Adab Imam dan Ma'mum
اَلْبَابُ الرَّابِعُ فِي الْإِمَامَةِ وَالْقُدْوَةِ، وَعَلَى الْإِمَامِ وَظَائِفُ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَفِي الْقِرَاءَةِ وَفِي أَرْكَانِ الصَّلَاةِ وَبَعْدَ السَّلَامِ.
Bab keempat tentang imamah dan mengikuti imam. Bagi seorang imam ada tugas-tugas sebelum salat, ketika membaca, pada rukun-rukun salat, dan setelah salam.
أَمَّا الْوَظَائِفُ الَّتِي هِيَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَسِتَّةٌ.
Adapun tugas-tugas yang sebelum salat ada enam.
أَوَّلُهَا أَنْ لَا يَتَقَدَّمَ لِلْإِمَامَةِ عَلَى قَوْمٍ يَكْرَهُونَهُ.
Yang pertama, hendaknya ia tidak maju menjadi imam bagi suatu kaum yang membencinya.
فَإِنِ اخْتَلَفُوا كَانَ النَّظَرُ إِلَى الْأَكْثَرِينَ.
Jika mereka berbeda pendapat, maka yang dilihat adalah mayoritas.
فَإِنْ كَانَ الْأَقَلُّونَ هُمُ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالدِّينِ فَالنَّظَرُ إِلَيْهِمْ أَوْلَى.
Jika yang minoritas justru orang-orang yang baik dan beragama, maka perhatian kepada pendapat mereka lebih utama.
وَفِي الْحَدِيثِ: ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ رُءُوسَهُمْ: الْعَبْدُ الْآبِقُ، وَامْرَأَةٌ زَوْجُهَا سَاخِطٌ عَلَيْهَا، وَإِمَامٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ.
Dalam hadis disebutkan: “Tiga golongan yang salat mereka tidak melewati kepala mereka: budak yang melarikan diri, seorang perempuan yang suaminya murka kepadanya, dan seorang imam yang mengimami suatu kaum sementara mereka membencinya.”
وَكَمَا يُنْهَى عَنْ تَقَدُّمِهِ مَعَ كَرَاهِيَتِهِمْ، فَكَذٰلِكَ يُنْهَى عَنِ التَّقَدُّمِ إِنْ كَانَ وَرَاءَهُ مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ.
Sebagaimana ia dilarang maju jika mereka membencinya, demikian pula ia dilarang maju apabila di belakangnya ada orang yang lebih faqih darinya.
إِلَّا إِذَا امْتَنَعَ مَنْ هُوَ أَوْلَى مِنْهُ، فَلَهُ التَّقَدُّمُ.
Kecuali jika orang yang lebih berhak darinya enggan maju, maka ia boleh maju.
فَإِنْ لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ فَلْيَتَقَدَّمْ مَهْمَا قُدِّمَ، وَعَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ الْقِيَامَ بِشُرُوطِ الْإِمَامَةِ.
Jika tidak ada satu pun dari hal-hal itu, maka hendaknya ia maju apabila didahulukan, selama ia mengetahui bahwa dirinya mampu memenuhi syarat-syarat imam.
وَيُكْرَهُ عِنْدَ ذٰلِكَ الْمُدَافَعَةُ.
Dalam keadaan seperti itu, saling menolak untuk maju menjadi imam adalah makruh.
فَقَدْ قِيلَ: إِنَّ قَوْمًا تَدَافَعُوا الْإِمَامَةَ بَعْدَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ فَخُسِفَ بِهِمْ.
Pernah dikatakan bahwa suatu kaum saling menolak untuk menjadi imam setelah iqamah, lalu mereka ditelan bumi.
وَمَا رُوِيَ مِنْ مُدَافَعَةِ الْإِمَامَةِ بَيْنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَسَبَبُهُ إِيثَارُهُمْ مَنْ رَأَوْهُ أَنَّهُ أَوْلَى بِذٰلِكَ.
Adapun yang diriwayatkan tentang saling mempersilakan imamah di antara para sahabat رضي الله عنهم, maka sebabnya adalah mereka mengutamakan orang yang mereka pandang lebih berhak untuk itu.
أَوْ خَوْفُهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمُ السَّهْوَ وَخَطَرَ ضَمَانِ صَلَاتِهِمْ، فَإِنَّ الْأَئِمَّةَ ضُمَنَاءُ.
Atau karena mereka khawatir dirinya akan lalai dan takut terhadap beratnya tanggungan salat, karena para imam adalah penanggung jawab.
وَكَأَنَّ مَنْ لَمْ يَتَعَوَّدْ ذٰلِكَ رُبَّمَا يَشْتَغِلُ قَلْبُهُ وَيَتَشَوَّشُ عَلَيْهِ الْإِخْلَاصُ فِي صَلَاتِهِ حَيَاءً مِنَ الْمُقْتَدِينَ، لَا سِيَّمَا فِي جَهْرِهِ بِالْقِرَاءَةِ.
Seolah-olah orang yang belum terbiasa menjadi imam bisa saja hatinya tersibukkan dan keikhlasannya terganggu dalam salat, karena malu terhadap para makmum, terutama ketika membaca dengan suara keras.
فَكَانَ لِاحْتِرَازِ مَنِ احْتَرَزَ أَسْبَابٌ مِنْ هٰذَا الْجِنْسِ.
Maka orang yang berhati-hati dalam hal ini memiliki sebab-sebab semacam itu.
اَلثَّانِيَةُ: إِذَا خُيِّرَ الْمَرْءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِمَامَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَخْتَارَ الْإِمَامَةَ.
Kedua, apabila seseorang diberi pilihan antara azan dan imamah, maka sebaiknya ia memilih imamah.
فَإِنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَضْلًا.
Karena masing-masing dari keduanya memiliki keutamaan.
وَلٰكِنَّ الْجَمْعَ مَكْرُوهٌ.
Akan tetapi menggabungkan keduanya dalam satu orang itu makruh.
بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْإِمَامُ غَيْرَ الْمُؤَذِّنِ.
Bahkan sebaiknya imam itu bukan orang yang sama dengan muazin.
وَإِذَا تَعَذَّرَ الْجَمْعُ فَالْإِمَامَةُ أَوْلَى.
Jika harus memilih salah satunya, maka imamah lebih utama.
وَقَالَ قَائِلُونَ: الْأَذَانُ أَوْلَى، لِمَا نَقَلْنَاهُ مِنْ فَضْلِ الْأَذَانِ.
Sebagian ulama berkata: azan lebih utama, karena keutamaan azan yang telah kami sebutkan.
وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ.
Dan berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Imam adalah penanggung jawab, sedangkan muazin adalah orang yang dipercaya.”
فَقَالُوا: فِيهَا خَطَرُ الضَّمَانِ.
Mereka berkata: pada imamah ada bahaya tanggungan.
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِمَامُ أَمِينٌ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Imam adalah orang yang dipercaya. Jika ia rukuk maka rukuklah, dan jika ia sujud maka sujudlah.”
