Manfaat Bergaul dan Bermasyarakat (1)

الْفَائِدَةُ الْأُولَى التَّعْلِيمُ وَالتَّعَلُّمُ

Faidah Pertama: Mengajar dan Belajar.

وَقَدْ ذَكَرْنَا فَضْلَهُمَا فِي كِتَابِ الْعِلْمِ

Kami telah menyebutkan keutamaan keduanya dalam Kitab Ilmu.

وَهُمَا أَعْظَمُ الْعِبَادَاتِ فِي الدُّنْيَا

Mengajar dan belajar adalah ibadah yang paling agung di dunia.

وَلَا يُتَصَوَّرُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْمُخَالَطَةِ

Hal itu tidak dapat terwujud kecuali dengan berinteraksi sosial.

إِلَّا أَنَّ الْعُلُومَ كَثِيرَةٌ وَعَنْ بَعْضِهَا مَنْدُوحَةٌ وَبَعْضُهَا ضَرُورِيٌّ فِي الدُّنْيَا

Akan tetapi, ilmu itu banyak jumlahnya, sebagiannya tidak harus dipelajari, dan sebagian lainnya bersifat darurat (wajib) di dunia.

فَالْمُحْتَاجُ إِلَى التَّعَلُّمِ لِمَا هُوَ فَرْضٌ عَلَيْهِ عَاصٍ بِالْعُزْلَةِ

Maka, orang yang butuh mempelajari ilmu yang fardu atasnya, ia akan menjadi pendosa jika memilih uzlah (mengasingkan diri).

وَإِنْ تَعَلَّمَ الْفَرْضَ وَكَانَ لَا يَتَأَتَّى مِنْهُ الْخَوْضُ فِي الْعُلُومِ وَرَأَى الْإِشْتِغَالَ بِالْعِبَادَةِ فَلْيَعْتَزِلْ

Jika ia telah mempelajari ilmu yang fardu, namun tidak mampu mendalami ilmu-ilmu lainnya dan memandang lebih baik menyibukkan diri dengan ibadah, maka hendaklah ia mengasingkan diri.

وَإِنْ كَانَ يَقْدِرُ عَلَى التَّبَرُّزِ فِي عُلُومِ الشَّرْعِ وَالْعَقْلِ فَالْعُزْلَةُ فِي حَقِّهِ قَبْلَ التَّعَلُّمِ غَايَةُ الْخُسْرَانِ

Namun, jika ia mampu untuk menjadi ahli dalam ilmu-ilmu syariat dan akal, maka uzlah baginya sebelum belajar adalah puncak kerugian.

وَلِهَذَا قَالَ النَّخَعِيُّ وَغَيْرُهُ تَفَقَّهْ ثُمَّ اعْتَزِلْ

Oleh karena itu, An-Nakha'i dan yang lainnya berkata, "Pahamilah ilmu agama terlebih dahulu, kemudian mengasingkan dirilah."

فَمَنِ اعْتَزَلَ قَبْلَ التَّعَلُّمِ فَهُوَ فِي الْأَكْثَرِ مُضَيِّعٌ أَوْقَاتَهُ بِنَوْمٍ أَوْ فِكْرٍ فِي هَوَسٍ

Barangsiapa mengasingkan diri sebelum belajar, maka pada umumnya ia hanya akan menyia-nyiakan waktunya dengan tidur atau dengan pikiran-pikiran kosong.

وَغَايَتُهُ أَنْ يَسْتَغْرِقَ الْأَوْقَاتِ بِأَوْرَادٍ يَسْتَوْعِبُهَا

Puncak pencapaiannya hanyalah menghabiskan waktu dengan wirid-wirid yang ia tekuni.

وَلَا يَنْفَكُّ فِي أَعْمَالِهِ بِالْبَدَنِ وَالْقَلْبِ عَنْ أَنْوَاعٍ مِنَ الْغُرُورِ يُخَيِّبُ سَعْهُ وَيُبْطِلُ عَمَلَهُ بِحَيْثُ لَا يَدْرِي

Dalam amalan-amalan jasmani dan hatinya, ia tidak akan terlepas dari berbagai macam tipu daya (kesombongan) yang akan mengecewakan usahanya dan membatalkan amalnya, sementara ia tidak menyadarinya.

وَلَا يَنْفَكُّ اعْتِقَادُهُ فِي اللهِ وَصِفَاتِهِ عَنْ أَوْهَامٍ يَتَوَهَّمُهَا وَيَأْنَسُ بِهَا وَعَنْ خَوَاطِرَ فَاسِدَةٍ تَعْتَرِيهِ فِيهَا

Keyakinannya tentang Allah dan sifat-sifat-Nya pun tidak akan lepas dari ilusi-ilusi yang ia bayangkan dan ia merasa nyaman dengannya, juga dari bisikan-bisikan rusak yang mendatanginya.

فَيَكُونُ فِي أَكْثَرِ أَحْوَالِهِ ضُحْكَةٌ لِلشَّيْطَانِ

Sehingga, dalam sebagian besar keadaannya, ia menjadi bahan tertawaan bagi setan.

وَهُوَ يَرَى نَفْسَهُ مِنَ الْعُبَّادِ

Sementara ia menganggap dirinya termasuk para ahli ibadah.

فَالْعِلْمُ هُوَ أَصْلُ الدِّينِ

Ilmu adalah pokok agama.

فَلَا خَيْرَ فِي عُزْلَةِ الْعَوَّامِّ وَالْجُهَّالِ

Maka, tidak ada kebaikan dalam uzlah yang dilakukan oleh orang awam dan orang-orang bodoh.

أَعْنِي مَنْ لَا يُحْسِنُ الْعِبَادَةَ فِي الْخَلْوَةِ

Maksud saya adalah mereka yang tidak tahu cara beribadah dengan baik saat menyendiri.

وَلَا يَعْرِفُ جَمِيعَ مَا يَلْزَمُ فِيهَا

Dan tidak mengetahui semua hal yang diperlukan di dalamnya.

فَمِثَالُ النَّفْسِ مِثَالُ مَرِيضٍ يَحْتَاجُ إِلَى طَبِيبٍ مُتَلَطِّفٍ يُعَالِجُهُ

Perumpamaan jiwa adalah seperti orang sakit yang membutuhkan dokter yang lembut untuk mengobatinya.

فَالْمَرِيضُ الْجَاهِلُ إِذَا خَلَا بِنَفْسِهِ عَنِ الطَّبِيبِ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ الطِّبَّ تَضَاعَفَ لَا مَحَالَةَ مَرَضُهُ

Orang sakit yang bodoh, jika ia menjauhkan diri dari dokter sebelum belajar ilmu kedokteran, niscaya penyakitnya akan semakin parah.

فَلَا تَلِيقُ الْعُزْلَةُ إِلَّا بِالْعَالِمِ

Oleh karena itu, uzlah hanya pantas bagi orang yang berilmu.

وَأَمَّا التَّعْلِيمُ فَفِيهِ ثَوَابٌ عَظِيمٌ مَهْمَا صَحَّتْ نِيَّةُ الْمُعَلِّمِ وَالْمُتَعَلِّمِ

Adapun mengajar, di dalamnya terdapat pahala yang besar selama niat guru dan muridnya benar.

وَمَهْمَا كَانَ الْقَصْدُ إِقَامَةَ الْجَاهِ وَالِاسْتِكْثَارَ بِالْأَصْحَابِ وَالْأَتْبَاعِ فَهُوَ هَلَاكُ الدِّينِ

Namun, jika tujuannya adalah untuk mendapatkan kedudukan, serta memperbanyak teman dan pengikut, maka itu adalah kehancuran bagi agama.

وَقَدْ ذَكَرْنَا وَجْهَ ذَلِكَ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ

Kami telah menjelaskan alasannya dalam Kitab Ilmu.

