Akad Jual Beli
الْبَابُ الثَّانِي فِي عِلْمِ الْكَسْبِ بِطَرِيقِ الْبَيْعِ وَالرِّبَا وَالسَّلَمِ وَالْإِجَارَةِ وَالْقِرَاضِ وَالشِّرْكَةِ، وَبَيَانِ شُرُوطِ الشَّرْعِ فِي صِحَّةِ هَذِهِ التَّصَرُّفَاتِ الَّتِي هِيَ مَدَارُ الْمَكَاسِبِ فِي الشَّرْعِ.
Bab kedua tentang ilmu mencari nafkah melalui jalan jual
beli, riba, salam, ijarah, qiradh, dan syirkah, serta penjelasan syarat-syarat
syariat dalam sahnya transaksi-transaksi ini, yang menjadi poros penghasilan
dalam syariat.
اعْلَمْ
أَنَّ تَحْصِيلَ عِلْمِ هَذَا الْبَابِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ مُكْتَسِبٍ.
Ketahuilah bahwa mempelajari ilmu dalam bab ini wajib atas
setiap Muslim yang mencari penghasilan.
لِأَنَّ
طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
Karena menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim.
وَإِنَّمَا
هُوَ طَلَبُ الْعِلْمِ الْمُحْتَاجِ إِلَيْهِ.
Yang dimaksud hanyalah ilmu yang memang ia butuhkan.
وَالْمُكْتَسِبُ
يَحْتَاجُ إِلَى عِلْمِ الْكَسْبِ.
Dan orang yang mencari penghasilan membutuhkan ilmu tentang
cara mencari penghasilan.
وَمَهْمَا
حَصَّلَ عِلْمَ هَذَا الْبَابِ وَقَفَ عَلَى مُفْسِدَاتِ الْمُعَامَلَةِ
فَيَتَّقِيهَا.
Bila ia menguasai ilmu bab ini, ia akan mengetahui hal-hal
yang merusak transaksi, lalu menjauhinya.
وَمَا
شَذَّ عَنْهُ مِنَ الْفُرُوعِ الْمُشْكِلَةِ فَيَقَعُ عَلَى سَبَبِ إِشْكَالِهَا
فَيَتَوَقَّفُ فِيهَا إِلَى أَنْ يَسْأَلَ.
Dan cabang-cabang yang rumit yang keluar dari kaidah itu
akan ia kenali sebab kerumitannya, lalu ia berhenti di situ sampai bertanya.
فَإِنَّهُ
إِذَا لَمْ يَعْلَمْ أَسْبَابَ الْفَسَادِ بِعِلْمٍ جَمْلِيٍّ فَلَا يَدْرِي مَتَى
يَجِبُ عَلَيْهِ التَّوَقُّفُ وَالسُّؤَالُ.
Sebab jika ia tidak mengetahui sebab-sebab kerusakan secara
umum, maka ia tidak tahu kapan harus berhenti dan bertanya.
وَلَوْ
قَالَ: لَا أُقَدِّمُ الْعِلْمَ، وَلَكِنِّي أَصْبِرُ إِلَى أَنْ تَقَعَ لِيَ
الْوَاقِعَةُ، فَعِنْدَهَا أَتَعَلَّمُ وَأَسْتَفْتِي.
Jika ia berkata, “Aku tidak akan mendahulukan ilmu, tetapi
aku akan menunggu sampai suatu kasus terjadi, lalu saat itu aku belajar dan
meminta fatwa,”
فَيُقَالُ
لَهُ: وَبِمَ تَعْلَمُ وُقُوعَ الْوَاقِعَةِ مَهْمَا لَمْ تَعْلَمْ جُمْلَةَ
مُفْسِدَاتِ الْعُقُودِ؟
maka dikatakan kepadanya: “Dengan apa engkau akan mengetahui
datangnya kasus itu, jika engkau tidak mengetahui secara garis besar hal-hal
yang merusak akad?”
فَإِنَّهُ
يَسْتَمِرُّ فِي التَّصَرُّفَاتِ وَيَظُنُّهَا صَحِيحَةً مُبَاحَةً.
Karena ia akan terus melakukan transaksi dan mengira
semuanya sah dan boleh.
فَلَا
بُدَّ لَهُ مِنْ هَذَا الْقَدْرِ مِنْ عِلْمِ التِّجَارَةِ.
Maka ia harus memiliki kadar ilmu perdagangan seperti ini.
لِيَتَمَيَّزَ
لَهُ الْمُبَاحُ عَنِ الْمَحْظُورِ.
Agar yang boleh dan yang terlarang dapat ia bedakan.
وَمَوْضِعُ
الْإِشْكَالِ عَنْ مَوْضِعِ الْوُضُوحِ.
Dan agar ia dapat membedakan tempat yang samar dari tempat
yang jelas.
وَلِذَلِكَ
رُوِيَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَطُوفُ السُّوقَ
وَيَضْرِبُ بَعْضَ التُّجَّارِ بِالدُّرَّةِ.
Karena itu diriwayatkan dari Umar رضي الله عنه bahwa beliau biasa
berkeliling pasar dan memukul sebagian pedagang dengan cambuk kecil.
وَيَقُولُ:
لَا يَبِيعُ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ يَفْقَهُ.
Dan beliau berkata: “Tidak boleh berdagang di pasar kami
kecuali orang yang paham.”
وَإِلَّا
أَكَلَ الرِّبَا شَاءَ أَمْ أَبَى.
Jika tidak, ia akan memakan riba, suka maupun tidak suka.
وَعِلْمُ
الْعُقُودِ كَثِيرٌ.
Ilmu tentang akad-akad sangat banyak.
وَلَكِنَّ
هَذِهِ الْعُقُودَ السِّتَّةَ لَا تَنْفَكُّ الْمَكَاسِبُ عَنْهَا.
Namun enam akad ini tidak terlepas dari penghasilan.
وَهِيَ
الْبَيْعُ وَالرِّبَا وَالسَّلَمُ وَالْإِجَارَةُ وَالشِّرْكَةُ وَالْقِرَاضُ.
Yaitu jual beli, riba, salam, ijarah, syirkah, dan qiradh.
فَلْنَشْرَحْ
شُرُوطَهَا.
Maka marilah kita jelaskan syarat-syaratnya.
الْعَقْدُ
الْأَوَّلُ: الْبَيْعُ.
Akad pertama: jual beli.
وَقَدْ
أَحَلَّهُ اللَّهُ تَعَالَى.
Allah Ta‘ala telah menghalalkannya.
وَلَهُ
ثَلَاثَةُ أَرْكَانٍ: الْعَاقِدُ وَالْمَعْقُودُ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ.
Ia memiliki tiga rukun: pihak yang berakad, objek akad, dan
lafaz.
الْرُّكْنُ
الْأَوَّلُ: الْعَاقِدُ.
Rukun pertama: pihak yang berakad.
يَنْبَغِي
لِلتَّاجِرِ أَنْ لَا يُعَامِلَ بِالْبَيْعِ أَرْبَعَةً.
Seorang pedagang sepatutnya tidak berjual beli dengan empat
golongan.
الصَّبِيَّ
وَالْمَجْنُونَ وَالْعَبْدَ وَالْأَعْمَى.
Yaitu anak kecil, orang gila, budak, dan orang buta.
لِأَنَّ
الصَّبِيَّ غَيْرُ مُكَلَّفٍ.
Karena anak kecil belum terkena beban syariat.
وَكَذَلِكَ
الْمَجْنُونُ.
Demikian pula orang gila.
وَبَيْعُهُمَا
بَاطِلٌ.
Jual beli mereka berdua tidak sah.
فَلَا
يَصِحُّ بَيْعُ الصَّبِيِّ وَإِنْ أَذِنَ لَهُ فِيهِ الْوَلِيُّ عِنْدَ
الشَّافِعِيِّ.
Maka jual beli anak kecil tidak sah, walaupun walinya
mengizinkannya menurut mazhab Syafi‘i.
وَمَا
أَخَذَهُ مِنْهُمَا مَضْمُونٌ عَلَيْهِ لَهُمَا.
Apa yang ia ambil dari keduanya menjadi tanggungannya untuk
mereka.
وَمَا
سَلَّمَهُ فِي الْمُعَامَلَةِ إِلَيْهِمَا فَضَاعَ فِي أَيْدِيهِمَا فَهُوَ
الْمُضَيَّعُ لَهُ.
Dan apa yang ia serahkan kepada keduanya dalam transaksi,
lalu hilang di tangan mereka, maka hilangnya menjadi tanggungannya.
وَأَمَّا
الْعَبْدُ الْعَاقِلُ فَلَا يَصِحُّ بَيْعُهُ وَشِرَاؤُهُ إِلَّا بِإِذْنِ
سَيِّدِهِ.
Adapun budak yang berakal, maka jual beli dengannya tidak
sah kecuali dengan izin tuannya.
فَعَلَى
الْبَقَّالِ وَالْخَبَّازِ وَالْقَصَّابِ وَغَيْرِهِمْ أَنْ لَا يُعَامِلُوا
الْعَبِيدَ مَا لَمْ تَأْذَنْ لَهُمُ السَّادَةُ.
Karena itu, penjual sayur, tukang roti, tukang jagal, dan
selain mereka tidak boleh bertransaksi dengan para budak selama para tuannya
belum mengizinkan.
وَذَلِكَ
بِأَنْ يَسْمَعَهُ صَرِيحًا، أَوْ يَنْتَشِرَ فِي الْبَلَدِ أَنَّهُ مَأْذُونٌ
لَهُ فِي الشِّرَاءِ لِسَيِّدِهِ وَفِي الْبَيْعِ لَهُ.
