Sholat-Sholat Sunnah

اَلْبَابُ السَّابِعُ فِي النَّوَافِلِ مِنَ الصَّلَوَاتِ.

Bab ketujuh tentang salat-salat nafilah.

اِعْلَمْ أَنَّ مَا عَدَا الْفَرَائِضِ مِنَ الصَّلَوَاتِ يَنْقَسِمُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: سُنَنٍ، وَمُسْتَحَبَّاتٍ، وَتَطَوُّعَاتٍ.
Ketahuilah bahwa salat-salat selain yang fardu terbagi menjadi tiga macam: sunah, mustahab, dan tathawwu‘.

وَنَعْنِي بِالسُّنَنِ مَا نُقِلَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُوَاظَبَةُ عَلَيْهِ، كَالرَّوَاتِبِ عَقِيبَ الصَّلَوَاتِ، وَصَلَاةِ الضُّحَى، وَالْوِتْرِ، وَالتَّهَجُّدِ، وَغَيْرِهَا.
Yang kami maksud dengan sunah ialah apa yang diriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم terus-menerus melakukannya, seperti salat-salat rawatib setelah salat fardu, salat duha, witir, tahajud, dan lainnya.

لِأَنَّ السُّنَّةَ عِبَارَةٌ عَنِ الطَّرِيقَةِ الْمَسْلُوكَةِ.
Karena sunah berarti jalan yang ditempuh secara tetap.

وَنَعْنِي بِالْمُسْتَحَبَّاتِ مَا وَرَدَ الْخَبَرُ بِفَضْلِهِ، وَلَمْ يُنْقَلِ الْمُوَاظَبَةُ عَلَيْهِ.
Yang kami maksud dengan mustahab ialah apa yang ada riwayat tentang keutamaannya, tetapi tidak dinukil adanya ketekunan terus-menerus padanya.

كَمَا سَنَنْقُلُهُ فِي صَلَوَاتِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي فِي الْأُسْبُوعِ، وَكَالصَّلَاةِ عِنْدَ الْخُرُوجِ مِنَ الْمَنْزِلِ وَالدُّخُولِ فِيهِ وَأَمْثَالِهِ.
Sebagaimana nanti akan kami sebutkan pada salat-salat siang dan malam dalam sepekan, juga seperti salat ketika keluar rumah dan ketika masuk ke dalamnya, serta yang semisal itu.

وَنَعْنِي بِالتَّطَوُّعَاتِ مَا وَرَاءَ ذٰلِكَ، مِمَّا لَمْ يَرِدْ فِي عَيْنِهِ أَثَرٌ، وَلٰكِنْ تَطَوَّعَ بِهِ الْعَبْدُ مِنْ حَيْثُ رَغِبَ فِي مُنَاجَاةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالصَّلَاةِ الَّتِي وَرَدَ الشَّرْعُ بِفَضْلِهَا مُطْلَقًا.
Yang kami maksud dengan tathawwu‘ ialah salat selain itu, yang tidak ada riwayat khusus pada bentuk tertentunya, tetapi seorang hamba melakukannya karena ingin bermunajat kepada Allah عز وجل melalui salat yang memang secara umum disebutkan keutamaannya dalam syariat.

فَكَأَنَّهُ مُتَبَرِّعٌ بِهِ إِذَا لَمْ يُنْدَبْ إِلَى تِلْكَ الصَّلَاةِ بِعَيْنِهَا، وَإِنْ نُدِبَ إِلَى الصَّلَاةِ مُطْلَقًا.
Maka ia seperti orang yang melakukan amal sukarela, selama tidak ada anjuran khusus pada salat itu secara tertentu, meskipun ada anjuran secara umum untuk salat.

وَالتَّطَوُّعُ عِبَارَةٌ عَنِ التَّبَرُّعِ.
Dan tathawwu‘ berarti perbuatan sukarela.

وَسُمِّيَتِ الْأَقْسَامُ الثَّلَاثَةُ نَوَافِلَ مِنْ حَيْثُ إِنَّ النَّفْلَ هُوَ الزِّيَادَةُ، وَجُمْلَتُهَا زَائِدَةٌ عَلَى الْفَرَائِضِ.
Ketiga macam itu semuanya disebut nawafil karena nafl berarti tambahan, dan seluruhnya merupakan tambahan atas salat-salat fardu.

فَلَفْظُ النَّافِلَةِ وَالسُّنَّةِ وَالْمُسْتَحَبِّ وَالتَّطَوُّعِ أَرَدْنَا الِاصْطِلَاحَ عَلَيْهِ لِتَعْرِيفِ هٰذِهِ الْمَقَاصِدِ.
Adapun penggunaan istilah nafilah, sunah, mustahab, dan tathawwu‘, maka kami memakainya sebagai istilah untuk menjelaskan maksud-maksud ini.

وَلَا حَرَجَ عَلَى مَنْ يُغَيِّرُ هٰذَا الِاصْطِلَاحَ، فَلَا مُشَاحَّةَ فِي الْأَلْفَاظِ بَعْدَ فَهْمِ الْمَقَاصِدِ.
Tidak ada masalah bagi orang yang memakai istilah yang berbeda, karena tidak perlu diperdebatkan masalah lafaz selama maksudnya telah dipahami.

وَكُلُّ قِسْمٍ مِنْ هٰذِهِ الْأَقْسَامِ تَتَفَاوَتُ دَرَجَاتُهُ فِي الْفَضْلِ بِحَسَبِ مَا وَرَدَ فِيهَا مِنَ الْأَخْبَارِ وَالْآثَارِ الْمُعَرِّفَةِ لِفَضْلِهَا.
Setiap bagian dari pembagian ini bertingkat-tingkat keutamaannya, sesuai dengan hadis dan atsar yang datang menjelaskan keutamaannya.

وَبِحَسَبِ طُولِ مُوَاظَبَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا.
Juga sesuai dengan lamanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم terus-menerus mengerjakannya.

وَبِحَسَبِ صِحَّةِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيهَا وَاشْتِهَارِهَا.
Dan sesuai dengan kuatnya hadis-hadis yang datang tentangnya serta kemasyhurannya.

وَلِذٰلِكَ يُقَالُ: سُنَنُ الْجَمَاعَاتِ أَفْضَلُ مِنْ سُنَنِ الِانْفِرَادِ.
Karena itu dikatakan: salat-salat sunah berjamaah lebih utama daripada salat-salat sunah yang dilakukan sendirian.

وَأَفْضَلُ سُنَنِ الْجَمَاعَاتِ صَلَاةُ الْعِيدِ، ثُمَّ الْكُسُوفُ، ثُمَّ الِاسْتِسْقَاءُ.
Salat sunah berjamaah yang paling utama ialah salat Id, kemudian salat gerhana, lalu salat istisqa’.

وَأَفْضَلُ سُنَنِ الِانْفِرَادِ الْوِتْرُ، ثُمَّ رَكْعَتَا الْفَجْرِ، ثُمَّ مَا بَعْدَهُمَا مِنَ الرَّوَاتِبِ عَلَى تَفَاوُتِهَا.
Dan salat sunah sendirian yang paling utama ialah witir, kemudian dua rakaat Fajar, lalu rawatib setelah keduanya sesuai tingkatan-tingkatannya.

