Keutamaan Mencari Nafkah Dan Dorongan Kepadanya
الْبَابُ الْأَوَّلُ فِي فَضْلِ الْكَسْبِ وَالْحَثِّ عَلَيْهِ.
Bab pertama tentang keutamaan mencari nafkah dan dorongan
kepadanya.
أَمَّا
مِنَ الْكِتَابِ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: {وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا}.
Adapun dalil dari Al-Qur’an ialah firman-Nya: “Dan Kami
jadikan siang sebagai waktu mencari penghidupan.”
فَذَكَرَهُ
فِي مَعْرِضِ الِامْتِنَانِ.
Allah menyebutnya dalam konteks pemberian nikmat.
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ}.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Kami jadikan bagi kalian di
dalamnya berbagai penghidupan; sedikit sekali kalian bersyukur.”
فَجَعَلَهَا
رَبُّكَ نِعْمَةً.
Maka Tuhanmu menjadikannya sebagai nikmat.
وَطَلَبَ
الشُّكْرَ عَلَيْهَا.
Dan Dia menuntut syukur atasnya.
وَقَالَ
تَعَالَى: {لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak ada dosa atas kalian
untuk mencari karunia dari Tuhan kalian.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ
اللَّهِ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan yang lain berjalan di bumi
mencari karunia Allah.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Maka bertebaranlah di bumi dan
carilah karunia Allah.”
وَأَمَّا
الْأَخْبَارُ فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنَ
الذُّنُوبِ ذُنُوبًا لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا الْهَمُّ فِي طَلَبِ الْمَعِيشَةِ.
Adapun hadis-hadis, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Di antara
dosa-dosa ada dosa yang tidak dihapus kecuali oleh kesungguhan dalam mencari
penghidupan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّاجِرُ الصَّدُوقُ يُحْشَرُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Pedagang yang jujur akan dibangkitkan pada hari
kiamat bersama para siddiqin dan para syuhada.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلَالًا،
وَتَعَفُّفًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ، وَسَعْيًا عَلَى عِيَالِهِ، وَتَعَطُّفًا عَلَى
جَارِهِ، لَقِيَ اللَّهَ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa mencari dunia dengan cara yang halal,
menjaga diri dari meminta-minta, berusaha untuk keluarganya, dan berbuat lembut
kepada tetangganya, ia akan bertemu Allah dengan wajah seperti bulan pada malam
purnama.”
وَكَانَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا مَعَ أَصْحَابِهِ ذَاتَ يَوْمٍ.
Pada suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang duduk bersama
para sahabatnya.
فَنَظَرُوا
إِلَى شَابٍّ ذِي جَلَدٍ وَقُوَّةٍ، وَقَدْ بَكَّرَ يَسْعَى.
Lalu mereka melihat seorang pemuda yang kuat dan gesit, yang
berangkat pagi-pagi untuk bekerja.
فَقَالُوا:
وَيْحَ هَذَا، لَوْ كَانَ شَبَابُهُ وَجَلَدُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
Mereka berkata: “Celakalah dia, alangkah baiknya jika masa
muda dan kekuatannya itu dipakai di jalan Allah.”
فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَقُولُوا هَذَا.
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jangan kalian katakan itu.”
فَإِنَّهُ
إِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيَكُفَّهَا عَنِ الْمَسْأَلَةِ وَيُغْنِيَهَا
عَنِ النَّاسِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
Karena jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar terhindar
dari meminta-minta dan cukup dari manusia, maka ia berada di jalan Allah.
وَإِنْ
كَانَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ ضَعِيفَيْنِ أَوْ ذُرِّيَّةٍ ضُعَفَاءَ
لِيُغْنِيَهُمْ وَيَكْفِيَهُمْ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
Dan jika ia bekerja untuk dua orang tua yang lemah atau
anak-anak yang lemah agar mencukupi mereka, maka ia juga berada di jalan Allah.
وَإِنْ
كَانَ يَسْعَى تَفَاخُرًا وَتَكَاثُرًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ.
Tetapi jika ia bekerja karena bangga-banggaan dan
memperbanyak harta, maka ia berada di jalan setan.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ يَتَّخِذُ
الْمِهْنَةَ لِيَسْتَغْنِيَ بِهَا عَنِ النَّاسِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang mengambil
suatu pekerjaan agar ia bisa cukup dari manusia.”
وَيَبْغُضُ
الْعَبْدَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ يَتَّخِذُهُ مِهْنَةً.
Dan Dia membenci hamba yang belajar ilmu lalu menjadikannya
sebagai mata pencaharian.
وَفِي
الْخَبَرِ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Sesungguhnya Allah Ta‘ala
mencintai mukmin yang bekerja.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَلُّ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ،
وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Yang paling halal dimakan seorang lelaki adalah
hasil usahanya sendiri, dan setiap jual beli yang baik.”
وَفِي
خَبَرٍ آخَرَ: أَحَلُّ مَا أَكَلَ الْعَبْدُ كَسْبُ يَدِ الصَّانِعِ إِذَا نَصَحَ.
