Penjelasan Terperinci Tentang Apa yang Seharusnya Hadir Dalam Hati Pada Setiap Rukun dan Syarat dari Amalan Shalat.

بَيَانُ تَفْصِيلِ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْضُرَ فِي الْقَلْبِ عِنْدَ كُلِّ رُكْنٍ وَشَرْطٍ مِنْ أَعْمَالِ الصَّلَاةِ.
Penjelasan terperinci tentang apa yang seharusnya hadir dalam hati pada setiap rukun dan syarat dari amalan salat.

فَنَقُولُ حَقُّكَ إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرِيدِينَ لِلْآخِرَةِ أَنْ لَا تَغْفُلَ أَوَّلًا عَنِ التَّنْبِيهَاتِ الَّتِي فِي شُرُوطِ الصَّلَاةِ وَأَرْكَانِهَا

Maka kami katakan: kewajibanmu, jika engkau termasuk orang yang menginginkan akhirat, adalah agar jangan lalai terlebih dahulu dari berbagai peringatan yang terkandung dalam syarat-syarat dan rukun-rukun salat.

أَمَّا الشُّرُوطُ السَّوَابِقُ فَهِيَ الْأَذَانُ وَالطَّهَارَةُ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ وَالِانْتِصَابُ قَائِمًا وَالنِّيَّةُ.
Adapun syarat-syarat yang mendahului salat ialah azan, bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, berdiri tegak, dan niat.

فَإِذَا سَمِعْتَ نِدَاءَ الْمُؤَذِّنِ فَأَحْضِرْ فِي قَلْبِكَ هَوْلَ النِّدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Apabila engkau mendengar panggilan muazin, maka hadirkan dalam hatimu kedahsyatan panggilan pada hari kiamat.

وَتَشَمَّرْ بِظَاهِرِكَ وَبَاطِنِكَ لِلْإِجَابَةِ وَالْمُسَارَعَةِ.
Dan bersiaplah dengan lahir dan batinmu untuk menjawab dan bersegera.

فَإِنَّ الْمُسَارِعِينَ إِلَى هٰذَا النِّدَاءِ هُمُ الَّذِينَ يُنَادَوْنَ بِاللُّطْفِ يَوْمَ الْعَرْضِ الْأَكْبَرِ.
Sebab orang-orang yang bersegera kepada panggilan ini adalah mereka yang akan dipanggil dengan kelembutan pada hari penampakan yang agung.

فَاعْرِضْ قَلْبَكَ عَلَى هٰذَا النِّدَاءِ.
Maka hadapkanlah hatimu kepada panggilan ini.

فَإِنْ وَجَدْتَهُ مَمْلُوءًا بِالْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ، مَشْحُونًا بِالرَّغْبَةِ إِلَى الِابْتِدَارِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ يَأْتِيكَ النِّدَاءُ بِالْبُشْرَى وَالْفَوْزِ يَوْمَ الْقَضَاءِ.
Jika engkau mendapati hatimu penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan, serta dipenuhi keinginan untuk segera memenuhi panggilan itu, maka ketahuilah bahwa panggilan pada hari keputusan nanti akan datang kepadamu dengan kabar gembira dan kemenangan.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرِحْنَا يَا بِلَالُ.
Karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami.”

أَيْ أَرِحْنَا بِهَا وَبِالنِّدَاءِ إِلَيْهَا، إِذْ كَانَتْ قُرَّةُ عَيْنِهِ فِيهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Maksudnya, istirahatkanlah kami dengan salat dan dengan panggilan menuju kepadanya, sebab penyejuk mata beliau صلى الله عليه وسلم ada di dalamnya.

وَأَمَّا الطَّهَارَةُ فَإِذَا أَتَيْتَ بِهَا فِي مَكَانِكَ، وَهُوَ ظَرْفُكَ الْأَبْعَدُ، ثُمَّ فِي ثِيَابِكَ، وَهِيَ غِلَافُكَ الْأَقْرَبُ، ثُمَّ فِي بَشَرَتِكَ، وَهِيَ قِشْرُكَ الْأَدْنَى.
Adapun bersuci, maka apabila engkau telah melakukannya pada tempatmu, yaitu wadahmu yang paling jauh, kemudian pada pakaianmu, yaitu penutupmu yang lebih dekat, lalu pada kulit badanmu, yaitu lapisanmu yang paling dekat.

فَلَا تَغْفُلْ عَنْ لُبِّكَ الَّذِي هُوَ ذَاتُكَ، وَهُوَ قَلْبُكَ.
Maka janganlah engkau lalai dari inti dirimu, yaitu hakikat dirimu sendiri, yakni hatimu.

فَاجْتَهِدْ لَهُ تَطْهِيرًا بِالتَّوْبَةِ وَالنَّدَمِ عَلَى مَا فَرَّطْتَ، وَتَصْمِيمِ الْعَزْمِ عَلَى التَّرْكِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ.
Maka bersungguh-sungguhlah untuk menyucikannya dengan tobat, penyesalan atas apa yang telah engkau lalaikan, dan tekad kuat untuk meninggalkannya di masa depan.

فَطَهِّرْ بِهَا بَاطِنَكَ، فَإِنَّهُ مَوْضِعُ نَظَرِ مَعْبُودِكَ.
Maka sucikanlah batinmu dengan semua itu, karena batin itulah tempat pandangan Tuhan yang engkau sembah.

وَأَمَّا سَتْرُ الْعَوْرَةِ فَاعْلَمْ أَنَّ مَعْنَاهُ تَغْطِيَةُ مَقَابِحِ بَدَنِكَ عَنْ أَبْصَارِ الْخَلْقِ.
Adapun menutup aurat, maka ketahuilah bahwa maknanya adalah menutupi bagian-bagian buruk tubuhmu dari pandangan makhluk.

فَإِنَّ ظَاهِرَ بَدَنِكَ مَرْتَعٌ لِنَظَرِ الْخَلْقِ.
Sebab lahir tubuhmu adalah tempat pandangan makhluk.

فَمَا بَالُكَ فِي عَوْرَاتِ بَاطِنِكَ وَفَضَائِحِ سَرَائِرِكَ الَّتِي لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا إِلَّا رَبُّكَ عَزَّ وَجَلَّ؟
Lalu bagaimana dengan aurat-aurat batinmu dan aib-aib rahasiamu yang tidak diketahui kecuali oleh Tuhanmu عز وجل?

فَأَحْضِرْ تِلْكَ الْفَضَائِحَ بِبَالِكَ، وَطَالِبْ نَفْسَكَ بِسَتْرِهَا.
Maka hadirkanlah aib-aib itu dalam benakmu, dan tuntutlah dirimu untuk menutupinya.

وَتَحَقَّقْ أَنَّهُ لَا يَسْتُرُ عَنْ عَيْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ سَاتِرٌ.
Dan yakinkan bahwa tidak ada penutup yang dapat menutupinya dari pandangan Allah سبحانه.

وَإِنَّمَا يَغْفِرُهَا النَّدَمُ وَالْحَيَاءُ وَالْخَوْفُ.
Yang dapat menutupinya hanyalah penyesalan, rasa malu, dan rasa takut.

فَتَسْتَفِيدُ بِإِحْضَارِهَا فِي قَلْبِكَ انْبِعَاثَ جُنُودِ الْخَوْفِ وَالْحَيَاءِ مِنْ مَكَامِنِهِمَا.
Dengan menghadirkannya dalam hatimu, engkau akan memperoleh bangkitnya pasukan rasa takut dan rasa malu dari tempat persembunyiannya.

فَتَذِلُّ بِهَا نَفْسُكَ، وَيَسْتَكِينَ تَحْتَ الْخَجْلَةِ قَلْبُكَ.
Maka dengannya jiwamu menjadi hina dan hatimu menjadi tunduk di bawah rasa malu.

وَتَقُومُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قِيَامَ الْعَبْدِ الْمُجْرِمِ الْمُسِيءِ الْآبِقِ، الَّذِي نَدِمَ فَرَجَعَ إِلَى مَوْلَاهُ نَاكِسًا رَأْسَهُ مِنَ الْحَيَاءِ وَالْخَوْفِ.
Lalu engkau berdiri di hadapan Allah عز وجل sebagaimana berdirinya hamba yang berdosa, bersalah, dan melarikan diri, lalu menyesal dan kembali kepada tuannya dengan kepala tertunduk karena malu dan takut.

وَأَمَّا الِاسْتِقْبَالُ فَهُوَ صَرْفُ ظَاهِرِ وَجْهِكَ عَنْ سَائِرِ الْجِهَاتِ إِلَى جِهَةِ بَيْتِ اللهِ تَعَالَى.
Adapun menghadap kiblat, maka ia adalah memalingkan wajah lahirmu dari seluruh arah kepada arah Baitullah Ta‘ala.

أَفَتَرَى أَنَّ صَرْفَ الْقَلْبِ عَنْ سَائِرِ الْأُمُورِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ مَطْلُوبًا مِنْكَ؟
Apakah engkau mengira bahwa memalingkan hati dari segala urusan kepada Allah عز وجل bukanlah sesuatu yang dituntut darimu?

هَيْهَاتَ، فَلَا مَطْلُوبَ سِوَاهُ.
Sungguh jauh sangkaan itu. Tidak ada yang dituntut selain itu.

وَإِنَّمَا هٰذِهِ الظَّوَاهِرُ تَحْرِيكَاتٌ لِلْبَوَاطِنِ، وَضَبْطٌ لِلْجَوَارِحِ، وَتَسْكِينٌ لَهَا بِالْإِثْبَاتِ فِي جِهَةٍ وَاحِدَةٍ حَتَّى لَا تَبْغِيَ عَلَى الْقَلْبِ.
Segala bentuk lahiriah ini hanyalah penggerak bagi batin, pengatur anggota badan, dan penenang baginya dengan menetapkannya pada satu arah, agar ia tidak memberontak terhadap hati.

فَإِنَّهَا إِذَا بَغَتْ وَظَلَمَتْ فِي حَرَكَاتِهَا وَالْتِفَاتِهَا إِلَى جِهَاتِهَا اسْتَتْبَعَتِ الْقَلْبَ، وَانْقَلَبَتْ بِهِ عَنْ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Sebab jika anggota tubuh itu memberontak dan melampaui batas dalam gerak-geraknya serta menoleh ke berbagai arah, ia akan menyeret hati, lalu memalingkannya dari Allah عز وجل.

فَلْيَكُنْ وَجْهُ قَلْبِكَ مَعَ وَجْهِ بَدَنِكَ.
Maka hendaknya wajah hatimu sejalan dengan wajah badanmu.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَمَا لَا يَتَوَجَّهُ الْوَجْهُ إِلَى جِهَةِ الْبَيْتِ إِلَّا بِالِانْصِرَافِ عَنْ غَيْرِهَا، فَلَا يَنْصَرِفُ الْقَلْبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بِالتَّفَرُّغِ عَمَّا سِوَاهُ.
Ketahuilah bahwa sebagaimana wajah tidak dapat benar-benar menghadap ke arah Baitullah kecuali dengan berpaling dari selainnya, demikian pula hati tidak dapat menghadap kepada Allah عز وجل kecuali dengan mengosongkan diri dari selain-Nya.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَامَ الْعَبْدُ إِلَى صَلَاتِهِ، فَكَانَ هَوَاهُ وَوَجْهُهُ وَقَلْبُهُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، انْصَرَفَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila seorang hamba berdiri untuk salatnya, lalu hawa nafsunya, wajahnya, dan hatinya tertuju kepada Allah عز وجل, ia keluar dari salat itu seperti pada hari ibunya melahirkannya.”

