Berbagai Masalah Yang Sering Terjadi Dan Dibutuhkan Pengetahuannya Oleh Orang Yang Menempuh Jalan Akhirat

اَلْبَابُ السَّادِسُ فِي مَسَائِلَ مُتَفَرِّقَةٍ تَعُمُّ بِهَا الْبَلْوَى وَيَحْتَاجُ الْمُرِيدُ إِلَى مَعْرِفَتِهَا.

Bab keenam tentang berbagai masalah yang sering terjadi dan dibutuhkan pengetahuannya oleh orang yang menempuh jalan akhirat.

فَأَمَّا الْمَسَائِلُ الَّتِي تَقَعُ نَادِرَةً فَقَدِ اسْتَقْصَيْنَاهَا فِي كُتُبِ الْفِقْهِ.
Adapun masalah-masalah yang jarang terjadi, maka kami telah menjelaskannya secara rinci dalam kitab-kitab fikih.

مَسْأَلَةٌ: الْفِعْلُ الْقَلِيلُ وَإِنْ كَانَ لَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ فَهُوَ مَكْرُوهٌ إِلَّا لِحَاجَةٍ.
Masalah: gerakan yang sedikit, meskipun tidak membatalkan salat, tetaplah makruh kecuali karena kebutuhan.

وَذٰلِكَ فِي دَفْعِ الْمَارِّ، وَقَتْلِ الْعَقْرَبِ الَّتِي تُخَافُ، وَيُمْكِنُ قَتْلُهَا بِضَرْبَةٍ أَوْ ضَرْبَتَيْنِ.
Hal itu misalnya untuk menolak orang yang lewat di depan orang salat, atau membunuh kalajengking yang ditakuti dan dapat dibunuh dengan satu atau dua pukulan.

فَإِذَا صَارَتْ ثَلَاثًا فَقَدْ كَثُرَتْ، وَبَطَلَتِ الصَّلَاةُ.
Jika sampai tiga pukulan, maka itu telah menjadi banyak dan salat batal karenanya.

وَكَذٰلِكَ الْقَمْلَةُ وَالْبُرْغُوثُ، مَهْمَا تَأَذَّى بِهِمَا كَانَ لَهُ دَفْعُهُمَا.
Demikian pula kutu dan pinjal. Jika seseorang terganggu oleh keduanya, maka ia boleh menolaknya.

وَكَذٰلِكَ حَاجَتُهُ إِلَى الْحَكِّ الَّذِي يُشَوِّشُ عَلَيْهِ الْخُشُوعَ.
Begitu pula kebutuhan untuk menggaruk sesuatu yang mengganggu kekhusyukannya.

كَانَ مُعَاذٌ يَأْخُذُ الْقَمْلَةَ وَالْبُرْغُوثَ فِي الصَّلَاةِ.
Mu‘adz dahulu mengambil kutu dan pinjal ketika sedang salat.

وَابْنُ عُمَرَ كَانَ يَقْتُلُ الْقَمْلَةَ فِي الصَّلَاةِ حَتَّى يَظْهَرَ الدَّمُ عَلَى يَدِهِ.
Ibnu Umar biasa membunuh kutu dalam salat sampai darah tampak di tangannya.

وَقَالَ النَّخَعِيُّ: يَأْخُذُهَا وَيُوهِنُهَا، وَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ إِنْ قَتَلَهَا.
An-Nakha‘i berkata: “Ia boleh mengambilnya dan melemahkannya, dan tidak mengapa jika ia membunuhnya.”

وَقَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ: يَأْخُذُهَا وَيُخَدِّرُهَا ثُمَّ يَطْرَحُهَا.
Ibnu al-Musayyib berkata: “Ia mengambilnya, melemahkannya, lalu membuangnya.”

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: الْأَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ يَدَعَهَا، إِلَّا أَنْ تُؤْذِيَهُ فَتَشْغَلَهُ عَنْ صَلَاتِهِ، فَيُوهِنُهَا قَدْرَ مَا لَا تُؤْذِيهِ، ثُمَّ يُلْقِيهَا.
Mujahid berkata: “Yang lebih aku sukai ialah ia membiarkannya, kecuali jika ia mengganggunya dan menyibukkannya dari salat, maka ia cukup melemahkannya sampai tidak mengganggu lagi, lalu membuangnya.”

وَهٰذِهِ رُخْصَةٌ، وَإِلَّا فَالْكَمَالُ الِاحْتِرَازُ عَنِ الْفِعْلِ وَإِنْ قَلَّ.
Ini adalah rukhsah. Jika tidak, maka kesempurnaan salat adalah menghindari gerakan, walaupun sedikit.

وَلِذٰلِكَ كَانَ بَعْضُهُمْ لَا يَطْرُدُ الذُّبَابَ.
Karena itu sebagian mereka tidak mengusir lalat ketika salat.

وَقَالَ: لَا أُعَوِّدُ نَفْسِي ذٰلِكَ فَأُفْسِدُ عَلَيَّ صَلَاتِي.
Ia berkata: “Aku tidak membiasakan diriku seperti itu sehingga merusak salatku.”

وَقَدْ سَمِعْتُ أَنَّ الْفُسَّاقَ بَيْنَ يَدَيِ الْمُلُوكِ يَصْبِرُونَ عَلَى أَذًى كَثِيرٍ وَلَا يَتَحَرَّكُونَ.
Aku telah mendengar bahwa orang-orang fasik ketika berada di hadapan para raja dapat bersabar menahan banyak gangguan dan tidak bergerak.

وَمَهْمَا تَثَاءَبَ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فِيهِ، وَهُوَ الْأَوْلَى.
Jika seseorang menguap, maka tidak mengapa ia meletakkan tangannya di atas mulutnya, dan itulah yang lebih utama.

وَإِنْ عَطَسَ حَمِدَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي نَفْسِهِ، وَلَا يُحَرِّكْ لِسَانَهُ.
Jika ia bersin, maka ia memuji Allah عز وجل dalam hatinya dan tidak menggerakkan lisannya.

وَإِنْ تَجَشَّأَ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَرْفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ.
Jika ia bersendawa, maka hendaknya ia tidak mengangkat kepalanya ke arah langit.

وَإِنْ سَقَطَ رِدَاؤُهُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسَوِّيَهُ، وَكَذٰلِكَ أَطْرَافُ عِمَامَتِهِ.
Jika selendangnya jatuh, maka sebaiknya ia tidak membetulkannya. Demikian pula ujung-ujung sorbannya.

فَكُلُّ ذٰلِكَ مَكْرُوهٌ إِلَّا لِضَرُورَةٍ.
Semua itu makruh kecuali karena darurat.

مَسْأَلَةٌ: الصَّلَاةُ فِي النَّعْلَيْنِ جَائِزَةٌ، وَإِنْ كَانَ نَزْعُ النَّعْلَيْنِ سَهْلًا.
Masalah: salat memakai dua sandal itu boleh, walaupun melepas keduanya mudah.

وَلَيْسَتِ الرُّخْصَةُ فِي الْخُفِّ لِعُسْرِ النَّزْعِ، بَلْ هٰذِهِ النَّجَاسَةُ مَعْفُوٌّ عَنْهَا.
Rukhsah pada khuf bukan karena sulit dilepas, tetapi karena najis yang sedikit pada keduanya dimaafkan.

وَفِي مَعْنَاهُ الْمِدَاسُ.
Dan yang semakna dengannya adalah sandal atau alas kaki.

صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَعْلَيْهِ، ثُمَّ نَزَعَ، فَنَزَعَ النَّاسُ نِعَالَهُمْ.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم salat dengan memakai kedua sandalnya, kemudian beliau melepaskannya, maka orang-orang pun melepaskan sandal mereka.

