Rukhshah dalam Perjalanan (1)

اَلْبَابُ الثَّانِي فِيمَا لَا بُدَّ لِلْمُسَافِرِ مِنْ تَعَلُّمِهِ مِنْ رُخَصِ السَّفَرِ وَأَدِلَّةِ الْقِبْلَةِ وَالْأَوْقَاتِ

Bab kedua tentang hal-hal yang harus dipelajari oleh musafir mengenai keringanan-keringanan (rukhsah) dalam perjalanan, petunjuk arah kiblat, dan waktu-waktu salat.

اِعْلَمْ أَنَّ الْمُسَافِرَ يَحْتَاجُ فِي أَوَّلِ سَفَرِهِ إِلَى أَنْ يَتَزَوَّدَ لِدُنْيَاهُ وَلِآخِرَتِهِ.

Ketahuilah bahwa seorang musafir pada awal perjalanannya memerlukan bekal untuk urusan dunia dan akhiratnya.

أَمَّا زَادُ الدُّنْيَا فَالطَّعَامُ وَالشَّرَابُ وَمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ نَفَقَةٍ.

Adapun bekal dunia adalah makanan, minuman, dan biaya yang ia perlukan.

فَإِنْ خَرَجَ مُتَوَكِّلًا مِنْ غَيْرِ زَادٍ فَلَا بَأْسَ بِهِ إِذَا كَانَ سَفَرُهُ فِي قَافِلَةٍ أَوْ بَيْنَ قُرًى مُتَّصِلَةٍ.

Jika ia berangkat dengan bertawakal tanpa membawa bekal, maka tidak mengapa bila perjalanannya bersama kafilah atau melewati desa-desa yang saling berdekatan.

وَإِنْ رَكِبَ الْبَادِيَةَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ قَوْمٍ لَا طَعَامَ مَعَهُمْ وَلَا شَرَابَ، فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَصْبِرُ عَلَى الْجُوعِ أُسْبُوعًا أَوْ عَشْرًا مَثَلًا، أَوْ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَكْتَفِيَ بِالْحَشِيشِ، فَلَهُ ذَلِكَ.

Namun jika ia menempuh padang pasir sendirian, atau bersama kaum yang tidak mempunyai makanan dan minuman, maka bila ia termasuk orang yang mampu bersabar menahan lapar selama seminggu atau sepuluh hari misalnya, atau mampu mencukupkan diri dengan rumput, ia boleh melakukan hal itu.

وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ قُوَّةُ الصَّبْرِ عَلَى الْجُوعِ، وَلَا الْقُدْرَةُ عَلَى الِاجْتِزَاءِ بِالْحَشِيشِ، فَخُرُوجُهُ مِنْ غَيْرِ زَادٍ مَعْصِيَةٌ.

Jika ia tidak memiliki kekuatan untuk bersabar menahan lapar, dan tidak mampu pula mencukupkan diri dengan rumput, maka keluarnya tanpa bekal adalah perbuatan maksiat.

فَإِنَّهُ أَلْقَى نَفْسَهُ بِيَدِهِ إِلَى التَّهْلُكَةِ.

Sebab ia telah menjatuhkan dirinya sendiri, dengan tangannya, ke dalam kebinasaan.

وَلِهٰذَا سِرٌّ سَيَأْتِي فِي كِتَابِ التَّوَكُّلِ.

Dan untuk hal ini ada suatu rahasia yang akan dijelaskan dalam kitab tentang tawakal.

وَلَيْسَ مَعْنَى التَّوَكُّلِ التَّبَاعُدَ عَنِ الْأَسْبَابِ بِالْكُلِّيَّةِ.

Makna tawakal bukanlah menjauh dari sebab-sebab secara total.

وَلَوْ كَانَ كَذٰلِكَ لَبَطَلَ التَّوَكُّلُ بِطَلَبِ الدَّلْوِ وَالْحَبْلِ وَنَزْعِ الْمَاءِ مِنَ الْبِئْرِ.

