Kewajiban-Kewajiban Baru yang Muncul Karena Perjalanan (2)

فَأَمَّا مُقَابَلَةُ الْعَيْنِ فَإِنَّهَا تُعْرَفُ بِمَعْرِفَةِ مِقْدَارِ عَرْضِ مَكَّةَ عَنْ خَطِّ الِاسْتِوَاءِ.

Adapun menghadap tepat bangunan diketahui dengan mengetahui lintang Makkah dari garis khatulistiwa.

وَمِقْدَارِ دَرَجَاتِ طُولِهَا، وَهُوَ بُعْدُهَا عَنْ أَوَّلِ عِمَارَةٍ فِي الْمَشْرِقِ.

Dan mengetahui bujur derajatnya, yaitu jaraknya dari titik awal permukiman di timur.

ثُمَّ يُعْرَفُ ذٰلِكَ أَيْضًا فِي مَوْقِفِ الْمُصَلِّي.

Kemudian hal itu juga diketahui pada tempat berdirinya orang yang salat.

ثُمَّ يُقَابَلُ أَحَدُهُمَا بِالْآخَرِ.

Lalu keduanya dicocokkan satu sama lain.

وَيَحْتَاجُ فِيهِ إِلَى آلَاتٍ وَأَسْبَابٍ طَوِيلَةٍ.

Itu membutuhkan alat dan proses yang panjang.

وَالشَّرْعُ غَيْرُ مَبْنِيٍّ عَلَيْهَا قَطْعًا.

Syariat sama sekali tidak dibangun di atas hal-hal seperti itu.

فَإِذًا الْقَدْرُ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْ تَعَلُّمِهِ مِنْ أَدِلَّةِ الْقِبْلَةِ: مَوْقِعُ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ عِنْدَ الزَّوَالِ، وَمَوْقِعُ الشَّمْسِ وَقْتَ الْعَصْرِ.

Maka kadar yang harus dipelajari dari petunjuk kiblat ialah: letak timur dan barat saat zawal, serta posisi matahari pada waktu Asar.

فَبِهٰذَا يَسْقُطُ الْوُجُوبُ.

Dengan hal ini gugurlah kewajiban yang lebih luas.

فَإِنْ قُلْتَ: فَلَوْ خَرَجَ الْمُسَافِرُ مِنْ غَيْرِ تَعَلُّمِ ذٰلِكَ هَلْ يَعْصِي؟

Jika engkau bertanya: bila musafir berangkat tanpa mempelajarinya, apakah ia berdosa?

فَأَقُولُ: إِنْ كَانَ طَرِيقُهُ عَلَى قُرًى مُتَّصِلَةٍ فِيهَا مَحَارِيبُ.

Aku jawab: jika jalannya melewati desa-desa yang tersambung dan di sana ada mihrab-mihrab.

أَوْ كَانَ مَعَهُ فِي الطَّرِيقِ بَصِيرٌ بِأَدِلَّةِ الْقِبْلَةِ مَوْثُوقٌ بِعَدَالَتِهِ وَبَصِيرَتِهِ وَيَقْدِرُ عَلَى تَقْلِيدِهِ فَلَا يَعْصِي.

Atau bila bersamanya ada orang yang paham petunjuk kiblat, terpercaya keadilannya dan kepahamannya, dan ia bisa bertaklid kepadanya, maka ia tidak berdosa.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ عَصَى.

Jika tidak ada sama sekali hal itu, maka ia berdosa.

لِأَنَّهُ سَيَتَعَرَّضُ لِوُجُوبِ الِاسْتِقْبَالِ وَلَمْ يَكُنْ قَدْ حَصَلَ عِلْمُهُ.

Karena ia akan berhadapan dengan kewajiban menghadap kiblat, sementara ilmunya belum ia miliki.

فَصَارَ ذٰلِكَ كَعِلْمِ التَّيَمُّمِ وَغَيْرِهِ.

