Ziarah Ke Madinah Dan Adab-Adabnya
اَلْجُمْلَةُ الْعَاشِرَةُ فِي زِيَارَةِ الْمَدِينَةِ وَآدَابِهَا
Bagian kesepuluh tentang ziarah ke Madinah dan adab-adabnya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ زَارَنِي بَعْدَ وَفَاتِي فَكَأَنَّمَا
زَارَنِي فِي حَيَاتِي.
Nabi saw. bersabda: “Barang siapa menziarahiku setelah wafatku, maka
seakan-akan ia menziarahiku ketika aku masih hidup.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ وَجَدَ سَعَةً وَلَمْ يَفِدْ إِلَيَّ
فَقَدْ جَفَانِي.
Dan Nabi saw. bersabda: “Barang siapa memiliki kelapangan tetapi tidak datang
berziarah kepadaku, maka sungguh ia telah berlaku kasar kepadaku.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ جَاءَنِي زَائِرًا لَا يَهُمُّهُ إِلَّا
زِيَارَتِي، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ أَنْ أَكُونَ لَهُ شَفِيعًا.
Dan Nabi saw. bersabda: “Barang siapa datang kepadaku untuk berziarah, tidak
ada yang menjadi tujuannya selain ziarah kepadaku, maka menjadi hak atas Allah سبحانه
bahwa aku menjadi pemberi syafaat baginya.”
فَمَنْ
قَصَدَ زِيَارَةَ الْمَدِينَةِ فَلْيُصَلِّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَرِيقِهِ كَثِيرًا.
Maka siapa yang menuju ziarah ke Madinah, hendaklah ia banyak bersalawat kepada
Rasulullah saw. sepanjang perjalanannya.
فَإِذَا
وَقَعَ بَصَرُهُ عَلَى حِيطَانِ الْمَدِينَةِ وَأَشْجَارِهَا قَالَ: اللَّهُمَّ
هَذَا حَرَمُ رَسُولِكَ، فَاجْعَلْهُ لِي وِقَايَةً مِنَ النَّارِ وَأَمَانًا مِنَ
الْعَذَابِ وَسُوءَ الْحِسَابِ.
Apabila pandangannya jatuh pada dinding-dinding Madinah dan pepohonannya,
hendaklah ia mengucapkan: “Ya Allah, ini adalah tanah haram Rasul-Mu. Maka
jadikanlah ia bagiku sebagai pelindung dari api neraka, sebagai keamanan dari
azab dan buruknya hisab.”
وَلْيَغْتَسِلْ
قَبْلَ الدُّخُولِ مِنْ بِئْرِ الْحَرَّةِ.
Dan hendaklah ia mandi sebelum masuk, dengan air dari sumur al-Harrah.
وَلْيَتَطَيَّبْ
وَلْيَلْبَسْ أَنْظَفَ ثِيَابِهِ.
Dan hendaklah ia memakai wewangian serta mengenakan pakaian yang paling bersih.
فَإِذَا
دَخَلَهَا فَلْيَدْخُلْهَا مُتَوَاضِعًا مُعَظِّمًا.
Apabila ia memasukinya, hendaklah ia masuk dengan sikap tawaduk dan penuh
pengagungan.
وَلْيَقُلْ:
بِسْمِ اللَّهِ، وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ، وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ،
وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا.
Dan hendaklah ia mengucapkan: “Dengan nama Allah, dan di atas agama Rasulullah
saw. Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar, keluarkanlah aku
dengan keluar yang benar, dan jadikanlah bagiku dari sisi-Mu kekuasaan yang
menolong.”
ثُمَّ
يَقْصِدُ الْمَسْجِدَ وَيَدْخُلُهُ وَيُصَلِّي بِجَنْبِ الْمِنْبَرِ رَكْعَتَيْنِ.
Kemudian hendaklah ia menuju masjid, memasukinya, dan salat dua rakaat di
samping mimbar.
