Adab Pergaulan Suami dan Istri (6-9)
السَّادِسُ: الِاعْتِدَالُ فِي النَّفَقَةِ. فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَتِّرَ عَلَيْهِنَّ فِي الْإِنْفَاقِ. وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْرِفَ. بَلْ يَقْتَصِدَ.
Yang keenam adalah bersikap seimbang dalam nafkah. Janganlah
ia bersikap kikir terhadap mereka dalam pengeluaran. Dan jangan pula
berlebihan. Sebaliknya, hendaklah ia bersikap pertengahan.
قَالَ
تَعَالَى: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا. وَقَالَ تَعَالَى: وَلَا
تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ، وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ.
Allah تعالى
berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” Dan Allah تعالى
berfirman: “Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan
jangan pula engkau mengulurkannya terlalu luas.”
وَقَدْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap
keluarganya.”
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ
أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ،
وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي
أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah,
satu dinar yang engkau belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang
engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau belanjakan
untuk keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau belanjakan
untuk keluargamu.”
وَقِيلَ:
كَانَ لِعَلِيٍّ رضي الله عنه أَرْبَعُ نِسْوَةٍ، فَكَانَ يَشْتَرِي لِكُلِّ
وَاحِدَةٍ فِي كُلِّ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ لَحْمًا بِدِرْهَمٍ.
Dikatakan: Ali رضي الله عنه memiliki empat istri. Ia biasa membelikan
daging untuk masing-masing istri setiap empat hari sekali, dengan harga satu
dirham.
وَقَالَ
الْحَسَنُ رضي الله عنه: كَانُوا فِي الرِّجَالِ مُخَاصِيبَ، وَالْإِنَاثِ
وَالثِّيَابِ مَجَادِيبَ.
Al-Hasan رضي
الله عنه berkata: “Dahulu mereka lapang dalam urusan laki-laki,
sedangkan terhadap perempuan dan pakaian mereka sangat hemat.”
وَقَالَ
ابْنُ سِيرِينَ: يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَعْمَلَ لِأَهْلِهِ فِي كُلِّ
جُمْعَةٍ فَالُوذَجَةً.
Ibn Sirin berkata: dianjurkan bagi seorang laki-laki untuk
menyediakan untuk keluarganya setiap hari Jumat makanan manis seperti fālūdzah.
وَإِنْ
لَمْ تَكُنْ مِنَ الْمُهِمَّاتِ، وَلَكِنْ تَرْكَهَا بِالْكُلِّيَّةِ تَقْتِيرٌ
فِي الْعَادَةِ.
Makanan seperti itu memang bukan kebutuhan pokok, tetapi
meninggalkannya sama sekali termasuk sikap kikir menurut kebiasaan.
وَيَنْبَغِي
أَنْ يَأْمُرَهَا بِالتَّصَدُّقِ بِبَقَايَا الطَّعَامِ وَمَا يَفْسُدُ لَوْ
تُرِكَ.
Hendaklah ia menyuruh istrinya bersedekah dengan sisa
makanan dan apa saja yang akan rusak bila dibiarkan.
فَهَذَا
أَقَلُّ دَرَجَاتِ الْخَيْرِ.
Itu adalah tingkat paling rendah dari kebaikan.
وَلِلْمَرْأَةِ
أَنْ تَفْعَلَ ذَلِكَ بِحُكْمِ الْحَالِ مِنْ غَيْرِ صَرِيحِ إِذْنٍ مِنَ
الزَّوْجِ.
Bagi perempuan, ia boleh melakukan itu menurut keadaan yang
wajar, tanpa izin tegas dari suami.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَأْثِرَ عَنْ أَهْلِهِ بِمَأْكُولٍ طَيِّبٍ فَلَا
يُطْعِمُهُمْ مِنْهُ.
Dan tidak sepatutnya ia menyisihkan makanan enak untuk
dirinya sendiri lalu tidak memberikannya kepada keluarganya.
فَإِنَّ
ذَلِكَ مِمَّا يُوغِرُ الصُّدُورَ وَيَبْعُدُ عَنِ الْمُعَاشَرَةِ بِالْمَعْرُوفِ.
