Penjelasan Tentang Perbedaan Ilhām Dan Ta‘allum

 بَيَانُ الْفَرْقِ بَيْنَ الإِلْهَامِ وَالتَّعَلُّمِ، وَالْفَرْقِ بَيْنَ طَرِيقِ الصُّوفِيَّةِ فِي اسْتِكْشَافِ الْحَقِّ، وَطَرِيقِ النَّظَّارِ 

Penjelasan tentang perbedaan ilhām dan ta‘allum, serta perbedaan jalan para sufi dalam menyingkap kebenaran dan jalan para ahli nazar (ilmuwan rasional)

اِعْلَمْ أَنَّ الْعُلُومَ الَّتِي لَا تَكُونُ ضَرُورِيَّةً، وَإِنَّمَا تَحْصُلُ فِي الْقَلْبِ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ، تَخْتَلِفُ حَالُ حُصُولِهَا 

Ketahuilah bahwa ilmu-ilmu yang tidak bersifat darurat, tetapi muncul di dalam hati pada sebagian keadaan, cara turunnya berbeda-beda

فَتَارَةً تَهْجُمُ عَلَى الْقَلْبِ كَأَنَّهَا أُلْقِيَتْ فِيهِ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي 

Kadang ia menyerbu hati seolah-olah dilemparkan ke dalamnya tanpa ia mengetahui dari mana

وَتَارَةً تُكْتَسَبُ بِطَرِيقِ الِاسْتِدْلَالِ وَالتَّعَلُّمِ 

Dan kadang ia diperoleh lewat istidlal (penalaran) dan ta‘allum (belajar)

فَالَّذِي يَحْصُلُ لَا بِطَرِيقِ الْاِكْتِسَابِ حِيلَةُ الدَّلِيلِ يُسَمَّى إِلْهَامًا 

Yang diperoleh bukan lewat ikhtiar belajar dan “upaya dalil”, disebut ilhām

وَالَّذِي يَحْصُلُ بِالِاسْتِدْلَالِ يُسَمَّى اعْتِبَارًا وَاسْتِبْصَارًا 

Sedangkan yang diperoleh lewat istidlal disebut i‘tibār dan istibṣār

ثُمَّ الْوَاقِعُ فِي الْقَلْبِ بِغَيْرِ حِيلَةِ تَعَلُّمٍ وَاجْتِهَادٍ مِنَ الْعَبْدِ يَنْقَسِمُ 

Lalu apa yang jatuh di dalam hati tanpa helah belajar dan usaha dari si hamba terbagi

إِلَى مَا لَا يَدْرِي الْعَبْدُ كَيْفَ حَصَلَ لَهُ وَمِنْ أَيْنَ حَصَلَ 

kepada perkara yang si hamba tidak tahu bagaimana ia datang dan dari mana ia datang

وَإِلَى مَا يَطْلُعُ مَعَهُ عَلَى السَّبَبِ الَّذِي مِنهُ اسْتَفَادَ ذٰلِكَ الْعِلْمَ 

dan kepada perkara yang membuatnya melihat sebab yang darinya ia memperoleh ilmu itu

وَهُوَ مُشَاهَدَةُ الْمَلَكِ الْمُلْقَى فِي الْقَلْبِ 

yaitu menyaksikan malaikat yang melemparkan (ilmu) ke dalam hati

فَالأَوَّلُ يُسَمَّى إِلْهَامًا وَنَفْثًا فِي الرَّوْعِ 

Yang pertama disebut ilhām dan nafth (hembusan) ke dalam ar-rau‘ (lubuk/jiwa)

وَالثَّانِي يُسَمَّى وَحْيًا وَتَخْتَصُّ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ 

