Kisah-Kisah dan Berita-Berita Tentang Shalat Orang-Orang yang Khusyuk
حِكَايَاتٌ وَأَخْبَارٌ فِي صَلَاةِ الْخَاشِعِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.
Kisah-kisah dan berita-berita tentang salat orang-orang yang khusyuk رضي الله عنهم.
اِعْلَمْ
أَنَّ الْخُشُوعَ ثَمَرَةُ الْإِيمَانِ وَنَتِيجَةُ الْيَقِينِ الْحَاصِلِ
بِجَلَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Ketahuilah bahwa khusyuk adalah buah dari iman dan hasil dari keyakinan yang
lahir karena pengenalan terhadap keagungan Allah عز وجل.
وَمَنْ
رُزِقَ ذٰلِكَ فَإِنَّهُ يَكُونُ خَاشِعًا فِي الصَّلَاةِ وَفِي غَيْرِ الصَّلَاةِ.
Barang siapa dianugerahi hal itu, maka ia akan menjadi khusyuk dalam salat
maupun di luar salat.
بَلْ
فِي خَلْوَتِهِ وَفِي بَيْتِ الْمَالِ عِنْدَ الْحَاجَةِ.
Bahkan dalam kesendiriannya dan ketika berada di بيت المال saat ada keperluan.
فَإِنَّ
مُوجِبَ الْخُشُوعِ مَعْرِفَتُهُ اطِّلَاعَ اللهِ تَعَالَى عَلَى الْعَبْدِ،
وَمَعْرِفَةُ جَلَالِهِ، وَمَعْرِفَةُ تَقْصِيرِ الْعَبْدِ.
Sebab yang melahirkan khusyuk adalah pengetahuan bahwa Allah Ta‘ala melihat
hamba, pengetahuan tentang keagungan-Nya, dan pengetahuan tentang kekurangan
hamba.
فَمِنْ
هٰذِهِ الْمَعَارِفِ يَتَوَلَّدُ الْخُشُوعُ.
Dari pengetahuan-pengetahuan inilah khusyuk lahir.
وَلَيْسَتْ
مُخْتَصَّةً بِالصَّلَاةِ.
Dan semua itu tidak khusus hanya untuk salat.
وَلِذٰلِكَ
رُوِيَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ لَمْ يَرْفَعْ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ
أَرْبَعِينَ سَنَةً، حَيَاءً مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَخُشُوعًا لَهُ.
Karena itu, diriwayatkan dari sebagian mereka bahwa ia tidak pernah mengangkat
kepalanya ke langit selama empat puluh tahun, karena malu kepada Allah سبحانه
dan karena khusyuk kepada-Nya.
وَكَانَ
الرَّبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ مِنْ شِدَّةِ غَضِّهِ لِبَصَرِهِ وَإِطْرَاقِهِ يَظُنُّ
بَعْضُ النَّاسِ أَنَّهُ أَعْمَى.
Ar-Rabi‘ bin Khutsaim, karena sangat menundukkan pandangan dan selalu menunduk,
sampai-sampai sebagian orang menyangka bahwa ia buta.
وَكَانَ
يَخْتَلِفُ إِلَى مَنْزِلِ ابْنِ مَسْعُودٍ عِشْرِينَ سَنَةً، فَإِذَا رَأَتْهُ
جَارِيَتُهُ قَالَتْ لِابْنِ مَسْعُودٍ: صَدِيقُكَ الْأَعْمَى قَدْ جَاءَ.
Ia biasa datang ke rumah Ibnu Mas‘ud selama dua puluh tahun. Ketika budak
perempuan Ibnu Mas‘ud melihatnya, ia berkata: “Temanmu yang buta telah datang.”
فَكَانَ
يَضْحَكُ ابْنُ مَسْعُودٍ مِنْ قَوْلِهَا.
Maka Ibnu Mas‘ud tertawa mendengar ucapan budaknya itu.
وَكَانَ
إِذَا دَقَّ الْبَابَ تَخْرُجُ الْجَارِيَةُ إِلَيْهِ فَتَرَاهُ مُطْرِقًا غَاضًّا
بَصَرَهُ.
Dan apabila ia mengetuk pintu, budak perempuan itu keluar menemuinya lalu
melihatnya dalam keadaan menunduk dan menahan pandangan.