Karena hal itu menimbulkan sakit hati dan menjauhkan dari
pergaulan yang baik.
فَإِنْ
كَانَ مُزْمِعًا عَلَى ذَلِكَ فَلْيَأْكُلْهُ بِخُفْيَةٍ، بِحَيْثُ لَا يَعْرِفُ
أَهْلُهُ.
Jika ia tetap ingin melakukannya, hendaklah ia memakannya
secara sembunyi-sembunyi, supaya keluarganya tidak mengetahuinya.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَصِفَ عِنْدَهُمْ طَعَامًا لَيْسَ يُرِيدُ إِطْعَامَهُمْ إِيَّاهُ.
Dan janganlah ia menggambarkan kepada mereka makanan yang
sebenarnya tidak ingin ia berikan kepada mereka.
وَإِذَا
أَكَلَ فَلْيُقْعِدِ الْعِيَالَ كُلَّهُمْ عَلَى مَائِدَتِهِ.
Dan bila ia makan, hendaklah ia dudukkan seluruh keluarganya
di atas mejanya.
فَقَدْ
قَالَ سُفْيَانُ: بَلَغَنَا أَنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
أَهْلِ بَيْتٍ يَأْكُلُونَ جَمَاعَةً.
Sufyan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa Allah dan
para malaikat-Nya bersalawat atas أهل بيت yang makan bersama-sama.”
وَأَهَمُّ
مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مُرَاعَاتُهُ فِي الْإِنْفَاقِ أَنْ يُطْعِمَهَا مِنَ
الْحَلَالِ.
Hal terpenting yang wajib ia perhatikan dalam nafkah ialah
memberinya makanan yang halal.
وَلَا
يَدْخُلَ مَدَاخِلَ السُّوءِ لِأَجْلِهَا.
Dan janganlah ia menempuh jalan-jalan buruk demi dia.
فَإِنَّ
ذَلِكَ جِنَايَةٌ عَلَيْهَا لَا مُرَاعَاةٌ لَهَا.
Karena itu merupakan kezaliman terhadapnya, bukan perhatian
yang baik kepadanya.
وَقَدْ
أَوْرَدْنَا الْأَخْبَارَ الْوَارِدَةَ فِي ذَلِكَ عِنْدَ ذِكْرِ آفَاتِ
النِّكَاحِ.
Kami telah menyebutkan riwayat-riwayat tentang itu ketika
membahas bahaya-bahaya pernikahan.
السَّابِعُ:
أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمُتَزَوِّجُ مِنْ عِلْمِ الْحَيْضِ وَأَحْكَامِهِ مَا
يَحْتَرِزُ بِهِ الِاحْتِرَازَ الْوَاجِبَ.
Yang ketujuh adalah suami hendaknya mempelajari ilmu haid
dan hukum-hukumnya, agar ia dapat menjaga diri sebagaimana semestinya.
وَيُعَلِّمَ
زَوْجَتَهُ أَحْكَامَ الصَّلَاةِ وَمَا يُقْضَى مِنْهَا فِي الْحَيْضِ وَمَا لَا
يُقْضَى.
Dan ia hendaknya mengajarkan istrinya hukum-hukum shalat,
mana yang diqadha’ saat haid dan mana yang tidak.
فَإِنَّهُ
أُمِرَ أَنْ يَقِيَهَا النَّارَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: قُوا أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ نَارًا.
Karena ia diperintahkan untuk melindunginya dari neraka,
berdasarkan firman Allah تعالى:
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
فَعَلَيْهِ
أَنْ يُلَقِّنَهَا اعْتِقَادَ أَهْلِ السُّنَّةِ.
Maka ia wajib menanamkan kepada istrinya akidah أهل السنة.
وَيُزِيلَ
عَنْ قَلْبِهَا كُلَّ بِدْعَةٍ إِنِ اسْتَمَعَتْ إِلَيْهَا.
Dan ia harus menghilangkan dari hatinya setiap bidah jika ia
mendengarkannya.
وَيُخَوِّفَهَا
فِي اللَّهِ إِنْ تَسَاهَلَتْ فِي أَمْرِ الدِّينِ.
Dan ia hendaknya menakut-nakutinya dengan Allah bila ia
meremehkan urusan agama.