Yang kedua disebut wahyu dan khusus bagi para nabi

وَالأَوَّلُ يَخْتَصُّ بِهِ الْأَوْلِيَاءُ وَالْأَصْفِيَاءُ 

Adapun yang pertama dikhususkan bagi para wali dan orang-orang pilihan

وَالَّذِي قَبْلَهُ، الْمُكْتَسَبُ بِطَرِيقِ الِاسْتِدْلَالِ، يَخْتَصُّ بِهِ الْعُلَمَاءُ 

Sedangkan yang diperoleh lewat istidlal menjadi kekhususan para ulama

وَحَقِيقَةُ الْقَوْلِ فِيهِ أَنَّ الْقَلْبَ مُسْتَعِدٌّ لِأَنْ تَنْجَلِيَ فِيهِ حَقِيقَةُ الْحَقِّ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا 

Hakekatnya: hati siap agar hakikat kebenaran terbuka di dalamnya pada segala perkara

وَإِنَّمَا حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا بِالأَسْبَابِ الْخَمْسَةِ الَّتِي سَبَقَ ذِكْرُهَا 

Namun yang menghalanginya ada lima sebab yang telah disebut sebelumnya

فَهِيَ كَالْحِجَابِ الْمُسْدَلِ حَائِلًا بَيْنَ مِرْآةِ الْقَلْبِ وَبَيْنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ 

Seperti tirai yang terbentang menghalangi cermin hati dengan Lauh Mahfūẓ

الَّذِي هُوَ مَنْقُوشٌ بِجَمِيعِ مَا قَضَى اللَّهُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ 

yang di atasnya tertulis seluruh ketentuan Allah sampai hari kiamat

وَتَجَلِّي حَقَائِقِ الْعِلْمِ مِنْ مِرْآةِ اللَّوْحِ فِي مِرْآةِ الْقَلْبِ 

Terbukanya hakikat-hakikat ilmu dari cermin Lauh ke cermin hati

يُضَاهِي انْطِبَاعَ صُورَةٍ فِي مِرْآةٍ مُقَابِلَتِهَا 

mirip pantulnya sebuah gambar pada cermin yang berhadapan

وَالْحِجَابُ بَيْنَ الْمِرْآتَيْنِ تَارَةً يُزَالُ بِالْيَدِّ 

Tirai antara dua cermin kadang lenyap dengan tangan

وَأُخْرَى يَزُولُ بِهُبوبِ الرِّيَاحِ تُحَرِّكُهُ 

dan kadang lenyap karena angin yang menggerakkannya

وَقَدْ تَهُبُّ رِيَاحُ الأَلْطَافِ 

Kadang pula berhembus angin kelembutan

وَتَنْكَشِفُ الْحُجُبُ عَنْ أَعْيُنِ الْقُلُوبِ 

dan hijab menyingkap dari penglihatan hati

فَيَنْجَلِي فِيهَا بَعْضُ مَا هُوَ مَسْطُورٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ 

maka tampak di sana sebagian yang tertulis dalam Lauh Mahfūẓ

وَيَكُونُ ذٰلِكَ تَارَةً عِنْدَ الْمَنَامِ 

Hal itu kadang ketika tidur

فَيَعْلَمُ بِمَا يَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ 

lalu ia mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan

وَتَمَامُ ارْتِفَاعِ الْحِجَابِ بِالْمَوْتِ 

dan hilangnya hijab secara sempurna terjadi dengan kematian

فَبِهِ يَنْكَشِفُ الْغِطَاءُ 

maka sampailah tersingkapnya tabir

وَإِذَا هُوَ فِي الْيَقَظَةِ 

Dan juga pada saat sadar

حَتَّى يَرْتَفِعَ الْحِجَابُ بِلُطْفٍ خَفِيٍّ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى 

hingga hijab terangkat dengan kelembutan yang halus dari Allah Ta‘ālā

فَيُلْمَعُ فِي الْقُلُوبِ مِنْ وَرَاءِ سَتْرِ الْغَيْبِ شَيْءٌ مِنْ غَرَائِبِ الْعِلْمِ 