وَأَمَّا الِاعْتِدَالُ قَائِمًا فَإِنَّمَا هُوَ مُثُولٌ بِالشَّخْصِ وَالْقَلْبِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun berdiri dengan tegak, maka itu adalah bentuk berdirinya badan dan hati di hadapan Allah عز وجل.

فَلْيَكُنْ رَأْسُكَ الَّذِي هُوَ أَرْفَعُ أَعْضَائِكَ مُطْرَقًا مُطَأْطَأً مُتَنَكِّسًا.
Maka hendaknya kepalamu, yang merupakan anggota tubuh paling tinggi, berada dalam keadaan tertunduk, merendah, dan menekuk.

وَلْيَكُنْ وَضْعُ الرَّأْسِ عَنْ ارْتِفَاعِهِ تَنْبِيهًا عَلَى إِلْزَامِ الْقَلْبِ التَّوَاضُعَ وَالتَّذَلُّلَ وَالتَّبَرِّيَ عَنِ التَّرَؤُّسِ وَالتَّكَبُّرِ.
Dan hendaknya turunnya kepala dari ketinggiannya menjadi peringatan untuk mewajibkan hati bersikap tawaduk, merendah, serta berlepas diri dari kepemimpinan dan kesombongan.

وَلْيَكُنْ عَلَى ذِكْرِكَ هٰهُنَا خَطَرُ الْقِيَامِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي هَوْلِ الْمَطْلَعِ عِنْدَ الْعَرْضِ لِلسُّؤَالِ.
Dan hendaknya pada saat ini engkau mengingat dahsyatnya berdiri di hadapan Allah عز وجل pada hari penyingkapan amal, ketika manusia ditampakkan untuk dihisab.

وَاعْلَمْ فِي الْحَالِ أَنَّكَ قَائِمٌ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ مُطَّلِعٌ عَلَيْكَ.
Ketahuilah pada saat itu bahwa engkau sedang berdiri di hadapan Allah عز وجل, dan Dia melihatmu.

فَقُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ قِيَامَكَ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ مُلُوكِ الزَّمَانِ إِنْ كُنْتَ تَعْجِزُ عَنْ مَعْرِفَةِ كُنْهِ جَلَالِهِ.
Maka berdirilah di hadapan-Nya seperti engkau berdiri di hadapan salah satu raja dunia, jika engkau belum mampu memahami hakikat keagungan-Nya.

بَلْ قَدِّرْ فِي دَوَامِ قِيَامِكَ فِي صَلَاتِكَ أَنَّكَ مَلْحُوظٌ وَمَرْقُوبٌ بِعَيْنٍ كَالِئَةٍ مِنْ رَجُلٍ صَالِحٍ مِنْ أَهْلِكَ أَوْ مِمَّنْ تَرْغَبُ فِي أَنْ يَعْرِفَكَ بِالصَّلَاحِ.
Bahkan bayangkan ketika berdiri dalam salat bahwa engkau sedang diperhatikan dan diawasi dengan pandangan yang awas oleh seorang saleh dari keluargamu atau oleh orang yang engkau ingin ia mengetahui kesalehanmu.

فَإِنَّهُ تَهْدَأُ عِنْدَ ذٰلِكَ أَطْرَافُكَ، وَتَخْشَعُ جَوَارِحُكَ، وَتَسْكُنُ جَمِيعُ أَجْزَائِكَ، خِيفَةَ أَنْ يَنْسُبَكَ ذٰلِكَ الْعَاجِزُ الْمِسْكِينُ إِلَى قِلَّةِ الْخُشُوعِ.
Karena saat itu anggota tubuhmu akan menjadi tenang, anggota-anggota badanmu akan khusyuk, dan seluruh bagian tubuhmu akan diam, karena takut orang lemah dan miskin itu menilaimu kurang khusyuk.

وَإِذَا أَحْسَسْتَ مِنْ نَفْسِكَ بِالتَّمَاسُكِ عِنْدَ مُلَاحَظَةِ عَبْدٍ مِسْكِينٍ، فَعَاتِبْ نَفْسَكَ وَقُلْ لَهَا: إِنَّكِ تَدَّعِينَ مَعْرِفَةَ اللهِ وَحُبَّهُ.
Jika engkau merasakan dirimu bisa menahan diri dan tenang hanya karena diperhatikan seorang hamba yang lemah, maka tegurlah dirimu dan katakan: “Engkau mengaku mengenal Allah dan mencintai-Nya.”

أَفَلَا تَسْتَحْيِينَ مِنِ اسْتِجْرَائِكِ عَلَيْهِ، مَعَ تَوْقِيرِكِ عَبْدًا مِنْ عِبَادِهِ؟
“Tidakkah engkau malu karena berani kurang ajar terhadap-Nya, padahal engkau memuliakan salah satu hamba-Nya?”

أَوْ تَخْشَيْنَ النَّاسَ وَلَا تَخْشَيْنَهُ، وَهُوَ أَحَقُّ أَنْ يُخْشَى؟
“Ataukah engkau takut kepada manusia tetapi tidak takut kepada-Nya, padahal Dia lebih berhak untuk ditakuti?”

وَلِذٰلِكَ لَمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: كَيْفَ الْحَيَاءُ مِنَ اللهِ؟
Karena itulah ketika Abu Hurairah bertanya: “Bagaimana rasa malu kepada Allah?”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسْتَحْيِي مِنْهُ كَمَا تَسْتَحْيِي مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ مِنْ قَوْمِكَ.
Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab: “Engkau malu kepada-Nya sebagaimana engkau malu kepada seorang lelaki saleh dari kaummu.”

وَرُوِيَ: مِنْ أَهْلِكَ.
Dan diriwayatkan pula: “dari keluargamu.”

وَأَمَّا النِّيَّةُ فَاعْزِمْ عَلَى إِجَابَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي امْتِثَالِ أَمْرِهِ بِالصَّلَاةِ وَإِتْمَامِهَا وَالْكَفِّ عَنْ نَوَاقِضِهَا وَمُفْسِدَاتِهَا.
Adapun niat, maka teguhkan tekadmu untuk menjawab panggilan Allah عز وجل dengan menaati perintah-Nya tentang salat, menyempurnakannya, serta menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dan merusaknya.

وَإِخْلَاصِ جَمِيعِ ذٰلِكَ لِوَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ، رَجَاءً لِثَوَابِهِ وَخَوْفًا مِنْ عِقَابِهِ وَطَلَبًا لِلْقُرْبَةِ مِنْهُ.
Dan niatkan semua itu ikhlas karena wajah Allah سبحانه, dengan mengharap pahala-Nya, takut akan siksa-Nya, dan mencari kedekatan kepada-Nya.

مُتَقَلِّدًا الْمِنَّةَ مِنْهُ بِإِذْنِهِ إِيَّاكَ فِي الْمُنَاجَاةِ، مَعَ سُوءِ أَدَبِكَ وَكَثْرَةِ عِصْيَانِكَ.
Sambil menyadari besarnya karunia-Nya karena Dia mengizinkanmu bermunajat kepada-Nya, padahal adabmu buruk dan kemaksiatanmu banyak.

وَعَظِّمْ فِي نَفْسِكَ قَدْرَ مُنَاجَاتِهِ.
Dan besarkanlah dalam dirimu nilai munajat kepada-Nya.

وَانْظُرْ مَنْ تُنَاجِي، وَكَيْفَ تُنَاجِي، وَبِمَاذَا تُنَاجِي.
Perhatikanlah kepada siapa engkau bermunajat, bagaimana engkau bermunajat, dan dengan apa engkau bermunajat.

وَعِنْدَ هٰذَا يَنْبَغِي أَنْ يَعْرَقَ جَبِينُكَ مِنَ الْخَجَلِ، وَتَرْتَعِدَ فَرَائِصُكَ مِنَ الْهَيْبَةِ، وَيَصْفَرَّ وَجْهُكَ مِنَ الْخَوْفِ.
Pada saat itu, dahimu seharusnya berkeringat karena malu, persendianmu gemetar karena kewibawaan itu, dan wajahmu memucat karena takut.

وَأَمَّا التَّكْبِيرُ فَإِذَا نَطَقَ بِهِ لِسَانُكَ فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُكَذِّبَهُ قَلْبُكَ.
Adapun takbir, maka ketika lisanmu mengucapkannya, hati jangan sampai mendustakannya.

فَإِنْ كَانَ فِي قَلْبِكَ شَيْءٌ هُوَ أَكْبَرُ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ، فَاللهُ يَشْهَدُ إِنَّكَ لَكَاذِبٌ.
Jika di dalam hatimu ada sesuatu yang lebih besar daripada Allah سبحانه, maka Allah bersaksi bahwa engkau benar-benar berdusta.

وَإِنْ كَانَ الْكَلَامُ صِدْقًا، كَمَا شَهِدَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ فِي قَوْلِهِمْ: إِنَّكَ لَرَسُولُ اللهِ.
Meskipun lafaznya benar, sebagaimana Allah menyatakan kaum munafik berdusta dalam ucapan mereka: “Sesungguhnya engkau benar-benar Rasulullah.”

فَإِنْ كَانَ هَوَاكَ أَغْلَبَ عَلَيْكَ مِنْ أَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَأَنْتَ أَطْوَعُ لَهُ مِنْكَ لِلَّهِ تَعَالَى.
Jika hawa nafsumu lebih berkuasa atas dirimu daripada perintah Allah عز وجل, maka engkau lebih taat kepada hawa nafsumu daripada kepada Allah Ta‘ala.

فَقَدِ اتَّخَذْتَهُ إِلٰهَكَ وَكَبَّرْتَهُ.
Maka engkau telah menjadikannya sebagai tuhanmu dan engkau telah membesarkannya.

فَيُوشِكُ أَنْ يَكُونَ قَوْلُكَ: اللهُ أَكْبَرُ، كَلَامًا بِاللِّسَانِ الْمُجَرَّدِ، وَقَدْ تَخَلَّفَ الْقَلْبُ عَنْ مُسَاعَدَتِهِ.
Maka hampir saja ucapanmu “Allāhu Akbar” hanya menjadi kata-kata lisan semata, sementara hati tidak membenarkannya.

وَمَا أَعْظَمَ الْخَطَرَ فِي ذٰلِكَ، لَوْلَا التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ وَحُسْنُ الظَّنِّ بِكَرَمِ اللهِ تَعَالَى وَعَفْوِهِ.
Betapa besar bahayanya hal itu, seandainya tidak ada tobat, istigfar, dan berbaik sangka kepada kemurahan serta ampunan Allah Ta‘ala.

وَأَمَّا دُعَاءُ الِاسْتِفْتَاحِ فَأَوَّلُ كَلِمَاتِهِ قَوْلُكَ: وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ.
Adapun doa iftitah, maka awal kalimatnya adalah ucapanmu: “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi.”

وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِالْوَجْهِ الْوَجْهَ الظَّاهِرَ.
Yang dimaksud dengan “wajah” di sini bukanlah wajah lahiriah.

فَإِنَّكَ إِنَّمَا وَجَّهْتَهُ إِلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ يَتَقَدَّسُ عَنْ أَنْ تَحُدَّهُ الْجِهَاتُ، حَتَّى تُقْبِلَ بِوَجْهِ بَدَنِكَ عَلَيْهِ.
Sebab wajah lahiriah hanya engkau hadapkan ke arah kiblat, sedangkan Allah سبحانه Mahasuci dari dibatasi oleh arah, sehingga engkau dapat menghadap kepada-Nya dengan wajah badanmu.

وَإِنَّمَا وَجْهُ الْقَلْبِ هُوَ الَّذِي تَتَوَجَّهُ بِهِ إِلَى فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ.
Yang dimaksud adalah wajah hati, yaitu yang dengannya engkau menghadap kepada Pencipta langit dan bumi.

