Manfaat Bergaul dan Bermasyarakat (2)
الْفَائِدَةُ الْخَامِسَةُ فِي نَيْلِ الثَّوَابِ وَإِنَالَتِهِ
Faidah Kelima: Meraih dan Memberikan Pahala.
أَمَّا
النَّيْلُ فَبِحُضُورِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَحُضُورِ
الْعِيدَيْنِ
Adapun meraih pahala, bisa didapat dengan mengiringi
jenazah, menjenguk orang sakit, dan menghadiri salat Id.
وَأَمَّا
حُضُورُ الْجُمُعَةِ فَلَا بُدَّ مِنْهُ
Adapun menghadiri salat Jumat, maka itu adalah suatu
keharusan.
وَحُضُورِ
الْجَمَاعَةِ فِي سَائِرِ الصَّلَوَاتِ أَيْضًا لَا رُخْصَةَ فِي تَرْكِهِ
Dan untuk menghadiri salat jamaah pada seluruh salat, juga
tidak ada keringanan untuk meninggalkannya.
إِلَّا
لِخَوْفِ ضَرَرٍ ظَاهِرٍ يُقَاوِمُ مَا يَفُوتُ مِنْ فَضِيلَةِ الْجَمَاعَةِ
وَيَزِيدُ عَلَيْهِ
Kecuali karena takut adanya bahaya yang nyata, yang
sebanding atau bahkan lebih besar dari keutamaan salat jamaah yang terlewatkan.
وَذَلِكَ
لَا يَتَّفِقُ إِلَّا نَادِرًا
Dan hal seperti itu jarang sekali terjadi.
وَكَذَلِكَ
فِي حُضُورِ الْإِمْلَاكَاتِ وَالدَّعَوَاتِ ثَوَابٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ
إِدْخَالُ سُرُورٍ عَلَى قَلْبِ مُسْلِمٍ
Demikian pula, dalam menghadiri akad nikah dan undangan
terdapat pahala, karena hal itu memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang
muslim.
وَأَمَّا
إنَالَتُهُ فَهُوَ أَنْ يَفْتَحَ الْبَابَ لِتَعُودَهُ النَّاسُ أَوْ لِيُعَزُّوهُ
فِي الْمَصَائِبِ أَوْ يُهَنُّوهُ عَلَى النِّعَمِ
Adapun memberikan pahala (kepada orang lain), yaitu dengan
ia membuka pintu agar orang-orang dapat menjenguknya, atau mengucapkan takziah
atas musibahnya, atau memberinya selamat atas nikmat yang ia dapat.
فَإِنَّهُمْ
يَنَالُونَ بِذَلِكَ ثَوَابًا
Karena dengan begitu, mereka (para pengunjung) akan
mendapatkan pahala.
وَكَذَلِكَ
إِذَا كَانَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَإِذْنٌ لَهُمْ فِي الزِّيَارَةِ نَالُوا ثَوَابَ
الزِّيَارَةِ
Demikian pula, jika ia seorang ulama dan mengizinkan mereka
untuk berkunjung, maka mereka akan meraih pahala kunjungan.
وَكَانَ
هُوَ بِالتَّمْكِينِ سَبَبًا فِيهِ
Dan ia, dengan memberikan kesempatan itu, menjadi
penyebabnya.
فَيَنْبَغِي
أَنَّ يَزِنَ ثَوَابَ هَذِهِ الْمُخَالَطَاتِ بِآفَاتِهَا الَّتِي ذَكَرْنَاهَا
Maka, hendaklah seseorang menimbang pahala dari
interaksi-interaksi ini dengan penyakit-penyakitnya yang telah kami sebutkan.
وَعِنْدَ
ذَلِكَ قَدْ تُرَجَّحُ الْعُزْلَةُ وَقَدْ تُرَجَّحُ الْمُخَالَطَةُ
Pada saat itulah, terkadang uzlah menjadi lebih utama, dan
terkadang interaksi sosial yang lebih utama.
فَقَدْ
حُكِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ مِثْلِ مَالِكٍ وَغَيْرِهِ تَرْكَ إِجَابَةِ
الدَّعَوَاتِ وَعِيَادَةِ الْمَرْضَى وَحُضُورِ الْجَنَائِزِ
Telah diriwayatkan dari sekelompok ulama salaf seperti Imam
Malik dan lainnya, bahwa mereka meninggalkan kebiasaan memenuhi undangan,
menjenguk orang sakit, dan mengiringi jenazah.
بَلْ
كَانُوا أَحْلَاسَ بُيُوتِهِمْ لَا يَخْرُجُونَ إِلَّا إِلَى الْجُمُعَةِ أَوْ
زِيَارَةِ الْقُبُورِ
Bahkan, mereka menjadi penghuni tetap rumah mereka, tidak
keluar kecuali untuk salat Jumat atau berziarah kubur.
وَبَعْضُهُمْ
فَارَقَ الْأَمْصَارَ وَانْحَازَ إِلَى قُلَلِ الْجِبَالِ تَفَرُّغًا
لِلْعِبَادَةِ وَفِرَارًا مِنَ الشَّوَاغِلِ
Sebagian dari mereka bahkan meninggalkan kota-kota dan
menyendiri ke puncak-puncak gunung untuk memusatkan diri dalam ibadah dan lari
dari berbagai kesibukan.
**Faidah Keenam: Tawaduk**
الْفَائِدَةُ
السَّادِسَةُ مِنَ الْمُخَالَطَةِ التَّوَاضُعُ
Faidah keenam dari berinteraksi sosial adalah tawaduk
(kerendahan hati).
فَإِنَّهُ
مِنْ أَفْضَلِ الْمَقَامَاتِ
Sesungguhnya ia adalah salah satu tingkatan (maqam) yang
paling utama.
وَلَا
يُقْدَرُ عَلَيْهِ فِي الْوَحْدَةِ
Dan ia tidak dapat diraih dalam kesendirian.
وَقَدْ
يَكُونُ الْكِبْرُ سَبَبًا فِي اخْتِيَارِ الْعُزْلَةِ
Terkadang, kesombongan menjadi sebab seseorang memilih
uzlah.
فَقَدْ
رُوِيَ فِي الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ أَنَّ حَكِيمًا مِنَ الْحُكَمَاءِ صَنَّفَ
ثَلَثَمِائَةٍ وَسِتِّينَ مُصْحَفًا فِي الْحِكْمَةِ
Diriwayatkan dalam Israiliyyat bahwa seorang bijak dari para
ahli hikmah telah menyusun tiga ratus enam puluh kitab tentang hikmah.
حَتَّى
ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ نَالَ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً
Sehingga ia mengira telah mencapai kedudukan tinggi di sisi
Allah.
فَأَوْحَى
اللهُ إِلَى نَبِيِّهِ قُلْ لِفُلَانٍ إِنَّكَ قَدْ مَلَأْتَ الْأَرْضَ نِفَاقًا
Lalu Allah mewahyukan kepada nabi-Nya, "Katakan kepada
si fulan, sesungguhnya engkau telah memenuhi bumi dengan kemunafikan."
وَإِنِّي
لَا أَقْبَلُ مِنْ نِفَاقِكَ شَيْئًا
"Dan Aku tidak menerima sedikit pun dari kemunafikanmu
itu."
قَالَ
فَتَخَلَّى وَانْفَرَدَ فِي سَرَبٍ تَحْتَ الْأَرْضِ
Ia berkata, lalu ia pun menyendiri dan mengasingkan diri di
sebuah lorong bawah tanah.
وَقَالَ
الْآنَ قَدْ بَلَغْتُ رِضَا رَبِّي
Dan ia berkata, "Sekarang aku telah mencapai rida
Tuhanku."
فَأَوْحَى
اللَّهُ إِلَى نَبِيِّهِ قُلْ لَهُ إِنَّكَ لَنْ تَبْلُغَ رِضَايَ حَتَّى
تُخَالِطَ النَّاسَ وَتَصْبَرَ عَلَى أَذَاهُمْ
Maka Allah mewahyukan kepada nabi-Nya, "Katakan
padanya, sesungguhnya engkau tidak akan mencapai rida-Ku sampai engkau bergaul
dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka."
فَخَرَجَ
فَدَخَلَ الْأَسْوَاقَ وَخَالَطَ النَّاسَ وَجَالَسَهُمْ وَوَاكَلَهُمْ وَأَكَلَ
الطَّعَامَ بَيْنَهُمْ وَمَشَى فِي الْأَسْوَاقِ مَعَهُمْ
Lalu ia pun keluar, masuk ke pasar-pasar, bergaul dengan
orang-orang, duduk bersama mereka, makan bersama mereka, dan berjalan di
pasar-pasar bersama mereka.
فَأَوْحَى
اللهُ تَعَالَى إِلَى نَبِيِّهِ الْآنَ قَدْ بَلَغَ رِضَايَ
Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada nabi-Nya,
"Sekarang, ia telah mencapai rida-Ku."
فَكَمْ
مِنْ مُعْتَزِلٍ فِي بَيْتِهِ وَبَاعِثُهُ الْكِبْرُ
Betapa banyak orang yang mengasingkan diri di rumahnya,
padahal pendorongnya adalah kesombongan.
وَمَانِعُهُ
عَنِ الْمَحَافِلِ أَنْ لَا يُوَقَّرَ أَوْ لَا يُقَدَّمَ
Dan yang menghalanginya dari perkumpulan adalah karena ia
tidak dihormati atau tidak didahulukan.
