Faedah, Keutamaan, dan Niat Bepergian
الْبَابُ الْأَوَّلُ فِي الْآدَابِ مِنْ أَوَّلِ النُّهُوضِ إِلَى آخِرِ الرُّجُوعِ وَفِي نِيَّةِ السَّفَرِ وَفَائِدَتِهِ وَفِيهِ فَصْلَانِ
Bab Pertama: Tentang adab-adab sejak awal keberangkatan
hingga akhir kepulangan, tentang niat bepergian dan faedahnya. Di dalamnya
terdapat dua pasal.
الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي فَوَائِدِ السَّفَرِ وَفَضْلِهِ وَنِيَّتِهِ
Pasal Pertama: Tentang Faedah, Keutamaan, dan Niat
Bepergian.
اعْلَمْ أَنَّ السَّفَرَ نَوْعُ حَرَكَةٍ وَمُخَالَطَةٍ
Ketahuilah bahwa bepergian adalah sejenis pergerakan dan
interaksi.
وَفِيهِ فَوَائِدُ وَلَهُ آفَاتٌ كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي
كِتَابِ الصُّحْبَةِ وَالْعُزْلَةِ
Di dalamnya terdapat faedah-faedah dan juga
penyakit-penyakit, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Kitab Persahabatan dan
Kitab Uzlah.
وَالْفَوَائِدُ الْبَاعِثَةُ عَلَى السَّفَرِ لَا
تَخْلُو مِنْ هَرَبٍ أَوْ طَلَبٍ
Adapun faedah-faedah yang mendorong seseorang untuk
bepergian tidak lepas dari dua hal: lari (dari sesuatu) atau mencari (sesuatu).
فَإِنَّ الْمُسَافِرَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مُزْعِجٌ
عَنْ مَقَامِهِ
Seorang musafir itu, adakalanya memiliki sesuatu yang
mengganggunya di tempat tinggalnya.
وَلَوْلَاهُ لَمَا كَانَ لَهُ مَقْصَدٌ يُسَافِرُ
إِلَيْهِ
Kalau bukan karena hal itu, ia tidak akan punya tujuan untuk
bepergian.
وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَقْصَدٌ وَمَطْلَبٌ
Atau adakalanya ia memang memiliki tujuan dan sesuatu yang
dicari.
وَالْمَهْرُوبُ عَنْهُ إِمَّا أَمْرٌ لَهُ نِكَايَةٌ فِي
الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ
Sesuatu yang dihindari itu adakalanya berupa urusan yang
merugikan dalam hal-hal duniawi.
كَالطَّاعُونِ وَالْوَبَاءِ إِذَا ظَهَرَ بِبَلَدٍ أَوْ
خَوْفٍ سَبَبُهُ فِتْنَةٌ أَوْ خُصُومَةٌ أَوْ غَلَاءُ سِعْرٍ
Seperti wabah tha'un, fitnah, permusuhan, atau kenaikan
harga yang terjadi di suatu negeri.
وَهُوَ إِمَّا عَامٌّ كَمَا ذَكَرْنَاهُ أَوْ خَاصٌّ
كَمَنْ يُقْصَدُ بِأَذِيَّةٍ فِي بَلْدَةٍ فَيَهْرَبُ مِنْهَا
Hal itu bisa bersifat umum seperti yang kami sebutkan, atau
bersifat khusus seperti orang yang sengaja diganggu di suatu tempat lalu ia
lari darinya.
وَإِمَّا أَمْرٌ لَهُ نِكَايَةٌ فِي الدِّينِ
Atau adakalanya berupa urusan yang merusak agama.
كَمَنْ ابْتُلِيَ فِي بَلَدِهِ بِجَاهٍ وَمَالٍ
وَاتِّسَاعِ أَسْبَابٍ تَصُدُّهُ عَنِ التَّجَرُّدِ لِلهِ
Seperti orang yang diuji di negerinya dengan kedudukan,
harta, dan kelapangan rezeki yang menghalanginya dari memurnikan diri untuk
Allah.
فَيُؤْثِرُ الْغُرْبَةَ وَالْخُمُولَ وَيَجْتَنِبُ
السَّعَةَ وَالْجَاهَ
Lalu ia lebih memilih hidup di perantauan dan tidak dikenal,
serta menjauhi kelapangan dan kedudukan.
أَوْ كَمَنْ يُدْعَى إِلَى بِدْعَةٍ قَهْرًا أَوْ إِلَى
وِلَايَةِ عَمَلٍ لَا تَحِلُّ مُبَاشَرَتُهُ فَيَطْلُبُ الْفِرَارَ مِنْهُ
Atau seperti orang yang dipaksa mengikuti bid'ah, atau
dipaksa memegang jabatan yang tidak halal, lalu ia berusaha lari darinya.
وَأَمَّا الْمَطْلُوبُ فَهُوَ إِمَّا دُنْيَوِيٌّ
كَالْمَالِ وَالْجَاهِ أَوْ دِينِيٌّ
Adapun sesuatu yang dicari, adakalanya bersifat duniawi
seperti harta dan kedudukan, atau bersifat agama.
وَالدِّينِيُّ إِمَّا عِلْمٌ وَإِمَّا عَمَلٌ
Yang bersifat agama itu adakalanya berupa ilmu atau amal.
وَالْعِلْمُ إِمَّا عِلْمٌ مِنَ الْعُلُومِ
الدِّينِيَّةِ
Ilmu itu adakalanya berupa ilmu-ilmu agama.
وَإِمَّا عِلْمٌ بِأَخْلَاقِ نَفْسِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى
سَبِيلِ التَّجْرِبَةِ
Atau ilmu tentang akhlak dan sifat dirinya sendiri melalui
pengalaman.
وَأَمَّا عِلْمٌ بِآيَاتِ الْأَرْضِ وَعَجَائِبِهَا
كَسَفَرِ ذِي الْقَرْنَيْنِ وَطَوَافِهِ فِي نَوَاحِي الْأَرْضِ
Atau ilmu tentang tanda-tanda kebesaran (Allah) di bumi dan
keajaibannya, seperti perjalanan Dzulqarnain dan pengembaraannya ke berbagai
penjuru bumi.
وَالْعَمَلُ إِمَّا عِبَادَةٌ وَإِمَّا زِيَارَةٌ
Adapun amal, adakalanya berupa ibadah atau ziarah.
وَالْعِبَادَةُ هُوَ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
وَالْجِهَادُ
Ibadah itu seperti haji, umrah, dan jihad.
وَالزِّيَارَةُ أَيْضًا مِنَ الْقُرُبَاتِ
Ziarah juga termasuk amalan untuk mendekatkan diri kepada
Allah.
وَقَدْ يُقْصَدُ بِهَا مَكَانٌ كَمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ
وَبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَالثُّغُورِ فَإِنَّ الرِّبَاطَ بِهَا قُرْبَةٌ
Terkadang tujuannya adalah tempat, seperti Mekkah, Madinah,
Baitul Maqdis, dan daerah-daerah perbatasan, karena berjaga di sana (ribath)
adalah sebuah ibadah.
وَقَدْ يُقْصَدُ بِهَا الْأَوْلِيَاءُ وَالْعُلَمَاءُ
Dan terkadang tujuannya adalah para wali dan ulama.
وَهُمْ إِمَّا مَوْتَى فَتُزَارُ قُبُورُهُمْ
Mereka itu adakalanya sudah wafat, sehingga kuburan
merekalah yang diziarahi.
وَإِمَّا أَحْيَاءٌ فَيُتَبَرَّكُ بِمُشَاهَدَتِهِمْ
Atau adakalanya masih hidup, sehingga orang mencari berkah
dengan melihat mereka.