وَكَانَ
ابْنُ مَسْعُودٍ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ يَقُولُ: وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ.
Ibnu Mas‘ud, apabila melihatnya, berkata: “Dan berilah kabar gembira kepada
orang-orang yang tunduk.”
أَمَا
وَاللهِ، لَوْ رَآكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَفَرِحَ بِكَ.
“Demi Allah, seandainya Muhammad صلى الله عليه وسلم melihatmu, niscaya beliau akan bergembira
karenamu.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: لَأَحَبَّكَ.
Dalam lafaz lain: “Niscaya beliau akan mencintaimu.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: لَضَحِكَ.
Dan dalam lafaz lain: “Niscaya beliau akan tersenyum.”
وَمَشَى
ذَاتَ يَوْمٍ مَعَ ابْنِ مَسْعُودٍ فِي الْحَدَّادِينَ، فَلَمَّا نَظَرَ إِلَى
الْأَكْوَارِ تُنْفَخُ وَإِلَى النَّارِ تَلْتَهِبُ صُعِقَ وَسَقَطَ مَغْشِيًّا
عَلَيْهِ.
Pada suatu hari ia berjalan bersama Ibnu Mas‘ud melewati para pandai besi.
Ketika ia melihat tungku-tungku ditiup dan api menyala berkobar, ia pingsan dan
jatuh tak sadarkan diri.
وَقَعَدَ
ابْنُ مَسْعُودٍ عِنْدَ رَأْسِهِ إِلَى وَقْتِ الصَّلَاةِ فَلَمْ يُفِقْ.
Ibnu Mas‘ud pun duduk di dekat kepalanya sampai waktu salat tiba, tetapi ia
belum juga sadar.
فَحَمَلَهُ
عَلَى ظَهْرِهِ إِلَى مَنْزِلِهِ.
Lalu Ibnu Mas‘ud menggendongnya di punggungnya sampai ke rumahnya.
فَلَمْ
يَزَلْ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ إِلَى مِثْلِ السَّاعَةِ الَّتِي صُعِقَ فِيهَا.
Ia tetap tak sadarkan diri sampai waktu yang sama seperti saat ia jatuh
pingsan.
فَفَاتَتْهُ
خَمْسُ صَلَوَاتٍ، وَابْنُ مَسْعُودٍ عِنْدَ رَأْسِهِ يَقُولُ: هٰذَا وَاللهِ هُوَ
الْخَوْفُ.
Maka ia kehilangan lima kali salat, sedangkan Ibnu Mas‘ud duduk di dekat
kepalanya seraya berkata: “Demi Allah, inilah rasa takut itu.”
وَكَانَ
الرَّبِيعُ يَقُولُ: مَا دَخَلْتُ فِي صَلَاةٍ قَطُّ فَأَهَمَّنِي فِيهَا إِلَّا
مَا أَقُولُ وَمَا يُقَالُ لِي.
Ar-Rabi‘ biasa berkata: “Aku tidak pernah masuk ke dalam salat, lalu ada
sesuatu yang menyibukkanku di dalamnya selain apa yang aku ucapkan dan apa yang
akan dikatakan kepadaku.”
وَكَانَ
عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ مِنْ خَاشِعِي الْمُصَلِّينَ.
Amir bin Abdullah termasuk orang-orang yang khusyuk dalam salat.
وَكَانَ
إِذَا صَلَّى رُبَّمَا ضَرَبَتِ ابْنَتُهُ بِالدُّفِّ، وَتَحَدَّثَتِ النِّسَاءُ
بِمَا يُرِدْنَ فِي الْبَيْتِ، وَلَمْ يَكُنْ يَسْمَعُ ذٰلِكَ وَلَا يَعْقِلُهُ.
Apabila ia salat, kadang putrinya memukul rebana, para wanita berbicara sesuka
mereka di rumah, namun ia tidak mendengar dan tidak menyadari semua itu.
وَقِيلَ
لَهُ ذَاتَ يَوْمٍ: هَلْ تُحَدِّثُكَ نَفْسُكَ فِي الصَّلَاةِ بِشَيْءٍ؟
Suatu hari ditanyakan kepadanya: “Apakah hatimu berbicara tentang sesuatu
ketika salat?”