أَوْ
يَرَى التَّرَفُّعَ عَنْ مُخَالَطَتِهِمْ أَرْفَعَ لِمَحَلِّهِ وَأَتْقَى
لِطَرَاوَةِ ذِكْرِهِ بَيْنَ النَّاسِ
Atau ia memandang bahwa menjauhkan diri dari bergaul dengan
mereka akan lebih mengangkat kedudukannya dan menjaga agar namanya tetap harum
di antara manusia.
وَقَدْ
يَعْتَزِلُ خِيفَةً مِنْ أَنْ تَظْهَرَ مَقَابِحُهُ لَوْ خَالَطَ
Terkadang ia mengasingkan diri karena takut keburukannya
akan terungkap jika ia bergaul.
فَلَا
يُعْتَقَدُ فِيهِ الزُّهْدُ وَالْإِشْتِغَالُ بِالْعِبَادَةِ
Sehingga orang tidak lagi meyakini kezuhudan dan
kesibukannya dalam beribadah.
فَيَتَّخِذُ
الْبَيْتَ سِتْرًا عَلَى مَقَابِحِهِ إِبْقَاءً عَلَى اعْتِقَادِ النَّاسِ فِي
زُهْدِهِ وَتَعَبُّدِهِ
Maka ia menjadikan rumah sebagai penutup aib-aibnya, demi
menjaga keyakinan orang terhadap kezuhudan dan ibadahnya.
مِنْ
غَيْرِ اسْتِغْرَاقِ وَقْتِ الْخَلْوَةِ بِذِكْرٍ أَوْ فِكْرٍ
Tanpa benar-benar menghabiskan waktu menyendirinya untuk
berzikir atau bertafakur.
وَعَلَامَةُ
هَؤُلَاءِ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ أَنْ يُزَارُوا وَلَا يُحِبُّونَ أَنْ يَزُورُوا
Tanda-tanda orang seperti ini adalah mereka suka dikunjungi,
tetapi tidak suka mengunjungi.
وَيَفْرَحُونَ
بِتَقَرُّبِ الْعَوَّامِ وَالسَّلَاطِينِ إِلَيْهِمْ
Mereka senang jika orang awam dan para penguasa mendekati
mereka.
وَاجْتِمَاعِهِمْ
عَلَى بَابِهِمْ وَطُرُقِهِمْ وَتَقْبِيلِهِمْ أَيْدِيَهُمْ عَلَى سَبِيلِ
التَّبَرُّكِ
Dan (senang) dengan berkumpulnya orang-orang di depan pintu
mereka, di jalan mereka, serta menciumi tangan mereka untuk mengambil berkah.
وَلَوْ
كَانَ الِاشْتِغَالُ بِنَفْسِهِ هُوَ الَّذِي يُبَغِّضُ إِلَيْهِ الْمُخَالَطَةَ
وَزِيَارَةَ النَّاسِ
Seandainya kesibukan dengan dirinya sendiri yang membuatnya
benci bergaul dan mengunjungi orang lain,
لَبُغِّضَ
إِلَيْهِ زِيَارَاتُهُمْ لَهُ
niscaya ia juga akan benci dikunjungi oleh mereka.
كَمَا
حَكَيْنَاهُ عَنِ الْفُضَيْلِ حَيْثُ قَالَ وَهَلْ جِئْتَنِي إِلَّا لِأَتَزَيَّنَ
لَكَ وَتَتَزَيَّنَ لِي
Sebagaimana yang kami riwayatkan dari Al-Fudhail, ketika ia
berkata, "Bukankah engkau datang kepadaku hanya agar aku berhias untukmu
dan engkau berhias untukku?"
وَعَنْ
حَاتِمٍ الْأَصَمِّ أَنَّهُ قَالَ لِلْأَمِيرِ الَّذِي زَارَهُ حَاجَتِي أَنْ لَا
أَرَاكَ وَلَا تَرَانِي
Dan dari Hatim Al-Asham, bahwa ia berkata kepada seorang
amir yang mengunjunginya, "Keinginanku adalah agar aku tidak melihatmu dan
engkau tidak melihatku."
فَمَنْ
لَيْسَ مَشْغُولًا مَعَ نَفْسِهِ بِذِكْرِ اللهِ فَاعْتِزَالُهُ عَنِ النَّاسِ
سَبَبُهُ شِدَّةُ اشْتِغَالِهِ بِالنَّاسِ
Barangsiapa tidak sibuk dengan dirinya untuk berzikir kepada
Allah, maka uzlahnya dari manusia disebabkan oleh kesibukannya yang luar biasa
dengan manusia.
لِأَنَّ
قَلْبَهُ مُتَجَرِّدٌ لِلِالْتِفَاتِ إِلَى نَظَرِهِمْ إِلَيْهِ بِعَيْنِ
الْوَقَارِ وَالِاحْتِرَامِ
Karena hatinya sepenuhnya tercurah untuk memperhatikan
pandangan hormat dan penghargaan dari mereka.
وَالْعُزْلَةُ
بِهَذَا السَّبَبِ جَهْلٌ مِنْ وُجُوهٍ
Uzlah dengan sebab ini adalah kebodohan dari berbagai sisi.
أَحَدُهَا
أَنَّ التَّوَاضُعَ وَالْمُخَالَطَةَ لَا تُنْقِصُ مِنْ مَنْصِبِ مَنْ هُوَ
مُتَكَبِّرٌ بِعِلْمِهِ أَوْ دِينِهِ
Pertama, bahwa tawaduk dan bergaul tidak akan mengurangi
kedudukan orang yang (dianggap) sombong karena ilmu atau agamanya.
إِذْ
كَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَحْمِلُ التَّمْرَ وَالْمِلْحَ فِي ثَوْبِهِ
وَيَدِهِ
Sebab, Ali radhiyallahu 'anhu pernah membawa kurma dan garam
di pakaian dan tangannya.
وَيَقُولُ
لَا يَنْقُصُ الْكَامِلَ مِنْ كَمَالِهِ مَا جَرَّ مِنْ نَفْعٍ إِلَى عِيَالِهِ
Dan beliau berkata, "Tidak akan berkurang kesempurnaan
orang yang sempurna, karena apa yang ia bawa untuk memberi manfaat bagi
keluarganya."
وَكَانَ
أَبُو هُرَيْرَةَ وَحُذَيْفَةُ وَأَبِي وَابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
يَحْمِلُونَ حُزَمَ الْحَطَبِ وَجِرَبَ الدَّقِيقِ عَلَى أَكْتَافِهِمْ
Abu Hurairah, Hudzaifah, Ubay, dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu
'anhum pernah membawa ikatan kayu bakar dan kantung-kantung tepung di atas
pundak mereka.
وَكَانَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ وَهُوَ وَالِي الْمَدِينَةِ
وَالْحَطَبُ عَلَى رَأْسِهِ طَرِّقُوا لِأَمِيرِكُمْ
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ketika menjabat sebagai
gubernur Madinah sambil membawa kayu bakar di atas kepalanya, berkata,
"Beri jalan untuk amir kalian!"
وَكَانَ
سَيِّدُ الْمُرْسَلِينَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْتَرِي الشَّيْءَ
فَيَحْمِلُهُ إِلَى بَيْتِهِ بِنَفْسِهِ
Pemimpin para rasul, shallallahu 'alaihi wa sallam, biasa
membeli sesuatu lalu membawanya sendiri ke rumahnya.
فَيَقُولُ
لَهُ صَاحِبُهُ أَعْطِنِي أَحْمِلُهُ
Lalu sahabatnya berkata, "Berikan padaku, biar aku yang
membawanya."
فَيَقُولُ
صَاحِبُ الشَّيْءِ أَحَقُّ بِحَمْلِهِ
Beliau menjawab, "Pemilik barang lebih berhak untuk
membawanya."
وَكَانَ
الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَمُرُّ بِالسُّؤَّالِ وَبَيْنَ
أَيْدِيهِمْ كِسَرٌ
Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma pernah melewati para
pengemis yang di hadapan mereka ada potongan-potongan roti.
فَيَقُولُونَ
هَلُمَّ إِلَى الْغَدَاءِ يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ
Mereka berkata, "Mari makan siang, wahai putra
Rasulullah."
فَكَانَ
يَنْزِلُ وَيَجْلِسُ عَلَى الطَّرِيقِ وَيَأْكُلُ مَعَهُمْ
Maka beliau turun, duduk di pinggir jalan, dan makan bersama
mereka.
وَيَرْكَبُ
وَيَقُولُ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Lalu beliau naik kembali (ke kendaraannya) dan berkata,
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong."
الْوَجْهُ
الثَّانِي أَنَّ الَّذِي شَغَلَ نَفْسَهُ بِطَلَبِ رِضَا النَّاسِ عَنْهُ
وَتَحْسِينِ اعْتِقَادِهِمْ فِيهِ مَغْرُورٌ
Sisi kedua, orang yang menyibukkan diri mencari rida manusia
dan memperbaiki citranya di mata mereka adalah orang yang tertipu.
لِأَنَّهُ
لَوْ عَرَفَ اللَّهَ حَقَّ الْمَعْرِفَةِ عَلِمَ أَنَّ الْخَلْقَ لَا يُغْنُونَ
عَنْهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
Karena seandainya ia mengenal Allah dengan sebenar-benarnya,
ia akan tahu bahwa makhluk tidak dapat menolongnya sedikit pun dari (ketetapan)
Allah.
