Penjelasan Tentang Disyaratkannya Khusyuk dan Hadirnya Hati.

اَلْبَابُ الثَّالِثُ فِي الشُّرُوطِ الْبَاطِنَةِ مِنْ أَعْمَالِ الْقَلْبِ.

Bab ketiga tentang syarat-syarat batin dari amal-amal hati.

وَلْنَذْكُرْ فِي هٰذَا الْبَابِ ارْتِبَاطَ الصَّلَاةِ بِالْخُشُوعِ وَحُضُورِ الْقَلْبِ.
Dalam bab ini, marilah kita sebutkan keterkaitan salat dengan khusyuk dan hadirnya hati.

ثُمَّ نَذْكُرُ الْمَعَانِيَ الْبَاطِنَةَ وَحُدُودَهَا وَأَسْبَابَهَا وَعِلَاجَهَا.
Kemudian kita akan menyebutkan makna-makna batinnya, batas-batasnya, sebab-sebabnya, dan cara mengobatinya.

ثُمَّ لِنَذْكُرْ تَفْصِيلَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْضُرَ فِي كُلِّ رُكْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ لِتَكُونَ صَالِحَةً لِزَادِ الْآخِرَةِ.
Kemudian marilah kita jelaskan secara rinci apa yang seharusnya hadir pada setiap rukun salat, agar salat itu layak menjadi bekal untuk akhirat.

بَيَانُ اشْتِرَاطِ الْخُشُوعِ وَحُضُورِ الْقَلْبِ.
Penjelasan tentang disyaratkannya khusyuk dan hadirnya hati.

اِعْلَمْ أَنَّ أَدِلَّةَ ذٰلِكَ كَثِيرَةٌ.
Ketahuilah bahwa dalil-dalil tentang hal itu sangat banyak.

فَمِنْ ذٰلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي.
Di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

وَظَاهِرُ الْأَمْرِ الْوُجُوبُ.
Dan zahir perintah itu menunjukkan kewajiban.

وَالْغَفْلَةُ تُضَادُّ الذِّكْرَ.
Sedangkan kelalaian bertentangan dengan zikir.

فَمَنْ غَفَلَ فِي جَمِيعِ صَلَاتِهِ كَيْفَ يَكُونُ مُقِيمًا لِلصَّلَاةِ لِذِكْرِهِ؟
Maka orang yang lalai dalam seluruh salatnya, bagaimana mungkin ia disebut mendirikan salat untuk mengingat Allah?

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ، نَهْيٌ، وَظَاهِرُهُ التَّحْرِيمُ.
Dan firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai,” adalah larangan, dan zahirnya menunjukkan keharaman.

وَقَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ، تَعْلِيلٌ لِنَهْيِ السَّكْرَانِ.
Dan firman Allah عز وجل: “Sampai kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan,” merupakan penjelasan alasan larangan bagi orang mabuk.

وَهُوَ مُطَّرِدٌ فِي الْغَافِلِ الْمُسْتَغْرِقِ الْهَمَّ بِالْوَسْوَاسِ وَأَفْكَارِ الدُّنْيَا.
Alasan ini juga berlaku pada orang yang lalai, yang tenggelam dalam bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran dunia.

وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الصَّلَاةُ تَمَسْكُنٌ وَتَوَاضُعٌ، حَصْرٌ بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ وَكَلِمَةِ إِنَّمَا لِلتَّحْقِيقِ وَالتَّوْكِيدِ.
Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Sesungguhnya salat itu adalah ketenangan dan tawaduk,” adalah bentuk pembatasan dengan alif-lam dan kata “innamā”, yang berfungsi untuk menegaskan dan memastikan.

وَقَدْ فَهِمَ الْفُقَهَاءُ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الشُّفْعَةُ فِيمَا لَمْ يُقَسَّمْ، الْحَصْرَ وَالْإِثْبَاتَ وَالنَّفْيَ.
Para fuqaha telah memahami dari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Sesungguhnya syuf‘ah itu hanya berlaku pada sesuatu yang belum dibagi,” adanya pembatasan, penetapan, dan penafian.

وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا.
Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Barang siapa salatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh.”

وَصَلَاةُ الْغَافِلِ لَا تَمْنَعُ مِنَ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.
Sedangkan salat orang yang lalai tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صَلَاتِهِ التَّعَبُ وَالنَّصَبُ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Betapa banyak orang yang berdiri salat, tetapi bagian yang ia peroleh dari salatnya hanyalah lelah dan payah.”

