Penjelasan Tentang Kekhususan (Keistimewaan) Hati Manusia

 بَيَانُ خَاصِّيَّةِ قَلْبِ الْإِنْسَانِ 

Penjelasan tentang kekhususan (keistimewaan) hati manusia 

اِعْلَمْ أَنَّ جُمْلَةَ مَا ذَكَرْنَاهُ قَدْ أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَى سَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ سِوَى الْآدَمِيِّ 

Ketahuilah bahwa seluruh yang telah kami sebutkan telah Allah anugerahkan kepada semua hewan selain manusia 

إِذْ لِلْحَيَوَانِ الشَّهْوَةَ وَالْغَضَبَ وَالْحَوَاسَّ الظَّاهِرَةَ وَالْبَاطِنَةَ 

Karena hewan juga memiliki syahwat, marah, serta indera yang tampak dan yang batin 

حَتَّى إِنَّ الشَّاةَ تَرَى الذِّئْبَ بِعَيْنِهَا فَتَعْلَمُ عَدَاوَتَهُ بِقَلْبِهَا 

Hingga seekor kambing dapat melihat serigala dengan matanya, lalu ia mengetahui permusuhannya dengan hatinya 

فَتَهْرُبُ مِنْهُ 

lalu ia lari darinya 

فَذٰلِكَ هُوَ الإِدْرَاكُ الْبَاطِنُ 

Itulah yang disebut “pemahaman batin” 

فَلْنَذْكُرْ مَا يَخْتَصُّ بِهِ قَلْبُ الْإِنْسَانِ 

Sekarang kita sebutkan apa yang khusus bagi hati manusia 

وَلِأَجْلِهِ عَظُمَ شَرَفُهُ وَاسْتَأْهَلَ الْقُرْبَ مِنَ اللهِ تَعَالَى 

Karena itulah kemuliaannya menjadi besar, dan ia layak untuk dekat kepada Allah Ta‘ālā 

وَهُوَ رَاجِعٌ إِلَى عِلْمٍ وَإِرَادَةٍ 

Semuanya kembali kepada ilmu dan irādah (kehendak/niat) 

أَمَّا الْعِلْمُ فَهُوَ الْعِلْمُ بِالْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّةِ وَالْحَقَائِقِ الْعَقْلِيَّةِ 

Adapun ilmu adalah pengetahuan tentang urusan dunia dan akhirat serta hakikat-hakikat yang dipahami oleh akal 

فَإِنَّ هٰذِهِ أُمُورٌ وَرَاءَ الْمَحْسُوسَاتِ 

Karena hal-hal itu berada di balik apa yang bisa dirasakan oleh indera 

وَلَا يُشَارِكُهُمْ فِيهَا الْحَيَوَانُ 

Hewan tidak ikut memiliki pengetahuan itu 

بَلِ الْعُلُومُ الْكُلِّيَّةُ الضَّرُورِيَّةُ مِنْ خَوَاصِّ الْعَقْلِ 

Tetapi ilmu-ilmu kullī (universal/umum) yang bersifat pasti (ḍarūrī) termasuk kekhususan akal 

يَحْكُمُ الْإِنْسَانُ بِأَنَّ الشَّخْصَ الْوَاحِدَ لَا يَتَصَوَّرُ أَنْ يَكُونَ فِي مَكَانَيْنِ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ 

Akal manusia memutuskan bahwa satu orang (satu pribadi) tidak mungkin berada di dua tempat dalam satu keadaan yang sama 

وَهٰذَا حُكْمٌ مِنْهُ عَلَى كُلِّ شَخْصٍ 

Itu adalah keputusan akal atas setiap pribadi 

وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَمْ يُدْرِكْ بِالْحِسِّ إِلَّا بَعْضَ الْأَشْخَاصِ 

Diketahui bahwa ia tidak menangkap dengan indera kecuali sebagian orang 

فَحُكْمُهُ عَلَى جَمِيعِ الْأَشْخَاصِ زَائِدٌ عَلَى مَا أَدْرَكَهُ الْحِسُّ 

maka putusannya atas semua orang adalah lebih dari apa yang ditangkap oleh indera 

وَإِذَا فَهِمْتَ هٰذَا فِي الْعِلْمِ الظَّاهِرِ الضَّرُورِيِّ 

Jika engkau memahami ini dalam ilmu yang tampak dan pasti 

فَهُوَ فِي سَائِرِ النَّظَرِيَّاتِ أَظْهَرُ 

maka hal itu lebih jelas pada semua teori/pengetahuan yang memerlukan pemikiran 

أَمَّا الْإِرَادَةُ فَإِنَّهَا إِذَا أُدْرِكَتْ بِالْعَقْلِ عَاقِبَةَ الْأَمْرِ وَطَرِيقَ الصَّلَاحِ فِيهِ 

Adapun irādah, bila akal memahami akibat dari perkara dan jalan kebaikan di dalamnya 

انْبَعَثَتْ مِنْ ذَاتِهَا شَوْقًا إِلَى جِهَةِ الْمَصْلَحَةِ 

maka ia bangkit dari dirinya sendiri dengan rasa rindu/tertarik kepada arah kemaslahatan 

