Penjelasan Tentang Obat yang Bermanfaat Untuk Menghadirkan Hati.
بَيَانُ الدَّوَاءِ النَّافِعِ فِي حُضُورِ الْقَلْبِ.
Penjelasan tentang obat yang bermanfaat untuk menghadirkan hati.
اِعْلَمْ
أَنَّ الْمُؤْمِنَ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مُعَظِّمًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
وَخَائِفًا مِنْهُ، وَرَاجِيًا لَهُ، وَمُسْتَحْيِيًا مِنْ تَقْصِيرِهِ.
Ketahuilah bahwa seorang mukmin pasti memiliki pengagungan kepada Allah عز وجل,
rasa takut kepada-Nya, harapan kepada-Nya, dan rasa malu atas kekurangannya.
فَلَا
يَنْفَكُّ عَنْ هٰذِهِ الْأَحْوَالِ بَعْدَ إِيمَانِهِ، وَإِنْ كَانَتْ قُوَّتُهَا
بِقَدْرِ قُوَّةِ يَقِينِهِ.
Keadaan-keadaan ini tidak akan terpisah darinya setelah ia beriman, meskipun
kekuatannya berbeda-beda sesuai dengan kekuatan keyakinannya.
فَانْفِكَاكُهُ
عَنْهَا فِي الصَّلَاةِ لَا سَبَبَ لَهُ إِلَّا تَفَرُّقُ الْفِكْرِ وَتَقْسِيمُ
الْخَاطِرِ وَغَيْبَةُ الْقَلْبِ عَنِ الْمُنَاجَاةِ وَالْغَفْلَةُ عَنِ
الصَّلَاةِ.
Maka hilangnya keadaan-keadaan itu saat salat tidak memiliki sebab selain
tercerai-berainya pikiran, bercabangnya lintasan hati, tidak hadirnya hati dari
munajat, dan lalainya seseorang dari salatnya.
وَلَا
يُلْهِي عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا الْخَوَاطِرُ الْوَارِدَةُ الشَّاغِلَةُ.
Tidak ada yang melalaikan dari salat kecuali lintasan-lintasan pikiran yang
datang dan menyibukkan.
فَالدَّوَاءُ
فِي إِحْضَارِ الْقَلْبِ هُوَ دَفْعُ تِلْكَ الْخَوَاطِرِ.
Maka obat untuk menghadirkan hati ialah menolak lintasan-lintasan pikiran itu.
وَلَا
يُدْفَعُ الشَّيْءُ إِلَّا بِدَفْعِ سَبَبِهِ، فَلْتَعْلَمْ سَبَبَهُ.
Sesuatu tidak dapat ditolak kecuali dengan menolak sebabnya, maka hendaklah
engkau mengetahui sebabnya.
وَسَبَبُ
مَوَارِدِ الْخَوَاطِرِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ أَمْرًا خَارِجًا، أَوْ أَمْرًا فِي
ذَاتِهِ بَاطِنًا.
Sebab datangnya lintasan-lintasan hati itu adakalanya perkara luar, dan
adakalanya perkara batin dalam diri seseorang.
أَمَّا
الْخَارِجُ فَمَا يَقْرَعُ السَّمْعَ أَوْ يَظْهَرُ لِلْبَصَرِ.
Adapun yang luar, maka ia adalah sesuatu yang didengar telinga atau dilihat
mata.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ قَدْ يَخْتَطِفُ الْهَمَّ، حَتَّى يَتْبَعَهُ وَيَتَصَرَّفَ فِيهِ.
Hal itu dapat mencuri perhatian, sehingga pikiran mengikutinya dan sibuk
dengannya.
ثُمَّ
تَنْجَرُّ مِنْهُ الْفِكْرَةُ إِلَى غَيْرِهِ، وَيَتَسَلْسَلُ.
Lalu dari situ pikiran tertarik kepada hal lain, kemudian berantai terus.
وَيَكُونُ
الْإِبْصَارُ سَبَبًا لِلِافْتِكَارِ، ثُمَّ تَصِيرُ بَعْضُ تِلْكَ الْأَفْكَارِ
سَبَبًا لِلْبَعْضِ.
Penglihatan menjadi sebab munculnya pikiran, lalu sebagian pikiran itu menjadi
sebab bagi sebagian yang lain.