Dalam riwayat lain: “Yang paling halal dimakan seorang hamba
ialah hasil tangan orang yang bekerja, jika ia jujur.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالتِّجَارَةِ، فَإِنَّ فِيهَا
تِسْعَةَ أَعْشَارِ الرِّزْقِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Hendaklah kalian berdagang, karena di dalamnya ada
sembilan persepuluh rezeki.”
وَرُوِيَ
أَنَّ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ رَأَى رَجُلًا فَقَالَ: مَا تَصْنَعُ؟
Diriwayatkan bahwa Isa عليه السلام melihat seorang
laki-laki lalu bertanya: “Apa yang engkau lakukan?”
قَالَ:
أَتَعَبَّدُ.
Ia menjawab: “Aku beribadah.”
قَالَ:
فَمَنْ يَعُولُكَ؟
Isa bertanya: “Lalu siapa yang menanggung nafkahmu?”
قَالَ:
أَخِي.
Ia menjawab: “Saudaraku.”
قَالَ:
أَخُوكَ أَعْبَدُ مِنْكَ.
Isa berkata: “Saudaramu lebih ahli ibadah daripadamu.”
وَقَالَ
نَبِيُّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَا أَعْلَمُ شَيْئًا
يُقَرِّبُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَعِّدُكُمْ مِنَ النَّارِ إِلَّا أَمَرْتُكُمْ
بِهِ.
Nabi kita صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Aku tidak mengetahui sesuatu yang mendekatkan kalian
ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka kecuali telah aku perintahkan kepada
kalian.”
وَإِنِّي
لَا أَعْلَمُ شَيْئًا يُبَعِّدُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُقَرِّبُكُمْ مِنَ
النَّارِ إِلَّا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ.
“Dan aku tidak mengetahui sesuatu yang menjauhkan kalian
dari surga dan mendekatkan kalian ke neraka kecuali telah aku larang kalian
darinya.”
وَإِنَّ
الرُّوحَ الْأَمِينِ نَفَثَ فِي رُوعِي.
“Dan sesungguhnya Ruhul Amin telah meniupkan ke dalam
hatiku.”
أَنَّ
نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا.
“Bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan mati sampai ia
menyempurnakan rezekinya.”
فَإِنْ
أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ.
“Jika rezeki itu lambat datang, maka bertakwalah kepada
Allah dan carilah dengan cara yang baik.”
أَمَرَ
بِالْإِجْمَالِ فِي الطَّلَبِ وَلَمْ يَقُلْ: اتْرُكُوا الطَّلَبَ.
Beliau memerintahkan mencari rezeki dengan cara yang baik,
dan tidak mengatakan: tinggalkanlah usaha.
ثُمَّ
قَالَ فِي آخِرِهِ: وَلَا يَحْمِلَنَّكُمْ اسْتِبْطَاءُ شَيْءٍ مِنَ الرِّزْقِ
عَلَى أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى.
Kemudian beliau bersabda di bagian akhirnya: “Jangan sampai
keterlambatan suatu rezeki mendorong kalian mencarinya dengan maksiat kepada
Allah Ta‘ala.”
فَإِنَّ
اللَّهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ بِمَعْصِيَتِهِ.
Karena apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih dengan
maksiat kepada-Nya.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْأَسْوَاقُ مَوَائِدُ اللَّهِ تَعَالَى،
فَمَنْ أَتَاهَا أَصَابَ مِنْهَا.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Pasar-pasar adalah hidangan Allah Ta‘ala. Barang
siapa mendatanginya, ia akan memperoleh bagian darinya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ
فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا أَعْطَاهُ اللَّهُ
مِنْ فَضْلِهِ فَيَسْأَلَهُ، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mengambil talinya
lalu mencari kayu bakar di punggungnya, itu lebih baik baginya daripada
mendatangi seorang lelaki yang Allah telah memberi karunia kepadanya lalu ia
meminta kepadanya, baik diberi maupun tidak.”
وَقَالَ:
مَنْ فَتَحَ عَلَى نَفْسِهِ بَابًا مِنَ السُّؤَالِ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ
سَبْعِينَ بَابًا مِنَ الْفَقْرِ.
Beliau juga bersabda: “Barang siapa membuka untuk dirinya
satu pintu meminta-minta, Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu
kemiskinan.”
وَأَمَّا
الْآثَارُ فَقَدْ قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، اسْتَغْنِ
بِالْكَسْبِ الْحَلَالِ عَنِ الْفَقْرِ.
Adapun atsar, Luqman al-Hakim berkata kepada putranya:
“Wahai anakku, cukupkan dirimu dengan penghasilan yang halal dari kemiskinan.”
فَإِنَّهُ
مَا افْتَقَرَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا أَصَابَهُ ثَلَاثُ خِصَالٍ.
Karena tidak ada seorang pun yang jatuh miskin kecuali
terkena tiga perkara.
رِقَّةٌ
فِي دِينِهِ، وَضَعْفٌ فِي عَقْلِهِ، وَذَهَابُ مُرُوءَتِهِ.
Yaitu kelemahan dalam agamanya, kelemahan dalam akalnya, dan
hilangnya harga dirinya.
