Rukhshah dalam Perjalanan (2)

اَلرُّخْصَةُ الثَّانِيَةُ: التَّيَمُّمُ بِالتُّرَابِ بَدَلًا عَنِ الْمَاءِ عِنْدَ الْعُذْرِ.

Keringanan kedua: tayamum dengan tanah sebagai pengganti air ketika ada uzur.

إِنَّمَا يَتَعَذَّرُ الْمَاءُ بِأَنْ يَكُونَ بَعِيدًا عَنِ الْمَنْزِلِ بُعْدًا لَوْ مَشَى إِلَيْهِ لَمْ يَلْحَقْهُ غَوْثُ الْقَافِلَةِ إِنْ صَاحَ أَوِ اسْتَغَاثَ.

Air dianggap sulit didapat bila letaknya jauh dari tempat singgah, dengan jarak yang jika ia berjalan ke sana, ia tidak akan sempat mendapat pertolongan rombongan bila ia berteriak atau meminta tolong.

وَهُوَ الْبُعْدُ الَّذِي لَا يَعْتَادُهُ أَهْلُ الْمَنْزِلِ فِي تَرَدُّدِهِمْ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ.

Yaitu jarak yang tidak biasa ditempuh oleh orang-orang di tempat itu ketika bolak-balik untuk buang hajat.

وَكَذٰلِكَ إِنْ نَزَلَ عَلَى الْمَاءِ عَدُوٌّ أَوْ سَبُعٌ فَيَجُوزُ التَّيَمُّمُ وَإِنْ كَانَ الْمَاءُ قَرِيبًا.

Demikian pula jika di dekat air ada musuh atau binatang buas, maka tayamum boleh walaupun air dekat.

وَكَذٰلِكَ إِنِ احْتَاجَ إِلَيْهِ لِعَطَشِهِ فِي يَوْمِهِ أَوْ بَعْدَ يَوْمِهِ لِفَقْدِ الْمَاءِ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَهُ التَّيَمُّمُ.

Demikian pula jika ia memerlukan air itu karena haus pada hari itu atau hari sesudahnya karena khawatir tidak ada air di depan, maka ia boleh tayamum.

وَكَذٰلِكَ إِنِ احْتَاجَ إِلَيْهِ لِعَطَشِ أَحَدِ رُفَقَائِهِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْوُضُوءُ.

Dan jika air dibutuhkan karena haus salah seorang teman seperjalanannya, maka ia tidak boleh berwudu (dengan air itu).

وَيَلْزَمُهُ بَذْلُهُ إِمَّا بِثَمَنٍ أَوْ بِغَيْرِ ثَمَنٍ.

Ia wajib memberikan air itu kepadanya, baik dengan harga maupun tanpa harga.

وَلَوْ كَانَ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ لِطَبْخِ مَرَقَةٍ أَوْ لَحْمٍ أَوْ لِبَلِّ فَتِيتٍ يَجْمَعُهُ بِهِ لَمْ يَجُزْ لَهُ التَّيَمُّمُ.

Jika ia memerlukan air itu hanya untuk memasak kuah atau daging, atau untuk membasahi remahan roti agar menyatu, maka ia tidak boleh tayamum.

بَلْ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَزِئَ بِالْفَتِيتِ الْيَابِسِ وَيَتْرُكَ تَنَاوُلَ الْمَرَقَةِ.

Namun ia harus mencukupkan diri dengan remahan roti yang kering dan meninggalkan makan kuah.

وَمَهْمَا وُهِبَ لَهُ الْمَاءُ وَجَبَ قَبُولُهُ.

Jika ada orang menghadiahkan air kepadanya, wajib ia menerimanya.

وَإِنْ وُهِبَ لَهُ ثَمَنُهُ لَمْ يَجِبْ قَبُولُهُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْمِنَّةِ.

Namun jika ada yang menawarkan uang untuk membeli air, tidak wajib ia menerimanya karena mengandung unsur “budi” (minnah) yang memberatkan.

وَإِنْ بِيعَ بِثَمَنِ الْمِثْلِ لَزِمَهُ الشِّرَاءُ.

