Rukhshah dalam Perjalanan (3)
اَلرُّخْصَةُ الرَّابِعَةُ: الْجَمْعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتَيْهِمَا، وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتَيْهِمَا.
Keringanan keempat: menjamak Zuhur dan Asar pada salah satu
waktu keduanya, dan menjamak Magrib dan Isya pada salah satu waktu keduanya.
فَذٰلِكَ
أَيْضًا جَائِزٌ فِي كُلِّ سَفَرٍ طَوِيلٍ مُبَاحٍ.
Hal itu juga boleh dalam setiap perjalanan jauh yang mubah.
وَفِي
جَوَازِهِ فِي السَّفَرِ الْقَصِيرِ قَوْلَانِ.
Adapun pada perjalanan pendek, ada dua pendapat.
ثُمَّ
إِنْ قَدَّمَ الْعَصْرَ إِلَى الظُّهْرِ فَلْيَنْوِ الْجَمْعَ بَيْنَ الظُّهْرِ
وَالْعَصْرِ فِي وَقْتِهِمَا قَبْلَ الْفَرَاغِ مِنَ الظُّهْرِ.
Jika ia melakukan jamak taqdim (Asar dijamak pada waktu
Zuhur), hendaklah ia berniat jamak sebelum selesai dari salat Zuhur.
وَلْيُؤَذِّنْ
لِلظُّهْرِ وَلْيُقِمْ.
Hendaklah ia azan untuk Zuhur dan iqamah.
وَعِنْدَ
الْفَرَاغِ يُقِيمُ لِلْعَصْرِ.
Ketika selesai, ia iqamah untuk Asar.
وَيُجَدِّدُ
التَّيَمُّمَ أَوَّلًا إِنْ كَانَ فَرْضُهُ التَّيَمُّمَ.
Dan ia memperbarui tayamum terlebih dahulu jika kewajibannya
adalah tayamum.
وَلَا
يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا بِأَكْثَرَ مِنْ تَيَمُّمٍ وَإِقَامَةٍ.
Ia tidak memisahkan kedua salat itu dengan jeda lebih dari
tayamum dan iqamah.
فَإِنْ
قَدَّمَ الْعَصْرَ لَمْ يَجُزْ.
Jika ia mendahulukan Asar (sebelum Zuhur), maka tidak boleh.
وَإِنْ
نَوَى الْجَمْعَ عِنْدَ التَّحَرُّمِ بِصَلَاةِ الْعَصْرِ جَازَ عِنْدَ
الْمُزَنِيِّ.
Jika ia berniat jamak ketika takbiratul ihram salat Asar,
hal itu boleh menurut al-Muzanī.
وَلَهُ
وَجْهٌ فِي الْقِيَاسِ.
Pendapat itu memiliki sisi penguatan dalam qiyas.
إِذْ
لَا مُسْتَنَدَ لِإِيجَابِ تَقْدِيمِ النِّيَّةِ.
Karena tidak ada dasar yang tegas untuk mewajibkan
mendahulukan niat (sebelum selesai Zuhur).
بَلِ
الشَّرْعُ جَوَّزَ الْجَمْعَ وَهٰذَا جَمْعٌ.
Syariat membolehkan jamak, dan ini memang jamak.
وَإِنَّمَا
الرُّخْصَةُ فِي الْعَصْرِ فَتَكْفِي النِّيَّةُ فِيهَا.
Rukhsahnya berada pada Asar, maka cukup niat di dalamnya.
وَأَمَّا
الظُّهْرُ فَجَارٍ عَلَى الْقَانُونِ.
Sedangkan Zuhur berjalan sesuai hukum asal.
ثُمَّ
إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاتَيْنِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ سُنَنِ
الصَّلَاتَيْنِ.
Setelah selesai dua salat fardu itu, sebaiknya ia
menggabungkan (mengurus) salat-salat sunah yang mengiringi keduanya.
أَمَّا
الْعَصْرُ فَلَا سُنَّةَ بَعْدَهَا.
Adapun Asar tidak ada sunah setelahnya.
وَلٰكِنِ
السُّنَّةُ الَّتِي بَعْدَ الظُّهْرِ يُصَلِّيهَا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ
الْعَصْرِ.
Namun sunah setelah Zuhur, ia kerjakan setelah selesai Asar.
إِمَّا
رَاكِبًا أَوْ مُقِيمًا.
Baik sambil berkendaraan maupun ketika berhenti.
لِأَنَّهُ
لَوْ صَلَّى رَاتِبَةَ الظُّهْرِ قَبْلَ الْعَصْرِ لَانْقَطَعَتِ الْمُوَالَاةُ،
وَهِيَ وَاجِبَةٌ عَلَى وَجْهٍ.