lalu berkilau dalam hati dari balik tirai yang ghaib sesuatu dari keajaiban ilmu

تَارَةً كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ 

kadang seperti kilat yang cepat menyambar

وَأُخْرَى عَلَى التَّوَالِي إِلَى حَدٍّ مَا 

dan kadang berturut-turut sampai batas tertentu

وَأَنَّهُ نَادِرٌ جِدًّا 

dan durasinya sangat jarang

لَمْ يُفَارِقِ الإِلْهَامُ الِاكْتِسَابَ فِي نَفْسِ الْعِلْمِ وَلَا فِي مَحَلِّهِ وَلَا فِي سَبَبِهِ 

Ilhām tidak berbeda dengan ikhtisāb (pengambilan lewat usaha) dalam hakikat ilmu itu, tempatnya, dan sebabnya

وَإِنَّمَا يُفَارِقُهُ مِنْ جِهَةِ زَوَالِ الْحِجَابِ 

Perbedaannya hanya karena lenyapnya hijab

فَذٰلِكَ لَيْسَ بِاخْتِيَارِ الْعَبْدِ 

itu bukan pilihan hamba

وَلَمْ يُفَارِقِ الْوَحْيُ الإِلْهَامَ فِي شَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ 

dan wahyu tidak berbeda dari ilhām dalam hal itu

بَلْ فِي مُشَاهَدَةِ الْمَلَكِ الْمُفِيدِ لِلْعِلْمِ 

bahkan bedanya pada menyaksikan malaikat yang memberi ilmu

فَإِنَّ الْعِلْمَ إِنَّمَا يَحْصُلُ فِي قُلُوبِنَا بِوَاسِطَةِ الْمَلَائِكَةِ 

Sebab ilmu hanya terjadi dalam hati kita lewat perantaraan malaikat

وَإِلَى ذٰلِكَ أَشَارَ تَعَالَى فِي قَوْلِهِ: وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يَرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِي بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ 

Dan kepada itu Allah Ta‘ālā memberi isyarat: “Tidak ada seorang manusia pun yang Allah ajak berbicara kecuali lewat wahyu, atau dari balik hijab, atau dengan mengutus seorang rasul; lalu rasul itu menyampaikan wahyu dengan izin-Nya sesuai apa yang Dia kehendaki.”

فَإِذَا عَرَفْتَ هٰذَا فَاعْلَمْ أَنَّ مَيْلَ أَهْلِ التَّصَوُّفِ إِلَى الْعُلُومِ الإِلْهَامِيَّةِ دُونَ التَّعْلِيمِيَّةِ 

Jika engkau sudah tahu ini, maka ketahuilah bahwa kecenderungan ahli tasawuf kepada ilmu-ilmu ilhām, bukan kepada ilmu yang dipelajari lewat pengajaran

فَلِذٰلِكَ لَمْ يَحْرِصُوا عَلَى دِرَاسَةِ الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِ مَا صَنَّفَهُ الْمُصَنِّفُونَ 

Karena itu mereka tidak begitu bersemangat mengkaji ilmu, dan mengumpulkan apa yang disusun para penulis

وَلَا عَلَى الْبَحْثِ عَنْ الأَقَاوِيلِ وَالأَدِلَّةِ 

dan tidak pula membahas pendapat serta dalil-dalil

بَلْ قَالُوا: الطَّرِيقُ تَقْدِيمُ الْمُجَاهَدَةِ وَمَحْوُ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ 

Namun mereka berkata: jalan adalah mendahulukan mujahādah, menghapus sifat-sifat tercela

وَقَطْعُ الْعَلَائِقِ كُلِّهَا 

dan memutus seluruh keterikatan

وَالِإِقْبَالُ بِكُنْهِ الْهُمَّةِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى 

menghadap sepenuhnya dengan hakikat resolve kepada Allah Ta‘ālā

وَمَهْمَا حَصَلَ ذٰلِكَ فَاللَّهُ هُوَ الْمُتَوَلِّي لِقَلْبِ عَبْدِهِ 

Dan apa pun yang terjadi karena itu, Allah sendiri yang menjadi pengurus hati hamba-Nya