وَيُعَلِّمَهَا
مِنْ أَحْكَامِ الْحَيْضِ وَالِاسْتِحَاضَةِ مَا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ.
Dan ia mengajarkan kepadanya hukum-hukum haid dan istihadhah
yang ia perlukan.
وَعِلْمُ
الِاسْتِحَاضَةِ يَطُولُ.
Adapun ilmu istihadhah, pembahasannya panjang.
فَأَمَّا
الَّذِي لَا بُدَّ مِنْ إِرْشَادِ النِّسَاءِ إِلَيْهِ فِي أَمْرِ الْحَيْضِ
فَبَيَانُ الصَّلَوَاتِ الَّتِي تَقْضِيهَا.
Tetapi yang pasti harus dijelaskan kepada perempuan dalam
urusan haid ialah shalat-shalat apa saja yang wajib ia qadha’.
فَإِنَّهَا
مَهْمَا انْقَطَعَ دَمُهَا قُبَيْلَ الْمَغْرِبِ بِمِقْدَارِ رَكْعَةٍ فَعَلَيْهَا
قَضَاءُ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ.
Apabila darahnya berhenti sebelum Magrib selama waktu
sekadar satu rakaat, maka ia wajib mengqadha’ Zuhur dan Asar.
وَإِذَا
انْقَطَعَ قَبْلَ الصُّبْحِ بِمِقْدَارِ رَكْعَةٍ فَعَلَيْهَا قَضَاءُ الْمَغْرِبِ
وَالْعِشَاءِ.
Dan jika darahnya berhenti sebelum Subuh selama waktu
sekadar satu rakaat, maka ia wajib mengqadha’ Magrib dan Isya.
وَهَذَا
أَقَلُّ مَا يُرَاعِيهِ النِّسَاءُ.
Ini adalah batas minimal yang perlu diperhatikan oleh
perempuan.
فَإِنْ
كَانَ الرَّجُلُ قَائِمًا بِتَعْلِيمِهَا فَلَيْسَ لَهَا الْخُرُوجُ لِسُؤَالِ
الْعُلَمَاءِ.
Jika suami sudah mengajarkannya, maka ia tidak perlu keluar
untuk bertanya kepada ulama.
وَإِنْ
قَصُرَ عِلْمُ الرَّجُلِ، وَلَكِنْ نَابَ عَنْهَا فِي السُّؤَالِ فَأَخْبَرَهَا
بِجَوَابِ الْمُفْتِي، فَلَيْسَ لَهَا خُرُوجٌ.
Dan jika pengetahuan suami kurang, tetapi ia bertanya
mewakilinya dan menyampaikan jawaban mufti kepadanya, maka perempuan itu tidak
perlu keluar.
فَإِنْ
لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ فَلَهَا الْخُرُوجُ لِلسُّؤَالِ، بَلْ عَلَيْهَا ذَلِكَ.
Jika itu tidak ada, maka ia boleh keluar untuk bertanya.
Bahkan itu menjadi kewajibannya.
وَيَعْصِي
الرَّجُلُ بِمَنْعِهَا.
Dan suami berdosa bila melarangnya.
وَمَهْمَا
تَعَلَّمَتْ مَا هُوَ مِنَ الْفَرَائِضِ عَلَيْهَا فَلَيْسَ لَهَا أَنْ تَخْرُجَ
إِلَى مَجْلِسِ ذِكْرٍ وَلَا إِلَى تَعَلُّمِ فَضْلٍ إِلَّا بِرِضَاهُ.
Apabila ia telah mempelajari hal-hal yang wajib atasnya,
maka ia tidak boleh keluar ke majelis zikir atau untuk belajar
keutamaan-keutamaan, kecuali dengan keridaan suaminya.
وَمَهْمَا
أَهْمَلَتِ الْمَرْأَةُ حُكْمًا مِنْ أَحْكَامِ الْحَيْضِ وَالِاسْتِحَاضَةِ
وَلَمْ يُعَلِّمْهَا الرَّجُلُ، حَرِجَ الرَّجُلُ مَعَهَا وَشَارَكَهَا فِي
الْإِثْمِ.
Jika perempuan mengabaikan suatu hukum dari hukum-hukum haid
dan istihadhah, sementara suami tidak mengajarkannya, maka suami ikut berdosa
bersamanya dan turut memikul dosanya.