Izin itu bisa diketahui dengan mendengarnya secara tegas,
atau tersebar di negeri itu bahwa ia diizinkan membeli untuk tuannya dan
menjual untuk tuannya.
فَيُعَوَّلُ
عَلَى الِاسْتِفَاضَةِ أَوْ عَلَى قَوْلِ عَدْلٍ يُخْبِرُهُ بِذَلِكَ.
Maka dapat diandalkan kabar yang tersebar luas, atau
keterangan orang adil yang memberitahukannya.
فَإِنْ
عَامَلَهُ بِغَيْرِ إِذْنِ السَّيِّدِ فَعَقْدُهُ بَاطِلٌ.
Jika ia bertransaksi dengannya tanpa izin tuannya, maka
akadnya batal.
وَمَا
أَخَذَهُ مِنْهُ مَضْمُونٌ عَلَيْهِ لِسَيِّدِهِ.
Apa yang ia ambil darinya menjadi tanggungannya untuk
tuannya.
وَمَا
تَسَلَّمَهُ إِنْ ضَاعَ فِي يَدِ الْعَبْدِ لَا يَتَعَلَّقُ بِرَقَبَتِهِ وَلَا
يَضْمَنُهُ سَيِّدُهُ.
Jika barang yang diserahkan kepadanya hilang di tangan
budak, maka tidak terkait dengan leher budak dan tidak menjadi tanggungan
tuannya.
بَلْ
لَيْسَ لَهُ إِلَّا الْمُطَالَبَةُ إِذَا عُتِقَ.
Bahkan ia tidak punya hak selain menuntutnya setelah budak
itu merdeka.
وَأَمَّا
الْأَعْمَى فَإِنَّهُ يَبِيعُ وَيَشْتَرِي مَا لَا يَرَى فَلَا يَصِحُّ ذَلِكَ.
Adapun orang buta, ia menjual dan membeli sesuatu yang tidak
ia lihat, maka hal itu tidak sah.
فَلْيَأْمُرْهُ
أَنْ يُوَكِّلَ وَكِيلًا بَصِيرًا لِيَشْتَرِيَ لَهُ أَوْ يَبِيعَ.
Maka hendaklah ia memerintahkannya untuk menunjuk wakil yang
dapat melihat, agar wakil itu membeli atau menjual untuknya.
فَيَصِحُّ
تَوْكِيلُهُ وَيَصِحُّ بَيْعُ وَكِيلِهِ.
Maka pemberian kuasa itu sah, dan jual beli wakilnya juga
sah.
فَإِنْ
عَامَلَهُ التَّاجِرُ بِنَفْسِهِ فَالْمُعَامَلَةُ فَاسِدَةٌ.
Jika pedagang bertransaksi langsung dengannya, maka
transaksi itu rusak.
وَمَا
أَخَذَهُ مِنْهُ مَضْمُونٌ عَلَيْهِ بِقِيمَتِهِ.
Apa yang ia ambil darinya menjadi tanggungannya menurut
nilainya.
وَمَا
سَلَّمَهُ إِلَيْهِ أَيْضًا مَضْمُونٌ لَهُ بِقِيمَتِهِ.
Dan apa yang ia serahkan kepadanya juga menjadi
tanggungannya menurut nilainya.
وَأَمَّا
الْكَافِرُ فَتَجُوزُ مُعَامَلَتُهُ.
Adapun orang kafir, maka boleh bertransaksi dengannya.
لَكِنْ
لَا يُبَاعُ مِنْهُ الْمُصْحَفُ وَلَا الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ.
Namun tidak boleh dijual kepadanya mushaf Al-Qur’an dan
budak Muslim.
وَلَا
يُبَاعُ مِنْهُ السِّلَاحُ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَرْبِ.
Dan tidak boleh dijual kepadanya senjata jika ia termasuk
golongan musuh yang memerangi kaum Muslimin.
فَإِنْ
فَعَلَ فَهِيَ مُعَامَلَاتٌ مَرْدُودَةٌ.
Jika itu dilakukan, maka transaksinya ditolak.
وَهُوَ
عَاصٍ بِهَا رَبَّهُ.
Dan ia berdosa kepada Tuhannya karenanya.
وَأَمَّا
الْجُنْدِيَّةُ مِنَ التُّرْكِ وَالتُّرْكَمَانِ وَالْعَرَبِ وَالْأَكْرَادِ
وَالسُّرَّاقِ وَالْخَوَنَةِ وَآكِلِي الرِّبَا وَالظَّلَمَةِ، وَكُلُّ مَنْ
أَكْثَرُ مَالِهِ حَرَامٌ.
Adapun golongan prajurit dari Turki, Turkmen, Arab, Kurdi,
para pencuri, pengkhianat, pemakan riba, para zalim, dan setiap orang yang
kebanyakan hartanya haram.
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَتَمَلَّكَ مِمَّا فِي أَيْدِيهِمْ شَيْئًا لِأَجْلِ أَنَّهَا
حَرَامٌ.
Maka tidak semestinya mengambil milik dari apa yang ada di
tangan mereka karena sesuatu itu haram.
إِلَّا
إِذَا عَرَفَ شَيْئًا بِعَيْنِهِ أَنَّهُ حَلَالٌ.
Kecuali jika ia mengetahui secara pasti bahwa benda itu
halal.
وَسَيَأْتِي
تَفْصِيلُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ.
Dan rincian tentang hal itu akan datang dalam Kitab Halal
dan Haram.
الْرُّكْنُ
الثَّانِي فِي الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ، وَهُوَ الْمَالُ الْمَقْصُودُ نَقْلُهُ مِنْ
أَحَدِ الْعَاقِدَيْنِ إِلَى الْآخَرِ، ثَمَنًا كَانَ أَوْ مُثْمَنًا.
Rukun kedua adalah objek akad, yaitu harta yang dimaksudkan
untuk dipindahkan dari salah satu pihak kepada pihak yang lain, baik sebagai
harga maupun barang.
فَيُعْتَبَرُ
فِيهِ سِتَّةُ شُرُوطٍ.
Di dalamnya dipersyaratkan enam syarat.
الْأَوَّلُ:
أَنْ لَا يَكُونَ نَجِسًا فِي عَيْنِهِ.
Pertama: hendaknya bendanya sendiri tidak najis.
فَلَا
يَصِحُّ بَيْعُ كَلْبٍ وَلَا خِنْزِيرٍ.
Maka tidak sah menjual anjing dan babi.
وَلَا
بَيْعُ زِبْلٍ وَعَذِرَةٍ.
Tidak pula menjual pupuk kotoran dan tinja.
وَلَا
بَيْعُ الْعَاجِ وَالْأَوَانِي الْمُتَّخَذَةِ مِنْهُ.
Tidak pula menjual gading dan bejana yang dibuat darinya.
فَإِنَّ
الْعَظْمَ يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ.
Karena tulang menjadi najis sebab kematian.
وَلَا
يَطْهُرُ الْفِيلُ بِالذَّبْحِ.
Dan gajah tidak menjadi suci hanya dengan disembelih.
وَلَا
يَطْهُرُ عَظْمُهُ بِالتَّذْكِيَةِ.
Dan tulangnya tidak menjadi suci dengan penyembelihan
syar‘i.
وَلَا
يَجُوزُ بَيْعُ الْخَمْرِ.
Tidak boleh menjual khamr.
وَلَا
بَيْعُ الْوَدَكِ النَّجِسِ الْمُسْتَخْرَجِ مِنَ الْحَيَوَانَاتِ الَّتِي لَا
تُؤْكَلُ.
Tidak boleh pula menjual lemak najis yang diambil dari hewan
yang tidak dimakan.
وَإِنْ
كَانَ يَصْلُحُ لِلِاسْتِصْبَاحِ أَوْ طِلَاءِ السُّفُنِ.
Walaupun benda itu berguna untuk penerangan atau untuk
melapisi kapal.
وَلَا
بَأْسَ بِبَيْعِ الدُّهْنِ الطَّاهِرِ فِي عَيْنِهِ الَّذِي نَجَسَ بِوُقُوعِ
نَجَاسَةٍ أَوْ مَوْتِ فَأْرَةٍ فِيهِ.
Tidak mengapa menjual minyak yang asalnya suci, lalu terkena
najis atau ada tikus mati di dalamnya.
فَإِنَّهُ
يَجُوزُ الِانْتِفَاعُ بِهِ فِي غَيْرِ الْأَكْلِ.
Karena masih boleh dimanfaatkan selain untuk dimakan.
وَهُوَ
فِي عَيْنِهِ لَيْسَ بِنَجِسٍ.
Dan pada zatnya sendiri ia tidak najis.
وَكَذَلِكَ
لَا أَرَى بَأْسًا بِبَيْعِ بَزْرِ الْقَزِّ.
Demikian pula aku tidak melihat apa-apa yang menghalangi
penjualan bibit ulat sutra.
فَإِنَّهُ
أَصْلُ حَيَوَانٍ يُنْتَفَعُ بِهِ.
Karena itu adalah asal makhluk hidup yang dapat
dimanfaatkan.
وَتَشْبِيهُهُ
بِالْبَيْضِ أَوْلَى مِنْ تَشْبِيهِهِ بِالْرَّوْثِ.
Menyamakannya dengan telur lebih tepat daripada
menyamakannya dengan kotoran.
وَيَجُوزُ
بَيْعُ فَأْرَةِ الْمِسْكِ.
Dan boleh menjual kantong musk.
وَيُقْضَى
بِطَهَارَتِهَا إِذَا انْفَصَلَتْ مِنَ الظَّبْيِ فِي حَالِ الْحَيَاةِ.