Jika air dijual dengan harga wajar, ia wajib membelinya.

وَإِنْ بِيعَ بِغَبْنٍ لَمْ يَلْزَمْهُ.

Jika dijual dengan harga yang terlalu mahal (ghabn), ia tidak wajib membelinya.

فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ مَاءٌ وَأَرَادَ أَنْ يَتَيَمَّمَ فَأَوَّلُ مَا يَلْزَمُهُ طَلَبُ الْمَاءِ مَهْمَا جُوِّزَ الْوُصُولُ إِلَيْهِ بِالطَّلَبِ.

Jika ia tidak membawa air dan hendak tayamum, maka pertama yang wajib baginya adalah mencari air selama masih mungkin didapat dengan pencarian.

وَذٰلِكَ بِالتَّرَدُّدِ حَوَالَيَ الْمَنْزِلِ وَتَفْتِيشِ الرَّحْلِ وَطَلَبِ الْبَقَايَا مِنَ الْأَوَانِي وَالْمَطَاهِرِ.

Caranya: berkeliling sekitar tempat singgah, memeriksa barang bawaan, dan mencari sisa air dari wadah-wadah dan tempat air.

فَإِنْ نَسِيَ الْمَاءَ فِي رَحْلِهِ، أَوْ نَسِيَ بِئْرًا بِالْقُرْبِ مِنْهُ، لَزِمَهُ إِعَادَةُ الصَّلَاةِ لِتَقْصِيرِهِ فِي الطَّلَبِ.

Jika ia lupa bahwa air ada di barangnya, atau lupa ada sumur di dekatnya, maka ia wajib mengulang salat karena lalai dalam mencari.

وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَجِدُ الْمَاءَ فِي آخِرِ الْوَقْتِ فَالْأَوْلَى أَنْ يُصَلِّيَ بِالتَّيَمُّمِ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، فَإِنَّ الْعُمْرَ لَا يُوثَقُ بِهِ.

Jika ia tahu bahwa ia akan menemukan air di akhir waktu, yang lebih utama ialah salat dengan tayamum di awal waktu, karena umur tidak dapat dipercaya (bisa saja terhalang kematian/uzur).

وَأَوَّلُ الْوَقْتِ رِضْوَانُ اللهِ.

Awal waktu adalah keridaan Allah.

تَيَمَّمَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، فَقِيلَ لَهُ: أَتَتَيَمَّمُ وَجُدْرَانُ الْمَدِينَةِ تَنْظُرُ إِلَيْكَ؟

Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما pernah bertayamum, lalu dikatakan kepadanya: “Engkau bertayamum padahal dinding-dinding Madinah melihatmu?”

فَقَالَ: أَوْ أَبْقَى إِلَى أَنْ أَدْخُلَهَا؟

Ia menjawab: “Apakah aku harus menunggu sampai aku memasukinya (baru berwudu)?”

وَمَهْمَا وَجَدَ الْمَاءَ بَعْدَ الشُّرُوعِ فِي الصَّلَاةِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ وَلَمْ يَلْزَمْهُ الْوُضُوءُ.

Jika ia menemukan air setelah mulai salat, salatnya tidak batal dan ia tidak wajib berwudu.

وَإِذَا وَجَدَهُ قَبْلَ الشُّرُوعِ فِي الصَّلَاةِ لَزِمَهُ الْوُضُوءُ.

Jika ia menemukannya sebelum mulai salat, wajib baginya berwudu.

وَمَهْمَا طَلَبَ فَلَمْ يَجِدْ فَلْيَقْصِدْ صَعِيدًا طَيِّبًا عَلَيْهِ تُرَابٌ يَثُورُ مِنْهُ غُبَارٌ.

Jika ia sudah mencari namun tidak menemukan, hendaklah ia menuju tanah yang suci lagi baik yang ada debu sehingga bila dipukul menimbulkan debu beterbangan.

وَلْيَضْرِبْ عَلَيْهِ كَفَّيْهِ بَعْدَ ضَمِّ أَصَابِعِهِمَا ضَرْبَةً.