قَالَ:
نَعَمْ، بِوُقُوفِي بَيْنَ يَدَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمُنْصَرَفِي إِحْدَى
الدَّارَيْنِ.
Ia menjawab: “Ya, tentang aku berdiri di hadapan Allah عز وجل, dan tentang aku akan
berakhir ke salah satu dari dua negeri.”
قِيلَ:
فَهَلْ تَجِدُ شَيْئًا مِمَّا نَجِدُ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا؟
Lalu dikatakan: “Apakah engkau mendapati sesuatu dari urusan dunia seperti yang
kami rasakan?”
فَقَالَ:
لَأَنْ تَخْتَلِفَ الْأَسِنَّةُ فِيَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَجِدَ فِي
صَلَاتِي مَا تَجِدُونَ.
Ia menjawab: “Sungguh lebih aku sukai tombak-tombak menancap padaku daripada
aku merasakan dalam salatku apa yang kalian rasakan.”
وَكَانَ
يَقُولُ: لَوْ كُشِفَ الْغِطَاءُ مَا ازْدَدْتُ يَقِينًا.
Ia juga berkata: “Seandainya tabir disingkap, keyakinanku tidak akan
bertambah.”
وَقَدْ
كَانَ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ مِنْهُمْ، وَقَدْ نَقَلْنَا أَنَّهُ لَمْ يَشْعُرْ
بِسُقُوطِ أُسْطُوَانَةٍ فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ.
Muslim bin Yasar juga termasuk golongan mereka, dan telah kami sebutkan bahwa
ia tidak merasa ada tiang yang jatuh di masjid sementara ia sedang salat.
وَتَأَكَّلَ
طَرَفٌ مِنْ أَطْرَافِ بَعْضِهِمْ، وَاحْتِيجَ فِيهِ إِلَى الْقَطْعِ، فَلَمْ
يُمْكَنْ مِنْهُ.
Pada sebagian mereka, ada anggota tubuh yang rusak dan harus dipotong, tetapi
hal itu tidak memungkinkan dilakukan.
فَقِيلَ:
إِنَّهُ فِي الصَّلَاةِ لَا يَحِسُّ بِمَا يَجْرِي عَلَيْهِ.
Lalu dikatakan: “Sesungguhnya ketika ia salat, ia tidak merasakan apa yang
terjadi padanya.”
فَقُطِعَ
وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ.
Maka anggota itu dipotong ketika ia sedang salat.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: الصَّلَاةُ مِنَ الْآخِرَةِ، فَإِذَا دَخَلْتَ فِيهَا خَرَجْتَ مِنَ
الدُّنْيَا.
Sebagian mereka berkata: “Salat itu termasuk urusan akhirat. Jika engkau
memasukinya, maka engkau keluar dari dunia.”
وَقِيلَ
لِآخَرَ: هَلْ تُحَدِّثُ نَفْسَكَ بِشَيْءٍ مِنَ الدُّنْيَا فِي الصَّلَاةِ؟
Dan kepada orang lain ditanyakan: “Apakah hatimu berbicara tentang sesuatu dari
urusan dunia ketika salat?”
فَقَالَ:
لَا فِي الصَّلَاةِ وَلَا فِي غَيْرِهَا.
Ia menjawab: “Tidak, baik dalam salat maupun di luar salat.”
وَسُئِلَ
بَعْضُهُمْ: هَلْ تَذْكُرُ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا؟
Sebagian mereka juga ditanya: “Apakah engkau mengingat sesuatu dalam salat?”
فَقَالَ:
وَهَلْ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فَأَذْكُرَهُ فِيهَا؟
Ia menjawab: “Apakah ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada salat, sehingga
aku harus mengingatnya di dalam salat?”
وَكَانَ
أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ أَنْ
يَبْدَأَ بِحَاجَتِهِ قَبْلَ دُخُولِهِ فِي الصَّلَاةِ، لِيَدْخُلَ فِي الصَّلَاةِ
وَقَلْبُهُ فَارِغٌ.
Abu ad-Darda’ رضي
الله عنه berkata: “Termasuk kefaqihan seseorang adalah menyelesaikan
kebutuhannya sebelum masuk ke dalam salat, agar ia masuk ke dalam salat dengan
hati yang kosong.”
وَكَانَ
بَعْضُهُمْ يُخَفِّفُ الصَّلَاةَ خِيفَةَ الْوَسْوَاسِ.
