Syarat-Syarat Wajib Haji, Rukun Haji, Wajib Haji, Dan Larangan-Larangannya

اَلْفَصْلُ الثَّانِي فِي شُرُوطِ وُجُوبِ الْحَجِّ وَصِحَّةِ أَرْكَانِهِ وَوَاجِبَاتِهِ وَمَحْظُورَاتِهِ

Pasal kedua tentang syarat-syarat wajib haji, keabsahan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, dan larangan-larangannya.

أَمَّا الشَّرَائِطُ فَشَرْطُ صِحَّةِ الْحَجِّ اثْنَانِ: الْوَقْتُ وَالْإِسْلَامُ.
Adapun syarat-syaratnya, maka syarat sah haji ada dua, yaitu waktu dan Islam.

فَيَصِحُّ حَجُّ الصَّبِيِّ، وَيُحْرِمُ بِنَفْسِهِ إِنْ كَانَ مُمَيِّزًا، وَيُحْرِمُ عَنْهُ وَلِيُّهُ إِنْ كَانَ صَغِيرًا، وَيَفْعَلُ بِهِ مَا يُفْعَلُ فِي الْحَجِّ مِنَ الطَّوَافِ وَالسَّعْيِ وَغَيْرِهِ.
Maka haji anak kecil adalah sah. Jika ia sudah mumayyiz, ia berihram sendiri. Jika ia masih kecil, walinya yang mengihramkannya. Dan walinya melakukan padanya apa yang dilakukan dalam ibadah haji, seperti thawaf, sa’i, dan selain keduanya.

وَأَمَّا الْوَقْتُ فَهُوَ شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَتِسْعٌ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ.
Adapun waktunya ialah bulan Syawal, Zulqa’dah, dan sembilan hari dari Zulhijah sampai terbit fajar pada hari Nahar.

فَمَنْ أَحْرَمَ بِالْحَجِّ فِي غَيْرِ هَذِهِ الْمُدَّةِ فَهِيَ عُمْرَةٌ.
Siapa yang berihram untuk haji di luar masa ini, maka ihramnya menjadi umrah.

وَجَمِيعُ السَّنَةِ وَقْتُ الْعُمْرَةِ.
Seluruh tahun adalah waktu untuk umrah.

وَلَكِنْ مَنْ كَانَ مَعْكُوفًا عَلَى النُّسُكِ أَيَّامَ مِنًى فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُحْرِمَ بِالْعُمْرَةِ، لِأَنَّهُ لَا يَتَمَكَّنُ مِنَ الِاشْتِغَالِ عَقِيبَهَا لِاشْتِغَالِهِ بِأَعْمَالِ مِنًى.
Akan tetapi, orang yang sedang tekun menunaikan manasik pada hari-hari Mina sebaiknya tidak berihram untuk umrah, karena ia tidak akan dapat menyibukkan diri dengannya setelah itu disebabkan kesibukannya dengan amalan-amalan Mina.

وَأَمَّا شُرُوطُ وُقُوعِهِ عَنْ حَجَّةِ الْإِسْلَامِ فَخَمْسَةٌ: الْإِسْلَامُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالْبُلُوغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْوَقْتُ.
Adapun syarat-syarat agar haji itu terhitung sebagai Haji Islam ada lima, yaitu Islam, merdeka, balig, berakal, dan waktu.

فَإِنْ أَحْرَمَ الصَّبِيُّ أَوِ الْعَبْدُ، وَلَكِنْ عَتَقَ الْعَبْدُ وَبَلَغَ الصَّبِيُّ بِعَرَفَةَ أَوْ بِمُزْدَلِفَةَ، وَعَادَا إِلَى عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ، أَجْزَأَهُمَا عَنْ حَجَّةِ الْإِسْلَامِ.
Jika anak kecil atau budak telah berihram, lalu budak itu merdeka dan anak kecil itu balig di Arafah atau di Muzdalifah, kemudian keduanya kembali ke Arafah sebelum terbit fajar, maka haji keduanya sudah mencukupi sebagai Haji Islam.