وَيُسْتَفَادُ مِنْ النَّظَرِ إِلَى أَحْوَالِهِمْ
قُوَّةُ الرَّغْبَةِ فِي الْإِقْتِدَاءِ بِهِمْ
Dan dengan melihat keadaan mereka, seseorang bisa
mendapatkan kekuatan keinginan untuk meneladani mereka.
فَهَذِهِ هِيَ أَقْسَامُ الْأَسْفَارِ
Inilah macam-macam perjalanan.
وَيَخْرُجُ مِنْ هَذِهِ الْقِسْمَةِ أَقْسَامٌ
Dari pembagian ini, muncullah beberapa bagian.
**Bagian Pertama: Bepergian untuk Menuntut Ilmu**
الْقِسْمُ الْأَوَّلُ السَّفَرُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ
Bagian pertama: Bepergian untuk menuntut ilmu.
وَهُوَ إِمَّا وَاجِبٌ وَإِمَّا نَفْلٌ
Hukumnya adakalanya wajib atau sunah.
وَذَلِكَ بِحَسَبِ كَوْنِ الْعِلْمِ وَاجِبًا أَوْ
نَفْلًا
Hal itu tergantung pada hukum ilmunya, apakah wajib atau
sunah.
وَذَلِكَ الْعِلْمُ إِمَّا عِلْمٌ بِأُمُورِ دِينِهِ
أَوْ بِأَخْلَاقِهِ فِي نَفْسِهِ أَوْ بِآيَاتِ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ
Ilmu itu bisa berupa ilmu tentang urusan agamanya, atau
tentang akhlak dirinya, atau tentang tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi-Nya.
وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ
خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى
يَرْجِعَ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka ia berada di
jalan Allah hingga ia kembali."
وَفِي خَبَرٍ آخَرَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ
فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Dalam hadis lain, "Barangsiapa menempuh suatu jalan
untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju
surga."
وَكَانَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ يُسَافِرُ
الْأَيَّامَ فِي طَلَبِ الْحَدِيثِ الْوَاحِدِ
Sa'id bin Al-Musayyib biasa bepergian berhari-hari demi
mencari satu hadis.
وَقَالَ الشَّعْبِيُّ لَوْ سَافَرَ رَجُلٌ مِنَ الشَّامِ
إِلَى أَقْصَى الْيَمَنِ فِي كَلِمَةٍ تَدُلُّهُ عَلَى هُدًى أَوْ تَرُدُّهُ عَنْ
رَدًى مَا كَانَ سَفَرُهُ ضَائِعًا
Asy-Sya'bi berkata, "Seandainya seseorang bepergian
dari Syam hingga ke ujung Yaman demi satu kalimat yang dapat menunjukinya pada
petunjuk atau menghindarkannya dari keburukan, maka perjalanannya tidak akan
sia-sia."
وَرَحَلَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مِنَ الْمَدِينَةِ
إِلَى مِصْرَ مَعَ عَشَرَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ
Jabir bin Abdullah melakukan perjalanan dari Madinah ke
Mesir bersama sepuluh orang sahabat.
فَسَارُوا شَهْرًا فِي حَدِيثٍ بَلَغَهُمْ عَنْ عَبْدِ
اللهِ أُنَيْسٍ الْأَنْصَارِيِّ يُحَدِّثُ بِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى سَمِعُوهُ
Mereka berjalan selama sebulan demi sebuah hadis yang sampai
kepada mereka, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Unais Al-Anshari dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, hingga mereka mendengarnya langsung.
وَكُلُّ مَذْكُورٍ فِي الْعِلْمِ مُحَصِّلٌ لَهُ مِنْ
زَمَانِ الصَّحَابَةِ إِلَى زَمَانِنَا هَذَا لَمْ يُحَصِّلِ الْعِلْمَ إِلَّا
بِالسَّفَرِ وَسَافَرَ لِأَجْلِهِ
Setiap orang yang terkenal dalam ilmu dan meraihnya, sejak
zaman sahabat hingga zaman kita sekarang, tidaklah meraih ilmu kecuali dengan
bepergian dan melakukan perjalanan karenanya.
وَأَمَّا عِلْمُهُ بِنَفْسِهِ وَأَخْلَاقِهِ فَذَلِكَ
أَيْضًا مُهِمٌّ
Adapun ilmu tentang diri dan akhlaknya, hal itu juga
penting.
فَإِنَّ طَرِيقَ الْآخِرَةِ لَا يُمْكِنُ سُلُوكُهَا
إِلَّا بِتَحْسِينِ الْخُلُقِ وَتَهْذِيبِهِ
Karena jalan akhirat tidak mungkin ditempuh kecuali dengan
memperbaiki dan membersihkan akhlak.
وَمَنْ لَا يَطَّلِعُ عَلَى أَسْرَارِ بَاطِنِهِ
وَخَبَائِثِ صِفَاتِهِ لَا يَقْدِرُ عَلَى تَطْهِيرِ الْقَلْبِ مِنْهَا
Dan barangsiapa tidak mengetahui rahasia-rahasia batinnya
dan kebusukan sifat-sifatnya, ia tidak akan mampu membersihkan hati darinya.
وَإِنَّمَا السَّفَرُ هُوَ الَّذِي يُسْفِرُ عَنْ
أَخْلَاقِ الرِّجَالِ
Hanyalah bepergian (safar) yang akan menyingkap (yusfir)
akhlak seseorang.
وَبِهِ يَخْرُجُ اللهُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ
Dan dengannya Allah mengeluarkan apa yang tersembunyi di
langit dan di bumi.
وَإِنَّمَا سُمِّيَ السَّفَرُ سَفَرًا لِأَنَّهُ
يُسْفِرُ عَنِ الْأَخْلَاقِ
Safar dinamakan safar karena ia menyingkap (yusfir) akhlak.
وَلِذَلِكَ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِلَّذِي
زَكَّى عِنْدَهُ بَعْضَ الشُّهُودِ هَلْ صَحِبْتَهُ فِي السَّفَرِ الَّذِي
يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ أَخْلَاقِهِ
Oleh karena itu, Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepada
orang yang merekomendasikan salah seorang saksi, "Apakah engkau pernah
menemaninya dalam perjalanan yang bisa menjadi bukti atas kemuliaan
akhlaknya?"
فَقَالَ لَا
Orang itu menjawab, "Tidak."
فَقَالَ مَا أَرَاكَ تَعْرِفُهُ
Umar berkata, "Menurutku, engkau tidak
mengenalnya."
وَكَانَ بِشْرٌ يَقُولُ يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ
سِيحُوا تَطِيبُوا
Bisyr Al-Hafi biasa berkata, "Wahai para ahli qira'ah,
mengembaralah, niscaya kalian akan menjadi baik."
فَإِنَّ الْمَاءَ إِذَا سَاحَ طَابَ وَإِذَا طَالَ
مَقَامُهُ فِي مَوْضِعٍ تَغَيَّرَ
"Karena air jika mengalir, ia akan menjadi jernih. Dan
jika terlalu lama diam di satu tempat, ia akan berubah (menjadi keruh)."
وَبِالْجُمْلَةِ فَإِنَّ النَّفْسَ فِي الْوَطَنِ مَعَ
مُوَاتَاةِ الْأَسْبَابِ لَا تَظْهَرُ خَبَائِثُ أَخْلَاقِهَا
Secara umum, jiwa seseorang ketika berada di tanah air
dengan segala fasilitas yang mendukung, tidak akan tampak kebusukan akhlaknya.
لِاسْتِئْنَاسِهَا بِمَا يُوَافِقُ طَبْعَهَا مِنَ
الْمَأْلُوفَاتِ الْمَعْهُودَةِ
Karena ia merasa nyaman dengan hal-hal yang biasa ia temui
dan sesuai dengan wataknya.
