Cara Bertobat Dari Kezaliman-Kezaliman Yang Berkaitan Dengan Harta

الْبَابُ الرَّابِعُ فِي كَيْفِيَّةِ خُرُوجِ التَّائِبِ عَنْ الْمَظَالِمِ الْمَالِيَّةِ.

Bab keempat tentang cara seorang yang bertobat keluar dari kezaliman-kezaliman yang berkaitan dengan harta.

اِعْلَمْ أَنَّ مَنْ تَابَ وَفِي يَدِهِ مُخْتَلِطٌ، فَعَلَيْهِ وَظِيفَةٌ فِي تَمْيِيزِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجِهِ، وَوَظِيفَةٌ أُخْرَى فِي مَصْرِفِ الْمُخْرَجِ.

Ketahuilah bahwa siapa pun yang bertobat, sedangkan di tangannya ada harta yang bercampur, maka ia memiliki kewajiban untuk membedakan yang haram dan mengeluarkannya, dan ia juga memiliki kewajiban lain tentang ke mana harta yang dikeluarkan itu disalurkan.

فَلْيَنْظُرْ فِيهِمَا.

Maka hendaklah ia memperhatikan keduanya.

النَّظَرُ الأَوَّلُ فِي كَيْفِيَّةِ التَّمْيِيزِ وَالإِخْرَاجِ.

Pembahasan pertama ialah tentang cara membedakan dan mengeluarkannya.

اِعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَنْ تَابَ وَفِي يَدِهِ مَا هُوَ حَرَامٌ مَعْلُومُ الْعَيْنِ، مِنْ غَصْبٍ أَوْ وَدِيعَةٍ أَوْ غَيْرِهِ، فَأَمْرُهُ سَهْلٌ.

Ketahuilah bahwa siapa pun yang bertobat, sedangkan di tangannya ada harta haram yang diketahui secara jelas bendanya, seperti hasil ghasab, titipan, atau selain itu, maka urusannya mudah.

فَعَلَيْهِ تَمْيِيزُ الْحَرَامِ.

Ia wajib membedakan harta haram itu.

وَإِنْ كَانَ مُلْتَبِسًا مُخْتَلِطًا، فَلَا يَخْلُو.

Jika harta itu samar dan bercampur, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ فِي مَالٍ هُوَ مِنْ ذَوَاتِ الأَمْثَالِ.

Entah ia berada pada harta yang termasuk benda-benda sejenis.

كَالْحُبُوبِ، وَالنُّقُودِ، وَالأَدْهَانِ.

Seperti biji-bijian, uang, dan minyak.

وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ فِي أَعْيَانٍ مُتَمَايِزَةٍ.

Atau ia berada pada benda-benda yang dapat dibedakan secara fisik.

كَالْعَبِيدِ، وَالدُّورِ، وَالثِّيَابِ.

Seperti budak, rumah, dan pakaian.

فَإِنْ كَانَ فِي الْمُتَمَاثِلَاتِ، أَوْ كَانَ شَائِعًا فِي كُلِّهِ.

Jika ia ada pada benda-benda yang sejenis, atau tersebar pada keseluruhannya.

كَمَنْ اكْتَسَبَ الْمَالَ بِتِجَارَةٍ، يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ كَذَبَ فِي بَعْضِهَا فِي الْمُرَابَحَةِ، وَصَدَقَ فِي بَعْضِهَا.

Seperti orang yang memperoleh harta dari perdagangan, dan ia tahu bahwa dalam sebagian transaksi murabahah ia berdusta, sedangkan pada sebagian yang lain ia jujur.

أَوْ مَنْ غَصَبَ دُهْنًا فَخَلَطَهُ بِدُهْنِ نَفْسِهِ.

Atau seperti orang yang merampas minyak lalu mencampurkannya dengan minyak miliknya sendiri.

أَوْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي الْحُبُوبِ أَوِ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ.

Atau melakukannya pada biji-bijian, dirham, dan dinar.

فَلَا يَخْلُو ذَلِكَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ مَعْلُومَ الْقَدْرِ أَوْ مَجْهُولًا.

Maka keadaan itu tidak lepas dari dua kemungkinan: diketahui kadarnya atau tidak diketahui.

فَإِنْ كَانَ مَعْلُومَ الْقَدْرِ.

Jika kadarnya diketahui.

مِثْلَ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ جُمْلَةِ مَالِهِ حَرَامٌ.

Misalnya ia tahu bahwa setengah dari seluruh hartanya haram.

فَعَلَيْهِ تَمْيِيزُ النِّصْفِ.

Maka ia wajib memisahkan setengahnya.

وَإِنْ شَكَّ، فَلَهُ طَرِيقَانِ.

Jika ia ragu, maka ada dua jalan baginya.

أَحَدُهُمَا الأَخْذُ بِالْيَقِينِ.

Pertama, mengambil berdasarkan kepastian.

وَالآخَرُ الأَخْذُ بِغَالِبِ الظَّنِّ.

Kedua, mengambil berdasarkan dugaan yang kuat.

وَكِلَاهُمَا قَدْ قَالَ بِهِ الْعُلَمَاءُ فِي اشْتِبَاهِ رَكَعَاتِ الصَّلَاةِ.

Keduanya telah dibicarakan oleh para ulama dalam kasus ragu jumlah rakaat salat.

وَنَحْنُ لَا نُجَوِّزُ فِي الصَّلَاةِ إِلَّا الأَخْذَ بِالْيَقِينِ.

Adapun kami, maka dalam salat kami tidak membolehkan kecuali mengambil yang yakin.

لِأَنَّ الأَصْلَ شُغْلُ الذِّمَّةِ.

Karena asalnya adalah tanggungan masih dianggap sibuk.

فَيُسْتَصْحَبُ.

Maka itu dipertahankan dengan istishab.

وَلَا يُغَيَّرُ إِلَّا بِعَلَامَةٍ قَوِيَّةٍ.

Dan tidak berubah kecuali dengan tanda yang kuat.

وَلَيْسَ فِي أَعْدَادِ الرَّكَعَاتِ عَلَامَاتٌ يُوثَقُ بِهَا.

Dalam jumlah rakaat tidak ada tanda yang bisa dijadikan pegangan kuat.

وَأَمَّا هُنَا فَلَا يُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ: الأَصْلُ أَنَّ مَا فِي يَدِهِ حَرَامٌ.

Adapun di sini, tidak bisa dikatakan bahwa asalnya adalah apa yang ada di tangannya itu haram.

بَلْ هُوَ مُشْكِلٌ.

Melainkan masalahnya memang problematik.

فَيَجُوزُ لَهُ الأَخْذُ بِغَالِبِ الظَّنِّ اجْتِهَادًا.

Maka boleh baginya mengambil berdasarkan dugaan yang kuat sebagai hasil ijtihad.

وَلَكِنَّ الْوَرَعَ فِي الأَخْذِ بِالْيَقِينِ.

Namun sikap wara’ adalah mengambil yang yakin.

فَإِنْ أَرَادَ الْوَرَعَ، فَطَرِيقُ التَّحَرِّي وَالِاجْتِهَادِ أَنْ لَا يَسْتَبْقِيَ إِلَّا الْقَدْرَ الَّذِي يَتَيَقَّنُ أَنَّهُ حَلَالٌ.

Jika ia ingin wara’, maka jalan kehati-hatian dan ijtihad adalah tidak menyisakan kecuali kadar yang diyakini halal.

وَإِنْ أَرَادَ الأَخْذَ بِالظَّنِّ.

Jika ia hendak mengambil berdasarkan dugaan.

فَطَرِيقُهُ أَنْ يَعْرِفَ مَا يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ حِلُّهُ وَحُرْمَتُهُ.

Maka jalannya ialah mengetahui apa yang menurut dugaan kuatnya halal dan haram.

وَطَرِيقُ التَّحَرِّي فِي كُلِّ مَالٍ.

Jalan kehati-hatian pada setiap harta.

أَنْ يَقْتَطِعَ الْقَدْرَ الْمُتَيَقَّنَ مِنَ الْجَانِبَيْنِ.

Adalah memisahkan kadar yang pasti dari dua sisi.

فِي الْحِلِّ وَالْحُرْمَةِ.

Dari sisi halal dan haram.

وَالْقَدْرَ الْمُتَرَدِّدَ فِيهِ.

Serta kadar yang masih diperselisihkan.

فَإِنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ التَّحْرِيمُ، أَخْرَجَهُ.

Jika dugaan kuatnya bahwa itu haram, maka ia keluarkan.

وَإِنْ غَلَبَ الْحِلُّ، جَازَ لَهُ الإِمْسَاكُ.

Jika yang lebih kuat adalah halal, maka ia boleh menahannya.

وَالْوَرَعُ إِخْرَاجُهُ.

Namun wara’ ialah mengeluarkannya.

وَإِنْ شَكَّ فِيهِ، جَازَ الإِمْسَاكُ.

Jika ia ragu, maka menahannya boleh.

وَالْوَرَعُ إِخْرَاجُهُ.

Dan wara’ ialah mengeluarkannya.

وَهَذَا الْوَرَعُ أَكْدَ.

Wara’ seperti ini lebih ditekankan.

لِأَنَّهُ صَارَ مَشْكُوكًا فِيهِ.

Karena ia telah menjadi perkara yang diragukan.

وَجَازَ إِمْسَاكُهُ اعْتِمَادًا عَلَى أَنَّهُ فِي يَدِهِ.

Dan boleh ditahan karena bersandar pada kenyataan bahwa ia masih berada di tangannya.

فَيَكُونُ الْحِلُّ أَغْلَبَ عَلَيْهِ.

Maka kehalalan lebih dominan padanya.

وَقَدْ صَارَ ضَعِيفًا بَعْدَ يَقِينِ اخْتِلَاطِ الْحَرَامِ.

Padahal ia telah menjadi lemah setelah pasti bercampurnya harta haram.

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: الأَصْلُ التَّحْرِيمُ.

Dan mungkin juga dikatakan bahwa asalnya adalah haram.

وَلَا يَأْخُذُ إِلَّا مَا يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ حَلَالٌ.

Maka ia tidak boleh mengambil kecuali apa yang menurut dugaan kuatnya halal.

وَلَيْسَ أَحَدُ الْجَانِبَيْنِ أَوْلَى مِنَ الآخَرِ.

Tidak satu pun dari dua sisi itu lebih utama dari yang lain.

وَلَيْسَ يَتَبَيَّنُ لِي فِي الْحَالِ تَرْجِيحٌ.

Pada saat ini tidak tampak bagiku sisi yang lebih kuat.

وَهُوَ مِنَ الْمُشْكِلَاتِ.

Dan ini termasuk perkara yang sulit.

فَإِنْ قِيلَ: هَبْ أَنَّهُ أَخَذَ بِالْيَقِينِ.

Jika dikatakan: anggaplah ia mengambil berdasarkan yang yakin.

وَلَكِنَّ الَّذِي يُخْرِجُهُ لَا يَدْرِي أَنَّهُ عَيْنُ الْحَرَامِ.

Tetapi yang dikeluarkannya itu tidak tahu apakah ia memang zat haram itu sendiri.

فَلَعَلَّ الْحَرَامَ مَا بَقِيَ فِي يَدِهِ.

Mungkin justru yang haram adalah yang masih tertinggal di tangannya.

فَكَيْفَ يُقْدِمُ عَلَيْهِ؟

Lalu bagaimana ia berani melakukannya?

وَلَوْ جَازَ هَذَا، لَجَازَ أَنْ يُقَالَ: إِذَا اخْتَلَطَتْ مَيْتَةٌ بِتِسْعِ مُذَكَّاةٍ، فَهِيَ الْعَشْرُ.

Jika ini boleh, maka bisa juga dikatakan: jika seekor bangkai bercampur dengan sembilan hewan sembelihan, maka semuanya sepuluh.

فَلَهُ أَنْ يَطْرَحَ وَاحِدَةً أَيَّ وَاحِدَةٍ كَانَتْ، وَيَأْخُذَ الْبَاقِيَ وَيَسْتَحِلَّهُ.

Maka ia boleh membuang satu saja apa pun itu, lalu mengambil sisanya dan menghalalkannya.

وَلَكِنْ يُقَالُ: لَعَلَّ الْمَيْتَةَ فِيمَا اسْتَبْقَاهُ.

Namun dikatakan: mungkin bangkai justru ada pada bagian yang ia sisakan.

بَلْ لَوْ طَرَحَ التِّسْعَ وَاسْتَبْقَى وَاحِدَةً لَمْ تَحِلَّ.

Bahkan jika ia membuang sembilan dan menyisakan satu, itu pun belum tentu halal.

لِاحْتِمَالِ أَنَّهَا الْحَرَامُ.

Karena ada kemungkinan bahwa yang tersisa itulah yang haram.

فَنَقُولُ: هَذِهِ الْمَوَازَنَةُ كَانَتْ تَصِحُّ.

Kami katakan: perbandingan itu akan benar.

لَوْلَا أَنَّ الْمَالَ يَحِلُّ بِإِخْرَاجِ الْبَدَلِ.

Seandainya harta itu bisa menjadi halal dengan mengeluarkan pengganti.

لِتَطَرُّقِ الْمُعَاوَضَةِ إِلَيْهِ.

Karena bisa masuk ke dalamnya unsur pertukaran.

وَأَمَّا الْمَيْتَةُ فَلَا تَتَطَرَّقُ الْمُعَاوَضَةُ إِلَيْهَا.

Adapun bangkai, maka unsur pertukaran tidak dapat masuk kepadanya.

فَلْيُكْشَفِ الْغِطَاءُ عَنْ هَذَا الإِشْكَالِ.

Maka tersingkaplah kerancuan ini.

بِالْفَرْضِ فِي دِرْهَمٍ مُعَيَّنٍ اشْتَبَهَ بِدِرْهَمٍ آخَرَ.

Dengan contoh pada satu dirham tertentu yang bercampur dengan dirham lain.

فِي مَنْ لَهُ دِرْهَمَانِ، أَحَدُهُمَا حَرَامٌ، قَدِ اشْتَبَهَ عَيْنُهُ.

Pada orang yang punya dua dirham, salah satunya haram, dan zatnya telah tercampur.

وَقَدْ سُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رضي الله عنه عَنْ مِثْلِ هَذَا.

Imam Ahmad bin Hanbal رضي الله عنه pernah ditanya tentang kasus seperti ini.

فَقَالَ: يَدَعُ الْكُلَّ حَتَّى يَتَبَيَّنَ.

Maka beliau menjawab: “Tinggalkan semuanya sampai jelas.”

وَكَانَ قَدْ رَهَنَ آنِيَةً.

Beliau pernah menggadaikan beberapa bejana.

فَلَمَّا قَضَى الدَّيْنَ.

Ketika utangnya lunas.

حَمَلَ إِلَيْهِ الْمُرْتَهِنُ آنِيَتَيْنِ.

Orang yang memegang gadai membawakan kepadanya dua bejana.

وَقَالَ: لَا أَدْرِي أَيَّتُهُمَا آنِيَتُكَ.

Lalu ia berkata: “Aku tidak tahu mana di antara keduanya bejanamu.”