وَيَجْعَلُ
عَمُودَ الْمِنْبَرِ حِذَاءَ مَنْكِبِهِ الْأَيْمَنِ.
Dan hendaklah ia menjadikan tiang mimbar sejajar dengan bahu kanannya.
وَيَسْتَقْبِلُ
السَّارِيَةَ الَّتِي إِلَى جَانِبِهَا الصُّنْدُوقُ.
Dan hendaklah ia menghadap tiang yang di sampingnya ada peti.
وَتَكُونُ
الدَّائِرَةُ الَّتِي فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ.
Dan hendaklah lingkaran yang ada di arah kiblat masjid berada di antara kedua
matanya.
فَذَلِكَ
مَوْقِفُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ
يُغَيَّرَ الْمَسْجِدُ.
Itulah tempat berdiri Rasulullah saw. sebelum masjid itu diubah.
وَلْيَجْتَهِدْ
أَنْ يُصَلِّيَ فِي الْمَسْجِدِ الْأَوَّلِ قَبْلَ أَنْ يُزَادَ فِيهِ.
Dan hendaklah ia berusaha untuk salat di bagian masjid yang pertama sebelum
ditambah perluasannya.
ثُمَّ
يَأْتِي قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقِفُ عِنْدَ
وَجْهِهِ.
Kemudian ia mendatangi kubur Nabi saw. lalu berdiri di hadapan wajah beliau.
وَذَلِكَ
بِأَنْ يَسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ وَيَسْتَقْبِلَ جِدَارَ الْقَبْرِ عَلَى نَحْوٍ
مِنْ أَرْبَعَةِ أَذْرُعٍ مِنَ السَّارِيَةِ الَّتِي فِي زَاوِيَةِ جِدَارِ
الْقَبْرِ.
Caranya ialah dengan membelakangi kiblat dan menghadap dinding kubur, pada
jarak kira-kira empat hasta dari tiang yang berada di sudut dinding kubur.
وَيَجْعَلُ
الْقِنْدِيلَ عَلَى رَأْسِهِ.
Dan hendaklah ia menjadikan lampu berada di atas kepalanya.
وَلَيْسَ
مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَمَسَّ الْجِدَارَ وَلَا أَنْ يُقَبِّلَهُ.
Tidak termasuk sunah menyentuh dinding itu dan tidak pula menciumnya.
بَلِ
الْوُقُوفُ مِنْ بُعْدٍ أَقْرَبُ لِلِاحْتِرَامِ.
Bahkan berdiri dari kejauhan lebih dekat kepada sikap hormat.
فَيَقِفُ
وَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ.
Maka ia berdiri dan mengucapkan: “Salam sejahtera atasmu, wahai Rasulullah.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi Allah.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا أَمِينَ اللَّهِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai orang kepercayaan Allah.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا حَبِيبَ اللَّهِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai kekasih Allah.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا صَفْوَةَ اللَّهِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai pilihan Allah.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا خِيَرَةَ اللَّهِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai orang terpilih Allah.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا أَحْمَدُ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai Ahmad.”
السَّلَامُ
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ.
“Salam, salam sejahtera atasmu, wahai Muhammad.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai Abu al-Qasim.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا مَاحِي.
“Salam sejahtera atasmu, wahai al-Mahi.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا عَاقِبُ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai al-‘Aqib.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا حَاشِرُ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai al-Hasyir.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا بَشِيرُ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai pembawa kabar gembira.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا نَذِيرُ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai pemberi peringatan.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا طُهْرُ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai yang suci.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا طَاهِرُ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai yang bersih.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا أَكْرَمَ وَلَدِ آدَمَ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai manusia paling mulia dari keturunan Adam.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِينَ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai penghulu para rasul.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّينَ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai penutup para nabi.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا رَسُولَ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai utusan Tuhan semesta alam.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا قَائِدَ الْخَيْرِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai pemimpin kebaikan.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا فَاتِحَ الْبِرِّ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai pembuka pintu kebajikan.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الرَّحْمَةِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai nabi pembawa rahmat.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا هَادِيَ الْأُمَّةِ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai pemberi petunjuk umat.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا قَائِدَ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِينَ.