وَحُكْمٌ فِي الْعَالِمِ فِي هَذَا الزَّمَانِ إِنْ يَعْتَزِلْ إِنْ أَرَادَ سَلَامَةَ دِينِهِ

Ketentuan bagi seorang alim di zaman ini adalah hendaknya ia mengasingkan diri jika ingin agamanya selamat.

فَإِنَّهُ لَا يَرَى مُسْتَفِيدًا يَطْلُبُ فَائِدَةً لِدِينِهِ

Karena ia tidak akan melihat seorang murid yang mencari faedah untuk agamanya.

بَلْ لَا طَالِبَ إِلَّا لِكَلَامٍ مُزَخْرَفٍ يَسْتَمِيلُ بِهِ الْعَوَّامَّ فِي مَعْرِضِ الْوَعْظِ

Sebaliknya, yang ada hanyalah para penuntut ilmu yang mencari kata-kata indah untuk memikat orang awam dalam ceramah.

أَوْ الْجَدَلِ مُعَقَّدٍ يَتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى إِفْحَامِ الْأَقْرَانِ

Atau mencari perdebatan rumit untuk membungkam lawan.

وَيَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى السُّلْطَانِ

Dan mendekatkan diri kepada penguasa.

وَيُسْتَعْمَلُ فِي مَعْرِضِ الْمُنَافَسَةِ وَالْمُبَاهَاةِ

Dan digunakan untuk bersaing dan berbangga-bangga.

وَأَقْرَبُ عِلْمٍ مَرْغُوبٍ فِيهِ الْمَذْهَبُ

Ilmu yang paling diminati adalah ilmu mazhab.

وَلَا يُطْلَبُ غَالِبًا إِلَّا لِلتَّوَصُّلِ إِلَى التَّقَدُّمِ عَلَى الْأَمْثَالِ وَتَوَلِّي الْوِلَايَاتِ وَاجْتِلَابِ الْأَمْوَالِ

Pada umumnya ilmu itu tidak dicari kecuali untuk mengungguli sesama, mendapatkan jabatan, dan meraup harta.

فَهَؤُلَاءِ كُلُّهُمْ يَقْتَضِي الدِّينُ وَالْحَزْمُ الْإِعْتِزَالَ عَنْهُمْ

Terhadap mereka semua, tuntutan agama dan kehati-hatian mengharuskan untuk mengasingkan diri dari mereka.

فَإِنْ صُودِفَ طَالِبٌ لِلهِ وَمُتَقَرِّبٌ بِالْعِلْمِ إِلَى اللهِ فَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الْإِعْتِزَالُ عَنْهُ وَكِتْمَانُ الْعِلْمِ مِنْهُ

Namun, jika kebetulan ditemukan seorang penuntut ilmu karena Allah dan yang ingin mendekatkan diri kepada Allah melalui ilmu, maka dosa terbesar adalah menjauhinya dan menyembunyikan ilmu darinya.

وَهَذَا لَا يُصَادَفُ فِي بَلْدَةٍ كَبِيرَةٍ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ أَوْ اثْنَيْنِ إِنْ صُودِفَ

Orang seperti ini, di kota besar sekalipun, tidak akan ditemukan lebih dari satu atau dua orang, itu pun jika kebetulan ditemukan.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَغْتَرَّ الْإِنْسَانُ بِقَوْلِ سُفْيَانَ تَعَلَّمْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَى الْعِلْمُ أَنْ يَكُونَ إِلَّا لِلهِ

Seseorang janganlah terkecoh dengan ucapan Sufyan, "Kami menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu itu enggan kecuali hanya untuk Allah."

فَإِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَلَّمُونَ لِغَيْرِ اللهِ ثُمَّ يَرْجِعُونَ إِلَى اللهِ

(Dia berkata), "Sesungguhnya para ahli fikih belajar bukan karena Allah, kemudian mereka kembali kepada Allah."

وَانْظُرْ إِلَى أَوَاخِرِ أَعْمَارِ الْأَكْثَرِينَ مِنْهُمْ

Lihatlah akhir hayat kebanyakan dari mereka.

وَاعْتَبِرْهُمْ أَنَّهُمْ مَاتُوا وَهُمْ هَلْكَى عَلَى طَلَبِ الدُّنْيَا وَمُتَكَالِبُونَ عَلَيْهَا

Dan perhatikanlah, mereka mati dalam keadaan binasa karena mengejar dunia dan saling berebut akannya.

أَوْ رَاغِبُونَ عَنْهَا وَزَاهِدُونَ فِيهَا

Atau (sebagian lain) mereka berpaling dan zuhud darinya.

وَلَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ

Sungguh, berita tidak sama dengan menyaksikan langsung.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْعِلْمَ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ سُفْيَانُ هُوَ عِلْمُ الْحَدِيثِ وَتَفْسِيرُ الْقُرْآنِ وَمَعْرِفَةُ سِيَرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّحَابَةِ

Ketahuilah bahwa ilmu yang diisyaratkan oleh Sufyan adalah ilmu hadis, tafsir Al-Qur'an, serta pengetahuan tentang sirah para nabi dan sahabat.

فَإِنَّ فِيهَا التَّخْوِيفَ وَالتَّحْذِيرَ

Di dalam ilmu-ilmu ini terdapat peringatan dan ancaman.

وَهُوَ سَبَبٌ لِإِثَارَةِ الْخَوْفِ مِنَ اللهِ

Ia menjadi sebab bangkitnya rasa takut kepada Allah.

فَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي الْحَالِ أَثَّرَ فِي الْمَآلِ

Jika ia tidak berpengaruh seketika, ia akan berpengaruh di kemudian hari.

وَأَمَّا الْكَلَامُ وَالْفِقْهُ الْمُجَرَّدُ الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِفَتَاوَى الْمُعَامَلَاتِ وَفَصْلِ الْخُصُومَاتِ الْمَذْهَبِ مِنْهُ وَالْخِلَافِ

Adapun ilmu kalam dan fikih murni yang berkaitan dengan fatwa-fatwa muamalah dan penyelesaian sengketa, baik dalam lingkup mazhab maupun perbedaan pendapat,

لَا يَرُدُّ الرَّاغِبَ فِيهِ لِلدُّنْيَا إِلَى اللهِ

Tidak akan mengembalikan orang yang mencarinya demi dunia untuk kembali kepada Allah.

بَلْ لَا يَزَالُ مُتَمَادِيًا فِي حِرْصِهِ إِلَى آخِرِ عُمْرِهِ

Bahkan, ia akan terus-menerus dalam ketamakannya hingga akhir hayatnya.

وَلَعَلَّ مَا أَوْدَعْنَاهُ هَذَا الْكِتَابَ إِنْ تَعَلَّمَهُ الْمُتَعَلِّمُ رَغْبَةً فِي الدُّنْيَا فَيَجُوزُ أَنْ يُرَخَّصَ فِيهِ

Boleh jadi, apa yang kami tuangkan dalam kitab ini, jika dipelajari oleh seseorang karena keinginan duniawi, mungkin dapat diberi keringanan.

إِذْ يُرْجَى أَنْ يَنْزَجِرَ بِهِ فِي آخِرِ عُمْرِهِ

Sebab, diharapkan ia akan tercegah dari keburukan di akhir hayatnya.

فَإِنَّهُ مَشْحُونٌ بِالتَّخْوِيفِ بِاللهِ وَالتَّرْغِيبِ فِي الْآخِرَةِ وَالتَّحْذِيرِ مِنَ الدُّنْيَا

Kitab ini penuh dengan peringatan tentang Allah, dorongan untuk akhirat, dan ancaman dari dunia.

