Beberapa Persoalan Yang Sering Dibutuhkan, Dan Telah Ditanyakan Dalam Fatwa-Fatwa

اَلْبَابُ السَّابِعُ فِي مَسَائِلَ مُتَفَرِّقَةٍ، يَكْثُرُ الِاحْتِيَاجُ إِلَيْهَا، وَقَدْ سُئِلَ عَنْهَا فِي الْفَتَاوَى.

Bab ketujuh ini membahas beberapa persoalan yang sering dibutuhkan, dan telah ditanyakan dalam fatwa-fatwa.

سُئِلَ عَنْ خَادِمِ الصُّوفِيَّةِ إِذَا خَرَجَ إِلَى السُّوقِ فَجَمَعَ طَعَامًا أَوْ نَقْدًا، ثُمَّ اشْتَرَى بِهِ طَعَامًا. فَمَنْ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ؟ وَهَلْ هُوَ لِلصُّوفِيَّةِ خَاصَّةً أَمْ لَا؟

Ada pertanyaan tentang pelayan para sufi yang pergi ke pasar, lalu mengumpulkan makanan atau uang, kemudian membelikan makanan darinya. Siapa yang boleh memakannya? Apakah hanya untuk para sufi atau tidak?

أَمَّا الصُّوفِيَّةُ فَلَا شُبْهَةَ فِي حَقِّهِمْ إِذَا أَكَلُوهُ. وَأَمَّا غَيْرُهُمْ فَيَحِلُّ لَهُمْ إِذَا أَكَلُوهُ بِرِضَا الْخَادِمِ، وَلَكِنَّهُ لَا يَخْلُو عَنْ شُبْهَةٍ.

Adapun para sufi, tidak ada keraguan bagi mereka jika memakannya. Adapun selain mereka, boleh memakannya jika dengan keridaan pelayan itu, tetapi tetap tidak lepas dari syubhat.

وَالْحِلُّ لِأَنَّ مَا يُعْطَى لِخَادِمِ الصُّوفِيَّةِ إِنَّمَا يُعْطَى بِسَبَبِهِمْ. وَلَهُ أَنْ يُطْعِمَ غَيْرَ عِيَالِهِ. وَيَبْعُدُ أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ لَمْ يَخْرُجْ عَنْ مِلْكِ الْمُعْطِي. وَالْخَادِمُ لَا يَمْلِكُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِيهِ كَمَا شَاءَ.

Kehalalannya karena apa yang diberikan kepada pelayan para sufi itu sebenarnya diberikan karena mereka. Ia juga boleh memberi makan orang di luar tanggungannya. Jauh untuk dikatakan bahwa barang itu belum keluar dari kepemilikan pemberi. Pelayan juga tidak bebas memperlakukannya sesuka hati.

فَلَا يَصِحُّ أَنْ يُجْعَلَ ذٰلِكَ مِلْكًا لِلصُّوفِيَّةِ الْحَاضِرِينَ فَقَطْ، وَلَا لِجِهَةِ التَّصَوُّفِ عَلَى وَجْهٍ يُخْرِجُ الْخَادِمَ عَنْ الْمِلْكِ. فَالْأَقْرَبُ أَنْ يُقَالَ: هُوَ مِلْكُهُ، وَلٰكِنَّهُ يُطْعِمُ مِنْهُ الصُّوفِيَّةَ وَفَاءً بِشَرْطِهِمْ وَمُرُوءَتِهِمْ.

Tidak tepat jika itu dianggap milik para sufi yang hadir saja, atau milik lembaga tasawuf dengan cara yang mengeluarkan pelayan dari hak miliknya. Yang lebih dekat adalah mengatakan bahwa itu tetap miliknya, tetapi ia memberi makan para sufi darinya sebagai pemenuhan syarat dan muru’ah mereka.

مَسْأَلَةٌ: سُئِلَ عَنْ مَالٍ أُوصِيَ بِهِ لِلصُّوفِيَّةِ، فَمَنْ يَجُوزُ أَنْ يُصْرَفَ إِلَيْهِ؟ فَقُلْتُ: التَّصَوُّفُ أَمْرٌ بَاطِنٌ، وَلَا يُعْرَفُ بِحَقِيقَتِهِ، فَيُرْجَعُ فِيهِ إِلَى الْعَلَامَاتِ الظَّاهِرَةِ الَّتِي يَعْرِفُهَا النَّاسُ.