وَمَنْ
قَوِيَتْ نِيَّتُهُ وَعَلَتْ هِمَّتُهُ لَمْ يُلْهِهِ مَا جَرَى عَلَى حَوَاسِّهِ.
Orang yang kuat niatnya dan tinggi himmahnya tidak akan dilalaikan oleh apa
yang lewat pada indra-indranya.
وَلٰكِنَّ
الضَّعِيفَ لَا بُدَّ أَنْ يَتَفَرَّقَ بِهِ فِكْرُهُ.
Adapun orang yang lemah, pikirannya pasti akan tercerai-berai karenanya.
وَعِلَاجُهُ
قَطْعُ هٰذِهِ الْأَسْبَابِ، بِأَنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ، أَوْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتٍ
مُظْلِمٍ.
Obatnya ialah memutus sebab-sebab itu, yaitu dengan menundukkan pandangan atau
salat di tempat yang gelap.
أَوْ
لَا يَتْرُكَ بَيْنَ يَدَيْهِ مَا يَشْغَلُ حِسَّهُ.
Atau dengan tidak meletakkan di hadapannya sesuatu yang menyibukkan indranya.
وَيَقْرُبَ
مِنْ حَائِطٍ عِنْدَ صَلَاتِهِ حَتَّى لَا تَتَّسِعَ مَسَافَةُ بَصَرِهِ.
Dan mendekat ke dinding ketika salat agar ruang pandangnya tidak terlalu luas.
وَيَحْتَرِزَ
مِنَ الصَّلَاةِ عَلَى الشَّوَارِعِ.
Dan menghindari salat di jalan-jalan.
وَفِي
الْمَوَاضِعِ الْمَنْقُوشَةِ الْمَصْنُوعَةِ، وَعَلَى الْفُرُشِ الْمَصْبُوغَةِ.
Juga di tempat-tempat yang penuh ukiran dan hiasan, serta di atas hamparan yang
bercorak.
وَلِذٰلِكَ
كَانَ الْمُتَعَبِّدُونَ يَتَعَبَّدُونَ فِي بَيْتٍ صَغِيرٍ مُظْلِمٍ، سَعَتُهُ
قَدْرُ السُّجُودِ، لِيَكُونَ ذٰلِكَ أَجْمَعَ لِلْهَمِّ.
Karena itu para ahli ibadah dahulu beribadah di rumah kecil yang gelap, hanya
seluas tempat sujud, agar perhatian hati lebih terkumpul.
وَالْأَقْوِيَاءُ
مِنْهُمْ كَانُوا يَحْضُرُونَ الْمَسَاجِدَ وَيَغُضُّونَ الْبَصَرَ، وَلَا
يُجَاوِزُونَ بِهِ مَوْضِعَ السُّجُودِ.
Adapun yang kuat di antara mereka tetap hadir di masjid, namun mereka
menundukkan pandangan dan tidak melampaukannya dari tempat sujud.
وَيَرَوْنَ
كَمَالَ الصَّلَاةِ فِي أَنْ لَا يَعْرِفُوا مَنْ عَلَى يَمِينِهِمْ وَشِمَالِهِمْ.
Mereka memandang kesempurnaan salat itu terletak pada keadaan tidak mengetahui
siapa yang berada di kanan dan kiri mereka.
وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا لَا يَدَعُ فِي مَوْضِعِ الصَّلَاةِ
مُصْحَفًا وَلَا سَيْفًا إِلَّا نَزَعَهُ، وَلَا كِتَابًا إِلَّا مَحَاهُ.
Ibnu Umar رضي
الله عنهما tidak membiarkan di tempat salat ada mushaf, pedang, atau
tulisan apa pun, kecuali ia menjauhkannya atau menghapusnya.
وَأَمَّا
الْأَسْبَابُ الْبَاطِنَةُ فَهِيَ أَشَدُّ.
Adapun sebab-sebab batin, maka ia lebih kuat dan lebih sulit.
فَإِنَّ
مَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَوْدِيَةِ الدُّنْيَا لَا يَنْحَصِرُ
فِكْرُهُ فِي فَنٍّ وَاحِدٍ.
Sebab orang yang perhatiannya telah bercabang dalam berbagai lembah dunia,
pikirannya tidak akan terbatas pada satu hal saja.