فَتَرَكَهُمَا.

Maka beliau meninggalkannya.

فَقَالَ الْمُرْتَهِنُ: هَذَا الَّذِي هُوَ لَكَ.

Lalu orang itu berkata: “Yang ini adalah milikmu.”

إِنَّمَا كُنْتُ أَخْتَبِرُكَ.

“Saya hanya sedang mengujimu.”

فَقَضَى دَيْنَهُ وَلَمْ يَأْخُذِ الرَّهْنَ.

Maka beliau melunasi utangnya dan tidak mengambil barang gadaian itu.

وَهَذَا وَرَعٌ.

Ini adalah wara’.

وَلَكِنَّا نَقُولُ: إِنَّهُ غَيْرُ وَاجِبٍ.

Namun kami mengatakan bahwa itu tidak wajib.

فَلْنَفْرِضِ الْمَسْأَلَةَ فِي دِرْهَمٍ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ حَاضِرٌ.

Maka kita buat kasusnya pada satu dirham yang pemiliknya tertentu dan hadir.

فَنَقُولُ: إِذَا رَدَّ أَحَدَ الدِّرْهَمَيْنِ عَلَيْهِ وَرَضِيَ بِهِ، مَعَ الْعِلْمِ بِحَقِيقَةِ الْحَالِ، حَلَّ لَهُ الدِّرْهَمُ الآخَرُ.

Kami katakan: jika salah satu dari dua dirham itu dikembalikan kepadanya dan ia ridha menerimanya, dengan mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka dirham yang lain menjadi halal baginya.

لِأَنَّهُ لَا يَخْلُو.

Karena keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ الْمَرْدُودُ فِي عِلْمِ اللَّهِ هُوَ الْمَأْخُوذَ.

Entah yang dikembalikan itulah, dalam ilmu Allah, yang seharusnya diambil.

فَقَدْ حَصَلَ الْمَقْصُودُ.

Maka tujuan telah tercapai.

وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ.

Jika bukan itu.

فَقَدْ حَصَلَ لِكُلِّ وَاحِدٍ دِرْهَمٌ فِي يَدِ صَاحِبِهِ.

Maka masing-masing telah memperoleh satu dirham di tangan pihak lain.

فَالِاحْتِيَاطُ أَنْ يَتَبَايَعَا بِاللَّفْظِ.

Maka kehati-hatian adalah keduanya melakukan jual beli dengan lafaz.

فَإِنْ لَمْ يَفْعَلَا.

Jika mereka tidak melakukannya.

وَقَعَ التَّقَاصُّ وَالتَّبَادُلُ بِمُجَرَّدِ الْمُعَاطَاةِ.

Terjadi saling hapus dan saling tukar hanya dengan mu‘athah.

وَإِنْ كَانَ الْمَغْصُوبُ مِنْهُ قَدْ فَاتَ لَهُ دِرْهَمٌ فِي يَدِ الْغَاصِبِ.

Jika pemilik yang dizalimi telah kehilangan satu dirham di tangan perampas.

وَعَسُرَ الْوُصُولُ إِلَى عَيْنِهِ.

Dan sulit untuk sampai kepada benda aslinya.

وَاسْتَحَقَّ ضَمَانَهُ.

Serta ia berhak mendapat ganti rugi.

فَلَمَّا أَخَذَهُ وَقَعَ عَنِ الضَّمَانِ بِمُجَرَّدِ الْقَبْضِ.

Maka ketika ia mengambilnya, itu gugur dari tanggungan hanya dengan penerimaan.

وَهَذَا فِي جَانِبِهِ وَاضِحٌ.

Hal ini jelas dari sisinya.

فَإِنَّ الْمَضْمُونَ لَهُ يَمْلِكُ الضَّمَانَ بِمُجَرَّدِ الْقَبْضِ مِنْ غَيْرِ لَفْظٍ.

Karena orang yang berhak atas ganti itu memilikinya hanya dengan serah-terima tanpa lafaz.

وَالْإِشْكَالُ فِي الْجَانِبِ الآخَرِ.

Kerancuannya ada pada sisi yang lain.

أَنَّهُ لَمْ يَدْخُلْ فِي مِلْكِهِ.

Yaitu bahwa benda itu belum masuk ke dalam kepemilikannya.

فَنَقُولُ: لِأَنَّهُ أَيْضًا إِنْ كَانَ قَدْ تَسَلَّمَ دِرْهَمَ نَفْسِهِ.

Kami katakan: karena jika ia memang telah menerima dirham miliknya sendiri.

فَقَدْ فَاتَ لَهُ أَيْضًا دِرْهَمٌ فِي يَدِ الآخَرِ.

Maka berarti satu dirham juga hilang di tangan pihak lain.

فَلَيْسَ يُمْكِنُ الْوُصُولُ إِلَيْهِ.

Dan tidak mungkin menjangkaunya.

فَهُوَ كَالْغَائِبِ.

Maka ia seperti benda yang tidak hadir.

فَيَقَعُ هَذَا بَدَلًا عَنْهُ فِي عِلْمِ اللَّهِ.

Sehingga ini terjadi sebagai gantinya, dalam ilmu Allah.

إِنْ كَانَ الأَمْرُ كَذَلِكَ.

Jika memang keadaan demikian.

وَيَقَعُ هَذَا التَّبَادُلُ فِي عِلْمِ اللَّهِ.

Dan pertukaran ini terjadi dalam ilmu Allah.

كَمَا يَقَعُ التَّقَاصُّ لَوْ أَتْلَفَ رَجُلَانِ.

Sebagaimana saling hapus terjadi jika dua orang sama-sama merusakkan.

كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا دِرْهَمًا عَلَى صَاحِبِهِ.

Masing-masing dirham milik pihak lain.

بَلْ فِي عَيْنِ مَسْأَلَتِنَا.

Bahkan dalam kasus ini sendiri.

لَوْ أَلْقَى كُلُّ وَاحِدٍ مَا فِي يَدِهِ فِي الْبَحْرِ أَوْ أَحْرَقَهُ.

Jika masing-masing melempar apa yang ada di tangannya ke laut atau membakarnya.

كَأَنَّ قَدْ أَتْلَفَهُ.

Seakan-akan ia telah memusnahkannya.

وَلَمْ تَكُنْ عَلَيْهِ عَهْدَةٌ لِلآخَرِ بِطَرِيقِ التَّقَاصُّ.

Dan ia tidak memiliki tanggungan kepada pihak lain dengan cara saling hapus.

فَكَذَا إِذَا لَمْ يُتْلِفْ.

Maka demikian pula jika ia tidak memusnahkannya.

فَالْقَوْلُ بِهَذَا أَوْلَى مِنَ الْمَصِيرِ إِلَى أَنَّ مَنْ يَأْخُذُ دِرْهَمًا حَرَامًا.

Pendapat ini lebih utama daripada beralih kepada anggapan bahwa siapa pun yang mengambil satu dirham haram.

وَيَطْرَحُهُ فِي أَلْفِ أَلْفِ دِرْهَمٍ لِرَجُلٍ آخَرَ.

Lalu melemparkannya ke dalam sejuta dirham milik orang lain.

يَصِيرُ كُلُّ الْمَالِ مَحْجُورًا عَلَيْهِ لَا يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فِيهِ.

Maka seluruh harta itu menjadi terlarang untuk ia gunakan.

وَهَذَا الْمَذْهَبُ يُؤَدِّي إِلَيْهِ.

Dan mazhab itu akan mengarah ke sana.

فَانْظُرْ مَا فِي هَذَا مِنَ الْبُعْدِ.

Maka lihatlah betapa jauhnya pendapat ini.

وَلَيْسَ فِيمَا ذَكَرْنَاهُ إِلَّا تَرْكُ اللَّفْظِ وَالْمُعَاطَاةُ بَيْعٌ.

Tidak ada dalam apa yang kami sebutkan kecuali meninggalkan lafaz, sedangkan mu‘athah adalah jual beli.

وَمَنْ لَا يَجْعَلُهَا بَيْعًا.

Adapun orang yang tidak menganggapnya sebagai jual beli.

فَحَيْثُ يَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا احْتِمَالٌ.

Maka di tempat yang masuk kepadanya kemungkinan.

إِذِ الْفِعْلُ يُضَعِّفُ دَلَالَتَهُ.

Karena perbuatan melemahkan petunjuknya.

وَحَيْثُ يُمْكِنُ التَّلَفُّظُ.

Dan ketika masih mungkin diucapkan lafaz.

وَهُنَا هَذَا التَّسْلِيمُ وَالتَّسَلُّمُ لِلْمُبَادَلَةِ قَطْعًا.

Sedangkan di sini serah-terima itu pasti untuk tujuan pertukaran.

وَالْبَيْعُ غَيْرُ مُمْكِنٍ.

Namun jual beli tidak mungkin dilakukan.

لِأَنَّ الْمَبِيعَ غَيْرُ مُشَارٍ إِلَيْهِ وَلَا مَعْلُومٍ فِي عَيْنِهِ.

Karena barang yang dijual tidak ditunjuk dan tidak diketahui secara spesifik.

وَقَدْ يَكُونُ مِمَّا لَا يَقْبَلُ الْبَيْعَ.

Dan bisa jadi ia termasuk barang yang tidak menerima akad jual beli.

كَمَا لَوْ خَلَطَ رِطْلَ دَقِيقٍ بِأَلْفِ رِطْلٍ دَقِيقٍ لِغَيْرِهِ.

Seperti jika ia mencampur satu rathl tepung dengan seribu rathl tepung milik orang lain.

وَكَذَا الدُّبْسُ وَالرُّطَبُ.

Demikian pula dengan sirup kurma dan kurma basah.

وَكُلُّ مَا لَا يُبَاعُ الْبَعْضُ مِنْهُ بِالْبَعْضِ.

Dan semua yang sebagian darinya tidak dijual dengan sebagian yang lain.

فَإِنْ قِيلَ: فَأَنْتُمْ جَوَّزْتُمْ تَسْلِيمَ قَدْرِ حَقِّهِ فِي مِثْلِ هَذِهِ الصُّورَةِ.

Jika dikatakan: kalian membolehkan penyerahan kadar haknya dalam contoh seperti ini.

وَجَعَلْتُمُوهُ بَيْعًا.

Dan kalian menjadikannya sebagai jual beli.

قُلْنَا: لَا نَجْعَلُهُ بَيْعًا.

Kami jawab: kami tidak menjadikannya jual beli.

بَلْ نَقُولُ: هُوَ بَدَلٌ عَمَّا فَاتَ فِي يَدِهِ.

Melainkan kami katakan: itu adalah pengganti atas apa yang hilang dari tangannya.

فَيَمْلِكُهُ.

Maka ia memilikinya.

كَمَا يَمْلِكُ الْمُتْلَفَ عَلَيْهِ مِنَ الرُّطَبِ إِذَا أَخَذَ مِثْلَهُ.

Sebagaimana orang yang dirusakkan haknya pada kurma basah memilikinya jika ia mengambil yang semisalnya.

هَذَا إِذَا سَاعَدَهُ صَاحِبُ الْمَالِ.

Ini jika pemilik harta itu bekerja sama dengannya.

فَإِنْ لَمْ يُسَاعِدْهُ وَأَضَرَّ بِهِ.

Jika tidak, malah menyusahkannya.

وَقَالَ: لَا آخُذُ دِرْهَمًا أَصْلًا إِلَّا عَيْنَ مِلْكِي.

Lalu berkata: “Aku tidak mau mengambil satu dirham pun kecuali benda yang memang milikku.”

فَإِنِ اسْتَهَمَ فَأَتْرُكْهُ.

“Kalau harus diundi, tinggalkan saja.”

وَلَا أَهَبُهُ.

“Aku tidak akan memberikannya.”

وَأُعَطِّلُ عَلَيْكَ مَالَكَ.

“Dan aku akan membiarkan hartamu tidak terurus.”

فَأَقُولُ: عَلَى الْقَاضِي أَنْ يَنْتُوبَ عَنْهُ فِي الْقَبْضِ.

Maka aku katakan: hakimlah yang harus mewakilinya dalam penerimaan.

حَتَّى يَطِيبَ لِلرَّجُلِ مَالُهُ.

Sampai harta itu menjadi baik baginya.

فَإِنَّ هَذَا مَحْضُ التَّعَنُّتِ وَالتَّضْيِيقِ.

Karena itu murni sikap keras kepala dan menyempitkan.

وَالشَّرْعُ لَمْ يَرِدْ بِهِ.

Dan syariat tidak datang dengan hal itu.

فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْقَاضِي وَلَمْ يَجِدْهُ.

Jika ia tidak mampu mendapatkan hakim.

فَلْيُحَكِّمْ رَجُلًا مُتَدَيِّنًا لِيَقْبِضَ عَنْهُ.

Maka hendaklah ia mengangkat seorang yang saleh untuk menerima atas namanya.

فَإِنْ عَجَزَ، فَيَتَوَلَّى هُوَ بِنَفْسِهِ.

Jika masih tidak mampu, maka ia sendiri yang melakukannya.

وَيُفْرِدُ عَلَى نِيَّةِ الصَّرْفِ إِلَيْهِ دِرْهَمًا.

Dan ia sisihkan satu dirham dengan niat menyalurkannya kepada pemiliknya.

وَيَتَعَيَّنُ ذَلِكَ لَهُ.

Maka dirham itu menjadi khusus untuknya.

وَيَطِيبُ لَهُ الْبَاقِي.

Dan sisanya menjadi halal baginya.

وَهَذَا فِي خَلْطِ الْمَوَائِعِ أَظْهَرُ وَأَلْزَمُ.

Dalam pencampuran cairan, hal ini lebih jelas dan lebih mengikat.

فَإِنْ قِيلَ: فَيَنْبَغِي أَنْ يَحِلَّ لَهُ الأَخْذُ، وَيَنْتَقِلَ الْحَقُّ إِلَى ذِمَّتِهِ.

Jika dikatakan: seharusnya ia boleh mengambilnya, lalu hak itu berpindah ke tanggungannya.

فَأَيُّ حَاجَةٍ إِلَى الإِخْرَاجِ أَوَّلًا، ثُمَّ التَّصَرُّفِ فِي الْبَاقِي؟

Lalu apa perlunya mengeluarkan terlebih dahulu, baru kemudian menggunakan sisanya?

قُلْنَا: قَالَ قَائِلُونَ.

Kami jawab: sebagian ulama mengatakan.

يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مَا دَامَ يَبْقَى قَدْرُ الْحَرَامِ.

Ia boleh mengambil selama masih tersisa kadar yang haram.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَأْخُذَ الْكُلَّ.

Dan tidak boleh mengambil semuanya.

وَلَوْ أَخَذَ، لَمْ يَجُزْ لَهُ ذَلِكَ.

Dan jika ia mengambil, itu tidak boleh baginya.

وَقَالَ آخَرُونَ: لَيْسَ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ.

Sebagian yang lain berkata: ia tidak boleh mengambil.

مَا لَمْ يُخْرِجْ قَدْرَ الْحَرَامِ بِالتَّوْبَةِ وَقَصْدِ الإِبْدَالِ.

