Penjelasan Tentang Makna-Makna Batin untuk Kesempurnaan Sholat

بَيَانُ الْمَعَانِي الْبَاطِنَةِ الَّتِي تَتِمُّ بِهَا حَيَاةُ الصَّلَاةِ.

Penjelasan tentang makna-makna batin yang dengannya kehidupan salat menjadi sempurna.

اِعْلَمْ أَنَّ هٰذِهِ الْمَعَانِي تَكْثُرُ الْعِبَارَاتُ عَنْهَا، وَلٰكِنْ يَجْمَعُهَا سِتُّ جُمَلٍ، وَهِيَ: حُضُورُ الْقَلْبِ، وَالتَّفَهُّمُ، وَالتَّعْظِيمُ، وَالْهَيْبَةُ، وَالرَّجَاءُ، وَالْحَيَاءُ.
Ketahuilah bahwa makna-makna ini dapat diungkapkan dengan banyak istilah, namun semuanya terhimpun dalam enam pokok, yaitu: hadirnya hati, pemahaman, pengagungan, rasa takut yang disertai kewibawaan, harapan, dan malu.

فَلْنَذْكُرْ تَفَاصِيلَهَا، ثُمَّ أَسْبَابَهَا، ثُمَّ الْعِلَاجَ فِي اكْتِسَابِهَا.
Maka marilah kita jelaskan rinciannya, kemudian sebab-sebabnya, lalu cara memperoleh dan mengobatinya.

أَمَّا التَّفَاصِيلُ، فَالْأَوَّلُ حُضُورُ الْقَلْبِ.
Adapun rinciannya, maka yang pertama adalah hadirnya hati.

وَنَعْنِي بِهِ أَنْ يَفْرُغَ الْقَلْبُ عَنْ غَيْرِ مَا هُوَ مُلَابِسٌ لَهُ وَمُتَكَلِّمٌ بِهِ.
Yang kami maksud dengan itu adalah hati kosong dari selain hal yang sedang dihadapi dan diucapkannya.

فَيَكُونُ الْعِلْمُ بِالْفِعْلِ وَالْقَوْلِ مَقْرُونًا بِهِمَا.
Sehingga pengetahuan tentang perbuatan dan ucapan itu menyertai keduanya.

وَلَا يَكُونُ الْفِكْرُ جَائِلًا فِي غَيْرِهِمَا.
Dan pikiran tidak berkelana kepada selain keduanya.

وَمَهْمَا انْصَرَفَ عَنِ الْفِكْرِ عَنْ غَيْرِ مَا هُوَ فِيهِ، وَكَانَ فِي قَلْبِهِ ذِكْرٌ لِمَا هُوَ فِيهِ، وَلَمْ يَكُنْ فِيهِ غَفْلَةٌ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَقَدْ حَصَلَ حُضُورُ الْقَلْبِ.
Setiap kali pikirannya berpaling dari selain apa yang sedang ia kerjakan, dan di dalam hatinya ada kesadaran terhadap apa yang sedang ia lakukan, meskipun tidak berarti ia lalai dari segala sesuatu secara mutlak, maka hadirnya hati telah terwujud.

وَلٰكِنَّ التَّفَهُّمَ لِمَعْنَى الْكَلَامِ أَمْرٌ وَرَاءَ حُضُورِ الْقَلْبِ.
Akan tetapi, memahami makna ucapan adalah perkara lain di luar sekadar hadirnya hati.

فَرُبَّمَا يَكُونُ الْقَلْبُ حَاضِرًا مَعَ اللَّفْظِ، وَلَا يَكُونُ حَاضِرًا مَعَ مَعْنَى اللَّفْظِ.
Bisa jadi hati hadir bersama lafaz, tetapi tidak hadir bersama makna lafaz itu.

فَاشْتِمَالُ الْقَلْبِ عَلَى الْعِلْمِ بِمَعْنَى اللَّفْظِ هُوَ الَّذِي أَرَدْنَاهُ بِالتَّفَهُّمِ.
Maka keterlibatan hati dalam mengetahui makna lafaz itulah yang kami maksud dengan pemahaman.

وَهٰذَا مَقَامٌ يَتَفَاوَتُ النَّاسُ فِيهِ.
Ini adalah suatu maqam yang tingkatan manusia di dalamnya berbeda-beda.

إِذْ لَيْسَ يَشْتَرِكُ النَّاسُ فِي تَفَهُّمِ الْمَعَانِي لِلْقُرْآنِ وَالتَّسْبِيحَاتِ.
Karena manusia tidak sama dalam memahami makna-makna Al-Qur’an dan tasbih-tasbih.

