Adab Pergaulan Suami Istri (4-5)
الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَتَبَسَّطَ فِي الدُّعَابَةِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ وَالْمُوَافَقَةِ بِاتِّبَاعِ هَوَاهَا إِلَى حَدٍّ يُفْسِدُ خُلُقَهَا، وَيُسْقِطُ بِالْكُلِّيَّةِ هَيْبَتَهُ عِنْدَهَا. بَلْ يُرَاعِي الِاعْتِدَالَ فِيهِ. فَلَا يَدَعُ الْهَيْبَةَ وَالِانْقِبَاضَ مَهْمَا رَأَى مُنْكَرًا، وَلَا يَفْتَحُ بَابَ الْمُسَاعَدَةِ عَلَى الْمُنْكَرَاتِ أَبَدًا. بَلْ مَهْمَا رَأَى مَا يُخَالِفُ الشَّرْعَ وَالْمُرُوءَةَ تَنَمَّرَ وَامْتَعَضَ.
Yang keempat: jangan terlalu longgar dalam bercanda,
berakhlak baik, dan menyesuaikan diri dengan mengikuti keinginannya sampai
merusak akhlaknya dan sama sekali menjatuhkan wibawanya di hadapannya.
Sebaliknya, ia harus menjaga sikap seimbang. Jangan meninggalkan kewibawaan dan
ketegasan ketika melihat kemungkaran. Jangan pula membuka jalan untuk membantu
kemungkaran sama sekali. Bila ia melihat sesuatu yang bertentangan dengan
syariat dan kehormatan, hendaklah ia bersikap tegas dan menunjukkan ketidaksenangan.
قَالَ
الْحَسَنُ: وَاللَّهِ مَا أَصْبَحَ رَجُلٌ يُطِيعُ امْرَأَتَهُ فِيمَا تَهْوَى
إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ فِي النَّارِ.
Al-Hasan berkata: “Demi Allah, tidaklah seorang laki-laki
menaati istrinya dalam perkara yang ia sukai, kecuali Allah akan
menjungkirbalikkannya ke dalam neraka.”
وَقَالَ
عُمَرُ رضي الله عنه: خَالِفُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ فِي خِلَافِهِنَّ الْبَرَكَةَ.
Umar رضي
الله عنه berkata: “Sikapilah perempuan dengan berbeda; karena dalam
menyelisihi mereka ada keberkahan.”
وَقِيلَ:
شَاوِرُوهُنَّ وَخَالِفُوهُنَّ.
Ada pula yang berkata: “Ajaklah mereka bermusyawarah, lalu
selisihilah mereka.”
وَقَدْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: تَعِسَ عَبْدُ الزَّوْجَةِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Celakalah hamba istri.”
وَإِنَّمَا
قَالَ ذَلِكَ لِأَنَّهُ إِذَا أَطَاعَهَا فِي هَوَاهَا فَهُوَ عَبْدُهَا.
Beliau mengatakan demikian karena apabila seorang laki-laki
menaati istrinya dalam mengikuti hawa nafsunya, maka ia menjadi hambanya.
وَقَدْ
تَعِسَ مَنْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ الْمَرْأَةَ فَمَلَّكَهَا نَفْسَهُ، فَقَدْ
عَكَسَ الْأَمْرَ وَقَلَبَ الْقَضِيَّةَ، وَأَطَاعَ الشَّيْطَانَ.
Sungguh celakalah orang yang oleh Allah diberi kuasa atas
perempuan, tetapi justru ia menaklukkan dirinya kepada perempuan itu. Ia telah
membalik keadaan, mengubah urusan, dan menaati setan.
لِأَنَّهُ
إِذَا قَالَ: وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ، فَحَقُّ
الرَّجُلِ أَنْ يَكُونَ مَتْبُوعًا لَا تَابِعًا.
Karena setan berkata: “Aku akan memerintahkan mereka, lalu
mereka benar-benar akan mengubah ciptaan Allah.” Padahal hak laki-laki adalah
menjadi yang diikuti, bukan yang mengikuti.