وَفِي الْحَدِيثِ: فَإِنْ أَتَمَّ فَلَهُ وَلَهُمْ، وَإِنْ نَقَصَ فَعَلَيْهِ لَا عَلَيْهِمْ.
Dan dalam hadis disebutkan: “Jika ia menyempurnakan, maka baginya dan bagi mereka. Jika ia mengurangi, maka dosanya atas dirinya, bukan atas mereka.”
وَلِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ.
Dan karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ya Allah, bimbinglah para imam dan ampunilah para muazin.”
فَقَالُوا: الْمَغْفِرَةُ أَوْلَى بِالطَّلَبِ، فَإِنَّ الرُّشْدَ يُرَادُ لِلْمَغْفِرَةِ.
Mereka berkata: ampunan lebih patut dicari, sebab bimbingan itu dicari demi ampunan.
وَفِي الْخَبَرِ: مَنْ أَمَّ فِي مَسْجِدٍ سَبْعَ سِنِينَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ بِلَا حِسَابٍ، وَمَنْ أَذَّنَ أَرْبَعِينَ عَامًا دَخَلَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ.
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: “Barang siapa menjadi imam di suatu masjid selama tujuh tahun, wajib baginya surga tanpa hisab. Dan barang siapa mengumandangkan azan selama empat puluh tahun, ia masuk surga tanpa hisab.”
وَلِذٰلِكَ نُقِلَ عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَدَافَعُونَ الْإِمَامَةَ.
Karena itu dinukil dari para sahabat رضي الله عنهم bahwa mereka saling mempersilakan imamah.
وَالصَّحِيحُ أَنَّ الْإِمَامَةَ أَفْضَلُ، إِذْ وَاظَبَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، وَالْأَئِمَّةُ بَعْدَهُمْ.
Pendapat yang benar adalah bahwa imamah lebih utama, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Abu Bakar, Umar رضي الله عنهما, dan para imam setelah mereka senantiasa melakukannya.
نَعَمْ، فِيهَا خَطَرُ الضَّمَانِ، وَالْفَضِيلَةُ مَعَ الْخَطَرِ.
Benar, di dalamnya ada risiko tanggungan, dan keutamaan terkadang menyertai adanya risiko.
كَمَا أَنَّ رُتْبَةَ الْإِمَارَةِ أَفْضَلُ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَوْمٌ مِنْ سُلْطَانٍ عَادِلٍ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ سَبْعِينَ سَنَةً.
Sebagaimana kedudukan kepemimpinan itu lebih utama, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Sehari dari kepemimpinan yang adil lebih utama daripada ibadah tujuh puluh tahun.”
وَلٰكِنْ فِيهَا خَطَرٌ.
Akan tetapi di dalamnya ada risiko.
وَلِذٰلِكَ وَجَبَ تَقْدِيمُ الْأَفْضَلِ وَالْأَفْقَهِ.
Karena itu wajib mendahulukan orang yang lebih utama dan lebih faqih.
فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَئِمَّتُكُمْ شُفَعَاؤُكُمْ، أَوْ قَالَ: وَفْدُكُمْ إِلَى اللهِ، فَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تُزَكُّوا صَلَاتَكُمْ فَقَدِّمُوا خِيَارَكُمْ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Para imam kalian adalah pemberi syafaat kalian,” atau beliau bersabda: “Mereka adalah utusan kalian kepada Allah. Maka jika kalian ingin menyucikan salat kalian, dahulukanlah orang-orang terbaik di antara kalian.”
وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: لَيْسَ بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ أَفْضَلُ مِنَ الْعُلَمَاءِ، وَلَا بَعْدَ الْعُلَمَاءِ أَفْضَلُ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُصَلِّينَ.
Sebagian salaf berkata: “Tidak ada yang lebih utama setelah para nabi selain para ulama, dan tidak ada yang lebih utama setelah para ulama selain para imam yang mengimami salat.”
لِأَنَّ هٰؤُلَاءِ قَامُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبَيْنَ خَلْقِهِ، هٰذَا بِالنُّبُوَّةِ، وَهٰذَا بِالْعِلْمِ، وَهٰذَا بِعِمَادِ الدِّينِ وَهُوَ الصَّلَاةُ.
Karena mereka berdiri antara Allah عز وجل dan makhluk-Nya: yang ini dengan kenabian, yang itu dengan ilmu, dan yang ini dengan tiang agama, yaitu salat.
وَبِهٰذِهِ الْحُجَّةِ احْتَجَّ الصَّحَابَةُ فِي تَقْدِيمِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَعَنْهُمْ لِلْخِلَافَةِ.
Dengan hujah inilah para sahabat berargumentasi dalam mendahulukan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه dan mereka semua untuk khilafah.
إِذْ قَالُوا: نَظَرْنَا، فَإِذَا الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ، فَاخْتَرْنَا لِدُنْيَانَا مَنْ رَضِيَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِدِينِنَا.
Mereka berkata: “Kami memperhatikan, ternyata salat adalah tiang agama. Maka kami memilih untuk urusan dunia kami orang yang telah diridhai oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk urusan agama kami.”
وَمَا قَدَّمُوا بِلَالًا احْتِجَاجًا بِأَنَّهُ رَضِيَهُ لِلْأَذَانِ.
Mereka tidak mendahulukan Bilal dengan alasan bahwa beliau meridhainya untuk azan.
وَمَا رُوِيَ أَنَّهُ قَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ.
Dan telah diriwayatkan bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal yang membuatku masuk surga.”
فَقَالَ: كُنْ مُؤَذِّنًا.
Maka beliau menjawab: “Jadilah muazin.”
قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ.
Ia berkata: “Aku tidak mampu.”
قَالَ: كُنْ إِمَامًا.
Beliau bersabda: “Jadilah imam.”
قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ.
Ia berkata: “Aku tidak mampu.”
قَالَ: صَلِّ بِإِزَاءِ الْإِمَامِ.
Beliau bersabda: “Salatlah tepat di belakang imam.”
فَلَعَلَّهُ ظَنَّ أَنَّهُ لَا يَرْضَى بِإِمَامَتِهِ، إِذِ الْأَذَانُ إِلَيْهِ، وَالْإِمَامَةُ إِلَى الْجَمَاعَةِ وَتَقْدِيمِهِمْ لَهُ.
Barangkali orang itu mengira bahwa jamaah tidak ridha dengan imamahnya, karena azan bergantung pada dirinya sendiri, sedangkan imamah bergantung kepada jamaah dan pendahuluan mereka kepadanya.
ثُمَّ بَعْدَ ذٰلِكَ تَوَهَّمَ أَنَّهُ رُبَّمَا يَقْدِرُ عَلَيْهَا.
Kemudian setelah itu ia mungkin mengira bahwa ia bisa melakukannya.