وَإِلَى تَعَاطِي أَسْبَابِهَا 

dan kepada usaha menempuh sebab-sebabnya 

وَالإِرَادَةُ لَهَا ذٰلِكَ 

Irādah memiliki semangat seperti itu 

غَيْرُ إِرَادَةِ الشَّهْوَةِ وَإِرَادَةِ الْحَيَوَانَاتِ 

Bukan irādah syahwat, dan bukan pula irādah hewan 

بَلْ يَكُونُ عَلَى ضِدِّ الشَّهْوَةِ 

Melainkan ia berlawanan dengan syahwat 

فَإِنَّ الشَّهْوَةَ تَنْفِرُ مِنَ الْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ 

Karena syahwat menjauh dari bekam (fashd) dan hijāmah (berbekam) 

وَالْعَقْلُ يُرِيدُهَا وَيَطْلُبُهَا وَيُبْذِلُ الْمَالَ فِيهَا 

sedangkan akal menginginkannya, menuntutnya, dan mengeluarkan harta untuk itu 

وَالشَّهْوَةُ تَمِيلُ إِلَى لَذَّائِذِ الْأَطْعِمَةِ فِي حَالِ الْمَرَضِ 

Syahwat cenderung kepada kenikmatan makanan ketika sakit 

وَالْعَاقِلُ يَجِدُ فِي نَفْسِهِ زَاجِرًا عَنْهَا 

Sedangkan orang yang berakal mendapati dalam dirinya pencegah darinya 

وَلَيْسَ ذٰلِكَ زَاجِرَ الشَّهْوَةِ 

dan itu bukan pencegah yang datang dari syahwat 

وَلَوْ خَلَقَ اللهُ الْعَقْلَ الْمَعْرِفَ بِعَوَاقِبِ الْأُمُورِ 

Kalau saja Allah menciptakan akal yang mengetahui akibat-akibat perkara 

وَلَمْ يَخْلُقْ هٰذَا الْبَاعِثَ الْمُحَرِّكَ لِلْأَعْضَاءِ عَلَى مُقْتَضَى حُكْمِ الْعَقْلِ 

namun tidak menciptakan pendorong yang menggerakkan anggota tubuh sesuai keputusan akal 

لَكَانَ حُكْمُ الْعَقْلِ ضَائِعًا عَلَى التَّحْقِيقِ 

niscaya keputusan akal akan sia-sia secara nyata 

فَإِذًا قَلْبُ الْإِنْسَانِ اخْتَصَّ بِعِلْمٍ وَإِرَادَةٍ 

Maka hati manusia khusus memiliki ilmu dan irādah 

يَنْفَكُّ عَنْهُمَا سَائِرُ الْحَيَوَانِ 

Yang selain manusia tidak lepas dari keduanya 

بَلْ يَنْفَكُّ عَنْهُمَا الصَّبِيُّ فِي أَوَّلِ الْفِطْرَةِ 

bahkan pada masa awal fitrah, anak kecil pun lepas darinya 

وَإِنَّمَا يَحْدُثُ ذٰلِكَ فِيهِ بَعْدَ الْبُلُوغِ 

dan barulah itu terjadi setelah ia balig (dewasa) 

وَأَمَّا الشَّهْوَةُ وَالْغَضَبُ وَالْحَوَاسُّ الظَّاهِرَةُ وَالْبَاطِنَةُ 

Adapun syahwat, marah, serta indera yang tampak dan batin 

فَإِنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي حَقِّ الصَّبِيِّ 

maka itu ada pada diri anak kecil 

ثُمَّ الصَّبِيُّ فِي حُصُولِ هٰذِهِ الْعُلُومِ فِيهِ دَرَجَتَانِ 

Lalu pada anak kecil, munculnya ilmu-ilmu ini memiliki dua tingkatan 

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَشْتَمِلَ قَلْبُهُ عَلَى سَائِرِ الْعُلُومِ الضَّرُورِيَّةِ الْأُولِيَّةِ 

Pertama: hatinya mencakup semua ilmu ḍarūrī yang mendasar 

كَالعِلْمِ بِاسْتِحَالَةِ الْمُسْتَحِيلَاتِ وَجَوَازِ الْجَائِزَاتِ 

seperti ilmu tentang kemustahilan hal-hal yang mustahil, dan kemungkinan hal-hal yang mungkin 

فَتَكُونُ الْعُلُومُ النَّظَرِيَّةُ فِيهِ غَيْرَ حَاصِلَةٍ 

Maka ilmu-ilmu teoritis belum didapat pada dirinya 

إِلَّا أَنَّهَا صَارَتْ مُمْكِنَةً قَرِيبَةَ الْإِمْكَانِ وَالْحُصُولِ 

Namun ia menjadi sesuatu yang mungkin, dekat untuk terjadi 

وَيَكُونُ حَالُهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْعُلُومِ 

Keadaan ini terhadap ilmu-ilmu 

كَحَالِ الْكَاتِبِ الَّذِي لَا يَعْرِفُ مِنَ الْكِتَابَةِ إِلَّا الدَّوَاةَ وَالْقَلَمَ وَالْحُرُوفَ الْمُفْرَدَةَ 

bagaikan seorang penulis yang hanya mengenal pena, tinta, dan huruf-huruf terpisah, bukan susunan gabungannya 

دُونَ الْمُرَكَّبَةِ 

bukan huruf yang tersusun (menjadi kalimat) 

فَإِنَّهُ قَدْ قَارَبَ الْكِتَابَةَ وَلَمْ يَبْلُغْهَا بَعْدُ 

maka ia sungguh sudah mendekati, tetapi belum sampai 

ثَانِيَتُهُمَا أَنْ تَتَحَصَّلَ لَهُ الْعُلُومُ الْمُكْتَسَبَةُ بِالتَّجَارِبِ وَالْفِكْرِ 