وَقَدْ
سَمَّى اللَّهُ الرِّجَالَ قَوَّامِينَ عَلَى النِّسَاءِ، وَسَمَّى الزَّوْجَ
سَيِّدًا.
Allah telah menyebut laki-laki sebagai pemimpin atas
perempuan, dan menyebut suami sebagai tuan.
فَقَالَ
تَعَالَى: وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ.
Allah تعالى
berfirman: “Dan keduanya mendapati tuannya di depan pintu.”
فَإِذَا
انْقَلَبَ السَّيِّدُ مُسَخَّرًا فَقَدْ بَدَّلَ نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا.
Jika sang tuan berubah menjadi yang diperintah, maka ia
telah menukar nikmat Allah dengan kekufuran.
وَنَفْسُ
الْمَرْأَةِ عَلَى مِثَالِ نَفْسِكَ.
Jiwa perempuan itu seperti jiwamu sendiri.
إِنْ
أَرْسَلْتَ عِنَانَهَا قَلِيلًا جَمَحَتْ بِكَ طَوِيلًا.
Jika engkau sedikit melonggarkan kendalinya, ia akan
membawamu lari jauh.
وَإِنْ
أَرْخَيْتَ عِذَارَهَا فَتْرًا جَذَبَتْكَ ذِرَاعًا.
Jika engkau terlalu mengendurkan peganganmu, ia akan
menarikmu sesuka hati.
وَإِنْ
كَبَحْتَهَا وَشَدَدْتَ يَدَكَ عَلَيْهَا فِي مَوْضِعِ الشِّدَّةِ مَلَكْتَهَا.
Tetapi jika engkau menahannya dan menguatkan tanganmu pada
saat yang tepat, engkau akan menguasainya.
قَالَ
الشَّافِعِيُّ رضي الله عنه: ثَلَاثٌ إِنْ أَكْرَمْتَهُنَّ أَهَانَتْكَ، وَإِنْ
أَهَنْتَهُنَّ أَكْرَمْنَكَ: الْمَرْأَةُ، وَالْخَادِمُ، وَالنَّبَطِيُّ.
Asy-Syafi‘i رضي الله عنه berkata: “Ada tiga hal; jika engkau
memuliakannya, ia akan menghinakanmu, dan jika engkau menghinakannya, ia akan
memuliakanmu: perempuan, pelayan, dan orang Nabati.”
أَرَادَ
بِهِ: إِنْ مَحَضْتَ الْإِكْرَامَ وَلَمْ تَمْزُجْ غِلْظَكَ بِلِينِكَ، وَلَا
فَظَاظَتَكَ بِرِفْقِكَ.
Maksudnya ialah: bila engkau memberi mereka penghormatan
murni dan tidak mencampur kekasaranmu dengan kelembutanmu, serta tidak
mencampur kekasaranmu dengan sikap lunakmu.
وَكَانَتْ
نِسَاءُ الْعَرَبِ يُعَلِّمْنَ بَنَاتِهِنَّ اخْتِبَارَ الْأَزْوَاجِ.
Perempuan-perempuan Arab dahulu mengajarkan putri-putri
mereka cara menguji para suami.
وَكَانَتِ
الْمَرْأَةُ تَقُولُ لِابْنَتِهَا: اخْتَبِرِي زَوْجَكِ قَبْلَ الْإِقْدَامِ
وَالْجُرْأَةِ عَلَيْهِ.
Seorang perempuan berkata kepada putrinya: “Ujilah suamimu
sebelum engkau berani menghadapinya.”
انْزِعِي
زَجَّ رُمْحِهِ، فَإِنْ سَكَتَ فَاقْطَعِي اللَّحْمَ عَلَى تُرْسِهِ، فَإِنْ
سَكَتَ فَكَسِّرِي الْعِظَامَ بِسَيْفِهِ، فَإِنْ سَكَتَ فَاجْعَلِي الْإِكَافَ
عَلَى ظَهْرِهِ وَامْتَطِيهِ، فَإِنَّمَا هُوَ حِمَارُكِ.