وَمَا أَرَادَ بِهِ إِلَّا الْغَافِلَ.
Dan yang beliau maksud dengan itu tidak lain adalah orang yang lalai.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقَلَ مِنْهَا.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidak ada bagian bagi seorang hamba dari salatnya kecuali sejauh yang ia pahami darinya.”

وَالتَّحْقِيقُ فِيهِ أَنَّ الْمُصَلِّيَ مُنَاجٍ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا وَرَدَ بِهِ الْخَبَرُ.
Penjelasan yang sebenarnya ialah bahwa orang yang salat sedang bermunajat kepada Tuhannya عز وجل, sebagaimana disebutkan dalam hadis.

وَالْكَلَامُ مَعَ الْغَفْلَةِ لَيْسَ بِمُنَاجَاةٍ أَلْبَتَّةَ.
Sedangkan ucapan yang disertai kelalaian sama sekali bukanlah munajat.

وَبَيَانُهُ أَنَّ الزَّكَاةَ إِنْ غَفَلَ الْإِنْسَانُ عَنْهَا مَثَلًا فَهِيَ فِي نَفْسِهَا مُخَالِفَةٌ لِلشَّهْوَةِ شَدِيدَةٌ عَلَى النَّفْسِ.
Penjelasannya, zakat misalnya, meskipun seseorang lalai ketika menunaikannya, pada dirinya sendiri tetap merupakan tindakan yang bertentangan dengan syahwat dan berat bagi jiwa.

وَكَذٰلِكَ الصَّوْمُ قَاهِرٌ لِلْقُوَى، كَاسِرٌ لِسَطْوَةِ الْهَوَى الَّذِي هُوَ آلَةٌ لِلشَّيْطَانِ عَدُوِّ اللهِ.
Demikian pula puasa, ia menundukkan kekuatan nafsu dan mematahkan dominasi hawa yang menjadi alat bagi setan, musuh Allah.

فَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَحْصُلَ مِنْهَا الْمَقْصُودُ مَعَ الْغَفْلَةِ.
Maka tidak mustahil tujuan dari keduanya tetap tercapai meskipun disertai kelalaian.

وَكَذٰلِكَ الْحَجُّ أَفْعَالُهُ شَاقَّةٌ شَدِيدَةٌ، وَفِيهِ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ مَا يَحْصُلُ بِهِ الْإِيلَامُ، كَانَ الْقَلْبُ حَاضِرًا مَعَ أَفْعَالِهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ.
Demikian pula haji. Amalnya berat dan sulit, dan di dalamnya terdapat mujahadah yang menimbulkan kepayahan, baik hati hadir bersama perbuatannya ataupun tidak.

أَمَّا الصَّلَاةُ فَلَيْسَ فِيهَا إِلَّا ذِكْرٌ وَقِرَاءَةٌ وَرُكُوعٌ وَسُجُودٌ وَقِيَامٌ وَقُعُودٌ.
Adapun salat, maka ia tidak berisi selain zikir, bacaan, rukuk, sujud, berdiri, dan duduk.

فَأَمَّا الذِّكْرُ فَإِنَّهُ مُجَاوَرَةٌ وَمُنَاجَاةٌ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Adapun zikir, maka ia adalah bentuk kedekatan dan munajat bersama Allah عز وجل.

فَإِمَّا أَنْ يَكُونَ الْمَقْصُودُ مِنْهُ كَوْنُهُ خِطَابًا وَمُحَاوَرَةً.
Maka bisa jadi yang dimaksud darinya ialah bahwa ia merupakan خطاب dan dialog.

وَإِمَّا أَنِ الْمَقْصُودُ مِنْهُ الْحُرُوفُ وَالْأَصْوَاتُ امْتِحَانًا لِلِّسَانِ بِالْعَمَلِ، كَمَا تُمْتَحَنُ الْمَعِدَةُ وَالْفَرْجُ بِالْإِمْسَاكِ فِي الصَّوْمِ، وَكَمَا يُمْتَحَنُ الْبَدَنُ بِمَشَاقِّ الْحَجِّ، وَيُمْتَحَنُ بِمَشَقَّةِ إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ وَاقْتِطَاعِ الْمَالِ الْمَعْشُوقِ.
Atau yang dimaksud hanya huruf-huruf dan suara-suara sebagai ujian bagi lisan untuk beramal, sebagaimana perut dan kemaluan diuji dengan menahan diri saat puasa, sebagaimana tubuh diuji dengan kesulitan haji, dan sebagaimana seseorang diuji dengan kesulitan mengeluarkan zakat dan memisahkan harta yang dicintainya.

