Penjelasan Tentang Perumpamaan Hati dalam Hubungannya Secara Khusus dengan Ilmu
بَيَانُ مِثْلِ الْقَلْبِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى
الْعُلُومِ خَاصَّةً
Penjelasan tentang perumpamaan hati dalam hubungannya secara khusus dengan ilmu
اِعْلَمْ أَنَّ مَحَلَّ الْعِلْمِ هُوَ الْقَلْبُ، أَعْنِي اللَّطِيفَةَ الْمُدَبِّرَةَ لِجَمِيعِ الْجَوَارِحِ، وَهِيَ الْمُطَاعَةُ الْمَخْدُومَةُ مِنْ جَمِيعِ الْأَعْضَاءِ
Ketahuilah bahwa tempat ilmu adalah hati, yaitu kehalusan
yang mengatur seluruh anggota tubuh, yang ditaati dan dilayani oleh semua
anggota tubuh
وَهِيَ
بِالنِّسْبَةِ إِلَى حَقَائِقِ الْمَعْلُومَاتِ كَالْمِرْآةِ بِالنِّسَبَةِ إِلَى
صُوَرِ الْمُتَلَوِّنَاتِ
Dan hati dalam kaitannya dengan hakikat-hakikat yang
diketahui adalah seperti cermin dalam kaitannya dengan gambar-gambar yang
berubah-ubah
فَكَمَا
أَنَّ لِلْمُتَلَوِّنَاتِ صُورَةً
Seperti halnya pada yang berubah-ubah ada bentuk
(gambar)
وَمِثَالَ
تِلْكَ الصُّورَةِ يَنْطَبِعُ فِي الْمِرْآةِ، فَيَحْصُلُ بِهِ
dan contoh bentuk itu terpantul pada cermin sehingga
terbentuklah
كَذٰلِكَ
لِكُلِّ مَعْلُومٍ حَقِيقَةٌ
Demikian pula bagi setiap yang diketahui ada hakikat
وَلِتِلْكَ
الْحَقِيقَةِ صُورَةٌ تَنْطَبِعُ فِي مِرْآةِ الْقَلْبِ، فَتَتَضَحُّ فِيهَا
dan bagi hakikat itu ada gambar yang terpantul dalam cermin
hati, sehingga tampak jelas di sana
وَكَمَا
أَنَّ الْمِرْآةَ غَيْرُ صُوَرِ الْأَشْخَاصِ، وَحُصُولَ مِثَالِهَا فِي
الْمِرْآةِ غَيْرُ حُصُولِهَا
Seperti cermin itu berbeda dari gambar-gambar orang, dan
pantulan gambarnya di cermin juga berbeda dari gambar aslinya
فَهُنَاكَ
ثَلَاثَةُ أُمُورٍ
maka ada tiga perkara
فَكَذٰلِكَ
هُنَا ثَلَاثَةُ أُمُورٍ
Demikian pula di sini ada tiga perkara
الْقَلْبُ
وَحَقَائِقُ الْأَشْيَاءِ وَحُصُولُ نَفْسِ الْحَقَائِقِ فِي الْقَلْبِ
وَحُضُورُهَا فِيهِ
yaitu hati, hakikat-hakikat sesuatu, dan hadirnya
hakikat-hakikat itu sendiri dalam hati
فَالْعَالِمُ
عِبَارَةٌ عَنِ الْقَلْبِ الَّذِي فِيهِ تَحُلُّ مِثَالُ حَقَائِقِ الْأَشْيَاءِ
Orang yang berilmu (al-‘ālim) adalah istilah untuk hati yang
di dalamnya menempati contoh hakikat-hakikat sesuatu
وَالْمَعْلُومُ
عِبَارَةٌ عَنْ حَقَائِقِ الْأَشْيَاءِ
Sedangkan yang diketahui (al-ma‘lūm) adalah hakikat-hakikat
sesuatu
وَالْعِلْمُ
عِبَارَةٌ عَنْ حُصُولِ الْمِثَالِ فِي الْمِرْآةِ
Dan ilmu adalah istilah bagi hadirnya contoh itu dalam
cermin
وَكَمَا
أَنَّ الْقَبْضَ مِثَالًا يَسْتَدْعِي قَابِضًا كَالْيَدِّ وَمَقْبُوضًا
كَالسَّيْفِ
Seperti contoh “قبض” (menggenggam): ia menuntut “yang menggenggam” seperti tangan,
dan “yang digenggam” seperti pedang
وَوُصُولًا
بَيْنَ السَّيْفِ وَالْيَدِّ بِحُصُولِ السَّيْفِ فِي الْيَدِّ، وَيُسَمَّى
قَبْضًا
serta terwujudnya hubungan antara pedang dan tangan ketika
pedang masuk ke tangan, lalu disebut “قبض”
فَكَذٰلِكَ
وُصُولُ مِثَالِ الْمَعْلُومِ إِلَى الْقَلْبِ يُسَمَّى عِلْمًا
Demikian pula, sampainya contoh dari yang diketahui ke hati
disebut ilmu
وَقَدْ
كَانَتِ الْحَقِيقَةُ مَوْجُودَةً وَالْقَلْبُ مَوْجُودًا
Sungguh, hakikat itu sudah ada, dan hati juga ada
وَلَمْ
يَكُنِ الْعِلْمُ حَاصِلًا
tetapi ilmu belum terjadi
لِأَنَّ
الْعِلْمَ عِبَارَةٌ عَنْ وُصُولِ الْحَقِيقَةِ إِلَى الْقَلْبِ
Sebab ilmu adalah sampainya hakikat ke hati
كَمَا
أَنَّ السَّيْفَ مَوْجُودٌ وَالْيَدَّ مَوْجُودَةٌ، وَلَمْ يَكُنِ اسْمُ الْقَبْضِ
وَالْأَخْذِ حَاصِلًا
Sebagaimana pedang ada dan tangan ada, tetapi istilah “قبض”
dan “أخذ”
belum terjadi
لِعَدَمِ
وُقُوعِ السَّيْفِ فِي الْيَدِّ
karena pedang belum masuk ke tangan
نَعَمِ
الْقَبْضُ عِبَارَةٌ عَنْ حُصُولِ السَّيْفِ بِعَيْنِهِ فِي الْيَدِّ
Ya, “قبض”
adalah hadirnya pedang itu sendiri pada tangan
وَمِثَالُهُ
لَكِنَّ الْمَعْلُومَ بِعَيْنِهِ لَا يَحْصُلُ فِي الْقَلْبِ
sedangkan yang diketahui dengan hakikatnya sendiri tidak
