sahabatnya, para pemimpin kebenaran dan penghulu
makhluk, dan semoga Allah melimpahkan salam yang sebanyak-banyaknya.
أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنَّ الْحَجَّ مِنْ بَيْنِ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ وَمَبَانِيهِ
عِبَادَةُ الْعُمْرِ، وَخِتَامُ الْأَمْرِ، وَتَمَامُ الْإِسْلَامِ، وَكَمَالُ
الدِّينِ.
Amma ba’du, sesungguhnya haji, di antara rukun-rukun Islam dan
bangunan-bangunannya, adalah ibadah sepanjang umur, penutup urusan, penyempurna
keislaman, dan kesempurnaan agama.
فِيهِ
أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾.
Tentang haji itulah Allah عز وجل
menurunkan firman-Nya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,
telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai
agamamu.”
وَفِيهِ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ فَلْيَمُتْ
إِنْ شَاءَ يَهُودِيًّا وَإِنْ شَاءَ نَصْرَانِيًّا.
Tentang haji pula Nabi saw. bersabda: Siapa yang meninggal dunia dan belum
menunaikan haji, maka silakan ia mati jika mau sebagai Yahudi atau jika mau
sebagai Nasrani.
فَأَعْظِمْ
بِعِبَادَةٍ يَعْدَمُ الدِّينُ بِفَقْدِهَا الْكَمَالَ، وَيُسَاوِي تَارِكُهَا
الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى فِي الضَّلَالِ.
Maka alangkah agungnya suatu ibadah yang dengan ketiadaannya agama kehilangan
kesempurnaannya, dan orang yang meninggalkannya disamakan dengan Yahudi dan
Nasrani dalam kesesatan.
وَأَجْدَرُ
بِهَا أَنْ تُصْرَفَ الْعِنَايَةُ إِلَى شَرْحِهَا وَتَفْصِيلِ أَرْكَانِهَا
وَسُنَنِهَا وَآدَابِهَا وَفَضَائِلِهَا وَأَسْرَارِهَا.
Karena itu, ibadah ini sangat layak untuk diberikan perhatian dalam
penjelasannya, perincian rukun-rukunnya, sunah-sunahnya, adab-adabnya,
keutamaannya, dan rahasia-rahasianya.
وَجُمْلَةُ
ذَلِكَ يَنْكَشِفُ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي ثَلَاثَةِ أَبْوَابٍ.
Keseluruhan pembahasan itu, dengan taufik dari Allah عز وجل, akan dijelaskan
dalam tiga bab.
اَلْبَابُ
الْأَوَّلُ فِي فَضَائِلِهَا وَفَضَائِلِ مَكَّةَ وَالْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَجُمَلِ
أَرْكَانِ وَشَرَائِطِ وُجُوبِهَا.
Bab pertama membahas keutamaannya, keutamaan Makkah dan Baitul Atiq, serta
ringkasan rukun-rukun dan syarat-syarat wajibnya.
اَلْبَابُ
الثَّانِي فِي أَعْمَالِهَا الظَّاهِرَةِ عَلَى التَّرْتِيبِ مِنْ مَبْدَإِ
السَّفَرِ إِلَى الرُّجُوعِ.
Bab kedua membahas amalan-amalan lahiriahnya secara berurutan, sejak awal
perjalanan sampai kembali pulang.
اَلْبَابُ
الثَّالِثُ فِي آدَابِهَا الدَّقِيقَةِ وَأَسْرَارِهَا الْخَفِيَّةِ
وَأَعْمَالِهَا الْبَاطِنَةِ، فَلْنَبْدَأْ بِالْبَابِ الْأَوَّلِ، وَفِيهِ
فَصْلَانِ.
Bab ketiga membahas adab-adabnya yang halus, rahasia-rahasianya yang
tersembunyi, dan amalan-amalan batinnya. Maka marilah kita mulai dengan bab
pertama, dan di dalamnya ada dua pasal.
اَلْفَصْلُ
الْأَوَّلُ فِي فَضَائِلِ الْحَجِّ وَفَضِيلَةِ الْبَيْتِ وَمَكَّةَ
وَالْمَدِينَةِ حَرَسَهُمَا اللَّهُ تَعَالَى وَشَدِّ الرِّحَالِ إِلَى
الْمَسَاجِدِ.
Pasal pertama tentang keutamaan haji, keutamaan Baitullah, Makkah, Madinah
semoga Allah Ta’ala menjaganya, dan tentang melakukan perjalanan ke
masjid-masjid.
فَضِيلَةُ
الْحَجِّ
Keutamaan Haji
قَالَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا
وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ﴾.
Allah عز وجل
berfirman: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan
datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai setiap unta yang kurus,
yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
وَقَالَ
قَتَادَةُ: لَمَّا أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى أَنْ
يُؤَذِّنَ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ، نَادَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ بَنَى بَيْتًا فَحُجُّوهُ.
Qatadah berkata: Ketika Allah عز وجل
memerintahkan Ibrahim عليه
السلام, dan juga atas nabi kita serta atas setiap hamba pilihan, untuk
menyerukan haji kepada manusia, maka Ibrahim menyeru: Wahai manusia,
sesungguhnya Allah عز وجل
telah membangun sebuah rumah, maka berhajilah kepadanya.
وَقَالَ
تَعَالَى: ﴿لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ﴾.
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi
mereka.”
قِيلَ:
التِّجَارَةُ فِي الْمَوْسِمِ وَالْأَجْرُ فِي الْآخِرَةِ.
Dikatakan: yang dimaksud adalah perdagangan pada musim haji dan pahala di
akhirat.
وَلَمَّا
سَمِعَ بَعْضُ السَّلَفِ هَذَا قَالَ: غُفِرَ لَهُمْ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ.
Ketika sebagian salaf mendengar hal ini, ia berkata: Demi Tuhan Ka’bah, mereka
telah diampuni.
وَقِيلَ
فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴾
أَيْ طَرِيقَ مَكَّةَ، يَقْعُدُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهَا لِيَمْنَعَ النَّاسَ
مِنْهَا.
Dikatakan dalam tafsir firman Allah عز وجل: “Sungguh aku akan duduk menghalangi
mereka dari jalan-Mu yang lurus,” yaitu jalan menuju Makkah. Setan duduk di
jalan itu untuk menghalangi manusia darinya.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ
يَفْسُقْ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
Nabi saw. bersabda: Siapa yang berhaji ke Baitullah lalu tidak berkata keji dan
tidak berbuat fasik, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya
melahirkannya.
وَقَالَ
أَيْضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا رُؤِيَ الشَّيْطَانُ فِي يَوْمٍ
أَصْغَرَ وَلَا أَدْحَرَ وَلَا أَحْقَرَ وَلَا أَغْيَظَ مِنْهُ يَوْمَ عَرَفَةَ.
Beliau saw. juga bersabda: Tidak pernah setan terlihat pada suatu hari dalam
keadaan lebih kecil, lebih hina, lebih rendah, dan lebih marah daripada pada
hari Arafah.
وَمَا
ذَلِكَ إِلَّا لِمَا يَرَى مِنْ نُزُولِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ
سُبْحَانَهُ عَنِ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ.
Hal itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allah سبحانه
terhadap dosa-dosa besar.
إِذْ
يُقَالُ: إِنَّ مِنَ الذُّنُوبِ ذُنُوبًا لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا الْوُقُوفُ
بِعَرَفَةَ.
Sebab dikatakan: Sesungguhnya ada dosa-dosa yang tidak dapat dihapus kecuali
dengan wuquf di Arafah.
وَقَدْ
أَسْنَدَهُ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan Ja’far bin Muhammad menyandarkan perkataan itu kepada Rasulullah saw.
وَذَكَرَ
بَعْضُ الْمُكَاشِفِينَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَنَّ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللَّهُ
عَلَيْهِ ظَهَرَ لَهُ فِي صُورَةِ شَخْصٍ بِعَرَفَةَ، فَإِذَا هُوَ نَاحِلُ
الْجِسْمِ، مُصْفَرُّ اللَّوْنِ، بَاكِي الْعَيْنِ، مَقْصُوفُ الظَّهْرِ.
Sebagian ahli mukasyafah dari kalangan orang-orang yang dekat kepada Allah
menyebutkan bahwa Iblis, laknat Allah atasnya, pernah tampak kepadanya dalam
bentuk seseorang di Arafah. Ternyata tubuhnya kurus, warnanya pucat kekuningan,
matanya menangis, dan punggungnya tampak patah.
فَقَالَ
لَهُ: مَا الَّذِي أَبْكَى عَيْنَكَ؟
Ia berkata kepadanya: Apa yang membuat matamu menangis?