وَذَلِكَ مِمَّا يُصَادَفُ فِي الْأَحَادِيثِ وَتَفْسِيرِ الْقُرْآنِ

Hal ini adalah sesuatu yang ditemukan dalam hadis dan tafsir Al-Qur'an.

وَلَا يُصَادَفُ فِي كَلَامٍ وَلَا فِي خِلَافٍ وَلَا فِي مَذْهَبٍ

Namun tidak ditemukan dalam ilmu kalam, ilmu khilaf (perbedaan pendapat), maupun ilmu mazhab.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُخَادِعَ الْإِنْسَانُ نَفْسَهُ

Maka, janganlah seseorang menipu dirinya sendiri.

فَإِنَّ الْمُقَصِّرَ الْعَالِمَ بِتَقْصِيرِهِ أَسْعَدُ حَالًا مِنَ الْجَاهِلِ الْمَغْرُورِ أَوِ الْمُتَجَاهِلِ الْمَغْبُونِ

Orang yang lalai namun menyadari kelalaiannya lebih baik keadaannya daripada orang bodoh yang tertipu atau orang yang pura-pura bodoh yang merugi.

وَكُلُّ عَالِمٍ اشْتَدَّ حِرْصُهُ عَلَى التَّعْلِيمِ يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ غَرَضُهُ الْقَبُولَ وَالْجَاهَ

Setiap orang alim yang sangat bersemangat dalam mengajar, hampir dapat dipastikan tujuannya adalah penerimaan dan kedudukan.

وَحَظُّهُ تَلَذُّذُ النَّفْسِ فِي الْحَالِ بِاسْتِشْعَارِ الْإِدْلَالِ عَلَى الْجُهَّالِ وَالتَّكَبُّرِ عَلَيْهِمْ

Keuntungannya adalah kenikmatan jiwa saat itu juga karena merasa lebih unggul dari orang-orang bodoh dan bersikap sombong kepada mereka.

فَآفَةُ الْعِلْمِ الْخُيَلَاءُ

Maka, penyakit ilmu adalah kesombongan.

كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

وَلِذَلِكَ حُكِيَ عَنْ بِشْرٍ أَنَّهُ دَفَنَ سَبْعَةَ عَشَرَ قِمَطْرًا مِنْ كُتُبِ الْأَحَادِيثِ الَّتِي سَمِعَهَا

Oleh karena itu, diriwayatkan dari Bisyr bahwa ia mengubur tujuh belas peti berisi kitab-kitab hadis yang pernah ia dengar.

وَكَانَ لَا يُحَدِّثُ

Dan ia tidak meriwayatkannya.

وَيَقُولُ إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أُحَدِّثَ فَلِذَلِكَ لَا أُحَدِّثُ

Ia berkata, "Sesungguhnya aku berhasrat untuk meriwayatkan hadis, karena itulah aku tidak meriwayatkannya."

وَلَوِ اشْتَهَيْتُ أَنْ لَا أُحَدِّثَ لَحَدَّثْتُ

"Seandainya aku berhasrat untuk tidak meriwayatkan, niscaya aku akan meriwayatkannya."

وَلِذَلِكَ قَالَ حَدَّثَنَا بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الدُّنْيَا

Karena itulah ia berkata, "Ucapan 'telah menceritakan kepada kami' adalah salah satu pintu dunia."

وَإِذَا قَالَ الرَّجُلُ حَدَّثَنَا فَإِنَّمَا يَقُولُ أَوْسِعُوا لِي

Jika seseorang berkata 'telah menceritakan kepada kami', sesungguhnya ia sedang berkata, 'Beri jalan untukku'.

وَقَالَتْ رَابِعَةُ الْعَدَوِيَّةُ لِسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ نِعْمَ الرَّجُلُ أَنْتَ لَوْلَا رَغْبَتُكَ فِي الدُّنْيَا

Rabi'ah al-Adawiyah berkata kepada Sufyan ats-Tsauri, "Engkau adalah sebaik-baik lelaki, andai saja engkau tidak cinta dunia."

قَالَ وَفِيمَاذَا رَغِبْتُ

Sufyan bertanya, "Dalam hal apa aku cinta dunia?"

قَالَتْ فِي الْحَدِيثِ

Rabi'ah menjawab, "Dalam hal (meriwayatkan) hadis."

وَلِذَلِكَ قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ مَنْ تَزَوَّجَ أَوْ طَلَبَ الْحَدِيثَ أَوِ اشْتَغَلَ بِالسَّفَرِ فَقَدْ رَكَنَ إِلَى الدُّنْيَا

Karena itu, Abu Sulaiman ad-Darani berkata, "Barangsiapa menikah, atau mencari hadis, atau sibuk bepergian, maka ia telah condong kepada dunia."

فَهَذِهِ آفَاتٌ قَدْ نَبَّهْنَا عَلَيْهَا فِي كِتَابِ الْعِلْمِ

Inilah penyakit-penyakit yang telah kami peringatkan dalam Kitab Ilmu.

وَالْحَزْمُ الِاحْتِرَازُ بِالْعُزْلَةِ وَتَرْكُ الِاسْتِكْثَارِ مِنَ الْأَصْحَابِ مَا أَمْكَنَ

Sikap hati-hati adalah menjaga diri dengan uzlah dan meninggalkan upaya memperbanyak sahabat sebisa mungkin.

بَلِ الَّذِي يَطْلُبُ الدُّنْيَا بِتَدْرِيسِهِ وَتَعْلِيمِهِ فَالصَّوَابُ لَهُ إِنْ كَانَ غَافِلًا فِي مِثْلِ هَذَا الزَّمَانِ أَنْ يَتْرُكَهُ

Bahkan, orang yang mencari dunia dengan mengajar, yang benar baginya jika ia lalai di zaman seperti ini adalah dengan meninggalkannya.

فَلَقَدْ صَدَقَ أَبُو سُلَيْمَانَ الْخَطَّابِيُّ حَيْثُ قَالَ دَعِ الرَّاغِبِينَ فِي صُحْبَتِكَ وَالتَّعَلُّمِ مِنْكَ فَلَيْسَ لَكَ مِنْهُمْ مَالٌ وَلَا جَمَالٌ

Sungguh benar Abu Sulaiman al-Khaththabi ketika berkata, "Biarkanlah orang-orang yang menginginkan persahabatanmu dan belajar darimu, karena tidak ada harta maupun keindahan yang akan kau dapat dari mereka."

إِخْوَانُ الْعَلَانِيَةِ أَعْدَاءُ السِّرِّ

Mereka adalah teman di kala tampak, musuh di kala tersembunyi.

إِذَا لَقُوكَ تَمَلَّقُوكَ وَإِذَا غِبْتَ عَنْهُمْ سَلَقُوكَ

Jika bertemu denganmu, mereka menjilatmu. Jika engkau tidak ada, mereka mencelamu.

مَنْ أَتَاكَ مِنْهُمْ كَانَ عَلَيْكَ رَقِيبًا وَإِذَا خَرَجَ كَانَ عَلَيْكَ خَطِيبًا

Siapa pun dari mereka yang mendatangimu, ia akan menjadi mata-mata atasmu, dan jika ia pergi, ia akan menjadi penceramah yang mencelamu.

أَهْلُ نِفَاقٍ وَنَمِيمَةٍ وَغِلٍّ وَخَدِيعَةٍ

Mereka adalah ahli kemunafikan, adu domba, kedengkian, dan tipu daya.

فَلَا تَغْتَرَّ بِاجْتِمَاعِهِمْ عَلَيْكَ

Janganlah tertipu oleh perkumpulan mereka di sekelilingmu.

فَمَا غَرَضُهُمُ الْعِلْمُ بَلِ الْجَاهُ وَالْمَالُ

Tujuan mereka bukanlah ilmu, melainkan kedudukan dan harta.

