Tata Cara Amal-Amal Lahiriah dalam Shalat
اَلْبَابُ الثَّانِي فِي كَيْفِيَّةِ الْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ مِنَ الصَّلَاةِ، وَالْبِدَايَةُ بِالتَّكْبِيرِ وَمَا قَبْلَهُ.
Bab kedua tentang tata cara amal-amal lahiriah dalam salat, dimulai dengan
takbir dan apa yang sebelumnya.
يَنْبَغِي
لِلْمُصَلِّي إِذَا فَرَغَ مِنَ الْوُضُوءِ وَالطَّهَارَةِ مِنَ الْخَبَثِ فِي
الْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَالثِّيَابِ، وَسَتْرِ الْعَوْرَةِ مِنَ السُّرَّةِ إِلَى
الرُّكْبَةِ، أَنْ يَنْتَصِبَ قَائِمًا مُتَوَجِّهًا إِلَى الْقِبْلَةِ.
Sudah sepatutnya bagi orang yang salat, apabila ia telah selesai dari wudu,
bersuci dari najis pada badan, tempat, dan pakaian, serta menutup aurat dari
pusar sampai lutut, untuk berdiri tegak menghadap kiblat.
وَيُزَاوِجَ
بَيْنَ قَدَمَيْهِ، وَلَا يَضُمَّهُمَا، فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا كَانَ يُسْتَدَلُّ
بِهِ عَلَى فِقْهِ الرَّجُلِ.
Dan hendaknya ia menyejajarkan kedua kakinya, tidak merapatkannya, karena hal
itu dahulu termasuk sesuatu yang dijadikan tanda kefaqihan seseorang.
وَقَدْ
نَهَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّفْنِ وَالصَّفْدِ فِي الصَّلَاةِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم telah melarang aṣ-ṣafn dan aṣ-ṣafad dalam salat.
وَالصَّفْدُ
هُوَ اقْتِرَانُ الْقَدَمَيْنِ مَعًا.
Aṣ-ṣafad adalah merapatkan kedua kaki sekaligus.
وَمِنْهُ
قَوْلُهُ تَعَالَى: مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ.
Dan di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dirantai bersama-sama dalam
belenggu.”
وَالصَّفْنُ
هُوَ رَفْعُ إِحْدَى الرِّجْلَيْنِ.
Sedangkan aṣ-ṣafn adalah mengangkat salah satu kaki.
وَمِنْهُ
قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ.
Dan di antaranya adalah firman Allah عز وجل: “Kuda-kuda yang berdiri dengan satu kaki
terangkat.”
هٰذَا
مَا يُرَاعِيهِ فِي رِجْلَيْهِ عِنْدَ الْقِيَامِ.
Inilah yang diperhatikan pada kedua kakinya ketika berdiri.
وَيُرَاعَى
فِي رُكْبَتَيْهِ وَمَعْقِدِ نِطَاقِهِ الِانْتِصَابُ.
Dan pada kedua lututnya serta bagian tengah tubuhnya, hendaknya dijaga tetap
tegak lurus.
وَأَمَّا
رَأْسُهُ، فَإِنْ شَاءَ تَرَكَهُ عَلَى اسْتِوَاءِ الْقِيَامِ، وَإِنْ شَاءَ
أَطْرَقَ.
Adapun kepalanya, jika ia mau, ia boleh membiarkannya lurus sesuai sikap
berdiri, dan jika ia mau, ia boleh sedikit menundukkannya.
وَالْإِطْرَاقُ
أَقْرَبُ لِلْخُشُوعِ وَأَغَضُّ لِلْبَصَرِ.
Menundukkan kepala lebih dekat kepada khusyuk dan lebih menahan pandangan.
وَلْيَكُنْ
بَصَرُهُ مَحْصُورًا عَلَى مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْهِ.
Hendaknya pandangannya terbatas pada tempat sujudnya.
فَإِنْ
لَمْ يَكُنْ لَهُ مُصَلًّى فَلْيَقْرُبْ مِنْ جِدَارِ الْحَائِطِ أَوْ لِيَخُطَّ
خَطًّا.
Jika ia tidak memiliki alas salat tertentu, hendaknya ia mendekat ke dinding
atau membuat satu garis.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ يَقْصُرُ مَسَافَةَ الْبَصَرِ وَيَمْنَعُ تَفَوُّقَ الْفِكْرِ.
Karena hal itu memperpendek jangkauan pandangan dan mencegah pikiran melayang
jauh.
وَلْيُحَجِّرْ
عَلَى بَصَرِهِ أَنْ يُجَاوِزَ أَطْرَافَ الْمُصَلَّى وَحُدُودَ الْخَطِّ.
Dan hendaknya ia membatasi pandangannya agar tidak melampaui tepi tempat salat
atau batas garis itu.
وَلْيَدُمْ
عَلَى هٰذَا الْقِيَامِ كَذٰلِكَ إِلَى الرُّكُوعِ مِنْ غَيْرِ الْتِفَاتٍ.
Dan hendaknya ia tetap dalam berdiri seperti itu sampai rukuk tanpa menoleh.
هٰذَا
أَدَبُ الْقِيَامِ.
Itulah adab berdiri dalam salat.
فَإِذَا
اسْتَوَى قِيَامُهُ وَاسْتِقْبَالُهُ وَإِطْرَاقُهُ كَذٰلِكَ، فَلْيَقْرَأْ: قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، تَحَصُّنًا بِهَا مِنَ الشَّيْطَانِ.
Jika telah lurus berdiri, menghadapkan diri, dan menundukkan kepala seperti
itu, hendaknya ia membaca: “Qul a‘ūdzu birabbin-nās,” sebagai perlindungan dari
setan.
ثُمَّ
لِيَأْتِ بِالْإِقَامَةِ.
Kemudian hendaknya ia mengucapkan iqamah.
وَإِنْ
كَانَ يَرْجُو حُضُورَ مَنْ يَقْتَدِي بِهِ فَلْيُؤَذِّنْ أَوَّلًا ثُمَّ لِيُقِمْ.
Jika ia berharap ada orang yang akan bermakmum kepadanya, hendaknya ia berazan
terlebih dahulu lalu iqamah.
ثُمَّ
لْيُحْضِرِ النِّيَّةَ، وَهُوَ أَنْ يَنْوِيَ فِي الظُّهْرِ مَثَلًا، وَيَقُولَ
بِقَلْبِهِ: أُؤَدِّي فَرِيضَةَ الظُّهْرِ لِلَّهِ.
Kemudian hendaknya ia menghadirkan niat, yaitu berniat, misalnya dalam salat
Zuhur, lalu berkata dalam hatinya: “Aku menunaikan fardu Zuhur karena Allah.”
لِيُمَيِّزَهَا
بِقَوْلِهِ: أُؤَدِّي، عَنِ الْقَضَاءِ.
Agar ia membedakannya dengan ucapannya “aku menunaikan” dari salat qadha.
وَبِالْفَرِيضَةِ
عَنِ النَّفْلِ.
Dan dengan niat “fardu” dari salat sunah.
وَبِالظُّهْرِ
عَنِ الْعَصْرِ وَغَيْرِهِ.
Dan dengan niat “Zuhur” dari Asar dan yang lainnya.
وَلْتَكُنْ
مَعَانِي هٰذِهِ الْأَلْفَاظِ حَاضِرَةً فِي قَلْبِهِ، فَإِنَّهُ هُوَ النِّيَّةُ.
Dan hendaknya makna kata-kata itu hadir dalam hatinya, karena itulah hakikat
niat.
وَالْأَلْفَاظُ
مُذَكِّرَاتٌ وَأَسْبَابٌ لِحُضُورِهَا.
Sedangkan lafaz-lafaz itu hanya pengingat dan sebab untuk menghadirkan niat.
وَيَجْتَهِدُ
أَنْ يَسْتَدِيمَ ذٰلِكَ إِلَى آخِرِ التَّكْبِيرِ حَتَّى لَا يَعْزُبَ.
Dan hendaknya ia berusaha mempertahankan niat itu sampai akhir takbir agar
tidak terputus.
فَإِذَا
حَضَرَ فِي قَلْبِهِ ذٰلِكَ فَلْيَرْفَعْ يَدَيْهِ إِلَى حَذْوِ مَنْكِبَيْهِ
بَعْدَ إِرْسَالِهِمَا.
Jika hal itu telah hadir di hatinya, hendaknya ia mengangkat kedua tangannya
sejajar dengan kedua bahunya setelah sebelumnya terlepas ke bawah.
بِحَيْثُ
يُحَاذِي بِكَفَّيْهِ مَنْكِبَيْهِ، وَبِإِبْهَامَيْهِ شَحْمَتَيْ أُذُنَيْهِ،
وَبِرُءُوسِ أُذُنَيْهِ.
Sehingga telapak kedua tangannya sejajar dengan kedua bahu, dan kedua ibu
jarinya sejajar dengan daun atau ujung kedua telinganya.
لِيَكُونَ
جَامِعًا بَيْنَ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيهِ.
Agar ia menggabungkan seluruh riwayat yang datang dalam hal ini.
وَيَكُونُ
مُقْبِلًا بِكَفَّيْهِ وَإِبْهَامَيْهِ إِلَى الْقِبْلَةِ.
Dan hendaknya telapak tangan serta ibu jarinya menghadap ke kiblat.
وَيَبْسُطُ
الْأَصَابِعَ، وَلَا يَقْبِضُهَا، وَلَا يَتَكَلَّفُ فِيهَا تَفْرِيجًا وَلَا
ضَمًّا، بَلْ يَتْرُكُهَا عَلَى مُقْتَضَى طَبْعِهَا.
Ia membentangkan jari-jari tangan, tidak menggenggamnya, dan tidak memaksakan
untuk terlalu merenggangkan atau merapatkannya, tetapi membiarkannya sesuai
keadaan alaminya.
إِذْ
نُقِلَ فِي الْأَثَرِ النَّشْرُ وَالضَّمُّ، وَهٰذَا بَيْنَهُمَا فَهُوَ أَوْلَى.
Karena dalam riwayat disebutkan ada bentuk membentangkan dan ada bentuk
merapatkan, maka posisi tengah di antara keduanya lebih utama.
وَإِذَا
اسْتَقَرَّتِ الْيَدَانِ فِي مَقَرِّهِمَا ابْتَدَأَ التَّكْبِيرَ مَعَ
إِرْسَالِهِمَا وَإِحْضَارِ النِّيَّةِ.
Apabila kedua tangan telah sampai pada posisinya, ia mulai bertakbir sambil
menurunkannya dan menghadirkan niat.
ثُمَّ
يَضَعُ الْيَدَيْنِ عَلَى مَا فَوْقَ السُّرَّةِ وَتَحْتَ الصَّدْرِ.
Kemudian ia meletakkan kedua tangannya di atas pusar dan di bawah dada.
وَيَضَعُ
الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى إِكْرَامًا لِلْيُمْنَى بِأَنْ تَكُونَ مَحْمُولَةً.
