Adab Bepergian : Pendahuluan
كِتَابُ آدَابِ السَّفَرِ
Kitab Adab Bepergian.
وَهُوَ
الْكِتَابُ السَّابِعُ مِنْ رُبْعِ الْعَادَاتِ مِنْ كُتُبِ إِحْيَاءِ عُلُومِ
الدِّينِ
Ini adalah kitab ketujuh dari bagian *Rubu' al-'Adat*
(Kebiasaan-kebiasaan) dalam Kitab Ihya' 'Ulumuddin.
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
الْحَمْدُ
لِلهِ الَّذِي فَتَحَ بَصَائِرَ أَوْلِيَائِهِ بِالْحِكَمِ وَالْعِبَرِ
Segala puji bagi Allah yang telah membuka mata hati para
wali-Nya dengan hikmah dan pelajaran.
وَاسْتَخْلَصَ
هِمَمَهُمْ لِمُشَاهَدَةِ عَجَائِبِ صُنْعِهِ فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ
Dan memurnikan tekad mereka untuk menyaksikan
keajaiban-keajaiban ciptaan-Nya, baik saat menetap maupun saat bepergian.
فَأَصْبَحُوا
رَاضِينَ بِمَجَارِي الْقَدَرِ
Sehingga mereka pun menjadi rida terhadap segala alur
takdir.
مُنَزِّهِينَ
قُلُوبَهُمْ عَنِ التَّلَفُّتِ إِلَى مُتَنَزَّهَاتِ الْبَصَرِ
Menyucikan hati mereka dari berpaling kepada
pemandangan-pemandangan indah yang dilihat mata.
إِلَّا
عَلَى سَبِيلِ الِاعْتِبَارِ بِمَا يَسْبَحُ فِي مَسَارِحِ النَّظَرِ وَمَجَارِي
الْفِكْرِ
Kecuali sebagai jalan untuk mengambil pelajaran dari apa
yang terhampar di medan pandangan dan alur pemikiran.
فَاسْتَوَى
عِنْدَهُمُ الْبَرُّ وَالْبَحْرُ وَالسَّهْلُ وَالْوَعْرُ وَالْبَدْوُ وَالْحَضَرُ
Maka, menjadi samalah bagi mereka daratan dan lautan,
dataran rendah dan pegunungan, desa dan kota.
وَالصَّلَاةُ
عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْبَشَرِ
Selawat tercurah atas Muhammad, pemimpin umat manusia.
وَعَلَى
صَحْبِهِ الْمُقْتَفِينَ لِآثَارِهِ فِي الْأَخْلَاقِ وَالسِّيَرِ
Juga atas para sahabatnya yang mengikuti jejak beliau dalam
akhlak dan perjalanan hidup.
وَسَلَّمَ
كَثِيرًا
Serta salam yang berlimpah.
أَمَّا
بَعْدُ فَإِنَّ السَّفَرَ وَسِيلَةٌ إِلَى الْخَلَاصِ عَنْ مَهْرُوبٍ عَنْهُ أَوْ
الْوُصُولِ إِلَى مَطْلُوبٍ وَمَرْغُوبٍ فِيهِ
Adapun setelah itu, sesungguhnya bepergian adalah sarana
untuk melepaskan diri dari sesuatu yang dihindari atau untuk mencapai sesuatu
yang dicari dan diinginkan.
وَالسَّفَرُ
سَفَرَانِ
Dan bepergian itu ada dua macam.
سَفَرٌ
بِظَاهِرِ الْبَدَنِ عَنِ الْمُسْتَقَرِّ وَالْوَطَنِ إِلَى الصَّحَارَى
وَالْفَلَوَاتِ
Pertama, perjalanan fisik meninggalkan tempat tinggal dan
tanah air menuju padang pasir dan gurun.
وَسَفَرٌ
بِسَيْرِ الْقَلْبِ عَنْ أَسْفَلِ السَّافِلِينَ إِلَى مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ
Kedua, perjalanan batin dengan gerak hati dari
'serendah-rendahnya tempat' menuju kerajaan langit.
وَأَشْرَفُ
السَّفَرَيْنِ السَّفَرُ الْبَاطِنُ
Dan yang paling mulia dari dua perjalanan itu adalah
perjalanan batin.
فَإِنَّ
الْوَاقِفَ عَلَى الْحَالَةِ الَّتِي نَشَأَ عَلَيْهَا عَقِيبَ الْوِلَادَةِ
الْجَامِدَ عَلَى مَا تَلَقَّفَهُ بِالتَّقْلِيدِ مِنَ الْآبَاءِ وَالْأَجْدَادِ
لَازِمٌ دَرَجَةَ الْقُصُورِ
Sesungguhnya, orang yang hanya terpaku pada keadaan di mana
ia tumbuh sejak lahir, membeku pada apa yang ia terima melalui taklid dari ayah
dan kakeknya, berarti ia berada pada tingkat kekurangan.
