Adab Nikah : Pendahuluan

كِتَابُ آدَابِ النِّكَاحِ، وَهُوَ الْكِتَابُ الثَّانِي مِنْ رُبْعِ الْعَادَاتِ مِنْ كِتَابِ إِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ.

Kitab Adab-Adab Nikah, yaitu kitab kedua dari rubu’ kebiasaan dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَا تُصَادِفُ سِهَامُ الْأَوْهَامِ فِي عَجَائِبِ صُنْعِهِ مَجْرًى، وَلَا تَرْجِعُ الْعُقُولُ عَنْ أَوَائِلِ بَدَائِعِهَا إِلَّا وَالِهَةً حَيْرَىٰ، وَلَا تَزَالُ ل��طَائِفُ نِعَمِهِ عَلَى الْعَالَمِينَ تَتْرَىٰ، فَهِيَ تَتَوَالَىٰ عَلَيْهِمْ اخْتِيَارًا وَقَهْرًا.

Segala puji bagi Allah, yang dalam keajaiban ciptaan-Nya, panah-panah dugaan tidak mampu menemukan sasaran, dan akal-akal tidak akan kembali dari awal-awal keajaiban-Nya kecuali dalam keadaan terpana dan bingung. Nikmat-nikmat lembut-Nya atas semesta senantiasa datang silih berganti. Semuanya mengalir kepada mereka, baik dengan pilihan maupun dengan paksaan.

وَمِنْ بَدَائِعِ أَلْطَافِهِ أَنْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا، فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا، وَسَلَّطَ عَلَى الْخَلْقِ شَهْوَةً اضْطَرَّهُمْ بِهَا إِلَى الْحَرَاثَةِ جَبْرًا، وَاسْتَبْقَىٰ بِهِمْ نَسْلَهُمْ إِقْهَارًا وَقَسْرًا.

Di antara kehalusan nikmat-Nya yang menakjubkan ialah bahwa Dia menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya memiliki hubungan nasab dan pernikahan. Dia juga menanamkan syahwat kepada makhluk, sehingga mereka terdorong kepada hubungan itu secara terpaksa. Dengan itu pula Dia menjaga keturunan mereka dengan cara memaksa dan menundukkan.

ثُمَّ عَظَّمَ أَمْرَ الْأَنْسَابِ، وَجَعَلَ لَهَا قَدْرًا، فَحَرَّمَ بِسَبَبِهَا السِّفَاحَ، وَبَالَغَ فِي تَقْبِيحِهِ رَدْعًا وَزَجْرًا، وَجَعَلَ اقْتِحَامَهُ جَرِيمَةً فَاحِشَةً، وَأَمَرَ إِمْرًا، وَنَدَبَ إِلَى النِّكَاحِ وَحَثَّ عَلَيْهِ اسْتِحْبَابًا وَأَمْرًا.

Kemudian Dia mengagungkan urusan nasab dan memberinya kedudukan. Karena itu, Dia mengharamkan perzinaan, memperburuknya dengan sangat, sebagai bentuk pencegahan dan larangan. Dia menjadikan nekat melakukannya sebagai dosa besar. Sebaliknya, Dia memerintahkan nikah dan mendorongnya dengan anjuran yang kuat.

فَسُبْحَانَ مَنْ كَتَبَ الْمَوْتَ عَلَى عِبَادِهِ فَأَذَلَّهُمْ بِهِ هَدْمًا وَكَسْرًا، ثُمَّ بَثَّ بُذُورَ النُّطَفِ فِي أَرَاضِي الْأَرْحَامِ، وَأَنْشَأَ مِنْهَا خَلْقًا، وَجَعَلَهُ لِكَسْرِ الْمَوْتِ جَبْرًا، تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ بِحَارَ الْمَقَادِيرِ فَيَّاضَةٌ عَلَى الْعَالَمِينَ نَفْعًا وَضَرًّا، وَخَيْرًا وَشَرًّا، وَعُسْرًا وَيُسْرًا، وَطَيًّا وَنَشْرًا.

Maha Suci Allah yang menetapkan kematian atas hamba-hamba-Nya, lalu Dia merendahkan mereka dengannya sebagai kehancuran dan pematahan. Kemudian Dia menebarkan benih-benih sperma di ladang-ladang rahim, lalu menciptakan darinya makhluk baru. Dia menjadikannya sebagai penghibur bagi kematian, sebagai penutup kehancuran itu. Semua ini memberi isyarat bahwa lautan takdir melimpah atas alam semesta dalam bentuk manfaat dan mudarat, baik dan buruk, susah dan mudah, tersembunyi dan tampak.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ الْمَبْعُوثِ بِالْإِنْذَارِ وَالْبُشْرَىٰ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً لَا يَسْتَطِيعُ لَهَا الْحِسَابُ عَدًّا وَلَا حَصْرًا، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Muhammad, yang diutus dengan peringatan dan kabar gembira, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, dengan shalawat yang tidak sanggup dihitung jumlahnya, serta salam yang banyak.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ النِّكَاحَ مُعِينٌ عَلَى الدِّينِ، وَمُهِينٌ لِلشَّيَاطِينِ، وَحِصْنٌ دُونَ عَدُوِّ اللَّهِ حَصِينٌ، وَسَبَبٌ لِلتَّكْثِيرِ الَّذِي بِهِ مُبَاهَاةُ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ لِسَائِرِ النَّبِيِّينَ.

Adapun sesudah itu, sesungguhnya nikah adalah penolong agama, penghina setan, benteng yang kokoh dari musuh Allah, dan sebab bertambahnya keturunan. Dengan itulah terdapat kebanggaan Nabi para rasul atas para nabi lainnya.

فَمَا أَحْرَاهُ بِأَنْ تُتَحَرَّىٰ أَسْبَابُهُ، وَتُحْفَظَ سُنَنُهُ وَآدَابُهُ، وَتُشْرَحَ مَقَاصِدُهُ وَآرَابُهُ، وَتُفَصَّلَ فُصُولُهُ وَأَبْوَابُهُ.

Maka sungguh layak untuk diteliti sebab-sebabnya, dijaga sunnah-sunnah dan adab-adabnya, dijelaskan tujuan-tujuan dan kebutuhannya, serta diuraikan fasal-fasal dan bab-babnya.

وَالْقَدْرُ الْمُهِمُّ مِنْ أَحْكَامِهِ يَنْكشِفُ فِي ثَلَاثَةِ أَبْوَابٍ.

Bagian terpenting dari hukum-hukumnya akan tampak dalam tiga bab.

الْبَابُ الْأَوَّلُ فِي التَّرْغِيبِ فِيهِ وَعَنْهُ.

Bab pertama: tentang anjuran terhadap nikah dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

الْبَابُ الثَّانِي فِي الْآدَابِ الْمَرْعِيَّةِ فِي الْعَقْدِ وَالْعَاقِدَيْنِ.

Bab kedua: tentang adab-adab yang diperhatikan dalam akad dan para pelakunya.

الْبَابُ الثَّالِثُ فِي آدَابِ الْمُعَاشَرَةِ بَعْدَ الْعَقْدِ إِلَى الْفِرَاقِ.

Bab ketiga: tentang adab pergaulan setelah akad sampai berpisah.