Dan diputuskan suci jika ia terlepas dari kijang ketika
hewan itu masih hidup.
الثَّانِي:
أَنْ يَكُونَ مُنْتَفَعًا بِهِ.
Kedua: hendaknya barang itu dapat dimanfaatkan.
فَلَا
يَجُوزُ بَيْعُ الْحَشَرَاتِ وَلَا الْفَأْرَةِ وَلَا الْحَيَّةِ.
Maka tidak boleh menjual serangga, tikus, dan ular.
وَلَا
الِالْتِفَاتُ إِلَى انْتِفَاعِ الْمُشَعْبِذِ بِالْحَيَّةِ.
Dan tidak perlu diperhatikan manfaat pesulap yang bermain
dengan ular.
وَكَذَلِكَ
لَا الِالْتِفَاتُ إِلَى انْتِفَاعِ أَصْحَابِ الْحَلَقِ بِإِخْرَاجِهَا مِنَ
السَّلَّةِ وَعَرْضِهَا عَلَى النَّاسِ.
Demikian pula tidak diperhatikan manfaat para pemain
pertunjukan yang mengeluarkannya dari keranjang dan memperlihatkannya kepada
orang-orang.
وَيَجُوزُ
بَيْعُ الْهِرَّةِ وَالنَّحْلِ.
Boleh menjual kucing dan lebah.
وَبَيْعُ
الْفَهْدِ وَالْأَسَدِ وَمَا يَصْلُحُ لِصَيْدٍ أَوْ يُنْتَفَعُ بِجِلْدِهِ.
Juga boleh menjual macan tutul dan singa, serta hewan yang
bermanfaat untuk berburu atau dimanfaatkan kulitnya.
وَيَجُوزُ
بَيْعُ الْفِيلِ لِأَجْلِ الْحَمْلِ.
Boleh menjual gajah untuk keperluan mengangkut barang.
وَيَجُوزُ
بَيْعُ الطُّوطِيِّ وَهِيَ الْبَبَّغَاءُ وَالطَّاوُوسِ وَالطُّيُورِ الْمَلِيحَةِ
الصُّوَرِ.
Boleh menjual burung nuri, yaitu burung beo, merak, dan
burung-burung yang rupanya indah.
وَإِنْ
كَانَتْ لَا تُؤْكَلُ.
Meskipun tidak dimakan.
فَإِنَّ
التَّفَرُّجَ بِأَصْوَاتِهَا وَالنَّظَرَ إِلَيْهَا غَرَضٌ مَقْصُودٌ مُبَاحٌ.
Karena bersenang-senang dengan suaranya dan memandangnya
adalah tujuan yang dimaksud dan dibolehkan.
وَإِنَّمَا
الْكَلْبُ هُوَ الَّذِي لَا يَجُوزُ أَنْ يُقْتَنَى إِعْجَابًا بِصُورَتِهِ
لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ.
Adapun anjing, tidak boleh dipelihara karena kagum pada
rupanya, sebab Rasulullah صلى
الله عليه وسلم melarangnya.
وَلَا
يَجُوزُ بَيْعُ الْعُودِ وَالصَّنْجِ وَالْمَزَامِيرِ وَالْمَلَاهِي.
Tidak boleh menjual alat musik seperti rebab, simbal,
seruling, dan alat-alat hiburan.
فَإِنَّهُ
لَا مَنْفَعَةَ لَهَا شَرْعًا.
Karena tidak ada manfaat syar‘i padanya.
وَكَذَلِكَ
بَيْعُ الصُّوَرِ الْمَصْنُوعَةِ مِنَ الطِّينِ.
Demikian pula menjual gambar-gambar yang dibuat dari tanah
liat.
كَالْحَيَوَانَاتِ
الَّتِي تُبَاعُ فِي الْأَعْيَادِ لِلْعِبِ الصِّبْيَانِ.
Seperti hewan-hewan mainan yang dijual pada hari raya untuk
mainan anak-anak.
فَإِنَّ
كَسْرَهَا وَاجِبٌ شَرْعًا.
Karena memecahkannya wajib secara syariat.
وَصُورُ
الْأَشْجَارِ مُتَسَامَحٌ بِهَا.
Adapun gambar pohon-pohonan, maka diberi toleransi.
وَأَمَّا
الثِّيَابُ وَالْأَطْبَاقُ وَعَلَيْهَا صُوَرُ الْحَيَوَانَاتِ فَيَصِحُّ
بَيْعُهَا.
Adapun pakaian dan piring yang bergambar hewan, maka jual
belinya sah.
وَكَذَلِكَ
السُّتُورُ.
Demikian pula tirai-tirai.
وَقَدْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا: اتَّخِذِي مِنْهَا نَمَارِقَ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم pernah bersabda kepada Aisyah رضي الله عنها: “Jadikanlah darinya
bantal-bantal.”
وَلَا
يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهَا مُنْتَصِبَةً.
Tidak boleh digunakan dalam keadaan dipasang tegak.
وَيَجُوزُ
مَوْضُوعَةً.
Tetapi boleh jika diletakkan.
وَإِذَا
جَازَ الِانْتِفَاعُ مِنْ وَجْهٍ صَحَّ الْبَيْعُ لِذَلِكَ الْوَجْهِ.
Jika pemanfaatannya dibolehkan dari satu sisi, maka jual
belinya sah untuk sisi itu.
الثَّالِثُ:
أَنْ يَكُونَ الْمُتَصَرَّفُ فِيهِ مَمْلُوكًا لِلْعَاقِدِ أَوْ مَأْذُونًا مِنْ
جِهَةِ الْمَالِكِ.
Ketiga: benda yang ditransaksikan harus dimiliki oleh pihak
yang berakad, atau diizinkan oleh pemiliknya.
وَلَا
يَجُوزُ أَنْ يَشْتَرِيَ مِنْ غَيْرِ الْمَالِكِ انْتِظَارًا لِلْإِذْنِ مِنَ
الْمَالِكِ.
Tidak boleh membeli dari selain pemilik dengan harapan akan
mendapat izin dari pemiliknya.
بَلْ
لَوْ رَضِيَ بَعْدَ ذَلِكَ وَجَبَ اسْتِئْنَافُ الْعَقْدِ.
Bahkan bila setelah itu pemilik rela, maka akad harus
diulang dari awal.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَشْتَرِيَ مِنَ الزَّوْجَةِ مَالَ الزَّوْجِ.
Tidak layak membeli harta suami dari istri.
وَلَا
مِنَ الزَّوْجِ مَالَ الزَّوْجَةِ.
Dan tidak pula membeli harta istri dari suami.
وَلَا
مِنَ الْوَالِدِ مَالَ الْوَلَدِ.
Tidak pula membeli harta anak dari ayah.
وَلَا
مِنَ الْوَلَدِ مَالَ الْوَالِدِ.
Dan tidak pula membeli harta ayah dari anak.
اعْتِمَادًا
عَلَى أَنَّهُ لَوْ عَرَفَ لَرَضِيَ.
Jangan bersandar pada dugaan bahwa kalau ia tahu tentu akan
rela.
فَإِنَّهُ
إِذَا لَمْ يَكُنِ الرِّضَا مُتَقَدِّمًا لَمْ يَصِحَّ الْبَيْعُ.
Karena jika kerelaan belum ada sebelumnya, maka jual belinya
tidak sah.
وَأَمْثَالُ
ذَلِكَ مِمَّا يَجْرِي فِي الْأَسْوَاقِ.
Dan hal-hal semacam ini sering terjadi di pasar.
فَوَاجِبٌ
عَلَى الْعَبْدِ الدِّينِيِّ أَنْ يَحْتَرِزَ مِنْهُ.
Maka seorang hamba yang bertakwa wajib berhati-hati darinya.
الرَّابِعُ:
أَنْ يَكُونَ الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ مَقْدُورًا عَلَى تَسْلِيمِهِ شَرْعًا
وَحِسًّا.
Keempat: objek akad harus mampu diserahkan, baik menurut
syariat maupun secara nyata.
فَمَا
لَا يُقْدَرُ عَلَى تَسْلِيمِهِ حِسًّا لَا يَصِحُّ بَيْعُهُ.
Maka sesuatu yang secara nyata tidak dapat diserahkan, tidak
sah diperjualbelikan.
كَالْآبِقِ
وَالسَّمَكِ فِي الْمَاءِ وَالْجَنِينِ فِي الْبَطْنِ وَعَسْبِ الْفَحْلِ.
Seperti budak yang lari, ikan di dalam air, janin di dalam
perut, dan jasa pejantan.
وَكَذَلِكَ
بَيْعُ الصُّوفِ عَلَى ظَهْرِ الْحَيَوَانِ وَاللَّبَنِ فِي الضَّرْعِ لَا يَجُوزُ.
Demikian pula menjual bulu domba yang masih di punggung
hewan dan susu yang masih di dalam ambing tidak boleh.
فَإِنَّهُ
يَتَعَذَّرُ تَسْلِيمُهُ لِاخْتِلَاطِ غَيْرِ الْمَبِيعِ بِالْمَبِيعِ.
Karena penyerahannya sulit, sebab bercampur dengan yang
bukan barang jualan.
وَالْمَعْجُوزُ
عَنْ تَسْلِيمِهِ شَرْعًا كَالْمَرْهُونِ وَالْمَوْقُوفِ وَالْمُسْتَوْلَدَةِ
فَلَا يَصِحُّ بَيْعُهَا أَيْضًا.
Adapun yang secara syar‘i tidak dapat diserahkan, seperti
barang gadai, barang wakaf, dan budak perempuan yang telah melahirkan anak,
maka penjualannya juga tidak sah.