فَقَالَ: لِمَ خَلَعْتُمْ نِعَالَكُمْ؟
Lalu beliau bertanya: “Mengapa kalian melepaskan sandal kalian?”

قَالُوا: رَأَيْنَاكَ خَلَعْتَ فَخَلَعْنَا.
Mereka menjawab: “Kami melihat engkau melepaskannya, maka kami pun melepaskannya.”

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ بِهِمَا خَبَثًا.
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Jibril عليه السلام datang kepadaku lalu memberitahuku bahwa pada keduanya ada kotoran najis.”

فَإِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقْلِبْ نَعْلَيْهِ وَلْيَنْظُرْ فِيهِمَا، فَإِنْ رَأَى خَبَثًا فَلْيَمْسَحْهُ بِالْأَرْضِ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا.
“Maka apabila salah seorang dari kalian hendak pergi ke masjid, hendaklah ia membalik kedua sandalnya dan melihatnya. Jika ia melihat najis padanya, maka hendaklah ia menggosokkannya ke tanah lalu salat dengan keduanya.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: الصَّلَاةُ فِي النَّعْلَيْنِ أَفْضَلُ، لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لِمَ خَلَعْتُمْ نِعَالَكُمْ؟
Sebagian ulama berkata: salat memakai sandal lebih utama, karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Mengapa kalian melepaskan sandal kalian?”

وَهٰذِهِ مُبَالَغَةٌ.
Ini adalah sikap yang berlebihan.

فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا سَأَلَهُمْ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ سَبَبَ خَلْعِهِ، إِذْ عَلِمَ أَنَّهُمْ خَلَعُوا عَلَى مُوَافَقَتِهِ.
Karena Nabi صلى الله عليه وسلم hanya bertanya untuk menjelaskan sebab beliau melepaskan sandalnya, sebab beliau tahu bahwa mereka melepaskannya hanya karena mengikuti beliau.

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ السَّائِبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ نَعْلَيْهِ.
Dan diriwayatkan dari Abdullah bin as-Sa’ib bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah melepaskan kedua sandalnya.

فَإِذًا قَدْ فَعَلَ كِلَيْهِمَا.
Maka jelaslah bahwa beliau melakukan kedua-duanya: salat dengan sandal dan tanpa sandal.

فَمَنْ خَلَعَ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَضَعَهُمَا عَنْ يَمِينِهِ وَلَا يَسَارِهِ فَيُضَيِّقَ الْمَوْضِعَ وَيَقْطَعَ الصَّفَّ، بَلْ يَضَعُهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ.
Barang siapa melepas sandalnya, maka sebaiknya ia tidak meletakkannya di kanan atau kirinya sehingga menyempitkan tempat dan memutus saf, tetapi ia meletakkannya di depannya.

وَلَا يَتْرُكْهُمَا وَرَاءَهُ، فَيَكُونُ قَلْبُهُ مُلْتَفِتًا إِلَيْهِمَا.
Dan jangan pula meninggalkannya di belakang, sehingga hatinya menjadi menoleh kepadanya.

وَلَعَلَّ مَنْ رَأَى الصَّلَاةَ فِيهِمَا أَفْضَلَ رَاعَى هٰذَا الْمَعْنَى، وَهُوَ الْتِفَاتُ الْقَلْبِ إِلَيْهِمَا.
Mungkin orang yang berpendapat salat dengan sandal lebih utama memperhatikan makna ini, yaitu agar hati tidak menoleh kepada sandal yang ditinggalkan.

رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ نَعْلَيْهِ بَيْنَ رِجْلَيْهِ.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian salat, hendaklah ia meletakkan kedua sandalnya di antara kedua kakinya.”

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لِغَيْرِهِ: اجْعَلْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْكَ وَلَا تُؤْذِ بِهِمَا مُسْلِمًا.
Dan Abu Hurairah berkata kepada orang lain: “Letakkan keduanya di antara kedua kakimu dan jangan ganggu seorang Muslim dengan keduanya.”

وَوَضَعَهُمَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى يَسَارِهِ، وَكَانَ إِمَامًا.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah meletakkannya di sebelah kirinya, ketika beliau menjadi imam.

فَلِلْإِمَامِ أَنْ يَفْعَلَ ذٰلِكَ، إِذْ لَا يَقِفُ أَحَدٌ عَلَى يَسَارِهِ.
Maka bagi imam boleh melakukan itu, karena tidak ada seorang pun yang berdiri di sebelah kirinya.

وَالْأَوْلَى أَنْ لَا يَضَعَهُمَا بَيْنَ قَدَمَيْهِ فَتَشْغَلَاهُ، وَلٰكِنْ قُدَّامَ قَدَمَيْهِ، وَلَعَلَّهُ الْمُرَادُ بِالْحَدِيثِ.
Yang lebih baik ialah tidak meletakkannya tepat di antara kedua kakinya sehingga menyibukkannya, tetapi di depan kedua kakinya, dan mungkin itulah yang dimaksud oleh hadis.

وَقَالَ جُبَيْرُ بْنُ مُطْعِمٍ: وَضْعُ الرَّجُلِ نَعْلَيْهِ بَيْنَ قَدَمَيْهِ بِدْعَةٌ.
Jubair bin Muth‘im berkata: meletakkan sandal di antara kedua kaki adalah bid‘ah.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا بَزَقَ فِي صَلَاتِهِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ، لِأَنَّهُ فِعْلٌ قَلِيلٌ.
Masalah: jika seseorang meludah dalam salatnya, maka salatnya tidak batal, karena itu termasuk perbuatan sedikit.

وَمَا لَا يَحْصُلُ بِهِ صَوْتٌ لَا يُعَدُّ كَلَامًا.
Dan sesuatu yang tidak menghasilkan bunyi tidak dihitung sebagai pembicaraan.

وَلَيْسَ عَلَى شَكْلِ حُرُوفِ الْكَلَامِ.
Dan ia juga tidak berbentuk huruf-huruf ucapan.

إِلَّا أَنَّهُ مَكْرُوهٌ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُحْتَرَزَ مِنْهُ.
Akan tetapi hal itu makruh, maka sebaiknya dihindari.

إِلَّا كَمَا أَذِنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ.
Kecuali dalam batas yang diizinkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

إِذْ رَوَى بَعْضُ الصَّحَابَةِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى فِي الْقِبْلَةِ نُخَامَةً، فَغَضِبَ غَضَبًا شَدِيدًا.
Sebab sebagian sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau sangat marah.

ثُمَّ حَكَّهَا بِعُرْجُونٍ كَانَ فِي يَدِهِ.
Kemudian beliau mengeriknya dengan tangkai kurma yang ada di tangannya.

وَقَالَ: ائْتُونِي بِعَبِيرٍ.
Lalu beliau bersabda: “Bawakan aku wewangian.”

فَلَطَّخَ أَثَرَهَا بِزَعْفَرَانٍ.
Kemudian beliau menutup bekasnya dengan za‘faran.

ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيْنَا وَقَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَبْزُقَ فِي وَجْهِهِ؟
Lalu beliau menoleh kepada kami dan berkata: “Siapa di antara kalian yang suka jika diludahi di wajahnya?”

فَقُلْنَا: لَا أَحَدَ.
Kami menjawab: “Tidak seorang pun.”

قَالَ: فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian masuk ke dalam salat, maka Allah عز وجل berada antara dia dan kiblat.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: وَاجَهَهُ اللهُ تَعَالَى.
Dalam lafaz lain: “Allah Ta‘ala menghadapkan diri-Nya kepadanya.”

فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ تُلْقَاءَ وَجْهِهِ، وَلَا عَنْ يَمِينِهِ.
“Maka janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meludah ke arah wajahnya dan jangan pula ke sebelah kanannya.”

وَلٰكِنْ عَنْ شِمَالِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ الْيُسْرَى.
“Tetapi hendaklah ke sebelah kirinya atau di bawah kaki kirinya.”

فَإِنْ بَدَرَتْهُ بَادِرَةٌ فَلْيَبْصُقْ فِي ثَوْبِهِ، وَلْيَقُلْ بِهِ هٰكَذَا، وَدَلَكَ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ.
Jika sesuatu mendesaknya, maka hendaknya ia meludah pada pakaiannya, lalu melipat dan menggosok sebagian pakaian itu dengan sebagian yang lain.

مَسْأَلَةٌ: لِوُقُوفِ الْمُقْتَدِي سُنَّةٌ وَفَرْضٌ.
Masalah: tentang posisi berdiri makmum, ada bagian yang sunah dan ada bagian yang wajib.

أَمَّا السُّنَّةُ فَأَنْ يَقِفَ الْوَاحِدُ عَنْ يَمِينِ الْإِمَامِ مُتَأَخِّرًا عَنْهُ قَلِيلًا.
Adapun yang sunah adalah seorang makmum tunggal berdiri di sebelah kanan imam, sedikit agak ke belakang darinya.

وَالْمَرْأَةُ الْوَاحِدَةُ تَقِفُ خَلْفَ الْإِمَامِ.
Sedangkan seorang perempuan yang sendirian berdiri di belakang imam.

فَإِنْ وَقَفَتْ بِجَنْبِ الْإِمَامِ لَمْ يَضُرَّ ذٰلِكَ، وَلٰكِنْ خَالَفَتِ السُّنَّةَ.
Jika ia berdiri di samping imam, hal itu tidak membatalkan, tetapi ia telah menyelisihi sunah.

فَإِنْ كَانَ مَعَهَا رَجُلٌ وَقَفَ الرَّجُلُ عَنْ يَمِينِ الْإِمَامِ، وَهِيَ خَلْفَ الرَّجُلِ.
Jika bersamanya ada seorang laki-laki, maka laki-laki itu berdiri di sebelah kanan imam, sedangkan perempuan berada di belakang laki-laki tersebut.

وَلَا يَقِفْ أَحَدٌ خَلْفَ الصَّفِّ مُنْفَرِدًا.
Dan tidak seharusnya seseorang berdiri sendirian di belakang saf.

بَلْ يَدْخُلُ فِي الصَّفِّ أَوْ يَجُرُّ إِلَى نَفْسِهِ وَاحِدًا مِنَ الصَّفِّ.
Tetapi ia masuk ke dalam saf atau menarik satu orang dari saf untuk menemaninya.

فَإِنْ وَقَفَ مُنْفَرِدًا صَحَّتْ صَلَاتُهُ مَعَ الْكَرَاهَةِ.
Jika ia berdiri sendirian, salatnya tetap sah tetapi makruh.

وَأَمَّا الْفَرْضُ فَاتِّصَالُ الصَّفِّ.
Adapun yang wajib ialah bersambungnya saf.

وَهُوَ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الْمُقْتَدِي وَالْإِمَامِ رَابِطَةٌ جَامِعَةٌ، فَإِنَّهُمَا فِي جَمَاعَةٍ.
Yaitu hendaknya antara makmum dan imam ada penghubung yang menyatukan, karena mereka berada dalam satu jamaah.

فَإِنْ كَانَا فِي مَسْجِدٍ كَفَى ذٰلِكَ جَامِعًا.
Jika keduanya berada dalam satu masjid, maka itu sudah cukup sebagai penghubung.

لِأَنَّهُ بُنِيَ لَهُ، فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى اتِّصَالِ صَفٍّ، بَلْ إِلَى أَنْ يَعْرِفَ أَفْعَالَ الْإِمَامِ.
Karena masjid memang dibangun untuk berjamaah, maka tidak disyaratkan bersambungnya saf, tetapi cukup mengetahui gerakan imam.

صَلَّى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى ظَهْرِ الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ.
Abu Hurairah رضي الله عنه pernah salat di atas atap masjid dengan mengikuti imam.

وَإِذَا كَانَ الْمَأْمُومُ عَلَى فِنَاءِ الْمَسْجِدِ فِي طَرِيقٍ أَوْ صَحْرَاءَ مُشْتَرَكَةٍ، وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا اخْتِلَافُ بِنَاءٍ مُفَرِّقٍ، فَيَكْفِي الْقُرْبُ بِقَدْرِ غَلْوَةِ سَهْمٍ.
Jika makmum berada di halaman masjid, di jalan, atau tanah lapang yang tersambung, dan antara keduanya tidak ada perbedaan bangunan yang memisahkan, maka cukup dekatnya dengan jarak kira-kira satu lemparan anak panah.

وَكَفَى بِهَا رَابِطَةً، إِذْ يَصِلُ فِعْلُ أَحَدِهِمَا إِلَى الْآخَرِ.
Jarak itu sudah cukup sebagai penghubung, karena gerakan salah satu dari keduanya masih dapat diketahui oleh yang lain.

وَإِنَّمَا يُشْتَرَطُ إِذَا وَقَفَ فِي صَحْنِ دَارٍ عَلَى يَمِينِ الْمَسْجِدِ أَوْ يَسَارِهِ، وَبَابُهَا لَاطِئٌ فِي الْمَسْجِدِ، أَنَّ الشَّرْطَ أَنْ يَمُدَّ صَفُّ الْمَسْجِدِ فِي دَهْلِيزِهَا مِنْ غَيْرِ انْقِطَاعٍ إِلَى الصَّحْنِ.
Adapun jika ia berdiri di halaman rumah yang berada di kanan atau kiri masjid, dan pintu rumah itu menempel pada masjid, maka disyaratkan saf masjid tersambung ke serambi rumah itu tanpa putus sampai ke halaman.

ثُمَّ تَصِحُّ صَلَاةُ مَنْ فِي ذٰلِكَ الصَّفِّ وَمَنْ خَلْفَهُ دُونَ مَنْ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ.
Setelah itu, sah salat orang-orang yang berada pada saf itu dan yang berada di belakangnya, tetapi tidak sah bagi orang yang lebih maju darinya.

وَهٰكَذَا حُكْمُ الْأَبْنِيَةِ الْمُخْتَلِفَةِ.
Demikian pula hukum pada bangunan-bangunan yang berbeda.

فَأَمَّا الْبِنَاءُ الْوَاحِدُ وَالْعَرْصَةُ الْوَاحِدَةُ فَكَالصَّحْرَاءِ.
Adapun bangunan yang satu dan halaman yang satu, maka hukumnya seperti tanah lapang yang tersambung.

مَسْأَلَةٌ: الْمَسْبُوقُ إِذَا أَدْرَكَ آخِرَ صَلَاةِ الْإِمَامِ فَهُوَ أَوَّلُ صَلَاتِهِ.
Masalah: makmum masbuk, apabila ia mendapatkan akhir salat imam, maka bagian yang ia dapatkan itu adalah awal salatnya.

فَلْيُوَافِقِ الْإِمَامَ وَلْيَبْنِ عَلَيْهِ.
Maka hendaknya ia mengikuti imam dan membangun sisa salatnya di atasnya.

وَلْيَقْنُتْ فِي الصُّبْحِ فِي آخِرِ صَلَاةِ نَفْسِهِ.
Dan dalam salat Subuh hendaknya ia membaca qunut pada bagian akhir salatnya sendiri.

وَإِنْ قَنَتَ مَعَ الْإِمَامِ.
Meskipun ia telah ikut qunut bersama imam.

