Ringkasan Sifat-Sifat Hati dan Perumpamaan-Perumpamaannya

 بَيَانُ مَجَامِعِ أَوْصَافِ الْقَلْبِ وَأَمْثِلَتِهِ 

Penjelasan tentang ringkasan sifat-sifat hati dan perumpamaan-perumpamaannya 

اِعْلَمْ أَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ اصْطَحَبَ فِي خَلْقَتِهِ وَتَرْكِيبِهِ أَرْبَعَ شُوَائِبَ 

Ketahuilah bahwa manusia, ketika diciptakan dan tersusun, disertai oleh empat macam pengaruh/cacat yang bercampur 

فَلِذٰلِكَ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ مِنَ الْأَوْصَافِ 

Karena itu berkumpullah pada dirinya empat jenis sifat 

وَهِيَ الصِّفَاتُ السَّبْعِيَّةُ وَالْبَهِيمِيَّةُ وَالشَّيْطَانِيَّةُ وَالرَّبَّانِيَّةُ 

yaitu sifat-sifat yang bercorak seperti “binatang buas”, seperti “binatang ternak”, seperti “setan”, dan seperti “ketuhanan (rabbani)” 

فَهُوَ مِنْ حَيْثُ سُلِّطَ عَلَيْهِ الْغَضَبُ 

Adapun dari sisi ketika marah diberi kendali atas dirinya 

يَتَعَاطَى أَفْعَالَ السِّبَاعِ 

ia melakukan perbuatan-perbuatan binatang buas 

مِنَ الْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ وَالتَّهَجُّمِ عَلَى النَّاسِ بِالضَّرْبِ وَالشَّتْمِ 

berupa permusuhan, kebencian, dan menyerang manusia dengan pukulan serta cacian 

وَمِنْ حَيْثُ سُلِّطَ عَلَيْهِ الشَّهْوَةُ 

Adapun dari sisi ketika syahwat diberi kendali atas dirinya 

يَتَعَاطَى أَفْعَالَ الْبَهَائِمِ 

ia melakukan perbuatan-perbuatan binatang ternak 

مِنَ الشَّرَهِ وَالْحِرْصِ وَالشَّهَقِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ 

seperti rakus, tamak, nafsu meluap, dan yang semisalnya 

وَمِنْ حَيْثُ أَنَّهُ فِي نَفْسِهِ أَمْرٌ رَبَّانِيٌّ 

Adapun dari sisi bahwa dalam dirinya ada “urusan rabbani” 

كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي 

sebagaimana Allah Ta‘ālā berfirman: “قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي 

فَإِنَّهُ يُدْعَى لِنَفْسِهِ الرُّبُوبِيَّةَ 

maka ia menyeru kepada dirinya sendiri bahwa ia memiliki rubūbiyyah (ketuhanan kecil dalam dirinya) 

وَيُحِبُّ الِاسْتِيلَاءَ وَالِاسْتِعْلَاءَ وَالتَّخَصُّصَ وَالِاسْتِبْدَادَ بِالْأُمُورِ 

ia menyukai penguasaan, meraih ketinggian, ingin spesifik/unggul, dan sikap mengambil alih segala urusan 

وَالْتَّفَرُّدَ بِالرِّيَاسَةِ 

serta ingin berdiri sendiri sebagai pemimpin 

وَالِانسِلَالسَ عَنْ رُقْبَةِ الْعُبُودِيَّةِ 

dan lepas dari ikatan kehinaan ‘ubūdiyyah 

وَالتَّوَاضُعَ 

dan juga (menolak) sifat tawadhu‘ 

وَيَشْتَهِي الاطِّلَاعَ عَلَى الْعُلُومِ كُلِّهَا 

ia menginginkan melihat dan mengetahui seluruh ilmu 

بَلْ يَدَّعِي لِنَفْسِهِ الْعِلْمَ وَالْمَعْرِفَةَ وَالِإِحَاطَةَ بِحَقَائِقِ الْأُمُورِ 

bahkan ia menuntut untuk dirinya ilmu, ma‘rifah, dan menguasai hakikat-hakikat perkara 