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّوَافِلَ بِاعْتِبَارِ الْإِضَافَةِ إِلَى مُتَعَلَّقَاتِهَا تَنْقَسِمُ إِلَى مَا يَتَعَلَّقُ بِأَسْبَابٍ كَالْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ، وَإِلَى مَا يَتَعَلَّقُ بِأَوْقَاتٍ.
Ketahuilah bahwa nawafil, jika dilihat dari keterkaitannya, terbagi menjadi dua: yang terkait dengan sebab, seperti gerhana dan istisqa’, dan yang terkait dengan waktu.

وَالْمُتَعَلِّقُ بِالْأَوْقَاتِ يَنْقَسِمُ إِلَى مَا يَتَكَرَّرُ بِتَكَرُّرِ الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ، أَوْ بِتَكَرُّرِ الْأُسْبُوعِ، أَوْ بِتَكَرُّرِ السَّنَةِ.
Yang terkait dengan waktu terbagi lagi menjadi yang berulang dengan berulangnya siang dan malam, atau berulangnya minggu, atau berulangnya tahun.

فَالْجُمْلَةُ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ.
Maka secara keseluruhan pembagiannya menjadi empat bagian.

اَلْقِسْمُ الْأَوَّلُ: مَا يَتَكَرَّرُ بِتَكَرُّرِ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي.
Bagian pertama: salat-salat yang berulang setiap hari dan malam.

وَهِيَ ثَمَانِيَةٌ.
Jumlahnya ada delapan.

خَمْسَةٌ هِيَ رَوَاتِبُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ.
Lima di antaranya adalah rawatib yang mengiringi lima salat fardu.

وَثَلَاثَةٌ وَرَاءَهَا، وَهِيَ صَلَاةُ الضُّحَى، وَإِحْيَاءُ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ، وَالتَّهَجُّدُ.
Dan tiga selainnya, yaitu salat Duha, menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya, serta tahajud.

اَلْأُولَى: رَاتِبَةُ الصُّبْحِ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ.
Yang pertama: ratibah Subuh, yaitu dua rakaat.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dua rakaat Fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

وَيَدْخُلُ وَقْتُهَا بِطُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ، وَهُوَ الْمُسْتَطِيرُ دُونَ الْمُسْتَطِيلِ.
Waktunya masuk dengan terbitnya fajar shadiq, yaitu yang menyebar secara horizontal, bukan yang memanjang secara vertikal.

وَإِدْرَاكُ ذٰلِكَ بِالْمُشَاهَدَةِ عَسِيرٌ فِي أَوَّلِهِ، إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ مَنَازِلَ الْقَمَرِ، أَوْ يَعْلَمَ اقْتِرَانَ طُلُوعِهِ بِالْكَوَاكِبِ الظَّاهِرَةِ لِلْبَصَرِ، فَيَسْتَدِلَّ بِالْكَوَاكِبِ عَلَيْهِ، وَيَعْرِفَ بِالْقَمَرِ فِي لَيْلَتَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ.
Mengetahui itu secara pengamatan langsung sulit pada awalnya, kecuali bila seseorang mempelajari منزلة bulan atau mengetahui hubungannya dengan bintang-bintang yang tampak, lalu menjadikannya petunjuk, dan mengenalnya melalui bulan pada dua malam tertentu dalam sebulan.

فَإِنَّ الْقَمَرَ يَطْلُعُ مَعَ الْفَجْرِ فِي لَيْلَةِ سِتٍّ وَعِشْرِينَ، وَيَطْلُعُ الصُّبْحُ مَعَ غُرُوبِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ اثْنَيْ عَشَرَ مِنَ الشَّهْرِ.
Karena bulan terbit bersamaan dengan fajar pada malam kedua puluh enam, dan Subuh muncul bersamaan dengan terbenamnya bulan pada malam kedua belas bulan itu.

هٰذَا هُوَ الْغَالِبُ، وَيَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ تَفَاوُتٌ فِي بَعْضِ الْبُرُوجِ، وَشَرْحُ ذٰلِكَ يَطُولُ.
Ini adalah yang umumnya terjadi, meskipun ada perbedaan pada sebagian rasi, dan penjelasannya akan panjang.

وَتَعَلُّمُ مَنَازِلِ الْقَمَرِ مِنَ الْمُهِمَّاتِ لِلْمُرِيدِ، حَتَّى يَطَّلِعَ بِهِ عَلَى مَقَادِيرِ الْأَوْقَاتِ بِاللَّيْلِ وَعَلَى الصُّبْحِ.
Mempelajari منزل bulan termasuk hal penting bagi orang yang menempuh jalan akhirat, agar dengan itu ia mengetahui ukuran waktu-waktu di malam hari dan waktu Subuh.

وَيَفُوتُ وَقْتُ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ بِفَوَاتِ وَقْتِ فَرِيضَةِ الصُّبْحِ، وَهُوَ طُلُوعُ الشَّمْسِ.
Waktu dua rakaat Fajar habis ketika waktu salat Subuh habis, yaitu dengan terbitnya matahari.

وَلٰكِنِ السُّنَّةُ أَدَاؤُهُمَا قَبْلَ الْفَرْضِ.
Akan tetapi yang sesuai sunah adalah melaksanakannya sebelum salat fardu.

فَإِنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ فَلْيَشْتَغِلْ بِالْمَكْتُوبَةِ.
Jika seseorang masuk masjid dan salat telah ditegakkan, maka hendaknya ia sibuk dengan salat fardu.

فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ.
Karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila salat telah diiqamahkan, maka tidak ada salat selain salat wajib.”

ثُمَّ إِذَا فَرَغَ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ قَامَ إِلَيْهِمَا وَصَلَّاهُمَا.
Kemudian apabila ia telah selesai dari salat fardu, ia berdiri dan mengerjakan dua rakaat itu.

وَالصَّحِيحُ أَنَّهُمَا أَدَاءٌ مَا وَقَعَتَا قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ.
Pendapat yang sahih adalah bahwa keduanya masih dihitung أداء selama dikerjakan sebelum terbit matahari.

لِأَنَّهُمَا تَابِعَتَانِ لِلْفَرْضِ فِي وَقْتِهِ.
Karena keduanya mengikuti salat fardu dalam waktunya.

وَإِنَّمَا التَّرْتِيبُ بَيْنَهُمَا سُنَّةٌ فِي التَّقْدِيمِ وَالتَّأْخِيرِ إِذَا لَمْ يُصَادِفْ جَمَاعَةً.
Hanya saja urutan antara keduanya merupakan sunah dalam mendahulukan dan mengakhirkan jika ia tidak mendapati jamaah.

فَإِذَا صَادَفَ جَمَاعَةً انْقَلَبَ التَّرْتِيبُ، وَبَقِيَتَا أَدَاءً.
Jika ia mendapati jamaah, maka urutannya berubah, namun keduanya tetap dihitung أداء.

وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يُصَلِّيَهُمَا فِي الْمَنْزِلِ وَيُخَفِّفَهُمَا.
Yang disunahkan adalah mengerjakannya di rumah dan meringankannya.

ثُمَّ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ وَيُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ ثُمَّ يَجْلِسَ.
Kemudian ia masuk masjid dan salat dua rakaat tahiyyatul masjid lalu duduk.

وَلَا يُصَلِّيَ إِلَى أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ.
Dan ia tidak salat lagi sampai melaksanakan salat fardu.

وَفِيمَا بَيْنَ الصُّبْحِ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ الْأَحَبُّ فِيهِ الذِّكْرُ وَالْفِكْرُ، وَالِاقْتِصَارُ عَلَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ وَالْفَرِيضَةِ.
Pada waktu antara salat Subuh sampai terbit matahari, yang lebih disukai ialah berzikir dan berpikir, serta mencukupkan diri pada dua rakaat Fajar dan salat fardu.

اَلثَّانِيَةُ: رَاتِبَةُ الظُّهْرِ، وَهِيَ سِتُّ رَكَعَاتٍ.
Yang kedua: ratibah Zuhur, yaitu enam rakaat.

رَكْعَتَانِ بَعْدَهَا، وَهِيَ أَيْضًا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ.
Dua rakaat setelah Zuhur, dan keduanya juga sunah muakkadah.

وَأَرْبَعٌ قَبْلَهَا، وَهِيَ أَيْضًا سُنَّةٌ، وَإِنْ كَانَتْ دُونَ الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ.
Dan empat rakaat sebelumnya, yang juga sunah, meskipun tingkat penekanannya di bawah dua rakaat sesudahnya.

رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بَعْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ يُحْسِنُ قِرَاءَتَهُنَّ وَرُكُوعَهُنَّ وَسُجُودَهُنَّ، صَلَّى مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ حَتَّى اللَّيْلِ.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda: “Barang siapa salat empat rakaat setelah matahari tergelincir, dengan membaguskan bacaan, rukuk, dan sujudnya, maka tujuh puluh ribu malaikat akan salat bersamanya dan memohonkan ampun baginya sampai malam.”

وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا بَعْدَ الزَّوَالِ، يُطِيلُهُنَّ.
Nabi صلى الله عليه وسلم tidak pernah meninggalkan empat rakaat setelah zawal, dan beliau memanjangkannya.

وَيَقُولُ: إِنَّ أَبْوَابَ السَّمَاءِ تُفْتَحُ فِي هٰذِهِ السَّاعَةِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ لِي فِيهَا عَمَلٌ.
Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka pada saat ini, maka aku suka amal diangkat untukku pada waktu itu.”

رَوَاهُ أَبُو أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيُّ، وَتَفَرَّدَ بِهِ.
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ayyub al-Anshari, dan ia menyendiri dalam meriwayatkannya.

وَدَلَّ عَلَيْهِ أَيْضًا مَا رَوَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ زَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَلَّى فِي كُلِّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً غَيْرَ الْمَكْتُوبَةِ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ.
Yang menguatkan hal ini juga adalah riwayat Ummu Habibah, istri Nabi صلى الله عليه وسلم, bahwa beliau bersabda: “Barang siapa salat dua belas rakaat setiap hari selain yang wajib, akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga.”

رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ، وَأَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْعَصْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ.
Yaitu dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat sebelum Asar, dan dua rakaat setelah Magrib.

وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ يَوْمٍ عَشْرَ رَكَعَاتٍ.
Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: “Aku menghafal dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم sepuluh rakaat setiap hari.”

فَذَكَرَ مَا ذَكَرَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، إِلَّا رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ.
Lalu ia menyebutkan apa yang disebutkan oleh Ummu Habibah رضي الله عنها, kecuali dua rakaat Fajar.

فَإِنَّهُ قَالَ: تِلْكَ سَاعَةٌ لَمْ يَكُنْ يَدْخُلُ فِيهَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلٰكِنْ حَدَّثَتْنِي أُخْتِي حَفْصَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهَا ثُمَّ يَخْرُجُ.
Sebab ia berkata: “Itu adalah waktu aku tidak masuk menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم, tetapi saudariku Hafshah رضي الله عنها menceritakan kepadaku bahwa beliau biasa salat dua rakaat di rumahnya, lalu keluar.”

وَقَالَ فِي حَدِيثِهِ: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ.
Dan dalam hadisnya ia menyebutkan: “dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelah Isya.”

فَصَارَتِ الرَّكْعَتَانِ قَبْلَ الظُّهْرِ آكَدَ مِنْ جُمْلَةِ الْأَرْبَعِ.
Maka dua rakaat sebelum Zuhur menjadi lebih ditekankan di antara empat rakaat itu.

وَيَدْخُلُ وَقْتُ ذٰلِكَ بِالزَّوَالِ.
Waktu untuk itu masuk dengan zawal.

وَالزَّوَالُ يُعْرَفُ بِزِيَادَةِ ظِلِّ الْأَشْخَاصِ الْمُنْتَصِبَةِ الْمَائِلَةِ إِلَى جِهَةِ الشَّرْقِ.
Zawal diketahui dengan mulai bertambahnya bayangan benda-benda tegak yang condong ke arah timur.

إِذْ يَقَعُ لِلشَّخْصِ ظِلٌّ عِنْدَ الطُّلُوعِ فِي جَانِبِ الْمَغْرِبِ يَسْتَطِيلُ.
Sebab suatu benda pada waktu matahari terbit memiliki bayangan di sebelah barat yang panjang.

فَلَا تَزَالُ الشَّمْسُ تَرْتَفِعُ وَالظِّلُّ يَنْقُصُ وَيَنْحَرِفُ عَنْ جِهَةِ الْمَغْرِبِ.
Matahari terus naik dan bayangan pun semakin berkurang serta bergeser dari arah barat.

إِلَى أَنْ تَبْلُغَ الشَّمْسُ مُنْتَهَى ارْتِفَاعِهَا، وَهُوَ قَوْسُ نِصْفِ النَّهَارِ.
Sampai matahari mencapai puncak ketinggiannya, yaitu busur pertengahan siang.

فَيَكُونُ ذٰلِكَ مُنْتَهَى نُقْصَانِ الظِّلِّ.
Pada saat itu bayangan mencapai titik paling sedikit.

فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ مُنْتَهَى الِارْتِفَاعِ أَخَذَ الظِّلُّ فِي الزِّيَادَةِ.
Ketika matahari bergeser dari puncak ketinggian itu, bayangan mulai bertambah.

فَمِنْ حَيْثُ صَارَتِ الزِّيَادَةُ مُدْرَكَةً بِالْحِسِّ دَخَلَ وَقْتُ الظُّهْرِ.
Begitu pertambahan itu dapat dirasakan dengan pancaindra, masuklah waktu Zuhur.