Karena bila ia mengerjakan rawatib Zuhur sebelum Asar,
kesinambungan (muwālāt) akan terputus, padahal muwālāt diwajibkan dalam satu
sisi.
وَلَوْ
أَرَادَ أَنْ يُقِيمَ الْأَرْبَعَ الْمَسْنُونَةَ قَبْلَ الظُّهْرِ وَالْأَرْبَعَ
الْمَسْنُونَةَ قَبْلَ الْعَصْرِ فَلْيَجْمَعْ بَيْنَهُنَّ قَبْلَ
الْفَرِيضَتَيْنِ.
Jika ia ingin mengerjakan empat rakaat sunah sebelum Zuhur
dan empat rakaat sunah sebelum Asar, hendaklah ia gabungkan semuanya sebelum
dua salat fardu.
فَيُصَلِّي
سُنَّةَ الظُّهْرِ أَوَّلًا، ثُمَّ سُنَّةَ الْعَصْرِ.
Maka ia salat sunah Zuhur terlebih dahulu, kemudian sunah
Asar.
ثُمَّ
فَرِيضَةَ الظُّهْرِ، ثُمَّ فَرِيضَةَ الْعَصْرِ.
Lalu salat fardu Zuhur, kemudian fardu Asar.
ثُمَّ
سُنَّةَ الظُّهْرِ: الرَّكْعَتَانِ اللَّتَانِ هُمَا بَعْدَ الْفَرْضِ.
Kemudian sunah Zuhur: dua rakaat setelah fardu.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يُهْمِلَ النَّوَافِلَ فِي السَّفَرِ.
Tidak semestinya ia mengabaikan salat-salat sunah dalam
perjalanan.
فَمَا
يَفُوتُهُ مِنْ أَبْوَابِهَا أَكْثَرُ مِمَّا يَنَالُهُ مِنَ الرِّبْحِ.
Sebab yang luput darinya dari sisi-sisi (pahala) itu lebih
banyak daripada keuntungan (keringanan) yang ia dapat.
لَا
سِيَّمَا وَقَدْ خَفَّفَ الشَّرْعُ عَلَيْهِ وَجَوَّزَ لَهُ أَدَاءَهَا عَلَى
الرَّاحِلَةِ كَيْ لَا يَتَعَوَّقَ عَنِ الرُّفْقَةِ بِسَبَبِهَا.
Terlebih lagi syariat telah meringankannya dan membolehkan
mengerjakannya di atas kendaraan agar ia tidak tertinggal dari rombongan
karenanya.
وَإِنْ
أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى الْعَصْرِ فَيَجْرِي عَلَى هٰذَا التَّرْتِيبِ.
Jika ia melakukan jamak ta’khir (menunda Zuhur hingga waktu
Asar), maka urutannya berjalan sebagaimana ini.
وَلَا
يُبَالِي بِوُقُوعِ رَاتِبَةِ الظُّهْرِ بَعْدَ الْعَصْرِ فِي الْوَقْتِ
الْمَكْرُوهِ، لِأَنَّ مَا لَهُ سَبَبٌ لَا يُكْرَهُ فِي هٰذَا الْوَقْتِ.
Ia tidak perlu menghiraukan bahwa rawatib Zuhur jatuh
setelah Asar pada waktu yang makruh, karena salat yang memiliki sebab tidak
dimakruhkan pada waktu itu.
وَكَذٰلِكَ
يَفْعَلُ فِي الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالْوِتْرِ.
Demikian pula ia lakukan pada Magrib dan Isya, serta witir.
وَإِذَا
قَدَّمَ أَوْ أَخَّرَ، فَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الْفَرْضِ يَشْتَغِلُ بِجَمِيعِ
الرَّوَاتِبِ، وَيَخْتِمُ الْجَمِيعَ بِالْوِتْرِ.
Baik jamak taqdim atau ta’khir, setelah selesai dari salat
fardu ia mengerjakan seluruh rawatib dan menutup semuanya dengan witir.
وَإِنْ
خَطَرَ لَهُ ذِكْرُ الظُّهْرِ قَبْلَ خُرُوجِ وَقْتِهِ فَلْيَعْزِمْ عَلَى
أَدَائِهِ مَعَ الْعَصْرِ جَمِيعًا، فَهُوَ نِيَّةُ الْجَمْعِ.
Jika ia teringat salat Zuhur sebelum habis waktunya,
hendaklah ia bertekad mengerjakannya bersama Asar; itulah niat jamak.