وَيَفْرَحُ إِذَا نُسِبَ إِلَى الْعِلْمِ 

ia senang bila disandarkan kepadanya ilmu 

وَيَحْزَنُ إِذَا نُسِبَ إِلَى الْجَهْلِ 

dan ia sedih bila disandarkan kepadanya kebodohan 

وَالِإِحَاطَةُ بِجَمِيعِ الْحَقَائِقِ 

serta ingin menguasai semua hakikat 

وَالِاسْتِيلَاءُ بِالْقَهْرِ عَلَى جَمِيعِ الْخَلَائِقِ 

dan penguasaan dengan paksaan atas seluruh makhluk 

مِنْ أَوْصَافِ الرُّبُوبِيَّةِ 

ini termasuk sifat rubūbiyyah 

وَفِي الْإِنْسَانِ حِرْصٌ عَلَى ذٰلِكَ 

dan dalam diri manusia ada keinginan/ambisi untuk itu 

وَمِنْ حَيْثُ يَخْتَصُّ مِنَ الْبَهَائِمِ بِالتَّمْيِيزِ 

Adapun dari sisi manusia khusus dari binatang ternak dengan kemampuan membedakan 

مَعَ مُشَارَكَتِهِ لَهَا فِي الْغَضَبِ وَالشَّهْوَةِ 

meski ia ikut bagian dalam marah dan syahwat 

حَصَلَتْ فِيهِ شَيْطَانِيَّةٌ 

maka muncullah pada dirinya sifat setani 

فَصَارَ شَرِّيرًا يَسْتَعْمِلُ التَّمْيِيزَ فِي 

lalu ia menjadi jahat dan menggunakan kemampuan membedakan 

اِسْتِنْبَاطِ وُجُوهِ الشَّرِّ 

untuk merumuskan cara-cara keburukan 

وَيَتَوَصَّلُ إِلَى الْأَغْرَاضِ بِالْمَكْرِ وَالْحِيلَةِ وَالْخِدَاعِ 

dan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan tipu daya, siasat, dan pengelabuan 

وَيُظْهِرُ الشَّرَّ فِي مَعْرِضِ الْخَيْرِ 

ia menampilkan keburukan seolah-olah kebaikan 

وَهٰذِهِ أَخْلَاقُ الشَّيَاطِينِ 

dan ini adalah akhlak-akhlak setan 

وَكُلُّ إِنْسَانٍ فِيهِ شُوبٌ مِنْ هٰذِهِ الْأُصُولِ الْأَرْبَعَةِ 

Setiap manusia memiliki bagian dari keempat prinsip pokok ini 

أَعْنِي الرَّبَّانِيَّةَ وَالشَّيْطَانِيَّةَ وَالسَّبْعِيَّةَ وَالْبَهِيمِيَّةَ 

yaitu rabbani, setani, seperti binatang buas, dan seperti binatang ternak 

وَكُلُّ ذٰلِكَ مَجْمُوعٌ فِي الْقَلْبِ 

dan semuanya terkumpul di dalam hati 

فَكَأَنَّ الْمَجْمُوعَ فِي إِهَابِ الْإِنْسَانِ خِنْزِيرٌ وَكَلْبٌ وَشَيْطَانٌ وَحَكِيمٌ 

maka seakan-akan kumpulan itu di dalam tubuh manusia adalah: babi, anjing, setan, dan seorang hakim (orang berilmu) 

فَالْخِنْزِيرُ هُوَ الشَّهْوَةُ 

babi itu adalah syahwat 

فَلَمْ يَكُنْ الْخِنْزِيرُ مَذْمُومًا لِأَوْلَانِهِ وَشَكْلِهِ وَصُورَتِهِ 

Bukan karena warna, bentuk, atau rupanya babi itu dicela 

بَلْ لِجُشَعِهِ وَكَلْبِهِ وَحِرْصِهِ 

melainkan karena kerakusannya, kebuasannya, dan ketamakannya 

وَالْكَلْبُ هُوَ الْغَضَبُ 

anjing itu adalah marah 

فَإِنَّ السَّبُعَ الضَّارِيَ وَالْكَلْبَ الْعَقُورَ 

sesungguhnya singa/binatang buas yang ganas dan anjing yang galak 

لَيْسَا كَلْبًا وَسَبْعًا بِاعْتِبَارِ الصُّورَةِ وَاللَّوْنِ وَالشَّكْلِ 

bukan “anjing” dan “binatang buas” semata-mata karena rupa, warna, dan bentuk 

بَلْ رُوحُ مَعْنَى السَّبْعِيَّةِ الضَّرَاوَةُ وَالْعَدْوَانُ وَالْعَقْرُ 

akan tetapi yang dimaksud adalah roh/ruh makna binatang buas: keganasan, penyerangan, dan kebrutalan 