“Salam sejahtera atasmu, wahai pemimpin orang-orang yang bercahaya wajah,
tangan, dan kakinya.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ الَّذِينَ أَذْهَبَ اللَّهُ عَنْهُمُ الرِّجْسَ
وَطَهَّرَهُمْ تَطْهِيرًا.
“Salam sejahtera atasmu dan atas keluargamu, yang Allah telah menghilangkan
dari mereka kotoran dan menyucikan mereka sesuci-sucinya.”
السَّلَامُ
عَلَيْكَ وَعَلَى أَصْحَابِكَ الطَّيِّبِينَ، وَعَلَى أَزْوَاجِكَ الطَّاهِرَاتِ
أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ.
“Salam sejahtera atasmu, atas para sahabatmu yang baik, dan atas istri-istrimu
yang suci, ibu-ibu kaum mukminin.”
جَزَاكَ
اللَّهُ عَنَّا أَفْضَلَ مَا جَزَى نَبِيًّا عَنْ قَوْمِهِ، وَرَسُولًا عَنْ
أُمَّتِهِ.
“Semoga Allah membalasmu dari pihak kami dengan sebaik-baik balasan yang
diberikan kepada seorang nabi atas kaumnya dan seorang rasul atas umatnya.”
وَصَلَّى
عَلَيْكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُونَ، وَكُلَّمَا غَفَلَ عَنْكَ
الْغَافِلُونَ.
“Semoga Allah melimpahkan salawat kepadamu setiap kali orang-orang mengingatmu,
dan setiap kali orang-orang lalai darimu.”
وَصَلَّى
عَلَيْكَ فِي الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ أَفْضَلَ وَأَكْمَلَ وَأَعْلَى
وَأَجَلَّ وَأَطْيَبَ وَأَطْهَرَ مَا صَلَّى عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ.
“Semoga Allah melimpahkan salawat kepadamu di kalangan orang-orang terdahulu
dan yang kemudian, dengan salawat yang paling utama, paling sempurna, paling
tinggi, paling agung, paling baik, dan paling suci yang pernah Dia limpahkan
kepada salah satu makhluk-Nya.”
كَمَا
اسْتَنْقَذَنَا بِكَ مِنَ الضَّلَالَةِ، وَبَصَّرَنَا بِكَ مِنَ الْعَمَايَةِ،
وَهَدَانَا بِكَ مِنَ الْجَهَالَةِ.
“Sebagaimana Dia telah menyelamatkan kami denganmu dari kesesatan, membuka
penglihatan hati kami denganmu dari kebutaan, dan memberi kami petunjuk
denganmu dari kebodohan.”
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّكَ
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَمِينُهُ وَصَفِيُّهُ وَخِيَرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ.
“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada
sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah hamba-Nya, rasul-Nya,
orang kepercayaan-Nya, pilihan-Nya, dan orang terbaik dari makhluk-Nya.”
وَأَشْهَدُ
أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، وَنَصَحْتَ
الْأُمَّةَ، وَجَاهَدْتَ عَدُوَّكَ، وَهَدَيْتَ أُمَّتَكَ، وَعَبَدْتَ رَبَّكَ
حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِينُ.
“Dan aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanat,
menasihati umat, berjihad melawan musuhmu, memberi petunjuk kepada umatmu, dan
menyembah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan, yaitu kematian.”
فَصَلَّى
اللَّهُ عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ الطَّيِّبِينَ، وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ
وَكَرَّمَ وَعَظَّمَ.
“Maka semoga Allah melimpahkan salawat atasmu dan atas keluargamu yang baik,
serta melimpahkan salam, kemuliaan, penghormatan, dan pengagungan.”