فَانْظُرْ إِلَيْهِ: أَمُتَوَجِّهٌ هُوَ إِلَى أَمَانِيِّهِ وَهَمِّهِ فِي الْبَيْتِ وَالسُّوقِ وَمُتَّبِعِ الشَّهَوَاتِ، أَوْ مُقْبِلٌ عَلَى فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ؟
Maka perhatikanlah wajah hati itu: apakah ia sedang menghadap kepada angan-angannya, kesibukannya di rumah dan pasar, serta mengikuti syahwat, ataukah sedang menghadap kepada Pencipta langit?

وَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ أَوَّلُ مُفَاتَحَتِكَ لِلْمُنَاجَاةِ بِالْكَذِبِ وَالِاخْتِلَاقِ.
Dan berhati-hatilah, jangan sampai permulaan pembukaan munajatmu justru dengan dusta dan kepalsuan.

وَلَنْ يَنْصَرِفَ الْوَجْهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى إِلَّا بِانْصِرَافِهِ عَمَّا سِوَاهُ.
Wajah hati tidak akan berpaling kepada Allah Ta‘ala kecuali setelah berpaling dari selain-Nya.

فَاجْتَهِدْ فِي الْحَالِ فِي صَرْفِهِ إِلَيْهِ.
Maka bersungguh-sungguhlah saat itu untuk mengarahkannya kepada-Nya.

وَإِنْ عَجَزْتَ عَنْهُ عَلَى الدَّوَامِ فَلْيَكُنْ قَوْلُكَ فِي الْحَالِ صَادِقًا.
Dan jika engkau tidak mampu melakukannya secara terus-menerus, maka setidaknya ucapanmu pada saat itu hendaknya jujur.

وَإِذَا قُلْتَ: حَنِيفًا مُسْلِمًا، فَيَنْبَغِي أَنْ يَخْطُرَ بِبَالِكَ أَنَّ الْمُسْلِمَ هُوَ الَّذِي سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ.
Apabila engkau mengucapkan: “ḥanīfan musliman”, maka hendaknya terlintas dalam benakmu bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.

فَإِنْ لَمْ تَكُنْ كَذٰلِكَ كُنْتَ كَاذِبًا.
Jika engkau tidak demikian, maka engkau berdusta.

فَاجْتَهِدْ فِي أَنْ تَعْزِمَ عَلَيْهِ فِي الِاسْتِقْبَالِ، وَتَنْدَمَ عَلَى مَا سَبَقَ مِنَ الْأَحْوَالِ.
Maka bersungguh-sungguhlah untuk bertekad mewujudkannya di masa depan dan menyesalilah keadaan-keadaan yang telah lalu.

وَإِذَا قُلْتَ: وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، فَأَخْطِرْ بِبَالِكَ الشِّرْكَ الْخَفِيَّ.
Apabila engkau mengucapkan: “dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik”, maka hadirkan dalam hatimu syirik yang tersembunyi.

فَإِنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى: فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا، نَزَلَ فِيمَنْ يَقْصِدُ بِعِبَادَتِهِ وَجْهَ اللهِ وَحَمْدَ النَّاسِ.
Karena firman Allah Ta‘ala: “Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam ibadah kepada Tuhannya”, turun berkenaan dengan orang yang dalam ibadahnya menginginkan wajah Allah sekaligus pujian manusia.

وَكُنْ حَذِرًا مُشْفِقًا مِنْ هٰذَا الشِّرْكِ.
Maka berhati-hatilah dan takutlah terhadap syirik ini.

وَاسْتَشْعِرِ الْخَجْلَةَ فِي قَلْبِكَ إِنْ وَصَفْتَ نَفْسَكَ بِأَنَّكَ لَسْتَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنْ غَيْرِ بَرَاءَةٍ عَنْ هٰذَا الشِّرْكِ.
Rasakanlah rasa malu dalam hatimu jika engkau menyifati dirimu bahwa engkau bukan termasuk orang-orang musyrik, padahal engkau belum bebas dari syirik ini.

فَإِنَّ اسْمَ الشِّرْكِ يَقَعُ عَلَى الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ مِنْهُ.
Sebab nama syirik berlaku pada sedikit maupun banyak.

وَإِذَا قُلْتَ: مَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ، فَاعْلَمْ أَنَّ هٰذَا حَالُ عَبْدٍ مَفْقُودٍ لِنَفْسِهِ، مَوْجُودٍ لِسَيِّدِهِ.
Apabila engkau mengucapkan: “Sesungguhnya hidupku dan matiku untuk Allah”, maka ketahuilah bahwa ini adalah keadaan seorang hamba yang lenyap dari kepentingan dirinya dan ada untuk Tuhannya.

وَأَنَّهُ إِنْ صَدَرَ مِمَّنْ رِضَاهُ وَغَضَبُهُ وَقِيَامُهُ وَقُعُودُهُ وَرَغْبَتُهُ فِي الْحَيَاةِ وَرَهْبَتُهُ مِنَ الْمَوْتِ لِأُمُورِ الدُّنْيَا، لَمْ يَكُنْ مُلَائِمًا لِلْحَالِ.
Dan jika ucapan itu keluar dari orang yang ridha, marah, berdiri, duduk, mencintai hidup, dan takut mati demi urusan dunia, maka ucapannya tidak sesuai dengan keadaannya.

وَإِذَا قُلْتَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ عَدُوُّكَ وَمُتَرَصِّدٌ لِصَرْفِ قَلْبِكَ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، حَسَدًا لَكَ عَلَى مُنَاجَاتِكَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُجُودِكَ لَهُ.
Apabila engkau mengucapkan: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”, maka ketahuilah bahwa setan itu adalah musuhmu, yang mengintai untuk memalingkan hatimu dari Allah عز وجل, karena dengki kepadamu atas munajatmu kepada Allah dan sujudmu kepada-Nya.

مَعَ أَنَّهُ لُعِنَ بِسَبَبِ سَجْدَةٍ وَاحِدَةٍ تَرَكَهَا وَلَمْ يُوَفَّقْ لَهَا.
Padahal ia sendiri dilaknat karena satu sujud saja yang ia tinggalkan dan tidak diberi taufik untuk melakukannya.

وَأَنَّ اسْتِعَاذَتَكَ بِاللهِ سُبْحَانَهُ مِنْهُ بِتَرْكِ مَا يُحِبُّهُ وَتَبْدِيلِهِ بِمَا يُحِبُّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، لَا بِمُجَرَّدِ قَوْلِكَ.
Dan ketahuilah bahwa perlindunganmu kepada Allah سبحانه dari setan itu ialah dengan meninggalkan apa yang disukai setan dan menggantinya dengan apa yang disukai Allah عز وجل, bukan sekadar ucapan lisan.

فَإِنَّ مَنْ قَصَدَهُ سَبُعٌ أَوْ عَدُوٌّ لِيَفْتَرِسَهُ أَوْ يَقْتُلَهُ، فَقَالَ: أَعُوذُ مِنْكَ بِذٰلِكَ الْحِصْنِ الْحَصِينِ، وَهُوَ ثَابِتٌ عَلَى مَكَانِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَنْفَعُهُ.
Sebab orang yang didatangi binatang buas atau musuh untuk menerkam atau membunuhnya, lalu ia berkata: “Aku berlindung darimu dengan benteng yang kokoh itu,” tetapi ia tetap diam di tempatnya, maka ucapan itu tidak akan bermanfaat baginya.

بَلْ لَا يُعِيذُهُ إِلَّا تَبْدِيلُ الْمَكَانِ.
Bahkan yang menyelamatkannya hanyalah berpindah tempat.

فَكَذٰلِكَ مَنْ يَتَّبِعُ الشَّهَوَاتِ الَّتِي هِيَ مَحَابُّ الشَّيْطَانِ وَمَكَارِهُ الرَّحْمٰنِ، فَلَا يُغْنِيهِ مُجَرَّدُ الْقَوْلِ.
Demikian pula orang yang mengikuti syahwat, yang merupakan kesukaan setan dan kebencian ar-Rahman, maka sekadar ucapan tidak akan mencukupinya.

فَلْيَقْتَرِنْ قَوْلُهُ بِالْعَزْمِ عَلَى التَّعَوُّذِ بِحِصْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ.
Maka hendaknya ucapannya disertai tekad untuk benar-benar berlindung di benteng Allah عز وجل dari kejahatan setan.

وَحِصْنُهُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ.
Dan benteng itu adalah “Lā ilāha illallāh.”

إِذْ قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فِيمَا أَخْبَرَ عَنْهُ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي، فَمَنْ دَخَلَ حِصْنِي أَمِنَ مِنْ عَذَابِي.
Karena Allah عز وجل berfirman, sebagaimana diberitakan oleh Nabi kita صلى الله عليه وسلم: “Lā ilāha illallāh adalah benteng-Ku. Barang siapa masuk ke benteng-Ku, ia aman dari azab-Ku.”

وَالْمُتَحَصِّنُ بِهِ لَا مَعْبُودَ لَهُ سِوَى اللهِ سُبْحَانَهُ.
Orang yang berlindung dengan benteng ini tidak memiliki sesembahan selain Allah سبحانه.

فَأَمَّا مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ، فَهُوَ فِي مَيْدَانِ الشَّيْطَانِ لَا فِي حِصْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, maka ia berada di lapangan setan, bukan di benteng Allah عز وجل.

وَاعْلَمْ أَنَّ مِنْ مَكَايِدِهِ أَنْ يَشْغَلَكَ فِي صَلَاتِكَ بِذِكْرِ الْآخِرَةِ وَتَدْبِيرِ فِعْلِ الْخَيْرَاتِ، لِيَمْنَعَكَ عَنْ فَهْمِ مَا تَقْرَأُ.
Ketahuilah bahwa termasuk tipu dayanya adalah menyibukkanmu dalam salat dengan mengingat akhirat dan mengatur amal-amal baik, agar ia menghalangimu dari memahami apa yang engkau baca.

فَاعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَا يَشْغَلُكَ عَنْ فَهْمِ مَعَانِي قِرَاءَتِكَ فَهُوَ وَسْوَاسٌ.
Maka ketahuilah bahwa segala sesuatu yang menyibukkanmu dari memahami makna bacaanmu adalah waswas.

فَإِنَّ حَرَكَةَ اللِّسَانِ غَيْرُ مَقْصُودَةٍ، بَلِ الْمَقْصُودُ مَعَانِيهَا.
Karena gerakan lisan itu sendiri bukan tujuan, tetapi yang dimaksud adalah makna-maknanya.

فَأَمَّا الْقِرَاءَةُ فَالنَّاسُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ.
Adapun dalam bacaan, manusia ada tiga golongan.

رَجُلٌ يَتَحَرَّكُ لِسَانُهُ وَقَلْبُهُ غَافِلٌ.
Seseorang yang lisannya bergerak, tetapi hatinya lalai.

وَرَجُلٌ يَتَحَرَّكُ لِسَانُهُ وَقَلْبُهُ يَتْبَعُ اللِّسَانَ، فَيَفْهَمُ وَيَسْمَعُ مِنْهُ كَأَنَّهُ يَسْمَعُهُ مِنْ غَيْرِهِ.
Dan seseorang yang lisannya bergerak, lalu hatinya mengikuti lisan itu, sehingga ia memahami dan mendengarnya seakan-akan mendengar dari orang lain.

وَهِيَ دَرَجَاتُ أَصْحَابِ الْيَمِينِ.
Ini adalah tingkatan أصحاب اليمين.