Hendaklah ia memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah itu setelah merapatkan jari-jari keduanya, dengan satu pukulan.

فَيَمْسَحُ بِهَا وَجْهَهُ.

Lalu ia usapkan untuk wajahnya.

وَيَضْرِبُ ضَرْبَةً أُخْرَى بَعْدَ نَزْعِ الْخَاتَمِ.

Kemudian ia memukul lagi pukulan kedua setelah melepaskan cincin.

وَيُفَرِّجُ الْأَصَابِعَ، وَيَمْسَحُ بِهَا يَدَيْهِ إِلَى مِرْفَقَيْهِ.

Lalu ia merenggangkan jari-jari, dan mengusap kedua tangannya sampai siku.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَوْعِبْ بِضَرْبَةٍ وَاحِدَةٍ جَمِيعَ يَدَيْهِ ضَرَبَ ضَرْبَةً أُخْرَى.

Jika dengan satu pukulan belum merata pada seluruh kedua tangannya, ia memukul lagi pukulan tambahan.

وَكَيْفِيَّةُ التَّلَطُّفِ فِيهِ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ فَلَا نُعِيدُهُ.

Adapun cara merincinya telah kami sebutkan dalam Kitab Thaharah, maka tidak kami ulangi di sini.

ثُمَّ إِذَا صَلَّى بِهِ فَرِيضَةً وَاحِدَةً فَلَهُ أَنْ يَتَنَفَّلَ مَا شَاءَ بِذٰلِكَ التَّيَمُّمِ.

Jika ia sudah salat satu fardu dengan tayamum itu, ia boleh melakukan salat-salat sunah sekehendaknya dengan tayamum yang sama.

وَإِنْ أَرَادَ الْجَمْعَ بَيْنَ فَرِيضَتَيْنِ فَعَلَيْهِ أَنْ يُعِيدَ التَّيَمُّمَ لِلصَّلَاةِ الثَّانِيَةِ.

Jika ia hendak menggabungkan dua salat fardu, maka ia harus mengulang tayamum untuk salat yang kedua.

فَلَا يُصَلَّى فَرِيضَتَانِ إِلَّا بِتَيَمُّمَيْنِ.

Maka tidak boleh mengerjakan dua salat fardu kecuali dengan dua tayamum.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَيَمَّمَ لِصَلَاةٍ قَبْلَ دُخُولِ وَقْتِهَا.

Tidak semestinya ia bertayamum untuk salat sebelum masuk waktunya.

فَإِنْ فَعَلَ وَجَبَ عَلَيْهِ إِعَادَةُ التَّيَمُّمِ.

Jika ia melakukannya, wajib ia mengulang tayamum.

وَلْيَنْوِ عِنْدَ مَسْحِ الْوَجْهِ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ.

Ketika mengusap wajah, hendaklah ia berniat “membolehkan salat” (istibāhah ash-shalāh).

وَلَوْ وَجَدَ مِنَ الْمَاءِ مَا يَكْفِيهِ لِبَعْضِ طَهَارَتِهِ فَلْيَسْتَعْمِلْهُ ثُمَّ لِيَتَيَمَّمْ بَعْدَهُ تَيَمُّمًا تَامًّا.

Jika ia mendapatkan air yang cukup hanya untuk sebagian bersucinya, hendaklah ia gunakan air itu terlebih dahulu, lalu bertayamum setelahnya dengan tayamum yang sempurna.

اَلرُّخْصَةُ الثَّالِثَةُ فِي الصَّلَاةِ الْمَفْرُوضَةِ: الْقَصْرُ.

Keringanan ketiga dalam salat fardu: qashar.

وَلَهُ أَنْ يَقْتَصِرَ فِي كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْعِشَاءِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَلَكِنْ بِشُرُوطٍ ثَلَاثَةٍ.

Ia boleh meringkas setiap salat Zuhur, Asar, dan Isya menjadi dua rakaat, namun dengan tiga syarat.

اَلشَّرْطُ الْأَوَّلُ: أَنْ يُؤَدِّيَهَا فِي أَوْقَاتِهَا.