وَكَذَلِكَ
بَيْعُ الْأُمِّ دُونَ الْوَلَدِ إِذَا كَانَ الْوَلَدُ صَغِيرًا.
Demikian pula menjual ibu tanpa anaknya jika si anak masih
kecil.
وَكَذَلِكَ
بَيْعُ الْوَلَدِ دُونَ الْأُمِّ.
Dan begitu pula menjual anak tanpa ibunya.
لِأَنَّ
تَسْلِيمَهُ تَفْرِيقٌ بَيْنَهُمَا وَحَرَامٌ.
Karena menyerahkannya berarti memisahkan keduanya, dan itu
haram.
فَلَا
يَصِحُّ التَّفْرِيقُ بَيْنَهُمَا بِالْبَيْعِ.
Maka pemisahan keduanya melalui jual beli tidak sah.
الْخَامِسُ:
أَنْ يَكُونَ الْمَبِيعُ مَعْلُومَ الْعَيْنِ وَالْقَدْرِ وَالْوَصْفِ.
Kelima: barang yang dijual harus diketahui zatnya, kadarnya,
dan sifatnya.
أَمَّا
الْعِلْمُ بِالْعَيْنِ فَبِأَنْ يُشِيرَ إِلَيْهِ بِعَيْنِهِ.
Adapun mengetahui zatnya, caranya dengan menunjuk barang itu
secara langsung.
فَلَوْ
قَالَ: بَعْتُكَ شَاةً مِنْ هَذَا الْقَطِيعِ.
Jika ia berkata: “Aku jual kepadamu seekor kambing dari
kawanan ini,”
أَوْ
ثَوْبًا مِنْ هَذِهِ الثِّيَابِ الَّتِي بَيْنَ يَدَيْكَ.
atau “sehelai kain dari pakaian-pakaian ini yang ada di
hadapanmu,”
أَوْ
ذِرَاعًا مِنْ هَذَا الْكَرْبَاسِ وَخُذْهُ مِنْ أَيِّ جَانِبٍ شِئْتَ.
atau “sehasta dari kain ini, ambillah dari sisi mana saja
yang engkau kehendaki,”
أَوْ
عَشَرَةَ أَذْرُعٍ مِنْ هَذِهِ الْأَرْضِ وَخُذْهُ مِنْ أَيِّ طَرَفٍ شِئْتَ.
atau “sepuluh hasta dari tanah ini, ambillah dari sisi mana
saja yang engkau kehendaki,”
فَالْبَيْعُ
بَاطِلٌ.
maka jual belinya batal.
وَكُلُّ
ذَلِكَ مِمَّا يَعْتَادُهُ الْمُتَسَاهِلُونَ فِي الدِّينِ.
Semua itu termasuk kebiasaan orang-orang yang meremehkan
agama.
إِلَّا
أَنْ يَبِيعَ شَائِعًا.
Kecuali jika yang dijual itu adalah bagian bersama.
مِثْلَ
أَنْ يَبِيعَ نِصْفَ الشَّيْءِ أَوْ عُشْرَهُ.
Misalnya menjual setengah barang atau sepersepuluhnya.
فَإِنَّ
ذَلِكَ جَائِزٌ.
Karena itu boleh.
وَأَمَّا
الْعِلْمُ بِالْقَدْرِ فَإِنَّمَا يَحْصُلُ بِالْكَيْلِ أَوِ الْوَزْنِ أَوِ
النَّظَرِ إِلَيْهِ.
Adapun mengetahui kadar, maka itu diperoleh dengan takaran,
timbangan, atau melihatnya.
فَلَوْ
قَالَ: بَعْتُكَ هَذَا الثَّوْبَ بِمَا بَاعَ بِهِ فُلَانٌ ثَوْبَهُ وَهُمَا لَا
يَدْرِيَانِ ذَلِكَ فَهُوَ بَاطِلٌ.
Jika ia berkata: “Aku jual kain ini kepadamu dengan harga
yang dipakai si Fulan menjual kainnya,” padahal keduanya tidak mengetahui
harganya, maka itu batal.
وَلَوْ
قَالَ: بَعْتُكَ بِوَزْنِ هَذِهِ الصَّنْجَةِ فَهُوَ بَاطِلٌ إِذَا لَمْ تَكُنِ
الصَّنْجَةُ مَعْلُومَةً.
Jika ia berkata: “Aku jual kepadamu seberat pemberat ini,”
maka batal bila pemberat itu tidak diketahui.
وَلَوْ
قَالَ: بَعْتُكَ هَذِهِ الصُّبْرَةَ مِنَ الْحِنْطَةِ فَهُوَ بَاطِلٌ.
Jika ia berkata: “Aku jual kepadamu tumpukan gandum ini,”
maka batal.
أَوْ
قَالَ: بَعْتُكَ بِهَذِهِ الصُّرَّةِ مِنَ الدَّرَاهِمِ أَوْ بِهَذِهِ الْقِطْعَةِ
مِنَ الذَّهَبِ وَهُوَ يَرَاهَا.
Atau ia berkata: “Aku jual kepadamu kantong dirham ini” atau
“potongan emas ini,” sementara ia melihatnya,
صَحَّ
الْبَيْعُ.
maka jual belinya sah.
وَكَانَ
تَخْمِينُهُ بِالنَّظَرِ كَافِيًا فِي مَعْرِفَةِ الْمِقْدَارِ.
Dan perkiraan dengan pandangan sudah cukup untuk mengetahui
kadarnya.
وَأَمَّا
الْعِلْمُ بِالْوَصْفِ فَيَحْصُلُ بِالرُّؤْيَةِ فِي الْأَعْيَانِ.
Adapun mengetahui sifatnya, maka itu diperoleh dengan
melihat barang yang ada di hadapan.
وَلَا
يَصِحُّ بَيْعُ الْغَائِبِ إِلَّا إِذَا سَبَقَتْ رُؤْيَتُهُ مُذْ مُدَّةٍ لَا
يَغْلِبُ التَّغَيُّرُ فِيهَا.
Jual beli barang yang tidak hadir tidak sah kecuali jika
sebelumnya pernah dilihat dalam waktu yang masih kecil kemungkinan berubah.
وَالْوَصْفُ
لَا يَقُومُ مَقَامَ الْعِيَانِ.
Dan deskripsi tidak dapat menggantikan penglihatan langsung.
هَذَا
أَحَدُ الْمَذْهَبَيْنِ.
Ini adalah salah satu dari dua pendapat.
وَلَا
يَجُوزُ بَيْعُ الثَّوْبِ فِي الْمِنْسَجِ اعْتِمَادًا عَلَى الرُّقُومِ.
Tidak boleh menjual kain yang masih di alat tenun dengan
hanya bersandar pada pola-pola tenun.
وَلَا
بَيْعُ الْحِنْطَةِ فِي سُنْبُلِهَا.
Dan tidak boleh menjual gandum yang masih di tangkainya.
وَيَجُوزُ
بَيْعُ الْأَرُزِّ فِي قِشْرَتِهِ الَّتِي يُدَّخَرُ فِيهَا.
Boleh menjual beras dalam kulit yang memang biasa disimpan
di dalamnya.
وَكَذَلِكَ
بَيْعُ الْجَوْزِ وَاللَّوْزِ فِي الْقِشْرَةِ السُّفْلَى.
Demikian pula menjual kenari dan almond dalam kulit luarnya
yang bawah.
وَلَا
يَجُوزُ فِي الْقِشْرَتَيْنِ.
Tetapi tidak boleh jika masih dalam dua lapis kulit.
وَيَجُوزُ
بَيْعُ الْبَاقِلَّاءِ الرَّطْبِ فِي قِشْرِهِ لِلْحَاجَةِ.
Boleh menjual kacang bakla yang masih basah dalam kulitnya
karena kebutuhan.
وَيُتَسَامَحُ
بِبَيْعِ الْفُقَّاعِ لِجَرْيَانِ عَادَةِ الْأَوَّلِينَ بِهِ.
Dan penjualan minuman fuqqa‘ ditoleransi karena sudah
menjadi kebiasaan orang-orang dahulu.
وَلَكِنْ
نَجْعَلُهُ إِبَاحَةً بِعِوَضٍ.
Tetapi kami memandangnya sebagai kebolehan dengan imbalan.
فَإِنِ
اشْتَرَاهُ لِيَبِيعَهُ فَالْقِيَاسُ بُطْلَانُهُ.
Jika ia membelinya untuk dijual lagi, maka menurut qiyas
jual belinya batal.
لِأَنَّهُ
لَيْسَ مُسْتَتِرًا سَتْرَ خِلْقَةٍ.
Karena benda itu bukan sesuatu yang tertutup oleh kulit
secara alami.
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يُتَسَامَحَ بِهِ.
Namun tidak jauh juga bila ditoleransi.
إِذْ
فِي إِخْرَاجِهِ إِفْسَادُهُ كَالرُّمَّانِ وَمَا يَسْتُرُ بِسَتْرٍ خُلِقَ مَعَهُ.
Karena mengeluarkannya berarti merusaknya, seperti delima
dan barang lain yang tertutup dengan kulit alami.
السَّادِسُ:
أَنْ يَكُونَ الْمَبِيعُ مَقْبُوضًا إِنْ كَانَ قَدِ اسْتَفَادَ مِلْكَهُ
بِمُعَاوَضَةٍ.
Keenam: barang yang dijual harus sudah berada dalam قبض,
jika kepemilikannya diperoleh melalui transaksi timbal balik.
وَهَذَا
شَرْطٌ خَاصٌّ.
Ini adalah syarat khusus.