Ia meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, sebagai bentuk memuliakan
tangan kanan dengan menjadikannya yang diangkat.
وَيَنْشُرُ
الْمُسَبِّحَةَ وَالْوُسْطَى مِنَ الْيُمْنَى عَلَى طُولِ السَّاعِدِ.
Ia membentangkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan sepanjang lengan
tangan kiri.
وَيَقْبِضُ
بِالْإِبْهَامِ وَالْخِنْصِرِ وَالْبِنْصِرِ عَلَى كُوعِ الْيُسْرَى.
Dan ia menggenggam pergelangan tangan kiri dengan ibu jari, jari kelingking,
dan jari manis.
وَقَدْ
رُوِيَ أَنَّ التَّكْبِيرَ مَعَ رَفْعِ الْيَدَيْنِ.
Dan diriwayatkan bahwa takbir dilakukan bersamaan dengan mengangkat kedua
tangan.
وَمَعَ
اسْتِقْرَارِهِمَا.
Juga diriwayatkan dilakukan ketika keduanya telah sampai pada posisi tertinggi.
وَمَعَ
الْإِرْسَالِ.
Dan juga diriwayatkan dilakukan bersamaan dengan menurunkannya.
فَكُلُّ
ذٰلِكَ لَا حَرَجَ فِيهِ.
Semua itu tidak mengapa.
وَأَرَاهُ
بِالْإِرْسَالِ أَلْيَقَ، فَإِنَّهُ كَلِمَةُ الْعَقْدِ.
Menurutku, melakukannya bersamaan dengan menurunkan tangan lebih tepat, karena
takbir itu adalah kalimat akad salat.
وَوَضْعُ
إِحْدَى الْيَدَيْنِ عَلَى الْأُخْرَى فِي صُورَةِ الْعَقْدِ، وَمَبْدَؤُهُ
الْإِرْسَالُ وَآخِرُهُ الْوَضْعُ.
Dan meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain merupakan bentuk nyata dari
akad itu. Awalnya ialah penurunan tangan dan akhirnya adalah peletakannya.
وَمَبْدَأُ
التَّكْبِيرِ الْأَلِفُ وَآخِرُهُ الرَّاءُ، فَيَلِيقُ مُرَاعَاةُ التَّطَابُقِ
بَيْنَ الْفِعْلِ وَالْعَقْدِ.
Awal lafaz takbir adalah alif dan akhirnya adalah ra, maka patut diperhatikan
kesesuaian antara gerakan dan akad itu.
وَأَمَّا
رَفْعُ الْيَدِ فَكَالْمُقَدِّمَةِ لِهٰذِهِ الْبِدَايَةِ.
Adapun mengangkat tangan, maka ia seperti pendahuluan untuk permulaan itu.
ثُمَّ
لَا يَنْبَغِي أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ إِلَى قُدَّامَ رَفْعًا عِنْدَ التَّكْبِيرِ.
Kemudian tidak patut ia mengangkat kedua tangannya ke arah depan saat
bertakbir.
وَلَا
يَرُدَّهُمَا إِلَى خَلْفِ مَنْكِبَيْهِ.
Dan tidak pula menarik keduanya ke belakang bahunya.
وَلَا
يَنْفُضَهُمَا عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ نَفْضًا إِذَا فَرَغَ مِنَ التَّكْبِيرِ.
Dan tidak pula mengibaskannya ke kanan dan ke kiri ketika selesai bertakbir.
وَيُرْسِلُهُمَا
إِرْسَالًا خَفِيفًا رَفِيقًا.
Ia menurunkannya dengan perlahan dan lembut.
وَيَسْتَأْنِفُ
وَضْعَ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ بَعْدَ الْإِرْسَالِ.
Kemudian ia meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah menurunkannya.
وَفِي
بَعْضِ الرِّوَايَاتِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا
كَبَّرَ أَرْسَلَ يَدَيْهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ وَضَعَ الْيُمْنَى
عَلَى الْيُسْرَى.
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم apabila bertakbir
beliau menurunkan kedua tangannya, dan ketika hendak membaca beliau meletakkan
tangan kanan di atas tangan kiri.
فَإِنْ
صَحَّ هٰذَا فَهُوَ أَوْلَى مِمَّا ذَكَرْنَاهُ.
Jika riwayat ini sahih, maka itu lebih utama daripada apa yang kami sebutkan.
وَأَمَّا
التَّكْبِيرُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَضُمَّ الْهَاءَ مِنْ قَوْلِهِ: اللهُ، ضَمَّةً
خَفِيفَةً مِنْ غَيْرِ مُبَالَغَةٍ.
Adapun takbir, hendaknya ia membaca huruf ha pada lafaz “Allāhu” dengan dhammah
ringan tanpa berlebihan.
وَلَا
يُدْخِلَ بَيْنَ الْهَاءِ وَالْأَلِفِ شِبْهَ الْوَاوِ.
Dan jangan ia memasukkan bunyi yang menyerupai huruf waw di antara ha dan alif.
وَذٰلِكَ
يَنْسَاقُ إِلَيْهِ بِالْمُبَالَغَةِ.
Hal itu biasanya terjadi karena berlebihan dalam pengucapan.
وَلَا
يُدْخِلْ بَيْنَ بَاءِ أَكْبَرُ وَرَائِهِ أَلِفًا، كَأَنَّهُ يَقُولُ: أَكْبَارُ.
Dan jangan pula ia memasukkan alif di antara ba dan ra pada lafaz “Akbar”,
seolah-olah ia mengucapkan “akbār”.
وَيَجْزِمُ
رَاءَ التَّكْبِيرِ، وَلَا يَضُمُّهَا.
Ia mengakhirinya dengan sukun pada huruf ra, bukan dengan dhammah.
فَهٰذِهِ
هَيْئَةُ التَّكْبِيرِ وَمَا مَعَهُ.
Itulah tata cara takbir dan hal-hal yang menyertainya.
اَلْقِرَاءَةُ.
Bacaan.
ثُمَّ
يَبْتَدِئُ بِدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ.
Kemudian ia memulai dengan doa iftitah.
وَحَسُنَ
أَنْ يَقُولَ عَقِيبَ قَوْلِهِ: اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
Bagus jika setelah ucapan “Allāhu akbar” ia mengucapkan: “Allāhu akbar kabīrā,
wal-ḥamdu lillāhi katsīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā.”
وَجَّهْتُ
وَجْهِيَ... إِلَى قَوْلِهِ: وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
Lalu membaca: “Wajjahtu wajhiya...” sampai firman: “wa anā minal-muslimīn.”
ثُمَّ
يَقُولُ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى
جَدُّكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ.
Kemudian ia membaca: “Subḥānakallāhumma wa biḥamdik, wa tabārakasmuk, wa ta‘ālā
jadduk, wa jalla tsanā’uk, wa lā ilāha ghairuk.”
لِيَكُونَ
جَامِعًا بَيْنَ مُتَفَرِّقَاتِ مَا وَرَدَ فِي الْأَخْبَارِ.
Agar ia menghimpun berbagai lafaz doa yang datang dalam riwayat.
وَإِنْ
كَانَ خَلْفَ الْإِمَامِ اخْتَصَرَ إِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْإِمَامِ سَكْتَةٌ
طَوِيلَةٌ يَقْرَأُ فِيهَا.
Jika ia menjadi makmum, hendaknya ia meringkas bacaan itu jika imam tidak
memiliki jeda panjang yang memungkinkan ia membacanya.
ثُمَّ
يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
Kemudian ia membaca: “A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.”
ثُمَّ
يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ، يَبْتَدِئُ فِيهَا بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
بِتَمَامِ تَشْدِيدَاتِهَا وَحُرُوفِهَا.
Lalu ia membaca al-Fatihah, dimulai dengan “Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm” dengan
menyempurnakan semua tasydid dan hurufnya.
وَيَجْتَهِدُ
فِي الْفَرْقِ بَيْنَ الضَّادِ وَالظَّاءِ.
Dan ia berusaha membedakan antara huruf ḍād dan ẓā’.
وَيَقُولُ:
آمِينَ فِي آخِرِ الْفَاتِحَةِ.
Dan ia mengucapkan “Āmīn” di akhir al-Fatihah.
وَيَمُدُّهَا
مَدًّا، وَلَا يَصِلُ آمِينَ بِقَوْلِهِ: وَلَا الضَّالِّينَ وَصْلًا.
Ia memanjangkannya, dan tidak menyambungkan “Āmīn” langsung dengan lafaz “wa laḍ-ḍāllīn”.
وَيَجْهَرُ
بِالْقِرَاءَةِ فِي الصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ
مَأْمُومًا.
Ia mengeraskan bacaan pada salat Subuh, Magrib, dan Isya, kecuali jika ia
menjadi makmum.
وَيَجْهَرُ
بِالتَّأْمِينِ.
Dan ia mengeraskan ucapan آمين.
ثُمَّ
يَقْرَأُ السُّورَةَ أَوْ قَدْرَ ثَلَاثِ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ فَمَا فَوْقَهَا.
Kemudian ia membaca satu surah atau sekadar tiga ayat Al-Qur’an atau lebih.
وَلَا
يَصِلُ آخِرَ السُّورَةِ بِتَكْبِيرِ الْهُوِيِّ، بِأَنْ يَفْصِلَ بَيْنَهُمَا
بِقَدْرِ قَوْلِهِ: سُبْحَانَ اللهِ.
Dan ia tidak menyambung akhir surah dengan takbir ketika turun, melainkan
memisahkan antara keduanya sekadar waktu mengucapkan “Subḥānallāh”.
وَيَقْرَأُ
فِي الصُّبْحِ مِنَ السُّوَرِ الطِّوَالِ مِنَ الْمُفَصَّلِ.
Pada salat Subuh ia membaca surah-surah panjang dari al-Mufashshal.
وَفِي
الْمَغْرِبِ مِنْ قِصَارِهِ.
Pada Magrib dari surah-surah pendeknya.
وَفِي
الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْعِشَاءِ نَحْوَ: وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَمَا
قَارَبَهَا.
Pada Zuhur, Asar, dan Isya, sekitar surah “Was-samā’i dzātil-burūj” dan yang
sejenisnya.
وَفِي
الصُّبْحِ فِي السَّفَرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ
أَحَدٌ.
Dalam salat Subuh ketika safar, ia membaca “Qul yā ayyuhal-kāfirūn” dan “Qul
huwallāhu aḥad.”
وَكَذٰلِكَ
فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ وَالطَّوَافِ وَالتَّحِيَّةِ.
Demikian pula pada dua rakaat fajar, thawaf, dan tahiyyatul masjid.
وَهُوَ
فِي جَمِيعِ ذٰلِكَ مُسْتَدِيمُ الْقِيَامِ وَوَضْعِ الْيَدَيْنِ كَمَا وَصَفْنَا
فِي أَوَّلِ الصَّلَاةِ.
Dalam semua itu ia tetap menjaga sikap berdiri dan peletakan tangan sebagaimana
telah kami jelaskan di awal salat.