hadir di hati
مَنْ
عَلِمَ النَّارَ لَمْ تَحْصُلْ عَيْنُ النَّارِ فِي قَلْبِهِ
Barang siapa mengetahui api, maka hakikat api itu sendiri
tidak masuk ke dalam hatinya
وَإِنَّمَا
الْحَاصِلُ حَدُّهَا وَحَقِيقَتُهَا الْمُطَابِقَةُ لِصُورَتِهَا
yang hadir hanyalah batas-batasnya dan hakikatnya yang
sesuai dengan gambarnya
فَتَمْثِيلُهَا
بِالْمِرْآةِ أَوْلَى
Maka menjelaskannya dengan perumpamaan cermin adalah lebih
tepat
لِأَنَّ
عَيْنَ الْإِنْسَانِ لَا تَحْصُلُ فِي الْمِرْآةِ
Karena hakikat diri manusia tidak masuk ke cermin
وَإِنَّمَا
يَحْصُلُ مِثَالٌ مُطَابِقٌ لَهُ
yang hadir hanyalah contoh yang sesuai dengannya
وَكَذٰلِكَ
حُصُولُ مِثَالٍ مُطَابِقٍ لِحَقِيقَةِ الْمَعْلُومِ فِي الْقَلْبِ يُسَمَّى
عِلْمًا
Demikian pula sampainya contoh yang sesuai dengan hakikat
yang diketahui dalam hati disebut ilmu
وَكَمَا
أَنَّ الْمِرْآةَ لَا تَنْكَشِفُ فِيهَا الصُّورَةُ لِخَمْسَةِ أُمُورٍ
Dan sebagaimana cermin tidak tampak padanya gambar karena
lima sebab
أَحَدُهَا
نُقْصَانُ صُورَتِهَا كَجَوْهَرِ الْحَدِيدِ قَبْلَ أَنْ يُدَارَ وَيُشَكَّلَ
وَيُصَقَّلَ
Pertama, kurangnya kesiapan cermin, seperti bijih besi
sebelum dibentuk, dipoles, dan diasah
وَالثَّانِي
لِخَنْثِهَا وَصَدَئِهَا وَكَدُورَتِهَا وَإِنْ كَانَتْ تَامَّةَ الشَّكْلِ
Kedua, karena keruh, berkarat, dan kotorannya, sekalipun
bentuknya telah utuh
وَالثَّالِثُ
لِكَوْنِهَا مَعْدُولَةً عَنْ جِهَةِ الصُّورَةِ إِلَى غَيْرِهَا
Ketiga, karena cermin dipalingkan dari arah gambar ke arah
yang lain,
كَمَا
إِذَا كَانَتِ الصُّورَةُ وَرَاءَ الْمِرْآةِ
seperti ketika gambar berada di belakang cermin
وَالرَّابِعُ
لِحِجَابٍ مُرْسَلٍ بَيْنَ الْمِرْآةِ وَالصُّورَةِ
Keempat, ada penghalang yang merenggang/terletak di antara
cermin dan gambar
وَالْخَامِسُ
لِلْجَهْلِ بِالْجِهَةِ الَّتِي فِيهَا الصُّورَةُ الْمَطْلُوبَةُ
Kelima, karena tidak mengetahui arah tempat gambar yang
dicari berada, sehingga tidak mungkin menghadapkannya ke arah gambar
حَتَّى
يَتَعَذَّرَ بَسَبَبِهِ أَنْ تُحَاذَى بِهَا شَطْرَ الصُّورَةِ وَجِهَتُهَا
Hingga karena itu tidak bisa dihadapkan cermin pada bagian
dan arah gambar
فَكَذٰلِكَ
الْقَلْبُ مِرْآةٌ مُسْتَعِدَّةٌ لِأَنْ تَنْجَلِيَ فِيهَا حَقِيقَةُ الْحَقِّ فِي
الْأُمُورِ كُلِّهَا
Demikian pula hati adalah cermin yang siap untuk tampak di
dalamnya hakikat kebenaran pada semua perkara
وَلٰكِنَّ
قُلُوبًا خَلَتْ مِنَ الْعُلُومِ لِخَمْسَةِ أَسْبَابٍ
Namun hati-hati itu kosong dari ilmu karena lima sebab
أَوَّلُهَا
نُقْصَانٌ فِي ذَاتِهَا
Pertama, kekurangan pada dirinya sendiri
كَقَلْبِ
الصَّبِيِّ
seperti hati anak kecil
فَلَا
يَنْجَلِي لَهُ الْمَعْلُومَاتُ لِنُقْصَانِهِ
sebab karena kekurangannya, baginya tidak tampak
hakikat-hakikat yang diketahui
وَالثَّانِي
لِكَدُورَةِ الْمَعَاصِي وَالْخَبَثِ الَّذِي يَتَرَاكَمُ عَلَى وَجْهِ الْقَلْبِ
Kedua, keruhnya maksiat dan kotoran yang menumpuk pada
permukaan hati
مِنْ
كَثْرَةِ الشَّهَوَاتِ
disebabkan banyaknya syahwat
فَذٰلِكَ
يَمْنَعُ صَفَاءَ الْقَلْبِ وَجَلَاءَهُ
Hal itu menghalangi beningnya dan kejernihan hati
فَيَمْتَنِعُ
ظُهُورُ الْحَقِّ فِيهِ لِظُلْمَتِهِ وَتَرَاكُمِهِ
lalu kebenaran tidak mungkin tampak di dalamnya karena
kegelapan dan penumpukannya
وَإِلَيْهِ
الإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ ﷺ: مَنْ قَارَفَ ذَنْبًا فَارَفَهُ عَقْلٌ لَا يَعُودُ
إِلَيْهِ أَبَدًا
Dan isyarat kepadanya terdapat dalam sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa mendekati dosa, maka akalnya terpisah darinya dan tidak kembali
lagi untuk selamanya.”
(1) “مَنْ
عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرِثَهُ اللهُ عِلْمًا مَا لَمْ يَعْلَمْ”
(1) “Barang siapa mengamalkan apa yang telah ia ketahui,
Allah akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui.”