وَالْمُتَكَفِّلُ لَهُ بِتَنْوِيرِهِ بِأَنْوَارِ الْعِلْمِ 

Allah yang menjamin penerangannya dengan cahaya ilmu

فَإِذَا تَوَلَّى اللَّهُ أَمْرَ الْقَلْبِ 

Jika Allah mengurus hati

فَاضَتْ عَلَيْهِ الرَّحْمَةُ 

maka rahmat melimpahinya

وَأَشْرَقَ النُّورُ فِي الْقَلْبِ 

dan cahaya menyala di dalam hati

وَانْشَرَحَ الصَّدْرُ 

dan dada menjadi lapang

وَانْكَشَفَ لَهُ سِرُّ الْمَلَكُوتِ 

dan tersingkap rahasia malakut

وَانْقَشَعَ عَنْ وَجْهِ الْقَلْبِ حِجَابُ الْغِرَّةِ 

serta hilang dari wajah hati hijab kesalahpahaman

بِلُطْفِ الرَّحْمَةِ 

dengan kelembutan rahmat

وَتَلَأْلَأَتْ فِيهِ حَقَائِقُ الأُمُورِ الإِلٰهِيَّةِ 

dan hakikat-hakikat perkara ilahi menjadi berkilau di dalamnya

فَلَيْسَ عَلَى الْعَبْدِ إِلَّا الِاسْتِعْدَادُ بِالتَّصْفِيَةِ الْمُجَرَّدَةِ 

Maka yang tersisa bagi hamba hanyalah bersiap dengan penyucian yang murni

وَإِحْضَارُ الْهُمَّةِ مَعَ الْإِرَادَةِ الصَّادِقَةِ 

menghadirkan resolve bersama kehendak yang benar

وَالتَّعَشُّقُ التَّامُّ 

dan rasa haus yang sempurna

وَالتَّرَصُّدُ بِدَوَامِ الانتِظَارِ لِمَا يَفْتَحُهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ رَحْمَتِهِ 

serta bersiap dengan selalu menanti apa yang Allah Ta‘ālā buka berupa rahmat

فَالْأَنْبِيَاءُ وَالأَوْلِيَاءُ انْكَشَفَ لَهُمُ الأَمْرُ 

Para nabi dan wali telah tersingkap bagi mereka perkara itu

وَفَاضَ عَلَى صُدُورِهِمُ النُّورُ 

lalu cahaya melimpah ke dada-dada mereka

لَا بِالتَّعَلُّمِ وَالدِّرَاسَةِ وَالْكِتَابَةِ لِلْكُتُبِ 

bukan karena belajar, mengkaji, dan menulis kitab

بَلْ بِالزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا 

tetapi karena zuhud kepada dunia

وَالتَّبَرِّي مِنْ عَلَائِقِهَا 

dan memutus keterikatannya

وَتَفْرِيغِ الْقَلْبِ مِنْ شَوَاغِلِهَا 

serta mengosongkan hati dari kesibukan-kesibukannya

وَالِإِقْبَالِ بِكُنْهِ الْهُمَّةِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى 

dan menghadapkan seluruh hakikat resolve kepada Allah Ta‘ālā

مَنْ كَانَ لِلَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ لَهُ 

Barang siapa (urusannya) karena Allah, maka Allah pun bersamanya

وَزَعَمُوا أَنَّ الطَّرِيقَ فِي ذٰلِكَ أَوَّلًا بِانْقِطَاعِ عَلَائِقِ الدُّنْيَا بِالْكُلِّيَّةِ 

Mereka menyangka bahwa jalan itu mula-mula adalah memutus seluruh keterikatan dunia secara total