لِأَنَّ الْحَجَّ عَرَفَةُ، وَلَيْسَ عَلَيْهِمَا دَمٌ إِلَّا شَاةٌ.
Karena haji itu adalah Arafah, dan tidak ada dam atas keduanya kecuali seekor kambing.

وَتُشْتَرَطُ هَذِهِ الشَّرَائِطُ فِي وُقُوعِ الْعُمْرَةِ عَنْ فَرْضِ الْإِسْلَامِ إِلَّا الْوَقْتَ.
Syarat-syarat ini juga disyaratkan agar umrah terhitung sebagai kewajiban Islam, kecuali syarat waktu.

وَأَمَّا شُرُوطُ وُقُوعِ الْحَجِّ نَفْلًا عَنِ الْحُرِّ الْبَالِغِ فَهُوَ بَعْدَ بَرَاءَةِ ذِمَّتِهِ عَنْ حَجَّةِ الْإِسْلَامِ.
Adapun syarat agar haji sunah terhitung bagi orang merdeka yang telah balig, maka itu setelah tanggungannya terhadap Haji Islam telah gugur.

فَحَجُّ الْإِسْلَامِ مُتَقَدِّمٌ، ثُمَّ الْقَضَاءُ لِمَنْ أَفْسَدَهُ فِي حَالَةِ الْوُقُوفِ، ثُمَّ النَّذْرُ، ثُمَّ النِّيَابَةُ، ثُمَّ النَّفْلُ.
Maka Haji Islam didahulukan, kemudian haji qadha bagi orang yang merusaknya pada saat wuquf, kemudian haji nazar, kemudian haji badal, lalu haji sunah.

وَهَذَا التَّرْتِيبُ مُسْتَحَقٌّ، وَكَذَلِكَ يَقَعُ وَإِنْ نَوَى خِلَافَهُ.
Urutan ini adalah urutan yang semestinya, dan haji itu tetap jatuh sesuai urutan tersebut meskipun ia meniatkan selainnya.

وَأَمَّا شُرُوطُ لُزُومِ الْحَجِّ فَخَمْسَةٌ: الْبُلُوغُ، وَالْإِسْلَامُ، وَالْعَقْلُ، وَالْحُرِّيَّةُ، وَالِاسْتِطَاعَةُ.
Adapun syarat-syarat yang menyebabkan haji menjadi wajib ada lima, yaitu balig, Islam, berakal, merdeka, dan mampu.

وَمَنْ لَزِمَهُ فَرْضُ الْحَجِّ لَزِمَهُ فَرْضُ الْعُمْرَةِ.
Barang siapa wajib menunaikan haji, maka wajib pula menunaikan umrah.

وَمَنْ أَرَادَ دُخُولَ مَكَّةَ لِزِيَارَةٍ أَوْ تِجَارَةٍ وَلَمْ يَكُنْ حَطَّابًا لَزِمَهُ الْإِحْرَامُ عَلَى قَوْلٍ، ثُمَّ يَتَحَلَّلُ بِعَمَلِ عُمْرَةٍ أَوْ حَجٍّ.
Siapa yang hendak memasuki Makkah untuk berziarah atau berdagang, dan ia bukan seorang pencari kayu bakar, maka menurut satu pendapat ia wajib berihram. Kemudian ia bertahallul dengan melakukan umrah atau haji.

وَأَمَّا الِاسْتِطَاعَةُ فَنَوْعَانِ.
Adapun kemampuan itu ada dua macam.

أَحَدُهُمَا الْمُبَاشَرَةُ، وَذَلِكَ لَهُ أَسْبَابٌ.
Yang pertama ialah kemampuan secara langsung, dan kemampuan ini memiliki beberapa sebab.

أَمَّا فِي نَفْسِهِ فَبِالصِّحَّةِ.
Adapun yang berkaitan dengan diri orang itu sendiri, maka dengan adanya kesehatan.