اَلثَّالِثَةُ: أَنْ يُرَاعِيَ الْإِمَامُ أَوْقَاتَ الصَّلَوَاتِ، فَيُصَلِّيَ فِي أَوَائِلِهَا لِيُدْرِكَ رِضْوَانَ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Tugas ketiga: hendaknya imam memperhatikan waktu-waktu salat dan mengerjakannya di awal waktunya agar mendapatkan keridaan Allah سبحانه.
فَفَضْلُ أَوَّلِ الْوَقْتِ عَلَى آخِرِهِ كَفَضْلِ الْآخِرَةِ عَلَى الدُّنْيَا.
Keutamaan awal waktu atas akhir waktu adalah seperti keutamaan akhirat atas dunia.
هٰكَذَا رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Demikianlah diriwayatkan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
وَفِي الْحَدِيثِ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ فِي آخِرِ وَقْتِهَا وَلَمْ تَفُتْهُ، وَلَمَا فَاتَهُ مِنْ أَوَّلِ وَقْتِهَا خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.
Dalam hadis disebutkan: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengerjakan salat pada akhir waktunya dan belum luput darinya, tetapi apa yang luput darinya dari awal waktunya lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.”
وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ لِانْتِظَارِ كَثْرَةِ الْجَمَاعَةِ.
Tidak sepatutnya ia mengakhirkan salat karena menunggu banyaknya jamaah.
بَلْ عَلَيْهِمُ الْمُبَادَرَةُ لِحِيَازَةِ فَضِيلَةِ أَوَّلِ الْوَقْتِ.
Bahkan mereka seharusnya bersegera untuk mendapatkan keutamaan awal waktu.
فَهِيَ أَفْضَلُ مِنْ كَثْرَةِ الْجَمَاعَةِ، وَمِنْ تَطْوِيلِ السُّورَةِ.
Karena keutamaan awal waktu itu lebih utama daripada banyaknya jamaah dan daripada memperpanjang bacaan surah.
وَقَدْ قِيلَ: كَانُوا إِذَا حَضَرَ اثْنَانِ فِي الْجَمَاعَةِ لَمْ يَنْتَظِرُوا الثَّالِثَ، وَإِذَا حَضَرَ أَرْبَعَةٌ فِي الْجَنَازَةِ لَمْ يَنْتَظِرُوا الْخَامِسَ.
Telah dikatakan: dahulu jika sudah hadir dua orang untuk jamaah, mereka tidak menunggu orang ketiga, dan jika sudah hadir empat orang untuk jenazah, mereka tidak menunggu orang kelima.
وَقَدْ تَأَخَّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَكَانُوا فِي سَفَرٍ، وَإِنَّمَا تَأَخَّرَ لِلطَّهَارَةِ، فَلَمْ يُنْتَظَرْ وَقُدِّمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، فَصَلَّى بِهِمْ حَتَّى فَاتَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَةٌ.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah terlambat untuk salat Subuh dalam suatu safar, dan keterlambatan itu hanya karena bersuci. Maka beliau tidak ditunggu, dan عبد الرحمن بن عوف didahulukan untuk mengimami mereka, hingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم tertinggal satu rakaat.
فَقَامَ يَقْضِيهَا.
Lalu beliau berdiri menyempurnakan rakaat yang tertinggal itu.
قَالَ: فَأَشْفَقْنَا مِنْ ذٰلِكَ.
Perawi berkata: “Kami merasa khawatir karena hal itu.”
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ أَحْسَنْتُمْ، هٰكَذَا فَافْعَلُوا.
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kalian telah berbuat baik. Seperti inilah yang harus kalian lakukan.”
وَقَدْ تَأَخَّرَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ، فَقَدَّمُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، حَتَّى جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ، فَقَامَ إِلَى جَانِبِهِ.
Dan beliau juga pernah terlambat dalam salat Zuhur, lalu mereka mendahulukan Abu Bakar رضي الله عنه, hingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang ketika Abu Bakar sedang salat, lalu beliau berdiri di sampingnya.
وَلَيْسَ عَلَى الْإِمَامِ انْتِظَارُ الْمُؤَذِّنِ.
Tidak ada kewajiban bagi imam untuk menunggu muazin.
وَإِنَّمَا عَلَى الْمُؤَذِّنِ انْتِظَارُ الْإِمَامِ لِلْإِقَامَةِ.
Sebaliknya, muazinlah yang harus menunggu imam untuk iqamah.
فَإِذَا حَضَرَ فَلَا يَنْتَظِرْ غَيْرَهُ.
Maka jika imam telah hadir, janganlah ia menunggu orang lain.
اَلرَّابِعَةُ: أَنْ يَؤُمَّ مُخْلِصًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمُؤَدِّيًا أَمَانَةَ اللهِ تَعَالَى فِي طَهَارَتِهِ وَجَمِيعِ شُرُوطِ صَلَاتِهِ.
Tugas keempat: hendaknya ia menjadi imam dengan ikhlas karena Allah عز وجل, dan menunaikan amanah Allah Ta‘ala dalam kesuciannya dan seluruh syarat salatnya.
أَمَّا الْإِخْلَاصُ فَبِأَنْ لَا يَأْخُذَ عَلَيْهَا أُجْرَةً.
Adapun ikhlas, maka dengan tidak mengambil upah atas imamah itu.
فَقَدْ أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيَّ، وَقَالَ: اتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى الْأَذَانِ أَجْرًا.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah memerintahkan Utsman bin Abi al-‘Āṣ ats-Tsaqafi dan bersabda: “Ambillah seorang muazin yang tidak mengambil upah atas azannya.”
فَالْأَذَانُ طَرِيقٌ إِلَى الصَّلَاةِ، فَهِيَ أَوْلَى بِأَنْ لَا يُؤْخَذَ عَلَيْهَا أَجْرٌ.
Azan itu adalah jalan menuju salat, maka salat lebih pantas lagi untuk tidak diambil upah darinya.
فَإِنْ أَخَذَ رِزْقًا مِنْ مَسْجِدٍ قَدْ وُقِفَ عَلَى مَنْ يَقُومُ بِإِمَامَتِهِ، أَوْ مِنَ السُّلْطَانِ، أَوْ آحَادِ النَّاسِ، فَلَا يُحْكَمُ بِتَحْرِيمِهِ وَلٰكِنَّهُ مَكْرُوهٌ.
Jika ia mengambil tunjangan dari masjid yang memang diwakafkan untuk orang yang menjalankan imamahnya, atau dari penguasa, atau dari individu-individu, maka hal itu tidak dihukumi haram, tetapi makruh.
وَالْكَرَاهِيَةُ فِي الْفَرَائِضِ أَشَدُّ مِنْهَا فِي التَّرَاوِيحِ.
Kemakruhan itu pada salat fardu lebih kuat daripada pada tarawih.
وَتَكُونُ أُجْرَةً لَهُ عَلَى مُدَاوَمَتِهِ عَلَى حُضُورِ الْمَوْضِعِ وَمُرَاقَبَةِ مَصَالِحِ الْمَسْجِدِ فِي إِقَامَةِ الْجَمَاعَةِ، لَا عَلَى نَفْسِ الصَّلَاةِ.