وَفِي بَاطِنِ الْإِنْسَانِ ضِرَاوَةُ السَّبْعِ وَغَضَبُهُ 

di batin manusia ada keganasan binatang buas dan kemarahannya 

وَحِرْصُ الْخِنْزِيرِ وَشَهَقُهُ 

dan ada ketamakan babi serta luapan syahwatnya 

فَالْخِنْزِيرُ يَدْعُو بِالشَّهْرِ إِلَى الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ 

babi itu mengajak kepada kekejian dan kemungkaran melalui syahwat 

وَالسَّبْعُ بِالْغَضَبِ إِلَى الظُّلْمِ وَالْإِيذَاءِ 

sedangkan binatang buas (amarah) melalui marah mengajak kepada kezaliman dan menyakiti 

وَالشَّيْطَانُ لَا يَزَالُ يُهَيِّجُ شَهْوَةَ الْخِنْزِيرِ وَغَيْظَ السَّبْعِ 

setan terus-menerus membangkitkan syahwat babi dan kemarahan binatang buas 

وَيُغْرِي أَحَدَهُمَا بِالآخَرِ 

dan membuat keduanya saling menggoda 

وَيُحَسِّنُ لَهُمَا مَا هُمَا مُجَبُولَانِ عَلَيْهِ 

serta membuat mereka merasa baik terhadap apa yang memang menjadi tabiatnya 

وَالْحَكِيمُ الَّذِي هُوَ مَثَالُ الْعَقْلِ 

sedangkan hakim yang menjadi contoh akal 

مَأْمُورٌ بِأَنْ يَدْفَعَ كَيْدَ الشَّيْطَانِ وَمَكْرَهُ 

diperintahkan untuk menolak tipu daya setan dan makar-Nya 

بِأَنْ يُكَشِّفَ عَنْ تَلْبِيسِهِ بِبَصِيرَتِهِ النَّافِذَةِ 

dengan membongkar kekeliruan/tipuannya memakai bashīrah yang tajam 

وَنُورِهِ الْمُشْرِقِ الْوَاضِحِ 

dan cahaya yang terang dan jelas 

وَأَنْ يَكْسِرَ شَرَّهُ هٰذَا الْخِنْزِيرِ بِتَسْلِيطِ الْكَلْبِ عَلَيْهِ 

serta mematahkan keburukan babi ini dengan menundukkan “anjing” (marah) kepadanya 