وَأَمَّا فِي الطَّرِيقِ فَبِأَنْ تَكُونَ خِصْبَةً آمِنَةً، بِلَا بَحْرٍ مُخْطِرٍ وَلَا عَدُوٍّ قَاهِرٍ.
Adapun yang berkaitan dengan jalan, maka jalannya harus aman dan subur, tanpa lautan yang membahayakan dan tanpa musuh yang menguasai.

وَأَمَّا فِي الْمَالِ فَبِأَنْ يَجِدَ نَفَقَةَ ذَهَابِهِ وَإِيَابِهِ إِلَى وَطَنِهِ، كَانَ لَهُ أَهْلٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ، لِأَنَّ مُفَارَقَةَ الْوَطَنِ شَدِيدَةٌ.
Adapun yang berkaitan dengan harta, maka ia harus memiliki biaya pergi dan pulang ke negerinya, baik ia memiliki keluarga maupun tidak, karena berpisah dari tanah air adalah hal yang berat.

وَأَنْ يَمْلِكَ نَفَقَةَ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ فِي هَذِهِ الْمُدَّةِ.
Dan ia harus memiliki nafkah bagi orang-orang yang wajib ia nafkahi selama masa itu.

وَأَنْ يَمْلِكَ مَا يَقْضِي بِهِ دُيُونَهُ.
Dan ia harus memiliki sesuatu untuk melunasi utang-utangnya.

وَأَنْ يَقْدِرَ عَلَى رَاحِلَةٍ أَوْ كِرَائِهَا بِمَحْمَلٍ أَوْ زَامِلَةٍ، إِنِ اسْتَمْسَكَ عَلَى الزَّامِلَةِ.
Dan ia harus mampu memiliki tunggangan atau menyewanya, baik dengan sekedup maupun hewan angkut, jika ia mampu bertahan di atas hewan angkut itu.

وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي فَاسْتِطَاعَةُ الْمَعْضُوبِ بِمَالِهِ.
Adapun macam yang kedua ialah kemampuan orang yang tidak mampu secara fisik dengan hartanya.

وَهُوَ أَنْ يَسْتَأْجِرَ مَنْ يَحُجُّ عَنْهُ بَعْدَ فَرَاغِ الْأَجِيرِ عَنْ حَجَّةِ الْإِسْلَامِ لِنَفْسِهِ.
Yaitu dengan menyewa seseorang untuk berhaji atas namanya setelah orang yang disewa itu telah menunaikan Haji Islam untuk dirinya sendiri.

وَيَكْفِي نَفَقَةُ الذَّهَابِ بِزَامِلَةٍ فِي هَذَا النَّوْعِ.
Dalam jenis ini, cukup biaya pergi dengan hewan angkut.

وَالِابْنُ إِذَا عَرَضَ طَاعَتَهُ عَلَى الْأَبِ الزَّمِنِ صَارَ بِهِ مُسْتَطِيعًا.
Seorang anak, apabila menawarkan jasanya kepada ayah yang lumpuh atau lemah, maka dengan hal itu sang ayah menjadi termasuk mampu.

وَلَوْ عَرَضَ مَالَهُ لَمْ يَصِرْ بِهِ مُسْتَطِيعًا.
Namun jika si anak hanya menawarkan hartanya, maka sang ayah tidak menjadi dianggap mampu karenanya.

لِأَنَّ الْخِدْمَةَ بِالْبَدَنِ فِيهَا شَرَفٌ لِلْوَلَدِ، وَبَذْلَ الْمَالِ فِيهِ مِنَّةٌ عَلَى الْوَالِدِ.
Sebab pelayanan dengan badan mengandung kemuliaan bagi anak, sedangkan pemberian harta mengandung kesan berutang budi atas orang tua.