اَلرُّكُوعُ
وَلَوَاحِقُهُ.
Rukuk dan hal-hal yang mengikutinya.
ثُمَّ
يَرْكَعُ وَيُرَاعِي فِيهِ أُمُورًا.
Kemudian ia rukuk dan memperhatikan beberapa hal di dalamnya.
وَهُوَ
أَنْ يُكَبِّرَ لِلرُّكُوعِ.
Yaitu bertakbir untuk rukuk.
وَأَنْ
يَرْفَعَ يَدَيْهِ مَعَ تَكْبِيرَةِ الرُّكُوعِ.
Dan mengangkat kedua tangan bersamaan dengan takbir rukuk.
وَأَنْ
يَمُدَّ التَّكْبِيرَ مَدًّا إِلَى الِانْتِهَاءِ إِلَى الرُّكُوعِ.
Dan memanjangkan takbir sampai geraknya menuju rukuk selesai.
وَأَنْ
يَضَعَ رَاحَتَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فِي الرُّكُوعِ.
Dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lutut ketika rukuk.
وَأَصَابِعُهُ
مَنْشُورَةٌ مُوَجَّهَةٌ نَحْوَ الْقِبْلَةِ عَلَى طُولِ السَّاقِ.
Jari-jarinya dibentangkan dan diarahkan ke kiblat sejajar dengan betis.
وَأَنْ
يَنْصِبَ رُكْبَتَيْهِ وَلَا يَثْنِيَهُمَا.
Dan hendaknya ia menegakkan kedua lututnya serta tidak menekukkannya.
وَأَنْ
يَمُدَّ ظَهْرَهُ مُسْتَوِيًا.
Dan meluruskan punggungnya dengan rata.
وَأَنْ
يَكُونَ عُنُقُهُ وَرَأْسُهُ مُسْتَوِيَيْنِ مَعَ ظَهْرِهِ كَالصَّفِيحَةِ
الْوَاحِدَةِ، لَا يَكُونُ رَأْسُهُ أَخْفَضَ وَلَا أَرْفَعَ.
Leher dan kepalanya sejajar dengan punggungnya seperti satu papan yang rata,
tidak lebih rendah dan tidak pula lebih tinggi.
وَأَنْ
يُجَافِيَ مَرْفِقَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ.
Dan menjauhkan kedua sikunya dari kedua lambungnya.
وَتَضُمُّ
الْمَرْأَةُ مَرْفِقَيْهَا إِلَى جَنْبَيْهَا.
Sedangkan perempuan merapatkan kedua sikunya ke lambungnya.
وَأَنْ
يَقُولَ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ ثَلَاثًا.
Dan hendaknya ia membaca: “Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm” tiga kali.
وَالزِّيَادَةُ
إِلَى السَّبْعِ وَإِلَى الْعَشْرِ حَسَنٌ إِنْ لَمْ يَكُنْ إِمَامًا.
Menambahnya menjadi tujuh atau sepuluh kali itu baik, jika ia bukan imam.
ثُمَّ
يَرْتَفِعُ مِنَ الرُّكُوعِ إِلَى الْقِيَامِ.
Kemudian ia bangkit dari rukuk menuju berdiri.
وَيَرْفَعُ
يَدَيْهِ، وَيَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ.
Ia mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan: “Sami‘allāhu liman ḥamidah.”
وَيَطْمَئِنُّ
فِي الِاعْتِدَالِ.
Dan ia tenang ketika i‘tidal.
وَيَقُولُ:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءَ السَّمٰوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا
شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ.
Dan ia mengucapkan: “Rabbanā lakal-ḥamd, mil’as-samāwāti wa mil’al-arḍi wa
mil’a mā syi’ta min syai’in ba‘d.”
وَلَا
يُطِيلُ هٰذَا الْقِيَامَ إِلَّا فِي صَلَاةِ التَّسْبِيحِ وَالْكُسُوفِ
وَالصُّبْحِ.
Dan ia tidak memanjangkan berdiri ini kecuali pada salat tasbih, salat gerhana,
dan salat Subuh.
وَيَقْنُتُ
فِي الصُّبْحِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِالْكَلِمَاتِ الْمَأْثُورَةِ قَبْلَ
السُّجُودِ.
Dan ia membaca qunut dalam salat Subuh pada rakaat kedua dengan doa-doa yang
ma’tsur sebelum sujud.
اَلسُّجُودُ.
Sujud.
ثُمَّ
يَهْوِي إِلَى السُّجُودِ مُكَبِّرًا.
Kemudian ia turun untuk sujud sambil bertakbir.
فَيَضَعُ
رُكْبَتَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ.
Lalu ia meletakkan kedua lututnya di tanah.
وَيَضَعُ
جَبْهَتَهُ وَأَنْفَهُ وَكَفَّيْهِ مَكْشُوفَةً.
Dan meletakkan dahinya, hidungnya, serta kedua telapak tangannya dalam keadaan
terbuka.
وَيُكَبِّرُ
عِنْدَ الْهُوِيِّ.
Dan ia bertakbir ketika turun.
وَلَا
يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي غَيْرِ الرُّكُوعِ.
Dan ia tidak mengangkat kedua tangan kecuali pada perpindahan rukuk.
وَيَنْبَغِي
أَنْ يَكُونَ أَوَّلُ مَا يَقَعُ مِنْهُ عَلَى الْأَرْضِ رُكْبَتَاهُ.
Dan hendaknya yang pertama kali menyentuh tanah darinya adalah kedua lututnya.
وَأَنْ
يَضَعَ بَعْدَهُمَا يَدَيْهِ.
Lalu sesudah itu kedua tangannya.
ثُمَّ
يَضَعَ بَعْدَهُمَا وَجْهَهُ.
Kemudian sesudah itu wajahnya.
وَأَنْ
يَضَعَ جَبْهَتَهُ وَأَنْفَهُ عَلَى الْأَرْضِ.
Dan hendaknya ia menempelkan dahi serta hidungnya ke tanah.
وَأَنْ
يُجَافِيَ مَرْفِقَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ، وَلَا تَفْعَلُ الْمَرْأَةُ ذٰلِكَ.
Dan hendaknya ia menjauhkan kedua sikunya dari kedua lambungnya, sedangkan
perempuan tidak melakukan hal itu.
وَأَنْ
يُفَرِّجَ بَيْنَ رِجْلَيْهِ، وَلَا تَفْعَلُ الْمَرْأَةُ ذٰلِكَ.
Dan hendaknya ia merenggangkan kedua kakinya, sedangkan perempuan tidak
melakukan hal itu.
وَأَنْ
يَكُونَ فِي سُجُودِهِ مُخَوِّيًا عَلَى الْأَرْضِ، وَلَا تَكُونُ الْمَرْأَةُ
مُخَوِّيَةً.
Dan hendaknya ia dalam sujud merendahkan perutnya mendekati tanah, sedangkan
perempuan tidak demikian.
وَالتَّخْوِيَةُ
رَفْعُ الْبَطْنِ عَنِ الْفَخِذَيْنِ وَالتَّفْرِيجُ بَيْنَ الرُّكْبَتَيْنِ.
Yang dimaksud dengan takhwiyah adalah mengangkat perut dari kedua paha dan
merenggangkan antara kedua lutut.
وَأَنْ
يَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ.
Dan hendaknya ia meletakkan kedua tangannya di tanah sejajar dengan kedua
bahunya.
وَلَا
يُفَرِّجُ بَيْنَ أَصَابِعِهِمَا بَلْ يَضُمُّهُمَا، وَيَضُمُّ الْإِبْهَامَ
إِلَيْهِمَا.
Dan ia tidak merenggangkan jari-jari kedua tangannya, tetapi merapatkannya,
serta merapatkan ibu jari kepada jari-jari lainnya.
وَإِنْ
لَمْ يَضُمَّ الْإِبْهَامَ فَلَا بَأْسَ.
Namun jika ia tidak merapatkan ibu jari, tidak mengapa.
وَلَا
يَفْتَرِشُ ذِرَاعَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ كَمَا يَفْتَرِشُ الْكَلْبُ.
Dan janganlah ia membentangkan kedua lengannya di tanah sebagaimana anjing
membentangkannya.
فَإِنَّهُ
مَنْهِيٌّ عَنْهُ.
Karena hal itu dilarang.
وَأَنْ
يَقُولَ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى ثَلَاثًا، فَإِنْ زَادَ فَحَسَنٌ إِلَّا
أَنْ يَكُونَ إِمَامًا.
Dan hendaknya ia mengucapkan: “Subḥāna rabbiyal-a‘lā” tiga kali. Jika ia
menambah, maka itu baik, kecuali bila ia menjadi imam.
ثُمَّ
يَرْفَعُ مِنَ السُّجُودِ، فَيَطْمَئِنُّ جَالِسًا مُعْتَدِلًا.
Kemudian ia bangkit dari sujud, lalu duduk dengan tenang dan lurus.
فَيَرْفَعُ
رَأْسَهُ مُكَبِّرًا.
Ia mengangkat kepalanya sambil bertakbir.
وَيَجْلِسُ
عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى، وَيَنْصِبُ قَدَمَهُ الْيُمْنَى.
Ia duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.
وَيَضَعُ
يَدَيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَالْأَصَابِعُ مَنْشُورَةٌ، وَلَا يَتَكَلَّفُ
ضَمَّهَا وَلَا تَفْرِيجَهَا.
Dan ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, dengan jari-jari
terhampar, tanpa memaksakan untuk terlalu merapatkan atau merenggangkannya.
وَيَقُولُ:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي، وَاجْبُرْنِي،
وَعَافِنِي، وَاعْفُ عَنِّي.
Dan ia membaca: “Rabbi-ghfir lī, warḥamnī, warzuqnī, wahdinī, wajburnī, wa
‘āfinī, wa‘fu ‘annī.”
وَلَا
يُطِيلُ هٰذِهِ الْجَلْسَةَ إِلَّا فِي سُجُودِ التَّسْبِيحِ.
Dan ia tidak memanjangkan duduk ini kecuali dalam salat tasbih.
وَيَأْتِي
بِالسَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ كَذٰلِكَ.
Lalu ia melakukan sujud kedua seperti itu pula.
وَيَسْتَوِي
مِنْهَا جَالِسًا جَلْسَةً خَفِيفَةً لِلِاسْتِرَاحَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ لَا
تَشَهُّدَ عَقِيبَهَا.
Dan setelah bangkit darinya ia duduk sejenak dengan ringan untuk istirahat pada
setiap rakaat yang tidak diakhiri dengan tasyahud.
ثُمَّ
يَقُومُ، فَيَضَعُ الْيَدَ عَلَى الْأَرْضِ، وَلَا يُقَدِّمُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ
فِي حَالِ الِارْتِفَاعِ.
Kemudian ia berdiri dengan meletakkan tangan di tanah, dan tidak mendahulukan
salah satu kakinya saat bangkit.