Sebagian mereka meringankan salat karena takut terhadap waswas.
وَرُوِيَ
أَنَّ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ صَلَّى صَلَاةً فَأَخَفَّهَا.
Diriwayatkan bahwa Ammar bin Yasir pernah salat dengan ringkas.
فَقِيلَ
لَهُ: خَفَّفْتَ يَا أَبَا الْيَقْظَانِ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Engkau meringankan salat, wahai Abu al-Yaqzhan.”
فَقَالَ:
هَلْ رَأَيْتُمُونِي نَقَصْتُ مِنْ حُدُودِهَا شَيْئًا؟
Ia menjawab: “Apakah kalian melihat aku mengurangi sesuatu dari
batas-batasnya?”
قَالُوا:
لَا.
Mereka menjawab: “Tidak.”
قَالَ:
إِنِّي بَادَرْتُ سَهْوَ الشَّيْطَانِ.
Ia berkata: “Aku ingin mendahului kelalaian yang datang dari setan.”
أَنَّ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي
الصَّلَاةَ لَا يُكْتَبُ لَهُ نِصْفُهَا، وَلَا ثُلُثُهَا، وَلَا رُبُعُهَا، وَلَا
خُمُسُهَا، وَلَا سُدُسُهَا، وَلَا عُشْرُهَا.
“Sesungguhnya Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: seorang hamba benar-benar salat, tetapi tidak
dituliskan baginya setengahnya, tidak pula sepertiganya, tidak pula
seperempatnya, tidak pula seperlimanya, tidak pula seperenamnya, dan tidak pula
sepersepuluhnya.”
وَكَانَ
يَقُولُ: إِنَّمَا يُكْتَبُ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلَاتِهِ مَا عَقَلَ مِنْهَا.
Dan ia berkata: “Sesungguhnya yang dituliskan bagi seorang hamba dari salatnya
hanyalah sejauh yang ia pahami darinya.”
وَيُقَالُ:
إِنَّ طَلْحَةَ وَالزُّبَيْرَ وَطَائِفَةً مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمْ كَانُوا أَخَفَّ النَّاسِ صَلَاةً.
Dan dikatakan bahwa Thalhah, az-Zubair, dan sekelompok sahabat رضي الله عنهم
termasuk orang yang paling ringan salatnya.
وَقَالُوا:
نُبَادِرُ بِهَا وَسْوَسَةَ الشَّيْطَانِ.
Mereka berkata: “Kami mempercepat salat agar mendahului waswas setan.”
وَرُوِيَ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ عَلَى الْمِنْبَرِ:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَشِيبُ عَارِضَاهُ فِي الْإِسْلَامِ، وَمَا أَكْمَلَ لِلَّهِ
تَعَالَى صَلَاةً.
Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab رضي الله عنه berkata di atas
mimbar: “Sungguh seseorang bisa beruban kedua jambangnya dalam Islam, tetapi
belum pernah menyempurnakan satu salat pun untuk Allah Ta‘ala.”
قِيلَ:
وَكَيْفَ ذٰلِكَ؟
Lalu ditanyakan: “Bagaimana itu?”
قَالَ:
لَا يُتِمُّ خُشُوعَهَا وَتَوَاضُعَهَا وَإِقْبَالَهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
فِيهَا.
Ia menjawab: “Karena ia tidak menyempurnakan kekhusyukan, ketawadukan, dan
keterarahannya kepada Allah عز وجل
di dalamnya.”
وَسُئِلَ
أَبُو الْعَالِيَةِ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ
سَاهُونَ.
Abu al-‘Aliyah ditanya tentang firman Allah Ta‘ala: “Yaitu orang-orang yang
lalai dari salatnya.”
قَالَ:
هُوَ الَّذِي يَسْهُو فِي صَلَاتِهِ فَلَا يَدْرِي عَلَى كَمْ يَنْصَرِفُ، أَعَلَى
شَفْعٍ أَمْ عَلَى وِتْرٍ.
Ia menjawab: “Yaitu orang yang lalai dalam salatnya sampai ia tidak tahu berapa
rakaat ia selesai, apakah genap atau ganjil.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ: هُوَ الَّذِي يَسْهُو عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَخْرُجَ.