“Cabutlah ujung tombaknya. Jika ia diam, potonglah daging di
atas perisainya. Jika ia diam, hancurkan tulang dengan pedangnya. Jika ia diam,
letakkan pelana di punggungnya dan tunggangilah dia, karena sesungguhnya dia
hanyalah keledaimu.”
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَبِالْعَدْلِ قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ.
Secara umum, dengan keadilanlah langit dan bumi ditegakkan.
فَكُلُّ
مَا جَاوَزَ حَدَّهُ انْعَكَسَ عَلَى ضِدِّهِ.
Maka segala sesuatu yang melampaui batasnya akan berbalik
menjadi kebalikannya.
فَيَنْبَغِي
أَنْ تَسْلُكَ سَبِيلَ الِاقْتِصَادِ فِي الْمُخَالَفَةِ وَالْمُوَافَقَةِ.
Karena itu, hendaklah engkau menempuh jalan pertengahan
dalam menyelisihi atau menyesuaikan diri.
وَتَتَّبِعَ
الْحَقَّ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ لِتَسْلَمَ مِنْ شَرِّهِنَّ.
Dan ikutilah kebenaran dalam semua itu agar selamat dari
keburukan mereka.
فَإِنَّ
كَيْدَهُنَّ عَظِيمٌ، وَشَرَّهُنَّ فَاشٍ.
Sebab tipu daya mereka besar, dan keburukan mereka nyata.
وَالْغَالِبُ
عَلَيْهِنَّ سُوءُ الْخُلُقِ وَرَكَاكَةُ الْعَقْلِ.
Yang dominan pada mereka ialah buruk akhlak dan lemahnya
akal.
وَلَا
يَعْتَدِلُ ذَلِكَ مِنْهُنَّ إِلَّا بِنَوْعِ لُطْفٍ مَمْزُوجٍ بِسِيَاسَةٍ.
Hal itu hanya bisa diimbangi dengan kelembutan yang disertai
kebijaksanaan.
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: مَثَلُ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ فِي النِّسَاءِ كَمَثَلِ
الْغُرَابِ الْأَعْصَمِ بَيْنَ مِائَةِ غُرَابٍ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Perumpamaan perempuan salehah di antara para
perempuan adalah seperti burung gagak yang putih perutnya di antara seratus
gagak.”
وَالْأَعْصَمُ
يَعْنِي الْأَبْيَضَ الْبَطْنِ.
Al-a‘sham berarti yang putih bagian perutnya.
وَفِي
وَصِيَّةِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، اتَّقِ الْمَرْأَةَ السُّوءَ،
فَإِنَّهَا تُشِيبُكَ قَبْلَ الشَّيْبِ.
Dalam wasiat Luqman kepada putranya: “Wahai anakku, takutlah
kepada perempuan yang buruk, karena ia membuatmu beruban sebelum waktunya.”
وَاتَّقِ
شِرَارَ النِّسَاءِ، فَإِنَّهُنَّ لَا يَدْعُونَ إِلَى خَيْرٍ.
Waspadalah terhadap perempuan-perempuan jahat, karena mereka
tidak mengajak kepada kebaikan.
وَكُنْ
مِنْ خِيَارِهِنَّ عَلَى حَذَرٍ.
Dan berhati-hatilah terhadap perempuan yang terbaik
sekalipun.
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: اسْتَعِيذُوا مِنَ الْفَوَاقِرِ الثَّلَاثِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Mintalah perlindungan dari tiga perkara yang
mencelakakan.”
وَعَدَّ
مِنْهُنَّ الْمَرْأَةَ السُّوءَ، فَإِنَّهَا الْمُشَيِّبَةُ قَبْلَ الشَّيْبِ.
Di antaranya beliau sebut perempuan yang buruk, karena ia
membuat orang beruban sebelum uban datang.
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: إِنْ دَخَلَتْ عَلَيْهَا سَبَّتْكَ، وَإِنْ غِبْتَ عَنْهَا
خَانَتْكَ.
Dalam lafaz lain: “Jika engkau masuk kepadanya, ia akan
memaki-makimu; dan jika engkau pergi darinya, ia akan mengkhianatimu.”