فَبِالْغَضَبِ يَكْسِرُ سُورَةَ الشَّهْوَةِ 

karena marah mematahkan “semangat” syahwat 

وَيَدْفَعُ ضِرَاوَةَ الْكَلْبِ بِتَسْلِيطِ الْخِنْزِيرِ عَلَيْهِ 

dan keganasan anjing ditahan dengan menimpakan babi kepadanya 

وَيَجْعَلُ الْكَلْبَ مَقْهُورًا تَحْتَ سِيَاسَتِهِ 

lalu ia membuat anjing menjadi tunduk di bawah kendalinya 

فَإِنْ فَعَلَ ذٰلِكَ وَقَدَرَ عَلَيْهَا 

Jika ia melakukan itu dan mampu mengendalikan keduanya 

اِعْتَدَلَ الْأَمْرُ 

maka urusan menjadi seimbang 

وَظَهَرَ الْعَدْلُ فِي مَمْلَكَةِ الْبَدَنِ 

dan keadilan tampak di kerajaan tubuh 

وَجَرَى الْكُلُّ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ 

dan semuanya berjalan di atas jalan yang lurus 

وَإِنْ عَجَزَ عَنْ قَهْرِهَا وَقَهَرُوهُ 

Jika ia lemah (tidak mampu) menundukkannya dan keduanya justru mengalahkannya 

وَاسْتَعْمَلُوهُ 

lalu mereka memakainya 

فَلَا يَزَالُ فِي اِسْتِنْبَاطِ الْحِيلِ وَتَدْقِيقِ الْفِكْرِ 

maka ia terus-menerus sibuk menyusun siasat dan menghaluskan pemikiran 

لِيَشْبَعَ الْخِنْزِيرُ وَيَرْضَى الْكَلْبُ 

agar babi kenyang dan anjing senang 

فَيَكُونُ دَائِمًا فِي عِبَادَةِ كَلْبٍ وَخِنْزِيرٍ 

sehingga ia terus-menerus berada dalam ibadah kepada anjing dan babi 

وَهٰذَا حَالُ أَكْثَرِ النَّاسِ 

Dan inilah keadaan kebanyakan manusia 

مَهْمَا كَانَ أَكْثَرُ هِمَّتِهِمُ الْبَطْنُ وَالْفَرْجُ 

Betapapun besar perhatian mereka, yang dominan adalah perut dan kemaluan 

وَمُنَافَسَةُ الْأَعْدَاءِ وَالْعَجَبُ 

bersaing dengan musuh, dan rasa takjub 

وَعَجَبٌ مِمَّا يَنْكُرُونَ عَلَى عَبَدَةِ الْأَصْنَامِ 

Ada keheranan: mereka mengingkari ibadah penyembah berhala 

عِبَادَتَهُمُ لِلْحِجَارَةِ 

padahal yang disembah itu batu 

لَوْ كُشِفَ الْغِطَاءُ عَنْهُمْ 

Jika dibuka tabir dari mereka 

وَكُوشِفَتْ بِحَقِيقَةِ حَالِهِمْ 

dan ditampakkan hakikat keadaan mereka 

وَمُثِّلَ لَهُمْ حَقِيقَةُ حَالِهِمْ 

lalu diperlihatkan kepada mereka keadaan sebenarnya 

كَمَا يُمَثَّلُ لِلْمُكَاشِفِينَ 

sebagaimana diperumpamakan kepada orang-orang yang mendapat kasyaf (penyingkapan) 

إِمَّا فِي النَّوْمِ أَوْ فِي الْيَقَظَةِ 

entah dalam mimpi atau saat sadar 

لَرَأَوْا أَنْفُسَهُمْ مُثْلًا بَيْنَ يَدَيْ خِنْزِيرٍ سَاجِدًا 

niscaya mereka melihat diri sendiri hadir di hadapan babi: sujud kepadanya satu kali 

وَرَاكِعًا أُخْرَى 

dan ruku’ sekali lagi 

وَمُنْتَظِرًا لِإِشَارَتِهِ وَأَمْرِهِ 

seraya menunggu isyarat dan perintahnya 

فَمَهْمَا هَاجَ الْخِنْزِيرُ لِطَلَبِ شَيْءٍ مِنْ شَهَوَاتِهِ 

Maka jika babi menggebu untuk meminta sesuatu dari syahwatnya 

انْبَعَثَ عَلَى الْفَوْرِ فِي خِدْمَتِهِ 

ia langsung bangkit mengabdi 

وَإِحْضَارِ شَهْوَتِهِ 

dan menghadirkan syahwatnya 

أَوْ رَأَى نَفْسَهُ مَاثِلًا بَيْنَ يَدَيْ كَلْبٍ عَقُورٍ عَابِدًا لَهُ 

atau ia melihat dirinya berdiri di hadapan anjing galak, menyembahnya 

مُطِيعًا لِمَا يَقْتَضِيهِ وَيَلْتَمِسُهُ 

patuh pada tuntutannya dan yang ia minta 

مُدَقِّقًا بِالْفِكْرِ فِي حِيلِ الْوُصُولِ إِلَى طَاعَتِهِ 

serta teliti berpikir tentang siasat agar bisa taat kepadanya 

وَبِذٰلِكَ هُوَ سَاعٍ فِي مَسَرَّةِ شَيْطَانِهِ 

dan dengan itu ia bekerja untuk kesenangan setannya 

فَهُوَ الَّذِي يُهَيِّجُ الْخِنْزِيرَ وَيُثِيرُ الْكَلْبَ 

ia yang membangkitkan babi dan mengobarkan anjing 

وَيَبْعَثُهُمَا عَلَى اِسْتِعْمَالِهِ 

lalu keduanya menggerakkan dirinya untuk dimanfaatkan 

فَمِنْ هٰذَا الْوَجْهِ يَعْبُدُ الشَّيْطَانَ بِعِبَادَتِهِمَا 

maka dari sisi ini ia menyembah setan melalui ibadah kepada keduanya 

فَلْيَرَاقِبْ كُلُّ عَبْدٍ حَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ وَسُكُوتَهُ وَنُطْقَهُ 

maka setiap hamba hendaklah mengawasi gerak-geriknya, diamnya, diamnya, dan ucapannya 

وَقِيَامَهُ وَقُعُودَهُ 

berdirinya dan duduknya 

وَلْيَنْظُرْ بِعَيْنِ الْبَصِيرَةِ 

dan hendaklah melihat dengan mata bashīrah 

فَلَا يَرَى إِنْ أَنْصَفَ نَفْسَهُ إِلَّا سَاعِيًا طُولَ النَّهَارِ 

maka ia tidak akan melihat kecuali bahwa dirinya seharian sibuk 

فِي عِبَادَةِ هٰؤُلَاءِ 

dalam ibadah kepada makhluk-makhluk ini 

وَهٰذِهِ غَايَةُ الظُّلْمِ 

dan ini adalah puncak kezaliman 

إِذْ جَعَلَ الْمَالِكَ مَمْلُوكًا 

karena ia menjadikan pemilik seperti yang dimiliki 

وَالرَّبَّ مَرْبُوبًا 

dan Rabb seperti yang diperintah/diperbudak 

وَالسَّيِّدَ عَبْدًا 

dan tuan seperti seorang hamba 

وَالْقَاهِرَ مَقْهُورًا 

dan penguasa yang berkuasa menjadi dikuasai 

إِذِ الْعَقْلُ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْسِّيَادَةِ وَالْقَهْرِ وَالِاسْتِيلَاءِ 