قَالَ:
خُرُوجُ الْحُجَّاجِ إِلَيْهِ بِلَا تِجَارَةٍ، أَقُولُ: قَدْ قَصَدُوهُ، أَخَافُ
أَنْ لَا يُخَيِّبَهُمْ، فَيَحْزُنُنِي ذَلِكَ.
Ia menjawab: Keberangkatan para jamaah haji menuju-Nya tanpa tujuan
perdagangan. Aku berkata: mereka benar-benar telah menuju kepada-Nya. Aku takut
Dia tidak mengecewakan mereka, dan itu membuatku sedih.
قَالَ:
فَمَا الَّذِي أَنْحَلَ جِسْمَكَ؟
Ia bertanya: Lalu apa yang membuat tubuhmu kurus?
قَالَ:
صَهِيلُ الْخَيْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَوْ كَانَتْ فِي
سَبِيلِي كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ.
Ia menjawab: Ringkikan kuda di jalan Allah عز وجل. Seandainya itu
terjadi di jalanku, tentu lebih aku sukai.
قَالَ:
فَمَا الَّذِي غَيَّرَ لَوْنَكَ؟
Ia bertanya: Lalu apa yang mengubah warna wajahmu?
قَالَ:
تَعَاوُنُ الْجَمَاعَةِ عَلَى الطَّاعَةِ، وَلَوْ تَعَاوَنُوا عَلَى الْمَعْصِيَةِ
كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ.
Ia menjawab: Kerja sama manusia dalam ketaatan. Seandainya mereka saling
membantu dalam maksiat, tentu itu lebih aku sukai.
قَالَ:
فَمَا الَّذِي قَصَفَ ظَهْرَكَ؟
Ia bertanya: Lalu apa yang mematahkan punggungmu?
قَالَ:
قَوْلُ الْعَبْدِ: أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ. أَقُولُ: يَا وَيْلَتَى، مَتَى
يُعْجَبُ هَذَا بِعَمَلِهِ؟ أَخَافُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَطِنَ.
Ia menjawab: Ucapan seorang hamba: “Aku memohon kepada-Mu husnul khatimah.” Aku
berkata: Celakalah aku, kapan orang ini akan kagum pada amalnya sendiri? Aku
takut ia sudah sadar.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ حَاجًّا أَوْ
مُعْتَمِرًا فَمَاتَ أُجْرِيَ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
Nabi saw. bersabda: Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhaji atau berumrah
lalu ia meninggal dunia, maka tetap mengalir baginya pahala orang yang berhaji
atau berumrah sampai hari kiamat.
وَمَنْ
مَاتَ فِي أَحَدِ الْحَرَمَيْنِ لَمْ يُعْرَضْ وَلَمْ يُحَاسَبْ، وَقِيلَ لَهُ:
ادْخُلِ الْجَنَّةَ.
Dan siapa yang meninggal di salah satu dari dua tanah haram, ia tidak akan
dihadapkan dan tidak akan dihisab, lalu dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam
surga.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا
وَمَا فِيهَا، وَحَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ لَيْسَ لَهَا جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ.
Nabi saw. bersabda: Haji mabrur lebih baik daripada dunia dan segala isinya,
dan haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ وَزُوَّارُهُ، إِنْ سَأَلُوهُ أَعْطَاهُمْ، وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ
غَفَرَ لَهُمْ، وَإِنْ دَعَوْا اسْتُجِيبَ لَهُمْ، وَإِنْ شَفَعُوا شُفِّعُوا.
Nabi saw. bersabda: Orang-orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu Allah عز وجل
dan para peziarah-Nya. Jika mereka meminta kepada-Nya, Dia memberi mereka. Jika
mereka memohon ampun kepada-Nya, Dia mengampuni mereka. Jika mereka berdoa, doa
mereka dikabulkan. Jika mereka memberi syafaat, syafaat mereka diterima.
وَفِي
حَدِيثٍ مُسْنَدٍ مِنْ طَرِيقِ أَهْلِ الْبَيْتِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ: أَعْظَمُ
النَّاسِ ذَنْبًا مَنْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ فَظَنَّ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ
يَغْفِرْ لَهُ.
Dalam sebuah hadis musnad melalui jalur Ahlul Bait عليهم السلام disebutkan: Orang
yang paling besar dosanya adalah orang yang berdiri di Arafah lalu menyangka
bahwa Allah Ta’ala tidak mengampuninya.
وَرَوَى
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: يَنْزِلُ عَلَى هَذَا الْبَيْتِ فِي كُلِّ يَوْمٍ
مِائَةٌ وَعِشْرُونَ رَحْمَةً، سِتُّونَ لِلطَّائِفِينَ، وَأَرْبَعُونَ
لِلْمُصَلِّينَ، وَعِشْرُونَ لِلنَّاظِرِينَ.
Ibnu Abbas رضي
الله عنهما meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Setiap hari
turun kepada rumah ini seratus dua puluh rahmat; enam puluh untuk orang-orang
yang thawaf, empat puluh untuk orang-orang yang salat, dan dua puluh untuk
orang-orang yang memandangnya.
وَفِي
الْخَبَرِ: اسْتَكْثِرُوا مِنَ الطَّوَافِ بِالْبَيْتِ، فَإِنَّهُ مِنْ أَجَلِّ
شَيْءٍ تَجِدُونَهُ فِي صُحُفِكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَغْبَطِ عَمَلٍ
تَجِدُونَهُ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Perbanyaklah thawaf di Baitullah, karena itu
termasuk amal paling agung yang akan kalian dapati dalam catatan kalian pada
hari kiamat, dan merupakan amal yang paling kalian syukuri.
وَلِهَذَا
يُسْتَحَبُّ الطَّوَافُ ابْتِدَاءً مِنْ غَيْرِ حَجٍّ وَلَا عُمْرَةٍ.
Karena itu, thawaf disunahkan dilakukan sejak awal, meskipun tanpa haji dan
tanpa umrah.
وَفِي
الْخَبَرِ: مَنْ طَافَ أُسْبُوعًا حَافِيًا حَاسِرًا كَانَ لَهُ كَعِتْقِ
رَقَبَةٍ، وَمَنْ طَافَ أُسْبُوعًا فِي الْمَطَرِ غُفِرَ لَهُ مَا سَلَفَ مِنْ
ذَنْبِهِ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Siapa yang thawaf tujuh putaran dengan kaki
telanjang dan kepala terbuka, maka baginya pahala seperti memerdekakan seorang
budak. Dan siapa yang thawaf tujuh putaran dalam hujan, diampuni baginya
dosa-dosanya yang telah lalu.
وَيُقَالُ:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا غَفَرَ لِعَبْدٍ ذَنْبًا فِي الْمَوْقِفِ
غَفَرَهُ لِكُلِّ مَنْ أَصَابَهُ فِي ذَلِكَ الْمَوْقِفِ.
Dan dikatakan: Sesungguhnya jika Allah عز وجل mengampuni dosa
seorang hamba di padang Arafah, maka Dia mengampuninya juga bagi setiap orang
yang berkaitan dengannya di tempat itu.
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: إِذَا وَافَقَ يَوْمُ عَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ غُفِرَ لِكُلِّ
أَهْلِ عَرَفَةَ، وَهُوَ أَفْضَلُ يَوْمٍ فِي الدُّنْيَا.
Sebagian salaf berkata: Jika hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat, maka
diampuni seluruh orang yang berada di Arafah, dan itulah hari yang paling utama
di dunia.
وَفِيهِ
حَجَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّةَ الْوَدَاعِ،
وَكَانَ وَاقِفًا إِذْ نَزَلَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ
لَكُمْ دِينَكُمْ﴾.
Pada hari itu Rasulullah saw. melaksanakan Haji Wada’, dan beliau sedang wuquf
ketika turun firman Allah عز وجل:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.”
قَالَ
أَهْلُ الْكِتَابِ: لَوْ أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ عَلَيْنَا لَجَعَلْنَاهَا
يَوْمَ عِيدٍ.
Ahlul Kitab berkata: Seandainya ayat ini diturunkan kepada kami, niscaya kami
jadikan hari itu sebagai hari raya.
فَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَشْهَدُ لَقَدْ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي
يَوْمِ عِيدَيْنِ اثْنَيْنِ: يَوْمِ عَرَفَةَ وَيَوْمِ جُمُعَةٍ، عَلَى رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ.
Maka Umar رضي
الله عنه berkata: Aku bersaksi, sungguh ayat ini turun pada dua hari
raya sekaligus, yaitu hari Arafah dan hari Jumat, kepada Rasulullah saw. saat
beliau sedang wuquf di Arafah.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ
اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ.
Nabi saw. bersabda: Ya Allah, ampunilah orang yang berhaji dan orang yang
dimintakan ampun oleh orang yang berhaji.