وَقَدْ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ مَا لَمْ
يُقْبَضْ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم telah melarang menjual sesuatu yang belum diterima.
وَيَسْتَوِي
فِيهِ الْعِقَارُ وَالْمَنْقُولُ.
Dalam hal ini, tanah dan benda bergerak sama saja.
فَكُلُّ
مَا اشْتَرَاهُ أَوْ بَاعَهُ قَبْلَ الْقَبْضِ فَبَيْعُهُ بَاطِلٌ.
Maka apa pun yang dibeli atau dijual sebelum qabdh, jual
belinya batal.
وَقَبْضُ
الْمَنْقُولِ بِالنَّقْلِ.
Qabdh benda bergerak adalah dengan memindahkannya.
وَقَبْضُ
الْعِقَارِ بِالتَّخْلِيَةِ.
Qabdh tanah atau properti tetap adalah dengan menyerahkannya
secara bebas tanpa penghalang.
وَقَبْضُ
مَا ابْتَاعَهُ بِشَرْطِ الْكَيْلِ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِأَنْ يَكْتَالَهُ.
Qabdh barang yang dibeli dengan syarat ditakar tidak
sempurna kecuali benar-benar ditakar.
وَأَمَّا
بَيْعُ الْمِيرَاثِ وَالْوَصِيَّةِ وَالْوَدِيعَةِ وَمَا لَمْ يَكُنِ الْمِلْكُ
حَاصِلًا فِيهِ بِمُعَاوَضَةٍ فَهُوَ جَائِزٌ قَبْلَ الْقَبْضِ.
Adapun penjualan warisan, wasiat, titipan, dan harta yang
kepemilikannya bukan diperoleh melalui transaksi timbal balik, maka itu boleh
dijual sebelum qabdh.
الرُّكْنُ
الثَّالِثُ: لَفْظُ الْعَقْدِ.
Rukun ketiga: lafaz akad.
فَلَا
بُدَّ مِنْ جَرْيَانِ إِيجَابٍ وَقَبُولٍ مُتَّصِلَيْنِ بِهِ.
Harus ada ijab dan qabul yang saling bersambung.
بِلَفْظٍ
دَالٍّ عَلَى الْمَقْصُودِ.
Dengan lafaz yang menunjukkan maksud.
مُفْهِمٍ،
إِمَّا صَرِيحٌ أَوْ كِنَايَةٌ.
Lafaz itu harus dapat dipahami, baik yang tegas maupun yang
tidak tegas.
فَلَوْ
قَالَ: أَعْطَيْتُكَ هَذَا بِذَاكَ، بَدَلَ قَوْلِهِ: بَعْتُكَ، فَقَالَ:
قَبِلْتُهُ.
Jika ia berkata, “Aku berikan ini kepadamu dengan itu,”
sebagai ganti ucapan “Aku jual kepadamu,” lalu pihak lain menjawab, “Aku
terima,”
جَازَ
مَهْمَا قَصَدَا بِهِ الْبَيْعَ.
maka sah, selama keduanya memang bermaksud jual beli.
لِأَنَّهُ
قَدْ يَحْتَمِلُ الْعَارِيَةَ إِذَا كَانَ فِي ثَوْبَيْنِ أَوْ دَابَّتَيْنِ.
Karena ucapan itu bisa juga berarti pinjam meminjam jika
berkaitan dengan dua pakaian atau dua hewan tunggangan.
وَالنِّيَّةُ
تَدْفَعُ الِاحْتِمَالَ.
Dan niat menolak kemungkinan lain itu.
وَالصَّرِيحُ
أَقْطَعُ لِلْخُصُومَةِ.
Lafaz yang tegas lebih memutus perselisihan.
وَلَكِنَّ
الْكِنَايَةَ تُفِيدُ الْمِلْكَ أَيْضًا.
Namun kiasan juga dapat menunjukkan kepemilikan.
وَالْحِلُّ
فِي مَا يَخْتَارُهُ.
Dan kebolehan mengikuti bentuk yang dipilih.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يُقَرَّرَ بِالْبَيْعِ شَرْطًا عَلَى خِلَافِ مُقْتَضَى الْعَقْدِ.
Tidak sepatutnya dalam jual beli ditetapkan syarat yang
bertentangan dengan hakikat akad.
فَلَوْ
شَرَطَ أَنْ يَزِيدَ شَيْئًا آخَرَ.
Seperti jika ia mensyaratkan tambahan sesuatu yang lain.
وَأَنْ
يُحْمَلَ الْمَبِيعُ إِلَى دَارِهِ.
Atau bahwa barang itu harus diantar ke rumahnya.
أَوْ
اشْتَرَى الْحَطَبَ بِشَرْطِ النَّقْلِ إِلَى دَارِهِ.
Atau membeli kayu bakar dengan syarat diantarkan ke
rumahnya.
كُلُّ
ذَلِكَ فَاسِدٌ.
Semua itu rusak.
إِلَّا
إِذَا أَفْرَدَ اسْتِئْجَارَهُ عَلَى النَّقْلِ بِأُجْرَةٍ مَعْلُومَةٍ
مُنْفَرِدَةً عَنِ الشِّرَاءِ لِلْمَنْقُولِ.
Kecuali jika ia menyewa jasa pengangkutan dengan upah yang
jelas, terpisah dari akad pembelian barang yang dipindahkan.
وَمَهْمَا
لَمْ يَجْرِ بَيْنَهُمَا إِلَّا الْمُعَاطَاةُ بِالْفِعْلِ دُونَ التَّلَطُّفِ
بِاللِّسَانِ لَمْ يَنْعَقِدِ الْبَيْعُ.
Selama yang terjadi antara keduanya hanya serah terima
dengan perbuatan, tanpa ijab qabul lisan, maka jual beli tidak terjalin.
عِنْدَ
الشَّافِعِيِّ أَصْلًا.
Menurut mazhab Syafi‘i, sama sekali tidak sah.
وَانْعَقَدَ
عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ فِي الْمُحَقَّرَاتِ.
Sedangkan menurut Abu Hanifah, sah bila itu termasuk barang
yang remeh.
ثُمَّ
ضَبْطُ الْمُحَقَّرَاتِ عَسِيرٌ.
Akan tetapi, membatasi apa yang termasuk barang remeh itu
sulit.
فَإِنْ
رُدَّ الْأَمْرُ إِلَى الْعَادَاتِ فَقَدْ جَاوَزَ النَّاسُ الْمُحَقَّرَاتِ فِي
الْمُعَاطَاةِ.
Jika dikembalikan kepada kebiasaan, ternyata manusia telah
melampaui batas barang remeh dalam praktik serah terima.
إِذْ
يَتَقَدَّمُ الدَّلَّالُ إِلَى الْبَزَّازِ.
Karena makelar mendatangi penjual kain.
فَيَأْخُذُ
مِنْهُ ثَوْبًا دِيبَاجًا قِيمَتُهُ عَشَرَةُ دَنَانِيرَ مَثَلًا.
Ia mengambil darinya sehelai kain sutra, misalnya seharga
sepuluh dinar.
وَيَحْمِلُهُ
إِلَى الْمُشْتَرِي.
Lalu membawanya kepada pembeli.
وَيَعُودُ
إِلَيْهِ بِأَنَّهُ ارْتَضَاهُ.
Kemudian ia kembali kepadanya dengan kabar bahwa pembeli
menyukainya.
فَيَقُولُ
لَهُ: خُذْ عَشَرَةً.
Lalu penjual berkata kepadanya: “Ambillah sepuluh.”
فَيَأْخُذُ
مِنْ صَاحِبِهِ الْعَشَرَةَ وَيَحْمِلُهَا وَيُسَلِّمُهَا إِلَى الْبَزَّازِ
فَيَأْخُذُهَا وَيَتَصَرَّفُ فِيهَا.
Maka ia mengambil sepuluh dari pihaknya, membawanya, lalu
menyerahkannya kepada penjual kain, lalu penjual menerimanya dan
menggunakannya.
وَمُشْتَرَى
الثَّوْبِ يَقْطَعُهُ.
Sementara pembeli kain itu langsung memotongnya.
وَلَمْ
يَجْرِ بَيْنَهُمَا إِيجَابٌ وَلَا قَبُولٌ أَصْلًا.
Padahal antara keduanya sama sekali tidak terjadi ijab dan
qabul.
وَكَذَلِكَ
يَجْتَمِعُ الْمُجَهِّزُونَ عَلَى حَانُوتِ الْبَيَّاعِ.
Demikian pula para pembeli berkumpul di kios penjual.
فَيُعْرَضُ
مَتَاعٌ قِيمَتُهُ مِائَةُ دِينَارٍ مَثَلًا فِي مَنْ يَزِيدُ.
Lalu dipajang barang seharga seratus dinar dalam sistem
tawaran naik.
فَيَقُولُ
أَحَدُهُمْ: هَذَا عَلَيَّ بِتِسْعِينَ.
Maka salah seorang berkata: “Ini saya ambil dengan sembilan
puluh.”
وَيَقُولُ
الْآخَرُ: هَذَا عَلَيَّ بِخَمْسٍ وَتِسْعِينَ.
Yang lain berkata: “Saya ambil dengan sembilan puluh lima.”
وَيَقُولُ
الْآخَرُ: هَذَا بِمِائَةٍ.
Yang lain lagi berkata: “Saya ambil dengan seratus.”
فَيُقَالُ
لَهُ: زِنْ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Timbanglah.”
فَيَزِنُ
وَيُسَلِّمُ وَيَأْخُذُ الْمَتَاعَ مِنْ غَيْرِ إِيجَابٍ وَلَا قَبُولٍ.
Maka ia menimbang, menyerahkan, dan mengambil barang tanpa
ijab dan qabul.