فَإِذَا حُمِلَتْ وُعْثَاءَ السَّفَرِ وَصُرِفَتْ عَنْ
مَأْلُوفَاتِهَا الْمُعْتَادَةِ
Namun, jika ia dibebani dengan kesulitan perjalanan dan
dijauhkan dari kebiasaan-kebiasaannya,
وَامْتُحِنَتْ بِمَشَاقِّ الْغُرْبَةِ انْكَشَفَتْ
غَوَائِلُهَا
serta diuji dengan beratnya hidup di perantauan, maka akan
tersingkaplah keburukan-keburukannya.
وَوَقَعَ الْوُقُوفُ عَلَى عُيُوبِهَا فَيُمْكِنُ
الِاشْتِغَالُ بِعِلَاجِهَا
Dan akan terlihatlah aib-aibnya, sehingga memungkinkan untuk
sibuk mengobatinya.
وَقَدْ ذَكَرْنَا فِي كِتَابِ الْعُزْلَةِ فَوَائِدَ
الْمُخَالَطَةِ
Kami telah menyebutkan dalam Kitab Al-'Uzlah faedah-faedah
berinteraksi.
وَالسَّفَرُ مُخَالَطَةٌ مَعَ زِيَادَةِ اشْتِغَالٍ
وَاحْتِمَالِ مَشَاقٍّ
Dan bepergian adalah interaksi dengan tambahan kesibukan dan
menanggung berbagai kesulitan.
وَأَمَّا آيَاتُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ فَفِي
مُشَاهَدَتِهَا فَوَائِدُ لِلْمُسْتَبْصِرِ
Adapun tanda-tanda kebesaran Allah di bumi-Nya, dalam
menyaksikannya terdapat faedah-faedah bagi orang yang mau mengambil pelajaran.
فَفِيهَا قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَفِيهَا الْجِبَالُ
وَالْبَرَارِي وَالْبِحَارُ وَأَنْوَاعُ الْحَيَوَانِ وَالنَّبَاتِ
Di dalamnya terdapat bidang-bidang tanah yang berdampingan,
ada gunung-gunung, padang-padang, lautan, serta berbagai jenis hewan dan
tumbuhan.
وَمَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا وَهُوَ شَاهِدٌ
لِلَّهِ بِالْوَحْدَانِيَّةِ
Dan tidak ada satu pun dari semua itu melainkan menjadi
saksi bagi keesaan Allah.
وَمُسَبِّحٌ لَهُ بِلِسَانٍ ذَلِقٍ لَا يُدْرِكُهُ
إِلَّا مَنْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Dan bertasbih kepada-Nya dengan lisan yang fasih, yang tidak
dapat dipahami kecuali oleh orang yang memasang pendengarannya dan ia bersaksi.
وَأَمَّا الْجَاحِدُونَ وَالْغَافِلُونَ
وَالْمُغْتَرُونَ بِلَامِعِ السَّرَابِ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا
Adapun orang-orang yang ingkar, lalai, dan tertipu oleh
fatamorgana gemerlapnya dunia,
فَإِنَّهُمْ لَا يُبْصِرُونَ وَلَا يَسْمَعُونَ
mereka tidak melihat dan tidak mendengar.
لِأَنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ مَعْزُولُونَ وَعَنْ آيَاتِ
رَبِّهِمْ مَحْجُوبُونَ
Karena mereka terisolasi dari pendengaran (batin) dan
terhalang dari tanda-tanda kebesaran Tuhan mereka.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ
عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari
kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai."
وَمَا أُرِيدَ بِالسَّمْعِ السَّمْعُ الظَّاهِرُ
Yang dimaksud dengan 'pendengaran' di sini bukanlah
pendengaran lahiriah.
فَإِنَّ الَّذِينَ أُرِيدُوا بِهِ مَا كَانُوا
مَعْزُولِينَ عَنْهُ
Karena orang-orang yang dimaksud (dalam ayat itu) tidak
terisolasi darinya.
وَإِنَّمَا أُرِيدَ بِهِ السَّمْعُ الْبَاطِنُ
Yang dimaksud adalah pendengaran batin.
وَلَا يُدْرَكُ بِالسَّمْعِ الظَّاهِرِ إِلَّا
الْأَصْوَاتُ
Dengan pendengaran lahiriah, hanya suara-suara yang dapat
ditangkap.
وَيُشَارِكُ الْإِنْسَانُ فِيهِ سَائِرَ الْحَيَوَانَاتِ
Dan dalam hal ini, manusia sama seperti hewan-hewan lainnya.
فَأَمَّا السَّمْعُ الْبَاطِنُ فَيُدْرَكُ بِهِ لِسَانُ
الْحَالِ
Adapun pendengaran batin, dengannya dapat dipahami *lisanul
hal* (bahasa keadaan).
الَّذِي هُوَ نُطْقٌ وَرَاءَ نُطْقِ الْمَقَالِ
Yaitu ucapan yang berada di balik ucapan lisan.
يُشْبِهُ قَوْلَ الْقَائِلِ حِكَاYَةً لِكَلَامِ الْوَتَدِ وَالْحَائِطِ
Ini menyerupai ucapan seseorang yang menceritakan percakapan
antara pasak dan dinding.
قَالَ الْجِدَارُ لِلْوَتَدِ لِمَ تَشُقَّنِي
Dinding berkata kepada pasak, "Mengapa engkau
melukaiku?"
فَقَالَ سَلْ مَنْ يَدُقُّنِي وَلَمْ يَتْرُكْنِي
وَرَائِي الْحَجَرُ الَّذِي وَرَائِي
Pasak menjawab, "Tanyalah pada orang yang memukulku dan
tidak membiarkanku, (serta) batu yang ada di belakangku."
وَمَا مِنْ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
إِلَّا وَلَهَا أَنْوَاعُ شَاهِدَاتٍ لِلهِ تَعَالَى بِالْوَحْدَانِيَّةِ هِيَ
تَوْحِيدُهَا
Tidak ada satu atom pun di langit dan di bumi melainkan
memiliki berbagai kesaksian akan keesaan Allah Ta'ala, itulah tauhidnya.
وَأَنْوَاعُ شَاهِدَاتٍ لِصَانِعِهَا بِالتَّقَدُّسِ
هِيَ تَسْبِيحُهَا
Dan berbagai kesaksian akan kesucian Penciptanya, itulah
tasbihnya.
وَلَكِنْ لَا يَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهَا لِأَنَّهُمْ لَمْ
يُسَافِرُوا مِنْ مَضِيقِ سَمْعِ الظَّاهِرِ إِلَى فَضَاءِ سَمْعِ الْبَاطِنِ
"Tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka," karena
mereka belum melakukan perjalanan dari sempitnya pendengaran lahiriah menuju
luasnya pendengaran batin.
وَمِنْ رَكَاكَةِ لِسَانِ الْمَقَالِ إِلَى فَصَاحَةِ
لِسَانِ الْحَالِ
Dan dari rapuhnya bahasa lisan menuju kefasihan bahasa
keadaan.
وَلَوْ قَدَرَ كُلُّ عَاجِزٍ عَلَى مِثْلِ هَذَا
السَّيْرِ لَمَا كَانَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مُخْتَصًّا بِفَهْمِ
مَنْطِقِ الطَّيْرِ
Seandainya setiap orang yang lemah mampu melakukan
perjalanan seperti ini, niscaya Sulaiman 'alaihissalam tidak akan diistimewakan
dengan kemampuan memahami bahasa burung.