رَوَاهُ
أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ
Riwayat Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah dari hadis Anas, dan
telah disebutkan dalam pembahasan ilmu
ثَالِثُهَا
أَنْ يَكُونَ مَعْدُولًا بِهَا عَنْ جِهَةِ الْحَقِيقَةِ الْمَطْلُوبَةِ
Ketiga, cermin hati itu dipalingkan dari arah hakikat yang
diminta
فَقَلْبُ
الْمُطِيعِ الصَّالِحِ وَإِنْ كَانَ صَافِيًا
Maka hati orang yang taat dan saleh, sekalipun bening
فَلَيْسَ
يُنْكَشَفُ فِيهِ جَلِيَّةُ الْحَقِّ
ia tidak tampak baginya kejernihan kebenaran
لِأَنَّهُ
لَا يَطْلُبُ الْحَقَّ وَلَا يُحَاذِي بِمِرْآَتِهِ شَطْرَ الْمَطْلُوبِ
karena ia tidak menuntut kebenaran dan tidak menghadapkannya
dengan cermin hatinya ke arah yang dituju
بَلْ
رُبَّمَا يَتَسَعْسَبُ الْهَمُّ بِتَفْصِيلِ الطَّاعَاتِ الْبَدَنِيَّةِ
Bahkan bisa jadi pikirannya dipenuhi rincian ibadah-ibadah
jasmani
أَوْ
بِتَهْيِئَةِ أَسْبَابِ الْمَعِيشَةِ
atau menyiapkan sebab-sebab penghidupan
فَلَا
يُصَرِّفُ فِكْرَهُ إِلَى التَّأَمُّلِ فِي حَضْرَةِ الرُّبُوبِيَّةِ
Lalu ia tidak mengarahkan pikirannya untuk merenung pada
hadirat rubūbiyyah
وَالْحَقَائِقِ
الْخَفِيَّةِ الإِلٰهِيَّةِ
dan pada hakikat-hakikat ketuhanan yang tersembunyi
فَلَا
يَنْكَشِفُ لَهُ إِلَّا مَا هُوَ مُفَكِّرٌ فِيهِ
maka yang terbuka baginya hanyalah apa yang ia pikirkan
مِنْ
دَقَائِقِ آفَاتِ الْأَعْمَالِ
berupa hal-hal halus tentang bahaya-bahaya amal
وَخَفَايَا
عُيُوبِ النَّفْسِ
atau rahasia keburukan/kekurangan jiwa
إِنْ
كَانَ مُفَكِّرًا فِيهَا
jika ia memang memikirkan itu
أَوْ
مَصَالِحِ الْمَعِيشَةِ إِنْ كَانَ مُفَكِّرًا فِيهَا
atau kemaslahatan penghidupan jika ia memikirkan itu
وَإِذَا
كَانَ تَقْيِيدُ الْهَمِّ بِالْأَعْمَالِ وَتَفْصِيلُ الطَّاعَاتِ مَانِعًا عَنْ
انْكَشَافِ جَلِيَّةِ الْحَقِّ
Jika menyibukkan tekad pada amal dan merinci ketaatan saja
dapat menghalangi kejernihan kebenaran
فَمَا
ظَنُّكَ فِي مَنْ صَرَفَ الْهَمَّ إِلَى الشَّهَوَاتِ الدُّنْيَوِيَّةِ
وَلَذَّاتِهَا وَعَلَائِقِهَا
maka bagaimana dengan orang yang mengarahkan tekadnya kepada
syahwat duniawi, kenikmatannya, dan keterikatannya
فَكَيْفَ
لَا يَمْنَعُهَا عَنِ الْكَشْفِ الْحَقِيقِيِّ
bagaimana bisa tidak menghalanginya dari kasyaf yang
hakiki
الرَّابِعُ
الْحِجَابُ
Keempat, penghalang
فَإِنَّ
الْمُطِيعَ الْقَاهِرَ لِشَهْوَاتِهِ الْمُتَجَرِّدَ فِكْرُهُ عَنْ حَقِيقَةٍ مِنَ
الْحَقَائِقِ قَدْ لَا يَنْكَشِفُ لَهُ ذٰلِكَ
bisa saja bagi orang taat yang mampu menundukkan syahwatnya
dan pikirannya kosong dari merenungi hakikat tertentu, hal itu tidak terbuka
baginya
لِأَنَّهُ
مَحْجُوبٌ عَنْهُ بِاعْتِقَادٍ سَبَقَ إِلَيْهِ مِنْ حِينِ الصِّبَا
karena ia terhalang oleh keyakinan yang lebih dahulu
tertanam sejak kecil
عَلَى
سَبِيلِ التَّقْلِيدِ وَالْقَبُولِ بِحُسْنِ الظَّنِّ
melalui ikut-ikutan (taqlid) dan menerima dengan prasangka
baik
فَإِنَّ
ذٰلِكَ يُحَوِّلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ حَقِيقَةِ الْحَقِّ
maka itulah yang membuatnya terhalang dari hakikat
kebenaran
وَيَمْنَعُ
أَنْ يَنْكَشِفَ فِي قَلْبِهِ خِلافُ مَا تَلَقَّفَهُ مِنْ ظَاهِرِ التَّقْلِيدِ
dan mencegah agar di dalam hatinya terbuka sesuatu yang
berbeda dari apa yang ia terima dari lahirnya taqlid
وَهٰذَا
أَيْضًا حِجَابٌ عَظِيمٌ
Ini juga merupakan penghalang yang besar
بِهِ
حَجَبَ أَكْثَرَ الْمُتَكَلِّمِينَ وَالْمُتَعَصِّبِينَ لِلْمَذَاهِبِ
dengan penghalang ini, sebagian besar ahli kalam, para
fanatik madzhab, dan
وَبَلْ
أَكْثَرُ الصَّالِحِينَ الْمُفَكِّرِينَ فِي مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
bahkan kebanyakan orang-orang saleh yang berpikir tentang
malakut langit dan bumi terhalang
لِأَنَّهُمْ
مَحْجُوبُونَ بِاعْتِقَادَاتٍ تَقِيدَتْ فِي نُفُوسِهِمْ
karena mereka terhalang oleh keyakinan-keyakinan taqlid yang
membeku dalam diri mereka
وَرَسَخَتْ
فِي قُلُوبِهِمْ
dan tertanam dalam hati mereka
وَصَارَتْ
حِجَابًا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ دَرْكِ الْحَقَائِقِ
sehingga menjadi penghalang antara mereka dan pencapaian
hakikat-hakikat
الْخَامِسُ
الْجَهْلُ بِالْجِهَةِ الَّتِي يَقَعُ مِنْهَا الْعُثُورُ عَلَى الْمَطْلُوبِ
Kelima, kebodohan tentang arah datangnya penemuan terhadap
sesuatu yang dimaksud
فَطَالِبُ
الْعِلْمِ لَا يُمْكِنُهُ أَنْ يَحْصُلَ عَلَى الْعِلْمِ بِالْمَجْهُولِ
Orang yang menuntut ilmu tidak mungkin mendapatkan ilmu
tentang yang tidak diketahui
إِلَّا
بِالتَّذَكُّرِ لِلْعُلُومِ الَّتِي تُنَاسِبُ مَطْلُوبَهُ
kecuali dengan mengingat ilmu-ilmu yang sesuai dengan yang
ia cari
حَتَّى
إِذَا تَذَكَّرَهَا وَرَتَّبَهَا فِي نَفْسِهِ تَرْتِيبًا مَخْصُوصًا
hingga ketika ia mengingatnya dan menyusunnya dalam benaknya
dengan susunan khusus
عَرَفَهَا
الْعُلَمَاءُ بِطُرُقِ الِاعْتِبَارِ
yang dikenal para ulama dengan jalan-jalan istidlal dan
pertimbangan (i‘tibār)
