Kewajiban-Kewajiban Baru yang Muncul Karena Perjalanan (1)
فَهٰذَا بَيَانُ عِلْمِ مَا خُفِّفَ عَنِ الْمُسَافِرِ فِي سَفَرِهِ.
Inilah penjelasan tentang ilmu mengenai hal-hal yang
diringankan bagi musafir dalam perjalanannya.
اَلْقِسْمُ
الثَّانِي: مَا يَتَجَدَّدُ مِنَ الْوَظِيفَةِ بِسَبَبِ السَّفَرِ.
Bagian kedua: kewajiban-kewajiban baru yang muncul karena
perjalanan.
وَهُوَ
عِلْمُ الْقِبْلَةِ وَالْأَوْقَاتِ.
Yaitu pengetahuan tentang kiblat dan waktu-waktu (salat).
وَذٰلِكَ
أَيْضًا وَاجِبٌ فِي الْحَضَرِ.
Hal itu juga wajib ketika bermukim.
وَلٰكِنْ
فِي الْحَضَرِ مَنْ يَكْفِيهِ مِنْ مِحْرَابٍ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ يُغْنِيهِ عَنْ
طَلَبِ الْقِبْلَةِ.
Akan tetapi ketika bermukim, adanya mihrab yang disepakati
arahannya sudah mencukupinya dari mencari kiblat.
وَمُؤَذِّنٌ
يُرَاعِي الْوَقْتَ يُغْنِيهِ عَنْ طَلَبِ عِلْمِ الْوَقْتِ.
Dan adanya muazin yang memperhatikan waktu sudah
mencukupinya dari mencari ilmu tentang masuknya waktu.
وَالْمُسَافِرُ
قَدْ تَشْتَبِهُ عَلَيْهِ الْقِبْلَةُ.
Musafir bisa saja bingung menentukan kiblat.
وَقَدْ
يَلْتَبِسُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ.
Dan waktu (salat) pun dapat menjadi samar baginya.
فَلَا
بُدَّ لَهُ مِنَ الْعِلْمِ بِأَدِلَّةِ الْقِبْلَةِ وَالْمَوَاقِيتِ.
Karena itu ia harus mengetahui petunjuk-petunjuk kiblat dan
waktu-waktu salat.
أَمَّا
أَدِلَّةُ الْقِبْلَةِ فَهِيَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ.
Adapun petunjuk kiblat terbagi menjadi tiga macam.
أَرْضِيَّةٌ
كَالِاسْتِدْلَالِ بِالْجِبَالِ وَالْقُرَى وَالْأَنْهَارِ.
Petunjuk bumi, seperti berpatokan pada gunung, kampung, dan
sungai.
وَهَوَائِيَّةٌ
كَالِاسْتِدْلَالِ بِالرِّيَاحِ: شِمَالِهَا وَجَنُوبِهَا وَصَبَاهَا وَدَبُورِهَا.
Petunjuk udara, seperti berpatokan pada arah angin: utara,
selatan, angin timur (ṣabā), dan angin barat (dabūr).
وَسَمَاوِيَّةٌ
وَهِيَ النُّجُومُ.
Petunjuk langit, yaitu bintang-bintang.
فَأَمَّا
الْأَرْضِيَّةُ وَالْهَوَائِيَّةُ فَتَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْبِلَادِ.
Adapun petunjuk bumi dan udara berbeda-beda sesuai perbedaan
negeri.
فَرُبَّ
طَرِيقٍ فِيهِ جَبَلٌ مُرْتَفِعٌ يُعْلَمُ أَنَّهُ عَلَى يَمِينِ الْمُسْتَقْبِلِ
أَوْ شِمَالِهِ أَوْ وَرَاءَهُ أَوْ قُدَّامَهُ.
Bisa jadi suatu jalan memiliki gunung tinggi yang diketahui
posisinya: di kanan orang yang menghadap, atau di kirinya, atau di belakangnya,
atau di depannya.
فَلْيَعْلَمْ
ذٰلِكَ وَلْيَفْهَمْهُ.
Maka hendaklah ia mengetahuinya dan memahaminya.
وَكَذٰلِكَ
الرِّيَاحُ قَدْ تَدُلُّ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ فَلْيَفْهَمْ ذٰلِكَ.
Demikian pula angin bisa menjadi petunjuk di sebagian
negeri; hendaklah ia memahami hal itu.