وَلَمَا كَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مُخْتَصًّا
بِسَمَاعِ كَلَامِ اللهِ تَعَالَى الَّذِي يَجِبُ تَقْدِيسُهُ عَنْ مُشَابَهَةِ
الْحُرُوفِ وَالْأَصْوَاتِ
Dan niscaya Musa 'alaihissalam tidak akan diistimewakan
dengan kemampuan mendengar Kalam Allah Ta'ala, yang wajib disucikan dari
kemiripan dengan huruf dan suara.
وَمَنْ يُسَافِرُ لِيَسْتَقْرِئَ هَذِهِ الشَّهَادَاتِ
مِنَ الْأَسْطُرِ الْمَكْتُوبَةِ بِالْخُطُوطِ الْإِلَهِيَّةِ عَلَى صَفَحَاتِ
الْجَمَادَاتِ لَمْ يَطُلْ سَفَرُهُ بِالْبَدَنِ
Barangsiapa bepergian untuk menelaah kesaksian-kesaksian ini
dari baris-baris yang tertulis dengan tulisan ilahi pada lembaran-lembaran
benda mati, maka perjalanan fisiknya tidak perlu panjang.
بَلْ يَسْتَقِرُّ فِي مَوْضِعٍ وَيُفَرِّغُ قَلْبَهُ
لِلتَّمَتُّعِ بِسَمَاعِ نَغَمَاتِ التَّسْبِيحَاتِ مِنْ آحَادِ الذَّرَّاتِ
Bahkan ia bisa menetap di satu tempat dan mengosongkan
hatinya untuk menikmati alunan tasbih dari setiap atom.
فَمَالَهُ وَلِلتَّرَدُّدِ فِي الْفَلَوَاتِ وَلَهُ
غِنْيَةٌ فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ
Untuk apa ia berkelana di padang belantara, padahal ia
memiliki kekayaan di kerajaan langit?
فَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ بِأَمْرِهِ
مُسَخَّرَاتٌ
Matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada
perintah-Nya.
وَهِيَ إِلَى أَبْصَارِ ذَوِي الْبَصَائِرِ مُسَافِرَاتٌ
فِي الشَّهْرِ وَالسَّنَةِ مَرَّاتٍ
Dan bagi penglihatan orang-orang yang memiliki mata hati,
semua itu melakukan perjalanan berkali-kali dalam sebulan dan setahun.
بَلْ هِيَ دَائِبَةٌ فِي الْحَرَكَةِ عَلَى تَوَالِي
الْأَوْقَاتِ
Bahkan, semua itu terus-menerus bergerak sepanjang waktu.
فَمِنَ الْغَرَائِبِ أَنْ يَدْأَبَ فِي الطَّوَافِ
بِآحَادِ الْمَسَاجِدِ مَنْ أُمِرَتِ الْكَعْبَةُ أَنْ تَطُوفَ بِهِ
Sungguh aneh jika orang yang Ka'bah diperintahkan untuk
bertawaf mengelilinginya, justru sibuk bertawaf di masjid-masjid.
وَمِنَ الْغَرَائِبِ أَنْ يَطُوفَ فِي أَكْنَافِ
الْأَرْضِ مَنْ يَطُوفُ بِهِ أَقْطَارُ السَّمَاءِ
Dan sungguh aneh jika orang yang dikelilingi oleh
penjuru-penjuru langit, justru berkeliling di penjuru-penjuru bumi.
ثُمَّ مَا دَامَ الْمُسَافِرُ مُفْتَقِرًا إِلَى أَنْ
يَبْصُرَ عَالَمَ الْمُلْكِ وَالشَّهَادَةِ بِالْبَصَرِ الظَّاهِرِ
Kemudian, selama seorang musafir masih membutuhkan
penglihatan lahiriah untuk melihat alam *mulk* dan *syahadah* (alam nyata),
فَهُوَ بَعْدُ فِي الْمَنْزِلِ الْأَوَّلِ مِنْ
مَنَازِلِ السَّائِرِينَ إِلَى اللهِ وَالْمُسَافِرِينَ إِلَى حَضْرَتِهِ
maka ia masih berada di persinggahan pertama dari
persinggahan-persinggahan para pejalan menuju Allah dan para musafir menuju
hadirat-Nya.
وَكَأَنَّهُ مُعْتَكِفٌ عَلَى بَابِ الْوَطَنِ لَمْ
يُفْضِ بِهِ الْمَسِيرُ إِلَى مُتَّسَعِ الْفَضَاءِ
Seolah-olah ia sedang beriktikaf di gerbang negerinya,
perjalanannya belum membawanya ke ruang yang luas.
وَلَا سَبَبَ لِطُولِ الْمَقَامِ فِي هَذَا الْمَنْزِلِ
إِلَّا الْجُبْنُ وَالْقُصُورُ
Dan tidak ada sebab lamanya ia singgah di persinggahan ini
kecuali karena sifat pengecut dan kekurangan.
وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُ أَرْبَابِ الْقُلُوبِ إِنَّ
النَّاسَ لَيَقُولُونَ افْتَحُوا أَعْيُنَكُمْ حَتَّى تُبْصِرُوا
Oleh karena itu, sebagian pemilik hati (ahlul qulub)
berkata, "Orang-orang berkata, 'Bukalah mata kalian agar kalian bisa
melihat.'"
وَأَنَا أَقُولُ غَمِّضُوا أَعْيُنَكُمْ حَتَّى
تُبْصِرُوا
"Sedangkan aku berkata, 'Pejamkanlah mata kalian agar
kalian bisa melihat.'"
وَكُلٌّ وَاحِدٌ مِنَ الْقَوْلَيْنِ حَقٌّ
Setiap dari dua ucapan ini benar.
إِلَّا أَنَّ الْأَوَّلَ خَبَرٌ عَنِ الْمَنْزِلِ
الْأَوَّلِ الْقَرِيبِ مِنَ الْوَطَنِ
Hanya saja, yang pertama adalah berita tentang persinggahan
pertama yang dekat dengan 'tanah air' (dunia).
وَالثَّانِي خَبَرٌ عَمَّا بَعْدَهُ مِنَ الْمَنَازِلِ
الْبَعِيدَةِ عَنِ الْوَطَنِ
Dan yang kedua adalah berita tentang
persinggahan-persinggahan setelahnya yang jauh dari 'tanah air'.
الَّتِي لَا يَطَؤُهَا إِلَّا مُخَاطِرٌ بِنَفْسِهِ
Yang tidak akan diinjak kecuali oleh orang yang berani
mempertaruhkan nyawanya.
وَالْمُجَاوِزُ إِلَيْهَا رُبَّمَا يَتِيهُ فِيهَا
سِنِينَ
Dan orang yang melintasinya terkadang akan tersesat di
dalamnya selama bertahun-tahun.
وَرُبَّمَا يَأْخُذُ التَّوْفِيقُ بِيَدِهِ فَيُرْشِدُهُ
إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ
Dan terkadang taufik akan memegang tangannya lalu
menunjukinya ke jalan yang lurus.
وَالْهَالِكُونَ فِي التِّيهِ هُمُ الْأَكْثَرُونَ مِنْ
رُكَّابِ هَذِهِ الطَّرِيقِ
Orang-orang yang binasa dalam ketersesatan adalah mayoritas
dari para penempuh jalan ini.
وَلَكِنَّ السَّائِحُونَ بِنُورِ التَّوْفِيقِ فَازُوا
بِالنَّعِيمِ وَالْمُلْكِ الْمُقِيمِ
Akan tetapi, para pengembara yang berjalan dengan cahaya
taufik akan meraih kenikmatan dan kerajaan yang abadi.
وَهُمُ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَ اللهِ الْحُسْنَى
Merekalah orang-orang yang telah ditetapkan bagi mereka
kebaikan dari Allah.