Karena akal adalah yang berhak atas kepemimpinan, penaklukan, dan penguasaan 

وَقَدْ سَخَّرَهُ لِخِدْمَةِ هٰؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ 

lalu ia menundukkannya untuk melayani tiga (makhluk/unsur) ini 

فَلَا جَرَمَ يَتَـنَشَّرُ إِلَى قَلْبِهِ 

maka tak ayal sifat-sifat dari tiga unsur itu menyebar ke hatinya 

مِنْ طَاعَةِ هٰؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ صِفَاتٌ تَتَـتَاكَمُ عَلَيْهِ 

dari ketaatan kepada mereka menumpuk berlapis-lapis 

حَتَّى يَصِيرَ طَابَعًا وَرَيْنًا مُهْلِكًا لِلْقَلْبِ 

hingga menjadi stempel dan “rīn” yang membinasakan hati 

وَمُمِيتًا لَهُ 

dan mematikan hatinya 

أَمَّا طَاعَةُ خِنْزِيرِ الشَّهْوَةِ 

Adapun ketaatan kepada “babi syahwat” 

فَتَصْدُرُ مِنْهَا صِفَةُ الْوَقَاحَةِ وَالْخَبَثِ 

dari situ muncul sifat berani kasar, kotor, 

وَالتَّبْذِيرِ وَالتَّقْتِيرِ 

boros dan kikir, 

وَالرِّيَاءِ وَالْهَتْكَةِ وَالْمَجَانَةِ 

riya’, pelanggaran kehormatan, dan tidak menjaga kesopanan 

وَالْعَبَثِ وَالْحِرْصِ وَالْجَشَعِ 

bermain-main, tamak, rakus 

وَالْمُلْقِ وَالْحَسَدِ وَالْحِقْدِ وَالشَّمَاتَةِ 

membuat manis-manis, hasad, dengki, dan mengejek/bergembira atas musibah 

وَغَيْرِ ذٰلِكَ 

serta yang selain itu 

أَمَّا طَاعَةُ كَلْبِ الْغَضَبِ 

Adapun ketaatan kepada “anjing marah” 

