Adab Bepergian (2)

الْخَامِسُ إِذَا حَصَلَ عَلَى بَابِ الدَّارِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ توكلت على الله وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

Kelima: Apabila ia sampai di pintu rumah, hendaklah ia mengucapkan, "Bismillahi tawakkaltu 'alallah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tiada daya upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)."

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.

"Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari aku tersesat atau disesatkan, dari aku tergelincir atau digelincirkan, dari aku menzalimi atau dizalimi, dan dari aku berbuat bodoh atau dibodohi orang lain."

فَإِذَا مَشَى قَالَ اللَّهُمَّ بِكَ انْتَشَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَبِكَ اعْتَصَمْتُ وَإِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ.

Apabila ia berjalan, ia berdoa: "Ya Allah, dengan pertolongan-Mu aku bepergian, kepada-Mu aku bertawakal, dengan-Mu aku berpegang teguh, dan kepada-Mu aku menghadap."

اللَّهُمَّ أَنْتَ ثِقَتِي وَأَنْتَ رَجَائِي فَاكْفِنِي مَا أَهَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ بِهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي.

"Ya Allah, Engkaulah kepercayaanku dan Engkaulah harapanku, maka cukupkanlah bagiku apa yang menyusahkanku dan apa yang tidak aku pedulikan, serta apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku."

عَزَّ جَارُكَ وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ.

"Maha Mulia perlindungan-Mu dan Maha Agung pujian-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau."

اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ.

"Ya Allah, bekalilah aku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan arahkanlah aku kepada kebaikan ke mana pun aku menuju."

وَلْيَدْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ فِي كُلِّ مَنْزِلٍ يَرْحَلُ عَنْهُ.

Hendaklah ia membaca doa ini di setiap tempat singgah yang akan ia tinggalkan.

فَإِذَا رَكِبَ الدَّابَّةَ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

Apabila ia menaiki hewan tunggangannya, hendaklah ia mengucapkan, "Bismillahi wa billahi wallahu akbar (Dengan nama Allah, dengan pertolongan Allah, dan Allah Maha Besar)."

تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.

"Aku bertawakal kepada Allah, dan tiada daya upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."

مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ.

"Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi."

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ.

"Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."

فَإِذَا اسْتَوَتِ الدَّابَّةُ تَحْتَهُ فَلْيَقُلْ {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ}.

Apabila hewan tunggangan itu telah tegak di bawahnya, hendaklah ia mengucapkan, "{Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk}."

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْحَامِلُ عَلَى الظَّهْرِ وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ عَلَى الْأُمُورِ.

"Ya Allah, Engkaulah yang membawa di atas punggung (tunggangan ini) dan Engkaulah yang dimintai pertolongan atas segala urusan."

السَّادِسُ أَنْ يَرْحَلَ عَنِ الْمَنْزِلِ بُكْرَةً.

Keenam: Hendaklah ia berangkat dari tempatnya pada pagi-pagi sekali.

رَوَى جَابِرٌ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَحَلَ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَهُوَ يُرِيدُ تَبُوكَ وَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا.

Jabir meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berangkat pada hari Kamis saat hendak menuju Tabuk dan beliau berdoa, "Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka."

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَبْتَدِئَ بِالْخُرُوجِ يَوْمَ الْخَمِيسِ.

Dan dianjurkan untuk memulai keberangkatan pada hari Kamis.

فَقَدْ رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ إِلَى سَفَرٍ إِلَّا يَوْمَ الْخَمِيسِ.

Abdullah bin Ka'ab bin Malik meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, "Jarang sekali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk bepergian kecuali pada hari Kamis."

وَرَوَى أَنَسٌ أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا يَوْمَ السَّبْتِ.

Anas meriwayatkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka di hari Sabtu."

وَكَانَ صلى الله عليه وسلم إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً بَعَثَهَا أَوَّلَ النَّهَارِ.

Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam apabila mengirim pasukan (sariyyah), beliau mengirimnya pada awal hari.

وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا يَوْمَ خَمِيسِهَا.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka di hari Kamis mereka."

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ إِذَا كَانَ لَكَ إِلَى رَجُلٍ حَاجَةٌ فَاطْلُبْهَا مِنْهُ نَهَارًا وَلَا تَطْلُبْهَا لَيْلًا.

Abdullah bin Abbas berkata, "Jika engkau punya keperluan dengan seseorang, maka carilah ia pada siang hari dan jangan mencarinya pada malam hari."

وَاطْلُبْهَا بُكْرَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا.

"Dan carilah pada waktu pagi, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka'."

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسَافِرَ بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَيَكُونَ عَاصِيًا بِتَرْكِ الْجُمُعَةِ.

Tidak sepatutnya bepergian setelah terbit fajar pada hari Jumat, karena ia bisa menjadi bermaksiat sebab meninggalkan shalat Jumat.

وَالْيَوْمُ مَنْسُوبٌ إِلَيْهَا فَكَانَ أَوَّلُهُ مِنْ أَسْبَابِ وُجُوبِهَا.

Dan hari itu dinisbahkan kepadanya (shalat Jumat), maka awal hari itu termasuk sebab-sebab yang mewajibkannya.

وَالتَّشْيِيعُ لِلْوِدَاعِ مُسْتَحَبٌّ وَهُوَ سُنَّةٌ.

Mengantar untuk berpamitan dianjurkan dan itu adalah sunnah.

قَالَ صلى الله عليه وسلم لَأَنْ أُشَيِّعَ مُجَاهِدًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأَكْتَنِفَهُ عَلَى رَحْلِهِ غَدْوَةً أَوْ رَوْحَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sungguh, aku mengantar seorang mujahid di jalan Allah lalu membantunya naik ke kendaraannya di waktu pagi atau sore hari, lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya."