Maka hal itu menjadi seperti kewajiban mempelajari tayamum dan semisalnya.

فَإِنْ تَعَلَّمَ هٰذِهِ الْأَدِلَّةَ وَاسْتَبْهَمَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ بِغَيْمٍ مُظْلِمٍ.

Jika ia telah mempelajari petunjuk-petunjuk itu lalu urusan tetap gelap baginya karena awan tebal yang gelap.

أَوْ تَرَكَ التَّعَلُّمَ وَلَمْ يَجِدْ فِي الطَّرِيقِ مَنْ يُقَلِّدُهُ.

Atau ia meninggalkan belajar dan tidak menemukan di perjalanan orang yang bisa ia ikuti.

فَعَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ فِي الْوَقْتِ عَلَى حَسَبِ حَالِهِ.

Maka ia harus salat pada waktunya sesuai kemampuannya.

ثُمَّ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ سَوَاءٌ أَصَابَ أَمْ أَخْطَأَ.

Lalu ia wajib qadha, baik ternyata tepat maupun salah.

وَالْأَعْمَى لَيْسَ لَهُ إِلَّا التَّقْلِيدُ.

Orang buta tidak punya pilihan selain bertaklid.

فَلْيُقَلِّدْ مَنْ يُوثَقُ بِدِينِهِ وَبَصِيرَتِهِ.

Hendaklah ia bertaklid kepada orang yang terpercaya agama dan pemahamannya.

إِنْ كَانَ مُقَلَّدُهُ مُجْتَهِدًا فِي الْقِبْلَةِ.

Jika orang yang ia ikuti itu mampu berijtihad dalam kiblat.

وَإِنْ كَانَتِ الْقِبْلَةُ ظَاهِرَةً فَلَهُ اعْتِمَادُ قَوْلِ كُلِّ عَدْلٍ يُخْبِرُهُ بِذٰلِكَ فِي حَضَرٍ أَوْ سَفَرٍ.

Jika kiblatnya jelas, maka ia boleh menerima kabar dari setiap orang adil, baik saat mukim maupun safar.

وَلَيْسَ لِلْأَعْمَى وَلَا لِلْجَاهِلِ أَنْ يُسَافِرَ فِي قَافِلَةٍ لَيْسَ فِيهَا مَنْ يَعْرِفُ أَدِلَّةَ الْقِبْلَةِ حَيْثُ يَحْتَاجُ إِلَى الِاسْتِدْلَالِ.

Orang buta dan orang yang tidak tahu tidak boleh bepergian dalam kafilah yang tidak ada orang yang mengetahui petunjuk kiblat, padahal ia membutuhkan istidlal.

كَمَا لَيْسَ لِلْعَامِّيِّ أَنْ يُقِيمَ بِبَلْدَةٍ لَيْسَ فِيهَا فَقِيهٌ عَالِمٌ بِتَفْصِيلِ الشَّرْعِ.

Sebagaimana orang awam tidak boleh tinggal di negeri yang tidak ada faqih yang mengetahui rincian syariat.

بَلْ يَلْزَمُهُ الْهِجْرَةُ إِلَى حَيْثُ يَجِدُ مَنْ يُعَلِّمُهُ دِينَهُ.

Bahkan ia wajib hijrah ke tempat yang ia temukan orang yang mengajarinya agama.

وَكَذٰلِكَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْبَلَدِ إِلَّا فَقِيهٌ فَاسِقٌ فَعَلَيْهِ الْهِجْرَةُ أَيْضًا.

Demikian pula jika di negeri itu hanya ada faqih yang fasik, ia juga wajib hijrah.

إِذْ لَا يَجُوزُ لَهُ اعْتِمَادُ فُتْوَى الْفَاسِقِ.

Karena tidak boleh bergantung pada fatwa orang fasik.