وَلَا شَكَّ أَنَّ هٰذَا الْقِسْمَ بَاطِلٌ.
Tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan yang kedua ini batil.

فَإِنَّ تَحْرِيكَ اللِّسَانِ بِالْهَذَيَانِ مَا أَخَفَّهُ عَلَى الْغَافِلِ.
Sebab menggerakkan lisan dengan ocehan kosong adalah hal yang sangat ringan bagi orang yang lalai.

فَلَيْسَ فِيهِ امْتِحَانٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ عَمَلٌ.
Maka di dalamnya tidak ada ujian dari sisi bahwa ia adalah amal.

بَلِ الْمَقْصُودُ الْحُرُوفُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ نُطْقٌ.
Bahkan yang dimaksud adalah huruf-huruf itu dari sisi bahwa ia merupakan ucapan.

وَلَا يَكُونُ نُطْقًا إِلَّا إِذَا أَعْرَبَ عَمَّا فِي الضَّمِيرِ.
Dan ia tidak menjadi ucapan yang sesungguhnya kecuali jika ia mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.

وَلَا يَكُونُ مُعْرِبًا إِلَّا بِحُضُورِ الْقَلْبِ.
Dan ia tidak benar-benar mengungkapkan isi hati kecuali dengan hadirnya hati.

فَأَيُّ سُؤَالٍ فِي قَوْلِهِ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، إِذَا كَانَ الْقَلْبُ غَافِلًا؟
Lalu apa makna permohonan dalam ucapan: “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” jika hati sedang lalai?

وَإِذَا لَمْ يُقْصَدْ كَوْنُهُ تَضَرُّعًا وَدُعَاءً، فَأَيُّ مَشَقَّةٍ فِي تَحْرِيكِ اللِّسَانِ بِهِ مَعَ الْغَفْلَةِ، لَا سِيَّمَا بَعْدَ الِاعْتِيَادِ؟
Dan jika tidak dimaksudkan sebagai kerendahan diri dan doa, lalu kesulitan apa yang ada dalam menggerakkan lisan dengannya saat hati lalai, terlebih lagi setelah terbiasa?

هٰذَا حُكْمُ الْأَذْكَارِ.
Inilah hukum zikir-zikir dalam salat.

بَلْ أَقُولُ: لَوْ حَلَفَ الْإِنْسَانُ وَقَالَ: لَأَشْكُرَنَّ فُلَانًا، وَلَأُثْنِيَنَّ عَلَيْهِ، وَلَأَسْأَلَنَّهُ حَاجَةً.
Bahkan aku katakan: seandainya seseorang bersumpah lalu berkata: “Aku pasti akan berterima kasih kepada si fulan, memujinya, dan meminta suatu حاجah kepadanya.”

ثُمَّ جَرَتِ الْأَلْفَاظُ الدَّالَّةُ عَلَى هٰذِهِ الْمَعَانِي عَلَى لِسَانِهِ فِي النَّوْمِ، لَمْ يَبَرَّ فِي يَمِينِهِ.
Kemudian lafaz-lafaz yang menunjukkan makna-makna itu mengalir di lisannya saat tidur, maka ia tidak dianggap telah menunaikan sumpahnya.

وَلَوْ جَرَتْ عَلَى لِسَانِهِ فِي ظُلْمَةٍ وَذٰلِكَ الْإِنْسَانُ حَاضِرٌ، وَهُوَ لَا يَعْرِفُ حُضُورَهُ وَلَا يَرَاهُ، لَا يَصِيرُ بَارًّا فِي يَمِينِهِ.
Bahkan seandainya kata-kata itu keluar dari lisannya dalam kegelapan, sementara orang itu hadir tetapi ia tidak mengetahui kehadirannya dan tidak melihatnya, maka ia tetap tidak dianggap menunaikan sumpahnya.

إِذْ لَا يَكُونُ كَلَامُهُ خِطَابًا وَنُطْقًا مَعَهُ مَا لَمْ يَكُنْ هُوَ حَاضِرًا فِي قَلْبِهِ.
Sebab ucapannya belum menjadi خطاب dan tuturan kepadanya selama orang itu belum hadir dalam hatinya.

