Penjelasan Tentang Keadaan Hati, Ditinjau Dari Bagian-Bagian Ilmu
بَيَانُ حَالِ الْقَلْبِ بِالإِضَافَةِ إِلَى أَقْسَامِ الْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ وَالدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ
Penjelasan tentang keadaan hati, ditinjau dari bagian-bagian
ilmu: ilmu akal, ilmu agama, ilmu dunia, dan ilmu akhirat
اِعْلَمْ
أَنَّ الْقَلْبَ بِغَرِيزَتِهِ مُسْتَعِدٌّ لِقَبُولِ حَقَائِقِ الْمَعْلُومَاتِ
كَمَا سَبَقَ
Ketahuilah bahwa hati, dengan tabiatnya, siap menerima
hakikat-hakikat yang diketahui, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya
وَلٰكِنَّ
الْعُلُومَ الَّتِي تَحُلُّ فِيهِ تَنْقَسِمُ إِلَى عَقْلِيَّةٍ وَإِلَى
شَرْعِيَّةٍ
Namun ilmu-ilmu yang menempati hati terbagi menjadi ilmu
akal dan ilmu syariat
وَالْعَقْلِيَّةُ
تَنْقَسِمُ إِلَى ضَرُورِيَّةٍ وَمُكْتَسَبَةٍ
Ilmu akal terbagi menjadi yang darurat (pasti sejak awal)
dan yang diperoleh (mendapat melalui proses)
وَالْمُكْتَسَبَةُ
إِلَى دُنْيَوِيَّةٍ وَأُخْرَوِيَّةٍ
Dan ilmu yang diperoleh terbagi menjadi ilmu dunia dan ilmu
akhirat
أَمَّا
الْعَقْلِيَّةُ فَنَعْنِي بِهَا مَا تَقْضِي بِهِ غَرِيزَةُ الْعَقْلِ
Adapun ilmu akal yang dimaksud adalah apa yang diputuskan
oleh tabiat akal
وَلَا
تَوْجَدُ بِالتَّقْلِيدِ وَالسَّمَاعِ
Ilmu ini tidak muncul dari taqlid dan tidak muncul dari
sekadar mendengar
وَهِيَ
تَنْقَسِمُ إِلَى ضَرُورِيَّةٍ
Ilmu itu terbagi menjadi bagian darurat
لَا
يَدْرِي مِنْ أَيْنَ حَصَلَتْ وَكَيْفَ حَصَلَتْ
Yang pelakunya tidak tahu dari mana ia diperoleh dan
bagaimana ia terjadi
كَعِلْمِ
الإِنْسَانِ أَنَّ الشَّخْصَ الْوَاحِدَ لَا يَكُونُ فِي مَكَانَيْنِ
Seperti ilmu manusia bahwa satu pribadi tidak mungkin berada
di dua tempat
وَأَنَّ
الشَّيْءَ الْوَاحِدَ لَا يَكُونُ حَادِثًا قَدِيمًا مَوْجُودًا مَعْدُومًا مَعًا
dan bahwa satu perkara tidak bisa sekaligus: baru dan kekal,
ada dan tidak ada
فَإِنَّ
هٰذِهِ عُلُومٌ يَجِدُ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ مُفْطُورًا عَلَيْهَا
Sebab itu adalah ilmu yang manusia mendapati dirinya telah
diciptakan bersamanya sejak kecil
وَلَا
يَدْرِي مَتَى حَصَلَ لَهُ هٰذَا الْعِلْمُ
Dan ia tidak tahu kapan ilmu itu terjadi padanya
وَلَا
مِنْ أَيْنَ حَصَلَ لَهُ
dan tidak tahu dari mana ia mendapatnya
أَعْنِي
أَنَّهُ لَا يَدْرِي لَهُ سَبَبًا قَرِيبًا
Maksudnya ia tidak tahu sebab yang dekatnya
وَإِلَّا
فَلَيْسَ يَخْفَى عَلَيْهِ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي خَلَقَهُ وَهَدَاهُ
Namun jika demikian, tidak samar baginya bahwa Allah-lah
yang menciptakan dan memberi petunjuk kepadanya