وَيُعْلَمُ قَطْعًا أَنَّ الزَّوَالَ فِي عِلْمِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَقَعَ قَبْلَهُ.
Dan diketahui dengan pasti bahwa zawal dalam ilmu Allah سبحانه telah terjadi sedikit sebelumnya.

وَلٰكِنَّ التَّكَالِيفَ لَا تَرْتَبِطُ إِلَّا بِمَا يَدْخُلُ تَحْتَ الْحِسِّ.
Namun ketentuan hukum hanya terkait dengan apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra.

وَالْقَدْرُ الْبَاقِي مِنَ الظِّلِّ الَّذِي مِنْهُ يَأْخُذُ فِي الزِّيَادَةِ يَطُولُ فِي الشِّتَاءِ وَيَقْصُرُ فِي الصَّيْفِ.
Sisa bayangan yang darinya pertambahan mulai terjadi itu panjang pada musim dingin dan pendek pada musim panas.

وَمُنْتَهَى طُولِهِ بُلُوغُ الشَّمْسِ أَوَّلَ الْجَدْيِ.
Puncak panjangnya terjadi ketika matahari mencapai awal Capricorn.

وَمُنْتَهَى قِصَرِهِ بُلُوغُهَا أَوَّلَ السَّرَطَانِ.
Dan puncak pendeknya ketika matahari mencapai awal Cancer.

وَيُعْرَفُ ذٰلِكَ بِالْأَقْدَامِ وَالْمَوَازِينِ.
Hal itu diketahui melalui ukuran-ukuran dan perhitungan.

وَمِنَ الطُّرُقِ الْقَرِيبَةِ مِنَ التَّحْقِيقِ لِمَنْ أَحْسَنَ مُرَاعَاتَهُ أَنْ يُلَاحِظَ الْقُطْبَ الشَّمَالِيَّ بِاللَّيْلِ.
Di antara cara yang mendekati ketepatan bagi orang yang pandai mengamatinya adalah memperhatikan kutub utara pada malam hari.

وَيَضَعَ عَلَى الْأَرْضِ لَوْحًا مُرَبَّعًا وَضْعًا مُسْتَوِيًا، بِحَيْثُ يَكُونُ أَحَدُ أَضْلَاعِهِ مِنْ جَانِبِ الْقُطْبِ.
Lalu ia meletakkan papan persegi di tanah secara rata, sehingga salah satu sisinya menghadap ke arah kutub.

بِحَيْثُ لَوْ تُوُهِّمَ سُقُوطُ حَجَرٍ مِنَ الْقُطْبِ إِلَى الْأَرْضِ، ثُمَّ تُوُهِّمَ خَطٌّ مِنْ مَسْقَطِ الْحَجَرِ إِلَى الضِّلْعِ الَّذِي يَلِيهِ مِنَ اللَّوْحِ، لَقَامَ الْخَطُّ عَلَى الضِّلْعِ عَلَى زَاوِيَتَيْنِ قَائِمَتَيْنِ.
Sedemikian rupa sehingga jika dibayangkan sebuah batu jatuh dari arah kutub ke tanah, lalu dibayangkan sebuah garis dari titik jatuh batu itu ke sisi papan yang berdekatan, maka garis itu akan tegak lurus pada sisi tersebut.

أَيْ لَا يَكُونُ الْخَطُّ مَائِلًا إِلَى أَحَدِ الضِّلْعَيْنِ.
Artinya, garis itu tidak miring kepada salah satu dari dua sisi.

ثُمَّ تَنْصِبُ عَمُودًا عَلَى اللَّوْحِ نَصْبًا مُسْتَوِيًا فِي مَوْضِعِ عَلَامَةٍ، وَهُوَ بِإِزَاءِ الْقُطْبِ.
Lalu ditegakkan sebuah tongkat di atas papan itu secara lurus pada titik tertentu, yang sejajar dengan kutub.

فَيَقَعُ ظِلُّهُ عَلَى اللَّوْحِ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ مَائِلًا إِلَى جِهَةِ الْمَغْرِبِ.
Maka bayangannya akan jatuh di atas papan pada awal siang dengan condong ke arah barat.

فِي صَوْبِ خَطٍّ أ ثُمَّ لَا يَزَالُ يَمِيلُ عَلَى أَنْ يَنْطَبِقَ عَلَى خَطٍّ ب.
Bayangan itu menuju ke arah garis A, lalu terus bergerak sampai sejajar dengan garis B.

بِحَيْثُ لَوْ مُدَّ رَأْسُهُ لَانْتَهَى عَلَى الِاسْتِقَامَةِ إِلَى مَسْقَطِ الْحَجَرِ.
Sehingga jika ujung bayangan itu dipanjangkan, ia akan sampai lurus ke titik jatuh batu tadi.

وَيَكُونُ مُوَازِيًا لِلضِّلْعِ الشَّرْقِيِّ وَالْغَرْبِيِّ غَيْرَ مَائِلٍ إِلَى أَحَدِهِمَا.
Dan pada saat itu bayangan sejajar dengan sisi timur dan barat, tanpa condong kepada salah satu darinya.

فَإِذَا بَطَلَ مَيْلُهُ إِلَى الْجَانِبِ الْغَرْبِيِّ فَالشَّمْسُ فِي مُنْتَهَى الِارْتِفَاعِ.
Jika kemiringannya ke arah barat telah hilang, maka matahari berada pada puncak ketinggian.

فَإِذَا انْحَرَفَ الظِّلُّ عَنِ الْخَطِّ الَّذِي عَلَى اللَّوْحِ إِلَى جَانِبِ الشَّرْقِ فَقَدْ زَالَتِ الشَّمْسُ.
Dan jika bayangan mulai berpaling dari garis di papan menuju ke arah timur, maka matahari telah zawal.

وَهٰذَا يُدْرَكُ بِالْحِسِّ تَحْقِيقًا فِي وَقْتٍ هُوَ قَرِيبٌ مِنْ أَوَّلِ الزَّوَالِ فِي عِلْمِ اللهِ تَعَالَى.
Hal ini dapat diketahui dengan pengamatan indrawi secara tepat, pada waktu yang sangat dekat dengan awal zawal dalam ilmu Allah Ta‘ala.

ثُمَّ يُعْلَمُ عَلَى رَأْسِ الظِّلِّ عِنْدَ انْحِرَافِهِ عَلَامَةٌ.
Kemudian dibuat tanda pada ujung bayangan saat ia mulai berpaling.

فَإِذَا صَارَ الظِّلُّ مِنْ تِلْكَ الْعَلَامَةِ مِثْلَ الْعَمُودِ دَخَلَ وَقْتُ الْعَصْرِ.
Jika bayangan dari tanda itu telah sama dengan tinggi tongkat, maka masuklah waktu Asar.

فَهٰذَا الْقَدْرُ لَا بَأْسَ بِمَعْرِفَتِهِ فِي عِلْمِ الزَّوَالِ.
Kadar pengetahuan ini tidak mengapa dipelajari dalam ilmu tentang zawal.

وَهٰذِهِ صُورَتُهُ.
Inilah gambarannya.