فَقَدِ
اسْتَمَرَّتْ بِهِ الْعَادَاتُ.
Kebiasaan seperti itu telah berjalan terus.
وَهَذِهِ
مِنَ الْمُعْضِلَاتِ الَّتِي لَيْسَتْ تَقْبَلُ الْعِلَاجَ.
Ini termasuk persoalan pelik yang tidak mudah diobati.
إِذِ
الِاحْتِمَالَاتُ ثَلَاثَةٌ.
Karena kemungkinan ada tiga.
إِمَّا
فَتْحُ بَابِ الْمُعَاطَاةِ مُطْلَقًا فِي الْحَقِيرِ وَالنَّفِيسِ.
Pertama, membuka pintu serah terima secara mutlak, baik
untuk barang remeh maupun barang berharga.
وَهُوَ
مُحَالٌ.
Ini mustahil.
إِذْ
فِيهِ نَقْلُ الْمِلْكِ مِنْ غَيْرِ لَفْظٍ دَالٍّ عَلَيْهِ.
Karena itu berarti memindahkan kepemilikan tanpa lafaz yang
menunjukkannya.
وَقَدْ
أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ.
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli.
وَالْبَيْعُ
اسْمٌ لِلْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ.
Dan jual beli adalah nama bagi ijab dan qabul.
وَلَمْ
يَجْرِ وَلَمْ يَنْطَلِقْ اسْمُ الْبَيْعِ عَلَى مُجَرَّدِ فِعْلٍ بِتَسْلِيمٍ
وَتَسَلُّمٍ.
Nama jual beli tidak berlaku hanya pada perbuatan serah
terima saja.
فَبِمَاذَا
يُحْكَمُ بِانْتِقَالِ الْمِلْكِ مِنَ الْجَانِبَيْنِ؟
Maka dengan apa kita menetapkan perpindahan hak milik dari
kedua pihak?
لَا
سِيَّمَا فِي الْجَوَارِي وَالْعَبِيدِ وَالْعَقَارَاتِ وَالدَّوَابِّ
النَّفِيسَةِ وَمَا يَكْثُرُ التَّنَازُعُ فِيهِ.
Terutama pada budak perempuan, budak laki-laki, tanah, hewan
tunggangan yang mahal, dan barang-barang yang sering diperselisihkan.
إِذْ
لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَرْجِعَ وَيَقُولَ: قَدْ نَدِمْتُ وَمَا بَعْتُهُ.
Karena seorang Muslim bisa saja kembali lalu berkata: “Aku
menyesal, dan aku belum menjualnya.”
إِذْ
لَمْ يَصْدُرْ مِنِّي إِلَّا مُجَرَّدُ تَسْلِيمٍ.
Karena dari diriku tidak terjadi apa-apa selain serah terima
biasa.
وَذَلِكَ
لَيْسَ بِبَيْعٍ.
Dan itu bukan jual beli.
الِاحْتِمَالُ
الثَّانِي: أَنْ نَسُدَّ الْبَابَ بِالْكُلِّيَّةِ، كَمَا قَالَ الشَّافِعِيُّ
رَحِمَهُ اللَّهُ مِنْ بُطْلَانِ الْعَقْدِ.
Kemungkinan kedua ialah menutup pintu sama sekali,
sebagaimana mazhab Syafi‘i رحمه
الله yang menyatakan akad itu batal.
وَفِيهِ
إِشْكَالٌ مِنْ وَجْهَيْنِ.
Namun ini mengandung dua keberatan.
أَحَدُهُمَا:
أَنَّهُ يَشْبَهُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ فِي الْمُحَقَّرَاتِ مُعْتَادًا فِي زَمَنِ
الصَّحَابَةِ.
Pertama, tampaknya praktik itu pada barang-barang remeh
telah menjadi kebiasaan di masa sahabat.
فَلَوْ
كَانُوا يَتَكَلَّفُونَ الْإِيجَابَ وَالْقَبُولَ مِنَ الْبَقَّالِ وَالْخَبَّازِ
وَالْقَصَّابِ لَثَقُلَ عَلَيْهِمْ فِعْلُهُ.
Kalau mereka dipaksa mengucapkan ijab dan qabul kepada
penjual sayur, tukang roti, dan tukang jagal, tentu hal itu memberatkan mereka.
وَلَنُقِلَ
ذَلِكَ نَقْلًا مُنْتَشِرًا.
Dan tentu akan diriwayatkan secara luas.
وَلَاشْتَهَرَ
وَقْتُ الْإِعْرَاضِ بِالْكُلِّيَّةِ عَنْ تِلْكَ الْعَادَةِ.
Dan akan terkenal masa ketika kebiasaan itu ditinggalkan
sepenuhnya.
فَإِنَّ
الْأَعْصَارَ فِي مِثْلِ هَذَا تَتَفَاوَتُ.
Karena zaman-zaman dalam hal seperti ini memang
berbeda-beda.
وَالثَّانِي:
أَنَّ النَّاسَ الْآنَ قَدِ انْهَمَكُوا فِيهِ.
Kedua, manusia sekarang telah tenggelam dalam praktik ini.
فَلَا
يَشْتَرِي الْإِنْسَانُ شَيْئًا مِنَ الْأَطْعِمَةِ وَغَيْرِهَا إِلَّا وَيَعْلَمُ
أَنَّ الْبَائِعَ قَدْ مَلَكَهُ بِالْمُعَاطَاةِ.
Tidak ada seorang pun membeli makanan atau selainnya kecuali
ia mengetahui bahwa penjual telah memilikinya melalui serah terima.
فَأَيُّ
فَائِدَةٍ فِي تَلَفُّظِهِ بِالْعَقْدِ إِذَا كَانَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ؟
Lalu apa faedahnya melafazkan akad jika memang keadaan
seperti itu?
الِاحْتِمَالُ
الثَّالِثُ: أَنْ يُفَصَّلَ بَيْنَ الْمُحَقَّرَاتِ وَغَيْرِهَا، كَمَا قَالَهُ
أَبُو حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ.
Kemungkinan ketiga ialah dibedakan antara barang-barang
remeh dan selainnya, sebagaimana pendapat Abu Hanifah رحمه الله.
وَعِنْدَ
ذَلِكَ يَتَعَسَّرُ الضَّبْطُ فِي الْمُحَقَّرَاتِ.
Namun saat itu batasan barang remeh menjadi sulit
ditentukan.
وَيَشْكُلُ
وَجْهُ نَقْلِ الْمِلْكِ مِنْ غَيْرِ لَفْظٍ يَدُلُّ عَلَيْهِ.
Dan menjadi sulit pula menjelaskan perpindahan hak milik
tanpa lafaz yang menunjukkan hal itu.
وَقَدْ
ذَهَبَ ابْنُ سُرَيْجٍ إِلَى تَخْرِيجِ قَوْلٍ لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ
عَلَى وَفْقِهِ.
Ibnu Suraij telah menisbatkan suatu pendapat kepada Syafi‘i رحمه الله
yang sejalan dengan itu.
وَهُوَ
أَقْرَبُ الِاحْتِمَالَاتِ إِلَّا الِاعْتِدَالَ.
Itulah kemungkinan yang paling dekat, kecuali sikap
pertengahan.
فَلَا
بَأْسَ لَوْ مِلْنَا إِلَيْهِ لِمَسِّ الْحَاجَاتِ.
Tidak mengapa jika kita condong kepadanya karena kebutuhan
yang mendesak.
وَلِعُمُومِ
ذَلِكَ بَيْنَ الْخَلْقِ.
Dan karena hal itu umum di kalangan manusia.
وَلِمَا
يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ بِأَنَّ ذَلِكَ كَانَ مُعْتَادًا فِي الْأَعْصَارِ
الْأُولَى.
Dan karena kuat dugaan bahwa itu memang menjadi kebiasaan
pada masa-masa awal.
فَأَمَّا
الْجَوَابُ عَنِ الْإِشْكَالَيْنِ فَهُوَ أَنْ نَقُولَ.
Adapun jawaban atas dua keberatan tadi adalah sebagai
berikut.
أَمَّا
الضَّبْطُ فِي الْفَصْلِ بَيْنَ الْمُحَقَّرَاتِ وَغَيْرِهَا فَلَيْسَ عَلَيْنَا
تَكَلُّفٌ بِالتَّقْدِيرِ.
Adapun penetapan batas antara barang remeh dan selainnya,
kami tidak dibebani untuk menentukan ukuran yang sangat rinci.
فَإِنَّ
ذَلِكَ غَيْرُ مُمْكِنٍ.
Karena itu tidak mungkin.
بَلْ
لَهُ طَرَفَانِ وَاضِحَانِ.
Akan tetapi, ia memiliki dua ujung yang jelas.
إِذْ
لَا يَخْفَى أَنَّ شِرَاءَ الْبَقْلِ وَقَلِيلٍ مِنَ الْفَوَاكِهِ وَالْخُبْزِ
وَاللَّحْمِ مِنَ الْمَعْدُودِ مِنَ الْحَقَارَاتِ.
Tidak samar lagi bahwa membeli sayuran, sedikit buah, roti,
dan daging termasuk barang yang remeh.
الَّتِي
لَا يُعْتَادُ فِيهَا إِلَّا الْمُعَاطَاةُ.
Yang pada umumnya hanya dilakukan dengan serah terima biasa.
وَطَالِبُ
الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ فِيهِ يُعَدُّ مُسْتَقْصِيًا.
Orang yang menuntut ijab dan qabul di dalamnya dianggap
terlalu berlebihan.
وَيُسْتَبْرَدُ
تَكَلُّفُهُ لِذَلِكَ وَيَسْتَثْقَلُ.
