Tentang Penelitian, Pertanyaan, Pengambilan Secara Langsung, Pengabaian, Dan Tempat-Tempat Yang Menjadi Sangkaannya (2)

فَإِنْ قِيلَ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه أَنَّهُ رَخَّصَ فِيهِ.

Jika dikatakan demikian, maka telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه bahwa beliau memberi keringanan dalam hal itu.

وَقَالَ: خُذْ مَا يُعْطِيكَ السُّلْطَانُ.

Beliau berkata: “Ambillah apa yang diberikan kepadamu oleh penguasa.”

فَإِنَّمَا يُعْطِيكَ مِنَ الْحَلَالِ.

Karena sesungguhnya ia hanya memberimu dari yang halal.

وَمَا يَأْخُذُ مِنَ الْحَلَالِ أَكْثَرُ مِنَ الْحَرَامِ.

Dan yang ia ambil dari yang halal lebih banyak daripada yang haram.

وَسُئِلَ ابْنُ مَسْعُودٍ رضي الله عنه ذَلِكَ.

Ibn Mas‘ud رضي الله عنه pernah ditanya tentang itu.

فَقَالَ لَهُ السَّائِلُ: إِنَّ لِي جَارًا لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا خَبِيثًا.

Penanya berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku mempunyai tetangga yang aku kenal tidak lain hanya sebagai orang buruk.”

يَدْعُونَا، أَوْ نَحْتَاجُ، فَنَسْتَسْلِفُهُ.

Ia mengundang kami, atau kami membutuhkan, lalu kami meminjam darinya.

فَقَالَ: إِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ.

Maka beliau berkata: “Jika ia mengundangmu, maka penuhilah.”

وَإِذَا احْتَجْتَ فَاسْتَسْلِفْهُ.

Dan jika engkau membutuhkan, maka pinjamlah darinya.

فَإِنَّ لَكَ الْمَهْنَأَ، وَعَلَيْهِ الْمَأْثَمَ.

Karena bagimu ada manfaatnya, dan dosanya atas dia.

وَأَفْتَى سَلْمَانُ بِمِثْلِ ذَلِكَ.

Salman juga berfatwa dengan semisal itu.

وَقَدْ عَلَّلَ عَلِيٌّ الْكَثْرَةَ.

Ali menjelaskan dengan alasan banyaknya yang halal.

وَعَلَّلَ ابْنُ مَسْعُودٍ رضي الله عنه بِطَرِيقِ الْإِشَارَةِ.

Ibn Mas‘ud رضي الله عنه menjelaskan secara isyarat.

بِأَنَّ عَلَيْهِ الْمَأْثَمَ، لِأَنَّهُ يَعْرِفُهُ.

Yaitu bahwa dosa atas dia, karena dia mengenal dirinya.

وَلَكَ الْمَهْنَأُ، أَيْ أَنْتَ لَا تَعْرِفُهُ.

Dan bagimu ada manfaatnya, yaitu engkau tidak mengenalnya.

وَرُوِيَ أَنَّهُ قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه.

Diriwayatkan pula bahwa seorang lelaki berkata kepada Ibn Mas‘ud رضي الله عنه.

إِنَّ لِي جَارًا يَأْكُلُ الرِّبَا.

“Sesungguhnya aku mempunyai tetangga yang memakan riba.”

فَيَدْعُونَا إِلَى طَعَامِهِ، أَفَنَأْتِيهِ؟

“Lalu ia mengundang kami ke makanannya. Bolehkah kami datang?”

فَقَالَ: نَعَمْ.

Maka beliau menjawab: “Ya.”

وَرُوِيَ فِي ذَلِكَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه رِوَايَاتٌ كَثِيرَةٌ مُخْتَلِفَةٌ.

Tentang hal itu juga diriwayatkan banyak riwayat yang berbeda dari Ibn Mas‘ud رضي الله عنه.

وَأَخَذَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ رضي الله عنهما جَوَائِزَ الْخُلَفَاءِ وَالسَّلَاطِينِ.

Syafi‘i dan Malik رضي الله عنهما menerima hadiah-hadiah dari para khalifah dan penguasa.

مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّهُ قَدْ خَالَطَ مَالَهُمْ الْحَرَامُ.

Padahal diketahui bahwa harta mereka telah bercampur dengan yang haram.

قُلْنَا: أَمَّا مَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه، فَقَدْ اشْتَهَرَ مِنْ وَرَعِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ.

Kami jawab: adapun riwayat dari Ali رضي الله عنه, maka sudah masyhur dari wara’ beliau sesuatu yang menunjukkan sebaliknya.