فَعِنْدَ
ذٰلِكَ يَكُونُ قَدْ عَثَرَ عَلَى جِهَةِ الْمَطْلُوبِ
pada saat itu ia benar-benar menemukan arah yang dicari
فَتَنْجَلِي
حَقِيقَةُ الْمَطْلُوبِ لِقَلْبِهِ
lalu hakikat yang dimaksud tampak pada hatinya
فَالْعُلُومُ
الْمَطْلُوبَةُ الَّتِي لَيْسَتْ فِطْرِيَّةً
Ilmu-ilmu yang diminta dan tidak bersifat bawaan
لَا
تُقْتَنَصُ إِلَّا بِشَبَكَةِ الْعُلُومِ الْحَاصِلَةِ
tidak dapat diraih kecuali dengan jaringan dari ilmu yang
telah ada sebelumnya
وَكُلُّ
عِلْمٍ لَا يَحْصُلُ إِلَّا عَنْ عِلْمَيْنِ سَابِقَيْنِ
Dan setiap ilmu tidak terjadi kecuali dari dua ilmu yang
mendahuluinya
يَأْتَلِفَانِ
وَيَتَزَاوَجَانِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ
yang berpadu dan bertemu dengan cara yang khusus
فَيَحْصُلُ
مِنِ اشْدِوَاجِهِمَا عِلْمٌ ثَالِثُ
maka dari pertemuan keduanya lahirlah ilmu ketiga
عَلَى
مِثَالِ مَا يَحْصُلُ النَّتَاجُ مِنِ اشْدِوَاجِ الْفَحْلِ وَالْأُنْثَى
seperti hasil kelahiran yang lahir dari pertemuan jantan dan
betina
ثُمَّ
كَمَا أَنَّ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنْتِجَ نَسْلًا لَا يُمْكِنُهُ ذٰلِكَ
Lalu sebagaimana orang yang ingin menghasilkan sesuatu dari
persilangan
مِنْ
حِمَارٍ وَبَعِيرٍ وَإِنْسَانٍ
tidak mungkin mendapatkannya dari keledai dan unta, maupun
dari manusia
بَلْ
مِنْ أَصْلٍ مَخْصُوصٍ مِنَ الْخَيْلِ الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى
melainkan dari asal yang khusus, yaitu kuda jantan dan kuda
betina ketika terjadi persilangan tertentu
فَكَذٰلِكَ
كُلُّ عِلْمٍ لَهُ أَصْلَانِ مَخْصُوصَانِ
Demikian pula setiap ilmu memiliki dua dasar yang
khusus
وَبَيْنَهُمَا
طَرِيقٌ فِي الِاسْتِزْوَاجِ
dan di antara keduanya ada jalan dalam persilangan
يَحْصُلُ
مِنْ اِزْدِوَاجِهِمَا الْعِلْمُ الْمُسْتَفَادُ الْمَطْلُوبُ
sehingga dari persilangan keduanya lahirlah ilmu yang
bermanfaat dan menjadi tujuan
فَالْجَهْلُ
بِهٰذِهِ الْأُصُولِ
Karena ketidaktahuan tentang dua asal itu
وَبِكَيْفِيَّةِ
الِاسْتِزْوَاجِ
dan bagaimana cara persilangannya
هُوَ
الْمَانِعُ مِنَ الْعِلْمِ
adalah penghalang dari datangnya ilmu
وَمِثَالُ
ذٰلِكَ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْجَهْلِ بِالْجِهَةِ الَّتِي فِيهَا الصُّورَةُ
Contohnya apa yang telah kita sebutkan: ketidaktahuan
tentang arah tempat gambar berada
فِيهَا
di sana
مِثْلًا
أَنْ يُرِيدَ الإِنْسَانُ أَنْ يَرَى قَفَاهُ فَإِذَا أَرَفَعَ الْمِرْآةَ
بِإِزَاءِ وَجْهِهِ
Misalnya seseorang ingin melihat bagian belakang (punggung)
dirinya dengan cermin
Jika ia mengangkat cermin tepat di depan wajahnya, maka ia
belum menghadapkannya ke arah punggung
لَمْ
يَكُنْ قَدْ حَاذَى بِهَا شَطْرَ الْقَفَا
Sehingga punggung tidak tampak pada cermin
فَلَا
تَظْهَرُ فِيهَا الْقَفَا
tidak akan tampak
وَإِنْ
رَفَعَهَا وَرَاءَ الْقَفَا وَحَاذَاهَا
Jika ia mengangkat cermin di belakang punggung dan
menghadapkannya
كَانَ
قَدْ عَدَلَ بِالْمِرْآةِ عَنْ عَيْنِهِ
maka cermin ikut dipalingkan dari mata,
فَلَا
يَرَى الْمِرْآةَ وَلَا صُورَةَ الْقَفَا فِيهَا
sehingga ia tidak melihat cermin dan tidak melihat gambar
punggung di dalamnya
فَيَحْتَاجُ
إِلَى مِرْآةٍ أُخْرَى يَنْصِبُهَا وَرَاءَ الْقَفَا
maka ia membutuhkan cermin lain yang diletakkan di belakang
punggung
وَتَكُونُ
هٰذِهِ فِي مَقَابَلَتِهَا حَيْثُ يَبْصُرُهَا وَيُرَاعِي مُنَاسَبَةً بَيْنَ
وَضْعِ الْمِرْآَتَيْنِ
Cermin kedua ini posisinya dibuat agar terlihat olehnya dan
ia memperhatikan kecocokan/ keserasian jarak dan posisi dua cermin
حَتَّى
تَنْطَبِعَ صُورَةُ الْقَفَا فِي الْمِرْآَةِ الْمُحَاذِيَةِ لِلْقَفَا
hingga gambar punggung terpantul pada cermin yang sejajar
dengan punggung
ثُمَّ
تَنْطَبِعَ صُورَةُ هٰذِهِ الْمِرْآَةِ فِي الْمِرْآَةِ الْأُخْرَى الَّتِي فِي
مُقَابَلَةِ الْعَيْنِ
lalu gambar cermin itu tampak pada cermin yang berhadapan
dengan mata
ثُمَّ
تُدْرِكُ الْعَيْنُ صُورَةَ الْقَفَا
lalu mata menangkap gambar punggung
وَكَذٰلِكَ
فِي اقْتِنَاصِ الْعُلُومِ طُرُقٌ عَجِيبَةٌ فِيهَا اِزْدِوَارَاتٌ وَتَحْرِيفَاتٌ
Demikian pula dalam meraih ilmu terdapat jalan-jalan yang
menakjubkan, yang di dalamnya ada pembelokan-pembelokan dan
pengalihan-pengalihan
أَعْجَبُ
مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْمِرْآَةِ يَعْزُ عَلَى بَسِيطِ الْأَرْضِ أَنْ يَهْتَدِي
إِلَى كَيْفِيَّةِ الْحِيلَةِ فِي تِلْكَ الْاِزْدِوَارَاتِ
Dan yang paling ajaib dari apa yang disebutkan pada cermin
ini adalah bahwa orang biasa di bumi pun sulit mencapai cara berhelah pada
pembelokan-pembelokan itu
فَهٰذِهِ
هِيَ الْأَسْبَابُ الْمَانِعَةُ لِلْقُلُوبِ مِنْ مَعْرِفَةِ حَقَائِقِ الْأُمُورِ
Maka inilah sebab-sebab yang menghalangi hati dari
mengetahui hakikat-hakikat perkara
وَإِلَّا
فَكُلُّ قَلْبٍ فَهُوَ بِالْفِطْرَةِ صَالِحٌ لِمَعْرِفَةِ الْحَقَائِقِ
Namun setiap hati, menurut fitrah, sesungguhnya layak untuk