وَتَفْرِيغِ الْقَلْبِ مِنْهَا 

mengosongkan hati darinya

وَقَطْعِ الْهُمَّةِ عَنْ الأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ وَالْوَطَنِ 

dan memutus resolve dari keluarga, harta, anak, dan kampung

وَعَنْ الْعِلْمِ وَالْوِلَايَةِ وَالْجَاهِ 

dan dari ilmu, wilayah (kewalian), dan kehormatan/jabatan

حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ فِي حَالَةٍ يَسْتَوِي فِيهَا وُجُودُ كُلِّ شَيْءٍ وَعَدَمُهُ 

hingga hatinya berada pada keadaan yang menyamakan antara adanya segala sesuatu dan tiadanya

ثُمَّ يَخْلُو بِنَفْسِهِ فِي زَاوِيَةٍ 

lalu ia menyendiri di sudut tertentu

مُقْتَصِرًا عَلَى الْفَرَائِضِ وَالرَّوَاتِبِ 

dengan membatasi pada yang wajib dan sunnah-sunnah rawatib

وَيَجْلِسُ فَارِغَ الْقَلْبِ مَجْمُوعَ الْهُمِّ 

duduk dengan hati kosong dan resolve terkumpul

لَا يُفَرِّقُ فِكْرَهُ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ 

tidak ia pecah-pecah pikirannya dengan membaca Al-Qur’an

وَلَا بِالتَّأَمُّلِ فِي تَفْسِيرٍ 

dan tidak merenung dalam kitab tafsir

وَلَا بِكُتُبِ حَدِيثٍ 

juga tidak pada kitab hadis

وَلَا غَيْرِ ذٰلِكَ 

dan selain itu

بَلْ يَجْتَهِدُ أَنْ لَا يَخْطُرَ بِبَالِهِ شَيْءٌ إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى 

bahkan ia bersungguh-sungguh agar tidak terlintas di pikirannya apa pun selain Allah Ta‘ālā

فَلَا يَزَالُ بَعْدَ جُلُوسِهِ فِي الْخَلْوَةِ قَائِلًا بِلِسَانِهِ: اللَّهُ اللَّهُ عَلَى الدَّوَامِ 

Setelah duduk dalam khalwat, ia terus-menerus menyebut dengan lisannya: “Allah… Allah…” selamanya

مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ 

dengan menghadirkan hati

حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَالٍ يَدَعُ تَحْرِيكَ اللِّسَانِ 