وَلَسْنَا
نَقْدِرُ عَلَى اسْتِقْصَاءِ ذٰلِكَ.
Kami tidak mampu merinci semuanya.
إِذْ
لِكُلِّ بَلَدٍ وَإِقْلِيمٍ حُكْمٌ آخَرُ.
Sebab setiap negeri dan wilayah memiliki keadaan yang
berbeda.
وَأَمَّا
السَّمَاوِيَّةُ فَأَدِلَّتُهَا تَنْقَسِمُ إِلَى نَهَارِيَّةٍ وَإِلَى
لَيْلِيَّةٍ.
Adapun petunjuk langit terbagi menjadi petunjuk siang dan
petunjuk malam.
أَمَّا
النَّهَارِيَّةُ فَالشَّمْسُ.
Petunjuk siang adalah matahari.
فَلَا
بُدَّ أَنْ يُرَاعِيَ قَبْلَ الْخُرُوجِ مِنَ الْبَلَدِ أَنَّ الشَّمْسَ عِنْدَ
الزَّوَالِ أَيْنَ تَقَعُ مِنْهُ.
Sebelum keluar dari negerinya, ia harus memperhatikan:
ketika matahari tepat zawal, posisinya jatuh di bagian mana relatif terhadap
dirinya.
أَهِيَ
بَيْنَ الْحَاجِبَيْنِ، أَوْ عَلَى الْعَيْنِ الْيُمْنَى، أَوِ الْيُسْرَى، أَوْ
تَمِيلُ إِلَى الْجَبِينِ مَيْلًا أَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ.
Apakah berada di antara kedua alis, atau di atas mata kanan,
atau mata kiri, atau condong ke dahi lebih dari itu.
فَإِنَّ
الشَّمْسَ لَا تَعْدُو فِي الْبِلَادِ الشِّمَالِيَّةِ هٰذِهِ الْمَوَاقِعَ.
Karena di negeri-negeri utara, matahari tidak keluar dari
posisi-posisi ini.
فَإِذَا
حَفِظَ ذٰلِكَ فَمَهْمَا عَرَفَ الزَّوَالَ بِدَلِيلِهِ الَّذِي سَنَذْكُرُهُ
عَرَفَ الْقِبْلَةَ بِهِ.
Jika ia mengingatnya, maka kapan pun ia mengetahui zawal
dengan tandanya yang akan kami sebutkan, ia dapat mengetahui kiblat dengannya.
وَكَذٰلِكَ
يُرَاعِي مَوَاقِعَ الشَّمْسِ مِنْهُ وَقْتَ الْعَصْرِ.
Demikian pula ia memperhatikan posisi matahari relatif
terhadap dirinya pada waktu Asar.
فَإِنَّهُ
فِي هٰذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ يَحْتَاجُ إِلَى الْقِبْلَةِ بِالضَّرُورَةِ.
Sebab pada dua waktu ini ia membutuhkan kiblat secara pasti.
وَهٰذَا
أَيْضًا لَمَّا كَانَ يَخْتَلِفُ بِالْبِلَادِ فَلَيْسَ يُمْكِنُ اسْتِقْصَاؤُهُ.
Dan karena hal ini juga berbeda-beda menurut negeri, maka
tidak mungkin dirinci seluruhnya.
وَأَمَّا
الْقِبْلَةُ وَقْتَ الْمَغْرِبِ فَإِنَّهَا تُدْرَكُ بِمَوْضِعِ الْغُرُوبِ.
Adapun kiblat pada waktu Magrib dapat diketahui dari tempat
terbenamnya matahari.
وَذٰلِكَ
بِأَنْ يَحْفَظَ أَنَّ الشَّمْسَ تَغْرُبُ عَنْ يَمِينِ الْمُسْتَقْبِلِ، أَوْ
هِيَ مَائِلَةٌ إِلَى وَجْهِهِ أَوْ قَفَاهُ.
Yaitu dengan mengingat: matahari terbenam di sebelah kanan
orang yang menghadap, atau condong ke arah wajahnya, atau ke arah belakangnya.
وَبِالشَّفَقِ
أَيْضًا تُعْرَفُ الْقِبْلَةُ لِلْعِشَاءِ الْآخِرَةِ.
Dengan syafaq (mega merah) juga dapat diketahui kiblat untuk
salat Isya.
وَبِمَشْرِقِ
الشَّمْسِ تُعْرَفُ الْقِبْلَةُ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ.