وَاعْتَبِرْ هَذَا الْمُلْكَ بِمُلْكِ الدُّنْيَا
Bandingkanlah kerajaan (spiritual) ini dengan kerajaan
dunia.
فَإِنَّهُ يَقِلُّ بِالْإِضَافَةِ إِلَى كَثْرَةِ
الْخَلْقِ طُلَّابُهُ
Pencarinya sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah
manusia.
وَمَهْمَا عَظُمَ الْمَطْلُوبُ قَلَّ الْمُسَاعِدُ
Dan setiap kali sesuatu yang dicari itu agung, maka
sedikitlah penolongnya.
ثُمَّ الَّذِي يَهْلَكُ أَكْثَرُ مِنَ الَّذِي يَمْلِكُ
Kemudian, orang yang binasa lebih banyak daripada yang
berhasil meraihnya.
وَلَا يَتَصَدَّى لِطَلَبِ الْمُلْكِ الْعَاجِزُ
الْجَبَّانُ لِعَظِيمِ الْخَطَرِ وَطُولِ التَّعَبِ
Orang yang lemah dan pengecut tidak akan berani mencari
kerajaan karena bahayanya yang besar dan lelahnya yang panjang.
وَإِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا تَعِبَتْ فِي
مُرَادِهَا الْأَجْسَامُ
"Jika jiwa-jiwa itu besar, maka jasad akan lelah dalam
meraih keinginannya."
وَمَا أَوْدَعَ اللهُ الْعِزَّ وَالْمُلْكَ فِي الدِّينِ
وَالدُّنْيَا إِلَّا فِي حَيِّزِ الْخَطَرِ
Dan Allah tidak meletakkan kemuliaan dan kekuasaan, baik
dalam agama maupun dunia, kecuali di dalam ranah bahaya.
وَقَدْ يُسَمِّي الْجَبَّانُ الْجُبْنَ وَالْقُصُورَ
بِاسْمِ الْحَزْمِ وَالْحَذَرِ
Terkadang, seorang pengecut menamakan sifat pengecut dan
kekurangannya dengan nama kehati-hatian dan kewaspadaan.
كَمَا قِيلَ تَرَى الْجُبَنَاءَ أَنَّ الْجُبْنَ حَزْمٌ
وَتِلْكَ خَدِيعَةُ الطَّبْعِ اللَّئِيمِ
Sebagaimana dikatakan, "Engkau lihat para pengecut
menganggap sifat pengecut itu adalah kehati-hatian, padahal itu adalah tipu
daya dari tabiat yang hina."
فَهَذَا حُكْمُ السَّفَرِ الظَّاهِرِ إِذَا أُرِيدَ بِهِ
السَّفَرُ الْبَاطِنُ بِمُطَالَعَةِ آيَاتِ اللهِ فِي الْأَرْضِ
Inilah hukum perjalanan lahiriah jika dimaksudkan untuk
perjalanan batin dengan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah di bumi.
فَلْنَرْجِعْ إِلَى الْغَرَضِ الَّذِي كُنَّا نَقْصِدُهُ
Mari kita kembali ke tujuan yang kita maksudkan.
وَلْنُبَيِّنِ الْقِسْمَ الثَّانِيَ وَهُوَ أَنْ
يُسَافِرَ لِأَجْلِ الْعِبَادَةِ إِمَّا لِحَجٍّ أَوْ جِهَادٍ
Dan mari kita jelaskan bagian kedua, yaitu bepergian untuk
tujuan ibadah, baik untuk haji maupun jihad.
وَقَدْ ذَكَرْنَا فَضْلَ ذَلِكَ وَآدَابَهُ
وَأَعْمَالَهُ الظَّاهِرَةَ وَالْبَاطِنَةَ فِي كِتَابِ أَسْرَارِ الْحَجِّ
Kami telah menyebutkan keutamaan, adab, serta amalan lahir
dan batinnya dalam "Kitab Rahasia-rahasia Haji."
وَيَدْخُلُ فِي جُمْلَتِهِ زِيَارَةُ قُبُورِ
الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
Termasuk di dalamnya adalah menziarahi kuburan para nabi
'alaihimussalam.
وَزِيَارَةُ قُبُورِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ
وَسَائِرِ الْعُلَمَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ
Dan menziarahi kuburan para sahabat, tabi'in, serta seluruh
ulama dan wali.
وَكُلُّ مَنْ يُتَبَرَّكُ بِمُشَاهَدَتِهِ فِي حَيَاتِهِ
يُتَبَرَّكُ بِزِيَارَتِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ
Setiap orang yang dicari berkahnya dengan melihatnya semasa
hidup, maka dicari pula berkahnya dengan menziarahinya setelah wafat.
وَيَجُوزُ شَدُّ الرِّحَالِ لِهَذَا الْغَرَضِ
Dan diperbolehkan melakukan perjalanan jauh untuk tujuan
ini.
وَلَا يُمْنَعُ مِنْ هَذَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ
مَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Hal ini tidak dilarang oleh sabda Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam, "Janganlah melakukan perjalanan jauh kecuali menuju tiga
masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsa."
لِأَنَّ ذَلِكَ فِي الْمَسَاجِدِ
Karena larangan itu khusus untuk masjid-masjid.
فَإِنَّهَا مُتَمَاثِلَةٌ بَعْدَ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ
Sebab, masjid-masjid lain memiliki keutamaan yang setara
setelah ketiga masjid ini.
وَإِلَّا فَلَا فَرْقَ بَيْنَ زِيَارَةِ قُبُورِ
الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ فِي أَصْلِ الْفَضْلِ
Jika tidak (demikian pemahamannya), maka tidak ada perbedaan
antara menziarahi kuburan para nabi, wali, dan ulama dalam hal keutamaan
dasarnya.
وَإِنْ كَانَ يَتَفَاوَتُ فِي الدَّرَجَاتِ تَفَاوُتًا
عَظِيمًا بِحَسَبِ اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهِمْ عِنْدَ اللهِ
Meskipun tingkat keutamaannya sangat bervariasi sesuai
dengan perbedaan derajat mereka di sisi Allah.
وَبِالْجُمْلَةِ زِيَارَةُ الْأَحْيَاءِ أَوْلَى مِنْ
زِيَارَةِ الْأَمْوَاتِ
Secara umum, menziarahi orang yang masih hidup lebih utama
daripada menziarahi orang yang sudah wafat.
وَالْفَائِدَةُ مِنْ زِيَارَةِ الْأَحْيَاءِ طَلَبُ
بَرَكَةِ الدُّعَاءِ وَبَرَكَةِ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ
Faedah dari menziarahi orang yang masih hidup adalah mencari
berkah doa dan berkah dari memandang mereka.
فَإِنَّ النَّظَرَ إِلَى وُجُوهِ الْعُلَمَاءِ
وَالصُّلَحَاءِ عِبَادَةٌ
Karena memandang wajah para ulama dan orang-orang saleh
adalah ibadah.
وَفِيهِ أَيْضًا حَرَكَةٌ لِلرَّغْبَةِ فِي
الْإِقْتِدَاءِ بِهِمْ وَالتَّخَلُّقِ بِأَخْلَاقِهِمْ وَآدَابِهِمْ
Di dalamnya juga ada dorongan keinginan untuk meneladani
mereka dan berakhlak dengan akhlak serta adab mereka.
هَذَا سِوَى مَا يُنْتَظَرُ مِنَ الْفَوَائِدِ
الْعِلْمِيَّةِ الْمُسْتَفَادَةِ مِنْ أَنْفَاسِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ
Ini belum termasuk faedah-faedah ilmiah yang diharapkan
dapat diambil dari ucapan dan perbuatan mereka.