mengenal hakikat-hakikat
لِأَنَّهُ
أَمْرٌ رَبَّانِيٌّ شَرِيفٌ
karena itu merupakan urusan rabbani yang mulia
فَارِقٌ
لِسَائِرِ جَوَاهِرِ الْعَالَمِ بِهٰذِهِ الْخَاصِّيَّةِ وَالشَّرَفِ
yang membedakan hati dari semua hakikat lain di alam karena
kekhususan dan kemuliaan ini
وَإِلَيْهِ
الإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى
السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ
Dan isyarat kepadanya terdapat dalam firman-Nya ‘azza wa
jalla: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan
gunung-gunung…”
فَأَبَيْنَ
أَنْ يَحْمِلْنَهَا
Mereka enggan memikulnya
وَأَشْفَقْنَ
مِنْهَا
dan mereka takut kepadanya
وَحَمَلَهَا
الْإِنْسَانُ
lalu manusia memikulnya
إِشَارَةٌ
إِلَى أَنَّ لَهُ خَاصِّيَّةً تَمَيَّزَ بِهَا عَنِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَالْجِبَالِ
Ini isyarat bahwa manusia memiliki kekhususan yang
membedakannya dari langit, bumi, dan gunung
بِهَا
صَارَ مَطِيقًا لِحَمْلِ أَمَانَةِ اللهِ تَعَالَى
Dengan itu, ia menjadi sanggup memikul amanat Allah
Ta‘ālā
وَتِلْكَ
الْأَمَانَةُ هِيَ الْمَعْرِفَةُ وَالتَّوْحِيدُ
Dan amanat itu adalah ma‘rifat (mengenal) dan tauhid
وَقَلْبُ
كُلِّ آدَمِيٍّ مُسْتَعِدٌّ لِحَمْلِ الْأَمَانَةِ وَمُطِيقٌ لَهَا فِي الْأَصْلِ
Kalbu setiap manusia pada dasarnya siap menerima amanat itu
dan sanggup memikulnya
وَلٰكِنْ
يُثَبِّطُهُ عَنِ النَّهُوضِ بِأَعْبَائِهَا
Tetapi ada sebab-sebab yang membuatnya lesu dari bangkit
memikul bebannya
وَالْوُصُولِ
إِلَى تَحْقِيقِهَا
dan dari mencapai hakikat untuk mewujudkannya
وَلِذٰلِكَ
قَالَ ﷺ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
Karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam fitrah…”
وَإِنَّمَا
أَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ
Hanya saja kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi,
Nasrani, atau Majusi”
(حديث)
“كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيثِ
أَبِي هُرَيْرَةَ
Hadis “كل
مولود يولد على الفطرة” Muttafaq ‘alaih dari hadis Abu
Hurairah
وَقَوْلُ
رَسُولِ اللهِ ﷺ: لَوْلَا أَنْ الشَّيَاطِينَ تَحُومُ عَلَى قُلُوبِ بَنِي آدَمَ
لَنَظَرُوا إِلَى مَلَكُوتِ السَّمَاءِ
Dan sabda Rasulullah ﷺ: “Andaikan setan-setan tidak mengelilingi
hati anak Adam, niscaya mereka akan melihat malakut langit.”
(1) حَدِيثُ
ابْنِ عُمَرَ: يَقُولُ رَسُولُ اللهِ ﷺ… أَيْنَ اللهُ؟ قَالَ فِي قُلُوبِ
عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
(1) Hadis Ibnu ‘Umar: beliau bertanya “أين الله؟” (di mana Allah?)
Rasul menjawab (maknanya): “Di dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman…”
لَمْ
أَجِدْهُ بِهٰذَا اللَّفْظِ
Aku tidak menemukan lafaz ini persis dengan redaksi
demikian
وَلِلطَّبَرَانِيِّ
مِنْ حَدِيثِ أَبِي عُتْبَةَ الْخَوْلَانِيِّ
Ath-Thabarānī meriwayatkan dari hadis Abu ‘Utbah
al-Khaulānī
يَرْفَعُهُ
إِلَى النَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ لِلَّهِ آنِيَةً مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ وَآَنِيَةَ
رَبِّكُمْ قُلُوبَ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ
Ia marfu‘kan kepada Nabi ﷺ: “Sesungguhnya bagi Allah ada
bejana-bejana dari penduduk bumi, dan bejana Tuhan kalian adalah hati-hati
hamba-Nya yang saleh…”
الْحَدِيثُ
yakni kelanjutannya
فِيهِ
بَقِيَّةُ بْنِ الْوَلِيدِ
Di dalamnya ada Bقیّة ibn al-Walīd
وَهُوَ
مُدَلِّسٌ
ia seorang mudallis
لٰكِنَّهُ
صَرَّحَ فِيهِ بِالتَّحْدِيثِ
tetapi ia menjelaskan dengan cara “tahdits” secara
tegas
(2) حَدِيثُ:
مَا وَسِعَنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي وَوَسِعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ
اللَّيِّنِ الْوَادِعِ
(2) Hadis: “Tidaklah bumi dan langit-Ku dapat menampung-Ku,
namun hati hamba-Ku yang beriman yang lembut dan tenang dapat
menampung-Ku…”
لَمْ
أَجِدْ لَهُ أَصْلًا
Aku tidak menemukannya memiliki dasar riwayat yang kuat
وَفِي
حَدِيثِ أَبِي عُتْبَةَ
Dalam hadis Abu ‘Utbah
قَبْلَهُ
عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ بَعْدَ قَوْلِهِ: وَآَنِيَةُ رَبِّكُمْ قُلُوبُ عِبَادِهِ
الصَّالِحِينَ
Ath-Thabarānī meriwayatkan sebelumnya dari ucapannya setelah
“وآنية ربكم
قلوب عباده الصالحين…”
وَأَحَبَّهَا
إِلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَرَقُّهَا
dan “yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut dan
paling jernih…”
وَفِي
الْخَبَرِ
Dalam riwayat juga disebutkan
أَنَّهُ
قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ ﷺ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ؟
Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah ﷺ, siapakah manusia
terbaik?”
فَقَالَ:
كُلُّ مُؤْمِنٍ مَخْمُومِ الْقَلْبِ
Beliau menjawab: “Setiap mukmin yang hatinya penuh keimanan
(mukhmūm)”
فَقِيلَ:
وَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟
Lalu ditanya: “Dan apa itu hati yang mȃkhmūm?”