وَيَمُدُّ
التَّكْبِيرَ حَتَّى يَسْتَغْرِقَ مَا بَيْنَ وَسَطِ ارْتِفَاعِهِ مِنَ الْقُعُودِ
إِلَى وَسَطِ ارْتِفَاعِهِ إِلَى الْقِيَامِ.
Dan ia memanjangkan takbir sehingga mencakup masa dari pertengahan bangkitnya
dari duduk sampai pertengahan bangkitnya menuju berdiri.
بِحَيْثُ
تَكُونُ الْهَاءُ مِنْ قَوْلِهِ: اللهُ، عِنْدَ اسْتِوَائِهِ جَالِسًا، وَكَافُ
أَكْبَرَ عِنْدَ اعْتِمَادِهِ عَلَى الْيَدِ لِلْقِيَامِ، وَرَاءُ أَكْبَرَ فِي
وَسَطِ ارْتِفَاعِهِ إِلَى الْقِيَامِ.
Sehingga huruf ha dari lafaz “Allāh” diucapkan ketika ia telah tegak duduk,
huruf kaf dari “Akbar” ketika ia bertumpu pada tangan untuk berdiri, dan huruf
ra dari “Akbar” diucapkan di tengah bangkitnya menuju berdiri.
وَيَبْتَدِئُ
فِي وَسَطِ ارْتِفَاعِهِ إِلَى الْقِيَامِ، حَتَّى يَقَعَ التَّكْبِيرُ فِي وَسَطِ
انْتِقَالِهِ، وَلَا يَخْلُو عَنْهُ إِلَّا طَرَفَاهُ، وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى
التَّعْمِيمِ.
Ia memulai takbir di pertengahan bangkitnya menuju berdiri, sehingga takbir itu
jatuh pada pertengahan perpindahannya, dan takbir tidak terpisah darinya
kecuali pada dua ujung gerak tersebut. Ini lebih mendekati penyempurnaan.
وَيُصَلِّي
الرَّكْعَةَ الثَّانِيَةَ كَالْأُولَى، وَيُعِيدُ التَّعَوُّذَ كَالِابْتِدَاءِ.
Ia mengerjakan rakaat kedua seperti rakaat pertama, dan mengulangi ta‘awudz
seperti pada awal salat.
اَلتَّشَهُّدُ.
Tasyahud.
ثُمَّ
يَتَشَهَّدُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ التَّشَهُّدَ الْأَوَّلَ.
Kemudian ia bertasyahud pada rakaat kedua dengan tasyahud awal.
ثُمَّ
يُصَلِّي عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ.
Lalu ia bersalawat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kepada keluarganya.
وَيَضَعُ
يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى.
Dan ia meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya.
وَيَقْبِضُ
أَصَابِعَهُ الْيُمْنَى إِلَّا الْمُسَبِّحَةَ.
Ia menggenggam jari-jari tangan kanannya kecuali jari telunjuk.
وَلَا
بَأْسَ بِإِرْسَالِ الْإِبْهَامِ أَيْضًا.
Dan tidak mengapa membiarkan ibu jari terlepas.
وَيُشِيرُ
بِمُسَبِّحَةِ يُمْنَاهُ وَحْدَهَا عِنْدَ قَوْلِهِ: إِلَّا اللهُ، لَا عِنْدَ
قَوْلِهِ: لَا إِلٰهَ.
Dan ia menunjuk dengan telunjuk tangan kanannya saja ketika mengucapkan
“illallāh”, bukan ketika mengucapkan “lā ilāha”.
وَيَجْلِسُ
فِي هٰذَا التَّشَهُّدِ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى كَمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ.
Pada tasyahud ini ia duduk di atas kaki kirinya sebagaimana duduk antara dua
sujud.
وَفِي
التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ يَسْتَكْمِلُ الدُّعَاءَ الْمَأْثُورَ بَعْدَ الصَّلَاةِ
عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Pada tasyahud akhir ia menyempurnakan doa-doa ma’tsur setelah salawat kepada
Nabi صلى الله عليه
وسلم.
وَسُنَنُهُ
كَسُنَنِ التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ.
Sunah-sunahnya sama seperti sunah-sunah tasyahud awal.
لٰكِنَّهُ
يَجْلِسُ فِي الْأَخِيرِ عَلَى وِرْكِهِ الْأَيْسَرِ، لِأَنَّهُ لَيْسَ
مُسْتَوْفِزًا لِلْقِيَامِ، بَلْ هُوَ مُسْتَقِرٌّ.
Hanya saja pada tasyahud akhir ia duduk di atas pinggul kirinya, karena ia
tidak lagi bersiap untuk berdiri, tetapi dalam posisi menetap.
وَيُضْجِعُ
رِجْلَهُ الْيُسْرَى خَارِجَةً مِنْ تَحْتِهِ.
Ia membaringkan kaki kirinya keluar dari bawah tubuhnya.
وَيَنْصِبُ
الْيُمْنَى.
Dan ia menegakkan kaki kanannya.
وَيَضَعُ
رَأْسَ الْإِبْهَامِ إِلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ إِنْ لَمْ يَشُقَّ عَلَيْهِ.
Dan ia mengarahkan ujung ibu jari kakinya ke arah kiblat jika itu tidak
menyulitkannya.
ثُمَّ
يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ.
Kemudian ia mengucapkan: “As-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.”
وَيَلْتَفِتُ
يَمِينًا بِحَيْثُ يَرَى خَدَّهُ الْأَيْمَنَ مَنْ وَرَاءَهُ مِنَ الْجَانِبِ
الْيَمِينِ.
Dan ia menoleh ke kanan hingga orang di belakang sebelah kanannya dapat melihat
pipi kanannya.
وَيَلْتَفِتُ
شِمَالًا كَذٰلِكَ.
Dan ia menoleh ke kiri seperti itu pula.
وَيُسَلِّمُ
تَسْلِيمَةً ثَانِيَةً.
Lalu ia mengucapkan salam yang kedua.
وَيَنْوِي
الْخُرُوجَ مِنَ الصَّلَاةِ بِالسَّلَامِ.
Ia berniat keluar dari salat dengan salam tersebut.
وَيَنْوِي
بِالسَّلَامِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ الْمَلَائِكَةَ وَالْمُسْلِمِينَ فِي الْأُولَى.
Dengan salam pertama, ia berniat memberi salam kepada malaikat dan kaum
Muslimin yang berada di sebelah kanannya.
وَيَنْوِي
مِثْلَ ذٰلِكَ فِي الثَّانِيَةِ.
Dan ia berniat seperti itu pula pada salam kedua.
وَيَجْزِمُ
التَّسْلِيمَ، وَلَا يَمُدُّهُ مَدًّا، فَهُوَ السُّنَّةُ.
Ia mengucapkan salam dengan tegas dan tidak memanjangkannya, karena itulah
sunah.
وَهٰذِهِ
هَيْئَةُ صَلَاةِ الْمُنْفَرِدِ.
Inilah tata cara salat bagi orang yang salat sendirian.
وَيَرْفَعُ
صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرَاتِ.
Ia mengeraskan suaranya pada takbir-takbir.
وَلَا
يَرْفَعُ صَوْتَهُ إِلَّا بِقَدْرِ مَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ.
Tetapi ia tidak mengeraskan lebih dari kadar yang dapat didengar oleh dirinya
sendiri.
وَيَنْوِي
الْإِمَامُ الْإِمَامَةَ لِيَنَالَ الْفَضْلَ.
Adapun imam, hendaknya ia berniat menjadi imam agar mendapatkan keutamaannya.
فَإِنْ
لَمْ يَنْوِ صَحَّتْ صَلَاةُ الْقَوْمِ إِذَا نَوَوُا الِاقْتِدَاءَ، وَنَالُوا
فَضْلَ الْجَمَاعَةِ.
Jika ia tidak berniat demikian, salat makmum tetap sah apabila mereka berniat
mengikuti, dan mereka tetap memperoleh keutamaan berjamaah.
وَيُسِرُّ
بِدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ كَالْمُنْفَرِدِ.
Imam membaca doa iftitah dan ta‘awudz dengan suara pelan sebagaimana orang yang
salat sendirian.
وَيَجْهَرُ
بِالْفَاتِحَةِ وَالسُّورَةِ فِي جَمِيعِ الصُّبْحِ وَأُولَيَيِ الْعِشَاءِ
وَالْمَغْرِبِ، وَكَذٰلِكَ الْمُنْفَرِدُ.
Ia mengeraskan bacaan al-Fatihah dan surah pada seluruh salat Subuh dan dua
rakaat pertama Magrib dan Isya, demikian pula orang yang salat sendirian.
وَيَجْهَرُ
بِقَوْلِهِ: آمِينَ فِي الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ، وَكَذٰلِكَ الْمَأْمُومُ.
Ia mengeraskan ucapan “āmīn” pada salat jahriyah, demikian pula makmum.
وَيُقَرِّنُ
الْمَأْمُومُ تَأْمِينَهُ بِتَأْمِينِ الْإِمَامِ مَعًا لَا تَعْقِيبًا.
Makmum menyertakan آمين-nya
bersamaan dengan آمين
imam, bukan sesudahnya.
وَيَسْكُتُ
الْإِمَامُ سَكْتَةً عَقِيبَ الْفَاتِحَةِ لِيَثُوبَ إِلَيْهِ نَفَسُهُ.
Imam berhenti sejenak setelah al-Fatihah agar napasnya kembali tenang.
وَيَقْرَأُ
الْمَأْمُومُ الْفَاتِحَةَ فِي الْجَهْرِيَّةِ فِي هٰذِهِ السَّكْتَةِ،
لِيَتَمَكَّنَ مِنَ الِاسْتِمَاعِ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْإِمَامِ.
Makmum membaca al-Fatihah pada salat jahriyah dalam jeda itu agar dapat
mendengarkan ketika imam membaca.
وَلَا
يَقْرَأُ الْمَأْمُومُ السُّوَرَ فِي الْجَهْرِيَّةِ إِلَّا إِذَا لَمْ يَسْمَعْ
صَوْتَ الْإِمَامِ.
Dan makmum tidak membaca surah-surah pada salat jahriyah kecuali jika ia tidak
mendengar suara imam.
وَيَقُولُ
الْإِمَامُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ عِنْدَ رَفْعِ رَأْسِهِ مِنَ
الرُّكُوعِ، وَكَذٰلِكَ الْمَأْمُومُ.
Imam mengucapkan: “Sami‘allāhu liman ḥamidah” ketika mengangkat kepala dari
rukuk, demikian pula makmum.
وَلَا
يَزِيدُ الْإِمَامُ عَلَى الثَّلَاثِ فِي تَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
Imam tidak menambah lebih dari tiga kali pada tasbih-tasbih rukuk dan sujud.
وَلَا
يَزِيدُ فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ بَعْدَ قَوْلِهِ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
Dan ia tidak menambah pada tasyahud awal setelah ucapan: “Allāhumma ṣalli ‘alā
Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad.”
وَيَقْتَصِرُ
فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ عَلَى الْفَاتِحَةِ.
Ia mencukupkan pada dua rakaat terakhir dengan al-Fatihah saja.