وَإِلَى
عُلُومٍ مُكْتَسَبَةٍ
Dan kepada ilmu-ilmu yang diperoleh
وَهِيَ
الْمُسْتَفَادَةُ بِالتَّعَلُّمِ وَالِاسْتِدْلَالِ
yaitu yang didapat melalui belajar dan
argumentasi/penalaran
وَكِلَا
الْقِسْمَيْنِ قَدْ يُسَمَّى عَقْلًا
Dan kedua bagian ini bisa disebut “akal”
قَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Kata Ali radhiyallāhu ‘anhu
رَأَيْتُ
الْعَقْلَ عَقْلَيْنِ … فَمَطْبُوعٌ وَمَسْمُوعٌ
“Aku melihat akal itu dua macam… ada yang bawaan, dan ada
yang didengar”
وَلَا
يَنْفَعُ مَسْمُوعٌ … إِذَا لَمْ يَكُنْ مَطْبُوعًا
“Tidak bermanfaat yang didengar bila tidak ada yang
bawaan”
كَمَا
لَا تَنْفَعُ الشَّمْسُ … ضَوْءُ الْعَيْنِ مَمْنُوعٌ
“Seperti matahari tidak bermanfaat bila cahaya mata
terhalang”
وَالْأَوَّلُ
هُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ
Yang pertama dimaksud dengan sabda Nabi ﷺ kepada Ali
«مَا
خَلَقَ اللهُ خَلْقًا أَكْرَمَ عَلَيْهِ مِنَ الْعَقْلِ»
“Tidak ada makhluk yang Allah ciptakan lebih mulia daripada
akal” (1)
(1) حَدِيثٌ
(1) Hadis
وَالثَّانِي
هُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ
Dan yang kedua dimaksud dengan sabda Nabi ﷺ kepada Ali
«إِذَا
تَقَرَّبَ النَّاسُ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِأَنْوَاعِ الْبِرِّ فَتَقَرَّبْ أَنْتَ
بِعَقْلِكَ»
“Jika manusia mendekat kepada Allah Ta‘ālā dengan berbagai
macam kebaikan, maka engkau mendekatlah dengan akalmu” (2)
(2) حَدِيثٌ
(2) Hadis
إِذْ
لَا يُمْكِنُ التَّقَرُّبُ بِالْغَرِيزَةِ الْفِطْرِيَّةِ وَلَا بِالْعُلُومِ
الضَّرُورِيَّةِ
Sebab mendekat tidak mungkin dilakukan dengan tabiat bawaan
dan tidak mungkin dengan ilmu-ilmu darurat
بَلْ
بِالْمُكْتَسَبَةِ
Melainkan dengan ilmu yang diperoleh
وَمَثَّلَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِمَنْ يَقْدِرُ عَلَى التَّقَرُّبِ بِاسْتِعْمَالِ
الْعَقْلِ
Ali radhiyallāhu ‘anhu membuat perumpamaan tentang orang
yang mampu mendekat dengan memakai akal
فِي
اقْتِنَاصِ الْعُلُومِ الَّتِي بِهَا يُنَالُ الْقُرْبُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
untuk menangkap ilmu-ilmu yang dengannya seseorang meraih
kedekatan dengan Rabb semesta alam
فَالْقَلْبُ
جَارِي مَجْرَى الْعَيْنِ
Hati itu ibarat mata
وَغَرِيزَةُ
الْعَقْلِ فِيهِ جَارِيَةٌ مَجْرَى قُوَّةِ الْبَصَرِ فِي الْعَيْنِ
Dan tabiat akal di dalamnya bekerja seperti kekuatan
penglihatan di mata
وَقُوَّةُ
الإِبْصَارِ لَطِيفَةٌ تَفْقِدُ فِي الْعُمْيِ وَتُوجَدُ فِي الْبَصَرِ
Kekuatan melihat adalah halus; ia hilang saat buta, dan
muncul saat mata melihat
وَإِنْ
كَانَ قَدْ غَمَضَ عَيْنَهُ أَوْ جَنَّهُ اللَّيْلُ