Al-Hasan berkata: “Yaitu orang yang lalai dari waktu salat hingga waktunya
habis.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: هُوَ الَّذِي إِنْ صَلَّاهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ لَمْ يَفْرَحْ،
وَإِنْ أَخَّرَهَا عَنِ الْوَقْتِ لَمْ يَحْزَنْ.
Sebagian yang lain berkata: “Yaitu orang yang jika salat di awal waktu tidak
merasa gembira, dan jika mengakhirkannya lewat waktu tidak merasa sedih.”
فَلَا
يَرَى تَعْجِيلَهَا خَيْرًا وَلَا تَأْخِيرَهَا إِثْمًا.
Ia tidak memandang menyegerakannya sebagai kebaikan dan tidak memandang
mengakhirkannya sebagai dosa.
وَاعْلَمْ
أَنَّ الصَّلَاةَ قَدْ يُحْسَبُ بَعْضُهَا وَيُكْتَبُ بَعْضُهَا دُونَ بَعْضٍ،
كَمَا دَلَّتِ الْأَخْبَارُ عَلَيْهِ.
Ketahuilah bahwa bisa jadi sebagian salat dihitung dan ditulis pahalanya,
sedangkan sebagian lainnya tidak, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis.
وَإِنْ
كَانَ الْفَقِيهُ يَقُولُ: إِنَّ الصَّلَاةَ فِي الصِّحَّةِ لَا تَتَجَزَّأُ.
Meskipun seorang fakih berkata bahwa salat, dari segi sahnya, tidak
terbagi-bagi.
وَلٰكِنْ
ذٰلِكَ لَهُ مَعْنًى آخَرُ ذَكَرْنَاهُ.
Akan tetapi, itu memiliki makna lain yang telah kami jelaskan.
وَهٰذَا
الْمَعْنَى دَلَّتْ عَلَيْهِ الْأَحَادِيثُ، إِذْ وَرَدَ جَبْرُ نُقْصَانِ
الْفَرَائِضِ بِالنَّوَافِلِ.
Dan makna ini telah ditunjukkan oleh hadis-hadis, karena telah datang
keterangan bahwa kekurangan salat fardu disempurnakan dengan salat-salat sunah.
وَفِي
الْخَبَرِ قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى:
بِالْفَرَائِضِ نَجَا مِنِّي عَبْدِي، وَبِالنَّوَافِلِ تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي.
Dalam sebuah riwayat, Isa عليه
السلام berkata: Allah Ta‘ala berfirman: “Dengan fardu-fardu hamba-Ku
selamat dari-Ku, dan dengan nawafil ia mendekat kepada-Ku.”
وَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَا يَنْجُو
مِنِّي عَبْدِي إِلَّا بِأَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak ada hamba-Ku yang
selamat dari-Ku kecuali dengan menunaikan apa yang Aku fardukan atasnya.”
وَرُوِيَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةً فَتَرَكَ مِنْ
قِرَاءَتِهَا آيَةً، فَلَمَّا انْفَتَلَ قَالَ: مَاذَا قَرَأْتُ؟
Diriwayatkan bahwa Nabi صلى
الله عليه وسلم pernah salat lalu meninggalkan satu ayat dari bacaannya. Ketika
selesai, beliau bertanya: “Apa yang tadi aku baca?”
فَسَكَتَ
الْقَوْمُ.
Maka orang-orang pun diam.
فَسَأَلَ
أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Lalu beliau bertanya kepada Ubay bin Ka‘b رضي الله عنه.
فَقَالَ:
قَرَأْتَ سُورَةَ كَذَا وَتَرَكْتَ آيَةَ كَذَا، فَمَا نَدْرِي أَنُسِخَتْ أَمْ
رُفِعَتْ.
Ubay menjawab: “Engkau membaca surah ini dan meninggalkan ayat ini. Kami tidak
tahu apakah ia sudah dinasakh atau diangkat.”
فَقَالَ:
أَنْتَ لَهَا يَا أُبَيُّ.
Maka beliau bersabda: “Engkaulah orangnya, wahai Ubay.”