فَإِنَّهُ كَانَ يَمْتَنِعُ مِنْ مَالِ بَيْتِ الْمَالِ.

Karena beliau biasa menahan diri dari harta بيت المال.

حَتَّى يَبِيعَ سَيْفَهُ.

Sampai beliau harus menjual pedangnya.

وَلَا يَكُونُ لَهُ إِلَّا قَمِيصٌ وَاحِدٌ.

Dan beliau tidak mempunyai kecuali satu baju saja.

فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ.

Pada suatu waktu.

وَفِي وَقْتِ الْغُسْلِ لَا يَجِدُ غَيْرَهُ.

Saat hendak mandi, beliau tidak memiliki baju selain itu.

وَلَسْتُ أُنْكِرُ أَنَّ رُخْصَتَهُ صَرِيحٌ فِي الْجَوَازِ.

Aku tidak mengingkari bahwa keringanan beliau itu jelas menunjukkan kebolehan.

وَفِعْلَهُ مُحْتَمَلٌ لِلْوَرَعِ.

Dan perbuatannya masih mungkin dibawa kepada sikap wara’.

وَلَكِنَّهُ لَوْ صَحَّ، فَمَالُ السُّلْطَانِ لَهُ حُكْمٌ آخَرُ.

Akan tetapi, jika riwayat itu sahih, maka harta penguasa memiliki hukum yang lain.

فَإِنَّهُ بِحُكْمِ كَثْرَتِهِ يَكَادُ يَلْتَحِقُ بِمَا لَا يُحْصَرُ.

Karena banyaknya, ia hampir termasuk perkara yang tidak terhitung.

وَسَيَأْتِي بَيَانُ ذَلِكَ.

Penjelasannya akan datang.

وَكَذَلِكَ فِعْلُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ رضي الله عنهما مُتَعَلِّقٌ بِمَالِ السُّلْطَانِ.

Demikian pula tindakan Syafi‘i dan Malik رضي الله عنهما berkaitan dengan harta penguasa.

وَسَيَأْتِي حُكْمُهُ.

Dan hukumnya akan datang.

وَإِنَّمَا كَلَامُنَا فِي آحَادِ الْخَلْقِ وَأَمْوَالِهِمْ.

Adapun pembahasan kami adalah tentang harta orang-orang biasa.

وَهِيَ قَرِيبَةٌ مِنَ الْحَصْرِ.

Dan jumlahnya dekat untuk dihitung.

وَأَمَّا قَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه.

Adapun ucapan Ibn Mas‘ud رضي الله عنه.

فَقِيلَ: إِنَّمَا نَقَلَهُ خَوَّاتُ التَّيْمِيُّ.

Ada yang mengatakan bahwa yang meriwayatkannya hanyalah Khawwat at-Taymi.

وَإِنَّهُ ضَعِيفُ الْحِفْظِ.

Dan ia lemah hafalannya.

وَالْمَشْهُورُ عَنْهُ مَا يَدُلُّ عَلَى تَوَقِّي الشُّبُهَاتِ.

Yang masyhur darinya justru menunjukkan kehati-hatian terhadap syubhat.

إِذْ قَالَ: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: أَخَافُ وَأَرْجُو.

Karena beliau berkata: “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian berkata, ‘Aku takut dan aku berharap.’”

فَإِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَالْحَرَامَ بَيِّنٌ.

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.

وَبَيْنَ ذَلِكَ أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ.

Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar.

فَدَعْ مَا يُرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيبُكَ.

Maka tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.

وَقَالَ: اجْتَنِبُوا الْحَكَاكَاتِ.

Beliau juga berkata: “Jauhilah hal-hal yang menggores hati.”

فَفِيهَا الْإِثْمُ.

Karena di dalamnya ada dosa.

فَإِنْ قِيلَ: فَلِمَ قُلْتُمْ إِذَا كَانَ الأَكْثَرُ حَرَامًا لَمْ يَجُزِ الأَخْذُ؟

Jika dikatakan: mengapa kalian mengatakan bahwa ketika yang haram lebih banyak, tidak boleh mengambilnya?

مَعَ أَنَّ الْمَأْخُوذَ لَيْسَ فِيهِ عَلَامَةٌ تَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِهِ عَلَى الْخُصُوصِ.

Padahal benda yang diambil itu sendiri tidak memiliki tanda yang menunjukkan keharamannya secara khusus.

وَالْيَدُ عَلَامَةٌ عَلَى الْمِلْكِ.

Tangan adalah tanda kepemilikan.

حَتَّى إِنَّ مَنْ سَرَقَ مَالَ مِثْلِ هَذَا الرَّجُلِ قُطِعَتْ يَدُهُ.