فَلَوْ كَانَتْ تَجْرِي هٰذِهِ الْكَلِمَاتُ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ حَاضِرٌ، إِلَّا أَنَّهُ فِي بَيَاضِ النَّهَارِ غَافِلٌ، لِكَوْنِهِ مُسْتَغْرِقَ الْهَمِّ بِفِكْرٍ مِنَ الْأَفْكَارِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ قَصْدُ تَوْجِيهِ الْخِطَابِ إِلَيْهِ عِنْدَ نُطْقِهِ، لَمْ يَصِرْ بَارًّا فِي يَمِينِهِ.
Maka jika kata-kata itu keluar dari lisannya sementara orang tersebut hadir, namun di siang hari ia lalai karena tenggelam dalam suatu pikiran, dan ia tidak bermaksud mengarahkan ucapannya kepadanya saat berbicara, maka ia juga tidak dianggap menunaikan sumpahnya.

وَلَا شَكَّ أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَالْأَذْكَارِ الْحَمْدُ وَالثَّنَاءُ وَالتَّضَرُّعُ وَالدُّعَاءُ.
Tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud dari bacaan dan zikir-zikir dalam salat adalah pujian, sanjungan, kerendahan diri, dan doa.

وَالْمُخَاطَبُ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan yang diajak bicara adalah Allah عز وجل.

وَقَلْبُهُ بِحِجَابِ الْغَفْلَةِ مَحْجُوبٌ عَنْهُ.
Sedangkan hati orang itu terhalang dari-Nya oleh hijab kelalaian.

فَلَا يَرَاهُ وَلَا يُشَاهِدُهُ، بَلْ هُوَ غَافِلٌ عَنِ الْمُخَاطَبِ.
Ia tidak melihat-Nya dan tidak menyaksikan-Nya. Bahkan ia lalai dari siapa yang ia ajak bicara.

وَلِسَانُهُ يَتَحَرَّكُ بِحُكْمِ الْعَادَةِ.
Lisannya bergerak hanya karena kebiasaan.

فَمَا أَبْعَدَ هٰذَا عَنِ الْمَقْصُودِ بِالصَّلَاةِ الَّتِي شُرِعَتْ لِتَصْقِيلِ الْقَلْبِ وَتَجْدِيدِ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرُسُوخِ عَقْدِ الْإِيمَانِ بِهِ.
Betapa jauh keadaan ini dari tujuan salat, yang disyariatkan untuk mengilapkan hati, memperbarui zikir kepada Allah عز وجل, dan meneguhkan ikatan iman kepada-Nya.

هٰذَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ وَالذِّكْرِ.
Inilah hukum bacaan dan zikir.

وَبِالْجُمْلَةِ فَهٰذِهِ الْخَاصِّيَّةُ لَا سَبِيلَ إِلَى إِنْكَارِهَا فِي النُّطْقِ وَتَمْيِيزِهَا عَنِ الْفِعْلِ.
Secara umum, sifat khusus ini tidak mungkin diingkari pada ucapan, dan ia jelas berbeda dari sekadar gerakan fisik.

وَأَمَّا الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ فَالْمَقْصُودُ بِهِمَا التَّعْظِيمُ قَطْعًا.
Adapun rukuk dan sujud, maka yang dimaksud darinya secara pasti adalah pengagungan.

وَلَوْ جَازَ أَنْ يَكُونَ مُعَظِّمًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِفِعْلِهِ وَهُوَ غَافِلٌ عَنْهُ، لَجَازَ أَنْ يَكُونَ مُعَظِّمًا لِصَنَمٍ مَوْضُوعٍ بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ غَافِلٌ عَنْهُ، أَوْ يَكُونَ مُعَظِّمًا لِلْحَائِطِ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ غَافِلٌ عَنْهُ.
Seandainya boleh dikatakan bahwa seseorang mengagungkan Allah عز وجل dengan perbuatannya sementara ia lalai dari-Nya, maka boleh pula dikatakan bahwa ia sedang mengagungkan berhala yang diletakkan di hadapannya sementara ia lalai darinya, atau mengagungkan dinding di hadapannya sementara ia lalai darinya.

وَإِذَا خَرَجَ عَنْ كَوْنِهِ تَعْظِيمًا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مُجَرَّدُ حَرَكَةِ الظَّهْرِ وَالرَّأْسِ.
Jika makna pengagungan hilang, maka yang tersisa hanyalah sekadar gerakan punggung dan kepala.