وَأَنْ يَتَّخِذُوكَ سُلَّمًا إِلَى أَوْطَارِهِمْ وَأَغْرَاضِهِمْ وَحِمَارًا فِي حَاجَاتِهِمْ

Mereka menjadikamu sebagai tangga untuk mencapai keinginan dan tujuan mereka, dan sebagai keledai untuk memenuhi kebutuhan mereka.

إِنْ قَصَّرْتَ فِي غَرَضٍ مِنْ أَغْرَاضِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ أَعْدَائِكَ

Jika engkau lalai dalam memenuhi salah satu tujuan mereka, mereka akan menjadi musuhmu yang paling sengit.

ثُمَّ يَعُدُّونَ تَرَدُّدَهُمْ إِلَيْكَ دَالَّةً عَلَيْكَ

Kemudian, mereka menganggap seringnya mereka mendatangimu sebagai sebuah kebaikan darimu.

وَيَرَوْنَهُ حَقًّا وَاجِبًا لَدَيْكَ

Dan melihatnya sebagai hak yang wajib engkau tunaikan.

وَيَفْرِضُونَ عَلَيْكَ أَنْ تَبْذُلَ عِرْضَكَ وَجَاهَكَ وَدِينَكَ لَهُمْ

Mereka membebanimu untuk mengorbankan kehormatan, kedudukan, dan agamamu demi mereka.

فَتُعَادِي عَدُوَّهُمْ وَتَنْصُرُ قَرِيبَهُمْ وَخَادِمَهُمْ وَوَلِيَّهُمْ

Engkau jadi memusuhi musuh mereka, menolong kerabat, pelayan, dan wali mereka.

وَتَنْتَهِضُ لَهُمْ سَفِيهًا وَقَدْ كُنْتَ فَقِيهًا

Engkau bangkit membela mereka laksana orang bodoh padahal sebelumnya engkau adalah seorang yang faqih (ahli ilmu).

وَتَكُونُ لَهُمْ تَابِعًا خَسِيسًا بَعْدَ أَنْ كُنْتَ مَتْبُوعًا رَئِيسًا

Engkau menjadi pengikut yang hina setelah sebelumnya menjadi pemimpin yang diikuti.

وَلِذَلِكَ قِيلَ اعْتِزَالُ الْعَامَّةِ مَرْوءَةٌ تَامَّةٌ

Oleh karena itu dikatakan, "Menjauhi orang banyak adalah muruah (harga diri) yang sempurna."

فَهَذَا مَعْنَى كَلَامِهِ وَإِنْ خَالَفَ بَعْضَ أَلْفَاظِهِ وَهُوَ حَقٌّ وَصِدْقٌ

Inilah makna dari ucapannya, meskipun beberapa lafaznya berbeda. Ucapannya itu benar dan jujur.

فَإِنَّكَ تَرَى الْمُدَرِّسِينَ فِي رِقٍّ دَائِمٍ وَتَحْتَ حَقٍّ لَازِمٍ وَمِنَّةٍ ثَقِيلَةٍ مِمَّنْ يَتَرَدَّدُ إِلَيْهِمْ

Sesungguhnya engkau melihat para pengajar berada dalam perbudakan abadi, di bawah hak yang mengikat, dan utang budi yang berat dari orang-orang yang mendatanginya.

فَكَأَنَّهُ يُهْدِي تُحْفَةً إِلَيْهِمْ وَيَرَى حَقَّهُ وَاجِبًا عَلَيْهِمْ

Seolah-olah sang murid memberi hadiah kepada mereka dan menganggap haknya wajib dipenuhi oleh mereka.

وَرُبَّمَا لَا يَخْتَلِفُ إِلَيْهِ مَا لَمْ يَتَكَفَّلْ بِرِزْقٍ لَهُ عَلَى الْإِدْرَارِ

Terkadang, murid tidak akan mau belajar kepadanya kecuali jika sang guru menanggung rezekinya secara rutin.

ثُمَّ إِنَّ الْمُدَرِّسَ الْمِسْكِينَ قَدْ يَعْجِزُ عَنِ الْقِيَامِ بِذَلِكَ مِنْ مَالِهِ

Kemudian, sang guru yang malang itu mungkin tidak mampu membiayai semua itu dari hartanya sendiri.

فَلَا يَزَالُ مُتَرَدِّدًا إِلَى أَبْوَابِ السَّلَاطِينِ

Ia pun terus-menerus mendatangi pintu-pintu penguasa.

وَيُقَاسِي الذُّلَّ وَالشَّدَائِدَ مُقَاسَاةَ الذَّلِيلِ الْمُهِينِ

Menanggung kehinaan dan kesulitan layaknya orang yang hina dina.

حَتَّى يُكْتَبَ لَهُ عَلَى بَعْضِ وُجُوهِ السُّحْتِ مَالٌ حَرَامٌ

Hingga ditetapkan untuknya harta haram dari sebagian jalan yang tidak halal.

ثُمَّ لَا يَزَالُ الْعَامِلُ يَسْتَرِقُّهُ وَيَسْتَخْدِمُهُ وَيَمْتَهِنُهُ وَيَسْتَذِلُّهُ

Lalu, pejabat yang berwenang akan terus memperbudak, memanfaatkan, merendahkan, dan menghinanya.

إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ إِلَيْهِ مَا يُقَدِّرُهُ نِعْمَةً مُسْتَأْنَفَةً مِنْ عِنْدِهِ عَلَيْهِ

Sampai ia menyerahkan apa yang ia anggap sebagai nikmat baru darinya.

ثُمَّ يَبْقَى فِي مُقَاسَاةِ الْقِسْمَةِ عَلَى أَصْحَابِهِ

Kemudian, ia akan terus menanggung kesulitan dalam membagi-bagikan harta itu kepada murid-muridnya.

إِنْ سَوَّى بَيْنَهُمْ مَقَتَهُ الْمُمَيِّزُونَ وَنَسَبُوهُ إِلَى الْحُمْقِ وَقِلَّةِ التَّمْيِيزِ وَالْقُصُورِ عَنْ دَرْكِ مَصَارِفَاتِ الْفَضْلِ وَالْقِيَامِ بِمَقَادِيرِ الْحُقُوقِ بِالْعَدْلِ

Jika ia membaginya secara merata, murid-murid yang istimewa akan membencinya dan menuduhnya bodoh, kurang pandai membedakan, serta tidak mampu memahami tingkat keutamaan dan kadar hak secara adil.

وَإِنْ فَاوَتَ بَيْنَهُمْ سَلَقَهُ السُّفَهَاءُ بِأَلْسُنٍ حِدَادٍ وَثَارُوا عَلَيْهِ ثَوْرَانَ الْأَسَاوِدِ وَالْآسَادِ

Namun, jika ia membedakan pembagian di antara mereka, murid-murid yang bodoh akan mencelanya dengan lisan yang tajam dan menyerangnya seperti singa yang mengamuk.

فَلَا يَزَالُ فِي مُقَاسَاتِهِمْ فِي الدُّنْيَا

Ia akan terus menanggung penderitaan dari mereka di dunia.

وَفِي مُطَالَبَةِ مَا يَأْخُذُهُ وَيُفَرِّقُهُ عَلَيْهِمْ فِي الْعُقْبَى

Dan akan dituntut di akhirat atas apa yang ia ambil dan bagikan kepada mereka.

وَالْعَجَبُ أَنَّهُ مَعَ هَذَا الْبَلَاءِ كُلِّهِ يُمَنِّي نَفْسَهُ بِالْأَبَاطِيلِ وَيُدَلِّيهَا بِحَبْلِ الْغُرُورِ

Anehnya, dengan semua bencana ini, ia masih menghibur dirinya dengan kebatilan dan menjerumuskannya dengan tali tipu daya.