الثَّامِنُ:
إِذَا كَانَ لَهُ نِسْوَةٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يَعْدِلَ بَيْنَهُنَّ، وَلَا يَمِيلَ
إِلَى بَعْضِهِنَّ.
Yang kedelapan: jika ia memiliki beberapa istri, maka
hendaklah ia adil di antara mereka dan tidak condong kepada salah satunya.
فَإِنْ
خَرَجَ إِلَى سَفَرٍ وَأَرَادَ اسْتِصْحَابَ وَاحِدَةٍ أَقْرَعَ بَيْنَهُنَّ.
Jika ia bepergian dan ingin membawa salah satu istri, maka
ia harus mengundi di antara mereka.
كَذَلِكَ
كَانَ يَفْعَلُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.
Demikianlah yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
فَإِنْ
ظَلَمَ امْرَأَةً بِلَيْلَتِهَا قَضَى لَهَا.
Jika ia menzalimi salah seorang istri pada gilirannya, maka
ia harus menggantinya.
فَإِنَّ
الْقَضَاءَ وَاجِبٌ عَلَيْهِ.
Karena penggantian itu wajib atasnya.
وَعِنْدَ
ذَلِكَ يَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ أَحْكَامِ الْقَسْمِ.
Pada titik itu, ia perlu mengetahui hukum-hukum pembagian
giliran.
وَذَلِكَ
يَطُولُ ذِكْرُهُ.
Dan penjelasan tentang hal itu panjang.
وَقَدْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ
إِلَى إِحْدَاهُمَا دُونَ الْأُخْرَى، وَفِي لَفْظٍ: وَلَمْ يَعْدِلْ بَيْنَهُمَا،
جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَحَدُ شِقَّيْهِ مَائِلٌ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa memiliki dua istri lalu condong kepada
salah satunya dan tidak kepada yang lain,” dalam lafaz lain: “dan tidak adil di
antara keduanya,” maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan salah satu
sisi tubuhnya miring.
وَإِنَّمَا
عَلَيْهِ الْعَدْلُ فِي الْعَطَاءِ وَالْمَبِيتِ.
Keadilan yang wajib atasnya hanyalah dalam pemberian dan
tempat bermalam.
وَأَمَّا
فِي الْحُبِّ وَالْوِقَاعِ فَذَلِكَ لَا يَدْخُلُ تَحْتَ الِاخْتِيَارِ.
Adapun dalam cinta dan hubungan intim, itu tidak berada di
bawah pilihan.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ
حَرَصْتُمْ.
Allah تعالى
berfirman: “Kalian tidak akan mampu berlaku adil di antara para istri, walaupun
kalian sangat ingin.”
أَيْ:
أَنْ تَعْدِلُوا فِي شَهْوَةِ الْقَلْبِ وَمَيْلِ النَّفْسِ.
Maksudnya, berlaku adil dalam keinginan hati dan
kecenderungan jiwa.
وَيَتْبَعُ
ذَلِكَ التَّفَاوُتُ فِي الْوِقَاعِ.
Dan dari situ mengikuti perbedaan dalam hubungan intim.
وَكَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَعْدِلُ بَيْنَهُنَّ فِي الْعَطَاءِ
وَالْبَيْتُوتَةِ فِي اللَّيَالِي.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersikap adil di antara mereka dalam pemberian dan dalam
bermalam pada malam-malam mereka.
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ هَذَا جُهْدِي فِيمَا أَمْلِكُ، وَلَا طَاقَةَ لِي فِيمَا تَمْلِكُ
وَلَا أَمْلِكُ.
Beliau berdoa: “Ya Allah, ini adalah kemampuanku pada apa
yang aku kuasai, sedangkan aku tidak mampu pada apa yang Engkau kuasai dan yang
tidak aku kuasai.”
يَعْنِي:
الْحُبَّ.
Maksudnya: cinta.
وَقَدْ
كَانَتْ عَائِشَةُ رضي الله عنها أَحَبَّ نِسَائِهِ إِلَيْهِ.
Aisyah رضي
الله عنها adalah istri beliau yang paling beliau cintai.