السَّابِعُ أَنْ لَا يَنْزِلَ حَتَّى يَحْمَى النَّهَارُ فَهِيَ السُّنَّةُ وَيَكُونُ أَكْثَرُ سَيْرِهِ بِاللَّيْلِ.

Ketujuh: Hendaklah ia tidak berhenti (untuk istirahat) hingga siang hari menjadi panas, karena itu adalah sunnah, dan hendaklah sebagian besar perjalanannya dilakukan pada malam hari.

قَالَ صلى الله عليه وسلم عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الْأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ مَا لَا تُطْوَى بِالنَّهَارِ.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian melakukan perjalanan malam (duljah), karena sesungguhnya bumi dilipatkan (perjalanannya terasa lebih cepat) pada malam hari, tidak seperti pada siang hari."

وَمَهْمَا أَشْرَفَ عَلَى الْمَنْزِلِ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَرَبَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ.

Setiap kali ia mendekati tempat singgah, hendaklah ia berdoa, "Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan tujuh bumi dan apa yang diangkutnya."

وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ وَرَبَّ الْبِحَارِ وَمَا جَرَيْنَ.

"Tuhan para setan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan angin dan apa yang diterbangkannya, dan Tuhan lautan dan apa yang dialirkannya."

أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْمَنْزِلِ وَخَيْرَ أَهْلِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذَا الْمَنْزِلِ وَشَرِّ مَا فِيهِ.

"Aku memohon kepada-Mu kebaikan tempat singgah ini dan kebaikan penghuninya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan tempat singgah ini dan keburukan apa yang ada di dalamnya."

اصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شِرَارِهِمْ.

"Jauhkanlah dariku kejahatan orang-orang jahat di antara mereka."

فَإِذَا نَزَلَ الْمَنْزِلَ فَلْيُصَلِّ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.

Apabila ia telah singgah di suatu tempat, hendaklah ia shalat dua rakaat di situ, kemudian berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak dapat dilampaui oleh orang baik maupun orang jahat, dari keburukan segala yang Dia ciptakan."

فَإِذَا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ فَلْيَقُلْ يَا أَرْضُ رَبِّي وَرَبُّكِ اللَّهُ.

Apabila malam telah menyelimutinya, hendaklah ia berdoa, "Wahai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah."

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّكِ وَمِنْ شَرِّ مَا فِيكِ وَشَرِّ مَا دَبَّ عَلَيْكِ.

"Aku berlindung kepada Allah dari keburukanmu, dari keburukan apa yang ada di dalammu, dan dari keburukan apa yang merayap di atasmu."

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ كُلِّ أَسَدٍ وَأَسْوَدَ وَحَيَّةٍ وَعَقْرَبٍ.

"Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan setiap singa, ular hitam, ular biasa, dan kalajengking."

وَمِنْ شَرِّ سَاكِنِي الْبَلَدِ وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ.

"Dan dari kejahatan penghuni negeri ini, serta dari kejahatan orang tua dan anaknya."

{وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}.

"{Dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui}."

وَمَهْمَا عَلَا شَرَفًا مِنَ الْأَرْضِ فِي وَقْتِ السَّيْرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ لَكَ الشَّرَفُ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ وَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

Setiap kali ia menaiki tempat yang tinggi di waktu perjalanan, sepatutnya ia mengucapkan, "Ya Allah, bagi-Mu kemuliaan di atas setiap kemuliaan, dan bagi-Mu segala puji dalam setiap keadaan."

وَمَهْمَا هَبَطَ سَبَّحَ.

Setiap kali ia menuruni (lembah), ia bertasbih.

وَمَهْمَا خَافَ الْوَحْشَةَ فِي سَفَرِهِ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ جَلَّلْتَ السَّمَاوَاتِ بِالْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوتِ.

Setiap kali ia merasa takut atau kesepian dalam perjalanannya, ia berdoa, "Maha Suci Raja Yang Maha Suci, Tuhan para malaikat dan Ruh (Jibril). Engkau telah meliputi langit dengan kemuliaan dan kekuasaan."

الثَّامِنُ أَنْ يَحْتَاطَ بِالنَّهَارِ فَلَا يَمْشِيَ مُنْفَرِدًا خَارِجَ الْقَافِلَةِ لِأَنَّهُ رُبَّمَا يُغْتَالُ أَوْ يَنْقَطِعُ.

Kedelapan: Hendaklah ia berhati-hati di siang hari dengan tidak berjalan sendirian di luar rombongan, karena ia bisa saja dibunuh secara diam-diam atau terputus dari rombongan.

وَيَكُونُ بِاللَّيْلِ مُتَحَفِّظًا عِنْدَ النَّوْمِ.

Dan pada malam hari, hendaklah ia waspada ketika tidur.

كَانَ صلى الله عليه وسلم إِذَا نَامَ فِي ابْتِدَاءِ اللَّيْلِ فِي السَّفَرِ افْتَرَشَ ذِرَاعَيْهِ.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam apabila tidur pada awal malam dalam perjalanan, beliau menghamparkan kedua lengannya.

وَإِنْ نَامَ فِي آخِرِ اللَّيْلِ نَصَبَ ذِرَاعَيْهِ نَصْبًا وَجَعَلَ رَأْسَهُ فِي كَفِّهِ.

Dan jika beliau tidur pada akhir malam, beliau menegakkan kedua lengannya dan meletakkan kepalanya di telapak tangannya.

وَالْغَرَضُ مِنْ ذَلِكَ أَنْ لَا يَسْتَثْقِلَ فِي النَّوْمِ فَتَطْلُعَ الشَّمْسُ وَهُوَ نَائِمٌ لَا يَدْرِي.

Tujuannya adalah agar tidak tertidur terlalu lelap sehingga matahari terbit sementara ia masih tidur dan tidak sadar.