ثُمَّ
أَقْبَلَ عَلَى الْآخَرِينَ فَقَالَ: مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَحْضُرُونَ صَلَاتَهُمْ
وَيُتِمُّونَ صُفُوفَهُمْ، وَنَبِيُّهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ، لَا يَدْرُونَ مَا
يُتْلَى عَلَيْهِمْ مِنْ كِتَابِ رَبِّهِمْ؟
Kemudian beliau menoleh kepada yang lain dan bersabda: “Ada apa dengan suatu
kaum yang menghadiri salat mereka dan menyempurnakan saf-saf mereka, sementara
nabi mereka berada di hadapan mereka, tetapi mereka tidak tahu apa yang
dibacakan kepada mereka dari Kitab Tuhan mereka?”
أَلَا
إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَذٰلِكَ فَعَلُوا.
“Ketahuilah, Bani Israil dahulu juga melakukan hal seperti itu.”
فَأَوْحَى
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى نَبِيِّهِ أَنْ قُلْ لِقَوْمِكَ: تُحْضِرُونِي
أَبْدَانَكُمْ، وَتُعْطُونِي أَلْسِنَتَكُمْ، وَتَغِيبُونَ عَنِّي بِقُلُوبِكُمْ؟
بَاطِلٌ مَا تَذْهَبُونَ إِلَيْهِ.
Maka Allah عز وجل
mewahyukan kepada nabi-Nya: “Katakanlah kepada kaummu: apakah kalian
menghadapkan tubuh-tubuh kalian kepada-Ku, memberikan lisan kalian kepada-Ku,
tetapi hati kalian justru pergi dari-Ku? Batil apa yang kalian menuju kepadanya
itu.”
وَهٰذَا
يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اسْتِمَاعَ مَا يَقْرَأُهُ الْإِمَامُ وَفَهْمَهُ يَقُومُ
مَقَامَ قِرَاءَةِ السُّوَرِ بِنَفْسِهِ.
Ini menunjukkan bahwa mendengarkan apa yang dibaca imam dan memahaminya dapat
menggantikan pembacaan surah oleh dirinya sendiri.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: إِنَّ الرَّجُلَ يَسْجُدُ السَّجْدَةَ عِنْدَهُ أَنَّهُ تَقَرَّبَ
بِهَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَوْ قُسِّمَتْ ذُنُوبُهُ فِي سَجْدَتِهِ
عَلَى أَهْلِ مَدِينَتِهِ لَهَلَكُوا.
Sebagian mereka berkata: “Sesungguhnya seseorang melakukan satu sujud yang ia
kira dengannya ia sedang mendekat kepada Allah عز وجل, padahal jika
dosa-dosanya dalam sujud itu dibagikan kepada penduduk kotanya, niscaya mereka
semua binasa.”
قِيلَ:
وَكَيْفَ يَكُونُ ذٰلِكَ؟
Ditanyakan: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
قَالَ:
يَكُونُ سَاجِدًا عِنْدَ اللهِ، وَقَلْبُهُ مُصْغٍ إِلَى هَوًى، وَمُشَاهِدٌ
لِبَاطِلٍ قَدِ اسْتَوْلَى عَلَيْهِ.
Ia menjawab: “Ia sedang sujud di hadapan Allah, tetapi hatinya sedang
mendengarkan hawa nafsu dan menyaksikan kebatilan yang telah menguasainya.”
فَهٰذِهِ
صِفَةُ الْخَاشِعِينَ.
Maka inilah sifat orang-orang yang khusyuk.
فَدَلَّتْ
هٰذِهِ الْحِكَايَاتُ وَالْأَخْبَارُ مَعَ مَا سَبَقَ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي
الصَّلَاةِ الْخُشُوعُ وَحُضُورُ الْقَلْبِ.
Kisah-kisah dan riwayat-riwayat ini, bersama apa yang telah disebutkan
sebelumnya, menunjukkan bahwa pokok dalam salat adalah khusyuk dan hadirnya
hati.
وَأَنَّ
مُجَرَّدَ الْحَرَكَاتِ مَعَ الْغَفْلَةِ قَلِيلُ الْجَدْوَى فِي الْمَعَادِ.
Dan bahwa sekadar gerakan lahiriah yang disertai kelalaian sangat sedikit
manfaatnya untuk kehidupan akhirat.
وَاللهُ
أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.
نَسْأَلُ
اللهَ حُسْنَ التَّوْفِيقِ.
Kami memohon kepada Allah taufik yang baik.