وَكَمْ مِنْ مَعَانٍ لَطِيفَةٍ يَفْهَمُهَا الْمُصَلِّي فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ، وَلَمْ يَكُنْ قَدْ خَطَرَ بِقَلْبِهِ ذٰلِكَ قَبْلَهَا.
Betapa banyak makna halus yang dipahami oleh orang yang salat ketika sedang salat, padahal sebelumnya hal itu belum pernah terlintas di hatinya.

وَمِنْ هٰذَا الْوَجْهِ كَانَتِ الصَّلَاةُ نَاهِيَةً عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.
Dari sisi inilah salat menjadi pencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

فَإِنَّهَا تُفْهِمُ أُمُورًا، تِلْكَ الْأُمُورُ تَمْنَعُ مِنَ الْفَحْشَاءِ لَا مَحَالَةَ.
Sebab salat memberikan pemahaman tentang berbagai hal, dan hal-hal itulah yang pasti mencegah dari perbuatan keji.

وَأَمَّا التَّعْظِيمُ فَهُوَ أَمْرٌ وَرَاءَ حُضُورِ الْقَلْبِ وَالْفَهْمِ.
Adapun pengagungan, maka ia adalah perkara lain di luar hadirnya hati dan pemahaman.

إِذِ الرَّجُلُ يُخَاطِبُ عَبْدَهُ بِكَلَامٍ هُوَ حَاضِرُ الْقَلْبِ فِيهِ وَمُتَفَهِّمٌ لِمَعْنَاهُ، وَلَا يَكُونُ مُعَظِّمًا لَهُ.
Sebab seseorang bisa saja berbicara kepada budaknya dengan ucapan yang ia hadir hati padanya dan ia memahami maknanya, tetapi ia tidak mengagungkan budaknya itu.

فَالتَّعْظِيمُ زَائِدٌ عَلَيْهِمَا.
Maka pengagungan adalah sesuatu yang lebih dari keduanya.

وَأَمَّا الْهَيْبَةُ فَزَائِدَةٌ عَلَى التَّعْظِيمِ.
Adapun kewibawaan yang disertai rasa takut, maka itu lebih dari pengagungan.

بَلْ هِيَ عِبَارَةٌ عَنْ خَوْفٍ مَنْشَؤُهُ التَّعْظِيمُ.
Bahkan ia berarti rasa takut yang lahir dari pengagungan.

لِأَنَّ مَنْ لَا يَخَافُ لَا يُسَمَّى هَائِبًا.
Karena orang yang tidak takut tidak disebut memiliki haibah.

وَالْمَخَافَةُ مِنَ الْعَقْرَبِ وَسُوءِ خُلُقِ الْعَبْدِ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ مِنَ الْأَسْبَابِ الْخَسِيسَةِ لَا تُسَمَّى مَهَابَةً.
Rasa takut kepada kalajengking, kepada akhlak buruk seorang budak, atau sebab-sebab hina semisal itu tidak disebut haibah.

بَلِ الْخَوْفُ مِنَ السُّلْطَانِ الْمُعَظَّمِ يُسَمَّى مَهَابَةً.
Sebaliknya, rasa takut kepada penguasa yang diagungkan disebut haibah.

وَالْهَيْبَةُ خَوْفٌ مَصْدَرُهُ الْإِجْلَالُ.
Haibah adalah rasa takut yang sumbernya adalah pengagungan dan pengaguman.

وَأَمَّا الرَّجَاءُ فَلَا شَكَّ أَنَّهُ زَائِدٌ.
Adapun harapan, tidak diragukan lagi bahwa ia juga merupakan tambahan tersendiri.

فَكَمْ مِنْ مُعَظِّمٍ مَلِكًا مِنَ الْمُلُوكِ يَهَابُهُ أَوْ يَخَافُ سَطْوَتَهُ، وَلٰكِنْ لَا يَرْجُو مَثُوبَتَهُ.
Betapa banyak orang yang mengagungkan seorang raja dari para raja, merasa takut kepadanya atau kepada kekuasaannya, tetapi tidak mengharapkan pahala darinya.

وَالْعَبْدُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ رَاجِيًا بِصَلَاتِهِ ثَوَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Seorang hamba seharusnya mengharapkan pahala Allah عز وجل melalui salatnya.

كَمَا أَنَّهُ خَائِفٌ بِتَقْصِيرِهِ عِقَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Sebagaimana ia juga takut akan azab Allah عز وجل karena kekurangannya.

وَأَمَّا الْحَيَاءُ فَهُوَ زَائِدٌ عَلَى الْجُمْلَةِ.
Adapun rasa malu, maka ia juga merupakan tambahan di atas semuanya itu.