فَيَكُونُ مَا يَفُوتُهُ مِنَ الصَّلَاةِ أَفْضَلَ مِمَّا يَطْلُبُهُ بِسَفَرِهِ.

Sehingga shalat yang terlewatkan olehnya lebih utama daripada apa yang ia cari dalam perjalanannya.

وَالْمُسْتَحَبُّ بِاللَّيْلِ أَنْ يَتَنَاوَبَ الرُّفَقَاءُ فِي الْحِرَاسَةِ.

Yang dianjurkan pada malam hari adalah agar teman-teman seperjalanan bergiliran dalam menjaga.

فَإِذَا نَامَ وَاحِدٌ حَرَسَ آخَرٌ.

Jika yang satu tidur, yang lain berjaga.

فَهَذِهِ السُّنَّةُ.

Maka inilah sunnahnya.

وَمَهْمَا قَصَدَهُ عَدُوٌّ أَوْ سَبُعٌ فِي لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ فَلْيَقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَشَهِدَ اللَّهُ وَسُوَرَ الْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ.

Setiap kali ia didatangi musuh atau binatang buas pada malam atau siang hari, hendaklah ia membaca Ayat Kursi, ayat Syahidallah, surat Al-Ikhlas, dan Al-Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas).

وَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

Dan hendaklah ia mengucapkan, "Bismillahi masya Allah laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, apa yang Allah kehendaki, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)."

حَسْبِيَ اللَّهُ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا يَأْتِي بِالْخَيْرَاتِ إِلَّا اللَّهُ.

"Cukuplah Allah bagiku, aku bertawakal kepada Allah. Apa yang Allah kehendaki, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah."

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا يَصْرِفُ السُّوءَ إِلَّا اللَّهُ.

"Apa yang Allah kehendaki, tidak ada yang menolak keburukan kecuali Allah."

حَسْبِيَ اللَّهُ وَكَفَى سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ دَعَا لَيْسَ وَرَاءَ اللَّهِ مُنْتَهَى وَلَا دُونَ اللَّهِ مَلْجَأٌ.

"Cukuplah Allah bagiku. Allah mendengar siapa saja yang berdoa. Tiada tujuan akhir selain Allah dan tiada tempat berlindung selain kepada Allah."

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ.

"Allah telah menetapkan: 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.' Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa."

تَحَصَّنْتُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَاسْتَعَنْتُ بِالْحَيِّ الْقَيُّومِ الَّذِي لَا يَمُوتُ.

"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan aku memohon pertolongan kepada Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, yang tidak pernah mati."

اللَّهُمَّ احْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ وَاكْنُفْنَا بِرُكْنِكَ الَّذِي لَا يُرَامُ.

"Ya Allah, jagalah kami dengan mata-Mu yang tidak pernah tidur, dan lindungilah kami dengan perlindungan-Mu yang tidak terkalahkan."

اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِقُدْرَتِكَ عَلَيْنَا فَلَا تَهْلِكْ وَأَنْتَ ثِقَتُنَا وَرَجَاؤُنَا.

"Ya Allah, rahmatilah kami dengan kekuasaan-Mu atas kami, maka janganlah binasakan kami, sementara Engkau adalah kepercayaan dan harapan kami."

اللَّهُمَّ أَعْطِفْ عَلَيْنَا قُلُوبَ عِبَادِكَ وَإِمَائِكَ بِرَأْفَةٍ وَرَحْمَةٍ إِنَّكَ أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.

"Ya Allah, condongkanlah kepada kami hati para hamba-Mu, laki-laki dan perempuan, dengan kasih dan sayang. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang."

التَّاسِعُ أَنْ يَرْفُقَ بِالدَّابَّةِ إِنْ كَانَ رَاكِبًا فَلَا يُحَمِّلُهَا مَا لَا تُطِيقُ.

Kesembilan: Hendaklah ia bersikap lembut kepada hewan tunggangannya jika ia menaikinya. Janganlah membebaninya dengan apa yang tidak ia sanggupi.

وَلَا يَضْرِبُهَا فِي وَجْهِهَا فَإِنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ.

Dan jangan memukulnya di bagian wajah, karena hal itu dilarang.

وَلَا يَنَامُ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ يَثْقُلُ بِالنَّوْمِ وَتَتَأَذَّى بِهِ الدَّابَّةُ.

Jangan tidur di atasnya, karena berat badan bertambah saat tidur dan hewan itu akan merasa tersakiti.

كَانَ أَهْلُ الْوَرَعِ لَا يَنَامُونَ عَلَى الدَّوَابِّ إِلَّا غَفْوَةً.

Orang-orang yang warak tidak tidur di atas hewan tunggangan kecuali sekejap saja.

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم لَا تَتَّخِذُوا ظُهُورَ دَوَابِّكُمْ كَرَاسِيَّ.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janganlah kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai kursi."

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْزِلَ عَنِ الدَّابَّةِ غَدْوَةً وَعَشِيَّةً يُرَوِّحُهَا بِذَلِكَ.

Dianjurkan untuk turun dari hewan tunggangan pada pagi dan sore hari untuk mengistirahatkannya.

فَهُوَ سُنَّةٌ وَفِيهِ آثَارٌ عَنِ السَّلَفِ.

Hal itu adalah sunnah, dan ada riwayat-riwayat tentangnya dari para salaf.

وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَكْتَرِي بِشَرْطِ أَنْ لَا يَنْزِلَ وَيُوفِي الْأُجْرَةَ.

Sebagian salaf ada yang menyewa (tunggangan) dengan syarat ia tidak akan turun, dan ia membayar penuh upahnya.

ثُمَّ كَانَ يَنْزِلُ لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُحْسِنًا إِلَى الدَّابَّةِ فَيُوضَعُ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ لَا فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِ الْمُكَارِي.