وَقَانِعٌ
بِمَرْتَبَةِ النَّقْصِ
Dan merasa puas dengan derajat yang rendah.
وَمُسْتَبْدِلٌ
بِمُتَّسَعِ فَضَاءِ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ظُلْمَةَ
السِّجْنِ وَضِيقَ الْحَبْسِ
Dan ia telah menukar kelapangan surga yang luasnya seluas
langit dan bumi dengan kegelapan dan kesempitan penjara.
وَلَقَدْ
صَدَقَ الْقَائِلُ
Sungguh benar orang yang berkata:
وَلَمْ
أَرَ فِي عُيُوبِ النَّاسِ عَيْبًا كَنَقْصِ الْقَادِرِينَ عَلَى التَّمَامِ
"Aku tidak pernah melihat aib pada manusia, yang (lebih
buruk) dari kekurangan orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan."
إِلَّا
أَنَّ هَذَا السَّفَرَ لَمَّا كَانَ مُقْتَحِمُهُ فِي خَطْبٍ خَطِيرٍ لَمْ
يَسْتَغْنِ فِيهِ عَنْ دَلِيلٍ وَخَفِيرٍ
Hanya saja, karena perjalanan batin ini penuh dengan bahaya
besar bagi yang menempuhnya, ia tidak bisa dilakukan tanpa seorang penunjuk
jalan dan seorang penjaga.
فَاقْتَضَى
غُمُوضُ السَّبِيلِ وَفَقْدُ الْخَفِيرِ وَالدَّلِيلِ وَقَنَاعَةُ السَّالِكِينَ
عَنِ الْحَظِّ الْجَزِيلِ بِالنَّصِيبِ النَّازِلِ الْقَلِيلِ انْدَرَسَ
مَسَالِكُهُ
Maka, karena jalannya yang tersembunyi, tiadanya penjaga dan
penunjuk jalan, serta rasa puas para pejalan dengan bagian yang sedikit dan
rendah ketimbang bagian yang melimpah, maka jalur-jalurnya pun menjadi hilang.
فَانْقَطَعَ
فِيهِ الرِّفَاقُ وَخَلَا عَنِ الطَّائِفِينَ مُتَنَزَّهَاتُ الْأَنْفُسِ
وَالْمَلَكُوتِ وَالْآفَاقِ
Akibatnya, para sahabat seperjalanan menjadi terputus, dan
taman-taman jiwa, kerajaan langit, serta cakrawala menjadi sepi dari para
penjelajah.
وَإِلَيْهِ
دَعَا اللهُ سُبْحَانَهُ بِقَوْلِهِ {سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي
أَنْفُسِهِمْ}
Padahal, kepada perjalanan inilah Allah Subhanahu wa Ta'ala
menyeru dalam firman-Nya, "Kelak akan Kami perlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka
sendiri."
وَبِقَوْلِهِ
تَعَالَى {وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا
تُبْصِرُونَ}
Dan dalam firman-Nya, "Dan di bumi itu terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada
dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
وَعَلَى
الْقُعُودِ عَنْ هَذَا السَّفَرِ وَقَعَ الْإِنْكَارُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى
{وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُصْبِحِينَ وَبِاللَّيْلِ أَفَلَا
تَعْقِلُونَ}
Dan atas sikap diam dari perjalanan ini, datanglah celaan
dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar
akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka
apakah kamu tidak memikirkannya?"
وَبِقَوْلِهِ
سُبْحَانَهُ {وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ
عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ}
Dan dalam firman-Nya, "Dan berapa banyak tanda-tanda
(kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka
berpaling darinya."
فَمَنْ
يُسِّرَ لَهُ هَذَا السَّفَرُ لَمْ يَزَلْ فِي سَيْرِهِ مُتَنَزِّهًا فِي جَنَّةٍ
عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
Barangsiapa dimudahkan untuk menempuh perjalanan ini, ia
akan senantiasa dalam perjalanannya menikmati taman surga yang luasnya seluas
langit dan bumi.
وَهُوَ
سَاكِنٌ بِالْبَدَنِ مُسْتَقِرٌّ فِي الْوَطَنِ
Meskipun secara fisik ia diam dan menetap di negerinya.
وَهُوَ
السَّفَرُ الَّذِي لَا تَضِيقُ فِيهِ الْمَنَاهِلُ وَالْمَوَارِدُ
Inilah perjalanan yang sumber-sumber airnya tidak pernah
sempit.
وَلَا
يَضُرُّ فِيهِ التَّزَاحُمُ وَالتَّوَارِدُ
Dan berdesak-desakan serta saling mendatangi tidak akan
membahayakan di dalamnya.
بَلْ
تَزِيدُ بِكَثْرَةِ الْمُسَافِرِينَ غَنَائِمُهُ
Bahkan, dengan banyaknya para pejalan, rampasan perangnya
(keuntungan spiritual) akan bertambah.