فَتَنْتَشِرُ إِلَى الْقَلْبِ صِفَةُ التَّهَوُّرِ وَالْبَذَالَةِ 

maka menyebarlah ke hati sifat ceroboh, rendah, 

وَالْبَذَخِ وَالصَّلَفِ 

kemewahan berlebihan, dan sikap keras kepala 

وَالِاسْتِشَاطَةِ وَالتَّكَبُّرِ وَالْعُجْبِ 

meledak-ledak, sombong, dan takjub pada diri 

وَالِاسْتِهْزَاءِ وَالِاسْتِخْفَافِ 

mengolok, meremehkan 

وَتَحْقِيرِ الْخَلْقِ وَإِرَادَةِ الشَّرِّ 

merendahkan makhluk, menghendaki keburukan 

وَشَهْوَةِ الظُّلْمِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ 

dan menginginkan kezaliman serta yang semisalnya 

أَمَّا طَاعَةُ الشَّيْطَانِ بِطَاعَةِ الشَّهْوَةِ وَالْغَضَبِ 

Adapun ketaatan kepada setan melalui ketaatan syahwat dan marah 

فَيَحْصُلُ مِنْهَا صِفَةُ الْمَكْرِ وَالْخِدَاعِ 

maka dari situ muncul sifat tipu daya, pengelabuan, 

وَالْحِيلَةِ وَالدَّهَاءِ وَالْجُرْأَةِ 

siasat, kelicikan, dan keberanian 

وَالتَّلْبِيسِ وَالتَّضْرِيبِ وَالْغِشِّ 

kekaburan/pemalsuan, penghasutan, penipuan 

وَالْخَبِّ وَالْخَنَا وَأَمْثَالِهَا 

dan tipu daya keji semacam itu 

وَلَوْ عُكِسَ الْأَمْرُ 

Andaikan urusannya dibalik 

وَقُهِرَ الْجَمِيعُ تَحْتَ سِيَاسَةِ الصِّفَةِ الرَّبَّانِيَّةِ 

dan semuanya tunduk di bawah kendali sifat rabbani 

لَاسْتَقَرَّ فِي الْقَلْبِ مِنَ الصِّفَاتِ الرَّبَّانِيَّةِ 

niscaya di dalam hati akan tetaplah sifat-sifat rabbani 

الْعِلْمُ وَالْحِكْمَةُ وَالْيَقِينُ وَالِإِحَاطَةُ بِحَقَائِقِ الْأَشْيَاءِ 

ilmu, hikmah, keyakinan, menguasai hakikat-hakikat 

وَمَعْرِفَةُ الْأُمُورِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ 

serta mengetahui urusan-urusan sebagaimana adanya 

وَالِاسْتِيلَاءُ عَلَى الْكُلِّ بِقُوَّةِ الْعِلْمِ وَالْبَصِيرَةِ 

dan penguasaan atas semuanya dengan kekuatan ilmu dan bashīrah 

وَاسْتِحْقَاقُ التَّقَدُّمِ عَلَى الْخَلْقِ لِكَمَالِ الْعِلْمِ وَجَلَالِهِ 

serta berhak mendahului makhluk karena kelengkapan ilmu dan kemuliaannya 

وَلَاسْتَغْنَى عَنْ عِبَادَةِ الشَّهْوَةِ وَالْغَضَبِ 

dan ia tidak lagi butuh menyembah syahwat dan marah 

وَلَانْتَشَرَ إِلَيْهِ 

serta menyebarlah kebaikan itu ke dirinya 

مَنْ ضَبَطَ خِنْزِيرَ الشَّهْوَةِ وَرَدَّهُ إِلَى حَدِّ الِاعْتِدَالِ 

Barang siapa menahan babi syahwat dan mengembalikannya ke batas pertengahan 

تَصْدُرُ مِنْهُ صِفَاتٌ شَرِيفَةٌ 

akan lahir padanya sifat-sifat yang mulia 

مِنَ الْعِفَّةِ وَالْقَنَاعَةِ وَالْهُدُوءِ وَالزُّهْدِ 

seperti iffah (menjaga diri), qana‘ah, ketenangan, zuhud 

وَالوَرَعِ وَالتَّقْوَى وَالانْبِسَاطِ 

ورع, taqwa, dan kelapangan sikap 

وَحُسْنِ الْهَيْئَةِ وَالْحَيَاءِ وَالظَّرَافَةِ وَالْمُسَاعَدَةِ 

serta penampilan baik, malu (haya’), kelincahan yang bagus, dan sikap menolong 

وَأَمْثَالِهَا 

dan yang semisalnya 

وَيَحْصُلُ فِيهِ مِنْ ضَبْطِ قُوَّةِ الْغَضَبِ وَقَهْرِهَا 

serta akan didapat pada dirinya dari menahan kekuatan marah dan menundukkannya 

وَرَدِّهَا إِلَى حَدِّ الْوُجُوبِ 

dan mengembalikannya ke batas yang wajib 

صِفَةُ الشَّجَاعَةِ وَالْكَرَمِ وَالنَّجْدَةِ 

yaitu sifat keberanian, kedermawanan, dan semangat menolong 

وَضَبْطُ النَّفْسِ وَالصَّبْرِ وَالْحِلْمِ 

menahan diri (kontrol), kesabaran, dan kelapangan hati 

وَالِاحْتِمَالِ وَالْعَفْوِ وَالثِّبَاتِ وَالنَّبَالَةِ 

toleransi, memaafkan, keteguhan, serta sifat mulia 

وَالشَّهَامَةِ وَالْوَقَارِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ 

juga kejantanan, wibawa, dan yang selain itu 

فَالْقَلْبُ فِي حُكْمِ مِرْآةٍ 

Hati itu seperti cermin 

قَدِ اكْتَنَفَتْهُ هٰذِهِ الْأُمُورُ الْمُؤَثِّرَةُ فِيهِ 

Cermin itu dikelilingi oleh perkara-perkara yang memengaruhi 

وَهٰذِهِ الْآثَارُ عَلَى التَّوَاصُلِ وَصِلَةٌ إِلَى الْقَلْبِ 

dan pengaruh-pengaruh itu terus sampai ke hati secara berkesinambungan 

أَمَّا الْآثَارُ الْمَحْمُودَةُ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا 