Syarat pertama: ia melaksanakannya pada waktunya.

فَلَوْ صَارَتْ قَضَاءً فَالْأَظْهَرُ لُزُومُ الْإِتْمَامِ.

Jika menjadi qadha, maka pendapat yang lebih kuat: wajib menyempurnakan (empat rakaat).

اَلشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ.

Syarat kedua: ia berniat qashar.

فَلَوْ نَوَى الْإِتْمَامَ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

Jika ia berniat itmam (menyempurnakan), maka ia wajib menyempurnakan.

وَلَوْ شَكَّ فِي أَنَّهُ نَوَى الْقَصْرَ أَوِ الْإِتْمَامَ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

Jika ia ragu apakah berniat qashar atau itmam, maka ia wajib itmam.

اَلشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ وَلَا بِمُسَافِرٍ مُتِمٍّ.

Syarat ketiga: ia tidak bermakmum kepada orang mukim, dan tidak pula kepada musafir yang melakukan itmam.

فَإِنْ فَعَلَ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

Jika ia melakukannya, maka ia wajib itmam.

بَلْ إِنْ شَكَّ فِي أَنَّ إِمَامَهُ مُقِيمٌ أَوْ مُسَافِرٌ لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ.

Bahkan jika ia ragu apakah imamnya mukim atau musafir, ia wajib itmam.

وَإِنْ تَيَقَّنَ بَعْدَهُ أَنَّهُ مُسَافِرٌ، لِأَنَّ شِعَارَ الْمُسَافِرِ لَا يَخْفَى، فَلْيَكُنْ مُتَحَقِّقًا عِنْدَ النِّيَّةِ.

Walaupun setelah itu ia yakin imamnya musafir; sebab ciri musafir biasanya tidak samar, maka hendaklah ia memastikan sejak berniat.

وَإِنْ شَكَّ فِي أَنَّ إِمَامَهُ هَلْ نَوَى الْقَصْرَ أَمْ لَا بَعْدَ أَنْ عَرَفَ أَنَّهُ مُسَافِرٌ لَمْ يَضُرَّهُ ذٰلِكَ، لِأَنَّ النِّيَّاتِ لَا يُطَّلَعُ عَلَيْهَا.

Jika ia ragu apakah imamnya berniat qashar atau tidak setelah ia tahu imamnya musafir, maka itu tidak membahayakan, karena niat tidak diketahui.

وَهٰذَا كُلُّهُ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ طَوِيلٍ مُبَاحٍ.

Semua ini berlaku apabila perjalanannya adalah perjalanan jauh yang mubah.

وَحَدُّ السَّفَرِ مِنْ جِهَةِ الْبِدَايَةِ وَالنِّهَايَةِ فِيهِ إِشْكَالٌ، فَلَا بُدَّ مِنْ مَعْرِفَتِهِ.

Batas perjalanan dari sisi awal dan akhir mengandung persoalan, maka harus diketahui.

وَالسَّفَرُ هُوَ الِانْتِقَالُ مِنْ مَوْضِعِ الْإِقَامَةِ مَعَ رَبْطِ الْقَصْدِ بِمَقْصَدٍ مَعْلُومٍ.

Safar adalah berpindah dari tempat tinggal dengan mengikat niat menuju tujuan yang diketahui.

فَالْهَائِمُ وَرَاكِبُ التَّعَاسِيفِ لَيْسَ لَهُ التَّرَخُّصُ.

Orang yang berjalan tanpa arah (bingung) dan orang yang menempuh jalan tanpa tujuan jelas, tidak berhak mendapat rukhsah.

وَهُوَ الَّذِي لَا يَقْصِدُ مَوْضِعًا مُعَيَّنًا.

Yaitu orang yang tidak menuju tempat tertentu.

وَلَا يَصِيرُ مُسَافِرًا مَا لَمْ يُفَارِقْ عُمْرَانَ الْبَلَدِ.

Ia tidak menjadi musafir sebelum melewati batas permukiman negeri itu.