وَسَائِرُ
نِسَائِهِ يَعْرِفْنَ ذَلِكَ.
Dan istri-istri beliau yang lain mengetahui hal itu.
وَكَانَ
يُطَافُ بِهِ مَحْمُولًا فِي مَرَضِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَكُلِّ لَيْلَةٍ،
فَيَبِيتُ عِنْدَ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ.
Beliau pernah dipindahkan sambil dipikul ketika sakitnya,
setiap hari dan setiap malam. Lalu beliau bermalam di rumah masing-masing
istri.
وَيَقُولُ:
أَيْنَ أَنَا غَدًا؟
Dan beliau berkata: “Di mana aku besok?”
فَفَطِنَتْ
لِذَلِكَ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ، فَقَالَتْ: إِنَّمَا يَسْأَلُ عَنْ يَوْمِ
عَائِشَةَ.
Maka salah seorang istri beliau menyadari hal itu dan
berkata: “Sesungguhnya beliau sedang menanyakan giliran hari Aisyah.”
فَقُلْنَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ أَذِنَّا لَكَ أَنْ تَكُونَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah mengizinkan
engkau untuk berada di rumah Aisyah.”
فَإِنَّهُ
يَشُقُّ عَلَيْكَ أَنْ تُحْمَلَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ.
Karena berat bagimu bila engkau dipindahkan setiap malam.
فَقَالَ:
أَوَقَدْ رَضِيتُنَّ بِذَلِكَ؟
Maka beliau bertanya: “Apakah kalian semua telah ridha
dengan itu?”
فَقُلْنَ:
نَعَمْ.
Mereka menjawab: “Ya.”
قَالَ:
فَحَوِّلُونِي إِلَى بَيْتِ عَائِشَةَ.
Beliau bersabda: “Kalau begitu, pindahkanlah aku ke rumah
Aisyah.”
وَمَهْمَا
وَهَبَتْ وَاحِدَةٌ لَيْلَتَهَا لِصَاحِبَتِهَا وَرَضِيَ الزَّوْجُ بِذَلِكَ
ثَبَتَ الْحَقُّ لَهَا.
Jika salah satu istri menghibahkan malamnya kepada sesama
istrinya dan suami meridai hal itu, maka hak itu tetap baginya.
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقْسِمُ بَيْنَ نِسَائِهِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم membagi giliran di antara istri-istrinya.
فَقَصَدَ
أَنْ يُطَلِّقَ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ لَمَّا كَبُرَتْ.
Beliau pernah berniat menceraikan Saudah binti Zam‘ah ketika
ia telah tua.
فَوَهَبَتْ
لَيْلَتَهَا لِعَائِشَةَ.
Lalu Saudah menghibahkan malam gilirannya kepada Aisyah.
وَسَأَلَتْهُ
أَنْ يُقِرَّهَا عَلَى الزَّوْجِيَّةِ حَتَّى تُحْشَرَ فِي زُمْرَةِ نِسَائِهِ.
Ia juga meminta agar beliau tetap mempertahankannya sebagai
istri sampai ia dibangkitkan bersama rombongan para istri beliau.
فَتَرَكَهَا.
Maka beliau membiarkannya tetap sebagai istri.
وَكَانَ
لَا يَقْسِمُ لَهَا، وَيَقْسِمُ لِعَائِشَةَ لَيْلَتَيْنِ، وَلِسَائِرِ
أَزْوَاجِهِ لَيْلَةً لَيْلَةً.
Beliau tidak memberikan giliran khusus untuk Saudah, dan
memberi Aisyah dua malam, sedangkan istri-istri lainnya satu malam satu malam.
وَلَكِنَّهُ
صلى الله عليه وسلم بِعَدْلِهِ وَقُوَّتِهِ، إِذَا تَاقَتْ نَفْسُهُ إِلَى
وَاحِدَةٍ مِنَ النِّسَاءِ فِي غَيْرِ نَوْبَتِهَا فَجَامَعَهَا، طَافَ فِي
يَوْمِهِ أَوْ لَيْلَتِهِ عَلَى سَائِرِ نِسَائِهِ.