Adapun pengaruh-pengaruh yang terpuji yang telah kami sebutkan 

فَإِنَّهَا تَزِيدُ مِرْآةَ الْقَلْبِ جَلَاءً وَإِشْرَاقًا 

maka ia menambah kejernihan, cahaya, dan nur/cahaya pada cermin hati 

وَنُورًا وَضِيَاءً 

menambah cahaya dan sinar terang 

حَتَّى يَتَلَأْلَأَ فِيهِ جَلِيَّةُ الْحَقِّ 

hingga tampak jelas di dalamnya kebenaran yang nyata 

وَيَنْكَشِفَ فِيهِ حَقِيقَةُ الْأَمْرِ الْمَطْلُوبِ فِي الدِّينِ 

dan terbuka di dalamnya hakikat perkara yang dituju dalam agama 

وَإِلَى مِثْلِ هٰذَا الْقَلْبِ يُشِيرُ قَوْلُهُ ﷺ 

dan kepada hati seperti ini Rasulullah memberi isyarat dengan sabdanya 

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَاعِظًا مِنْ قَلْبِهِ 

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah jadikan baginya pemberi nasihat dari hatinya.” 

(1) حَدِيثٌ: مَنْ كَانَ لَهُ مِنْ قَلْبِهِ وَاعِظٌ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ حَافِظًا 

(1) Hadis: “Barang siapa memiliki pemberi nasihat dari hatinya, maka Allah menjadikannya penjaga (pemelihara) baginya.” 

لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا 

Aku tidak menemukan sumber/asalnya 

وَهٰذَا الْقَلْبُ هُوَ الَّذِي يَسْتَقِرُّ فِيهِ الذِّكْرُ 

Hati ini adalah yang di dalamnya dzikir menetap 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

Allah Ta‘ālā berfirman: “اَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

أَمَّا الْآثَارُ الْمَذْمُومَةُ 

Adapun pengaruh-pengaruh yang tercela 

فَهِيَ كَمَدَخَانٍ مُظْلِمٍ يَتَصَاعَدُ إِلَى مِرْآةِ الْقَلْبِ 

ia seperti asap yang gelap naik menuju cermin hati 

وَلَا يَزَالُ يَتَرَاكَمُ عَلَيْهِ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى 

dan terus-menerus menumpuk atasnya sekali setelah sekali 

حَتَّى يَسُودَّ وَيَظْلِمَ 

hingga ia menjadi menghitam dan gelap 

وَيَصِيرَ بِالْكُلِّيَّةِ مَحْجُوبًا عَنِ اللهِ تَعَالَى 

dan menjadi sepenuhnya terhalang dari Allah Ta‘ālā 

وَهُوَ الطَّبْعُ وَالرَّيْنُ 

itulah “ath-thab‘” (stempel) dan “ar-rīn” 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ 

Allah Ta‘ālā berfirman: “كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ 

مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 

“disebabkan apa yang mereka usahakan.” 

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ 

Dan ‘Azza wa Jalla berfirman: “Seandainya Kami menghendaki, Kami pasti akan menimpakan kepada mereka siksaan karena dosa-dosa mereka, dan Kami stempel/menutup hati mereka.” 

فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ 

“maka mereka tidak mendengar.” 

فَرَبَطَ عَدَمَ السَّمَاعِ بِالطَّبْعِ بِالذُّنُوبِ 

Ia mengaitkan tidak mendengar dengan stempel, dan stempel itu dengan dosa 

وَرَبَطَ السَّمَاعَ بِالتَّقْوَى 

dan ia mengaitkan mendengar dengan taqwa 

فَقَالَ تَعَالَى: وَاتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا 

Maka Allah Ta‘ālā berfirman: “وَاتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا 

وَاتَّقُوا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللهُ 

“dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajari kalian.” 

وَمَهْمَا تَرَاكَمَتِ الذُّنُوبُ طَبَعَتْ عَلَى الْقُلُوبِ 

Dan betapapun dosa menumpuk, ia akan menstempel hati 

عِنْدَ ذٰلِكَ يَعْمَى الْقَلْبُ عَنْ إِدْرَاكِ الْحَقِّ 

pada saat itu hati menjadi buta dari menangkap kebenaran 

وَصَلَاحِ الدِّينِ 

dan dari kebaikan agama 

وَيَسْتَهِينُ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ 

ia meremehkan urusan akhirat 

وَيَسْتَعْظِمُ أَمْرَ الدُّنْيَا 

dan membesar-besarkan urusan dunia 

فَيَصِيرُ مَقْصُورَ الْهِمَّةِ عَلَيْهَا 

lalu perhatian/tekadnya hanya tertuju kepadanya 

فَإِذَا قُرِعَ سَمْعُهُ أَمْرُ الْآخِرَةِ وَمَا فِيهَا مِنَ الْأَخْطَارِ 

Jika telinganya diketuk oleh kabar tentang akhirat dan apa yang ada di sana berupa bahaya 