Kedua: ia memperoleh ilmu yang didapat melalui pengalaman dan pemikiran 

فَتَكُونُ كَالْمَخْزُونَةِ عِنْدَهُ 

Maka ia menjadi seperti sesuatu yang tersimpan 

إِذَا شَاءَ رَجَعَ إِلَيْهَا 

Jika ia menghendaki, ia dapat kembali kepadanya 

وَحَالُهُ حَالُ الْحَاذِقِ بِالْكِتَابَةِ 

Keadaannya seperti orang yang ahli menulis 

يُقَالُ لَهُ كَاتِبٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُبَاشِرًا لِلْكِتَابَةِ بِقُدْرَتِهِ عَلَيْهَا 

Dikatakan “penulis” walaupun ia belum menulis saat itu, karena ia mampu melakukannya 

وَهٰذِهِ هِيَ غَايَةُ دَرَجَةِ الإِنْسَانِيَّةِ 

Inilah puncak tingkatan kemanusiaan 

وَلٰكِنَّ فِي هٰذِهِ الدَّرَجَةِ مَرَاتِبَ لَا تُحْصَى 

Namun dalam tingkatan ini terdapat jenjang yang tidak terhitung 

بِتَفَاوُتِ الْخَلْقِ بِكَثْرَةِ الْمَعْلُومَاتِ وَقِلَّتِهَا 

Sebab perbedaan manusia berdasarkan banyak dan sedikitnya informasi yang dimiliki 

وَبِشَرَفِ الْمَعْلُومَاتِ وَخِسَّتِهَا 

dan mulia atau hinanya informasi itu 

وَبِطَرِيقِ تَحْصِيلِهَا 

serta cara memperolehnya 

فَتَحْصُلُ لِبَعْضِ الْقُلُوبِ بِإِلْهَامٍ إِلٰهِيٍّ عَلَى سَبِيلِ الْمُبَادَأةِ وَالْمُكَاشَفَةِ 

Sebagian hati mendapatkannya dengan ilham ilahi tanpa proses panjang, melalui kasyaf (terbuka) 

وَلِبَعْضِهِمْ بِتَعَلُّمٍ وَاكْتِسَابٍ 

Sebagian yang lain mendapatkannya lewat belajar dan usaha memperoleh 

وَقَدْ يَكُونُ سَرِيعَ الْحُصُولِ 

Ada yang cepat didapat 

وَقَدْ يَكُونُ بَطِيءَ الْحُصُولِ 

dan ada yang lambat didapat 

وَفِي هٰذَا الْمَقَامِ تَتَبَايَنُ مَنَازِلُ الْعُلَمَاءِ وَالْحُكَمَاءِ وَالْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ 

Dalam maqām ini tampak perbedaan kedudukan para ulama, para filosof, para nabi, dan para wali 

فَدَرَجَاتُ التَّرَقِّي فِيهِ غَيْرُ مُحْصُورَةٍ 

jenjang naik di dalamnya tidak terbatas 

لِأَنَّ مَعْلُومَاتِ اللهِ سُبْحَانَهُ لَا نِهَايَةَ لَهَا 

karena pengetahuan Allah Subhānahu wa Ta‘ālā tidak memiliki batas 

وَأَقْصَى الرُّتَبِ رُتْبَةُ النَّبِيِّ 

Puncak derajat adalah derajat seorang nabi 

الَّذِي تَنْكَشِفُ لَهُ كُلُّ الْحَقَائِقِ أَوْ أَكْثَرُهَا 

yang terbuka baginya seluruh hakikat, atau sebagian besarnya 

مِنْ غَيْرِ اكْتِسَابٍ وَتَكَلُّفٍ بِكَشْفٍ إِلٰهِيٍّ فِي أَسْرَعِ وَقْتٍ 

tanpa usaha memperoleh atau memaksakan diri dengan kasyaf ilahi dalam waktu yang paling cepat 

وَبِهٰذِهِ السَّعَادَةِ يَقْرُبُ الْعَبْدُ مِنَ اللهِ تَعَالَى قُرْبًا بِالْمَعْنَى وَالْحَقِيقَةِ وَالصِّفَةِ 

Dengan kebahagiaan ini seorang hamba mendekat kepada Allah Ta‘ālā, kedekatan makna, hakikat, dan sifat 

لَا بِالْمَكَانِ وَالْمَسَافَةِ 

bukan karena tempat dan jarak 

وَمَرَاقِي هٰذِهِ الدَّرَجَاتِ هِيَ مَنَازِلُ السَّائِرِينَ إِلَى اللهِ تَعَالَى 

Tangga-tangga jenjang ini adalah tempat-tempat (maqām) bagi para sālik (penempuh) menuju Allah Ta‘ālā 

وَلَا حَصْرَ لِتِلْكَ الْمَنَازِلِ 

Tidak ada batas untuk maqām-maqām itu 

وَإِنَّمَا يَعْرِفُ كُلُّ سَالِكٍ مَنْزِلَهُ الَّذِي بَلَغَهُ فِي سُلُوكِهِ فَيَعْرِفُهُ 

Setiap sālik mengetahui maqām yang telah ia capai dalam suluknya, sehingga ia mengetahuinya 