Dan upah itu dipandang sebagai imbalan atas rutinnya hadir di tempat dan menjaga kemaslahatan masjid dalam menegakkan jamaah, bukan atas salat itu sendiri.
وَأَمَّا الْأَمَانَةُ فَهِيَ الطَّهَارَةُ بَاطِنًا عَنِ الْفِسْقِ وَالْكَبَائِرِ وَالْإِصْرَارِ عَلَى الصَّغَائِرِ.
Adapun amanah, maka ia adalah kesucian batin dari kefasikan, dosa-dosa besar, dan terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil.
فَالْمُتَرَشِّحُ لِلْإِمَامَةِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْتَرِزَ عَنْ ذٰلِكَ بِجُهْدِهِ.
Maka orang yang hendak tampil menjadi imam seharusnya sangat menjaga dirinya dari hal-hal itu semampunya.
فَإِنَّهُ كَالْوَفْدِ وَالشَّفِيعِ لِلْقَوْمِ.
Karena ia seperti utusan dan pemberi syafaat bagi suatu kaum.
فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ خَيْرَ الْقَوْمِ.
Maka sudah semestinya ia adalah orang terbaik di antara mereka.
وَكَذٰلِكَ الطَّهَارَةُ ظَاهِرًا عَنِ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ.
Demikian pula kesucian lahiriah dari hadas dan najis.
فَإِنَّهُ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ سِوَاهُ.
Karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya sendiri.
فَإِنْ تَذَكَّرَ فِي أَثْنَاءِ صَلَاتِهِ حَدَثًا، أَوْ خَرَجَ مِنْهُ رِيحٌ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَحِيَ.
Jika ia teringat di tengah salat bahwa ia berhadas, atau keluar angin darinya, maka tidak selayaknya ia malu.
بَلْ يَأْ��ُذُ بِيَدِ مَنْ يَقْرُبُ مِنْهُ وَيَسْتَخْلِفُهُ.
Akan tetapi ia mengambil tangan orang yang dekat dengannya dan menjadikannya sebagai pengganti.
فَقَدْ تَذَكَّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَنَابَةَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ، فَاسْتَخْلَفَ، وَاغْتَسَلَ، ثُمَّ رَجَعَ وَدَخَلَ فِي الصَّلَاةِ.
Sebab Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah teringat dalam salat bahwa beliau dalam keadaan junub, lalu beliau menunjuk pengganti, mandi, kemudian kembali dan masuk lagi ke dalam salat.
وَقَالَ سُفْيَانُ: صَلِّ خَلْفَ كُلِّ بَرٍّ وَفَاجِرٍ، إِلَّا مُدْمِنَ خَمْرٍ، أَوْ مُعْلِنًا بِالْفُسُوقِ، أَوْ عَاقًّا لِوَالِدَيْهِ، أَوْ صَاحِبَ بِدْعَةٍ، أَوْ عَبْدًا آبِقًا.
Sufyan berkata: “Salatlah di belakang setiap orang yang baik maupun fasik, kecuali pecandu khamar, orang yang terang-terangan berbuat fasik, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, ahli bid‘ah, atau budak yang melarikan diri.”
اَلْخَامِسَةُ: أَنْ لَا يُكَبِّرَ حَتَّى تَسْتَوِيَ الصُّفُوفُ.
Tugas kelima: hendaknya imam tidak bertakbir sampai saf-saf lurus.
فَلْيَلْتَفِتْ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَإِنْ رَأَى خَلَلًا أَمَرَ بِالتَّسْوِيَةِ.
Maka hendaknya ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Jika melihat ada celah atau ketidakrapian, ia memerintahkan agar diratakan.
قِيلَ: كَانُوا يَتَحَاذَوْنَ بِالْمَنَاكِبِ وَيَتَضَامُّونَ بِالْكِعَابِ.
Dikatakan: dahulu mereka merapatkan bahu-bahu dan saling menempelkan mata kaki.
وَلَا يُكَبِّرُ حَتَّى يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْإِقَامَةِ.
Dan imam tidak bertakbir sampai muazin selesai dari iqamah.
وَالْمُؤَذِّنُ يُؤَخِّرُ الْإِقَامَةَ عَنِ الْأَذَانِ بِقَدْرِ اسْتِعْدَادِ النَّاسِ فِي الصَّلَاةِ.
Muazin mengakhirkan iqamah dari azan sekadar waktu yang cukup untuk persiapan orang-orang menuju salat.
فَفِي الْخَبَرِ: لِيَتَمَهَّلِ الْمُؤَذِّنُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ بِقَدْرِ مَا يَفْرُغُ الْآكِلُ مِنْ طَعَامِهِ وَالْمُعْتَصِرُ مِنِ اعْتِصَارِهِ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Hendaklah muazin memberi jeda antara azan dan iqamah sekadar waktu yang cukup bagi orang yang makan untuk menyelesaikan makannya dan bagi orang yang menahan hajat untuk menyelesaikan hajatnya.”
وَذٰلِكَ لِأَنَّهُ نَهَى عَنْ مُدَافَعَةِ الْأَخْبَثَيْنِ.
Itu karena Nabi melarang salat dalam keadaan menahan dua kotoran.
وَأَمَرَ بِتَقْدِيمِ الْعَشَاءِ عَلَى الْعِشَاءِ، طَلَبًا لِفَرَاغِ الْقَلْبِ.
Dan beliau memerintahkan mendahulukan makan malam sebelum salat Isya demi kosongnya hati.
اَلسَّادِسَةُ: أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِتَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ وَسَائِرِ التَّكْبِيرَاتِ.
Tugas keenam: hendaknya imam mengeraskan suara pada takbiratul ihram dan seluruh takbir lainnya.
وَلَا يَرْفَعُ الْمَأْمُومُ صَوْتَهُ إِلَّا بِقَدْرِ مَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ.
Adapun makmum, ia tidak mengeraskan suaranya kecuali sekadar terdengar oleh dirinya sendiri.
وَيَنْوِي الْإِمَامُ الْإِمَامَةَ لِيَنَالَ الْفَضْلَ.
Imam hendaknya berniat menjadi imam agar mendapatkan keutamaan imamah.
فَإِنْ لَمْ يَنْوِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَصَلَاةُ الْقَوْمِ إِذَا نَوَوُا الِاقْتِدَاءَ.
Jika ia tidak berniat demikian, salatnya tetap sah dan salat jamaah pun sah apabila mereka berniat mengikuti.
وَنَالُوا فَضْلَ الْقُدْوَةِ، وَهُوَ لَا يَنَالُ فَضْلَ الْإِمَامَةِ.
Mereka memperoleh keutamaan berjamaah, tetapi ia sendiri tidak memperoleh keutamaan imamah.
وَلْيُؤَخِّرِ الْمَأْمُومُ تَكْبِيرَهُ عَنْ تَكْبِيرَةِ الْإِمَامِ، فَيَبْتَدِئُ بَعْدَ فَرَاغِهِ.