وَلَا
يُطِيلُ عَلَى الْقَوْمِ.
Dan ia tidak memanjangkan salat atas jamaah.
وَلَا
يَزِيدُ فِي دُعَائِهِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ عَلَى قَدْرِ التَّشَهُّدِ
وَالصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan ia tidak menambah dalam doanya pada tasyahud akhir melebihi kadar tasyahud
dan salawat kepada Rasulullah صلى
الله عليه وسلم.
وَيَنْوِي
عِنْدَ السَّلَامِ السَّلَامَ عَلَى الْقَوْمِ وَالْمَلَائِكَةِ.
Dan ketika salam ia berniat memberi salam kepada jamaah dan para malaikat.
وَيَنْوِي
الْقَوْمُ بِتَسْلِيمِهِمْ جَوَابَهُ.
Sedangkan para makmum berniat menjawab salam imam dengan salam mereka.
وَيَثْبُتُ
الْإِمَامُ سَاعَةً حَتَّى يَفْرُغَ النَّاسُ مِنَ السَّلَامِ.
Imam tetap diam sejenak sampai orang-orang selesai salam.
وَيُقْبِلُ
عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ.
Kemudian ia menghadap manusia dengan wajahnya.
وَالْأَوْلَى
أَنْ يَثْبُتَ إِنْ كَانَ خَلْفَ الرِّجَالِ نِسَاءٌ لِيَنْصَرِفْنَ قَبْلَهُ.
Dan yang lebih baik adalah imam tetap duduk jika di belakang laki-laki ada
perempuan, agar mereka dapat pergi lebih dahulu.
وَلَا
يَقُومُ وَاحِدٌ مِنَ الْقَوْمِ حَتَّى يَقُومَ.
Dan tidak seorang pun dari jamaah berdiri sebelum imam berdiri.
وَيَنْصَرِفُ
الْإِمَامُ حَيْثُ شَاءَ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، وَالْيَمِينُ أَحَبُّ
إِلَيَّ.
Imam boleh berpaling pergi ke arah mana pun, ke kanan atau ke kiri, tetapi yang
kanan lebih aku sukai.
وَلَا
يَخُصُّ الْإِمَامُ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ فِي قُنُوتِ الصُّبْحِ، بَلْ يَقُولُ:
اللَّهُمَّ اهْدِنَا.
Imam tidak mengkhususkan dirinya dalam doa qunut Subuh, tetapi hendaknya
berkata: “Allāhummah-dinā.”
وَيَجْهَرُ
بِهِ، وَيُؤَمِّنُ الْقَوْمُ، وَيَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ حِذَاءَ الصُّدُورِ،
وَيَمْسَحُونَ الْوُجُوهَ عِنْدَ خَتْمِ الدُّعَاءِ.
Ia mengeraskannya, jamaah mengaminkan, mengangkat tangan sejajar dada, dan
mengusap wajah ketika menutup doa.
لِحَدِيثٍ
نُقِلَ فِيهِ، وَإِلَّا فَالْقِيَاسُ أَنْ لَا يُرْفَعَ الْيَدُ كَمَا فِي آخِرِ
التَّشَهُّدِ.
Hal itu berdasarkan hadis yang dinukil tentangnya. Kalau tidak, maka qiyasnya
adalah tidak mengangkat tangan, sebagaimana pada akhir tasyahud.
اَلْمَنْهِيَّاتُ.
Hal-hal yang dilarang.
نَهَى
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّفْنِ فِي الصَّلَاةِ
وَالصَّفْدِ، وَقَدْ ذَكَرْنَاهُمَا.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم melarang aṣ-ṣafn dan aṣ-ṣafad dalam salat, dan keduanya telah
kami jelaskan.
وَعَنِ
الْإِقْعَاءِ.
Dan beliau juga melarang iq‘ā’.
وَعَنِ
السَّدْلِ.
Dan melarang sadl.
وَالْكَفْتِ.
Dan kaft.
وَعَنِ
الِاخْتِصَارِ.
Dan ikhtiṣār.
وَعَنِ
الصَّلْبِ.
Dan ṣalb.
وَعَنِ
الْمُوَاصَلَةِ.
Dan muwāṣalah.
وَعَنْ
صَلَاةِ الْحَاقِنِ.
Dan salatnya orang yang menahan kencing.
وَالْحَاقِبِ.
Dan orang yang menahan buang air besar.
وَالْحَازِقِ.
Dan orang yang memakai khuf sempit yang menyakiti.
وَعَنْ
صَلَاةِ الْجَائِعِ وَالْغَضْبَانِ وَالْمُتَلَثِّمِ، وَهُوَ سَتْرُ الْوَجْهِ.
Dan juga melarang salat orang yang lapar, marah, dan orang yang menutupi
wajahnya.
أَمَّا
الْإِقْعَاءُ فَهُوَ عِنْدَ أَهْلِ اللُّغَةِ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى وَرِكَيْهِ،
وَيَنْصِبَ رُكْبَتَيْهِ، وَيَجْعَلَ يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ كَالْكَلْبِ.
Adapun iq‘ā’ menurut ahli bahasa ialah duduk di atas kedua pinggul, menegakkan
kedua lutut, dan meletakkan kedua tangan di tanah seperti anjing.
وَعِنْدَ
أَهْلِ الْحَدِيثِ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى سَاقَيْهِ جَاثِيًا، وَلَيْسَ عَلَى
الْأَرْضِ مِنْهُ إِلَّا رُءُوسُ أَصَابِعِ الرِّجْلَيْنِ وَالرُّكْبَتَانِ.
Sedangkan menurut ahli hadis, iq‘ā’ ialah duduk di atas kedua betis dalam
posisi berjongkok, sehingga yang menyentuh tanah hanya ujung jari kaki dan
kedua lutut.
وَأَمَّا
السَّدْلُ فَمَذْهَبُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِيهِ أَنْ يَلْتَحِفَ بِثَوْبِهِ
وَيُدْخِلَ يَدَيْهِ مِنْ دَاخِلٍ، فَيَرْكَعُ وَيَسْجُدُ كَذٰلِكَ.
Adapun sadl, maka menurut ahli hadis artinya seseorang berselimut dengan
pakaiannya dan memasukkan kedua tangannya dari bagian dalam, lalu rukuk dan
sujud dalam keadaan demikian.
وَكَانَ
هٰذَا فِعْلَ الْيَهُودِ فِي صَلَاتِهِمْ، فَنُهُوا عَنِ التَّشَبُّهِ بِهِمْ.
Itu adalah kebiasaan orang Yahudi dalam salat mereka, maka kaum Muslimin
dilarang menyerupai mereka.
وَالْقَمِيصُ
فِي مَعْنَاهُ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَرْكَعَ وَيَسْجُدَ وَيَدَاهُ فِي بَدَنِ
الْقَمِيصِ.
Baju gamis masuk dalam makna ini, maka tidak sepatutnya seseorang rukuk dan
sujud sementara kedua tangannya masih berada di dalam badan gamisnya.
وَقِيلَ:
مَعْنَاهُ أَنْ يَضَعَ وَسَطَ الْإِزَارِ عَلَى رَأْسِهِ، وَيُرْسِلَ طَرَفَيْهِ
عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْعَلَهُمَا عَلَى كَتِفَيْهِ.
Dan ada yang mengatakan maknanya adalah seseorang meletakkan bagian tengah kain
di atas kepalanya, lalu membiarkan kedua ujungnya terurai di kanan dan kirinya
tanpa menjadikannya di atas pundaknya.
وَالْأَوَّلُ
أَقْرَبُ.
Namun makna yang pertama lebih kuat.
وَأَمَّا
الْكَفْتُ فَهُوَ أَنْ يَرْفَعَ ثِيَابَهُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ أَوْ مِنْ
خَلْفِهِ إِذَا أَرَادَ السُّجُودَ.
Adapun kaft ialah mengangkat pakaiannya dari depan atau belakang ketika hendak
sujud.
وَقَدْ
يَكُونُ الْكَفْتُ فِي شَعْرِ الرَّأْسِ، فَلَا يُصَلِّيَنَّ وَهُوَ عَاقِصٌ
شَعْرَهُ.
Kaft juga bisa terjadi pada rambut kepala, maka janganlah seseorang salat dalam
keadaan mengikat rambutnya.
وَالنَّهْيُ
لِلرِّجَالِ.
Larangan ini ditujukan kepada laki-laki.
وَفِي
الْحَدِيثِ: أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ، وَلَا أَكْفِتَ
شَعَرًا وَلَا ثَوْبًا.
Dalam hadis disebutkan: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota
badan, dan tidak menahan rambut ataupun pakaian.”
وَكَرِهَ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ يَأْتَزِرَ فَوْقَ الْقَمِيصِ
فِي الصَّلَاةِ، وَرَآهُ مِنَ الْكَفْتِ.
Ahmad bin Hanbal رضي
الله عنه memakruhkan seseorang bersarung di atas gamis ketika salat, dan
menganggapnya termasuk kaft.
وَأَمَّا
الِاخْتِصَارُ فَأَنْ يَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى خَاصِرَتَيْهِ.
Adapun ikhtiṣār ialah meletakkan kedua tangan di atas kedua pinggang.
وَأَمَّا
الصَّلْبُ فَأَنْ يَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى خَاصِرَتَيْهِ فِي الْقِيَامِ،
وَيُجَافِيَ بَيْنَ عَضُدَيْهِ فِي الْقِيَامِ.
Adapun ṣalb ialah meletakkan kedua tangan di pinggang ketika berdiri, serta
menjauhkan kedua lengan atasnya dari badan dalam posisi berdiri.
وَأَمَّا
الْمُوَاصَلَةُ فَهِيَ خَمْسَةٌ.
Adapun muwāṣalah ada lima macam.
اثْنَانِ
عَلَى الْإِمَامِ: أَنْ لَا يَصِلَ قِرَاءَتَهُ بِتَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَلَا
رُكُوعَهُ بِقِرَاءَتِهِ.
Dua pada imam: ia tidak menyambung bacaannya langsung dengan takbiratul ihram,
dan tidak menyambung rukuknya langsung dengan bacaannya.
وَاثْنَانِ
عَلَى الْمَأْمُومِ: أَنْ لَا يَصِلَ تَكْبِيرَةَ الْإِحْرَامِ بِتَكْبِيرَةِ
الْإِمَامِ، وَلَا تَسْلِيمَهُ بِتَسْلِيمِهِ.
Dua pada makmum: ia tidak menyambung takbiratul ihramnya dengan takbir imam,
dan tidak pula menyambung salamnya dengan salam imam.
وَوَاحِدَةٌ
بَيْنَهُمَا: أَنْ لَا يَصِلَ تَسْلِيمَةَ الْفَرْضِ بِالتَّسْلِيمَةِ
الثَّانِيَةِ، وَلْيَفْصِلْ بَيْنَهُمَا.
Dan satu lagi antara keduanya: ia tidak menyambung salam fardu dengan salam
kedua, tetapi hendaknya memisahkan di antara keduanya.