وَيَعْرِفُ مَا خَلَفَهُ مِنَ الْمَنَزِلِ 

dan ia mengetahui apa yang berada di belakangnya dari maqām-maqām 

فَأَمَّا مَا بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يُحِيطُ بِحَقِيقَتِهِ عِلْمًا 

Adapun yang berada di hadapannya, ia tidak meliputi hakikatnya dengan ilmu 

وَلٰكِنْ قَدْ يُصَدِّقُ بِهِ إِيمَانًا بِالْغَيْبِ 

Namun ia bisa membenarkannya dengan iman kepada yang gaib 

كَمَا نُؤْمِنُ بِالنُّبُوَّةِ وَالنَّبِيِّ وَنُصَدِّقُ بِوُجُودِهِ 

Sebagaimana kita beriman kepada kenabian dan nabi, serta membenarkan keberadaannya 

وَلَكِنْ لَا يَعْرِفُ حَقِيقَةَ النُّبُوَّةِ إِلَّا النَّبِيُّ 

tetapi tidak ada yang mengetahui hakikat kenabian kecuali nabi 

وَكَمَا لَا يُعْرَفُ حَالُ الْجَنِينِ حَالَ الطِّفْلِ وَلَا حَالُ الطِّفْلِ حَالَ الْمُمَيِّزِ 

Sebagaimana keadaan bayi dalam kandungan tidak dikenal seperti keadaan bayi, dan keadaan bayi tidak dikenal seperti keadaan yang sudah membedakan 

وَمَا يُفْتَحُ لَهُ مِنَ الْعُلُومِ الضَّرُورِيَّةِ 

dan apa yang terbuka baginya dari ilmu-ilmu ḍarūrī 

وَلَا الْمُمَيِّزُ حَالُ الْعَاقِلِ 

Demikian pula orang yang baru membedakan tidak mengetahui keadaan orang yang berakal 

وَمَا اكْتَسَبَهُ مِنَ الْعُلُومِ النَّظَرِيَّةِ 

dan apa yang ia peroleh dari ilmu-ilmu teoritis 

فَكَذٰلِكَ لَا يَعْرِفُ الْعَاقِلُ مَا افْتَحَ اللهُ عَلَى أَوْلِيَائِهِ وَأَنْبِيَائِهِ مِنْ مَزَايَا لُطْفِهِ وَرَحْمَتِهِ 

Begitulah seorang berakal tidak mengetahui apa yang Allah buka bagi wali-wali dan para nabi-Nya dari keutamaan kelembutan dan rahmat-Nya 

مَا يَفْتَحُ اللهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا 

Apa yang Allah bukakan bagi manusia berupa rahmat, maka tidak ada yang dapat menahannya 

وَإِنَّ هٰذِهِ الرَّحْمَةَ مَبْذُولَةٌ بِحُكْمِ الْجُودِ وَالْكَرَمِ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى غَيْرُ مَضْنُونَةٍ بِهَا عَلَى أَحَدٍ 

Rahmat ini diberikan karena Allah bersifat sangat murah hati dan mulia, tidak kikir untuk memberikannya kepada siapa pun 

وَلٰكِنَّمَا تَظْهَرُ فِي الْقُلُوبِ الْمُتَعَرِّضَةِ لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى 

Namun ia hanya tampak pada hati-hati yang siap menerima hembusan rahmat Allah Ta‘ālā 

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِرَبِّكُمْ فِي أَيَّامِ دَهْرِكُمْ لَنَفَحَاتٍ 

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya bagi Rabb kalian pada hari-hari sepanjang hidup kalian ada hembusan-hembusan (rahmat)” 

أَلَا فَتَعَرَّضُوا لَهَا 

“Ketahuilah, maka berusahalah untuk menerimanya.” 

(١) حَدِيثٌ: يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَقَدْ طَالَ شَوْقُ الْأَبْرَارِ إِلَى لِقَائِي 

(1) Hadis: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Sungguh panjanglah kerinduan orang-orang yang berbakti kepada pertemuan dengan-Ku’.” 

لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا إِلَّا أَنَّ صَاحِبَ الْفِرْدَوْسِ خَرَّجَهُ 

“Tidak aku temukan sandar yang kuat (asalnya) kecuali bahwa pemilik al-Firdaws meriwayatkannya…” 

مِنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ 

“dari hadis Abu ad-Dardā’…” 

وَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ وَلَدُهُ فِي مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ إِسْنَادًا 

“dan putranya tidak menyebutkan sanadnya dalam Musnad al-Firdaws.” 

وَبِقَوْلِهِ تَعَالَى: مَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا 

Berdasarkan firman-Nya Ta‘ālā: “Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sejauh sehasta.” 

(٢) حَدِيثٌ: لَوْلَا أَنْ الشَّيَاطِينَ يَحُومُونَ عَلَى قُلُوبِ بَنِي آدَمَ 

(2) Hadis: “Seandainya tidak karena setan-setan mengitari hati anak-anak Adam…” 

أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِنَحْوِهِ 

Diriwayatkan oleh Ahmad dari hadis Abu Hurairah dengan semakna 

وَقَدْ تَقَدَّمَ فِي الصِّيَامِ 

dan telah berlalu pada pembahasan puasa 

فَمِنْ هٰذِهِ الْجُمْلَةِ يَتَبَيَّنُ أَنَّ خَاصِّيَّةَ الْإِنْسَانِ الْعِلْمُ وَالْحِكْمَةُ 