Sampai ia mengeluarkan kadar haram itu dengan tobat dan niat penggantian.

وَقَالَ آخَرُونَ: يَجُوزُ لِلْآخِذِ فِي التَّصَرُّفِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهُ.

Sebagian lain berkata: boleh bagi pihak yang akan menggunakannya untuk mengambil darinya.

وَأَمَّا هُوَ فَلَا يُعْطِي.

Adapun orang itu sendiri, ia tidak boleh memberikannya.

فَإِنْ أَعْطَى عَصَى هُوَ دُونَ الآخِذِ مِنْهُ.

Jika ia memberikannya, maka yang berdosa adalah dia, bukan penerimanya.

وَمَا جَوَّزَ أَحَدٌ أَخْذَ الْكُلِّ.

Dan tidak ada seorang pun yang membolehkan mengambil semuanya.

وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمَالِكَ لَوْ ظَهَرَ.

Karena jika pemilik asli muncul.

فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ حَقَّهُ مِنْ هَذِهِ الْجُمْلَةِ.

Maka ia berhak mengambil haknya dari keseluruhan harta itu.

إِذْ يَقُولُ: لَعَلَّ الْمَصْرُوفَ إِلَيْهِ يَقَعُ عَيْنَ حَقِّي.

Sebab ia akan berkata: mungkin yang disalurkan itu justru benda yang menjadi hakku.

وَبِالتَّعْيِينِ وَإِخْرَاجِ حَقِّ الْغَيْرِ وَتَمْيِيزِهِ يَنْدَفِعُ هَذَا الِاحْتِمَالُ.

Dengan penentuan dan pemisahan hak orang lain, kemungkinan ini hilang.

فَهَذَا الْمَالُ يَتَرَجَّحُ بِهَذَا الِاحْتِمَالِ عَلَى غَيْرِهِ.

Maka harta ini lebih diutamakan karena kemungkinan itu daripada yang lain.

وَمَا هُوَ أَقْرَبُ إِلَى الْحَقِّ مُقَدَّمٌ.

Apa yang lebih dekat kepada kebenaran harus didahulukan.

كَمَا يُقَدَّمُ الْمِثْلُ عَلَى الْقِيمَةِ.

Sebagaimana barang sepadan didahulukan atas nilai uang.

وَالْعَيْنُ عَلَى الْمِثْلِ.

Dan benda asli didahulukan atas padanannya.

فَكَذَلِكَ مَا يُحْتَمَلُ فِيهِ رُجُوعُ الْمِثْلِ مُقَدَّمٌ عَلَى مَا يُحْتَمَلُ فِيهِ رُجُوعُ الْقِيمَةِ.

Demikian pula, yang mungkin dikembalikan dengan padanan lebih didahulukan daripada yang mungkin dikembalikan dengan nilai.

وَمَا يُحْتَمَلُ فِيهِ رُجُوعُ الْعَيْنِ يُقَدَّمُ عَلَى مَا يُحْتَمَلُ فِيهِ رُجُوعُ الْمِثْلِ.

Dan yang mungkin dikembalikan dengan benda asli didahulukan atas yang hanya mungkin dengan padanan.

وَلَوْ جَازَ لِهَذَا أَنْ يَقُولَ ذَلِكَ.

Jika orang ini dibolehkan berkata demikian.

لَجَازَ لِصَاحِبِ الدِّرْهَمِ الآخَرِ.

Maka pemilik dirham yang lain juga boleh.

أَنْ يَأْخُذَ الدِّرْهَمَيْنِ وَيَتَصَرَّفَ فِيهِمَا.

Mengambil kedua dirham itu dan memperlakukannya sesuka hati.

وَيَقُولُ: عَلَى قَضَاءِ حَقِّكَ مِنْ مَوْضِعٍ آخَرَ.

Dan ia berkata: “Hakmu akan aku lunasi dari tempat lain.”

إِذِ الِاخْتِلَاطُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ.

Karena campurannya berasal dari dua sisi.

وَلَيْسَ مِلْكُ أَحَدِهِمَا بِأَنْ يُقَدَّرَ فَائِتًا بِأَوْلَى مِنَ الآخَرِ.

Dan kepemilikan salah satunya tidak lebih layak dianggap hilang daripada yang lain.

إِلَّا أَنْ يُنْظَرَ إِلَى الأَقَلِّ.

Kecuali jika yang lebih sedikit itu dijadikan pertimbangan.

فَيُقَدَّرُ أَنَّهُ فَائِتٌ فِيهِ.

Lalu dianggap bahwa yang hilang ada pada bagian itu.

أَوْ يُنْظَرَ إِلَى الَّذِي خَلَطَ.

Atau dipandang kepada pihak yang mencampur.

فَيُجْعَلُ بِفِعْلِهِ مُتْلِفًا لِحَقِّ غَيْرِهِ.

Lalu dengan perbuatannya ia dianggap merusak hak orang lain.

وَكِلَاهُمَا بَعِيدٌ جِدًّا.

Keduanya sangat jauh.

وَهَذَا وَاضِحٌ فِي ذَوَاتِ الأَمْثَالِ.

Hal ini jelas pada benda-benda sejenis.

فَإِنَّهَا تَقَعُ عِوَضًا فِي الإِتْلَافَاتِ مِنْ غَيْرِ عَقْدٍ.

Karena benda-benda itu dapat menjadi pengganti dalam kasus perusakan tanpa akad.

فَأَمَّا إِذَا اشْتَبَهَ دَارٌ بِدُورٍ أَوْ عَبْدٌ بِعَبِيدٍ.

Adapun jika sebuah rumah bercampur dengan rumah-rumah lain, atau seorang budak dengan budak-budak lain.

فَلَا سَبِيلَ إِلَى الْمُصَالَحَةِ وَالتَّرَاضِي.

Maka tidak ada jalan kecuali perdamaian dan kerelaan bersama.

فَإِنْ أَبَى أَنْ يَأْخُذَ إِلَّا عَيْنَ حَقِّهِ.

Jika ia menolak menerima kecuali benda persis miliknya.

وَلَمْ يُقْدَرْ عَلَيْهِ.

Dan tidak mampu dikenali.

وَأَرَادَ الآخَرُ أَنْ يُعَاقِّهُ عَلَى جَمِيعِ مِلْكِهِ.

Sedangkan pihak lain ingin menghalangi seluruh hartanya.

فَإِنْ كَانَتْ مُتَمَاثِلَةَ الْقِيمِ.

Jika nilainya sama.

فَالطَّرِيقُ أَنْ يَبِيعَ الْقَاضِي جَمِيعَ الدُّورِ.

Maka jalannya ialah hakim menjual seluruh rumah itu.

وَيُوَزِّعَ عَلَيْهِمُ الثَّمَنَ بِقَدْرِ النِّسْبَةِ.

Lalu membagikan harga kepada mereka sesuai kadar haknya.

وَإِنْ كَانَتْ مُتَفَاوِتَةً.

Jika nilainya berbeda-beda.

أَخَذَ مِنْ طَالِبِ الْبَيْعِ قِيمَةَ أَنْفَسِ الدُّورِ.

Maka ia mengambil dari pihak yang meminta jual beli itu nilai rumah yang paling mahal.

وَصَرَفَ إِلَى الْمُمْتَنِعِ مِنْهُ مِقْدَارَ قِيمَةِ الأَقَلِّ.

Dan ia menyerahkan kepada pihak yang menolak itu sejumlah nilai yang paling rendah.

وَيُوقَفُ قَدْرُ التَّفَاوُتِ إِلَى الْبَيَانِ أَوِ الإِصْلَاحِ.

Adapun selisihnya ditangguhkan sampai jelas atau selesai dengan perdamaian.

لِأَنَّهُ مُشْكِلٌ.

Karena ini adalah masalah yang problematik.

وَإِنْ لَمْ يُوجَدِ الْقَاضِي.

Jika tidak ada hakim.

فَلِلَّذِي يُرِيدُ الْخَلَاصَ وَفِي يَدِهِ الْكُلُّ.

Maka orang yang ingin menyelesaikan urusan dan memegang seluruhnya.

أَنْ يَتَوَلَّى ذَلِكَ بِنَفْسِهِ.

Boleh menanganinya sendiri.

هَذِهِ هِيَ الْمَصْلَحَةُ.

Itulah kemaslahatan.

وَمَا عَدَاهَا مِنَ الِاحْتِمَالَاتِ ضَعِيفٌ.

Sedangkan kemungkinan-kemungkinan lainnya lemah.

لَا نَخْتَارُهَا.

Kami tidak memilihnya.

وَفِيمَا سَبَقَ تَنْبِيهٌ عَلَى الْعِلَّةِ.

Dalam uraian sebelumnya ada isyarat tentang illatnya.

وَهَذَا فِي الْحِنْطَةِ ظَاهِرٌ.

Hal ini tampak jelas pada gandum.

وَفِي النُّقُودِ دُونَهُ.

Pada uang perak atau emas, ia lebih rendah dari itu.

وَفِي الْعُرُوضِ أَغْمَضُ.

Sedangkan pada barang dagangan, ia lebih samar.

إِذْ لَا يَقَعُ الْبَعْضُ بَدَلًا عَنِ الْبَعْضِ.

Karena sebagian tidak dapat menjadi pengganti sebagian yang lain.

فَذَلِكَ احْتِيجَ إِلَى الْبَيْعِ.

Maka di sana dibutuhkan jual beli.

وَلِنَرْسِمْ مَسَائِلَ يَتِمُّ بِهَا الْبَيَانُ.

Dan marilah kita sebutkan beberapa masalah agar penjelasan menjadi sempurna.

هَذَا الأَصْلُ.

Ini adalah pokok pembahasan ini.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا وَرِثَ مَعَ جَمَاعَةٍ.

Contoh masalah: jika ia mewarisi bersama sekelompok orang.

وَكَانَ السُّلْطَانُ قَدْ غَصَبَ ضَيْعَةً لِمُوَرِّثِهِ.

Dan penguasa pernah merampas sebuah tanah milik pewaris mereka.

فَرَدَّ عَلَيْهِ قِطْعَةً مُعَيَّنَةً.

Lalu penguasa mengembalikan kepadanya satu bagian tertentu.

فَهِيَ لِجَمِيعِ الْوَرَثَةِ.

Maka itu milik semua ahli waris.

وَلَوْ رَدَّ مِنَ الضَّيْعَةِ نِصْفًا.

Dan jika dari tanah itu dikembalikan setengahnya.

وَهُوَ قَدْرُ حَقِّهِ.

Sedangkan itu adalah kadar haknya.

سَاهَمَهُ الْوَرَثَةُ.

Para ahli waris ikut membaginya.

فَإِنَّ النِّصْفَ الَّذِي لَهُ لَا يَتَمَيَّزُ.

Karena setengah yang menjadi miliknya belum bisa dibedakan.

حَتَّى يُقَالَ: هُوَ الْمَرْدُودُ وَالْبَاقِي هُوَ الْمَغْصُوبُ.

Sehingga tidak bisa dikatakan: inilah yang dikembalikan, dan sisanya adalah yang dirampas.

وَلَا يَصِيرُ مُتَمَيِّزًا بِنِيَّةِ السُّلْطَانِ وَقَصْدِهِ حَصْرَ الْغَصْبِ فِي نَصِيبِ الآخَرِينَ.

Dan ia tidak menjadi terpisah hanya karena niat dan maksud penguasa untuk membatasi ghasab pada bagian ahli waris yang lain.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا وَقَعَ فِي يَدِهِ مَالٌ أَخَذَهُ مِنْ سُلْطَانٍ ظَالِمٍ.

Contoh masalah: jika di tangannya ada harta yang ia ambil dari penguasa zalim.

ثُمَّ تَابَ وَالْمَالُ عَقَارٌ.

Lalu ia bertobat, dan harta itu berupa tanah atau properti tetap.

وَكَانَ قَدْ حَصَلَ مِنْهُ انْتِفَاعٌ.

Dan telah ada manfaat darinya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يُحْسَبَ أُجْرَةُ مِثْلِهِ لِطُولِ تِلْكَ الْمُدَّةِ.

Maka seharusnya dihitung upah sepadannya selama masa itu.

وَكَذَلِكَ كُلُّ مَغْصُوبٍ لَهُ مَنْفَعَةٌ.

Demikian pula setiap barang ghasab yang memiliki manfaat.

أَوْ حَصَلَ مِنْهُ زِيَادَةٌ.

Atau menghasilkan tambahan nilai.

فَلَا تَصِحُّ تَوْبَتُهُ مَا لَمْ يُخْرِجْ أُجْرَةَ الْمَغْصُوبِ.

Maka tobatnya belum sah sampai ia mengeluarkan upah barang ghasab itu.

وَكَذَلِكَ كُلُّ زِيَادَةٍ حَصَلَتْ مِنْهُ.

Demikian pula setiap pertambahan yang dihasilkan olehnya.

وَتَقْدِيرُ أُجْرَةِ الْعَبِيدِ وَالثِّيَابِ وَالْأَوَانِي وَأَمْثَالِ ذَلِكَ.

Menghitung upah budak, pakaian, bejana, dan semisalnya.

مِمَّا لَا يُعْتَادُ إِجَارَتُهُ.

Untuk barang-barang yang biasanya tidak disewakan.

مِمَّا يَعْسُرُ.

Itu sulit.

وَلَا يُدْرَكُ ذَلِكَ إِلَّا بِاجْتِهَادٍ وَتَخْمِينٍ.

Dan tidak dapat diketahui kecuali dengan ijtihad dan taksiran.

وَهَكَذَا كُلُّ التَّقْوِيمَاتِ تَقَعُ بِالِاجْتِهَادِ.

Demikian pula seluruh penilaian harga terjadi dengan ijtihad.

وَطَرِيقُ الْوَرَعِ الأَخْذُ بِالْأَقْصَى.

Jalan wara’ adalah mengambil yang paling tinggi.

وَمَا رَبِحَهُ عَلَى الْمَالِ الْمَغْصُوبِ فِي عُقُودٍ عَقَدَهَا عَلَى الذِّمَّةِ.

Apa yang ia peroleh dari harta ghasab melalui akad yang ia buat secara tanggungan.

وَقَضَى الثَّمَنَ مِنْهُ، فَهُوَ مِلْكٌ لَهُ.

Lalu ia melunasi harga dari harta itu, maka itu menjadi miliknya.

وَلَكِنْ فِيهِ شُبْهَةٌ.

Namun ada syubhat di dalamnya.

إِذْ كَانَ ثَمَنُهُ حَرَامًا.

Karena harganya berasal dari yang haram.

كَمَا سَبَقَ حُكْمُهُ.

Sebagaimana hukum itu telah dijelaskan sebelumnya.

وَإِنْ كَانَ بِأَعْيَانِ تِلْكَ الأَمْوَالِ.

Jika ia menggunakan benda-benda itu sendiri.

فَالْعُقُودُ كَانَتْ فَاسِدَةً.

Maka akad-akad itu rusak.

وَقَدْ قِيلَ: تَنْفُذُ بِإِجَازَةِ الْمَغْصُوبِ مِنْهُ.