Makmum hendaknya mengakhirkan takbirnya setelah takbir imam, lalu memulainya setelah imam selesai.
وَاللهُ أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.
وَأَمَّا وَظَائِفُ الْقِرَاءَةِ فَثَلَاثَةٌ.
Adapun tugas-tugas dalam bacaan, maka ada tiga.
أَوَّلُهَا أَنْ يُسِرَّ بِدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ كَالْمُنْفَرِدِ.
Yang pertama: imam membaca doa iftitah dan ta‘awudz dengan suara pelan sebagaimana orang yang salat sendirian.
وَيَجْهَرَ بِالْفَاتِحَةِ وَالسُّورَةِ بَعْدَهَا فِي جَمِيعِ الصُّبْحِ وَأُولَيَيِ الْعِشَاءِ وَالْمَغْرِبِ، وَكَذٰلِكَ الْمُنْفَرِدُ.
Dan ia mengeraskan al-Fatihah serta surah setelahnya dalam seluruh salat Subuh dan dua rakaat pertama Magrib dan Isya, demikian pula orang yang salat sendirian.
وَيَجْهَرُ بِقَوْلِهِ: آمِينَ فِي الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ، وَكَذَا الْمَأْمُومُ.
Ia juga mengeraskan ucapan “Āmīn” pada salat jahriyah, demikian pula makmum.
وَيُقَرِّنُ الْمَأْمُومُ تَأْمِينَهُ بِتَأْمِينِ الْإِمَامِ مَعًا لَا تَعْقِيبًا.
Makmum menyertakan آمين-nya bersamaan dengan آمين imam, bukan sesudahnya.
وَيَجْهَرُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.
Dan ia mengeraskan “Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.”
وَالْأَخْبَارُ فِيهِ مُتَعَارِضَةٌ.
Hadis-hadis tentang hal ini memang berbeda-beda.
وَاخْتِيَارُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْجَهْرُ.
Pilihan Imam asy-Syafi‘i رضي الله عنه adalah menjaharkannya.
اَلثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ لِلْإِمَامِ فِي الْقِيَامِ ثَلَاثُ سَكَتَاتٍ.
Yang kedua: hendaknya imam memiliki tiga kali jeda saat berdiri.
هٰكَذَا رَوَاهُ سَمُرَةُ بْنُ جُنْدُبٍ وَعِمْرَانُ بْنُ الْحُصَيْنِ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Demikian diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub dan عمران بن الحصين dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
أُولَاهُنَّ إِذَا كَبَّرَ، وَهِيَ الطُّولَى مِنْهُنَّ، بِمِقْدَارِ مَا يَقْرَأُ مَنْ خَلْفَهُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ.
Yang pertama setelah takbiratul ihram, dan itulah yang paling panjang, sekadar waktu yang cukup bagi orang di belakangnya untuk membaca al-Fatihah.
وَذٰلِكَ وَقْتُ قِرَاءَتِهِ لِدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ.
Waktu itu adalah saat imam membaca doa iftitah.
فَإِنَّهُ إِنْ لَمْ يَسْكُتْ يَفُتْهُمُ الِاسْتِمَاعُ، فَيَكُونُ عَلَيْهِ مَا نَقَصَ مِنْ صَلَاتِهِمْ.
Jika ia tidak memberi jeda, mereka akan kehilangan kesempatan mendengarkan bacaan imam, dan kekurangan itu akan menjadi tanggungannya.
فَإِنْ لَمْ يَقْرَؤُوا الْفَاتِحَةَ فِي سُكُوتِهِ وَاشْتَغَلُوا بِغَيْرِهَا فَذٰلِكَ عَلَيْهِمْ لَا عَلَيْهِ.
Namun jika mereka tidak membaca al-Fatihah saat ia diam dan malah menyibukkan diri dengan hal lain, maka tanggungannya ada pada mereka, bukan pada imam.
اَلسَّكْتَةُ الثَّانِيَةُ إِذَا فَرَغَ مِنَ الْفَاتِحَةِ، لِيُتِمَّ مَنْ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي السَّكْتَةِ الْأُولَى فَاتِحَتَهُ، وَهِيَ كَنِصْفِ السَّكْتَةِ الْأُولَى.
Jeda kedua adalah setelah selesai dari al-Fatihah, agar orang yang membaca al-Fatihah pada jeda pertama dapat menyelesaikannya, dan jeda ini sekitar setengah dari jeda pertama.
اَلسَّكْتَةُ الثَّالِثَةُ إِذَا فَرَغَ مِنَ السُّورَةِ قَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ، وَهِيَ أَخَفُّهَا.
Jeda ketiga adalah setelah selesai membaca surah sebelum rukuk, dan ini yang paling ringan.
وَذٰلِكَ بِقَدْرِ مَا تَنْفَصِلُ الْقِرَاءَةُ عَنِ التَّكْبِيرِ، فَقَدْ نُهِيَ عَنِ الْوَصْلِ فِيهِ.
Yaitu sekadar memisahkan antara bacaan dan takbir, karena telah ada larangan menyambung keduanya.
وَلَا يَقْرَأُ الْمَأْمُومُ وَرَاءَ الْإِمَامِ إِلَّا الْفَاتِحَةَ.
Makmum tidak membaca di belakang imam kecuali al-Fatihah.
فَإِنْ لَمْ يَسْكُتِ الْإِمَامُ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَعَهُ، وَالْمُقَصِّرُ هُوَ الْإِمَامُ.
Jika imam tidak memberi jeda, maka makmum membaca al-Fatihah bersamaan dengannya, dan yang dianggap kurang adalah imam.
وَإِنْ لَمْ يَسْمَعِ الْمَأْمُومُ فِي الْجَهْرِيَّةِ لِبُعْدِهِ أَوْ كَانَتْ فِي السِّرِّيَّةِ فَلَا بَأْسَ بِقِرَاءَةِ السُّورَةِ.
Jika makmum tidak mendengar pada salat jahriyah karena jauhnya posisi, atau jika salat itu sirriyah, maka tidak mengapa membaca surah.
اَلْوَظِيفَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَقْرَأَ فِي الصُّبْحِ سُورَتَيْنِ مِنَ الْمَثَانِي مَا دُونَ الْمِائَةِ.
Tugas ketiga: hendaknya imam membaca pada salat Subuh dua surah dari kelompok المثاني yang kurang dari seratus ayat.
فَإِنَّ الْإِطَالَةَ فِي قِرَاءَةِ الْفَجْرِ وَالتَّغْلِيسَ بِهَا سُنَّةٌ.
Karena memanjangkan bacaan pada salat Fajar dan melaksanakannya saat masih gelap adalah sunah.
وَلَا يَضُرُّ الْخُرُوجُ مِنْهَا مَعَ الْإِسْفَارِ.
Dan tidak mengapa jika selesai salat dalam keadaan hari mulai terang.