بَلِ الْعَدَالَةُ شَرْطٌ لِجَوَازِ قَبُولِ الْفُتْوَى كَمَا فِي الرِّوَايَةِ.

Bahkan keadilan adalah syarat bolehnya menerima fatwa, sebagaimana dalam periwayatan.

وَإِنْ كَانَ مَعْرُوفًا بِالْفِقْهِ مَسْتُورَ الْحَالِ فِي الْعَدَالَةِ وَالْفِسْقِ فَلَهُ الْقَبُولُ مَهْمَا لَمْ يَجِدْ مَنْ لَهُ عَدَالَةٌ ظَاهِرَةٌ.

Jika ia dikenal berilmu fikih namun keadaan adil atau fasiknya tidak jelas, maka boleh diterima selama tidak ada orang yang jelas keadilannya.

لِأَنَّ الْمُسَافِرَ فِي الْبِلَادِ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَبْحَثَ عَنْ عَدَالَةِ الْمُفْتِينَ.

Karena musafir di negeri orang tidak mampu meneliti keadilan para mufti.

فَإِنْ رَآهُ لَابِسًا لِلْحَرِيرِ أَوْ مَا يَغْلِبُ عَلَيْهِ الْإِبْرَيْسِمُ.

Jika ia melihatnya memakai sutra, atau pakaian yang dominan sutra.

أَوْ رَاكِبًا لِفَرَسٍ عَلَيْهِ مُرَكَّبُ ذَهَبٍ فَقَدْ ظَهَرَ فِسْقُهُ وَامْتَنَعَ عَلَيْهِ قَبُولُ قَوْلِهِ.

Atau menunggang kuda dengan perlengkapan emas, maka jelas kefasikannya dan tidak boleh menerima ucapannya.

فَلْيَطْلُبْ غَيْرَهُ.

Hendaklah ia mencari yang lain.

وَكَذٰلِكَ إِذَا رَآهُ يَأْكُلُ عَلَى مَائِدَةِ سُلْطَانٍ أَغْلَبُ مَالِهِ حَرَامٌ.

Demikian pula jika ia melihatnya makan di meja penguasa yang kebanyakan hartanya haram.

أَوْ يَأْخُذُ مِنْهُ إِدْرَارًا أَوْ صِلَةً مِنْ غَيْرِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الَّذِي يَأْخُذُهُ مِنْ وَجْهٍ حَلَالٍ.

Atau menerima gaji rutin atau hadiah darinya tanpa mengetahui bahwa yang ia ambil itu dari jalan yang halal.

فَكُلُّ ذٰلِكَ فِسْقٌ يَقْدَحُ فِي الْعَدَالَةِ.

Semua itu adalah kefasikan yang merusak keadilan.

وَيَمْنَعُ مِنْ قَبُولِ الْفُتْوَى وَالرِّوَايَةِ وَالشَّهَادَةِ.

Dan menghalangi diterimanya fatwa, riwayat, dan kesaksian.

وَأَمَّا مَعْرِفَةُ أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فَلَا بُدَّ مِنْهَا.

Adapun mengetahui waktu-waktu lima salat, maka itu harus.

فَوَقْتُ الظُّهْرِ يَدْخُلُ بِالزَّوَالِ.

Waktu Zuhur masuk dengan zawal.

فَإِنَّ كُلَّ شَخْصٍ لَا بُدَّ أَنْ يَقَعَ لَهُ فِي ابْتِدَاءِ النَّهَارِ ظِلٌّ مُسْتَطِيلٌ فِي جَانِبِ الْمَغْرِبِ.

Setiap orang pada awal siang pasti memiliki bayangan memanjang di sisi barat.

ثُمَّ لَا يَزَالُ يَنْقُصُ إِلَى وَقْتِ الزَّوَالِ.

Kemudian bayangan itu terus berkurang sampai waktu zawal.

ثُمَّ يَأْخُذُ فِي الزِّيَادَةِ فِي جِهَةِ الْمَشْرِقِ.