وَقَدْ
قَالَ صلى الله عليه وسلم فِي خِيَارِ النِّسَاءِ: إِنَّكُنَّ صَوَاحِبَاتُ
يُوسُفَ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم juga bersabda tentang perempuan-perempuan yang baik:
“Sesungguhnya kalian itu seperti para perempuan dalam kisah Yusuf.”
وَقَالَ
اللَّهُ تَعَالَى حِينَ أَفْشَيْنَ سِرَّ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:
إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا.
Allah تعالى
berfirman ketika keduanya membocorkan rahasia Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
“Jika kalian berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kalian berdua
telah condong.”
أَيْ:
مَالَتْ، وَقَالَ ذَلِكَ فِي خَيْرِ أَزْوَاجِهِ.
Yakni telah menyimpang. Dan itu dikatakan tentang
istri-istri beliau yang terbaik.
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: لَا يُفْلِحُ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمْ امْرَأَةٌ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh
seorang perempuan.”
وَقَدْ
زَبَرَ عُمَرُ رضي الله عنه امْرَأَتَهُ لَمَّا رَاجَعَتْهُ.
Umar رضي
الله عنه pernah menegur istrinya ketika ia membantahnya.
وَقَالَ:
مَا أَنْتِ إِلَّا لُعْبَةٌ فِي جَانِبِ الْبَيْتِ، إِنْ كَانَتْ لَنَا إِلَيْكِ
حَاجَةٌ وَإِلَّا جَلَسْتِ كَمَا أَنْتِ.
Beliau berkata: “Engkau hanyalah permainan di sisi rumah;
jika kami butuh kepadamu, kami akan datang, jika tidak, tetaplah engkau di
tempatmu.”
فَإِنَّ
فِيهِنَّ شَرًّا وَفِيهِنَّ ضَعْفًا.
Sebab pada perempuan ada sisi keburukan dan ada sisi lemah.
فَالسِّيَاسَةُ
وَالْخُشُونَةُ عِلَاجُ الشَّرِّ، وَالْمُطَايَبَةُ وَالرَّحْمَةُ عِلَاجُ
الضَّعْفِ.
Kebijaksanaan yang tegas adalah obat bagi keburukan,
sedangkan kelembutan dan kasih sayang adalah obat bagi kelemahan.
فَالطَّبِيبُ
الْحَاذِقُ هُوَ الَّذِي يُقَدِّرُ الْعِلَاجَ بِقَدْرِ الدَّاءِ.
Dokter yang ahli ialah yang menentukan obat sesuai kadar
penyakit.
فَلْيَنْظُرِ
الرَّجُلُ أَوَّلًا إِلَى أَخْلَاقِهَا بِالتَّجْرِبَةِ.
Maka hendaklah seorang laki-laki terlebih dahulu melihat
akhlaknya dengan pengalaman.
ثُمَّ
لِيُعَامِلْهَا بِمَا يُصْلِحُهَا كَمَا يَقْتَضِيهِ حَالُهَا.
Lalu hendaklah ia memperlakukannya dengan cara yang
memperbaikinya sesuai keadaan dirinya.
الْخَامِسُ:
الِاعْتِدَالُ فِي الْغَيْرَةِ.
Yang kelima: bersikap seimbang dalam rasa cemburu.
وَهُوَ
أَنْ لَا يَتَغَافَلَ عَنْ مَبَادِئِ الْأُمُورِ الَّتِي تُخْشَى غَوَائِلُهَا.
Yaitu tidak lalai terhadap tanda-tanda awal perkara yang
dikhawatirkan bahayanya.
وَلَا
يُبَالِغَ فِي إِسَاءَةِ الظَّنِّ وَالتَّعَنُّتِ وَتَجَسُّسِ الْبَوَاطِنِ.
Dan tidak berlebihan dalam prasangka buruk, sikap
mempersulit, serta mengintai batin orang.
فَقَدْ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ تُتَّبَعَ عَوْرَاتُ النِّسَاءِ
وَأَنْ تُبْتَغَتَ النِّسَاءُ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم telah melarang mencari-cari aib perempuan dan mendatangi
perempuan secara tiba-tiba.