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُجَاوِزَ خَرَابَ الْبَلْدَةِ وَبَسَاتِينَها الَّتِي يَخْرُجُ أَهْلُ الْبَلْدَةِ إِلَيْهَا لِلتَّنَزُّهِ.

Tidak disyaratkan melewati reruntuhan kota dan kebun-kebun yang biasa didatangi penduduk untuk rekreasi.

وَأَمَّا الْقَرْيَةُ فَالْمُسَافِرُ مِنْهَا يَنْبَغِي أَنْ يُجَاوِزَ الْبَسَاتِينَ الْمَحُوطَةَ دُونَ الَّتِي لَيْسَتْ بِمَحُوطَةٍ.

Adapun desa, musafir yang keluar darinya sebaiknya melewati kebun-kebun yang berpagar, bukan kebun yang tidak berpagar.

وَلَوْ رَجَعَ الْمُسَافِرُ إِلَى الْبَلَدِ لِأَخْذِ شَيْءٍ نَسِيَهُ لَمْ يَتَرَخَّصْ إِنْ كَانَ ذٰلِكَ وَطَنَهُ مَا لَمْ يُجَاوِزِ الْعُمْرَانَ.

Jika musafir kembali ke negeri untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, ia tidak boleh mengambil rukhsah bila itu adalah kampung halamannya sampai ia melewati permukiman.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ ذٰلِكَ هُوَ الْوَطَنَ فَلَهُ التَّرَخُّصُ، إِذْ صَارَ مُسَافِرًا بِالِانْزِعَاجِ وَالْخُرُوجِ مِنْهُ.

Jika itu bukan kampung halamannya, maka ia boleh mengambil rukhsah, karena ia telah menjadi musafir dengan “berangkat” dan keluar dari tempat itu.

وَأَمَّا نِهَايَةُ السَّفَرِ فَبِأَحَدِ أُمُورٍ ثَلَاثَةٍ.

Adapun berakhirnya status safar, terjadi dengan salah satu dari tiga hal.

اَلْأَوَّلُ: الْوُصُولُ إِلَى الْعُمْرَانِ مِنَ الْبَلَدِ الَّذِي عَزَمَ عَلَى الْإِقَامَةِ بِهِ.

Pertama: sampai ke kawasan permukiman negeri yang ia niatkan untuk tinggal di sana.

اَلثَّانِي: الْعَزْمُ عَلَى الْإِقَامَةِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا، إِمَّا فِي بَلَدٍ أَوْ فِي صَحْرَاءَ.

Kedua: berniat tinggal tiga hari atau lebih, baik di negeri maupun di padang.

اَلثَّالِثُ: صُورَةُ الْإِقَامَةِ وَإِنْ لَمْ يَعْزِمْ.

Ketiga: adanya “bentuk” tinggal, walaupun ia tidak berniat menetap.

كَمَا إِذَا أَقَامَ عَلَى مَوْضِعٍ وَاحِدٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ سِوَى يَوْمِ الدُّخُولِ، لَمْ يَكُنْ لَهُ التَّرَخُّصُ بَعْدَهُ وَإِنْ لَمْ يَعْزِمْ عَلَى الْإِقَامَةِ.

Seperti bila ia tinggal di satu tempat selama tiga hari selain hari kedatangan, maka setelah itu ia tidak boleh mengambil rukhsah walaupun tidak berniat menetap.

وَإِنْ لَمْ يَعْزِمْ عَلَى الْإِقَامَةِ وَكَانَ لَهُ شُغْلٌ وَهُوَ يَتَوَقَّعُ كُلَّ يَوْمٍ إِنْجَازَهُ وَلٰكِنَّهُ يَتَعَوَّقُ عَلَيْهِ وَيَتَأَخَّرُ فَلَهُ أَنْ يَتَرَخَّصَ، وَإِنْ طَالَتِ الْمُدَّةُ عَلَى أَقْيَسِ الْقَوْلَيْنِ.

Jika ia tidak berniat menetap, namun ia punya urusan dan setiap hari ia berharap selesai tetapi terus terhalang dan tertunda, maka ia boleh mengambil rukhsah walaupun waktunya lama menurut pendapat yang lebih kuat.