لِأَنَّ مُسْتَنَدَهُ اسْتِشْعَارُ تَقْصِيرٍ وَتَوَهُّمُ ذَنْبٍ.
Karena landasannya adalah perasaan adanya kekurangan dan bayangan adanya dosa.

وَيُتَصَوَّرُ التَّعْظِيمُ وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ مِنْ غَيْرِ حَيَاءٍ، حَيْثُ لَا يَكُونُ تَوَهُّمُ تَقْصِيرٍ وَارْتِكَابِ ذَنْبٍ.
Pengagungan, rasa takut, dan harapan bisa saja ada tanpa rasa malu, jika tidak ada bayangan adanya kekurangan dan perbuatan dosa.

وَأَمَّا أَسْبَابُ هٰذِهِ الْمَعَانِي السِّتَّةِ، فَاعْلَمْ أَنَّ حُضُورَ الْقَلْبِ سَبَبُهُ الْهِمَّةُ.
Adapun sebab-sebab dari enam makna ini, maka ketahuilah bahwa sebab hadirnya hati adalah himmah atau perhatian utama.

فَإِنَّ قَلْبَكَ تَابِعٌ لِهِمَّتِكَ، فَلَا يَحْضُرُ إِلَّا فِيمَا يُهِمُّكَ.
Karena hatimu mengikuti apa yang menjadi perhatianmu; ia tidak akan hadir kecuali pada hal yang memang penting bagimu.

وَمَهْمَا أَهَمَّكَ أَمْرٌ حَضَرَ الْقَلْبُ فِيهِ شِئْتَ أَمْ أَبَيْتَ، فَهُوَ مَجْبُولٌ عَلَى ذٰلِكَ وَمُسَخَّرٌ فِيهِ.
Setiap kali suatu urusan menjadi penting bagimu, hati akan hadir padanya, engkau suka ataupun tidak, karena hati memang diciptakan dan diarahkan untuk itu.

وَالْقَلْبُ إِذَا لَمْ يَحْضُرْ فِي الصَّلَاةِ لَمْ يَكُنْ مُتَعَطِّلًا، بَلْ جَائِلًا فِيمَا الْهِمَّةُ مَصْرُوفَةٌ إِلَيْهِ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا.
Jika hati tidak hadir dalam salat, bukan berarti ia kosong, melainkan ia berkelana pada hal-hal dunia yang menjadi fokus perhatiannya.

فَلَا حِيلَةَ وَلَا عِلَاجَ لِإِحْضَارِ الْقَلْبِ إِلَّا بِصَرْفِ الْهِمَّةِ إِلَى الصَّلَاةِ.
Maka tidak ada jalan dan tidak ada obat untuk menghadirkan hati selain mengalihkan perhatian utama kepada salat.

وَالْهِمَّةُ لَا تَنْصَرِفُ إِلَيْهَا مَا لَمْ يَتَبَيَّنْ أَنَّ الْغَرَضَ الْمَطْلُوبَ مَنُوطٌ بِهَا.
Dan perhatian itu tidak akan tertuju kepadanya sebelum jelas bahwa tujuan yang dicari memang tergantung padanya.

وَذٰلِكَ هُوَ الْإِيمَانُ وَالتَّصْدِيقُ بِأَنَّ الْآخِرَةَ خَيْرٌ وَأَبْقَى، وَأَنَّ الصَّلَاةَ وَسِيلَةٌ إِلَيْهَا.
Itulah iman dan pembenaran bahwa akhirat lebih baik dan lebih kekal, serta bahwa salat adalah jalan menuju ke sana.

فَإِذَا أُضِيفَ هٰذَا إِلَى حَقِيقَةِ الْعِلْمِ بِحَقَارَةِ الدُّنْيَا وَمُهِمَّاتِهَا، حَصَلَ مِنْ مَجْمُوعِهَا حُضُورُ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ.
Apabila hal ini ditambah dengan pengetahuan yang benar tentang hinanya dunia dan urusan-urusannya, maka dari gabungan semuanya akan lahir hadirnya hati dalam salat.

وَبِمِثْلِ هٰذِهِ الْعِلَّةِ يَحْضُرُ قَلْبُكَ إِذَا حَضَرْتَ بَيْنَ يَدَي بَعْضِ الْأَكَابِرِ مِمَّنْ لَا يَقْدِرُ عَلَى مَضَرَّتِكَ وَلَا مَنْفَعَتِكَ.
Dengan sebab seperti ini pula, hatimu hadir ketika engkau berada di hadapan salah seorang pembesar yang sebenarnya tidak mampu memberi mudarat ataupun manfaat kepadamu.