Sementara pun bila ia menutup matanya atau malam
menyelimutinya
فَالْعِلْمُ
الْحَاصِلُ مِنْهُ فِي الْقَلْبِ جَارِي مَجْرَى قُوَّةِ إِدْرَاكِ الْبَصَرِ فِي
الْعَيْنِ
Ilmu yang timbul darinya di dalam hati bekerja seperti
kekuatan menangkap (pemahaman penglihatan) pada mata
وَرُؤْيَتِهِ
لِأَعْيَانِ الْأَشْيَاءِ
dan melihatnya terhadap ‘ain-‘ain (wujud-wujud) benda
وَتَأَخُّرُ
الْعُلُومِ عَنْ عَيْنِ الْعَقْلِ إِلَى مُدَّةِ الصِّبَا إِلَى أَوَانِ
التَّمْيِيزِ أَوِ الْبُلُوغِ
Tertundanya ilmu dari mata akal sampai masa kecil dan sampai
datangnya waktu membedakan atau balig
يُضَاهِي
تَأَخُّرَ الرُّؤْيَةِ عَنْ الْبَصَرِ إِلَى أَوَانِ إِشْرَاقِ الشَّمْسِ
itu serupa dengan tertundanya penglihatan dari mata sampai
saat matahari mulai bersinar
وَفَيْضِ
نُورِهَا عَلَى الْمُبْصَرَاتِ
dan melimpahnya cahaya matahari ke yang bisa terlihat
وَالْقَلَمُ
الَّذِي سَطَرَ اللهُ بِهِ الْعُلُومَ عَلَى صَفَحَاتِ الْقُلُوبِ
Dan pena yang Allah goreskan dengannya ilmu pada
halaman-halaman hati
يَجْرِي
مَجْرَى قُرْصِ الشَّمْسِ
bekerja seperti cakram matahari
وَلِمَاذَا
لَمْ يَحْصُلِ الْعِلْمُ فِي قَلْبِ الصَّبِيِّ قَبْلَ التَّمْيِيزِ
mengapa ilmu tidak muncul di hati anak kecil sebelum masa
membedakan
لِأَنَّ
لَوْحَ قَلْبِهِ لَمْ يَتَهَيَّأْ بَعْدُ لِقَبُولِ نَفْسِ الْعِلْمِ
karena lempengan hati anak itu belum siap menerima ilmu itu
sendiri
وَالْقَلَمُ
عِبَارَةٌ عَنْ خَلْقٍ مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى
Dan pena adalah ungkapan tentang ciptaan Allah Ta‘ālā
جَعَلَهُ
سَبَبًا لِحُصُولِ نَقْشِ الْعُلُومِ فِي قُلُوبِ الْبَشَرِ
yang dijadikan sebab terjadinya ukiran ilmu di hati
manusia
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: {الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ
يَعْلَمْ}
Allah Ta‘ālā berfirman: {الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ
الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ}
وَقَلَمُ
اللهِ تَعَالَى لَا يُشْبِهُ قَلَمَ خَلْقِهِ
Dan pena Allah tidak serupa dengan pena makhluk-Nya
كَمَا
لَا يُشْبِهُ وَصْفُهُ وَصْفَ خَلْقِهِ
sebagaimana sifat-Nya tidak menyerupai sifat
makhluk-Nya
فَلَيْسَ
قَلَمُهُ مِنْ قَصَبٍ وَلَا خَشَبٍ
maka pena-Nya bukan dari bambu dan bukan dari kayu
كَمَا
أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مِنْ جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ
sebab Allah Ta‘ālā bukan materi dan bukan sifat (aksiden)
seperti makhluk
فَالْمُوَازَنَةُ
بَيْنَ الْبَصِيرَةِ الْبَاطِنَةِ وَالْبَصَرِ الظَّاهِرِ صَحِيحَةٌ
Perumpamaan antara bashīrah batin dan bashar (penglihatan)