وَيَقُولُ لَهَا لَا تَفْتَرِي عَنْ صَنِيعِكِ

Ia berkata kepada dirinya, "Jangan berhenti dari perbuatanmu."

فَإِنَّمَا أَنْتِ بِمَا تَفْعَلِينَهُ مُرِيدَةٌ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى

"Karena sesungguhnya apa yang kau lakukan adalah demi mengharap wajah Allah Ta'ala."

وَمُذِيعَةٌ شَرْعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Menyiarkan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

وَنَاشِرَةٌ عِلْمَ دِينِ اللهِ

"Menyebarkan ilmu agama Allah."

وَقَائِمَةٌ بِكِفَايَةِ طُلَّابِ الْعِلْمِ مِنْ عِبَادِ اللهِ

"Dan memenuhi kebutuhan para penuntut ilmu dari hamba-hamba Allah."

وَأَمْوَالُ السَّلَاطِينِ لَا مَالِكَ لَهَا وَهِيَ مُرْصَدَةٌ لِلْمَصَالِحِ

"Harta para penguasa tidak ada pemiliknya dan diperuntukkan bagi kemaslahatan."

وَأَيُّ مَصْلَحَةٍ أَكْبَرُ مِنْ تَكْثِيرِ أَهْلِ الْعِلْمِ

"Kemaslahatan apa yang lebih besar daripada memperbanyak ahli ilmu?"

فَبِهِمْ يَظْهَرُ الدِّينُ وَيَتَقَوَّى أَهْلُهُ

"Dengan merekalah agama akan tampak jaya dan para pemeluknya akan menjadi kuat."

وَلَوْ لَمْ يَكُنْ ضُحْكَةً لِلشَّيْطَانِ لَعَلِمَ بِأَدْنَى تَأَمُّلٍ أَنَّ فَسَادَ الزَّمَانِ لَا سَبَبَ لَهُ إِلَّا كَثْرَةُ أَمْثَالِ أُولَئِكَ الْفُقَهَاءِ

Seandainya ia bukan bahan tertawaan setan, niscaya dengan sedikit perenungan ia akan tahu bahwa kerusakan zaman tidak lain disebabkan oleh banyaknya ahli fikih semacam itu.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ مَا يَجِدُونَ وَلَا يُمَيِّزُونَ بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ

Mereka memakan apa saja yang mereka temukan tanpa membedakan antara yang halal dan haram.

فَتَلْحَظُهُمْ أَعْيُنُ الْجُهَّالِ

Mata orang-orang awam pun memperhatikan mereka.

وَيَسْتَجْرِئُونَ عَلَى الْمَعَاصِي بِاسْتِجْرَائِهِمْ اقْتِدَاءً بِهِمْ وَاقْتِفَاءً لِآثَارِهِمْ

Dan mereka menjadi berani berbuat maksiat karena keberanian para ahli fikih itu, dengan meneladani dan mengikuti jejak mereka.

وَلِذَلِكَ قِيلَ مَا فَسَدَتِ الرَّعِيَّةُ إِلَّا بِفَسَادِ الْمُلُوكِ

Oleh karena itu dikatakan, "Rakyat tidak akan rusak kecuali karena rusaknya para penguasa."

وَمَا فَسَدَتِ الْمُلُوكُ إِلَّا بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ

"Dan para penguasa tidak akan rusak kecuali karena rusaknya para ulama."

فَنَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الْغُرُورِ وَالْعَمَى

Maka kami berlindung kepada Allah dari tipu daya dan kebutaan (hati).

فَإِنَّهُ الدَّاءُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ دَوَاءٌ

Karena sesungguhnya itu adalah penyakit yang tiada obatnya.

**Faidah Kedua: Memberi dan Menerima Manfaat**

الْفَائِدَةُ الثَّانِيَةُ النَّفْعُ وَالْإِنْتِفَاعُ

Faidah Kedua: Memberi dan Menerima Manfaat.

أَمَّا الْإِنْتِفَاعُ بِالنَّاسِ فَبِالْكَسْبِ وَالْمُعَامَلَةِ

Adapun menerima manfaat dari orang lain adalah dengan bekerja dan bermuamalah.

وَذَلِكَ لَا يَتَأَتَّى إِلَّا بِالْمُخَالَطَةِ

Hal itu tidak dapat terlaksana kecuali dengan berinteraksi sosial.

وَالْمُحْتَاجُ إِلَيْهِ مُضْطَرٌّ إِلَى تَرْكِ الْعُزْلَةِ

Orang yang membutuhkannya terpaksa harus meninggalkan uzlah.

فَيَقَعُ فِي جِهَادٍ مِنَ الْمُخَالَطَةِ إِنْ طَلَبَ مُوَافَقَةَ الشَّرْعِ فِيهِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي كِتَابِ الْكَسْبِ

Ia akan berada dalam jihad saat berinteraksi jika ia berusaha untuk tetap sesuai dengan syariat, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Kitab tentang Bekerja.

فَإِنْ كَانَ مَعَهُ مَالٌ لَوِ اكْتَفَى بِهِ قَانِعًا لَأَقْنَعَهُ فَالْعُزْلَةُ أَفْضَلُ لَهُ

Jika ia memiliki harta yang cukup jika ia mau merasa puas dengannya, maka uzlah lebih baik baginya.

إِذَا انْسَدَّتْ طُرُقُ الْمَكَاسِبِ فِي الْأَكْثَرِ إِلَى مِنَ الْمَعَاصِي

Terutama jika jalan-jalan mencari rezeki kebanyakan telah tertutup dari perbuatan maksiat.

إِلَّا أَنْ يَكُونَ غَرَضُهُ الْكَسْبَ لِلصَّدَقَةِ

Kecuali jika tujuannya bekerja adalah untuk bersedekah.

فَإِذَا اكْتَسَبَ مِنْ وَجْهِهِ وَتَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْعُزْلَةِ لِلِاشْتِغَالِ بِالنَّافِلَةِ

Jika ia bekerja dengan cara yang benar lalu menyedekahkannya, maka itu lebih utama daripada uzlah untuk menyibukkan diri dengan ibadah sunah.

وَلَيْسَ بِأَفْضَلَ مِنَ الْعُزْلَةِ لِلِاشْتِغَالِ بِالتَّحَقُّقِ فِي مَعْرِفَةِ اللهِ وَمَعْرِفَةِ عُلُومِ الشَّرْعِ

Namun, itu tidak lebih utama daripada uzlah untuk mendalami makrifatullah dan ilmu-ilmu syariat.

وَلَا مِنَ الْإِقْبَالِ بِكُنْهِ الْهِمَّةِ عَلَى اللهِ تَعَالَى وَالتَّجَرُّدِ بِهَا لِذِكْرِ اللهِ

Juga tidak lebih utama dari menghadapkan diri dengan segenap kesungguhan kepada Allah Ta'ala dan memurnikan diri untuk berzikir kepada-Nya.

أَعْنِي مَنْ حَصَلَ لَهُ أُنْسٌ بِمُنَاجَاةِ اللهِ عَنْ كَشْفٍ وَبَصِيرَةٍ لَا عَنْ أَوْهَامٍ وَخَيَالَاتٍ فَاسِدَةٍ

Maksud saya adalah orang yang telah merasakan ketenangan dalam bermunajat kepada Allah berdasarkan kasyaf (penyingkapan tabir) dan basirah (mata hati), bukan berdasarkan ilusi dan khayalan yang rusak.

وَأَمَّا النَّفْعُ فَهُوَ أَنْ يَنْفَعَ النَّاسَ إِمَّا بِمَالِهِ أَوْ بِبَدَنِهِ

Adapun memberi manfaat adalah dengan memberikan manfaat kepada orang lain, baik dengan harta maupun dengan tenaganya.