وَيُرْوَى
أَنَّ عَلِيَّ بْنَ مُوَفَّقٍ حَجَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ حِجَجًا.
Diriwayatkan bahwa Ali bin Muwaffaq telah berkali-kali berhaji atas nama
Rasulullah saw.
قَالَ:
فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ،
فَقَالَ لِي: يَا ابْنَ مُوَفَّقٍ، حَجَجْتَ عَنِّي؟ قُلْتُ: نَعَمْ.
Ia berkata: Lalu aku melihat Rasulullah saw. dalam mimpi. Beliau berkata
kepadaku: Wahai Ibn Muwaffaq, apakah engkau telah berhaji atas namaku? Aku
menjawab: Ya.
قَالَ:
وَلَبَّيْتَ عَنِّي؟ قُلْتُ: نَعَمْ.
Beliau bertanya: Dan engkau telah bertalbiyah atas namaku? Aku menjawab: Ya.
قَالَ:
فَإِنِّي أُكَافِئُكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، آخُذُ بِيَدِكَ فِي الْمَوْقِفِ
فَأُدْخِلُكَ الْجَنَّةَ وَالْخَلَائِقُ فِي كَرْبِ الْحِسَابِ.
Beliau bersabda: Maka aku akan membalasmu karenanya pada hari kiamat. Aku akan
menggandeng tanganmu di padang mahsyar lalu memasukkanmu ke surga, sementara
seluruh makhluk berada dalam kesusahan hisab.
وَقَالَ
مُجَاهِدٌ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ: إِنَّ الْحُجَّاجَ إِذَا قَدِمُوا
مَكَّةَ تَلَقَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، فَسَلَّمُوا عَلَى رُكْبَانِ الْإِبِلِ،
وَصَافَحُوا رُكْبَانَ الْحُمُرِ، وَاعْتَنَقُوا الْمُشَاةَ اعْتِنَاقًا.
Mujahid dan ulama lainnya berkata: Sesungguhnya ketika para jamaah haji tiba di
Makkah, para malaikat menyambut mereka. Malaikat memberi salam kepada
penunggang unta, berjabat tangan dengan penunggang keledai, dan memeluk para
pejalan kaki dengan erat.
وَقَالَ
الْحَسَنُ: مَنْ مَاتَ عَقِيبَ رَمَضَانَ أَوْ عَقِيبَ غَزْوٍ أَوْ عَقِيبَ حَجٍّ
مَاتَ شَهِيدًا.
Al-Hasan berkata: Siapa yang meninggal setelah Ramadan, atau setelah
peperangan, atau setelah haji, maka ia meninggal sebagai syahid.
وَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الْحَاجُّ مَغْفُورٌ لَهُ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ
لَهُ فِي شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَصَفَرَ وَعِشْرِينَ مِنْ رَبِيعٍ
الْأَوَّلِ.
Umar رضي الله عنه
berkata: Orang yang berhaji diampuni, dan begitu pula orang yang dimintakan
ampun olehnya pada bulan Zulhijah, Muharam, Safar, dan dua puluh hari dari
Rabiulawal.
وَقَدْ
كَانَ مِنْ سُنَّةِ السَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنْ يُشَيِّعُوا
الْغُزَاةَ، وَأَنْ يَسْتَقْبِلُوا الْحَاجَّ، وَيُقَبِّلُوا بَيْنَ أَعْيُنِهِمْ،
وَيَسْأَلُوهُمُ الدُّعَاءَ، وَيُبَادِرُوا ذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يَتَدَنَّسُوا
بِالْآثَامِ.
Termasuk kebiasaan para salaf رضي
الله عنهم ialah mengantar para mujahid yang berangkat, menyambut para
jamaah haji, mencium dahi mereka, meminta doa dari mereka, dan segera
melakukannya sebelum mereka ternodai lagi oleh dosa-dosa.
وَيُرْوَى
عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُوَفَّقٍ قَالَ: حَجَجْتُ سَنَةً، فَلَمَّا كَانَتْ لَيْلَةُ
عَرَفَةَ نِمْتُ بِمِنًى فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ، فَرَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ
كَأَنَّ مَلَكَيْنِ قَدْ نَزَلَا مِنَ السَّمَاءِ عَلَيْهِمَا ثِيَابٌ خُضْرٌ.
Diriwayatkan dari Ali bin Muwaffaq, ia berkata: Pada suatu tahun aku berhaji.
Ketika tiba malam Arafah, aku tidur di Mina, di Masjid Khayf. Dalam mimpi aku
melihat seakan-akan dua malaikat turun dari langit dengan mengenakan pakaian
hijau.
فَنَادَى
أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ: يَا عَبْدَ اللَّهِ.
Salah satu dari keduanya memanggil temannya: Wahai Abdullah.
فَقَالَ
الْآخَرُ: لَبَّيْكَ يَا عَبْدَ اللَّهِ.
Yang lain menjawab: Aku penuhi panggilanmu, wahai Abdullah.
قَالَ:
تَدْرِي كَمْ حَجَّ بَيْتَ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ؟
Ia berkata: Tahukah engkau berapa orang yang berhaji ke rumah Tuhan kita عز وجل
pada tahun ini?
قَالَ:
لَا أَدْرِي.
Ia menjawab: Aku tidak tahu.
قَالَ:
حَجَّ بَيْتَ رَبِّنَا سِتُّمِائَةِ أَلْفٍ، أَفَتَدْرِي كَمْ قُبِلَ مِنْهُمْ؟
Ia berkata: Enam ratus ribu orang telah berhaji ke rumah Tuhan kita. Tahukah
engkau berapa yang diterima dari mereka?
قَالَ:
لَا.
Ia menjawab: Tidak.
قَالَ:
سِتَّةُ أَنْفُسٍ.
Ia berkata: Enam orang.
قَالَ:
ثُمَّ ارْتَفَعَا فِي الْهَوَاءِ فَغَابَا عَنِّي.
Ia berkata: Kemudian keduanya naik ke udara lalu lenyap dari pandanganku.
فَانْتَبَهْتُ
فَزِعًا، وَاغْتَمَمْتُ غَمًّا شَدِيدًا، وَأَهَمَّنِي أَمْرِي، فَقُلْتُ: إِذَا
قُبِلَ حَجُّ سِتَّةِ أَنْفُسٍ فَأَيْنَ أَكُونُ أَنَا فِي سِتَّةِ أَنْفُسٍ؟
Aku pun terbangun dalam keadaan terkejut, sangat sedih, dan urusanku membuatku
gelisah. Aku berkata: Jika yang diterima hajinya hanya enam orang, lalu di
manakah posisiku di antara enam orang itu?
فَلَمَّا
أَفَضْتُ مِنْ عَرَفَةَ قُمْتُ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ، فَجَعَلْتُ
أُفَكِّرُ فِي كَثْرَةِ الْخَلْقِ وَفِي قِلَّةِ مَنْ قُبِلَ مِنْهُمْ.
Ketika aku bertolak dari Arafah, aku berdiri di al-Masy’ar al-Haram. Aku terus
memikirkan banyaknya manusia dan sedikitnya yang diterima dari mereka.
فَحَمَلَنِي
النَّوْمُ، فَإِذَا الشَّخْصَانِ قَدْ نَزَلَا عَلَى هَيْئَتِهِمَا.
Lalu rasa kantuk membawaku tidur, dan tiba-tiba dua sosok itu turun lagi dengan
rupa yang sama.
فَنَادَى
أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، وَأَعَادَ الْكَلَامَ بِعَيْنِهِ، ثُمَّ قَالَ: أَتَدْرِي
مَاذَا حَكَمَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ؟
Salah satu memanggil temannya dan mengulangi percakapan yang sama, lalu
berkata: Tahukah engkau apa keputusan Tuhan kita عز وجل pada malam ini?
قَالَ:
لَا.
Ia menjawab: Tidak.
قَالَ:
فَإِنَّهُ وَهَبَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ السِّتَّةِ مِائَةَ أَلْفٍ.
Ia berkata: Sesungguhnya Dia telah menganugerahkan kepada masing-masing dari
enam orang itu seratus ribu orang.
قَالَ:
فَانْتَبَهْتُ وَبِيَ مِنَ السُّرُورِ مَا يَجِلُّ عَنِ الْوَصْفِ.
Aku pun terbangun dengan kegembiraan yang tak dapat dilukiskan.
وَعَنْهُ
أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: حَجَجْتُ سَنَةً، فَلَمَّا قَضَيْتُ
مَنَاسِكِي تَفَكَّرْتُ فِيمَنْ لَا يُقْبَلُ حَجُّهُ، فَقُلْتُ: اللَّهُمَّ
إِنِّي قَدْ وَهَبْتُ حَجَّتِي وَجَعَلْتُ ثَوَابَهَا لِمَنْ لَمْ تَقْبَلْ
حَجَّتَهُ.