فَإِذَا كَانَ لَا يَحْضُرُ عِنْدَ الْمُنَاجَاةِ مَعَ مَلِكِ الْمُلُوكِ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَالْمَلَكُوتُ وَالنَّفْعُ وَالضَّرُّ، فَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّ لَهُ سَبَبًا سِوَى ضَعْفِ الْإِيمَانِ.
Jika hati tidak hadir ketika bermunajat dengan Raja segala raja, yang di tangan-Nya kerajaan, alam malakut, manfaat, dan mudarat, maka jangan sekali-kali engkau menyangka ada sebab selain lemahnya iman.

فَاجْتَهِدِ الْآنَ فِي تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ، وَطَرِيقُهُ يُسْتَقْصَى فِي غَيْرِ هٰذَا الْمَوْضِعِ.
Maka bersungguh-sungguhlah sekarang untuk menguatkan iman, dan jalan untuk itu dijelaskan secara rinci di tempat lain.

وَأَمَّا التَّفَهُّمُ فَسَبَبُهُ بَعْدَ حُضُورِ الْقَلْبِ إِدْمَانُ الْفِكْرِ وَصَرْفُ الذِّهْنِ إِلَى إِدْرَاكِ الْمَعْنَى.
Adapun pemahaman, sebabnya—setelah hadirnya hati—adalah terus-menerus berpikir dan mengarahkan pikiran kepada penangkapan makna.

وَعِلَاجُهُ مَا هُوَ عِلَاجُ إِحْضَارِ الْقَلْبِ، مَعَ الْإِقْبَالِ عَلَى الْفِكْرِ وَالتَّشَمُّرِ لِدَفْعِ الْخَوَاطِرِ.
Obatnya sama dengan obat untuk menghadirkan hati, disertai kesungguhan berpikir dan kesiapan untuk menolak lintasan-lintasan pikiran yang mengganggu.

وَعِلَاجُ دَفْعِ الْخَوَاطِرِ الشَّاغِلَةِ قَطْعُ مَوَادِّهَا، أَعْنِي النُّزُوعَ عَنْ تِلْكَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَنْجَذِبُ الْخَوَاطِرُ إِلَيْهَا.
Obat untuk menolak lintasan-lintasan yang menyibukkan adalah memotong sumber-sumbernya, yaitu melepaskan diri dari sebab-sebab yang membuat pikiran tertarik kepadanya.

وَمَا لَمْ تَنْقَطِعْ تِلْكَ الْمَوَادُّ لَا تَنْصَرِفْ عَنْهَا الْخَوَاطِرُ.
Selama sumber-sumber itu belum terputus, lintasan-lintasan pikiran tidak akan berpaling darinya.

فَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ ذِكْرَهُ.
Barang siapa mencintai sesuatu, ia akan banyak mengingatnya.

فَذِكْرُ الْمَحْبُوبِ يَهْجُمُ عَلَى الْقَلْبِ بِالضَّرُورَةِ.
Maka ingatan kepada yang dicintai pasti menyerbu hati.

لِذٰلِكَ تَرَى أَنَّ مَنْ أَحَبَّ غَيْرَ اللهِ لَا تَصْفُو لَهُ صَلَاةٌ عَنِ الْخَوَاطِرِ.
Karena itu engkau melihat bahwa orang yang mencintai selain Allah, salatnya tidak akan jernih dari lintasan-lintasan pikiran.

وَأَمَّا التَّعْظِيمُ فَهِيَ حَالَةٌ لِلْقَلْبِ تَتَوَلَّدُ مِنْ مَعْرِفَتَيْنِ.
Adapun pengagungan, maka ia adalah keadaan hati yang lahir dari dua pengetahuan.

إِحْدَاهُمَا مَعْرِفَةُ جَلَالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَظَمَتِهِ، وَهُوَ مِنْ أُصُولِ الْإِيمَانِ.
Yang pertama adalah pengetahuan tentang keagungan dan kebesaran Allah عز وجل, dan ini termasuk pokok iman.

فَإِنَّ مَنْ لَا يَعْتَقِدُ عَظَمَتَهُ لَا تُذْعِنُ النَّفْسُ لِتَعْظِيمِهِ.
Karena orang yang tidak meyakini keagungan-Nya, jiwanya tidak akan tunduk untuk mengagungkan-Nya.

وَالثَّانِيَةُ مَعْرِفَةُ حَقَارَةِ النَّفْسِ وَخِسَّتِهَا وَكَوْنِهَا عَبْدًا مُسَخَّرًا مَرْبُوبًا.
Yang kedua adalah pengetahuan tentang hinanya diri, rendahnya kedudukannya, dan bahwa ia hanyalah hamba yang tunduk dan diatur.