وَأَعْظَمُ
مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثِ اسْتِخْفَافُ النَّاسِ بِهِ.
Dan yang lebih besar dari ketiganya adalah meremehkan
dirinya di mata manusia.
وَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَا يَقْعُدُ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ،
يَقُولُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي.
Umar رضي
الله عنه berkata: “Janganlah salah seorang dari kalian duduk berpangku
tangan tidak mencari rezeki, lalu berkata: ‘Ya Allah, berilah aku rezeki.’”
فَقَدْ
عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً.
Kalian telah tahu bahwa langit tidak menurunkan emas dan
perak.
وَكَانَ
زَيْدُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَغْرِسُ فِي أَرْضِهِ.
Zaid bin Maslamah biasa menanam di tanahnya.
فَقَالَ
لَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَصَبْتَ.
Maka Umar رضي
الله عنه berkata kepadanya: “Engkau benar.”
اسْتَغْنِ
عَنِ النَّاسِ يَكُنْ أَصْوَنَ لِدِينِكَ وَأَكْرَمَ لَكَ عَلَيْهِمْ.
“Cukuplah dirimu dari manusia, itu lebih menjaga agamamu dan
lebih memuliakanmu di mata mereka.”
كَمَا
قَالَ صَاحِبُكُمْ أُحَيْحَةُ.
Sebagaimana dikatakan oleh sahabat kalian, Uhaihah.
فَلَنْ
أَزَالَ عَلَى الزَّوْرَاءِ أَغْمُرُهَا ... إِنَّ الْكَرِيمَ عَلَى الْإِخْوَانِ
ذُو الْمَالِ.
“Aku akan tetap berada di Zurra’ itu sambil mengelolanya...
sebab orang yang mulia di antara saudara-saudaranya ialah yang memiliki harta.”
وَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِّي لَأَكْرَهُ أَنْ أَرَى الرَّجُلَ
فَارِغًا.
Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه berkata: “Aku benar-benar tidak suka
melihat seseorang kosong dari aktivitas.”
لَا
فِي أَمْرِ دُنْيَاهُ وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَتِهِ.
Tidak sibuk dalam urusan dunia dan juga tidak sibuk dalam
urusan akhiratnya.
وَسُئِلَ
إِبْرَاهِيمُ عَنِ التَّاجِرِ الصَّدُوقِ، أَهُوَ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمِ
الْمُتَفَرِّغُ لِلْعِبَادَةِ؟
Ibrahim ditanya tentang pedagang yang jujur: apakah ia lebih
engkau cintai, atau orang yang sepenuhnya berkonsentrasi pada ibadah?
قَالَ:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ أَحَبُّ إِلَيَّ.
Ia menjawab: “Pedagang yang jujur lebih aku cintai.”
لِأَنَّهُ
فِي جِهَادٍ.
Karena ia berada dalam perjuangan.
يَأْتِيهِ
الشَّيْطَانُ مِنْ طَرِيقِ الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَمِنْ قِبَلِ الْأَخْذِ
وَالْعَطَاءِ، فَيُجَاهِدُهُ.
Setan datang kepadanya melalui timbangan dan takaran, serta
lewat menerima dan memberi, lalu ia memeranginya.
وَخَالَفَهُ
الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ فِي هَذَا.
Namun al-Hasan al-Bashri berbeda pendapat dengannya dalam
hal ini.
وَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا مِنْ مَوْضِعٍ يَأْتِينِي الْمَوْتُ فِيهِ
أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ مَوْطِنٍ أَتَسَوَّقُ فِيهِ لِأَهْلِي، أَبِيعُ وَأَشْتَرِي.
Umar رضي
الله عنه berkata: “Tidak ada tempat yang jika kematian datang kepadaku
di sana lebih aku sukai daripada tempat aku berbelanja untuk keluargaku, sambil
menjual dan membeli.”
وَقَالَ
الْهَيْثَمُ: رُبَّمَا يَبْلُغُنِي عَنِ الرَّجُلِ يَقَعُ فِيَّ، فَأَذْكُرُ
اسْتِغْنَائِي عَنْهُ، فَيَهُونُ ذَلِكَ عَلَيَّ.
Al-Haytham berkata: “Kadang-kadang ada kabar kepadaku bahwa
seseorang mencelaku, lalu aku teringat bahwa aku tidak membutuhkan dirinya,
maka hal itu menjadi ringan bagiku.”
وَقَالَ
أَيُّوبُ: كَسْبٌ فِيهِ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ سُؤَالِ النَّاسِ.
Ayyub berkata: “Penghasilan yang ada sesuatu di dalamnya
lebih aku sukai daripada meminta kepada manusia.”
وَجَاءَتْ
رِيحٌ عَاصِفَةٌ فِي الْبَحْرِ.
Suatu angin kencang datang menerpa di laut.
فَقَالَ
أَهْلُ السَّفِينَةِ لِإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَكَانَ
مَعَهُمْ فِيهَا: أَمَا تَرَى هَذِهِ الشِّدَّةَ؟
Maka para penumpang kapal berkata kepada Ibrahim bin Adham رحمه الله,
yang bersama mereka di kapal: “Tidakkah engkau melihat beratnya keadaan ini?”