لَمَّا
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ سَفَرِهِ قَالَ قَبْلَ دُخُولِ
الْمَدِينَةِ: لَا تَطْرُقُوا النِّسَاءَ لَيْلًا.
Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم pulang dari perjalanan, sebelum memasuki
Madinah, beliau bersabda: “Jangan datangi para perempuan pada malam hari.”
فَخَالَفَهُ
رَجُلَانِ، فَسَبَقَا، فَرَأَى كُلُّ وَاحِدٍ فِي مَنْزِلِهِ مَا يَكْرَهُ.
Namun dua orang menyelisihinya dan mendahului, lalu
masing-masing melihat di rumahnya sesuatu yang tidak ia sukai.
وَفِي
الْخَبَرِ الْمَشْهُورِ: الْمَرْأَةُ كَالضِّلْعِ، إِنْ قَوَّمْتَهَا كَسَرْتَهَا،
فَدَعْهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا عَلَى عِوَجٍ.
Dalam riwayat yang masyhur disebutkan: perempuan itu seperti
tulang rusuk; bila engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Maka
biarkanlah ia tetap menikmati hidupnya dengan sedikit kelengkungan.
وَهَذَا
فِي تَهْذِيبِ أَخْلَاقِهَا.
Ini berlaku dalam mendidik akhlaknya.
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: إِنَّ مِنَ الْغَيْرَةِ غَيْرَةً يُبْغِضُهَا اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ، وَهِيَ غَيْرَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ مِنْ غَيْرِ رِيبَةٍ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Di antara rasa cemburu ada yang dibenci Allah عز وجل,
yaitu kecemburuan seorang laki-laki terhadap keluarganya tanpa ada tuduhan.”
لِأَنَّ
ذَلِكَ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ الَّذِي نُهِينَا عَنْهُ، فَإِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ.
Karena itu termasuk prasangka buruk yang kita dilarang
darinya; sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa.
وَقَالَ
عَلِيٌّ رضي الله عنه: لَا تُكْثِرِ الْغَيْرَةَ عَلَى أَهْلِكَ فَتُرْمَى
بِالسُّوءِ مِنْ أَجْلِكَ.
Ali رضي
الله عنه berkata: “Jangan terlalu banyak cemburu kepada keluargamu,
nanti engkau justru dituduh buruk karena dirimu.”
وَأَمَّا
الْغَيْرَةُ فِي مَحَلِّهَا فَلَا بُدَّ مِنْهَا، وَهِيَ مَحْمُودَةٌ.
Adapun cemburu pada tempatnya, itu pasti diperlukan dan
terpuji.
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغَارُ،
وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Allah تعالى memiliki rasa cemburu, dan orang beriman
pun memiliki rasa cemburu.”
وَغَيْرَةُ
اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الرَّجُلُ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
عَلَيْهِ.
Kecemburuan Allah تعالى ialah ketika seorang mukmin mendatangi apa
yang diharamkan Allah atasnya.
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ أَنَا وَاللَّهِ
أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم juga bersabda: “Apakah kalian heran atas kecemburuan Sa‘d? Demi
Allah, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.”
وَلِأَجْلِ
غَيْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
Karena kecemburuan Allah تعالى, Dia mengharamkan perbuatan keji, baik
yang tampak maupun yang tersembunyi.
وَلَا
أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللَّهِ.
Tidak ada yang lebih menyukai adanya alasan daripada Allah.
وَلِذَلِكَ
بَعَثَ الْمُنْذِرِينَ وَالْمُبَشِّرِينَ.
Karena itu Dia mengutus para pemberi peringatan dan pembawa
kabar gembira.
وَلَا
أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللَّهِ.
Dan tidak ada yang lebih menyukai pujian daripada Allah.
وَلِأَجْلِ
ذَلِكَ وَعَدَ الْجَنَّةَ.
Dan karena itulah Dia menjanjikan surga.
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: رَأَيْتُ لَيْلَةً أُسْرِيَ بِي فِي
الْجَنَّةِ قَصْرًا، وَبِفِنَائِهِ جَارِيَةً.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Pada suatu malam ketika aku diisrakan, aku melihat
di surga sebuah istana dan di halamannya seorang gadis.”