لِأَنَّهُ
إِنَّمَا يَخْلُو عَنْ هٰذِهِ النِّيَّةِ إِمَّا بِنِيَّةِ التَّرْكِ أَوْ
بِنِيَّةِ التَّأْخِيرِ عَنْ وَقْتِ الْعَصْرِ، وَذٰلِكَ حَرَامٌ، وَالْعَزْمُ
عَلَيْهِ حَرَامٌ.
Karena jika ia tanpa niat ini, berarti ia berniat
meninggalkan, atau berniat menunda hingga keluar waktu Asar; dan itu haram,
bahkan bertekad ke arah itu pun haram.
وَإِنْ
لَمْ يَتَذَكَّرِ الظُّهْرَ حَتَّى خَرَجَ وَقْتُهُ إِمَّا لِنَوْمٍ أَوْ لِشُغْلٍ
فَلَهُ أَنْ يُؤَدِّيَ الظُّهْرَ مَعَ الْعَصْرِ وَلَا يَكُونُ عَاصِيًا.
Jika ia tidak ingat Zuhur sampai waktunya habis karena tidur
atau kesibukan, maka ia boleh mengerjakan Zuhur bersama Asar dan ia tidak
berdosa.
لِأَنَّ
السَّفَرَ كَمَا يَشْغَلُ عَنْ فِعْلِ الصَّلَاةِ فَقَدْ يَشْغَلُ عَنْ ذِكْرِهَا.
Karena perjalanan sebagaimana bisa menyibukkan dari
pelaksanaan salat, juga bisa menyibukkan dari mengingatnya.
وَيَحْتَمِلُ
أَنْ يُقَالَ: إِنَّ الظُّهْرَ إِنَّمَا تَقَعُ أَدَاءً إِذَا عَزَمَ عَلَى
فِعْلِهَا قَبْلَ خُرُوجِ وَقْتِهَا.
Ada kemungkinan dikatakan: Zuhur dihitung أداء (tepat waktu) hanya
bila ia bertekad melaksanakannya sebelum keluarnya waktunya.
وَلٰكِنَّ
الْأَظْهَرَ أَنَّ وَقْتَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ صَارَ مُشْتَرَكًا فِي السَّفَرِ
بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ.
Namun yang lebih kuat: waktu Zuhur dan Asar dalam safar
menjadi waktu bersama bagi dua salat.
وَلِذٰلِكَ
يَجِبُ عَلَى الْحَائِضِ قَضَاءُ الظُّهْرِ إِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ الْغُرُوبِ.
Karena itu wanita haid wajib mengqadha Zuhur jika ia suci
sebelum matahari terbenam.
وَلِذٰلِكَ
يَنْقَدِحُ أَنْ لَا تُشْتَرَطَ الْمُوَالَاةُ وَلَا التَّرْتِيبُ بَيْنَ
الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ عِنْدَ تَأْخِيرِ الظُّهْرِ.
Dari sini tampak bahwa muwālāt dan tertib antara Zuhur dan
Asar tidak disyaratkan ketika menunda Zuhur (jamak ta’khir).
أَمَّا
إِذَا قَدَّمَ الْعَصْرَ عَلَى الظُّهْرِ لَمْ يَجُزْ.
Adapun jika mendahulukan Asar atas Zuhur, itu tidak boleh.
لِأَنَّ
مَا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الظُّهْرِ هُوَ الَّذِي جُعِلَ وَقْتًا لِلْعَصْرِ.
Karena waktu Asar (dalam jamak) dijadikan setelah selesai
Zuhur.
إِذْ
يَبْعُدُ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْعَصْرِ مَنْ هُوَ عَازِمٌ عَلَى تَرْكِ الظُّهْرِ
أَوْ عَلَى تَأْخِيرِهِ.
Karena tidak layak seseorang mengerjakan Asar sementara ia
bertekad meninggalkan Zuhur atau menundanya.
وَعُذْرُ
الْمَطَرِ مُجَوِّزٌ لِلْجَمْعِ كَعُذْرِ السَّفَرِ.
Uzur hujan juga membolehkan jamak sebagaimana uzur safar.
وَتَرْكُ
الْجُمُعَةِ أَيْضًا مِنْ رُخَصِ السَّفَرِ.
Meninggalkan salat Jumat juga termasuk rukhsah safar.
وَهِيَ
مُتَعَلِّقَةٌ أَيْضًا بِفَرَائِضِ الصَّلَوَاتِ.
Dan ia juga terkait dengan kewajiban-kewajiban salat fardu.
وَلَوْ
نَوَى الْإِقَامَةَ بَعْدَ أَنْ صَلَّى الْعَصْرَ فَأَدْرَكَ وَقْتَ الْعَصْرِ فِي
الْحَضَرِ فَعَلَيْهِ أَدَاءُ الْعَصْرِ.