hingga ia mencapai keadaan meninggalkan menggerakkan lidahnya

وَيَرَى كَأَنَّ الْكَلِمَةَ تَجْرِي عَلَى لِسَانِهِ 

ia melihat seolah kalimat itu mengalir di lisannya sendiri

ثُمَّ يُصَبِّرُ عَلَيْهِ إِلَى أَنْ يَمْحُوَ أَثَرَهُ عَنِ اللِّسَانِ 

kemudian ia teruskan sampai bekasnya hilang dari lidah

وَيَصَادِفُ قَلْبَهُ مُوَاظِبًا عَلَى الذِّكْرِ 

dan ia mendapati hatinya menjaga dzikir

ثُمَّ يُوَاظِبُ عَلَيْهِ إِلَى أَنْ يَمْحُوَ عَنِ الْقَلْبِ صُورَةَ اللَّفْظِ 

lalu ia teruskan hingga gambaran lafaz, huruf-hurufnya

وَحُرُوفِهِ وَهَيْئَةِ الْكَلِمَةِ 

dan bentuk kalimat itu hilang dari hati

وَيَبْقَى مَعْنَى الْكَلِمَةِ مُجَرَّدًا 

tinggallah makna kalimat itu semata

فِي قَلْبِهِ حَاضِرًا فِيهِ 

hadir di dalam hatinya

كَأَنَّهُ لَازِمٌ لَهُ لَا يَفَارِقُهُ 

seakan menjadi sesuatu yang melekat padanya, tidak berpisah darinya

إِلَى أَنْ يَنْتَهِيَ إِلَى هٰذَا الْحَدِّ 

hingga sampai ke batas ini

وَاخْتِيَارُهُ فِي اسْتِدَامَةِ هٰذِهِ الْحَالَةِ 

Pilihan satu-satunya dalam menjaga keadaan ini

دَفْعُ الْوَسْوَاسِ 

adalah mendorong waswas

وَلَيْسَ لَهُ اخْتِيَارٌ فِي اسْتِجْلَابِ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى 

sedangkan ia tidak punya pilihan untuk mendatangkan rahmat Allah Ta‘ālā

بَلْ هُوَ بِمَا فَعَلَ صَارَ مُتَعَرِّضًا لِنَفَحَاتِ رَحْمَتِهِ 

tetapi dengan apa yang ia lakukan, ia menjadi sasaran hembusan rahmat-Nya

فَلَا يَبْقَى إِلَّا الانتِظَارُ لِمَا يَفْتَحُ اللَّهُ مِنَ الرَّحْمَةِ 

maka tidak tersisa selain menanti apa yang Allah buka berupa rahmat

كَمَا فَتَحَهَا عَلَى الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ بِهٰذِهِ الطَّرِيقَةِ 

sebagaimana Dia buka kepada para nabi dan wali dengan jalan ini

عِنْدَ ذٰلِكَ إِذَا صَدَقَتْ إِرَادَتُهُ وَصَفَتْ هِمَّتُهُ 

ketika itu, jika keinginannya benar, resolve-nya bersih,

وَحَسُنَتْ مُوَاظَبَتُهُ 

dan terhitung baik dalam menjaga rutinitasnya

فَلَمْ تُجَاذِبْهُ شَهَوَاتُهُ 

maka syahwat tidak akan menggiringnya

وَلَمْ يُشْغِلْهُ حَدِيثُ النَّفْسِ بِعَلَائِقِ الدُّنْيَا 

dan bisikan nafsu tidak akan menyibukkannya dengan keterikatan dunia

تَلْمَعُ لَوَامِعُ الْحَقِّ فِي قَلْبِهِ 

maka kilatan-kilatan kebenaran akan berkilau di dalam hatinya

وَيَكُونُ فِي ابْتِدَائِهِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ 

dan pada permulaannya seperti kilat yang menyambar

لَا يَثْبُتُ ثُمَّ يَعُودُ 

tidak menetap, lalu kembali

وَقَدْ يَتَأَخَّرُ 

bisa juga terlambat

وَإِنْ عَادَ فَقَدْ يَثْبُتُ 

dan jika kembali, bisa jadi menetap

وَقَدْ يَكُونُ مُخْتَطَفًا 

kadang hanya menyambar sebentar

وَإِنْ ثَبَتَ قَدْ يَطُولُ ثُبُوتُهُ وَقَدْ لَا يَطُولُ 

jika menetap bisa panjang, bisa juga tidak panjang

وَقَدْ يَتَظَاهَرُ أَمْثَالُهُ عَلَى التَّلَاحُقِ 

dan bisa muncul yang serupa berturut-turut

وَقَدْ يَقْتَصِرُ عَلَى فَنٍّ وَاحِدٍ 

atau hanya terbatas pada satu bentuk

وَمَنَازِلُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فِيهَا لَا تُحْصَى 

maqām-maqām wali Allah di dalamnya tidak terhitung

كَمَا لَا تُحْصَى تَفَاوُتَ خَلْقِهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ 