فَقَالَ:
مَا هَذِهِ الشِّدَّةُ، وَإِنَّمَا الشِّدَّةُ الْحَاجَةُ إِلَى النَّاسِ.
Ia menjawab: “Ini bukan kesulitan. Kesulitan yang sebenarnya
adalah membutuhkan manusia.”
وَقَالَ
أَيُّوبُ: قَالَ لِي أَبُو قَلَابَةَ: الْزَمِ السُّوقَ، فَإِنَّ الْغِنَى مِنَ
الْعَافِيَةِ.
Ayyub berkata: “Abu Qilabah berkata kepadaku: tetaplah di
pasar, karena kekayaan itu bagian dari keselamatan.”
يَعْنِي
الْغِنَى عَنِ النَّاسِ.
Maksudnya, kaya dan tidak bergantung kepada manusia.
وَقِيلَ
لِأَحْمَدَ: مَا تَقُولُ فِي مَنْ جَلَسَ فِي بَيْتِهِ أَوْ مَسْجِدِهِ، وَقَالَ:
لَا أَعْمَلُ شَيْئًا حَتَّى يَأْتِيَنِي رِزْقِي؟
Dikatakan kepada Ahmad: “Apa pendapatmu tentang orang yang
duduk di rumahnya atau di masjidnya, lalu berkata: aku tidak akan melakukan
apa-apa sampai rezekiku datang kepadaku?”
فَقَالَ
أَحْمَدُ: هَذَا رَجُلٌ جَهِلَ الْعِلْمَ.
Ahmad menjawab: “Orang ini tidak memahami ilmu.”
أَمَا
سَمِعَ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ
جَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي.
Tidakkah ia mendengar sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Sesungguhnya Allah
telah menjadikan rezekiku di bawah bayang-bayang tombakku.”
وَقَوْلَهُ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ ذَكَرَ الطَّيْرَ: تَغْدُو خِمَاصًا
وَتَرُوحُ بِطَانًا.
Dan sabdanya ketika menyebut burung: “Ia pergi pagi dalam
keadaan lapar, lalu pulang sore dalam keadaan kenyang.”
فَذَكَرَ
أَنَّهَا تَغْدُو فِي طَلَبِ الرِّزْقِ.
Beliau menyebut bahwa burung itu pergi pagi untuk mencari
rezeki.
وَكَانَ
أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَّجِرُونَ فِي
الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَيَعْمَلُونَ فِي نَخِيلِهِمْ، وَالْقُدْوَةُ بِهِمْ.
Para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun berdagang di
darat dan di laut, serta bekerja di kebun kurma mereka. Mereka adalah teladan.
وَقَالَ
أَبُو قَلَابَةَ لِرَجُلٍ: لَأَنْ أَرَاكَ تَطْلُبُ مَعَاشَكَ أَحَبُّ إِلَيَّ
مِنْ أَنْ أَرَاكَ فِي زَاوِيَةِ الْمَسْجِدِ.
Abu Qilabah berkata kepada seseorang: “Melihatmu mencari
nafkah itu lebih aku sukai daripada melihatmu duduk di sudut masjid.”
وَرُوِيَ
أَنَّ الْأَوْزَاعِيَّ لَقِيَ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ وَعَلَى عُنُقِهِ
حُزْمَةُ حَطَبٍ.
Diriwayatkan bahwa al-Awza‘i bertemu Ibrahim bin Adham,
sementara di lehernya ada ikatan kayu bakar.
فَقَالَ
لَهُ: يَا أَبَا إِسْحَاقَ، إِلَى مَتَى هَذَا؟ إِخْوَانُكَ يَكْفُونَكَ.
Ia berkata kepadanya: “Wahai Abu Ishaq, sampai kapan ini?
Saudara-saudaramu bisa mencukupimu.”
فَقَالَ:
دَعْنِي عَنْ هَذَا يَا أَبَا عَمْرٍو.
Ia menjawab: “Biarkan aku dengan ini, wahai Abu ‘Amr.”
فَإِنَّهُ
بَلَغَنِي أَنَّهُ مَنْ وَقَفَ مَوْقِفَ مَذَلَّةٍ فِي طَلَبِ الْحَلَالِ وَجَبَتْ
لَهُ الْجَنَّةُ.
Karena telah sampai kepadaku bahwa siapa pun yang berdiri
dalam posisi hina demi mencari yang halal, surga wajib baginya.
وَقَالَ
أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ: لَيْسَتِ الْعِبَادَةُ عِنْدَنَا أَنْ تُصَفَّ
قَدَمَاكَ وَغَيْرُكَ يَقُوتُ لَكَ، وَلَكِنِ ابْدَأْ بِرَغِيفَيْكَ
فَأَحْرِزْهُمَا ثُمَّ تَعَبَّدْ.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Bukan ibadah menurut kami
jika engkau merapatkan kedua kakimu sementara orang lain menafkahimu. Mulailah
dengan dua potong rotimu, amankan keduanya, lalu beribadahlah.”