lahir itu benar
مِنْ
هٰذِهِ الْوُجُوهِ
dari sisi-sisi ini
إِلَّا
أَنَّهُ لَا مُنَاسَبَةَ بَيْنَهُمَا فِي الشَّرَفِ
Namun tidak ada kesesuaian dalam kemuliaannya
فَإِنَّ
الْبَصِيرَةَ الْبَاطِنَةَ هِيَ عَيْنُ النَّفْسِ
Sebab bashīrah batin adalah hakikat jiwa
الَّتِي
هِيَ اللَّطِيفَةُ الْمُدْرِكَةُ
yaitu kehalusan yang menangkap
وَهِيَ
كَالْفَارِسِ
ia seperti pengendara (fāris)
وَالْبَدَنُ
كَالْفَرَسِ
tubuh seperti kuda
وَعَمَى
الْفَارِسِ أَضَرُّ عَلَى الْفَارِسِ مِنْ عَمَى الْفَرَسِ
Buta si pengendara lebih berbahaya bagi pengendara daripada
butanya kuda
بَلْ
لَا نِسْبَةَ لِأَحَدِ هَذَيْنِ الضَّرَرَيْنِ إِلَى الْآخَرِ
bahkan tidak ada perbandingan antara salah satu bahaya ini
dengan yang lain
وَلِمُوَازَنَةِ
الْبَصِيرَةِ الْبَاطِنَةِ لِلْبَصَرِ الظَّاهِرِ سَمَّاهُ اللهُ تَعَالَى
بِاسْمِهِ
Karena perumpamaan bashīrah batin dengan bashar lahir, Allah
menyebutnya dengan namanya
فَقَالَ
{مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى}
Allah berfirman: {مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى}
سَمَّى
إِدْرَاكَ الْفُؤَادِ رُؤْيَةً
Allah menyebut penangkapan hati sebagai “rū’yah”
(penglihatan)
وَكَذٰلِكَ
قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَكَذٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ}
Dan demikian pula firman-Nya: {وَكَذٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ}
وَمَا
أَرَادَ بِذٰلِكَ الرُّؤْيَةَ الظَّاهِرَةَ
Yang dimaksud bukan penglihatan lahir
فَإِنَّ
ذٰلِكَ غَيْرُ مُخْتَصٍّ بِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ
Sebab hal itu tidak khusus untuk Nabi Ibrahim saja
بَلْ
يَعْرِضُ فِي مَعْرِضِ الْاِمْتِنَانِ
namun terjadi dalam konteks nikmat
فَلِذٰلِكَ
سُمِّيَ ضِدُّ إِدْرَاكِهِ عَمًى
Maka lawan dari penangkapan itu disebut “عَمًى” (buta)
فَقَالَ
تَعَالَى: {فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ
الَّتِي فِي الصُّدُورِ}
Allah berfirman: {فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ
الَّتِي فِي الصُّدُورِ}
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَمَنْ كَانَ فِي هٰذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى
وَأَضَلُّ سَبِيلًا}
dan Allah berfirman: {وَمَنْ كَانَ فِي هٰذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي
الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا}
فَهٰذَا
بَيَانُ الْعِلْمِ الْعَقْلِيِّ
Ini penjelasan ilmu akal
أَمَّا
الْعُلُومُ الدِّينِيَّةُ
Adapun ilmu-ilmu agama
فَهِيَ
الْمَأْخُوذَةُ بِطَرِيقِ التَّقْلِيدِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللهِ
عَلَيْهِمْ وَسَلَامُهُ