وَأَنَّ
ضَرَرَهُ وَنَفْعَهُ بِيَدِ اللهِ
Dan bahwa mudarat serta manfaatnya ada di tangan Allah.
وَلَا
نَافِعَ وَلَا ضَارَّ سِوَاهُ
Tidak ada yang memberi manfaat maupun mudarat selain Dia.
وَأَنَّ
مَنْ طَلَبَ رِضَا النَّاسِ وَمَحَبَّتَهُمْ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ
وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ
Dan barangsiapa mencari rida dan cinta manusia dengan
(mengundang) murka Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan membuat manusia
juga murka kepadanya.
بَلْ
رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُنَالُ
Bahkan, rida manusia adalah tujuan yang tak akan pernah
tercapai.
فَرِضَا
اللَّهِ أَوْلَى بِالطَّلَبِ
Maka, rida Allah lebih utama untuk dicari.
وَلِذَلِكَ
قَالَ الشَّافِعِيُّ لِيُونُسَ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى وَاللَّهِ مَا أَقُولُ لَكَ
إِلَّا نُصْحًا
Oleh karena itu, Imam Syafi'i berkata kepada Yunus bin Abdul
A'la, "Demi Allah, aku tidak mengatakan kepadamu kecuali sebagai
nasihat."
إِنَّهُ
لَيْسَ إِلَى السَّلَامَةِ مِنَ النَّاسِ مِنْ سَبِيلٍ
"Sesungguhnya tidak ada jalan untuk bisa selamat (dari
omongan) manusia."
فَانْظُرْ
مَاذَا يُصْلِحُكَ فَافْعَلْهُ
"Maka lihatlah apa yang baik untukmu, lalu
lakukanlah."
وَلِذَلِكَ
قِيلَ مَنْ رَاقَبَ النَّاسَ مَاتَ غَمًّا وَفَازَ بِاللَّذَّةِ الْجَسُورُ
Karena itu dikatakan, "Siapa yang terlalu mengawasi
(omongan) manusia, ia akan mati dalam kesedihan. Dan orang yang berani akan
meraih kelezatan."
وَنَظَرَ
سَهْلٌ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ لَهُ اعْمَلْ كَذَا وَكَذَا
لِشَيْءٍ أَمَرَهُ بِهِ
Sahl (at-Tustari) melihat salah seorang sahabatnya, lalu
berkata, "Lakukan ini dan itu," untuk sesuatu yang ia perintahkan.
فَقَالَ
يَا أُسْتَاذُ لَا أَقْدِرُ عَلَيْهِ لِأَجْلِ النَّاسِ
Orang itu menjawab, "Wahai Guru, aku tidak sanggup
melakukannya karena (malu pada) orang-orang."
فَالْتَفَتَ
إِلَى أَصْحَابِهِ وَقَالَ لَا يَنَالُ عَبْدٌ حَقِيقَةً مِنْ هَذَا الْأَمْرِ
حَتَّى يَكُونَ بِأَحَدِ وَصْفَيْنِ
Maka Sahl berpaling kepada sahabat-sahabatnya yang lain dan
berkata, "Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat dari urusan ini sampai
ia memiliki salah satu dari dua sifat."
عَبْدٌ
تَسْقُطُ النَّاسُ مِنْ عَيْنِهِ فَلَا يَرَى فِي الدُّنْيَا إِلَّا خَالِقَهُ
"Pertama, seorang hamba yang manusia telah gugur dari
pandangannya, sehingga ia tidak melihat di dunia ini kecuali Sang
Pencipta."
وَأَنَّ
أَحَدًا لَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَضُرَّهُ وَلَا يَنْفَعَهُ
"Dan (ia yakin) bahwa tidak seorang pun mampu
memberinya mudarat maupun manfaat."
وَعَبْدٌ
سَقَطَتْ نَفْسُهُ عَنْ قَلْبِهِ فَلَا يُبَالِي بِأَيِّ حَالٍ يَرَوْنَهُ
"Kedua, seorang hamba yang dirinya sendiri telah gugur
dari hatinya, sehingga ia tidak peduli dalam keadaan apa pun orang
melihatnya."
وَقَالَ
الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَلَهُ مُحِبٌّ
وَمُبْغِضٌ
Imam Syafi'i rahimahullah berkata, "Tidak ada seorang
pun kecuali ia memiliki orang yang mencintai dan membencinya."
فَإِذَا
كَانَ هَكَذَا فَكُنْ مَعَ أَهْلِ طَاعَةِ اللهِ
"Jika memang demikian, maka jadilah engkau bersama
orang-orang yang taat kepada Allah."
وَقِيلَ
لِلْحَسَنِ يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّ قَوْمًا يَحْضُرُونَ مَجْلِسَكَ لَيْسَ
بَغِيَّتُهُمْ إِلَّا تَتَبُّعَ سَقَطَاتِ كَلَامِكَ وَتَعْنِيَتَكَ بِالسُّؤَالِ
Dikatakan kepada Al-Hasan (Al-Bashri), "Wahai Abu
Sa'id, sesungguhnya ada sekelompok orang yang menghadiri majelismu, tujuan
mereka tidak lain hanyalah mencari-cari kesalahan ucapanmu dan menyusahkanmu
dengan pertanyaan."
فَتَبَسَّمَ
وَقَالَ لِلْقَائِلِ هَوِّنْ عَلَى نَفْسِكَ
Beliau tersenyum dan berkata kepada penanya itu,
"Tenangkanlah dirimu."
فَإِنِّي
حَدَّثْتُ نَفْسِي بِسُكْنَى الْجِنَانِ وَمُجَاوَرَةِ الرَّحْمَنِ فَطَمِعْتُ
"Sesungguhnya aku telah membisiki diriku untuk
mendambakan surga dan bertetangga dengan Ar-Rahman, dan aku pun
berhasrat."
وَمَا
حَدَّثْتُ نَفْسِي بِالسَّلَامَةِ مِنَ النَّاسِ
"Tetapi aku tidak pernah membisiki diriku untuk bisa
selamat dari (omongan) manusia."
لِأَنِّي
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ خَالِقَهُمْ وَرَازِقَهُمْ وَمُحْيِيَهُمْ وَمُمِيتَهُمْ لَمْ
يَسْلَمْ مِنْهُمْ
"Karena aku tahu bahwa Pencipta, Pemberi rezeki, Yang
Menghidupkan, dan Yang Mematikan mereka pun tidak selamat dari (celaan)
mereka."
وَقَالَ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَا رَبِّ احْبِسْ عَنِّي أَلْسِنَةَ النَّاسِ
Musa 'alaihissalam berkata, "Wahai Tuhanku, tahanlah
lisan-lisan manusia dariku."
فَقَالَ
يَا مُوسَى هَذَا شَيْءٌ لَمْ أَصْطَفِهِ لِنَفْسِي فَكَيْفَ أَفْعَلُهُ بِكَ
Allah berfirman, "Wahai Musa, ini adalah sesuatu yang
tidak Aku pilih untuk Diri-Ku sendiri, bagaimana mungkin Aku melakukannya
untukmu?"
وَأَوْحَى
اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَى عُزَيْرٍ إِنْ لَمْ تَطِبْ نَفْسًا بِأَنِّي
أَجْعَلُكَ عَلَكًا فِي أَفْوَاهِ الْمَاضِغِينَ لَمْ أَكْتُبْكَ عِنْدِي مِنَ
الْمُتَوَاضِعِينَ
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mewahyukan kepada Uzair,
"Jika engkau tidak rela Aku menjadikanmu seperti permen karet di mulut
para pengunyah (bahan gunjingan), maka Aku tidak akan mencatatmu di sisi-Ku
sebagai orang-orang yang tawaduk."
فَإِذًا
مَنْ حَبَسَ نَفْسَهُ فِي الْبَيْتِ لِيُحْسِنَ اعْتِقَادَاتِ النَّاسِ
وَأَقْوَالَهُمْ فِيهِ
Jadi, barangsiapa mengurung dirinya di rumah agar pandangan
dan ucapan orang lain tentangnya menjadi baik,
فَهُوَ
فِي عَنَاءٍ حَاضِرٍ فِي الدُّنْيَا
maka ia berada dalam kepayahan di dunia ini.
وَلَعَذَابُ
الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
"Dan sungguh, azab akhirat lebih besar, sekiranya
mereka mengetahui."
فَإِذًا
لَا تُسْتَحَبُّ الْعُزْلَةُ إِلَّا لِمُسْتَغْرِقِ الْأَوْقَاتِ بِرَبِّهِ
ذِكْرًا وَفِكْرًا وَعِبَادَةً وَعِلْمًا
Jadi, uzlah tidak dianjurkan kecuali bagi orang yang seluruh
waktunya telah tercurah untuk Tuhannya dengan zikir, tafakur, ibadah, dan ilmu.
بِحَيْثُ
لَوْ خَالَطَهُ النَّاسُ لَضَاعَتْ أَوْقَاتُهُ وَكَثُرَتْ آفَاتُهُ
وَلَتَشَوَّشَتْ عَلَيْهِ عِبَادَاتُهُ
Sekiranya ia bergaul dengan manusia, niscaya waktunya akan
sia-sia, penyakit (hatinya) akan bertambah banyak, dan ibadahnya akan
terganggu.