لِأَنَّهُ مُنْزَعِجٌ بِلَقَبِهِ وَمُسَافِرٌ عَنِ الْوَطَنِ بِصُورَتِهِ.

Karena secara hakikat ia tetap “dalam keadaan berangkat/terusir dari ketenangan”, dan statusnya musafir dari kampung halaman dilihat dari keadaan nyatanya.

وَلَا مُبَالَاةَ بِصُورَةِ الثُّبُوتِ عَلَى مَوْضِعٍ وَاحِدٍ مَعَ انْزِعَاجِ الْقَلْبِ.

Tidak dipedulikan bentuk lahiriah menetap di satu tempat bila hati masih gelisah dan siap bergerak.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ هٰذَا الشُّغْلُ قِتَالًا أَوْ غَيْرَهُ.

Tidak ada bedanya apakah urusan itu peperangan atau selainnya.

وَلَا بَيْنَ أَنْ تَطُولَ الْمُدَّةُ أَوْ تَقْصُرَ.

Tidak ada bedanya apakah durasinya panjang atau pendek.

وَلَا بَيْنَ أَنْ يَتَأَخَّرَ الْخُرُوجُ لِمَطَرٍ لَا يَعْلَمُ بَقَاءَهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ لِغَيْرِهِ.

Tidak ada bedanya apakah tertundanya keberangkatan karena hujan yang ia tidak tahu akan bertahan tiga hari atau karena sebab lain.

إِذْ تَرَخَّصَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَرَ فِي بَعْضِ الْغَزَوَاتِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا عَلَى مَوْضِعٍ وَاحِدٍ (١).

Karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengambil rukhsah dan mengqashar dalam sebagian peperangan selama delapan belas hari di satu tempat. (1)

وَظَاهِرُ الْأَمْرِ أَنَّهُ لَوْ تَمَادَى الْقِتَالُ لَتَمَادَى تَرَخُّصُهُ.

Lahiriah perkaranya: seandainya peperangan berlanjut, rukhsah beliau pun akan terus berlanjut.

إِذْ لَا مَعْنَى لِلتَّقْدِيرِ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا.

Sebab tidak ada makna pembatasan dengan angka delapan belas hari.

وَالظَّاهِرُ أَنَّ قَصْرَهُ كَانَ لِكَوْنِهِ مُسَافِرًا لَا لِكَوْنِهِ غَازِيًا مُقَاتِلًا.

Yang tampak: qashar beliau karena status beliau sebagai musafir, bukan karena beliau sebagai pejuang yang berperang.

هٰذَا مَعْنَى الْقَصْرِ.

Inilah makna qashar.

وَأَمَّا مَعْنَى التَّطْوِيلِ فَهُوَ أَنْ يَكُونَ مَرْحَلَتَيْنِ.

Adapun makna “perjalanan jauh” ialah jaraknya dua marhalah.

كُلُّ مَرْحَلَةٍ ثَمَانِيَةُ فَرَاسِخَ.

Setiap marhalah adalah delapan farsakh.

وَكُلُّ فَرْسَخٍ ثَلَاثَةُ أَمْيَالٍ.

Setiap farsakh adalah tiga mil.

وَكُلُّ مِيلٍ أَرْبَعَةُ آلَافِ خُطْوَةٍ.

Setiap mil adalah empat ribu langkah.

وَكُلُّ خُطْوَةٍ ثَلَاثَةُ أَقْدَامٍ.

Dan setiap langkah adalah tiga telapak kaki.

وَمَعْنَى الْمُبَاحِ أَنْ لَا يَكُونَ عَاقًّا لِوَالِدَيْهِ هَارِبًا مِنْهُمَا.

Makna “mubah” ialah: tidak dalam keadaan durhaka kepada orang tua dengan melarikan diri dari keduanya.

وَلَا هَارِبًا مِنْ مَالِكِهِ.

Tidak pula melarikan diri dari tuannya (dalam konteks budak dahulu).

وَلَا تَكُونَ الْمَرْأَةُ هَارِبَةً مِنْ زَوْجِهَا.

Dan perempuan tidak melarikan diri dari suaminya.