حَتَّى يَتَوَلَّدَ مِنَ الْمَعْرِفَتَيْنِ الِاسْتِكَانَةُ وَالِانْكِسَارُ وَالْخُشُوعُ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ، فَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِالتَّعْظِيمِ.
Sehingga dari dua pengetahuan itu lahirlah ketundukan, kehancuran diri, dan kekhusyukan kepada Allah سبحانه, yang semuanya diungkapkan dengan istilah pengagungan.

وَمَا لَمْ تَمْتَزِجْ مَعْرِفَةُ حَقَارَةِ النَّفْسِ بِمَعْرِفَةِ جَلَالِ اللهِ لَا تَنْتَظِمْ حَالَةُ التَّعْظِيمِ وَالْخُشُوعِ.
Selama pengetahuan tentang kehinaan diri belum berpadu dengan pengetahuan tentang keagungan Allah, maka keadaan pengagungan dan khusyuk tidak akan terwujud secara sempurna.

فَإِنَّ الْمُسْتَغْنِيَ عَنْ غَيْرِهِ الْآمِنَ عَلَى نَفْسِهِ يَجُوزُ أَنْ يَعْرِفَ مِنْ غَيْرِهِ صِفَاتِ الْعَظَمَةِ، وَلَا يَكُونُ الْخُشُوعُ وَالتَّعْظِيمُ حَالَهُ.
Sebab orang yang merasa cukup dari selainnya dan merasa aman atas dirinya mungkin saja mengetahui sifat-sifat kebesaran pada orang lain, tetapi tidak menjadikan khusyuk dan pengagungan sebagai keadaannya.

لِأَنَّ الْقَرِينَةَ الْأُخْرَى، وَهِيَ مَعْرِفَةُ حَقَارَةِ النَّفْسِ وَحَاجَتِهَا، لَمْ تَقْتَرِنْ إِلَيْهِ.
Karena unsur pendamping yang lain, yaitu pengetahuan tentang hina dan butuhnya diri, belum menyertainya.

وَأَمَّا الْهَيْبَةُ وَالْخَوْفُ فَحَالَةٌ لِلنَّفْسِ تَتَوَلَّدُ مِنَ الْمَعْرِفَةِ بِقُدْرَةِ اللهِ وَسَطْوَتِهِ وَنُفُوذِ مَشِيئَتِهِ فِيهِ، مَعَ قِلَّةِ الْمُبَالَاةِ بِهِ.
Adapun haibah dan rasa takut, maka ia adalah keadaan jiwa yang lahir dari pengetahuan tentang kekuasaan Allah, kedahsyatan-Nya, berlakunya kehendak-Nya atas dirinya, serta bahwa Allah tidak membutuhkan dirinya.

وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لَمْ يَنْقُصْ مِنْ مُلْكِهِ ذَرَّةٌ.
Dan bahwa seandainya Allah membinasakan seluruh manusia terdahulu dan yang terakhir, tidak akan berkurang sedikit pun dari kerajaan-Nya.

هٰذَا مَعَ مُطَالَعَةِ مَا يَجْرِي عَلَى الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ مِنَ الْمَصَائِبِ وَأَنْوَاعِ الْبَلَاءِ، مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الدَّفْعِ، عَلَى خِلَافِ مَا يُشَاهَدُ مِنْ مُلُوكِ الْأَرْضِ.
Hal ini disertai renungan terhadap apa yang menimpa para nabi dan wali berupa musibah dan berbagai ujian, padahal Allah mampu menolaknya, berbeda dengan raja-raja dunia yang biasa terlihat.

وَبِالْجُمْلَةِ، كُلَّمَا زَادَ الْعِلْمُ بِاللهِ زَادَتِ الْخَشْيَةُ وَالْهَيْبَةُ.
Secara umum, semakin bertambah pengetahuan tentang Allah, semakin bertambah pula rasa takut dan haibah.

وَسَيَأْتِي أَسْبَابُ ذٰلِكَ فِي كِتَابِ الْخَوْفِ مِنْ رُبْعِ الْمُنْجِيَاتِ.
Sebab-sebab hal ini akan dijelaskan dalam Kitab al-Khawf, dari rubu‘ al-Munjiyāt.

وَأَمَّا الرَّجَاءُ فَسَبَبُهُ مَعْرِفَةُ لُطْفِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَرَمِهِ وَعَمِيمِ إِنْعَامِهِ وَلَطَائِفِ صُنْعِهِ.
Adapun harapan, maka sebabnya adalah pengetahuan tentang kelembutan Allah عز وجل, kemuliaan-Nya, luasnya nikmat-Nya, dan kehalusan ciptaan-Nya.

وَمَعْرِفَةُ صِدْقِهِ فِي وَعْدِهِ الْجَنَّةَ بِالصَّلَاةِ.
Juga pengetahuan tentang benarnya janji-Nya akan surga melalui salat.