وَقَالَ
مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: يُنَادِي مُنَادٍ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ: أَيْنَ بُغَضَاءُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ؟
Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه berkata: “Akan ada penyeru pada hari
kiamat yang berseru: di manakah orang-orang yang dibenci Allah di bumi-Nya?”
فَيَقُومُ
سُؤَّالُ الْمَسَاجِدِ.
Maka bangkitlah para peminta-minta di masjid-masjid.
فَهَذِهِ
مَذَمَّةُ الشَّرْعِ لِلسُّؤَالِ وَالِاتِّكَالِ عَلَى كِفَايَةِ الْأَغْيَارِ.
Inilah celaan syariat terhadap meminta-minta dan bergantung
pada kecukupan orang lain.
وَمَنْ
لَيْسَ لَهُ مَالٌ مَوْرُوثٌ فَلَا يُنْجِيهِ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا الْكَسْبُ
وَالتِّجَارَةُ.
Siapa yang tidak memiliki harta warisan, maka yang
menyelamatkannya dari keadaan itu hanyalah usaha dan perdagangan.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أُوحِيَ إِلَيَّ
أَنْ أَجْمَعَ الْمَالَ وَكُنْ مِنَ التُّجَّارِ.
Jika engkau berkata: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak
diwahyukan kepadaku untuk mengumpulkan harta dan menjadi bagian dari para
pedagang.”
وَلَكِنْ
أُوحِيَ إِلَيَّ أَنْ سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ.
“Namun diwahyukan kepadaku: bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu, jadilah termasuk orang-orang yang sujud, dan sembahlah Tuhanmu sampai
datang keyakinan kepadamu.”
وَقِيلَ
لِسَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ: أَوْصِنَا.
Dan dikatakan kepada Salman al-Farisi: “Berilah kami
wasiat.”
فَقَالَ:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ حَاجًّا أَوْ غَازِيًا أَوْ عَامِرًا
لِمَسْجِدِ رَبِّهِ فَلْيَفْعَلْ.
Ia berkata: “Barang siapa di antara kalian mampu mati dalam
keadaan berhaji, berjihad, atau memakmurkan masjid Tuhannya, maka lakukanlah.”
وَلَا
يَمُوتَنَّ تَاجِرًا وَلَا خَائِنًا.
“Janganlah ia mati dalam keadaan sebagai pedagang atau
sebagai pengkhianat.”
فَالْجَوَابُ
أَنَّ وَجْهَ الْجَمْعِ بَيْنَ هَذِهِ الْأَخْبَارِ تَفْصِيلُ الْأَحْوَالِ.
Jawabannya ialah bahwa cara menggabungkan semua riwayat ini
adalah dengan merinci keadaan-keadaannya.
فَنَقُولُ:
لَسْنَا نَقُولُ إِنَّ التِّجَارَةَ أَفْضَلُ مُطْلَقًا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ.
Maka kami katakan: kami tidak mengatakan bahwa perdagangan
itu secara mutlak lebih utama daripada segala sesuatu.
وَلَكِنَّ
التِّجَارَةَ إِمَّا أَنْ تُطْلَبَ بِهَا الْكِفَايَةُ، أَوِ الثَّرْوَةُ، أَوِ
الزِّيَادَةُ عَلَى الْكِفَايَةِ.
Akan tetapi perdagangan itu bisa dimaksudkan untuk
kecukupan, atau untuk kekayaan, atau untuk kelebihan di atas kecukupan.
فَإِنْ
طُلِبَ مِنْهَا الزِّيَادَةُ عَلَى الْكِفَايَةِ لِاسْتِكْثَارِ الْمَالِ
وَادِّخَارِهِ، لَا لِيُصْرَفَ إِلَى الْخَيْرَاتِ وَالصَّدَقَاتِ، فَهِيَ
مَذْمُومَةٌ.
Jika yang dicari dari perdagangan adalah kelebihan di atas
kebutuhan demi memperbanyak harta dan menimbunnya, bukan untuk disalurkan
kepada kebaikan dan sedekah, maka itu tercela.
لِأَنَّهَا
إِقْبَالٌ عَلَى الدُّنْيَا الَّتِي حُبُّهَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ.
Karena itu adalah condong kepada dunia, sementara cinta
dunia adalah pangkal setiap kesalahan.
فَإِنْ
كَانَ مَعَ ذَلِكَ ظَالِمًا خَائِنًا فَهُوَ ظُلْمٌ وَفِسْقٌ.
Jika selain itu ia juga zalim dan khianat, maka hal itu
adalah kezaliman dan kefasikan.
وَهَذَا
مَا أَرَادَهُ سَلْمَانُ بِقَوْلِهِ: لَا تَمُتْ تَاجِرًا وَلَا خَائِنًا.
Inilah yang dimaksud Salman dengan ucapannya: “Jangan mati
sebagai pedagang dan jangan mati sebagai pengkhianat.”
وَأَرَادَ
بِالتَّاجِرِ طَالِبَ الزِّيَادَةِ.
Dan yang beliau maksud dengan pedagang adalah orang yang
mencari kelebihan harta.