وَمَنِ اسْتَطَاعَ لَزِمَهُ الْحَجُّ، وَلَهُ التَّأْخِيرُ، وَلَكِنَّهُ فِيهِ عَلَى خَطَرٍ.
Barang siapa telah mampu, maka haji menjadi wajib atasnya. Ia boleh menundanya, tetapi dalam penundaan itu ia berada dalam bahaya.

فَإِنْ تَيَسَّرَ لَهُ وَلَوْ فِي آخِرِ عُمُرِهِ سَقَطَ عَنْهُ.
Jika akhirnya ia dapat menunaikannya, walaupun pada akhir umurnya, maka gugurlah kewajiban itu darinya.

وَإِنْ مَاتَ قَبْلَ الْحَجِّ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَاصِيًا بِتَرْكِ الْحَجِّ.
Jika ia meninggal sebelum berhaji, maka ia menemui Allah عز وجل dalam keadaan berdosa karena meninggalkan haji.

وَكَانَ الْحَجُّ فِي تَرِكَتِهِ يُحَجُّ عَنْهُ، وَإِنْ لَمْ يُوصِ، كَسَائِرِ دُيُونِهِ.
Dan biaya haji itu diambil dari harta peninggalannya untuk dihajikan atas namanya, meskipun ia tidak berwasiat, sebagaimana utang-utangnya yang lain.

وَإِنِ اسْتَطَاعَ فِي سَنَةٍ فَلَمْ يَخْرُجْ مَعَ النَّاسِ، وَهَلَكَ مَالُهُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ قَبْلَ حَجِّ النَّاسِ، ثُمَّ مَاتَ، لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا حَجَّ عَلَيْهِ.
Jika ia mampu pada suatu tahun, tetapi tidak berangkat bersama orang-orang, lalu hartanya musnah pada tahun itu sebelum manusia menunaikan haji, kemudian ia meninggal, maka ia menemui Allah عز وجل dalam keadaan tidak lagi menanggung kewajiban haji.

وَمَنْ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ مَعَ الْيَسَارِ فَأَمْرُهُ شَدِيدٌ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.
Siapa yang meninggal dunia dan belum berhaji padahal ia berkecukupan, maka urusannya sangat berat di sisi Allah Ta’ala.

قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَكْتُبَ فِي الْأَمْصَارِ بِضَرْبِ الْجِزْيَةِ عَلَى مَنْ لَمْ يَحُجَّ مِمَّنْ يَسْتَطِيعُ إِلَيْهِ سَبِيلًا.
Umar رضي الله عنه berkata: Sungguh aku pernah berniat menulis kepada berbagai wilayah agar dikenakan jizyah atas orang yang belum berhaji, padahal ia mampu menempuh jalan ke sana.

وَعَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ وَمُجَاهِدٍ وَطَاوُسٍ: لَوْ عَلِمْتُ رَجُلًا غَنِيًّا وَجَبَ عَلَيْهِ الْحَجُّ، ثُمَّ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ، مَا صَلَّيْتُ عَلَيْهِ.
Dari Sa’id bin Jubair, Ibrahim an-Nakha’i, Mujahid, dan Thawus diriwayatkan: Seandainya aku mengetahui ada seorang kaya yang wajib haji atasnya, lalu ia meninggal sebelum berhaji, niscaya aku tidak akan menyalatinya.

وَبَعْضُهُمْ كَانَ لَهُ جَارٌ مُوسِرٌ فَمَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ.
Sebagian dari mereka pernah mempunyai tetangga yang kaya. Tetangga itu meninggal dan belum berhaji, maka ia tidak menyalatinya.

وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ: مَنْ مَاتَ وَلَمْ يُزَكِّ وَلَمْ يَحُجَّ سَأَلَ الرَّجْعَةَ إِلَى الدُّنْيَا.
Ibnu Abbas berkata: Siapa yang meninggal dan belum menunaikan zakat serta belum berhaji, ia akan meminta untuk dikembalikan ke dunia.

وَقَرَأَ قَوْلَهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ﴾.
Lalu ia membaca firman Allah عز وجل: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.”