Ada yang berpendapat bahwa akad itu tetap berlaku jika disahkan oleh orang yang dizalimi.

لِلْمَصْلَحَةِ.

Demi kemaslahatan.

فَيَكُونُ الْمَغْصُوبُ مِنْهُ أَوْلَى بِهِ.

Maka orang yang dizalimi itu lebih berhak atasnya.

وَالْقِيَاسُ أَنَّ تِلْكَ الْعُقُودَ تَفْسُخُ.

Secara qiyas, akad-akad itu semestinya dibatalkan.

وَيُسْتَرَدُّ الثَّمَنُ.

Dan harga dikembalikan.

وَتُرَدُّ الأَعْوَاضُ.

Serta penggantinya dikembalikan.

فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ لِكَثْرَتِهِ.

Jika ia tidak mampu karena terlalu banyak.

فَهِيَ أَمْوَالٌ حَرَامٌ حَصَلَتْ فِي يَدِهِ.

Maka itu adalah harta haram yang berada di tangannya.

فَلِلْمَغْصُوبِ مِنْهُ قَدْرُ رَأْسِ مَالِهِ.

Bagi orang yang dizalimi, ia berhak atas pokok hartanya.

وَالْفَضْلُ حَرَامٌ.

Sedangkan sisanya haram.

يَجِبُ إِخْرَاجُهُ لِيَتَصَدَّقَ بِهِ.

Ia wajib mengeluarkannya agar disedekahkan.

وَلَا يَحِلُّ لِلْغَاصِبِ وَلَا لِلْمَغْصُوبِ مِنْهُ.

Ia tidak halal bagi perampas dan juga tidak halal bagi yang dizalimi.

بَلْ حُكْمُهُ حُكْمُ كُلِّ حَرَامٍ يَقَعُ فِي يَدِهِ.

Melainkan hukumnya seperti setiap harta haram yang jatuh ke tangannya.

مَسْأَلَةٌ: مَنْ وَرِثَ مَالًا، وَلَمْ يَدْرِ.

Contoh masalah: orang yang mewarisi harta, tetapi tidak tahu.

أَنَّ مُوَرِّثَهُ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ.

Dari mana pewarisnya mendapatkannya.

أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ.

Apakah dari halal atau dari haram.

وَلَمْ يَكُنْ ثَمَّ عَلَامَةٌ.

Dan tidak ada tanda yang menunjukkan hal itu.

فَهُوَ حَلَالٌ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ.

Maka harta itu halal menurut kesepakatan para ulama.

وَإِنْ عَلِمَ أَنَّ فِيهِ حَرَامًا.

Jika ia tahu bahwa di dalamnya ada bagian haram.

وَشَكَّ فِي قَدْرِهِ.

Tetapi ragu pada kadarnya.

أَخْرَجَ مِقْدَارَ الْحَرَامِ بِالتَّحَرِّي.

Ia mengeluarkan kadar haram itu dengan ihtiyar dan penelitian.

فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ ذَلِكَ.

Jika ia tidak mengetahui hal itu.

وَلَكِنْ عَلِمَ أَنَّ مُوَرِّثَهُ كَانَ يَتَوَلَّى أَعْمَالًا لِلسَّلَاطِينِ.

Tetapi ia tahu bahwa pewarisnya pernah mengurus pekerjaan-pekerjaan untuk para penguasa.

وَاحْتَمَلَ أَنْ لَمْ يَكُنْ أَخَذَ فِي عَمَلِهِ شَيْئًا.

Dan ada kemungkinan ia tidak mengambil sesuatu pun dalam pekerjaannya.

أَوْ كَانَ قَدْ أَخَذَ وَلَمْ يَبْقَ فِي يَدِهِ مِنْهُ شَيْءٌ لِطُولِ الْمُدَّةِ.

Atau ia memang pernah mengambilnya, tetapi tidak ada lagi yang tersisa di tangannya karena lamanya waktu.

فَهَذِهِ شُبْهَةٌ يَحْسُنُ التَّوَرُّعُ عَنْهَا.

Maka ini adalah syubhat yang baik untuk dijauhi demi wara’.

وَلَا يَجِبُ.

Namun tidak wajib.

وَإِنْ عَلِمَ أَنَّ بَعْضَ مَالِهِ كَانَ مِنَ الظُّلْمِ.

Jika ia tahu bahwa sebagian hartanya berasal dari kezaliman.

فَيَلْزَمُهُ إِخْرَاجُ ذَلِكَ الْقَدْرِ بِالِاجْتِهَادِ.

Maka ia wajib mengeluarkan kadar itu dengan ijtihad.

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: لَا يَلْزَمُهُ.

Sebagian ulama berkata: itu tidak wajib baginya.

وَالْإِثْمُ عَلَى الْمُوَرِّثِ.

Dan dosanya ada pada pewaris.

وَاسْتَدَلَّ بِمَا رُوِيَ.

Ia berdalil dengan riwayat.

أَنَّ رَجُلًا مِمَّنْ وَلِيَ عَمَلَ السُّلْطَانِ مَاتَ.

Bahwa ada seorang yang mengurus pekerjaan penguasa lalu wafat.

فَقَالَ صَاحِبٌ: الآنَ طَابَ مَالُهُ.

Maka seorang sahabat berkata: “Sekarang hartanya menjadi baik.”

أَيْ لِوَارِثِهِ.

Maksudnya bagi ahli warisnya.

وَهَذَا ضَعِيفٌ.

Riwayat ini lemah.

لِأَنَّهُ لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الصَّاحِبِ.

Karena nama sahabat itu tidak disebutkan.

وَلَعَلَّهُ صَدَرَ مِنْ مُتَسَاهِلٍ.

Dan mungkin itu keluar dari orang yang terlalu longgar.

فَقَدْ كَانَ فِي الصَّحَابَةِ مَنْ يَتَسَاهَلُ.

Karena di antara sahabat ada yang bersikap longgar.

وَلَكِنْ لَا نَذْكُرُهُ لِحُرْمَةِ الصُّحْبَةِ.

Namun kami tidak menyebutnya karena kehormatan persahabatan dengan Nabi.

وَكَيْفَ يَكُونُ مَوْتُ الرَّجُلِ مُبِيحًا لِلْحَرَامِ الْمُتَيَقَّنِ الْمُخْتَلِطِ؟

Bagaimana mungkin kematian seseorang menjadi sebab halal bagi yang haram yang sudah pasti dan bercampur?

وَمِنْ أَيْنَ يُؤْخَذُ هَذَا؟

Dari mana hal itu bisa diambil?

نَعَمْ، إِذَا لَمْ يُتَيَقَّنْ.

Ya, jika tidak diyakini secara pasti.

فَيَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: هُوَ غَيْرُ مَأْخُوذٍ بِمَا لَا يَدْرِي.

Maka boleh dikatakan bahwa ia tidak dibebani oleh apa yang tidak diketahuinya.

فَيَطِيبُ لِوَارِثٍ لَا يَدْرِي أَنَّ فِيهِ حَرَامًا يَقِينًا.

Sehingga harta itu halal bagi ahli waris yang tidak mengetahui adanya haram secara pasti di dalamnya.

النَّظَرُ الثَّانِي فِي الْمَصْرِفِ.

Pembahasan kedua ialah tentang tempat penyalurannya.

فَإِذَا أَخْرَجَ الْحَرَامَ، فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ.

Jika ia telah mengeluarkan harta haram itu, maka ada tiga keadaan.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ.

Entah harta itu memiliki pemilik tertentu.

فَيَجِبُ الصَّرْفُ إِلَيْهِ.

Maka wajib disalurkan kepadanya.

أَوْ إِلَى وَارِثِهِ.

Atau kepada ahli warisnya.

وَإِنْ كَانَ غَائِبًا فَيَنْتَظِرُ حُضُورَهُ أَوِ الإِيصَالَ إِلَيْهِ.

Jika ia غائب, maka ditunggu kehadirannya atau disampaikan kepadanya.

وَإِنْ كَانَتْ لَهُ زِيَادَةٌ وَمَنْفَعَةٌ.

Jika harta itu memiliki tambahan atau manfaat.

فَلِتَجَمُّعِ فَوَائِدِهِ إِلَى وَقْتِ حُضُورِهِ.

Maka manfaatnya dikumpulkan sampai pemiliknya hadir.

وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ لِمَالِكٍ غَيْرِ مُعَيَّنٍ.

Atau harta itu milik pemilik yang tidak tertentu.

وَقَعَ الْيَأْسُ مِنَ الْوُقُوفِ عَلَى عَيْنِهِ.

Dan telah putus harapan untuk mengetahui siapa pemiliknya secara tepat.

وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ مَاتَ عَنْ وَارِثٍ أَمْ لَا.

Dan tidak diketahui apakah ia mati meninggalkan ahli waris atau tidak.

فَهَذَا لَا يُمْكِنُ الرَّدُّ فِيهِ لِلْمَالِكِ.

Dalam keadaan ini, harta itu tidak mungkin dikembalikan kepada pemiliknya.

وَيُوقَفُ حَتَّى يَتَّضِحَ الأَمْرُ فِيهِ.

Maka ia ditahan sampai urusannya menjadi jelas.

وَرُبَّمَا لَا يُمْكِنُ الرَّدُّ لِكَثْرَةِ الْمُلَّاكِ.

Kadang-kadang pengembalian tidak mungkin karena banyaknya pemilik.

كَغُلُولِ الْغَنِيمَةِ.

Seperti harta rampasan yang digelapkan.

فَإِنَّهَا بَعْدَ تَفَرُّقِ الْغُزَاةِ.

Karena setelah para tentara berpencar.

كَيْفَ يُقْدَرُ عَلَى جَمْعِهِمْ؟

Bagaimana mungkin mereka dikumpulkan kembali?

وَإِنْ قُدِرَ، فَكَيْفَ يُفَرَّقُ دِينَارٌ وَاحِدٌ مَثَلًا عَلَى أَلْفٍ أَوْ أَلْفَيْنِ؟

Dan kalau pun bisa, bagaimana satu dinar dibagikan, misalnya, kepada seribu atau dua ribu orang?

فَهَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُتَصَدَّقَ بِهِ.

Maka ini sebaiknya disedekahkan.

وَإِمَّا مِنْ مَالِ الْفَيْءِ وَالأَمْوَالِ الْمُرَصَّدَةِ لِمَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ كَافَّةً.

Atau dari harta fai’ dan harta yang disediakan untuk kepentingan kaum muslimin secara umum.

فَيُصْرَفُ ذَلِكَ إِلَى الْقَنَاطِرِ وَالْمَسَاجِدِ وَالرِّبَاطَاتِ.

Maka itu disalurkan untuk jembatan, masjid, ribath.

وَمَصَانِعِ طَرِيقِ مَكَّةَ وَأَمْثَالِ هَذِهِ الأُمُورِ.

Dan tempat-tempat perbekalan di jalan menuju Makkah serta hal-hal semisal itu.

الَّتِي يَشْتَرِكُ فِي الِانْتِفَاعِ بِهَا كُلُّ مَنْ يَمُرُّ بِهَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Yang manfaatnya dinikmati oleh setiap muslim yang melintas di sana.

لِيَكُونَ عَامًّا لِلْمُسْلِمِينَ.

Agar menjadi umum bagi kaum muslimin.

وَحُكْمُ الْقِسْمِ الأَوَّلِ لَا شُبْهَةَ فِيهِ.

Hukum bagian pertama tidak ada syubhat di dalamnya.

أَمَّا التَّصَدُّقُ وَبِنَاءُ الْقَنَاطِرِ.

Adapun bersedekah dan membangun jembatan.

فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَوَلَّاهُ الْقَاضِي.

Maka sebaiknya ditangani oleh hakim.

فَيُسَلِّمَ إِلَيْهِ الْمَالَ.

Lalu harta itu diserahkan kepadanya.

إِنْ وَجَدَ قَاضِيًا مُتَدَيِّنًا.

Jika ada hakim yang saleh.

وَإِنْ كَانَ الْقَاضِي مُسْتَحِلًّا.

Namun jika hakim itu menghalalkan yang haram.

فَهُوَ بِالتَّسْلِيمِ إِلَيْهِ ضَامِنٌ.

Maka dengan menyerahkannya kepadanya, ia menjadi penanggung.

لَوِ ابْتَدَأَ بِهِ فِيمَا لَا يَضْمَنُهُ.

Kalaupun ia memulai pada perkara yang seharusnya tidak ia tanggung.

فَكَيْفَ يَسْقُطُ عَنْهُ بِهِ ضَمَانٌ قَدِ اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ؟

Bagaimana mungkin dengan itu gugur tanggungan yang sudah tetap atas dirinya?

بَلْ يُحَكِّمُ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ عَالِمًا مُتَدَيِّنًا.

Bahkan hendaklah ia mengangkat seorang alim yang saleh dari penduduk negeri itu.

فَإِنَّ التَّحْكِيمَ أَوْلَى مِنَ الِانْفِرَادِ.

Karena penyerahan perkara kepada hakim lebih utama daripada bertindak sendiri.

فَإِنْ عَجَزَ فَلْيَتَوَلَّ ذَلِكَ بِنَفْسِهِ.

Jika ia tidak mampu, hendaklah ia menanganinya sendiri.

فَإِنَّ الْمَقْصُودَ الصَّرْفُ.

Karena tujuan pokoknya adalah penyaluran.

وَأَمَّا عَيْنُ الصَّارِفِ.

Adapun siapa yang secara langsung menyalurkan.

فَإِنَّمَا نَطْلُبُهُ لِمَصَارِفَ دَقِيقَةٍ فِي الْمَصَالِحِ.

Kami mencarinya hanya untuk kebutuhan penyaluran yang lebih rinci dalam kemaslahatan.

فَلَا يُتْرَكُ أَصْلُ الصَّرْفِ.

Maka pokok penyaluran tidak boleh ditinggalkan.

بِسَبَبِ الْعَجْزِ عَنْ صَارِفٍ هُوَ أَوْلَى عِنْدَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ.

Hanya karena tidak mampu menemukan penyalur yang lebih layak saat mampu mencarinya.

فَإِنْ قِيلَ: مَا دَلِيلُ جَوَازِ التَّصَدُّقِ بِمَا هُوَ حَرَامٌ؟

Jika dikatakan: apa dalil bolehnya bersedekah dengan sesuatu yang haram?

وَكَيْفَ يَتَصَدَّقُ بِمَا لَا يَمْلِكُ؟

Dan bagaimana ia bersedekah dengan sesuatu yang bukan miliknya?

وَقَدْ ذَهَبَ جَمَاعَةٌ إِلَى أَنَّ ذَلِكَ غَيْرُ جَائِزٍ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu tidak boleh.

لِأَنَّهُ حَرَامٌ.

Karena itu haram.

وَحُكِيَ عَنِ الْفُضَيْلِ.

Dan dinukil dari al-Fudhayl.

أَنَّهُ وَقَعَ فِي يَدِهِ دِرْهَمَانِ.

Bahwa ada dua dirham jatuh ke tangannya.