Kemudian ia tetap turun, agar dengan begitu ia telah berbuat baik kepada hewan tunggangan itu, sehingga (pahalanya) diletakkan dalam timbangan kebaikannya, bukan dalam timbangan kebaikan si penyewa kendaraan.

وَمَنْ آذَى بَهِيمَةً بِضَرْبٍ أَوْ حَمْلِ مَا لَا تُطِيقُ طُولِبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barangsiapa menyakiti seekor hewan dengan pukulan atau membebaninya dengan apa yang tidak ia sanggupi, ia akan dituntut atas perbuatannya itu pada hari kiamat.

إِذْ فِي كُلِّ كَبِدٍ حَرَّاءٍ أَجْرٌ.

Sebab, pada setiap makhluk yang bernyawa terdapat pahala (jika diperlakukan dengan baik).

قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِبَعِيرٍ لَهُ عِنْدَ الْمَوْتِ أَيُّهَا الْبَعِيرُ لَا تُخَاصِمْنِي إِلَى رَبِّكَ فَإِنِّي لَمْ أَكُ أُحَمِّلُكَ فَوْقَ طَاقَتِكَ.

Abu Darda radhiyallahu 'anhu berkata kepada untanya saat menjelang ajal: "Wahai unta, janganlah engkau menuntutku di hadapan Tuhanmu, karena sesungguhnya aku tidak pernah membebanimu di atas kemampuanmu."

وَفِي النُّزُولِ سَاعَةً صَدَقَتَانِ إِحْدَاهُمَا تَرْوِيحُ الدَّابَّةِ وَالثَّانِيَةُ إِدْخَالُ السَّرُورِ عَلَى قَلْبِ الْمُكَارِي.

Dalam turun sejenak (dari tunggangan) terdapat dua sedekah: pertama, mengistirahatkan hewan tunggangan; dan kedua, memasukkan kebahagiaan ke dalam hati si penyewa kendaraan.

وَفِي فَائِدَةٍ أُخْرَى وَهِيَ رِيَاضَةُ الْبَدَنِ وَتَحْرِيكُ الرِّجْلَيْنِ.

Dan ada faedah lainnya, yaitu melatih badan dan menggerakkan kedua kaki.

وَالْحَذَرُ مِنْ خَدَرِ الْأَعْضَاءِ بِطُولِ الرُّكُوبِ.

Serta berhati-hati dari kesemutan anggota badan karena terlalu lama menunggang.

وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَرِّرَ مَعَ الْمُكَارِي مَا يَحْمِلُهُ عَلَيْهَا شَيْئًا شَيْئًا وَيَعْرِضُهُ عَلَيْهِ.

Sepatutnya ia menyepakati dengan si penyewa kendaraan barang apa saja yang akan dibawanya di atas tunggangan, satu per satu, dan menunjukkannya kepadanya.

وَيَسْتَأْجِرَ الدَّابَّةَ بِعَقْدٍ صَحِيحٍ لِئَلَّا يَثُورَ بَيْنَهُمَا نِزَاعٌ يُؤْذِي الْقَلْبَ وَيَحْمِلُ عَلَى الزِّيَادَةِ فِي الْكَلَامِ.

Dan menyewa hewan tunggangan itu dengan akad yang sah agar tidak timbul perselisihan di antara mereka yang dapat menyakiti hati dan mendorong untuk banyak bicara.

فَمَا يَلْفِظُ الْعَبْدُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ.

Karena tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkan seorang hamba melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.

فَلْيَحْتَرِزْ عَنْ كَثْرَةِ الْكَلَامِ وَاللَّجَاجِ مَعَ الْمُكَارِي.

Maka, hendaklah ia berhati-hati dari banyak bicara dan berdebat dengan si penyewa kendaraan.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْمِلَ فَوْقَ الْمَشْرُوطِ شَيْئًا وَإِنْ خَفَّ.

Tidak sepantasnya ia membawa beban melebihi apa yang disyaratkan, meskipun ringan.

فَإِنَّ الْقَلِيلَ يَجُرُّ الْكَثِيرَ وَمَنْ حَامَ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ.

Karena yang sedikit akan menarik kepada yang banyak, dan barangsiapa berada di sekitar daerah terlarang, ia hampir saja jatuh ke dalamnya.

قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ الْمُبَارَكِ وَهُوَ عَلَى دَابَّةٍ احْمِلْ لِي هَذِهِ الرُّقْعَةَ إِلَى فُلَانٍ.

Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Al-Mubarak yang sedang di atas hewan tunggangan, "Tolong bawakan surat ini untukku kepada si Fulan."

فَقَالَ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ الْمَكَارِي فَإِنِّي لَمْ أُشَارِطْهُ عَلَى هَذِهِ الرُّقْعَةِ.

Beliau menjawab, "Tunggu sampai aku meminta izin kepada si penyewa kendaraan, karena aku tidak membuat kesepakatan dengannya untuk (membawa) surat ini."

فَانْظُرْ كَيْفَ لَمْ يَلْتَفِتْ إِلَى قَوْلِ الْفُقَهَاءِ إِنَّ هَذَا مِمَّا يُتَسَامَحُ فِيهِ وَلَكِنْ سَلَكَ طَرِيقَ الْوَرَعِ.

Maka lihatlah, bagaimana beliau tidak menghiraukan pendapat para ahli fikih bahwa hal seperti ini termasuk yang bisa ditoleransi, tetapi beliau menempuh jalan kewarak-an (kehati-hatian).

الْعَاشِرُ يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَصْحِبَ سِتَّةَ أَشْيَاءَ.

Kesepuluh: Sepatutnya ia membawa serta enam benda.

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَافَرَ حَمَلَ مَعَهُ خَمْسَةَ أَشْيَاءَ.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila bepergian, beliau membawa serta lima benda."

الْمِرْآةُ وَالْمُكْحُلَةُ وَالْمِقْرَاضُ وَالسِّوَاكُ وَالْمِشْطُ.