قَالَ: الْحَجُّ.
Ia berkata: yang dimaksud ialah haji.


وَأَمَّا الْأَرْكَانُ الَّتِي لَا يَصِحُّ الْحَجُّ بِدُونِهَا فَخَمْسَةٌ: الْإِحْرَامُ، وَالطَّوَافُ، وَالسَّعْيُ بَعْدَهُ، وَالْوُقُوفُ بِعَرَفَةَ، وَالْحَلْقُ بَعْدَهُ عَلَى قَوْلٍ.
Adapun rukun-rukun yang tanpa itu haji tidak sah ada lima, yaitu ihram, thawaf, sa’i setelah thawaf, wuquf di Arafah, dan mencukur rambut sesudahnya menurut satu pendapat.

وَأَرْكَانُ الْعُمْرَةِ كَذَلِكَ إِلَّا الْوُقُوفَ.
Rukun-rukun umrah juga demikian, hanya saja tanpa wuquf.

وَالْوَاجِبَاتُ الْمَجْبُورَةُ بِالدَّمِ سِتٌّ.
Adapun kewajiban-kewajiban yang jika ditinggalkan harus ditebus dengan dam ada enam.

الْإِحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ، فَمَنْ تَرَكَهُ وَجَاوَزَ الْمِيقَاتَ مُحِلًّا فَعَلَيْهِ شَاةٌ.
Yaitu berihram dari miqat. Siapa yang meninggalkannya dan melewati miqat dalam keadaan belum ihram, maka ia wajib menyembelih seekor kambing.

وَالرَّمْيُ فِيهِ الدَّمُ قَوْلًا وَاحِدًا.
Melempar jumrah, dalam hal ini dam diwajibkan menurut satu pendapat yang pasti.

وَأَمَّا الصَّبْرُ بِعَرَفَةَ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ، وَالْمَبِيتُ بِمُزْدَلِفَةَ، وَالْمَبِيتُ بِمِنًى، وَطَوَافُ الْوَدَاعِ، فَهَذِهِ الْأَرْبَعَةُ يُجْبَرُ تَرْكُهَا بِالدَّمِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ.
Adapun tetap berada di Arafah sampai matahari terbenam, bermalam di Muzdalifah, bermalam di Mina, dan thawaf wada’, maka empat hal ini jika ditinggalkan ditebus dengan dam menurut salah satu dari dua pendapat.

وَفِي الْقَوْلِ الثَّانِي فِيهَا دَمٌ عَلَى وَجْهِ الِاسْتِحْبَابِ.
Menurut pendapat kedua, dam pada empat hal tersebut bersifat anjuran.


وَأَمَّا وُجُوهُ أَدَاءِ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَثَلَاثَةٌ.
Adapun cara pelaksanaan haji dan umrah ada tiga.

الْأَوَّلُ: الْإِفْرَادُ، وَهُوَ الْأَفْضَلُ.
Yang pertama: ifrad, dan ini yang paling utama.

وَذَلِكَ أَنْ يُقَدِّمَ الْحَجَّ وَحْدَهُ، فَإِذَا فَرَغَ خَرَجَ إِلَى الْحِلِّ فَأَحْرَمَ وَاعْتَمَرَ.
Yaitu dengan mendahulukan haji saja. Setelah selesai, ia keluar ke tanah halal, lalu berihram dan berumrah.

وَأَفْضَلُ الْحِلِّ لِإِحْرَامِ الْعُمْرَةِ الْجِعْرَانَةُ، ثُمَّ التَّنْعِيمُ، ثُمَّ الْحُدَيْبِيَةُ.
Tempat terbaik di tanah halal untuk ihram umrah adalah Ji’ranah, kemudian Tan’im, lalu Hudaibiyah.

وَلَيْسَ عَلَى الْمُفْرِدِ دَمٌ إِلَّا أَنْ يَتَطَوَّعَ.
Orang yang melakukan ifrad tidak wajib dam, kecuali jika ia mau melakukannya sebagai sukarela.