فَلَمَّا عَلِمَ أَنَّهُمَا مِنْ غَيْرِ وَجْهِهِمَا.

Ketika ia tahu bahwa keduanya bukan dari jalan yang benar.

رَمَاهُمَا بَيْنَ الْحِجَارَةِ.

Ia melemparkannya di antara batu-batu.

وَقَالَ: لَا أَتَصَدَّقُ إِلَّا بِالطَّيِّبِ.

Lalu ia berkata: “Aku tidak akan bersedekah kecuali dengan yang baik.”

وَلَا أَرْضَى لِغَيْرِي مَالًا لَا أَرْضَاهُ لِنَفْسِي.

“Dan aku tidak rela untuk orang lain sesuatu yang aku tidak rela untuk diriku sendiri.”

فَنَقُولُ: نَعَمْ، ذَلِكَ لَهُ وَجْهٌ وَاحْتِمَالٌ.

Kami jawab: ya, itu memiliki dasar dan kemungkinan.

وَلَكِنَّا اخْتَرْنَا خِلَافَهُ لِلْخَبَرِ وَالأَثَرِ وَالْقِيَاسِ.

Namun kami memilih pendapat yang berbeda karena hadis, atsar, dan qiyas.

أَمَّا الْخَبَرُ.

Adapun hadis.

فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالتَّصَدُّقِ بِالشَّاةِ الْمَصْلِيَّةِ الَّتِي قُدِّمَتْ إِلَيْهِ.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan agar kambing panggang yang dipersembahkan kepada beliau disedekahkan.

فَكَلَّمَتْهُ بِأَنَّهَا حَرَامٌ.

Padahal ia dikabarkan bahwa kambing itu haram.

إِذْ قَالَ صلى الله عليه وسلم: «أَطْعِمُوهَا الأُسَارَى».

Karena beliau bersabda: “Berikanlah itu kepada para tawanan.”

وَلَمَّا نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أَلِمْ غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ﴾.

Ketika turun firman Allah Ta‘ala: “Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang.”

كَذَّبَهُ الْمُشْرِكُونَ.

Orang-orang musyrik mendustakannya.

وَقَالُوا لِلصَّحَابَةِ.

Mereka berkata kepada para sahabat.

أَلَا تَرَوْنَ مَا يَقُولُ صَاحِبُكُمْ؟

“Tidakkah kalian melihat apa yang dikatakan teman kalian?”

يَزْعُمُ أَنَّ الرُّومَ سَتَغْلِبُ.

“Dia mengaku bahwa Romawi akan menang.”

فَخَاطَرَهُمْ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه.

Maka Abu Bakar رضي الله عنه bertaruh dengan mereka.

بِإِذْنِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.

Atas izin Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

فَلَمَّا حَقَّقَ اللَّهُ صِدْقَهُ.

Ketika Allah menampakkan kebenaran ucapannya.

وَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه بِمَا قَامَرَهُمْ بِهِ.

Abu Bakar رضي الله عنه datang membawa apa yang telah ia pertaruhkan dengan mereka.

قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «هَذَا سُحْتٌ، فَتَصَدَّقْ بِهِ».

Beliau عليه السلام bersabda: “Ini adalah harta haram, maka sedekahkanlah.”

وَفَرِحَ الْمُؤْمِنُونَ بِنَصْرِ اللَّهِ.

Dan orang-orang beriman bergembira dengan pertolongan Allah.

وَكَانَ قَدْ نَزَلَ تَحْرِيمُ الْقِمَارِ بَعْدُ.

Padahal pengharaman judi turun setelah itu.

بَعْدَ أَنْ أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَهُ فِي الْمُخَاطَرَةِ مَعَ الْكُفَّارِ.

Setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengizinkannya bertaruh dengan orang-orang kafir.

وَأَمَّا الأَثَرُ.

Adapun atsar.

فَإِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ رضي الله عنه اشْتَرَى جَارِيَةً.

Sesungguhnya Ibn Mas‘ud رضي الله عنه membeli seorang budak perempuan.

فَلَمْ يَظْفَرْ بِمَالِكِهَا لِيُنْقِدَهُ الثَّمَنَ.

Tetapi ia tidak menemukan pemiliknya untuk membayar harga.

فَطَلَبَهُ كَثِيرًا فَلَمْ يَجِدْهُ.

Ia pun mencarinya berkali-kali tetapi tidak menemukannya.

فَتَصَدَّقَ بِالثَّمَنِ.

Maka ia menyedekahkan harga itu.

وَقَالَ: اللَّهُمَّ هَذَا عَنْهُ.

Lalu ia berkata: “Ya Allah, ini untuknya.”

إِنْ رَضِيَ.

“Jika ia ridha.”

وَإِلَّا فَالْأَجْرُ لِي.

“Kalau tidak, maka pahalanya untukku.”

وَسُئِلَ الْحَسَنُ رضي الله عنه.

Al-Hasan رضي الله عنه pernah ditanya.

عَنْ تَوْبَةِ الْغَالِّ.

Tentang tobat orang yang menggelapkan ghanimah.

وَمَا يُؤْخَذُ مِنْهُ بَعْدَ تَفَرُّقِ الْجَيْشِ.

Dan tentang apa yang diambil darinya setelah pasukan berpencar.

فَقَالَ: يَتَصَدَّقُ بِهِ.

Beliau menjawab: “Ia sedekahkan.”

وَرُوِيَ أَنَّ رَجُلًا سَوَّلَتْ لَهُ نَفْسُهُ.

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki terbujuk oleh nafsunya.

فَغَلَّ مِائَةَ دِينَارٍ مِنَ الْغَنِيمَةِ.

Lalu ia menggelapkan seratus dinar dari ghanimah.

ثُمَّ أَتَى أَمِيرَهُ لِيَرُدَّهَا عَلَيْهِ.

Kemudian ia datang kepada komandannya untuk mengembalikannya.

فَأَبَى أَنْ يَقْبِضَهَا.

Tetapi komandannya menolak menerimanya.

وَقَالَ لَهُ: تَفَرَّقَ النَّاسُ.

Ia berkata kepadanya: “Orang-orang telah berpencar.”

فَأَتَى مُعَاوِيَةَ.

Lalu ia datang kepada Mu‘awiyah.

فَأَبَى أَنْ يَقْبِضَ.

Tetapi ia juga menolak menerimanya.

فَأَتَى بَعْضَ النُّسَّاكِ.

Lalu ia datang kepada sebagian ahli ibadah.

فَقَالَ: ادْفَعْ خُمُسَهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ، وَتَصَدَّقْ بِمَا يَبْقَى.

Ahli ibadah itu berkata: “Bayarkan seperlimanya kepada Mu‘awiyah, dan sedekahkan sisanya.”

فَبَلَغَ مُعَاوِيَةَ قَوْلُهُ.

Ucapan itu sampai kepada Mu‘awiyah.

فَتَلَهَّفَ إِذْ لَمْ يَخْطُرْ لَهُ ذَلِكَ.

Maka ia menyesal karena hal itu tidak terlintas dalam pikirannya.

وَقَدْ ذَهَبَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَالْحَارِثُ الْمُحَاسِبِيُّ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الْوَرِعِينَ إِلَى ذَلِكَ.

Dan Ahmad bin Hanbal, al-Harits al-Muhasibi, serta sekelompok orang-orang wara’ berpendapat demikian.

وَأَمَّا الْقِيَاسُ.

Adapun qiyas.

فَهُوَ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ هَذَا الْمَالَ مُرَدَّدٌ بَيْنَ أَنْ يَضِيعَ وَبَيْنَ أَنْ يُصْرَفَ إِلَى خَيْرٍ.

Maka dikatakan: harta ini antara akan hilang sia-sia atau disalurkan kepada kebaikan.

إِذْ قَدْ وَقَعَ الْيَأْسُ مِنْ مَالِكِهِ.

Karena harapan untuk menemukan pemiliknya telah hilang.

وَبِالضَّرُورَةِ يُعْلَمُ أَنَّ صَرْفَهُ إِلَى خَيْرٍ أَوْلَى مِنْ إِلْقَائِهِ فِي الْبَحْرِ.

Dan secara pasti diketahui bahwa menyalurkannya kepada kebaikan lebih utama daripada membuangnya ke laut.

فَإِنَّا إِنْ رَمَيْنَاهُ فِي الْبَحْرِ.

Karena jika kami membuangnya ke laut.

فَقَدْ فَوَّتْنَاهُ عَلَى أَنْفُسِنَا وَعَلَى الْمَالِكِ.

Kami telah menyia-nyiakannya bagi diri kami dan bagi pemiliknya.

وَلَمْ تَحْصُلْ مِنْهُ فَائِدَةٌ.

Dan tidak ada manfaat darinya.

وَإِذَا رَمَيْنَاهُ فِي يَدِ فَقِيرٍ يَدْعُو لِمَالِكِهِ.

Jika kami meletakkannya di tangan seorang fakir yang mendoakan pemiliknya.

حَصَلَ لِلْمَالِكِ بَرَكَةُ دُعَائِهِ.

Maka pemiliknya memperoleh berkah doa itu.

وَحَصَلَ لِلْفَقِيرِ سَدُّ حَاجَتِهِ.

Dan fakir itu memperoleh pemenuhan kebutuhannya.

وَحُصُولُ الأَجْرِ لِلْمَالِكِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ فِي التَّصَدُّقِ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُنْكَرَ.

Dan tidak perlu diingkari bahwa pahala bagi pemilik bisa diperoleh tanpa pilihannya dalam bersedekah.

فَإِنَّ فِي الْخَبَرِ الصَّحِيحِ.

Karena dalam hadis sahih terdapat berita.

أَنَّ لِلزَّارِعِ وَالْغَارِسِ أَجْرًا.

Bahwa bagi petani dan penanam ada pahala.

فِي كُلِّ مَا يُصِيبُ النَّاسُ وَالطَّيْرُ مِنْ ثَمَرَاتِهِ وَزَرْعِهِ.

Pada setiap yang dimakan manusia dan burung dari buah dan tanamannya.

وَذَلِكَ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ.

Dan itu terjadi tanpa pilihannya.

وَأَمَّا قَوْلُ الْقَائِلِ: لَا نَتَصَدَّقُ إِلَّا بِالطَّيِّبِ.

Adapun ucapan orang yang berkata: “Kami tidak bersedekah kecuali dengan yang baik.”

فَذَلِكَ إِذَا طَلَبْنَا الأَجْرَ لِأَنْفُسِنَا.

Itu berlaku jika kami mencari pahala untuk diri kami sendiri.

وَنَحْنُ الآنَ نَطْلُبُ الْخَلَاصَ مِنَ الْمَظْلِمَةِ لَا الأَجْرَ.

Adapun sekarang, kami mencari lepas dari kezaliman, bukan pahala.

وَتَرَدَّدْنَا بَيْنَ التَّضْيِيعِ وَبَيْنَ التَّصَدُّقِ.

Kami bimbang antara menyia-nyiakan dan bersedekah.

وَرَجَّحْنَا جَانِبَ التَّصَدُّقِ عَلَى جَانِبِ التَّضْيِيعِ.

Lalu kami mengunggulkan sedekah atas penyia-nyiaan.

وَقَوْلُ الْقَائِلِ: لَا نَرْضَى لِغَيْرِنَا مَالًا لَا نَرْضَاهُ لِأَنْفُسِنَا.

Ucapan orang yang berkata: “Kami tidak rela untuk orang lain sesuatu yang kami tidak rela untuk diri kami sendiri.”

فَهُوَ كَذَلِكَ.

Hal itu juga benar.

وَلَكِنَّهُ عَلَيْنَا حَرَامٌ لِاسْتِغْنَائِنَا عَنْهُ.

Tetapi bagi kita ia haram karena kita tidak membutuhkannya.

وَلِلْفَقِيرِ حَلَالٌ.

Sedangkan bagi fakir ia halal.

إِذْ أَحَلَّهُ دَلِيلُ الشَّرْعِ.

Karena dalil syariat telah menghalalkannya.

وَإِذَا اقْتَضَتِ الْمَصْلَحَةُ التَّحْلِيلَ وَجَبَ التَّحْلِيلُ.

Jika kemaslahatan menuntut penghalalan, maka penghalalan wajib dilakukan.

وَإِذَا حَلَّ فَقَدْ رَضِينَا لَهُ الْحَلَالَ.

Dan jika telah halal, berarti kami meridhainya sebagai halal baginya.

وَنَقُولُ: إِنَّ لَهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَلَى نَفْسِهِ وَعِيَالِهِ إِذَا كَانَ فَقِيرًا.

Kami katakan: ia boleh bersedekah kepada dirinya sendiri dan keluarganya jika ia fakir.

أَمَّا عِيَالُهُ وَأَهْلُهُ فَلَا يَخْفَى.

Adapun keluarganya, hal itu jelas.

لِأَنَّ الْفَقْرَ لَا يَنْتَفِي عَنْهُمْ بِكَوْنِهِمْ مِنْ عِيَالِهِ وَأَهْلِهِ.

Karena kefakiran tidak hilang dari mereka hanya karena mereka termasuk keluarganya.

بَلْ هُمْ أَوْلَى مَنْ يُتَصَدَّقُ عَلَيْهِمْ.

Bahkan merekalah yang lebih utama untuk disedekahi.

وَأَمَّا هُوَ فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهُ قَدْرَ حَاجَتِهِ.

Adapun dirinya sendiri, ia boleh mengambil darinya sekadar kebutuhannya.

لِأَنَّهُ أَيْضًا فَقِيرٌ.

Karena ia juga fakir.

وَلَوْ تَصَدَّقَ بِهِ عَلَى فَقِيرٍ لَجَازَ.

Kalau ia menyedekahkannya kepada fakir lain pun boleh.

وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ هُوَ الْفَقِيرَ.

Demikian juga jika dialah fakirnya.

وَلْنَرْسِمْ فِي بَيَانِ هَذَا الأَصْلِ أَيْضًا مَسَائِلَ.

Mari kita tuliskan juga beberapa masalah untuk menjelaskan pokok ini.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا وَقَعَ فِي يَدِهِ مَالٌ مِنْ يَدِ سُلْطَانٍ.

Contoh masalah: jika di tangannya ada harta dari tangan seorang penguasa.

قَالَ قَوْمٌ: يُرَدُّ إِلَى السُّلْطَانِ.

Sebagian ulama berkata: harta itu dikembalikan kepada penguasa.

فَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا تَوَلَّاهُ.

Karena penguasa lebih tahu tentang apa yang pernah ia kelola.

فَيُقَلِّدُهُ مَا تَقَلَّدَهُ.

Maka ia mengikuti apa yang telah ia tanggung.

وَهُوَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِهِ.

Dan itu lebih baik daripada menyedekahkannya.

وَاخْتَارَ الْمُحَاسِبِيُّ ذَلِكَ.

Al-Muhasibi memilih pendapat itu.

وَقَالَ: كَيْفَ يَتَصَدَّقُ بِهِ؟

Beliau berkata: “Bagaimana ia bisa bersedekah dengannya?”

فَلَعَلَّ لَهُ مَالِكًا مُعَيَّنًا.