sebagaimana tidak terhitung perbedaan penciptaan dan akhlak mereka

وَقَدْ رَجَعَ هٰذَا الطَّرِيقُ إِلَى تَطْهِيرٍ مَحْضٍ مِنْ جَانِبِكَ 

Dan jalan ini kembali kepada penyucian murni dari sisi kamu

وَتَصْفِيَةٍ وَجَلَاءٍ 

penyaringan dan kejernihan

ثُمَّ اسْتِعْدَادٍ وَانْتِظَارٍ فَقَطْ 

lalu kesiapan dan menunggu saja

وَأَمَّا النَّظَّارُ وَذَوُو الْاِعْتِبَارِ 

Adapun para ahli nazar dan orang-orang yang mengambil i‘tibār

فَلَمْ يَنْكُرُوا وُجُودَ هٰذَا الطَّرِيقِ 

mereka tidak mengingkari adanya jalan ini

وَإِمْكَانَ إِفْضَائِهِ إِلَى هٰذَا الْمَقْصِدِ عَلَى النُّدُورِ 

dan kemungkinan ia mengantarkan ke tujuan ini pada kelangkaan

وَإِنَّهُ أَكْثَرُ أَحْوَالِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ 

meski kebanyakan keadaan para nabi dan wali

ولكن اسْتَعْوَرَّ هٰذَا الطَّرِيقُ 

namun jalan ini menjadi sulit

وَاسْتَبْطَؤُوا ثَمَرَتَهُ 

dan mereka menilai buahnya lambat

وَاسْتَبْعَدُوا اسْتِجْمَاعَ شُرُوطِهِ 

serta mereka jauh untuk mengumpulkan seluruh syaratnya

وَزَعَمُوا أَنَّ مَحْوَ الْعَلَائِقِ إِلَى هٰذَا الْحَدِّ كَالْمُتَعَذِّرِ 

mereka beranggapan menghapus keterikatan sampai batas sedemikian seperti mustahil

وَإِنْ حَصَلَ فِي حَالٍ فَثَبَاتُهُ أَبْعَدُ 

dan jika itu terjadi pada satu keadaan, menetapnya lebih jauh lagi

إِذْ أَدْنَى وَسْوَاسٍ وَخَاطِرٍ يُشَوِّشُ الْقَلْبَ 

karena waswas yang paling ringan dan pikiran yang lintas bisa mengganggu hati

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَلْبُ الْمُؤْمِنِ أَشَدُّ تَقَلُّبًا مِنَ الْقَدَرِ فِي غِلْيَانِهَا 

Rasulullah bersabda: “Hati orang mukmin lebih cepat berubah-ubah daripada kuali/takdir yang mendidih.” (1)

أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ 

Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Hākim

وَقَالَ: قَلْبُ الْمُؤْمِنِ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ 

Dan beliau juga bersabda: “Hati orang mukmin berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Raḥmān.”

أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ 

Diriwayatkan oleh Muslim dari hadis Abdullah bin Umar (3)

وَفِي أَثْنَاءِ هٰذِهِ الْمُجَاهَدَةِ قَدْ يَفْسُدُ الْمِزَاجُ 

Dalam proses mujahādah ini bisa saja temperamen menjadi rusak

وَيَخْتَلِطُ الْعَقْلُ 

akal pun bercampur

وَيَمْرَضُ الْبَدَنُ 

dan tubuh menjadi sakit

وَإِذَا لَمْ تَتَقَدَّمْ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَهْذِيبُهَا بِحَقَائِقِ الْعُلُومِ 

dan jika latihan jiwa serta penjernihannya dengan hakikat-hakikat ilmu belum didahulukan