Ada pertanyaan tentang harta yang diwasiatkan untuk para sufi, kepada siapa boleh disalurkan. Aku katakan: tasawuf adalah perkara batin. Hakikatnya tidak bisa diketahui langsung, maka yang dipakai adalah tanda-tanda lahiriah yang dikenal masyarakat.

وَالْجَامِعُ فِيهِ خَمْسُ خِصَالٍ: الصَّلَاحُ، وَالْفَقْرُ، وَزِيُّ الصُّوفِيَّةِ، وَتَرْكُ الْحِرْفَةِ، وَالْمُسَاكَنَةُ لَهُمْ فِي الْخَانْقَاهِ. فَمَنْ ظَهَرَ فِسْقُهُ لَا يَسْتَحِقُّ، وَنَحْنُ لَا نَعْتَبِرُ الصَّغَائِرَ. وَمَنْ تَشَاغَلَ بِكَسْبٍ وَحِرْفَةٍ لَا يَسْتَحِقُّ، إِلَّا فِي أَعْمَالٍ خَفِيفَةٍ تَلِيقُ بِالصُّوفِيَّةِ، كَالْوَرَّاقَةِ وَالْخِيَاطَةِ إِذَا لَمْ تَكُنْ عَلَى وَجْهِ الْاكْتِسَابِ. وَالْقُدْرَةُ عَلَى الْحِرْفَةِ مِنْ غَيْرِ مُبَاشَرَةٍ لَا تَمْنَعُ.

Patokannya ada lima: saleh, fakir, berpakaian seperti sufi, tidak punya pekerjaan tetap, dan tinggal bersama mereka di khankah. Orang yang tampak fasik tidak berhak, tetapi dosa kecil tidak dihitung. Orang yang sibuk mencari nafkah dan berprofesi tidak berhak, kecuali dalam pekerjaan ringan yang masih cocok untuk sufi, seperti menyalin kitab atau menjahit, selama bukan untuk mencari untung. Sekadar mampu melakukan suatu keahlian tanpa mempraktikkannya tidak menghalangi.

وَالْوَعْظُ وَالتَّدْرِيسُ لَا يُنَافِي اسْمَ التَّصَوُّفِ إِذَا وُجِدَتِ الْبَقِيَّةُ مِنَ الزِّيِّ وَالْمُسَاكَنَةِ وَالْفَقْرِ. وَأَمَّا الْفَقْرُ، فَإِنْ زَالَ بِغِنًى ظَاهِرٍ لَا يَجُوزُ أَخْذُ وَصِيَّةِ الصُّوفِيَّةِ. وَإِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ لَا يَكْفِي نَفَقَتَهُ، فَلَا يَبْطُلُ حَقُّهُ. وَهٰذِهِ أُمُورٌ يُرْجَعُ فِيهَا إِلَى الْعَادَةِ.

Mengajar dan memberi nasihat tidak menafikan nama sufi jika masih ada pakaian, tinggal bersama, dan kefakiran. Adapun kefakiran, jika sudah hilang karena kekayaan yang tampak, ia tidak boleh mengambil wasiat para sufi. Tetapi jika ia punya harta yang tidak cukup untuk kebutuhan hidupnya, haknya tidak gugur. Ini semua kembali kepada kebiasaan masyarakat.

وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ وَالْمُسَاكَنَةُ فَلَهُمَا أَثَرٌ. وَمَنْ كَانَ فِي بَيْتِهِ أَوْ فِي مَسْجِدِهِ عَلَى زِيِّهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ فَهُوَ كَالشَّرِيكِ لَهُمْ. وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى زِيِّهِمْ، وَلٰكِنَّهُ سَاكَنَهُمْ فِي الرِّبَاطِ، سَرَى عَلَيْهِ حُكْمُهُمْ بِالتَّبَعِيَّةِ. وَأَمَّا الْمُرَقَّعَةُ مِنْ يَدِ شَيْخٍ فَلَيْسَتْ شَرْطًا، وَكَذٰلِكَ الْمُتَأَهِّلُ الَّذِي يَتَرَدَّدُ بَيْنَ الرِّبَاطِ وَبَيْتِهِ لَا يَخْرُجُ بِذٰلِكَ عَنْ جُمْلَتِهِمْ.