Barangkali ada pemilik tertentu.

وَلَوْ جَازَ ذَلِكَ.

Dan jika itu boleh.

لَجَازَ أَنْ يَسْرِقَ مِنَ السُّلْطَانِ وَيَتَصَدَّقَ بِهِ.

Maka boleh juga mencuri dari penguasa lalu menyedekahkannya.

وَقَالَ قَوْمٌ: يَتَصَدَّقُ بِهِ.

Sebagian lain berkata: ia bersedekah dengannya.

إِذَا عَلِمَ أَنَّ السُّلْطَانَ لَا يَرُدُّهُ إِلَى الْمَالِكِ.

Jika ia tahu penguasa tidak akan mengembalikannya kepada pemilik.

لِأَنَّ ذَلِكَ إِعَانَةٌ لِلظَّالِمِ.

Karena itu berarti membantu orang zalim.

وَتَكْثِيرٌ لِأَسْبَابِ ظُلْمِهِ.

Dan memperbanyak sebab-sebab kezaliman.

فَالرَّدُّ إِلَيْهِ تَضْيِيعٌ لِحَقِّ الْمَالِكِ.

Sedangkan mengembalikannya kepadanya berarti menyia-nyiakan hak pemilik.

وَالْمُخْتَارُ.

Pendapat yang dipilih adalah.

أَنَّهُ إِذَا عَلِمَ مِنْ عَادَةِ السُّلْطَانِ أَنَّهُ لَا يَرُدُّهُ إِلَى مَالِكِهِ.

Jika diketahui dari kebiasaan penguasa bahwa ia tidak mengembalikannya kepada pemiliknya.

فَيَتَصَدَّقُ بِهِ عَنْ مَالِكِهِ.

Maka ia sedekahkan untuk pemiliknya.

فَهُوَ خَيْرٌ لِلْمَالِكِ.

Itu lebih baik bagi pemilik.

إِنْ كَانَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ.

Jika memang ada pemilik tertentu.

مِنْ أَنْ يُرَدَّ عَلَى السُّلْطَانِ.

Daripada dikembalikan kepada penguasa.

لِأَنَّهُ رُبَّمَا لَا يَكُونُ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ.

Karena bisa jadi ia tidak memiliki pemilik tertentu.

وَيَكُونُ حَقُّ الْمُسْلِمِينَ.

Dan haknya adalah hak kaum muslimin.

فَرَدُّهُ عَلَى السُّلْطَانِ تَضْيِيعٌ.

Maka mengembalikannya kepada penguasa berarti menyia-nyiakan.

فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ.

Jika ia memiliki pemilik tertentu.

فَالرَّدُّ عَلَى السُّلْطَانِ تَضْيِيعٌ.

Maka mengembalikannya kepada penguasa adalah menyia-nyiakan.

وَإِعَانَةٌ لِلْسُّلْطَانِ الظَّالِمِ.

Dan membantu penguasa yang zalim.

وَتَفْوِيتٌ لِبَرَكَةِ دُعَاءِ الْفَقِيرِ عَلَى الْمَالِكِ.

Serta menghilangkan berkah doa fakir untuk pemilik harta.

وَهَذَا ظَاهِرٌ.

Ini jelas.

فَإِذَا وَقَعَ فِي يَدِهِ مِنْ مِيرَاثٍ.

Jika di tangannya ada harta dari warisan.

وَلَمْ يَتَعَدَّ هُوَ بِالأَخْذِ مِنَ السُّلْطَانِ.

Dan ia sendiri tidak melampaui batas dengan mengambil dari penguasa.

فَهُوَ شَبِيهٌ بِاللُّقَطَةِ.

Maka itu mirip barang temuan.

الَّتِي أَيْسَ مِنْ مَعْرِفَةِ صَاحِبِهَا.

Yang telah putus asa untuk mengetahui pemiliknya.

إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِيهَا بِالتَّصَدُّقِ عَنْ الْمَالِكِ.

Jika ia tidak boleh mengelolanya dengan cara bersedekah atas nama pemilik.

وَلَكِنْ لَهُ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا.

Tetapi ia boleh memilikinya.

ثُمَّ إِنْ كَانَ غَنِيًّا.

Meskipun ia kaya.

مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ اكْتَسَبَهُ مِنْ وَجْهٍ مُبَاحٍ.

Karena ia memperolehnya dari jalan yang mubah.

وَهُوَ الِالْتِقَاطُ.

Yaitu melalui pengambilan barang temuan.

وَهُنَا لَمْ يَحْصُلِ الْمَالُ مِنْ وَجْهٍ مُبَاحٍ.

Sedangkan di sini harta itu tidak diperoleh dari jalan mubah.

فَيُؤَثِّرُ فِي مَنْعِهِ مِنَ التَّمَلُّكِ.

Maka hal itu mempengaruhi larangan baginya untuk memilikinya.

وَلَا يُؤَثِّرُ فِي الْمَنْعِ مِنَ التَّصَدُّقِ.

Namun tidak mempengaruhi larangan untuk menyedekahkannya.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا حَصَلَ فِي يَدِهِ مَالٌ لَا مَالِكَ لَهُ.

Contoh masalah: jika di tangannya ada harta yang tidak diketahui pemiliknya.

وَجَوَّزْنَا لَهُ أَنْ يَأْخُذَ قَدْرَ حَاجَتِهِ لِفَقْرِهِ.

Dan kami membolehkannya mengambil sekadar kebutuhannya karena ia miskin.

فَفِي قَدْرِ حَاجَتِهِ نَظَرٌ.

Maka tentang kadar kebutuhannya masih ada pembahasan.

ذَكَرْنَاهُ فِي كِتَابِ أَسْرَارِ الزَّكَاةِ.

Kami telah membahasnya dalam kitab أسرار الزكاة.

فَقَدْ قَالَ قَوْمٌ: يَأْخُذُ كِفَايَةَ سَنَةٍ.

Sebagian ulama berkata: ia mengambil kecukupan satu tahun.

لِنَفْسِهِ وَلِعِيَالِهِ.

Untuk dirinya dan keluarganya.

وَإِنْ قَدَرَ عَلَى شِرَاءِ ضَيْعَةٍ أَوْ تِجَارَةٍ.

Dan jika ia mampu membeli tanah atau berdagang.

يَكْتَسِبُ بِهَا لِلْعَائِلَةِ.

Agar ia mencari penghasilan untuk keluarganya.

فَعَلَ.

Maka hendaklah ia lakukan.

وَهَذَا مَا اخْتَارَهُ الْمُحَاسِبِيُّ.

Inilah yang dipilih al-Muhasibi.

وَلَكِنَّهُ قَالَ: الأَوْلَى أَنْ يَتَصَدَّقَ بِالْكُلِّ.

Namun beliau berkata: yang lebih utama ialah menyedekahkan semuanya.

إِنْ وَجَدَ مِنْ نَفْسِهِ قُوَّةَ التَّوَكُّلِ.

Jika ia menemukan dalam dirinya kekuatan tawakal.

وَيَنْتَظِرَ لُطْفَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْحَلَالِ.

Dan menunggu kelembutan Allah Ta‘ala dalam memberi rezeki halal.

فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ.

Jika ia tidak mampu.

فَلَهُ أَنْ يَشْتَرِيَ ضَيْعَةً أَوْ يَتَّخِذَ رَأْسَ مَالٍ.

Maka ia boleh membeli tanah atau menjadikan modal.

يَتَعَيَّشُ بِالْمَعْرُوفِ مِنْهُ.

Agar ia hidup dengan cara yang patut darinya.

وَكُلَّ يَوْمٍ وَجَدَ فِيهِ حَلَالًا أَمْسَكَ ذَلِكَ الْيَوْمَ عَنْهُ.

Dan pada setiap hari ia mendapati rezeki halal, maka ia menahan diri dari harta itu pada hari tersebut.

فَإِذَا فَنِيَ عَادَ إِلَيْهِ.

Jika habis, ia kembali kepadanya.

فَإِذَا وَجَدَ حَلَالًا مُعَيَّنًا.

Jika ia mendapatkan harta halal yang tertentu.

تَصَدَّقَ بِمِثْلِ مَا أَنْفَقَهُ مِنْ قَبْلُ.

Maka ia bersedekah dengan semisal apa yang telah ia belanjakan sebelumnya.

وَيَكُونُ ذَلِكَ قَرْضًا عِنْدَهُ.

Dan itu menjadi semacam utang baginya.

ثُمَّ إِنَّهُ يَأْكُلُ الْخُبْزَ وَيَتْرُكُ اللَّحْمَ إِنْ قَوِيَ عَلَيْهِ.

Kemudian ia makan roti dan meninggalkan daging jika ia kuat menjalaninya.

وَإِلَّا أَكَلَ اللَّحْمَ مِنْ غَيْرِ تَنَعُّمٍ وَلَا تَوَسُّعٍ.

Jika tidak, ia memakan daging tanpa kemewahan dan berlebih-lebihan.

وَمَا ذَكَرَهُ لَا مَزِيدَ عَلَيْهِ.

Apa yang beliau sebutkan itu tidak perlu ditambah lagi.

وَلَكِنْ جَعْلَ مَا أَنْفَقَهُ قَرْضًا عِنْدَهُ فِيهِ نَظَرٌ.

Namun menjadikan apa yang ia belanjakan sebagai utang dalam tanggungannya masih dipertimbangkan.

وَلَا شَكَّ فِي أَنَّ الْوَرَعَ أَنْ يَجْعَلَهُ قَرْضًا.

Tidak diragukan bahwa wara’ adalah menjadikannya utang.

فَإِذَا وَجَدَ حَلَالًا تَصَدَّقَ بِمِثْلِهِ.

Maka jika ia mendapatkan harta halal, hendaklah ia bersedekah dengan semisalnya.

وَلَكِنْ مَهْمَا لَمْ يَجِبْ ذَلِكَ عَلَى الْفَقِيرِ.

Namun selama hal itu tidak wajib bagi fakir yang diberi sedekah.

فَلَا يَبْعُدُ أَنْ لَا يَجِبَ عَلَيْهِ أَيْضًا.

Maka tidak jauh kemungkinan bahwa itu juga tidak wajib baginya.

إِذَا أَخَذَهُ لِفَقْرِهِ.

Jika ia mengambilnya karena kefakirannya.

لَا سِيَّمَا إِذَا وَقَعَ فِي يَدِهِ مِنْ مِيرَاثٍ.

Terlebih jika harta itu jatuh ke tangannya dari warisan.

وَلَمْ يَكُنْ مُتَعَدِّيًا بِغَصْبِهِ وَكَسْبِهِ.

Dan ia tidak melampaui batas dengan merampas atau mencari dengan cara haram.

حَتَّى يُغَلِّظَ الأَمْرُ عَلَيْهِ فِيهِ.

Sampai urusan itu menjadi sangat berat baginya.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا كَانَ فِي يَدِهِ حَلَالٌ وَحَرَامٌ أَوْ شُبْهَةٌ.

Contoh masalah: jika di tangannya ada halal dan haram, atau syubhat.

وَلَيْسَ يَفْضُلُ الْكُلَّ عَنْ حَاجَتِهِ.

Dan jumlah itu tidak melebihi kebutuhannya seluruhnya.

فَإِذَا كَانَ لَهُ عِيَالٌ.

Jika ia memiliki tanggungan.

فَلْيُخَصَّ نَفْسَهُ بِالْحَلَالِ.

Maka hendaklah ia mengkhususkan dirinya dengan yang halal.

لِأَنَّ الْحُجَّةَ عَلَيْهِ أَوْكَدُ فِي نَفْسِهِ.

Karena hujjah atas dirinya lebih kuat pada dirinya sendiri.

مِنْهُ فِي عَبْدِهِ وَعِيَالِهِ وَأَوْلَادِهِ.

Daripada pada budak, keluarga, dan anak-anaknya.

الصِّغَارِ وَالْكِبَارِ مِنَ الأَوْلَادِ.

Baik yang kecil maupun yang besar dari anak-anak.

يَحْرُسُهُمْ مِنَ الْحَرَامِ.

Ia menjaga mereka dari yang haram.

إِنْ كَانَ لَا يُفْضِي بِهِمْ إِلَى مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ.

Jika itu tidak membawa mereka kepada sesuatu yang lebih berat.

فَإِنْ أَفْضَى، فَيُطْعِمُهُمْ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ.

Jika justru membawa mudarat, maka ia beri mereka sekadar kebutuhan.

وَبِالْجُمْلَةِ مَا يَحْذَرُهُ فِي غَيْرِهِ.

Secara umum, apa yang ia takutkan pada orang lain.

فَهُوَ مَحْذُورٌ فِي نَفْسِهِ وَزِيَادَةٌ.

Juga terlarang pada dirinya sendiri, bahkan lebih.

وَهُوَ أَنَّهُ يَتَنَاوَلُ مَعَ الْعِلْمِ.

Karena ia melakukannya dengan sadar.

وَالْعِيَالُ رُبَّمَا تَعَذَّرَ إِذَا لَمْ تَعْلَمْ.

Sedangkan keluarga kadang tidak bisa dinilai seperti itu jika mereka tidak tahu.

إِذْ لَمْ تَتَوَلَّ الأَمْرَ بِنَفْسِهَا.

Karena mereka tidak mengurus urusan itu sendiri.

فَلْيَبْدَأْ بِالْحَلَالِ بِنَفْسِهِ.

Maka hendaklah ia memulai dengan yang halal untuk dirinya sendiri.

ثُمَّ بِمَنْ يَعُولُ.

Lalu untuk orang yang ia tanggung.

وَإِذَا تَرَدَّدَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ.

Jika ia ragu dalam urusan dirinya sendiri.

بَيْنَ مَا يَخُصُّ قُوتَهُ وَكِسْوَتَهُ.

Antara apa yang menjadi makanan dan pakaiannya.

وَبَيْنَ غَيْرِهِ مِنَ الْمَؤُونَةِ.

Dan antara hal lain dari kebutuhan hidup.

كَأُجْرَةِ الْحَجَّامِ وَالصَّبَّاغِ وَالْقَصَّارِ وَالْحَمَّالِ.

Seperti upah tukang bekam, tukang celup, tukang cuci, dan kuli angkut.

وَالاطِّلَاءِ بِالنُّورَةِ وَالدُّهْنِ.

Serta bedak kapur dan minyak.

وَعِمَارَةِ الْمَنْزِلِ وَتَعَهُّدِ الدَّابَّةِ.

Dan perbaikan rumah serta perawatan hewan tunggangan.

وَتَسْجِيرِ التَّنُّورِ وَثَمَنِ الْحَطَبِ وَدُهْنِ السِّرَاجِ.

Menyalakan tungku, harga kayu bakar, dan minyak lampu.

فَلْيُخَصَّ بِالْحَلَالِ قُوتَهُ وَلِبَاسَهُ.

Maka hendaklah ia mengutamakan yang halal untuk makanan dan pakaiannya.

فَإِنَّ مَا يَتَعَلَّقُ بِبَدَنِهِ وَلا غِنَى بِهِ عَنْهُ.