بَلْ
لَا يَزَالُ يَطِيرُ مِنْ جَانِبٍ إِلَى جَانِبٍ.
Bahkan ia akan terus terbang dari satu sisi ke sisi yang lain.
وَغَضُّ
الْبَصَرِ لَا يُغْنِيهِ.
Maka menundukkan pandangan saja tidak cukup baginya.
فَإِنَّ
مَا وَقَعَ فِي الْقَلْبِ مِنْ قَبْلُ كَافٍ لِلشُّغْلِ.
Karena apa yang telah tertanam dalam hati sebelumnya sudah cukup untuk
menyibukkan.
فَهٰذَا
طَرِيقُهُ أَنْ يَرُدَّ النَّفْسَ قَهْرًا إِلَى فَهْمِ مَا يَقْرَؤُهُ فِي
الصَّلَاةِ، وَيُشْغِلَهَا بِهِ عَنْ غَيْرِهِ.
Maka cara mengobatinya ialah dengan memaksa jiwa untuk kembali memahami apa
yang dibaca dalam salat, dan menyibukkannya dengan itu dari selainnya.
وَيُعِينُهُ
عَلَى ذٰلِكَ أَنْ يَسْتَعِدَّ لَهُ قَبْلَ التَّحْرِيمِ بِالصَّلَاةِ، بِأَنْ
يُحَدِّثَ عَلَى نَفْسِهِ ذِكْرَ الْآخِرَةِ، وَمَوْقِفَ الْمُنَاجَاةِ، وَخَطَرَ
الْمَقَامِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَهُوَ الْمُطَّلِعُ.
Yang membantunya dalam hal itu ialah mempersiapkan diri sebelum takbiratul
ihram, dengan mengingatkan dirinya tentang akhirat, موقف munajat, dan betapa berbahayanya berdiri
di hadapan Allah سبحانه
yang Maha Mengetahui.
وَيُفْرِغَ
قَلْبَهُ قَبْلَ التَّحْرِيمِ بِالصَّلَاةِ عَمَّا يُهِمُّهُ.
Dan hendaknya ia mengosongkan hatinya sebelum takbir dari hal-hal yang
menyibukkannya.
فَلَا
يَتْرُكُ لِنَفْسِهِ شُغْلًا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ خَاطِرُهُ.
Jangan ia biarkan ada satu kesibukan pun bagi dirinya yang dapat ditoleh oleh
pikirannya.
قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ:
إِنِّي نَسِيتُ أَنْ أَقُولَ لَكَ: خَمِّرِ الْقِدْرَ الَّذِي فِي الْبَيْتِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda kepada Utsman bin Abi Syaibah: “Aku lupa mengatakan
kepadamu agar engkau menutup periuk yang ada di rumah.”
فَإِنَّهُ
لَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الْبَيْتِ شَيْءٌ يَشْغَلُ النَّاسَ عَنْ
صَلَاتِهِمْ.
Sebab tidak sepatutnya ada sesuatu di rumah yang menyibukkan orang-orang dari
salat mereka.
فَهٰذَا
طَرِيقُ تَسْكِينِ الْأَفْكَارِ.
Inilah cara menenangkan pikiran-pikiran.
فَإِنْ
كَانَ لَا يَسْكُنُ هَوَائِجُ أَفْكَارِهِ بِهٰذَا الدَّوَاءِ الْمُسَكِّنِ، فَلَا
يُنْجِيهِ إِلَّا الْمُسَهِّلُ الَّذِي يَقْمَعُ مَادَّةَ الدَّاءِ مِنْ أَعْمَاقِ
الْعُرُوقِ.
Jika kebutuhan-kebutuhan pikirannya tidak menjadi tenang dengan obat penenang
ini, maka tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali obat pembersih yang
memotong sumber penyakit itu dari akar-akarnya.
وَهُوَ
أَنْ يَنْظُرَ فِي الْأُمُورِ الصَّارِفَةِ الشَّاغِلَةِ عَنْ إِحْضَارِ الْقَلْبِ.
Yaitu dengan meneliti hal-hal yang mengalihkan dan menyibukkan hati dari
kehadiran.
وَلَا
شَكَّ أَنَّهَا تَعُودُ إِلَى مُهِمَّاتِهِ، وَأَنَّهَا إِنَّمَا صَارَتْ
مُهِمَّاتٍ لِشَهَوَاتِهِ.