وَإِنْ
كَانَ قَدْ أُوصِيَ بِتَبْلِيغِ سَلَامٍ، فَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ مِنْ
فُلَانٍ، السَّلَامُ عَلَيْكَ مِنْ فُلَانٍ.
Jika ia diberi amanat untuk menyampaikan salam, maka hendaklah ia berkata:
“Salam sejahtera atasmu dari si Fulan, salam sejahtera atasmu dari si Fulan.”
ثُمَّ
يَتَأَخَّرُ قَدْرَ ذِرَاعٍ وَيُسَلِّمُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ.
Kemudian ia mundur kira-kira satu hasta dan memberi salam kepada Abu Bakar
ash-Shiddiq رضي
الله عنه.
لِأَنَّ
رَأْسَهُ عِنْدَ مَنْكِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَرَأْسُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عِنْدَ مَنْكِبِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ.
Karena kepala beliau berada sejajar dengan bahu Rasulullah saw., dan kepala
Umar رضي الله عنه
sejajar dengan bahu Abu Bakar رضي
الله عنه.
ثُمَّ
يَتَأَخَّرُ قَدْرَ ذِرَاعٍ وَيُسَلِّمُ عَلَى الْفَارُوقِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ.
Kemudian ia mundur lagi kira-kira satu hasta dan memberi salam kepada al-Faruq
Umar رضي الله عنه.
وَيَقُولُ:
السَّلَامُ عَلَيْكُمَا يَا وَزِيرَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَالْمُعَاوِنَيْنِ لَهُ عَلَى الْقِيَامِ بِالدِّينِ مَا دَامَ
حَيًّا، وَالْقَائِمَيْنِ فِي أُمَّتِهِ بَعْدَهُ بِأُمُورِ الدِّينِ.
Dan ia mengucapkan: “Salam sejahtera atas kalian berdua, wahai dua menteri
Rasulullah saw., dua pembantu beliau dalam menegakkan agama selama beliau masih
hidup, dan dua orang yang mengurus umat beliau sepeninggal beliau dalam urusan
agama.”
تَتَّبِعَانِ
فِي ذَلِكَ آثَارَهُ، وَتَعْمَلَانِ بِسُنَّتِهِ، فَجَزَاكُمَا اللَّهُ خَيْرَ مَا
جَزَى وَزِيرَيْ نَبِيٍّ عَنْ دِينِهِ.
“Kalian berdua mengikuti jejak beliau dalam hal itu dan mengamalkan sunah
beliau. Maka semoga Allah membalas kalian berdua dengan sebaik-baik balasan
yang diberikan kepada dua menteri seorang nabi atas agamanya.”
ثُمَّ
يَرْجِعُ فَيَقِفُ عِنْدَ رَأْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بَيْنَ الْقَبْرِ وَالْأُسْطُوَانَةِ الْيَوْمَ، وَيَسْتَقْبِلُ
الْقِبْلَةَ.
Kemudian ia kembali lalu berdiri di dekat kepala Rasulullah saw. antara kubur
dan tiang yang ada sekarang, lalu menghadap kiblat.
وَلْيَحْمَدِ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَلْيُمَجِّدْهُ، وَلْيُكْثِرْ مِنَ الصَّلَاةِ عَلَى
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan hendaklah ia memuji Allah عز وجل,
mengagungkan-Nya, dan memperbanyak salawat kepada Rasulullah saw.
ثُمَّ
يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ قَدْ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: ﴿وَلَوْ أَنَّهُمْ
إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ
لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا﴾.
Kemudian ia mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan
firman-Mu adalah benar: ‘Dan sekiranya mereka ketika menzalimi diri mereka
datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan
ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi
Maha Penyayang.’”
اللَّهُمَّ
إِنَّا قَدْ سَمِعْنَا قَوْلَكَ، وَأَطَعْنَا أَمْرَكَ، وَقَصَدْنَا نَبِيَّكَ
مُتَشَفِّعِينَ بِهِ إِلَيْكَ فِي ذُنُوبِنَا وَمَا أَثْقَلَ ظُهُورَنَا مِنْ
أَوْزَارِنَا.
“Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendengar firman-Mu, menaati perintah-Mu,
dan datang kepada nabi-Mu dengan menjadikannya perantara syafaat kepada-Mu atas
dosa-dosa kami dan beban-beban berat yang memberati punggung kami.”
تَائِبِينَ
مِنْ زَلَلِنَا، مُعْتَرِفِينَ بِخَطَايَانَا وَتَقْصِيرِنَا، فَتُبْ اللَّهُمَّ
عَلَيْنَا، وَشَفِّعْ نَبِيَّكَ هَذَا فِينَا، وَارْفَعْنَا بِمَنْزِلَتِهِ
عِنْدَكَ وَحَقِّهِ عَلَيْكَ.
“Dalam keadaan bertobat dari ketergelinciran kami, mengakui kesalahan dan
kelalaian kami. Maka terimalah tobat kami, ya Allah, jadikanlah nabi-Mu ini
memberi syafaat kepada kami, dan angkatlah derajat kami dengan kedudukannya di
sisi-Mu dan haknya atas-Mu.”
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ.
“Ya Allah, ampunilah kaum Muhajirin dan Anshar, dan ampunilah kami serta
saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.”
اللَّهُمَّ
لَا تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ قَبْرِ نَبِيِّكَ وَمِنْ حَرَمِكَ، يَا
أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
“Ya Allah, jangan jadikan ini sebagai pertemuan terakhirku dengan kubur nabi-Mu
dan dengan tanah haram-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
ثُمَّ
يَأْتِي الرَّوْضَةَ فَيُصَلِّي فِيهَا رَكْعَتَيْنِ، وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ
مَا اسْتَطَاعَ.
Kemudian ia mendatangi Raudhah lalu salat dua rakaat di sana, dan memperbanyak
doa semampunya.
لِقَوْلِهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَيْنَ قَبْرِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ
رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي.
Karena sabda Nabi saw.: “Antara kuburku dan mimbarku adalah satu taman dari
taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku.”
وَيَدْعُو
عِنْدَ الْمِنْبَرِ.
Dan hendaklah ia berdoa di dekat mimbar.
وَيُسْتَحَبُّ
أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى الرُّمَّانَةِ السُّفْلَى الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ عَلَيْهَا عِنْدَ الْخُطْبَةِ.
Dan disunahkan baginya untuk meletakkan tangannya pada bulatan bawah mimbar,
yaitu tempat yang dahulu Rasulullah saw. meletakkan tangannya saat berkhutbah.
وَيُسْتَحَبُّ
لَهُ أَنْ يَأْتِيَ أُحُدًا يَوْمَ الْخَمِيسِ، وَيَزُورَ قُبُورَ الشُّهَدَاءِ.
Dan disunahkan baginya untuk mendatangi Uhud pada hari Kamis dan menziarahi
kubur para syuhada.
فَيُصَلِّيَ
الْغَدَاةَ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ
يَخْرُجَ وَيَعُودَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِصَلَاةِ الظُّهْرِ، فَلَا تَفُوتَهُ
فَرِيضَةٌ فِي الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ.
Maka ia menunaikan salat Subuh di Masjid Nabi saw., lalu keluar, dan kembali
lagi ke masjid untuk salat Zuhur, sehingga tidak ada salat fardu berjamaah di
masjid yang terlewat darinya.
وَيُسْتَحَبُّ
أَنْ يَخْرُجَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الْبَقِيعِ بَعْدَ السَّلَامِ عَلَى رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan disunahkan baginya untuk keluar setiap hari ke Baqi’ setelah mengucapkan
salam kepada Rasulullah saw.
وَيَزُورَ
قَبْرَ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَقَبْرَ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمَا.
Dan menziarahi kubur Utsman رضي
الله عنه serta kubur Hasan bin Ali رضي الله عنهما.