Dari beliau juga رضي
الله عنه, ia berkata: Pada suatu tahun aku berhaji. Setelah
menyelesaikan manasikku, aku memikirkan orang-orang yang hajinya tidak
diterima. Lalu aku berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menghadiahkan
hajiku dan menjadikan pahalanya bagi orang yang tidak Engkau terima hajinya.
قَالَ:
فَرَأَيْتُ رَبَّ الْعِزَّةِ فِي النَّوْمِ جَلَّ جَلَالُهُ، فَقَالَ لِي: يَا
عَلِيُّ، تَتَسَخَّى عَلَيَّ وَأَنَا خَلَقْتُ السَّخَاءَ وَالْأَسْخِيَاءَ؟
Ia berkata: Lalu aku melihat Tuhan Yang Maha Mulia dalam mimpi, Mahaagung
keagungan-Nya. Dia berfirman kepadaku: Wahai Ali, apakah engkau hendak bermurah
hati kepada-Ku, padahal Aku yang menciptakan kemurahan hati dan orang-orang
yang dermawan?
وَأَنَا
أَجْوَدُ الْأَجْوَدِينَ، وَأَكْرَمُ الْأَكْرَمِينَ، وَأَحَقُّ بِالْجُودِ
وَالْكَرَمِ مِنَ الْعَالَمِينَ.
Padahal Aku adalah Yang Paling Pemurah di antara para pemurah, Yang Paling
Mulia di antara para mulia, dan lebih berhak memiliki kemurahan dan kemuliaan
daripada seluruh makhluk.
قَدْ
وَهَبْتُ كُلَّ مَنْ لَمْ أَقْبَلْ حَجَّهُ لِمَنْ قَبِلْتُهُ.
Aku telah menganugerahkan setiap orang yang tidak Aku terima hajinya kepada
orang yang hajinya Aku terima.
فَضِيلَةُ
الْبَيْتِ وَمَكَّةَ الْمُشَرَّفَةِ
Keutamaan Baitullah dan Makkah al-Mukarramah
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَعَدَ
هَذَا الْبَيْتَ أَنْ يَحُجَّهُ كُلَّ سَنَةٍ سِتُّمِائَةُ أَلْفٍ، فَإِنْ
نَقَصُوا أَكْمَلَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ.
Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah عز وجل telah menjanjikan
bagi rumah ini bahwa setiap tahun akan dihajikan oleh enam ratus ribu orang.
Jika jumlah itu kurang, maka Allah عز وجل akan menyempurnakannya dengan para
malaikat.
وَإِنَّ
الْكَعْبَةَ تُحْشَرُ كَالْعَرُوسِ الْمَزْفُوفَةِ، وَكُلُّ مَنْ حَجَّهَا
يَتَعَلَّقُ بِأَسْتَارِهَا، يَسْعَوْنَ حَوْلَهَا حَتَّى تَدْخُلَ الْجَنَّةَ
فَيَدْخُلُونَ مَعَهَا.
Dan sesungguhnya Ka’bah akan dikumpulkan kelak seperti pengantin yang diarak.
Setiap orang yang pernah berhaji kepadanya akan berpegang pada tirai-tirainya,
berjalan di sekelilingnya, hingga Ka’bah masuk ke surga dan mereka pun masuk
bersamanya.
وَفِي
الْخَبَرِ: إِنَّ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ يَاقُوتَةٌ مِنْ يَوَاقِيتِ الْجَنَّةِ،
وَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ،
يَشْهَدُ لِكُلِّ مَنِ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ وَصِدْقٍ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Sesungguhnya Hajar Aswad adalah permata yakut
dari permata-permata surga. Pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan dua
mata dan lisan yang dapat berbicara, yang dengannya ia akan bersaksi untuk
setiap orang yang pernah menyentuhnya dengan benar dan tulus.
وَكَانَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُهُ كَثِيرًا.
Rasulullah saw. sering menciumnya.
وَرُوِيَ
أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ عَلَيْهِ.
Diriwayatkan pula bahwa beliau saw. pernah bersujud di atasnya.
وَكَانَ
يَطُوفُ عَلَى الرَّاحِلَةِ، فَيَضَعُ الْمِحْجَنَ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُقَبِّلُ
طَرَفَ الْمِحْجَنِ.
Beliau pernah thawaf di atas tunggangan. Beliau menyentuhkan tongkat
lengkungnya pada Hajar Aswad, lalu mencium ujung tongkat itu.
وَقَبَّلَهُ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ثُمَّ قَالَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا
تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ.
Umar رضي الله عنه
menciumnya lalu berkata: Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak
dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat.
وَلَوْلَا
أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ
مَا قَبَّلْتُكَ.
Sekiranya aku tidak melihat Rasulullah saw. menciummu, niscaya aku tidak akan
menciummu.
ثُمَّ
بَكَى حَتَّى عَلَا نَشِيجُهُ، فَالْتَفَتَ إِلَى وَرَائِهِ فَرَأَى عَلِيًّا
كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
Kemudian ia menangis hingga tersedu-sedu. Lalu ia menoleh ke belakang dan
melihat Ali, semoga Allah memuliakan wajahnya dan meridhainya.
فَقَالَ:
يَا أَبَا الْحَسَنِ، هَهُنَا تُسْكَبُ الْعَبَرَاتُ وَتُسْتَجَابُ الدَّعَوَاتُ.
Umar berkata: Wahai Abu al-Hasan, di sinilah air mata ditumpahkan dan doa-doa
dikabulkan.
فَقَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، بَلْ هُوَ يَضُرُّ
وَيَنْفَعُ.
Ali رضي الله عنه
berkata: Wahai Amirul Mukminin, bahkan ia dapat memberi mudarat dan manfaat.
قَالَ:
وَكَيْفَ؟
Umar bertanya: Bagaimana bisa?
قَالَ:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمَّا أَخَذَ الْمِيثَاقَ عَلَى الذُّرِّيَّةِ كَتَبَ
عَلَيْهِمْ كِتَابًا، ثُمَّ أَلْقَمَهُ هَذَا الْحَجَرَ، فَهُوَ يَشْهَدُ
لِلْمُؤْمِنِ بِالْوَفَاءِ، وَيَشْهَدُ عَلَى الْكَافِرِ بِالْجُحُودِ.
Ali menjawab: Ketika Allah Ta’ala mengambil perjanjian dari anak keturunan
Adam, Dia menuliskan bagi mereka sebuah catatan, lalu memasukkannya ke dalam
batu ini. Maka batu ini akan bersaksi bagi orang beriman karena kesetiaannya,
dan bersaksi atas orang kafir karena pengingkarannya.
قِيلَ:
فَذَلِكَ هُوَ مَعْنَى قَوْلِ النَّاسِ عِنْدَ الِاسْتِلَامِ: اللَّهُمَّ
إِيمَانًا بِكَ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ.
Dikatakan: Itulah makna ucapan orang-orang saat menyentuh Hajar Aswad: “Ya
Allah, sebagai bentuk keimanan kepada-Mu, pembenaran terhadap kitab-Mu, dan
pemenuhan terhadap janji-Mu.”
وَرُوِيَ
عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ صَوْمَ يَوْمٍ فِيهَا
بِمِائَةِ أَلْفِ يَوْمٍ، وَصَدَقَةَ دِرْهَمٍ بِمِائَةِ أَلْفِ دِرْهَمٍ،
وَكَذَلِكَ كُلُّ حَسَنَةٍ بِمِائَةِ أَلْفٍ.
Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri رضي الله عنه bahwa puasa satu hari di sana sebanding
dengan seratus ribu hari, sedekah satu dirham sebanding dengan seratus ribu
dirham, demikian pula setiap kebaikan dilipatgandakan seratus ribu kali.
وَيُقَالُ:
طَوَافُ سَبْعَةِ أَسَابِيعَ أَيَّامٍ يَعْدِلُ عُمْرَةً، وَثَلَاثُ عُمَرَ
تَعْدِلُ حَجَّةً.
Dan dikatakan: thawaf tujuh pekan hari setara dengan satu umrah, dan tiga umrah
setara dengan satu haji.
وَفِي
الْخَبَرِ الصَّحِيحِ: عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ مَعِي.
Dalam hadis sahih disebutkan: Umrah di bulan Ramadan sebanding dengan haji
bersamaku.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ
الْأَرْضُ، ثُمَّ آتِي أَهْلَ الْبَقِيعِ فَيُحْشَرُونَ مَعِي، ثُمَّ آتِي أَهْلَ
مَكَّةَ فَأُحْشَرُ بَيْنَ الْحَرَمَيْنِ.