كَيْفَ وَمُجَرَّدُ زِيَارَةِ الْإِخْوَانِ فِي اللهِ
فِيهِ فَضْلٌ كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي كِتَابِ الصُّحْبَةِ
Bagaimana tidak, sedangkan sekadar menziarahi saudara seiman
karena Allah saja sudah memiliki keutamaan, sebagaimana kami sebutkan dalam
"Kitab Persahabatan".
وَفِي التَّوْرَاةِ سِرْ أَرْبَعَةَ أَمْيَالٍ زُرْ
أَخًا فِي اللهِ
Dan dalam Taurat (disebutkan), "Berjalanlah empat mil,
kunjungilah saudaramu karena Allah."
وَأَمَّا الْبِقَاعُ فَلَا مَعْنَى لِزِيَارَتِهَا سِوَى
الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ وَسِوَى الثُّغُورِ لِلرِّبَاطِ بِهَا
Adapun tempat-tempat (bersejarah), tidak ada makna untuk
menziarahinya selain ketiga masjid tersebut dan daerah-daerah perbatasan untuk
berjaga (ribath).
فَالْحَدِيثُ ظَاهِرٌ فِي أَنَّهُ لَا تُشَدُّ
الرِّحَالُ لِطَلَبِ بَرَكَةِ الْبِقَاعِ إِلَّا إِلَى الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ
Hadis tersebut jelas menunjukkan bahwa tidak boleh melakukan
perjalanan jauh untuk mencari berkah suatu tempat kecuali ke tiga masjid
tersebut.
وَقَدْ ذَكَرْنَا فَضَائِلَ الْحَرَمَيْنِ فِي كِتَابِ
الْحَجِّ
Kami telah menyebutkan keutamaan-keutamaan dua tanah haram
(Mekkah dan Madinah) dalam "Kitab Haji."
وَبَيْتُ الْمَقْدِسِ أَيْضًا لَهُ فَضْلٌ كَبِيرٌ
Baitul Maqdis juga memiliki keutamaan yang besar.
خَرَجَ ابْنُ عُمَرَ مِنَ الْمَدِينَةِ قَاصِدًا بَيْتَ
الْمَقْدِسِ حَتَّى صَلَّى فِيهِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ
Ibnu Umar pernah keluar dari Madinah menuju Baitul Maqdis
hingga ia salat lima waktu di sana.
ثُمَّ كَرَّ رَاجِعًا مِنَ الْغَدِ إِلَى الْمَدِينَةِ
Kemudian keesokan harinya ia langsung kembali ke Madinah.
وَقَدْ سَأَلَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَبَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ أَنْ مَنْ قَصَدَ هَذَا الْمَسْجِدَ لَا يَعْنِيهِ إِلَّا
الصَّلَاةُ فِيهِ
Sulaiman 'alaihissalam pernah memohon kepada Tuhannya 'Azza
wa Jalla, agar siapa pun yang menuju masjid ini dengan tujuan tidak lain
kecuali untuk salat di dalamnya,
أَنْ لَا تَصْرِفَ نَظَرَكَ عَنْهُ مَا دَامَ مُقِيمًا
فِيهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهُ
agar Engkau tidak memalingkan pandangan-Mu darinya selama ia
berada di sana hingga ia keluar.
وَأَنْ تُخْرِجَهُ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ
أُمُّهُ فَأَعْطَاهُ اللهُ ذَلِكَ
Dan agar Engkau mengeluarkannya dari dosa-dosanya seperti
pada hari ia dilahirkan ibunya. Maka Allah mengabulkan hal itu untuknya.
**Bagian Ketiga: Bepergian untuk Menghindari Sesuatu yang
Mengganggu Agama**
الْقِسْمُ الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ السَّفَرُ لِلْهَرَبِ
مِنْ سَبَبٍ مُشَوِّشٍ لِلدِّينِ
Bagian ketiga: Bepergian untuk lari dari sebab yang
mengganggu agama.
وَذَلِكَ أَيْضًا حَسَنٌ
Hal ini juga baik.
فَالْفِرَارُ مِمَّا لَا يُطَاقُ مِنْ سُنَنِ
الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ
Lari dari sesuatu yang tidak tertahankan adalah salah satu
sunah para nabi dan rasul.
وَمِمَّا يَجِبُ الْهَرَبُ مِنْهُ الْوِلَايَةُ
وَالْجَاهُ وَكَثْرَةُ الْعَلَائِقِ وَالْأَسْبَابِ
Di antara hal-hal yang wajib dihindari adalah jabatan,
kedudukan, serta banyaknya ikatan dan urusan (duniawi).
فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ يُشَوِّشُ فَرَاغَ الْقَلْبِ
Karena semua itu mengganggu kekosongan hati (untuk
beribadah).
وَالدِّينُ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِقَلْبٍ فَارِغٍ عَنْ
غَيْرِ اللهِ
Dan agama tidak akan sempurna kecuali dengan hati yang
kosong dari selain Allah.
فَإِنْ لَمْ يَتِمَّ فَرَاغُهُ فَلَا يُتَصَوَّرُ أَنْ
يَشْتَغِلَ بِالدِّينِ
Jika kekosongan hatinya tidak sempurna, maka tidak
terbayangkan ia bisa sibuk dengan urusan agama.
وَلَا يُتَصَوَّرُ فَرَاغُ الْقَلْبِ فِي الدُّنْيَا
عَنْ مُهِمَّاتِ الدُّنْيَا وَالْحَاجَاتِ الضَّرُورِيَّةِ
Dan tidak terbayangkan hati bisa kosong di dunia ini dari
urusan-urusan dunia dan kebutuhan-kebutuhan pokok.
وَلَكِنْ يُتَصَوَّرُ تَخْفِيفُهَا وَتَثْقِيلُهَا
Akan tetapi, yang terbayangkan adalah meringankannya atau
memberatkannya.
وَقَدْ نَجَا الْمُخِفُّونَ وَهَلَكَ الْمُثْقَلُونَ
Orang-orang yang ringan bebannya telah selamat, dan
orang-orang yang berat bebannya telah binasa.
وَالْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي لَمْ يُعَلِّقِ النَّجَاةَ
بِالْفَرَاغِ الْمُطْلَقِ عَنْ جَمِيعِ الْأَوْزَارِ وَالْأَعْبَاءِ
Segala puji bagi Allah yang tidak menggantungkan keselamatan
pada kekosongan mutlak dari semua beban dan tanggungan.
بَلْ قَبِلَ الْمُخِفَّ بِفَضْلِهِ وَشَمَلَهُ بِسِعَةِ
رَحْمَتِهِ
Bahkan, Dia menerima orang yang ringan bebannya dengan
karunia-Nya dan meliputinya dengan luasnya rahmat-Nya.
وَالْمُخِفُّ هُوَ الَّذِي لَيْسَتِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ
هَمِّهِ
Orang yang ringan bebannya adalah orang yang dunia bukan
menjadi fokus utamanya.
وَذَلِكَ لَا يَتَيَسَّرُ فِي الْوَطَنِ لِمَنِ اتَّسَعَ
جَاهُهُ وَكَثُرَتْ عَلَائِقُهُ
Hal itu tidak mudah dicapai di tanah air bagi orang yang
kedudukannya luas dan urusannya banyak.
فَلَا يَتِمُّ مَقْصُودُهُ إِلَّا بِالْغُرْبَةِ
وَالْخُمُولِ وَقَطْعِ الْعَلَائِقِ الَّتِي لَا بُدَّ عَنْهَا
Maka tujuannya tidak akan tercapai kecuali dengan merantau,
tidak dikenal, dan memutus ikatan-ikatan yang harus ditinggalkan.