Bergaul dan tinggal bersama mereka punya pengaruh. Orang yang tinggal di rumahnya atau di masjid dengan pakaian dan akhlak seperti mereka, dihitung seperti bagian dari mereka. Jika tidak memakai pakaian mereka tetapi tinggal bersama mereka di ribat, hukum mereka bisa berlaku padanya karena mengikuti. Adapun jubah tambalan dari tangan seorang syekh bukan syarat. Orang yang sudah berkeluarga dan bolak-balik antara ribat dan rumahnya juga tidak keluar dari kelompok mereka.

مَسْأَلَةٌ: مَا وُقِفَ عَلَى رِبَاطِ الصُّوفِيَّةِ وَسُكَّانِهِ أَوْسَعُ مِمَّا أُوصِيَ بِهِ لَهُمْ، لِأَنَّ مَعْنَى الْوَقْفِ الصَّرْفُ إِلَى مَصَالِحِهِمْ. فَلِغَيْرِ الصُّوفِيِّ أَنْ يَأْكُلَ مَعَهُمْ أَحْيَانًا بِرِضَاهُمْ. وَكَذٰلِكَ الْقَوَّالُ وَمَنْ دَعَوْهُمْ مِنَ الْعُمَّالِ وَالتُّجَّارِ وَالْقُضَاةِ وَالْفُقَهَاءِ، إِنْ كَانَ لَهُمْ غَرَضٌ فِي اسْتِمَالَةِ قُلُوبِهِمْ.

Apa yang diwakafkan untuk ribat para sufi dan penghuninya lebih luas daripada wasiat untuk mereka, karena wakaf dipakai untuk kemaslahatan mereka. Karena itu, orang yang bukan sufi boleh makan bersama mereka sesekali dengan kerelaan mereka. Demikian juga qawwal, dan orang-orang yang mereka undang dari kalangan pekerja, pedagang, hakim, dan faqih, bila ada tujuan untuk melunakkan hati mereka.

وَلٰكِنْ لَا يَجُوزُ لِغَيْرِ الصُّوفِيِّ أَنْ يُقِيمَ مَعَهُمْ دَائِمًا وَيَأْكُلَ مَعَهُمْ عَلَى الدَّوَامِ، إِذْ لَيْسَ لَهُمْ أَنْ يُغَيِّرُوا شَرْطَ الْوَاقِفِ. وَأَمَّا الْفَقِيهُ إِذَا كَانَ عَلَى زِيِّهِمْ وَأَخْلَاقِهِمْ فَلَهُ أَنْ يَنْزِلَ عَلَيْهِمْ، وَكَوْنُهُ فَقِيهًا لَا يَمْنَعُ كَوْنَهُ صُوفِيًّا.

Tetapi orang yang bukan sufi tidak boleh tinggal bersama mereka terus-menerus dan makan bersama mereka setiap waktu, karena mereka tidak boleh mengubah syarat wakif. Adapun faqih yang memakai pakaian dan berakhlak seperti mereka, ia boleh tinggal bersama mereka. Menjadi faqih tidak menghalangi seseorang menjadi sufi.

وَالْجَهْلُ لَيْسَ شَرْطًا فِي التَّصَوُّفِ. فَإِنْ كَانَ الْفَقِيهُ لَيْسَ عَلَى زِيِّهِمْ فَلَهُمْ مَنْعُهُ، وَإِنْ رَضُوا بِهِ فَيَحِلُّ لَهُ الْأَكْلُ مَعَهُمْ بِالتَّبَعِيَّةِ. وَهٰذِهِ الْأُمُورُ تَدُلُّ عَلَيْهَا الْعَادَاتُ، فَمَنْ احْتَرَزَ فِي مَوَاضِعِ الشُّبْهَةِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ.

Kebodohan bukan syarat tasawuf. Jika faqih itu tidak berpakaian seperti mereka, mereka boleh melarangnya. Jika mereka meridhainya, ia boleh makan bersama mereka karena ikut mereka. Hal-hal ini diketahui lewat adat. Siapa yang berhati-hati dalam perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agamanya.

سُئِلَ عَنْ الْفَرْقِ بَيْنَ الرِّشْوَةِ وَالْهَدِيَّةِ، وَكِلاَهُمَا يُعْطَى عَنْ رِضًا وَغَرَضٍ، وَلٰكِنْ حُرِّمَتِ الرِّشْوَةُ وَأُبِيحَتِ الْهَدِيَّةُ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ.