وَرَجُلٌ يَسْبِقُ قَلْبُهُ إِلَى الْمَعَانِي أَوَّلًا، ثُمَّ يَخْدُمُ اللِّسَانُ الْقَلْبَ فَيُتَرْجِمُهُ.
Dan seseorang yang hatinya lebih dahulu sampai kepada makna, kemudian lisannya melayani hati dengan menerjemahkan apa yang ada di dalamnya.

فَفَرْقٌ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ اللِّسَانُ تُرْجُمَانَ الْقَلْبِ، أَوْ يَكُونَ مُعَلِّمَ الْقَلْبِ.
Maka ada perbedaan antara lisan yang menjadi penerjemah hati dan lisan yang justru mengajarkan hati.

وَالْمُقَرَّبُونَ لِسَانُهُمْ تُرْجُمَانٌ يَتْبَعُ الْقَلْبَ، وَلَا يَتْبَعُهُ الْقَلْبُ.
Orang-orang yang didekatkan kepada Allah, lisannya menjadi penerjemah yang mengikuti hati, bukan hati yang mengikuti lisan.

وَتَفْصِيلُ تَرْجَمَةِ الْمَعَانِي أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، فَانْوِ بِهِ التَّبَرُّكَ لِابْتِدَاءِ الْقِرَاءَةِ لِكَلَامِ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Perincian penerjemahan makna itu ialah: jika engkau mengucapkan “Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm”, maka niatkan dengannya tabarruk untuk memulai bacaan kalam Allah سبحانه.

وَافْهَمْ أَنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِاللهِ سُبْحَانَهُ.
Dan pahamilah bahwa segala urusan itu seluruhnya dengan Allah سبحانه.

وَأَنَّ الْمُرَادَ بِالِاسْمِ هٰهُنَا هُوَ الْمُسَمَّى.
Dan bahwa yang dimaksud dengan “nama” di sini ialah Dzat yang dinamai.

وَإِذَا كَانَتِ الْأُمُورُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ، فَلَا جَرَمَ كَانَ الْحَمْدُ لِلَّهِ.
Jika segala urusan itu dengan Allah سبحانه, maka sudah semestinya segala puji bagi Allah.

وَمَعْنَاهُ أَنَّ الشُّكْرَ لِلَّهِ، إِذِ النِّعَمُ مِنَ اللهِ.
Maknanya ialah bahwa syukur itu bagi Allah, karena nikmat berasal dari Allah.

وَمَنْ يَرَى مِنْ غَيْرِ اللهِ نِعْمَةً، أَوْ يَقْصِدُ غَيْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ بِشُكْرٍ لَا مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مُسَخَّرٌ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَفِي تَسْمِيَتِهِ وَتَحْمِيدِهِ نُقْصَانٌ بِقَدْرِ الْتِفَاتِهِ إِلَى غَيْرِ اللهِ تَعَالَى.
Barang siapa melihat nikmat dari selain Allah, atau mensyukuri selain Allah bukan karena ia sekadar perantara yang ditundukkan oleh Allah عز وجل, maka pada tasmiyah dan tahmidnya ada kekurangan sebanding dengan sejauh mana ia berpaling kepada selain Allah Ta‘ala.

فَإِذَا قُلْتَ: الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، فَأَحْضِرْ فِي قَلْبِكَ جَمِيعَ أَنْوَاعِ لُطْفِهِ، لِتَتَّضِحَ لَكَ رَحْمَتُهُ، فَيَنْبَعِثَ بِهَا رَجَاؤُكَ.
Apabila engkau mengucapkan “Ar-Raḥmānir-Raḥīm”, maka hadirkan dalam hatimu seluruh macam kelembutan-Nya, agar rahmat-Nya menjadi jelas bagimu dan dari situlah harapanmu bangkit.

ثُمَّ اسْتَثِرْ مِنْ قَلْبِكَ التَّعْظِيمَ وَالْخَوْفَ بِقَوْلِكَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.
Kemudian bangkitkan dari hatimu pengagungan dan rasa takut dengan ucapanmu: “Māliki yaumid-dīn.”

أَمَّا الْعَظَمَةُ فَلِأَنَّهُ لَا مَلِكَ إِلَّا لَهُ.
Adapun pengagungan, karena tidak ada penguasa selain Dia.

وَأَمَّا الْخَوْفُ فَلِهَوْلِ يَوْمِ الْجَزَاءِ وَالْحِسَابِ الَّذِي هُوَ مَالِكُهُ.
Dan adapun rasa takut, maka karena kedahsyatan hari pembalasan dan hisab yang Dia-lah pemiliknya.

ثُمَّ جَدِّدِ الْإِخْلَاصَ بِقَوْلِكَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ.
Kemudian perbaruilah keikhlasanmu dengan ucapan: “Iyyāka na‘budu.”

وَجَدِّدِ الْعَجْزَ وَالِاحْتِيَاجَ وَالتَّبَرِّيَ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ بِقَوْلِكَ: وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.
Dan perbaruilah rasa lemah, kebutuhan, dan pelepasan diri dari daya dan kekuatan dengan ucapanmu: “Wa iyyāka nasta‘īn.”

وَتَحَقَّقْ أَنَّهُ مَا تَيَسَّرَتْ طَاعَتُكَ إِلَّا بِإِعَانَتِهِ.
Dan yakinkanlah bahwa ketaatanmu tidak menjadi mudah kecuali dengan pertolongan-Nya.

وَأَنَّ لَهُ الْمِنَّةَ إِذْ وَفَّقَكَ لِطَاعَتِهِ وَاسْتَخْدَمَكَ لِعِبَادَتِهِ وَجَعَلَكَ أَهْلًا لِمُنَاجَاتِهِ.
Dan bahwa Dialah yang memiliki karunia karena Dia telah memberimu taufik untuk taat kepada-Nya, menjadikanmu sibuk dengan ibadah kepada-Nya, dan menjadikanmu layak untuk bermunajat kepada-Nya.

وَلَوْ حَرَمَكَ التَّوْفِيقَ لَكُنْتَ مِنَ الْمَطْرُودِينَ مَعَ الشَّيْطَانِ اللَّعِينِ.
Seandainya Dia mengharamkan taufik atasmu, niscaya engkau termasuk orang yang terusir bersama setan terkutuk.

ثُمَّ إِذَا فَرَغْتَ مِنَ التَّعَوُّذِ وَمِنْ قَوْلِكَ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، وَمِنَ التَّحْمِيدِ، وَمِنْ إِظْهَارِ الْحَاجَةِ إِلَى الْإِعَانَةِ مُطْلَقًا، فَعَيِّنْ سُؤَالَكَ.
Kemudian apabila engkau telah selesai dari ta‘awudz, dari ucapan “Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm”, dari tahmid, dan dari menampakkan kebutuhan mutlak kepada pertolongan, maka tentukanlah permintaanmu.

وَلَا تَطْلُبْ إِلَّا أَهَمَّ حَاجَاتِكَ.
Dan janganlah engkau meminta kecuali kebutuhanmu yang paling penting.

وَقُلِ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، الَّذِي يَسُوقُنَا إِلَى جِوَارِكَ وَيُفْضِي بِنَا إِلَى مَرْضَاتِكَ.
Dan katakanlah: “Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm,” yaitu jalan yang membawa kami menuju kedekatan dengan-Mu dan mengantarkan kami kepada keridaan-Mu.

وَزِدْهُ شَرْحًا وَتَفْصِيلًا وَتَأْكِيدًا وَاسْتِشْهَادًا بِالَّذِينَ أَفَاضَ عَلَيْهِمْ نِعْمَةَ الْهِدَايَةِ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ.
Lalu jelaskan, rinci, tegaskan, dan kuatkan makna itu dengan menyebut orang-orang yang telah Engkau limpahi nikmat hidayah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

دُونَ الَّذِينَ غَضِبْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَالزَّائِغِينَ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ.
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, yaitu orang-orang kafir dan orang-orang yang menyimpang dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in.

ثُمَّ الْتَمِسِ الْإِجَابَةَ وَقُلْ: آمِينَ.
Kemudian mintalah pengabulan dan ucapkanlah: “Āmīn.”

فَإِذَا تَلَوْتَ الْفَاتِحَةَ كَذٰلِكَ، فَيَشْبَهُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الَّذِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِمْ، فِيمَا أَخْبَرَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، نِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ.
Apabila engkau membaca al-Fatihah dengan cara seperti itu, maka layaklah engkau termasuk orang-orang yang Allah Ta‘ala firmankan tentang mereka dalam hadis qudsi yang disampaikan Nabi صلى الله عليه وسلم: “Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Sebagian untuk-Ku dan sebagian untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

يَقُولُ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Sang hamba mengucapkan: “Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.”

فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: حَمِدَنِي عَبْدِي وَأَثْنَى عَلَيَّ.
Maka Allah عز وجل berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku dan menyanjung-Ku.”

وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ.
Itulah makna dari ucapan: “Sami‘allāhu liman ḥamidah.”

فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَكَ مِنْ صَلَاتِكَ حَظٌّ سِوَى ذِكْرِ اللهِ لَكَ فِي جَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ، فَنَاهِيكَ بِذٰلِكَ غَنِيمَةً.
Seandainya dari salatmu engkau tidak memperoleh bagian apa pun selain bahwa Allah mengingatmu dalam keagungan dan kebesaran-Nya, niscaya itu sudah cukup menjadi keuntungan besar bagimu.

فَكَيْفَ بِمَا تَرْجُوهُ مِنْ ثَوَابِهِ وَفَضْلِهِ؟
Lalu bagaimana lagi dengan pahala dan karunia yang engkau harapkan dari-Nya?

وَكَذٰلِكَ يَنْبَغِي أَنْ تَفْهَمَ مَا تَقْرَؤُهُ مِنَ السُّوَرِ، كَمَا سَيَأْتِي فِي كِتَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ.
Demikian pula seharusnya engkau memahami apa yang engkau baca dari surah-surah, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Tilāwat al-Qur’an.

فَلَا تَغْفُلْ عَنْ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَوَعْدِهِ وَوَعِيدِهِ وَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِ أَنْبِيَائِهِ وَذِكْرِ مِنَنِهِ وَإِحْسَانِهِ.
Maka janganlah engkau lalai dari perintah-Nya, larangan-Nya, janji-Nya, ancaman-Nya, nasihat-nasihat-Nya, kisah para nabi-Nya, serta penyebutan nikmat dan kebaikan-Nya.

وَلِكُلِّ وَاحِدٍ حَقٌّ.
Dan setiap bagian dari itu memiliki haknya masing-masing.

فَالرَّجَاءُ حَقُّ الْوَعْدِ.
Harapan adalah hak dari ayat-ayat janji.

وَالْخَوْفُ حَقُّ الْوَعِيدِ.
Rasa takut adalah hak dari ayat-ayat ancaman.

وَالْعَزْمُ حَقُّ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ.
Tekad adalah hak dari ayat-ayat perintah dan larangan.

وَالِاتِّعَاظُ حَقُّ الْمَوْعِظَةِ.
Mengambil pelajaran adalah hak dari nasihat.

وَالشُّكْرُ حَقُّ ذِكْرِ الْمِنَّةِ.
Syukur adalah hak dari penyebutan nikmat.

وَالِاعْتِبَارُ حَقُّ إِخْبَارِ الْأَنْبِيَاءِ.
Mengambil ibrah adalah hak dari kisah para nabi.

وَرُوِيَ أَنَّ زُرَارَةَ بْنَ أَوْفَى لَمَّا انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ، خَرَّ مَيِّتًا.
Diriwayatkan bahwa Zurārah bin Awfā, ketika sampai pada firman Allah Ta‘ala: “Maka apabila ditiup sangkakala,” ia jatuh meninggal dunia.

وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ إِذَا سَمِعَ قَوْلَهُ تَعَالَى: إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ، اضْطَرَبَ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَوْصَالُهُ.
Dan Ibrahim an-Nakha‘i, jika mendengar firman Allah Ta‘ala: “Apabila langit terbelah,” ia gemetar sampai seluruh persendiannya ikut bergetar.

وَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ وَاقِدٍ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يُصَلِّي مَغْلُوبًا عَلَيْهِ.
Abdullah bin Waqid berkata: “Aku melihat Ibnu Umar salat dalam keadaan seperti diliputi kekuatan yang besar.”

وَحَقٌّ لَهُ أَنْ يَحْتَرِقَ قَلْبُهُ بِوَعْدِ سَيِّدِهِ وَوَعِيدِهِ، فَإِنَّهُ عَبْدٌ مُذْنِبٌ ذَلِيلٌ بَيْنَ يَدَي جَبَّارٍ قَاهِرٍ.
Memang pantas hatinya terbakar oleh janji dan ancaman Tuhannya, karena ia adalah seorang hamba yang berdosa dan hina di hadapan Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Menundukkan.

وَتَكُونُ هٰذِهِ الْمَعَانِي بِحَسَبِ دَرَجَاتِ الْفَهْمِ.
Makna-makna ini hadir sesuai dengan tingkat pemahaman.

وَيَكُونُ الْفَهْمُ بِحَسَبِ وُفُورِ الْعِلْمِ وَصَفَاءِ الْقَلْبِ.
Dan pemahaman itu sendiri hadir sesuai dengan luasnya ilmu dan kejernihan hati.

وَدَرَجَاتُ ذٰلِكَ لَا تَنْحَصِرُ.
Tingkat-tingkatnya tidak terbatas.

وَالصَّلَاةُ مِفْتَاحُ الْقُلُوبِ، فِيهَا تَنْكَشِفُ أَسْرَارُ الْكَلِمَاتِ.
Salat adalah kunci hati. Di dalamnya tersingkap rahasia-rahasia kalimat.

فَهٰذَا حَقُّ الْقِرَاءَةِ، وَهُوَ حَقُّ الْأَذْكَارِ وَالتَّسْبِيحَاتِ أَيْضًا.
Inilah hak membaca Al-Qur’an, dan demikian pula hak zikir-zikir dan tasbih-tasbih.

ثُمَّ يُرَاعِي الْهَيْبَةَ فِي الْقِرَاءَةِ، فَيُرَتِّلُ وَلَا يَسْرُدُ، فَإِنَّ ذٰلِكَ أَيْسَرُ لِلتَّأَمُّلِ.
Kemudian hendaknya ia menjaga rasa haibah dalam bacaan, maka ia membaca dengan tartil dan tidak tergesa-gesa, karena hal itu lebih memudahkan untuk merenung.

وَيُفَرِّقُ بَيْنَ نَغَمَاتِهِ فِي آيَةِ الرَّحْمَةِ وَالْعَذَابِ وَالْوَعْدِ وَالْوَعِيدِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّعْظِيمِ وَالتَّمْجِيدِ.
Dan hendaknya ia membedakan nada bacaannya pada ayat rahmat, azab, janji, ancaman, pujian, pengagungan, dan pemuliaan.

كَانَ النَّخَعِيُّ إِذَا مَرَّ بِمِثْلِ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلٰهٍ، خَفَضَ صَوْتَهُ كَالْمُسْتَحْيِي أَنْ يَذْكُرَ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَلِيقُ بِهِ.
An-Nakha‘i, apabila melewati ayat seperti firman Allah عز وجل: “Allah tidak mengambil seorang anak pun dan tidak ada sesembahan lain bersama-Nya,” ia merendahkan suaranya seperti orang yang malu menyebut sesuatu yang tidak layak bagi Allah.

وَرُوِيَ أَنَّهُ يُقَالُ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْقَ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا.
Dan diriwayatkan bahwa akan dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah dan naiklah, serta tartilkan sebagaimana engkau mentartilkan di dunia.”

وَأَمَّا دَوَامُ الْقِيَامِ فَإِنَّهُ تَنْبِيهٌ عَلَى إِقَامَةِ الْقَلْبِ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى نَعْتٍ وَاحِدٍ مِنَ الْحُضُورِ.
Adapun استمرار berdiri, maka ia adalah peringatan agar hati tetap tegak bersama Allah عز وجل dalam satu sifat, yaitu kehadiran.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلٌ عَلَى الْمُصَلِّي مَا لَمْ يَلْتَفِتْ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Allah عز وجل menghadapkan rahmat-Nya kepada orang yang salat selama ia tidak menoleh.”

وَكَمَا تَجِبُ حِرَاسَةُ الرَّأْسِ وَالْعَيْنِ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى الْجِهَاتِ، فَكَذٰلِكَ تَجِبُ حِرَاسَةُ السِّرِّ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى غَيْرِ الصَّلَاةِ.
Sebagaimana kepala dan mata harus dijaga dari berpaling ke berbagai arah, demikian pula rahasia batin harus dijaga dari berpaling kepada selain salat.

فَإِذَا الْتَفَتَ إِلَى غَيْرِهِ فَذَكِّرْهُ بِاطِّلَاعِ اللهِ عَلَيْهِ، وَبِقُبْحِ التَّهَاوُنِ بِالْمُنَاجَى عِنْدَ غَفْلَةِ الْمُنَاجِي، لِيَعُودَ إِلَيْهِ.
Jika hati berpaling kepada selain salat, maka ingatkanlah ia bahwa Allah melihatnya, dan bahwa buruk sekali meremehkan Dzat yang diajak bermunajat sementara si munajat sendiri lalai, agar hati kembali lagi.

وَأَلْزَمُ لِخُشُوعِ الْقَلْبِ، فَإِنَّ الْخَلَاصَ عَنِ الِالْتِفَاتِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا ثَمَرَةُ الْخُشُوعِ.
Dan itu lebih kuat mengikat khusyuk hati, karena terbebas dari menoleh lahir dan batin adalah buah dari khusyuk.

وَمَهْمَا خَشَعَ الْبَاطِنُ خَشَعَ الظَّاهِرُ.
Setiap kali batin khusyuk, maka lahir pun akan khusyuk.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ رَأَى رَجُلًا مُصَلِّيًا يَعْبَثُ بِلِحْيَتِهِ: أَمَا هٰذَا لَوْ خَشَعَ قَلْبُهُ لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda ketika melihat seorang yang salat sedang bermain-main dengan janggutnya: “Seandainya hati orang ini khusyuk, niscaya anggota tubuhnya pun khusyuk.”

فَإِنَّ الرَّعِيَّةَ بِحُكْمِ الرَّاعِي.
Karena rakyat mengikuti keadaan pemimpinnya.

وَلِهٰذَا وَرَدَ فِي الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّاعِيَ وَالرَّعِيَّةَ.
Karena itu terdapat doa: “Ya Allah, perbaikilah pemimpin dan rakyatnya.”

وَهُوَ الْقَلْبُ وَالْجَوَارِحُ.
Yang dimaksud adalah hati dan anggota badan.

وَكَانَ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي صَلَاتِهِ كَأَنَّهُ وَتِدٌ.
Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه dalam salatnya seperti pasak yang kokoh.

وَابْنُ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَأَنَّهُ عُودٌ.
Ibnu az-Zubair رضي الله عنه seperti sebatang kayu.

وَبَعْضُهُمْ كَانَ يَسْكُنُ فِي رُكُوعِهِ بِحَيْثُ تَقَعُ الْعَصَافِيرُ عَلَيْهِ كَأَنَّهُ جَمَادٌ.
Dan sebagian mereka diam dalam rukuknya sampai burung-burung hinggap di atasnya seakan-akan ia benda mati.

وَكُلُّ ذٰلِكَ يَقْتَضِيهِ الطَّبْعُ بَيْنَ يَدَي مَنْ يُعَظِّمُ مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا.
Semua itu secara tabiat bisa terjadi ketika seseorang berada di hadapan tokoh dunia yang sangat ia agungkan.

فَكَيْفَ لَا يَتَقَاضَاهُ بَيْنَ يَدَي مَلِكِ الْمُلُوكِ عِنْدَ مَنْ يَعْرِفُ مَلِكَ الْمُلُوكِ؟
Lalu bagaimana mungkin hal itu tidak lebih dituntut ketika berdiri di hadapan Raja segala raja, bagi orang yang benar-benar mengenal Raja segala raja?

وَكُلُّ مَنْ يَطْمَئِنُّ بَيْنَ يَدَي غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَاشِعًا، وَتَضْطَرِبُ أَطْرَافُهُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ عَابِثًا، فَذٰلِكَ لِقُصُورِ مَعْرِفَتِهِ عَنْ جَلَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَنْ اطِّلَاعِهِ عَلَى سِرِّهِ وَضَمِيرِهِ.
Setiap orang yang dapat tenang dan khusyuk di hadapan selain Allah عز وجل, tetapi anggota tubuhnya justru bergerak-main ketika di hadapan Allah, maka itu karena kurangnya pengenalannya terhadap keagungan Allah dan terhadap pengawasan-Nya atas rahasia dan isi hatinya.

وَقَالَ عِكْرِمَةُ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ، قَالَ: قِيَامُهُ وَرُكُوعُهُ وَسُجُودُهُ وَجُلُوسُهُ.
Ikrimah berkata tentang firman Allah عز وجل: “Yang melihatmu ketika engkau berdiri dan perpindahanmu di antara orang-orang yang bersujud”, yaitu berdirinya, rukuknya, sujudnya, dan duduknya.

وَأَمَّا الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ فَيَنْبَغِي أَنْ تُجَدِّدَ عِنْدَهُمَا ذِكْرَ كِبْرِيَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Adapun rukuk dan sujud, maka hendaknya engkau memperbarui di dalamnya ingatan tentang kebesaran Allah سبحانه.

وَتَرْفَعَ يَدَيْكَ مُسْتَجِيرًا بِعَفْوِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عِقَابِهِ، بِتَجْدِيدِ نِيَّةٍ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan engkau mengangkat kedua tanganmu sambil berlindung dengan maaf Allah عز وجل dari siksa-Nya, dengan memperbarui niat dan mengikuti sunah Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم.

ثُمَّ تَسْتَأْنِفُ لَهُ ذُلًّا وَتَوَاضُعًا بِرُكُوعِكَ.
Kemudian engkau memperbarui kehinaan dan tawaduk untuk-Nya melalui rukukmu.

وَتَجْتَهِدُ فِي تَرْقِيقِ قَلْبِكَ وَتَجْدِيدِ خُشُوعِكَ.
Dan engkau bersungguh-sungguh melembutkan hatimu serta memperbarui kekhusyukanmu.

وَتَسْتَشْعِرُ ذُلَّكَ وَعِزَّ مَوْلَاكَ وَاتِّضَاعَكَ وَعُلُوَّ رَبِّكَ.
Dan engkau merasakan kehinaan dirimu, kemuliaan Tuhanmu, kerendahanmu, dan ketinggian Tuhanmu.

وَتَسْتَعِينُ عَلَى تَقْرِيرِ ذٰلِكَ فِي قَلْبِكَ بِلِسَانِكَ.
Dan untuk meneguhkan hal itu dalam hatimu, engkau menggunakan bantuan lisanmu.

فَتُسَبِّحُ رَبَّكَ وَتَشْهَدُ لَهُ بِالْعَظَمَةِ وَأَنَّهُ أَعْظَمُ مِنْ كُلِّ عَظِيمٍ.
Maka engkau bertasbih kepada Tuhanmu, bersaksi akan keagungan-Nya, dan bahwa Dia lebih agung daripada segala yang agung.