Seandainya demikian, niscaya tawakal menjadi batal hanya karena mencari timba dan tali, serta menimba air dari sumur.

وَلَوَجَبَ أَنْ يَصْبِرَ حَتَّى يُسَخِّرَ اللَّهُ لَهُ مَلَكًا أَوْ شَخْصًا آخَرَ حَتَّى يَصُبَّ الْمَاءَ فِي فِيهِ.

Dan niscaya ia wajib menunggu hingga Allah menundukkan malaikat atau orang lain untuk menuangkan air ke dalam mulutnya.

فَإِنْ كَانَ حِفْظُ الدَّلْوِ وَالْحَبْلِ لَا يَقْدَحُ فِي التَّوَكُّلِ، وَهُوَ آلَةُ الْوُصُولِ إِلَى الْمَشْرُوبِ، فَحَمْلُ عَيْنِ الْمَطْعُومِ وَالْمَشْرُوبِ حَيْثُ لَا يُنْتَظَرُ لَهُ وُجُودٌ، أَوْلَى بِأَنْ لَا يَقْدَحَ فِيهِ.

Jika menyimpan timba dan tali tidak merusak tawakal—padahal itu adalah sarana untuk mendapatkan minuman—maka membawa makanan dan minuman itu sendiri di tempat yang tidak diharapkan adanya, lebih utama lagi untuk tidak dianggap merusak tawakal.

وَسَتَأْتِي حَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ فِي مَوْضِعِهَا، فَإِنَّهُ يَلْتَبِسُ إِلَّا عَلَى الْمُحَقِّقِينَ مِنْ عُلَمَاءِ الدِّينِ.

Hakikat tawakal akan datang penjelasannya pada tempatnya, karena ia sering samar kecuali bagi para ulama agama yang benar-benar meneliti dan mendalaminya.

وَأَمَّا زَادُ الْآخِرَةِ فَهُوَ الْعِلْمُ الَّذِي يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي طَهَارَتِهِ وَصَوْمِهِ وَصَلَاتِهِ وَعِبَادَتِهِ.

Adapun bekal akhirat adalah ilmu yang ia butuhkan dalam bersuci, berpuasa, salat, dan ibadahnya.

فَلَا بُدَّ أَنْ يَتَزَوَّدَ مِنْهُ.

Maka ia harus membekali diri dengannya.

إِذِ السَّفَرُ تَارَةً يُخَفِّفُ عَنْهُ أُمُورًا.

Karena perjalanan terkadang meringankan beberapa hal darinya.

فَيَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ الْقَدْرِ الَّذِي يُخَفِّفُهُ السَّفَرُ، كَالْقَصْرِ وَالْجَمْعِ وَالْفِطْرِ.

Sehingga ia perlu mengetahui kadar keringanan yang diberikan perjalanan, seperti qashar, jamak, dan berbuka.

وَتَارَةً يُشَدِّدُ عَلَيْهِ أُمُورًا كَانَ مُسْتَغْنِيًا عَنْهَا فِي الْحَضَرِ، كَالْعِلْمِ بِالْقِبْلَةِ وَأَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ.

Dan perjalanan terkadang memberatkannya dengan hal-hal yang ketika mukim ia tidak perlu memikirkannya, seperti mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu salat.

فَإِنَّهُ فِي الْبَلَدِ يَكْتَفِي بِمَحَارِيبِ الْمَسَاجِدِ وَأَذَانِ الْمُؤَذِّنِينَ.

Sebab ketika di suatu negeri, ia cukup mengandalkan mihrab-mihrab masjid dan azan para muazin.

وَفِي السَّفَرِ قَدْ يَحْتَاجُ إِلَى أَنْ يَتَعَرَّفَ بِنَفْسِهِ.

Sedangkan dalam perjalanan, ia bisa saja perlu mengetahuinya sendiri.