فَقَالَ:
هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ الَّذِي لَا غِشَّ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غَدْرَ
وَلَا غَلَّ وَلَا حَسَدَ
Beliau menjawab: “Itu adalah orang yang bertakwa, bersih,
tidak ada tipu daya, tidak ada zalim, tidak ada pengkhianatan, tidak ada
kebencian/penyempitan, dan tidak ada hasad.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: رَأَى قَلْبِي رَبِّي
Karena itu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Kuatlah
(kesesuaian) hatiku, Rab-ku.”
إِذْ
كَانَ قَدْ رَفَعَ الْحِجَابَ بِالتَّقْوَى
Karena beliau mengangkat penghalang dengan taqwa
وَمَنْ
ارْتَفَعَ الْحِجَابُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى
Dan siapa yang terangkat penghalang antara dirinya dan Allah
Ta‘ālā
تَجَلَّى
لَهُ صُورَةُ الْمَلِكِ وَالْمَلَكُوتِ فِي قَلْبِهِ
maka tergambarlah baginya dalam hati bentuk Raja dan
malakut
فَيَرَى
جَنَّةً
Ia melihat surga
عَرْضُ
بَعْضِهَا السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
Lebar sebagian surga seperti langit dan bumi
أَمَّا
جُمْلَتُهَا فَأَكْثَرُ سَعَةً مِنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
Adapun keseluruhannya, lebih luas daripada langit dan
bumi
لِأَنَّ
السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ إِبَارَةٌ عَنْ عَالَمِ الْمُلْكِ وَالشَّهَادَةِ
Karena langit dan bumi adalah ungkapan untuk alam al-mulk
(yang nyata) dan al-syahādah (yang disaksikan)
وَإِنْ
كَانَتْ وَاسِعَةَ الْأَطْرَافِ مُتَبَاعِدَةَ الْأَكْنَافِ
meskipun luas ujung-ujungnya dan berjauhan sisi-sisinya
فَهِيَ
مُتَنَاهِيَةٌ عَلَى الْجُمْلَةِ
namun secara keseluruhan ia memiliki batas
وَأَمَّا
عَالَمُ الْمَلَكُوتِ وَهُوَ الأَسْرَارُ الْغَائِبَةُ عَنْ مُشَاهَدَةِ
الْأَبْصَارِ
Adapun alam malakut, yaitu rahasia-rahasia yang tidak bisa
disaksikan oleh mata biasa
الْمُخْتَصَّةُ
بِإِدْرَاكِ الْبَصَائِرِ
yang khusus ditangkap oleh bashā’ir (mata hati/ketajaman
batin)
فَلَا
نِهَايَةَ لَهُ
tidak ada ujungnya
نَعَمْ
الَّذِي يَلُوحُ لِلْقَلْبِ مِنْهُ مِقْدَارٌ مُتَنَاهٍ
Namun yang tampak kepada hati darinya adalah ukuran yang
terbatas
وَلٰكِنَّهُ
فِي نَفْسِهِ وَبِالإِضَافَةِ إِلَى عِلْمِ اللهِ لَا نِهَايَةَ لَهُ
tetapi pada dirinya sendiri dan jika dibanding ilmu Allah,
tidak ada akhirnya
وَجُمْلَةُ
عَالَمِ الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ إِذَا أُخِذَتْ دَفْعَةً وَاحِدَةً تُسَمَّى
الْحَضْرَةَ الرُّبُوبِيَّة
Dan keseluruhan alam mulk dan malakut, jika dipahami secara
satu kesatuan, disebut “hadhrah rubūbiyyah”
لِأَنَّ
الْحَضْرَةَ الرُّبُوبِيَّةَ مُحِيطَةٌ بِكُلِّ الْمَوْجُودَاتِ
Karena hadhirah rubūbiyyah meliputi seluruh yang ada
إِذْ
لَيْسَ فِي الْوُجُودِ شَيْءٌ سِوَى اللهِ تَعَالَى وَأَفْعَالِهِ وَمَمْلَكَتِهِ
وَعِبَادِهِ مِنْ أَفْعَالِهِ
Sebab tidak ada apa pun dalam wujud selain Allah Ta‘ālā,
perbuatan-perbuatan-Nya, kerajaan-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang juga termasuk
dari perbuatan-Nya
فَمَا
يَتَجَلَّى مِنْ ذٰلِكَ لِلْقَلْبِ هُوَ الْجَنَّةُ بِعَيْنِهَا عِنْدَ قَوْمٍ
Maka apa yang tampak kepada hati dari itu adalah surga itu
sendiri menurut sebagian orang
وَهُوَ
سَبَبُ اسْتِحْقَاقِ الْجَنَّةِ عِنْدَ أَهْلِ الْحَقِّ
Dan itulah sebab surga berhak didapatkan menurut ahli
kebenaran
وَيَكُونُ
سِعَةُ مِلْكِهِ فِي الْجَنَّةِ بِحَسَبِ سَعَةِ مَعْرِفَتِهِ
Dan keluasan kerajaannya di surga sesuai keluasan
ma‘rifahnya
وَبِمِقْدَارِ
مَا تَجَلَّى لَهُ مِنَ اللهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ
serta sesuai ukuran yang Allah tampakkan kepadanya dari
sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya
وَإِنَّمَا
مَرَادُ الطَّاعَاتِ وَأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ كُلُّهَا تَصْفِيَةُ الْقَلْبِ
وَتَزْكِيَتُهُ وَجَلَاؤُهُ
Sesungguhnya tujuan seluruh ketaatan dan amal anggota tubuh
semuanya adalah menyucikan hati, menumbuhkembangkan kebersihannya, dan
menjernihkannya
{قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا}
“{Sungguh beruntung orang yang mensucikannya}.”
وَمُرَادُ
تَزْكِيَتِهِ حُصُولُ أَنْوَارِ الْإِيمَانِ فِيهِ
Dan tujuan pensuciannya adalah lahirnya cahaya-cahaya iman
di dalamnya
أَعْنِي
إِشْرَاقَ نُورِ الْمَعْرِفَةِ
yaitu terangnya cahaya ma‘rifah
وَهُوَ
الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ
صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
Dan itulah yang dimaksud firman-Nya: “Barang siapa yang
Allah kehendaki untuk memberi petunjuk kepadanya, Dia lapangkan dadanya untuk
Islam.”
أَفَمَنْ
شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ
“Lalu apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk Islam
lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya…?”