وَلَا بَأْسَ بِأَنْ يَقْرَأَ فِي الثَّانِيَةِ بِأَوَاخِرِ السُّوَرِ نَحْوَ الثَّلَاثِينَ أَوِ الْعِشْرِينَ إِلَى أَنْ يَخْتِمَهَا.
Dan tidak mengapa membaca pada rakaat kedua bagian akhir surah sekitar tiga puluh atau dua puluh ayat hingga menamatkannya.
لِأَنَّ ذٰلِكَ لَا يَتَكَرَّرُ عَلَى الْأَسْمَاعِ كَثِيرًا، فَيَكُونُ أَبْلَغَ فِي الْوَعْظِ وَأَدْعَى إِلَى التَّفَكُّرِ.
Karena bagian seperti itu tidak terlalu sering terdengar, sehingga lebih kuat pengaruhnya dalam nasihat dan lebih mendorong untuk berpikir.
وَإِنَّمَا كَرِهَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ قِرَاءَةَ بَعْضِ أَوَائِلِ السُّوَرِ وَقَطْعَهَا.
Sebagian ulama hanya memakruhkan membaca awal surah lalu memotongnya di tengah.
وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ بَعْضَ سُورَةِ يُونُسَ، فَلَمَّا انْتَهَى إِلَى ذِكْرِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ قَطَعَ فَرَكَعَ.
Diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم membaca sebagian surah Yunus, lalu ketika sampai pada kisah Musa dan Fir‘aun, beliau memutus bacaan dan rukuk.
وَرُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْفَجْرِ آيَةً مِنَ الْبَقَرَةِ.
Dan diriwayatkan pula bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم membaca pada salat Fajar satu ayat dari surah al-Baqarah.
وَهِيَ قَوْلُهُ: قُولُوا آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا.
Yaitu firman-Nya: “Katakanlah: kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.”
وَفِي الثَّانِيَةِ: رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ.
Dan pada rakaat kedua beliau membaca: “Wahai Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan.”
وَسَمِعَ بِلَالًا يَقْرَأُ مِنْ هٰهُنَا وَهٰهُنَا، فَسَأَلَهُ عَنْ ذٰلِكَ.
Dan beliau pernah mendengar Bilal membaca dari sini dan dari sana, lalu beliau bertanya kepadanya tentang hal itu.
فَقَالَ: أَخْلِطُ الطَّيِّبَ بِالطَّيِّبِ.
Bilal menjawab: “Aku mencampurkan yang baik dengan yang baik.”
فَقَالَ: أَحْسَنْتَ.
Beliau bersabda: “Engkau benar.”
وَيَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِطِوَالِ الْمُفَصَّلِ إِلَى ثَلَاثِينَ آيَةً.
Dalam salat Zuhur ia membaca dari surah-surah panjang al-Mufashshal sekitar tiga puluh ayat.
وَفِي الْعَصْرِ بِنِصْفِ ذٰلِكَ.
Dalam Asar dengan setengah dari itu.
وَفِي الْمَغْرِبِ بِأَوَاخِرِ الْمُفَصَّلِ.
Dan dalam Magrib dari surah-surah pendek di akhir al-Mufashshal.
وَآخِرُ صَلَاةٍ صَلَّاهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَغْرِبُ قَرَأَ فِيهَا سُورَةَ الْمُرْسَلَاتِ، مَا صَلَّى بَعْدَهَا حَتَّى قُبِضَ.
Salat Magrib terakhir yang dikerjakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, beliau membaca فيها سورة المرسلات, dan beliau tidak salat lagi setelah itu sampai wafat.
وَبِالْجُمْلَةِ فَالتَّخْفِيفُ أَوْلَى، لَا سِيَّمَا إِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ.
Secara umum, meringankan bacaan lebih utama, terutama jika jamaah banyak.
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هٰذِهِ الرُّخْصَةِ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda dalam kelonggaran ini: “Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia, maka hendaklah ia meringankan, karena di antara mereka ada orang lemah, orang tua, dan orang yang memiliki keperluan.”
وَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ.
Dan apabila ia salat sendirian, maka hendaklah ia memanjangkan sesukanya.
وَقَدْ كَانَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يُصَلِّي بِقَوْمِهِ الْعِشَاءَ، فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ.
Mu‘adz bin Jabal pernah mengimami kaumnya salat Isya, lalu membaca surah al-Baqarah.
فَخَرَجَ رَجُلٌ مِنَ الصَّلَاةِ وَأَتَمَّ لِنَفْسِهِ.
Maka seorang lelaki keluar dari jamaah lalu menyempurnakan salatnya sendiri.
فَقَالُوا: نَافَقَ الرَّجُلُ.
Orang-orang berkata: “Lelaki itu telah munafik.”
فَتَشَاكَيَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Lalu keduanya mengadukan perkara itu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
فَزَجَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا، فَقَالَ: أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم menegur Mu‘adz dan bersabda: “Apakah engkau ingin menimbulkan fitnah, wahai Mu‘adz?”
اِقْرَأْ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ، وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا.
“Bacalah: ‘Sabbihisma rabbikal-a‘lā’, ‘Was-samā’i waṭ-ṭāriq’, dan ‘Wasy-syamsi waḍuḥāhā.’”
وَأَمَّا وَظَائِفُ الْأَرْكَانِ فَثَلَاثَةٌ.
Adapun tugas-tugas pada rukun-rukun salat ada tiga.
أَوَّلُهَا أَنْ يُخَفِّفَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ، فَلَا يَزِيدَ فِي التَّسْبِيحَاتِ عَلَى ثَلَاثٍ.
Yang pertama: hendaknya imam meringankan rukuk dan sujud, sehingga tidak menambah tasbih lebih dari tiga kali.
فَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ: مَا رَأَيْتُ أَخَفَّ صَلَاةً مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَمَامٍ.
Diriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata: “Aku tidak pernah melihat salat yang lebih ringan daripada salat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, namun tetap sempurna.”
نَعَمْ، رُوِيَ أَيْضًا أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ لَمَّا صَلَّى خَلْفَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ أَمِيرًا بِالْمَدِينَةِ، قَالَ: مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلَاةً بِصَلَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هٰذَا الشَّابِّ.
Benar, diriwayatkan pula bahwa Anas bin Malik, ketika salat di belakang Umar bin عبد العزيز yang saat itu menjadi gubernur Madinah, berkata: “Aku tidak pernah salat di belakang seorang pun yang salatnya lebih menyerupai salat Rasulullah صلى الله عليه وسلم daripada pemuda ini.”
قَالَ: وَكُنَّا نُسَبِّحُ وَرَاءَهُ عَشْرًا عَشْرًا.
Ia berkata: “Dan kami biasa bertasbih di belakangnya sepuluh kali-sepuluh kali.”
وَرُوِيَ مُجْمَلًا أَنَّهُمْ قَالُوا: كُنَّا نُسَبِّحُ وَرَاءَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ عَشْرًا عَشْرًا.