فَإِذًا مَا يَفْتَقِرُ إِلَى تَعَلُّمِهِ يَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ.

Karena itu, hal-hal yang perlu dipelajari terbagi menjadi dua bagian.

اَلْقِسْمُ الْأَوَّلُ: اَلْعِلْمُ بِرُخَصِ السَّفَرِ.

Bagian pertama: ilmu tentang keringanan-keringanan (rukhsah) perjalanan.

وَالسَّفَرُ يُفِيدُ فِي الطَّهَارَةِ رُخْصَتَيْنِ: مَسْحَ الْخُفَّيْنِ وَالتَّيَمُّمَ.

Perjalanan memberi dua keringanan dalam bersuci: mengusap dua khuf dan tayamum.

وَفِي صَلَاةِ الْفَرْضِ رُخْصَتَيْنِ: الْقَصْرَ وَالْجَمْعَ.

Dalam salat fardu ada dua keringanan: qashar dan jamak.

وَفِي النَّفْلِ رُخْصَتَيْنِ: أَدَاؤُهُ عَلَى الرَّاحِلَةِ وَأَدَاؤُهُ مَاشِيًا.

Dalam salat sunah ada dua keringanan: mengerjakannya di atas kendaraan dan mengerjakannya sambil berjalan.

وَفِي الصَّوْمِ رُخْصَةً وَاحِدَةً، وَهِيَ الْفِطْرُ.

Dalam puasa ada satu keringanan, yaitu berbuka.

فَهٰذِهِ سَبْعُ رُخَصٍ.

Maka ini semua berjumlah tujuh keringanan.

اَلرُّخْصَةُ الْأُولَى: الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ.

Keringanan pertama: mengusap (khuf) dua sepatu/penutup kaki (khuf).

قَالَ صَفْوَانُ بْنُ عَسَّالٍ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنَّا مُسَافِرِينَ أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ (١).

Shafwān bin ‘Assāl berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami apabila kami sedang bepergian agar tidak melepas khuf kami selama tiga hari dan malamnya. (1)

فَكُلُّ مَنْ لَبِسَ الْخُفَّ عَلَى طَهَارَةٍ مُبِيحَةٍ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ أَحْدَثَ فَلَهُ أَنْ يَمْسَحَ عَلَى خُفِّهِ مِنْ وَقْتِ حَدَثِهِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِنْ كَانَ مُسَافِرًا، أَوْ يَوْمًا وَلَيْلَةً إِنْ كَانَ مُقِيمًا، وَلَكِنْ بِخَمْسَةِ شُرُوطٍ.

Setiap orang yang memakai khuf dalam keadaan suci yang membolehkannya salat, lalu ia berhadas, maka ia boleh mengusap khufnya sejak waktu hadasnya selama tiga hari dan malamnya jika ia musafir, atau selama satu hari satu malam jika ia mukim, namun dengan lima syarat.

اَلشَّرْطُ الْأَوَّلُ: أَنْ يَكُونَ اللُّبْسُ بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ.

Syarat pertama: pemakaian khuf dilakukan setelah sempurna bersucinya.

فَلَوْ غَسَلَ الرِّجْلَ الْيُمْنَى وَأَدْخَلَهَا فِي الْخُفِّ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى فَأَدْخَلَهَا فِي الْخُفِّ، لَمْ يَجُزْ لَهُ الْمَسْحُ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ حَتَّى يَنْزِعَ الْيُمْنَى وَيُعِيدَ لُبْسَهَا.

Jika ia membasuh kaki kanan lalu memasukannya ke dalam khuf, kemudian membasuh kaki kiri lalu memasukannya ke dalam khuf, maka menurut Imam asy-Syāfi‘ī رحمه الله ia tidak boleh mengusap, sampai ia melepas yang kanan dan mengulangi memakainya.

اَلشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْخُفُّ قَوِيًّا يُمْكِنُ الْمَشْيُ فِيهِ.