adalah ilmu yang diambil melalui taqlid dari para nabi,
shalawat Allah atas mereka dan keselamatan
وَذٰلِكَ
يَحْصُلُ بِالتَّعَلُّمِ لِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ia diperoleh melalui belajar Kitab Allah Ta‘ālā dan Sunnah
Rasul-Nya ﷺ
وَفَهْمِ
مَعَانِيهِمَا بَعْدَ السَّمَاعِ
lalu memahami maknanya setelah mendengar
وَبِذٰلِكَ
تَكْمُلُ صِفَةُ الْقَلْبِ وَسَلَامَتُهُ مِنَ الْأَدْوَاءِ وَالْأَمْرَاضِ
Dan dengan itu kesempurnaan sifat hati serta keselamatannya
dari penyakit dan penyakit-penyakit menjadi sempurna
فَالْعُلُومُ
الْعَقْلِيَّةُ غَيْرُ كَافِيَةٍ فِي سَلَامَةِ الْقَلْبِ
Ilmu akal tidak cukup untuk menjaga keselamatan hati
وَإِنْ
كَانَ الْقَلْبُ يَحْتَاجُ إِلَيْهَا
meski hati membutuhkan ilmu akal
كَمَا
أَنَّ الْعَقْلَ لَا يَكْفِي فِي اِسْتِدَامَةِ صِحَّةِ أَسْبَابِ الْبَدَنِ
sebagaimana akal tidak cukup untuk menjaga kelangsungan
kesehatan penyebab-penyebab tubuh
بَلْ
يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ خَوَاصِّ الْأَدْوِيَةِ وَالْعَقَاقِيرِ
Melainkan membutuhkan pengetahuan tentang khasiat obat dan
ramuan
بِطَرِيقِ
التَّعَلُّمِ مِنَ الْأَطِبَّاءِ
melalui belajar dari para dokter
إِذْ
مُجَرَّدُ الْعَقْلِ لَا يَهْتَدِي إِلَيْهِ
Sebab semata-mata akal tidak mampu menuntun sampai ke
sana
وَلٰكِنْ
لَا يُمْكِنُ فَهْمُهُ بَعْدَ سَمَاعِهِ إِلَّا بِالْعَقْلِ
Namun memahami ilmu itu setelah mendengarnya tidak mungkin
kecuali dengan akal
فَلَا
غِنَاءَ بِالْعَقْلِ عَنْ السَّمَاعِ
Maka tidak ada kecukupan akal tanpa mendengar
وَلَا
غِنَاءَ بِالسَّمَاعِ عَنْ الْعَقْلِ
dan tidak ada kecukupan mendengar tanpa akal
فَالْدَّاعِي
إِلَى مَحْضِ التَّقْلِيدِ مَعَ عَزْلِ الْعَقْلِ بِالْكُلِّيَّةِ جَاهِلٌ
Orang yang hanya menyeru taqlid semata, dengan memisahkan
akal sepenuhnya, adalah orang yang bodoh
وَالْمُكْتَفِي
بِمُجَرَّدِ الْعَقْلِ عَنْ أَنْوَارِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ مَغْرُورٌ
Dan orang yang cukup dengan semata akal, mengabaikan cahaya
Al-Qur’an dan Sunnah, tertipu
فَإِيَّاكَ
أَنْ تَكُونَ مِنْ أَحَدِ الْفَرِيقَيْنِ
Maka jauhilah dirimu termasuk salah satu dari dua kelompok
ini
وَكُنْ
جَامِعًا بَيْنَ الْأَصْلَيْنِ
Gabungkanlah kedua pokok itu
فَإِنَّ
الْعُلُومَ الْعَقْلِيَّةَ كَالْأَغْذِيَةِ
Sebab ilmu-ilmu akal itu seperti makanan
وَالْعُلُومُ
الشَّرْعِيَّةُ كَالْأَدْوِيَةِ
sedangkan ilmu-ilmu syariat itu seperti obat
وَالشَّخْصُ
الْمَرِيضُ يَسْتَضِرُّ بِالْغِذَاءِ مَتَى فَاتَهُ الدَّوَاءُ
Orang yang sakit akan dirugikan oleh makanan jika ia
kehilangan obat
فَكَذٰلِكَ
أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ لَا يُمْكِنُ عِلَاجُهَا إِلَّا بِالأَدْوِيَةِ