فَقُلْتُ:
لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ فَقِيلَ: لِعُمَرَ.
Aku bertanya: “Milik siapakah istana ini?” Dijawab: “Milik
Umar.”
فَأَرَدْتُ
أَنْ أَنْظُرَ إِلَيْهَا، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ يَا عُمَرُ.
Aku ingin melihat kepadanya, tetapi aku teringat
kecemburuanmu, wahai Umar.
فَبَكَى
عُمَرُ وَقَالَ: أَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
Maka Umar pun menangis dan berkata: “Apakah aku harus
cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?”
وَكَانَ
الْحَسَنُ يَقُولُ: أَتَدَعُونَ نِسَاءَكُمْ لِيُزَاحِمْنَ الْعُلُوجَ فِي
الْأَسْوَاقِ؟
Al-Hasan berkata: “Apakah kalian membiarkan perempuan kalian
berdesak-desakan dengan orang-orang kasar di pasar?”
قَبَّحَ
اللَّهُ مَنْ لَا يَغَارُ.
Buruklah orang yang tidak punya rasa cemburu.
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: إِنَّ مِنَ الْغَيْرَةِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ، وَمِنْهَا مَا
يُبْغِضُهُ اللَّهُ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya ada rasa cemburu yang dicintai Allah
dan ada yang dibenci Allah.”
وَمِنَ
الْخَيْلَاءِ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ، وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُهُ اللَّهُ.
Demikian pula ada kesombongan yang dicintai Allah dan ada
yang dibenci-Nya.
فَأَمَّا
الْغَيْرَةُ الَّتِي يُحِبُّهَا اللَّهُ فَالْغَيْرَةُ فِي الرِّيبَةِ.
Adapun kecemburuan yang dicintai Allah ialah kecemburuan
karena ada kecurigaan.
وَالْغَيْرَةُ
الَّتِي يُبْغِضُهَا اللَّهُ فَالْغَيْرَةُ فِي غَيْرِ رِيبَةٍ.
Sedangkan yang dibenci Allah ialah kecemburuan tanpa
kecurigaan.
وَالِاخْتِيَالُ
الَّذِي يُحِبُّهُ اللَّهُ اخْتِيَالُ الرَّجُلِ بِنَفْسِهِ عِنْدَ الْقِتَالِ
وَعِنْدَ الصَّدْمَةِ.
Adapun sikap bangga diri yang dicintai Allah ialah
kebanggaan seorang laki-laki terhadap dirinya saat berperang dan saat
menghadapi benturan.
وَالِاخْتِيَالُ
الَّذِي يُبْغِضُهُ اللَّهُ الْاخْتِيَالُ فِي الْبَاطِلِ.
Sedangkan kesombongan yang dibenci Allah ialah kesombongan
dalam kebatilan.
وَقَالَ
صلى الله عليه وسلم: إِنِّي لَغَيُورٌ، وَمَا مِنِ امْرِئٍ لَا يَغَارُ إِلَّا
مَنْكُوسُ الْقَلْبِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya aku benar-benar memiliki rasa cemburu,
dan tidaklah seseorang tidak punya rasa cemburu kecuali hatinya terbalik.”
وَالطَّرِيقُ
الْمُغْنِي عَنِ الْغَيْرَةِ أَنْ لَا يَدْخُلَ عَلَيْهَا الرِّجَالُ، وَهِيَ لَا
تَخْرُجُ إِلَى الْأَسْوَاقِ.
Cara yang cukup untuk menghindarkan kecemburuan ialah tidak
membiarkan laki-laki masuk menemuinya, dan ia tidak keluar ke pasar.
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِابْنَتِهِ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَامُ:
أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلْمَرْأَةِ؟
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bertanya kepada putrinya, Fathimah عليها السلام: “Perkara apakah yang
paling baik bagi perempuan?”
قَالَتْ:
أَنْ لَا تَرَى رَجُلًا وَلَا يَرَاهَا رَجُلٌ.
Ia menjawab: “Hendaklah ia tidak melihat laki-laki dan tidak
dilihat laki-laki.”
