Keutamaan Shalat, Sujud, Berjamaah, Azan, dan Selainnya
اَلْبَابُ الْأَوَّلُ فِي فَضَائِلِ الصَّلَاةِ وَالسُّجُودِ وَالْجَمَاعَةِ وَالْأَذَانِ وَغَيْرِهَا.
Bab pertama tentang keutamaan salat, sujud, berjamaah, azan, dan selainnya.
فَضِيلَةُ
الْأَذَانِ.
Keutamaan azan.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى كَثِيبٍ
مِنْ مِسْكٍ أَسْوَدَ، لَا يَهُولُهُمْ حِسَابٌ، وَلَا يَنَالُهُمْ فَزَعٌ، حَتَّى
يُفْرَغَ مِمَّا بَيْنَ النَّاسِ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Ada tiga golongan pada hari kiamat yang berada di
atas gundukan dari kesturi hitam. Hisab tidak menakutkan mereka, dan rasa takut
tidak menimpa mereka, sampai urusan di antara manusia selesai.”
رَجُلٌ
قَرَأَ الْقُرْآنَ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَمَّ بِقَوْمٍ
وَهُمْ بِهِ رَاضُونَ.
Yaitu seorang laki-laki yang membaca Al-Qur’an demi mencari wajah Allah عز وجل,
dan mengimami suatu kaum sementara mereka ridha kepadanya.
وَرَجُلٌ
أَذَّنَ فِي مَسْجِدٍ وَدَعَا إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ.
Dan seorang laki-laki yang mengumandangkan azan di masjid serta mengajak kepada
Allah عز وجل
demi mencari wajah Allah.
وَرَجُلٌ
ابْتُلِيَ بِالرِّزْقِ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَشْغَلْهُ ذٰلِكَ عَنْ عَمَلِ
الْآخِرَةِ.
Dan seorang laki-laki yang diuji dengan rezeki di dunia, tetapi hal itu tidak
menyibukkannya dari amal akhirat.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَسْمَعُ نِدَاءَ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا
إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah suara azan muazin didengar oleh jin,
manusia, atau sesuatu pun, kecuali ia akan menjadi saksi baginya pada hari
kiamat.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَدُ الرَّحْمٰنِ عَلَى رَأْسِ الْمُؤَذِّنِ
حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ أَذَانِهِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tangan ar-Rahman berada di atas kepala muazin sampai
ia selesai dari azannya.”
وَقِيلَ
فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا
إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا، إِنَّهَا نَزَلَتْ فِي الْمُؤَذِّنِينَ.
Dan dikatakan dalam tafsir firman Allah عز وجل: “Siapakah yang lebih
baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh?”,
bahwa ayat itu turun tentang para muazin.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ
مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah
seperti yang diucapkan muazin.”
وَذٰلِكَ
مُسْتَحَبٌّ إِلَّا فِي الْحَيْعَلَتَيْنِ، فَإِنَّهُ يَقُولُ فِيهِمَا: لَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.
Hal itu disunahkan, kecuali pada dua kalimat hayya ‘ala, maka pada keduanya ia
mengucapkan: “Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”
وَفِي
قَوْلِهِ: قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، يَقُولُ: أَقَامَهَا اللهُ وَأَدَامَهَا مَا
دَامَتِ السَّمٰوَاتُ وَالْأَرْضُ.
Dan pada ucapan muazin: “Qad qāmatiṣ-ṣalāh,” ia mengucapkan: “Aqāmahallāhu wa
adāmahā mā dāmatis-samāwātu wal-arḍ.”
وَفِي
التَّثْوِيبِ: صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ وَنَصَحْتَ.
Dan ketika mendengar tatswib, ia mengucapkan: “Engkau benar, engkau telah
berbuat baik, dan engkau telah menasihati.”
وَعِنْدَ
الْفَرَاغِ يَقُولُ: اللَّهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ
وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ
وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيعَةَ، وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ الَّذِي
وَعَدْتَهُ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ.
Dan setelah selesai, ia mengucapkan: “Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang
sempurna ini dan salat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad
al-wasilah, al-fadhilah, dan derajat yang tinggi, serta bangkitkanlah dia pada
maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi
janji.”
وَقَالَ
سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: مَنْ صَلَّى بِأَرْضِ فَلَاةٍ صَلَّى عَنْ يَمِينِهِ
مَلَكٌ وَعَنْ شِمَالِهِ مَلَكٌ، فَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى وَرَاءَهُ
أَمْثَالُ الْجِبَالِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ.
Sa‘id bin al-Musayyib berkata: “Barang siapa salat di tanah lapang, maka di
sebelah kanannya ada satu malaikat dan di sebelah kirinya ada satu malaikat.
Jika ia mengumandangkan azan dan iqamah, maka di belakangnya akan salat
malaikat dalam jumlah sebesar gunung-gunung.”
فَضِيلَةُ
الْمَكْتُوبَةِ.
Keutamaan salat fardu.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا
مَوْقُوتًا.
Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah
ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى
الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ وَلَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا
اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ، كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ
الْجَنَّةَ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Lima salat telah Allah wajibkan atas para hamba.
Maka barang siapa menunaikannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya
karena meremehkan haknya, ia memiliki janji dari Allah untuk dimasukkan ke
dalam surga.”
وَمَنْ
لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ
وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ.
Dan barang siapa tidak menunaikannya, maka ia tidak memiliki janji di sisi
Allah. Jika Allah menghendaki, Dia mengazabnya, dan jika menghendaki, Dia
memasukkannya ke surga.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ
عَذْبٍ غَمْرٍ بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَقْتَحِمُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Perumpamaan salat lima waktu seperti sungai tawar
yang deras di depan pintu salah seorang dari kalian, yang ia mandi di dalamnya
setiap hari lima kali.”
فَمَا
تَرَوْنَ ذٰلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ؟
“Bagaimana menurut kalian, apakah hal itu masih menyisakan kotoran padanya?”
قَالُوا:
لَا شَيْءَ.
Mereka menjawab: “Tidak ada sedikit pun.”
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ تُذْهِبُ
الذُّنُوبَ كَمَا يُذْهِبُ الْمَاءُ الدَّرَنَ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya salat lima waktu menghapus dosa-dosa
sebagaimana air menghilangkan kotoran.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الصَّلَوَاتِ كَفَّارَةٌ لِمَا
بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Salat-salat itu menjadi penebus dosa di antara
waktu-waktunya selama dosa-dosa besar dijauhi.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِينَ شُهُودُ
الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ، لَا يَسْتَطِيعُونَهُمَا.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Pembeda antara kami dan orang-orang munafik adalah
menghadiri salat Isya dan Subuh. Mereka tidak mampu melakukannya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ مُضَيِّعٌ لِلصَّلَاةِ
لَمْ يُبَالِ اللهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَسَنَاتِهِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan
menyia-nyiakan salat, Allah tidak menghiraukan sedikit pun dari
kebaikan-kebaikannya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ، فَمَنْ تَرَكَهَا
فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Salat adalah tiang agama. Barang siapa
meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.”
وَسُئِلَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم ditanya: “Amal apa yang paling utama?”
فَقَالَ:
الصَّلَاةُ لِمَوَاقِيتِهَا.
Beliau menjawab: “Salat pada waktunya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ حَافَظَ عَلَى الْخَمْسِ بِإِكْمَالِ
طُهُورِهَا وَمَوَاقِيتِهَا، كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa menjaga lima salat dengan
menyempurnakan kesucian dan waktunya, maka salat itu akan menjadi cahaya dan
bukti baginya pada hari kiamat.”
وَمَنْ
ضَيَّعَهَا حُشِرَ مَعَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ.