Nabi saw. bersabda: Aku adalah orang pertama yang bumi terbelah untuknya.
Kemudian aku mendatangi penghuni Baqi’, lalu mereka dibangkitkan bersamaku.
Setelah itu aku mendatangi penduduk Makkah, lalu aku dibangkitkan di antara dua
tanah haram.
وَفِي
الْخَبَرِ: إِنَّ آدَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى
مَنَاسِكَهُ لَقِيَتْهُ الْمَلَائِكَةُ، فَقَالُوا: بَرَّ حَجُّكَ يَا آدَمُ،
لَقَدْ حَجَجْنَا هَذَا الْبَيْتَ قَبْلَكَ بِأَلْفَيْ عَامٍ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Ketika Adam عليه السلام telah menyelesaikan
manasiknya, para malaikat menemuinya dan berkata: Semoga hajimu mabrur, wahai
Adam. Sungguh kami telah berhaji ke rumah ini dua ribu tahun sebelum engkau.
وَجَاءَ
فِي الْأَثَرِ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْظُرُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى
أَهْلِ الْأَرْضِ، فَأَوَّلُ مَنْ يَنْظُرُ إِلَيْهِ أَهْلُ الْحَرَمِ، وَأَوَّلُ
مَنْ يَنْظُرُ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِ الْحَرَمِ أَهْلُ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.
Disebutkan dalam atsar: Sesungguhnya Allah عز وجل memandang penduduk
bumi setiap malam, dan yang pertama kali Dia pandang adalah penduduk tanah
haram. Di antara penduduk tanah haram, yang pertama kali dipandang-Nya adalah
penduduk Masjidil Haram.
فَمَنْ
رَآهُ طَائِفًا غَفَرَ لَهُ، وَمَنْ رَآهُ مُصَلِّيًا غَفَرَ لَهُ، وَمَنْ رَآهُ
قَائِمًا مُسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةِ غَفَرَ لَهُ.
Barang siapa dipandang-Nya sedang thawaf, Dia mengampuninya. Barang siapa
dipandang-Nya sedang salat, Dia mengampuninya. Dan barang siapa dipandang-Nya
sedang berdiri menghadap Ka’bah, Dia mengampuninya.
وَكُوشِفَ
بَعْضُ الْأَوْلِيَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ
الثُّغُورَ كُلَّهَا تَسْجُدُ لِعَبَّادَانَ، وَرَأَيْتُ عَبَّادَانَ سَاجِدَةً
لِجُدَّةَ.
Sebagian wali رضي
الله عنهم mengalami kasyaf, lalu berkata: Aku melihat seluruh daerah
perbatasan bersujud kepada ‘Abbadan, dan aku melihat ‘Abbadan bersujud kepada
Jeddah.
وَيُقَالُ:
لَا تَغْرُبُ الشَّمْسُ مِنْ يَوْمٍ إِلَّا وَيَطُوفُ بِهَذَا الْبَيْتِ رَجُلٌ
مِنَ الْأَبْدَالِ، وَلَا يَطْلُعُ الْفَجْرُ مِنْ لَيْلَةٍ إِلَّا طَافَ بِهِ
وَاحِدٌ مِنَ الْأَوْتَادِ.
Dan dikatakan: Tidaklah matahari terbenam pada suatu hari kecuali ada seorang
dari kalangan abdal yang thawaf di Baitullah ini, dan tidaklah fajar terbit
pada suatu malam kecuali ada seorang dari kalangan autad yang thawaf di sana.
وَإِذَا
انْقَطَعَ ذَلِكَ كَانَ سَبَبَ رَفْعِهِ مِنَ الْأَرْضِ، فَيُصْبِحُ النَّاسُ
وَقَدْ رُفِعَتِ الْكَعْبَةُ، لَا يَرَى النَّاسُ لَهَا أَثَرًا.
Apabila hal itu terputus, maka itulah sebab Ka’bah diangkat dari bumi. Manusia
pun pagi-pagi mendapati Ka’bah telah diangkat, dan mereka tidak lagi melihat
bekasnya.
وَهَذَا
إِذَا أَتَى عَلَيْهَا سَبْعُ سِنِينَ لَمْ يَحُجَّهَا أَحَدٌ.
Hal itu terjadi apabila berlalu tujuh tahun tanpa seorang pun menghajinya.
ثُمَّ
يُرْفَعُ الْقُرْآنُ مِنَ الْمَصَاحِفِ، فَيُصْبِحُ النَّاسُ فَإِذَا الْوَرَقُ
أَبْيَضُ يَلُوحُ لَيْسَ فِيهِ حَرْفٌ.
Kemudian Al-Qur’an diangkat dari mushaf-mushaf, sehingga manusia pada pagi hari
mendapati lembaran-lembaran itu putih bersih tanpa satu huruf pun.
ثُمَّ
يُنْسَخُ الْقُرْآنُ مِنَ الْقُلُوبِ، فَلَا يُذْكَرُ مِنْهُ كَلِمَةٌ.
Lalu Al-Qur’an dihapus dari hati-hati, sehingga tidak ada lagi satu kata pun
yang diingat darinya.
ثُمَّ
يَرْجِعُ النَّاسُ إِلَى الْأَشْعَارِ وَالْأَغَانِي وَأَخْبَارِ الْجَاهِلِيَّةِ.
Setelah itu manusia kembali kepada syair-syair, lagu-lagu, dan cerita-cerita
jahiliah.
ثُمَّ
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ، وَيَنْزِلُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَيَقْتُلُهُ،
وَالسَّاعَةُ عِنْدَ ذَلِكَ بِمَنْزِلَةِ الْحَامِلِ الْمُقْرِبِ الَّتِي
تُتَوَقَّعُ وِلَادَتُهَا.
Kemudian Dajjal keluar, lalu Isa عليه السلام turun dan membunuhnya. Pada saat itu, hari
kiamat laksana wanita hamil tua yang tinggal menunggu saat melahirkan.
وَفِي
الْخَبَرِ: اسْتَكْثِرُوا مِنَ الطَّوَافِ بِهَذَا الْبَيْتِ قَبْلَ أَنْ
يُرْفَعَ، فَقَدْ هُدِمَ مَرَّتَيْنِ وَيُرْفَعُ فِي الثَّالِثَةِ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Perbanyaklah thawaf di rumah ini sebelum ia
diangkat, karena ia telah dihancurkan dua kali dan akan diangkat pada kali yang
ketiga.
وَرُوِيَ
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِذَا أَرَدْتُ أَنْ أُخْرِبَ
الدُّنْيَا بَدَأْتُ بِبَيْتِي فَخَرَّبْتُهُ، ثُمَّ أُخْرِبُ الدُّنْيَا عَلَى
أَثَرِهِ.
Diriwayatkan dari Ali رضي
الله عنه, dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman:
Jika Aku hendak menghancurkan dunia, Aku memulainya dengan rumah-Ku, lalu Aku
hancurkan dunia setelahnya.
فَضِيلَةُ
الْمُقَامِ بِمَكَّةَ حَرَسَهَا اللَّهُ تَعَالَى وَكَرَاهِيَتُهُ
Keutamaan menetap di Makkah semoga Allah menjaganya, dan
kemakruhannya
كَرِهَ
الْخَائِفُونَ الْمُحْتَاطُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ الْمُقَامَ بِمَكَّةَ لِمَعَانٍ
ثَلَاثَةٍ.
Para ulama yang penuh rasa takut dan kehati-hatian memakruhkan menetap di
Makkah karena tiga alasan.
الْأَوَّلُ:
خَوْفُ التَّبَرُّمِ وَالْأُنْسِ بِالْبَيْتِ، فَإِنَّ ذَلِكَ رُبَّمَا يُؤَثِّرُ
فِي تَسْكِينِ حَرْقَةِ الْقَلْبِ فِي الِاحْتِرَامِ.
Pertama, takut timbul rasa bosan dan terlalu akrab dengan Baitullah, karena hal
itu kadang mempengaruhi padamnya getaran hati dalam memuliakannya.
وَهَكَذَا
كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَضْرِبُ الْحُجَّاجَ إِذَا حَجُّوا،
وَيَقُولُ: يَا أَهْلَ الْيَمَنِ يَمَنُكُمْ، وَيَا أَهْلَ الشَّامِ شَامُكُمْ،
وَيَا أَهْلَ الْعِرَاقِ عِرَاقُكُمْ.
Karena itulah Umar رضي
الله عنه memerintahkan para jamaah haji untuk kembali setelah berhaji,
dan ia berkata: Wahai penduduk Yaman, kembalilah ke Yaman kalian. Wahai
penduduk Syam, kembalilah ke Syam kalian. Wahai penduduk Irak, kembalilah ke
Irak kalian.