فَإِذَا حَصَلَ الْيَقِينُ بِوَعْدِهِ وَالْمَعْرِفَةُ بِلُطْفِهِ، انْبَعَثَ مِنْ مَجْمُوعِهِمَا الرَّجَاءُ لَا مَحَالَةَ.
Maka apabila telah ada keyakinan terhadap janji-Nya dan pengetahuan tentang kelembutan-Nya, dari gabungan keduanya niscaya akan lahir harapan.

وَأَمَّا الْحَيَاءُ فَبِاسْتِشْعَارِهِ التَّقْصِيرَ فِي الْعِبَادَةِ، وَعِلْمِهِ بِالْعَجْزِ عَنِ الْقِيَامِ بِعَظِيمِ حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun rasa malu, maka ia lahir dari perasaan adanya kekurangan dalam ibadah dan kesadaran akan ketidakmampuan menunaikan hak Allah عز وجل yang sangat agung.

وَيُقَوِّي ذٰلِكَ بِالْمَعْرِفَةِ بِعُيُوبِ النَّفْسِ وَآفَاتِهَا وَقِلَّةِ إِخْلَاصِهَا وَخُبْثِ دَخِيلَتِهَا.
Hal itu diperkuat dengan pengetahuan tentang aib-aib jiwa, penyakit-penyakitnya, sedikitnya keikhlasan, dan buruknya batinnya.

وَمَيْلِهَا إِلَى الْحَظِّ الْعَاجِلِ فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهَا.
Dan kecenderungannya kepada keuntungan yang segera dalam seluruh perbuatannya.

مَعَ الْعِلْمِ بِعَظِيمِ مَا يَقْتَضِيهِ جَلَالُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Disertai pengetahuan tentang besarnya apa yang dituntut oleh keagungan Allah عز وجل.

وَالْعِلْمِ بِأَنَّهُ مُطَّلِعٌ عَلَى السِّرِّ وَخَطَرَاتِ الْقَلْبِ وَإِنْ دَقَّتْ وَخَفِيَتْ.
Dan pengetahuan bahwa Allah mengetahui rahasia serta lintasan hati, meskipun sangat halus dan tersembunyi.

وَهٰذِهِ الْمَعَارِفُ إِذَا حَصَلَتْ يَقِينًا، انْبَعَثَ مِنْهَا بِالضَّرُورَةِ حَالَةٌ تُسَمَّى الْحَيَاءَ.
Apabila pengetahuan-pengetahuan ini telah diperoleh secara yakin, maka darinya secara pasti akan lahir keadaan yang disebut malu.

فَهٰذِهِ أَسْبَابُ هٰذِهِ الصِّفَاتِ.
Maka inilah sebab-sebab dari sifat-sifat tersebut.

وَكُلُّ مَا طُلِبَ تَحْصِيلُهُ فَعِلَاجُهُ إِحْضَارُ سَبَبِهِ.
Setiap hal yang ingin diperoleh, maka obatnya adalah menghadirkan sebabnya.

فَفِي مَعْرِفَةِ السَّبَبِ مَعْرِفَةُ الْعِلَاجِ.
Maka dalam mengetahui sebab, terdapat pengetahuan tentang obatnya.

وَرَابِطَةُ جَمِيعِ هٰذِهِ الْأَسْبَابِ الْإِيمَانُ وَالْيَقِينُ.
Pengikat semua sebab ini adalah iman dan yakin.

أَعْنِي بِهِ هٰذِهِ الْمَعَارِفَ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا.
Yang aku maksud dengan itu adalah berbagai pengetahuan yang telah kami sebutkan ini.

وَمَعْنَى كَوْنِهَا يَقِينًا انْتِفَاءُ الشَّكِّ وَاسْتِيلَاؤُهَا عَلَى الْقَلْبِ، كَمَا سَبَقَ فِي بَيَانِ الْيَقِينِ مِنْ كِتَابِ الْعِلْمِ.
Makna bahwa semua itu menjadi yakin ialah hilangnya keraguan dan menguasainya pengetahuan itu atas hati, sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan yakin dalam Kitab al-‘Ilm.

وَبِقَدْرِ الْيَقِينِ يَخْشَعُ الْقَلْبُ.
Dan sejauh kadar yakin itu, sejauh itu pula hati menjadi khusyuk.

وَلِذٰلِكَ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُنَا وَنُحَدِّثُهُ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ كَأَنَّهُ لَمْ يَعْرِفْنَا وَلَمْ نَعْرِفْهُ.
Karena itu Aisyah رضي الله عنها berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa berbicara dengan kami dan kami berbicara dengan beliau. Tetapi apabila waktu salat tiba, seakan-akan beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenalnya.”