Akan tetapi, dengan keadilan dan kekuatan beliau صلى الله عليه
وسلم, jika beliau merindukan salah seorang istri di luar gilirannya
lalu menggaulinya, beliau tetap mendatangi istri-istri beliau yang lain pada
hari atau malam itu juga.
فَمِنْ
ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله
عليه وسلم طَافَ عَلَى نِسَائِهِ فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ.
Di antaranya adalah riwayat dari Aisyah رضي الله عنها bahwa Rasulullah صلى الله عليه
وسلم mendatangi istri-istrinya dalam satu malam.
وَعَنْ
أَنَسٍ أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم طَافَ عَلَى تِسْعِ نِسْوَةٍ فِي ضُحًى نَهَارٍ.
Dan dari Anas diriwayatkan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم
mendatangi sembilan istri pada waktu pagi hari.
التَّاسِعُ:
فِي النُّشُوزِ. وَمَهْمَا وَقَعَ بَيْنَهُمَا خِصَامٌ وَلَمْ يَلْتَئِمْ
أَمْرُهُمَا.
Yang kesembilan adalah tentang nusyuz. Jika terjadi
perselisihan di antara keduanya dan urusan mereka tidak juga menjadi baik.
فَإِنْ
كَانَ مِنْ جَانِبِهِمَا جَمِيعًا أَوْ مِنَ الرَّجُلِ، فَلَا بُدَّ مِنْ
حَكَمَيْنِ.
Jika hal itu berasal dari keduanya atau dari pihak
laki-laki, maka harus ada dua orang penengah.
أَحَدُهُمَا
مِنْ أَهْلِهِ، وَالْآخَرُ مِنْ أَهْلِهَا.
Salah satunya dari keluarga suami dan yang lain dari
keluarga istri.
لِيَنْظُرَا
بَيْنَهُمَا وَيُصْلِحَا أَمْرَهُمَا.
Agar keduanya meneliti perkara di antara mereka dan
memperbaiki urusan mereka.
إِنْ
يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا.
“Jika keduanya menghendaki perbaikan, Allah akan memberi
taufik kepada keduanya.”
وَقَدْ
بَعَثَ عُمَرُ رضي الله عنه حَكَمًا إِلَى زَوْجَيْنِ، فَعَادَ وَلَمْ يُصْلِحْ
أَمْرَهُمَا.
Umar رضي
الله عنه pernah mengutus seorang penengah kepada sepasang suami istri.
Ia kembali, tetapi tidak berhasil memperbaiki urusan mereka.
فَعَلَاهُ
بِالدِّرَّةِ، وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا
يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا.
Maka Umar memukulnya dengan cambuk kecil dan berkata:
“Sesungguhnya Allah تعالى
berfirman: ‘Jika keduanya menghendaki perbaikan, Allah akan memberi taufik
kepada keduanya.’”
فَعَادَ
الرَّجُلُ، وَأَحْسَنَ النِّيَّةَ، وَتَلَطَّفَ بِهِمَا، فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمَا.
Lalu orang itu kembali dengan niat yang lebih baik, bersikap
lembut kepada keduanya, dan akhirnya memperbaiki hubungan di antara mereka.
وَأَمَّا
إِذَا كَانَ النُّشُوزُ مِنَ الْمَرْأَةِ خَاصَّةً، فَالرِّجَالُ قَوَّامُونَ
عَلَى النِّسَاءِ.
Adapun jika nusyuz itu khusus dari pihak istri, maka
laki-laki adalah pemimpin atas perempuan.
فَلَهُ
أَنْ يُؤَدِّبَهَا وَيَحْمِلَهَا عَلَى الطَّاعَةِ قَهْرًا.
Maka ia boleh mendisiplinkannya dan memaksanya untuk taat.
وَكَذَلِكَ
إِذَا كَانَتْ تَارِكَةً لِلصَّلَاةِ فَلَهُ حَمْلُهَا عَلَى الصَّلَاةِ قَهْرًا.
Demikian pula bila ia meninggalkan shalat, maka ia boleh
memaksanya untuk shalat.
وَلَكِنْ
يَنْبَغِي أَنْ يَتَدَرَّجَ فِي تَأْدِيبِهَا.
Akan tetapi, hendaklah ia bertahap dalam mendisiplinkannya.