وَلِذَلِكَ
هَمَّ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمَنْعِ النَّاسِ مِنْ كَثْرَةِ الطَّوَافِ،
وَقَالَ: خَشِيتُ أَنْ يَأْنَسَ النَّاسُ بِهَذَا الْبَيْتِ.
Karena itu pula Umar رضي
الله عنه pernah berniat mencegah manusia dari terlalu banyak thawaf, dan
ia berkata: Aku khawatir manusia menjadi terlalu terbiasa dengan rumah ini.
الثَّانِي:
تَهْيِيجُ الشَّوْقِ بِالْمُفَارَقَةِ لِتَنْبَعِثَ دَاعِيَةُ الْعَوْدَةِ،
فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، أَيْ
يَثُوبُونَ وَيَعُودُونَ إِلَيْهِ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى، وَلَا يَقْضُونَ مِنْهُ
وَطَرًا.
Kedua, agar kerinduan tetap menyala dengan adanya perpisahan, sehingga muncul
dorongan untuk kembali lagi. Sebab Allah Ta’ala menjadikan rumah itu sebagai
tempat kembali bagi manusia dan tempat yang aman, artinya mereka kembali lagi
dan lagi kepadanya, dan tidak pernah merasa puas darinya.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: تَكُونُ فِي بَلَدٍ وَقَلْبُكَ مُشْتَاقٌ إِلَى مَكَّةَ مُتَعَلِّقٌ
بِهَذَا الْبَيْتِ، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَكُونَ فِيهِ وَأَنْتَ مُتَبَرِّمٌ
بِالْمُقَامِ وَقَلْبُكَ فِي بَلَدٍ آخَرَ.
Sebagian mereka berkata: Engkau berada di suatu negeri sementara hatimu
merindukan Makkah dan bergantung kepada Baitullah, itu lebih baik bagimu
daripada engkau tinggal di sana tetapi bosan menetap dan hatimu justru berada
di negeri lain.
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: كَمْ مِنْ رَجُلٍ بِخُرَاسَانَ هُوَ أَقْرَبُ إِلَى هَذَا
الْبَيْتِ مِمَّنْ يَطُوفُ بِهِ.
Sebagian salaf berkata: Betapa banyak orang di Khurasan yang lebih dekat kepada
rumah ini daripada orang yang sedang thawaf di sekelilingnya.
وَيُقَالُ:
إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى عِبَادًا تَطُوفُ بِهِمُ الْكَعْبَةُ تَقَرُّبًا إِلَى
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan dikatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki hamba-hamba yang Ka’bah
berputar mengelilingi mereka sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah عز وجل.
الثَّالِثُ:
الْخَوْفُ مِنْ رُكُوبِ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبِ بِهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْطِرٌ،
وَبِالْحَرِيِّ أَنْ يُورِثَ مَقْتَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِشَرَفِ الْمَوْضِعِ.
Ketiga, takut terjerumus dalam kesalahan dan dosa di sana, karena itu sangat
berbahaya dan dapat menyebabkan kemurkaan Allah عز وجل mengingat mulianya
tempat tersebut.
وَرُوِيَ
عَنْ وُهَيْبِ بْنِ الْوَرْدِ الْمَكِّيِّ قَالَ: كُنْتُ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي
الْحِجْرِ أُصَلِّي، فَسَمِعْتُ كَلَامًا بَيْنَ الْكَعْبَةِ وَالْأَسْتَارِ
يَقُولُ: إِلَى اللَّهِ أَشْكُو، ثُمَّ إِلَيْكَ يَا جِبْرِيلُ، مَا أَلْقَى مِنَ
الطَّائِفِينَ حَوْلِي مِنْ تَفَكُّرِهِمْ فِي الْحَدِيثِ وَلَغْوِهِمْ
وَلَهْوِهِمْ.
Diriwayatkan dari Wuhaib bin al-Ward al-Makki, ia berkata: Pada suatu malam aku
sedang salat di Hijr, lalu aku mendengar suara antara Ka’bah dan tirai-tirainya
yang berkata: Kepada Allah aku mengadu, kemudian kepadamu wahai Jibril, tentang
apa yang aku alami dari orang-orang yang thawaf di sekelilingku, yaitu sibuk
memikirkan percakapan, kesia-siaan, dan permainan.
لَئِنْ
لَمْ يَنْتَهُوا عَنْ ذَلِكَ لَأَنْتَفِضَنَّ انْتِفَاضَةً يَرْجِعُ كُلُّ حَجَرٍ
مِنِّي إِلَى الْجَبَلِ الَّذِي قُطِعَ مِنْهُ.
Jika mereka tidak berhenti dari hal itu, sungguh aku akan berguncang sekali
guncangan sehingga setiap batuku kembali ke gunung tempat asal ia dipotong.
وَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا مِنْ بَلَدٍ يُؤَاخَذُ فِيهِ
الْعَبْدُ بِالنِّيَّةِ قَبْلَ الْعَمَلِ إِلَّا مَكَّةَ.
Ibnu Mas’ud رضي
الله عنه berkata: Tidak ada suatu negeri di mana seorang hamba dihukum
hanya karena niat sebelum beramal, selain Makkah.
وَتَلَا
قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ
عَذَابٍ أَلِيمٍ﴾ أَيْ أَنَّهُ عَلَى مُجَرَّدِ الْإِرَادَةِ.
Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala: “Dan siapa yang bermaksud di dalamnya
melakukan penyimpangan dengan zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang
pedih,” yakni bahwa hal itu berlaku hanya dengan sekadar niat.
وَيُقَالُ:
إِنَّ السَّيِّئَاتِ تُضَاعَفُ بِهَا كَمَا تُضَاعَفُ الْحَسَنَاتُ.
Dan dikatakan: Sesungguhnya keburukan di sana dilipatgandakan sebagaimana
kebaikan dilipatgandakan.
وَكَانَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: الِاحْتِكَارُ بِمَكَّةَ مِنَ
الْإِلْحَادِ فِي الْحَرَمِ.
Ibnu Abbas رضي
الله عنهما berkata: Menimbun barang di Makkah termasuk perbuatan
menyimpang di tanah haram.
وَقِيلَ:
الْكَذِبُ أَيْضًا.
Dan dikatakan: begitu pula berdusta.
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ: لَأَنْ أُذْنِبَ سَبْعِينَ ذَنْبًا بِرُكْيَةَ أَحَبُّ إِلَيَّ
مِنْ أَنْ أُذْنِبَ ذَنْبًا وَاحِدًا بِمَكَّةَ.
Ibnu Abbas berkata: Sungguh aku lebih suka melakukan tujuh puluh dosa di Rukyah
daripada melakukan satu dosa saja di Makkah.
وَرُكْيَةُ
مَنْزِلٌ بَيْنَ مَكَّةَ وَالطَّائِفِ.
Rukyah adalah suatu tempat antara Makkah dan Thaif.
وَالْخَوْفُ
فِي ذَلِكَ انْتَهَى بِبَعْضِ الْمُقِيمِينَ إِلَى أَنْ لَمْ يَقْضِ حَاجَتَهُ فِي
الْحَرَمِ، بَلْ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْحِلِّ عِنْدَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ.
Rasa takut dalam hal ini membuat sebagian orang yang tinggal di sana sampai
tidak mau buang hajat di tanah haram, bahkan ia keluar ke tanah halal ketika
hendak buang hajat.
وَبَعْضُهُمْ
أَقَامَ شَهْرًا وَمَا وَضَعَ جَنْبَهُ عَلَى الْأَرْضِ.
Sebagian yang lain tinggal selama sebulan tanpa pernah membaringkan lambungnya
ke tanah.
وَلِلْمَنْعِ
مِنَ الْإِقَامَةِ كَرِهَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ أُجُورَ دُورِ مَكَّةَ.
Karena keengganan terhadap menetap di sana, sebagian ulama memakruhkan
mengambil sewa rumah-rumah di Makkah.
وَلَا
تَظُنَّنَّ أَنَّ كَرَاهَةَ الْمُقَامِ يُنَاقِضُ فَضْلَ الْبُقْعَةِ، لِأَنَّ
هَذِهِ كَرَاهَةٌ عَلَّتُهَا ضَعْفُ الْخَلْقِ وَقُصُورُهُمْ عَنْ الْقِيَامِ
بِحَقِّ الْمَوْضِعِ.
Janganlah engkau mengira bahwa kemakruhan menetap di sana bertentangan dengan
keutamaan tempat itu. Sebab kemakruhan ini disebabkan oleh kelemahan manusia
dan ketidakmampuan mereka menunaikan hak tempat tersebut.
فَمَعْنَى
قَوْلِنَا: إِنَّ تَرْكَ الْمُقَامِ بِهِ أَفْضَلُ، أَيْ بِالْإِضَافَةِ إِلَى
مُقَامٍ مَعَ التَّقْصِيرِ وَالتَّبَرُّمِ.