وَلَيْسَ فِيهِ مِنَ الْمَشَقَّةِ مَا يُقْصَدُ الِامْتِحَانُ بِهِ.
Dan tidak ada di dalamnya kesulitan yang layak dijadikan sarana ujian ibadah.

ثُمَّ يُجْعَلُ عِمَادَ الدِّينِ وَالْفَاصِلَ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِسْلَامِ.
Namun salat justru dijadikan sebagai tiang agama dan pembeda antara kufur dan Islam.

وَيُقَدَّمُ عَلَى الْحَجِّ وَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ.
Dan ia didahulukan atas haji serta seluruh ibadah lainnya.

وَيَجِبُ الْقَتْلُ بِسَبَبِ تَرْكِهِ عَلَى الْخُصُوصِ.
Bahkan hukuman bunuh ditetapkan secara khusus karena meninggalkannya.

وَمَا أَرَى أَنَّ هٰذِهِ الْعَظَمَةَ كُلَّهَا لِلصَّلَاةِ مِنْ حَيْثُ أَعْمَالُهَا الظَّاهِرَةُ، إِلَّا أَنْ يُضَافَ إِلَيْهَا مَقْصُودُ الْمُنَاجَاةِ.
Aku tidak memandang bahwa seluruh keagungan salat ini kembali hanya kepada amalan lahiriahnya, kecuali jika ditambahkan padanya tujuan munajat.

فَإِنَّ ذٰلِكَ يَتَقَدَّمُ عَلَى الصَّوْمِ وَالزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَغَيْرِهِ.
Sebab itulah yang membuat salat lebih utama daripada puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya.

بَلِ الضَّحَايَا وَالْقَرَابِينُ الَّتِي هِيَ مُجَاهَدَةٌ لِلنَّفْسِ بِتَنْقِيصِ الْمَالِ.
Bahkan demikian pula kurban-kurban, yang merupakan mujahadah terhadap jiwa dengan mengurangi harta.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Daging-daging kurban itu dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”

أَيْ الصِّفَةُ الَّتِي اسْتَوْلَتْ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى حَمَلَتْهُ عَلَى امْتِثَالِ الْأَوَامِرِ هِيَ الْمَطْلُوبَةُ.
Maksudnya, sifat yang menguasai hati sampai mendorongnya menaati perintah-perintah itulah yang dicari.

فَكَيْفَ الْأَمْرُ فِي الصَّلَاةِ وَلَا أَرَبَ فِي أَفْعَالِهَا؟
Lalu bagaimana lagi halnya pada salat, padahal semata-mata gerakan lahiriahnya bukanlah tujuan pokok?

فَهٰذَا مَا يَدُلُّ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى عَلَى اشْتِرَاطِ حُضُورِ الْقَلْبِ.
Maka inilah dalil dari sisi makna bahwa hadirnya hati merupakan syarat.

فَإِنْ قُلْتَ: إِنْ حَكَمْتَ بِبُطْلَانِ الصَّلَاةِ وَجَعَلْتَ حُضُورَ الْقَلْبِ شَرْطًا فِي صِحَّتِهَا، خَالَفْتَ إِجْمَاعَ الْفُقَهَاءِ، فَإِنَّهُمْ لَمْ يَشْتَرِطُوا إِلَّا حُضُورَ الْقَلْبِ عِنْدَ التَّكْبِيرِ.
Jika engkau berkata: apabila engkau memutuskan batalnya salat dan menjadikan hadirnya hati sebagai syarat sahnya, maka engkau telah menyelisihi ijmak para fuqaha, karena mereka tidak mensyaratkan hadirnya hati kecuali saat takbir.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ تَقَدَّمَ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ أَنَّ الْفُقَهَاءَ لَا يَتَصَرَّفُونَ فِي الْبَاطِنِ، وَلَا يَشُقُّونَ عَنِ الْقُلُوبِ، وَلَا فِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ.
Ketahuilah bahwa telah dijelaskan dalam Kitab Ilmu bahwa para fuqaha tidak masuk ke dalam urusan batin, tidak membelah hati, dan tidak membahas jalan akhirat dari sisi hakikatnya.

بَلْ يَبْنُونَ أَحْكَامَ الدِّينِ عَلَى ظَاهِرِ أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ.
Mereka membangun hukum-hukum agama di atas amal-amal lahiriah anggota badan.

وَظَاهِرُ الْأَعْمَالِ كَافٍ لِسُقُوطِ الْقَتْلِ وَتَعْزِيرِ السُّلْطَانِ.
Amal lahiriah itu cukup untuk menggugurkan hukuman bunuh dan hukuman penguasa.