فَهَذِهِ
غَوَائِلُ خَفِيَّةٌ فِي اخْتِيَارِ الْعُزْلَةِ يَنْبَغِي أَنْ تُتَّقَى
Inilah bahaya-bahaya tersembunyi dalam memilih uzlah yang
harus diwaspadai.
فَإِنَّهَا
مُهْلِكَاتٌ فِي صُوَرِ مُنْجِيَاتٍ
Karena ia adalah hal-hal yang membinasakan dalam wujud
hal-hal yang menyelamatkan.
**Faidah Ketujuh: Pengalaman**
الْفَائِدَةُ
السَّابِعَةُ التَّجَارِبُ
Faidah Ketujuh: Pengalaman.
فَإِنَّهَا
تُسْتَفَادُ مِنَ الْمُخَالَطَةِ لِلْخَلْقِ وَمَجَارِي أَحْوَالِهِمْ
Sesungguhnya pengalaman didapat dari berinteraksi dengan
makhluk dan melihat alur keadaan mereka.
وَالْعَقْلُ
الْغَرِيزِيُّ لَيْسَ كَافِيًا فِي تَفَهُّمِ مَصَالِحِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا
Akal bawaan saja tidak cukup untuk memahami kemaslahatan
agama dan dunia.
وَإِنَّمَا
تُفِيدُهَا التَّجْرِبَةُ وَالْمُمَارَسَةُ
Hal itu hanya dapat diperoleh melalui pengalaman dan praktik
langsung.
وَلَا
خَيْرَ فِي عُزْلَةِ مَنْ لَمْ تُحَنِّكْهُ التَّجَارِبُ
Tidak ada kebaikan dalam uzlah bagi orang yang belum ditempa
oleh pengalaman.
فَالصَّبِيُّ
إِذَا اعْتَزَلَ بَقِيَ غُمْرًا جَاهِلًا
Anak kecil jika mengasingkan diri, ia akan tetap menjadi
naif dan bodoh.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَشْتَغِلَ بِالتَّعَلُّمِ
Sebaliknya, ia harus sibuk belajar.
وَيَحْصُلَ
لَهُ فِي مُدَّةِ التَّعَلُّمِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنَ التَّجَارِبِ
Dan selama masa belajarnya, ia akan mendapatkan
pengalaman-pengalaman yang ia butuhkan.
وَيَكْفِيهِ
ذَلِكَ
Dan itu sudah cukup baginya.
وَيَحْصُلُ
بَقِيَّةُ التَّجَارِبِ بِسَمَاعِ الْأَحْوَالِ
Sisa pengalaman lainnya dapat diperoleh dengan mendengar
berbagai kisah keadaan (orang lain).
وَلَا
يَحْتَاجُ إِلَى الْمُخَالَطَةِ
Dan ia tidak perlu berinteraksi langsung (untuk itu).
وَمِنْ
أَهَمِّ التَّجَارِبِ أَنْ يُجَرِّبَ نَفْسَهُ وَأَخْلَاقَهُ وَصِفَاتِ بَاطِنِهِ
Di antara pengalaman terpenting adalah menguji dirinya
sendiri, akhlaknya, dan sifat-sifat batinnya.
وَذَلِكَ
لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فِي الْخَلْوَةِ
Dan hal itu tidak dapat ia lakukan dalam kesendirian.
فَإِنَّ
كُلَّ مُجَرَّبٍ فِي الْخَلَاءِ يَسُرُّ
Setiap orang yang diuji dalam kesendirian pasti akan merasa
senang (dengan dirinya).
وَكُلُّ
غَضُوبٍ أَوْ حَقُودٍ أَوْ حَسُودٍ إِذَا خَلَا بِنَفْسِهِ لَمْ يَتَرَشَّحْ
مِنْهُ خُبْثُهُ
Setiap pemarah, pendengki, atau pendengki, jika ia
menyendiri, kebusukan hatinya tidak akan keluar.
وَهَذِهِ
الصِّفَاتُ مُهْلِكَاتٌ فِي أَنْفُسِهَا يَجِبُ إِمَاطَتُهَا وَقَهْرُهَا
Sifat-sifat ini adalah hal yang membinasakan, yang wajib
dihilangkan dan ditaklukkan.
وَلَا
يَكْفِي تَسْكِينُهَا بِالتَّبَاعُدِ عَمَّا يُحَرِّكُهَا
Tidak cukup hanya menenangkannya dengan menjauhi pemicunya.
فَمِثَالُ
الْقَلْبِ الْمَشْحُونِ بِهَذِهِ الْخَبَائِثِ مِثَالُ دُمَّلٍ مُمْتَلِىءٍ
بِالصَّدِيدِ وَالْمُدَّةِ
Perumpamaan hati yang penuh dengan kebusukan-kebusukan ini
adalah seperti bisul yang penuh dengan nanah.
وَقَدْ
لَا يُحِسُّ صَاحِبُهُ بِأَلَمِهِ مَا لَمْ يَتَحَرَّكْ أَوْ يَمَسَّهُ غَيْرُهُ
Pemiliknya mungkin tidak merasakan sakitnya selama bisul itu
tidak bergerak atau disentuh orang lain.
فَإِنْ
لَمْ يَكُنْ لَهُ يَدٌ تَمَسُّهُ أَوْ عَيْنٌ تُبْصِرُ صُورَتَهُ وَلَمْ يَكُنْ
مَنْ يُحَرِّكُهُ
Jika tidak ada tangan yang menyentuhnya, atau mata yang
melihat bentuknya, dan tidak ada yang menggerakkannya,
رُبَّمَا
ظَنَّ بِنَفْسِهِ السَّلَامَةَ وَلَمْ يَشْعُرْ بِالدُّمَّلِ فِي نَفْسِهِ
وَاعْتَقَدَ فَقْدَهُ
ia mungkin akan mengira dirinya sehat, tidak merasakan
adanya bisul, dan meyakini bisul itu tidak ada.
وَلَكِنْ
لَوْ حَرَّكَهُ مُحَرِّكٌ أَوْ إِصَابَةُ مِشْرَطِ حَجَّامٍ لَانْفَجَرَ مِنْهُ
الصَّدِيدُ
Tetapi jika ada yang menggerakkannya, atau terkena pisau
bekam, niscaya nanahnya akan pecah keluar.
وَفَارَ
فَوْرَانَ الشَّيْءِ الْمُخْتَنِقِ إِذَا حُبِسَ عَنِ الْإِسْتِرْسَالِ
Dan akan menyembur seperti sesuatu yang tertekan yang
tertahan untuk mengalir bebas.
فَكَذَلِكَ
الْقَلْبُ الْمَشْحُونُ بِالْحِقْدِ وَالْبُخْلِ وَالْحَسَدِ وَالْغَضَبِ
وَسَائِرِ الْأَخْلَاقِ الذَّمِيمَةِ
Demikian pula hati yang penuh dengan kedengkian, kekikiran,
hasad, kemarahan, dan akhlak tercela lainnya.
إِنَّمَا
تَتَفَجَّرُ مِنْهُ خَبَائِثُهُ إِذَا حُرِّكَ
Kebusukannya hanya akan meledak keluar jika digerakkan
(dipicu).
وَعَنْ
هَذَا كَانَ السَّالِكُونَ لِطَرِيقِ الْآخِرَةِ الطَّالِبُونَ لِتَزْكِيَةِ
الْقُلُوبِ يُجَرِّبُونَ أَنْفُسَهُمْ
Karena inilah para penempuh jalan akhirat yang mencari
penyucian hati selalu menguji diri mereka.
فَمَنْ
كَانَ يَسْتَشْعِرُ فِي نَفْسِهِ كِبْرًا سَعَى فِي إِمَاطَتِهِ
Barangsiapa merasakan ada kesombongan dalam dirinya, ia akan
berusaha untuk menghilangkannya.
حَتَّى
كَانَ بَعْضُهُمْ يَحْمِلُ قِرْبَةَ مَاءٍ عَلَى ظَهْرِهِ بَيْنَ النَّاسِ
Hingga sebagian dari mereka ada yang membawa kantung air di
punggungnya di antara orang-orang.
أَوْ
حُزْمَةَ حَطَبٍ عَلَى رَأْسِهِ وَيَتَرَدَّدُ فِي الْأَسْوَاقِ لِيُجَرِّبَ
نَفْسَهُ بِذَلِكَ
Atau membawa seikat kayu bakar di kepalanya dan
berlalu-lalang di pasar untuk menguji dirinya dengan hal itu.
فَإِنَّ
غَوَائِلَ النَّفْسِ وَمَكَايِدَ الشَّيْطَانِ خَفِيَّةٌ قَلَّ مَنْ يَتَفَطَّنُ
لَهَا
Karena bahaya-bahaya jiwa dan tipu daya setan itu
tersembunyi, sedikit sekali yang menyadarinya.
وَلِذَلِكَ
حُكِيَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ قَالَ أَعَدْتُ صَلَاةَ ثَلَاثِينَ سَنَةً مَعَ
أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّيهَا فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ
Oleh karena itu, diriwayatkan dari sebagian mereka bahwa ia
berkata, "Aku mengulang salat selama tiga puluh tahun, padahal aku selalu
salat di shaf pertama."
وَلَكِنْ
تَخَلَّفْتُ يَوْمًا بِعُذْرٍ فَمَا وَجَدْتُ مَوْضِعًا فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ
فَوَقَفْتُ فِي الصَّفِّ الثَّانِي
"Tetapi suatu hari aku terlambat karena suatu uzur,
lalu aku tidak menemukan tempat di shaf pertama, maka aku pun berdiri di shaf
kedua."