نَعَمْ
هٰذَا التَّجَلِّي وَهٰذَا الإِيمَانُ لَهُ ثَلَاثُ مَرَاتِبَ
Ya, tampakan (tajallī) dan iman ini memiliki tiga
tingkatan
الْمَرْتَبَةُ
الْأُولَى إِيمَانُ الْعَوَامِّ
Tingkatan pertama: iman orang awam
وَهُوَ
إِيمَانُ التَّقْلِيدِ الْمَحْضِ
yaitu iman taqlid murni
وَالثَّانِيَةُ
إِيمَانُ الْمُتَكَلِّمِينَ
Tingkatan kedua: iman para mutakallimīn (ahli kalam)
وَهُوَ
مُمَزَّجٌ بِنَوْعٍ مِنِ اسْتِدْلَالٍ
yaitu iman yang bercampur dengan jenis dalil dan
penalaran
وَدَرَجَتُهُ
قَرِيبَةٌ مِنْ دَرَجَةِ إِيمَانِ الْعَوَامِّ
dan tingkatannya dekat dengan derajat iman awam
وَالْثَّالِثَةُ
إِيمَانُ الْعَارِفِينَ
Tingkatan ketiga: iman para arif-billah (yang mengetahui
dengan kasyaf)
وَهُوَ
الْمُشَاهَدُ بِنُورِ الْيَقِينِ
yaitu iman yang terlihat dengan cahaya keyakinan
وَنُبَيِّنُ
لَكَ هٰذِهِ الْمَرَاتِبَ بِمِثَالٍ
Kami jelaskan tingkatan-tingkatan ini dengan contoh
وَهُوَ
أَنَّ تَصْدِيقَكَ بِكَوْنِ زَيْدٍ مِثَلًا فِي الدَّارِ لَهُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ
misalnya keyakinanmu bahwa Zaid berada di dalam rumah
memiliki tiga derajat
أَوَّلُهَا
أَنْ يُخْبِرَكَ مَنْ جَرَّبَتْهُ الصِّدْقُ
Pertama, bahwa orang yang benar-benar sudah terbukti
kejujurannya memberi kabar kepadamu
وَلَمْ
تَعْرِفْهُ بِالْكَذِبِ وَلَا تُتَّهِمْهُ فِي الْقَوْلِ
tidak pernah dikenal berdusta dan tidak ada prasangka buruk
pada ucapannya
فَيَسْكُنُ
إِلَيْهِ قَلْبُكَ وَيَطْمَئِنُّ لِخَبَرِهِ بِمُجَرَّدِ السَّمْعِ
hatimu menjadi tenang dan tenteram hanya dari mendengar
kabar itu
فَهٰذَا
الإِيمَانُ بِمُجَرَّدِ التَّقْلِيدِ
itulah iman hanya karena taqlid
وَهُوَ
مِثْلُ إِيمَانِ الْعَوَامِّ
dan ia seperti iman orang awam
لِأَنَّهُمْ
لَمَّا بَلَغُوا سِنَّ التَّمْيِيزِ
sebab ketika mereka sampai usia membedakan
سَمِعُوا
مِنْ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ
mereka mendengar dari ayah dan ibu mereka
وُجُودَ
اللهِ وَعِلْمَهُ وَإِرَادَتَهُ وَقُدْرَتَهُ وَسَائِرَ صِفَاتِهِ
tentang keberadaan Allah, ilmu-Nya, iradah-Nya,
kekuasaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang lain
وَبَعْثَةَ
الرُّسُلِ وَصِدْقَهُمْ
tentang pengutusan para rasul dan kejujuran mereka
وَمَا
جَاءُوا بِهِ
serta apa yang mereka bawa
فَكَمَا
سَمِعُوا بِذٰلِكَ قَبِلُوهُ وَثَبَتُوا عَلَيْهِ
mereka menerima dan tetap berpegang
وَاطْمَأَنُّوا
إِلَيْهِ
dan merasa tenang karenanya
وَلَمْ
يَخْطُرْ بِبَالِهِمْ خِلَافُ مَا قَالُوهُ لَهُمْ
Tidak terlintas dalam pikiran mereka hal yang bertentangan
dengan apa yang mereka dengar
لِحُسْنِ
ظَنِّهِمْ بِآبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ وَمُعَلِّمِيهِمْ
karena prasangka baik mereka pada orang tua dan guru-guru
mereka
وَهٰذَا
الإِيمَانُ سَبَبُ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ
iman ini menjadi sebab keselamatan di akhirat
وَأَهْلُهُ
مِنْ أَوَّائِلِ رُتَبِ أَصْحَابِ الْيَمِينِ
penghuninya termasuk di awal tingkatan ahli kanan
وَلَيْسُوا
مِنَ الْمُقَرَّبِينَ
dan mereka bukan termasuk yang paling dekat
لِأَنَّهُ
لَيْسَ فِيهِ كَشْفٌ وَبَصِيرَةٌ وَانْشِرَاحُ صَدْرٍ بِنُورِ الْيَقِينِ
karena di dalamnya tidak ada kasyaf, bashīrah, dan
kelapangan dada dengan cahaya keyakinan
وَالْخَطَأُ
مُمْكِنٌ فِيمَا سُمِعَ مِنْ الْآحَادِ وَمِنْ الْأَعْدَادِ
sedangkan salah mungkin terjadi dalam apa yang didengar dari
satu orang (atau jumlah bilangan)
فَقُلُوبُ
الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى أَيْضًا مَطْمَئِنَّةٌ لِمَا يَسْمَعُونَ مِنْ
آبَائِهِمْ
Hati orang Yahudi dan Nasrani juga tenang terhadap apa yang
mereka dengar dari orang tua mereka
إِلَّا
أَنَّهُمْ اعْتَقَدُوا مَا اعْتَقَدُوا خَطَأً
tetapi mereka meyakini yang salah
لِأَنَّهُ
أُلْقِيَ إِلَيْهِمُ الْخَطَأُ
karena kesalahan dilemparkan kepada mereka
وَالْمُسْلِمُونَ
اعْتَقَدُوا الْحَقَّ
orang-orang Muslim meyakini yang benar
لَا
لِاطِّلَاعِهِمْ عَلَيْهِ
bukan karena pengetahuan mereka sendiri yang langsung,
بَلْ
أُلْقِيَ إِلَيْهِمْ كَلِمَةُ الْحَقِّ
melainkan karena kebenaran dilemparkan kepada mereka
الرتبة
الثانية
Tingkatan kedua
أَنْ
تَسْمَعَ كَلَامَ زَيْدٍ وَصَوْتَهُ مِنْ دَاخِلِ الدَّارِ
yakni kamu mendengar kata-kata dan suaranya dari dalam
rumah
وَلٰكِنْ
مِنْ وَرَاءِ جِدَارٍ