Dan barang siapa menyia-nyiakannya, ia akan dibangkitkan bersama Fir‘aun dan
Haman.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلَاةُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Kunci surga adalah salat.”
وَقَالَ:
مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَى خَلْقِهِ بَعْدَ التَّوْحِيدِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ
الصَّلَاةِ.
Dan beliau bersabda: “Tidak ada kewajiban yang Allah tetapkan atas makhluk-Nya
setelah tauhid yang lebih Dia cintai daripada salat.”
وَلَوْ
كَانَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْهَا لَتَعَبَّدَ بِهِ مَلَائِكَتَهُ.
Seandainya ada sesuatu yang lebih Dia cintai daripada salat, niscaya para
malaikat akan diperintahkan beribadah dengannya.
فَمِنْهُمْ
رَاكِعٌ وَمِنْهُمْ سَاجِدٌ وَمِنْهُمْ قَائِمٌ وَقَاعِدٌ.
Maka di antara malaikat ada yang rukuk, ada yang sujud, ada yang berdiri, dan
ada yang duduk.
وَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَرَكَ صَلَاةً مُتَعَمِّدًا
فَقَدْ كَفَرَ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa meninggalkan satu salat dengan sengaja,
maka sungguh ia telah kafir.”
أَيْ
قَارَبَ أَنْ يَنْخَلِعَ عَنِ الْإِيمَانِ بِانْحِلَالِ عُرْوَتِهِ وَسُقُوطِ
عِمَادِهِ، كَمَا يُقَالُ لِمَنْ قَارَبَ الْبَلْدَةَ إِنَّهُ بَلَغَهَا
وَدَخَلَهَا.
Maksudnya, ia hampir terlepas dari iman dengan terurainya ikatannya dan
runtuhnya tiangnya, sebagaimana dikatakan kepada orang yang sudah dekat ke
sebuah negeri bahwa ia telah sampai dan memasukinya.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَرَكَ صَلَاةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ
بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa meninggalkan satu salat dengan sengaja,
maka jaminan Muhammad عليه
السلام telah terlepas darinya.”
وَقَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ،
ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الصَّلَاةِ، فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ
يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ.
Abu Hurairah رضي
الله عنه berkata: “Barang siapa berwudu lalu memperbagus wudunya,
kemudian keluar dengan sengaja menuju salat, maka ia berada dalam salat selama
ia sedang menuju salat.”
وَإِنَّهُ
يُكْتَبُ لَهُ بِإِحْدَى خُطْوَتَيْهِ حَسَنَةٌ، وَتُمْحَى عَنْهُ بِالْأُخْرَى
سَيِّئَةٌ.
“Dan dituliskan baginya dengan salah satu langkahnya satu kebaikan, serta
dihapus darinya dengan langkah yang lain satu keburukan.”
فَإِذَا
سَمِعَ أَحَدُكُمُ الْإِقَامَةَ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَأَخَّرَ.
“Maka apabila salah seorang dari kalian mendengar iqamah, tidak patut baginya
untuk terlambat.”
فَإِنَّ
أَعْظَمَكُمْ أَجْرًا أَبْعَدُكُمْ دَارًا.
“Karena yang paling besar pahalanya di antara kalian adalah yang paling jauh
rumahnya.”
قَالُوا:
لِمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟
Mereka berkata: “Mengapa demikian, wahai Abu Hurairah?”
قَالَ:
مِنْ أَجْلِ كَثْرَةِ الْخُطَا.
Ia menjawab: “Karena banyaknya langkah.”
وَيُرْوَى:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْظَرُ فِيهِ مِنْ عَمَلِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
الصَّلَاةُ.
Dan diriwayatkan: “Sesungguhnya amal pertama yang dilihat dari seorang hamba
pada hari kiamat adalah salat.”
فَإِنْ
وُجِدَتْ تَامَّةً قُبِلَتْ مِنْهُ وَسَائِرُ عَمَلِهِ.
Jika didapati sempurna, maka salatnya diterima, begitu pula amal-amalnya yang
lain.
وَإِنْ
وُجِدَتْ نَاقِصَةً رُدَّتْ عَلَيْهِ وَسَائِرُ عَمَلِهِ.
Dan jika didapati kurang, maka salat itu ditolak atasnya, begitu pula
amal-amalnya yang lain.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مُرْ أَهْلَكَ
بِالصَّلَاةِ، فَإِنَّ اللهَ يَأْتِيكَ بِالرِّزْقِ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk
salat, karena Allah akan mendatangkan rezeki kepadamu dari arah yang tidak
engkau sangka.”
وَقَالَ
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مَثَلُ الْمُصَلِّي مَثَلُ التَّاجِرِ الَّذِي لَا يَحْصُلُ
لَهُ الرِّبْحُ حَتَّى يَخْلُصَ لَهُ رَأْسُ الْمَالِ.
Sebagian ulama berkata: “Perumpamaan orang yang salat seperti seorang pedagang
yang tidak akan mendapatkan laba sampai modal pokoknya selamat.”
وَكَذٰلِكَ
الْمُصَلِّي لَا تُقْبَلُ لَهُ نَافِلَةٌ حَتَّى يُؤَدِّيَ الْفَرِيضَةَ.
Demikian pula orang yang salat, tidak diterima baginya salat sunah sampai ia
menunaikan salat wajib.
وَكَانَ
أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَقُومُوا
إِلَى نَارِكُمُ الَّتِي أَوْقَدْتُمُوهَا فَأَطْفِئُوهَا.
Abu Bakar رضي
الله عنه biasa berkata: “Apabila waktu salat telah datang, maka
berdirilah menuju api kalian yang telah kalian nyalakan, lalu padamkanlah.”
فَضِيلَةُ
إِتْمَامِ الْأَرْكَانِ.
Keutamaan menyempurnakan rukun-rukun salat.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ كَمَثَلِ
الْمِيزَانِ، مَنْ أَوْفَى اسْتَوْفَى.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Perumpamaan salat wajib itu seperti timbangan. Siapa
yang menyempurnakannya akan memperoleh kesempurnaan.”
وَقَالَ
يَزِيدُ الرِّقَاشِيُّ: كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مُسْتَوِيَةً كَأَنَّهَا مَوْزُونَةٌ.
Yazid ar-Raqasyi berkata: “Salat Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu lurus dan
seimbang, seakan-akan ditimbang.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الرَّجُلَيْنِ مِنْ أُمَّتِي لَيَقُومَانِ
إِلَى الصَّلَاةِ، وَرُكُوعُهُمَا وَسُجُودُهُمَا وَاحِدٌ، وَإِنَّ مَا بَيْنَ
صَلَاتَيْهِمَا مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya ada dua orang dari umatku berdiri untuk
salat, rukuk dan sujud mereka sama, tetapi jarak antara dua salat mereka
bagaikan jarak antara langit dan bumi.”
وَأَشَارَ
إِلَى الْخُشُوعِ.
Yang beliau maksud adalah kekhusyukan.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى
الْعَبْدِ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Allah tidak akan memandang pada hari kiamat kepada
seorang hamba yang tidak menegakkan punggungnya antara rukuk dan sujudnya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا يَخَافُ الَّذِي يُحَوِّلُ وَجْهَهُ فِي
الصَّلَاةِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ وَجْهَهُ وَجْهَ حِمَارٍ؟
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidakkah takut orang yang memalingkan wajahnya dalam
salat, bahwa Allah akan mengubah wajahnya menjadi wajah keledai?”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى صَلَاةً لِوَقْتِهَا، وَأَسْبَغَ
وُضُوءَهَا، وَأَتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا وَخُشُوعَهَا، عَرَجَتْ وَهِيَ
بَيْضَاءُ مُسْفِرَةٌ، تَقُولُ: حَفِظَكَ اللهُ كَمَا حَفِظْتَنِي.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa menunaikan salat pada waktunya,
menyempurnakan wudunya, menyempurnakan rukuk, sujud, dan khusyuknya, maka salat
itu akan naik dalam keadaan putih bercahaya seraya berkata: ‘Semoga Allah
menjagamu sebagaimana engkau telah menjagaku.’”