فَأَمَّا أَنَّهُ يَنْفَعُ فِي الْآخِرَةِ فَلَيْسَ هٰذَا مِنْ حُدُودِ الْفِقْهِ.
Adapun apakah ia benar-benar bermanfaat di akhirat, maka itu bukan wilayah pembahasan fikih.

عَلَى أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُدَّعَى الْإِجْمَاعُ.
Lagi pula, tidak mungkin diklaim adanya ijmak mutlak dalam masalah ini.

فَقَدْ نُقِلَ عَنْ بِشْرِ بْنِ الْحَارِثِ، فِيمَا رَوَاهُ عَنْهُ أَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: مَنْ لَمْ يَخْشَعْ فَسَدَتْ صَلَاتُهُ.
Sebab telah dinukil dari Bisyr bin al-Harits, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Thalib al-Makki darinya, dari Sufyan ats-Tsauri, bahwa ia berkata: “Barang siapa tidak khusyuk, rusaklah salatnya.”

وَرُوِيَ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ: كُلُّ صَلَاةٍ لَا يَحْضُرُ فِيهَا الْقَلْبُ فَهِيَ إِلَى الْعُقُوبَةِ أَسْرَعُ.
Dan diriwayatkan dari al-Hasan bahwa ia berkata: “Setiap salat yang hati tidak hadir di dalamnya, maka ia lebih cepat menuju hukuman.”

وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ: مَنْ عَرَفَ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ مُتَعَمِّدًا وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ.
Dan dari Mu‘adz bin Jabal: “Barang siapa dengan sengaja mengetahui siapa yang berada di kanan dan kirinya ketika ia sedang salat, maka tidak ada salat baginya.”

وَرُوِيَ أَيْضًا مُسْنَدًا: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ لَا يُكْتَبُ لَهُ سُدُسُهَا وَلَا عُشْرُهَا، وَإِنَّمَا يُكْتَبُ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلَاتِهِ مَا عَقَلَ مِنْهَا.
Dan diriwayatkan pula secara musnad bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengerjakan salat, tetapi tidak dituliskan baginya seperenamnya dan tidak pula sepersepuluhnya. Yang dituliskan bagi seorang hamba dari salatnya hanyalah sejauh yang ia pahami darinya.”

وَهٰذَا لَوْ نُقِلَ عَنْ غَيْرِهِ لَجُعِلَ مَذْهَبًا، فَكَيْفَ لَا يُتَمَسَّكُ بِهِ؟
Seandainya ucapan ini dinukil dari selain beliau, niscaya ia akan dijadikan mazhab. Maka bagaimana mungkin tidak dijadikan pegangan jika berasal dari beliau?

وَقَالَ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيْدٍ: أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا مَا عَقَلَ مِنْهَا.
Abdul Wahid bin Zaid berkata: “Para ulama telah sepakat bahwa tidak ada bagian bagi seorang hamba dari salatnya kecuali apa yang ia pahami darinya.”

فَجَعَلَهُ إِجْمَاعًا.
Maka ia menjadikannya sebagai ijmak.

وَمَا نُقِلَ مِنْ هٰذَا الْجِنْسِ عَنِ الْفُقَهَاءِ الْمُتَوَرِّعِينَ وَعَنْ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يُحْصَى.
Dan riwayat-riwayat semacam ini dari para fuqaha yang wara‘ dan para ulama akhirat sangat banyak, lebih banyak daripada yang bisa dihitung.

وَالْحَقُّ الرُّجُوعُ إِلَى أَدِلَّةِ الشَّرْعِ، وَالْأَخْبَارُ وَالْآثَارُ ظَاهِرَةٌ فِي هٰذَا الشَّرْطِ.
Yang benar adalah kembali kepada dalil-dalil syariat. Hadis-hadis dan atsar-atsar sangat jelas menunjukkan syarat ini.

إِلَّا أَنَّ مَقَامَ الْفُتْيَا فِي التَّكْلِيفِ الظَّاهِرِ يَتَقَدَّرُ بِقَدْرِ قُصُورِ الْخَلْقِ.
Hanya saja, مقام fatwa dalam beban syariat lahiriah ditentukan sesuai kadar kelemahan manusia.