Jika ia berniat menjadi mukim setelah ia salat Asar (dengan
rukhsah), lalu ia mendapati waktu Asar ketika sudah dalam keadaan mukim, maka
ia wajib mengerjakan Asar.
وَمَا
مَضَى إِنَّمَا كَانَ مُجْزِئًا بِشَرْطِ أَنْ يَبْقَى الْعُذْرُ إِلَى خُرُوجِ
وَقْتِ الْعَصْرِ.
Dan salat sebelumnya dianggap sah hanya dengan syarat uzur
tetap ada sampai keluarnya waktu Asar.
اَلرُّخْصَةُ
الْخَامِسَةُ: التَّنَفُّلُ رَاكِبًا.
Keringanan kelima: salat sunah di atas kendaraan.
كَانَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ
أَيْنَمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ دَابَّتُهُ (١).
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم biasa salat di atas kendaraannya ke mana pun hewan
tunggangannya menghadap. (1)
وَأَوْتَرَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الرَّاحِلَةِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم juga berwitir di atas kendaraan.
وَلَيْسَ
عَلَى الْمُتَنَفِّلِ الرَّاكِبِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ إِلَّا الْإِيمَاءُ.
Bagi orang yang salat sunah di atas kendaraan, dalam rukuk
dan sujudnya cukup dengan isyarat.
وَيَنْبَغِي
أَنْ يَجْعَلَ سُجُودَهُ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِهِ.
Hendaknya ia membuat isyarat sujud lebih rendah daripada
isyarat rukuk.
وَلَا
يَلْزَمُهُ الِانْحِنَاءُ إِلَى حَدٍّ يَتَعَرَّضُ بِهِ لِخَطَرٍ بِسَبَبِ
الدَّابَّةِ.
Ia tidak wajib membungkuk sampai batas yang membahayakan
karena kendaraan.
فَإِنْ
كَانَ فِي مَرْقَدٍ فَلْيُتِمَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ فَإِنَّهُ قَادِرٌ
عَلَيْهِ.
Jika ia berada di tempat berhenti/berbaring (tempat yang
memungkinkan), maka hendaklah ia menyempurnakan rukuk dan sujud, karena ia
mampu.
وَأَمَّا
اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ فَلَا يَجِبُ لَا فِي ابْتِدَاءِ الصَّلَاةِ وَلَا فِي
دَوَامِهَا.
Adapun menghadap kiblat tidak wajib, baik di awal salat
maupun selama salat.
وَلٰكِنْ
صَوْبُ الطَّرِيقِ يَدُلُّ عَنِ الْقِبْلَةِ.
Namun arah jalan biasanya menyimpang dari arah kiblat.
فَلْيَكُنْ
فِي جَمِيعِ صَلَاتِهِ إِمَّا مُسْتَقْبِلًا لِلْقِبْلَةِ أَوْ مُتَوَجِّهًا فِي
صَوْبِ الطَّرِيقِ.
Hendaklah selama salatnya ia berada pada salah satu:
menghadap kiblat atau menghadap arah jalan.
لِتَكُونَ
لَهُ جِهَةٌ يَثْبُتُ فِيهَا.
Agar ia punya satu arah yang ia tetapkan.
فَلَوْ
حَرَّفَ دَابَّتَهُ عَنِ الطَّرِيقِ قَصْدًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، إِلَّا إِذَا
حَرَّفَهَا إِلَى الْقِبْلَةِ.
Jika ia sengaja membelokkan kendaraannya dari arah jalan,
salatnya batal, kecuali jika ia membelokkannya ke arah kiblat.
وَلَوْ
حَرَّفَهَا نَاسِيًا وَقَصُرَ الزَّمَانُ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ.
Jika ia membelokkannya karena lupa dan hanya sebentar,
salatnya tidak batal.
وَإِنْ
طَالَ فَفِيهِ خِلَافٌ.
Jika lama, maka ada perbedaan pendapat.
وَإِنْ
جَمَحَتْ بِهِ الدَّابَّةُ فَانْحَرَفَتْ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ.
Jika hewannya tiba-tiba melesat dan berbelok, salatnya tidak
batal.
لِأَنَّ
ذٰلِكَ مِمَّا يَكْثُرُ وُقُوعُهُ.
Karena hal itu sering terjadi.
وَلَيْسَ
عَلَيْهِ سُجُودُ سَهْوٍ، إِذِ الْجِمَاحُ غَيْرُ مَنْسُوبٍ إِلَيْهِ.
Ia tidak wajib sujud sahwi, karena gerakan melesat itu tidak
dinisbatkan kepadanya.