فَضَمَّهَا
إِلَيْهِ وَقَالَ: ذُرِّيَّةٌ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ.
Maka beliau memeluknya dan bersabda: “Mereka adalah
keturunan yang satu dari yang lain.”
فَاسْتَحْسَنَ
قَوْلَهَا.
Beliau pun menganggap baik ucapannya.
وَكَانَ
أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسُدُّونَ الْكُوَى وَالثُّقُبَ
فِي الْحِيَطَانِ لِئَلَّا تَطَّلِعَ النِّسْوَانُ إِلَى الرِّجَالِ.
Para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menutup lubang-lubang
dan celah-celah di dinding agar para perempuan tidak mengintip para lelaki.
وَرَأَى
مُعَاذٌ امْرَأَتَهُ تَطَّلِعُ فِي الْكُوَّةِ فَضَرَبَهَا.
Mu‘adz pernah melihat istrinya mengintip dari celah, lalu ia
memukulnya.
وَرَأَى
امْرَأَتَهُ قَدْ دَفَعَتْ إِلَى غُلَامِهِ تُفَّاحَةً قَدْ أَكَلَتْ مِنْهَا
فَضَرَبَهَا.
Ia juga melihat istrinya memberikan sebuah apel yang telah
ia gigit kepada pelayannya, lalu ia memukulnya.
وَقَالَ
عُمَرُ رضي الله عنه: أَعْرُوا النِّسَاءَ يَلْزَمْنَ الْحِجَالَ.
Umar رضي
الله عنه berkata: “Biarkan para perempuan tetap berada di dalam
tirai-tirai mereka.”
وَإِنَّمَا
قَالَ ذَلِكَ لِأَنَّهُنَّ لَا يَرْغَبْنَ فِي الْخُرُوجِ فِي الْهَيْئَةِ
الرَّثَّةِ.
Beliau berkata demikian karena mereka tidak suka keluar
dengan penampilan yang lusuh.
وَقَدْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ أَذِنَ لِلنِّسَاءِ فِي حُضُورِ
الْمَسْجِدِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم memang pernah memberi izin kepada perempuan untuk hadir di
masjid.
وَالصَّوَابُ
الْآنَ الْمَنْعُ إِلَّا الْعَجَائِزَ.
Namun yang benar pada masa sekarang adalah melarang, kecuali
para perempuan tua.
بَلِ
اسْتُصْوِبَ ذَلِكَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ.
Bahkan hal itu pun dianggap tepat pada masa para sahabat.
حَتَّى
قَالَتْ عَائِشَةُ رضي الله عنها: لَوْ عَلِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَا
أَحْدَثَتِ النِّسَاءُ بَعْدَهُ لَمَنَعَهُنَّ مِنَ الْخُرُوجِ.
Sampai-sampai Aisyah رضي الله عنها berkata: “Seandainya
Nabi صلى الله عليه
وسلم mengetahui apa yang dilakukan perempuan-perempuan sesudah
beliau, niscaya beliau akan melarang mereka keluar.”
وَلَمَّا
قَالَ ابْنُ عُمَرَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لَا تَمْنَعُوا
إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ.
Ketika Ibn Umar menyampaikan sabda Rasulullah صلى الله عليه
وسلم: “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah dari
masjid-masjid Allah...”
فَقَالَ
بَعْضُ وَلَدِهِ: بَلَى وَاللَّهِ لَنَمْنَعَهُنَّ، فَضَرَبَهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ.
Lalu salah seorang anaknya berkata: “Demi Allah, kami pasti
akan melarang mereka.” Maka ia memukulnya dan marah kepadanya.
وَقَالَ:
تَسْمَعُنِي أَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لَا تَمْنَعُوا،
فَتَقُولُ: بَلَى؟
Beliau berkata: “Kamu mendengarku berkata bahwa Rasulullah صلى الله عليه
وسلم bersabda: jangan larang, lalu kamu berkata: ya?”
وَإِنَّمَا
اسْتَجْرَأَ عَلَى الْمُخَالَفَةِ لِعِلْمِهِ بِتَغَيُّرِ الزَّمَانِ.