وَأَمَّا
الْحَاقِنُ فَمِنَ الْبَوْلِ، وَالْحَاقِبُ مِنَ الْغَائِطِ، وَالْحَازِقُ صَاحِبُ
الْخُفِّ الضَّيِّقِ.
Adapun ḥāqin ialah orang yang menahan kencing, ḥāqib ialah orang yang menahan
buang air besar, dan ḥāziq ialah orang yang memakai khuf sempit.
فَإِنَّ
كُلَّ ذٰلِكَ يَمْنَعُ مِنَ الْخُشُوعِ.
Semua itu menghalangi kekhusyukan.
وَفِي
مَعْنَاهُ الْجَائِعُ وَالْمُهْتَمُّ.
Dan yang semakna dengannya adalah orang yang lapar dan orang yang sedang
dirundung pikiran.
وَفُهِمَ
نَهْيُ الْجَائِعِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا حَضَرَ
الْعَشَاءُ وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ.
Larangan salat dalam keadaan lapar dipahami dari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
“Apabila makanan malam telah dihidangkan dan salat telah ditegakkan, maka
dahulukanlah makan malam.”
إِلَّا
أَنْ يَضِيقَ الْوَقْتُ أَوْ يَكُونَ سَاكِنَ الْقَلْبِ.
Kecuali jika waktu telah sempit atau hatinya tetap tenang.
وَفِي
الْخَبَرِ: لَا يَدْخُلَنَّ أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ وَهُوَ مُقْطَبٌ، وَلَا
يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمْ وَهُوَ غَضْبَانُ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Janganlah salah seorang dari kalian masuk
salat dalam keadaan bermuka masam, dan janganlah salah seorang dari kalian
salat dalam keadaan marah.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ: كُلُّ صَلَاةٍ لَا يَحْضُرُ فِيهَا الْقَلْبُ فَهِيَ إِلَى
الْعُقُوبَةِ أَسْرَعُ.
Al-Hasan berkata: “Setiap salat yang hati tidak hadir di dalamnya, maka ia
lebih cepat menuju hukuman.”
وَفِي
الْحَدِيثِ: سَبْعَةُ أَشْيَاءَ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الشَّيْطَانِ: الرُّعَافُ،
وَالنُّعَاسُ، وَالْوَسْوَسَةُ، وَالتَّثَاؤُبُ، وَالْحَكَاكُ، وَالِالْتِفَاتُ،
وَالْعَبَثُ بِالشَّيْءِ.
Dalam hadis disebutkan: “Ada tujuh perkara dalam salat yang berasal dari setan:
mimisan, kantuk, waswas, menguap, menggaruk-garuk, menoleh, dan bermain-main
dengan sesuatu.”
وَزَادَ
بَعْضُهُمُ: السَّهْوَ وَالشَّكَّ.
Sebagian menambahkan: lalai dan ragu.
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: أَرْبَعَةٌ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْجَفَاءِ: الِالْتِفَاتُ،
وَمَسْحُ الْوَجْهِ، وَتَسْوِيَةُ الْحَصَى، وَأَنْ تُصَلِّيَ بِطَرِيقٍ مَنْ
يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ.
Sebagian salaf berkata: “Empat hal dalam salat termasuk kekasaran adab:
menoleh, mengusap wajah, meratakan kerikil, dan salat di tempat orang berlalu
di depanmu.”
وَنَهَى
أَيْضًا عَنْ أَنْ يُشَبِّكَ أَصَابِعَهُ.
Dan Nabi juga melarang menjalin jari-jari.
أَوْ
يُفَرْقِعَ أَصَابِعَهُ.
Atau mematah-matahkan jari-jari hingga berbunyi.
أَوْ
يَسْتُرَ وَجْهَهُ.
Atau menutupi wajahnya.
أَوْ
يَضَعَ إِحْدَى كَفَّيْهِ عَلَى الْأُخْرَى، وَيُدْخِلَهُمَا بَيْنَ فَخِذَيْهِ
فِي الرُّكُوعِ.
Atau meletakkan salah satu telapak tangannya di atas yang lain, lalu
memasukkannya di antara kedua pahanya ketika rukuk.
وَقَالَ
بَعْضُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ: كُنَّا نَفْعَلُ ذٰلِكَ فَنُهِينَا
عَنْهُ.
Sebagian sahabat رضي
الله عنهم berkata: “Dahulu kami melakukan hal itu, lalu kami dilarang.”
وَيُكْرَهُ
أَيْضًا أَنْ يَنْفُخَ فِي الْأَرْضِ عِنْدَ السُّجُودِ لِلتَّنْظِيفِ.
Dimakruhkan pula meniup tanah ketika sujud untuk membersihkannya.
وَأَنْ
يُسَوِّيَ الْحَصَى بِيَدِهِ.
Dan meratakan kerikil dengan tangannya.
فَإِنَّهَا
أَفْعَالٌ مُسْتَغْنًى عَنْهَا.
Karena semua itu adalah perbuatan yang tidak perlu.
وَلَا
يَرْفَعُ إِحْدَى قَدَمَيْهِ فَيَضَعُهَا عَلَى فَخِذِهِ.
Dan ia tidak mengangkat salah satu kakinya lalu meletakkannya di atas pahanya.
وَلَا
يَسْتَنِدُ فِي قِيَامِهِ إِلَى حَائِطٍ.
Dan ia tidak bersandar pada dinding ketika berdiri.
فَإِنِ
اسْتَنَدَ بِحَيْثُ لَوْ سُلَّ ذٰلِكَ الْحَائِطُ لَسَقَطَ، فَالْأَظْهَرُ
بُطْلَانُ صَلَاتِهِ.
Jika ia bersandar sedemikian rupa sehingga bila dinding itu disingkirkan ia
akan jatuh, maka pendapat yang lebih kuat adalah salatnya batal.
وَاللهُ
أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.
تَمْيِيزُ
الْفَرَائِضِ وَالسُّنَنِ.
Pembedaan antara fardu dan sunah.
جُمْلَةُ
مَا ذُكِرَ يَشْتَمِلُ عَلَى فَرَائِضَ وَسُنَنٍ وَآدَابٍ وَهَيْئَاتٍ، مِمَّا
يَنْبَغِي لِمُرِيدِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ أَنْ يُرَاعِيَ جَمِيعَهَا.
Keseluruhan yang telah disebutkan mencakup fardu, sunah, adab, dan
bentuk-bentuk tata cara, yang semuanya patut diperhatikan oleh orang yang
menempuh jalan akhirat.
فَالْفَرْضُ
مِنْ جُمْلَتِهَا اثْنَتَا عَشْرَةَ خَصْلَةً.
Yang termasuk fardu di dalamnya ada dua belas hal.
اَلنِّيَّةُ.
Niat.
وَالتَّكْبِيرُ.
Takbiratul ihram.
وَالْقِيَامُ.
Berdiri.
وَالْفَاتِحَةُ.
Membaca al-Fatihah.
وَالِانْحِنَاءُ
فِي الرُّكُوعِ إِلَى أَنْ تَنَالَ رَاحَتَاهُ رُكْبَتَيْهِ مَعَ الطُّمَأْنِينَةِ.
Membungkuk dalam rukuk hingga kedua telapak tangannya mencapai kedua lutut,
dengan thuma’ninah.
وَالِاعْتِدَالُ
عَنْهُ قَائِمًا.
I‘tidal darinya dalam keadaan berdiri.
وَالسُّجُودُ
مَعَ الطُّمَأْنِينَةِ، وَلَا يَجِبُ وَضْعُ الْيَدَيْنِ.
Sujud dengan thuma’ninah, dan meletakkan kedua tangan bukanlah fardu.
وَالِاعْتِدَالُ
عَنْهُ قَاعِدًا.
Duduk di antara dua sujud dengan tenang.
وَالْجُلُوسُ
لِلتَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ.
Duduk untuk tasyahud akhir.
وَالتَّشَهُّدُ
الْأَخِيرُ.
Tasyahud akhir itu sendiri.
وَالصَّلَاةُ
عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Membaca salawat kepada Nabi صلى
الله عليه وسلم.
وَالسَّلَامُ
الْأَوَّلُ.
Dan salam pertama.
فَأَمَّا
نِيَّةُ الْخُرُوجِ فَلَا تَجِبُ.
Adapun niat keluar dari salat, maka itu tidak wajib.
وَمَا
عَدَا هٰذَا فَلَيْسَ بِوَاجِبٍ، بَلْ هِيَ سُنَنٌ وَهَيْئَاتٌ فِيهَا وَفِي
الْفَرَائِضِ.
Selain itu tidak wajib, tetapi hanya sunah dan bentuk-bentuk tata cara, baik
dalam perkara sunah maupun dalam pelaksanaan fardu.
فَأَمَّا
السُّنَنُ فَمِنَ الْأَفْعَالِ أَرْبَعَةٌ.
Adapun sunah dari sisi perbuatan ada empat.
رَفْعُ
الْيَدَيْنِ فِي تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ.
Mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram.
وَعِنْدَ
الْهُوِيِّ إِلَى الرُّكُوعِ.
Dan ketika turun menuju rukuk.
وَعِنْدَ
الِارْتِفَاعِ إِلَى الْقِيَامِ.
Dan ketika bangkit menuju berdiri.
وَالْجَلْسَةُ
لِلتَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ.
Serta duduk untuk tasyahud awal.
فَأَمَّا
مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ كَيْفِيَّةِ نَشْرِ الْأَصَابِعِ وَحَدِّ رَفْعِهَا، فَهِيَ
هَيْئَاتٌ تَابِعَةٌ لِهٰذِهِ السُّنَّةِ.
Adapun yang kami sebutkan tentang cara membentangkan jari-jari dan batas
mengangkat tangan, maka itu adalah bentuk-bentuk tata cara yang mengikuti sunah
ini.
وَالتَّوَرُّكُ
وَالِافْتِرَاشُ هَيْئَاتٌ تَابِعَةٌ لِلْجَلْسَةِ.
Tawarruk dan iftirasy adalah bentuk-bentuk tata cara yang mengikuti duduk
salat.
وَالْإِطْرَاقُ
وَتَرْكُ الِالْتِفَاتِ هَيْئَاتٌ لِلْقِيَامِ وَتَحْسِينُ صُورَتِهِ.
Menundukkan pandangan dan meninggalkan menoleh adalah tata cara berdiri dan
penyempurna bentuknya.
وَجَلْسَةُ
الِاسْتِرَاحَةِ لَمْ نَعُدَّهَا مِنْ أُصُولِ السُّنَّةِ فِي الْأَفْعَالِ،
لِأَنَّهَا كَالْتَّحْسِينِ لِهَيْئَةِ الِارْتِفَاعِ مِنَ السُّجُودِ إِلَى
الْقِيَامِ، لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مَقْصُودَةً فِي نَفْسِهَا، وَلِذٰلِكَ لَمْ
تُفْرَدْ بِذِكْرٍ.