اَلثَّالِثَةُ: رَاتِبَةُ الْعَصْرِ، وَهِيَ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْعَصْرِ.
Yang ketiga: ratibah Asar, yaitu empat rakaat sebelum Asar.

رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: رَحِمَ اللهُ عَبْدًا صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang salat empat rakaat sebelum Asar.”

فَفِعْلُ ذٰلِكَ عَلَى رَجَاءِ الدُّخُولِ فِي دَعْوَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَحَبٌّ اسْتِحْبَابًا مُؤَكَّدًا.
Melakukan hal itu dengan harapan termasuk ke dalam doa Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah sunah yang sangat dianjurkan.

فَإِنَّ دَعْوَتَهُ تُسْتَجَابُ لَا مَحَالَةَ لَهُ.
Karena doa beliau pasti dikabulkan baginya.

وَلَمْ تَكُنْ مُوَاظَبَتُهُ عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ الْعَصْرِ كَمُوَاظَبَتِهِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ.
Akan tetapi, ketekunan beliau pada sunah sebelum Asar tidak seperti ketekunan beliau pada dua rakaat sebelum Zuhur.

اَلرَّابِعَةُ: رَاتِبَةُ الْمَغْرِبِ، وَهُمَا رَكْعَتَانِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ.
Yang keempat: ratibah Magrib, yaitu dua rakaat setelah salat fardu.

لَمْ تَخْتَلِفِ الرِّوَايَةُ فِيهِمَا.
Riwayat tentang keduanya tidak berbeda.

وَأَمَّا رَكْعَتَانِ قَبْلَهُمَا بَيْنَ أَذَانِ الْمُؤَذِّنِ وَإِقَامَتِهِ عَلَى سَبِيلِ الْمُبَادَرَةِ فَقَدْ نُقِلَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، كَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَعُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَأَبِي ذَرٍّ وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَغَيْرِهِمْ.
Adapun dua rakaat sebelum Magrib, antara azan dan iqamah, sebagai bentuk segera mengambil kesempatan, maka hal itu diriwayatkan dari sejumlah sahabat, seperti Ubay bin Ka‘b, ‘Ubadah bin ash-Shamit, Abu Dzarr, Zaid bin Tsabit, dan yang lainnya.

قَالَ عُبَادَةُ أَوْ غَيْرُهُ: كَانَ الْمُؤَذِّنُ إِذَا أَذَّنَ لِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ ابْتَدَرَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّوَارِيَ يُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ.
‘Ubadah atau selainnya berkata: “Apabila muazin telah berazan untuk salat Magrib, para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera menuju tiang-tiang masjid untuk salat dua rakaat.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: كُنَّا نُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ حَتَّى يَدْخُلَ الدَّاخِلُ فَيَحْسَبُ أَنَّا صَلَّيْنَا، فَيَسْأَلُ: أَصَلَّيْتُمُ الْمَغْرِبَ؟
Sebagian mereka berkata: “Kami biasa salat dua rakaat sebelum Magrib sampai-sampai orang yang baru masuk mengira bahwa kami telah salat Magrib, lalu ia bertanya: ‘Apakah kalian sudah salat Magrib?’”

وَذٰلِكَ يَدْخُلُ فِي عُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ لِمَنْ شَاءَ.
Hal itu masuk ke dalam keumuman sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Di antara setiap dua azan ada salat, bagi siapa yang mau.”

وَكَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يُصَلِّيهِمَا، فَعَابَهُ النَّاسُ فَتَرَكَهُمَا.
Ahmad bin Hanbal dahulu mengerjakan dua rakaat itu, lalu orang-orang mencelanya, maka ia meninggalkannya.

فَقِيلَ لَهُ فِي ذٰلِكَ، فَقَالَ: لَمْ أَرَ النَّاسَ يُصَلُّونَهُمَا فَتَرَكْتُهُمَا.
Lalu ia ditanya tentang hal itu, maka ia menjawab: “Aku tidak melihat orang-orang mengerjakannya, maka aku meninggalkannya.”

وَقَالَ: لَئِنْ صَلَّاهُمَا الرَّجُلُ فِي بَيْتِهِ أَوْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ النَّاسُ فَحَسَنٌ.
Dan ia berkata: “Namun jika seseorang mengerjakannya di rumahnya atau di tempat yang tidak dilihat orang, maka itu baik.”

وَيَدْخُلُ وَقْتُ الْمَغْرِبِ بِغَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ عَنِ الْأَبْصَارِ فِي الْأَرَاضِي الْمُسْتَوِيَةِ الَّتِي لَيْسَتْ مَحْفُوفَةً بِالْجِبَالِ.
Waktu Magrib masuk dengan tenggelamnya matahari dari pandangan di tanah yang rata dan tidak dikelilingi pegunungan.

فَإِنْ كَانَتْ مَحْفُوفَةً بِهَا فِي جِهَةِ الْمَغْرِبِ، فَيَتَوَقَّفُ إِلَى أَنْ يُرَى إِقْبَالُ السَّوَادِ مِنْ جَانِبِ الْمَشْرِقِ.
Jika di arah barat terdapat pegunungan yang menghalangi, maka ia menunggu sampai terlihat datangnya kegelapan dari arah timur.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هٰهُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هٰهُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila malam datang dari arah sini dan siang pergi dari arah sana, maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka.”

وَالْأَحَبُّ الْمُبَادَرَةُ فِي صَلَاةِ الْمَغْرِبِ خَاصَّةً.
Yang lebih disukai adalah bersegera dalam salat Magrib secara khusus.

وَإِنْ أُخِّرَتْ وَصُلِّيَتْ قَبْلَ غَيْبُوبَةِ الشَّفَقِ الْأَحْمَرِ وَقَعَتْ أَدَاءً وَلٰكِنَّهُ مَكْرُوهٌ.
Jika diakhirkan dan dikerjakan sebelum hilangnya mega merah, maka ia tetap أداء, tetapi hal itu makruh.

وَأَخَّرَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ لَيْلَةً حَتَّى طَلَعَ نَجْمٌ، فَأَعْتَقَ رَقَبَةً.
Umar رضي الله عنه pernah menunda salat Magrib pada suatu malam sampai muncul satu bintang, lalu ia memerdekakan seorang budak.

وَأَخَّرَهَا ابْنُ عُمَرَ حَتَّى طَلَعَ كَوْكَبَانِ، فَأَعْتَقَ رَقَبَتَيْنِ.
Dan Ibnu Umar pernah menundanya sampai terbit dua bintang, lalu ia memerdekakan dua budak.

اَلْخَامِسَةُ: رَاتِبَةُ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ، وَهِيَ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ.
Yang kelima: ratibah salat Isya, yaitu empat rakaat setelah salat fardu.

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يَنَامُ.
Aisyah رضي الله عنها berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa salat empat rakaat setelah Isya, lalu tidur.”

وَاخْتَارَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنْ مَجْمُوعِ الْأَخْبَارِ أَنْ يَكُونَ عَدَدُ الرَّوَاتِبِ سَبْعَ عَشْرَةَ، كَعَدَدِ الْمَكْتُوبَةِ.
Sebagian ulama memilih dari gabungan berbagai hadis bahwa jumlah rawatib adalah tujuh belas rakaat, sama seperti jumlah rakaat salat wajib.

رَكْعَتَانِ قَبْلَ الصُّبْحِ، وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا، وَأَرْبَعٌ قَبْلَ الْعَصْرِ، وَرَكْعَتَانِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَثَلَاثٌ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ، وَهِيَ الْوِتْرُ.
Yaitu dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudahnya, empat rakaat sebelum Asar, dua rakaat setelah Magrib, dan tiga rakaat setelah Isya, yaitu witir.

وَمَهْمَا عَرَفْتَ الْأَحَادِيثَ الْوَارِدَةَ فِيهِ فَلَا مَعْنَى لِلتَّقْدِيرِ.
Bagaimanapun juga, jika engkau mengetahui hadis-hadis yang datang tentangnya, maka tidak ada makna membatasi secara kaku.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مَوْضُوعٌ، فَمَنْ شَاءَ أَكْثَرَ وَمَنْ شَاءَ أَقَلَّ.
Karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Salat adalah amal terbaik yang diletakkan bagi hamba; maka siapa yang mau silakan memperbanyak dan siapa yang mau silakan mengurangi.”

فَإِذًا اخْتِيَارُ كُلِّ مُرِيدٍ مِنْ هٰذِهِ الصَّلَاةِ بِقَدْرِ رَغْبَتِهِ فِي الْخَيْرِ.
Maka pilihan setiap orang dalam jumlah salat ini bergantung pada kadar keinginannya terhadap kebaikan.

فَقَدْ ظَهَرَ فِيمَا ذَكَرْنَاهُ أَنَّ بَعْضَهَا آكَدُ مِنْ بَعْضٍ.
Telah jelas dari apa yang kami sebutkan bahwa sebagian darinya lebih ditekankan daripada sebagian yang lain.

وَتَرْكُ الْآكَدِ أَبْعَدُ، لَا سِيَّمَا وَالْفَرَائِضُ تُكَمَّلُ بِالنَّوَافِلِ.
Meninggalkan yang paling ditekankan itu lebih tidak layak, apalagi karena salat-salat fardu disempurnakan oleh nawafil.

فَمَنْ لَمْ يَسْتَكْثِرْ مِنْهَا يُوشِكُ أَنْ لَا تَسْلَمَ لَهُ فَرِيضَةٌ مِنْ غَيْرِ جَابِرٍ.
Barang siapa tidak memperbanyak nawafil, hampir saja tidak ada salat fardu baginya yang selamat tanpa penambal.

اَلسَّادِسَةُ: الْوِتْرُ.
Yang keenam: witir.

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بَعْدَ الْعِشَاءِ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِي الْأُولَى: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَفِي الثَّانِيَةِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ.
Anas bin Malik berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa berwitir setelah Isya dengan tiga rakaat. Pada rakaat pertama beliau membaca: ‘Sabbihisma rabbikal-a‘lā’, pada rakaat kedua: ‘Qul yā ayyuhal-kāfirūn’, dan pada rakaat ketiga: ‘Qul huwallāhu aḥad.’”

وَجَاءَ فِي الْخَبَرِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ جَالِسًا، وَفِي بَعْضِهَا مُتَرَبِّعًا.
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم biasa salat dua rakaat setelah witir dalam keadaan duduk, dan dalam sebagian riwayat dengan duduk bersila.

وَفِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ: إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ فِرَاشَهُ زَحَفَ إِلَيْهِ وَصَلَّى فَوْقَهُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ، يَقْرَأُ فِيهِمَا: إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ وَسُورَةَ التَّكَاثُرِ.
Dalam sebagian riwayat lain disebutkan bahwa jika beliau hendak masuk ke tempat tidurnya, beliau merayap mendekatinya lalu salat dua rakaat di atasnya sebelum tidur, dan membaca dalam keduanya “Iżā zulzilatil-arḍ” dan surah at-Takātsur.

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Qul yā ayyuhal-kāfirūn.”

وَيَجُوزُ الْوِتْرُ مَفْصُولًا وَمَوْصُولًا بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ وَتَسْلِيمَتَيْنِ.
Witir boleh dilakukan terpisah dan juga bersambung, baik dengan satu salam maupun dua salam.

وَقَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَكْعَةٍ.
Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah berwitir dengan satu rakaat.

وَثَلَاثٍ.
Dan dengan tiga rakaat.

وَخَمْسٍ.
Dan dengan lima rakaat.

وَهٰكَذَا بِالْأَوْتَارِ إِلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً.
Demikian pula dengan bilangan ganjil hingga sebelas rakaat.

وَالرِّوَايَةُ مُتَرَدِّدَةٌ فِي ثَلَاثَ عَشْرَةَ.
Riwayat tentang tiga belas rakaat juga ada, meskipun berbeda-beda.

وَفِي حَدِيثٍ شَاذٍّ سَبْعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.
Dan dalam hadis yang syadz disebutkan tujuh belas rakaat.

وَكَانَتْ هٰذِهِ الرَّكَعَاتُ، أَعْنِي مَا سَمَّيْنَا جُمْلَتَهُ وِتْرًا، صَلَاةً بِاللَّيْلِ، وَهُوَ التَّهَجُّدُ.
Rakaat-rakaat ini, yaitu yang secara keseluruhan kami sebut witir, termasuk salat malam, yaitu tahajud.

وَالتَّهَجُّدُ بِاللَّيْلِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَسَيَأْتِي ذِكْرُ فَضَائِلِهِ فِي كِتَابِ الْأَوْرَادِ.
Tahajud di malam hari adalah sunah muakkadah, dan keutamaannya akan disebutkan dalam Kitab al-Awrad.

وَفِي الْأَفْضَلِ خِلَافٌ.
Dan dalam hal mana yang lebih utama ada perbedaan pendapat.

فَقِيلَ: إِنَّ الْإِيتَارَ بِرَكْعَةٍ فَرْدَةٍ أَفْضَلُ، إِذْ صَحَّ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوَاظِبُ عَلَى الْإِيتَارِ بِرَكْعَةٍ فَرْدَةٍ.
Ada yang mengatakan bahwa berwitir dengan satu rakaat tunggal lebih utama, karena sahih bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم biasa terus-menerus berwitir dengan satu rakaat tunggal.

وَقِيلَ: الْمَوْصُولَةُ أَفْضَلُ، لِلْخُرُوجِ عَنْ شُبْهَةِ الْخِلَافِ، لَا سِيَّمَا الْإِمَامَ، إِذْ قَدْ يَقْتَدِي بِهِ مَنْ لَا يَرَى الرَّكْعَةَ الْفَرْدَةَ صَلَاةً.
Dan ada yang mengatakan bahwa witir yang bersambung lebih utama, agar keluar dari syubhat khilaf, terutama bagi imam, karena bisa jadi ada orang yang bermakmum kepadanya yang tidak memandang satu rakaat tunggal sebagai salat.