فَيَقُومُ بِحَاجَاتِهِمْ عَلَى سَبِيلِ الْحِسْبَةِ

Yaitu dengan memenuhi kebutuhan mereka semata-mata karena mengharap pahala Allah.

فَفِي النُّهُوضِ بِقَضَاءِ حَوَائِجِ الْمُسْلِمِينَ ثَوَابٌ

Dalam upaya memenuhi kebutuhan kaum muslimin terdapat pahala.

وَذَلِكَ لَا يُنَالُ إِلَّا بِالْمُخَالَطَةِ

Dan hal itu tidak dapat dicapai kecuali dengan berinteraksi sosial.

وَمَنْ قَدَرَ عَلَيْهَا مَعَ الْقِيَامِ بِحُدُودِ الشَّرْعِ فَهِيَ أَفْضَلُ لَهُ مِنَ الْعُزْلَةِ

Barangsiapa mampu melakukannya sambil tetap menjaga batasan-batasan syariat, maka hal itu lebih utama baginya daripada uzlah.

إِنْ كَانَ لَا يَشْتَغِلُ فِي عُزْلَتِهِ إِلَّا بِنَوَافِلِ الصَّلَوَاتِ وَالْأَعْمَالِ الْبَدَنِيَّةِ

Jika dalam uzlahnya ia hanya sibuk dengan salat-salat sunah dan amalan-amalan fisik.

وَإِنْ كَانَ مِمَّنِ انْفَتَحَ لَهُ طَرِيقُ الْعَمَلِ بِالْقَلْبِ بِدَوَامِ ذِكْرٍ أَوْ فِكْرٍ

Namun, jika ia termasuk orang yang telah terbuka baginya jalan amalan hati melalui zikir atau tafakur yang terus-menerus,

فَذَلِكَ لَا يَعْدِلُ بِهِ غَيْرُهُ أَلْبَتَّةَ

maka hal itu sama sekali tidak ada yang dapat menandinginya.

**Faidah Ketiga: Mendidik dan Terdidik**

الْفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ التَّأْدِيبُ وَالتَّأَدُّبِ

Faidah Ketiga: Mendidik dan Terdidik.

وَنَعْنِي بِهِ الِارْتِيَاضَ بِمُقَاسَاةِ النَّاسِ

Yang kami maksud adalah melatih diri dengan menghadapi berbagai macam karakter manusia.

وَالْمُجَاهَدَةِ فِي تَحَمُّلِ أَذَاهُمْ

Dan berjuang menahan gangguan dari mereka.

كَسْرًا لِلنَّفْسِ وَقَهْرًا لِلشَّهَوَاتِ

Untuk mematahkan ego dan menundukkan hawa nafsu.

وَهِيَ مِنَ الْفَوَائِدِ الَّتِي تُسْتَفَادُ بِالْمُخَالَطَةِ

Ini adalah salah satu faedah yang didapat dari berinteraksi sosial.

وَهِيَ أَفْضَلُ مِنَ الْعُزْلَةِ فِي حَقِّ مَنْ لَمْ تَتَهَذَّبْ أَخْلَاقُهُ وَلَمْ تُذْعِنْ لِحُدُودِ الشَّرْعِ شَهَوَاتُهُ

Ia lebih utama daripada uzlah bagi orang yang akhlaknya belum terdidik dan hawa nafsunya belum tunduk pada batasan syariat.

وَلِهَذَا انْتُدِبَ خُدَّامُ الصُّوفِيَّةِ فِي الرِّبَاطَاتِ

Karena inilah para pelayan kaum sufi di pondok-pondok mereka ditugaskan.

فَيُخَالِطُونَ النَّاسَ بِخِدْمَتِهِمْ

Mereka berinteraksi dengan orang-orang melalui pelayanan mereka.

وَأَهْلَ السُّوقِ لِلسُّؤَالِ مِنْهُمْ كِبْرًا لِرَعُونَةِ النَّفْسِ

Dan berinteraksi dengan para pedagang di pasar dengan meminta-minta kepada mereka untuk mematahkan keangkuhan jiwa.

وَاسْتِمْدَادًا مِنْ بَرَكَةِ دُعَاءِ الصُّوفِيَّةِ الْمُنْصَرِفِينَ بِهِمَمِهِمْ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ

Serta mencari berkah dari doa para sufi yang memusatkan seluruh perhatian mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَكَانَ هَذَا هُوَ الْمَبْدَأُ فِي الْأَعْصَارِ الْخَالِيَةِ

Inilah prinsip pada masa lalu.

وَالْآنَ قَدْ خَالَطَتْهُ الْأَغْرَاضُ الْفَاسِدَةُ وَمَالَ ذَلِكَ عَنِ الْقَانُونِ كَمَا مَالَتْ سَائِرُ شَعَائِرِ الدِّينِ

Namun sekarang, ia telah dicampuri oleh tujuan-tujuan yang rusak dan telah menyimpang dari aturannya, sebagaimana syiar-syiar agama lainnya juga telah menyimpang.

فَصَارَ يُطْلَبُ مِنَ التَّوَاضُعِ بِالْخِدْمَةِ التَّكْثِيرُ بِالِاسْتِتْبَاعِ

Tawaduk melalui pelayanan kini bertujuan untuk memperbanyak pengikut.

وَالتَّذَرُّعُ إِلَى جَمْعِ الْمَالِ وَالِاسْتِظْهَارُ بِكَثْرَةِ الْأَتْبَاعِ

Sebagai dalih untuk mengumpulkan harta, dan untuk unjuk kekuatan dengan banyaknya pengikut.

فَإِنْ كَانَتِ النِّيَّةُ هَذِهِ فَالْعُزْلَةُ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ وَلَوْ إِلَى الْقَبْرِ

Jika niatnya demikian, maka uzlah lebih baik daripada itu, meskipun sampai mati.

وَإِنْ كَانَتِ النِّيَّةُ رِيَاضَةَ النَّفْسِ فَهِيَ خَيْرٌ مِنَ الْعُزْلَةِ فِي حَقِّ الْمُحْتَاجِ إِلَى الرِّيَاضَةِ

Namun, jika niatnya adalah melatih jiwa (riyadhah), maka itu lebih baik daripada uzlah bagi orang yang membutuhkannya.

وَذَلِكَ مِمَّا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي بِدَايَةِ الْإِرَادَةِ

Ini adalah sesuatu yang dibutuhkan di awal perjalanan spiritual (iradah).

فَبَعْدَ حُصُولِ الِارْتِيَاضِ يَنْبَغِي أَنْ يُفْهَمَ أَنَّ الدَّابَّةَ لَا يُطْلَبُ مِنْ رِيَاضَتِهَا عَيْنُ رِيَاضَتِهَا

Setelah jiwa terlatih, harus dipahami bahwa tujuan melatih hewan tunggangan bukanlah latihannya itu sendiri.

بَلِ الْمُرَادُ مِنْهَا أَنْ تُتَّخَذَ مَرْكَبًا يُقْطَعُ بِهِ الْمَرَاحِلُ وَيُطْوَى عَلَى ظَهْرِهِ الطَّرِيقُ

Melainkan agar ia bisa dijadikan kendaraan untuk menempuh perjalanan jauh.

وَالْبَدَنُ مَطِيَّةٌ لِلْقَلْبِ يَرْكَبُهَا لِيَسْلُكَ بِهَا طَرِيقَ الْآخِرَةِ

Badan adalah tunggangan bagi hati, yang dinaikinya untuk menempuh jalan menuju akhirat.