بِخِلَافِ
مَا لَوْ حَرَّفَ نَاسِيًا فَإِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ بِالْإِيمَاءِ.
Berbeda jika ia membelokkan karena lupa (dari dirinya), maka
ia sujud sahwi dengan isyarat.
اَلرُّخْصَةُ
السَّادِسَةُ: التَّنَفُّلُ لِلْمَاشِي جَائِزٌ فِي السَّفَرِ.
Keringanan keenam: salat sunah bagi orang yang berjalan itu
boleh dalam perjalanan.
وَيُومِئُ
بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
Ia berisyarat untuk rukuk dan sujud.
وَلَا
يَقْعُدُ لِلتَّشَهُّدِ، لِأَنَّ ذٰلِكَ يُبْطِلُ فَائِدَةَ الرُّخْصَةِ.
Ia tidak duduk untuk tasyahud, karena itu merusak manfaat
rukhsah.
وَحُكْمُهُ
حُكْمُ الرَّاكِبِ.
Hukumnya seperti orang berkendaraan.
لٰكِنْ
يَنْبَغِي أَنْ يَتَحَرَّمَ بِالصَّلَاةِ مُسْتَقْبِلًا لِلْقِبْلَةِ.
Namun sebaiknya ia memulai salat (takbiratul ihram) dengan
menghadap kiblat.
لِأَنَّ
الِانْحِرَافَ فِي لَحْظَةٍ لَا عُسْرَ عَلَيْهِ فِيهِ.
Karena menyimpang sesaat tidak sulit baginya.
بِخِلَافِ
الرَّاكِبِ، فَإِنَّ فِي تَحْرِيفِ الدَّابَّةِ وَإِنْ كَانَ الْعِنَانُ بِيَدِهِ
نَوْعَ عُسْرٍ.
Berbeda dengan yang berkendaraan, karena membelokkan
kendaraan—meskipun tali kendalinya di tangan—ada kesulitan.
وَرُبَّمَا
تَكْثُرُ الصَّلَاةُ فَيَطُولُ عَلَيْهِ ذٰلِكَ.
Dan bisa jadi salatnya sering sehingga hal itu
memberatkannya.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَمْشِيَ فِي نَجَاسَةٍ رَطْبَةٍ عَمْدًا، فَإِنْ فَعَلَ بَطَلَتْ
صَلَاتُهُ.
Tidak semestinya ia sengaja berjalan di atas najis yang
basah; jika ia lakukan, salatnya batal.
بِخِلَافِ
مَا لَوْ وَطِئَتْ دَابَّةُ الرَّاكِبِ نَجَاسَةً.
Berbeda jika hewan tunggangan si pengendara menginjak najis.
وَلَيْسَ
عَلَيْهِ أَنْ يُشَوِّشَ الْمَشْيَ عَلَى نَفْسِهِ بِالِاحْتِرَازِ مِنَ
النَّجَاسَاتِ الَّتِي لَا تَخْلُو الطَّرِيقُ عَنْهَا غَالِبًا.
Ia tidak perlu membuat langkahnya kacau dengan terlalu
berusaha menghindari najis-najis yang biasanya sulit lepas dari jalan.
وَكُلُّ
هَارِبٍ مِنْ عَدُوٍّ أَوْ سَيْلٍ أَوْ سَبُعٍ فَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَ الْفَرِيضَةَ
رَاكِبًا أَوْ مَاشِيًا، كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي التَّنَفُّلِ.
Setiap orang yang lari dari musuh, banjir, atau binatang
buas, boleh salat fardu sambil berkendaraan atau berjalan, sebagaimana yang
telah disebutkan pada salat sunah.
اَلرُّخْصَةُ
السَّابِعَةُ: الْفِطْرُ فِي الصَّوْمِ.
Keringanan ketujuh: berbuka dalam puasa.
فَلِلْمُسَافِرِ
أَنْ يُفْطِرَ، إِلَّا إِذَا أَصْبَحَ مُقِيمًا ثُمَّ سَافَرَ فَعَلَيْهِ
إِتْمَامُ ذٰلِكَ الْيَوْمِ.
Musafir boleh berbuka, kecuali jika ia masuk waktu Subuh
dalam keadaan mukim lalu baru bepergian, maka ia wajib menyempurnakan puasa
hari itu.
وَإِنْ
أَصْبَحَ مُسَافِرًا صَائِمًا ثُمَّ أَقَامَ فَعَلَيْهِ الْإِتْمَامُ.
Jika ia masuk Subuh sebagai musafir dalam keadaan berpuasa
lalu menjadi mukim, maka ia wajib menyempurnakan.