فَإِنْ صَلَّى مَوْصُولًا نَوَى بِالْجَمِيعِ الْوِتْرَ.
Jika ia mengerjakannya bersambung, maka ia berniat witir untuk keseluruhannya.

وَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى رَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ بَعْدَ رَكْعَتَيِ الْعِشَاءِ أَوْ بَعْدَ فَرْضِ الْعِشَاءِ نَوَى الْوِتْرَ وَصَحَّ.
Jika ia mencukupkan diri dengan satu rakaat saja setelah dua rakaat sunah Isya atau setelah fardu Isya, lalu berniat witir, maka itu sah.

لِأَنَّ شَرْطَ الْوِتْرِ أَنْ يَكُونَ فِي نَفْسِهِ وِتْرًا، وَأَنْ يَكُونَ مُوتِرًا لِغَيْرِهِ مِمَّا سَبَقَ قَبْلَهُ.
Karena syarat witir adalah bahwa ia sendiri merupakan bilangan ganjil dan mengganjilkan apa yang sebelumnya.

وَقَدْ أَوْتَرَ الْفَرْضُ.
Dan salat fardu sebelumnya telah menjadikan hitungan itu menjadi ganjil.

وَلَوْ أَوْتَرَ قَبْلَ الْعِشَاءِ لَمْ يَصِحَّ.
Seandainya ia berwitir sebelum Isya, maka tidak sah.

أَيْ لَا يَنَالُ فَضِيلَةَ الْوِتْرِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ كَمَا وَرَدَ بِهِ الْخَبَرُ.
Artinya, ia tidak memperoleh keutamaan witir yang disebut dalam hadis lebih baik baginya daripada unta merah.

وَإِلَّا فَرَكْعَةٌ فَرْدَةٌ صَحِيحَةٌ فِي أَيِّ وَقْتٍ كَانَ.
Kalau selain itu, maka satu rakaat tunggal pada dirinya sendiri tetap sah kapan saja waktunya.

وَإِنَّمَا لَمْ يَصِحَّ قَبْلَ الْعِشَاءِ لِأَنَّهُ خَرَقَ إِجْمَاعَ الْخَلْقِ فِي الْفِعْلِ، وَلِأَنَّهُ لَمْ يَتَقَدَّمْ مَا يَصِيرُ بِهِ وِتْرًا.
Hanya saja ia tidak sah sebagai witir sebelum Isya karena menyelisihi ijmak manusia dalam praktik itu, dan karena sebelumnya belum ada salat yang menjadikannya witir.

فَأَمَّا إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ مَفْصُولَةٍ، فَفِي نِيَّتِهِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ نَظَرٌ.
Adapun jika ia ingin berwitir dengan tiga rakaat terpisah, maka ada pembahasan tentang niat pada dua rakaat pertama.

فَإِنَّهُ إِنْ نَوَى بِهِمَا التَّهَجُّدَ أَوْ سُنَّةَ الْعِشَاءِ لَمْ يَكُنْ هُوَ مِنَ الْوِتْرِ.
Jika ia meniatkan pada dua rakaat itu tahajud atau sunah Isya, maka keduanya tidak termasuk witir.

وَإِنْ نَوَى الْوِتْرَ لَمْ يَكُنْ هُوَ فِي نَفْسِهِ وِتْرًا، وَإِنَّمَا الْوِتْرُ مَا بَعْدَهُ.
Jika ia meniatkan witir padanya, maka keduanya sendiri bukan bilangan ganjil, dan yang menjadi witir sebenarnya adalah rakaat setelahnya.

وَلٰكِنَّ الْأَظْهَرَ أَنْ يَنْوِيَ الْوِتْرَ، كَمَا يَنْوِي فِي الثَّلَاثِ الْمَوْصُولَةِ الْوِتْرَ.
Namun yang lebih jelas adalah ia tetap meniatkan witir, sebagaimana ia meniatkan witir dalam tiga rakaat yang bersambung.

وَلٰكِنَّ لِلْوِتْرِ مَعْنَيَيْنِ.
Sebab witir memiliki dua makna.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِي نَفْسِهِ وِتْرًا.
Yang pertama: ia sendiri berjumlah ganjil.

وَالْآخَرُ: أَنْ يُنْشَأَ لِيَجْعَلَ وِتْرًا بِمَا بَعْدَهُ، فَيَكُونَ مَجْمُوعُ الثَّلَاثَةِ وِتْرًا.
Yang kedua: ia dikerjakan untuk dijadikan witir dengan apa yang datang setelahnya, sehingga مجموع tiga rakaat itu menjadi witir.

وَالرَّكْعَتَانِ مِنْ جُمْلَةِ الثَّلَاثِ، إِلَّا أَنَّ وِتْرِيَّتَهُمَا مَوْقُوفَةٌ عَلَى الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ.
Dua rakaat itu termasuk dalam مجموع tiga rakaat, hanya saja ke-witir-annya bergantung pada rakaat ketiga.

وَإِذَا كَانَ هُوَ عَلَى عَزْمٍ أَنْ يُوتِرَهُمَا بِثَالِثَةٍ كَانَ لَهُ أَنْ يَنْوِيَ بِهِمَا الْوِتْرَ.
Jika ia memang telah bertekad menjadikannya witir dengan satu rakaat ketiga, maka boleh baginya meniatkan witir pada dua rakaat itu.

وَالرَّكْعَةُ الثَّالِثَةُ وِتْرٌ بِنَفْسِهَا وَمُوتِرَةٌ لِغَيْرِهَا.
Rakaat ketiga adalah witir dengan sendirinya dan sekaligus mengganjilkan yang sebelumnya.

وَالرَّكْعَتَانِ لَا يُوتِرَانِ غَيْرَهُمَا، وَلَيْسَتَا وِتْرًا بِأَنْفُسِهِمَا، وَلٰكِنَّهُمَا مُوتِرَتَانِ بِغَيْرِهِمَا.
Sedangkan dua rakaat itu tidak mengganjilkan selainnya dan bukan witir pada dirinya sendiri, tetapi menjadi bagian yang di-witir-kan oleh yang lain.

وَالْوِتْرُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ آخِرَ صَلَاةِ اللَّيْلِ، فَيَقَعَ بَعْدَ التَّهَجُّدِ.
Witir sebaiknya menjadi salat terakhir di malam hari, maka hendaknya dilakukan setelah tahajud.

وَسَيَأْتِي فَضَائِلُ الْوِتْرِ وَالتَّهَجُّدِ وَكَيْفِيَّةُ التَّرْتِيبِ بَيْنَهُمَا فِي كِتَابِ تَرْتِيبِ الْأَوْرَادِ.
Keutamaan witir dan tahajud serta cara mengatur urutan keduanya akan datang dalam Kitab Tartīb al-Awrād.

اَلسَّابِعَةُ: صَلَاةُ الضُّحَى.
Yang ketujuh: salat Duha.

فَالْمُوَاظَبَةُ عَلَيْهَا مِنْ عَزَائِمِ الْأَفْعَالِ وَفَوَاضِلِهَا.
Terus-menerus menjaganya termasuk amalan yang kuat dianjurkan dan utama.