Cermin, celak, gunting, siwak, dan sisir.

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى عَنْهَا سِتَّةُ أَشْيَاءَ الْمِرْآةُ وَالْقَارُورَةُ وَالْمِقْرَاضُ وَالسِّوَاكُ وَالْمُكْحُلَةُ وَالْمِشْطُ.

Dalam riwayat lain darinya, (disebutkan) enam benda: cermin, botol (minyak wangi), gunting, siwak, celak, dan sisir.

وَقَالَتْ أُمُّ سَعْدٍ الْأَنْصَارِيَّةُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يُفَارِقُهُ فِي السَّفَرِ الْمِرْآةُ وَالْمُكْحُلَةُ.

Ummu Sa'ad Al-Anshariyyah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berpisah dari cermin dan celak dalam perjalanannya."

وَقَالَ صُهَيْبٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ عِنْدَ مَضْجَعِكُمْ فَإِنَّهُ مِمَّا يَزِيدُ فِي الْبَصَرِ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ.

Shuhaib berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian memakai itsmid (celak batu) saat hendak tidur, karena ia dapat mempertajam penglihatan dan menumbuhkan bulu mata."

وَرُوِيَ أَنَّهُ كَانَ يَكْتَحِلُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا.

Diriwayatkan bahwa beliau bercelak tiga kali (olesan) pada setiap mata.

وَفِي رِوَايَةٍ أَنَّهُ اكْتَحَلَ لِلْيُمْنَى ثَلَاثًا وَلِلْيُسْرَى ثِنْتَيْنِ.

Dalam riwayat lain, beliau bercelak tiga kali untuk mata kanan dan dua kali untuk mata kiri.

وَقَدْ زَادَ الصُّوفِيَّةُ الرِّكْوَةَ وَالْحَبْلَ.

Kaum sufi menambahkan wadah air (geriba) dan tali.

وَقَالَ بَعْضُ الصُّوفِيَّةِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَ الْفَقِيرِ رِكْوَةٌ وَحَبْلٌ دَلَّ عَلَى نُقْصَانِ دِينِهِ.

Sebagian kaum sufi berkata, "Jika seorang fakir (salik) tidak membawa wadah air dan tali, itu menunjukkan kekurangan dalam agamanya."

وَإِنَّمَا زَادُوا هَذَا لِمَا رَأَوْهُ مِنَ الِاحْتِيَاطِ فِي طَهَارَةِ الْمَاءِ وَغَسْلِ الثِّيَابِ.

Mereka menambahkan ini karena mereka melihat pentingnya kehati-hatian dalam kesucian air dan mencuci pakaian.

فَالرِّكْوَةُ لِحِفْظِ الْمَاءِ الطَّاهِرِ وَالْحَبْلُ لِتَجْفِيفِ الثَّوْبِ الْمَغْسُولِ وَلِنَزْعِ الْمَاءِ مِنَ الْآبَارِ.

Wadah air untuk menyimpan air suci, dan tali untuk menjemur pakaian yang dicuci serta untuk menimba air dari sumur.

وَكَانَ الْأَوَّلُونَ يَكْتَفُونَ بِالتَّيَمُّمِ وَيُغْنُونَ أَنْفُسَهُمْ عَنْ نَقْلِ الْمَاءِ.

Orang-orang terdahulu merasa cukup dengan tayamum dan tidak merepotkan diri dengan membawa-bawa air.

وَلَا يُبَالُونَ بِالْوُضُوءِ مِنَ الْغُدْرَانِ وَمِنَ الْمِيَاهِ كُلِّهَا مَا لَمْ يَتَيَقَّنُوا نَجَاسَتَهَا.

Mereka tidak khawatir berwudhu dari genangan air dan dari semua jenis air selama mereka tidak yakin akan kenajisannya.

حَتَّى تَوَضَّأَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ مَاءٍ فِي جَرَّةِ نَصْرَانِيَّةٍ.

Hingga Umar radhiyallahu 'anhu pernah berwudhu dari air yang ada di dalam kendi seorang wanita Nasrani.

وَكَانُوا يَكْتَفُونَ بِالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ عَنِ الْحَبْلِ فَيُفَرِّشُونَ الثِّيَابَ الْمَغْسُولَةَ عَلَيْهَا.

Dan mereka merasa cukup dengan tanah dan bebatuan sebagai ganti tali, mereka menjemur pakaian yang telah dicuci di atasnya.

فَهَذِهِ بِدْعَةٌ إِلَّا أَنَّهَا بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ.

Maka ini adalah bid'ah, akan tetapi ia adalah bid'ah yang baik (hasanah).

وَإِنَّمَا الْبِدْعَةُ الْمَذْمُومَةُ مَا تُضَادُّ السُّنَنَ الثَّابِتَةَ.

Bid'ah yang tercela hanyalah apa yang bertentangan dengan sunnah-sunnah yang telah tetap.

وَأَمَّا مَا يُعِينُ عَلَى الِاحْتِيَاطِ فِي الدِّينِ فَمُسْتَحْسَنٌ.

Adapun apa yang membantu untuk kehati-hatian dalam agama, maka itu dianggap baik.

وَقَدْ ذَكَرْنَا أَحْكَامَ الْمُبَالَغَةِ فِي الطَّهَارَاتِ فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ.

Kami telah menyebutkan hukum-hukum berlebihan dalam bersuci di dalam Kitab Thaharah.

وَأَنَّ الْمُتَجَرِّدَ لِأَمْرِ الدِّينِ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُؤْثِرَ طَرِيقَ الرُّخْصَةِ.

Dan bahwa orang yang mengkhususkan diri untuk urusan agama tidak sepatutnya lebih memilih jalan keringanan (rukhsah).