Tidak diragukan bahwa semuanya kembali kepada perkara-perkara yang dianggap
penting olehnya, dan itu menjadi penting hanya karena syahwatnya.
فَيُعَاقِبُ
نَفْسَهُ بِالنُّزُوعِ عَنْ تِلْكَ الشَّهَوَاتِ وَقَطْعِ تِلْكَ الْعَلَائِقِ.
Maka hendaknya ia menghukum dirinya dengan melepaskan diri dari syahwat-syahwat
itu dan memutus keterikatan-keterikatan itu.
فَكُلُّ
مَا يَشْغَلُهُ عَنْ صَلَاتِهِ فَهُوَ ضِدُّ دِينِهِ وَجُنْدُ إِبْلِيسَ عَدُوِّهِ.
Segala sesuatu yang menyibukkannya dari salat adalah lawan dari agamanya dan
tentara Iblis, musuhnya.
فَإِمْسَاكُهُ
أَضَرُّ عَلَيْهِ مِنْ إِخْرَاجِهِ.
Mempertahankannya lebih berbahaya baginya daripada menyingkirkannya.
فَيَتَخَلَّصُ
مِنْهُ بِإِخْرَاجِهِ.
Maka ia melepaskan diri darinya dengan menyingkirkannya.
كَمَا
رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا لَبِسَ الْخَمِيصَةَ
الَّتِي أَتَاهُ بِهَا أَبُو جَهْمٍ، وَعَلَيْهَا عَلَمٌ، وَصَلَّى بِهَا،
نَزَعَهَا بَعْدَ صَلَاتِهِ.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم ketika mengenakan baju bergaris yang
dihadiahkan Abu Jahm, lalu beliau salat dengannya, beliau melepaskannya setelah
salat.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اذْهَبُوا بِهَا إِلَى أَبِي جَهْمٍ، فَإِنَّهَا
أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي، وَائْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Bawalah baju ini kembali kepada Abu Jahm, karena ia
tadi telah melalaikanku dari salatku. Bawalah kepadaku pakaian biasa milik Abu
Jahm.”
وَأَمَرَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَجْدِيدِ شِرَاكِ نَعْلِهِ،
ثُمَّ نَظَرَ إِلَيْهِ فِي صَلَاتِهِ إِذْ كَانَ جَدِيدًا، فَأَمَرَ أَنْ يُنْزَعَ
مِنْهَا، وَيُرَدَّ الشِّرَاكُ الْخَلِقُ.
Dan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم pernah memerintahkan agar tali sandalnya diperbarui, kemudian
beliau melihatnya dalam salat karena masih baru, lalu beliau memerintahkan agar
tali itu dilepas dan dikembalikan tali yang lama.
وَكَانَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِ احْتَذَى نَعْلًا فَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا،
فَسَجَدَ وَقَالَ: تَوَاضَعْتُ لِرَبِّي عَزَّ وَجَلَّ كَيْلَا يَمْقُتَنِي.
Dan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم pernah memakai sandal yang bagus lalu beliau merasa kagum
dengan keindahannya, maka beliau bersujud dan berkata: “Aku merendahkan diri
kepada Tuhanku عز وجل
agar Dia tidak murka kepadaku.”
ثُمَّ
خَرَجَ بِهَا فَدَفَعَهَا إِلَى أَوَّلِ سَائِلٍ لَقِيَهُ.
Kemudian beliau keluar dengannya lalu memberikannya kepada orang pertama yang
meminta.
ثُمَّ
أَمَرَ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ يَشْتَرِيَ لَهُ نَعْلَيْنِ
سَبْتِيَّتَيْنِ جَرْدَاوَيْنِ، فَلَبِسَهُمَا.
Lalu beliau memerintahkan Ali رضي
الله عنه untuk membelikan baginya sepasang sandal sederhana tanpa
hiasan, lalu beliau memakainya.
وَكَانَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ خَاتَمٌ مِنْ ذَهَبٍ قَبْلَ
التَّحْرِيمِ، وَكَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَرَمَى بِهِ، وَقَالَ: شَغَلَنِي
هٰذَا، نَظْرَةٌ إِلَيْهِ وَنَظْرَةٌ إِلَيْكُمْ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم pernah memakai cincin emas di tangannya sebelum diharamkan,
lalu ketika berada di atas mimbar beliau melemparkannya sambil berkata: “Benda
ini menyibukkanku; sekali aku melihat kepadanya dan sekali aku melihat kepada
kalian.”