وَمَنْ
صَلَّى لِغَيْرِ وَقْتِهَا، وَلَمْ يُسْبِغْ وُضُوءَهَا، وَلَمْ يُتِمَّ
رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا وَلَا خُشُوعَهَا، عَرَجَتْ وَهِيَ سَوْدَاءُ
مُظْلِمَةٌ، تَقُولُ: ضَيَّعَكَ اللهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي.
“Dan barang siapa menunaikannya bukan pada waktunya, tidak menyempurnakan
wudunya, tidak menyempurnakan rukuk, sujud, dan khusyuknya, maka salat itu akan
naik dalam keadaan hitam gelap seraya berkata: ‘Semoga Allah menyia-nyiakanmu
sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku.’”
حَتَّى
إِذَا كَانَتْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ لُفَّتْ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ،
فَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُهُ.
“Hingga ketika salat itu sampai ke tempat yang Allah kehendaki, ia dilipat
sebagaimana kain usang dilipat, lalu dipukulkan ke wajah orang itu.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ
مِنْ صَلَاتِهِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sejahat-jahat manusia dalam pencurian adalah orang
yang mencuri dari salatnya.”
وَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَسَلْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: الصَّلَاةُ
مِكْيَالٌ، فَمَنْ أَوْفَى اسْتَوْفَى، وَمَنْ طَفَّفَ فَقَدْ عَلِمَ مَا قَالَ
اللهُ فِي الْمُطَفِّفِينَ.
Ibnu Mas‘ud رضي
الله عنه dan Salman رضي
الله عنه berkata: “Salat itu seperti takaran. Siapa yang
menyempurnakannya akan mendapat kesempurnaan. Dan siapa yang menguranginya,
maka ia tahu apa yang Allah firmankan tentang orang-orang yang curang dalam
timbangan.”
فَضِيلَةُ
الْجَمَاعَةِ.
Keutamaan berjamaah.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ
بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian
dengan dua puluh tujuh derajat.”
وَرَوَى
أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدَ نَاسًا فِي
بَعْضِ الصَّلَوَاتِ، فَقَالَ: لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلًا يُصَلِّي
بِالنَّاسِ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنْهَا، فَأُحَرِّقَ
عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم tidak mendapati beberapa orang pada
sebagian salat, lalu beliau bersabda: “Sungguh aku pernah ingin memerintahkan
seorang laki-laki untuk mengimami manusia, lalu aku pergi kepada orang-orang
yang tertinggal dari salat itu, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.”
وَفِي
رِوَايَةٍ أُخْرَى: ثُمَّ أُخَالِفُ إِلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنْهَا،
فَآمُرُ بِهِمْ فَتُحَرَّقُ عَلَيْهِمْ بُيُوتُهُمْ بِحُزَمِ الْحَطَبِ.
Dalam riwayat lain: “Kemudian aku mendatangi orang-orang yang tertinggal
darinya, lalu aku perintahkan agar rumah-rumah mereka dibakar dengan
ikatan-ikatan kayu bakar.”
وَلَوْ
عَلِمَ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَظْمًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ
لَشَهِدَهَا.
“Seandainya salah seorang dari mereka tahu bahwa ia akan mendapatkan tulang
yang gemuk atau dua potong daging, niscaya ia akan menghadirinya.”
يَعْنِي
صَلَاةَ الْعِشَاءِ.
Yang dimaksud adalah salat Isya.
وَقَالَ
عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فَكَأَنَّمَا
قَامَ نِصْفَ لَيْلَةٍ، وَمَنْ شَهِدَ الصُّبْحَ فَكَأَنَّمَا قَامَ لَيْلَةً.
Utsman رضي
الله عنه meriwayatkan secara marfu‘: “Barang siapa menghadiri salat
Isya, maka seakan-akan ia menghidupkan setengah malam. Dan barang siapa
menghadiri salat Subuh, maka seakan-akan ia menghidupkan semalam penuh.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى صَلَاةً فِي جَمَاعَةٍ فَقَدْ
مَلَأَ نَحْرَهُ عِبَادَةً.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa mengerjakan satu salat berjamaah, maka
sungguh ia telah memenuhi dadanya dengan ibadah.”
وَقَالَ
سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: مَا أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ مُنْذُ عِشْرِينَ سَنَةً إِلَّا
وَأَنَا فِي الْمَسْجِدِ.
Sa‘id bin al-Musayyib berkata: “Tidaklah muazin mengumandangkan azan sejak dua
puluh tahun, kecuali aku sudah berada di masjid.”
وَقَالَ
مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ: مَا أَشْتَهِي مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا ثَلَاثًا: أَخًا،
إِنْ تَعَوَّجْتُ قَوَّمَنِي، وَقُوتًا مِنَ الرِّزْقِ عَفْوًا مِنْ غَيْرِ
تَبِعَةٍ، وَصَلَاةً فِي جَمَاعَةٍ يُرْفَعُ عَنِّي سَهْوُهَا وَيُكْتَبُ لِي
فَضْلُهَا.
Muhammad bin Wasi‘ berkata: “Aku tidak menginginkan dari dunia ini kecuali tiga
hal: seorang saudara yang jika aku menyimpang akan meluruskanku, rezeki yang
cukup tanpa beban dan tanggungan, dan salat berjamaah yang dengannya
kelalaianku diangkat dan keutamaannya dituliskan bagiku.”
وَرُوِيَ
أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ أَمَّ قَوْمًا مَرَّةً، فَلَمَّا
انْصَرَفَ قَالَ: مَا زَالَ الشَّيْطَانُ بِي آنِفًا حَتَّى أُرِيتُ أَنَّ لِي
فَضْلًا عَلَى غَيْرِي، لَا أَؤُمُّ أَبَدًا.
Diriwayatkan bahwa Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah pernah mengimami suatu kaum.
Ketika selesai, ia berkata: “Setan terus-menerus menggodaku tadi sampai aku
diperlihatkan seakan-akan aku memiliki kelebihan atas orang lain. Aku tidak
akan mengimami lagi selamanya.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ: لَا تُصَلُّوا خَلْفَ رَجُلٍ لَا يَخْتَلِفُ إِلَى الْعُلَمَاءِ.
Al-Hasan berkata: “Janganlah kalian salat di belakang orang yang tidak datang
kepada para ulama.”
وَقَالَ
النَّخَعِيُّ: مَثَلُ الَّذِي يَؤُمُّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ مَثَلُ الَّذِي
يَكِيلُ الْمَاءَ فِي الْبَحْرِ، لَا يَدْرِي زِيَادَتُهُ مِنْ نُقْصَانِهِ.
An-Nakha‘i berkata: “Perumpamaan orang yang mengimami manusia tanpa ilmu
seperti orang yang menakar air di laut; ia tidak tahu apakah menambah atau
mengurangi.”
وَقَالَ
حَاتِمُ الْأَصَمُّ: فَاتَتْنِي الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ، فَعَزَّانِي أَبُو
إِسْحَاقَ الْبُخَارِيُّ وَحْدَهُ، وَلَوْ مَاتَ لِي وَلَدٌ لَعَزَّانِي أَكْثَرُ
مِنْ عَشَرَةِ آلَافٍ، لِأَنَّ مُصِيبَةَ الدِّينِ أَهْوَنُ عِنْدَ النَّاسِ مِنْ
مُصِيبَةِ الدُّنْيَا.