فَوَجَدْتُ
نَفْسِي تَسْتَشْعِرُ خَجَلَةً مِنْ نَظَرِ النَّاسِ إِلَيَّ وَقَدْ سَبَقْتُ
إِلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ
"Lalu aku mendapati diriku merasa malu karena pandangan
orang-orang kepadaku, padahal (biasanya) aku selalu terdepan di shaf
pertama."
فَعَلِمْتُ
أَنَّ جَمِيعَ صَلَوَاتِي الَّتِي كُنْتُ أُصَلِّيهَا كَانَتْ مَشُوبَةً
بِالرِّيَاءِ
"Maka aku tahu bahwa semua salatku selama ini telah
tercampuri oleh riya."
مَمْزُوجَةً
بِلَذَّةِ نَظَرِ النَّاسِ إِلَيَّ وَرُؤْيَتِهِمْ إِيَّايَ فِي زُمْرَةِ
السَّابِقِينَ إِلَى الْخَيْرِ
"Tercampur dengan kenikmatan dari pandangan orang-orang
kepadaku dan penglihatan mereka bahwa aku termasuk dalam golongan orang-orang
yang berlomba dalam kebaikan."
فَالْمُخَالَطَةُ
لَهَا فَائِدَةٌ ظَاهِرَةٌ عَظِيمَةٌ فِي اسْتِخْرَاجِ الْخَبَائِثِ
وَإِظْهَارِهَا
Maka, interaksi sosial memiliki faedah yang nyata dan besar
dalam mengeluarkan dan menampakkan kebusukan-kebusukan (hati).
وَلِذَلِكَ
قِيلَ السَّفَرُ يُسْفِرُ عَنِ الْأَخْلَاقِ
Oleh karena itu dikatakan, "Safar (bepergian) akan
menyingkap akhlak."
فَإِنَّهُ
نَوْعٌ مِنَ الْمُخَالَطَةِ الدَّائِمَةِ
Karena ia adalah sejenis interaksi sosial yang
terus-menerus.
وَسَتَأْتِي
غَوَائِلُ هَذِهِ الْمَعَانِي وَدَقَائِقُهَا فِي رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ
Bahaya-bahaya dan seluk-beluk dari makna-makna ini akan
datang penjelasannya pada bagian "Rubu' Al-Muhlikat" (Seperempat
tentang Hal-hal yang Membinasakan).
فَإِنَّ
بِالْجَهْلِ بِهَا يُحْبَطُ الْعَمَلُ الْكَثِيرُ
Karena dengan kebodohan tentangnya, amal yang banyak bisa
terhapus.
وَبِالْعِلْمِ
بِهَا يَزْكُو الْعَمَلُ الْقَلِيلُ
Dan dengan ilmu tentangnya, amal yang sedikit bisa menjadi
suci (dan diterima).
وَلَوْلَا
ذَلِكَ مَا فُضِّلَ الْعِلْمُ عَلَى الْعَمَلِ
Kalau bukan karena itu, niscaya ilmu tidak akan diutamakan
atas amal.
إِذْ
يَسْتَحِيلُ أَنْ يَكُونَ الْعِلْمُ بِالصَّلَاةِ وَلَا يُرَادُ لِلصَّلَاةِ
إِلَّا أَفْضَلَ مِنَ الصَّلَاةِ
Karena mustahil ilmu tentang salat—sementara salat itu
sendiri diinginkan—lebih utama daripada salat itu sendiri.
فَإِنَّا
نَعْلَمُ أَنَّ مَا يُرَادُ لِغَيْرِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ الْغَيْرَ أَشْرَفُ مِنْهُ
Sesungguhnya kita tahu bahwa sesuatu yang diinginkan untuk
tujuan lain, maka tujuan lain itu lebih mulia darinya.
وَقَدْ
قَضَى الشَّرْعُ بِتَفْضِيلِ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ
Dan syariat telah menetapkan keutamaan orang yang berilmu
atas ahli ibadah.
حَتَّى
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ
كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِي
Hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas
orang yang paling rendah dari para sahabatku."
فَمَعْنَى
تَفْضِيلِ الْعِلْمِ يَرْجِعُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ
Makna dari keutamaan ilmu ini kembali pada tiga aspek.
أَحَدُهَا
مَا ذَكَرْنَاهُ
Pertama, apa yang telah kami sebutkan.
وَالثَّانِي
عُمُومُ النَّفْعِ لِتَعَدَّى فَائِدَتِهِ وَالْعَمَلُ لَا تَتَعَدَّى فَائِدَتُهُ
Kedua, manfaatnya yang umum karena faedahnya bisa dirasakan
orang lain, sedangkan faedah amal (pribadi) tidak meluas ke orang lain.
وَالثَّالِثُ
أَنْ يُرَادَ بِهِ الْعِلْمُ بِاللهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ
Ketiga, yang dimaksud adalah ilmu tentang Allah,
sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
فَذَلِكَ
أَفْضَلُ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ
Ilmu ini lebih utama dari semua amal.
بَلْ
مَقْصُودُ الْأَعْمَالِ صَرْفُ الْقُلُوبِ عَنِ الْخَلْقِ إِلَى الْخَالِقِ
Bahkan, tujuan dari semua amal adalah memalingkan hati dari
makhluk kepada Sang Pencipta.
لِتَنْبَعِثَ
بَعْدَ الْإِنْصِرَافِ إِلَيْهِ لِمَعْرِفَتِهِ وَمَحَبَّتِهِ
Agar setelah berpaling kepada-Nya, hati terdorong untuk
mengenal dan mencintai-Nya.
فَالْعَمَلُ
وَعِلْمُ الْعَمَلِ مُرَادَانِ لِهَذَا الْعِلْمِ
Maka amal dan ilmu tentang amal, keduanya diinginkan untuk
mencapai ilmu ini (makrifatullah).
وَهَذَا
الْعِلْمُ غَايَةُ الْمُرِيدِينَ
Dan ilmu ini adalah puncak tujuan para pencari jalan
(muridin).
وَالْعَمَلُ
كَالشَّرْطِ لَهُ
Sedangkan amal adalah seperti syarat baginya.
وَإِلَيْهِ
الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ
وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta'ala,
"Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh
menaikkannya."
فَالْكَلِمُ
الطَّيِّبُ هُوَ هَذَا الْعِلْمُ
"Perkataan yang baik" adalah ilmu ini.
وَالْعَمَلُ
كَالْحَمَّالِ الرَّافِعِ لَهُ إِلَى مَقْصَدِهِ
Dan amal adalah seperti pengangkut yang membawanya naik ke
tujuannya.
فَيَكُونُ
الْمَرْفُوعُ أَفْضَلَ مِنَ الرَّافِعِ
Maka, yang diangkat (ilmu) lebih utama daripada yang
mengangkat (amal).
وَهَذَا
كَلَامٌ مُعْتَرِضٌ لَا يَلِيقُ بِهَذَا الْكَلَامِ
Ini adalah pembahasan sisipan yang tidak sesuai dengan topik
ini.
فَلْنَرْجِعْ
إِلَى الْمَقْصُودِ
Mari kita kembali ke pembahasan utama.
فَنَقُولُ
إِذَا عَرَفْتَ فَوَائِدَ الْعُزْلَةِ وَغَوَائِلَهَا تَحَقَّقْتَ أَنَّ الْحُكْمَ
عَلَيْهَا مُطْلَقًا بِالتَّفْضِيلِ نَفْيًا وَإِثْبَاتًا خَطَأٌ
Kami katakan, jika engkau telah mengetahui faedah dan bahaya
uzlah, engkau akan yakin bahwa memberikan hukum mutlak tentang
keutamaannya—baik menolak maupun menerimanya—adalah sebuah kesalahan.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يُنْظَرَ إِلَى الشَّخْصِ وَحَالِهِ
Sebaliknya, harus dilihat kondisi orangnya.
وَإِلَى
الْخَلِيطِ وَحَالِهِ
Dan kondisi teman bergaulnya.
وَإِلَى
الْبَاعِثِ عَلَى مُخَالَطَتِهِ
Serta pendorong untuk bergaul.
وَإِلَى
الْفَائِتِ بِسَبَبِ مُخَالَطَتِهِ مِنْ هَذِهِ الْفَوَائِدِ الْمَذْكُورَةِ
Dan juga faedah-faedah yang hilang akibat bergaul.
وَيُقَاسُ
الْفَائِتُ بِالْحَاصِلِ
Lalu ditimbang antara yang hilang dengan yang didapat.
فَعِنْدَ
ذَلِكَ يَتَبَيَّنُ الْحَقُّ وَيَتَّضِحُ الْأَفْضَلُ
Pada saat itulah kebenaran akan tampak dan yang lebih utama
akan menjadi jelas.
وَكَلَامُ
الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ هُوَ فَصْلُ الْخِطَابِ إِذْ قَالَ يَا يُونُسُ
الْإِنْقِبَاضُ عَنِ النَّاسِ مَكْسَبَةٌ لِلْعَدَاوَةِ
Ucapan Imam Syafi'i rahimahullah adalah penentu dalam
masalah ini, ketika beliau berkata, "Wahai Yunus, menarik diri dari
manusia akan mendatangkan permusuhan."