وَفِيهِ
أَيْضًا قَبْرُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَمُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ وَجَعْفَرِ
بْنِ مُحَمَّدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Dan di sana juga terdapat kubur Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, dan Ja’far
bin Muhammad رضي
الله عنهم.
وَيُصَلِّي
فِي مَسْجِدِ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا.
Dan hendaklah ia salat di Masjid Fatimah رضي الله عنها.
وَيَزُورَ
قَبْرَ إِبْرَاهِيمَ ابْنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَقَبْرَ صَفِيَّةَ عَمَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan menziarahi kubur Ibrahim, putra Rasulullah saw., serta kubur Shafiyyah,
bibi Rasulullah saw.
فَذَلِكَ
كُلُّهُ بِالْبَقِيعِ.
Semua itu berada di Baqi’.
وَيُسْتَحَبُّ
لَهُ أَنْ يَأْتِيَ مَسْجِدَ قُبَاءٍ فِي كُلِّ سَبْتٍ وَيُصَلِّيَ فِيهِ.
Dan disunahkan baginya untuk mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu dan salat
di dalamnya.
لِمَا
رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ
خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَأْتِيَ مَسْجِدَ قُبَاءٍ وَيُصَلِّيَ فِيهِ كَانَ
لَهُ عَدْلُ عُمْرَةٍ.
Karena diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa keluar dari
rumahnya hingga datang ke Masjid Quba lalu salat di dalamnya, maka baginya
pahala seperti satu umrah.”
وَيَأْتِي
بِئْرَ أَرِيسٍ، يُقَالُ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَفَلَ فِيهَا، وَهِيَ عِنْدَ الْمَسْجِدِ، فَيَتَوَضَّأُ مِنْهَا وَيَشْرَبُ مِنْ
مَائِهَا.
Dan hendaklah ia mendatangi Sumur Aris. Dikatakan bahwa Nabi saw. pernah
meludah di dalamnya. Sumur itu berada dekat masjid. Maka ia berwudu darinya dan
minum dari airnya.
وَيَأْتِي
مَسْجِدَ الْفَتْحِ، وَهُوَ عَلَى الْخَنْدَقِ.
Dan hendaklah ia mendatangi Masjid Fath, yang terletak di daerah Khandaq.
وَكَذَلِكَ
يَأْتِي سَائِرَ الْمَسَاجِدِ وَالْمَشَاهِدِ.
Demikian pula ia mendatangi masjid-masjid dan tempat-tempat bersejarah lainnya.
وَيُقَالُ:
إِنَّ جَمِيعَ الْمَشَاهِدِ وَالْمَسَاجِدِ بِالْمَدِينَةِ ثَلَاثُونَ مَوْضِعًا،
يَعْرِفُهَا أَهْلُ الْبَلَدِ، فَيَقْصِدُ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ.
Dan dikatakan bahwa seluruh tempat bersejarah dan masjid di Madinah berjumlah
tiga puluh tempat, yang dikenal oleh penduduk setempat. Maka hendaklah ia
mengunjungi semampunya.
وَكَذَلِكَ
يَقْصِدُ الْآبَارَ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ مِنْهَا وَيَغْتَسِلُ وَيَشْرَبُ مِنْهَا، وَهِيَ سَبْعُ
آبَارٍ، طَلَبًا لِلشِّفَاءِ وَتَبَرُّكًا بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Demikian pula hendaklah ia mendatangi sumur-sumur yang dahulu Rasulullah saw.
berwudu, mandi, dan minum darinya. Jumlahnya ada tujuh sumur, dengan maksud
mencari kesembuhan dan mengambil berkah dari beliau saw.
وَإِنْ
أَمْكَنَهُ الْإِقَامَةُ بِالْمَدِينَةِ مَعَ مُرَاعَاةِ الْحُرْمَةِ فَلَهَا
فَضْلٌ عَظِيمٌ.