Hatim al-Ashamm berkata: “Aku pernah tertinggal dari salat berjamaah, lalu
hanya Abu Ishaq al-Bukhari saja yang mengucapkan belasungkawa kepadaku. Padahal
seandainya anakku meninggal, tentu lebih dari sepuluh ribu orang akan
menghiburku, karena musibah agama lebih ringan di mata manusia daripada musibah
dunia.”
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: مَنْ سَمِعَ الْمُنَادِيَ فَلَمْ يُجِبْ
لَمْ يُرِدْ خَيْرًا، وَلَمْ يُرَدْ بِهِ خَيْرٌ.
Ibnu Abbas رضي
الله عنهما berkata: “Barang siapa mendengar panggilan lalu tidak
menjawabnya, maka ia tidak menginginkan kebaikan, dan tidak diinginkan baginya
kebaikan.”
وَقَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: لَأَنْ تُملَأَ أُذُنُ ابْنِ آدَمَ
رَصَاصًا مُذَابًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْمَعَ النِّدَاءَ ثُمَّ لَا يُجِيبَ.
Abu Hurairah رضي
الله عنه berkata: “Sungguh telinga anak Adam dipenuhi timah cair lebih
baik baginya daripada ia mendengar azan kemudian tidak menjawabnya.”
وَرُوِيَ
أَنَّ مَيْمُونَ بْنَ مِهْرَانَ أَتَى الْمَسْجِدَ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ النَّاسَ
قَدِ انْصَرَفُوا.
Diriwayatkan bahwa Maimun bin Mihran datang ke masjid, lalu dikatakan
kepadanya: “Orang-orang sudah selesai dan pulang.”
فَقَالَ:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، لَفَضْلُ هٰذِهِ الصَّلَاةِ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ وِلَايَةِ الْعِرَاقِ.
Maka ia berkata: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Keutamaan salat ini
lebih aku cintai daripada kekuasaan atas Irak.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى أَرْبَعِينَ يَوْمًا الصَّلَوَاتِ
فِي جَمَاعَةٍ، لَا تَفُوتُهُ فِيهَا تَكْبِيرَةُ الْإِحْرَامِ، كَتَبَ اللهُ لَهُ
بَرَاءَتَيْنِ: بَرَاءَةً مِنَ النِّفَاقِ وَبَرَاءَةً مِنَ النَّارِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa salat selama empat puluh hari secara
berjamaah, tidak tertinggal baginya takbiratul ihram, Allah menuliskan untuknya
dua kebebasan: kebebasan dari nifak dan kebebasan dari neraka.”
وَيُقَالُ:
إِنَّهُ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُحْشَرُ قَوْمٌ وُجُوهُهُمْ
كَالْكَوْكَبِ الدُّرِّيِّ.
Dikatakan bahwa pada hari kiamat akan dibangkitkan suatu kaum yang wajah-wajah
mereka seperti bintang yang berkilau.
فَتَقُولُ
لَهُمُ الْمَلَائِكَةُ: مَا كَانَتْ أَعْمَالُكُمْ؟
Maka para malaikat bertanya kepada mereka: “Apa amal-amal kalian dahulu?”
فَيَقُولُونَ:
كُنَّا إِذَا سَمِعْنَا الْأَذَانَ قُمْنَا إِلَى الطَّهَارَةِ، لَا يَشْغَلُنَا
غَيْرُهَا.
Mereka menjawab: “Apabila kami mendengar azan, kami segera berdiri untuk
bersuci, dan tidak ada yang menyibukkan kami selain itu.”
ثُمَّ
تُحْشَرُ طَائِفَةٌ وُجُوهُهُمْ كَالْأَقْمَارِ، فَيَقُولُونَ بَعْدَ السُّؤَالِ:
كُنَّا نَتَوَضَّأُ قَبْلَ الْوَقْتِ.
Kemudian dibangkitkan satu golongan yang wajah-wajah mereka seperti bulan, lalu
mereka menjawab setelah ditanya: “Kami biasa berwudu sebelum masuk waktu.”
ثُمَّ
تُحْشَرُ طَائِفَةٌ وُجُوهُهُمْ كَالشَّمْسِ، فَيَقُولُونَ: كُنَّا نَسْمَعُ
الْأَذَانَ فِي الْمَسْجِدِ.
Kemudian dibangkitkan satu golongan yang wajah-wajah mereka seperti matahari,
lalu mereka berkata: “Kami biasa mendengar azan di dalam masjid.”
وَرُوِيَ
أَنَّ السَّلَفَ كَانُوا يُعَزُّونَ أَنْفُسَهُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِذَا
فَاتَتْهُمُ التَّكْبِيرَةُ الْأُولَى، وَيُعَزُّونَ سَبْعًا إِذَا فَاتَتْهُمُ
الْجَمَاعَةُ.
Dan diriwayatkan bahwa para salaf saling menghibur selama tiga hari jika
tertinggal takbir pertama, dan saling menghibur selama tujuh hari jika
tertinggal jamaah.
فَضِيلَةُ
السُّجُودِ.
Keutamaan sujud.
قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا تَقَرَّبَ الْعَبْدُ إِلَى
اللهِ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ سُجُودٍ خَفِيٍّ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah
dengan sesuatu yang lebih utama daripada sujud yang tersembunyi.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَسْجُدُ
لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا
سَيِّئَةً.
Dan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang Muslim bersujud kepada Allah satu
sujud kecuali Allah mengangkatnya satu derajat karenanya dan menghapus darinya
satu kesalahan.”
وَرُوِيَ
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ادْعُ
اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْ أَهْلِ شَفَاعَتِكَ وَأَنْ يَرْزُقَنِي مُرَافَقَتَكَ
فِي الْجَنَّةِ.
Diriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
“Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk orang yang mendapatkan
syafaatmu dan mengaruniakanku kebersamaan denganmu di surga.”
فَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعِنِّي بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.
Maka beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Bantulah aku dengan memperbanyak sujud.”
وَقِيلَ:
إِنَّ أَقْرَبَ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَكُونَ سَاجِدًا.
Dan dikatakan: sesungguhnya keadaan hamba yang paling dekat kepada Allah Ta‘ala
adalah ketika ia sedang sujud.
وَهُوَ
مَعْنَى قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ.
Itulah makna firman Allah عز وجل:
“Dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu.”
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ.
Dan Allah عز وجل
berfirman: “Tanda mereka tampak pada wajah-wajah mereka dari bekas sujud.”
فَقِيلَ:
هُوَ مَا يَلْتَصِقُ بِوُجُوهِهِمْ مِنَ الْأَرْضِ عِنْدَ السُّجُودِ.
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah tanah yang menempel pada wajah mereka
saat sujud.
وَقِيلَ:
هُوَ نُورُ الْخُشُوعِ، فَإِنَّهُ يُشْرِقُ مِنَ الْبَاطِنِ عَلَى الظَّاهِرِ،
وَهُوَ الْأَصَحُّ.
Dan ada yang mengatakan: yang dimaksud adalah cahaya kekhusyukan, karena ia
memancar dari batin ke lahir. Dan inilah yang paling benar.
وَقِيلَ:
هِيَ الْغُرَرُ الَّتِي تَكُونُ فِي وُجُوهِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَثَرِ
الْوُضُوءِ.
Dan ada pula yang mengatakan: itu adalah cahaya yang tampak pada wajah mereka
pada hari kiamat sebagai bekas wudu.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ،
اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، وَيَقُولُ: يَا وَيْلَهُ، أُمِرَ هٰذَا
بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ أَنَا بِالسُّجُودِ
فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Apabila anak Adam membaca ayat سجدة lalu ia sujud, setan
menyingkir sambil menangis dan berkata: ‘Celaka aku! Orang ini diperintahkan
sujud lalu ia sujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan sujud,
lalu aku durhaka, maka bagiku neraka.’”