Dengan tempat terbit matahari diketahui kiblat untuk salat
Subuh.
فَكَأَنَّ
الشَّمْسَ تَدُلُّ عَلَى الْقِبْلَةِ فِي الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ.
Seakan-akan matahari memberi petunjuk kiblat untuk lima
salat.
وَلٰكِنْ
يَخْتَلِفُ ذٰلِكَ بِالشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ.
Namun hal itu berbeda antara musim dingin dan musim panas.
فَإِنَّ
الْمَشَارِقَ وَالْمَغَارِبَ كَثِيرَةٌ وَإِنْ كَانَتْ مَحْصُورَةً فِي جِهَتَيْنِ.
Karena titik-titik terbit dan terbenam itu banyak, walaupun
masih terbatas pada dua arah umum.
فَلَا
بُدَّ مِنْ تَعَلُّمِ ذٰلِكَ أَيْضًا.
Maka hal itu juga harus dipelajari.
وَلٰكِنْ
قَدْ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بَعْدَ غَيْبُوبَةِ الشَّفَقِ.
Namun bisa jadi ia salat Magrib dan Isya setelah syafaq
hilang.
فَلَا
يُمْكِنُهُ أَنْ يَسْتَدِلَّ عَلَى الْقِبْلَةِ بِهِ.
Sehingga ia tidak bisa lagi berpatokan pada syafaq untuk
menentukan kiblat.
فَعَلَيْهِ
أَنْ يُرَاعِيَ مَوْضِعَ الْقُطْبِ.
Maka ia harus memperhatikan posisi bintang kutub.
وَهُوَ
الْكَوْكَبُ الَّذِي يُقَالُ لَهُ: الْجُدَيُّ.
Yaitu bintang yang disebut “al-Judy” (bintang utara).
فَإِنَّهُ
كَوْكَبٌ كَالثَّابِتِ لَا تَظْهَرُ حَرَكَتُهُ عَنْ مَوْضِعِهِ.
Karena ia seperti bintang yang tetap; geraknya tidak tampak
berpindah dari tempatnya.
وَذٰلِكَ
إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَلَى قَفَا الْمُسْتَقْبِلِ، أَوْ عَلَى مَنْكِبِهِ
الْأَيْمَنِ مِنْ ظَهْرِهِ، أَوْ مَنْكِبِهِ الْأَيْسَرِ فِي الْبِلَادِ
الشِّمَالِيَّةِ مِنْ مَكَّةَ.
Di negeri-negeri yang berada di utara Makkah, posisinya:
bisa di belakang orang yang menghadap, atau di bahu kanannya dari arah
belakang, atau di bahu kirinya.
وَفِي
الْبِلَادِ الْجَنُوبِيَّةِ كَالْيَمَنِ وَمَا وَالَاهَا فَيَقَعُ فِي مُقَابَلَةِ
الْمُسْتَقْبِلِ.
Adapun di negeri-negeri selatan seperti Yaman dan
sekitarnya, posisinya berada di depan orang yang menghadap.
فَيَتَعَلَّمُ
ذٰلِكَ.
Maka ia mempelajari hal itu.
وَمَا
عَرَفَهُ فِي بَلَدِهِ فَلْيُعَوِّلْ عَلَيْهِ فِي الطَّرِيقِ كُلِّهِ.
Apa yang ia ketahui di negerinya, hendaklah ia jadikan
pegangan sepanjang perjalanan.
إِلَّا
إِذَا طَالَ السَّفَرُ.
Kecuali jika perjalanan itu sangat jauh.
فَإِنَّ
الْمَسَافَةَ إِذَا بَعُدَتِ اخْتَلَفَ مَوْقِعُ الشَّمْسِ وَمَوْقِعُ الْقُطْبِ
وَمَوْقِعُ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ.
Karena jika jarak semakin jauh, posisi matahari, bintang
kutub, titik terbit, dan titik terbenam akan berbeda.
إِلَّا
أَنْ يَنْتَهِيَ فِي أَثْنَاءِ سَفَرِهِ إِلَى بِلَادٍ.
Kecuali bila dalam perjalanannya ia sampai ke negeri-negeri
tertentu.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَسْأَلَ أَهْلَ الْبَصِيرَةِ.
Maka sebaiknya ia bertanya kepada orang yang paham.