الْمُسْتَفَادَةِ مِنَ الشَّرِيعَةِ
Demikian pula penyakit-penyakit hati tidak bisa diobati
kecuali dengan obat-obat yang dipetik dari syariat
وَهِيَ
وَظَائِفُ الْعِبَادَاتِ وَالأَعْمَالِ
Itu adalah tugas-tugas ibadah dan amalan
الَّتِي
رَكَّبَهَا الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ لِإِصْلَاحِ الْقُلُوبِ
yang disusun oleh para nabi untuk memperbaiki hati
فَمَنْ
لَا يُدَاوَى قَلْبُهُ الْمَرِيضُ بِمَعَالِجَةِ الْعِبَادَاتِ الشَّرْعِيَّةِ
Maka siapa yang tidak mengobati hatinya yang sakit dengan
pengobatan ibadah-ibadah syariat
وَاكْتَفَى
بِالْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ
dan cukup dengan ilmu akal saja
اسْتَضَرَّ
بِهَا
ia akan dirugikan olehnya
كَمَا
يَسْتَضِرُّ الْمَرِيضُ بِالْغِذَاءِ
seperti orang sakit dirugikan oleh makanan
وَظَنَّ
مَنْ يَظُنُّ أَنَّ الْعُلُومَ الْعَقْلِيَّةَ مُنَاقِضَةٌ لِلْعُلُومِ
الشَّرْعِيَّةِ
Dan orang yang berprasangka bahwa ilmu akal bertentangan
dengan ilmu syariat
وَأَنَّ
الْجَمْعَ بَيْنَهُمَا غَيْرُ مُمْكِنٍ
dan bahwa menggabungkan keduanya tidak mungkin
هٰذَا
ظَنٌّ صَادِرٌ عَنْ عَمًى فِي عَيْنِ الْبَصِيرَةِ
itu prasangka yang lahir dari kebutaan mata bashīrah
نَعُوذُ
بِاللهِ مِنْهُ
Kita berlindung kepada Allah darinya
بَلْ
هٰذَا الْقَائِلُ رُبَّمَا يُنَاقِضُ عِنْدَهُ بَعْضُ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ
لِبَعْضٍ
Bahkan orang yang berkata seperti itu mungkin mendapati
sebagian ilmu syariat bertentangan dengan sebagian yang lain
فَيَعْجِزُ
عَنْ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا
lalu ia tidak mampu menggabungkannya
فَيَظُنُّ
أَنَّهُ تَنَاقُضٌ فِي الدِّينِ
maka ia menduga terjadi pertentangan dalam agama
فَيَحَارُ
فِيهِ وَيَنْسَلُ مِنَ الدِّينِ انسِلَالَ الشَّعْرَةِ مِنَ الْعَجِينِ
lalu ia bingung, lalu keluar dari agama seperti sehelai
rambut lepas dari adonan
وَإِنَّمَا
ذٰلِكَ لِعَجْزِهِ فِي نَفْسِهِ
Sebab itu karena ketidakmampuannya sendiri
خَيَّلَ
إِلَيْهِ أَنَّهُ نَقْضٌ فِي الدِّينِ
ia menganggapnya sebagai “nukd” (pertentangan) dalam
agama
وَهَيْهَاتَ
Mustahil
وَمَثَالُهُ
مَثَالُ الْأَعْمَى الَّذِي دَخَلَ دَارَ قَوْمٍ
Perumpamaannya seperti orang buta yang masuk ke rumah suatu
kaum
فَتَعَثَّرَ
فِيهَا بِأَوَانِي الدَّارِ
lalu tersandung bejana-bejana rumah
فَقَالَ
لَهُمْ مَا بِهٰذِهِ الْأَوَانِي
Ia berkata: “Ada apa dengan bejana-bejana ini?”
تَرَكْتُمُوهَا
عَلَى الطَّرِيقِ
“Kenapa kalian tinggalkan di jalan?”
لِمَ
لَا تَرُدُّونَهَا إِلَى مَوَاضِعِهَا
“Kenapa tidak kalian kembalikan ke tempatnya?”