Lalu mulai bertambah ke arah timur.

وَلَا يَزَالُ يَزِيدُ إِلَى الْغُرُوبِ.

Dan terus bertambah sampai terbenam matahari.

فَلْيَقُمْ الْمُسَافِرُ فِي مَوْضِعٍ، أَوْ لِيَنْصِبْ عُودًا مُسْتَقِيمًا.

Hendaklah musafir berdiri di suatu tempat, atau menancapkan tongkat yang lurus.

وَلْيَعْلَمْ عَلَى رَأْسِ الظِّلِّ.

Buatlah tanda pada ujung bayangan.

ثُمَّ لِيَنْظُرْ بَعْدَ سَاعَةٍ.

Lalu perhatikan setelah satu waktu.

فَإِنْ رَآهُ فِي النُّقْصَانِ فَلَمْ يَدْخُلْ بَعْدُ وَقْتُ الظُّهْرِ.

Jika ia melihat bayangan masih berkurang, berarti waktu Zuhur belum masuk.

وَطَرِيقُهُ فِي مَعْرِفَةِ ذٰلِكَ أَنْ يَنْظُرَ فِي الْبَلَدِ وَقْتَ أَذَانِ الْمُؤَذِّنِ الْمُعْتَمَدِ ظِلَّ قَامَتِهِ.

Cara mengetahui hal itu adalah: ketika di negerinya, ia melihat pada waktu azan muazin yang terpercaya berapa panjang bayangan setinggi dirinya.

فَإِنْ كَانَ مَثَلًا ثَلَاثَةَ أَقْدَامٍ بِقَدَمِهِ.

Misalnya tiga telapak kaki menurut ukuran kakinya.

فَمَهْمَا صَارَ كَذٰلِكَ فِي السَّفَرِ وَأَخَذَ فِي الزِّيَادَةِ صَلَّى.

Maka kapan pun dalam perjalanan bayangan menjadi seperti itu dan mulai bertambah, ia salat Zuhur.

فَإِنْ زَادَ عَلَيْهِ سِتَّةَ أَقْدَامٍ وَنِصْفًا بِقَدَمِهِ دَخَلَ وَقْتُ الْعَصْرِ.

Jika bertambah lagi enam telapak kaki setengah menurut ukuran kakinya, maka waktu Asar masuk.

إِذْ ظِلُّ كُلِّ شَخْصٍ بِقَدَمِهِ سِتَّةُ أَقْدَامٍ وَنِصْفٌ بِالتَّقْرِيبِ.

Karena bayangan seseorang (dengan ukuran telapak kakinya) kira-kira enam telapak kaki setengah.

ثُمَّ ظِلُّ الزَّوَالِ يَزِيدُ كُلَّ يَوْمٍ إِنْ كَانَ سَفَرُهُ مِنْ أَوَّلِ الصَّيْفِ.

Kemudian bayangan saat zawal bertambah setiap hari jika perjalanannya dimulai dari awal musim panas.

وَإِنْ كَانَ مِنْ أَوَّلِ الشِّتَاءِ فَيَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ.

Jika dari awal musim dingin, ia berkurang setiap hari.

وَأَحْسَنُ مَا يُعْرَفُ بِهِ ظِلُّ الزَّوَالِ: الْمِيزَانُ.

Cara terbaik mengetahui bayangan zawal adalah dengan alat timbangan/alat ukur (mīzān).

فَلْيَسْتَصْحِبْهُ الْمُسَافِرُ.

Hendaklah musafir membawanya.

وَلْيَتَعَلَّمِ اخْتِلَافَ الظِّلِّ بِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ.

Dan hendaklah ia belajar perubahan bayangan dengannya pada setiap waktu.

وَإِنْ عَرَفَ مَوْقِعَ الشَّمْسِ مِنْ مُسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةِ وَقْتَ الزَّوَالِ.