وَإِنْ
أَقَامَ مُفْطِرًا فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْإِمْسَاكُ بَقِيَّةَ النَّهَارِ.
Jika ia menjadi mukim dalam keadaan sudah berbuka, maka ia
tidak wajib menahan diri (imsak) pada sisa hari.
وَإِنْ
أَصْبَحَ مُسَافِرًا عَلَى عَزْمِ الصَّوْمِ لَمْ يَلْزَمْهُ، بَلْ لَهُ أَنْ
يُفْطِرَ إِذَا أَرَادَ.
Jika ia masuk Subuh sebagai musafir dengan tekad puasa, itu
tidak mengikatnya; ia boleh berbuka bila ia mau.
وَالصَّوْمُ
أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ.
Puasa lebih utama daripada berbuka.
وَالْقَصْرُ
أَفْضَلُ مِنَ الْإِتْمَامِ لِلْخُرُوجِ عَنْ شُبْهَةِ الْخِلَافِ.
Qashar lebih utama daripada itmam untuk keluar dari syubhat
perbedaan pendapat.
وَلِأَنَّهُ
لَيْسَ فِي عُهْدَةِ الْقَضَاءِ.
Dan karena qashar tidak menimbulkan tanggungan qadha.
بِخِلَافِ
الْمُفْطِرِ فَإِنَّهُ فِي عُهْدَةِ الْقَضَاءِ.
Berbeda dengan orang yang berbuka, karena ia menanggung
qadha.
وَرُبَّمَا
يَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ ذٰلِكَ بِعَائِقٍ فَيَبْقَى فِي ذِمَّتِهِ.
Bisa jadi qadha itu sulit baginya karena penghalang sehingga
tetap menjadi tanggungan.
إِلَّا
إِذَا كَانَ الصَّوْمُ يَضُرُّ بِهِ فَالْإِفْطَارُ أَفْضَلُ.
Kecuali jika puasa membahayakannya, maka berbuka lebih
utama.
فَهٰذِهِ
سَبْعُ رُخَصٍ.
Maka itulah tujuh rukhsah.
تَتَعَلَّقُ
ثَلَاثٌ مِنْهَا بِالسَّفَرِ الطَّوِيلِ، وَهِيَ: الْقَصْرُ وَالْفِطْرُ
وَالْمَسْحُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ.
Tiga di antaranya terkait perjalanan jauh, yaitu: qashar,
berbuka, dan mengusap khuf selama tiga hari.
وَتَتَعَلَّقُ
اثْنَتَانِ مِنْهَا بِالسَّفَرِ طَوِيلًا كَانَ أَوْ قَصِيرًا، وَهُمَا: سُقُوطُ
الْجُمُعَةِ، وَسُقُوطُ الْقَضَاءِ عِنْدَ أَدَاءِ الصَّلَاةِ بِالتَّيَمُّمِ.
Dua di antaranya terkait safar baik panjang maupun pendek,
yaitu: gugurnya kewajiban Jumat, dan gugurnya qadha ketika salat dikerjakan
dengan tayamum.
وَأَمَّا
صَلَاةُ النَّافِلَةِ مَاشِيًا وَرَاكِبًا فَفِيهِ خِلَافٌ، وَالْأَصَحُّ
جَوَازُهُ فِي الْقَصِيرِ.
Adapun salat sunah sambil berjalan dan berkendaraan,
terdapat khilaf; pendapat yang lebih sahih: boleh juga pada perjalanan pendek.
وَالْجَمْعُ
بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِيهِ خِلَافٌ، وَالْأَظْهَرُ اخْتِصَاصُهُ بِالطَّوِيلِ.
Menjamak dua salat juga ada khilaf; yang lebih kuat: khusus
perjalanan jauh.
وَأَمَّا
صَلَاةُ الْفَرْضِ رَاكِبًا وَمَاشِيًا لِلْخَوْفِ فَلَا تَتَعَلَّقُ بِالسَّفَرِ.
Adapun salat fardu sambil berkendaraan atau berjalan karena
takut, itu tidak khusus terkait safar.
وَكَذٰلِكَ
أَكْلُ الْمَيْتَةِ.
Demikian pula memakan bangkai (dalam darurat).
وَكَذٰلِكَ
أَدَاءُ الصَّلَاةِ فِي الْحَالِ بِالتَّيَمُّمِ عِنْدَ فَقْدِ الْمَاءِ.
Demikian pula mengerjakan salat saat itu juga dengan tayamum
ketika tidak ada air.
بَلْ
يَشْتَرِكُ فِيهَا الْحَضَرُ وَالسَّفَرُ مَهْمَا وُجِدَتْ أَسْبَابُهَا.