أَوْ
يُرَاقِبَ هٰذِهِ الْكَوَاكِبَ وَهُوَ مُسْتَقْبِلُ مِحْرَابِ جَامِعِ الْبَلَدِ
حَتَّى يَتَّضِحَ لَهُ ذٰلِكَ.
Atau ia mengamati bintang-bintang itu sambil menghadap
mihrab masjid jami’ di negeri tersebut sampai jelas baginya.
فَمَهْمَا
تَعَلَّمَ هٰذِهِ الْأَدِلَّةَ فَلَهُ أَنْ يُعَوِّلَ عَلَيْهَا.
Kapan pun ia telah mempelajari tanda-tanda ini, ia boleh
berpegang padanya.
فَإِنْ
بَانَ لَهُ أَنَّهُ أَخْطَأَ مِنْ جِهَةِ الْقِبْلَةِ إِلَى جِهَةٍ أُخْرَى مِنَ
الْجِهَاتِ الْأَرْبَعِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْضِيَ.
Jika tampak baginya bahwa ia salah dari arah kiblat hingga
berpindah ke arah lain dari empat arah (depan, belakang, kanan, kiri), maka
sebaiknya ia mengqadha.
وَإِنِ
انْحَرَفَ عَنْ حَقِيقَةِ مُحَاذَاةِ الْقِبْلَةِ وَلٰكِنْ لَمْ يَخْرُجْ عَنْ
جِهَتِهَا لَمْ يَلْزَمْهُ الْقَضَاءُ.
Jika ia hanya menyimpang dari ketepatan garis kiblat, namun
tidak keluar dari arah kiblatnya, maka tidak wajib qadha.
وَقَدْ
أَوْرَدَ الْفُقَهَاءُ خِلَافًا فِي أَنَّ الْمَطْلُوبَ جِهَةُ الْكَعْبَةِ أَوْ
عَيْنُهَا.
Para fuqaha menyebutkan perbedaan pendapat: yang dituntut
itu menghadap arah Ka‘bah atau tepat ke bangunan Ka‘bahnya.
وَأَشْكَلَ
مَعْنَى ذٰلِكَ عَلَى قَوْمٍ.
Maknanya menjadi sulit dipahami oleh sebagian orang.
إِذْ
قَالُوا: إِنْ قُلْنَا إِنَّ الْمَطْلُوبَ الْعَيْنُ فَمَتَى يَتَصَوَّرُ هٰذَا
مَعَ بُعْدِ الدِّيَارِ؟
Sebab mereka berkata: jika yang dituntut adalah tepat
bangunannya, bagaimana mungkin dilakukan dengan jarak negeri yang jauh?
وَإِنْ
قُلْنَا إِنَّ الْمَطْلُوبَ الْجِهَةُ فَالْوَاقِفُ فِي الْمَسْجِدِ إِنِ
اسْتَقْبَلَ جِهَةَ الْكَعْبَةِ وَهُوَ خَارِجٌ بِبَدَنِهِ عَنْ مُوَازَاةِ
الْكَعْبَةِ لَا خِلَافَ فِي أَنَّهُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ.
Dan jika yang dituntut adalah arah, maka orang yang berdiri
di masjid—bila ia menghadap arah Ka‘bah namun tubuhnya tidak sejajar dengan
Ka‘bah—tidak ada perbedaan bahwa salatnya tidak sah.
وَقَدْ
طَوَّلُوا فِي تَأْوِيلِ مَعْنَى الْخِلَافِ فِي الْجِهَةِ وَالْعَيْنِ.
Mereka pun memanjangkan pembahasan dalam menakwilkan makna
perbedaan “arah” dan “bangunan”.
وَلَا
بُدَّ أَوَّلًا مِنْ فَهْمِ مَعْنَى مُقَابَلَةِ الْعَيْنِ وَمُقَابَلَةِ
الْجِهَةِ.
Pertama-tama harus dipahami makna “menghadapkan tepat ke
bangunan” dan “menghadapkan ke arah”.
فَمَعْنَى
مُقَابَلَةِ الْعَيْنِ أَنْ يَقِفَ مَوْقِفًا لَوْ خَرَجَ خَطٌّ مُسْتَقِيمٌ مِنْ
بَيْنِ عَيْنَيْهِ إِلَى جِدَارِ الْكَعْبَةِ لَصَلَ إِلَيْهَا.