وَتَتَضَاعَفُ
ثَمَرَاتُهُ وَفَوَائِدُهُ
Serta buah dan faedahnya akan berlipat ganda.
فَغَنَائِمُهُ
دَائِمَةٌ غَيْرُ مَمْنُوعَةٍ
Keuntungannya abadi dan tidak terlarang.
وَثَمَرَاتُهُ
مُتَزَائِدَةٌ غَيْرُ مَقْطُوعَةٍ
Buahnya terus bertambah dan tidak terputus.
إِلَّا
إِذَا بَدَا لِلْمُسَافِرِ فَتْرَةٌ فِي سَفَرِهِ وَوَقْفَةٌ فِي حَرَكَتِهِ
Kecuali jika sang pejalan mengalami kelesuan dalam
perjalanannya dan berhenti dalam geraknya.
فَإِنَّ
اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
وَإِذَا
زَاغُوا أَزَاغَ اللهُ قُلُوبَهُمْ
"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah
memalingkan hati mereka."
وَمَا
اللهُ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ وَلَكِنَّهُمْ يَظْلِمُونَ أَنْفُسَهُمْ
"Dan Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya,
akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."
وَمَنْ
لَمْ يُؤَهَّلْ لِلْجَوْلَانِ فِي هَذَا الْمَيْدَانِ وَالتَّطْوَافِ فِي
مُتَنَزَّهَاتِ هَذَا الْبُسْتَانِ
Barangsiapa tidak memiliki kelayakan untuk menjelajahi medan
ini dan berkeliling di taman-taman ini,
رُبَّمَا
سَافَرَ بِظَاهِرِ بَدَنِهِ فِي مُدَّةٍ مَدِيدَةٍ فَرَاسِخَ مَعْدُودَةً
ia mungkin akan melakukan perjalanan fisik untuk jarak yang
terbatas dalam waktu yang lama.
مُغْتَنِمًا
بِهَا تِجَارَةً لِلدُّنْيَا أَوْ ذَخِيرَةً لِلْآخِرَةِ
Dengan tujuan meraih keuntungan dunia atau bekal untuk
akhirat.
فَإِنْ
كَانَ مَطْلَبُهُ الْعِلْمَ وَالدِّينَ أَوِ الْكِفَايَةَ لِلِاسْتِعَانَةِ عَلَى
الدِّينِ كَانَ مِنْ سَالِكِي سَبِيلِ الْآخِرَةِ
Jika tujuannya adalah ilmu dan agama, atau mencari kecukupan
untuk menolong agama, maka ia termasuk para penempuh jalan akhirat.
وَكَانَ
لَهُ فِي سَفَرِهِ شُرُوطٌ وَآدَابٌ
Dan dalam perjalanannya itu, ada syarat-syarat dan adab-adab
yang harus ia penuhi.
إِنْ
أَهْمَلَهَا كَانَ مِنْ عُمَّالِ الدُّنْيَا وَأَتْبَاعِ الشَّيْطَانِ
Jika ia mengabaikannya, maka ia termasuk para pekerja dunia
dan pengikut setan.
وَإِنْ
وَاظَبَ عَلَيْهَا لَمْ يَخْلُ سَفَرُهُ عَنْ فَوَائِدَ تُلْحِقُهُ بِعُمَّالِ
الْآخِرَةِ
Dan jika ia tekun menjalankannya, niscaya perjalanannya
tidak akan kosong dari faedah-faedah yang akan menyusulkannya dengan para
pekerja akhirat.
وَنَحْنُ
نَذْكُرُ آدَابَهُ وَشُرُوطَهُ فِي بَابَيْنِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى
Dan kami akan menyebutkan adab-adab dan syarat-syaratnya
dalam dua bab, insya Allah Ta'ala.
الْبَابُ
الْأَوَّلُ فِي الْآدَابِ مِنْ أَوَّلِ النُّهُوضِ إِلَى آخِرِ الرُّجُوعِ وَفِي
نِيَّةِ السَّفَرِ وَفَائِدَتِهِ وَفِيهِ فَصْلَانِ
Bab Pertama: Tentang adab-adab sejak awal keberangkatan
hingga akhir kepulangan, tentang niat bepergian dan faedahnya. Di dalamnya
terdapat dua pasal.
الْبَابُ
الثَّانِي فِيمَا لَا بُدَّ لِلْمُسَافِرِ مِنْ تَعَلُّمِهِ مِنْ رُخَصِ السَّفَرِ
وَأَدِلَّةِ الْقِبْلَةِ وَالْأَوْقَاتِ
Bab Kedua: Tentang hal-hal yang harus dipelajari oleh
seorang musafir, seperti keringanan-keringanan dalam perjalanan, petunjuk arah
kiblat, dan waktu-waktu (salat).