Karena apa yang berkaitan langsung dengan badannya dan tidak bisa ia tinggalkan.

هُوَ أَوْلَى بِأَنْ يَكُونَ طَيِّبًا.

Lebih layak untuk dijaga agar bersih.

وَإِذَا دَارَ الأَمْرُ بَيْنَ الْقُوتِ وَاللِّبَاسِ.

Jika urusan itu berputar antara makanan dan pakaian.

فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: يَخُصُّ الْقُوتَ بِالْحَلَالِ.

Maka bisa dikatakan: ia mendahulukan makanan yang halal.

لِأَنَّهُ مُمتَزِجٌ بِلَحْمِهِ وَدَمِهِ.

Karena makanan bercampur dengan daging dan darahnya.

وَكُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.

Dan setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka api lebih layak baginya.

وَأَمَّا الْكِسْوَةُ.

Adapun pakaian.

فَفَائِدَتُهَا سَتْرُ عَوْرَتِهِ.

Manfaatnya adalah menutup auratnya.

وَدَفْعُ الْحَرِّ وَالْبَرْدِ وَالأَبْصَارِ عَنْ بَشَرَتِهِ.

Dan melindungi dari panas, dingin, serta pandangan terhadap kulitnya.

وَهَذَا هُوَ الأَظْهَرُ عِنْدِي.

Dan ini yang paling kuat menurutku.

وَقَالَ الْحَارِثُ الْمُحَاسِبِيُّ: يُقَدِّمُ اللِّبَاسَ.

Al-Harits al-Muhasibi berkata: pakaian didahulukan.

لِأَنَّهُ يَبْقَى عَلَيْهِ مُدَّةً.

Karena pakaian bertahan lama pada dirinya.

وَالصَّعَامُ لَا يَبْقَى عَلَيْهِ.

Sedangkan makanan tidak bertahan lama.

لِمَا رُوِيَ أَنَّهُ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ مَنْ عَلَيْهِ ثَوْبٌ اشْتَرَاهُ بِعَشَرَةِ دَرَاهِمَ فِيهَا دِرْهَمٌ حَرَامٌ.

Karena diriwayatkan bahwa Allah tidak menerima salat seseorang yang memakai baju yang dibelinya dengan sepuluh dirham, sedangkan di antaranya ada satu dirham haram.

وَهَذَا مُحْتَمَلٌ.

Ini mungkin.

وَلَكِنْ أَمْثَالَ هَذَا قَدْ وَرَدَ فِي مَنْ فِي بَطْنِهِ حَرَامٌ.

Namun semisal ini juga telah datang pada orang yang di perutnya ada yang haram.

وَنَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ حَرَامٍ.

Dan dagingnya tumbuh dari yang haram.

فَمُرَاعَاةُ اللَّحْمِ وَالْعَظْمِ أَنْ يُنْبِتَهُ مِنَ الْحَلَالِ أَوْلَى.

Maka menjaga agar daging dan tulangnya tumbuh dari yang halal lebih utama.

وَلِذَلِكَ تَقَيَّأَ الصِّدِّيقُ رضي الله عنه مَا شَرِبَهُ مَعَ الْجَهْلِ.

Karena itu Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه memuntahkan apa yang ia minum ketika ia belum tahu.

حَتَّى لَا يَنْبُتَ مِنْهُ لَحْمٌ يَثْبُتُ وَيَبْقَى.

Agar tidak tumbuh darinya daging yang menetap dan bertahan.

فَإِنْ قِيلَ: فَإِذَا كَانَ الْكُلُّ مُنْصَرِفًا إِلَى أَغْرَاضِهِ.

Jika dikatakan: kalau semuanya diarahkan kepada kebutuhannya.

فَأَيُّ فَرْقٍ بَيْنَ نَفْسِهِ وَغَيْرِهِ وَبَيْنَ جِهَةٍ وَجِهَةٍ؟

Apa bedanya antara dirinya dan orang lain, atau antara satu keperluan dan keperluan yang lain?

وَمَا مُدْرَكُ هَذَا الْفَرْقِ؟

Apa dasar pembedaan itu?

قُلْنَا: عُرِفَ ذَلِكَ بِمَا رُوِيَ.

Kami jawab: hal itu diketahui dari riwayat.

أَنَّ رَافِعَ بْنَ خَدِيجٍ رحمه الله مَاتَ.

Bahwa Rafi‘ bin Khadij رحمه الله wafat.

وَخَلَّفَ نَاضِحًا وَعَبْدًا حَجَّامًا.

Ia meninggalkan seekor unta pekerja dan seorang budak tukang bekam.

فَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ ذَلِكَ.

Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya tentang hal itu.

فَنَهَى عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ.

Beliau melarang hasil usaha tukang bekam.

فَرُوجِعَ مَرَّاتٍ.

Lalu beliau dimintai pertimbangan beberapa kali.

فَمَنَعَ مِنْهُ.

Tetapi beliau tetap melarangnya.

فَقِيلَ: إِنَّ لَهُ أَيْتَامًا.

Kemudian dikatakan: “Sesungguhnya ia memiliki anak-anak yatim.”

فَقَالَ: «أَعْلِفُوهُ النَّاضِحَ».

Maka beliau bersabda: “Berilah makan unta pekerja itu.”

فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى الْفَرْقِ.

Ini menunjukkan adanya perbedaan.

بَيْنَ مَا يَأْكُلُهُ هُوَ أَوْ دَابَّتُهُ.

Antara apa yang dimakan oleh dirinya sendiri dan oleh hewannya.

فَإِذَا انْفَتَحَ سَبِيلُ الْفَرْقِ.

Jika jalan pembedaan itu terbuka.

فَقِسْ عَلَيْهِ التَّفْصِيلَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ.

Maka analogikanlah kepadanya rincian yang telah kami sebutkan.

مَسْأَلَةٌ: الْحَرَامُ الَّذِي فِي يَدِهِ.

Contoh masalah: harta haram yang ada di tangannya.

لَوْ تَصَدَّقَ بِهِ عَلَى الْفُقَرَاءِ.

Jika ia sedekahkan kepada orang-orang fakir.

فَلَهُ أَنْ يُوَسِّعَ عَلَيْهِمْ.

Maka ia boleh meluaskan pemberiannya kepada mereka.

وَإِذَا أَنْفَقَ عَلَى نَفْسِهِ فَلْيُضَيِّقْ مَا قَدَرَ.

Jika ia membelanjakan untuk dirinya, hendaklah ia menyempitkan sebatas kemampuan.

وَمَا أَنْفَقَ عَلَى عِيَالِهِ فَلْيَقْتَصِدْ.

Dan jika untuk keluarganya, hendaklah ia berhemat.

وَلْيَكُنْ وَسَطًا بَيْنَ التَّوْسِيعِ وَالتَّضْيِيقِ.

Dan hendaklah ia berada di tengah antara berlebihan dan terlalu sempit.

فَيَكُونَ الأَمْرُ عَلَى ثَلَاثِ مَرَاتِبَ.

Maka urusan itu berada pada tiga tingkatan.

فَإِنْ أَنْفَقَ عَلَى ضَيْفٍ قَدِمَ عَلَيْهِ وَهُوَ فَقِيرٌ فَلْيُوَسِّعْ عَلَيْهِ.

Jika ia membelanjakan untuk tamu yang datang kepadanya dalam keadaan fakir, maka hendaklah ia memuliakannya.

وَإِنْ كَانَ غَنِيًّا فَلَا يُطْعِمْهُ.

Jika tamu itu kaya, jangan diberi makan darinya.

إِلَّا إِذَا كَانَ فِي بَرِّيَّةٍ.

Kecuali jika mereka berada di padang pasir.

أَوْ قُدِّمَ لَيْلًا وَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا.

Atau datang pada malam hari dan tidak mendapati apa-apa.

فَإِنَّهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ فَقِيرٌ.

Karena pada saat itu ia termasuk fakir.

وَإِنْ كَانَ الْفَقِيرُ الَّذِي حَضَرَ ضَيْفًا تَقِيًّا.

Jika fakir yang datang itu adalah orang bertakwa.

لَوْ عَلِمَ ذَلِكَ لَتَوَرَّعَ عَنْهُ.

Dan jika ia tahu keadaan itu, tentu ia akan menjauh darinya demi wara’.

فَلْيَعْرِضِ الطَّعَامَ.

Maka hendaklah ia menawarkan makanan itu.

وَلْيُخْبِرْهُ.

Dan memberitahukan keadaannya kepadanya.

جَمْعًا بَيْنَ حَقِّ الضِّيَافَةِ وَتَرْكِ الْخِدَاعِ.

Sebagai gabungan antara hak jamuan dan meninggalkan tipu daya.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُكْرِمَ أَخَاهُ بِمَا يَكْرَهُ.

Maka tidak pantas ia memuliakan saudaranya dengan sesuatu yang dibencinya.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَعْتَمِدَ عَلَى أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَلَا يَضُرُّهُ.

Dan tidak pantas ia bersandar pada anggapan bahwa saudaranya tidak tahu sehingga tidak akan membahayakannya.

فَإِنَّ الْحَرَامَ إِذَا حَصَلَ فِي الْمَعِدَةِ أَثَّرَ فِي قَسْوَةِ الْقَلْبِ.

Karena harta haram jika masuk ke perut akan memengaruhi kekerasan hati.

وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْهُ صَاحِبُهُ.

Walaupun orangnya tidak mengetahuinya.

وَلِذَلِكَ تَقَيَّأَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رضي الله عنهما.

Karena itu Abu Bakar dan Umar رضي الله عنهما memuntahkannya.

وَكَانَا قَدْ شَرِبَا عَلَى جَهْلٍ.

Padahal keduanya telah minum karena tidak tahu.

وَهَذَا وَإِنْ أَفْتَيْنَا بِأَنَّهُ حَلَالٌ لِلْفُقَرَاءِ.

Dan meskipun kami berfatwa bahwa itu halal bagi orang-orang fakir.

أَحْلَلْنَاهُ بِحُكْمِ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ.

Kami menghalalkannya karena hukum kebutuhan.

فَهُوَ كَالْخِنْزِيرِ وَالْخَمْرِ إِذَا أَحْلَلْنَاهُمَا بِالضَّرُورَةِ.

Ia seperti babi dan khamar jika kami membolehkannya karena darurat.

فَلَا يَلْتَحِقُ بِالطَّيِّبَاتِ.

Maka itu tidak termasuk perkara baik lagi suci.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا كَانَ الْحَرَامُ أَوِ الشُّبْهَةُ فِي يَدِ أَبَوَيْهِ.

Contoh masalah: jika harta haram atau syubhat ada di tangan kedua orang tuanya.

فَلْيَمْتَنِعْ عَنْ مُؤَاكَلَتِهِمَا.

Maka hendaklah ia menahan diri dari makan bersama mereka.

فَإِنْ كَانَا يَسْخَطَانِ.

Jika mereka marah.

فَلَا يُوَافِقْهُمَا عَلَى الْحَرَامِ الْمَحْضِ.

Maka jangan ia mengikuti mereka dalam yang haram murni.

بَلْ يَنْهَاهُمَا.

Melainkan hendaklah ia melarang mereka.

فَلَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah Ta‘ala.

فَإِنْ كَانَ شُبْهَةً.

Jika itu syubhat.

وَكَانَ امْتِنَاعُهُ لِلْوَرَعِ.

Dan ia menahan diri karena wara’.

فَقَدْ عَارَضَهُ أَنَّ الْوَرَعَ طَلَبُ رِضَاهُمَا.

Maka hal itu berhadapan dengan kenyataan bahwa wara’ juga menuntut mencari kerelaan keduanya.

بَلْ هُوَ وَاجِبٌ.

Bahkan itu wajib.

فَلْيَتَلَطَّفْ فِي الامْتِنَاعِ.

Maka hendaklah ia menolak dengan lembut.

فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ.

Jika ia tidak mampu.

فَلْيُوَافِقْ وَلْيُقَلِّلِ الأَكْلَ.

Maka hendaklah ia mengikuti mereka, tetapi mengurangi makan.

بِأَنْ يُصَغِّرَ اللُّقْمَةَ وَيُطِيلَ الْمَضْغَ.

Dengan cara mengecilkan suapan dan memperpanjang kunyahan.

وَلَا يَتَوَسَّعْ.

Dan jangan berlebih-lebihan.

فَإِنَّ ذَلِكَ عُدْوَانٌ.

Karena itu adalah pelampauan batas.

وَالْأَخُ وَالأُخْتُ قَرِيبَانِ مِنْ ذَلِكَ.

Saudara laki-laki dan perempuan dekat dengan hukum itu.

لِأَنَّ حَقَّهُمَا أَيْضًا مُؤَكَّدٌ.

Karena hak keduanya juga kuat.

وَكَذَلِكَ إِذَا أَلْبَسَتْهُ أُمُّهُ ثَوْبًا مِنْ شُبْهَةٍ.

Demikian pula jika ibunya memakaikannya pakaian dari harta syubhat.

وَكَانَتْ تَسْخَطُ بِرَدِّهِ.

Dan ibunya marah bila pakaian itu dikembalikan.

فَلْيَقْبَلْ وَلْيَلْبَسْ بَيْنَ يَدَيْهَا.

Maka hendaklah ia menerima dan memakainya di hadapan ibunya.

وَلْيَنْزِعْ فِي غَيْبَتِهَا.

Dan melepasnya ketika ibunya tidak melihat.

وَلْيَجْتَهِدْ أَنْ لَا يُصَلِّيَ فِيهِ إِلَّا عِنْدَ حُضُورِهَا.

Dan hendaklah ia berusaha agar tidak salat dengannya kecuali saat ibunya hadir.

فَيُصَلِّي فِيهِ صَلَاةَ الْمُضْطَرِّ.

Maka ia salat dengannya seperti salat orang yang terpaksa.

وَعِنْدَ تَعَارُضِ أَسْبَابِ الْوَرَعِ.

Saat sebab-sebab wara’ saling bertentangan.

يَنْبَغِي أَنْ يَتَفَقَّدَ هَذِهِ الدَّقَائِقَ.

Hendaklah ia memperhatikan rincian-rincian halus ini.

وَقَدْ حُكِيَ عَنْ بَشْرٍ رحمه الله.

Diriwayatkan tentang Bisyr رحمه الله.

أَنَّ أُمَّهُ سَلَّمَتْ إِلَيْهِ رُطَبَةً.

Bahwa ibunya memberinya sebutir kurma basah.

وَقَالَتْ: بِحَقِّي عَلَيْكَ أَنْ تَأْكُلَهَا.

Dan berkata: “Demi hakku atasmu, makanlah itu.”

وَكَانَ يَكْرَهُهَا.

Padahal ia membencinya.

فَأَكَلَ.

Maka ia memakannya.

ثُمَّ صَعِدَ غُرْفَةً.

Lalu ia naik ke sebuah kamar.

فَصَعِدَتْ أُمُّهُ وَرَاءَهُ.

Ibunya naik mengikutinya.

فَرَأَتْهُ يَتَقَيَّأُ.

Lalu ia melihatnya muntah.

وَإِنَّمَا فَعَلَ ذَلِكَ.