وَفِيهَا شَهَوَاتٌ إِنْ لَمْ يَكْسِرْهَا جَمَحَتْ بِهِ فِي الطَّرِيقِ

Di dalam badan terdapat hawa nafsu yang jika tidak dipatahkan, ia akan memberontak di tengah jalan.

فَمَنِ اشْتَغَلَ طُولَ الْعُمْرِ بِالرِّيَاضَةِ كَانَ كَمَنِ اشْتَغَلَ طُولَ عُمْرِ الدَّابَّةِ بِرِيَاضَتِهَا وَلَمْ يَرْكَبْهَا

Barangsiapa menyibukkan diri sepanjang hidupnya dengan riyadhah, ia seperti orang yang seumur hidup hewannya sibuk melatihnya tanpa pernah menungganginya.

فَلَا يَسْتَفِيدُ مِنْهَا إِلَّا الْخَلَاصَ فِي الْحَالِ فِي عَضِّهَا وَرَفْسِهَا وَرَمْحِهَا

Ia tidak mendapat manfaat darinya kecuali terbebas dari gigitan, tendangan, dan serudukannya.

وَهِيَ لَعَمْرِي فَائِدَةٌ مَقْصُودَةٌ وَلَكِنَّ مِثْلَهَا حَاصِلٌ فِي الْبَهِيمَةِ الْمَيِّتَةِ

Demi usiaku, ini adalah faedah yang dicari, tetapi faedah serupa juga didapat dari hewan yang sudah mati.

وَإِنَّمَا تُرَدُّ الدَّابَّةُ لِفَائِدَةٍ تُحْصَلُ مِنْ حَيَاتِهَا

Hewan tunggangan diinginkan karena manfaat yang bisa didapat selama ia hidup.

فَكَذَلِكَ الْخَلَاصُ مِنْ أَلَمِ الشَّهَوَاتِ فِي الْحَالِ يَحْصُلُ بِالنَّوْمِ وَالْمَوْتِ

Demikian pula, kebebasan dari penderitaan hawa nafsu saat ini bisa didapat dengan tidur dan mati.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَقْنَعَ بِهِ كَالرَّاهِبِ الَّذِي قِيلَ لَهُ يَا رَاهِبُ فَقَالَ مَا أَنَا رَاهِبٌ

Seseorang tidak boleh merasa puas dengan itu, seperti rahib yang ketika dipanggil, "Wahai rahib," ia menjawab, "Aku bukan rahib."

إِنَّمَا أَنَا كَلْبٌ عَقُورٌ حَبَسْتُ نَفْسِي حَتَّى لَا أَعْقُرَ النَّاسَ

"Aku hanyalah anjing galak yang aku kurung agar tidak menggigit orang lain."

وَهَذَا حَسَنٌ بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَنْ يَعْقُرُ النَّاسَ

Ini baik jika dibandingkan dengan orang yang benar-benar menyakiti orang lain.

وَلَكِنْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَيْهِ

Tetapi tidak seharusnya berhenti di situ.

فَإِنَّ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ أَيْضًا لَمْ يَعْقُرِ النَّاسَ

Karena orang yang bunuh diri pun tidak akan menyakiti orang lain.

بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَشَوَّفَ إِلَى الْغَايَةِ الْمَقْصُودَةِ بِهَا

Sebaliknya, ia harus mendambakan tujuan akhir yang lebih tinggi.

وَمَنْ فَهِمَ ذَلِكَ وَاهْتَدَى إِلَى الطَّرِيقِ وَقَدَرَ عَلَى السُّلُوكِ اسْتَبَانَ لَهُ أَنَّ الْعُزْلَةَ أَعْوَنُ لَهُ مِنَ الْمُخَالَطَةِ

Barangsiapa memahami hal ini, mendapat petunjuk ke jalan yang benar, dan mampu menempuhnya, maka akan menjadi jelas baginya bahwa uzlah lebih membantunya daripada berinteraksi sosial.

فَأَفْضَلُ لِمِثْلِ هَذَا الشَّخْصِ الْمُخَالَطَةُ أَوَّلًا وَالْعُزْلَةُ آخِرًا

Maka yang terbaik bagi orang seperti ini adalah berinteraksi sosial di awal, dan uzlah di akhir.

وَأَمَّا التَّأْدِيبُ فَإِنَّمَا نَعْنِي بِهِ أَنْ يُرَوِّضَ غَيْرَهُ

Adapun "mendidik" (at-ta'dib), yang kami maksud adalah ia melatih orang lain.

وَهُوَ حَالُ شَيْخِ الصُّوفِيَّةِ مَعَهُمْ

Inilah kondisi seorang syekh sufi bersama murid-muridnya.

فَإِنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى تَهْذِيبِهِمْ إِلَّا بِمُخَالَطَتِهِمْ

Ia tidak akan mampu mendidik mereka kecuali dengan berinteraksi dengan mereka.

وَحَالُهُ حَالُ الْمُعَلِّمِ وَحُكْمُهُ

Kondisinya sama dengan kondisi dan hukum seorang guru.

وَيَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ مِنْ دَقَائِقِ الْآفَاتِ وَالرِّيَاءِ مَا يَتَطَرَّقُ إِلَى نَشْرِ الْعِلْمِ

Ia juga bisa dihinggapi penyakit-penyakit halus dan riya sebagaimana yang terjadi pada penyebar ilmu.

إِلَّا أَنْ مَخَايِلَ طَلَبِ الدُّنْيَا مِنَ الْمُرِيدِينَ الطَّالِبِينَ لِلِارْتِيَاضِ أَبْعَدُ مِنْهَا مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ

Hanya saja, tanda-tanda mencari dunia pada para murid yang mencari riyadhah lebih jauh kemungkinannya daripada pada para penuntut ilmu biasa.

وَلِذَلِكَ يُرَى فِيهِمْ قِلَّةٌ وَفِي طَلَبَةِ الْعِلْمِ كَثْرَةٌ

Oleh karena itu, jumlah mereka terlihat sedikit, sedangkan jumlah penuntut ilmu sangat banyak.

فَيَنْبَغِي أَنْ يَقِيسَ مَا تَيَسَّرَ لَهُ مِنَ الْخَلْوَةِ بِمَا تَيَسَّرَ لَهُ مِنَ الْمُخَالَطَةِ وَتَهْذِيبِ الْقَوْمِ

Maka, hendaklah ia menimbang antara kesempatan menyendiri yang ia miliki dengan kesempatan berinteraksi dan mendidik orang lain.

وَلْيُقَابِلْ أَحَدَهُمَا بِالْآخَرِ وَلْيُؤْثِرِ الْأَفْضَلَ

Hendaklah ia membandingkan keduanya dan memilih yang lebih utama.

وَذَلِكَ يُدْرَكُ بِدَقِيقِ الِاجْتِهَادِ وَيَخْتَلِفُ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ

Hal ini hanya dapat diketahui dengan ijtihad yang mendalam, dan berbeda-beda tergantung kondisi dan individu.

فَلَا يُمْكِنُ الْحُكْمُ عَلَيْهِ مُطْلَقًا بِنَفْيٍ وَلَا إِثْبَاتٍ

Tidak mungkin untuk memberikan hukum mutlak, baik meniadakan maupun menetapkannya.

**Faidah Keempat: Mencari dan Memberi Ketenangan**

الْفَائِدَةُ الرَّابِعَةُ الِاسْتِئْنَاسُ وَالْإِينَاسُ

Faidah Keempat: Mencari dan Memberi Ketenangan.

وَهُوَ غَرَضُ مَنْ يَحْضُرُ الْوَلَائِمَ وَالدَّعَوَاتِ وَمَوَاضِعَ الْمُعَاشَرَةِ وَالْأُنْسِ

Inilah tujuan orang yang menghadiri perjamuan, undangan, serta tempat-tempat pergaulan dan keakraban.