Makna “menghadapkan tepat bangunan” ialah berdiri pada
posisi yang bila ditarik garis lurus dari antara kedua matanya ke dinding
Ka‘bah, garis itu akan mengenainya.
وَحَصَلَ
مِنْ جَانِبَيِ الْخَطِّ زَاوِيَتَانِ مُتَسَاوِيَتَانِ.
Dan pada kedua sisi garis itu terbentuk dua sudut yang sama.
وَهٰذِهِ
صُورَتُهُ.
Inilah gambarnya.
وَالْخَطُّ
الْخَارِجُ مِنْ مَوْقِفِ الْمُصَلِّي يُقَدَّرُ أَنَّهُ خَارِجٌ مِنْ بَيْنِ
عَيْنَيْهِ.
Garis yang keluar dari posisi orang yang salat diperkirakan
keluar dari antara kedua matanya.
فَهٰذِهِ
صُورَةُ مُقَابَلَةِ الْعَيْنِ.
Maka itulah bentuk “menghadapkan tepat bangunan”.
وَأَمَّا
مُقَابَلَةُ الْجِهَةِ.
Adapun “menghadapkan arah”.
فَيَجُوزُ
فِيهَا أَنْ يَتَّصِلَ طَرَفُ الْخَطِّ الْخَارِجِ مِنْ بَيْنِ الْعَيْنَيْنِ
إِلَى الْكَعْبَةِ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَتَسَاوَى الزَّاوِيَتَانِ عَنْ جِهَتَيِ
الْخَطِّ.
Pada “menghadapkan arah”, boleh ujung garis yang keluar dari
antara dua mata tersambung ke Ka‘bah tanpa harus kedua sudut di sisi garis itu
sama.
بَلْ
لَا تَتَسَاوَى الزَّاوِيَتَانِ إِلَّا إِذَا انْتَهَى الْخَطُّ إِلَى نُقْطَةٍ
مُعَيَّنَةٍ هِيَ وَاحِدَةٌ.
Bahkan kedua sudut itu tidak akan sama kecuali bila garis
berakhir pada satu titik tertentu yang tunggal.
فَلَوْ
مُدَّ هٰذَا الْخَطُّ عَلَى الِاسْتِقَامَةِ إِلَى سَائِرِ النِّقَاطِ مِنْ
يَمِينِهَا أَوْ شِمَالِهَا كَانَتْ إِحْدَى الزَّاوِيَتَيْنِ أَضْيَقَ.
Jika garis ini diperpanjang lurus ke titik-titik lain di
kanan atau kiri, maka salah satu sudut akan lebih sempit.
فَيَخْرُجُ
عَنْ مُقَابَلَةِ الْعَيْنِ وَلٰكِنْ لَا يَخْرُجُ عَنْ مُقَابَلَةِ الْجِهَةِ.
Maka ia keluar dari “menghadapkan tepat bangunan”, tetapi
tidak keluar dari “menghadapkan arah”.
كَالْخَطِّ
الَّذِي كَتَبْنَا عَلَيْهِ مُقَابَلَةَ الْجِهَةِ.
Seperti garis yang kami buat pada gambar “menghadapkan
arah”.
فَإِنَّهُ
لَوْ قُدِّرَتِ الْكَعْبَةُ عَلَى طَرَفِ ذٰلِكَ الْخَطِّ لَكَانَ الْوَاقِفُ
مُسْتَقْبِلًا لِجِهَةِ الْكَعْبَةِ لَا لِعَيْنِهَا.
Sebab bila Ka‘bah dianggap berada di ujung garis itu, maka
orang yang berdiri berarti menghadap arah Ka‘bah, bukan tepat bangunannya.
وَحَدُّ
تِلْكَ الْجِهَةِ مَا يَقَعُ بَيْنَ خَطَّيْنِ يَتَوَهَّمُهُمَا الْوَاقِفُ
مُسْتَقْبِلًا.
Batas “arah” itu adalah area yang berada di antara dua garis
yang dibayangkan orang yang berdiri sebagai garis hadapannya.
خَارِجَيْنِ
مِنَ الْعَيْنَيْنِ فَيَلْتَقِي طَرَفَاهُمَا فِي دَاخِلِ الرَّأْسِ بَيْنَ
الْعَيْنَيْنِ عَلَى زَاوِيَةٍ قَائِمَةٍ.