وَرُوِيَ
أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ صَلَّى فِي حَائِطٍ، وَفِيهِ شَجَرٌ، فَأَعْجَبَهُ دُبْسِيٌّ
طَارَ فِي الشَّجَرِ يَلْتَمِسُ مَخْرَجًا، فَأَتْبَعَهُ بَصَرُهُ سَاعَةً، ثُمَّ
لَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى.
Diriwayatkan bahwa Abu Talhah salat di kebun miliknya yang di dalamnya ada
pepohonan. Ia tertarik pada seekor burung kecil yang terbang di antara
pepohonan mencari jalan keluar, lalu pandangannya mengikutinya sejenak, dan
setelah itu ia tidak tahu berapa rakaat yang telah ia salatkan.
فَذَكَرَ
لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصَابَهُ مِنَ الْفِتْنَةِ،
ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هُوَ صَدَقَةٌ، فَضَعْهُ حَيْثُ شِئْتَ.
Lalu ia menceritakan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم apa yang menimpanya
berupa fitnah itu, kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, kebun ini aku
sedekahkan, maka tempatkanlah di mana engkau kehendaki.”
وَعَنْ
رَجُلٍ آخَرَ أَنَّهُ صَلَّى فِي حَائِطٍ لَهُ، وَالنَّخْلُ مُطَوَّقَةٌ
بِثَمَرِهَا، فَنَظَرَ إِلَيْهَا فَأَعْجَبَتْهُ، وَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى.
Dan dari seorang lelaki lain diriwayatkan bahwa ia salat di kebun miliknya,
sedangkan pohon-pohon kurma penuh dengan buah. Ia memandangnya lalu merasa
kagum, dan setelah itu ia tidak tahu berapa rakaat yang telah ia salatkan.
فَذَكَرَ
ذٰلِكَ لِعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَقَالَ: هُوَ صَدَقَةٌ، فَاجْعَلْهُ فِي
سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Lalu ia menceritakan hal itu kepada Utsman رضي الله عنه dan berkata: “Kebun
ini menjadi sedekah, maka jadikanlah ia di jalan Allah عز وجل.”
فَبَاعَهُ
عُثْمَانُ بِخَمْسِينَ أَلْفًا.
Maka Utsman menjualnya seharga lima puluh ribu.
فَكَانُوا
يَفْعَلُونَ ذٰلِكَ قَطْعًا لِمَادَّةِ الْفِكْرِ، وَكَفَّارَةً لِمَا جَرَى مِنْ
نُقْصَانِ الصَّلَاةِ.
Mereka melakukan semua itu untuk memutus sumber pikiran yang mengganggu, dan
sebagai penebus atas kekurangan yang terjadi dalam salat.
وَهٰذَا
هُوَ الدَّوَاءُ الْقَاطِعُ لِمَادَّةِ الْعِلَّةِ، وَلَا يُغْنِي غَيْرُهُ.
Inilah obat yang benar-benar memotong sumber penyakit itu, dan selainnya tidak
mencukupi.
فَأَمَّا
مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ التَّلَطُّفِ بِالتَّسْكِينِ وَالرَّدِّ إِلَى فَهْمِ
الذِّكْرِ، فَذٰلِكَ يَنْفَعُ فِي الشَّهَوَاتِ الضَّعِيفَةِ وَالْهِمَمِ الَّتِي
لَا تَشْغَلُ إِلَّا حَوَاشِيَ الْقَلْبِ.
Adapun apa yang telah kami sebutkan berupa kelembutan cara menenangkan pikiran
dan mengembalikannya kepada pemahaman zikir, maka itu bermanfaat bagi syahwat
yang lemah dan perhatian-perhatian yang hanya menyibukkan pinggiran hati.
فَأَمَّا
الشَّهْوَةُ الْقَوِيَّةُ الْمُرْهِقَةُ فَلَا يَنْفَعُ فِيهَا التَّسْكِينُ.
Tetapi untuk syahwat yang kuat dan melelahkan, cara menenangkan saja tidak
bermanfaat.