حَتَّى يُرَوِّضَ نَفْسَهُ مُدَّةً مَدِيدَةً
Hingga ia dapat melatih jiwanya dalam waktu yang lama.
ثُمَّ رُبَّمَا يَمُدُّهُ اللهُ بِمَعُونَتِهِ
فَيُنْعِمُ عَلَيْهِ بِمَا يُقَوِّي بِهِ يَقِينَهُ وَيُطَمْئِنُ بِهِ قَلْبَهُ
Kemudian, terkadang Allah akan membantunya dan memberinya
nikmat yang dapat menguatkan keyakinannya dan menenangkan hatinya.
فَيَسْتَوِي عِنْدَهُ الْحَضَرُ وَالسَّفَرُ
Sehingga baginya menjadi sama saja antara menetap dan
bepergian.
وَيَتَقَارَبُ عِنْدَهُ وُجُودُ الْأَسْبَابِ
وَالْعَلَائِقِ وَعَدَمُهَا
Dan menjadi serupa baginya ada atau tidak adanya urusan dan
ikatan duniawi.
فَلَا يَصُدُّهُ شَيْءٌ مِنْهَا عَمَّا هُوَ بِصَدَدِهِ
مِنْ ذِكْرِ اللهِ
Sehingga tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya dari
tujuannya, yaitu berzikir kepada Allah.
وَذَلِكَ مِمَّا يَعِزُّ وُجُودُهُ جِدًّا
Dan hal seperti ini sangat jarang sekali ditemukan.
بَلِ الْغَالِبُ عَلَى الْقُلُوبِ الضَّعْفُ
وَالْقُصُورُ عَنِ الِاتِّسَاعِ لِلْخَلْقِ وَالْخَالِقِ
Bahkan, yang dominan pada hati adalah kelemahan dan
ketidakmampuan untuk melapangkan diri bagi makhluk dan Sang Pencipta sekaligus.
وَإِنَّمَا يُسْعَدُ بِهَذِهِ الْقُوَّةِ الْأَنْبِيَاءُ
وَالْأَوْلِيَاءُ
Hanya para nabi dan wali yang berbahagia dengan kekuatan
ini.
وَالْوُصُولُ إِلَيْهَا بِالْكَسْبِ شَدِيدٌ
Dan mencapainya dengan usaha sendiri sangatlah sulit.
وَإِنْ كَانَ لِلِاجْتِهَادِ وَالْكَسْبِ فِيهَا
مَدْخَلٌ أَيْضًا
Meskipun kesungguhan dan usaha juga memiliki peran di
dalamnya.
وَمِثَالُ تَفَاوُتِ الْقُوَّةِ الْبَاطِنَةِ فِيهِ
كَتَفَاوُتِ الْقُوَّةِ الظَّاهِرَةِ فِي الْأَعْضَاءِ
Perumpamaan perbedaan kekuatan batin ini adalah seperti
perbedaan kekuatan fisik pada anggota tubuh.
فَرُبَّ رَجُلٍ قَوِيٍّ ذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ شَدِيدِ
الْأَعْصَابِ مُحْكَمِ الْبِنْيَةِ يَسْتَقِلُّ بِحَمْلِ مَا وَزْنُهُ أَلْفُ
رِطْلٍ مَثَلًا
Terkadang ada seorang lelaki yang kuat, berfisik sempurna,
uratnya kuat, dan badannya kokoh, yang mampu mengangkat beban seberat seribu
rithl (sekitar 400 kg), misalnya.
فَلَوْ أَرَادَ الضَّعِيفُ الْمَرِيضُ أَنْ يَنَالَ
رُتْبَتَهُ بِمُمَارَسَةِ الْحَمْلِ وَالتَّدْرِيجِ فِيهِ قَلِيلًا قَلِيلًا لَمْ
يَقْدِرْ عَلَيْهِ
Maka jika orang yang lemah dan sakit ingin mencapai
tingkatannya dengan berlatih mengangkat beban dan melakukannya secara bertahap
sedikit demi sedikit, ia tidak akan mampu.
وَلَكِنَّ الْمُمَارَسَةَ وَالْجَهْدَ يَزِيدُ فِي
قُوَّتِهِ زِيَادَةً مَا
Akan tetapi, latihan dan usaha akan menambah kekuatannya
dalam kadar tertentu.
وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ لَا يُبْلِغُهُ دَرَجَتَهُ
Meskipun hal itu tidak akan menyampaikannya pada derajat
orang yang kuat tadi.
فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتْرُكَ الْجَهْدَ عِنْدَ
الْيَأْسِ عَنِ الرُّتْبَةِ الْعُلْيَا
Maka janganlah ia meninggalkan usaha ketika putus asa untuk
mencapai tingkatan tertinggi.
فَإِنَّ ذَلِكَ غَايَةُ الْجَهْلِ وَنِهَايَةُ
الضَّلَالِ
Karena itu adalah puncak kebodohan dan akhir dari kesesatan.
وَقَدْ كَانَ مِنْ عَادَةِ السَّلَفِ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمْ مُفَارَقَةُ الْوَطَنِ خِيفَةً مِنَ الْفِتَنِ
Meninggalkan tanah air karena takut fitnah adalah salah satu
kebiasaan para salaf radhiyallahu 'anhum.
وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ هَذَا زَمَانُ سُوءٍ لَا
يُؤْمَنُ فِيهِ عَلَى الْخَامِلِ فَكَيْفَ عَلَى الْمُشْتَهِرِينَ
Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Ini adalah zaman yang
buruk, orang yang tidak terkenal saja tidak aman, apalagi orang yang
terkenal."
هَذَا زَمَانُ رَجُلٍ يَنْتَقِلُ مِنْ بَلَدٍ إِلَى
بَلَدٍ
"Ini adalah zaman di mana seseorang berpindah dari satu
negeri ke negeri lain."
كُلَّمَا عُرِفَ فِي مَوْضِعٍ تَحَوَّلَ إِلَى غَيْرِهِ
"Setiap kali ia dikenal di suatu tempat, ia pindah ke
tempat lain."
وَقَالَ أَبُو نُعَيْمٍ رَأَيْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ
وَقَدْ عَلَّقَ قُلَّتَهُ بِيَدِهِ وَوَضَعَ جِرَابَهُ عَلَى ظَهْرِهِ
Abu Nu'aim berkata, "Aku melihat Sufyan Ats-Tsauri
menggantungkan kendi airnya di tangan dan meletakkan kantungnya di
punggungnya."
فَقُلْتُ إِلَى أَيْنَ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ
Aku bertanya, "Hendak ke mana, wahai Abu
Abdullah?"
قَالَ بَلَغَنِي عَنْ قَرْيَةٍ فِيهَا رُخْصٌ أُرِيدُ
أَنْ أُقِيمَ بِهَا
Ia menjawab, "Aku mendengar kabar tentang sebuah desa
yang harga-harganya murah, aku ingin tinggal di sana."
فَقُلْتُ لَهُ وَتَفْعَلُ هَذَا
Aku berkata kepadanya, "Dan engkau melakukan ini?"
قَالَ نَعَمْ إِذَا بَلَغَكَ أَنَّ قَرْيَةً فِيهَا
رُخْصٌ فَأَقِمْ بِهَا
Ia menjawab, "Ya, jika engkau mendengar kabar bahwa ada
desa yang harga-harganya murah, maka tinggallah di sana."
فَإِنَّهُ أَسْلَمُ لِدِينِكَ وَأَقَلُّ لِهَمِّكَ
"Karena itu lebih menyelamatkan agamamu dan lebih
sedikit beban pikiranmu."