وَيُرْوَى
عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ يَسْجُدُ فِي كُلِّ
يَوْمٍ أَلْفَ سَجْدَةٍ، وَكَانُوا يُسَمُّونَهُ السَّجَّادَ.
Diriwayatkan dari Ali bin Abdullah bin Abbas bahwa ia biasa sujud seribu kali
setiap hari, dan orang-orang menyebutnya as-Sajjād.
وَيُرْوَى
أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ لَا يَسْجُدُ
إِلَّا عَلَى التُّرَابِ.
Dan diriwayatkan bahwa Umar bin عبد العزيز رضي الله عنه tidak bersujud kecuali di atas tanah.
وَكَانَ
يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ يَقُولُ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، بَادِرُوا بِالصِّحَّةِ
قَبْلَ الْمَرَضِ، فَمَا بَقِيَ أَحَدٌ أَحْسُدُهُ إِلَّا رَجُلٌ يُتِمُّ
رُكُوعَهُ وَسُجُودَهُ، وَقَدْ حِيلَ بَيْنِي وَبَيْنَ ذٰلِكَ.
Yusuf bin Asbath berkata: “Wahai para pemuda, segeralah manfaatkan kesehatan
sebelum datang sakit. Tidak ada lagi orang yang aku iri kepadanya kecuali orang
yang masih bisa menyempurnakan rukuk dan sujudnya, sementara aku telah
terhalang dari hal itu.”
وَقَالَ
سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: مَا آسَى عَلَى شَيْءٍ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا عَلَى
السُّجُودِ.
Sa‘id bin Jubair berkata: “Aku tidak menyesali sesuatu dari dunia ini selain
sujud.”
وَقَالَ
عُقْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ: مَا مِنْ خَصْلَةٍ فِي الْعَبْدِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ
عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رَجُلٍ يُحِبُّ لِقَاءَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
‘Uqbah bin Muslim berkata: “Tidak ada satu sifat pada seorang hamba yang lebih
dicintai Allah عز وجل
daripada seorang yang mencintai perjumpaan dengan Allah عز وجل.”
وَمَا
مِنْ سَاعَةٍ الْعَبْدُ فِيهَا أَقْرَبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ حَيْثُ
يَخِرُّ سَاجِدًا.
Dan tidak ada saat seorang hamba lebih dekat kepada Allah عز وجل daripada saat ia
jatuh bersujud.
وَقَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ لِلْعَبْدِ إِلَى
اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا سَجَدَ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ عِنْدَ ذٰلِكَ.
Abu Hurairah رضي
الله عنه berkata: “Keadaan seorang hamba paling dekat kepada Allah عز وجل
adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa saat itu.”
فَضِيلَةُ
الْخُشُوعِ.
Keutamaan khusyuk.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”
وَقَالَ
تَعَالَى: وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang
lalai.”
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا
مَا تَقُولُونَ.
Dan Allah عز وجل
berfirman: “Janganlah kalian mendekati salat sementara kalian mabuk, sampai
kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan.”
قِيلَ:
سُكَارَى مِنْ كَثْرَةِ الْهَمِّ.
Ada yang mengatakan: “mabuk” di sini maksudnya mabuk karena banyaknya
kesusahan.
وَقِيلَ:
مِنْ حُبِّ الدُّنْيَا.
Dan ada yang mengatakan: karena cinta dunia.
وَقَالَ
وَهْبٌ: الْمُرَادُ بِهِ ظَاهِرُهُ، فَفِيهِ تَنْبِيهٌ عَلَى سُكْرِ الدُّنْيَا،
إِذْ بَيَّنَ فِيهِ الْعِلَّةَ فَقَالَ: حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ.
Wahb berkata: yang dimaksud adalah makna lahiriahnya, dan di dalamnya terdapat
isyarat kepada mabuknya dunia, karena Allah menjelaskan alasannya dengan
firman-Nya: “sampai kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan.”
وَكَمْ
مِنْ مُصَلٍّ لَمْ يَشْرَبْ خَمْرًا، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مَا يَقُولُ فِي
صَلَاتِهِ.
Betapa banyak orang yang salat tidak minum khamar, tetapi ia tidak tahu apa
yang ia ucapkan dalam salatnya.
وَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ
يُحَدِّثْ نَفْسَهُ فِيهِمَا بِشَيْءٍ مِنَ الدُّنْيَا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa salat dua rakaat tanpa berbicara kepada
dirinya tentang sesuatu dari urusan dunia, diampuni baginya dosa-dosanya yang
telah lalu.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الصَّلَاةُ تَمَسْكُنٌ وَتَوَاضُعٌ
وَتَضَرُّعٌ وَتَأَوُّهٌ وَتَنَدُّمٌ، وَتَضَعُ يَدَيْكَ فَتَقُولُ: اللَّهُمَّ
اللَّهُمَّ، فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَهِيَ خِدَاجٌ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya salat itu adalah ketenangan, tawaduk,
kerendahan hati, keluhan, penyesalan, dan engkau mengangkat kedua tanganmu lalu
berkata: ‘Ya Allah, ya Allah.’ Maka siapa yang tidak melakukan itu, salatnya
cacat.”
وَرُوِيَ
عَنِ اللهِ سُبْحَانَهُ فِي الْكُتُبِ السَّالِفَةِ أَنَّهُ قَالَ: لَيْسَ كُلُّ
مُصَلٍّ أَتَقَبَّلُ صَلَاتَهُ.
Dan diriwayatkan dari Allah سبحانه
dalam kitab-kitab terdahulu bahwa Dia berfirman: “Tidak setiap orang yang salat
Aku terima salatnya.”
إِنَّمَا
أَقْبَلُ صَلَاةَ مَنْ تَوَاضَعَ لِعَظَمَتِي، وَلَمْ يَتَكَبَّرْ عَلَى عِبَادِي،
وَأَطْعَمَ الْفَقِيرَ الْجَائِعَ لِوَجْهِي.
“Sesungguhnya Aku hanya menerima salat orang yang merendah karena keagungan-Ku,
tidak sombong terhadap hamba-hamba-Ku, dan memberi makan fakir yang lapar demi
wajah-Ku.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا فُرِضَتِ الصَّلَاةُ، وَأُمِرَ
بِالْحَجِّ وَالطَّوَافِ، وَأُشْعِرَتِ الْمَنَاسِكُ، لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللهِ
تَعَالَى.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya salat diwajibkan, haji dan tawaf
diperintahkan, serta manasik disyariatkan, adalah untuk menegakkan zikir kepada
Allah Ta‘ala.”
فَإِذَا
لَمْ يَكُنْ فِي قَلْبِكَ لِلْمَذْكُورِ الَّذِي هُوَ الْمَقْصُودُ وَالْمُبْتَغَى
عَظَمَةٌ وَلَا هَيْبَةٌ، فَمَا قِيمَةُ ذِكْرِكَ؟
Maka jika di dalam hatimu tidak ada keagungan dan rasa takut kepada Dzat yang
diingat, yaitu tujuan dan yang dicari itu, lalu apa nilai zikir yang engkau
lakukan?
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلَّذِي أَوْصَاهُ: وَإِذَا صَلَّيْتَ فَصَلِّ
صَلَاةَ مُوَدِّعٍ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda kepada orang yang beliau nasihati: “Apabila engkau
salat, maka salatlah seperti salat orang yang berpamitan.”