Ada pertanyaan tentang perbedaan suap dan hadiah. Keduanya sama-sama diberikan dengan kerelaan dan tujuan tertentu, tetapi suap diharamkan, sedangkan hadiah dibolehkan dalam sebagian keadaan.

فَقُلْتُ: لَا يَبْذُلُ الْإِنْسَانُ مَالَهُ إِلَّا لِغَرَضٍ. وَالْغَرَضُ إِمَّا أُخْرَوِيٌّ كَالثَّوَابِ، وَإِمَّا دُنْيَوِيٌّ. وَالدُّنْيَوِيُّ إِمَّا مَالٌ، أَوْ فِعْلٌ، أَوْ مُعَاوَنَةٌ عَلَى مَقْصُودٍ، أَوْ تَوَدُّدٌ وَاسْتِئْنَاسٌ. فَالْأَقْسَامُ خَمْسَةٌ.

Aku katakan: manusia tidak mengeluarkan hartanya kecuali untuk suatu tujuan. Tujuan itu bisa akhirat, seperti pahala, atau dunia. Tujuan dunia bisa berupa harta, tindakan tertentu, bantuan pada maksud tertentu, atau mencari kasih sayang dan keakraban. Maka ada lima bagian.

أَوَّلُهَا: مَا كَانَ لِلثَّوَابِ فِي الْآخِرَةِ. فَإِنْ أُعْطِيَ لِحَاجَتِهِ، أَوْ لِعِلْمِهِ، أَوْ لِنَسَبِهِ، أَوْ لِصَلَاحِهِ، فَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَأْخُذَهُ إِنْ كَانَ لَيْسَ كَمَا ظَنَّهُ الْمُعْطِي. وَالصَّالِحُ الْحَقِيقِيُّ قَلِيلٌ، وَسَتْرُ اللهِ هُوَ الَّذِي يُحَبِّبُ الْخَلْقَ بَعْضَهُمْ إِلَى بَعْضٍ.

Bagian pertama ialah yang dimaksudkan untuk pahala akhirat. Jika diberi karena kebutuhan, ilmu, nasab, atau kesalehan, maka ia tidak boleh menerimanya bila sebenarnya tidak seperti yang disangka pemberi. Orang saleh yang benar-benar bersih itu sedikit, dan tabir Allah-lah yang membuat manusia saling mencintai.

وَكَانَ الْمُتَوَرِّعُونَ يَتَحَرَّوْنَ فِي الشِّرَاءِ، فَيُوَكِّلُونَ مَنْ لَا يُعْرَفُ أَنَّهُ وَكِيلُهُمْ، لِئَلَّا يُسَامِحُوا فِي الْمَبِيعِ خَوْفًا مِنَ الْأَكْلِ بِالدِّينِ. فَالْأَخْذُ بِسَبَبِ الدِّينِ يَنْبَغِي أَنْ يُجْتَنَبَ مَا أَمْكَنَ.

Orang-orang yang sangat berhati-hati dulu memilih wakil belanja yang tidak dikenal sebagai wakil mereka, agar tidak terlalu memudahkan urusan barang yang dibeli. Mereka takut itu menjadi memakan harta dengan nama agama. Karena itu, sebisa mungkin, mengambil sesuatu karena alasan agama harus dihindari.

الثَّانِي: مَا يُقْصَدُ بِهِ غَرَضٌ دُنْيَوِيٌّ مُعَيَّنٌ، كَهَدِيَّةِ الْفَقِيرِ لِلْغَنِيِّ رَجَاءَ الثَّوَابِ. فَهٰذِهِ هِبَةٌ بِشَرْطِ الْعِوَضِ، وَلَا حَرَجَ فِيهَا إِذَا وُفِّيَ بِمَا رُجِيَ مِنْهَا.

Bagian kedua: hadiah yang dimaksudkan untuk tujuan dunia tertentu, seperti hadiah orang miskin kepada orang kaya dengan harapan mendapat balasan. Ini hibah dengan syarat imbalan, dan boleh jika imbalan yang diharapkan benar-benar dipenuhi.