وَهَذَا يَرْجِعُ إِلَى حَظِّ النَّفْسِ فِي الْحَالِ

Hal ini kembali pada kenikmatan jiwa saat itu.

وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ عَلَى وَجْهٍ حَرَامٍ بِمُؤَانَسَةِ مَنْ لَا تَجُوزُ مُؤَانَسَتُهُ

Hal ini bisa jadi bersifat haram, yaitu dengan mencari ketenangan dari orang yang tidak boleh dijadikan teman akrab.

أَوْ عَلَى وَجْهٍ مُبَاحٍ

Atau bisa jadi bersifat mubah.

وَقَدْ يُسْتَحَبُّ ذَلِكَ الْأَمْرُ الدِّينُ

Bahkan hal ini bisa dianjurkan dalam urusan agama.

وَذَلِكَ فِيمَنْ تُسْتَأْنَسُ بِمُشَاهَدَةِ أَحْوَالِهِ وَأَقْوَالِهِ فِي الدِّينِ

Yaitu pada orang yang kita bisa merasa tenang dengan menyaksikan keadaan dan ucapan-ucapannya dalam agama.

كَالْأُنْسِ بِالْمَشَايِخِ الْمُلَازِمِينَ لِسَمْتِ التَّقْوَى

Seperti merasa tenang bersama para syekh yang senantiasa menjaga jalan ketakwaan.

وَقَدْ يَتَعَلَّقُ بِحَظِّ النَّفْسِ وَيُسْتَحَبُّ إِذَا كَانَ الْغَرَضُ مِنْهُ تَرْوِيحَ الْقَلْبِ لِتَهْيِيجِ دَوَاعِي النَّشَاطِ فِي الْعِبَادَةِ

Terkadang hal ini berkaitan dengan kesenangan jiwa dan dianjurkan jika tujuannya adalah untuk menyegarkan hati agar membangkitkan kembali semangat dalam beribadah.

فَإِنَّ الْقُلُوبَ إِذَا أُكْرِهَتْ عَمِيَتْ

Sesungguhnya hati, jika dipaksa, akan menjadi buta.

وَمَهْمَا كَانَ فِي الْوَحْدَةِ وَحْشَةٌ وَفِي الْمُجَالَسَةِ أُنْسٌ يُرَوِّحُ الْقَلْبَ فَهِيَ أَوْلَى

Selama dalam kesendirian ada rasa kesepian dan dalam pergaulan ada ketenangan yang menyegarkan hati, maka pergaulan lebih utama.

إِذِ الرِّفْقُ فِي الْعِبَادَةِ مِنْ حَزْمِ الْعِبَادَةِ

Sebab, bersikap lembut dalam ibadah adalah bagian dari keteguhan dalam beribadah.

وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا

Karena itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian yang bosan."

وَهَذَا أَمْرٌ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ

Ini adalah perkara yang tidak bisa diabaikan.

فَإِنَّ النَّفْسَ لَا تَأْلَفُ الْحَقَّ عَلَى الدَّوَامِ مَا لَمْ تُرَوَّحْ

Jiwa tidak akan terus-menerus akrab dengan kebenaran jika tidak disegarkan.

وَفِي تَكْلِيفِهَا الْمُلَازَمَةَ دَاعِيَةٌ لِلْفَتْرَةِ

Memaksanya untuk terus-menerus (dalam ibadah) akan mengundang kelesuan.

وَهَذَا عُنِيَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا الدِّينَ مَتِينٌ فَأَوْغِلْ فِيهِ بِرِفْقٍ

Inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya agama ini kokoh, maka masukilah ia dengan lembut."

وَالْإِيغَالُ فِيهِ بِرِفْقٍ دَأْبُ الْمُسْتَبْصِرِينَ

Memasukinya dengan lembut adalah kebiasaan orang-orang yang memiliki basirah (mata hati).

وَلِذَلِكَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَوْلَا مَخَافَةُ الْوَسْوَاسِ لَمْ أُجَالِسِ النَّاسَ

Karena itu, Ibnu Abbas berkata, "Kalau bukan karena takut waswas, aku tidak akan bergaul dengan manusia."

وَقَالَ مَرَّةً لَدَخَلْتُ بِلَادًا لَا أَنِيسَ بِهَا

Di lain waktu ia berkata, "Aku akan masuk ke negeri yang tidak ada teman di sana."

وَهَلْ يُفْسِدُ النَّاسَ إِلَّا النَّاسُ

Bukankah yang merusak manusia adalah manusia itu sendiri?

فَلَا يَسْتَغْنِي الْمُعْتَزِلُ إِذًا عَنْ رَفِيقٍ يَسْتَأْنِسُ بِمُشَاهَدَتِهِ وَمُحَادَثَتِهِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ سَاعَةً

Oleh karena itu, orang yang mengasingkan diri pun tetap membutuhkan seorang teman untuk menemaninya melihat dan berbincang selama sesaat dalam sehari semalam.

فَلْيَجْتَهِدْ فِي طَلَبِ مَنْ لَا يُفْسِدُ عَلَيْهِ فِي سَاعَتِهِ تِلْكَ سَائِرَ سَاعَاتِهِ

Hendaklah ia bersungguh-sungguh mencari teman yang tidak akan merusak sisa waktunya karena waktu sesaat itu.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Sungguh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat."

وَلْيَحْرِصْ أَنْ يَكُونَ حَدِيثُهُ عِنْدَ اللِّقَاءِ فِي أُمُورِ الدِّينِ

Hendaklah ia bersemangat agar perbincangannya saat bertemu adalah tentang urusan agama.

وَحِكَايَةِ أَحْوَالِ الْقَلْبِ وَشَكْوَاهُ وَقُصُورِهِ عَنِ الثَّبَاتِ عَلَى الْحَقِّ وَالِاهْتِدَاءِ إِلَى الرُّشْدِ

Menceritakan keadaan hati, keluhannya, serta kekurangannya dalam menjaga keteguhan di atas kebenaran dan dalam mencari petunjuk.

فَفِي ذَلِكَ مُتَنَفَّسٌ وَمُتَرَوَّحٌ لِلنَّفْسِ فِيهِ مَجَالٌ رَحْبٌ لِكُلِّ مَشْغُولٍ بِإِصْلَاحِ نَفْسِهِ

Dalam hal ini terdapat ruang bernapas dan penyegaran bagi jiwa; di dalamnya ada ladang yang luas bagi setiap orang yang sibuk memperbaiki dirinya.

فَإِنَّهُ لَا تَنْقَطِعُ شَكْوَاهُ وَلَوْ عُمِّرَ أَعْمَارًا طَوِيلَةً

Sungguh, keluhannya tidak akan pernah berhenti meskipun ia diberi umur yang sangat panjang.

وَالرَّاضِي عَنْ نَفْسِهِ مَغْرُورٌ قَطْعًا

Orang yang puas dengan dirinya sendiri pastilah orang yang tertipu.

فَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الِاسْتِئْنَاسِ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِ النَّهَارِ رُبَّمَا يَكُونُ أَفْضَلَ مِنَ الْعُزْلَةِ فِي حَقِّ بَعْضِ الْأَشْخَاصِ

Jenis mencari ketenangan seperti ini di sebagian waktu siang hari terkadang bisa lebih utama daripada uzlah bagi sebagian orang.

فَلْيَتَفَقَّدْ فِيهِ أَحْوَالَ الْقَلْبِ وَأَحْوَالَ الْجَلِيسِ أَوَّلًا ثُمَّ لِيُجَالِسْ

Maka, hendaklah ia memeriksa keadaan hati dan keadaan teman duduknya terlebih dahulu, barulah setelah itu ia bergaul dengannya.