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ أَوْحَى إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا مُوسَى، إِذَا ذَكَرْتَنِي فَاذْكُرْنِي وَأَنْتَ تَنْتَفِضُ أَعْضَاؤُكَ.
Dan diriwayatkan bahwa Allah سبحانه mewahyukan kepada Musa عليه السلام: “Wahai Musa, apabila engkau mengingat-Ku, maka ingatlah Aku dalam keadaan anggota tubuhmu bergetar.”

وَكُنْ عِنْدَ ذِكْرِي خَاشِعًا مُطْمَئِنًّا.
“Dan ketika mengingat-Ku, jadilah engkau khusyuk dan tenang.”

وَإِذَا ذَكَرْتَنِي فَاجْعَلْ لِسَانَكَ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِكَ.
“Dan apabila engkau mengingat-Ku, maka letakkan lidahmu di belakang hatimu.”

وَإِذَا قُمْتَ بَيْنَ يَدَيَّ فَقُمْ قِيَامَ الْعَبْدِ الذَّلِيلِ.
“Dan apabila engkau berdiri di hadapan-Ku, maka berdirilah seperti berdirinya hamba yang hina.”

وَنَاجِنِي بِقَلْبٍ وَجِلٍ وَلِسَانٍ صَادِقٍ.
“Dan bermunajatlah kepada-Ku dengan hati yang takut dan lisan yang jujur.”

وَرُوِيَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَيْهِ: قُلْ لِعُصَاةِ أُمَّتِكَ لَا يَذْكُرُونِي، فَإِنِّي آلَيْتُ عَلَى نَفْسِي أَنْ مَنْ ذَكَرَنِي ذَكَرْتُهُ، فَإِذَا ذَكَرُونِي ذَكَرْتُهُمْ بِاللَّعْنَةِ.
Dan diriwayatkan bahwa Allah Ta‘ala mewahyukan kepadanya: “Katakanlah kepada para pelaku maksiat dari umatmu agar mereka tidak mengingat-Ku, karena Aku telah menetapkan atas diri-Ku bahwa siapa yang mengingat-Ku, Aku akan mengingatnya. Maka jika mereka mengingat-Ku, Aku akan mengingat mereka dengan laknat.”

هٰذَا فِي عَاصٍ غَيْرِ غَافِلٍ فِي ذِكْرِهِ، فَكَيْفَ إِذَا اجْتَمَعَتِ الْغَفْلَةُ وَالْعِصْيَانُ؟
Ini berlaku pada pelaku maksiat yang tidak lalai ketika berzikir. Maka bagaimana lagi jika kelalaian dan kemaksiatan berkumpul sekaligus?

وَبِاخْتِلَافِ الْمَعَانِي الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي الْقُلُوبِ انْقَسَمَ النَّاسُ إِلَى غَافِلٍ يُتِمُّ صَلَاتَهُ وَلَمْ يَحْضُرْ قَلْبُهُ فِي لَحْظَةٍ مِنْهَا.
Karena perbedaan makna-makna dalam hati yang telah kami sebutkan, manusia terbagi menjadi orang yang lalai, yang menyempurnakan bentuk salatnya namun hatinya tidak hadir walau sesaat pun di dalamnya.

وَإِلَى مَنْ يُتِمُّ وَلَمْ يَغِبْ قَلْبُهُ فِي لَحْظَةٍ.
Dan ada pula orang yang menyempurnakan salatnya dan hatinya tidak pernah absen walau sesaat pun.

بَلْ رُبَّمَا كَانَ مُسْتَوْعِبَ الْهَمِّ بِهَا بِحَيْثُ لَا يَحِسُّ بِمَا يَجْرِي بَيْنَ يَدَيْهِ.
Bahkan mungkin saja seluruh perhatiannya terserap ke dalam salat itu, sampai ia tidak merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya.

وَلِذٰلِكَ لَمْ يَحِسَّ مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ بِسُقُوطِ الْأُسْطُوَانَةِ فِي الْمَسْجِدِ وَاجْتِمَاعِ النَّاسِ عَلَيْهَا.
Karena itu Muslim bin Yasar tidak merasakan jatuhnya tiang di masjid dan berkumpulnya orang-orang di sekitarnya.

وَبَعْضُهُمْ كَانَ يَحْضُرُ الْجَمَاعَةَ مُدَّةً، وَلَمْ يَعْرِفْ قَطُّ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ وَيَسَارِهِ.
Dan sebagian mereka menghadiri salat jamaah dalam waktu yang lama, tetapi sama sekali tidak pernah tahu siapa yang berada di kanan dan kirinya.