وَلَا أَنْ يَكُونَ مَنْ عَلَيْهِ الدَّيْنُ هَارِبًا مِنَ الْمُسْتَحِقِّ مَعَ الْيَسَارِ.

Dan orang yang punya utang tidak melarikan diri dari pihak yang berhak menagih, padahal ia mampu membayar.

وَلَا يَكُونَ مُتَوَجِّهًا فِي قَطْعِ طَرِيقٍ أَوْ قَتْلِ إِنْسَانٍ.

Dan tidak menuju untuk merampok di jalan atau membunuh seseorang.

أَوْ طَلَبِ إِدْرَارٍ حَرَامٍ مِنْ سُلْطَانٍ ظَالِمٍ.

Atau mencari pemberian haram dari penguasa zalim.

أَوْ سَعْيًا بِالْفَسَادِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ.

Atau berupaya membuat kerusakan di tengah kaum muslimin.

وَبِالْجُمْلَةِ فَلَا يُسَافِرُ الْإِنْسَانُ إِلَّا فِي غَرَضٍ.

Kesimpulannya, manusia tidak bepergian kecuali karena suatu tujuan.

وَالْغَرَضُ هُوَ الْمُحَرِّكُ.

Tujuan itulah pendorong.

فَإِنْ كَانَ تَحْصِيلُ ذٰلِكَ الْغَرَضِ حَرَامًا، وَلَوْلَا ذٰلِكَ الْغَرَضُ لَكَانَ لَا يَنْبَعِثُ لِسَفَرِهِ، فَسَفَرُهُ مَعْصِيَةٌ وَلَا يَجُوزُ فِيهِ التَّرَخُّصُ.

Jika meraih tujuan itu haram, dan tanpa tujuan itu ia tidak akan terdorong untuk bepergian, maka safarnya adalah maksiat dan tidak boleh mengambil rukhsah.

وَأَمَّا الْفِسْقُ فِي السَّفَرِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَغَيْرِهِ فَلَا يَمْنَعُ الرُّخْصَةَ.

Adapun kemaksiatan dalam perjalanan seperti minum khamar dan lainnya, tidak menghalangi rukhsah.

بَلْ كُلُّ سَفَرٍ يَنْهَى الشَّرْعُ عَنْهُ فَلَا يُعَانُ عَلَيْهِ بِالرُّخْصَةِ.

Bahkan setiap perjalanan yang dilarang syariat, tidak dibantu dengan rukhsah.

وَلَوْ كَانَ لَهُ بَاعِثَانِ أَحَدُهُمَا مُبَاحٌ وَالْآخَرُ مَحْظُورٌ.

Jika ia punya dua pendorong, satu mubah dan satu terlarang.

وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ لَمْ يَكُنِ الْبَاعِثُ لَهُ الْمَحْظُورُ لَكَانَ الْمُبَاحُ مُسْتَقِلًّا بِتَحْرِيكِهِ وَلَكَانَ لَا مَحَالَةَ يُسَافِرُ لِأَجْلِهِ، فَلَهُ التَّرَخُّصُ.

Dan seandainya pendorong yang terlarang itu tidak ada, pendorong yang mubah sudah cukup menggerakkannya dan ia pasti bepergian karenanya, maka ia boleh mengambil rukhsah.

وَالْمُتَصَوِّفَةُ الطَّوَّافُونَ فِي الْبِلَادِ مِنْ غَيْرِ غَرَضٍ صَحِيحٍ سِوَى التَّفَرُّجِ لِمُشَاهَدَةِ الْبِقَاعِ الْمُخْتَلِفَةِ، فِي تَرَخُّصِهِمْ خِلَافٌ.

Adapun para sufi yang berkeliling negeri tanpa tujuan yang benar selain sekadar berjalan-jalan melihat tempat-tempat berbeda, dalam hal rukhsah bagi mereka terdapat perbedaan pendapat.

وَالْمُخْتَارُ أَنَّ لَهُمُ التَّرَخُّصَ.

Pendapat yang dipilih: mereka tetap boleh mengambil rukhsah.