بَلْ يَحْتَاطُ فِي الطَّهَارَةِ مَا لَمْ يَمْنَعْهُ ذَلِكَ عَنْ عَمَلٍ أَفْضَلَ مِنْهُ.

Melainkan ia harus berhati-hati dalam bersuci, selama hal itu tidak menghalanginya dari amalan lain yang lebih utama.

وَقِيلَ كَانَ الْخَوَاصُّ مِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ وَكَانَ لَا يُفَارِقُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ.

Dikatakan bahwa para ahli tawakal yang khusus, tidak pernah berpisah dari empat benda baik dalam perjalanan maupun saat menetap.

الرِّكْوَةُ وَالْحَبْلُ وَالْإِبْرَةُ بِخُيُوطِهَا وَالْمِقْرَاضُ وَكَانَ يَقُولُ هَذِهِ لَيْسَتْ مِنَ الدُّنْيَا.

Wadah air, tali, jarum dengan benangnya, dan gunting. Dan ia berkata, "Ini semua bukanlah bagian dari dunia."

الْحَادِيَ عَشَرَ فِي آدَابِ الرُّجُوعِ مِنَ السَّفَرِ.

Kesebelas: Adab-adab Kembali dari Perjalanan.

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَفَلَ مِنْ غَزْوٍ أَوْ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ أَوْ غَيْرِهِ يُكَبِّرُ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ مِنَ الْأَرْضِ ثَلَاثَ تَكْبِيرَاتٍ.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila kembali dari perang, haji, umrah, atau lainnya, beliau bertakbir tiga kali di setiap tempat yang tinggi.

وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Dan beliau berdoa, "Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir." (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).

آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ.

"Aayibuuna taa-ibuuna 'aabiduuna saajiduuna lirobbinaa haamiduun." (Kami kembali, bertaubat, beribadah, bersujud, dan kepada Tuhan kami, kami memuji).

صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

"Shadaqallahu wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzaaba wahdah." (Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (musuh) sendirian).

وَإِذَا أَشْرَفَ عَلَى مَدِينَتِهِ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا.

Apabila ia telah mendekati kotanya, hendaklah ia berdoa, "Ya Allah, jadikanlah bagi kami di kota ini tempat tinggal dan rezeki yang baik."

ثُمَّ لِيُرْسِلْ إِلَى أَهْلِهِ مَنْ يُبَشِّرُهُمْ بِقُدُومِهِ كَيْلَا يَقْدَمَ عَلَيْهِمْ بَغْتَةً فَيَرَى مَا يَكْرَهُهُ.

Kemudian hendaklah ia mengutus seseorang kepada keluarganya untuk memberitakan kedatangannya, agar ia tidak datang secara tiba-tiba lalu melihat sesuatu yang tidak ia sukai.

وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَطْرُقَهُمْ لَيْلًا.

Dan tidak sepatutnya ia mendatangi mereka pada malam hari.

فَقَدْ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْهُ.

Karena telah ada larangan tentang hal itu.

وَكَانَ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَدِمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ أَوَّلًا وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ الْبَيْتَ.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam apabila tiba (dari perjalanan), beliau masuk ke masjid terlebih dahulu dan shalat dua rakaat, baru kemudian masuk ke rumah.

وَإِذَا دَخَلَ قَالَ تَوْبًا تَوْبًا لِرَبِّنَا أَوْبًا أَوْبًا لَا يُغَادِرُ عَلَيْنَا حُوبًا.

Dan apabila masuk (rumah), beliau berdoa, "Tauban tauban, lirobbinaa awban awban, laa yughoodiru 'alainaa huuban." (Kami bertaubat, kepada Tuhan kami kami kembali, semoga tidak ada dosa yang tersisa pada kami).

وَيَنْبَغِي أَنْ يَحْمِلَ لِأَهْلِ بَيْتِهِ وَأَقَارِبِهِ تُحْفَةً مِنْ مَطْعُومٍ أَوْ غَيْرِهِ عَلَى قَدْرِ إِمْكَانِهِ فَهُوَ سُنَّةٌ.

Sepatutnya ia membawakan untuk keluarganya dan kerabatnya oleh-oleh berupa makanan atau lainnya sesuai kemampuannya, karena itu adalah sunnah.

فَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ إِنْ لَمْ يَجِدْ شَيْئًا فَلْيَضَعْ فِي مِخْلَاتِهِ حَجَرًا.

Diriwayatkan bahwa jika ia tidak menemukan apa pun, hendaklah ia meletakkan batu di dalam kantong bekalnya.

وَكَأَنَّ هَذَا مُبَالَغَةٌ فِي الِاسْتِحْثَاثِ عَلَى هَذِهِ الْمَكْرَمَةِ.

Dan ini seakan-akan adalah ungkapan berlebihan untuk sangat mendorong perbuatan mulia ini.

لِأَنَّ الْأَعْيُنَ تَمْتَدُّ إِلَى الْقَادِمِ مِنَ السَّفَرِ وَالْقُلُوبُ تَفْرَحُ بِهِ.

Karena mata orang-orang akan tertuju pada orang yang datang dari perjalanan dan hati mereka bergembira karenanya.

فَيَتَأَكَّدُ الِاسْتِحْبَابُ فِي تَأْكِيدِ فَرَحِهِمْ وَإِظْهَارِ الْتِفَاتِ الْقَلْبِ فِي السَّفَرِ إِلَى ذِكْرِهِمْ بِمَا يَسْتَصْحِبُهُ فِي الطَّرِيقِ لَهُمْ.

Maka menjadi sangat dianjurkan untuk menguatkan kegembiraan mereka dan menunjukkan bahwa hati tetap mengingat mereka selama dalam perjalanan dengan membawa sesuatu di jalan untuk mereka.

فَهَذِهِ جُمْلَةٌ مِنَ الْآدَابِ الظَّاهِرَةِ.