Bahkan semua itu berlaku baik di tempat tinggal maupun dalam
perjalanan, kapan pun sebab-sebabnya ada.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَالْعِلْمُ بِهٰذِهِ الرُّخَصِ هَلْ يَجِبُ عَلَى الْمُسَافِرِ
تَعَلُّمُهُ قَبْلَ السَّفَرِ أَمْ يُسْتَحَبُّ لَهُ ذٰلِكَ؟
Jika engkau bertanya: apakah mengetahui rukhsah-rukhsah ini
wajib dipelajari musafir sebelum bepergian atau hanya dianjurkan?
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ إِنْ كَانَ عَازِمًا عَلَى تَرْكِ الْمَسْحِ وَالْقَصْرِ وَالْجَمْعِ
وَالْفِطْرِ، وَتَرْكِ التَّنَفُّلِ رَاكِبًا وَمَاشِيًا، لَمْ يَلْزَمْهُ عِلْمُ
شُرُوطِ التَّرَخُّصِ فِي ذٰلِكَ، لِأَنَّ التَّرَخُّصَ لَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِ.
Ketahuilah: jika ia bertekad tidak mengambil rukhsah
mengusap khuf, qashar, jamak, berbuka, serta tidak melakukan salat sunah sambil
berkendaraan dan berjalan, maka ia tidak wajib mengetahui syarat-syarat rukhsah
untuk itu, karena mengambil rukhsah tidak wajib atasnya.
وَأَمَّا
عِلْمُ رُخْصَةِ التَّيَمُّمِ فَيَلْزَمُهُ، لِأَنَّ فَقْدَ الْمَاءِ لَيْسَ
إِلَيْهِ.
Adapun pengetahuan tentang rukhsah tayamum, maka wajib
baginya, karena ketiadaan air bukan hal yang sepenuhnya dalam kendalinya.
إِلَّا
أَنْ يُسَافِرَ عَلَى شَاطِئِ نَهْرٍ يُوثَقُ بِبَقَاءِ مَائِهِ.
Kecuali bila ia bepergian di tepi sungai yang dipercaya
airnya tetap ada.
أَوْ
يَكُونَ مَعَهُ فِي الطَّرِيقِ عَالِمٌ يَقْدِرُ عَلَى اسْتِفْتَائِهِ عِنْدَ
الْحَاجَةِ، فَلَهُ أَنْ يُؤَخِّرَ إِلَى وَقْتِ الْحَاجَةِ.
Atau bila bersamanya ada orang alim di perjalanan yang bisa
ia tanyai saat membutuhkan, maka ia boleh menunda (belajar) sampai waktu
kebutuhan.
أَمَّا
إِذَا كَانَ يَظُنُّ عَدَمَ الْمَاءِ وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ فَيَلْزَمُهُ
التَّعَلُّمُ لَا مَحَالَةَ.
Namun jika ia menduga tidak akan ada air dan tidak ada ulama
bersamanya, maka ia wajib belajar tanpa ragu.
فَإِنْ
قُلْتَ: التَّيَمُّمُ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ لِصَلَاةٍ لَمْ يَدْخُلْ بَعْدُ
وَقْتُهَا، فَكَيْفَ يَجِبُ عِلْمُ الطَّهَارَةِ لِصَلَاةٍ بَعْدُ لَمْ تَجِبْ،
وَرُبَّمَا لَا تَجِبُ؟
Jika engkau berkata: tayamum dibutuhkan untuk salat yang
belum masuk waktunya; bagaimana bisa wajib ilmu bersuci untuk salat yang belum
wajib, dan bisa jadi tidak wajib?
فَأَقُولُ:
مَنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَةِ مَسَافَةٌ لَا تُقْطَعُ إِلَّا فِي سَنَةٍ،
فَيَلْزَمُهُ قَبْلَ أَشْهُرِ الْحَجِّ ابْتِدَاءُ السَّفَرِ.
Aku menjawab: orang yang jaraknya ke Ka‘bah hanya dapat
ditempuh setahun, maka ia wajib memulai perjalanan sebelum bulan-bulan haji.
وَيَلْزَمُهُ
تَعَلُّمُ الْمَنَاسِكِ لَا مَحَالَةَ إِذَا كَانَ يَظُنُّ أَنَّهُ لَا يَجِدُ فِي
الطَّرِيقِ مَنْ يَتَعَلَّمُ مِنْهُ.
Dan ia wajib mempelajari manasik tanpa ragu jika ia menduga
tidak akan menemukan orang yang bisa mengajarinya di perjalanan.
لِأَنَّ
الْأَصْلَ الْحَيَاةُ وَاسْتِمْرَارُهَا.