أَيْ
مُوَدِّعٍ لِنَفْسِهِ، مُوَدِّعٍ لِهَوَاهُ، مُوَدِّعٍ لِعُمُرِهِ، سَائِرٍ إِلَى
مَوْلَاهُ.
Yaitu orang yang berpamitan dengan dirinya, berpamitan dengan hawa nafsunya,
berpamitan dengan umurnya, dan sedang berjalan menuju Tuhannya.
كَمَا
قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ
كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ.
Sebagaimana Allah عز وجل
berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras menuju Tuhanmu
dengan sungguh-sungguh, maka engkau akan menemui-Nya.”
وَقَالَ
تَعَالَى: وَاتَّقُوا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللهُ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan
mengajarkan kalian.”
وَقَالَ
تَعَالَى: وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa
kalian akan menemui-Nya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa yang salatnya tidak mencegahnya dari
perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah selain semakin
jauh.”
وَالصَّلَاةُ
مُنَاجَاةٌ، فَكَيْفَ تَكُونُ مَعَ الْغَفْلَةِ؟
Salat itu adalah munajat. Maka bagaimana mungkin munajat itu terjadi bersama
kelalaian?
وَقَالَ
بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ: يَا ابْنَ آدَمَ، إِذَا شِئْتَ أَنْ تَدْخُلَ عَلَى
مَوْلَاكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ وَتُكَلِّمَهُ بِلَا تُرْجُمَانٍ، دَخَلْتَ.
Bakr bin Abdullah berkata: “Wahai anak Adam, jika engkau ingin masuk menemui
Tuhanmu tanpa izin dan berbicara kepada-Nya tanpa penerjemah, maka engkau bisa
melakukannya.”
قِيلَ:
وَكَيْفَ ذٰلِكَ؟
Lalu ditanyakan: “Bagaimana caranya?”
قَالَ:
تُسْبِغُ وُضُوءَكَ، وَتَدْخُلُ مِحْرَابَكَ، فَإِذَا أَنْتَ قَدْ دَخَلْتَ عَلَى
مَوْلَاكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ، فَتُكَلِّمُهُ بِغَيْرِ تُرْجُمَانٍ.
Ia menjawab: “Engkau sempurnakan wudumu, lalu masuk ke mihrabmu. Maka saat itu
engkau telah masuk menemui Tuhanmu tanpa izin khusus dan berbicara kepada-Nya
tanpa penerjemah.”
وَعَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُنَا وَنُحَدِّثُهُ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ
فَكَأَنَّهُ لَمْ يَعْرِفْنَا وَلَمْ نَعْرِفْهُ.
Dan dari Aisyah رضي
الله عنها, ia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa berbincang
dengan kami dan kami pun berbincang dengan beliau. Namun apabila waktu salat
tiba, seakan-akan beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenalnya.”
اشْتِغَالًا
بِعَظَمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Hal itu karena beliau tersibukkan oleh keagungan Allah عز وجل.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى صَلَاةٍ لَا يَحْضُرُ
الرَّجُلُ فِيهَا قَلْبَهُ مَعَ بَدَنِهِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Allah tidak memandang kepada salat seorang hamba
yang hatinya tidak hadir bersama tubuhnya dalam salat itu.”
وَكَانَ
إِبْرَاهِيمُ الْخَلِيلُ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ يُسْمَعُ وَجِيبُ قَلْبِهِ
عَلَى مِيلَيْنِ.
Ibrahim al-Khalil, apabila berdiri untuk salat, detak jantungnya terdengar dari
jarak dua mil.
وَكَانَ
سَعِيدُ التَّنُوخِيُّ إِذَا صَلَّى لَمْ تَنْقَطِعِ الدُّمُوعُ مِنْ خَدَّيْهِ
عَلَى لِحْيَتِهِ.
Sa‘id at-Tanukhi, jika salat, air matanya terus mengalir dari pipinya ke
janggutnya.
وَرَأَى
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعْبَثُ بِلِحْيَتِهِ فِي
الصَّلَاةِ، فَقَالَ: لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هٰذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم melihat seorang laki-laki bermain-main dengan janggutnya dalam
salat, lalu beliau bersabda: “Seandainya hati orang ini khusyuk, niscaya
anggota badannya pun khusyuk.”
وَيُرْوَى
أَنَّ الْحَسَنَ نَظَرَ إِلَى رَجُلٍ يَعْبَثُ بِالْحَصَى وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ
زَوِّجْنِي الْحُورَ الْعِينَ، فَقَالَ: بِئْسَ الْخَاطِبُ أَنْتَ، تَخْطُبُ
الْحُورَ الْعِينَ وَأَنْتَ تَعْبَثُ بِالْحَصَى.
Diriwayatkan bahwa al-Hasan melihat seorang lelaki bermain-main dengan kerikil
sambil berkata: “Ya Allah, nikahkanlah aku dengan bidadari.” Maka al-Hasan
berkata: “Engkau adalah pelamar yang buruk. Engkau melamar bidadari, tetapi
engkau bermain-main dengan kerikil.”
وَقِيلَ
لِخَلَفِ بْنِ أَيُّوبَ: أَلَا يُؤْذِيكَ الذُّبَابُ فِي صَلَاتِكَ فَتَطْرُدَهَا؟
Pernah dikatakan kepada Khalaf bin Ayyub: “Tidakkah lalat mengganggumu dalam
salat sehingga engkau mengusirnya?”
قَالَ:
لَا أُعَوِّدُ نَفْسِي شَيْئًا يُفْسِدُ عَلَيَّ صَلَاتِي.
Ia menjawab: “Aku tidak membiasakan diriku pada sesuatu yang dapat merusak
salatku.”
قِيلَ
لَهُ: وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى ذٰلِكَ؟
Ditanyakan kepadanya: “Lalu bagaimana engkau mampu bersabar atas hal itu?”
قَالَ:
بَلَغَنِي أَنَّ الْفُسَّاقَ يَصْبِرُونَ تَحْتَ أَسْوَاطِ السُّلْطَانِ،
لِيُقَالَ: فُلَانٌ صَبُورٌ، وَيَفْتَخِرُونَ بِذٰلِكَ، فَأَنَا قَائِمٌ بَيْنَ
يَدَيْ رَبِّي، أَفَأَتَحَرَّكُ لِذُبَابَةٍ؟
Ia menjawab: “Sampai kepadaku bahwa orang-orang fasik bersabar di bawah cambuk
penguasa agar dikatakan, ‘Si fulan orang yang sabar,’ lalu mereka berbangga
dengan itu. Sedangkan aku sedang berdiri di hadapan Tuhanku, apakah pantas aku
bergerak hanya karena seekor lalat?”
وَيُرْوَى
عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَرَادَ الصَّلَاةَ قَالَ
لِأَهْلِهِ: تَحَدَّثُوا أَنْتُمْ، فَإِنِّي لَسْتُ أَسْمَعُكُمْ.
Diriwayatkan dari Muslim bin Yasar bahwa ketika hendak salat ia berkata kepada
keluarganya: “Kalian berbicaralah sesuka kalian, karena aku tidak akan
mendengar kalian.”
وَيُرْوَى
عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي يَوْمًا فِي جَامِعِ الْبَصْرَةِ، فَسَقَطَتْ
نَاحِيَةٌ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَاجْتَمَعَ النَّاسُ لِذٰلِكَ، فَلَمْ يَشْعُرْ بِهِ
حَتَّى انْصَرَفَ مِنَ الصَّلَاةِ.
Dan diriwayatkan pula darinya bahwa suatu hari ia sedang salat di masjid جامع
Basrah, lalu salah satu bagian masjid runtuh. Orang-orang berkumpul karena
kejadian itu, tetapi ia tidak menyadarinya sampai selesai salat.