فَلَا يُمْكِنُ أَنْ يُشْتَرَطَ عَلَى النَّاسِ إِحْضَارُ الْقَلْبِ فِي جَمِيعِ الصَّلَاةِ.
Karena tidak mungkin mensyaratkan kepada manusia hadirnya hati dalam seluruh salat.

فَإِنَّ ذٰلِكَ يَعْجِزُ عَنْهُ كُلُّ الْبَشَرِ إِلَّا الْأَقَلِّينَ.
Sebab hampir seluruh manusia tidak mampu melakukannya, kecuali segelintir orang.

وَإِذَا لَمْ يُمْكِنِ اشْتِرَاطُ الِاسْتِيعَابِ لِلضَّرُورَةِ، فَلَا مَرَدَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يُشْتَرَطَ مِنْهُ مَا يُطْلَقُ عَلَيْهِ الِاسْمُ وَلَوْ فِي اللَّحْظَةِ الْوَاحِدَةِ.
Apabila karena darurat tidak mungkin mensyaratkan kehadiran hati secara menyeluruh, maka tidak ada jalan selain mensyaratkan kadar minimal yang masih dapat disebut hadirnya hati, walaupun hanya dalam satu saat.

وَأَوْلَى اللَّحَظَاتِ بِهِ لَحْظَةُ التَّكْبِيرِ.
Dan saat yang paling layak untuk itu adalah saat takbiratul ihram.

فَاقْتَصَرْنَا فِي التَّكْلِيفِ عَلَى ذٰلِكَ.
Karena itu, dalam hukum lahiriah kita mencukupkan beban pada kadar tersebut.

وَنَحْنُ مَعَ ذٰلِكَ نَرْجُو أَنْ لَا يَكُونَ حَالُ الْغَافِلِ فِي جَمِيعِ صَلَاتِهِ مِثْلَ حَالِ التَّارِكِ بِالْكُلِّيَّةِ.
Meski begitu, kita masih berharap bahwa keadaan orang yang lalai dalam seluruh salatnya tidaklah sama dengan keadaan orang yang meninggalkannya sama sekali.

فَإِنَّهُ عَلَى الْجُمْلَةِ أَقْدَمَ عَلَى الْعَمَلِ ظَاهِرًا، وَأَحْضَرَ الْقَلْبَ لَحْظَةً.
Karena secara umum ia tetap melakukan amal itu secara lahiriah, dan setidaknya menghadirkan hati sesaat.

وَكَيْفَ لَا؟ وَالَّذِي صَلَّى مَعَ الْحَدَثِ نَاسِيًا، صَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى، وَلٰكِنْ لَهُ أَجْرُ مَا يَحْسَبُ فِعْلَهُ، عَلَى قَدْرِ قُصُورِهِ وَعُذْرِهِ.
Bagaimana tidak? Orang yang salat dalam keadaan berhadas karena lupa, salatnya batal di sisi Allah Ta‘ala, tetapi tetap ada pahala baginya sesuai apa yang ia kira telah ia lakukan, menurut kadar kekurangan dan uzurnya.

وَمَعَ هٰذَا الرَّجَاءِ فَيُخْشَى أَنْ يَكُونَ حَالُهُ أَشَدَّ مِنْ حَالِ التَّارِكِ.
Walaupun ada harapan seperti ini, tetap dikhawatirkan bahwa keadaannya justru lebih berat daripada orang yang meninggalkan salat.

وَكَيْفَ لَا؟ وَالَّذِي يَحْضُرُ الْخِدْمَةَ وَيَتَهَاوَنُ بِالْحَضْرَةِ، وَيَتَكَلَّمُ بِكَلَامِ الْغَافِلِ الْمُسْتَحْقِرِ، أَشَدُّ حَالًا مِنَ الَّذِي يُعْرِضُ عَنِ الْخِدْمَةِ.
Bagaimana tidak? Orang yang hadir dalam pengabdian tetapi meremehkan hadirat, serta berbicara dengan ucapan orang yang lalai dan merendahkan, lebih buruk keadaannya daripada orang yang berpaling sama sekali dari pengabdian.

وَإِذَا تَعَارَضَتْ أَسْبَابُ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ، وَصَارَ الْأَمْرُ مُخَاطِرًا فِي نَفْسِهِ، فَإِلَيْكَ الْخِيَرَةَ بَعْدَهُ فِي الِاحْتِيَاطِ وَالتَّسَاهُلِ.
Jika sebab-sebab takut dan harap saling berhadapan, dan persoalannya menjadi berbahaya dalam dirinya, maka setelah itu pilihan ada padamu antara bersikap hati-hati atau bersikap longgar.