وَإِنْ أَدْرَكَ مَعَ الْإِمَامِ بَعْضَ الْقِيَامِ فَلَا يَشْتَغِلْ بِالدُّعَاءِ، وَلْيَبْدَأْ بِالْفَاتِحَةِ، وَلْيُخَفِّفْهَا.
Jika ia mendapatkan sebagian berdiri bersama imam, maka jangan ia sibuk dengan doa, tetapi hendaknya memulai dengan al-Fatihah dan meringankannya.

فَإِنْ رَكَعَ الْإِمَامُ قَبْلَ تَمَامِهَا وَقَدَرَ عَلَى لُحُوقِهِ فِي اعْتِدَالِهِ مِنَ الرُّكُوعِ فَلْيُتِمَّ.
Jika imam rukuk sebelum ia menyelesaikan al-Fatihah, dan ia merasa mampu menyusul imam saat i‘tidal dari rukuk, maka hendaknya ia menyempurnakan al-Fatihahnya.

فَإِنْ عَجَزَ وَافَقَ الْإِمَامَ وَرَكَعَ، وَكَانَ لِبَعْضِ الْفَاتِحَةِ حُكْمُ جَمِيعِهَا، فَتَسْقُطُ عَنْهُ بِالسَّبْقِ.
Jika ia tidak mampu, maka ia mengikuti imam dan rukuk, dan sebagian al-Fatihah yang telah dibacanya dihukumi seperti keseluruhannya, sehingga sisanya gugur karena terhalang oleh سبق الإمام.

وَإِنْ رَكَعَ الْإِمَامُ وَهُوَ فِي السُّورَةِ فَلْيَقْطَعْهَا.
Jika imam rukuk sementara ia sedang membaca surah, maka hendaknya ia memotongnya.

وَإِنْ أَدْرَكَ الْإِمَامَ فِي السُّجُودِ أَوِ التَّشَهُّدِ كَبَّرَ لِلْإِحْرَامِ، ثُمَّ جَلَسَ، وَلَمْ يُكَبِّرْ.
Jika ia mendapati imam sedang sujud atau tasyahud, maka ia bertakbir untuk ihram, lalu duduk, dan tidak perlu bertakbir lagi.

بِخِلَافِ مَا إِذَا أَدْرَكَهُ فِي الرُّكُوعِ، فَإِنَّهُ يُكَبِّرُ ثَانِيًا فِي الْهُوِيِّ، لِأَنَّ ذٰلِكَ انْتِقَالٌ مَحْسُوبٌ لَهُ.
Berbeda jika ia mendapati imam dalam rukuk. Dalam keadaan ini ia bertakbir مرة ثانية ketika turun, karena perpindahan itu dihitung baginya.

وَالتَّكْبِيرَاتُ لِلِانْتِقَالَاتِ الْأَصْلِيَّةِ فِي الصَّلَاةِ، لَا لِلْعَوَارِضِ بِسَبَبِ الْقُدْوَةِ.
Takbir-takbir itu untuk perpindahan yang asli dalam salat, bukan untuk keadaan-keadaan darurat yang muncul karena mengikuti imam.

وَلَا يَكُونُ مُدْرِكًا لِلرَّكْعَةِ مَا لَمْ يَطْمَئِنَّ رَاكِعًا فِي الرُّكُوعِ، وَالْإِمَامُ بَعْدُ فِي حَدِّ الرَّاكِعِينَ.
Seseorang tidak dianggap mendapatkan satu rakaat sampai ia thuma’ninah dalam rukuk, sementara imam masih dalam batas posisi orang yang rukuk.

فَإِنْ لَمْ يُتِمَّ طُمَأْنِينَتَهُ إِلَّا بَعْدَ مُجَاوَزَةِ الْإِمَامِ حَدَّ الرَّاكِعِينَ فَاتَتْهُ تِلْكَ الرَّكْعَةُ.
Jika ia tidak sempat menyempurnakan thuma’ninahnya kecuali setelah imam melewati batas rukuk, maka rakaat itu terluput darinya.

مَسْأَلَةٌ: مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةُ الظُّهْرِ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ فَلْيُصَلِّ الظُّهْرَ أَوَّلًا ثُمَّ الْعَصْرَ.
Masalah: barang siapa tertinggal salat Zuhur hingga masuk waktu Asar, maka hendaknya ia salat Zuhur terlebih dahulu, lalu Asar.

فَإِنِ ابْتَدَأَ بِالْعَصْرِ أَجْزَأَهُ، وَلٰكِنْ تَرَكَ الْأَوْلَى وَاقْتَحَمَ شُبْهَةَ الْخِلَافِ.
Jika ia memulai dengan Asar, hal itu tetap sah, tetapi ia telah meninggalkan yang lebih utama dan masuk ke wilayah khilaf.

فَإِنْ وَجَدَ إِمَامًا فَلْيُصَلِّ الْعَصْرَ ثُمَّ لِيُصَلِّ الظُّهْرَ بَعْدَهُ، فَإِنَّ الْجَمَاعَةَ بِالْأَدَاءِ أَوْلَى.
Jika ia mendapati imam sedang salat Asar, hendaknya ia salat Asar terlebih dahulu bersama imam, lalu salat Zuhur setelahnya, karena berjamaah pada salat yang sedang ditunaikan lebih utama.

فَإِنْ صَلَّى مُنْفَرِدًا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ ثُمَّ أَدْرَكَ جَمَاعَةً صَلَّى فِي الْجَمَاعَةِ وَنَوَى صَلَاةَ الْوَقْتِ، وَاللهُ يَحْتَسِبُ أَيَّهُمَا شَاءَ.
Jika ia telah salat sendirian pada awal waktu, lalu kemudian mendapati jamaah, ia boleh salat lagi bersama jamaah dengan niat salat waktu itu, dan Allah menghitung salah satunya sesuai yang Dia kehendaki.

فَإِنْ نَوَى فَائِتَةً أَوْ تَطَوُّعًا جَازَ.
Jika ia berniat qadha atau salat sunah, juga boleh.

وَإِنْ كَانَ قَدْ صَلَّى فِي الْجَمَاعَةِ فَأَدْرَكَ جَمَاعَةً أُخْرَى فَلْيَنْوِ الْفَائِتَةَ أَوِ النَّافِلَةَ، فَإِعَادَةُ الْمُؤَدَّاةِ بِالْجَمَاعَةِ مَرَّةً أُخْرَى لَا وَجْهَ لَهُ.
Jika ia sudah salat berjamaah, lalu mendapati jamaah lain, hendaknya ia meniatkan qadha atau salat sunah, karena mengulang lagi salat yang sudah dikerjakan berjamaah tidak ada alasannya.

وَإِنَّمَا احْتُمِلَ ذٰلِكَ لِدَرْكِ فَضِيلَةِ الْجَمَاعَةِ.
Yang dibolehkan hanyalah demi mendapatkan keutamaan berjamaah.

مَسْأَلَةٌ: مَنْ صَلَّى ثُمَّ رَأَى عَلَى ثَوْبِهِ نَجَاسَةً فَالْأَحَبُّ قَضَاءُ الصَّلَاةِ، وَلَا يَلْزَمُهُ.
Masalah: barang siapa telah salat lalu melihat najis pada pakaiannya, maka yang lebih disukai adalah mengqadha salat itu, tetapi hal itu tidak wajib atasnya.

وَلَوْ رَأَى النَّجَاسَةَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ رَمَى بِالثَّوْبِ وَأَتَمَّ، وَالْأَحَبُّ الِاسْتِئْنَافُ.
Jika ia melihat najis itu di tengah salat, maka ia boleh melepaskan pakaian itu dan menyempurnakan salatnya, meskipun yang lebih disukai adalah memulai lagi dari awal.