Ia berani menyelisihi karena mengetahui perubahan zaman.
وَإِنَّمَا
غَضِبَ عَلَيْهِ لِإِطْلَاقِهِ اللَّفْظَ بِالْمُخَالَفَةِ ظَاهِرًا مِنْ غَيْرِ
إِظْهَارِ الْعُذْرِ.
Namun Umar marah karena ia mengucapkan penolakan secara
terang-terangan tanpa menyebutkan uzur.
وَكَذَلِكَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَدْ أَذِنَ لَهُنَّ فِي الْأَعْيَادِ
خَاصَّةً أَنْ يَخْرُجْنَ.
Demikian pula Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengizinkan
mereka keluar khusus pada hari raya.
وَلَكِنْ
لَا يَخْرُجْنَ إِلَّا بِرِضَا أَزْوَاجِهِنَّ.
Tetapi mereka tidak boleh keluar kecuali dengan izin para
suami mereka.
وَالْخُرُوجُ
الْآنَ مُبَاحٌ لِلْمَرْأَةِ الْعَفِيفَةِ بِرِضَا زَوْجِهَا.
Keluar rumah sekarang dibolehkan bagi perempuan yang menjaga
kehormatan, dengan izin suaminya.
وَلَكِنَّ
الْقُعُودَ أَسْلَمُ.
Namun tetap tinggal di rumah lebih aman.
وَيَنْبَغِي
أَنْ لَا تَخْرُجَ إِلَّا لِمُهِمٍّ.
Dan sepatutnya ia tidak keluar kecuali untuk keperluan
penting.
فَإِنَّ
الْخُرُوجَ لِلنِّظَارَاتِ وَالْأُمُورِ الَّتِي لَيْسَتْ مُهِمَّةً تَقْدَحُ فِي
الْمُرُوءَةِ، وَرُبَّمَا تُفْضِي إِلَى الْفَسَادِ.
Sebab keluar untuk sekadar melihat-lihat dan urusan yang
tidak penting dapat merusak kehormatan, bahkan bisa membawa kepada kerusakan.
فَإِذَا
خَرَجَتْ فَيَنْبَغِي أَنْ تَغُضَّ بَصَرَهَا عَنِ الرِّجَالِ.
Jika ia keluar, hendaklah ia menundukkan pandangannya dari
para lelaki.
وَلَسْنَا
نَقُولُ إِنَّ وَجْهَ الرَّجُلِ فِي حَقِّهَا عَوْرَةٌ كَوَجْهِ الْمَرْأَةِ فِي
حَقِّهِ.
Kami tidak mengatakan bahwa wajah lelaki dalam haknya adalah
aurat seperti wajah perempuan dalam haknya.
بَلْ
هُوَ كَوَجْهِ الصَّبِيِّ الْأَمْرَدِ فِي حَقِّ الرَّجُلِ.
Melainkan seperti wajah seorang pemuda yang belum tumbuh
janggut dalam hak seorang laki-laki.
فَيَحْرُمُ
النَّظَرُ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ فَقَطْ.
Maka memandang hanya haram bila dikhawatirkan menimbulkan
fitnah.
فَإِنْ
لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فَلَا.
Jika tidak ada fitnah, maka tidak haram.
إِذْ
لَمْ يَزَلِ الرِّجَالُ عَلَى مَمَرِّ الزَّمَانِ مَكْشُوفِي الْوُجُوهِ،
وَالنِّسَاءُ يَخْرُجْنَ مُنْتَقَبَاتٍ.
Sebab sepanjang zaman para lelaki selalu membuka wajah,
sedangkan para perempuan keluar dengan menutup wajah.
وَلَوْ
كَانَتْ وُجُوهُ الرِّجَالِ عَوْرَةً فِي حَقِّ النِّسَاءِ لَأُمِرْنَ
بِالتَّنَقُّبِ أَوْ مُنِعْنَ مِنَ الْخُرُوجِ إِلَّا لِضَرُورَةٍ.
Seandainya wajah lelaki menjadi aurat bagi perempuan,
niscaya mereka diperintahkan untuk bercadar atau dilarang keluar kecuali karena
darurat.