وَالْإِنْبِسَاطُ
إِلَيْهِمْ مَجْلَبَةٌ لِقُرَنَاءِ السُّوءِ
"Dan terlalu akrab dengan mereka akan mendatangkan
teman-teman yang buruk."
فَكُنْ
بَيْنَ الْمُنْقَبِضِ وَالْمُنْبَسِطِ
"Maka jadilah engkau di antara yang menarik diri dan
yang bergaul."
فَلِذَلِكَ
يَجِبُ الْاعْتِدَالُ فِي الْمُخَالَطَةِ وَالْعُزْلَةِ
Oleh karena itu, wajib bersikap moderat dalam berinteraksi
dan mengasingkan diri.
وَيَخْتَلِفُ
ذَلِكَ بِالْأَحْوَالِ
Dan hal ini berbeda-beda tergantung kondisi.
وَبِمُلَاحَظَةِ
الْفَوَائِدِ وَالْآفَاتِ يَتَبَيَّنُ الْأَفْضَلُ
Dengan memperhatikan faedah dan bahayanya, akan menjadi
jelas mana yang lebih utama.
هَذَا
هُوَ الْحَقُّ الصِّرَاحُ
Inilah kebenaran yang gamblang.
وَكُلُّ
مَا ذُكِرَ سِوَى هَذَا فَهُوَ قَاصِرٌ
Segala sesuatu yang disebutkan selain ini adalah kurang
(sempurna).
وَإِنَّمَا
هُوَ إِخْبَارُ كُلِّ وَاحِدٍ عَنْ حَالَةٍ خَاصَّةٍ هُوَ فِيهَا
Itu hanyalah pemberitaan dari setiap orang tentang keadaan
khusus yang ia alami.
وَلَا
يَجُوزُ أَنْ يُحْكَمَ بِهَا عَلَى غَيْرِهِ وَالْمُخَالِفِ لَهُ فِي الْحَالِ
Dan tidak boleh dijadikan hukum bagi orang lain yang berbeda
keadaannya.
وَالْفَرْقُ
بَيْنَ الْعَالِمِ وَالصُّوفِيِّ فِي ظَاهِرِ الْعِلْمِ يَرْجِعُ إِلَى هَذَا
Perbedaan antara seorang alim dan seorang sufi dalam ranah
ilmu lahiriah kembali pada hal ini.
وَهُوَ
أَنَّ الصُّوفِيَّ لَا يَتَكَلَّمُ إِلَّا عَنْ حَالِهِ
Yaitu, seorang sufi tidak berbicara kecuali tentang
keadaannya (pengalaman spiritualnya) sendiri.
فَلَا
جَرَمَ تَخْتَلِفُ أَجْوِبَتُهُمْ فِي الْمَسَائِلِ
Maka tidak heran jika jawaban mereka berbeda-beda dalam satu
masalah.
وَالْعَالِمُ
هُوَ الَّذِي يُدْرِكُ الْحَقَّ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ
Sedangkan seorang alim adalah orang yang memahami kebenaran
apa adanya.
وَلَا
يَنْظُرُ إِلَى حَالِ نَفْسِهِ فَيَكْشِفُ الْحَقَّ فِيهِ
Ia tidak melihat keadaan dirinya, melainkan menyingkap
kebenaran itu sendiri.
وَذَلِكَ
مِمَّا لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ
Dan hal ini adalah sesuatu yang tidak ada perbedaan di
dalamnya.
فَإِنَّ
الْحَقَّ وَاحِدٌ أَبَدًا
Karena kebenaran itu selamanya satu.
وَالْقَاصِرُ
عَنِ الْحَقِّ كَثِيرٌ لَا يُحْصَى
Sedangkan orang yang tidak sampai pada kebenaran jumlahnya
banyak tak terhingga.
وَلِذَلِكَ
سُئِلَ الصُّوفِيَّةُ عَنِ الْفَقْرِ فَمَا مِنْ وَاحِدٍ إِلَّا وَأَجَابَ
بِجَوَابٍ غَيْرِ جَوَابِ الْآخَرِ
Oleh karena itu, ketika para sufi ditanya tentang kefakiran
(al-faqr), tidak ada seorang pun dari mereka kecuali memberikan jawaban yang
berbeda dari yang lain.
وَكُلُّ
ذَلِكَ حَقٌّ بِالْإِضَافَةِ إِلَى حَالِهِ
Dan semua itu benar jika dinisbatkan pada keadaan
(pengalaman) masing-masing.
وَلَيْسَ
بِحَقٍّ فِي نَفْسِهِ إِذِ الْحَقُّ لَا يَكُونُ إِلَّا وَاحِدًا
Tetapi itu bukanlah kebenaran itu sendiri, karena kebenaran
hanyalah satu.
وَلِذَلِكَ
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ الْجَلَّاءُ وَقَدْ سُئِلَ عَنِ الْفَقْرِ فَقَالَ
اضْرِبْ بِكُمِّكَ الْحَائِطَ وَقُلْ رَبِّيَ اللهُ فَهُوَ الْفَقْرُ
Oleh karena itu, Abu Abdullah al-Jalla', ketika ditanya
tentang kefakiran, berkata, "Pukulkan lengan bajumu ke dinding dan katakan
'Tuhanku adalah Allah', itulah kefakiran."
وَقَالَ
الْجُنَيْدُ الْفَقِيرُ هُوَ الَّذِي لَا يَسْأَلُ أَحَدًا وَلَا يُعَارِضُ وَإِنْ
عُورِضَ سَكَتَ
Al-Junaid berkata, "Orang fakir adalah yang tidak
meminta kepada siapa pun, tidak menentang, dan jika ditentang, ia diam."
وَقَالَ
سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْفَقِيرُ الَّذِي لَا يَسْأَلُ وَلَا يَدَّخِرُ
Sahl bin Abdullah berkata, "Orang fakir adalah yang
tidak meminta dan tidak menyimpan."
وَقَالَ
آخَرُ هُوَ أَنْ لَا يَكُونَ لَكَ فَإِنْ كَانَ لَكَ فَلَا يَكُونُ لَكَ مِنْ
حَيْثُ لَمْ يَكُنْ لَكَ
Yang lain berkata, "Kefakiran adalah engkau tidak
memiliki apa-apa. Jika pun engkau memiliki sesuatu, maka ia tidak menjadi
milikmu dari sisi di mana ia sebelumnya bukan milikmu."
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ الْخَوَاصُّ هُوَ تَرْكُ الشَّكْوَى وَإِظْهَارُ أَثَرِ الْبَلْوَى
Ibrahim al-Khawwash berkata, "Kefakiran adalah
meninggalkan keluhan dan menampakkan bekas ujian."
وَالْمَقْصُودُ
أَنَّهُ لَوْ سُئِلَ مِنْهُمْ مِائَةٌ لَسَمِعَ مِنْهُمْ مِائَةَ جَوَابٍ
مُخْتَلِفَةٍ
Intinya adalah, seandainya seratus orang dari mereka
ditanya, niscaya engkau akan mendengar seratus jawaban yang berbeda.
قَلَّمَا
يَتَّفِقُ مِنْهَا اثْنَانِ
Jarang sekali ada dua jawaban yang sama.
وَذَلِكَ
كُلُّهُ حَقٌّ مِنْ وَجْهٍ
Semua itu benar dari satu sisi.
فَإِنَّهُ
خَبَرُ كُلِّ وَاحِدٍ عَنْ حَالِهِ وَمَا غَلَبَ عَلَى قَلْبِهِ
Karena itu adalah berita dari setiap orang tentang
keadaannya dan apa yang dominan di hatinya.
وَلِذَلِكَ
لَا نَرَى اثْنَيْنِ مِنْهُمْ يُثْبِتُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ قَدَمًا فِي
التَّصَوُّفِ أَوْ يَثْنَى عَلَيْهِ
Oleh karena itu, kita tidak melihat ada dua orang dari
mereka yang saling mengakui kedudukan rekannya dalam tasawuf atau memujinya.
بَلْ
كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَدَّعِي أَنَّهُ الْوَاصِلُ إِلَى الْحَقِّ وَالْوَاقِفُ
عَلَيْهِ
Bahkan, setiap orang dari mereka mengklaim bahwa dirinyalah
yang telah sampai pada kebenaran dan mengetahuinya.
لِأَنَّ
أَكْثَرَ تَرَدُّدِهِمْ عَلَى مُقْتَضَى الْأَحْوَالِ الَّتِي تَعْرِضُ
لِقُلُوبِهِمْ
Karena mayoritas gerak mereka didasarkan pada tuntutan
keadaan (spiritual) yang datang pada hati mereka.
فَلَا
يَشْتَغِلُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَلَا يَلْتَفِتُونَ إِلَى غَيْرِهِمْ
Maka mereka tidak sibuk kecuali dengan diri mereka sendiri
dan tidak menoleh kepada yang lain.
وَنُورُ
الْعِلْمِ إِذَا أَشْرَقَ أَحَاطَ بِالْكُلِّ وَكَشَفَ الْغِطَاءَ وَرَفَعَ
الِاخْتِلَافَ
Adapun cahaya ilmu, jika ia bersinar, ia akan meliputi
segalanya, menyingkap tabir, dan menghilangkan perbedaan.