وَأَصْلُ هٰذَا قِصَّةُ خَلْعِ النَّعْلَيْنِ حِينَ أَخْبَرَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ عَلَيْهِمَا نَجَاسَةً، فَإِنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَأْنِفِ الصَّلَاةَ.
Dasar masalah ini adalah kisah Rasulullah صلى الله عليه وسلم melepaskan kedua sandalnya ketika Jibril عليه السلام memberitahukan bahwa pada keduanya ada najis, dan beliau tidak mengulangi salat dari awal.

مَسْأَلَةٌ: مَنْ تَرَكَ التَّشَهُّدَ الْأَوَّلَ أَوِ الْقُنُوتَ أَوْ تَرَكَ الصَّلَاةَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ، أَوْ فَعَلَ فِعْلًا سَهْوًا وَكَانَتْ تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِتَعَمُّدِهِ، أَوْ شَكَّ فَلَا يَدْرِي أَصَلَّى ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا، أَخَذَ بِالْيَقِينِ وَسَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ قَبْلَ السَّلَامِ.
Masalah: barang siapa meninggalkan tasyahud awal, atau qunut, atau meninggalkan salawat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam tasyahud awal, atau melakukan suatu perbuatan karena lupa yang jika dilakukan dengan sengaja dapat membatalkan salat, atau ragu apakah ia salat tiga rakaat atau empat, maka hendaknya ia berpegang pada yang yakin dan melakukan dua sujud sahwi sebelum salam.

فَإِنْ نَسِيَ فَبَعْدَ السَّلَامِ مَهْمَا تَذَكَّرَ عَلَى الْقُرْبِ.
Jika ia lupa sujud sahwi itu, maka ia boleh melakukannya setelah salam selama masih ingat dalam waktu yang dekat.

فَإِنْ سَجَدَ بَعْدَ السَّلَامِ وَبَعْدَ أَنْ أَحْدَثَ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ.
Jika ia sujud setelah salam namun setelah berhadas, maka salatnya batal.

فَإِنَّهُ لَمَّا دَخَلَ فِي السُّجُودِ كَأَنَّهُ جَعَلَ سَلَامَهُ نِسْيَانًا فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ، فَلَا يَحْصُلُ التَّحَلُّلُ بِهِ، وَعَادَ إِلَى الصَّلَاةِ.
Sebab ketika ia masuk ke dalam sujud sahwi, seakan-akan salamnya tadi menjadi salam yang terjadi karena lupa dan tidak pada tempatnya, sehingga keluar dari salat belum sempurna dan ia kembali masuk ke dalam hukum salat.

فَلِذٰلِكَ يَسْتَأْنِفُ السَّلَامَ بَعْدَ السُّجُودِ.
Karena itu ia harus mengulangi salam setelah sujud sahwi.

فَإِنْ تَذَكَّرَ سُجُودَ السَّهْوِ بَعْدَ خُرُوجِهِ مِنَ الْمَسْجِدِ أَوْ بَعْدَ طُولِ الْفَصْلِ فَقَدْ فَاتَ.
Jika ia baru teringat sujud sahwi setelah keluar dari masjid atau setelah jeda yang panjang, maka kesempatan untuk melakukannya telah lewat.

مَسْأَلَةٌ: الْوَسْوَسَةُ فِي نِيَّةِ الصَّلَاةِ سَبَبُهَا خَبَلٌ فِي الْعَقْلِ أَوْ جَهْلٌ بِالشَّرْعِ.
Masalah: waswas dalam niat salat penyebabnya adalah kerusakan dalam akal atau kebodohan terhadap syariat.

لِأَنَّ امْتِثَالَ أَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِثْلُ امْتِثَالِ أَمْرِ غَيْرِهِ، وَتَعْظِيمَهُ كَتَعْظِيمِ غَيْرِهِ فِي حَقِّ الْقَصْدِ.
Sebab menaati perintah Allah عز وجل dalam hal niat serupa dengan menaati perintah selain-Nya, dan memuliakan-Nya pun serupa dengan memuliakan selain-Nya dari sisi adanya maksud.

وَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِ عَالِمٌ فَقَامَ لَهُ، فَلَوْ قَالَ: نَوَيْتُ أَنْ أَنْتَصِبَ قَائِمًا تَعْظِيمًا لِدُخُولِ زَيْدٍ الْفَاضِلِ، لِأَجْلِ فَضْلِهِ، مُقْبِلًا عَلَيْهِ بِوَجْهِي، كَانَ سَفَهًا فِي عَقْلِهِ.
Barang siapa didatangi seorang alim lalu ia berdiri untuknya, jika ia harus berkata: “Aku berniat berdiri tegak untuk memuliakan masuknya Zaid yang mulia, karena keutamaannya, sambil menghadapkan wajahku kepadanya,” maka hal itu tentu merupakan kebodohan dalam akal.

بَلْ كَمَا يَرَاهُ وَيَعْلَمُ فَضْلَهُ تَنْبَعِثُ دَاعِيَةُ التَّعْظِيمِ فَتُقِيمُهُ، وَيَكُونُ مُعَظِّمًا.
Tetapi cukup dengan melihatnya dan mengetahui keutamaannya, lalu bangkit dorongan untuk memuliakannya sehingga ia berdiri, dan dengan itu ia sudah menjadi orang yang memuliakannya.

إِلَّا إِذَا قَامَ لِشُغْلٍ آخَرَ أَوْ فِي غَفْلَةٍ.
Kecuali jika ia berdiri karena urusan lain atau dalam keadaan lalai.

وَاشْتِرَاطُ كَوْنِ الصَّلَاةِ ظُهْرًا أَدَاءً فَرْضًا فِي كَوْنِهِ امْتِثَالًا، كَاشْتِرَاطِ كَوْنِ الْقِيَامِ مَقْرُونًا بِالدُّخُولِ مَعَ الْإِقْبَالِ بِالْوَجْهِ عَلَى الدَّاخِلِ وَانْتِفَاءِ بَاعِثٍ آخَرَ سِوَاهُ.
Menentukan bahwa salat itu Zuhur, أداء, dan fardu dalam rangka menjadi bentuk ketaatan, mirip dengan syarat bahwa berdiri untuk orang alim itu harus bertepatan dengan masuknya, menghadap kepadanya, dan tidak ada sebab lain yang mendorong selain memuliakannya.

وَقَصْدُ التَّعْظِيمِ بِهِ لِيَكُونَ تَعْظِيمًا.
Dan semua itu dilakukan dengan maksud memuliakan, agar benar-benar disebut sebagai penghormatan.

فَإِنَّهُ لَوْ قَامَ مُدْبِرًا عَنْهُ أَوْ صَبَرَ فَقَامَ بَعْدَ ذٰلِكَ بِمُدَّةٍ، لَمْ يَكُنْ مُعَظِّمًا.
Sebab jika ia berdiri sambil membelakanginya, atau baru berdiri beberapa saat setelah itu, maka ia tidak disebut memuliakannya.

ثُمَّ هٰذِهِ الصِّفَاتُ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ مَعْلُومَةً وَأَنْ تَكُونَ مَقْصُودَةً.
Kemudian sifat-sifat ini harus diketahui dan memang dimaksudkan.

ثُمَّ لَا يَطُولُ حُضُورُهَا فِي النَّفْسِ فِي لَحْظَةٍ وَاحِدَةٍ.
Lalu kehadiran semua makna itu dalam jiwa tidaklah panjang, hanya sesaat saja.