فَقَالُوا
لَهُ تِلْكَ الأَوَانِي فِي مَوَاضِعِهَا
Mereka menjawab: “Bejana-bejana itu ada di tempatnya”
وَإِنَّمَا
أَنْتَ لَسْتَ تَهْتَدِي إِلَى الطَّرِيقِ لِعَمَاكَ
“Engkau tidak menemukan jalan karena butamu”
فَالْعَجَبُ
مِنْكَ
“Keheranan terhadapmu”
أَنَّكَ
لَا تُحِيلُ عَثْرَتَكَ إِلَى عَمَاكَ
“kamu tidak menyandarkan tersandungmu pada kebutaanmu”
بَلْ
تُحِيلُهَا عَلَى تَقْصِيرِ غَيْرِكَ
“namun menyandarkannya pada kekurangan orang lain”
فَهٰذِهِ
نِسْبَةُ الْعُلُومِ الدِّينِيَّةِ إِلَى الْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ
Begitulah perbandingan ilmu agama terhadap ilmu akal
وَالْعُلُومُ
الْعَقْلِيَّةُ تَنْقَسِمُ إِلَى دُنْيَوِيَّةٍ وَأُخْرَوِيَّةٍ
Ilmu akal terbagi menjadi ilmu dunia dan ilmu akhirat
فَالدُّنْيَوِيَّةُ
كَعِلْمِ الطِّبِّ وَالْحِسَابِ وَالْهَنْدَسَةِ وَالنُّجُومِ
Ilmu dunia seperti ilmu kedokteran, hitung-hitungan,
geometri, bintang-bintang
وَسَائِرِ
الْحِرَفِ وَالصِّنَاعَاتِ
dan semua pekerjaan serta keahlian lainnya
وَالأُخْرَوِيَّةُ
كَعِلْمِ أَحْوَالِ الْقَلْبِ وَآفَاتِ الْأَعْمَالِ
Ilmu akhirat seperti ilmu tentang keadaan hati dan
penyakit-penyakit amal
وَالْعِلْمِ
بِاللهِ تَعَالَى وَبِصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ
dan ilmu tentang Allah Ta‘ālā, sifat-sifat-Nya, dan
perbuatan-perbuatan-Nya
كَمَا
فَصَّلْنَاهُ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ
sebagaimana telah kami jelaskan dalam kitab “Al-‘Ilm”
وَهُمَا
عِلْمَانِ مُتَنَافِيَانِ
Keduanya adalah dua ilmu yang saling bertentangan
أَعْنِي
أَنَّ مَنْ صَرَفَ عِنَايَتَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا حَتَّى تَعَمَّقَ فِيهِ
Maksudnya: siapa yang mencurahkan perhatiannya pada salah
satunya sampai mendalam
قَصَرَتْ
بَصِيرَتُهُ عَنِ الْآخَرِ عَلَى الْأَكْثَرِ
maka pada kebanyakan keadaan, pandangannya terputus dari
yang lain
وَلِذٰلِكَ
ضَرَبَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ثَلَاثَةَ
أَمْثِلَةٍ
Karena itu Ali radhiyallāhu ‘anhu membuat tiga perumpamaan
untuk dunia dan akhirat
فَقَالَ
هُمَا كَكِفَّتَيِ الْمِيزَانِ
“Dunia dan akhirat itu seperti dua sisi timbangan”
وَكَالْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ
“seperti timur dan barat”
وَكَالضِّرَّتَيْنِ
إِذَا أَرْضَيْتَ إِحْدَاهُمَا أَسْخَطْتَ الْأُخْرَى
“dan seperti dua istri: jika kau menyenangkan salah satunya,
kau membuat marah yang lain”
وَلِذٰلِكَ
تَرَى الأَكْيَاسَ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا
Karena itulah kau melihat orang-orang berakal dalam urusan
dunia
وَفِي
عِلْمِ الطِّبِّ وَالْحِسَابِ وَالْهَنْدَسَةِ وَالْفَلْسَفَةِ
mereka bodoh dalam urusan akhirat
جُهَّالًا
فِي أُمُورِ الآخِرَةِ
dan sebaliknya
وَالْأَكْيَاسَ
فِي دَقَائِقِ عُلُومِ الآخِرَةِ جُهَّالًا فِي أَكْثَرِ عُلُومِ الدُّنْيَا
orang yang cerdas dalam rahasia ilmu akhirat sering bodoh
dalam sebagian besar ilmu dunia
لِأَنَّ
قُوَّةَ الْعَقْلِ لَا تَفِي بِالْأَمْرَيْنِ جَمِيعًا عَلَى الْغَالِبِ
Karena kekuatan akal biasanya tidak mampu memenuhi dua
urusan sekaligus
فَيَكُونُ
أَحَدُهُمَا مَانِعًا مِنَ الْكَمَالِ فِي الثَّانِي
maka yang satu menjadi penghalang dari kesempurnaan pada
yang lainnya
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ
الْبُلْهُ
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kebanyakan
penghuni surga adalah orang-orang yang ‘buleh/kurang banyak bicara’” (1)
(1) أَيِ
الْبُلْهُ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا
(1) yakni orang-orang yang “buleh” dalam urusan dunia
وَقَالَ
الْحَسَنُ فِي بَعْضِ مَوَاعِظِهِ
Dan Al-Hasan berkata dalam sebagian nasihatnya
لَقَدْ
أَدْرَكْنَا أُقْوَامًا لَوْ رَأَيْتُمُوهُمْ لَقُلْتُمْ مَجَانِينَ
“Sungguh kami menemui suatu kaum; jika kalian melihat
mereka, kalian akan mengira mereka orang gila”
وَلَوْ
أَدْرَكُوكُمْ لَقَالُوا شَيَاطِينَ
“dan jika mereka menemui kalian, mereka akan berkata kalian
adalah setan”
فَمَهْمَا
سَمِعْتَ أَمْرًا غَرِيبًا مِنْ أُمُورِ الدِّينِ
“Jika engkau mendengar sesuatu yang aneh dari urusan
agama”
جَحَدَهُ
أَهْلُ الْكَيَاسَةِ فِي سَائِرِ الْعُلُومِ
“orang-orang cerdas yang ada pada ilmu selain agama
menolaknya”
فَلَا
يَغُرَّنَّكَ جُحُودُهُمْ عَنْ قَبُولِهِ
“Jangan tertipu dengan penolakan mereka dari menerima
kebenaran itu”
إِذْ
مِنَ الْمُحَالِ أَنْ يَظْفَرَ سَالِكُ طَرِيقِ الْمَشْرِقِ بِمَا يُوجَدُ فِي
الْمَغْرِبِ
“Sebab mustahil orang yang menempuh jalan timur mendapatkan
apa yang ada di barat”
وَكَذٰلِكَ
يَجْرِي أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Demikian pula urusan dunia dan akhirat berjalan seperti
itu”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا}
Karena itu Allah Ta‘ālā berfirman: {إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ
لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا}
وَقَالَ
تَعَالَى: {يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ
الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ}
Dan Allah Ta‘ālā berfirman: {يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ}
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: فَأَعْرِضْ عَمَّنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Maka berpalinglah dari
orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menghendaki kecuali
kehidupan dunia”
وَذَلِكَ
مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ
Itu adalah batas ilmu mereka
فَالْجَمْعُ
بَيْنَ كَمَالِ الِاسْتِبْصَارِ فِي مَصَالِحِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ لَا يَكَادُ
يَتَيَسَّرُ
Menggabungkan kesempurnaan pandangan dalam kemaslahatan
dunia dan agama hampir tidak mungkin
إِلَّا
لِمَنْ رَسَخَهُ اللهُ لِتَدْبِيرِ عِبَادِهِ فِي مَعَاشِهِمْ وَمَعَادِهِمْ
kecuali bagi orang yang Allah kokohkan untuk mengatur
hamba-hamba-Nya dalam kehidupan mereka dan di akhirat mereka
وَهُمْ
الْأَنْبِيَاءُ الْمُؤَيَّدُونَ بِرُوحِ الْقُدُسِ
Mereka adalah para nabi yang dikuatkan dengan ruh
al-qudus
الْمُسْتَمَدُّونَ
مِنَ الْقُوَّةِ الإِلٰهِيَّةِ
mereka ditopang oleh kekuatan ketuhanan
الَّتِي
تَتَّسِعُ لِجَمِيعِ الْأُمُورِ وَلَا تَضِيقُ عَنْهَا
yang mencakup semua urusan dan tidak sempit darinya
أَمَّا
قُلُوبُ سَائِرِ الْخَلْقِ
Adapun hati-hati selain itu
فَإِذَا
اسْتَقَلَّتْ بِأَمْرِ الدُّنْيَا
jika mereka menguasai diri dengan urusan dunia
انْصَرَفَتْ
عَنِ الْآخِرَةِ
maka mereka berpaling dari akhirat
وَقَصُرَتْ
عَنْ الاِسْتِكْمَالِ فِيهَا
dan mereka tidak mencapai kesempurnaan di dalamnya