وَهُوَ
أَنْ يُقَدِّمَ أَوَّلًا الْوَعْظَ وَالتَّحْذِيرَ وَالتَّخْوِيفَ.
Caranya ialah dengan mendahulukan nasihat, peringatan, dan
ancaman terlebih dahulu.
فَإِنْ
لَمْ يَنْجَحْ، وَلَّاهَا ظَهْرَهُ فِي الْمَضْجَعِ، أَوِ انْفَرَدَ عَنْهَا
بِالْفِرَاشِ، وَهَجَرَهَا.
Jika itu tidak berhasil, ia membelakangi istrinya di tempat
tidur atau memisahkan tempat tidurnya, dan menjauhinya.
وَهُوَ
فِي الْبَيْتِ مَعَهَا مِنْ لَيْلَةٍ إِلَى ثَلَاثِ لَيَالٍ.
Dan ia tetap berada dalam rumah bersamanya selama satu malam
hingga tiga malam.
فَإِنْ
لَمْ يَنْجَحْ ذَلِكَ فِيهَا ضَرَبَهَا ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ.
Jika semua itu tidak berhasil, maka ia boleh memukulnya
dengan pukulan yang tidak melukai.
بِحَيْثُ
يُؤْلِمُهَا وَلَا يَكْسِرُ لَهَا عَظْمًا وَلَا يُدْمِي لَهَا جِسْمًا.
Yakni pukulan yang menyakitkan, tetapi tidak mematahkan
tulang dan tidak melukai tubuhnya hingga berdarah.
وَلَا
يُضْرَبُ وَجْهُهَا، فَذَلِكَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ.
Dan jangan memukul wajahnya, karena hal itu dilarang.
وَقَدْ
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَا حَقُّ الْمَرْأَةِ عَلَى
الرَّجُلِ؟
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
“Apa hak perempuan atas laki-laki?”
قَالَ:
يُطْعِمُهَا إِذَا طَعِمَ، وَيَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَى.
Beliau bersabda: “Ia memberinya makan ketika ia makan, dan
memberinya pakaian ketika ia berpakaian.”
وَلَا
يُقَبِّحُ الْوَجْهَ، وَلَا يَضْرِبُ إِلَّا ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ.
Ia tidak boleh mencela wajah, dan tidak boleh memukul
kecuali pukulan yang tidak melukai.
وَلَا
يَهْجُرُهَا إِلَّا فِي الْمَبِيتِ.
Dan ia tidak boleh memboikotnya kecuali dalam urusan tempat
tidur.
وَلَهُ
أَنْ يَغْضَبَ عَلَيْهَا وَيَهْجُرَهَا فِي أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ إِلَى
عَشْرٍ وَإِلَى عِشْرِينَ وَإِلَى شَهْرٍ.
Ia juga boleh marah kepadanya dan menjauhinya dalam suatu
urusan agama selama sepuluh hari, dua puluh hari, atau sebulan.
فَعَلَ
ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذْ أَرْسَلَ إِلَى زَيْنَبَ
بِهَدِيَّةٍ فَرَدَّتْهَا عَلَيْهِ.
Demikianlah yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم
ketika beliau mengirim hadiah kepada Zainab, lalu Zainab mengembalikannya
kepada beliau.
فَقَالَتْ
لَهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا: لَقَدْ أَقْمَأْتَكَ إِذْ رَدَّتْ عَلَيْكَ
هَدِيَّتَكَ.
Maka perempuan yang saat itu berada di rumahnya berkata
kepadanya: “Ia telah menghinakanmu ketika mengembalikan hadiahmu.”
أَيْ:
أَذْلَلْتَكَ وَاسْتَصْغَرْتَكَ.
Maksudnya: ia telah merendahkanmu dan menganggapmu kecil.
فَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: أَنْتُنَّ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ أَنْ تُقْمِئْنَنِي.
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kalian lebih ringan di sisi
Allah daripada dapat merendahkanku.”
ثُمَّ
غَضِبَ عَلَيْهِنَّ كُلَّهُنَّ شَهْرًا حَتَّى عَادَ إِلَيْهِنَّ.
Kemudian beliau marah kepada mereka semuanya selama sebulan,
sampai akhirnya beliau kembali kepada mereka.