الثَّالِثُ: أَنْ يُرَادَ بِهَا التَّوَصُّلُ إِلَى فِعْلٍ مُعَيَّنٍ. فَإِنْ كَانَ ذٰلِكَ الْفِعْلُ حَرَامًا، حَرُمَ الْأَخْذُ. وَإِنْ كَانَ وَاجِبًا، كَدَفْعِ الظُّلْمِ أَوِ الشَّهَادَةِ الْمُتَعَيِّنَةِ، فَهُوَ رِشْوَةٌ حَرَامٌ. وَإِنْ كَانَ مُبَاحًا وَفِيهِ تَعَبٌ، جَازَ أَخْذُ الْعِوَضِ عَلَيْهِ، وَهُوَ كَالْجُعَالَةِ.

Bagian ketiga: hadiah untuk mendapatkan bantuan berupa perbuatan tertentu. Jika perbuatan itu haram, maka menerima imbalannya haram. Jika perbuatan itu wajib, seperti menolak kezaliman atau memberi kesaksian yang harus diberikan, maka itu suap yang haram. Jika perbuatannya mubah tetapi membutuhkan kerja dan susah payah, maka boleh diberi imbalan; ini seperti ju‘alah.

وَإِنْ كَانَ الْمَقْصُودُ يَحْصُلُ بِكَلِمَةٍ مِنْ ذِي جَاهٍ أَوْ بِفِعْلٍ يَسْتَنِدُ إِلَى جَاهِهِ، فَهٰذَا حَرَامٌ، لِأَنَّهُ عِوَضٌ عَنْ الْجَاهِ. وَمِنْ هُنَا يَدْخُلُ أَخْذُ الطَّبِيبِ عِوَضًا عَلَى دَلَالَةٍ يُخَصُّ بِهَا دَوَاءً يَعْرِفُهُ وَحْدَهُ، وَكَذٰلِكَ الصَّنَاعِيُّ الْمَاهِرُ الَّذِي يُصْلِحُ الشَّيْءَ بِدِقَّةٍ وَاحِدَةٍ فَيَزْدَادُ قِيمَتُهُ.

Jika tujuan itu tercapai hanya dengan satu kata dari orang yang punya kedudukan, atau dengan tindakan yang bergantung pada wibawanya, maka itu haram, karena merupakan imbalan atas kedudukan. Dari sini masuk juga kasus dokter yang diberi imbalan hanya untuk menunjukkan obat yang cuma ia tahu sendiri. Demikian pula tukang ahli yang dengan satu sentuhan bisa memperbaiki barang sehingga nilainya naik.

الرَّابِعُ: مَا يُرَادُ بِهِ جَلْبُ الْمَحَبَّةِ وَالْأُنْسِ، وَلَا غَرَضَ فِيهِ إِلَّا التَّوَدُّدَ. وَهٰذَا مَطْلُوبٌ شَرْعًا، وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَهَادَوْا تَحَابُّوا.

Bagian keempat: hadiah untuk menumbuhkan cinta dan keakraban, tanpa tujuan lain. Ini dianjurkan dalam syariat. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai.”

وَالْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَطْلُبُ مَحَبَّةَ غَيْرِهِ لِعَيْنِ الْمَحَبَّةِ، بَلْ لِمَنْفَعَةٍ فِيهَا. فَإِذَا لَمْ تَتَعَيَّنْ تِلْكَ الْمَنْفَعَةُ، وَلَمْ يَكُنْ فِي نَفْسِهِ غَرَضٌ مُحَدَّدٌ، فَهٰذَا هَدِيَّةٌ وَيَجُوزُ قَبُولُهَا.

Biasanya manusia tidak mencari cinta orang lain semata-mata karena cinta itu sendiri, tetapi karena ada manfaat di dalamnya. Jika manfaat itu tidak tertentu dan tidak ada tujuan khusus, maka itu disebut hadiah dan boleh diterima.

الْخَامِسُ: أَنْ يُهْدِيَ لِيَتَقَرَّبَ إِلَى قَلْبِهِ وَيَحْصُلَ عَلَى مَحَبَّتِهِ، لَا لِلْأُنْسِ فَقَطْ، بَلْ لِيَتَوَصَّلَ بِجَاهِهِ إِلَى أَغْرَاضٍ أُخْرَى. فَإِنْ كَانَ جَاهُهُ بِعِلْمٍ أَوْ نَسَبٍ، فَالْأَمْرُ أَهْوَنُ، وَلٰكِنَّهُ مَكْرُوهٌ. وَإِنْ كَانَ جَاهُهُ بِوِلَايَةٍ أَوْ سُلْطَانٍ، فَهٰذِهِ رِشْوَةٌ فِي صُورَةِ هَدِيَّةٍ.