الثَّانِي: الْقِرَانُ، وَهُوَ أَنْ يَجْمَعَ فَيَقُولَ: لَبَّيْكَ بِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ مَعًا، فَيَصِيرَ مُحْرِمًا بِهِمَا.
Yang kedua: qiran, yaitu dengan menggabungkan keduanya lalu mengucapkan, “Labbaika bihajjah wa ‘umrah ma’an,” maka ia menjadi berihram untuk keduanya.

وَيَكْفِيهِ أَعْمَالُ الْحَجِّ، وَتَنْدَرِجُ الْعُمْرَةُ تَحْتَ الْحَجِّ كَمَا يَنْدَرِجُ الْوُضُوءُ تَحْتَ الْغُسْلِ.
Cukuplah baginya amalan-amalan haji, dan umrah masuk di bawah haji sebagaimana wudu masuk di bawah mandi.

إِلَّا أَنَّهُ إِذَا طَافَ وَسَعَى قَبْلَ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ فَسَعْيُهُ مَحْسُوبٌ مِنَ النُّسُكَيْنِ.
Hanya saja, jika ia thawaf dan sa’i sebelum wuquf di Arafah, maka sa’inya terhitung untuk dua ibadah itu.

وَأَمَّا طَوَافُهُ فَغَيْرُ مَحْسُوبٍ، لِأَنَّ شَرْطَ الطَّوَافِ الْفَرْضِ فِي الْحَجِّ أَنْ يَقَعَ بَعْدَ الْوُقُوفِ.
Adapun thawafnya tidak terhitung, karena syarat thawaf fardu dalam haji ialah dilakukan setelah wuquf.

وَعَلَى الْقَارِنِ دَمُ شَاةٍ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَكِّيًّا فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ لَمْ يَتْرُكْ مِيقَاتَهُ إِذْ مِيقَاتُهُ مَكَّةُ.
Orang yang melakukan qiran wajib dam seekor kambing, kecuali jika ia orang Makkah, maka tidak ada kewajiban atasnya, karena ia tidak meninggalkan miqatnya, sebab miqatnya adalah Makkah.

الثَّالِثُ: التَّمَتُّعُ، وَهُوَ أَنْ يُجَاوِزَ الْمِيقَاتَ مُحْرِمًا بِعُمْرَةٍ، وَيَتَحَلَّلَ بِمَكَّةَ، وَيَتَمَتَّعَ بِالْمَحْظُورَاتِ إِلَى وَقْتِ الْحَجِّ، ثُمَّ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ.
Yang ketiga: tamattu’, yaitu melewati miqat dengan berihram untuk umrah, kemudian bertahallul di Makkah, lalu menikmati hal-hal yang sebelumnya terlarang sampai waktu haji, kemudian berihram lagi untuk haji.

وَلَا يَكُونُ مُتَمَتِّعًا إِلَّا بِخَمْسِ شَرَائِطَ.
Seseorang tidak disebut mutamatti’ kecuali dengan lima syarat.

أَحَدُهَا: أَنْ لَا يَكُونَ مِنْ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَحَاضِرُهُ مَنْ كَانَ مِنْهُ عَلَى مَسَافَةٍ لَا تُقْصَرُ فِيهَا الصَّلَاةُ.
Pertama, ia tidak termasuk penduduk yang berada di sekitar Masjidil Haram. Yang dimaksud penduduk sekitarnya ialah orang yang tinggal pada jarak yang tidak membolehkan qasar salat.

الثَّانِي: أَنْ يُقَدِّمَ الْعُمْرَةَ عَلَى الْحَجِّ.
Kedua, ia mendahulukan umrah sebelum haji.

الثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ عُمْرَتُهُ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ.
Ketiga, umrahnya dilakukan pada bulan-bulan haji.

الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَرْجِعَ إِلَى مِيقَاتِ الْحَجِّ وَلَا إِلَى مِثْلِ مَسَافَتِهِ لِإِحْرَامِ الْحَجِّ.
Keempat, ia tidak kembali ke miqat haji dan tidak pula ke jarak yang setara dengannya untuk ihram haji.

الْخَامِسُ: أَنْ يَكُونَ حَجُّهُ وَعُمْرَتُهُ عَنْ شَخْصٍ وَاحِدٍ.
Kelima, hajinya dan umrahnya dilakukan untuk satu orang yang sama.

فَإِذَا وُجِدَتْ هَذِهِ الْأَوْصَافُ كَانَ مُتَمَتِّعًا، وَلَزِمَهُ دَمُ شَاةٍ.
Apabila sifat-sifat ini terpenuhi, maka ia disebut mutamatti’ dan wajib dam seekor kambing.

فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ قَبْلَ يَوْمِ النَّحْرِ، مُتَفَرِّقَةً أَوْ مُتَتَابِعَةً، وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعَ إِلَى الْوَطَنِ.
Jika ia tidak mendapatkannya, maka ia berpuasa tiga hari dalam masa haji sebelum hari Nahar, boleh terpisah-pisah atau berturut-turut, dan tujuh hari lagi ketika ia telah pulang ke negerinya.

وَإِنْ لَمْ يَصُمْ الثَّلَاثَةَ حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْوَطَنِ صَامَ الْعَشَرَةَ تَتَابُعًا أَوْ مُتَفَرِّقَةً.
Jika ia belum sempat berpuasa tiga hari itu sampai kembali ke negerinya, maka ia berpuasa sepuluh hari, boleh berturut-turut atau terpisah-pisah.

وَبَدَلُ دَمِ الْقِرَانِ وَالتَّمَتُّعِ سَوَاءٌ.
Pengganti dam qiran dan tamattu’ adalah sama.

وَالْأَفْضَلُ الْإِفْرَادُ، ثُمَّ التَّمَتُّعُ، ثُمَّ الْقِرَانُ.
Yang paling utama ialah ifrad, kemudian tamattu’, lalu qiran.


وَأَمَّا مَحْظُورَاتُ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَسِتَّةٌ.
Adapun larangan-larangan dalam haji dan umrah ada enam.

الْأَوَّلُ: اللُّبْسُ لِلْقَمِيصِ وَالسَّرَاوِيلِ وَالْخُفِّ وَالْعِمَامَةِ.
Pertama, memakai baju berjahit, celana, khuf, dan sorban.

بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَلْبَسَ إِزَارًا وَرِدَاءً وَنَعْلَيْنِ.
Sebaliknya, ia seharusnya memakai kain bawah, kain atas, dan dua sandal.

فَإِنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَمُكَعَّبَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِزَارًا فَسَرَاوِيلَ.
Jika ia tidak mendapatkan dua sandal, maka ia memakai khuf yang dipotong. Jika ia tidak mendapatkan kain bawah, maka ia memakai celana.

وَلَا بَأْسَ بِالْمِنْطَقَةِ وَالِاسْتِظْلَالِ فِي الْمَحْمَلِ.
Tidak mengapa memakai ikat pinggang dan berteduh di dalam sekedup.

وَلَكِنْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُغَطِّيَ رَأْسَهُ، فَإِنَّ إِحْرَامَهُ فِي الرَّأْسِ.
Akan tetapi, ia tidak boleh menutupi kepalanya, karena ihram laki-laki terletak pada kepalanya.

وَلِلْمَرْأَةِ أَنْ تَلْبَسَ كُلَّ مَخِيطٍ بَعْدَ أَنْ لَا تَسْتُرَ وَجْهَهَا بِمَا يُمَاسُّهُ، فَإِنَّ إِحْرَامَهَا فِي وَجْهِهَا.
Adapun perempuan, ia boleh memakai semua pakaian yang dijahit, asalkan ia tidak menutupi wajahnya dengan sesuatu yang menempel padanya, karena ihram perempuan terletak pada wajahnya.