فَأَمَّا
إِذَا طَلَبَ بِهَا الْكِفَايَةَ لِنَفْسِهِ وَأَوْلَادِهِ، وَكَانَ يَقْدِرُ
عَلَى كِفَايَتِهِمْ بِالسُّؤَالِ، فَالتِّجَارَةُ تَعَفُّفًا عَنِ السُّؤَالِ
أَفْضَلُ.
Adapun jika ia mencari kecukupan untuk dirinya dan
anak-anaknya, dan sebenarnya ia pun mampu mencukupi mereka dengan
meminta-minta, maka berdagang demi menjaga diri dari meminta itu lebih utama.
وَإِنْ
كَانَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى السُّؤَالِ، وَكَانَ يُعْطَى عَنْ غَيْرِ سُؤَالٍ،
فَالْكَسْبُ أَفْضَلُ.
Jika ia tidak membutuhkan meminta-minta dan tetap diberi
tanpa memintanya, maka bekerja lebih utama.
لِأَنَّهُ
إِنَّمَا يُعْطَى لِأَنَّهُ سَائِلٌ بِلِسَانِ حَالِهِ.
Karena sesungguhnya ia diberi karena keadaan dirinya
menunjukkan bahwa ia membutuhkan.
وَمُنَادٍ
بَيْنَ النَّاسِ بِفَقْرِهِ.
Dan seolah-olah ia menyeru di hadapan manusia tentang
kemiskinannya.
فَالتَّعَفُّفُ
وَالتَّسَتُّرُ أَوْفَى مِنَ الْبَطَالَةِ.
Maka menjaga diri dan menutupi keadaan jauh lebih baik
daripada bermalas-malasan.
بَلْ
مِنَ الِاشْتِغَالِ بِالْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ.
Bahkan lebih baik daripada sibuk dengan ibadah-ibadah
badani.
وَتَرْكُ
الْكَسْبِ أَفْضَلُ لِأَرْبَعَةٍ.
Dan meninggalkan usaha lebih utama bagi empat golongan.
عَابِدٍ
بِالْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ.
Pertama, orang yang sibuk dengan ibadah-ibadah jasmani.
أَوْ
رَجُلٍ لَهُ سَيْرٌ بِالْبَاطِنِ وَعَمَلٌ بِالْقَلْبِ فِي عُلُومِ الْأَحْوَالِ
وَالْمُكَاشَفَاتِ.
Atau orang yang memiliki perjalanan batin dan amal hati
dalam ilmu-ilmu keadaan ruhani dan penyingkapan.
أَوْ
عَالِمٍ مُشْتَغِلٍ بِتَرْبِيَةِ عِلْمِ الظَّاهِرِ مِمَّا يَنْتَفِعُ النَّاسُ
بِهِ فِي دِينِهِمْ، كَالْمُفْتِي وَالْمُفَسِّرِ وَالْمُحَدِّثِ وَأَمْثَالِهِمْ.
Atau seorang alim yang sibuk mengembangkan ilmu lahir yang
bermanfaat bagi agama manusia, seperti mufti, mufasir, ahli hadis, dan semisal
mereka.
أَوْ
رَجُلٍ مُشْتَغِلٍ بِمَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ، وَقَدْ تَكَفَّلَ بِأُمُورِهِمْ،
كَالسُّلْطَانِ وَالْقَاضِي وَالشَّاهِدِ.
Atau orang yang sibuk mengurus kemaslahatan kaum Muslimin,
dan telah memikul urusan mereka, seperti penguasa, hakim, dan saksi.
فَهَؤُلَاءِ
إِذَا كَانُوا يُكْفَوْنَ مِنَ الْأَمْوَالِ الْمُرْصَدَةِ لِلْمَصَالِحِ أَوِ
الْأَوْقَافِ الْمُسَبَّلَةِ عَلَى الْفُقَرَاءِ أَوِ الْعُلَمَاءِ.
Mereka ini, jika telah dicukupi dari harta yang diwakafkan
untuk kepentingan umum atau dari wakaf yang diperuntukkan bagi orang-orang
miskin atau para ulama.
فَإِقْبَالُهُمْ
عَلَى مَا هُمْ فِيهِ أَفْضَلُ مِنِ اشْتِغَالِهِمْ بِالْكَسْبِ.
Maka berkonsentrasi pada tugas mereka jauh lebih utama
daripada menyibukkan diri dengan mencari nafkah.
وَلِهَذَا
أُوحِيَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَبِّحْ
بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ.
Karena itu diwahyukan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah termasuk orang-orang yang
sujud.”
وَلَمْ
يُوحَ إِلَيْهِ أَنْ كُنْ مِنَ التُّجَّارِ.
Dan tidak diwahyukan kepadanya: “Jadilah engkau termasuk
para pedagang.”
لِأَنَّهُ
كَانَ جَامِعًا لِهَذِهِ الْمَعَانِي الْأَرْبَعَةِ إِلَى زِيَادَاتٍ لَا يُحِيطُ
بِهَا الْوَصْفُ.
Karena beliau menghimpun empat makna itu, ditambah
kelebihan-kelebihan lain yang tidak dapat diliputi oleh ungkapan.
وَلِهَذَا
أَشَارَ الصَّحَابَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِتَرْكِ
التِّجَارَةِ لَمَّا وَلِيَ الْخِلَافَةَ.