tetapi dari balik tembok
فَتَسْتَدِلُّ
عَلَى كَوْنِهِ فِي الدَّارِ
lalu kamu menyimpulkan bahwa ia ada di rumah
فَيَكُونُ
إِيمَانُكَ وَتَصْدِيقُكَ وَيَقِينُكَ أَقْوَى
maka iman, tashdīq (pembenaran), dan keyakinamu lebih
kuat
مِنْ
تَصْدِيقِكَ بِمُجَرَّدِ السَّمْعِ
dibanding hanya sekadar mendengar kabar
إِذَا
قِيلَ لَكَ إِنَّهُ فِي الدَّارِ
ketika diberitahu bahwa ia di rumah
ثُمَّ
سَمِعْتَ صَوْتَهُ
kemudian kamu mendengar suaranya
ازْدَدْتَ
بِهِ يَقِينًا
maka keyakinmu bertambah
لِأَنَّ
الْأَصْوَاتَ تَدُلُّ عَلَى الشَّكْلِ وَالصُّورَةِ
karena suara menunjukkan bentuk dan rupa
عِنْدَ
مَنْ يَسْمَعُ الصَّوْتَ فِي حَالِ مُشَاهَدَةِ الصُّورَةِ
bagi yang mendengar suara itu ketika ia melihat rupa
orangnya
فَيَحْكُمُ
قَلْبُهُ أَنَّ هٰذَا صَوْتُ ذٰلِكَ الشَّخْصِ
sehingga hatinya memutuskan bahwa ini suara orang itu
وَهٰذَا
إِيمَانٌ مُمَزَّجٌ بِدَلِيلٍ
dan ini adalah iman yang bercampur dalil
وَالْخَطَأُ
أَيْضًا مُمْكِنٌ
sedangkan salah pun masih bisa masuk
إِذْ
قَدْ يُشْبِهُ الصَّوْتُ الصَّوْتَ
karena suara bisa mirip
وَقَدْ
يُمْكِنُ التَّكَلُّفُ بِطَرِيقِ الْمُحَاكَاةِ
dan mungkin ada upaya menipu dengan meniru
إِلَّا
أَنَّ ذٰلِكَ قَدْ لَا يَخْطُرُ فِي بَالِ السَّامِعِ
tetapi hal itu mungkin tidak terlintas pada
pendengarnya
لِأَنَّهُ
لَا يَجْعَلُ لِلتَّهْمَةِ مَوْضِعًا
karena ia tidak memberi tempat bagi tuduhan
وَلَا
يُقْدِرُ فِي هٰذَا التَّلْبِيسِ وَالْمُحَاكَاةِ غَرَضًا
dan ia tidak mengira bahwa peniruan dan pengelabuan itu
menjadi tujuan
الرتبة
الثالثة
Tingkatan ketiga
أَنْ
تَدْخُلَ الدَّارَ فَتَنْظُرَ إِلَيْهِ بَعَيْنِكَ
yakni kamu masuk rumah dan melihatnya dengan matamu
وَتُشَاهِدَهُ
serta menyaksikannya langsung
وَهٰذِهِ
هِيَ الْمَعْرِفَةُ الْحَقِيقِيَّةُ
Inilah pengetahuan yang hakiki
وَالْمُشَاهَدَةُ
الْيَقِينِيَّةُ
dan penyaksian yang penuh keyakinan
وَهِيَ
تَشْبِهُ مَعْرِفَةَ الْمُقَرَّبِينَ وَالصِّدِّيقِينَ
ia menyerupai pengetahuan orang-orang yang dekat dan
orang-orang yang sangat benar
إِذْ
يُؤْمِنُونَ عَنْ مُشَاهَدَةٍ
karena mereka beriman melalui penyaksian
فَيَنْطَوِي
فِي إِيمَانِهِمْ إِيمَانُ الْعَوَامِّ وَالْمُتَكَلِّمِينَ
lalu iman awam dan iman mutakallimīn terkandung di dalam
iman mereka
وَيَتَمَيَّزُونَ
بِمَزِيَّةٍ بَيِّنَةٍ يَسْتَحِيلُ مَعَهَا إِمْكَانُ الْخَطَأِ
mereka memiliki keistimewaan yang jelas, yang hampir
mustahil menyisakan ruang bagi kesalahan
نَعَمْ
وَهُمْ أَيْضًا يَتَفَاوَتُونَ بِمَقَادِيرِ الْعُلُومِ وَبِدَرَجَاتِ الْكَشْفِ
Ya, mereka juga bertingkat dalam ukuran ilmu dan derajat
kasyaf
أَمَّا
دَرَجَاتُ الْكَشْفِ
Adapun derajat kasyaf
فَمِثَالُهُ
أَنْ يُبْصِرَ زَيْدًا فِي الدَّارِ عَنْ قُرْبٍ
misalnya Zaid terlihat olehnya dari dekat di dalam
rumah
فِي
صَحْنِ الدَّارِ فِي وَقْتِ إِشْرَاقِ الشَّمْسِ
atau di halaman rumah, pada waktu matahari menyinari
terang
فَيَكْمُلَ
لَهُ إِدْرَاكُهُ
maka ia sempurna menangkapnya
وَالآخَرُ
يَدْرِكُهُ فِي بَيْتٍ أَوْ مِنْ بَعْدٍ
sedangkan yang lain menemukannya dari dalam rumah lain atau
dari jauh
أَوْ
فِي وَقْتِ عَشِيَّةٍ
atau pada waktu sore
فَيَتَمَثَّلُ
لَهُ فِي صُورَتِهِ
maka ia terlihat dalam wujudnya
مَا
يَسْتَيْقِنُ مَعَهُ أَنَّهُ هُوَ
dengan penglihatan yang membuatnya yakin itu dia
وَلٰكِنْ
لَا يَتَمَثَّلُ لَهُ فِي نَفْسِهِ الدَّقَائِقُ وَالْخَفَايَا مِنْ صُورَتِهِ
tetapi rincian dan kehalusan dalam bentuknya tidak tampak
sepenuhnya
وَمِثْلُ
هٰذَا مُتَصَوَّرٌ فِي تَفَاوُتِ الْمُشَاهَدَةِ لِلْأُمُورِ الإِلٰهِيَّةِ
Dan hal seperti ini bisa dibayangkan dalam perbedaan
penyaksian terhadap urusan-urusan ketuhanan
وَأَمَّا
مَقَادِيرُ الْعُلُومِ
Adapun ukuran ilmu
فَهُوَ
أَنْ يَرَى فِي الدَّارِ زَيْدًا وَعَمْرًا وَبَكْرًا وَغَيْرَهُمْ
yakni ia melihat di rumah itu Zaid, ‘Amr, Bakr, dan yang
lain
وَالآخَرُ
لَا يَرَى إِلَّا زَيْدًا
sedangkan yang lain tidak melihat kecuali Zaid
فَمَعْرِفَتُهُ
زِيَادَةٌ بِكَثْرَةِ الْمَعْلُومَاتِ لَا مَحَالَةً
maka pengetahuannya bertambah pasti karena banyaknya
informasi
فَهٰذَا
حَالُ الْقَلْبِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْعُلُومِ
Demikianlah keadaan hati terhadap ilmu
وَاللَّهُ
تَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Dan Allah Ta‘ālā Maha Mengetahui yang benar