وَإِنَّمَا يَطُولُ نَظْمُ الْأَلْفَاظِ الدَّالَّةِ عَلَيْهَا، إِمَّا تَلَفُّظًا بِاللِّسَانِ وَإِمَّا تَفَكُّرًا بِالْقَلْبِ.
Yang panjang hanyalah penyusunan lafaz-lafaz yang menunjukkan makna itu, baik diucapkan dengan lisan maupun dipikirkan dalam hati.

فَمَنْ لَمْ يَفْهَمْ نِيَّةَ الصَّلَاةِ عَلَى هٰذَا الْوَجْهِ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَفْهَمِ النِّيَّةَ.
Maka siapa yang tidak memahami niat salat dengan cara ini, seolah-olah ia belum memahami niat sama sekali.

فَلَيْسَ فِيهِ إِلَّا أَنَّكَ دُعِيتَ إِلَى أَنْ تُصَلِّيَ فِي وَقْتٍ فَأَجَبْتَ وَقُمْتَ، فَالْوَسْوَسَةُ مَحْضُ الْجَهْلِ.
Padahal dalam niat itu tidak ada selain bahwa engkau dipanggil untuk salat pada suatu waktu, lalu engkau menjawab dan berdiri. Maka waswas di sini hanyalah kebodohan semata.

فَإِنَّ هٰذِهِ الْقُصُودَ وَهٰذِهِ الْعُلُومَ تَجْتَمِعُ فِي النَّفْسِ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ، وَلَا تَكُونُ مُفَصَّلَةَ الْآحَادِ فِي الذِّهْنِ بِحَيْثُ تُطَالِعُهَا النَّفْسُ وَتَتَأَمَّلُهَا.
Karena maksud-maksud dan pengetahuan-pengetahuan ini berkumpul dalam jiwa pada satu keadaan, dan tidak tersusun sebagai rincian satu per satu dalam benak sehingga jiwa harus menelaahnya dan merenungkannya satu demi satu.

وَفَرْقٌ بَيْنَ حُضُورِ الشَّيْءِ فِي النَّفْسِ وَبَيْنَ تَفْصِيلِهِ بِالْفِكْرِ.
Ada perbedaan antara hadirnya sesuatu dalam jiwa dan antara merincinya dengan berpikir.

وَالْحُضُورُ مُضَادٌّ لِلْعُزُوبِ وَالْغَفْلَةِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُفَصَّلًا.
Kehadiran itu lawan dari ketiadaan dan kelalaian, meskipun ia tidak dirinci satu per satu.

فَإِنَّ مَنْ عَلِمَ الْحَادِثَ مَثَلًا، فَإِنَّهُ يَعْلَمُهُ بِعِلْمٍ وَاحِدٍ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ.
Misalnya, orang yang mengetahui sesuatu yang baru, ia mengetahuinya dengan satu ilmu dalam satu keadaan.

وَهٰذَا الْعِلْمُ يَتَضَمَّنُ عُلُومًا هِيَ حَاضِرَةٌ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مُفَصَّلَةً.
Ilmu ini memuat ilmu-ilmu lain yang semuanya hadir, meskipun tidak dirinci satu per satu.

فَإِنَّ مَنْ عَلِمَ الْحَادِثَ فَقَدْ عَلِمَ الْمَوْجُودَ وَالْمَعْدُومَ وَالتَّقَدُّمَ وَالتَّأَخُّرَ وَالزَّمَانَ، وَأَنَّ التَّقَدُّمَ لِلْعَدَمِ وَأَنَّ التَّأَخُّرَ لِلْوُجُودِ.
Sebab orang yang mengetahui sesuatu yang baru, berarti ia mengetahui yang ada dan yang tidak ada, mengetahui terdahulu dan kemudian, mengetahui waktu, serta mengetahui bahwa ketiadaan mendahului dan keberadaan datang kemudian.

فَهٰذِهِ الْعُلُومُ مُنْطَوِيَةٌ تَحْتَ الْعِلْمِ بِالْحَادِثِ.
Ilmu-ilmu ini semua terkandung dalam ilmu tentang sesuatu yang baru.

بِدَلِيلِ أَنَّ الْعَالِمَ بِالْحَادِثِ إِذَا لَمْ يَعْلَمْ غَيْرَهُ، لَوْ قِيلَ لَهُ: هَلْ عَلِمْتَ التَّقَدُّمَ فَقَطْ، أَوِ التَّأَخُّرَ، أَوِ الْعَدَمَ، أَوْ تَقَدُّمَ الْعَدَمِ، أَوْ تَأَخُّرَ الْوُجُودِ، أَوِ الزَّمَانَ الْمُنْقَسِمَ إِلَى الْمُتَقَدِّمِ وَالْمُتَأَخِّرِ؟
Buktinya, apabila orang yang mengetahui sesuatu yang baru itu ditanya: “Apakah engkau mengetahui terdahulu saja, atau yang kemudian, atau ketiadaan, atau terdahulunya ketiadaan, atau datangnya keberadaan sesudah itu, atau waktu yang terbagi menjadi sebelum dan sesudah?”

فَإِنْ قَالَ: مَا عَرَفْتُهُ قَطُّ، كَانَ كَاذِبًا، وَكَانَ قَوْلُهُ مُنَاقِضًا لِقَوْلِهِ: إِنِّي أَعْلَمُ الْحَادِثَ.
Lalu jika ia menjawab: “Aku tidak pernah mengetahuinya sama sekali,” maka ia berdusta, dan ucapannya itu bertentangan dengan ucapannya sendiri bahwa ia mengetahui sesuatu yang baru.

وَمِنَ الْجَهْلِ بِهٰذِهِ الدَّقِيقَةِ يَثُورُ الْوَسْوَاسُ.
Dari ketidaktahuan terhadap rincian halus inilah timbul waswas.

فَإِنَّ الْمُوَسْوِسَ يُكَلِّفُ نَفْسَهُ أَنْ يُحْضِرَ فِي قَلْبِهِ الظُّهْرِيَّةَ وَالْأَدَائِيَّةَ وَالْفَرْضِيَّةَ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ مُفَصَّلَةً بِأَلْفَاظِهَا، وَهُوَ يُطَالِعُهَا، وَذٰلِكَ مُحَالٌ.
Karena orang yang waswas memaksa dirinya untuk menghadirkan dalam hati secara rinci dan sekaligus makna salat Zuhur, أداء, dan fardu dengan lafaz-lafaznya, sambil ia memperhatikannya satu per satu, dan ini mustahil.

وَلَوْ كَلَّفَ نَفْسَهُ ذٰلِكَ فِي الْقِيَامِ لِأَجْلِ الْعَالِمِ لَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ.
Seandainya ia memaksa dirinya melakukan seperti itu ketika berdiri untuk menghormati seorang alim, tentu itu pun akan sulit baginya.

فَبِهٰذِهِ الْمَعْرِفَةِ يَنْدَفِعُ الْوَسْوَاسُ.
Dengan pengetahuan inilah waswas dapat ditolak.

وَهُوَ أَنَّ امْتِثَالَ أَمْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ فِي النِّيَّةِ كَامْتِثَالِ أَمْرِ غَيْرِهِ.
Yaitu bahwa menaati perintah Allah سبحانه dalam niat itu seperti menaati perintah selain-Nya dalam bentuk maksud.

ثُمَّ أَزِيدُ عَلَى سَبِيلِ التَّسْهِيلِ وَالتَّرَخُّصِ.
Lalu aku tambahkan lagi sebagai bentuk kemudahan dan keringanan.