Dari kumpulan ini terlihat bahwa kekhususan manusia adalah ilmu dan hikmah 

وَأَشْرَفُ أَنْوَاعِ الْعِلْمِ هُوَ الْعِلْمُ بِاللهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ 

Jenis ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya 

بِهِ كَمَالُ الْإِنْسَانِ 

Dengan ilmu itu kesempurnaan manusia 

وَفِي كَمَالِهِ سَعَادَتُهُ وَصَلَاحُهُ 

dan dalam kesempurnaannya terdapat kebahagiaan dan kebaikannya 

لِجَوَارِ حِضْرَةِ الْجَلَالِ وَالْكَمَالِ 

untuk memperoleh kedekatan pada hadirat keagungan dan kesempurnaan 

فَإِنَّ الْبَدَنَ مَرْكَبٌ لِلنَّفْسِ 

Tubuh adalah kendaraan bagi jiwa 

وَالنَّفْسُ مَحَلٌّ لِلْعِلْمِ 

dan jiwa adalah tempat bagi ilmu 

وَالْعِلْمُ هُوَ مَقْصُودُ الْإِنْسَانِ وَخَاصِّيَّتُهُ الَّتِي لأَجْلِهَا خُلِقَ 

Sedangkan ilmu adalah tujuan manusia dan kekhususannya, yang karenanya ia diciptakan 

وَكَمَا أَنَّ الْفَرَسَ يُشَارِكُ الْحِمَارَ فِي قُوَّةِ الْحَمْلِ 

Sebagaimana kuda menandingi keledai dalam kekuatan mengangkut (membawa beban) 

وَيَخْتَصُّ عَنْهُ بِخَاصِّيَّةِ الْكَرِّ وَالْفَرِّ وَحُسْنِ الْهَيْئَةِ 

tetapi ia memiliki kekhususan berlari cepat dan gerak yang baik 

فَيَكُونُ الْفَرَسُ مَخْلُوقًا لأِجْلِ تِلْكَ الْخَاصِّيَّةِ 

maka kuda diciptakan demi kekhususan itu 

فَإِنْ تَعَطَّلَتْ مِنْهُ نَزَلَ إِلَى حُضِيضِ رُتْبَةِ الْحِمَارِ 

Jika kekhususan itu hilang, derajatnya turun ke lembah tingkatan keledai 

وَكَذٰا الْإِنْسَانُ يُشَارِكُ الْحِمَارَ وَالْفَرَسَ فِي أُمُورٍ 

Demikian pula manusia bersekutu dengan keledai dan kuda dalam beberapa hal 

وَيُفَارِقُهُمَا فِي أُمُورٍ 

tetapi berbeda dalam hal-hal lain 

هِيَ خَاصِّيَّتُهُ 

yakni kekhususannya 

وَتِلْكَ الْخَاصِّيَّةُ مِنْ صِفَاتِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ 

kekhususan itu termasuk sifat-sifat malaikat yang dekat kepada Rabb semesta alam 

وَالإِنْسَانُ عَلَى رُتْبَةٍ بَيْنَ الْبَهَائِمِ وَالْمَلَائِكَةِ 

Manusia berada pada tingkatan di antara hewan dan para malaikat 

فَالإِنْسَانُ مِنْ حَيْثُ يَتَغَذَّى وَيُنْسَلُ فَنَبَاتٌ 

Karena dari sisi ia makan dan berkembang biak, ia seperti tumbuhan 

وَمِنْ حَيْثُ يُحِسُّ وَيَتَحَرَّكُ بِالِاخْتِيَارِ فَحَيَوَانٌ 

dan dari sisi ia merasakan dan bergerak dengan pilihan, ia seperti hewan 

وَمِنْ حَيْثُ صُورَتُهُ وَقَامَتُهُ فَكَالصُّورَةِ الْمَنْقُوشَةِ عَلَى الْحَائِطِ 

dan dari sisi rupa dan posturnya, ia seperti gambar yang terukir pada dinding 

وَإِنَّمَا خَاصِّيَّتُهُ مَعْرِفَةُ حَقَائِقِ الْأَشْيَاءِ 

Hanya saja kekhususannya adalah mengenal hakikat-hakikat sesuatu 

مَنْ اسْتَعْمَلَ جَمِيعَ أَعْضَائِهِ وَقُوَاهُ عَلَى وَجْهِ الِاسْتِعَانَةِ بِهَا عَلَى الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ 

Barang siapa menggunakan semua anggota tubuh dan kekuatannya untuk menolongnya dalam ilmu dan amal 

فَقَدْ تَشَبَّهَ بِالْمَلَائِكَةِ 

maka ia menyerupai para malaikat 

فَحَقِيقٌ أَنْ يَلْحَقَ بِهِمْ 

maka patut ia menyusul mereka 

وَجَدِيرٌ أَنْ يُسَمَّى مَلَكًا رَبَّانِيًّا 

dan pantas ia disebut malaikat yang bertuhan (rabbani) 

كَمَا أَخْبَرَ اللهُ تَعَالَى عَنْ صَوَاحِبَاتِ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِقَوْلِهِ: مَا هٰذَا بَشَرًا 

Sebagaimana Allah Ta‘ālā mengabarkan tentang istri-istri (yang) menyertai Yusuf ‘alaihis-salām dengan firman-Nya: “Bukan ini manusia…” 

إِنْ هٰذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ 

“sesungguhnya ini hanyalah malaikat yang mulia.” 