Dan diriwayatkan secara umum bahwa mereka berkata: “Kami biasa bertasbih di belakang Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam rukuk dan sujud sepuluh kali-sepuluh kali.”
وَذٰلِكَ حَسَنٌ، وَلٰكِنَّ الثَّلَاثَ إِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ أَحْسَنُ.
Itu baik, tetapi tiga kali lebih baik jika jamaah banyak.
فَإِذَا لَمْ يَحْضُرْ إِلَّا الْمُتَجَرِّدُونَ لِلدِّينِ فَلَا بَأْسَ بِالْعَشْرِ.
Jika yang hadir hanya orang-orang yang benar-benar mengkhususkan diri untuk agama, maka tidak mengapa sepuluh kali.
هٰذَا وَجْهُ الْجَمْعِ بَيْنَ الرِّوَايَاتِ.
Inilah cara mengompromikan berbagai riwayat.
وَيَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ الْإِمَامُ عِنْدَ رَفْعِ رَأْسِهِ مِنَ الرُّكُوعِ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ.
Dan hendaknya imam mengucapkan ketika mengangkat kepalanya dari rukuk: “Sami‘allāhu liman ḥamidah.”
اَلثَّانِيَةُ: فِي الْمَأْمُومِ يَنْبَغِي أَنْ لَا يُسَاوِيَ الْإِمَامَ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، بَلْ يَتَأَخَّرُ.
Yang kedua: pada makmum, hendaknya ia tidak menyamai imam dalam rukuk dan sujud, tetapi tertinggal sedikit di belakangnya.
فَلَا يَهْوِي لِلسُّجُودِ إِلَّا إِذَا وَصَلَتْ جَبْهَةُ الْإِمَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ.
Maka ia tidak turun untuk sujud kecuali setelah dahi imam menyentuh tempat sujud.
هٰكَذَا كَانَ اقْتِدَاءُ الصَّحَابَةِ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Demikianlah cara para sahabat mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
وَلَا يَهْوِي لِلرُّكُوعِ حَتَّى يَسْتَوِيَ الْإِمَامُ رَاكِعًا.
Dan ia tidak turun untuk rukuk sampai imam benar-benar telah sempurna dalam posisi rukuk.
وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ النَّاسَ يَخْرُجُونَ مِنَ الصَّلَاةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ.
Dan telah dikatakan: manusia keluar dari salat dalam tiga keadaan.
طَائِفَةٌ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ صَلَاةً، وَهُمُ الَّذِينَ يُكَبِّرُونَ وَيَرْكَعُونَ بَعْدَ الْإِمَامِ.
Segolongan dengan pahala dua puluh lima salat, yaitu mereka yang bertakbir dan rukuk setelah imam.
وَطَائِفَةٌ بِصَلَاةٍ وَاحِدَةٍ، وَهُمُ الَّذِينَ يُسَاوُونَهُ.
Segolongan lagi dengan pahala satu salat saja, yaitu mereka yang menyamainya.
وَطَائِفَةٌ بِغَيْرِ صَلَاةٍ، وَهُمُ الَّذِينَ يُسَابِقُونَ الْإِمَامَ.
Dan segolongan lagi tanpa pahala salat, yaitu mereka yang mendahului imam.
وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي أَنَّ الْإِمَامَ فِي الرُّكُوعِ هَلْ يَنْتَظِرُ لُحُوقَ مَنْ يَدْخُلُ لِيَنَالَ فَضْلَ الْجَمَاعَةِ وَإِدْرَاكَهِمْ لِتِلْكَ الرَّكْعَةِ؟
Para ulama berbeda pendapat apakah imam, ketika rukuk, boleh menunggu orang yang baru masuk agar ia mendapatkan keutamaan jamaah dan sempat mendapat rakaat itu.
وَلَعَلَّ الْأَوْلَى أَنَّ ذٰلِكَ مَعَ الْإِخْلَاصِ لَا بَأْسَ بِهِ، إِذَا لَمْ يَظْهَرْ تَفَاوُتٌ ظَاهِرٌ لِلْحَاضِرِينَ.
Barangkali yang lebih utama adalah bahwa hal itu tidak mengapa jika dilakukan dengan ikhlas dan tidak tampak adanya penambahan yang jelas bagi para jamaah yang hadir.
فَإِنَّ حَقَّهُمْ مَرْعِيٌّ فِي تَرْكِ التَّطْوِيلِ عَلَيْهِمْ.
Karena hak mereka tetap harus dijaga, yaitu tidak memperpanjang salat atas mereka.
اَلثَّالِثَةُ: لَا يَزِيدُ فِي دُعَاءِ التَّشَهُّدِ عَلَى مِقْدَارِ التَّشَهُّدِ، حَذَرًا مِنَ التَّطْوِيلِ.
Yang ketiga: imam tidak menambah doa dalam tasyahud melebihi kadar tasyahud itu sendiri, agar tidak terlalu panjang.
وَلَا يَخُصُّ نَفْسَهُ فِي الدُّعَاءِ، بَلْ يَأْتِي بِصِيغَةِ الْجَمْعِ.
Dan ia tidak mengkhususkan dirinya sendiri dalam doa, tetapi menggunakan bentuk jamak.
فَيَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا، وَلَا يَقُولُ: اغْفِرْ لِي.
Maka ia mengucapkan: “Allāhumma-ghfir lanā,” dan tidak berkata: “ighfir lī.”
فَقَدْ كُرِهَ لِلْإِمَامِ أَنْ يَخُصَّ نَفْسَهُ.
Karena dimakruhkan bagi imam untuk mengkhususkan dirinya.
وَلَا بَأْسَ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي التَّشَهُّدِ بِالْكَلِمَاتِ الْخَمْسِ الْمَأْثُورَةِ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan tidak mengapa imam berlindung dalam tasyahud dengan lima kalimat yang ma’tsur dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
فَيَقُولُ: نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِقَوْمٍ فِتْنَةً فَاقْبِضْنَا إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونِينَ.
Ia mengucapkan: “Kami berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, azab kubur, fitnah hidup dan mati, fitnah al-Masih ad-Dajjal, dan jika Engkau menghendaki fitnah untuk suatu kaum, maka wafatkanlah kami kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah.”
وَقِيلَ: سُمِّيَ مَسِيحًا لِأَنَّهُ يَمْسَحُ الْأَرْضَ بِطُولِهَا.
Dan dikatakan: ia dinamai “Masih” karena ia akan menjelajahi bumi sepanjang luasnya.
وَقِيلَ: لِأَنَّهُ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ، أَيْ مَطْمُوسُهَا.
Dan dikatakan pula: karena salah satu matanya terhapus, yaitu tertutup.
وَأَمَّا وَظَائِفُ التَّحَلُّلِ فَثَلَاثَةٌ.
Adapun tugas-tugas ketika keluar dari salat ada tiga.
أَوَّلُهَا أَنْ يَنْوِيَ بِالتَّسْلِيمَتَيْنِ السَّلَامَ عَلَى الْقَوْمِ وَالْمَلَائِكَةِ.