Ia melakukan itu.

لِأَنَّهُ أَرَادَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ رِضَاهَا وَبَيْنَ صِيَانَةِ الْمَعِدَةِ.

Karena ia ingin menggabungkan antara ridha ibunya dan menjaga perutnya.

وَقِيلَ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: سُئِلَ بَشْرٌ هَلْ لِلْوَالِدَيْنِ طَاعَةٌ فِي الشُّبْهَةِ؟

Dikatakan kepada Ahmad bin Hanbal: “Bisyr ditanya, apakah orang tua ditaati dalam perkara syubhat?”

فَقَالَ: لَا.

Ia menjawab: “Tidak.”

فَقَالَ أَحْمَدُ: هَذَا شَدِيدٌ.

Maka Ahmad berkata: “Ini berat.”

فَقِيلَ لَهُ: سُئِلَ مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ الْعَبَّادَانِيُّ عَنْهَا.

Lalu dikatakan kepadanya: “Muhammad bin Muqatil al-‘Abbadani ditanya tentang itu.”

فَقَالَ: بِرَّ وَالِدَيْكَ.

Ia menjawab: “Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu.”

فَمَاذَا تَقُولُ؟

“Maka apa yang engkau katakan?”

فَقَالَ لِلسَّائِلِ: أُحِبُّ أَنْ تُعْفِيَنِي.

Ia berkata kepada penanya: “Aku ingin engkau memaafkanku dari jawabanku.”

فَقَدْ سَمِعْتُ مَا قَالَا.

“Karena aku telah mendengar apa yang mereka berdua katakan.”

ثُمَّ قَالَ: مَا أَحْسَنَ أَنْ تُدَارِيَهُمَا.

Kemudian ia berkata: “Alangkah baiknya engkau bersikap lembut terhadap keduanya.”

مَسْأَلَةٌ: مَنْ فِي يَدِهِ مَالٌ حَرَامٌ مَحْضٌ.

Contoh masalah: orang yang di tangannya ada harta haram murni.

فَلَا حَجَّ عَلَيْهِ.

Maka tidak wajib haji atasnya.

وَلَا يَلْزَمُهُ كَفَّارَةٌ مَالِيَّةٌ.

Dan tidak wajib atasnya kafarat harta.

لِأَنَّهُ مُفْلِسٌ.

Karena ia miskin secara hukum.

وَلَا تَجِبُ عَلَيْهِ الزَّكَاةُ.

Dan zakat tidak wajib atasnya.

إِذْ مَعْنَى الزَّكَاةِ وُجُوبُ إِخْرَاجِ رُبْعِ الْعُشْرِ مَثَلًا.

Karena makna zakat adalah wajib mengeluarkan misalnya seperempat dari sepersepuluh.

وَهَذَا يَجِبُ عَلَيْهِ إِخْرَاجُ الْكُلِّ.

Sedangkan di sini ia wajib mengeluarkan seluruhnya.

إِمَّا رَدًّا عَلَى الْمَالِكِ إِنْ عَرَفَهُ.

Entah dengan mengembalikannya kepada pemilik jika ia mengetahuinya.

أَوْ صَرْفًا إِلَى الْفُقَرَاءِ إِنْ لَمْ يَعْرِفِ الْمَالِكَ.

Atau disalurkan kepada fakir miskin jika pemilik tidak diketahui.

وَأَمَّا إِذَا كَانَ مَالُ شُبْهَةٍ.

Adapun jika itu harta syubhat.

يَحْتَمِلُ أَنَّهُ حَلَالٌ.

Yang mungkin saja halal.

فَإِذَا لَمْ يُخْرِجْهُ مِنْ يَدِهِ.

Maka jika ia tidak mengeluarkannya dari tangannya.

لَزِمَهُ الْحَجُّ.

Haji tetap wajib atasnya.

لِأَنَّ كَوْنَهُ حَلَالًا مُمْكِنٌ.

Karena kemungkinan halal itu ada.

وَلَا يَسْقُطُ الْحَجُّ إِلَّا بِالْفَقْرِ.

Dan haji tidak gugur kecuali karena kefakiran.

وَلَمْ يَتَحَقَّقْ فَقْرُهُ.

Sedangkan kefakirannya belum terbukti.

وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا﴾.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah berhaji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu menempuh jalan ke sana.”

وَإِذَا وَجَبَ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِمَا يَزِيدُ عَلَى حَاجَتِهِ.

Jika ia wajib menyedekahkan apa yang melebihi kebutuhannya.

حَيْثُ يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ تَحْرِيمُهُ.

Ketika menurut dugaan kuatnya hal itu haram.

فَالزَّكَاةُ أَوْلَى بِالْوُجُوبِ.

Maka zakat lebih utama untuk diwajibkan.

وَإِنْ لَزِمَتْهُ كَفَّارَةٌ.

Jika kafarat wajib atasnya.

فَلْيَجْمَعْ بَيْنَ الصِّيَامِ وَالإِعْتَاقِ لِيَتَخَلَّصَ بِيَقِينٍ.

Maka hendaklah ia menggabungkan puasa dan memerdekakan budak agar bebas dengan yakin.

وَقَدْ قَالَ قَوْمٌ: يَلْزَمُهُ الصِّيَامُ دُونَ الإِطْعَامِ.

Sebagian ulama berkata: yang wajib baginya adalah puasa, bukan memberi makan.

إِذْ لَيْسَ لَهُ يَسَارٌ مَعْلُومٌ.

Karena ia tidak memiliki kekayaan yang pasti.

وَقَالَ الْمُحَاسِبِيُّ: يَكْفِيهِ الإِطْعَامُ.

Al-Muhasibi berkata: memberi makan saja cukup baginya.

وَالَّذِي نَخْتَارُ.

Adapun yang kami pilih.

أَنَّ كُلَّ شُبْهَةٍ حَكَمْنَا بِوُجُوبِ اجْتِنَابِهَا.

Ialah bahwa setiap syubhat yang kami putuskan wajib dijauhi.

وَأَلْزَمْنَاهُ إِخْرَاجَهَا مِنْ يَدِهِ.

Dan kami mewajibkan ia mengeluarkannya dari tangannya.

لِكَوْنِ احْتِمَالِ الْحَرَامِ أَغْلَبَ.

Karena kemungkinan haramnya lebih kuat.

عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.

Sebagaimana telah kami sebutkan.

فَعَلَيْهِ الْجَمْعُ بَيْنَ الصِّيَامِ وَالإِطْعَامِ.

Maka ia harus menggabungkan puasa dan memberi makan.

أَمَّا الصِّيَامُ فَلِأَنَّهُ مُفْلِسٌ حُكْمًا.

Adapun puasa, karena ia secara hukum dianggap fakir.

وَأَمَّا الإِطْعَامُ فَلِأَنَّهُ قَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِالْجَمِيعِ.

Adapun memberi makan, karena ia telah wajib menyedekahkan semuanya.

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ لَهُ.

Dan ada kemungkinan itu memang miliknya.

فَيَكُونُ اللُّزُومُ مِنْ جِهَةِ الْكَفَّارَةِ.

Maka kewajiban itu berasal dari sisi kafarat.

مَسْأَلَةٌ: مَنْ فِي يَدِهِ مَالٌ حَرَامٌ، اِمْتَسَكَهُ لِلْحَاجَةِ.

Contoh masalah: orang yang di tangannya ada harta haram, lalu ia menahannya karena kebutuhan.

فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ بِالْحَجِّ.

Lalu ia ingin berhaji sunnah.

فَإِنْ كَانَ مَاشِيًا فَلَا بَأْسَ لَهُ.

Jika ia berjalan kaki, maka tidak mengapa.

لِأَنَّهُ سَيَأْكُلُ هَذَا الْمَالَ فِي غَيْرِ عِبَادَةٍ.

Karena ia akan memakan harta itu di luar ibadah.

فَأَكْلُهُ فِي عِبَادَةٍ أَوْلَى.

Maka memakainya dalam ibadah lebih utama.

وَإِنْ كَانَ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَمْشِي.

Jika ia tidak mampu berjalan.

وَيَحْتَاجُ إِلَى زِيَادَةٍ لِلْمَرْكُوبِ.

Dan membutuhkan tambahan untuk kendaraan.

فَلَا يَجُوزُ الأَخْذُ لِمِثْلِ هَذِهِ الْحَاجَةِ فِي الطَّرِيقِ.

Maka tidak boleh mengambil untuk kebutuhan semacam ini di tengah perjalanan.

كَمَا لَا يَجُوزُ شِرَاءُ الْمَرْكُوبِ فِي الْبَلَدِ.

Sebagaimana tidak boleh membeli kendaraan di negeri itu.

وَإِنْ كَانَ يَتَوَقَّعُ الْقُدْرَةَ عَلَى حَلَالٍ.

Jika ia berharap dapat memperoleh harta halal.

لَوْ أَقَامَ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ بِهِ عَنْ بَقِيَّةِ الْحَرَامِ.

Bila ia menetap sampai cukup baginya dan tidak lagi membutuhkan sisa harta haram.

فَالإِقَامَةُ فِي انْتِظَارِهِ أَوْلَى مِنَ الْحَجِّ مَاشِيًا بِالْمَالِ الْحَرَامِ.

Maka menetap menunggu itu lebih utama daripada berhaji sambil berjalan dengan harta haram.

مَسْأَلَةٌ: مَنْ خَرَجَ لِحَجٍّ وَاجِبٍ بِمَالٍ فِيهِ شُبْهَةٌ.

Contoh masalah: orang yang keluar untuk haji wajib dengan harta yang mengandung syubhat.

فَلْيَجْتَهِدْ أَنْ يَكُونَ قُوتُهُ مِنَ الطَّيِّبِ.

Maka hendaklah ia berusaha agar makanannya dari yang baik.

فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ.

Jika ia tidak mampu.

فَفِي قُوتِ الإِحْرَامِ إِلَى التَّحَلُّلِ.

Maka dalam bekal makan selama ihram sampai tahallul.

فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ.

Jika juga tidak mampu.

فَلْيَجْتَهِدْ يَوْمَ عَرَفَةَ.

Maka hendaklah ia berusaha pada hari Arafah.

أَنْ لَا يَكُونَ وُقُوفُهُ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَدُعَاؤُهُ.

Agar berdirinya di hadapan Allah dan doanya.

فِي وَقْتِ مَطْعَمِهِ حَرَامٌ وَمَلْبَسِهِ حَرَامٌ.

Tidak bertepatan dengan keadaan makanannya haram dan pakaiannya haram.

فَلْيَجْتَهِدْ أَنْ لَا يَكُونَ فِي بَطْنِهِ حَرَامٌ وَلَا عَلَى ظَهْرِهِ حَرَامٌ.

Maka hendaklah ia berusaha agar tidak ada yang haram di perutnya dan tidak ada yang haram di punggungnya.

فَإِنَّا وَإِنْ جَوَّزْنَا هَذَا بِالْحَاجَةِ.

Karena meskipun kami membolehkan ini karena kebutuhan.

فَهُوَ نَوْعُ ضَرُورَةٍ.

Itu adalah jenis darurat.

وَمَا أَلْحَقْنَاهُ بِالطَّيِّبَاتِ.

Dan kami belum memasukkannya ke dalam yang baik-baik.

فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ.

Jika ia tidak mampu.

فَلْيُلَازِمْ قَلْبَهُ الْخَوْفَ وَالْغَمَّ.

Maka hendaklah ia menjaga hatinya dengan rasa takut dan sedih.

لِمَا هُوَ مُضْطَرٌّ إِلَيْهِ.

Atas apa yang terpaksa ia lakukan.

مِنْ تَنَاوُلِ مَا لَيْسَ بِطَيِّبٍ.

Yakni mengambil sesuatu yang tidak baik.

فَعَسَاهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ.

Mudah-mudahan Allah memandangnya dengan mata rahmat.

وَيَتَجَاوَزُ عَنْهُ بِسَبَبِ حُزْنِهِ وَخَوْفِهِ وَكَرَاهَتِهِ.

Dan memaafkannya karena kesedihan, ketakutan, dan kebenciannya terhadap hal itu.

مَسْأَلَةٌ: سُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رحمه الله.

Contoh masalah: Ahmad bin Hanbal رحمه الله pernah ditanya.

فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ: مَاتَ أَبِي وَتَرَكَ مَالًا.

Seorang penanya berkata kepadanya: “Ayahku meninggal dan meninggalkan harta.”

وَكَانَ يُعَامِلُ مَنْ تَكْرَهُ مُعَامَلَتَهُ.

Dan ia bermuamalah dengan orang yang engkau tidak suka bermuamalah dengannya.

فَقَالَ: تَدَعُ مِنْ مَالِهِ بِقَدْرِ مَا رَبِحَ.

Maka beliau berkata: “Tinggalkan dari hartanya sebesar keuntungan yang ia peroleh.”

فَقَالَ لَهُ: دَيْنٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ؟

Lalu orang itu berkata: “Ada utang, dan atasnya ada utang?”

فَقَالَ: تَقْضِي وَتُقْتَضَى.

Beliau berkata: “Bayar dan tagihlah.”

فَقَالَ: أَفَرَأَيْتَ ذَلِكَ؟

Orang itu berkata: “Apakah benar demikian?”

فَقَالَ: أَفَتَدَعُهُ مُحْتَبِسًا بِدَيْنِهِ؟

Beliau berkata: “Apakah engkau akan membiarkannya tertahan oleh utangnya?”

وَمَا ذَكَرَهُ صَحِيحٌ.

Apa yang beliau sebutkan itu benar.

وَهُوَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ رَأَى التَّحَرِّي بِإِخْرَاجِ مِقْدَارِ الْحَرَامِ.

Dan itu menunjukkan bahwa beliau memandang perlu kehati-hatian dengan mengeluarkan kadar yang haram.

إِذْ قَالَ: يُخْرِجُ قَدْرَ الرِّبْحِ.

Karena beliau mengatakan: keluarkan kadar keuntungan.

وَكَأَنَّهُ رَأَى أَنَّ أَعْيَانَ أَمْوَالِهِ مِلْكٌ لَهُ.

Dan seakan-akan beliau memandang bahwa benda-benda harta itu adalah miliknya.

بَدَلًا عَمَّا بَذَلَهُ فِي الْمُعَاوَضَاتِ الْفَاسِدَةِ.

Sebagai ganti dari apa yang ia keluarkan dalam transaksi yang rusak.

بِطَرِيقِ التَّقَاصِّ وَالتَّقَابُلِ.

Dengan jalan saling hapus dan saling berhadapan.

مَهْمَا كَثُرَ التَّصَرُّفُ وَعَسُرَ الرَّدُّ.

Selama transaksi sudah banyak dan pengembalian menjadi sulit.

وَعَوَّلَ فِي قَضَاءِ دَيْنِهِ عَلَى أَنَّهُ يَقِينٌ.

Ia bersandar dalam melunasi utangnya pada sesuatu yang ia anggap pasti.

فَلَا يُتْرَكُ بِسَبَبِ الشُّبْهَةِ.

Maka jangan ditinggalkan hanya karena syubhat.