دَخَلَتْ مِنْ أُذُنٍ وَخَرَجَتْ مِنْ أُذُنٍ 

maka informasi itu masuk dari telinga dan keluar dari telinga 

وَلَمْ تَسْتَقِرَّ فِي الْقَلْبِ 

namun tidak menetap di hati 

وَلَمْ تُحَرِّكْهُ إِلَى التَّوْبَةِ وَالتَّدَارُكِ 

dan tidak menggerakkannya kepada taubat dan pembenahan 

أُولٰئِكَ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ 

mereka itulah yang berputus asa dari akhirat 

كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ 

sebagaimana orang kafir berputus asa terhadap penghuni kubur 

وَهٰذَا هُوَ مَعْنَى اسْوِدَادِ الْقَلْبِ بِالذُّنُوبِ 

Ini adalah makna menghitamnya hati karena dosa 

كَمَا نَطَقَ بِهِ الْقُرْآنُ وَالسُّنَّةُ 

sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah 

قَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ 

Maimun bin Mihrān berkata 

إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ 

“Jika seorang hamba berbuat dosa, maka ditorehkan di hatinya satu noda hitam” 

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَتَابَ صُقِلَ 

“Jika ia menarik diri (menahan), lalu bertaubat, noda itu dibersihkan” 

وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا 

“Jika ia kembali mengulang, noda itu ditambah lagi” 

حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ 

“hingga menutupi hatinya” 

فَهُوَ الرَّانُ 

“itulah ar-rān” 

وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: قَلْبُ الْمُؤْمِنِ أَجْرَدُ 

Dan Nabi bersabda: “Hati orang mukmin itu bening 

فِيهِ سِرَاجٌ يَزْهَرُ 

di dalamnya ada pelita yang menyala” 

وَقَلْبُ الْكَافِرِ أَسْوَدُ مَنْكُوسٌ 

“dan hati orang kafir menghitam dan terbalik” 

(2) حَدِيثُ الْقُلُوبِ أَرْبَعَةٌ 

(2) Hadis tentang hati itu: ada empat macam hati 

قَلْبٌ أَجْرَدُ فِيهِ سِرَاجٌ يَزْهَرُ 

“ada hati yang bening, di dalamnya pelita yang menyala” 

الْحَدِيثُ 

seterusnya hadis 

أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ 

Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabarānī dalam kitab ash-Shaġīr 

مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ 

dari hadis Abu Sa‘īd al-Khudri 

وَقَدْ تَقَدَّمَ 

dan itu telah berlalu 

فَمَثَلُ الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبُقْلَةِ يُمِدُّهَا الْمَاءُ الطَّيِّبُ 

Perumpamaan iman di dalamnya seperti tanaman yang disirami air yang baik 

وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يُمِدُّهَا الْقَيْحُ وَالصَّدِيدُ 

dan perumpamaan nifaq (kemunafikan) seperti luka yang diberi makan oleh nanah dan cairan kotor 

فَأَيُّ الْمَادَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَيْهِ حُكِمَ لَهُ بِهَا 

maka mana dari dua “bahan” itu yang lebih dominan, itulah yang menjadi hukum baginya 

فِي رِوَايَةٍ: ذَهَبَتْ بِهِ 

Dalam riwayat lain: “Ia binasa/lenyap olehnya.” 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا 

Allah Ta‘ālā berfirman: “إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا 

إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا 

“Jika mereka disentuh oleh bisikan/setan, mereka ingat” 

فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ 

“maka tiba-tiba mereka menjadi melihat (jernih)” 

فَأَخْبَرَ أَنَّ جَلَاءَ الْقَلْبِ وَإِبْصَارَهُ يَحْصُلَانِ بِالدِّكْرِ 

Ia memberitahukan bahwa kejernihan dan ketajaman pandangan hati terjadi melalui dzikir 

وَأَنَّهُ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ ذٰلِكَ إِلَّا الَّذِينَ اتَّقَوْا 

dan bahwa hal itu tidak akan bisa dicapai kecuali oleh orang-orang yang bertaqwa 

فَالتَّقْوَى بَابُ الذِّكْرِ 

maka taqwa adalah pintu dzikir 

وَالذِّكْرُ بَابُ الْكَشْفِ 

dan dzikir adalah pintu kasyaf (penyingkapan) 

وَالْكَشْفُ بَابُ الْفَوْزِ الْأَكْبَرِ 

dan kasyaf adalah pintu keberhasilan paling besar 

وَهُوَ الْفَوْزُ بِلِقَاءِ اللهِ تَعَالَى 

yaitu keberhasilan berupa bertemunya dengan Allah Ta‘ālā