وَكَانَ
عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَرَّمَ وَجْهَهُ إِذَا حَضَرَ
وَقْتُ الصَّلَاةِ يَتَزَلْزَلُ وَيَتَلَوَّنُ وَجْهُهُ.
Ali bin Abi Thalib رضي
الله عنه dan كرم
الله وجهه, apabila telah masuk waktu salat, tubuhnya bergetar dan
wajahnya berubah warna.
فَقِيلَ
لَهُ: مَا لَكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ؟
Lalu dikatakan kepadanya: “Ada apa denganmu, wahai Amirul Mukminin?”
فَيَقُولُ:
جَاءَ وَقْتُ أَمَانَةٍ عَرَضَهَا اللهُ عَلَى السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَالْجِبَالِ، فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا، وَحَمَلْتُهَا.
Maka ia menjawab: “Telah datang waktu amanah yang Allah tawarkan kepada langit,
bumi, dan gunung-gunung, lalu semuanya enggan memikulnya dan takut terhadapnya,
sedangkan aku telah memikulnya.”
وَيُرْوَى
عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ اصْفَرَّ لَوْنُهُ.
Diriwayatkan dari Ali bin al-Husain bahwa apabila ia berwudu, wajahnya menjadi
pucat.
فَيَقُولُ
لَهُ أَهْلُهُ: مَا هٰذَا الَّذِي يَعْتَرِيكَ عِنْدَ الْوُضُوءِ؟
Keluarganya berkata kepadanya: “Apa yang menimpamu ketika berwudu?”
فَيَقُولُ:
أَتَدْرُونَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ أُرِيدُ أَنْ أَقُومَ؟
Ia menjawab: “Tahukah kalian, di hadapan siapa aku hendak berdiri?”
وَيُرْوَى
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: قَالَ دَاوُدُ
عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي مُنَاجَاتِهِ: إِلٰهِي، مَنْ يَسْكُنُ بَيْتَكَ،
وَمِمَّنْ تَتَقَبَّلُ الصَّلَاةَ؟
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa ia berkata: Dawud عليه السلام berkata dalam
munajatnya: “Tuhanku, siapakah yang akan menempati rumah-Mu, dan dari siapakah
Engkau menerima salat?”
فَأَوْحَى
اللهُ إِلَيْهِ: يَا دَاوُدُ، إِنَّمَا يَسْكُنُ بَيْتِي وَأَقْبَلُ الصَّلَاةَ
مِمَّنْ تَوَاضَعَ لِعَظَمَتِي، وَقَطَعَ نَهَارَهُ بِذِكْرِي، وَكَفَّ نَفْسَهُ
عَنِ الشَّهَوَاتِ مِنْ أَجْلِي، يُطْعِمُ الْجَائِعَ، وَيُؤْوِي الْغَرِيبَ،
وَيَرْحَمُ الْمُصَابَ.
Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Wahai Dawud, sesungguhnya yang menempati
rumah-Ku dan yang Aku terima salatnya hanyalah orang yang merendah karena
keagungan-Ku, menghabiskan siangnya dengan mengingat-Ku, menahan dirinya dari
syahwat demi Aku, memberi makan orang lapar, memberi tempat kepada orang asing,
dan menyayangi orang yang tertimpa musibah.”
فَذٰلِكَ
الَّذِي يُضِيءُ نُورُهُ فِي السَّمٰوَاتِ كَالشَّمْسِ.
“Maka orang itulah yang cahayanya bersinar di langit seperti matahari.”
إِنْ
دَعَانِي لَبَّيْتُهُ، وَإِنْ سَأَلَنِي أَعْطَيْتُهُ.
“Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku beri.”
أَجْعَلُ
لَهُ فِي الْجَهْلِ حِلْمًا، وَفِي الْغَفْلَةِ ذِكْرًا، وَفِي الظُّلْمَةِ نُورًا.
“Aku jadikan baginya dalam kebodohan kesabaran, dalam kelalaian ingatan, dan
dalam kegelapan cahaya.”
وَإِنَّمَا
مَثَلُهُ فِي النَّاسِ كَالْفِرْدَوْسِ فِي أَعْلَى الْجِنَانِ، لَا يَيْبَسُ
أَنْهَارُهُ وَلَا تَتَغَيَّرُ ثِمَارُهُ.
“Perumpamaannya di tengah manusia seperti Firdaus di tempat tertinggi surga;
sungai-sungainya tidak pernah kering dan buah-buahnya tidak berubah.”
وَيُرْوَى
عَنْ حَاتِمِ الْأَصَمِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ صَلَاتِهِ،
فَقَالَ: إِذَا حَانَتِ الصَّلَاةُ أَسْبَغْتُ الْوُضُوءَ، وَأَتَيْتُ الْمَوْضِعَ
الَّذِي أُرِيدُ الصَّلَاةَ فِيهِ، فَأَقْعُدُ فِيهِ حَتَّى تَجْتَمِعَ جَوَارِحِي.
Diriwayatkan dari Hatim al-Ashamm رضي الله عنه bahwa ia ditanya tentang salatnya. Maka ia
menjawab: “Apabila waktu salat telah tiba, aku menyempurnakan wudu, lalu aku
datang ke tempat yang hendak aku gunakan untuk salat, lalu aku duduk di sana
sampai seluruh anggota tubuhku tenang.”
ثُمَّ
أَقُومُ إِلَى صَلَاتِي، وَأَجْعَلُ الْكَعْبَةَ بَيْنَ حَاجِبَيَّ، وَالصِّرَاطَ
تَحْتَ قَدَمَيَّ، وَالْجَنَّةَ عَنْ يَمِينِي، وَالنَّارَ عَنْ شِمَالِي،
وَمَلَكَ الْمَوْتِ وَرَائِي.
“Kemudian aku berdiri untuk salatku. Aku jadikan Ka‘bah di antara kedua alisku,
shirath di bawah kedua kakiku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah
kiriku, dan malaikat maut di belakangku.”
وَأَظُنُّهَا
آخِرَ صَلَاتِي.
“Dan aku menganggap salat itu sebagai salat terakhirku.”
ثُمَّ
أَقُومُ بَيْنَ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ، وَأُكَبِّرُ تَكْبِيرًا بِتَحْقِيقٍ،
وَأَقْرَأُ قِرَاءَةً بِتَرْتِيلٍ، وَأَرْكَعُ رُكُوعًا بِتَوَاضُعٍ، وَأَسْجُدُ
سُجُودًا بِتَخَشُّعٍ.
“Kemudian aku berdiri di antara harapan dan ketakutan, bertakbir dengan
sebenar-benarnya, membaca dengan tartil, rukuk dengan tawaduk, dan sujud dengan
penuh khusyuk.”
وَأَقْعُدُ
عَلَى الْوَرِكِ الْيُسْرَى، وَأَفْرُشُ ظَهْرَ قَدَمِهَا، وَأَنْصِبُ الْقَدَمَ
الْيُمْنَى عَلَى الْإِبْهَامِ.
“Aku duduk di atas pinggul kiri, membentangkan bagian atas kaki kiriku, dan
menegakkan kaki kananku di atas ibu jarinya.”
وَأُتْبِعُهَا
الْإِخْلَاصَ، ثُمَّ لَا أَدْرِي أَقُبِلَتْ مِنِّي أَمْ لَا.
“Aku iringi semua itu dengan keikhlasan. Setelah itu aku tidak tahu, apakah
salat itu diterima dariku atau tidak.”
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: رَكْعَتَانِ مُقْتَصِدَتَانِ فِي
تَفَكُّرٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ وَالْقَلْبُ سَاهٍ.