Adapun duduk istirahat, kami tidak menghitungnya sebagai pokok sunah dari sisi
perbuatan, karena ia lebih merupakan penyempurna cara bangkit dari sujud menuju
berdiri dan bukan tujuan tersendiri. Karena itu, ia tidak disebutkan secara
khusus.
وَأَمَّا
السُّنَنُ مِنَ الْأَذْكَارِ فَدُعَاءُ الِاسْتِفْتَاحِ، ثُمَّ التَّعَوُّذُ،
ثُمَّ قَوْلُهُ: آمِينَ، فَإِنَّهُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ.
Adapun sunah dari sisi bacaan zikir, maka ia meliputi doa iftitah, lalu
ta‘awudz, kemudian ucapan آمين,
dan ini adalah sunah yang sangat ditekankan.
ثُمَّ
قِرَاءَةُ السُّورَةِ.
Kemudian membaca surah setelah al-Fatihah.
ثُمَّ
تَكْبِيرَاتُ الِانْتِقَالَاتِ.
Lalu takbir-takbir perpindahan.
ثُمَّ
الذِّكْرُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَالِاعْتِدَالِ عَنْهُمَا.
Lalu zikir-zikir dalam rukuk, sujud, dan i‘tidal dari keduanya.
ثُمَّ
التَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ وَالصَّلَاةُ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Kemudian tasyahud awal dan salawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم di dalamnya.
ثُمَّ
الدُّعَاءُ فِي آخِرِ التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ.
Kemudian doa pada akhir tasyahud terakhir.
ثُمَّ
التَّسْلِيمَةُ الثَّانِيَةُ.
Lalu salam yang kedua.
وَإِنْ
جَمَعْنَاهَا فِي اسْمِ السُّنَّةِ فَلَهَا دَرَجَاتٌ مُتَفَاوِتَةٌ.
Meskipun semuanya kita kumpulkan di bawah nama sunah, namun tingkatannya
berbeda-beda.
إِذْ
يُجْبَرُ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا بِسُجُودِ السَّهْوِ.
Karena ada empat di antaranya yang dapat ditutupi dengan sujud sahwi.
وَأَمَّا
مِنَ الْأَفْعَالِ فَوَاحِدَةٌ، وَهِيَ الْجَلْسَةُ الْأُولَى لِلتَّشَهُّدِ
الْأَوَّلِ.
Adapun dari sisi perbuatan, hanya satu, yaitu duduk pertama untuk tasyahud
awal.
فَإِنَّهَا
مُؤَثِّرَةٌ فِي تَرْتِيبِ نَظْمِ الصَّلَاةِ فِي أَعْيُنِ النَّاظِرِينَ، حَتَّى
يُعْرَفَ بِهَا أَنَّهَا رُبَاعِيَّةٌ أَمْ لَا، بِخِلَافِ رَفْعِ الْيَدَيْنِ،
فَإِنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ فِي تَغْيِيرِ النَّظْمِ.
Sebab duduk itu berpengaruh pada susunan bentuk salat di mata orang yang
melihat, sehingga dari situ diketahui apakah salat itu empat rakaat atau bukan.
Berbeda dengan mengangkat tangan, karena itu tidak mengubah susunan lahiriah
salat.
فَعُبِّرَ
عَنْ ذٰلِكَ بِالْبَعْضِ.
Karena itu bagian ini disebut sebagai “ab‘āḍ”.
وَقِيلَ:
الْأَبْعَاضُ تُجْبَرُ بِالسُّجُودِ.
Dan dikatakan: bagian-bagian ab‘āḍ itu ditutupi dengan sujud sahwi.
وَأَمَّا
الْأَذْكَارُ فَكُلُّهَا لَا تَقْتَضِي سُجُودَ السَّهْوِ إِلَّا ثَلَاثَةً:
الْقُنُوتُ، وَالتَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ.
Adapun zikir-zikir, semuanya tidak mewajibkan sujud sahwi kecuali tiga: qunut,
tasyahud awal, dan salawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم di dalamnya.
بِخِلَافِ
تَكْبِيرَاتِ الِانْتِقَالَاتِ، وَأَذْكَارِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
وَالِاعْتِدَالِ عَنْهُمَا.
Berbeda dengan takbir-takbir perpindahan dan zikir-zikir rukuk, sujud, serta
i‘tidal dari keduanya.
لِأَنَّ
الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ فِي صُورَتِهِمَا مُخَالِفَانِ لِلْعَادَةِ، وَيَحْصُلُ
بِهِمَا مَعْنَى الْعِبَادَةِ مَعَ السُّكُوتِ عَنِ الْأَذْكَارِ وَعَنْ
تَكْبِيرَاتِ الِانْتِقَالَاتِ.
Karena rukuk dan sujud dalam bentuk lahiriahnya sendiri sudah berbeda dari
kebiasaan biasa, dan makna ibadah sudah tercapai dengannya meskipun tanpa
zikir-zikir tersebut atau takbir perpindahan.
فَعَدَمُ
تِلْكَ الْأَذْكَارِ لَا يُغَيِّرُ صُورَةَ الْعِبَادَةِ.
Maka tidak adanya zikir-zikir itu tidak mengubah bentuk ibadah.
وَأَمَّا
الْجَلْسَةُ لِلتَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ فَفِعْلٌ مُعْتَادٌ، وَمَا زِيدَتْ إِلَّا
لِلتَّشَهُّدِ، فَتَرْكُهَا ظَاهِرُ التَّأْثِيرِ.
Adapun duduk untuk tasyahud awal, maka ia adalah perbuatan yang secara lahir
mirip kebiasaan biasa, dan keberadaannya hanya untuk tasyahud. Maka
meninggalkannya tampak berpengaruh.
وَأَمَّا
دُعَاءُ الِاسْتِفْتَاحِ وَالسُّورَةُ فَتَرْكُهُمَا لَا يُؤَثِّرُ، مَعَ أَنَّ
الْقِيَامَ صَارَ مَعْمُورًا بِالْفَاتِحَةِ وَمُمَيَّزًا عَنِ الْعَادَةِ بِهَا.
Adapun doa iftitah dan membaca surah, maka meninggalkannya tidak berpengaruh,
sebab berdiri dalam salat sudah terisi dengan al-Fatihah dan telah dibedakan
dari kebiasaan biasa dengan bacaan itu.
وَكَذٰلِكَ
الدُّعَاءُ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ.
Demikian pula doa pada tasyahud akhir.
وَالْقُنُوتُ
أَبْعَدُ مَا يُجْبَرُ بِالسُّجُودِ.
Sedangkan qunut adalah yang paling jauh untuk ditutupi dengan sujud sahwi.
وَلٰكِنْ
شُرِعَ مَدُّ الِاعْتِدَالِ فِي الصُّبْحِ لِأَجْلِهِ، فَكَانَ كَمَدِّ جَلْسَةِ
الِاسْتِرَاحَةِ، إِذْ صَارَتْ بِالْمَدِّ مَعَ التَّشَهُّدِ جَلْسَةً
لِلتَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ.
Akan tetapi, karena dipanjangkannya i‘tidal dalam salat Subuh disyariatkan
untuk qunut, maka ia menjadi seperti duduk yang dipanjangkan untuk tasyahud
awal. Dengan tambahan itu, ia berubah menjadi berdiri yang memiliki fungsi
khusus.
فَبَقِيَ
هٰذَا قِيَامًا مَمْدُودًا مُعْتَادًا لَيْسَ فِيهِ ذِكْرٌ وَاجِبٌ.
Maka yang tersisa adalah berdiri yang dipanjangkan, sesuatu yang tampak biasa
dan tidak ada di dalamnya zikir wajib.
وَفِي
الْمَمْدُودِ احْتِرَازٌ عَنْ غَيْرِ الصُّبْحِ.
Dan kata “dipanjangkan” ini menjadi pembeda dari selain salat Subuh.
وَفِي
خُلُوِّهِ عَنْ ذِكْرٍ وَاجِبٍ احْتِرَازٌ عَنْ أَصْلِ الْقِيَامِ فِي الصَّلَاةِ.
Dan ketiadaannya dari zikir wajib menjadi pembeda dari pokok berdiri dalam
salat.
فَإِنْ
قُلْتَ: تَمْيِيزُ السُّنَنِ عَنِ الْفَرَائِضِ مَعْقُولٌ، إِذْ تَفُوتُ
الصِّحَّةُ بِفَوْتِ الْفَرْضِ دُونَ السُّنَّةِ، وَيَتَوَجَّهُ الْعِقَابُ بِهِ
دُونَهَا.
Jika engkau berkata: pembedaan antara sunah dan fardu dapat dipahami, karena
sahnya ibadah hilang jika fardu ditinggalkan, berbeda dengan sunah, dan ancaman
siksa berlaku pada yang pertama, tidak pada yang kedua.
فَأَمَّا
تَمْيِيزُ سُنَّةٍ عَنْ سُنَّةٍ وَالْكُلُّ مَأْمُورٌ بِهِ عَلَى سَبِيلِ
الِاسْتِحْبَابِ، وَلَا عِقَابَ فِي تَرْكِ الْكُلِّ، وَالثَّوَابُ مَوْجُودٌ
عَلَى الْكُلِّ، فَمَا مَعْنَاهُ؟
Tetapi membedakan satu sunah dari sunah yang lain, padahal semuanya
diperintahkan dalam bentuk anjuran, tidak ada hukuman pada meninggalkan
semuanya, dan pahala tetap ada pada semuanya, lalu apa maknanya?
فَاعْلَمْ
أَنَّ اشْتِرَاكَهُمَا فِي الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَالِاسْتِحْبَابِ لَا
يَرْفَعُ تَفَاوُتَهُمَا.
Ketahuilah bahwa kesamaan keduanya dalam hal pahala, tidak adanya hukuman, dan
sifat anjuran tidak menghilangkan perbedaan tingkat di antara keduanya.
وَلِنَكْشِفْ
ذٰلِكَ لَكَ بِمِثَالٍ.
Untuk menjelaskannya kepadamu, mari kita buat perumpamaan.
وَهُوَ
أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَكُونُ إِنْسَانًا مَوْجُودًا كَامِلًا إِلَّا بِمَعْنًى
بَاطِنٍ وَأَعْضَاءٍ ظَاهِرَةٍ.
Manusia tidak menjadi manusia yang utuh kecuali dengan satu makna batin dan
anggota-anggota lahiriah.
فَالْمَعْنَى
الْبَاطِنُ هُوَ الْحَيَاةُ وَالرُّوحُ، وَالظَّاهِرُ أَجْسَامُ أَعْضَائِهِ.
Makna batin itu adalah kehidupan dan ruh, sedangkan yang lahir adalah tubuh
anggota-anggotanya.
ثُمَّ
بَعْضُ تِلْكَ الْأَعْضَاءِ يَنْعَدِمُ الْإِنْسَانُ بِعَدَمِهَا، كَالْقَلْبِ
وَالْكَبِدِ وَالدِّمَاغِ، وَكُلُّ عُضْوٍ تَفُوتُ الْحَيَاةُ بِفَوَاتِهِ.