Jika ia mengetahui posisi matahari relatif terhadap orang yang menghadap kiblat saat zawal.

وَكَانَ فِي السَّفَرِ فِي مَوْضِعٍ ظَهَرَتِ الْقِبْلَةُ فِيهِ بِدَلِيلٍ آخَرَ.

Dan ia berada dalam perjalanan di tempat yang arah kiblatnya jelas dengan dalil lain.

فَيُمْكِنُهُ أَنْ يَعْرِفَ الْوَقْتَ بِالشَّمْسِ بِأَنْ تَصِيرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَثَلًا إِنْ كَانَتْ كَذٰلِكَ فِي الْبَلَدِ.

Maka ia bisa mengetahui waktu dengan matahari: misalnya ketika matahari berada di antara kedua matanya, jika di negerinya memang demikian.

وَأَمَّا وَقْتُ الْمَغْرِبِ فَيَدْخُلُ بِالْغُرُوبِ.

Adapun waktu Magrib masuk dengan terbenamnya matahari.

وَلٰكِنْ قَدْ تَحْجُبُ الْجِبَالُ الْمَغْرِبَ عَنْهُ.

Namun gunung-gunung bisa menutupi arah barat dari pandangannya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يَنْظُرَ إِلَى جَانِبِ الْمَشْرِقِ.

Maka sebaiknya ia melihat ke arah timur.

فَمَهْمَا ظَهَرَ سَوَادٌ فِي الْأُفُقِ مُرْتَفِعٌ مِنَ الْأَرْضِ قَدْرَ رُمْحٍ فَقَدْ دَخَلَ وَقْتُ الْمَغْرِبِ.

Begitu tampak kegelapan di ufuk yang naik dari permukaan bumi setinggi kira-kira satu tombak, waktu Magrib telah masuk.

وَأَمَّا الْعِشَاءُ فَيُعْرَفُ بِغَيْبُوبَةِ الشَّفَقِ وَهُوَ الْحُمْرَةُ.

Adapun Isya diketahui dengan hilangnya syafaq, yaitu warna merah.

فَإِنْ كَانَتْ مَحْجُوبَةً عَنْهُ بِجِبَالٍ فَيَعْرِفُهُ بِظُهُورِ الْكَوَاكِبِ الصِّغَارِ وَكَثْرَتِهَا.

Jika syafaq tertutup oleh gunung, ia mengetahuinya dengan munculnya bintang-bintang kecil dan banyaknya bintang.

فَإِنَّ ذٰلِكَ يَكُونُ بَعْدَ غَيْبُوبَةِ الْحُمْرَةِ.

Karena itu terjadi setelah merahnya syafaq hilang.

وَأَمَّا الصُّبْحُ فَيَبْدُو فِي الْأَوَّلِ مُسْتَطِيلًا كَذَنَبِ السِّرْحَانِ.

Adapun Subuh, mula-mula tampak memanjang seperti ekor serigala.

فَلَا يُحْكَمُ بِهِ إِلَى أَنْ يَنْقَضِيَ زَمَانٌ.

Maka jangan diputuskan (masuk waktu) karenanya sampai lewat suatu waktu.

ثُمَّ يَظْهَرُ بَيَاضٌ مُعْتَرِضٌ.

Kemudian muncul cahaya putih yang melebar mendatar.

لَا يَعْسُرُ إِدْرَاكُهُ بِالْعَيْنِ لِظُهُورِهِ.

Yang tidak sulit ditangkap mata karena jelas.

فَهٰذَا أَوَّلُ الْوَقْتِ.