Syarat kedua: khuf itu kuat sehingga memungkinkan untuk berjalan dengannya.

وَيَجُوزُ الْمَسْحُ عَلَى الْخُفِّ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْعَلًا، إِذِ الْعَادَةُ جَارِيَةٌ بِالتَّرَدُّدِ فِيهِ فِي الْمَنَازِلِ، لِأَنَّ فِيهِ قُوَّةً عَلَى الْجُمْلَةِ.

Boleh mengusap khuf walaupun tidak bersol, karena kebiasaan orang memakainya untuk hilir-mudik di tempat singgah, sebab pada dasarnya ia cukup kuat.

بِخِلَافِ جَوْرَبِ الصُّوفِيَّةِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ الْمَسْحُ عَلَيْهِ، وَكَذَا الْجَرْمُوقِ الضَّعِيفِ.

Berbeda dengan kaus kaki wol, karena tidak boleh mengusap di atasnya; demikian pula جرْموق (penutup kaki tambahan) yang lemah.

اَلشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ لَا يَكُونَ فِي مَوْضِعِ فَرْضِ الْغَسْلِ خَرْقٌ.

Syarat ketiga: tidak ada sobekan pada bagian yang wajib dibasuh.

فَإِنْ تَخَرَّقَ بِحَيْثُ انْكَشَفَ مَحَلُّ الْفَرْضِ لَمْ يَجُزِ الْمَسْحُ عَلَيْهِ.

Jika sobek sehingga bagian yang wajib dibasuh tampak, maka tidak boleh mengusapnya.

وَلِلشَّافِعِيِّ قَوْلٌ قَدِيمٌ: إِنَّهُ يَجُوزُ مَا دَامَ يَسْتَمْسِكُ عَلَى الرِّجْلِ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

Imam asy-Syāfi‘ī memiliki pendapat lama bahwa hal itu boleh selama masih menempel kuat pada kaki; dan itu adalah mazhab Mālik رضي الله عنه.

وَلَا بَأْسَ بِهِ لِمَسِيسِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ وَتَعَذُّرِ الْخَرْزِ فِي السَّفَرِ فِي كُلِّ وَقْتٍ.

Pendapat itu tidak mengapa, karena kebutuhan yang mendesak dan sulitnya menjahit ketika bepergian pada setiap waktu.

وَالْمِدَاسُ الْمَنْسُوجُ يَجُوزُ الْمَسْحُ عَلَيْهِ مَهْمَا كَانَ سَاتِرًا لَا تَبْدُو بَشَرَةُ الْقَدَمِ مِنْ خِلَالِهِ.

Alas kaki tenun (yang menutup kaki) boleh diusap selama menutupi, sehingga kulit kaki tidak terlihat dari sela-selanya.

وَكَذَا الْمَشْقُوقُ الَّذِي يُرَدُّ عَلَى مَحَلِّ الشَّقِّ بِشِرَاجٍ.

Demikian pula yang terbelah namun bagian belahannya ditutup kembali dengan ikatan (shirāj).

لِأَنَّ الْحَاجَةَ تَمَسُّ إِلَى جَمِيعِ ذٰلِكَ، فَلَا يُعْتَبَرُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ سَاتِرًا إِلَى مَا فَوْقَ الْكَعْبَيْنِ كَيْفَمَا كَانَ.

Karena kebutuhan bisa menyangkut semua bentuk itu, maka yang diperhitungkan hanyalah harus menutup hingga di atas kedua mata kaki, dengan bentuk apa pun.

فَأَمَّا إِذَا سَتَرَ بَعْضَ ظَهْرِ الْقَدَمِ وَسَتَرَ الْبَاقِيَ بِاللِّفَافَةِ لَمْ يَجُزِ الْمَسْحُ عَلَيْهِ.

Adapun bila sebagian punggung kaki tertutup oleh khuf dan sisanya ditutup dengan lilitan kain, maka tidak boleh diusap.

اَلشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَنْزِعَ الْخُفَّ بَعْدَ الْمَسْحِ عَلَيْهِ.

Syarat keempat: khuf tidak dilepas setelah diusap.

فَإِنْ نَزَعَ فَالْأَوْلَى لَهُ اسْتِئْنَافُ الْوُضُوءِ، فَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى غَسْلِ الْقَدَمَيْنِ جَازَ.

Jika ia melepasnya, maka yang lebih utama adalah mengulang wudu dari awal; tetapi jika ia cukup membasuh kedua kaki saja, itu boleh.

اَلشَّرْطُ الْخَامِسُ: أَنْ يَمْسَحَ عَلَى الْمَوْضِعِ الْمُحَاذِي لِمَحَلِّ فَرْضِ الْغَسْلِ لَا عَلَى السَّاقِ.

Syarat kelima: mengusap pada bagian yang sejajar dengan tempat wajib dibasuh, bukan pada betis.

وَأَقَلُّهُ مَا يُسَمَّى مَسْحًا عَلَى ظَهْرِ الْقَدَمِ مِنَ الْخُفِّ.

Minimalnya adalah sesuatu yang secara bahasa disebut “usap” pada punggung kaki di atas khuf.

وَإِذَا مَسَحَ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ أَجْزَأَهُ.

Jika ia mengusap dengan tiga jari, itu sudah mencukupi.

وَالْأَوْلَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ شُبْهَةِ الْخِلَافِ.

Yang lebih utama adalah keluar dari syubhat perbedaan pendapat.

وَأَكْمَلُهُ أَنْ يَمْسَحَ أَعْلَاهُ وَأَسْفَلَهُ دَفْعَةً وَاحِدَةً مِنْ غَيْرِ تَكْرَارٍ، كَذٰلِكَ فَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (١).

Yang paling sempurna ialah mengusap bagian atas dan bawahnya sekaligus tanpa pengulangan; demikianlah yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. (1)

وَوَصْفُهُ: أَنْ يُبِلَّ الْيَدَيْنِ، وَيَضَعَ رُءُوسَ أَصَابِعِ يَدِهِ الْيُمْنَى عَلَى رُءُوسِ أَصَابِعِ رِجْلِهِ الْيُمْنَى.

Cara mengusapnya: membasahi kedua tangan, lalu meletakkan ujung jari-jari tangan kanannya pada ujung jari-jari kaki kanannya.

وَيَمْسَحَهُ بِأَنْ يَجُرَّ أَصَابِعَهُ إِلَى جِهَةِ نَفْسِهِ.

Kemudian mengusapnya dengan menarik jari-jari ke arah dirinya (ke atas).

وَيَضَعَ رُءُوسَ أَصَابِعِ يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى عَقِبِهِ مِنْ أَسْفَلِ الْخُفِّ.

Dan meletakkan ujung jari-jari tangan kirinya pada tumitnya dari bagian bawah khuf.

وَيُمِرُّهَا إِلَى رَأْسِ الْقَدَمِ.

Lalu menggerakkannya sampai ke ujung kaki.

وَمَهْمَا مَسَحَ مُقِيمًا ثُمَّ سَافَرَ، أَوْ مَسَحَ مُسَافِرًا ثُمَّ أَقَامَ، غَلَبَ حُكْمُ الْإِقَامَةِ، فَلْيَقْتَصِرْ عَلَى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ.

Kapan pun ia mengusap saat mukim lalu bepergian, atau mengusap saat bepergian lalu menjadi mukim, maka yang berlaku adalah hukum mukim; hendaklah ia membatasi satu hari satu malam.

وَعَدَدُ الْأَيَّامِ الثَّلَاثَةِ مَحْسُوبٌ مِنْ وَقْتِ حَدَثِهِ بَعْدَ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفِّ.

Hitungan tiga hari dimulai dari waktu ia berhadas setelah mengusap khuf.