Dan jika ia mampu tinggal di Madinah dengan tetap menjaga kehormatannya, maka
bagi Madinah terdapat keutamaan yang agung.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَائِهَا وَشِدَّتِهَا
أَحَدٌ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Nabi saw. bersabda: “Tidak seorang pun bersabar atas kesempitan dan
kesulitannya, melainkan aku akan menjadi pemberi syafaat baginya pada hari
kiamat.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ
فَلْيَمُتْ، فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوتَ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا
أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Dan Nabi saw. bersabda: “Siapa yang mampu meninggal di Madinah, hendaklah ia
meninggal di sana. Karena tidaklah seseorang meninggal di sana melainkan aku
akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat.”
ثُمَّ
إِذَا فَرَغَ مِنْ أَشْغَالِهِ وَعَزَمَ عَلَى الْخُرُوجِ مِنَ الْمَدِينَةِ،
فَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يَأْتِيَ الْقَبْرَ الشَّرِيفَ وَيُعِيدَ دُعَاءَ
الزِّيَارَةِ كَمَا سَبَقَ.
Kemudian apabila ia telah selesai dari keperluannya dan bertekad untuk keluar
dari Madinah, maka yang disunahkan ialah mendatangi kubur yang mulia dan
mengulangi doa ziarah sebagaimana telah disebutkan.
وَيُوَدِّعَ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَسْأَلَ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ أَنْ يَرْزُقَهُ الْعَوْدَ إِلَيْهِ، وَيَسْأَلَ السَّلَامَةَ فِي
سَفَرِهِ.
Dan hendaklah ia berpamitan kepada Rasulullah saw., memohon kepada Allah عز وجل
agar menganugerahkan kepadanya kesempatan kembali lagi, dan memohon keselamatan
dalam perjalanannya.
ثُمَّ
يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فِي الرَّوْضَةِ الصَّغِيرَةِ، وَهِيَ مَوْضِعُ مَقَامِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ زِيدَتِ
الْمَقْصُورَةُ فِي الْمَسْجِدِ.
Kemudian ia salat dua rakaat di raudhah kecil, yaitu tempat berdirinya
Rasulullah saw. sebelum dibangun pembatas tambahan di dalam masjid.
فَإِذَا
خَرَجَ فَلْيُخْرِجْ رِجْلَهُ الْيُسْرَى أَوَّلًا ثُمَّ الْيُمْنَى.
Apabila ia keluar, hendaklah ia mengeluarkan kaki kirinya lebih dahulu,
kemudian kaki kanannya.
وَلْيَقُلْ:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَلَا تَجْعَلْهُ آخِرَ
الْعَهْدِ بِنَبِيِّكَ، وَحُطَّ أَوْزَارِي بِزِيَارَتِهِ، وَأَصْحِبْنِي فِي
سَفَرِي السَّلَامَةَ، وَيَسِّرْ رُجُوعِي إِلَى أَهْلِي وَوَطَنِي سَالِمًا، يَا
أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Dan hendaklah ia mengucapkan: “Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad
dan keluarga Muhammad. Janganlah Engkau jadikan ini sebagai pertemuan
terakhirku dengan nabi-Mu. Gugurkanlah dosa-dosaku dengan ziarah kepadanya.
Sertailah aku dalam perjalananku dengan keselamatan, dan mudahkanlah
kepulanganku kepada keluarga dan negeriku dalam keadaan selamat, wahai Yang
Maha Penyayang di antara para penyayang.”
وَلْيَتَصَدَّقْ
عَلَى جِيرَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَدَرَ
عَلَيْهِ.
Dan hendaklah ia bersedekah kepada para tetangga Rasulullah saw. sesuai dengan
kemampuannya.
وَلْيَتَتَبَّعِ
الْمَسَاجِدَ الَّتِي بَيْنَ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ فَيُصَلِّيَ فِيهَا، وَهِيَ
عِشْرُونَ مَوْضِعًا.
Dan hendaklah ia mencari masjid-masjid yang berada di antara Madinah dan Makkah
lalu salat di sana. Jumlahnya ada dua puluh tempat.