Dua garis itu seakan keluar dari kedua mata, lalu kedua
ujungnya bertemu di dalam kepala, di antara kedua mata, membentuk sudut
siku-siku.
فَمَا
يَقَعُ بَيْنَ الْخَطَّيْنِ الْخَارِجَيْنِ مِنَ الْعَيْنَيْنِ فَهُوَ دَاخِلٌ فِي
الْجِهَةِ.
Apa pun yang berada di antara dua garis yang keluar dari
kedua mata itu termasuk “arah”.
وَسَعَةُ
مَا بَيْنَ الْخَطَّيْنِ تَتَزَايَدُ بِطُولِ الْخَطَّيْنِ وَبِالْبُعْدِ عَنِ
الْكَعْبَةِ.
Lebar area di antara dua garis itu semakin besar seiring
panjangnya garis dan semakin jauhnya dari Ka‘bah.
وَهٰذِهِ
صُورَتُهُ.
Inilah gambarnya.
عَلَيْهِ
السَّلَامُ.
(Ini keterangan gambar).
فَإِذَا
فَهِمْتَ مَعْنَى الْعَيْنِ وَالْجِهَةِ فَأَقُولُ.
Jika engkau telah memahami makna “bangunan” dan “arah”, maka
aku katakan:
اَلَّذِي
يَصِحُّ عِنْدَنَا فِي الْفَتْوَى أَنَّ الْمَطْلُوبَ الْعَيْنُ إِنْ كَانَتِ
الْكَعْبَةُ مِمَّا يُمْكِنُ رُؤْيَتُهَا.
Yang benar menurut kami dalam fatwa: yang dituntut adalah
tepat bangunan Ka‘bah jika Ka‘bah memungkinkan untuk dilihat.
وَإِنْ
كَانَ يَحْتَاجُ إِلَى الِاسْتِدْلَالِ عَلَيْهَا لِتَعَذُّرِ رُؤْيَتِهَا
فَيَكْفِي اسْتِقْبَالُ الْجِهَةِ.
Jika harus beristidlal (menggunakan tanda) karena tidak
mungkin melihatnya, maka cukup menghadap arahnya.
فَأَمَّا
طَلَبُ الْعَيْنِ عِنْدَ الْمُشَاهَدَةِ فَمُجْمَعٌ عَلَيْهِ.
Adapun menuntut tepat bangunan saat dapat melihatnya, maka
itu ijmak.
وَأَمَّا
الِاكْتِفَاءُ بِالْجِهَةِ عِنْدَ تَعَذُّرِ الْمُعَايَنَةِ فَيَدُلُّ عَلَيْهِ
الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَفِعْلُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
وَالْقِيَاسُ.
Adapun mencukupkan dengan “arah” ketika tidak bisa
melihatnya, dalilnya ada dalam Al-Qur’an, sunnah, perbuatan para sahabat, dan
qiyas.
أَمَّا
الْكِتَابُ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ
شَطْرَهُ، أَيْ نَحْوَهُ.
Dalil Al-Qur’an ialah firman Allah تعالى: “Di mana pun kalian berada, hadapkanlah
wajah kalian ke arah itu,” yaitu ke arahnya.
وَمَنْ
قَابَلَ جِهَةَ الْكَعْبَةِ يُقَالُ: قَدْ وَلَّى وَجْهَهُ شَطْرَهَا.
Orang yang menghadap arah Ka‘bah dikatakan: ia telah
menghadapkan wajahnya ke arahnya.
وَأَمَّا
السُّنَّةُ فَمَا رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ: مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْمَشْرِقِ
قِبْلَةٌ (١).
Dalil sunnah ialah riwayat dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bahwa beliau bersabda kepada penduduk Madinah: “Apa yang berada di antara barat
dan timur adalah kiblat.” (1)
وَالْمَغْرِبُ
يَقَعُ عَلَى يَمِينِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، وَالْمَشْرِقُ عَلَى يَسَارِهِمْ.
Arah barat berada di kanan penduduk Madinah, dan timur di
kiri mereka.
فَجَعَلَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيعَ مَا يَقَعُ بَيْنَهُمَا
قِبْلَةً.
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikan seluruh area di antara keduanya
sebagai kiblat.
وَمَسَاحَةُ
الْكَعْبَةِ لَا تَفِي بِمَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.
Padahal luas bangunan Ka‘bah tidak mencakup seluruh rentang
antara timur dan barat.