فَلَوْ لَبِسَ الْخُفَّ فِي الْحَضَرِ وَمَسَحَ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ خَرَجَ وَأَحْدَثَ فِي السَّفَرِ وَقْتَ الزَّوَالِ مَثَلًا، مَسَحَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ مِنْ وَقْتِ الزَّوَالِ إِلَى الزَّوَالِ مِنَ الْيَوْمِ الرَّابِعِ.

Jika ia memakai khuf di rumah (saat mukim) dan mengusapnya saat mukim, lalu ia berangkat dan berhadas dalam perjalanan pada waktu zuhur misalnya, maka ia boleh mengusap selama tiga hari dan malamnya sejak waktu zuhur sampai zuhur hari keempat.

فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ مِنَ الْيَوْمِ الرَّابِعِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ إِلَّا بَعْدَ غَسْلِ الرِّجْلَيْنِ.

Ketika matahari telah tergelincir pada hari keempat, ia tidak boleh salat kecuali setelah membasuh kedua kaki.

فَيَغْسِلُ رِجْلَيْهِ وَيُعِيدُ لُبْسَ الْخُفِّ، وَيُرَاعِي وَقْتَ الْحَدَثِ، وَيَسْتَأْنِفُ الْحِسَابَ مِنْ وَقْتِ الْحَدَثِ.

Maka ia membasuh kedua kakinya, lalu memakai khuf kembali, memperhatikan waktu hadas, dan memulai perhitungan baru dari waktu hadas tersebut.

وَلَوْ أَحْدَثَ بَعْدَ لُبْسِ الْخُفِّ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ الْحَدَثِ فَلَهُ أَنْ يَمْسَحَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ.

Jika ia berhadas setelah memakai khuf saat mukim, lalu berangkat setelah hadas itu, maka ia boleh mengusap tiga hari.

لِأَنَّ الْعَادَةَ قَدْ تَقْتَضِي اللُّبْسَ قَبْلَ الْخُرُوجِ ثُمَّ لَا يُمْكِنُ الِاحْتِرَازُ مِنَ الْحَدَثِ.

Karena kebiasaan menuntut pemakaian khuf sebelum berangkat, dan hadas sulit dihindari.

فَأَمَّا إِذَا مَسَحَ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ سَافَرَ اقْتَصَرَ عَلَى مُدَّةِ الْمُقِيمِينَ.

Namun bila ia mengusap saat mukim kemudian bepergian, ia hanya mengambil masa (usap) sebagaimana mukim.

وَيُسْتَحَبُّ لِكُلِّ مَنْ يُرِيدُ لُبْسَ الْخُفِّ فِي حَضَرٍ أَوْ سَفَرٍ أَنْ يُنَكِّسَ الْخُفَّ وَيَنْفُضَ مَا فِيهِ حَذَرًا مِنْ حَيَّةٍ أَوْ عَقْرَبٍ أَوْ شَوْكَةٍ.

Disunahkan bagi siapa pun yang hendak memakai khuf—saat mukim atau bepergian—untuk membalik khuf dan mengibaskan isi di dalamnya, sebagai kewaspadaan dari ular, kalajengking, atau duri.

فَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّهُ قَالَ: دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخُفَّيْهِ فَلَبِسَ أَحَدَهُمَا.

Diriwayatkan dari Abū Umāmah bahwa ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta kedua khufnya lalu beliau memakai salah satunya.

فَجَاءَ غُرَابٌ فَاحْتَمَلَ الْآخَرَ ثُمَّ رَمَى بِهِ فَخَرَجَتْ مِنْهُ حَيَّةٌ.

Lalu datang seekor gagak membawa khuf yang satunya, kemudian melemparkannya, lalu keluarlah dari dalamnya seekor ular.

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَلْبَسْ خُفَّيْهِ حَتَّى يَنْفُضَهُمَا (٢).

Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia memakai kedua khufnya sampai ia mengibaskannya.” (2)