Yang pertama: imam berniat dengan dua salamnya untuk memberi salam kepada jamaah dan para malaikat.
اَلثَّانِيَةُ أَنْ يَثْبُتَ عَقِيبَ السَّلَامِ، كَذٰلِكَ فَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا.
Yang kedua: ia tetap diam sejenak setelah salam, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Abu Bakar, dan Umar رضي الله عنهما.
فَيُصَلِّي النَّافِلَةَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ.
Lalu ia mengerjakan salat sunah di tempat lain.
فَإِنْ كَانَ خَلْفَهُ نِسْوَةٌ لَمْ يَقُمْ حَتَّى يَنْصَرِفْنَ.
Jika di belakangnya ada perempuan, maka ia tidak bangkit sampai mereka pergi.
وَفِي الْخَبَرِ الْمَشْهُورِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَقْعُدُ إِلَّا قَدْرَ قَوْلِهِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
Dalam hadis yang masyhur disebutkan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم tidak duduk setelah salam kecuali sekadar waktu untuk membaca: “Allāhumma antas-salām wa minkas-salām, tabārakta yā dzal-jalāli wal-ikrām.”
اَلثَّالِثَةُ إِذَا وَثَبَ فَيَنْبَغِي أَنْ يُقْبِلَ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ.
Yang ketiga: apabila ia bangkit, hendaknya ia menghadapkan wajahnya kepada jamaah.
وَيُكْرَهُ لِلْمَأْمُومِ الْقِيَامُ قَبْلَ انْتِقَالِ الْإِمَامِ.
Dan dimakruhkan bagi makmum untuk berdiri sebelum imam berpindah atau bangkit.
فَقَدْ رُوِيَ عَنْ طَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا صَلَّيَا خَلْفَ إِمَامٍ، فَلَمَّا سَلَّمَا قَالَا لِلْإِمَامِ: مَا أَحْسَنَ صَلَاتَكَ وَأَتَمَّهَا إِلَّا شَيْئًا وَاحِدًا، أَنَّكَ لَمَّا سَلَّمْتَ لَمْ تَنْفَتِلْ بِوَجْهِكَ.
Diriwayatkan dari Talhah dan az-Zubair رضي الله عنهما bahwa keduanya pernah salat di belakang seorang imam. Setelah salam, keduanya berkata kepada imam itu: “Betapa bagus dan sempurna salatmu, hanya ada satu hal: ketika engkau salam, engkau tidak memalingkan wajahmu.”
ثُمَّ قَالَا لِلنَّاسِ: مَا أَحْسَنَ صَلَاتَكُمْ إِلَّا أَنَّكُمُ انْصَرَفْتُمْ قَبْلَ أَنْ يَنْفَتِلَ إِمَامُكُمْ.
Kemudian keduanya berkata kepada orang-orang: “Betapa bagus salat kalian, hanya saja kalian pulang sebelum imam kalian berpaling.”
ثُمَّ يَنْصَرِفُ الْإِمَامُ حَيْثُ شَاءَ مِنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، وَالْيَمِينُ أَحَبُّ.
Kemudian imam boleh pergi ke kanan atau ke kiri sesukanya, tetapi ke kanan lebih disukai.
هٰذِهِ وَظِيفَةُ الصَّلَوَاتِ.
Inilah tugas-tugas umum dalam salat.
وَأَمَّا الصُّبْحُ فَزِيدَ فِيهَا الْقُنُوتُ.
Adapun salat Subuh, maka padanya ditambahkan qunut.
فَيَقُولُ: اللَّهُمَّ اهْدِنَا، وَلَا يَقُولُ: اللَّهُمَّ اهْدِنِي.
Maka ia mengucapkan: “Allāhummah-dinā,” dan tidak mengatakan: “Allāhummah-dinī.”
وَيُؤَمِّنُ الْمَأْمُومُ.
Dan makmum mengaminkan.
فَإِذَا انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ: إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، فَلَا يَلِيقُ بِهِ التَّأْمِينُ، وَهُوَ ثَنَاءٌ.
Apabila imam sampai pada ucapan: “Innaka taqḍī wa lā yuqḍā ‘alaik,” maka tidak pantas makmum mengucapkan آمين, karena itu adalah pujian, bukan doa.
فَيَقْرَأُ مَعَهُ فَيَقُولُ مِثْلَ قَوْلِهِ، أَوْ يَقُولُ: بَلَى، وَأَنَا عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ، أَوْ صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ، وَمَا أَشْبَهَ ذٰلِكَ.
Maka ia ikut membacanya bersama imam dan mengucapkan seperti ucapan imam, atau berkata: “Balā wa anā ‘alā dzālika minasy-syāhidīn,” atau: “Ṣadaqta wa bararta,” dan semisalnya.
وَقَدْ رُوِيَ حَدِيثٌ فِي رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الْقُنُوتِ.
Dan telah diriwayatkan hadis tentang mengangkat kedua tangan ketika qunut.
فَإِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ اسْتُحِبَّ ذٰلِكَ.
Jika hadis itu sahih, maka hal itu disunahkan.
وَإِنْ كَانَ عَلَى خِلَافِ الدُّعَوَاتِ فِي آخِرِ التَّشَهُّدِ، إِذْ لَا تُرْفَعُ بِسَبَبِهَا الْيَدُ.
Meskipun hal itu berbeda dari doa-doa pada akhir tasyahud, karena pada tasyahud akhir tangan tidak diangkat.
بَلِ التَّعْوِيلُ عَلَى التَّوْقِيفِ.
Namun pegangan utama adalah riwayat dari syariat.
وَبَيْنَهُمَا أَيْضًا فَرْقٌ، أَنَّ لِلْيَدَيْنِ وَظِيفَةً فِي التَّشَهُّدِ، وَهِيَ الْوَضْعُ عَلَى الْفَخِذَيْنِ عَلَى هَيْئَةٍ مَخْصُوصَةٍ.
Di antara keduanya juga ada perbedaan, yaitu bahwa tangan dalam tasyahud memiliki fungsi khusus, yaitu diletakkan di atas paha dengan tata cara tertentu.
وَلَا وَظِيفَةَ لَهُمَا هٰهُنَا.
Sedangkan pada qunut, kedua tangan tidak memiliki fungsi seperti itu.
فَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ رَفْعُ الْيَدَيْنِ هُوَ الْوَظِيفَةَ فِي الْقُنُوتِ، فَإِنَّهُ لَائِقٌ بِالدُّعَاءِ.
Maka tidak mustahil bahwa mengangkat kedua tangan adalah fungsi yang sesuai dalam qunut, karena itu cocok dengan doa.
وَاللهُ أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.
فَهٰذِهِ جُمَلُ آدَابِ الْقُدْوَةِ وَالْإِمَامَةِ.
Inilah ringkasan adab mengikuti imam dan adab imamah.
وَاللهُ الْمُوَفِّقُ.
Dan Allah-lah yang memberi taufik.