Ibnu Abbas رضي
الله عنهما berkata: “Dua rakaat yang sederhana tetapi disertai tafakur
lebih baik daripada qiyam semalam suntuk sementara hati lalai.”
فَضِيلَةُ
الْمَسْجِدِ وَمَوْضِعُ الصَّلَاةِ.
Keutamaan masjid dan tempat salat.
قَالَ
اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ.
Allah عز وجل
berfirman: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمِفْحَصِ
قَطَاةٍ بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa membangun masjid karena Allah, walaupun
hanya sebesar sarang burung qathah, Allah akan membangunkan baginya sebuah
istana di surga.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَلِفَ الْمَسْجِدَ أَلِفَهُ اللهُ
تَعَالَى.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa mencintai masjid, Allah Ta‘ala akan
mencintainya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, maka
hendaklah ia salat dua rakaat sebelum duduk.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا صَلَاةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي
الْمَسْجِدِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidak ada salat bagi tetangga masjid kecuali di
masjid.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا
دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ أَوْ
يَخْرُجْ مِنَ الْمَسْجِدِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Para malaikat mendoakan salah seorang dari kalian
selama ia masih berada di tempat salatnya yang ia gunakan untuk salat. Mereka
berkata: ‘Ya Allah, limpahkan rahmat kepadanya, ya Allah, sayangilah dia, ya
Allah, ampunilah dia,’ selama ia belum berhadas atau keluar dari masjid.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ
أُمَّتِي يَأْتُونَ الْمَسَاجِدَ فَيَقْعُدُونَ فِيهَا حِلَقًا حِلَقًا،
ذِكْرُهُمُ الدُّنْيَا وَحُبُّ الدُّنْيَا، لَا تُجَالِسُوهُمْ فَلَيْسَ لِلَّهِ
بِهِمْ حَاجَةٌ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Akan datang pada akhir zaman orang-orang dari umatku
yang datang ke masjid-masjid lalu duduk di dalamnya berkelompok-kelompok.
Pembicaraan mereka adalah dunia dan kecintaan kepada dunia. Maka janganlah
kalian duduk bersama mereka, karena Allah tidak memiliki kepentingan terhadap
mereka.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي بَعْضِ
الْكُتُبِ: إِنَّ بُيُوتِي فِي أَرْضِي الْمَسَاجِدُ، وَإِنَّ زُوَّارِي فِيهَا
عُمَّارُهَا.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Allah عز وجل berfirman dalam sebagian kitab:
‘Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi adalah masjid-masjid, dan para
pengunjung-Ku di dalamnya adalah orang-orang yang memakmurkannya.’”
فَطُوبَى
لِعَبْدٍ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ زَارَنِي فِي بَيْتِي، فَحَقٌّ عَلَى
الْمَزُورِ أَنْ يُكْرِمَ زَائِرَهُ.
“Maka beruntunglah seorang hamba yang bersuci di rumahnya lalu mengunjungi-Ku
di rumah-Ku. Sudah sepatutnya bagi yang dikunjungi untuk memuliakan
pengunjungnya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ
الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Jika kalian melihat seseorang terbiasa datang ke
masjid, maka saksikanlah baginya iman.”
وَقَالَ
سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: مَنْ جَلَسَ فِي الْمَسْجِدِ فَإِنَّمَا يُجَالِسُ
رَبَّهُ، فَمَا حَقُّهُ أَنْ يَقُولَ إِلَّا خَيْرًا.
Sa‘id bin al-Musayyib berkata: “Barang siapa duduk di masjid, maka sesungguhnya
ia sedang duduk bersama Tuhannya. Maka tidak patut baginya berkata kecuali yang
baik.”
وَيُرْوَى
فِي الْأَثَرِ أَوِ الْخَبَرِ: الْحَدِيثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ
كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيشَ.
Dan diriwayatkan dalam atsar atau hadis: “Percakapan di masjid memakan
kebaikan-kebaikan sebagaimana hewan memakan rumput.”
وَقَالَ
النَّخَعِيُّ: كَانُوا يَرَوْنَ أَنَّ الْمَشْيَ فِي اللَّيْلَةِ الْمُظْلِمَةِ
إِلَى الْمَسْجِدِ مُوجِبٌ لِلْجَنَّةِ.
An-Nakha‘i berkata: “Mereka memandang bahwa berjalan pada malam yang gelap
menuju masjid adalah sesuatu yang mendatangkan surga.”
وَقَالَ
أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُسْرِجُ فِي الْمَسْجِدِ سِرَاجًا إِلَّا
لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ مَا دَامَ
فِي ذٰلِكَ الْمَسْجِدِ ضَوْءُهُ.
Anas bin Malik berkata: “Tidaklah seorang Muslim menyalakan lampu di masjid,
kecuali para malaikat dan para pemikul ‘Arsy terus-menerus memohonkan ampun
baginya selama cahaya lampu itu masih ada di masjid tersebut.”
وَقَالَ
عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ بَكَى عَلَيْهِ مُصَلَّاهُ
مِنَ الْأَرْضِ، وَمَصْعَدُ عَمَلِهِ مِنَ السَّمَاءِ.
Ali كرم الله وجهه
berkata: “Apabila seorang hamba meninggal, maka tempat salatnya di bumi dan
tempat naik amalnya di langit menangisinya.”
ثُمَّ
قَرَأَ: فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا
مُنْظَرِينَ.
Kemudian ia membaca firman Allah: “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka,
dan mereka tidak diberi penangguhan.”
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ: تَبْكِي عَلَيْهِ الْأَرْضُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا.
Ibnu Abbas berkata: “Bumi menangisinya selama empat puluh pagi.”
وَقَالَ
عَطَاءُ الْخُرَاسَانِيُّ: مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً فِي
بُقْعَةٍ مِنْ بِقَاعِ الْأَرْضِ إِلَّا شَهِدَتْ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَبَكَتْ عَلَيْهِ يَوْمَ يَمُوتُ.
‘Atha’ al-Khurasani berkata: “Tidak ada seorang hamba yang sujud kepada Allah
satu kali sujud di suatu tempat di bumi, kecuali tempat itu akan menjadi saksi
baginya pada hari kiamat dan menangisinya pada hari ia meninggal.”
وَقَالَ
أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: مَا مِنْ بُقْعَةٍ يُذْكَرُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهَا
بِصَلَاةٍ أَوْ ذِكْرٍ إِلَّا افْتَخَرَتْ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنَ الْبِقَاعِ،
وَاسْتَبْشَرَتْ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى مُنْتَهَاهَا مِنْ سَبْعِ
أَرَضِينَ.
Anas bin Malik berkata: “Tidak ada satu tempat pun yang Allah Ta‘ala disebut di
atasnya melalui salat atau zikir, kecuali tempat itu berbangga atas
tempat-tempat di sekitarnya dan bergembira dengan zikir kepada Allah عز وجل sampai
ke ujungnya dari tujuh lapis bumi.”
وَمَا
مِنْ عَبْدٍ يَقُومُ يُصَلِّي إِلَّا تَزَخْرَفَتْ لَهُ الْأَرْضُ.
Dan tidak ada seorang hamba yang berdiri untuk salat, kecuali bumi dihias
untuknya.
وَيُقَالُ:
مَا مِنْ مَنْزِلٍ يَنْزِلُ فِيهِ قَوْمٌ إِلَّا أَصْبَحَ ذٰلِكَ الْمَنْزِلُ
يُصَلِّي عَلَيْهِمْ أَوْ يَلْعَنُهُمْ.
Dan dikatakan: “Tidak ada satu tempat pun yang dijadikan tempat tinggal oleh
suatu kaum, kecuali tempat itu pada pagi harinya mendoakan mereka atau melaknat
mereka.”