أَمَّا عَدَدُ رَكَعَاتِهَا، فَأَكْثَرُ مَا نُقِلَ فِيهِ ثَمَانِي رَكَعَاتٍ.
Adapun jumlah rakaatnya, yang paling banyak diriwayatkan ialah delapan rakaat.

رَوَتْ أُمُّ هَانِئٍ أُخْتُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الضُّحَى ثَمَانِي رَكَعَاتٍ، أَطَالَهُنَّ وَأَحْسَنَهُنَّ.
Ummu Hani’, saudara perempuan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهما, meriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم salat Duha delapan rakaat, dan beliau memanjangkan serta membaguskannya.

وَلَمْ يُنْقَلْ هٰذَا الْقَدْرُ غَيْرُهَا.
Jumlah sebesar ini tidak dinukil dari selainnya.

فَأَمَّا عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فَإِنَّهَا ذَكَرَتْ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللهُ سُبْحَانَهُ.
Adapun Aisyah رضي الله عنها, ia menyebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم biasa salat Duha empat rakaat dan menambah sesuai yang Allah سبحانه kehendaki.

فَلَمْ تُحَدِّدِ الزِّيَادَةَ، إِلَّا أَنَّهُ كَانَ يُوَاظِبُ عَلَى الْأَرْبَعِ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْهَا، وَقَدْ يَزِيدُ زِيَادَاتٍ.
Ia tidak menentukan jumlah tambahannya, tetapi menunjukkan bahwa beliau terus-menerus menjaga empat rakaat dan tidak menguranginya, meskipun kadang beliau menambah lebih dari itu.

وَرُوِيَ فِي حَدِيثٍ مُفْرَدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الضُّحَى سِتَّ رَكَعَاتٍ.
Dan dalam satu hadis tersendiri diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم biasa salat Duha enam rakaat.

وَأَمَّا وَقْتُهَا فَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الضُّحَى سِتًّا فِي وَقْتَيْنِ.
Adapun waktunya, diriwayatkan dari Ali رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم biasa salat Duha enam rakaat pada dua waktu.

إِذَا أَشْرَقَتِ الشَّمْسُ وَارْتَفَعَتْ قَامَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ.
Apabila matahari telah terbit dan naik, beliau berdiri dan salat dua rakaat.

وَهُوَ أَوَّلُ الْوِرْدِ الثَّانِي مِنْ أَوْرَادِ النَّهَارِ كَمَا سَيَأْتِي.
Itulah awal wirid kedua dari wirid-wirid siang sebagaimana akan dijelaskan nanti.

وَإِذَا انْبَسَطَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ فِي رُبُعِ السَّمَاءِ مِنْ جَانِبِ الشَّرْقِ صَلَّى أَرْبَعًا.
Dan apabila matahari telah menyebar sinarnya dan berada di seperempat langit dari arah timur, beliau salat empat rakaat.

فَالْأَوَّلُ إِنَّمَا يَكُونُ إِذَا ارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ قِيدَ نِصْفِ رُمْحٍ.
Waktu pertama itu adalah ketika matahari telah naik kira-kira setengah tombak.

وَالثَّانِي إِذَا مَضَى مِنَ النَّهَارِ رُبُعُهُ، بِإِزَاءِ صَلَاةِ الْعَصْرِ.
Dan waktu kedua ialah apabila telah berlalu seperempat siang, sejajar dengan posisi waktu Asar di penghujung hari.

فَإِنَّ وَقْتَهُ أَنْ يَبْقَى مِنَ النَّهَارِ رُبُعُهُ، وَالظُّهْرُ عَلَى مُنْتَصَفِ النَّهَارِ، وَيَكُونُ الضُّحَى عَلَى مُنْتَصَفِ مَا بَيْنَ طُلُوعِ الشَّمْسِ إِلَى الزَّوَالِ، كَمَا أَنَّ الْعَصْرَ عَلَى مُنْتَصَفِ مَا بَيْنَ الزَّوَالِ إِلَى الْغُرُوبِ.
Karena waktu Asar adalah saat tersisa seperempat siang, Zuhur berada di pertengahan siang, dan waktu Duha berada di pertengahan antara terbit matahari hingga zawal, sebagaimana Asar berada di pertengahan antara zawal hingga tenggelam.

وَهٰذَا أَفْضَلُ الْأَوْقَاتِ.
Inilah waktu yang paling utama.

وَمِنْ وَقْتِ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ إِلَى مَا قَبْلَ الزَّوَالِ وَقْتٌ لِلضُّحَى عَلَى الْجُمْلَةِ.
Secara umum, sejak matahari naik sampai sebelum zawal adalah waktu Duha.

اَلثَّامِنَةُ: إِحْيَاءُ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ.
Yang kedelapan: menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya.

وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ.
Ini adalah sunah yang sangat ditekankan.

وَمِمَّا نُقِلَ عَنْ فِعْلِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ سِتُّ رَكَعَاتٍ.
Di antara yang dinukil dari perbuatan Rasulullah صلى الله عليه وسلم antara Magrib dan Isya adalah salat enam rakaat.

وَلِهٰذِهِ الصَّلَاةِ فَضْلٌ عَظِيمٌ.
Salat ini memiliki keutamaan yang besar.

وَقِيلَ: إِنَّهَا الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ.
Dan dikatakan bahwa salat inilah yang dimaksud dalam firman Allah عز وجل: “Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur.”

وَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فَإِنَّهَا مِنْ صَلَاةِ الْأَوَّابِينَ.
Dan diriwayatkan dari beliau صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda: “Barang siapa salat antara Magrib dan Isya, maka itu termasuk salat orang-orang yang kembali kepada Allah.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَكَفَ نَفْسَهُ فِيمَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ، لَمْ يَتَكَلَّمْ إِلَّا بِصَلَاةٍ أَوْ بِقُرْآنٍ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَبْنِيَ لَهُ قَصْرَيْنِ فِي الْجَنَّةِ، مَسِيرَةُ كُلِّ قَصْرٍ مِنْهُمَا مِائَةُ عَامٍ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa menahan dirinya antara Magrib dan Isya di masjid berjamaah, tidak berbicara kecuali dengan salat atau membaca Al-Qur’an, maka wajib atas Allah membangunkan baginya dua istana di surga, jarak setiap istana adalah perjalanan seratus tahun.”

وَيَغْرِسَ لَهُ بَيْنَهُمَا غِرَاسًا، لَوْ طَافَ أَهْلُ الْأَرْضِ لَوَسِعَهُمْ.
“Dan menanam baginya di antara keduanya tanaman-tanaman yang, seandainya seluruh penduduk bumi mengelilinginya, niscaya mencukupi mereka.”

وَسَيَأْتِي بَقِيَّةُ فَضَائِلِهَا فِي كِتَابِ الْأَوْرَادِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Sisa keutamaannya akan disebutkan nanti dalam Kitab al-Awrad, insya Allah Ta‘ala.