بَلْ
لَا تَزَالُ تُجَاذِبُهَا وَتُجَاذِبُكَ، ثُمَّ تَغْلِبُكَ، وَتَنْقَضِي جَمِيعُ
صَلَاتِكَ فِي شُغْلِ الْمُجَاذَبَةِ.
Bahkan syahwat itu akan terus menarik pikiran dan menarikmu, kemudian
mengalahkanmu, sehingga seluruh salatmu habis dalam pergulatan melawannya.
وَمَثَلُهُ
رَجُلٌ تَحْتَ شَجَرَةٍ أَرَادَ أَنْ يَصْفُوَ لَهُ فِكْرُهُ، وَكَانَتْ أَصْوَاتُ
الْعَصَافِيرِ تُشَوِّشُ عَلَيْهِ.
Perumpamaannya seperti seseorang yang berada di bawah pohon dan ingin
menjernihkan pikirannya, tetapi suara burung-burung mengganggunya.
فَلَمْ
يَزَلْ يُطَيِّرُهَا بِخَشَبَةٍ فِي يَدِهِ، وَيَعُودُ إِلَى فِكْرِهِ، فَتَعُودُ
الْعَصَافِيرُ، فَيَعُودُ إِلَى التَّنْفِيرِ بِالْخَشَبَةِ.
Ia terus-menerus mengusir burung-burung itu dengan tongkat di tangannya, lalu
kembali ke pikirannya, tetapi burung-burung itu datang lagi, lalu ia kembali
mengusirnya dengan tongkat.
فَقِيلَ
لَهُ: إِنَّ هٰذَا أَسِيرُ السَّوَانِي، وَلَا يَنْقَطِعُ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Ini hanya pekerjaan sia-sia yang tidak akan
selesai.”
فَإِنْ
أَرَدْتَ الْخَلَاصَ فَاقْطَعِ الشَّجَرَةَ.
“Jika engkau benar-benar ingin terbebas, maka tebanglah pohonnya.”
فَكَذٰلِكَ
شَجَرَةُ الشَّهَوَاتِ إِذَا تَشَعَّبَتْ وَتَفَرَّعَتْ أَغْصَانُهَا انْجَذَبَتْ
إِلَيْهَا الْأَفْكَارُ انْجِذَابَ الْعَصَافِيرِ إِلَى الْأَشْجَارِ،
وَانْجِذَابَ الذُّبَابِ إِلَى الْأَقْذَارِ.
Demikian pula pohon syahwat. Jika ia telah bercabang dan berkembang, pikiran
akan tertarik kepadanya sebagaimana burung tertarik kepada pohon dan lalat
tertarik kepada kotoran.
وَالشُّغْلُ
يَطُولُ فِي دَفْعِهَا.
Kesibukan untuk menolaknya akan menjadi panjang.
فَإِنَّ
الذُّبَابَ كُلَّمَا ذُبَّ آبَ، وَلِأَجْلِهِ سُمِّيَ ذُبَابًا.
Sebab lalat, setiap kali diusir, akan kembali lagi. Karena itulah ia dinamakan ذباب.
فَكَذٰلِكَ
الْخَوَاطِرُ.
Demikian pula lintasan-lintasan pikiran.
وَهٰذِهِ
الشَّهَوَاتُ كَثِيرَةٌ، وَقَلَّمَا يَخْلُو الْعَبْدُ عَنْهَا.
Syahwat-syahwat itu banyak, dan jarang sekali seorang hamba benar-benar bersih
darinya.
وَيَجْمَعُهَا
أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ حُبُّ الدُّنْيَا.
Semuanya berpangkal pada satu akar, yaitu cinta dunia.
وَذٰلِكَ
رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ، وَأَسَاسُ كُلِّ نُقْصَانٍ، وَمَنْبَعُ كُلِّ فَسَادٍ.
Itulah kepala segala kesalahan, dasar segala kekurangan, dan sumber segala
kerusakan.
وَمَنِ
انْطَوَى بَاطِنُهُ عَلَى حُبِّ الدُّنْيَا، حَتَّى مَالَ إِلَى شَيْءٍ مِنْهَا
لَا لِيَتَزَوَّدَ مِنْهَا وَلَا لِيَسْتَعِينََ بِهَا عَلَى الْآخِرَةِ، فَلَا
يَطْمَعَنَّ فِي أَنْ تَصْفُوَ لَهُ لَذَّةُ الْمُنَاجَاةِ فِي الصَّلَاةِ.