Inilah sejumlah adab-adab lahiriah.

وَأَمَّا الْآدَابُ الْبَاطِنَةُ فَفِي الْفَصْلِ الْأَوَّلِ بَيَانُ جُمْلَةٍ مِنْهَا.

Adapun adab-adab batiniah, maka dalam fasal pertama telah dijelaskan sebagiannya.

وَجُمْلَتُهُ أَنْ لَا يُسَافِرَ إِلَّا إِذَا كَانَ زِيَادَةً دِينُهُ فِي السَّفَرِ.

Intinya adalah, janganlah ia bepergian kecuali jika agamanya akan bertambah dalam perjalanan itu.

وَمَهْمَا وَجَدَ قَلْبَهُ مُتَغَيِّرًا إِلَى نُقْصَانٍ فَلْيَقِفْ وَلْيَنْصَرِفْ.

Kapan pun ia mendapati hatinya berubah menuju kekurangan (dalam agama), hendaklah ia berhenti dan kembali.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُجَاوِزَ هَمُّهُ مَنْزِلَهُ بَلْ يَنْزِلُ حَيْثُ يَنْزِلُ قَلْبُهُ.

Tidak sepatutnya perhatiannya melampaui tempat singgahnya, melainkan hendaklah ia singgah di mana hatinya merasa tentram.

وَيَنْوِي فِي دُخُولِ كُلِّ بَلْدَةٍ أَنْ يَرَى شُيُوخَهَا وَيَجْتَهِدَ أَنْ يَسْتَفِيدَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ أَدَبًا أَوْ كَلِمَةً لِيَنْتَفِعَ بِهَا.

Dan hendaklah ia berniat di setiap kota yang ia masuki untuk menemui para syekh (ulama) di sana dan bersungguh-sungguh untuk mengambil manfaat dari setiap mereka berupa satu adab atau satu kalimat agar ia bisa mendapat faedah darinya.

لَا لِيَحْكِيَ ذَلِكَ وَيُظْهِرَ أَنَّهُ لَقِيَ الْمَشَايِخَ.

Bukan untuk menceritakannya dan menunjukkan bahwa ia telah bertemu banyak syekh.

وَلَا يُقِيمُ بِبَلْدَةٍ أَكْثَرَ مِنْ أُسْبُوعٍ أَوْ عَشَرَةِ أَيَّامٍ إِلَّا أَنْ يَأْمُرَهُ الشَّيْخُ الْمَقْصُودُ بِذَلِكَ.

Dan janganlah ia tinggal di suatu kota lebih dari seminggu atau sepuluh hari, kecuali jika syekh yang ia tuju memerintahkannya.

وَلَا يُجَالِسُ فِي مُدَّةِ الْإِقَامَةِ إِلَّا الْفُقَرَاءَ الصَّادِقِينَ.

Dan janganlah ia bergaul selama masa tinggalnya kecuali dengan para fakir (salik) yang jujur.

وَإِنْ كَانَ قَصْدُهُ زِيَارَةَ أَخٍ فَلَا يَزِيدُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فَهُوَ حَدُّ الضِّيَافَةِ.

Jika tujuannya adalah mengunjungi seorang saudara, maka jangan lebih dari tiga hari, karena itu adalah batas bertamu.

إِلَّا إِذَا شَقَّ عَلَى أَخِيهِ مُفَارَقَتُهُ.

Kecuali jika saudaranya itu merasa berat untuk berpisah dengannya.

وَإِذَا قَصَدَ زِيَارَةَ شَيْخٍ فَلَا يُقِيمُ عِنْدَهُ أَكْثَرَ مِنْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ.

Dan jika ia bermaksud mengunjungi seorang syekh, janganlah tinggal bersamanya lebih dari sehari semalam.

وَلَا يَشْغَلُ نَفْسَهُ بِالْعِشْرَةِ فَإِنَّ ذَلِكَ يَقْطَعُ بَرَكَةَ سَفَرِهِ.

Dan jangan menyibukkan diri dengan pergaulan (yang tidak perlu), karena itu akan memutus keberkahan perjalanannya.

وَكُلَّمَا دَخَلَ بَلَدًا لَا يَشْتَغِلُ بِشَيْءٍ سِوَى زِيَارَةِ الشَّيْخِ بِزِيَارَةِ مَنْزِلِهِ.

Setiap kali memasuki suatu kota, janganlah ia sibuk dengan apa pun selain mengunjungi syekh dengan mendatangi rumahnya.

فَإِنْ كَانَ فِي بَيْتِهِ فَلَا يَدُقَّ عَلَيْهِ بَابَهُ وَلَا يَسْتَأْذِنْ عَلَيْهِ إِلَى أَنْ يَخْرُجَ.

Jika syekh itu ada di rumahnya, jangan mengetuk pintunya dan jangan meminta izin untuk masuk sampai beliau keluar.

فَإِذَا خَرَجَ تَقَدَّمَ إِلَيْهِ بِأَدَبٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ.

Apabila beliau telah keluar, majulah kepadanya dengan adab lalu ucapkan salam.

وَلَا يَتَكَلَّمُ بَيْنَ يَدَيْهِ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَهُ.

Dan jangan berbicara di hadapannya kecuali jika beliau bertanya.

فَإِنْ سَأَلَهُ أَجَابَ بِقَدْرِ السُّؤَالِ.

Jika beliau bertanya, jawablah sekadar pertanyaan.

وَلَا يَسْأَلُهُ عَنْ مَسْأَلَةٍ مَا لَمْ يَسْتَأْذِنْ أَوَّلًا.

Dan jangan bertanya kepadanya tentang suatu masalah sebelum meminta izin terlebih dahulu.

وَإِذَا كَانَ فِي السَّفَرِ فَلَا يُكْثِرُ ذِكْرَ أَطْعِمَةِ الْبُلْدَانِ وَأَسْخِيَائِهَا.