Itulah awal waktu Subuh.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ الصُّبْحُ هٰكَذَا، وَجَمَعَ بَيْنَ كَفَّيْهِ، وَإِنَّمَا الصُّبْحُ هٰكَذَا، وَوَضَعَ إِحْدَى سَبَّابَتَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَفَتَحَهُمَا (١).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Subuh itu bukan seperti ini,” lalu beliau merapatkan kedua telapak tangannya; “tetapi Subuh itu seperti ini,” lalu beliau meletakkan salah satu telunjuk di atas yang lain dan merenggangkannya. (1)

وَأَشَارَ بِهِ إِلَى أَنَّهُ مُعْتَرِضٌ.

Beliau memberi isyarat bahwa cahaya subuh itu melebar mendatar.

وَقَدْ يُسْتَدَلُّ عَلَيْهِ بِالْمَنَازِلِ.

Terkadang orang berpatokan pada manāzil (posisi-perjalanan bintang).

وَذٰلِكَ تَقْرِيبٌ لَا تَحْقِيقَ فِيهِ.

Namun itu hanya perkiraan, bukan ketepatan.

بَلِ الِاعْتِمَادُ عَلَى مُشَاهَدَةِ انْتِشَارِ الْبَيَاضِ عَرْضًا.

Pegangan sebenarnya adalah pengamatan: putihnya cahaya menyebar secara melintang.

لِأَنَّ قَوْمًا ظَنُّوا أَنَّ الصُّبْحَ يَطْلُعُ قَبْلَ الشَّمْسِ بِأَرْبَعِ مَنَازِلَ.

Karena ada kaum yang mengira Subuh terbit sebelum matahari dengan empat manzil.

وَهٰذَا خَطَأٌ لِأَنَّ ذٰلِكَ هُوَ الْفَجْرُ الْكَاذِبُ.

Ini salah, karena itu adalah fajar kazib.

وَالَّذِي ذَكَرَهُ الْمُحَقِّقُونَ أَنَّهُ يَتَقَدَّمُ عَلَى الشَّمْسِ بِمَنْزِلَتَيْنِ.

Yang disebut para peneliti: fajar itu mendahului matahari kira-kira dua manzil.

وَهٰذَا تَقْرِيبٌ.

Ini pun perkiraan.

وَلٰكِنْ لَا اعْتِمَادَ عَلَيْهِ.

Namun tidak dapat dijadikan pegangan pasti.

فَإِنَّ بَعْضَ الْمَنَازِلِ تَطْلُعُ مُعْتَرِضَةً مُنْحَرِفَةً فَيَقْصُرُ زَمَانُ طُلُوعِهَا.

Sebab sebagian manzil terbit dalam posisi mendatar namun miring, sehingga masa terbitnya singkat.

وَبَعْضُهَا مُنْتَصِبَةٌ فَيَطُولُ زَمَانُ طُلُوعِهَا.

Sebagian lagi terbit tegak sehingga masa terbitnya panjang.

وَيَخْتَلِفُ ذٰلِكَ فِي الْبَلَدِ اخْتِلَافًا يَطُولُ ذِكْرُهُ.

Ini berbeda-beda di tiap negeri, dan pembahasannya panjang.

نَعَمْ تَصْلُحُ الْمَنَازِلُ لِأَنْ يُعْلَمَ بِهَا قُرْبُ وَقْتِ الصُّبْحِ وَبُعْدُهُ.

Ya, manzil berguna untuk mengetahui dekat atau jauhnya waktu Subuh.

فَأَمَّا حَقِيقَةُ أَوَّلِ الصُّبْحِ فَلَا يُمْكِنُ ضَبْطُهُ بِمَنْزِلَتَيْنِ أَصْلًا.

Tetapi hakikat awal Subuh tidak mungkin dipatok tepat dengan dua manzil sama sekali.

وَعَلَى الْجُمْلَةِ فَإِذَا بَقِيَتْ أَرْبَعُ مَنَازِلَ إِلَى طُلُوعِ قَرْنِ الشَّمْسِ بِمِقْدَارِ مَنْزِلَةٍ يَتَيَقَّنُ أَنَّهُ الصُّبْحُ الْكَاذِبُ.