Barang siapa batinnya dipenuhi cinta dunia, sehingga condong kepada sesuatu
darinya bukan untuk mengambil bekal atau menjadikannya sarana menuju akhirat,
maka janganlah ia berharap akan jernih baginya kenikmatan munajat dalam salat.
فَإِنَّ
مَنْ فَرِحَ بِالدُّنْيَا لَا يَفْرَحُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَبِمُنَاجَاتِهِ.
Karena orang yang gembira dengan dunia tidak akan bergembira dengan Allah سبحانه
dan dengan bermunajat kepada-Nya.
وَهِمَّةُ
الرَّجُلِ مَعَ قُرَّةِ عَيْنِهِ.
Perhatian seseorang selalu mengikuti tempat kesejukan matanya.
فَإِنْ
كَانَتْ قُرَّةُ عَيْنِهِ فِي الدُّنْيَا انْصَرَفَ لَا مَحَالَةَ إِلَيْهَا
هَمُّهُ.
Jika kesejukan matanya ada pada dunia, maka perhatiannya pasti akan tertuju ke
sana.
وَلٰكِنْ
مَعَ هٰذَا فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتْرُكَ الْمُجَاهَدَةَ وَرَدَّ الْقَلْبِ إِلَى
الصَّلَاةِ وَتَقْلِيلَ الْأَسْبَابِ الشَّاغِلَةِ.
Namun meskipun demikian, seseorang tidak sepatutnya meninggalkan mujahadah,
mengembalikan hati kepada salat, dan mengurangi sebab-sebab yang menyibukkan.
فَهٰذَا
هُوَ الدَّوَاءُ الْمُرُّ.
Inilah obat yang pahit.
وَلِمَرَارَتِهِ
اسْتَبْشَعَتْهُ الطِّبَاعُ.
Karena kepahitannya, tabiat manusia tidak menyukainya.
وَبَقِيَتِ
الْعِلَّةُ مُزْمِنَةً، وَصَارَ الدَّاءُ عُضَالًا.
Akhirnya penyakit itu tetap menahun, dan penyakitnya menjadi sangat parah.
حَتَّى
إِنَّ الْأَكَابِرَ اجْتَهَدُوا أَنْ يُصَلُّوا رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُوا
أَنْفُسَهُمْ فِيهِمَا بِأُمُورِ الدُّنْيَا، فَعَجَزُوا عَنْ ذٰلِكَ.
Sampai-sampai para tokoh besar telah berusaha keras untuk salat dua rakaat
tanpa berbicara kepada diri mereka tentang urusan dunia, namun mereka pun
merasa berat untuk mewujudkannya.
فَإِذًا
لَا مَطْمَعَ فِيهِ لِأَمْثَالِنَا.
Maka tentu kita yang seperti ini lebih kecil lagi harapannya.
وَلَيْتَهُ
سَلِمَ لَنَا مِنَ الصَّلَاةِ شَطْرُهَا أَوْ ثُلُثُهَا مِنَ الْوَسْوَاسِ،
لِنَكُونَ مِمَّنْ خَلَطَ عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا.
Andaikan saja setengah atau sepertiga salat kita selamat dari waswas, niscaya
kita sudah termasuk orang yang mencampur amal saleh dengan yang buruk.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَهِمَّةُ الدُّنْيَا وَهِمَّةُ الْآخِرَةِ فِي الْقَلْبِ مِثْلُ
الْمَاءِ الَّذِي يُصَبُّ فِي قَدَحٍ مَمْلُوءٍ خَلًّا.
Secara umum, perhatian kepada dunia dan perhatian kepada akhirat di dalam hati
itu seperti air yang dituangkan ke dalam gelas yang penuh dengan cuka.
فَبِقَدْرِ
مَا نُدْخِلُ فِيهِ مِنَ الْمَاءِ يَخْرُجُ مِنْهُ مِنَ الْخَلِّ لَا مَحَالَةَ.
Sebesar kadar air yang kita masukkan ke dalamnya, sebesar itu pula cuka akan
keluar darinya, pasti.
وَلَا
يَجْتَمِعَانِ.
Dan keduanya tidak dapat berkumpul sepenuhnya.