Maksud pernyataan kami bahwa meninggalkan menetap di sana itu lebih utama ialah
jika dibandingkan dengan menetap disertai kelalaian dan kebosanan.
أَمَّا
أَنْ يَكُونَ أَفْضَلَ مِنَ الْمُقَامِ مَعَ الْوَفَاءِ بِحَقِّهِ، فَهَيْهَاتَ.
Adapun jika dibandingkan dengan menetap sambil menunaikan haknya dengan baik,
maka tentu jauh sekali anggapan itu.
وَكَيْفَ
لَا، وَلَمَّا عَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى
مَكَّةَ اسْتَقْبَلَ الْكَعْبَةَ وَقَالَ: إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ، وَأَحَبُّ بِلَادِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنِّي
أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ.
Bagaimana mungkin tidak demikian, padahal ketika Rasulullah saw. kembali ke
Makkah, beliau menghadap Ka’bah dan bersabda: Sungguh engkau adalah tanah Allah
yang terbaik, dan negeri Allah yang paling aku cintai. Seandainya aku tidak
diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar.
وَكَيْفَ
لَا وَالنَّظَرُ إِلَى الْبَيْتِ عِبَادَةٌ، وَالْحَسَنَاتُ فِيهَا مُضَاعَفَةٌ
كَمَا ذَكَرْنَاهُ.
Bagaimana tidak, sementara memandang Baitullah adalah ibadah, dan kebaikan di
sana dilipatgandakan sebagaimana telah kami sebutkan.
فَضِيلَةُ
الْمَدِينَةِ الشَّرِيفَةِ عَلَى سَائِرِ الْبِلَادِ
Keutamaan Madinah yang mulia atas negeri-negeri lain
مَا
بَعْدَ مَكَّةَ بُقْعَةٌ أَفْضَلَ مِنْ مَدِينَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Setelah Makkah, tidak ada tempat yang lebih utama daripada kota Rasulullah
saw., yaitu Madinah.
فَالْأَعْمَالُ
فِيهَا أَيْضًا مُضَاعَفَةٌ.
Amal-amal di sana juga dilipatgandakan.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ
أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ.
Nabi saw. bersabda: Salat di masjidku ini lebih baik daripada seribu salat di
masjid lain selain Masjidil Haram.
وَكَذَلِكَ
كُلُّ عَمَلٍ بِالْمَدِينَةِ بِأَلْفٍ.
Demikian pula setiap amal di Madinah dilipatgandakan seribu kali.
وَبَعْدَ
مَدِينَتِهِ الْأَرْضُ الْمُقَدَّسَةُ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ فِيهَا بِخَمْسِمِائَةِ
صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهَا إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَكَذَلِكَ سَائِرُ
الْأَعْمَالِ.
Setelah kotanya, maka yang utama adalah Baitul Maqdis. Salat di sana sebanding
dengan lima ratus salat di tempat lain selain Masjidil Haram, demikian pula
amal-amal lainnya.
وَرَوَى
ابْنُ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ بِعَشْرَةِ آلَافِ صَلَاةٍ، وَصَلَاةٌ فِي
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى بِأَلْفِ صَلَاةٍ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
بِمِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ.
Ibnu Abbas meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Salat di Masjid
Madinah sebanding dengan sepuluh ribu salat, salat di Masjidil Aqsa sebanding
dengan seribu salat, dan salat di Masjidil Haram sebanding dengan seratus ribu
salat.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَبَرَ عَلَى شِدَّتِهَا وَلَأْوَائِهَا
كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Nabi saw. bersabda: Siapa yang sabar atas kesulitannya dan kesempitannya, maka
aku akan menjadi pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ
فَلْيَمُتْ، فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوتَ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا
يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Nabi saw. bersabda: Siapa yang mampu meninggal di Madinah, maka hendaklah ia
meninggal di sana. Sebab tidaklah seseorang meninggal di sana melainkan aku
akan menjadi pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.
وَمَا
بَعْدَ هَذِهِ الْبِقَاعِ الثَّلَاثِ فَالْمَوَاضِعُ فِيهَا مُتَسَاوِيَةٌ، إِلَّا
الثُّغُورَ، فَإِنَّ الْمُقَامَ بِهَا لِلْمُرَابَطَةِ فِيهَا فِيهِ فَضْلٌ
عَظِيمٌ.
Adapun setelah tiga tempat ini, maka tempat-tempat lainnya sama saja, kecuali
daerah perbatasan. Sebab tinggal di sana untuk berjaga di perbatasan memiliki
keutamaan yang besar.
وَلِذَلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى
ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ
الْأَقْصَى.
Karena itu Nabi saw. bersabda: Tidak boleh bersusah payah melakukan perjalanan
kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa.
وَقَدْ
ذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِلَى الِاسْتِدْلَالِ بِهَذَا الْحَدِيثِ فِي
الْمَنْعِ مِنَ الرِّحْلَةِ لِزِيَارَةِ الْمَشَاهِدِ وَقُبُورِ الْعُلَمَاءِ
وَالصُّلَحَاءِ.
Sebagian ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil untuk melarang bepergian guna
menziarahi tempat-tempat bersejarah dan kubur para ulama serta orang-orang
saleh.
وَمَا
تَبَيَّنَ لِي أَنَّ الْأَمْرَ كَذَلِكَ، بَلِ الزِّيَارَةُ مَأْمُورٌ بِهَا.
Namun menurutku, tidak jelas bahwa persoalannya demikian. Bahkan ziarah justru
diperintahkan.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ
الْقُبُورِ فَزُورُوهَا، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا.
Nabi saw. bersabda: Dahulu aku melarang kalian menziarahi kubur, maka sekarang
ziarahilah, dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata yang buruk.
وَالْحَدِيثُ
إِنَّمَا وَرَدَ فِي الْمَسَاجِدِ، وَلَيْسَ فِي مَعْنَاهَا الْمَشَاهِدُ.
Hadis tersebut sebenarnya hanya berkaitan dengan masjid-masjid, dan
tempat-tempat ziarah tidak termasuk dalam pengertiannya.
لِأَنَّ
الْمَسَاجِدَ بَعْدَ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ مُتَمَاثِلَةٌ، وَلَا بَلَدَ
إِلَّا وَفِيهِ مَسْجِدٌ، فَلَا مَعْنَى لِلرِّحْلَةِ إِلَى مَسْجِدٍ آخَرَ.
Sebab masjid-masjid selain tiga masjid itu sama kedudukannya, dan tidak ada
negeri melainkan di dalamnya ada masjid. Maka tidak ada makna khusus untuk
bepergian menuju masjid lain.
وَأَمَّا
الْمَشَاهِدُ فَلَا تَتَسَاوَى، بَلْ بَرَكَةُ زِيَارَتِهَا عَلَى قَدْرِ
دَرَجَاتِهِمْ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun tempat-tempat ziarah, maka ia tidak sama. Bahkan keberkahan ziarahnya
bergantung pada kadar derajat para penghuninya di sisi Allah عز وجل.
نَعَمْ،
لَوْ كَانَ فِي مَوْضِعٍ لَا مَسْجِدَ فِيهِ، فَلَهُ أَنْ يَشُدَّ الرِّحَالَ
إِلَى مَوْضِعٍ فِيهِ مَسْجِدٌ، وَيَنْتَقِلَ إِلَيْهِ بِالْكُلِّيَّةِ إِنْ شَاءَ.
Ya, jika seseorang berada di tempat yang tidak ada masjid di dalamnya, maka ia
boleh melakukan perjalanan ke tempat yang ada masjidnya, bahkan pindah ke sana
sepenuhnya jika ia menghendaki.
ثُمَّ
لَيْتَ شِعْرِي هَلْ يَمْنَعُ هَذَا الْقَائِلُ مِنْ شَدِّ الرِّحَالِ إِلَى
قُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ مِثْلَ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى
وَيَحْيَى وَغَيْرِهِمْ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ؟
Lalu aku bertanya-tanya, apakah orang yang berpendapat demikian juga melarang
bepergian menuju kubur para nabi عليهم السلام, seperti Ibrahim, Musa, Yahya, dan
nabi-nabi lainnya?
فَالْمَنْعُ
مِنْ ذَلِكَ فِي غَايَةِ الْإِحَالَةِ.
Melarang hal itu sungguh sangat tidak masuk akal.
فَإِذَا
جُوِّزَ هَذَا، فَقُبُورُ الْأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالصُّلَحَاءِ فِي
مَعْنَاهَا.
Jika hal itu dibolehkan, maka kubur para wali, ulama, dan orang-orang saleh pun
termasuk dalam makna yang sama.
فَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ مِنْ أَغْرَاضِ الرِّحْلَةِ، كَمَا أَنَّ زِيَارَةَ
الْعُلَمَاءِ فِي الْحَيَاةِ مِنَ الْمَقَاصِدِ.
Maka tidak jauh kemungkinan bahwa hal itu termasuk tujuan perjalanan,
sebagaimana mengunjungi para ulama ketika mereka masih hidup juga merupakan
tujuan yang baik.
هَذَا
فِي الرِّحْلَةِ، أَمَّا الْمُقَامُ فَالْأَوْلَى بِالْمُرِيدِ أَنْ يُلَازِمَ
مَكَانَهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ قَصْدُهُ مِنَ السَّفَرِ اسْتِفَادَةَ الْعِلْمِ،
مَهْمَا سَلِمَ لَهُ حَالُهُ فِي وَطَنِهِ.
Ini tentang perjalanan. Adapun mengenai tempat tinggal, maka yang lebih utama
bagi seorang murid suluk ialah tetap menetap di tempatnya, selama tujuan
perjalanannya bukan untuk menuntut ilmu, dan selama keadaan agamanya tetap
selamat di negerinya.
فَإِنْ
لَمْ يَسْلَمْ، فَيَطْلُبُ مِنَ الْمَوَاضِعِ مَا هُوَ أَقْرَبُ إِلَى الْخُمُولِ،
وَأَسْلَمُ لِلدِّينِ، وَأَفْرَغُ لِلْقَلْبِ، وَأَيْسَرُ لِلْعِبَادَةِ، فَهُوَ
أَفْضَلُ الْمَوَاضِعِ لَهُ.
Namun jika keadaannya tidak selamat, maka hendaklah ia mencari tempat yang
lebih dekat kepada ketenangan dan tidak terkenal, lebih aman bagi agamanya,
lebih mengosongkan hati, dan lebih memudahkan ibadah. Itulah tempat terbaik
baginya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْبِلَادُ بِلَادُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
وَالْخَلْقُ عِبَادُهُ، فَأَيُّ مَوْضِعٍ رَأَيْتَ فِيهِ رِفْقًا فَأَقِمْ
وَاحْمَدِ اللَّهَ تَعَالَى.
Nabi saw. bersabda: Negeri-negeri itu milik Allah عز وجل, dan makhluk adalah
hamba-hamba-Nya. Maka tempat mana saja yang engkau dapati padanya kelembutan
dan kemudahan, tinggallah di sana dan pujilah Allah Ta’ala.
وَفِي
الْخَبَرِ: مَنْ بُورِكَ لَهُ فِي شَيْءٍ فَلْيَلْزَمْهُ، وَمَنْ جُعِلَتْ
مَعِيشَتُهُ فِي شَيْءٍ فَلَا يَنْتَقِلْ عَنْهُ حَتَّى يَتَغَيَّرَ عَلَيْهِ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Siapa yang diberkahi dalam suatu hal,
hendaklah ia tetap melakukannya. Dan siapa yang rezekinya dijadikan pada suatu
bidang, janganlah ia berpindah darinya sampai keadaan itu berubah terhadapnya.
وَقَالَ
أَبُو نُعَيْمٍ: رَأَيْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ وَقَدْ جَعَلَ جِرَابَهُ عَلَى
كَتِفِهِ وَأَخَذَ نَعْلَيْهِ بِيَدِهِ، فَقُلْتُ: إِلَى أَيْنَ يَا أَبَا عَبْدِ
اللَّهِ؟
Abu Nu’aim berkata: Aku melihat Sufyan ats-Tsauri meletakkan kantongnya di
pundaknya dan memegang kedua sandalnya di tangannya. Maka aku berkata: Hendak
ke mana, wahai Abu Abdillah?
قَالَ:
إِلَى بَلَدٍ أَمْلَأُ فِيهِ جِرَابِي بِدِرْهَمٍ.
Ia menjawab: Ke sebuah negeri di mana aku dapat mengisi kantongku hanya dengan
satu dirham.
وَفِي
حِكَايَةٍ أُخْرَى: بَلَغَنِي عَنْ قَرْيَةٍ فِيهَا رُخْصٌ أُقِيمُ فِيهَا.
Dalam kisah lain ia berkata: Aku mendengar tentang sebuah desa yang murah biaya
hidupnya, maka aku akan tinggal di sana.
قَالَ:
فَقُلْتُ: وَتَفْعَلُ هَذَا يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ؟
Ia berkata: Aku pun bertanya: Apakah engkau benar-benar melakukan hal itu,
wahai Abu Abdillah?
فَقَالَ:
نَعَمْ، إِذَا سَمِعْتَ بِرُخْصٍ فِي بَلَدٍ فَاقْصِدْهُ، فَإِنَّهُ أَسْلَمُ
لِدِينِكَ وَأَقَلُّ لِهَمِّكَ.
Ia menjawab: Ya. Jika engkau mendengar ada tempat yang murah biaya hidupnya,
maka pergilah ke sana, karena itu lebih aman bagi agamamu dan lebih ringan bagi
pikiranmu.
وَكَانَ
يَقُولُ: هَذَا زَمَانُ سُوءٍ، لَا يُؤْمَنُ فِيهِ عَلَى الْخَامِلِينَ، فَكَيْفَ
بِالْمَشْهُورِينَ؟
Ia biasa berkata: Ini adalah zaman yang buruk. Orang yang tidak terkenal saja
tidak aman, apalagi orang yang terkenal.
هَذَا
زَمَانُ تَنَقُّلٍ، يَتَنَقَّلُ الرَّجُلُ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَى قَرْيَةٍ يَفِرُّ
بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ.
Ini adalah zaman berpindah-pindah; seseorang berpindah dari satu kampung ke
kampung lain untuk menyelamatkan agamanya dari fitnah.
وَيُحْكَى
عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: وَاللَّهِ مَا أَدْرِي أَيَّ الْبِلَادِ أَسْكُنُ.
Dikisahkan darinya bahwa ia berkata: Demi Allah, aku tidak tahu di negeri mana
aku harus tinggal.
فَقِيلَ
لَهُ: خُرَاسَانُ.
Lalu dikatakan kepadanya: Khurasan.
فَقَالَ:
مَذَاهِبُ مُخْتَلِفَةٌ وَآرَاءٌ فَاسِدَةٌ.
Ia menjawab: Di sana banyak mazhab yang beragam dan pandangan-pandangan yang
rusak.
قِيلَ:
فَالشَّامُ.
Dikatakan: Kalau begitu, Syam.
قَالَ:
يُشَارُ إِلَيْكَ بِالْأَصَابِعِ.
Ia menjawab: Di sana engkau akan ditunjuk-tunjuk dengan jari.
أَرَادَ
الشُّهْرَةَ.
Yang ia maksud adalah ketenaran.
قِيلَ:
فَالْعِرَاقُ.
Dikatakan: Kalau begitu, Irak.
قَالَ:
بَلَدُ الْجَبَابِرَةِ.
Ia menjawab: Itu negeri para penguasa zalim.
قِيلَ:
مَكَّةُ.
Dikatakan: Makkah.
قَالَ:
مَكَّةُ تُذِيبُ الْكِيسَ وَالْبَدَنَ.
Ia menjawab: Makkah menguras kantong dan melemahkan badan.
وَقَالَ
لَهُ رَجُلٌ غَرِيبٌ: عَزَمْتُ عَلَى الْمُجَاوَرَةِ بِمَكَّةَ، فَأَوْصِنِي.
Seorang asing berkata kepadanya: Aku bertekad untuk menetap dekat di Makkah.
Maka berilah aku nasihat.
قَالَ:
أُوصِيكَ بِثَلَاثٍ: لَا تُصَلِّيَنَّ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ، وَلَا تُصْحَبَنَّ
قُرَشِيًّا، وَلَا تُظْهِرَنَّ صَدَقَةً.
Ia berkata: Aku menasihatimu dengan tiga hal: jangan sekali-kali engkau salat
di saf pertama, jangan berteman dekat dengan orang Quraisy, dan jangan
menampakkan sedekahmu.
وَإِنَّمَا
كَرِهَ الصَّفَّ الْأَوَّلَ لِأَنَّهُ يَشْتَهِرُ فَيُفْتَقَدُ إِذَا غَابَ،
فَيَخْتَلِطُ بِعَمَلِهِ التَّزَيُّنُ وَالتَّصَنُّعُ.
Ia memakruhkan saf pertama semata-mata karena orang yang selalu berada di sana
akan menjadi terkenal. Jika ia tidak hadir, ia akan dicari-cari. Akibatnya,
amalnya bisa tercampuri oleh keinginan untuk tampil dan bersikap dibuat-buat.