وَوَجِيبُ قَلْبِ إِبْرَاهِيمَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ كَانَ يُسْمَعُ عَلَى مِيلَيْنِ.
Detak jantung Ibrahim, semoga salawat dan salam Allah atasnya, dapat didengar dari jarak dua mil.

وَجَمَاعَةٌ كَانَتْ تَصْفَرُّ وُجُوهُهُمْ وَتَرْتَعِدُ فَرَائِصُهُمْ.
Dan ada pula sekelompok orang yang wajah-wajah mereka memucat dan tubuh mereka gemetar.

وَكُلُّ ذٰلِكَ غَيْرُ مُسْتَبْعَدٍ.
Semua itu bukanlah sesuatu yang mustahil.

فَإِنَّ أَضْعَافَهُ مُشَاهَدٌ فِي هِمَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَخَوْفِ مُلُوكِ الدُّنْيَا، مَعَ عَجْزِهِمْ وَضَعْفِهِمْ وَخِسَّةِ الْحُظُوظِ الْحَاصِلَةِ مِنْهُمْ.
Bahkan yang semisalnya berkali-kali lipat dapat disaksikan pada perhatian para pencari dunia dan rasa takut kepada raja-raja dunia, padahal mereka lemah, tidak berdaya, dan kenikmatan yang diperoleh dari mereka pun hina.

حَتَّى يَدْخُلَ الْوَاحِدُ عَلَى مَلِكٍ أَوْ وَزِيرٍ، وَيُحَدِّثَهُ بِمُهِمَّتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ، وَلَوْ سُئِلَ عَمَّنْ حَوَالَيْهِ أَوْ عَنْ ثَوْبِ الْمَلِكِ لَكَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الْإِخْبَارِ عَنْهُ، لِاشْتِغَالِ هَمِّهِ بِهِ عَنْ ثَوْبِهِ وَعَنِ الْحَاضِرِينَ حَوَالَيْهِ.
Sampai-sampai seseorang masuk menemui raja atau menteri, lalu berbicara dengannya tentang urusannya, kemudian keluar, dan jika setelah itu ditanya tentang orang-orang di sekitar raja atau tentang pakaian raja, ia tidak mampu menjawab, karena seluruh perhatiannya terserap kepada urusannya dan bukan kepada pakaian raja atau orang-orang yang hadir di sekitarnya.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا.
Dan bagi masing-masing ada derajat-derajat sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

فَحَظُّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ صَلَاتِهِ بِقَدْرِ خَوْفِهِ وَخُشُوعِهِ وَتَعْظِيمِهِ.
Bagian setiap orang dari salatnya adalah sesuai kadar rasa takut, khusyuk, dan pengagungannya.

فَإِنَّ مَوْضِعَ نَظَرِ اللهِ سُبْحَانَهُ الْقُلُوبُ دُونَ ظَاهِرِ الْحَرَكَاتِ.
Sebab tempat pandangan Allah سبحانه adalah hati, bukan sekadar gerakan lahiriah.

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ: يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مِثَالِ هَيْئَتِهِمْ فِي الصَّلَاةِ، مِنَ الطُّمَأْنِينَةِ وَالْهُدُوءِ، وَمِنْ وُجُودِ النَّعِيمِ بِهَا وَاللَّذَّةِ.
Karena itu sebagian sahabat رضي الله عنهم berkata: “Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat sesuai keadaan mereka dalam salat, dari sisi ketenangan, ketenteraman, dan sejauh mana mereka menemukan kenikmatan dan kelezatan di dalamnya.”

وَلَقَدْ صَدَقَ.
Dan sungguh ucapan itu benar.

فَإِنَّهُ يُحْشَرُ كُلٌّ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ، وَيَمُوتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ.
Karena setiap orang dibangkitkan sesuai keadaan ketika ia mati, dan ia mati sesuai dengan keadaan yang ia jalani semasa hidup.

وَيُرَاعَى فِي ذٰلِكَ حَالُ قَلْبِهِ لَا حَالُ شَخْصِهِ.
Dan yang diperhatikan dalam hal ini adalah keadaan hatinya, bukan semata-mata bentuk fisiknya.

فَمِنْ صِفَاتِ الْقُلُوبِ تُصَاغُ الصُّوَرُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ.
Dari sifat-sifat hatilah bentuk-bentuk di akhirat dibentuk.

وَلَا يَنْجُو إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ.
Dan tidak ada yang selamat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.

نَسْأَلُ اللهَ حُسْنَ التَّوْفِيقِ بِلُطْفِهِ وَكَرَمِهِ.
Kita memohon kepada Allah taufik yang baik dengan kelembutan dan kemurahan-Nya.