وَأَقُولُ: لَوْ لَمْ يَفْهَمِ الْمُوَسْوِسُ النِّيَّةَ إِلَّا بِإِحْضَارِ هٰذِهِ الْأُمُورِ مُفَصَّلَةً، وَلَمْ يَتَمَثَّلْ فِي نَفْسِهِ الِامْتِثَالَ دُفْعَةً وَاحِدَةً، وَأَحْضَرَ جُمْلَةَ ذٰلِكَ فِي أَثْنَاءِ التَّكْبِيرِ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ بِحَيْثُ لَا يَفْرُغُ مِنَ التَّكْبِيرِ إِلَّا وَقَدْ حَصَلَتِ النِّيَّةُ، كَفَاهُ ذٰلِكَ.
Aku katakan: seandainya orang yang waswas tidak memahami niat kecuali dengan menghadirkan hal-hal itu secara rinci, dan ia tidak mampu membayangkan kepatuhan itu sekaligus, lalu ia menghadirkan seluruh makna itu sepanjang takbir dari awal sampai akhir sehingga ia tidak selesai dari takbir kecuali niat telah terbentuk, maka itu sudah cukup baginya.

وَلَا نُكَلِّفُهُ أَنْ يُقْرِنَ الْجَمِيعَ بِأَوَّلِ التَّكْبِيرِ أَوْ آخِرِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ تَكْلِيفُ شَطَطٍ.
Kami tidak membebaninya untuk menyatukan semuanya tepat pada awal takbir atau akhir takbir, karena itu adalah pembebanan yang berlebihan.

وَلَوْ كَانَ مَأْمُورًا بِهِ لَوَقَعَ لِلْأَوَّلِينَ سُؤَالٌ عَنْهُ، وَلَوَسْوَسَ وَاحِدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فِي النِّيَّةِ.
Seandainya itu memang diperintahkan, tentu para generasi pertama akan bertanya tentangnya dan pasti ada satu sahabat saja yang pernah waswas dalam niat.

فَعَدَمُ وُقُوعِ ذٰلِكَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَمْرَ عَلَى التَّسَاهُلِ.
Tidak terjadinya hal itu menunjukkan bahwa masalah ini dibangun di atas kemudahan.

فَكَيْفَمَا تَيَسَّرَتِ النِّيَّةُ لِلْمُوَسْوِسِ يَنْبَغِي أَنْ يَقْنَعَ بِهِ، حَتَّى يَتَعَوَّدَ ذٰلِكَ وَتُفَارِقَهُ الْوَسْوَسَةُ.
Dengan cara apa pun niat itu menjadi mudah bagi orang yang waswas, seharusnya ia merasa cukup dengannya sampai ia terbiasa dan waswas itu meninggalkannya.

وَلَا يُطَالِبُ نَفْسَهُ بِتَحْقِيقِ ذٰلِكَ، فَإِنَّ التَّحْقِيقَ يَزِيدُ فِي الْوَسْوَسَةِ.
Dan ia tidak perlu menuntut dirinya untuk terlalu memastikan rincian itu, karena upaya berlebih untuk memastikan justru menambah waswas.

وَقَدْ ذَكَرْنَا فِي الْفَتَاوَى وُجُوهًا مِنَ التَّحْقِيقِ فِي تَحْقِيقِ الْعُلُومِ وَالْقُصُودِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالنِّيَّةِ يَفْتَقِرُ الْعُلَمَاءُ إِلَى مَعْرِفَتِهَا.
Kami telah menyebutkan dalam fatwa-fatwa beberapa bentuk penjelasan yang lebih rinci tentang ilmu dan maksud yang terkait dengan niat, yang memang dibutuhkan oleh para ulama untuk mengetahuinya.

أَمَّا الْعَامَّةُ فَرُبَّمَا ضَرَّهُمْ سَمَاعُهَا وَيُهَيِّجُ عَلَيْهِمُ الْوَسْوَاسَ، فَلِذٰلِكَ تَرَكْنَاهَا.
Adapun orang awam, mungkin mendengarnya justru membahayakan mereka dan menimbulkan waswas, maka karena itulah kami tidak memaparkannya di sini.

مَسْأَلَةٌ: يَنْبَغِي أَنْ لَا يَتَقَدَّمَ الْمَأْمُومُ عَلَى الْإِمَامِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَالرَّفْعِ مِنْهُمَا، وَلَا فِي سَائِرِ الْأَعْمَالِ.
Masalah: seorang makmum tidak sepatutnya mendahului imam dalam rukuk, sujud, bangkit dari keduanya, dan tidak pula dalam seluruh gerakan lainnya.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسَاوِيَهُ، بَلْ يَتْبَعُهُ وَيَقْفُو أَثَرَهُ، فَهٰذَا مَعْنَى الِاقْتِدَاءِ.
Dan tidak sepatutnya pula ia menyamai imam, tetapi ia harus mengikutinya dan berjalan di belakang jejaknya. Inilah makna bermakmum.

فَإِنْ سَاوَاهُ عَمْدًا لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ، كَمَا لَوْ وَقَفَ بِجَنْبِهِ غَيْرَ مُتَأَخِّرٍ عَنْهُ.
Jika ia menyamainya dengan sengaja, salatnya tidak batal, sebagaimana jika ia berdiri di samping imam tanpa sedikit tertinggal darinya.

فَإِنْ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ فَفِي بُطْلَانِ صَلَاتِهِ خِلَافٌ.
Jika ia mendahului imam, maka dalam batalnya salatnya terdapat perbedaan pendapat.

وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يُقْضَى بِالْبُطْلَانِ تَشْبِيهًا بِمَا لَوْ تَقَدَّمَ فِي الْمَوْقِفِ عَلَى الْإِمَامِ، بَلْ هٰذَا أَوْلَى.
Tidak jauh kemungkinan dihukumi batal, dengan mengqiyaskan kepada orang yang berdiri lebih maju dari imam dalam posisi berdiri, bahkan yang ini lebih layak lagi.

لِأَنَّ الْجَمَاعَةَ اقْتِدَاءٌ فِي الْفِعْلِ لَا فِي الْمَوْقِفِ، فَالتَّبَعِيَّةُ فِي الْفِعْلِ أَهَمُّ.
Karena berjamaah adalah mengikuti imam dalam perbuatan, bukan sekadar dalam posisi berdiri, maka pengikutan dalam perbuatan lebih penting.

وَإِنَّمَا شُرِطَ تَرْكُ التَّقَدُّمِ فِي الْمَوْقِفِ تَسْهِيلًا لِلْمُتَابَعَةِ فِي الْفِعْلِ وَتَحْصِيلًا لِصُورَةِ التَّبَعِيَّةِ.
Disyaratkannya tidak maju dalam posisi berdiri hanyalah untuk memudahkan pengikutan dalam gerakan dan untuk mewujudkan bentuk pengikutan.

إِذِ اللَّائِقُ بِالْمُقْتَدَى بِهِ أَنْ يَتَقَدَّمَ.
Karena memang yang pantas bagi orang yang diikuti adalah berada di depan.

فَالتَّقَدُّمُ عَلَيْهِ فِي الْفِعْلِ لَا وَجْهَ لَهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ سَهْوًا.
Maka mendahuluinya dalam gerakan tidak memiliki alasan kecuali jika terjadi karena lupa.

وَلِذٰلِكَ شَدَّدَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّكِيرَ فِيهِ.
Karena itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat keras mengingkari hal itu.

فَقَالَ: أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ؟
Beliau bersabda: “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?”

وَأَمَّا التَّأَخُّرُ عَنْهُ بِرُكْنٍ وَاحِدٍ فَلَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ.
Adapun tertinggal dari imam sebanyak satu rukun, maka itu tidak membatalkan salat.

وَذٰلِكَ بِأَنْ يَعْتَدِلَ الْإِمَامُ عَنْ رُكُوعِهِ وَهُوَ بَعْدُ لَمْ يَرْكَعْ.
Yaitu misalnya imam telah bangkit dari rukuk, sedangkan makmum belum rukuk.