وَتُكَرِّرُ ذٰلِكَ عَلَى قَلْبِكَ لِتُؤَكِّدَهُ بِالتَّكْرَارِ.
Dan engkau mengulang-ulanginya pada hatimu untuk menguatkannya dengan pengulangan.

ثُمَّ تَرْتَفِعُ مِنْ رُكُوعِكَ رَاجِيًا أَنَّهُ رَاحِمٌ لَكَ.
Kemudian engkau bangkit dari rukuk sambil berharap bahwa Allah merahmatimu.

وَمُؤَكِّدًا لِلرَّجَاءِ فِي نَفْسِكَ بِقَوْلِكَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ.
Dan engkau menguatkan harapan itu dalam dirimu dengan ucapan: “Sami‘allāhu liman ḥamidah.”

أَيْ أَجَابَ لِمَنْ شَكَرَهُ.
Artinya: Allah mengabulkan orang yang memuji-Nya.

ثُمَّ تُرْدِفُ ذٰلِكَ الشُّكْرَ الْمُتَقَاضِي لِلْمَزِيدِ، فَتَقُولُ: رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ.
Kemudian engkau menyusulkannya dengan syukur yang menuntut tambahan nikmat, lalu engkau mengucapkan: “Rabbanā lakal-ḥamd.”

وَتُكْثِرُ الْحَمْدَ بِقَوْلِكَ: مِلْءَ السَّمٰوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ.
Dan engkau memperbanyak pujian dengan ucapan: “Mil’as-samāwāti wa mil’al-arḍ.”

ثُمَّ تَهْوِي إِلَى السُّجُودِ، وَهُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الِاسْتِكَانَةِ.
Kemudian engkau turun untuk sujud, dan itu adalah derajat paling tinggi dari ketundukan.

فَتُمَكِّنُ أَعَزَّ أَعْضَائِكَ، وَهُوَ الْوَجْهُ، مِنْ أَذَلِّ الْأَشْيَاءِ، وَهُوَ التُّرَابُ.
Maka engkau meletakkan anggota tubuhmu yang paling mulia, yaitu wajah, pada benda yang paling hina, yaitu tanah.

وَإِنْ أَمْكَنَكَ أَنْ لَا تَجْعَلَ بَيْنَهُمَا حَائِلًا فَتَسْجُدَ عَلَى الْأَرْضِ فَافْعَلْ.
Jika engkau mampu untuk tidak menjadikan penghalang antara keduanya dan langsung sujud di atas tanah, maka lakukanlah.

فَإِنَّهُ أَجْلَبُ لِلْخُشُوعِ وَأَدَلُّ عَلَى الذُّلِّ.
Karena hal itu lebih mendatangkan khusyuk dan lebih menunjukkan kerendahan diri.

وَإِذَا وَضَعْتَ نَفْسَكَ مَوْضِعَ الذُّلِّ فَاعْلَمْ أَنَّكَ وَضَعْتَهَا مَوْضِعَهَا وَرَدَدْتَ الْفَرْعَ إِلَى أَصْلِهِ.
Dan jika engkau telah meletakkan dirimu pada tempat kehinaan itu, maka ketahuilah bahwa engkau telah menempatkannya pada tempat yang semestinya dan mengembalikan cabang kepada asalnya.

فَإِنَّكَ مِنَ التُّرَابِ خُلِقْتَ وَإِلَيْهِ تَعُودُ.
Sebab engkau diciptakan dari tanah dan kepadanya engkau akan kembali.

فَعِنْدَ هٰذَا جَدِّدْ عَلَى قَلْبِكَ عَظَمَةَ اللهِ.
Pada saat itu, perbaruilah dalam hatimu keagungan Allah.

وَقُلْ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى.
Dan ucapkanlah: “Subḥāna rabbiyal-a‘lā.”

وَأَكِّدْهُ بِالتَّكْرَارِ.
Dan kuatkan makna itu dengan pengulangan.

فَإِنَّ الْكَرَّةَ الْوَاحِدَةَ ضَعِيفَةُ الْأَثَرِ.
Karena satu kali saja pengucapan, pengaruhnya lemah.

فَإِذَا رَقَّ قَلْبُكَ وَظَهَرَ ذٰلِكَ، فَلْتُصَدِّقْ رَجَاءَكَ فِي رَحْمَةِ اللهِ.
Apabila hatimu telah lembut dan hal itu tampak pada dirimu, maka benarkanlah harapanmu terhadap rahmat Allah.

فَإِنَّ رَحْمَتَهُ تَتَسَارَعُ إِلَى الضَّعْفِ وَالذُّلِّ، لَا إِلَى التَّكَبُّرِ وَالْبَطَرِ.
Sebab rahmat-Nya bersegera menuju orang yang lemah dan rendah hati, bukan kepada orang yang sombong dan angkuh.

فَارْفَعْ رَأْسَكَ مُكَبِّرًا وَسَائِلًا حَاجَتَكَ.
Maka angkatlah kepalamu sambil bertakbir dan memohon kebutuhanmu.

وَقَائِلًا: رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ، أَوْ مَا أَرَدْتَ مِنَ الدُّعَاءِ.
Dan ucapkanlah: “Rabbi-ghfir warḥam, dan maafkanlah apa yang Engkau ketahui,” atau doa-doa lain yang engkau kehendaki.

ثُمَّ أَكِّدِ التَّوَاضُعَ بِالتَّكْرَارِ، فَعُدْ إِلَى السُّجُودِ ثَانِيًا كَذٰلِكَ.
Kemudian kuatkan kembali tawadukmu dengan pengulangan, lalu kembalilah kepada sujud kedua seperti itu pula.

وَأَمَّا التَّشَهُّدُ فَإِذَا جَلَسْتَ لَهُ فَاجْلِسْ مُتَأَدِّبًا.
Adapun tasyahud, maka apabila engkau duduk untuknya, duduklah dengan penuh adab.

وَصَرِّحْ بِأَنَّ جَمِيعَ مَا تُدْلِي بِهِ مِنَ الصَّلَوَاتِ وَالطَّيِّبَاتِ، أَيْ مِنَ الْأَخْلَاقِ الطَّاهِرَةِ، لِلَّهِ.
Dan nyatakanlah bahwa semua penghormatan, doa, dan kebaikan yang engkau haturkan—yakni akhlak-akhlak yang suci—adalah milik Allah.

وَكَذٰلِكَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَهُوَ مَعْنَى التَّحِيَّاتِ.
Demikian pula kerajaan itu milik Allah, dan inilah makna dari التحيات.

وَأَحْضِرْ فِي قَلْبِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَخْصَهُ الْكَرِيمَ.
Hadirkanlah dalam hatimu Nabi صلى الله عليه وسلم dan sosok beliau yang mulia.

وَقُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Dan ucapkanlah: “As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh.”

وَلْيَصْدُقْ أَمَلُكَ فِي أَنَّهُ يَبْلُغُهُ، وَيَرُدُّ عَلَيْكَ مَا هُوَ أَوْفَى مِنْهُ.
Dan hendaknya harapanmu benar bahwa salam itu sampai kepada beliau, dan beliau membalas untukmu dengan yang lebih sempurna.

ثُمَّ تُسَلِّمُ عَلَى نَفْسِكَ وَعَلَى جَمِيعِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ.
Kemudian engkau memberi salam kepada dirimu dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh.

ثُمَّ تَأْمُلُ أَنْ يَرُدَّ اللهُ سُبْحَانَهُ عَلَيْكَ سَلَامًا وَافِيًا بِعَدَدِ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ.
Lalu berharaplah agar Allah سبحانه membalas salam kepadamu dengan balasan yang sempurna sebanyak jumlah hamba-hamba-Nya yang saleh.

ثُمَّ تَشْهَدُ لَهُ تَعَالَى بِالْوَحْدَانِيَّةِ، وَلِمُحَمَّدٍ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالرِّسَالَةِ.
Kemudian engkau bersaksi bagi Allah Ta‘ala akan keesaan-Nya, dan bagi Muhammad Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم akan kerasulannya.

مُجَدِّدًا عَهْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ بِإِعَادَةِ كَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ، وَمُسْتَأْنِفًا لِلتَّحَصُّنِ بِهِمَا.
Dengan itu engkau memperbarui perjanjianmu dengan Allah سبحانه melalui pengulangan dua kalimat syahadat, serta memperbarui perlindungan dirimu dengannya.

ثُمَّ ادْعُ فِي آخِرِ صَلَاتِكَ بِالدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ، مَعَ التَّوَاضُعِ وَالْخُشُوعِ وَالضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ وَصِدْقِ الرَّجَاءِ بِالْإِجَابَةِ.
Kemudian berdoalah pada akhir salatmu dengan doa-doa yang ma’tsur, disertai tawaduk, khusyuk, kerendahan diri, sungguh-sungguh memohon, dan harapan yang tulus akan dikabulkan.

وَأَشْرِكْ فِي دُعَائِكَ أَبَوَيْكَ وَسَائِرَ الْمُؤْمِنِينَ.
Sertakanlah dalam doamu kedua orang tuamu dan seluruh kaum mukminin.

وَاقْصِدْ عِنْدَ التَّسْلِيمِ السَّلَامَ عَلَى الْمَلَائِكَةِ وَالْحَاضِرِينَ.
Dan ketika salam, niatkan memberi salam kepada para malaikat dan orang-orang yang hadir.

وَانْوِ خَتْمَ الصَّلَاةِ بِهِ.
Dan niatkan dengan salam itu sebagai penutup salat.

وَاسْتَشْعِرْ شُكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ لِإِتْمَامِ هٰذِهِ الطَّاعَةِ.
Rasakanlah syukur kepada Allah سبحانه atas taufik-Nya untuk menyempurnakan ketaatan ini.

وَتَوَهَّمْ أَنَّكَ مُوَدِّعٌ لِصَلَاتِكَ هٰذِهِ، وَأَنَّكَ رُبَّمَا لَا تَعِيشُ لِمِثْلِهَا.
Dan bayangkanlah bahwa engkau sedang berpamitan dengan salatmu yang ini, dan boleh jadi engkau tidak akan hidup lagi untuk salat semisalnya.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلَّذِي أَوْصَاهُ: صَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepada orang yang beliau nasihati: “Salatlah seperti salat orang yang berpamitan.”

ثُمَّ أَشْعِرْ قَلْبَكَ الْوَجَلَ وَالْحَيَاءَ مِنَ التَّقْصِيرِ فِي الصَّلَاةِ.
Kemudian tanamkan dalam hatimu rasa takut dan malu atas kekurangan dalam salat.

وَخَفْ أَنْ لَا تُقْبَلَ صَلَاتُكَ.
Dan takutlah kalau-kalau salatmu tidak diterima.

وَأَنْ تَكُونَ مَمْقُوتًا بِذَنْبٍ ظَاهِرٍ أَوْ بَاطِنٍ، فَتُرَدَّ صَلَاتُكَ فِي وَجْهِكَ.
Dan takutlah bahwa engkau dibenci karena dosa lahir atau batin, sehingga salatmu ditolak kembali ke wajahmu.

وَتَرْجُو مَعَ ذٰلِكَ أَنْ يَقْبَلَهَا بِكَرَمِهِ وَفَضْلِهِ.
Namun bersamaan dengan itu, berharaplah agar Allah menerima salatmu dengan kemurahan dan karunia-Nya.