Secara umum: jika tersisa empat manzil menuju terbitnya “tanduk” matahari—dengan perkiraan satu manzil—maka diyakini itu adalah fajar kazib.

وَإِذَا بَقِيَ قَرِيبٌ مِنْ مَنْزِلَتَيْنِ يَتَحَقَّقُ طُلُوعُ الصُّبْحِ الصَّادِقِ.

Jika tersisa kira-kira dua manzil, maka terbitnya fajar sadiq dapat dipastikan.

وَيَبْقَى بَيْنَ الصُّبْحَيْنِ قَدْرُ ثُلُثَيْ مَنْزِلَةٍ بِالتَّقْرِيبِ يُشَكُّ فِيهِ: أَهُوَ مِنْ وَقْتِ الصُّبْحِ الصَّادِقِ أَوِ الْكَاذِبِ.

Di antara dua subuh itu tersisa kira-kira dua pertiga manzil yang menimbulkan keraguan: apakah termasuk waktu fajar sadiq atau kazib.

وَهُوَ مَبْدَأُ ظُهُورِ الْبَيَاضِ وَانْتِشَارِهِ قَبْلَ اتِّسَاعِ عَرْضِهِ.

Yaitu permulaan munculnya putih cahaya dan menyebarnya sebelum melebar jelas.

فَمِنْ وَقْتِ الشَّكِّ يَنْبَغِي أَنْ يَتْرُكَ الصَّائِمُ السَّحُورَ.

Sejak waktu ragu itu, sebaiknya orang yang berpuasa meninggalkan sahur.

وَيُقَدِّمَ الْقَائِمُ الْوِتْرَ عَلَيْهِ.

Dan orang yang hendak beribadah malam mendahulukan witir sebelum waktu itu.

وَلَا يُصَلِّي صَلَاةَ الصُّبْحِ حَتَّى تَنْقَضِيَ مُدَّةُ الشَّكِّ.

Dan jangan salat Subuh sampai masa keraguan itu berlalu.

فَإِذَا تَحَقَّقَ صَلَّى.

Jika telah yakin, barulah ia salat.

وَلَوْ أَرَادَ مُرِيدٌ أَنْ يُقَدِّرَ عَلَى التَّحْقِيقِ وَقْتًا مُعَيَّنًا يَشْرَبُ فِيهِ مُتَسَحِّرًا.

Jika ada orang ingin menentukan secara tepat waktu tertentu untuk minum sahur.

وَيَقُومُ عَقِيبَهُ وَيُصَلِّي الصُّبْحَ مُتَّصِلًا بِهِ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى ذٰلِكَ.

Lalu langsung berdiri setelahnya dan menunaikan Subuh menyambung dengannya, ia tidak akan mampu melakukannya.

فَلَيْسَ مَعْرِفَةُ ذٰلِكَ فِي قُوَّةِ الْبَشَرِ أَصْلًا.

Karena mengetahui hal itu setepat itu bukan kemampuan manusia.

بَلْ لَا بُدَّ مِنْ مُهْلَةٍ لِلتَّوَقُّفِ وَالشَّكِّ.

Pasti perlu jeda untuk berhenti dan ragu.

وَلَا اعْتِمَادَ إِلَّا عَلَى الْعِيَانِ.

Tidak ada pegangan kecuali penglihatan langsung.

وَلَا اعْتِمَادَ فِي الْعِيَانِ إِلَّا عَلَى أَنْ يَصِيرَ الضَّوْءُ مُنْتَشِرًا فِي الْعَرْضِ حَتَّى تَبْدُو مَبَادِي الصُّفْرَةِ.

Dan penglihatan langsung itu hanya dapat dipegang bila cahaya menyebar melintang hingga tampak awal kekuningan.

وَقَدْ غَلِطَ فِي هٰذَا جَمْعٌ مِنَ النَّاسِ كَثِيرٌ يُصَلُّونَ قَبْلَ الْوَقْتِ.

