Sunah-Sunah Kembali Dari Perjalanan
فَصْلٌ فِي سُنَنِ الرُّجُوعِ مِنَ السَّفَرِ
Pasal tentang sunah-sunah kembali dari perjalanan.
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَفَلَ مِنْ غَزْوٍ أَوْ
حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ يُكَبِّرُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ شَرَفٍ مِنَ الْأَرْضِ ثَلَاثَ
تَكْبِيرَاتٍ.
Rasulullah saw., apabila kembali dari peperangan, haji, atau umrah, beliau
bertakbir tiga kali di setiap tempat tinggi di bumi.
وَيَقُولُ:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
Dan beliau mengucapkan: “Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada
sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji, dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu.”
آيِبُونَ
تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ.
“Kami kembali, kami bertobat, kami beribadah, kami bersujud, dan kami memuji
Tuhan kami.”
صَدَقَ
اللَّهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.
“Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan
golongan-golongan musuh sendirian.”
وَفِي
بَعْضِ الرِّوَايَاتِ: وَكُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ، لَهُ الْحُكْمُ
وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ.
Dan dalam sebagian riwayat disebutkan: “Dan segala sesuatu akan binasa kecuali
wajah-Nya. Milik-Nya segala keputusan, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَسْتَعْمِلَ هَذِهِ السُّنَّةَ فِي رُجُوعِهِ.
Maka sepatutnya seseorang mengamalkan sunah ini ketika ia pulang.
وَإِذَا
أَشْرَفَ عَلَى مَدِينَتِهِ يُحَرِّكُ الدَّابَّةَ وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ اجْعَلْ
لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا.
Apabila ia telah melihat kotanya, hendaklah ia mempercepat tunggangannya dan
mengucapkan: “Ya Allah, jadikanlah bagi kami di kota ini tempat tinggal yang
tetap dan rezeki yang baik.”
ثُمَّ
لِيُرْسِلْ إِلَى أَهْلِهِ مَنْ يُخْبِرُهُمْ بِقُدُومِهِ كَيْ لَا يَقْدَمَ
عَلَيْهِمْ بَغْتَةً، فَذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ.
Kemudian hendaklah ia mengirim seseorang kepada keluarganya untuk
memberitahukan kedatangannya agar ia tidak datang kepada mereka secara
tiba-tiba. Itulah sunah.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَطْرُقَ أَهْلَهُ لَيْلًا.
Dan tidak sepatutnya ia mendatangi keluarganya pada malam hari secara mendadak.
فَإِذَا
دَخَلَ الْبَلَدَ فَلْيَقْصِدِ الْمَسْجِدَ أَوَّلًا، وَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ،
فَهُوَ السُّنَّةُ.
Apabila ia telah masuk ke negerinya, hendaklah ia terlebih dahulu menuju masjid
dan salat dua rakaat. Itulah sunah.
كَذَلِكَ
كَانَ يَفْعَلُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Demikianlah yang dahulu dilakukan Rasulullah saw.
فَإِذَا
دَخَلَ بَيْتَهُ قَالَ: تَوْبًا تَوْبًا لِرَبِّنَا، أَوْبًا لَا يُغَادِرُ
عَلَيْنَا حَوْبًا.
Apabila ia masuk ke rumahnya, hendaklah ia mengucapkan: “Kami bertobat, kami
bertobat kepada Tuhan kami, kembali dengan kepulangan yang tidak menyisakan
dosa atas kami.”
فَإِذَا
اسْتَقَرَّ فِي مَنْزِلِهِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَنْسَى مَا أَنْعَمَ اللَّهُ
بِهِ عَلَيْهِ مِنْ زِيَارَةِ بَيْتِهِ وَحَرَمِهِ وَقَبْرِ نَبِيِّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Apabila ia telah menetap di rumahnya, maka tidak sepatutnya ia melupakan nikmat
yang Allah anugerahkan kepadanya berupa ziarah ke rumah-Nya, tanah haram-Nya,
dan kubur nabi-Nya saw.
فَيَكْفُرَ
تِلْكَ النِّعْمَةَ بِأَنْ يَعُودَ إِلَى الْغَفْلَةِ وَاللَّهْوِ وَالْخَوْضِ فِي
الْمَعَاصِي.
Lalu ia mengingkari nikmat itu dengan kembali kepada kelalaian, permainan, dan
terjerumus dalam kemaksiatan.
فَمَا
ذَلِكَ عَلَامَةُ الْحَجِّ الْمَبْرُورِ.
Karena yang demikian itu bukan tanda haji yang mabrur.
بَلْ
عَلَامَتُهُ أَنْ يَعُودَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ،
مُتَأَهِّبًا لِلِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ بَعْدَ لِقَاءِ الْبَيْتِ.
Akan tetapi, tandanya ialah ia pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia,
mencintai akhirat, dan bersiap-siap untuk berjumpa dengan Tuhan Pemilik Ka’bah
setelah ia berjumpa dengan Ka’bah itu sendiri.