Karena hukum asalnya adalah hidup dan berlanjutnya
kehidupan.
وَمَا
لَا يَتَوَصَّلُ إِلَى الْوَاجِبِ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.
Dan sesuatu yang tidak bisa mengantarkan kepada kewajiban
kecuali dengannya, maka ia juga menjadi wajib.
وَكُلُّ
مَا يُتَوَقَّعُ وُجُوبُهُ تَوَقُّعًا ظَاهِرًا عَلَى الظَّنِّ وَلَهُ شَرْطٌ لَا
يُتَوَصَّلُ إِلَيْهِ إِلَّا بِتَقْدِيمِ ذٰلِكَ الشَّرْطِ عَلَى وَقْتِ
الْوُجُوبِ، فَيَجِبُ تَقْدِيمُ تَعَلُّمِ الشَّرْطِ لَا مَحَالَةَ.
Setiap hal yang diperkirakan wajibnya dengan dugaan kuat,
dan ia punya syarat yang tidak bisa dipenuhi kecuali dengan mendahulukan syarat
itu sebelum waktu wajib, maka wajib mendahulukan belajar syarat itu.
كَعِلْمِ
الْمَنَاسِكِ قَبْلَ وَقْتِ الْحَجِّ وَقَبْلَ مُبَاشَرَتِهِ.
Seperti mempelajari manasik sebelum musim haji dan sebelum
melaksanakannya.
فَلَا
يَحِلُّ إِذًا لِلْمُسَافِرِ أَنْ يُنْشِئَ السَّفَرَ مَا لَمْ يَتَعَلَّمْ هٰذَا
الْقَدْرَ مِنْ عِلْمِ التَّيَمُّمِ.
Maka tidak halal bagi musafir memulai perjalanan sebelum ia
mempelajari kadar ilmu tayamum ini.
وَإِنْ
كَانَ عَازِمًا عَلَى سَائِرِ الرُّخَصِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَعَلَّمَ أَيْضًا
الْقَدْرَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ مِنْ عِلْمِ التَّيَمُّمِ وَسَائِرِ الرُّخَصِ.
Jika ia bertekad mengambil rukhsah lainnya, maka ia juga
wajib mempelajari kadar yang telah kami sebutkan tentang tayamum dan seluruh
rukhsah.
فَإِنَّهُ
إِذَا لَمْ يَعْلَمِ الْقَدْرَ الْجَائِزَ لِرُخْصَةِ السَّفَرِ لَمْ يُمْكِنْهُ
الِاقْتِصَارُ عَلَيْهِ.
Karena jika ia tidak tahu batas yang dibolehkan dalam
rukhsah perjalanan, ia tidak mungkin membatasi diri pada yang benar.
فَإِنْ
قُلْتَ: إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَتَعَلَّمْ كَيْفِيَّةَ التَّنَفُّلِ رَاكِبًا
وَمَاشِيًا مَاذَا يَضُرُّهُ؟
Jika engkau bertanya: bila ia tidak mempelajari cara salat
sunah sambil berkendaraan dan berjalan, apa bahayanya?
وَغَايَتُهُ
إِنْ صَلَّى أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ فَاسِدَةً، وَهِيَ غَيْرُ وَاجِبَةٍ، فَكَيْفَ
يَكُونُ عِلْمُهَا وَاجِبًا؟
Paling jauh jika ia salat, salatnya menjadi rusak; padahal
salat sunah itu tidak wajib; bagaimana ilmunya menjadi wajib?
فَأَقُولُ:
مِنَ الْوَاجِبِ أَنْ لَا يُصَلِّيَ النَّفْلَ عَلَى نَعْتِ الْفَسَادِ.
Aku menjawab: yang wajib adalah tidak mengerjakan salat
sunah dengan cara yang rusak.
فَالتَّنَفُّلُ
مَعَ الْحَدَثِ وَالنَّجَاسَةِ، وَإِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ، وَمِنْ غَيْرِ
إِتْمَامِ شُرُوطِ الصَّلَاةِ وَأَرْكَانِهَا، حَرَامٌ.
Melakukan salat sunah dalam keadaan hadas dan najis,
menghadap selain kiblat, serta tanpa menyempurnakan syarat dan rukun salat,
adalah haram.
فَعَلَيْهِ
أَنْ يَتَعَلَّمَ مَا يَحْتَرِزُ بِهِ عَنِ النَّافِلَةِ الْفَاسِدَةِ حَذَرًا
مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْمَحْظُورَاتِ.
Maka ia wajib mempelajari hal yang dengannya ia dapat
menghindari salat sunah yang rusak, agar tidak terjatuh ke dalam
perkara-perkara yang dilarang.