وَمَعَ هٰذَا فَلَا مَطْمَعَ فِي مُخَالَفَةِ الْفُقَهَاءِ فِيمَا أَفْتَوْا بِهِ مِنَ الصِّحَّةِ مَعَ الْغَفْلَةِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ مِنْ ضَرُورَةِ الْفُتْيَا كَمَا سَبَقَ التَّنْبِيهُ عَلَيْهِ.
Meskipun demikian, tidak ada harapan untuk menyelisihi para fuqaha dalam apa yang mereka fatwakan tentang sahnya salat secara lahiriah meskipun disertai kelalaian, karena itu termasuk konsekuensi yang tidak terelakkan dalam fatwa, sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya.

وَمَنْ عَرَفَ سِرَّ الصَّلَاةِ عَلِمَ أَنَّ الْغَفْلَةَ تُضَادُّهَا.
Tetapi siapa yang mengetahui rahasia salat, ia akan tahu bahwa kelalaian bertentangan dengannya.

وَلٰكِنْ قَدْ ذَكَرْنَا فِي بَابِ الْفَرْقِ بَيْنَ الْعِلْمِ الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ فِي كِتَابِ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ أَنَّ قُصُورَ الْخَلْقِ أَحَدُ الْأَسْبَابِ الْمَانِعَةِ عَنِ التَّصْرِيحِ بِكُلِّ مَا يَنْكَشِفُ مِنْ أَسْرَارِ الشَّرْعِ.
Akan tetapi, kami telah menyebutkan dalam bab tentang perbedaan antara ilmu batin dan lahir dalam Kitab Kaidah-Kaidah Akidah, bahwa keterbatasan manusia adalah salah satu sebab yang menghalangi dijelaskannya secara terang seluruh rahasia syariat yang tersingkap.

فَلْنَقْتَصِرْ عَلَى هٰذَا الْقَدْرِ مِنَ الْبَحْثِ، فَإِنَّ فِيهِ مُقْنِعًا لِلْمُرِيدِ الطَّالِبِ لِطَرِيقِ الْآخِرَةِ.
Maka marilah kita mencukupkan pembahasan sampai di sini, karena di dalamnya sudah terdapat hal yang memadai bagi orang yang menempuh dan mencari jalan akhirat.

وَأَمَّا الْمُجَادِلُ الْمُشَغِّبُ فَلَسْنَا نَقْصِدُ مُخَاطَبَتَهُ الْآنَ.
Adapun orang yang gemar berdebat dan membuat kerancuan, maka bukan dia yang sedang kita tuju dengan pembicaraan ini.

وَحَاصِلُ الْكَلَامِ أَنَّ حُضُورَ الْقَلْبِ هُوَ رُوحُ الصَّلَاةِ.
Kesimpulan pembicaraan ini ialah bahwa hadirnya hati adalah ruh salat.

وَأَنَّ أَقَلَّ مَا يَبْقَى بِهِ رَمَقُ الرُّوحِ الْحُضُورُ عِنْدَ التَّكْبِيرِ.
Dan kadar paling sedikit yang dengannya ruh itu masih bernyawa adalah hadirnya hati pada saat takbir.

فَالنُّقْصَانُ مِنْهُ هَلَاكٌ.
Kekurangan dari itu adalah kebinasaan.

وَبِقَدْرِ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ تَنْبَسِطُ الرُّوحُ فِي أَجْزَاءِ الصَّلَاةِ.
Dan sejauh kehadiran hati itu bertambah, sejauh itu pula ruh salat menyebar ke seluruh bagian-bagiannya.

وَكَمْ مِنْ حَيٍّ لَا حَرَاكَ بِهِ، قَرِيبٍ مِنْ مَيِّتٍ.
Betapa banyak makhluk hidup yang tidak memiliki gerak, yang keadaannya dekat dengan mayat.

فَصَلَاةُ الْغَافِلِ فِي جَمِيعِهَا إِلَّا عِنْدَ التَّكْبِيرِ كَمَثَلِ حَيٍّ لَا حَرَاكَ بِهِ.
Maka salat orang yang lalai dalam seluruh bagian salatnya kecuali saat takbir, seperti makhluk hidup yang tidak memiliki gerak.

نَسْأَلُ اللهَ حُسْنَ الْعَوْنِ.
Kita memohon kepada Allah pertolongan yang baik.