Karena itu para sahabat memberi isyarat kepada Abu Bakar رضي الله عنهم
agar meninggalkan perdagangan ketika beliau memegang kekhalifahan.
إِذْ
كَانَ ذَلِكَ يَشْغَلُهُ عَنِ الْمَصَالِحِ.
Karena hal itu akan menyibukkannya dari urusan-urusan
publik.
وَكَانَ
يَأْخُذُ كِفَايَتَهُ مِنْ مَالِ الْمَصَالِحِ.
Dan beliau mengambil kebutuhan hidupnya dari harta
kepentingan umum.
وَرَأَى
ذَلِكَ أَوْلَى.
Dan beliau memandang hal itu lebih utama.
ثُمَّ
لَمَّا تُوُفِّيَ أَوْصَى بِرَدِّهِ إِلَى بَيْتِ الْمَالِ.
Kemudian ketika beliau wafat, beliau berwasiat agar
dikembalikan ke بيت
المال.
وَلَكِنَّهُ
رَآهُ فِي الِابْتِدَاءِ أَوْلَى.
Akan tetapi, pada awalnya beliau memandangnya lebih utama.
وَلِهَؤُلَاءِ
الْأَرْبَعَةِ حَالَتَانِ أُخْرَيَانِ.
Dan bagi keempat golongan itu ada dua keadaan lain.
إِحْدَاهُمَا
أَنْ تَكُونَ كِفَايَتُهُمْ عِنْدَ تَرْكِ الْمَكْسَبِ مِنْ أَيْدِي النَّاسِ.
Pertama, kebutuhan mereka ketika meninggalkan usaha dicukupi
oleh tangan-tangan manusia.
وَمَا
يَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَيْهِمْ مِنْ زَكَاةٍ أَوْ صَدَقَةٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ
إِلَى سُؤَالٍ.
Atau dari zakat dan sedekah yang diberikan kepada mereka,
tanpa perlu meminta-minta.
فَتَرْكُ
الْكَسْبِ وَالِاشْتِغَالُ بِمَا هُمْ فِيهِ أَوْلَى.
Maka meninggalkan usaha dan fokus pada pekerjaan mereka
lebih utama.
إِذْ
فِيهِ إِعَانَةُ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرَاتِ.
Karena di dalamnya ada bantuan kepada orang-orang lain dalam
kebaikan.
وَقَبُولٌ
مِنْهُمْ لِمَا هُوَ حَقٌّ عَلَيْهِمْ وَأَفْضَلُ لَهُمْ.
Dan ada penerimaan dari mereka terhadap sesuatu yang memang
menjadi kewajiban dan lebih baik bagi mereka.
وَالْحَالَةُ
الثَّانِيَةُ: الْحَاجَةُ إِلَى السُّؤَالِ.
Keadaan kedua ialah ketika mereka memang membutuhkan untuk
meminta-minta.
وَهَذَا
فِي مَحَلِّ النَّظَرِ.
Hal ini berada dalam wilayah pertimbangan.
وَالتَّشْدِيدَاتُ
الَّتِي رَوَيْنَاهَا فِي السُّؤَالِ وَذَمِّهِ تَدُلُّ ظَاهِرًا عَلَى أَنَّ
التَّعَفُّفَ عَنِ السُّؤَالِ أَوْلَى.
Larangan keras yang kami riwayatkan tentang meminta-minta
dan celaannya menunjukkan secara lahir bahwa menjaga diri dari meminta-minta
lebih utama.
وَإِطْلَاقُ
الْقَوْلِ فِيهِ مِنْ غَيْرِ مُلَاحَظَةِ الْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ عَسِيرٌ.
Memberi hukum mutlak dalam masalah ini tanpa memperhatikan
keadaan dan orangnya adalah hal yang sulit.
بَلْ
هُوَ مَوْكُولٌ إِلَى اجْتِهَادِ الْعَبْدِ وَنَظَرِهِ لِنَفْسِهِ.
Bahkan hal itu diserahkan kepada ijtihad hamba dan
pertimbangannya terhadap dirinya sendiri.
بِأَنْ
يُقَابِلَ مَا يُلْقِي فِي السُّؤَالِ مِنَ الذِّلَّةِ وَهَتْكِ الْمُرُوءَةِ
وَالْحَاجَةِ إِلَى التَّثْقِيلِ وَالْإِلْحَاحِ.
Yakni dengan menimbang apa yang timbul dari meminta-minta
berupa kehinaan, hilangnya harga diri, dan kebutuhan untuk terus membebani
serta mendesak.
بِمَا
يَحْصُلُ مِنْ اشْتِغَالِهِ بِالْعِلْمِ أَوِ الْعَمَلِ مِنَ الْفَائِدَةِ لَهُ
وَلِغَيْرِهِ.
Dibandingkan dengan manfaat yang ia peroleh bagi dirinya dan
orang lain dari kesibukannya dalam ilmu atau amal.
فَرُبَّ
شَخْصٍ تَكْثُرُ فَائِدَةُ الْخَلْقِ وَفَائِدَتُهُ فِي اشْتِغَالِهِ بِالْعِلْمِ
أَوِ الْعَمَلِ.