Banyak orang keliru dalam hal ini sehingga mereka salat sebelum waktunya.

وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رَوَاهُ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ بِإِسْنَادِهِ عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُوا وَاشْرَبُوا، وَلَا يَهِيبَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ، وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الْأَحْمَرُ (٢).

Hal itu dikuatkan oleh riwayat Abu ‘Isa at-Tirmidzi dalam Jami‘-nya, dengan sanadnya dari Thalq bin ‘Ali bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Makan dan minumlah, dan jangan takut oleh cahaya yang meninggi dan memanjang; makan dan minumlah sampai tampak bagi kalian yang merah yang melebar mendatar.” (2)

وَهٰذَا صَرِيحٌ فِي مُرَاعَاةِ الْحُمْرَةِ.

Ini tegas dalam memperhatikan (tanda) kemerahan.

قَالَ أَبُو عِيسَى: وَفِي الْبَابِ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ وَأَبِي ذَرٍّ وَسَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ.

Abu ‘Isa berkata: dalam bab ini juga ada riwayat dari ‘Adi bin Hatim, Abu Dzar, dan Samurah bin Jundub.

وَهُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ.

Dan itu adalah hadis hasan gharib.

وَالْعَمَلُ عَلَى هٰذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ.

Dan inilah yang diamalkan para ulama.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: كُلُوا وَاشْرَبُوا مَا دَامَ الضَّوْءُ سَاطِعًا.

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما berkata: makan dan minumlah selama cahaya masih memanjang.

قَالَ صَاحِبُ الْغَرِيبَيْنِ: أَيْ مُسْتَطِيلًا.

Penulis kitab al-Gharībain berkata: maksudnya memanjang.

فَإِذًا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَوَّلَ إِلَّا عَلَى ظُهُورِ الصُّفْرَةِ وَكَأَنَّهَا مَبَادِي الْحُمْرَةِ.

Maka tidak sepatutnya berpegang kecuali pada tampaknya kekuningan, seakan itulah permulaan kemerahan.

وَإِنَّمَا يَحْتَاجُ الْمُسَافِرُ إِلَى مَعْرِفَةِ الْأَوْقَاتِ لِأَنَّهُ قَدْ يُبَادِرُ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الرَّحِيلِ حَتَّى لَا يَشُقَّ عَلَيْهِ النُّزُولُ.

Musafir membutuhkan pengetahuan waktu karena ia mungkin ingin menyegerakan salat sebelum berangkat agar tidak berat baginya untuk berhenti (di perjalanan).

أَوْ قَبْلَ النَّوْمِ حَتَّى يَسْتَرِيحَ.

Atau sebelum tidur agar ia bisa beristirahat.

فَإِنْ وَطَّنَ نَفْسَهُ عَلَى تَأْخِيرِ الصَّلَاةِ إِلَى أَنْ يَتَيَقَّنَ.

Jika ia membiasakan diri menunda salat sampai benar-benar yakin.

فَتَسْمَحَ نَفْسُهُ بِفَوَاتِ فَضِيلَةِ أَوَّلِ الْوَقْتِ.

Dan ia rela kehilangan keutamaan awal waktu.

وَيَتَجَشَّمَ كُلْفَةَ النُّزُولِ وَكُلْفَةَ تَأْخِيرِ النَّوْمِ إِلَى التَّيَقُّنِ.

Serta ia bersedia menanggung beban berhenti dan menunda tidur sampai yakin.

اِسْتَغْنَى عَنْ تَعَلُّمِ عِلْمِ الْأَوْقَاتِ.

Maka ia tidak membutuhkan mempelajari ilmu waktu-waktu.

فَإِنَّ الْمُشْكِلَ أَوَائِلُ الْأَوْقَاتِ لَا أَوْسَاطُهَا.

Karena yang sulit adalah awal-awal waktu, bukan pertengahan waktunya.