وَلٰكِنَّ التَّأَخُّرَ إِلَى هٰذَا الْحَدِّ مَكْرُوهٌ.
Tetapi tertinggal sampai batas seperti ini tetap makruh.

فَإِنْ وَضَعَ الْإِمَامُ جَبْهَتَهُ عَلَى الْأَرْضِ وَهُوَ بَعْدُ لَمْ يَنْتَهِ إِلَى حَدِّ الرَّاكِعِينَ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ.
Jika imam telah meletakkan dahinya di tanah untuk sujud, sedangkan makmum masih belum sampai pada batas rukuk, maka batal salatnya.

وَكَذٰلِكَ إِنْ وَضَعَ الْإِمَامُ جَبْهَتَهُ لِلسُّجُودِ الثَّانِي وَهُوَ بَعْدُ لَمْ يَسْجُدِ السُّجُودَ الْأَوَّلَ.
Demikian pula jika imam telah meletakkan dahinya untuk sujud kedua, sedangkan makmum belum sujud yang pertama, maka salatnya batal.

مَسْأَلَةٌ: حَقٌّ عَلَى مَنْ حَضَرَ الصَّلَاةَ إِذَا رَأَى مِنْ غَيْرِهِ إِسَاءَةً فِي صَلَاتِهِ أَنْ يُغَيِّرَهُ وَيُنْكِرَ عَلَيْهِ.
Masalah: wajib bagi orang yang hadir di tempat salat, apabila ia melihat orang lain melakukan kesalahan dalam salatnya, untuk mengubah dan mengingkari kesalahan itu.

وَإِنْ صَدَرَ مِنْ جَاهِلٍ رَفَقَ بِالْجَاهِلِ وَعَلَّمَهُ.
Jika kesalahan itu berasal dari orang yang tidak tahu, maka ia harus bersikap lembut kepadanya dan mengajarinya.

فَمِنْ ذٰلِكَ الْأَمْرُ بِتَسْوِيَةِ الصُّفُوفِ.
Di antaranya adalah memerintahkan untuk meluruskan saf.

وَمَنْعُ الْمُنْفَرِدِ بِالْوُقُوفِ خَارِجَ الصَّفِّ.
Dan mencegah orang yang berdiri sendirian di luar saf.

وَالْإِنْكَارُ عَلَى مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ.
Dan mengingkari orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam.

إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْأُمُورِ.
Dan selain itu dari berbagai perkara lainnya.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَيْلٌ لِلْعَالِمِ مِنَ الْجَاهِلِ حَيْثُ لَا يُعَلِّمُهُ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Celaka bagi orang alim karena orang jahil apabila ia tidak mengajarinya.”

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ رَأَى مَنْ يُسِيءُ صَلَاتَهُ فَلَمْ يَنْهَهُ فَهُوَ شَرِيكُهُ فِي وِزْرِهَا.
Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه berkata: “Barang siapa melihat seseorang merusak salatnya lalu tidak melarangnya, maka ia menjadi sekutunya dalam dosanya.”

وَعَنْ بِلَالِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّهُ قَالَ: الْخَطِيئَةُ إِذَا أُخْفِيَتْ لَمْ تَضُرَّ إِلَّا صَاحِبَهَا، فَإِذَا أُظْهِرَتْ فَلَمْ تُغَيَّرْ أَضَرَّتْ بِالْعَامَّةِ.
Bilal bin Sa‘d berkata: “Kesalahan, jika disembunyikan, hanya membahayakan pelakunya. Tetapi jika ditampakkan lalu tidak diubah, maka ia membahayakan orang banyak.”

وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُسَوِّي الصُّفُوفَ وَيَضْرِبُ عَرَاقِيبَهُمْ بِالدُّرَّةِ.
Dalam hadis disebutkan bahwa Bilal dahulu meluruskan saf-saf dan memukul tumit mereka dengan tongkat kecil.

وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَفَقَّدُوا إِخْوَانَكُمْ فِي الصَّلَاةِ، فَإِذَا فَقَدْتُمُوهُمْ، فَإِنْ كَانُوا مَرْضَى فَعُودُوهُمْ، وَإِنْ كَانُوا أَصِحَّاءَ فَعَاتِبُوهُمْ.
Dari Umar رضي الله عنه, ia berkata: “Perhatikanlah saudara-saudara kalian dalam salat. Jika kalian tidak mendapati mereka, maka jika mereka sakit, jenguklah mereka, dan jika mereka sehat, tegurlah mereka.”

وَالْعِتَابُ إِنْكَارٌ عَلَى مَنْ تَرَكَ الْجَمَاعَةَ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُتَسَاهَلَ فِيهِ.
Teguran itu adalah bentuk pengingkaran terhadap orang yang meninggalkan jamaah, dan hal itu tidak sepatutnya diremehkan.

وَقَدْ كَانَ الْأَوَّلُونَ يُبَالِغُونَ فِيهِ، حَتَّى كَانَ بَعْضُهُمْ يَحْمِلُ الْجَنَازَةَ إِلَى بَعْضِ مَنْ تَخَلَّفَ عَنِ الْجَمَاعَةِ.
Orang-orang terdahulu sangat keras dalam hal ini, sampai ada di antara mereka yang membawa jenazah ke rumah orang yang meninggalkan jamaah.

إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْمَيِّتَ هُوَ الَّذِي يَتَأَخَّرُ عَنِ الْجَمَاعَةِ دُونَ الْحَيِّ.
Sebagai isyarat bahwa orang yang sebenarnya mati adalah yang tertinggal dari jamaah, bukan orang yang hidup.

وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَنْبَغِي أَنْ يَقْصِدَ يَمِينَ الصَّفِّ.
Barang siapa masuk masjid, hendaknya ia menuju sisi kanan saf.

وَلِذٰلِكَ تَزَاحَمَ النَّاسُ عَلَيْهِ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Karena itu orang-orang dahulu berebut untuk menempatinya pada zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

حَتَّى قِيلَ لَهُ: تَعَطَّلَتِ الْمَيْسَرَةُ.
Sampai dikatakan kepada beliau: “Sisi kiri menjadi kosong.”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَمَّرَ مَيْسَرَةَ الْمَسْجِدِ كَانَ لَهُ كِفْلَانِ مِنَ الْأَجْرِ.
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa memakmurkan sisi kiri masjid, baginya dua bagian pahala.”

وَمَهْمَا وَجَدَ غُلَامًا فِي الصَّفِّ وَلَمْ يَجِدْ لِنَفْسِهِ مَكَانًا فَلَهُ أَنْ يُخْرِجَهُ إِلَى خَلْفٍ وَيَدْخُلَ فِيهِ.
Jika seseorang mendapati seorang anak laki-laki di saf dan ia tidak menemukan tempat untuk dirinya, maka ia boleh menyuruh anak itu ke belakang lalu masuk ke tempatnya.

أَعْنِي إِذَا لَمْ يَكُنْ بَالِغًا.
Maksudku, jika anak itu belum balig.

وَهٰذَا مَا أَرَدْنَا أَنْ نَذْكُرَهُ مِنَ الْمَسَائِلِ الَّتِي تَعُمُّ بِهَا الْبَلْوَى.
Inilah yang ingin kami sebutkan dari berbagai masalah yang umum menimpa banyak orang.

وَسَيَأْتِي أَحْكَامُ الصَّلَوَاتِ الْمُتَفَرِّقَةِ فِي كِتَابِ الْأَوْرَادِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Dan hukum-hukum salat yang beragam akan datang dalam Kitab al-Awrad, insya Allah Ta‘ala.