كَانَ يَحْيَى بْنُ وَثَّابٍ إِذَا صَلَّى مَكَثَ مَا شَاءَ اللهُ تُعْرَفُ عَلَيْهِ كَآبَةُ الصَّلَاةِ.
Yahya bin Waththab, apabila selesai salat, tetap diam selama Allah menghendaki, dan tampak pada dirinya kesedihan salat.

وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ يَمْكُثُ بَعْدَ الصَّلَاةِ سَاعَةً كَأَنَّهُ مَرِيضٌ.
Dan Ibrahim tetap diam sesaat setelah salat seakan-akan ia sedang sakit.

فَهٰذَا تَفْصِيلُ صَلَاةِ الْخَاشِعِينَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ.
Inilah rincian salat orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya, yang menjaga salat-salatnya, dan yang terus-menerus memelihara salatnya.

وَالَّذِينَ هُمْ يُنَاجُونَ اللهَ عَلَى قَدْرِ اسْتِطَاعَتِهِمْ فِي الْعُبُودِيَّةِ.
Mereka adalah orang-orang yang bermunajat kepada Allah sesuai kadar kemampuan mereka dalam penghambaan.

فَلْيَعْرِضِ الْإِنْسَانُ نَفْسَهُ عَلَى هٰذِهِ الصَّلَاةِ.
Maka hendaknya setiap orang membandingkan dirinya dengan salat seperti ini.

فَبِالْقَدْرِ الَّذِي يُسِّرَ لَهُ مِنْهُ يَنْبَغِي أَنْ يَفْرَحَ.
Sejauh kadar yang dimudahkan baginya darinya, sejauh itu pula ia patut bergembira.

وَعَلَى مَا يَفُوتُهُ يَنْبَغِي أَنْ يَتَحَسَّرَ.
Dan terhadap apa yang luput darinya, ia patut merasa menyesal.

وَفِي مُدَارَكَةِ ذٰلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يَجْتَهِدَ.
Dan untuk mengejar hal itu, ia harus bersungguh-sungguh.

وَأَمَّا صَلَاةُ الْغَافِلِينَ فَهِيَ مَخْطَرَةٌ، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَهُ اللهُ بِرَحْمَتِهِ.
Adapun salat orang-orang yang lalai, maka ia berada dalam bahaya, kecuali jika Allah meliputinya dengan rahmat-Nya.

وَالرَّحْمَةُ وَاسِعَةٌ، وَالْكَرَمُ فَائِضٌ.
Dan rahmat Allah itu luas, serta kemurahan-Nya melimpah.

فَنَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَتَغَمَّدَنَا بِرَحْمَتِهِ، وَيَغْمُرَنَا بِمَغْفِرَتِهِ، إِذْ لَا وَسِيلَةَ لَنَا إِلَّا الِاعْتِرَافُ بِالْعَجْزِ عَنْ الْقِيَامِ بِطَاعَتِهِ.
Maka kita memohon kepada Allah agar meliputi kita dengan rahmat-Nya dan menenggelamkan kita dalam ampunan-Nya, karena kita tidak memiliki jalan lain kecuali mengakui ketidakmampuan untuk menunaikan ketaatan kepada-Nya.

وَاعْلَمْ أَنَّ تَخْلِيصَ الصَّلَاةِ عَنِ الْآفَاتِ وَإِخْلَاصَهَا لِوَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَدَاءَهَا بِالشُّرُوطِ الْبَاطِنَةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا مِنَ الْخُشُوعِ وَالتَّعْظِيمِ وَالْحَيَاءِ، سَبَبٌ لِحُصُولِ أَنْوَارٍ فِي الْقَلْبِ.
Ketahuilah bahwa membersihkan salat dari berbagai cacat, mengikhlaskannya untuk wajah Allah عز وجل, dan menunaikannya dengan syarat-syarat batin yang telah kami sebutkan—berupa khusyuk, pengagungan, dan rasa malu—adalah sebab diperolehnya cahaya-cahaya dalam hati.

تَكُونُ تِلْكَ الْأَنْوَارُ مَفَاتِيحَ عُلُومِ الْمُكَاشَفَةِ.
Cahaya-cahaya itu menjadi kunci ilmu-ilmu mukasyafah.

فَأَوْلِيَاءُ اللهِ الْمُكَاشَفُونَ بِمَلَكُوتِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَسْرَارِ الرُّبُوبِيَّةِ، إِنَّمَا يُكَاشَفُونَ فِي الصَّلَاةِ، لَا سِيَّمَا فِي السُّجُودِ، إِذْ يَتَقَرَّبُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالسُّجُودِ.
Para wali Allah yang tersingkap bagi mereka malakut langit dan bumi serta rahasia-rahasia rububiyah, sesungguhnya mereka mendapatkan penyingkapan itu dalam salat, terutama saat sujud, karena seorang hamba mendekat kepada Tuhannya عز وجل melalui sujud.

وَلِذٰلِكَ قَالَ تَعَالَى: وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu.”

وَإِنَّمَا تَكُونُ مُكَاشَفَةُ كُلِّ مُصَلٍّ عَلَى قَدْرِ صَفَائِهِ عَنْ كُدُورَاتِ الدُّنْيَا.
Penyingkapan bagi setiap orang yang salat itu terjadi sesuai kadar kejernihannya dari kekeruhan dunia.

وَيَخْتَلِفُ ذٰلِكَ بِالْقُوَّةِ وَالضَّعْفِ وَالْقِلَّةِ وَالْكَثْرَةِ وَبِالْجَلَاءِ وَالْخَفَاءِ.
Dan hal itu berbeda-beda dari sisi kuat atau lemahnya, sedikit atau banyaknya, serta jelas atau samar.

حَتَّى يَنْكَشِفَ لِبَعْضِهِمُ الشَّيْءُ بِعَيْنِهِ، وَيَنْكَشِفَ لِبَعْضِهِمُ الشَّيْءُ بِمِثَالِهِ.
Sampai-sampai bagi sebagian mereka sesuatu tersingkap dalam hakikatnya, dan bagi sebagian yang lain tersingkap dalam bentuk misalnya.

كَمَا كُشِفَ لِبَعْضِهِمُ الدُّنْيَا فِي صُورَةِ جِيفَةٍ، وَالشَّيْطَانُ فِي صُورَةِ كَلْبٍ جَاثِمٍ عَلَيْهَا يَدْعُو إِلَيْهَا.
Sebagaimana bagi sebagian mereka dunia tersingkap dalam bentuk bangkai, dan setan dalam rupa anjing yang jongkok di atasnya sambil mengajak kepadanya.

وَيَخْتَلِفُ أَيْضًا بِمَا فِيهِ الْمُكَاشَفَةُ.
Dan berbeda pula pada hal apa penyingkapan itu terjadi.

فَبَعْضُهُمْ يَنْكَشِفُ لَهُ مِنْ صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى وَجَلَالِهِ.
Sebagian mereka tersingkap baginya sifat-sifat Allah Ta‘ala dan keagungan-Nya.

وَلِبَعْضِهِمْ مِنْ أَفْعَالِهِ.
Sebagian yang lain tersingkap baginya perbuatan-perbuatan-Nya.

وَلِبَعْضِهِمْ مِنْ دَقَائِقِ عُلُومِ الْمُعَامَلَةِ.
Dan sebagian yang lain tersingkap baginya rincian halus dari ilmu muamalah.

وَيَكُونُ لِتَعَيُّنِ تِلْكَ الْمَعَانِي فِي كُلِّ وَقْتٍ أَسْبَابٌ خَفِيَّةٌ لَا تُحْصَى.
Ada sebab-sebab tersembunyi yang tak terhitung, yang menjadikan makna tertentu tersingkap pada waktu tertentu.

وَأَشَدُّهَا مُنَاسَبَةُ الْهِمَّةِ.
Yang paling kuat di antaranya ialah kesesuaian himmah atau perhatian batin.

فَإِنَّهَا إِذَا كَانَتْ مَصْرُوفَةً إِلَى شَيْءٍ مُعَيَّنٍ كَانَ ذٰلِكَ أَوْلَى بِالِانْكِشَافِ.
Jika himmah itu tertuju kepada sesuatu yang tertentu, maka hal itulah yang lebih layak tersingkap.

وَلَمَّا كَانَتْ هٰذِهِ الْأُمُورُ لَا تَتَرَاءَى إِلَّا فِي الْمَرَايَا الصَّقِيلَةِ، وَكَانَتِ الْمِرْآةُ كُلُّهَا صَدِئَةً، فَاحْتَجَبَتْ عَنْهَا الْهِدَايَةُ، لَا لِبُخْلٍ مِنْ جِهَةِ الْمُنْعِمِ بِالْهِدَايَةِ، بَلْ لِخُبْثٍ مُتَرَاكِمِ الصَّدَإِ عَلَى مَصَبِّ الْهِدَايَةِ.
Karena perkara-perkara ini hanya tampak dalam cermin yang bersih, sedangkan cermin hati itu penuh karat, maka hidayah pun tertutup darinya. Bukan karena kemurahan pemberi hidayah itu kurang, tetapi karena karat yang menumpuk secara busuk di tempat turunnya hidayah.

تَسَارَعَتِ الْأَلْسِنَةُ إِلَى إِنْكَارِ مِثْلِ ذٰلِكَ، إِذِ الطَّبْعُ مَجْبُولٌ عَلَى إِنْكَارِ غَيْرِ الْحَاضِرِ.
Maka lidah-lidah pun cepat mengingkari hal seperti ini, sebab tabiat manusia memang terbiasa mengingkari hal yang tidak dihadapinya langsung.

وَلَوْ كَانَ لِلْجَنِينِ عَقْلٌ لَأَنْكَرَ إِمْكَانَ وُجُودِ الْإِنْسَانِ فِي مُتَّسَعِ الْهَوَاءِ.
Seandainya janin memiliki akal, niscaya ia akan mengingkari kemungkinan adanya manusia hidup di udara yang luas.

وَلَوْ كَانَ لِلطِّفْلِ تَمْيِيزٌ، لَرُبَّمَا أَنْكَرَ مَا يَزْعُمُ الْعُقَلَاءُ إِدْرَاكَهُ مِنْ مَلَكُوتِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ.
Seandainya seorang anak kecil sudah mampu membedakan, mungkin ia akan mengingkari apa yang diklaim oleh orang-orang berakal dapat dipahami dari malakut langit dan bumi.

وَهٰكَذَا الْإِنْسَانُ فِي كُلِّ طَوْرٍ يَكَادُ يُنْكِرُ مَا بَعْدَهُ.
Demikian pula manusia pada setiap tingkatan kehidupannya, hampir-hampir selalu mengingkari apa yang berada di atas tingkatannya.

وَمَنْ أَنْكَرَ طَوْرَ الْوِلَايَةِ لَزِمَهُ أَنْ يُنْكِرَ طَوْرَ النُّبُوَّةِ.
Barang siapa mengingkari maqam kewalian, maka konsekuensinya ia juga harus mengingkari maqam kenabian.

وَقَدْ خُلِقَ الْخَلْقُ أَطْوَارًا، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُنْكِرَ كُلُّ وَاحِدٍ مَا وَرَاءَ دَرَجَتِهِ.
Padahal makhluk diciptakan dalam tingkatan-tingkatan, maka tidak patut setiap orang mengingkari apa yang berada di atas derajatnya.

نَعَمْ، لَمَّا طَلَبُوا هٰذَا مِنَ الْمُجَادَلَةِ وَالْمُبَاحَثَةِ الْمُشَوِّشَةِ، وَلَمْ يَطْلُبُوهُ مِنْ تَصْفِيَةِ الْقُلُوبِ عَمَّا سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدُوهُ فَأَنْكَرُوهُ.
Benar, ketika mereka mencari hal ini melalui debat dan pembahasan yang mengacaukan, dan tidak mencarinya melalui penyucian hati dari selain Allah عز وجل, maka mereka tidak menemukannya lalu mengingkarinya.

وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْمُكَاشَفَةِ فَلَا أَقَلَّ مِنْ أَنْ يُؤْمِنَ بِالْغَيْبِ وَيُصَدِّقَ بِهِ إِلَى أَنْ يُشَاهِدَ بِالتَّجْرِبَةِ.
Barang siapa belum termasuk ahli mukasyafah, maka paling tidak hendaknya ia beriman kepada yang gaib dan membenarkannya sampai ia menyaksikannya melalui pengalaman.

فَفِي الْخَبَرِ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ الْحِجَابَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَبْدِهِ، وَوَاجَهَهُ بِوَجْهِهِ، وَقَامَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ لَدُنْ مَنْكِبَيْهِ إِلَى الْهَوَاءِ بِصَلَاتِهِ وَيُؤَمِّنُونَ عَلَى دُعَائِهِ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri dalam salat, Allah سبحانه mengangkat hijab antara Dia dan hamba-Nya, menghadapkan wajah-Nya kepadanya, dan para malaikat berdiri dari bahunya sampai ke langit dengan membawa salatnya serta mengaminkan doanya.”

وَإِنَّ الْمُصَلِّيَ لَيُنْثَرُ عَلَيْهِ الْبِرُّ مِنْ عِنَانِ السَّمَاءِ إِلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ.
Dan sungguh orang yang salat akan ditaburi kebaikan dari tepi langit sampai ke ubun-ubun kepalanya.

وَيُنَادِي مُنَادٍ: لَوْ يَعْلَمُ هٰذَا الْمُنَاجِي مَا التَفَتَ.
Dan ada penyeru yang berseru: “Seandainya orang yang bermunajat ini tahu apa yang ia peroleh, niscaya ia tidak akan menoleh.”

وَإِنَّ أَبْوَابَ السَّمَاءِ تُفْتَحُ لِلْمُصَلِّينَ.
Dan sesungguhnya pintu-pintu langit dibukakan bagi orang-orang yang salat.

وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ بِعَبْدِهِ الْمُصَلِّي.
Dan sesungguhnya Allah عز وجل membanggakan hamba-Nya yang sedang salat di hadapan para malaikat-Nya.

فَفَتْحُ أَبْوَابِ السَّمَاءِ، وَمُوَاجَهَةُ اللهِ تَعَالَى إِيَّاهُ بِوَجْهِهِ، كِنَايَةٌ عَنِ الْكَشْفِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ.
Dibukanya pintu-pintu langit dan Allah Ta‘ala menghadapinya dengan wajah-Nya adalah kiasan tentang penyingkapan yang telah kami sebutkan.

وَفِي التَّوْرَاةِ مَكْتُوبٌ: يَا ابْنَ آدَمَ، لَا تَعْجِزْ أَنْ تَقُومَ بَيْنَ يَدَيَّ مُصَلِّيًا بَاكِيًا، فَأَنَا اللهُ الَّذِي اقْتَرَبْتُ مِنْ قَلْبِكَ، وَبِالْغَيْبِ رَأَيْتَ نُورِي.
Di dalam Taurat tertulis: “Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah untuk berdiri di hadapan-Ku dalam salat sambil menangis. Aku adalah Allah yang mendekat kepada hatimu, dan melalui alam gaib engkau melihat cahaya-Ku.”

قَالَ: فَكُنَّا نَرَى أَنَّ تِلْكَ الرِّقَّةَ وَالْبُكَاءَ وَالْفُتُوحَ الَّتِي يَجِدُهَا الْمُصَلِّي فِي قَلْبِهِ مِنْ دُنُوِّ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ مِنَ الْقَلْبِ.
Ia berkata: maka kami memandang bahwa kelembutan, tangisan, dan keterbukaan batin yang dirasakan oleh orang yang salat di dalam hatinya berasal dari dekatnya Tuhan سبحانه kepada hati itu.

وَإِذَا لَمْ يَكُنْ هٰذَا الدُّنُوُّ هُوَ الْقُرْبَ بِالْمَكَانِ، فَلَا مَعْنَى لَهُ إِلَّا الدُّنُوَّ بِالْهِدَايَةِ وَالرَّحْمَةِ وَكَشْفِ الْحِجَابِ.
Jika kedekatan ini bukanlah kedekatan tempat, maka maknanya tidak lain adalah dekat dengan hidayah, rahmat, dan tersingkapnya hijab.

وَيُقَالُ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ عَجِبَ مِنْهُ عَشَرَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، كُلُّ صَفٍّ مِنْهُمْ عَشَرَةُ آلَافٍ، وَبَاهَى اللهُ بِهِ مِائَةَ أَلْفِ مَلَكٍ.
Dan dikatakan: sesungguhnya jika seorang hamba salat dua rakaat, maka sepuluh saf malaikat merasa takjub kepadanya, setiap saf terdiri dari sepuluh ribu malaikat, dan Allah membanggakannya di hadapan seratus ribu malaikat.

وَذٰلِكَ أَنَّ الْعَبْدَ قَدْ جَمَعَ فِي الصَّلَاةِ بَيْنَ الْقِيَامِ وَالْقُعُودِ وَالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
Sebab hamba itu telah menghimpun dalam salat antara berdiri, duduk, rukuk, dan sujud.

وَقَدْ فَرَّقَ اللهُ ذٰلِكَ عَلَى أَرْبَعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ.
Sedangkan Allah telah membagikan bentuk-bentuk ibadah itu kepada empat puluh ribu malaikat secara terpisah.

فَالْقَائِمُونَ لَا يَرْكَعُونَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالسَّاجِدُونَ لَا يَرْفَعُونَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَهٰكَذَا الرَّاكِعُونَ وَالْقَاعِدُونَ.
Para malaikat yang berdiri tidak rukuk sampai hari kiamat, para malaikat yang sujud tidak mengangkat kepala sampai hari kiamat, demikian pula para malaikat yang rukuk dan yang duduk.

فَإِنَّ مَا رَزَقَ اللهُ تَعَالَى الْمَلَائِكَةَ مِنَ الْقُرْبِ وَالرُّتْبَةِ لَازِمٌ مُسْتَمِرٌّ عَلَى حَالٍ وَاحِدٍ، لَا يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ.
Sebab kedekatan dan kedudukan yang Allah Ta‘ala anugerahkan kepada para malaikat itu bersifat tetap dan terus-menerus dalam satu keadaan, tidak bertambah dan tidak berkurang.

لِذٰلِكَ أَخْبَرَ اللهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ قَالُوا: وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ.
Karena itu Allah mengabarkan bahwa mereka berkata: “Tidak ada seorang pun di antara kami melainkan memiliki مقام yang معلوم.”

وَفَارَقَ الْإِنْسَانُ الْمَلَائِكَةَ فِي التَّرَقِّي مِنْ دَرَجَةٍ إِلَى دَرَجَةٍ.
Manusia berbeda dari malaikat dalam hal naik dari satu derajat ke derajat yang lain.

فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَيَسْتَفِيدُ مَزِيدَ قُرْبِهِ.
Sebab manusia terus-menerus dapat mendekat kepada Allah Ta‘ala dan memperoleh tambahan kedekatan.

وَبَابُ الْمَزِيدِ مَسْدُودٌ عَلَى الْمَلَائِكَةِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ.
Sedangkan pintu pertambahan itu tertutup bagi para malaikat عليهم السلام.

وَلَيْسَ لِكُلِّ وَاحِدٍ إِلَّا رُتْبَتُهُ الَّتِي هِيَ وَقْفٌ عَلَيْهِ.
Setiap malaikat hanya memiliki tingkatan yang memang ditetapkan baginya.

وَعِبَادَتُهُ الَّتِي هُوَ مَشْغُولٌ بِهَا، لَا يَنْتَقِلُ إِلَى غَيْرِهَا وَلَا يَفْتُرُ عَنْهَا.
Dan ibadah yang dengannya ia disibukkan, ia tidak berpindah kepada yang lain dan tidak pula merasa lelah darinya.

لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ.
“Mereka tidak menyombongkan diri dari ibadah kepada-Nya dan tidak pula merasa letih.”

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ.
“Mereka bertasbih malam dan siang, tidak pernah berhenti.”

وَمِفْتَاحُ مَزِيدِ الدَّرَجَاتِ هِيَ الصَّلَوَاتُ.
Dan kunci pertambahan derajat itu adalah salat-salat.

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ.
Allah عز وجل berfirman: “Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya.”

فَمَدَحَهُمْ بَعْدَ الْإِيمَانِ بِصَلَاةٍ مَخْصُوصَةٍ، وَهِيَ الْمَقْرُونَةُ بِالْخُشُوعِ.
Maka Allah memuji mereka setelah iman dengan salat yang khusus, yaitu salat yang disertai kekhusyukan.

ثُمَّ خَتَمَ أَوْصَافَ الْمُفْلِحِينَ بِالصَّلَاةِ أَيْضًا، فَقَالَ تَعَالَى: وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ.
Kemudian Allah juga menutup sifat-sifat orang yang beruntung dengan salat, lalu berfirman: “Dan mereka yang menjaga salat-salatnya.”

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى فِي ثَمَرَةِ تِلْكَ الصِّفَاتِ: أُولٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ۝ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.
Lalu Allah Ta‘ala berfirman tentang buah dari sifat-sifat itu: “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yaitu yang mewarisi Firdaus, mereka kekal di dalamnya.”

فَوَصَفَهُمْ بِالْفَلَاحِ أَوَّلًا، وَبِوِرَاثَةِ الْفِرْدَوْسِ آخِرًا.
Jadi Allah menyifati mereka dengan keberuntungan pada awalnya, dan dengan mewarisi Firdaus pada akhirnya.

وَمَا عِنْدِي أَنَّ هَذْرَمَةَ اللِّسَانِ مَعَ غَفْلَةِ الْقَلْبِ تَنْتَهِي إِلَى هٰذَا الْحَدِّ.
Menurutku, ocehan lisan yang disertai kelalaian hati tidak akan sampai kepada derajat ini.

وَلِذٰلِكَ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَضْدَادِهِمْ: مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ.
Karena itu Allah عز وجل berfirman tentang lawan-lawan mereka: “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar?” Mereka menjawab: “Kami dahulu bukan termasuk orang-orang yang salat.”

فَالْمُصَلُّونَ هُمْ وَرَثَةُ الْفِرْدَوْسِ.
Maka orang-orang yang benar-benar salat itulah pewaris Firdaus.

وَهُمُ الْمُشَاهِدُونَ لِنُورِ اللهِ تَعَالَى، وَالْمُتَمَتِّعُونَ بِقُرْبِهِ وَدُنُوِّهِ مِنْ قُلُوبِهِمْ.
Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan cahaya Allah Ta‘ala dan menikmati kedekatan-Nya serta dekatnya rahmat-Nya kepada hati mereka.

نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنَا مِنْهُمْ.
Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk golongan mereka.

وَأَنْ يُعِيذَنَا مِنْ عُقُوبَةِ مَنْ تَزَيَّنَتْ أَقْوَالُهُ وَقَبُحَتْ أَفْعَالُهُ.
Dan agar Dia melindungi kita dari hukuman orang yang ucapannya indah tetapi amalnya buruk.

إِنَّهُ الْكَرِيمُ الْمَنَّانُ الْقَدِيمُ الْإِحْسَانِ.
Sesungguhnya Dia Maha Mulia, Maha Pemberi nikmat, dan sejak dahulu Maha Baik.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى.
Dan semoga Allah melimpahkan salawat kepada setiap hamba pilihan-Nya.