الثَّانِي: الطِّيبُ، فَلْيَجْتَنِبْ كُلَّ مَا يَعُدُّهُ الْعُقَلَاءُ طِيبًا.
Kedua, wewangian. Maka hendaklah ia menjauhi segala sesuatu yang menurut orang-orang berakal termasuk wewangian.

فَإِنْ تَطَيَّبَ أَوْ لَبِسَ فَعَلَيْهِ دَمُ شَاةٍ.
Jika ia memakai wewangian atau mengenakan pakaian yang terlarang, maka ia wajib dam seekor kambing.

الثَّالِثُ: الْحَلْقُ وَالْقَلْمُ، وَفِيهِمَا الْفِدْيَةُ، أَعْنِي دَمَ شَاةٍ.
Ketiga, mencukur rambut dan memotong kuku. Pada keduanya ada fidyah, yaitu dam seekor kambing.

وَلَا بَأْسَ بِالْكُحْلِ وَدُخُولِ الْحَمَّامِ وَالْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ وَتَرْجِيلِ الشَّعَرِ.
Tidak mengapa memakai celak, masuk pemandian, berbekam dengan pengeluaran darah, hijamah, dan menyisir rambut.

الرَّابِعُ: الْجِمَاعُ، وَهُوَ مُفْسِدٌ قَبْلَ التَّحَلُّلِ الْأَوَّلِ، وَفِيهِ بَدَنَةٌ أَوْ بَقَرَةٌ أَوْ سَبْعُ شِيَاهٍ.
Keempat, jima’. Hal ini merusak haji jika dilakukan sebelum tahallul pertama, dan karenanya wajib menyembelih seekor unta, atau sapi, atau tujuh ekor kambing.

وَإِنْ كَانَ بَعْدَ التَّحَلُّلِ الْأَوَّلِ لَزِمَتْهُ الْبَدَنَةُ وَلَمْ يَفْسُدْ حَجُّهُ.
Jika dilakukan setelah tahallul pertama, maka ia wajib menyembelih seekor unta dan hajinya tidak rusak.

وَالْخَامِسُ: مُقَدِّمَاتُ الْجِمَاعِ كَالْقُبْلَةِ وَالْمُلَامَسَةِ الَّتِي تَنْقُضُ الطُّهْرَ مَعَ النِّسَاءِ، فَهُوَ مُحَرَّمٌ، وَفِيهِ شَاةٌ، وَكَذَا فِي الِاسْتِمْنَاءِ.
Kelima, pendahuluan jima’, seperti mencium dan menyentuh perempuan yang membatalkan kesucian, maka itu haram dan wajib dam seekor kambing. Demikian pula dalam istimna’.

وَيَحْرُمُ النِّكَاحُ وَالْإِنْكَاحُ، وَلَا دَمَ فِيهِ لِأَنَّهُ لَا يَنْعَقِدُ.
Akad nikah dan menikahkan juga haram, namun tidak ada dam padanya karena akad itu tidak sah.

السَّادِسُ: قَتْلُ صَيْدِ الْبَرِّ، أَعْنِي مَا يُؤْكَلُ أَوْ هُوَ مُتَوَلِّدٌ مِنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ.
Keenam, membunuh binatang buruan darat, yaitu yang boleh dimakan atau yang terlahir dari hasil percampuran hewan halal dan haram.

فَإِنْ قَتَلَ صَيْدًا فَعَلَيْهِ مِثْلُهُ مِنَ النَّعَمِ، يُرَاعَى فِيهِ التَّقَارُبُ فِي الْخِلْقَةِ.
Jika ia membunuh binatang buruan, maka ia wajib menggantinya dengan hewan ternak yang semisal, dengan memperhatikan kemiripan bentuk.

وَصَيْدُ الْبَحْرِ حَلَالٌ، وَلَا جَزَاءَ فِيهِ.
Adapun binatang buruan laut adalah halal, dan tidak ada sanksi padanya.

.