وَهَذَا هَرَبٌ مِنْ غَلَاءِ السِّعْرِ
Ini adalah lari dari kenaikan harga.
وَكَانَ سَرِيٌّ السَّقَطِيُّ يَقُولُ لِلصُّوفِيَّةِ
إِذَا خَرَجَ الشِّتَاءُ فَقَدْ خَرَجَ آذَارُ وَأَوْرَقَتِ الْأَشْجَارُ وَطَابَ
الْإِنْتِشَارُ فَانْتَشِرُوا
Sari As-Saqathi biasa berkata kepada kaum sufi, "Jika
musim dingin telah usai, maka bulan Adzar (Maret) telah tiba, pohon-pohon telah
berdaun, dan waktu yang baik untuk menyebar telah datang, maka menyebarlah
kalian."
وَقَدْ كَانَ الْخَوَّاصُ لَا يُقِيمُ بِبَلَدٍ أَكْثَرَ
مِنْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا
Al-Khawwash tidak pernah tinggal di suatu negeri lebih dari
empat puluh hari.
وَكَانَ مِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ وَيَرَى الْإِقَامَةَ
اعْتِمَادًا عَلَى الْأَسْبَابِ قَادِحًا فِي التَّوَكُّلِ
Ia termasuk orang-orang yang bertawakal dan memandang bahwa
menetap (di satu tempat) karena mengandalkan sebab-sebab dapat merusak tawakal.
وَسَيَأْتِي أَسْرَارُ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْأَسْبَابِ
فِي كِتَابِ التَّوَكُّلِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى
Rahasia-rahasia mengenai ketergantungan pada sebab-sebab
akan dijelaskan dalam "Kitab Tawakal", insya Allah Ta'ala.
**Bagian Keempat: Bepergian untuk Menghindari Sesuatu yang
Merusak Badan atau Harta**
الْقِسْمُ الرَّابِعُ السَّفَرُ هَرَبًا مِمَّا يَقْدَحُ
فِي الْبَدَنِ كَالطَّاعُونِ أَوْ فِي الْمَالِ كَغَلَاءِ السِّعْرِ أَوْ مَا
يَجْرِي مَجْرَاهُ
Bagian keempat: Bepergian untuk lari dari sesuatu yang
merusak badan, seperti wabah tha'un, atau merusak harta, seperti kenaikan
harga, atau yang sejenisnya.
وَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ
Tidak ada salahnya dalam hal itu.
بَلْ رُبَّمَا يَجِبُ الْفِرَارُ فِي بَعْضِ
الْمَوَاضِعِ
Bahkan terkadang wajib untuk lari di beberapa tempat.
وَرُبَّمَا يُسْتَحَبُّ فِي بَعْضٍ بِحَسَبِ وُجُوبِ مَا
يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ وَاسْتِحْبَابِهِ
Dan terkadang dianjurkan di tempat lain, tergantung pada
wajib atau dianjurkannya faedah-faedah yang dihasilkan darinya.
وَلَكِنْ يُسْتَثْنَى مِنْهُ الطَّاعُونُ فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَفِرَّ مِنْهُ لِوُرُودِ النَّهْيِ فِيهِ
Akan tetapi, dikecualikan darinya adalah wabah tha'un, maka
tidak sepatutnya seseorang lari darinya karena adanya larangan tentang hal itu.
قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ أَوِ السَّقَمَ رِجْزٌ
عُذِّبَ بِهِ بَعْضُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ
Usamah bin Zaid berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, "Sesungguhnya penyakit ini adalah azab yang ditimpakan
kepada sebagian umat sebelum kalian."
ثُمَّ بَقِيَ بَعْدُ فِي الْأَرْضِ مِنْهُ
"Kemudian setelah itu, sebagiannya masih tersisa di
bumi."
وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فَنَاءَ أُمَّتِي بِالطَّعْنِ
وَالطَّاعُونِ
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya kebinasaan umatku adalah karena
tikaman (dalam perang) dan tha'un."
فَقُلْتُ هَذَا الطَّعْنُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا
الطَّاعُونُ
Aku bertanya, "Tikaman ini kami sudah tahu, lalu apa
itu tha'un?"
قَالَ غُدَّةٌ كَعُدَّةِ الْبَعِيرِ تَأْخُذُهُمْ فِي
مَرَاقِّهِمْ
Beliau menjawab, "Benjolan seperti benjolan pada unta
yang mengenai mereka di bagian perut bawah mereka."
الْمُسْلِمُ الْمَيِّتُ مِنْهُ شَهِيدٌ
"Seorang muslim yang meninggal karenanya adalah
syahid."
وَالْمُقِيمُ عَلَيْهِ الْمُحْتَسِبُ كَالْمُرَابِطِ فِي
سَبِيلِ اللهِ
"Orang yang tetap tinggal di tempat itu dengan
mengharap pahala adalah seperti orang yang berjaga di jalan Allah."
وَالْفَارُّ مِنْهُ كَالْفَارِّ مِنَ الزَّحْفِ
"Dan orang yang lari darinya adalah seperti orang yang
lari dari medan perang."
وَعَنْ مَكْحُولٍ عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ قَالَتْ أَوْصَى
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ أَصْحَابِهِ
Dari Makhul, dari Ummu Aiman, ia berkata, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepada sebagian sahabatnya:
لَا تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ عُذِّبْتَ أَوْ
حُرِّقْتَ
"Janganlah menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,
meskipun engkau disiksa atau dibakar."
وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ
مِنْ كُلِّ شَيْءٍ هُوَ لَكَ فَاخْرُجْ مِنْهُ
"Taatilah kedua orang tuamu, meskipun mereka
memerintahkanmu untuk melepaskan semua yang engkau miliki, maka
lepaskanlah."
وَلَا تَتْرُكِ الصَّلَاةَ عَمْدًا فَإِنَّ مَنْ تَرَكَ
الصَّلَاةَ عَمْدًا فَقَدْ بَرِئَتْ ذِمَّةُ اللهِ مِنْهُ
"Janganlah meninggalkan salat dengan sengaja, karena
barangsiapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka jaminan Allah telah
terlepas darinya."
وَإِيَّاكَ وَالْخَمْرَ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ
شَرٍّ
"Jauhilah khamr, karena ia adalah kunci segala
keburukan."
وَإِيَّاكَ وَالْمَعْصِيَةَ فَإِنَّهَا تُسْخِطُ اللهَ
"Jauhilah maksiat, karena ia mendatangkan murka
Allah."
وَلَا تَفِرَّ مِنَ الزَّحْفِ
"Janganlah lari dari medan perang."
وَإِنْ أَصَابَ النَّاسَ مَوْتَانٌ وَأَنْتَ فِيهِمْ
فَاثْبُتْ فِيهِمْ
"Dan jika kematian massal menimpa manusia sementara
engkau berada di antara mereka, maka tetaplah di antara mereka."
أَنْفِقْ مِنْ طَوْلِكَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ
"Nafkahilah keluargamu dari kelebihan hartamu."
وَلَا تَرْفَعْ عَصَاكَ عَنْهُمْ
"Janganlah engkau mengangkat tongkatmu (untuk memukul)
mereka."
أَخِفْهُمْ بِاللهِ
"Takut-takutilah mereka dengan (azab) Allah."
فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْفِرَارَ
مِنَ الطَّاعُونِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ
Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa lari dari wabah tha'un
adalah terlarang.
وَكَذَلِكَ الْقُدُومُ عَلَيْهِ
Demikian pula mendatangi tempat yang terkena wabah.
وَسَيَأْتِي شَرْحُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ التَّوَكُّلِ
Penjelasan mengenai hal ini akan datang dalam "Kitab
Tawakal".