Dan orang akan menganggap beban itu dingin dan berat.
وَيُنْسَبُ
إِلَى أَنَّهُ يُقِيمُ الْوَزْنَ لِأَمْرٍ حَقِيرٍ لَا وَجْهَ لَهُ.
Bahkan ia akan dinilai seolah-olah membuat keributan untuk
perkara remeh yang tidak ada nilainya.
هَذَا
طَرَفُ الْحَقَارَةِ.
Inilah ujung dari hal-hal remeh.
وَالطَّرَفُ
الثَّانِي: الدَّوَابُّ وَالْعَبِيدُ وَالْعَقَارَاتُ وَالثِّيَابُ النَّفِيسَةُ.
Adapun ujung yang lain ialah hewan tunggangan, budak, tanah,
dan pakaian mahal.
فَذَلِكَ
مِمَّا لَا يُسْتَبْعَدُ تَكَلُّفُ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ فِيهَا.
Itu termasuk hal yang tidak dianggap berat untuk memakai
ijab dan qabul.
وَبَيْنَهُمَا
أَوْسَاطٌ مُتَشَابِهَةٌ يُشَكُّ فِيهَا.
Di antara keduanya ada bagian-bagian tengah yang serupa dan
meragukan.
هِيَ
فِي مَحَلِّ الشُّبْهَةِ.
Itu berada pada wilayah syubhat.
فَحَقُّ
ذِي الدِّينِ أَنْ يَمِيلَ فِيهَا إِلَى الِاحْتِيَاطِ.
Maka orang yang beragama hendaknya cenderung kepada sikap
hati-hati dalam perkara itu.
وَجَمِيعُ
ضَوَابِطِ الشَّرْعِ فِيمَا يُعْلَمُ بِالْعَادَةِ كَذَلِكَ.
Semua kaidah syariat pada perkara yang diketahui lewat
kebiasaan pun demikian.
يَنْقَسِمُ
إِلَى أَطْرَافٍ وَاضِحَةٍ وَأَوْسَاطٍ مُشْكِلَةٍ.
Ia terbagi menjadi bagian-bagian yang jelas dan
bagian-bagian tengah yang sulit.
وَأَمَّا
الثَّانِي وَهُوَ طَلَبُ سَبَبٍ لِنَقْلِ الْمِلْكِ.
Adapun jawaban yang kedua, yaitu mencari sebab untuk
memindahkan kepemilikan,
فَهُوَ
أَنْ يُجْعَلَ الْفِعْلُ بِالْيَدِ أَخْذًا وَتَسْلِيمًا سَبَبًا لِعَيْنِهِ، بَلْ
لِدَلَالَتِهِ.
ialah menjadikan perbuatan tangan berupa mengambil dan
menyerahkan sebagai sebab bagi zatnya, bahkan karena petunjuknya.
وَهَذَا
الْفِعْلُ قَدْ دَلَّ عَلَى مَقْصُودِ الْبَيْعِ دَلَالَةً مُسْتَمِرَّةً فِي
الْعَادَةِ.
Perbuatan ini dalam kebiasaan telah terus-menerus
menunjukkan maksud jual beli.
وَانْضَمَّ
إِلَيْهِ مَسُّ الْحَاجَةِ وَعَادَةُ الْأَوَّلِينَ.
Ditambah lagi adanya kebutuhan dan kebiasaan orang-orang
terdahulu.
وَاطِّرَادُ
جَمِيعِ الْعَادَاتِ بِقَبُولِ الْهَدَايَا مِنْ غَيْرِ إِيجَابٍ وَقَبُولٍ مَعَ
التَّصَرُّفِ فِيهَا.
Dan semua kebiasaan berjalan menerima hadiah tanpa ijab dan
qabul, lalu bebas memanfaatkannya.
وَأَيُّ
فَرْقٍ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ عِوَضٌ أَوْ لَا يَكُونُ؟
Lalu apa bedanya, apakah di dalamnya ada imbalan atau tidak?
إِذِ
الْمِلْكُ لَا بُدَّ مِنْ نَقْلِهِ فِي الْهِبَةِ أَيْضًا.
Karena kepemilikan dalam hibah pun harus berpindah.
إِلَّا
أَنَّ الْعَادَةَ السَّالِفَةَ لَمْ تُفَرِّقْ فِي الْهَدَايَا بَيْنَ الْحَقِيرِ
وَالنَّفِيسِ.
Hanya saja kebiasaan lama tidak membedakan hadiah yang remeh
dan yang berharga.
بَلْ
كَانَ طَلَبُ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ يُسْتَقْبَحُ فِيهِ كَيْفَ كَانَ.
Bahkan menuntut ijab dan qabul dalam hibah dipandang buruk
apa pun bentuknya.
وَفِي
الْمَبِيعِ لَمْ يُسْتَقْبَحْ فِي غَيْرِ الْمُحَقَّرَاتِ.
Sedangkan pada barang jualan, itu tidak dipandang buruk
kecuali pada barang remeh.
هَذَا
مَا نَرَاهُ أَعْدَلَ الِاحْتِمَالَاتِ.
Inilah yang kami pandang sebagai kemungkinan yang paling
adil.
وَحَقُّ
الْوَرَعِ الدِّينِيِّ أَنْ لَا يَدَعَ الْإِيجَابَ وَالْقَبُولَ لِلْخُرُوجِ عَنْ
شُبْهَةِ الْخِلَافِ.
Dan sikap wara‘ seorang yang bertakwa adalah tidak
meninggalkan ijab dan qabul agar keluar dari syubhat perbedaan pendapat.
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَمْتَنِعَ مِنْ ذَلِكَ لِأَجْلِ أَنَّ الْبَائِعَ قَدْ
تَمَلَّكَهُ بِغَيْرِ إِيجَابٍ وَقَبُولٍ.
Maka ia tidak sepatutnya menolak hal itu karena sang penjual
telah memilikinya tanpa ijab dan qabul.
فَإِنَّ
ذَلِكَ لَا يُعْرَفُ تَحْقِيقًا.
Karena hal itu tidak diketahui secara pasti.
فَرُبَّمَا
اشْتَرَاهُ بِقَبُولٍ وَإِيجَابٍ.
Bisa saja penjual itu memperolehnya dengan ijab dan qabul.
فَإِنْ
كَانَ حَاضِرًا عِنْدَ شِرَائِهِ أَوْ أَقَرَّ الْبَائِعُ بِهِ فَيَمْتَنِعُ
مِنْهُ وَلْيَشْتَرِ مِنْ غَيْرِهِ.
Jika ia hadir saat barang itu dibeli atau penjual
mengakuinya, maka hendaklah ia tidak membelinya dan membeli dari orang lain.
فَإِنْ
كَانَ الشَّيْءُ مُحَقَّرًا وَهُوَ إِلَيْهِ مُحْتَاجٌ فَلْيَتَلَفَّظْ
بِالْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ.
Jika barang itu remeh namun ia memang membutuhkannya, maka
hendaklah ia mengucapkan ijab dan qabul.
فَإِنَّهُ
يَسْتَفِيدُ بِهِ قَطْعَ الْخُصُومَةِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مَعَهُ.
Karena dengan itu ia memperoleh manfaat berupa tertutupnya
perselisihan di kemudian hari.
إِذِ
الرُّجُوعُ مِنَ اللَّفْظِ الصَّرِيحِ غَيْرُ مُمْكِنٍ.
Karena menarik kembali lafaz yang tegas tidaklah mungkin.
وَمِنَ
الْفِعْلِ مُمْكِنٌ.
Sedangkan dari perbuatan, itu masih mungkin.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَإِنْ أَمْكَنَ هَذَا فِيمَا يَشْتَرِيهِ، فَكَيْفَ يَفْعَلُ إِذَا
حَضَرَ فِي ضِيَافَةٍ أَوْ عَلَى مَائِدَةٍ؟
Jika engkau berkata: jika hal ini bisa dilakukan pada barang
yang dibelinya, lalu bagaimana jika ia hadir sebagai tamu atau berada di meja
makan?
وَهُوَ
يَعْلَمُ أَنَّ أَصْحَابَهَا يَكْتَفُونَ بِالْمُعَاطَاةِ فِي الْبَيْعِ
وَالشِّرَاءِ، أَوْ سَمِعَ مِنْهُمْ ذَلِكَ، أَوْ رَآهُ.
Ia tahu bahwa para pemilik rumah atau hidangan itu
mencukupkan diri dengan serah terima biasa dalam jual beli, atau ia mendengar
itu dari mereka, atau ia melihatnya sendiri.
أَيَجِبُ
عَلَيْهِ الِامْتِنَاعُ مِنَ الْأَكْلِ؟
Apakah wajib baginya menahan diri dari makan?
فَأَقُولُ:
يَجِبُ عَلَيْهِ الِامْتِنَاعُ مِنَ الشِّرَاءِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ الشَّيْءُ
الَّذِي اشْتَرَوْهُ مِقْدَارًا نَفِيسًا وَلَمْ يَكُنْ مِنَ الْمُحَقَّرَاتِ.
Aku katakan: ia wajib menahan diri dari membeli jika barang
yang mereka beli itu adalah barang yang berharga dan bukan termasuk barang
remeh.
وَأَمَّا
الْأَكْلُ فَلَا يَجِبُ الِامْتِنَاعُ مِنْهُ.
Adapun makan, maka tidak wajib baginya menahan diri.
فَإِنِّي
أَقُولُ: إِنْ تَرَدَّدْنَا فِي جَعْلِ الْفِعْلِ دَلَالَةً عَلَى نَقْلِ
الْمِلْكِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ لَا نَجْعَلَهُ دَلَالَةً عَلَى الْإِبَاحَةِ.