Bisa jadi ada seseorang yang manfaatnya bagi manusia dan
manfaat pribadinya lebih besar jika ia sibuk dengan ilmu atau amal.
وَيَهُونُ
عَلَيْهِ بِأَدْنَى تَعْرِيضٍ فِي السُّؤَالِ تَحْصِيلُ الْكِفَايَةِ.
Sedangkan baginya, memperoleh kecukupan dengan sedikit saja
isyarat untuk meminta itu menjadi mudah.
وَرُبَّمَا
يَكُونُ بِالْعَكْسِ.
Dan bisa jadi keadaannya justru sebaliknya.
وَرُبَّمَا
يَتَقَابَلُ الْمَطْلُوبُ وَالْمَحْذُورُ.
Bisa juga antara yang dicari dan yang dihindari saling
berimbang.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَسْتَفْتِيَ الْمُرِيدُ فِيهِ قَلْبَهُ وَإِنْ أَفْتَاهُ الْمُفْتُونَ.
Maka orang yang hendak menempuhnya hendaklah meminta fatwa
kepada hatinya, meskipun para pemberi fatwa telah memberinya pendapat.
فَإِنَّ
الْفَتَاوَى لَا تُحِيطُ بِتَفَاصِيلِ الصُّوَرِ وَدَقَائِقِ الْأَحْوَالِ.
Karena fatwa tidak mampu mencakup rincian bentuk-bentuk dan
hal-hal yang sangat halus dari keadaan.
وَلَقَدْ
كَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ لَهُ ثَلْثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ صَدِيقًا.
Dan sesungguhnya di kalangan salaf ada orang yang memiliki
tiga ratus enam puluh sahabat.
يَنْزِلُ
عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَيْلَةً.
Ia tinggal di rumah masing-masing mereka satu malam.
وَمِنْهُمْ
مَنْ لَهُ ثَلَاثُونَ.
Dan di antara mereka ada yang hanya memiliki tiga puluh
sahabat.
وَكَانُوا
يَشْتَغِلُونَ بِالْعِبَادَةِ.
Mereka sibuk beribadah.
لِعِلْمِهِمْ
أَنَّ الْمُتَكَلِّفِينَ بِهِمْ يَتَقَلَّدُونَ مِنَّةً مِنْ قَبُولِهِمْ
لِمَبَرَّاتِهِمْ.
Karena mereka tahu bahwa orang-orang yang menanggung mereka
mendapatkan kebanggaan karena menerima kebaikan mereka.
فَكَانَ
قَبُولُهُمْ لِمَبَرَّاتِهِمْ خَيْرًا مُضَافًا لَهُمْ إِلَى عِبَادَاتِهِمْ.
Maka menerima kebaikan dari mereka menjadi tambahan kebaikan
bagi mereka, di samping ibadah-ibadah mereka.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يُدَقَّقَ النَّظَرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ.
Karena itu, perlu meneliti perkara-perkara ini dengan sangat
cermat.
فَإِنَّ
أَجْرَ الْآخِذِ كَأَجْرِ الْمُعْطِي مَهْمَا كَانَ الْآخِذُ يَسْتَعِينُ بِهِ
عَلَى الدِّينِ، وَالْمُعْطِي يُعْطِيهِ عَنْ طِيبِ قَلْبٍ.
Karena pahala orang yang menerima bisa seperti pahala orang
yang memberi, selama yang menerima itu memakainya untuk menolong agama, dan
yang memberi memberikannya dengan rela hati.
وَمَنْ
اطَّلَعَ عَلَى هَذِهِ الْمَعَانِي أَمْكَنَهُ أَنْ يَتَعَرَّفَ حَالَ نَفْسِهِ.
Siapa yang memahami makna-makna ini akan mampu mengenali
keadaan dirinya sendiri.
وَيَسْتَوْضِحَ
مِنْ قَلْبِهِ مَا هُوَ الْأَفْضَلُ لَهُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى حَالِهِ وَوَقْتِهِ.
Dan meminta kejelasan dari hatinya tentang apa yang lebih
utama baginya, sesuai dengan keadaan dan waktunya.
فَهَذِهِ
فَضِيلَةُ الْكَسْبِ.
Inilah keutamaan mencari nafkah.
وَلْيَكُنِ
الْعَقْدُ الَّذِي بِهِ الِاكْتِسَابُ جَامِعًا لِأَرْبَعَةِ أُمُورٍ.
Hendaklah akad yang menjadi jalan mencari penghasilan itu
mencakup empat perkara.
الصِّحَّةِ
وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى الدِّينِ.
Yaitu sah, adil, baik, dan penuh kasih sayang terhadap
agama.
وَنَحْنُ
نَعْقِدُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ بَابًا.
Kami akan membahas masing-masingnya dalam satu bab.
وَنَبْتَدِئُ
بِذِكْرِ أَسْبَابِ الصِّحَّةِ فِي الْبَابِ الثَّانِي.
Dan kami akan memulai dengan menyebut sebab-sebab sahnya
transaksi pada bab kedua.