وَمَنْ صَرَفَ هَمَّتَهُ إِلَى اتِّبَاعِ اللَّذَّاتِ الْبَدَنِيَّةِ 

Barang siapa mengarahkan perhatiannya untuk menuruti kenikmatan jasmani 

يَأْكُلُ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ 

ia makan sebagaimana ternak makan 

فَقَدْ انْحَطَّ إِلَى حُضِيضِ أُفُقِ الْبَهَائِمِ 

lalu ia jatuh ke lembah tingkatan hewan 

فَيَصِيرُ إِمَّا غَمَرًا كَثَوْرٍ 

ia bisa menjadi seperti banteng yang lalai 

وَإِمَّا شَرْهًا كَخِنْزِيرٍ 

atau serakah seperti babi 

أَوْ ضَرَّابًا كَكَلْبٍ أَوْ سِنَّوْرٍ 

atau pemukul seperti anjing atau kucing liar 

أَوْ حَقُودًا كَجَمَلٍ 

atau pendendam seperti unta 

أَوْ مُتَكَبِّرًا كَنَمِرٍ 

atau sombong seperti harimau 

أَوْ ذَا رُوَاغٍ كَثَعْلَبٍ 

atau berkelit seperti rubah 

أَوْ يَجْمَعُ ذٰلِكَ كُلَّهُ كَشَيْطَانٍ مَرِيدٍ 

atau mengumpulkan semua itu seperti setan yang membangkang 

وَمَا مِنْ عُضْوٍ مِنْ الْأَعْضَاءِ وَلَا حَاسَّةٍ مِنَ الْحَوَاسِّ 

Tidak ada satu anggota pun dari anggota tubuh, dan tidak ada satu indera pun 

إِلَّا يُمْكِنُ الِاسْتِعَانَةُ بِهِ عَلَى وَجْهِ الْوُصُولِ إِلَى اللهِ تَعَالَى 

melainkan bisa dipakai untuk jalan menuju Allah Ta‘ālā 

كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُ طَرَفٍ مِنْهُ فِي كِتَابِ الشُّكْرِ 

sebagaimana nanti akan dijelaskan sedikit darinya dalam kitab Asy-Syukr 

فَمَنِ اسْتَعْمَلَهُ فِيهِ فَقَدْ فَازَ 

Barang siapa memakainya untuk itu, maka ia menang (beruntung) 

وَمَنْ عَدَلَ عَنْهُ فَقَدْ خَسِرَ وَخَابَ 

dan siapa yang berpaling darinya, maka ia rugi dan gagal 

وَجُمْلَةُ السَّعَادَةِ فِي ذٰلِكَ أَنْ يَجْعَلَ لِقَاءَ اللهِ تَعَالَى مَقْصِدَهُ 

Kesimpulan kebahagiaan dalam hal ini adalah menjadikan pertemuan dengan Allah Ta‘ālā sebagai tujuannya 

وَالدَّارَ الآخِرَةَ مُسْتَقَرَّهُ 

menjadikan tempat tinggal akhirat sebagai tempat menetapnya 

وَالدُّنْيَا مَنْزِلَهُ 

menjadikan dunia sebagai tempat singgahnya 

وَالْبَدَنَ مَرْكَبَهُ 

menjadikan tubuh sebagai kendaraannya 

وَالأَعْضَاءَ خُدْمَهُ 

dan menjadikan anggota tubuh sebagai pelayan-pelayannya 

فَيَسْتَقِرُّ هُوَ أَعْنِي الْمُدْرِكَ مِنَ الْإِنْسَانِ فِي الْقَلْبِ 

Maka ia, yaitu yang menangkap (maksud: bagian yang memahami) dari manusia, menetap di dalam hati 

الَّذِي هُوَ وَسَطُ مَمْلَكَتِهِ كَالْمَلِكِ 

yaitu pusat kerajaannya, seperti seorang raja 

وَيَجْرِي قُوَّةُ الْخَيَالِ الْمَوْدَعَةُ فِي مُقَدَّمِ الدِّمَاغِ مَجْرَى صَاحِبِ بَرِيدِهِ 

dan kekuatan khayāl yang disimpan di bagian depan otak berjalan seperti “pemegang surat/kurir” 

إِذْ تَجْتَمِعُ أَخْبَارُ الْمَحْسُوسَاتِ عِنْدَهُ 

karena kabar-kabar dari hal-hal yang bisa dirasakan berkumpul di sisinya 

وَيَجْرِي قُوَّةُ الْحَافِظَةِ الَّتِي مَسْكَنُهَا مُؤَخَّرُ الدِّمَاغِ مَجْرَى خَازِنِهِ 

dan kekuatan yang menjaga (ḥāfiẓah) yang tempatnya di bagian belakang otak berjalan seperti gudang/penyimpan 

وَيَجْرِي اللِّسَانُ مَجْرَى تُرْجُمَانِهِ 

dan lidah menjadi seperti juru terjemahannya 

وَيَجْرِي الأَعْضَاءُ الْمُتَحَرِّكَةُ مَجْرَى كَاتِبِهِ 

dan anggota tubuh yang bergerak menjadi seperti penulisnya 

وَيَجْرِي الْحَوَاسُّ الْخَمْسُ مَجْرَى جَوَاسِيسِهِ 

serta indera-indera yang lima menjadi seperti mata-mata (agen pengumpul informasi) 

فَيُوَكِّلُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهَا بِأَخْبَارِ صَقْعٍ مِنَ الأَصْقَاعِ 

lalu ia menugaskan masing-masing untuk kabar dari wilayah-wilayah berbeda 

فَيُوَكَّلُ الْعَيْنُ بِعَالَمِ الأَلْوَانِ 

mata ditugaskan mengabari dunia warna-warna 

وَيُوَكَّلُ السَّمْعُ بِعَالَمِ الأَصْوَاتِ 

telinga ditugaskan mengabari dunia suara-suara 

وَيُوَكَّلُ الشَّمُّ بِعَالَمِ الرُّوَائِحِ 

dan hidung ditugaskan mengabari dunia aroma-aroma 

وَكَذٰلِكَ سَائِرُهَا 

Demikian pula yang lainnya 

فَإِنَّهَا أَصْحَابُ أَخْبَارٍ يَلْتَقِطُونَهَا مِنْ هٰذِهِ الْعَوَالِمِ 

mereka adalah para pengumpul kabar yang menangkapnya dari berbagai alam itu 

وَيُؤَدُّونَهَا إِلَى قُوَّةِ الْخَيَالِ 

lalu menyampaikannya kepada kekuatan khayāl 

الَّتِي هِيَ كَصَاحِبِ الْبَرِيدِ 

yang seperti pemegang surat (kurir) 

وَيُسَلِّمُهَا صَاحِبُ الْبَرِيدِ إِلَى الْخَازِنِ 

kemudian kurir menyerahkannya kepada gudang 

وَهِيَ الْحَافِظَةُ 

yaitu kekuatan penjaga 

وَيَعْرِضُهَا الْخَازِنُ عَلَى الْمَلِكِ 

lalu gudang mempersembahkannya kepada raja 

فَيَقْتَبِسُ الْمَلِكُ مِنْهَا مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ 

lalu raja mengambil darinya apa yang ia butuhkan 

فِي تَدْبِيرِ مَمْلَكَتِهِ 

dalam mengatur kerajaannya 

وَإِتْمَامِ سَفَرِهِ الَّذِي هُوَ بِصَدَدِهِ 

dan menyempurnakan perjalanan yang sedang ia tempuh 

وَقَمْعِ عَدُوِّهِ الَّذِي هُوَ مُبْتَلًى بِهِ 

serta menekan musuhnya yang sedang menimpanya 

وَدَفْعِ قَوَاطِعِ الطَّرِيقِ عَلَيْهِ 

dan menolak penghalang-penghalang jalan menuju dirinya 

فَإِذَا فَعَلَ ذٰلِكَ كَانَ مُوَفَّقًا سَعِيدًا شَاكِرًا نِعْمَةَ اللهِ 

Jika ia melakukan itu, ia menjadi sukses, bahagia, dan pandai bersyukur atas nikmat Allah 

وَإِذَا عَطَّلَ هٰذِهِ الْجُمْلَةَ 

Tetapi jika ia melumpuhkan susunan ini 

أَوِ اسْتَعْمَلَهَا 

atau memakainya 

لِكِنْ فِي مُرَاعَاةِ أَعْدَائِهِ 

namun untuk mengutamakan musuh-musuhnya 

وَهِيَ الشَّهْوَةُ وَالْغَضَبُ وَسَائِرُ الْحُظُوظِ الْعَاجِلَةِ 

yaitu syahwat, marah, dan seluruh kesenangan duniawi yang segera 

أَوْ فِي عِمَارَةِ طَرِيقِهِ دُونَ مَنْزِلِهِ 

atau untuk membangun jalan, bukan tempat tujuan 

إِذِ الدُّنْيَا طَرِيقُهُ الَّتِي عَلَيْهَا عُبُورُهُ 

karena dunia adalah jalannya tempat ia melintas 

وَوَطَنُهُ وَمُسْتَقَرُّهُ الآخِرَةُ 

dan kampungnya, sedangkan tempat menetapnya adalah akhirat 

كَانَ مَخْذُولًا شَقِيًّا كَافِرًا بِنِعْمَةِ اللهِ تَعَالَى 

maka ia menjadi tertipu, celaka, kufur terhadap nikmat Allah Ta‘ālā 

مُضَيِّعًا لِجُنُودِ اللهِ تَعَالَى 

menyia-nyiakan tentara-tentara Allah 

نَاصِرًا لِأَعْدَاءِ اللهِ مُخْذِلًا لِحِزْبِ اللهِ 

menjadi penolong musuh-musuh Allah, dan melemahkan golongan Allah 

فَيَسْتَحِقُّ الْمَقْتَ وَالإِبْعَادَ فِي الْمُنْقَلَبِ وَالْمَعَادِ 

lalu ia layak mendapat kemurkaan dan dijauhkan pada saat kembali dan akhirat 

نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ذٰلِكَ 

Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian 

وَإِلَى الْمَثَالِ الَّذِي ضَرَبْنَاهُ أَشَارَ كَعْبُ الْأَحْبَارِ 

Dan pada perumpamaan yang kami buat tadi, Ka‘b al-Ahbār memberi isyarat 

حَيْثُ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا 

Ia berkata: “Aku menemui ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā 

فَقُلْتُ: الْإِنْسَانُ عَيْنَاهُ هَادَ وَأُذُنَاهُ قَمَعٌ 

lalu aku berkata: ‘Manusia itu matanya adalah pengarah, dan telinganya adalah perintang (penghalang/penjaga)’ 