Aku katakan: jika kita ragu menjadikan perbuatan itu sebagai
tanda berpindahnya hak milik, maka tidak semestinya kita tidak menjadikannya
sebagai tanda kebolehan.
فَإِنَّ
أَمْرَ الْإِبَاحَةِ أَوْسَعُ وَأَمْرَ نَقْلِ الْمِلْكِ أَضْيَقُ.
Karena perkara kebolehan itu lebih luas, sedangkan
perpindahan hak milik lebih sempit.
فَكُلُّ
مَطْعُومٍ جَرَى فِيهِ بَيْعُ مُعَاطَاةٍ فَتَسْلِيمُ الْبَائِعِ إِذْنٌ فِي
الْأَكْلِ.
Setiap makanan yang dijual dengan serah terima biasa, maka
penyerahan oleh penjual adalah izin untuk memakannya.
يُعْلَمُ
ذَلِكَ بِقَرِينَةِ الْحَالِ.
Hal itu diketahui dengan petunjuk keadaan.
كَالْإِذْنِ
فِي الْحَمَّامِ لِمَنْ يُرِيدُهُ الْمُشْتَرِي.
Seperti izin masuk ke pemandian bagi siapa yang hendak
memakainya.
وَالْإِذْنِ
فِي الْإِطْعَامِ لِمَنْ يُرِيدُهُ الْمُشْتَرِي.
Dan izin memberi makan kepada orang yang dikehendaki
pembeli.
فَيَنْزِلُ
مَنْزِلَةَ مَا لَوْ قَالَ: أَبَحْتُ لَكَ أَنْ تَأْكُلَ هَذَا الطَّعَامَ أَوْ
تُطْعِمَ مَنْ أَرَدْتَ.
Maka kedudukannya seperti seandainya ia berkata: “Aku
menghalalkan bagimu untuk memakan makanan ini atau memberi makan kepada siapa
pun yang engkau kehendaki.”
فَإِنَّهُ
يَحِلُّ لَهُ.
Maka makanan itu halal baginya.
وَلَوْ
صَرَّحَ وَقَالَ: كُلْ هَذَا الطَّعَامَ ثُمَّ أَغْرِمْ لِي عِوَضَهُ لَحَلَّ
الْأَكْلُ وَيَلْزَمُهُ الضَّمَانُ بَعْدَ الْأَكْلِ.
Bahkan jika ia menegaskan, “Makanlah makanan ini, lalu
gantilah nilainya kepadaku,” maka makan menjadi halal dan ia wajib menanggung
ganti rugi setelah makan.
هَذَا
قِيَاسُ الْفِقْهِ عِنْدِي.
Beginilah qiyas fikih menurutku.
وَلَكِنَّهُ
بَعْدَ الْمُعَاطَاةِ آكِلٌ لِمِلْكِهِ وَمُتْلِفٌ لَهُ.
Akan tetapi, setelah serah terima biasa itu, ia memakan
miliknya sendiri dan merusaknya.
فَعَلَيْهِ
الضَّمَانُ.
Maka atas dirinya berlaku tanggungan ganti rugi.
وَذَلِكَ
فِي ذِمَّتِهِ.
Dan itu menjadi tanggungan dalam utangnya.
وَالثَّمَنُ
الَّذِي سَلَّمَهُ إِنْ كَانَ مِثْلَ قِيمَتِهِ فَقَدْ ظَفِرَ الْمُسْتَحِقُّ
بِمِثْلِ حَقِّهِ.
Jika harga yang ia serahkan setara dengan nilainya, maka
pihak yang berhak telah memperoleh padanan haknya.
فَلَهُ
أَنْ يَتَمَلَّكَهُ مَهْمَا عَجَزَ عَنْ مُطَالَبَةِ مَنْ عَلَيْهِ.
Maka ia boleh memilikinya kapan pun ia tidak mampu menagih
dari orang yang berutang kepadanya.
وَإِنْ
كَانَ قَادِرًا عَلَى مُطَالَبَتِهِ فَإِنَّهُ لَا يَتَمَلَّكُ مَا ظَفِرَ بِهِ
مِنْ مِلْكِهِ.
Namun jika ia mampu menagihnya, ia tidak otomatis
memilikinya hanya karena berhasil mendapatkan barang dari harta orang itu.
لِأَنَّهُ
رُبَّمَا لَا يَرْضَى بِتِلْكَ الْعَيْنِ أَنْ يُصْرَفَهَا إِلَى دَيْنِهِ.
Karena mungkin ia tidak rela benda itu dijadikan pembayaran
utangnya.
فَعَلَيْهِ
الْمُرَاجَعَةُ.
Maka ia harus meminta persetujuan dan merujuk kembali.
وَأَمَّا
هُنَا فَقَدْ عُرِفَ رِضَاهُ بِقَرِينَةِ الْحَالِ عِنْدَ التَّسْلِيمِ.
Adapun di sini, kerelaannya telah diketahui melalui keadaan
ketika penyerahan.
فَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يُجْعَلَ الْفِعْلُ دَلَالَةً عَلَى الرِّضَاء.
Maka tidak jauh jika perbuatan itu dijadikan sebagai tanda
kerelaan.
بِأَنْ
يَسْتَوْفِيَ دَيْنَهُ مِمَّا يُسَلَّمُ إِلَيْهِ فَيَأْخُذَهُ بِحَقِّهِ.
Yaitu ia mengambil pelunasan utangnya dari apa yang
diserahkan kepadanya, lalu mengambilnya sebagai haknya.
لَكِنْ
عَلَى كُلِّ الْأَحْوَالِ جَانِبُ الْبَائِعِ أَغْمَضُ.
Akan tetapi, dalam semua keadaan, sisi penjual lebih samar.
لِأَنَّ
مَا أَخَذَهُ قَدْ يُرِيدُ الْمَالِكُ لِيَتَصَرَّفَ فِيهِ.
Karena barang yang diambil itu mungkin memang diinginkan
pemiliknya untuk ia gunakan.
وَلَا
يُمْكِنُهُ التَّمَلُّكُ إِلَّا إِذَا أَتْلَفَ عَيْنَ طَعَامِهِ فِي يَدِ
الْمُشْتَرِي.
Dan ia tidak dapat memilikinya kecuali jika ia merusak
barang makanannya yang ada di tangan pembeli.
ثُمَّ
رُبَّمَا يَفْتَقِرُ إِلَى اسْتِئْنَافِ قَصْدِ التَّمَلُّكِ.
Kemudian mungkin ia perlu memperbarui niat untuk memiliki.
ثُمَّ
يَكُونُ قَدْ تَمَلَّكَ بِمُجَرَّدِ رِضًا اسْتَفَادَهُ مِنَ الْفِعْلِ دُونَ
الْقَوْلِ.
Padahal ia telah memilikinya hanya dengan kerelaan yang
dipahami dari perbuatan, bukan dari ucapan.
وَأَمَّا
جَانِبُ الْمُشْتَرِي لِلطَّعَامِ وَهُوَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الْأَكْلَ فَهَيِّنٌ.
Adapun dari sisi pembeli makanan, yang ia kehendaki hanyalah
memakannya, maka itu lebih ringan.
فَإِنَّ
ذَلِكَ يُبَاحُ بِالْإِبَاحَةِ الْمَفْهُومَةِ مِنْ قَرِينَةِ الْحَالِ.
Karena hal itu dibolehkan melalui izin yang dipahami dari
petunjuk keadaan.
وَلَكِنْ
رُبَّمَا يَلْزَمُ مِنْ مُشَاوَرَتِهِ أَنَّ الضَّيْفَ يَضْمَنُ مَا أَتْلَفَهُ.
Akan tetapi, mungkin dari pertimbangannya timbul bahwa tamu
harus mengganti apa yang ia rusakkan.
وَإِنَّمَا
يَسْقُطُ الضَّمَانُ عَنْهُ إِذَا تَمَلَّكَ الْبَائِعُ مَا أَخَذَهُ مِنَ
الْمُشْتَرِي.
Tanggungan itu baru gugur darinya jika penjual telah
memiliki apa yang diambil dari pembeli.
فَيَسْقُطُ
فَيَكُونُ كَالْقَاضِي دَيْنَهُ وَالْمُتَحَمِّلِ عَنْهُ.
Maka tanggungan itu gugur, dan jadilah ia seperti orang yang
melunasi utangnya sendiri atau orang yang menanggung utang orang lain.
فَهَذَا
مَا نَرَاهُ فِي قَاعِدَةِ الْمُعَاطَاةِ عَلَى غُمُوضِهَا.
Inilah yang kami pandang dalam kaidah serah terima biasa,
meskipun masih samar.
وَالْعِلْمُ
عِنْدَ اللَّهِ.
Dan Allah-lah Yang Mahatahu.
وَهَذِهِ
احْتِمَالَاتٌ وَظُنُونٌ رَدَدْنَاهَا.
Ini adalah kemungkinan-kemungkinan dan dugaan-dugaan yang
kami kemukakan.
وَلَا
يُمْكِنُ بِنَاءُ الْفَتْوَى إِلَّا عَلَى هَذِهِ الظُّنُونِ.
Dan fatwa tidak mungkin dibangun kecuali di atas dugaan
semacam ini.
وَأَمَّا
الْوَرَعُ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَفْتَى قَلْبُهُ وَيَتَّقِيَ مَوَاضِعَ
الشُّبُهَاتِ.
Adapun sikap wara‘, hendaklah ia meminta fatwa kepada
hatinya dan menjauhi tempat-tempat yang syubhat.