Bagian kelima: memberi agar bisa mendekat ke hatinya dan mendapatkan cintanya, bukan sekadar untuk akrab, tetapi untuk mengambil jalan melalui wibawanya menuju tujuan lain. Jika wibawanya karena ilmu atau nasab, masalahnya lebih ringan, tetapi tetap makruh. Jika wibawanya karena jabatan atau kekuasaan, itu suap yang dibungkus hadiah.

وَعَلَامَتُهُ أَنْ يَكُونَ لَوْ وُلِّيَ غَيْرُهُ فِي الْحَالِ لَدَفَعَ الْمَالَ إِلَى ذٰلِكَ الْغَيْرِ. وَقَدْ اشْتَدَّتِ الْآثَارُ فِي ذٰلِكَ. فَمِنْهَا مَا رُوِيَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَطَاوُسٍ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَمِنْهَا قِصَّةُ هَدَايَا الْمُلُوكِ، وَمَا فَعَلَهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ.

Tandanya, jika jabatan itu saat itu diberikan kepada orang lain, maka ia akan menyerahkan harta itu kepada orang lain tersebut. Banyak atsar yang sangat keras dalam masalah ini, seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud, Tawus, Umar رضي الله عنهم, juga kisah hadiah para raja, dan apa yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz.

وَأَشَدُّ مِنْ ذٰلِكَ حَدِيثُ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، فِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْكَرَ عَلَى الْوَالِي الَّذِي قَالَ: هٰذَا لَكُمْ وَهٰذَا لِي هَدِيَّةٌ، وَقَالَ لَهُ: أَلَا جَلَسْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ حَتَّى تَأْتِيَكَ هَدِيَّتُكَ؟ وَبَيَّنَ أَنَّ أَخْذَ مَا لَيْسَ بِحَقٍّ يَحْمِلُهُ صَاحِبُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Yang lebih keras lagi adalah hadis Abu Humaid as-Sa‘idi. Di sana Nabi صلى الله عليه وسلم menegur seorang petugas yang berkata, “Ini untuk kalian dan ini untukku sebagai hadiah.” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau duduk di rumah ayah dan ibumu sampai hadiahmu datang kepadamu?” Beliau menjelaskan bahwa mengambil sesuatu tanpa hak akan dibawa pemiliknya pada hari kiamat.

فَعَلَى الْقَاضِي وَالْوَالِي أَنْ يَجْعَلَ نَفْسَهُ كَأَنَّهُ فِي بَيْتِ أُمِّهِ وَأَبِيهِ. فَمَا كَانَ يُعْطَى لَهُ بَعْدَ الْعَزْلِ جَازَ لَهُ أَنْ يَأْخُذَهُ فِي وِلَايَتِهِ. وَمَا عَلِمَ أَنَّهُ يُعْطَى لِوِلَايَتِهِ فَأَخْذُهُ حَرَامٌ. وَمَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ فِي هَدَايَا أَصْدِقَائِهِ فَهُوَ شُبْهَةٌ، فَلْيَتْرُكْهُ.

Karena itu, hakim dan penguasa harus menempatkan dirinya seakan-akan berada di rumah ayah dan ibunya. Apa yang biasa diberikan kepadanya setelah ia dicopot dari jabatan boleh ia terima ketika ia masih menjabat. Tetapi apa yang jelas diberikan karena jabatannya, haram baginya mengambilnya. Sedangkan hadiah dari sahabat-sahabatnya yang masih ragu apakah akan diberikan bila ia sudah tidak menjabat, maka itu syubhat dan sebaiknya ditinggalkan.

وَبِهٰذَا يَتِمُّ كِتَابُ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ، بِحَمْدِ اللهِ وَحُسْنِ تَوْفِيقِهِ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

Dengan ini selesailah Kitab Halal dan Haram. Segala puji bagi Allah atas karunia dan taufik-Nya yang baik. Dan Allah Maha Mengetahui