وَلِسَانُهُ تَرْجُمَانٌ وَيَدَاهُ جَنَاحَانِ 

‘lidahnya adalah juru terjemah, dan kedua tangannya adalah dua sayap’ 

وَرِجْلَاهُ بَرِيدٌ وَالْقَلْبُ مِنْهُ مَلِكٌ 

‘dan kedua kakinya adalah kurir, sedangkan hatinya adalah sang raja’” 

وَهَٰذَا هُوَ الْحَدِيثُ: عَائِشَةُ 

Hadis ini dinukil dari ‘Āisyah 

(الْحَدِيثُ) إِنَّ الْإِنْسَانَ عَيْنَاهُ هَادَ وَأُذُنَاهُ قَمَعٌ 

Hadis: “Sesungguhnya manusia itu matanya pengarah, dan telinganya perintang” 

وَلِسَانُهُ تَرْجُمَانٌ 

“dan lidahnya juru terjemah” 

وَيَدَاهُ جَنَاحَانِ 

“dan kedua tangannya dua sayap” 

وَرِجْلَاهُ بَرِيدٌ 

“dan kedua kakinya kurir” 

وَالْقَلْبُ مِنْهُ مَلِكٌ 

“sedangkan hatinya adalah sang raja” 

أَخْرَجَهُ أَوْ عَادَ نُعَيْمٌ فِي الطِّبِّ النَّبَوِيِّ 

Diriwayatkan oleh Nu‘aim dalam at-Ṭibb an-Nabawī 

وَطَبَرَانِيٌّ فِي مُسْنَدِ الشَّامِيِّينَ 

dan ath-Thabarānī dalam Musnad asy-Syāmiyyīn 

وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَنَحْوِهِ 

serta al-Bayhaqī dalam asy-Syu‘ab dari hadis Abu Hurairah dan semisalnya 

وَلِأَحْمَدَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ 

Dan untuk Ahmad dari hadis Abu Żar 

وَأَمَّا الْأُذُنُ فَقَمَعٌ 

“Adapun telinga itu perintang” 

وَأَمَّا الْعَيْنُ فَمُقَرَّةٌ لِمَا يُوعِي الْقَلْبَ 

“Adapun mata itu tempat yang menampung apa yang menyampaikan kepada hati; tidaklah ada yang benar-benar terjadi darinya…” 

وَفِي هٰذَا مَعْنًى يَقْتَرِبُ مِنْهِ 

(maksudnya) sejalan dengan penjelasan itu 

فَإِذَا طَابَ الْمَلِكُ طَابَتْ جُنُودُهُ 

Jika raja (akal/hati) baik, maka pasukannya pun baik 

فَقَالَتْ: هٰكَذَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ 

lalu ‘Āisyah berkata: “Demikianlah aku mendengar Rasulullah bersabda” 

وَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي تَمْثِيلِ الْقُلُوبِ 

Dan Ali radhiyallāhu ‘anhu berkata dalam perumpamaan tentang hati 

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى فِي أَرْضِهِ آنِيَةً وَهِيَ الْقُلُوبُ 

“Sesungguhnya Allah Ta‘ālā memiliki di bumi-Nya bejana-bejana, dan bejana itu adalah hati” 

فَأَحَبَّهَا إِلَيْهِ تَعَالَى أَرَقَّهَا وَأَصْفَاهَا وَأَصْلَبَهَا 

“Yang paling dicintai di sisi-Nya adalah yang paling lembut, paling jernih, dan paling kokoh” 

ثُمَّ فَسَّرَ ذٰلِكَ فَقَالَ 

Lalu beliau menjelaskannya dengan mengatakan 

أَصْلَبَهَا فِي الدِّينِ 

“Yang paling kokoh: dalam agama” 

وَأَصْفَاهَا فِي الْيَقِينِ 

“yang paling jernih: dalam keyakinan” 

وَأَرَقَّهَا عَلَى الْإِخْوَانِ 

“dan yang paling lembut: kepada saudara-saudara (sesama)” 

وَهُوَ إِشَارَةٌ إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ 

Ini isyarat kepada firman-Nya Ta‘ālā: “Sangat keras terhadap orang-orang kafir, namun penyayang di antara mereka.” 

وَقَوْلِهِ تَعَالَى: مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ 

dan firman-Nya: “Perumpamaan cahaya-Nya seperti misykāt (ceruk) yang di dalamnya ada pelita…” 

قَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ 

Kata Ubayy bin Ka‘b radhiyallāhu ‘anhu 

مَعْنَاهُ: مَثَلُ نُورِ الْمُؤْمِنِ وَقَلْبِهِ 

“maksudnya: perumpamaan cahaya seorang mukmin dan hatinya” 

وَقَوْلِهِ تَعَالَى: أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ 

dan firman-Nya: “atau seperti kegelapan di laut yang dalam…” 

مِثْلُ قَلْبِ الْمُنَافِقِ 

“seperti hati orang munafik” 

وَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ 

Dan Zayd bin Aslam dalam firman-Nya Ta‘ālā: “di Lauḥ Maḥfūẓ” 

هُوَ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ 

“ia adalah hati orang mukmin” 

وَقَالَ سَهْلٌ: مِثْلُ الْقَلْبِ وَالصَّدْرِ مِثْلُ الْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ 

Dan Sahl berkata: “perumpamaan hati dan dada adalah seperti ‘Arsy dan al-Kursī” 

فَهٰذِهِ أَمْثِلَةُ الْقَلْبِ 

Maka inilah perumpamaan-perumpamaan tentang hati