وَإِنَّمَا
يَفِي بِذٰلِكَ جِهَتُهَا.
Yang mencakupnya hanyalah “arah” Ka‘bah.
وَرُوِيَ
هٰذَا اللَّفْظُ أَيْضًا عَنْ عُمَرَ وَابْنِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا.
Lafaz ini juga diriwayatkan dari ‘Umar dan putranya رضي الله عنهما.
وَأَمَّا
فِعْلُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَمَا رُوِيَ أَنَّ مَسْجِدَ قُبَاءٍ
كَانُوا فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ بِالْمَدِينَةِ مُسْتَقْبِلِينَ لِبَيْتِ
الْمَقْدِسِ مُسْتَدْبِرِينَ الْكَعْبَةَ.
Dalil perbuatan sahabat ialah riwayat bahwa jamaah Masjid
Quba saat salat Subuh di Madinah menghadap Baitul Maqdis dan membelakangi
Ka‘bah.
لِأَنَّ
الْمَدِينَةَ بَيْنَهُمَا.
Karena Madinah berada di antara keduanya.
فَقِيلَ
لَهُمُ: الْآنَ قَدْ حُوِّلَتِ الْقِبْلَةُ إِلَى الْكَعْبَةِ.
Lalu dikatakan kepada mereka: sekarang kiblat telah dipindah
ke Ka‘bah.
فَاسْتَدَارُوا
فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ مِنْ غَيْرِ طَلَبِ دَلَالَةٍ (٢).
Maka mereka berputar arah di tengah salat tanpa mencari
petunjuk tambahan. (2)
وَلَمْ
يُنْكَرْ عَلَيْهِمْ.
Dan tidak ada pengingkaran terhadap mereka.
وَسُمِّيَ
مَسْجِدُهُمْ ذَا الْقِبْلَتَيْنِ.
Masjid mereka pun disebut “Dzul Qiblatain” (masjid dua
kiblat).
وَمُقَابَلَةُ
الْعَيْنِ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ لَا تُعْرَفُ إِلَّا بِأَدِلَّةٍ
هِنْدَسِيَّةٍ يَطُولُ النَّظَرُ فِيهَا.
Sedangkan menghadap tepat bangunan dari Madinah ke Makkah
tidak diketahui kecuali dengan dalil-dalil geometris yang panjang
pembahasannya.
فَكَيْفَ
أَدْرَكُوا ذٰلِكَ عَلَى الْبَدِيهَةِ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ وَفِي ظُلْمَةِ
اللَّيْلِ؟
Lalu bagaimana mereka bisa melakukannya secara spontan di
tengah salat dan dalam gelap malam?
وَيَدُلُّ
أَيْضًا مِنْ فِعْلِهِمْ أَنَّهُمْ بَنَوُا الْمَسَاجِدَ حَوَالَيْ مَكَّةَ وَفِي
سَائِرِ بِلَادِ الْإِسْلَامِ.
Perbuatan mereka juga menunjukkan bahwa mereka membangun
masjid-masjid di sekitar Makkah dan di seluruh negeri Islam.
وَلَمْ
يَحْضُرُوا قَطُّ مُهَنْدِسًا عِنْدَ تَسْوِيَةِ الْمَحَارِيبِ.
Mereka tidak pernah menghadirkan ahli teknik/geometri saat
meluruskan mihrab.
وَمُقَابَلَةُ
الْعَيْنِ لَا تُدْرَكُ إِلَّا بِدَقِيقِ النَّظَرِ الْهِنْدَسِيِّ.
Padahal menghadap tepat bangunan tidak didapat kecuali
dengan ketelitian geometris.
وَأَمَّا
الْقِيَاسُ فَهُوَ أَنَّ الْحَاجَةَ تَمَسُّ إِلَى الِاسْتِقْبَالِ وَبِنَاءِ
الْمَسَاجِدِ فِي جَمِيعِ أَقْطَارِ الْأَرْضِ.
Adapun qiyasnya: kebutuhan menghadap kiblat dan membangun
masjid ada di seluruh penjuru bumi.
وَلَا
يُمْكِنُ مُقَابَلَةُ الْعَيْنِ إِلَّا بِعُلُومٍ هِنْدَسِيَّةٍ لَمْ يَرِدِ
الشَّرْعُ بِالنَّظَرِ فِيهَا.