وَمِثَالُ
نَظَرِ هَؤُلَاءِ مَا رَأَيْتَ مِنْ نَظَرِ قَوْمٍ فِي أَدِلَّةِ الزَّوَالِ
بِالنَّظَرِ فِي الظِّلِّ
Perumpamaan pandangan mereka ini adalah seperti yang engkau
lihat pada pandangan sekelompok orang tentang dalil-dalil waktu zuhur dengan
melihat bayangan.
فَقَالَ
بَعْضُهُمْ هُوَ فِي الصَّيْفِ قَدَمَانِ
Sebagian mereka berkata, "Di musim panas, (panjangnya)
dua telapak kaki."
وَحُكَى
عَنْ آخَرَ أَنَّهُ نِصْفُ قَدَمٍ وَآخَرُ يَرُدُّ عَلَيْهِ
Diceritakan dari yang lain bahwa panjangnya setengah telapak
kaki, dan yang lain membantahnya.
وَأَنَّهُ
فِي الشِّتَاءِ سَبْعَةُ أَقْدَامٍ
"Dan di musim dingin, panjangnya tujuh telapak
kaki."
وَحُكَى
عَنْ آخَرَ أَنَّهُ خَمْسَةُ أَقْدَامٍ وَآخَرُ يَرُدُّ عَلَيْهِ
Diceritakan dari yang lain bahwa panjangnya lima telapak
kaki, dan yang lain membantahnya.
فَهَذَا
يُشْبِهُ أَجْوِبَةَ الصُّوفِيَّةِ وَاخْتِلَافَهُمْ
Ini menyerupai jawaban-jawaban para sufi dan perbedaan
mereka.
فَإِنَّ
كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ هَؤُلَاءِ أَخْبَرَ عَنِ الظِّلِّ الَّذِي رَآهُ بِبَلَدِ
نَفْسِهِ
Setiap orang dari mereka ini memberitakan tentang bayangan
yang ia lihat di negerinya sendiri.
فَصَدَقَ
فِي قَوْلِهِ وَأَخْطَأَ فِي تَخْطِئَتِهِ صَاحِبَهُ
Maka ia benar dalam ucapannya, tetapi salah dalam
menyalahkan temannya.
إِذْ
ظَنَّ أَنَّ الْعَالَمَ كُلَّهُ بَلَدُهُ أَوْ هُوَ مِثْلُ بَلَدِهِ
Karena ia mengira bahwa seluruh dunia adalah negerinya, atau
sama seperti negerinya.
كَمَا
أَنَّ الصُّوفِيَّ لَا يَحْكُمُ عَلَى الْعَالَمِ إِلَّا بِمَا هُوَ حَالُ
نَفْسِهِ
Sebagaimana seorang sufi tidak menghukumi dunia kecuali
berdasarkan keadaan (pengalaman) dirinya sendiri.
وَالْعَالِمُ
بِالزَّوَالِ هُوَ الَّذِي يَعْرِفُ عِلَّةَ طُولِ الظِّلِّ وَقِصْرِهِ
Sedangkan seorang alim tentang waktu zuhur adalah orang yang
mengetahui sebab panjang dan pendeknya bayangan.
وَعِلَّةَ
اخْتِلَافِهِ بِالْبِلَادِ
Dan sebab perbedaannya di berbagai negeri.
فَيُخْبِرُ
بِأَحْكَامٍ مُخْتَلِفَةٍ فِي بِلَادٍ مُخْتَلِفَةٍ
Lalu ia memberitakan hukum-hukum yang berbeda untuk
negeri-negeri yang berbeda.
وَيَقُولُ
فِي بَعْضِهَا لَا يَبْقَى ظِلٌّ
Ia mengatakan bahwa di sebagian negeri tidak ada sisa
bayangan.
وَفِي
بَعْضِهَا يَطُولُ
Dan di sebagian lainnya bayangan menjadi panjang.
وَفِي
بَعْضِهَا يَقْصُرُ
Dan di sebagian lainnya menjadi pendek.
فَهَذَا
مَا أَرَدْنَا أَنْ نَذْكُرَهُ مِنْ فَضِيلَةِ الْعُزْلَةِ وَالْمُخَالَطَةِ
Inilah yang ingin kami sebutkan tentang keutamaan uzlah dan
interaksi sosial.
فَإِنْ
قُلْتَ فَمَنْ آثَرَ الْعُزْلَةَ وَرَآهَا أَفْضَلَ لَهُ وَأَسْلَمَ فَمَا
آدَابُهُ فِي الْعُزْلَةِ
Jika engkau bertanya, "Bagi orang yang lebih memilih
uzlah dan melihatnya lebih utama dan lebih selamat baginya, apa saja
adab-adabnya dalam uzlah?"
فَنَقُولُ
إِنَّمَا يَطُولُ النَّظَرُ فِي آدَابِ الْمُخَالَطَةِ
Kami menjawab: Sesungguhnya pembahasan yang panjang adalah
tentang adab-adab berinteraksi.
وَقَدْ
ذَكَرْنَاهَا فِي كِتَابِ آدَابِ الصُّحْبَةِ
Dan kami telah menyebutkannya dalam "Kitab Adab
Bersahabat."
وَأَمَّا
آدَابُ الْعُزْلَةِ فَلَا تَطُولُ
Adapun adab-adab uzlah, pembahasannya tidak panjang.
فَيَنْبَغِي
لِلْمُعْتَزِلِ أَنْ يَنْوِي بِعُزْلَتِهِ كَفَّ شَرِّ نَفْسِهِ عَنِ النَّاسِ
أَوَّلًا
Bagi orang yang mengasingkan diri, hendaknya ia meniatkan
uzlahnya, pertama, untuk menahan keburukan dirinya dari orang lain.
ثُمَّ
طَلَبَ السَّلَامَةِ مِنْ شَرِّ الْأَشْرَارِ ثَانِيًا
Kedua, untuk mencari keselamatan dari keburukan orang-orang
jahat.
ثُمَّ
الْخَلَاصَ مِنْ آفَةِ الْقُصُورِ عَنْ الْقِيَامِ بِحُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ
ثَالِثًا
Ketiga, untuk terbebas dari penyakit lalai dalam menunaikan
hak-hak kaum muslimin.
ثُمَّ
التَّجَرُّدَ بِكُنْهِ الْهِمَّةِ لِعِبَادَةِ اللهِ رَابِعًا
Keempat, untuk memurnikan segenap tekad demi beribadah
kepada Allah.
فَهَذِهِ
آدَابُ نِيَّتِهِ
Inilah adab-adab niatnya.
ثُمَّ
لِيَكُنْ فِي خَلْوَتِهِ مُوَاظِبًا عَلَى الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالذِّكْرِ
وَالْفِكْرِ
Kemudian, dalam kesendiriannya, hendaklah ia tekun dalam
ilmu, amal, zikir, dan tafakur.
لِيَجْتَنِيَ
ثَمَرَةَ الْعُزْلَةِ
Agar ia dapat memetik buah dari uzlah.
وَلْيَمْنَعِ
النَّاسَ عَنْ أَنْ يُكْثِرُوا غَشْيَانَهُ وَزِيَارَتَهُ
Dan hendaklah ia mencegah orang-orang untuk terlalu sering
mendatanginya dan mengunjunginya.
فَيُشَوِّشَ
أَكْثَرَ وَقْتِهِ
Karena hal itu akan mengganggu sebagian besar waktunya.
وَلْيَكُفَّ
عَنِ السُّؤَالِ عَنْ أَخْبَارِهِمْ
Hendaklah ia menahan diri dari bertanya tentang kabar
mereka.
وَعَنِ
الْإِصْغَاءِ إِلَى أَرَاجِيفِ الْبَلَدِ وَمَا النَّاسُ مَشْغُولُونَ بِهِ
Dan dari mendengarkan kabar angin di negerinya serta apa
yang sedang menyibukkan orang-orang.
فَإِنَّ
كُلَّ ذَلِكَ يَنْغَرِسُ فِي الْقَلْبِ
Karena semua itu akan tertanam di dalam hati.
حَتَّى
يَنْبَعِثَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ أَوِ الْفِكْرِ مِنْ حَيْثُ لَا يُحْتَسَبُ
Hingga ia muncul kembali di tengah salat atau tafakur dari
arah yang tidak disangka-sangka.
فَوُقُوعُ
الْأَخْبَارِ فِي السَّمْعِ كَوُقُوعِ الْبَذْرِ فِي الْأَرْضِ
Masuknya berita ke dalam pendengaran adalah seperti jatuhnya
benih di tanah.
فَلَا
بُدَّ أَنْ يَنْبُتَ وَتَتَفَرَّعَ عُرُوقُهُ وَأَغْصَانُهُ
Pasti ia akan tumbuh, akar dan cabangnya akan menjalar.
وَيَتَدَاعَى
بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ
Dan sebagiannya akan memanggil sebagian yang lain.
وَأَحَدُ
مُهِمَّاتِ الْمُعْتَزِلِ قَطْعُ الْوَسَاوِسِ الصَّارِفَةِ عَنْ ذِكْرِ اللهِ
Salah satu tugas penting orang yang uzlah adalah memutus
waswas yang memalingkan dari zikir kepada Allah.
وَالْأَخْبَارُ
يَنَابِيعُ الْوَسَاوِسِ وَأُصُولُهَا
Dan berita-berita adalah sumber dan akar dari waswas.
وَلْيَقْنَعْ
بِالْيَسِيرِ مِنَ الْمَعِيشَةِ
Hendaklah ia merasa cukup dengan penghidupan yang sederhana.