Sebagian anggota itu membuat manusia hilang keberadaannya jika hilang, seperti
jantung, hati, dan otak, yaitu semua anggota yang jika hilang maka kehidupan
pun hilang.
وَبَعْضُهَا
لَا تَفُوتُ بِهَا الْحَيَاةُ، وَلٰكِنْ تَفُوتُ بِهَا مَقَاصِدُ الْحَيَاةِ،
كَالْعَيْنِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَاللِّسَانِ.
Sebagian yang lain tidak menghilangkan kehidupan bila hilang, tetapi
menghilangkan tujuan-tujuan hidup, seperti mata, tangan, kaki, dan lidah.
وَبَعْضُهَا
لَا تَفُوتُ بِهَا الْحَيَاةُ وَلَا مَقَاصِدُهَا، وَلٰكِنْ يَفُوتُ بِهَا
الْحُسْنُ، كَالْحَاجِبَيْنِ وَاللِّحْيَةِ وَالْأَهْدَابِ وَحُسْنِ اللَّوْنِ.
Sebagian lagi tidak menghilangkan kehidupan dan tidak pula tujuan-tujuannya,
tetapi hilangnya mengurangi keindahan, seperti alis, janggut, bulu mata, dan
indahnya warna kulit.
وَبَعْضُهَا
لَا يَفُوتُ بِهَا أَصْلُ الْجَمَالِ، وَلٰكِنْ كَمَالُهُ، كَاسْتِقْوَاسِ
الْحَاجِبَيْنِ وَسَوَادِ شَعْرِ اللِّحْيَةِ وَالْأَهْدَابِ وَتَنَاسُبِ خِلْقَةِ
الْأَعْضَاءِ وَامْتِزَاجِ الْحُمْرَةِ بِالْبَيَاضِ فِي اللَّوْنِ.
Dan sebagian lainnya tidak menghilangkan pokok keindahan, tetapi menghilangkan
kesempurnaannya, seperti lengkungan alis yang indah, hitamnya rambut janggut
dan bulu mata, keseimbangan bentuk anggota tubuh, serta perpaduan merah dan
putih pada warna kulit.
فَهٰذِهِ
دَرَجَاتٌ مُتَفَاوِتَةٌ.
Maka ini semua adalah tingkatan-tingkatan yang berbeda.
فَكَذٰلِكَ
الْعِبَادَةُ صُورَةٌ صَوَّرَهَا الشَّرْعُ وَتَعَبَّدَنَا بِاكْتِسَابِهَا.
Demikian pula ibadah. Ia adalah suatu bentuk yang digambarkan oleh syariat dan
kita diperintahkan untuk mewujudkannya.
فَرُوحُهَا
وَحَيَاتُهَا الْبَاطِنَةُ: الْخُشُوعُ وَالنِّيَّةُ وَحُضُورُ الْقَلْبِ
وَالْإِخْلَاصُ، كَمَا سَيَأْتِي.
Ruh dan kehidupan batinnya adalah khusyuk, niat, hadirnya hati, dan ikhlas,
sebagaimana akan dijelaskan nanti.
وَنَحْنُ
الْآنَ فِي أَجْزَائِهَا الظَّاهِرَةِ.
Sedangkan sekarang kita sedang membahas bagian-bagian lahiriahnya.
فَالرُّكُوعُ
وَالسُّجُودُ وَالْقِيَامُ وَسَائِرُ الْأَرْكَانِ تَجْرِي مِنْهَا مَجْرَى
الْقَلْبِ وَالرَّأْسِ وَالْكَبِدِ، إِذْ يَفُوتُ وُجُودُ الصَّلَاةِ بِفَوَاتِهَا.
Maka rukuk, sujud, berdiri, dan seluruh rukun lainnya dalam salat menempati
posisi seperti jantung, kepala, dan hati dalam tubuh manusia, karena keberadaan
salat hilang jika semua itu hilang.
وَالسُّنَنُ
الَّتِي ذَكَرْنَاهَا مِنْ رَفْعِ الْيَدَيْنِ وَدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ
وَالتَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ تَجْرِي مِنْهَا مَجْرَى الْيَدَيْنِ وَالْعَيْنَيْنِ
وَالرِّجْلَيْنِ.
Sunah-sunah yang telah kami sebutkan, seperti mengangkat tangan, doa iftitah,
dan tasyahud awal, menempati posisi seperti tangan, mata, dan kaki dalam tubuh.
وَلَا
تَفُوتُ الصِّحَّةُ بِفَوَاتِهَا كَمَا لَا تَفُوتُ الْحَيَاةُ بِفَوَاتِ هٰذِهِ
الْأَعْضَاءِ.
Sahnya salat tidak hilang karena ketiadaannya, sebagaimana kehidupan tidak
hilang karena hilangnya anggota-anggota itu.
وَلٰكِنْ
يَصِيرُ الشَّخْصُ بِسَبَبِ فَوَاتِهَا مُشَوَّهَ الْخِلْقَةِ، مَذْمُومًا غَيْرَ
مَرْغُوبٍ فِيهِ.
Akan tetapi, seseorang menjadi cacat rupa, tercela, dan tidak disenangi karena
hilangnya anggota-anggota itu.
فَكَذٰلِكَ
مَنْ اقْتَصَرَ عَلَى أَقَلِّ مَا يُجْزِئُ مِنَ الصَّلَاةِ كَانَ كَمَنْ أَهْدَى
إِلَى مَلِكٍ مِنَ الْمُلُوكِ عَبْدًا حَيًّا مَقْطُوعَ الْأَطْرَافِ.
Demikian pula orang yang hanya mencukupkan diri pada kadar minimal yang sah
dari salat, seperti orang yang menghadiahkan kepada seorang raja seorang budak
hidup tetapi anggota tubuhnya terpotong-potong.
وَأَمَّا
الْهَيْئَاتُ، وَهِيَ مَا وَرَاءَ السُّنَنِ، فَتَجْرِي مَجْرَى أَسْبَابِ
الْحُسْنِ مِنَ الْحَاجِبَيْنِ وَاللِّحْيَةِ وَالْأَهْدَابِ وَحُسْنِ اللَّوْنِ.
Adapun هيئة-هيئة,
yaitu hal-hal di luar sunah, maka posisinya seperti sebab-sebab keindahan pada
alis, janggut, bulu mata, dan indahnya warna kulit.
وَأَمَّا
وَظَائِفُ الْأَذْكَارِ فِي تِلْكَ السُّنَنِ فَهِيَ مُكَمِّلَاتٌ لِلْحُسْنِ
كَاسْتِقْوَاسِ الْحَاجِبَيْنِ وَاسْتِدَارَةِ اللِّحْيَةِ وَغَيْرِهِمَا.
Adapun zikir-zikir dalam sunah-sunah itu adalah penyempurna keindahan, seperti
indahnya lengkungan alis, bulatnya bentuk janggut, dan semisalnya.
فَالصَّلَاةُ
عِنْدَكَ قُرْبَةٌ وَتُحْفَةٌ، تَتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى حَضْرَةِ مَلِكِ
الْمُلُوكِ، كَوَصِيفَةٍ يُهْدِيهَا طَالِبُ الْقُرْبَةِ مِنَ السَّلَاطِينِ
إِلَيْهِمْ.
Maka salat bagimu adalah sarana pendekatan dan hadiah, yang dengannya engkau
mendekat kepada hadirat Raja segala raja, seperti seorang pelayan cantik yang
dihadiahkan oleh orang yang ingin dekat kepada para sultan.
وَهٰذِهِ
التُّحْفَةُ تُعْرَضُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Hadiah ini dipersembahkan kepada Allah عز وجل.
ثُمَّ
تُرَدُّ عَلَيْكَ يَوْمَ الْعَرْضِ الْأَكْبَرِ.
Kemudian ia akan dikembalikan kepadamu pada hari عرضه الأكبر.
فَإِلَيْكَ
الْخِيَرَةُ فِي تَحْسِينِ صُورَتِهَا وَتَقْبِيحِهَا.
Maka di tanganmulah pilihan, apakah engkau akan memperindah bentuknya atau
merusaknya.
فَإِنْ
أَحْسَنْتَ فَلِنَفْسِكَ، وَإِنْ أَسَأْتَ فَعَلَيْهَا.
Jika engkau memperindahnya, maka itu untuk dirimu sendiri. Dan jika engkau
merusaknya, maka akibatnya kembali kepada dirimu juga.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَظُّكَ مِنْ مُمَارَسَةِ الْفِقْهِ أَنْ يَتَمَيَّزَ لَكَ
السُّنَّةُ مِنَ الْفَرْضِ، فَلَا يَعْلَقُ بِفَهْمِكَ مِنْ أَوْصَافِ السُّنَّةِ
إِلَّا أَنَّهُ يَجُوزُ تَرْكُهَا، فَتَتْرُكَهَا.
Tidak sepatutnya bagian yang kauambil dari belajar fikih hanya sekadar
mengetahui mana sunah dan mana fardu, lalu yang tertanam dalam benakmu tentang
sunah hanyalah bahwa ia boleh ditinggalkan, sehingga engkau pun
meninggalkannya.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ يُضَاهِي قَوْلَ الطَّبِيبِ: إِنَّ فَقْءَ الْعَيْنِ لَا يُبْطِلُ وُجُودَ
الْإِنْسَانِ، وَلٰكِنْ يُخْرِجُهُ عَنْ أَنْ يَصْدُقَ رَجَاءُ الْمُتَقَرِّبِ فِي
قَبُولِ السُّلْطَانِ إِذَا أَخْرَجَهُ فِي مَعْرِضِ الْهَدِيَّةِ.
Hal itu serupa dengan ucapan seorang tabib: “Mencungkil mata tidak
menghilangkan keberadaan manusia, tetapi menghilangkan harapan orang yang
hendak mendekatkan diri kepada sultan jika ia menghadiahkan orang itu sebagai
persembahan.”
فَهٰكَذَا
يَنْبَغِي أَنْ تَفْهَمَ مَرَاتِبَ السُّنَنِ وَالْهَيْئَاتِ وَالْآدَابِ.
Demikianlah seharusnya engkau memahami tingkatan sunah, bentuk-bentuk tata
cara, dan adab.
فَكُلُّ
صَلَاةٍ لَمْ يُتِمَّ الْإِنْسَانُ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا فَهِيَ الْخَصْمُ
الْأَوَّلُ عَلَى صَاحِبِهَا، تَقُولُ: ضَيَّعَكَ اللهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي.
Maka setiap salat yang seseorang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya akan
menjadi musuh pertama atas pemiliknya, seraya berkata: “Semoga Allah
menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku.”
فَطَالِعِ
الْأَخْبَارَ الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا فِي كَمَالِ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ لِيَظْهَرَ
لَكَ وَقْعُهَا.
Karena itu, pelajarilah hadis-hadis yang telah kami sebutkan tentang
kesempurnaan rukun-rukun salat, agar tampak jelas bagimu betapa besar maknanya.