نَشِبَتْ بِالْقَلْبِ خَيَالَاتٌ فَاسِدَةٌ 

maka akan menempel di hati khayalan-khayalan yang rusak

تَطْمَئِنُّ النَّفْسُ إِلَيْهَا مُدَّةً طَوِيلَةً 

jiwa merasa tenang kepadanya untuk waktu yang lama

إِلَى أَنْ يَزُولَ وَيَنْقَضِيَ الْعُمُرُ قَبْلَ النَّجَاحِ فِيهَا 

hingga hilang, dan umur pun habis sebelum berhasil memperbaikinya

فَكَمْ مِنْ صُوفِيٍّ سَلَكَ هٰذَا الطَّرِيقَ 

betapa banyak sufi yang menempuh jalan ini

ثُمَّ بَقِيَ فِي خَيَالٍ وَاحِدٍ عِشْرِينَ سَنَةً 

lalu ia bertahan dalam satu khayalan saja selama dua puluh tahun

وَلَوْ كَانَ قَدْ أَتْقَنَ الْعِلْمَ مِنْ قَبْلُ 

seandainya ia sejak awal telah menguasai ilmu,

لانْفَتَحَ لَهُ وَجْهُ لَبَاسِ ذٰلِكَ الْخَيَالِ فِي الْحَالِ 

niscaya terbuka baginya wajah kesamaran khayalan itu saat ia terjadi

فَالِاشْتِغَالُ بِطَرِيقِ التَّعَلُّمِ أَوْثَقُ وَأَقْرَبُ إِلَى الْغَرَضِ 

maka belajar menempuh jalan itu lebih kuat dan lebih dekat kepada tujuan

وَزَعَمُوا أَنَّ ذٰلِكَ يُضَاهِي مَا لَوْ تَرَكَ الْإِنْسَانُ تَعَلُّمَ الْفِقْهِ 

mereka menganggap itu sama seperti orang yang meninggalkan belajar fikih

وَزَعَمُوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَتَعَلَّمْ ذٰلِكَ 

dan mereka berkata bahwa Nabi tidak mempelajarinya

فَصَارَ فَقِيهًا بِالْوَحْيِ وَالإِلْهَامِ مِنْ غَيْرِ تَكْرِيرٍ وَتَعْلِيقٍ 

lalu beliau menjadi faqih karena wahyu dan ilhām tanpa pengulangan dan pengarahan

وَأَنَا أَيْضًا رُبَّمَا انْتَهَتْ بِي الرِّيَاضَةُ وَالْمُوَاظَبَةُ إِلَيْهِ 

aku juga mungkin telah mencapai itu lewat latihan dan penjagaan (rutinitas)

فَمَنْ ظَنَّ ذٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَضَيَّعَ عُمُرَهُ 

maka siapa yang menyangka seperti itu, ia telah menzalimi dirinya dan menyia-nyiakan umurnya

بَلْ هُوَ كَمَنْ يَتْرُكُ طَرِيقَ الْكَسْبِ وَالْحِرَاثَةِ رَجَاءَ الْعُثُورِ عَلَى كَنْزٍ مِنَ الْكُنُوزِ 

bahkan ia seperti orang yang meninggalkan usaha dan bercocok-cocok demi berharap menemukan harta karun

فَإِنَّ ذٰلِكَ مُمْكِنٌ وَلٰكِنْ بَعِيدٌ جِدًّا 

itu mungkin, tetapi sangat jauh

فَكَذٰلِكَ هٰذَا 

Begitulah juga pandangan itu

فَقَالُوا: لَا بَدَّ أَوَّلًا مِنْ تَحْصِيلِ مَا حَصَلَ لَدَى الْعُلَمَاءِ 

mereka berkata: pertama-tama harus mengupayakan apa yang telah diperoleh para ulama

وَفَهْمِ مَا قَالُوهُ 

lalu memahami apa yang mereka katakan

ثُمَّ لَا بَأْسَ بَعْدَ ذٰلِكَ بِالِانْتِظَارِ لِمَا لَمْ يَنْكَشِفْ لِسَائِرِ الْعُلَمَاءِ 

setelah itu tidak masalah menunggu apa yang belum terbuka bagi ulama lain

فَعَسَاهُ يَنْكَشِفُ بَعْدَ ذٰلِكَ بِالْمُجَاهَدَةِ 

mungkin setelah itu terbuka lewat mujahādah