Dan jika sedang dalam perjalanan, janganlah banyak menyebut-nyebut makanan khas berbagai negeri dan orang-orang dermawannya.

وَلَا ذِكْرَ أَصْدِقَائِهِ فِيهَا وَلْيَذْكُرْ مَشَايِخَهَا وَفُقَرَاءَهَا.

Jangan pula menyebut teman-temannya di sana, tetapi sebutlah para syekh dan orang-orang fakirnya.

وَلَا يُهْمِلُ فِي سَفَرِهِ زِيَارَةَ قُبُورِ الصَّالِحِينَ بَلْ يَتَفَقَّدُهَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ وَبَلْدَةٍ.

Dan janganlah ia mengabaikan dalam perjalanannya untuk menziarahi kuburan orang-orang saleh, melainkan carilah di setiap desa dan kota.

وَلَا يُظْهِرُ حَاجَتَهُ إِلَّا بِقَدْرِ الضَّرُورَةِ وَمَعَ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى إِزَالَتِهَا.

Dan jangan menampakkan kebutuhannya kecuali sebatas darurat dan hanya kepada orang yang mampu menghilangkannya.

وَيُلَازِمُ فِي الطَّرِيقِ الذِّكْرَ وَقِرَاءَةَ الْقُرْآنِ بِحَيْثُ لَا يَسْمَعُ غَيْرُهُ.

Dan hendaklah ia senantiasa berdzikir dan membaca Al-Qur'an di jalan, sekiranya tidak didengar orang lain.

وَإِذَا كَلَّمَهُ إِنْسَانٌ فَلْيَتْرُكِ الذِّكْرَ وَلْيُجِبْهُ مَا دَامَ يُحَدِّثُهُ.

Jika seseorang berbicara kepadanya, hendaklah ia berhenti berdzikir dan menjawabnya selama orang itu berbicara.

ثُمَّ لِيَرْجِعْ إِلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.

Kemudian kembalilah kepada apa yang ia lakukan sebelumnya.

فَإِنْ تَبَرَّمَتْ نَفْسُهُ بِالسَّفَرِ أَوْ بِالْإِقَامَةِ فَلْيُخَالِفْهَا فَالْبَرَكَةُ فِي مُخَالَفَةِ النَّفْسِ.

Jika jiwanya merasa jenuh dengan perjalanan atau dengan menetap, maka hendaklah ia menentangnya, karena keberkahan itu ada dalam menentang hawa nafsu.

وَإِذَا تَيَسَّرَتْ لَهُ خِدْمَةُ قَوْمٍ صَالِحِينَ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُسَافِرَ تَبَرُّمًا بِالْخِدْمَةِ فذَلِكَ كُفْرَانُ نِعْمَةٍ.

Jika dimudahkan baginya untuk melayani kaum yang saleh, maka tidak sepantasnya ia bepergian karena jenuh dengan pelayanan itu, karena hal itu adalah kufur nikmat.

وَمَهْمَا وَجَدَ نَفْسَهُ فِي نُقْصَانٍ عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ فِي الْحَضَرِ فَلْيَعْلَمْ أَنَّ سَفَرَهُ مَعْلُولٌ وَلْيَرْجِعْ.

Kapan pun ia mendapati dirinya dalam keadaan menurun (agamanya) dari saat ia menetap, ketahuilah bahwa perjalanannya itu bermasalah, dan hendaklah ia kembali.

إِذْ لَوْ كَانَ لِحَقٍّ لَظَهَرَ أَثَرُهُ.

Sebab, seandainya perjalanan itu untuk kebenaran, niscaya akan tampak hasilnya.

قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي عُثْمَانَ الْمَغْرِبِيِّ خَرَجَ فُلَانٌ مُسَافِرًا فَقَالَ السَّفَرُ غُرْبَةٌ وَالْغُرْبَةُ ذِلَّةٌ وَلَيْسَ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ.

Seseorang berkata kepada Abu Utsman Al-Maghribi, "Si Fulan telah pergi bepergian." Beliau berkata, "Perjalanan adalah keterasingan, dan keterasingan adalah kehinaan, dan tidak pantas bagi seorang mukmin untuk menghinakan dirinya."

وَأَشَارَ بِهِ إِلَى أَنَّ مَنْ لَيْسَ لَهُ فِي السَّفَرِ زِيَادَةُ دِينٍ فَقَدْ أَذَلَّ نَفْسَهُ.

Dengan ucapan itu, beliau mengisyaratkan bahwa barangsiapa yang dalam perjalanannya tidak mendapatkan tambahan dalam agamanya, maka ia telah menghinakan dirinya.

وَإِلَّا فَعِزُّ الدِّينِ لَا يُنَالُ إِلَّا بِذِلَّةِ الْغُرْبَةِ.

Jika tidak demikian, maka sesungguhnya kemuliaan agama tidak akan diraih kecuali dengan (menanggung) hinanya keterasingan.

فَلْيَكُنْ سَفَرُ الْمُرِيدِ مِنْ وَطَنِ هَوَاهُ وَمُرَادِهِ وَطَبْعِهِ حَتَّى يَعِزَّ فِي هَذِهِ الْغُرْبَةِ وَلَا يُذَلَّ.

Maka hendaklah perjalanan seorang murid itu adalah (perjalanan keluar) dari tanah air hawa nafsunya, keinginannya, dan tabiatnya, agar ia menjadi mulia dalam keterasingan ini dan tidak menjadi hina.

فَإِنَّ مَنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ فِي سَفَرِهِ ذَلَّ لَا مَحَالَةَ إِمَّا عَاجِلًا وَإِمَّا آجِلًا.

Karena sesungguhnya barangsiapa mengikuti hawa nafsunya dalam perjalanannya, ia pasti akan terhina, baik cepat ataupun lambat.