Dan menghadap tepat bangunan tidak mungkin kecuali dengan
ilmu geometri yang syariat tidak memerintahkan untuk mendalaminya.
بَلْ
رُبَّمَا يَزْجُرُ عَنِ التَّعَمُّقِ فِي عِلْمِهَا.
Bahkan bisa jadi syariat melarang berlebih-lebihan
mendalaminya.
فَكَيْفَ
يَنْبَنِي أَمْرُ الشَّرْعِ عَلَيْهَا؟
Lalu bagaimana mungkin urusan syariat dibangun di atasnya?
فَيَجِبُ
الِاكْتِفَاءُ بِالْجِهَةِ لِلضَّرُورَةِ.
Maka wajib mencukupkan dengan “arah” karena darurat
kebutuhan.
وَأَمَّا
دَلِيلُ صِحَّةِ الصُّورَةِ الَّتِي صَوَّرْنَاهَا وَهُوَ حَصْرُ جِهَاتِ
الْعَالَمِ فِي أَرْبَعِ جِهَاتٍ فَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
آدَابِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ: لَا تَسْتَقْبِلُوا بِهَا الْقِبْلَةَ وَلَا
تَسْتَدْبِرُوهَا، وَلٰكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا (٣).
Adapun dalil kebenaran gambaran yang kami jelaskan—yaitu
pembatasan arah dunia pada empat arah—ialah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم
dalam adab buang hajat: “Jangan menghadap kiblat dan jangan membelakanginya,
tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.” (3)
وَقَالَ:
هٰذَا بِالْمَدِينَةِ.
Beliau berkata: ini berlaku di Madinah.
وَالْمَشْرِقُ
عَلَى يَسَارِ الْمُسْتَقْبِلِ بِهَا، وَالْمَغْرِبُ عَلَى يَمِينِهِ.
Di Madinah, timur berada di kiri orang yang menghadap kiblat
dan barat di kanannya.
فَنَهَى
عَنْ جِهَتَيْنِ وَرَخَّصَ فِي جِهَتَيْنِ.
Maka beliau melarang dua arah dan memberi keringanan pada
dua arah.
وَمَجْمُوعُ
ذٰلِكَ أَرْبَعُ جِهَاتٍ.
Jumlahnya menjadi empat arah.
وَلَمْ
يَخْطُرْ بِبَالِ أَحَدٍ أَنَّ جِهَاتِ الْعَالَمِ يُمْكِنُ أَنْ تُفْرَضَ فِي
سِتٍّ أَوْ سَبْعٍ أَوْ عَشْرٍ.
Tidak terlintas pada siapa pun bahwa arah dunia bisa
ditetapkan enam, tujuh, atau sepuluh.
وَكَيْفَمَا
كَانَ فَمَا حُكْمُ الْبَاقِي؟
Bagaimanapun, lalu apa status arah yang tersisa?
بَلِ
الْجِهَاتُ تَثْبُتُ فِي الِاعْتِقَادَاتِ بِنَاءً عَلَى خِلْقَةِ الْإِنْسَانِ.
Bahkan arah itu ditetapkan dalam pemahaman berdasarkan
penciptaan manusia.
وَلَيْسَ
لَهُ إِلَّا أَرْبَعُ جِهَاتٍ: قُدَّامٌ وَخَلْفٌ وَيَمِينٌ وَشِمَالٌ.
Manusia hanya memiliki empat arah: depan, belakang, kanan,
dan kiri.
فَكَانَتِ
الْجِهَاتُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْإِنْسَانِ فِي ظَاهِرِ النَّظَرِ أَرْبَعًا.
Maka arah jika ditinjau dari manusia, secara lahirnya ada
empat.
وَالشَّرْعُ
لَا يُبْنَى إِلَّا عَلَى مِثْلِ هٰذِهِ الِاعْتِقَادَاتِ.
Syariat tidak dibangun kecuali di atas pemahaman semacam
ini.
فَظَهَرَ
أَنَّ الْمَطْلُوبَ الْجِهَةُ.
Maka jelaslah bahwa yang dituntut adalah “arah”.
وَذٰلِكَ
يُسَهِّلُ أَمْرَ الِاجْتِهَادِ فِيهَا.
Hal ini memudahkan ijtihad dalam menentukan kiblat.
وَتُعْلَمُ
بِهِ أَدَاةُ الْقِبْلَةِ.
Dengannya pula dipahami alat/cara menentukan kiblat.