وَإِلَّا
اضْطَرَّهُ التَّوَسُّعُ إِلَى النَّاسِ وَاحْتَاجَ إِلَى مُخَالَطَتِهِمْ
Jika tidak, keinginan untuk hidup mewah akan memaksanya
kembali kepada manusia dan membuatnya butuh berinteraksi dengan mereka.
وَلْيَكُنْ
صَبُورًا عَلَى مَا يَلْقَاهُ مِنْ أَذَى الْجِيرَانِ
Hendaklah ia bersabar atas gangguan apa pun yang ia terima
dari tetangga.
وَلْيَسُدَّ
سَمْعَهُ عَنِ الْإِصْغَاءِ إِلَى مَا يُقَالُ فِيهِ مِنْ ثَنَاءٍ عَلَيْهِ
بِالْعُزْلَةِ أَوْ قَدْحٍ فِيهِ بِتَرْكِ الْخُلْطَةِ
Dan hendaklah ia menutup telinganya dari mendengarkan apa
yang dikatakan tentangnya, baik pujian atas uzlahnya maupun celaan karena ia
meninggalkan pergaulan.
فَإِنَّ
كُلَّ ذَلِكَ يُؤَثِّرُ فِي الْقَلْبِ وَلَوْ مُدَّةً يَسِيرَةً
Karena semua itu akan berpengaruh di dalam hati, meskipun
hanya sesaat.
وَحَالَ
اشْتِغَالِ الْقَلْبِ بِهِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ وَاقِفًا عَنْ سَيْرِهِ إِلَى
طَرِيقِ الْآخِرَةِ
Dan ketika hati sibuk dengan hal itu, pasti ia akan berhenti
dari perjalanannya menuju jalan akhirat.
فَإِنَّ
السَّيْرَ إِمَّا بِالْمُوَاظَبَةِ عَلَى وِرْدٍ وَذِكْرٍ مَعَ حُضُورِ قَلْبٍ
Karena perjalanan itu adalah dengan tekun pada wirid dan
zikir dengan hati yang hadir.
وَإِمَّا
بِالْفِكْرِ فِي جَلَالِ اللهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ وَمَلَكُوتِ
سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِ
Atau dengan tafakur tentang keagungan Allah,
sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan kerajaan langit dan bumi-Nya.
وَإِمَّا
بِالتَّأَمُّلِ فِي دَقَائِقِ الْأَعْمَالِ وَمُفْسِدَاتِ الْقُلُوبِ وَطَلَبِ
طُرُقِ التَّحَصُّنِ مِنْهَا
Atau dengan merenungkan seluk-beluk amal, perusak-perusak
hati, dan mencari cara untuk membentengi diri darinya.
وَكُلُّ
ذَلِكَ يَسْتَدْعِي الْفَرَاغَ
Semua itu menuntut adanya kelapangan (waktu dan pikiran).
وَالْإِصْغَاءُ
إِلَى جَمِيعِ ذَلِكَ مِمَّا يُشَوِّشُ الْقَلْبَ فِي الْحَالِ
Dan mendengarkan semua itu (omongan orang) adalah hal yang
akan mengganggu hati saat itu juga.
وَقَدْ
يَتَجَدَّدُ ذِكْرُهُ فِي دَوَامِ الذِّكْرِ مِنْ حَيْثُ لَا يَنْتَظِرُ
Dan bisa jadi ingatan tentangnya akan muncul kembali di
tengah-tengah zikir dari arah yang tidak disangka.
وَلْيَكُنْ
لَهُ أَهْلٌ صَالِحَةٌ أَوْ جَلِيسٌ صَالِحٌ لِتَسْتَرِيحَ نَفْسُهُ إِلَيْهِ فِي
الْيَوْمِ سَاعَةً مِنْ كَدِّ الْمُوَاظَبَةِ
Hendaklah ia memiliki keluarga yang saleh atau teman duduk
yang saleh, agar jiwanya dapat beristirahat bersamanya selama sesaat dalam
sehari dari lelahnya ketekunan.
فَفِيهِ
عَوْنٌ عَلَى بَقِيَّةِ السَّاعَاتِ
Di dalamnya ada pertolongan untuk sisa waktu yang lain.
وَلَا
يَتِمُّ لَهُ الصَّبْرُ فِي الْعُزْلَةِ إِلَّا بِقَطْعِ الطَّمَعِ عَنِ
الدُّنْيَا
Kesabarannya dalam uzlah tidak akan sempurna kecuali dengan
memutus ketamakan terhadap dunia.
وَمَا
النَّاسُ مُنْهَمِكُونَ فِيهِ
Dan apa yang sedang digandrungi oleh manusia.
وَلَا
يَنْقَطِعُ طَمَعُهُ إِلَّا بِقِصَرِ الْأَمَلِ
Ketamakannya tidak akan terputus kecuali dengan memendekkan
angan-angan.
بِأَنْ
لَا يُقَدِّرَ لِنَفْسِهِ عُمْرًا طَوِيلًا
Yaitu dengan tidak menakar untuk dirinya umur yang panjang.
بَلْ
يَصْبُحُ عَلَى أَنَّهُ لَا يُمْسِي وَيُمْسِي عَلَى أَنَّهُ لَا يَصْبُحُ
Bahkan, ia menjalani pagi hari seolah tidak akan bertemu
sore, dan menjalani sore hari seolah tidak akan bertemu pagi.
فَيَسْهُلُ
عَلَيْهِ صَبْرُ يَوْمٍ
Maka akan mudah baginya untuk bersabar selama satu hari.
وَلَا
يَسْهُلُ عَلَيْهِ الْعَزْمُ عَلَى الصَّبْرِ عِشْرِينَ سَنَةً لَوْ قُدِّرَ
تَرَاخَى الْأَجَلُ
Dan tidak akan mudah baginya untuk bertekad sabar selama dua
puluh tahun jika ia menakar ajalnya masih jauh.
وَلْيَكُنْ
كَثِيرَ الذِّكْرِ لِلْمَوْتِ وَوَحْدَةِ الْقَبْرِ مَهْمَا ضَاقَ قَلْبُهُ مِنَ
الْوَحْدَةِ
Hendaklah ia banyak mengingat kematian dan kesendirian di
dalam kubur, setiap kali hatinya merasa sempit karena kesendirian.
وَلْيَتَحَقَّقْ
أَنَّ مَنْ لَمْ يَحْصُلْ فِي قَلْبِهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَعْرِفَتِهِ مَا
يَأْنَسُ بِهِ
Dan hendaklah ia yakin bahwa barangsiapa yang di dalam
hatinya tidak ada zikir dan makrifat kepada Allah yang membuatnya merasa
tenteram,
فَلَا
يُطِيقُ وَحْشَةَ الْوَحْدَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ
maka ia tidak akan sanggup menahan kegelisahan kesendirian
setelah mati.
وَأَنَّ
مَنْ أَنِسَ بِذِكْرِ اللهِ وَمَعْرِفَتِهِ فَلَا يُزِيلُ الْمَوْتُ أُنْسَهُ
Dan barangsiapa merasa tenteram dengan zikir dan makrifat
kepada Allah, maka kematian tidak akan menghilangkan ketenteramannya.
إِذْ
لَا يَهْدِمُ الْمَوْتُ مَحَلَّ الْأُنْسِ وَالْمَعْرِفَةِ
Karena kematian tidak menghancurkan tempat ketenteraman dan
makrifat (yaitu hati).
بَلْ
يَبْقَى حَيًّا بِمَعْرِفَتِهِ وَأُنْسِهِ فَرِحًا بِفَضْلِ اللهِ عَلَيْهِ
وَرَحْمَتِهِ
Bahkan, ia akan tetap hidup dengan makrifat dan
ketenteramannya, bergembira dengan karunia dan rahmat Allah kepadanya.
كَمَا
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الشُّهَدَاءِ وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي
سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ
بِمَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
Sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang para syuhada,
"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah
itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,
mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia yang diberikan Allah kepada
mereka."
وَكُلُّ
مُتَجَرِّدٍ لِلهِ فِي جِهَادِ نَفْسِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
Setiap orang yang memurnikan diri untuk Allah dalam berjihad
melawan nafsunya, maka ia adalah seorang syahid.
مَهْمَا
أَدْرَكَهُ الْمَوْتُ مُقْبِلًا غَيْرَ مُدْبِرٍ
Selama kematian menjemputnya dalam keadaan maju (dalam
perjuangan) bukan mundur.
فَالْمُجَاهِدُ
مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ وَهَوَاهُ
Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi nafsu dan
hawa nafsunya.
كَمَا
صَرَّحَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam.
وَالْجِهَادُ
الْأَكْبَرُ جِهَادُ النَّفْسِ
Dan jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu.
كَمَا
قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ
الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ
Sebagaimana dikatakan oleh sebagian sahabat radhiyallahu
'anhum, "Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih
besar."
يَعْنُونَ
جِهَادَ النَّفْسِ
Yang mereka maksud adalah jihad melawan hawa nafsu.
تَمَّ
كِتَابُ الْعُزْلَةِ
Selesai Kitab Al-'Uzlah (Tentang Mengasingkan Diri).
وَيَتْلُوهُ
كِتَابُ آدَابِ السَّفَرِ
Dan akan dilanjutkan dengan Kitab Adab As-Safar (Adab
Bepergian).
وَالْحَمْدُ
لِلهِ وَحْدَهُ
Segala puji bagi Allah semata.