Bahkan jika seseorang mencuri harta seperti orang itu, tangannya dipotong.

وَالْكَثْرَةُ تُوجِبُ ظَنًّا مُرْسَلًا لَا يَتَعَلَّقُ بِالْعَيْنِ.

Banyaknya jumlah menimbulkan dugaan umum yang tidak terkait dengan benda tertentu.

فَلْيَكُنْ كَغَالِبِ الظَّنِّ فِي طِينِ الشَّوَارِعِ.

Maka hendaklah ia diperlakukan seperti dugaan kuat pada lumpur jalanan.

وَغَالِبِ الظَّنِّ فِي الِاخْتِلَاطِ بِغَيْرِ مَحْصُورٍ.

Dan seperti dugaan kuat pada campuran yang tidak terbatas.

إِذَا كَانَ الأَكْثَرُ هُوَ الْحَرَامُ.

Jika yang lebih banyak adalah yang haram.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُسْتَدَلَّ عَلَى هَذَا بِعُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Tidak boleh menjadikan hal ini sebagai dalil umum dari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم.

دَعْ مَا يُرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيبُكَ.

“Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.”

لِأَنَّهُ مُخَصَّصٌ بِبَعْضِ الْمَوَاضِعِ بِالِاتِّفَاقِ.

Karena sabda itu telah dikhususkan pada sebagian keadaan dengan kesepakatan.

وَهُوَ أَنْ يُرِيبَهُ بِعَلَامَةٍ فِي عَيْنِ الْمِلْكِ.

Yaitu jika keraguan itu timbul karena tanda pada benda milik tertentu.

بِدَلِيلِ اخْتِلَاطِ الْقَلِيلِ بِغَيْرِ الْمَحْصُورِ.

Buktinya ialah campuran sedikit dengan sesuatu yang tidak terbatas.

فَإِنَّ ذَلِكَ يُوجِبُ رِيبَةً.

Karena itu juga menimbulkan keraguan.

وَمَعَ ذَلِكَ قَطَعْتُمْ بِأَنَّهُ لَا يَحْرُمُ.

Namun kalian telah memutuskan bahwa itu tidak haram.

فَالْجَوَابُ: إِنَّ الْيَدَ دَلَالَةٌ ضَعِيفَةٌ.

Jawabannya: tangan itu adalah petunjuk yang lemah.

كَالِاسْتِصْحَابِ.

Seperti istishab.

وَإِنَّمَا تُؤَثِّرُ إِذَا سَلِمَتْ عَنْ مُعَارِضٍ قَوِيٍّ.

Ia baru berpengaruh jika tidak berhadapan dengan penentang yang kuat.

فَإِذَا تَحَقَّقْنَا الِاخْتِلَاطَ.

Jika kita telah memastikan adanya campuran.

وَتَحَقَّقْنَا أَنَّ الْحَرَامَ الْمُخَالِطَ مَوْجُودٌ فِي الْحَالِ.

Dan kita memastikan bahwa yang haram yang bercampur itu memang ada saat ini.

وَالْمَالَ غَيْرُ خَالٍ عَنْهُ.

Sedangkan harta tidak bebas darinya.

وَتَحَقَّقْنَا أَنَّ الأَكْثَرَ هُوَ الْحَرَامُ.

Dan kita memastikan bahwa yang lebih banyak adalah yang haram.

وَذَلِكَ فِي حَقِّ شَخْصٍ مُعَيَّنٍ يَقْرُبُ مَالُهُ مِنَ الْحَصْرِ.

Itu dalam kasus orang tertentu yang hartanya hampir dapat dihitung.

ظَهَرَ وُجُوبُ الْإِعْرَاضِ عَنْ مُقْتَضَى الْيَدِ.

Maka tampak kewajiban berpaling dari tuntutan tanda kepemilikan.

وَإِنْ لَمْ يُحْمَلْ عَلَيْهِ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ.

Jika sabda beliau عليه السلام tidak dibawa kepada kasus ini.

دَعْ مَا يُرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيبُكَ.

“Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.”

لَمْ يَبْقَ لَهُ مَحْمِلٌ.

Maka sabda itu tidak punya tempat yang sesuai.

إِذْ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى اخْتِلَاطِ قَلِيلٍ بِحَلَالٍ غَيْرِ مَحْصُورٍ.

Karena tidak mungkin dipahami sebagai campuran sedikit dengan halal yang tak terhitung.

إِذْ كَانَ ذَلِكَ مَوْجُودًا فِي زَمَانِهِ.

Karena hal itu memang ada pada zaman beliau.

وَكَانَ لَا يَدَعُهُ.

Dan beliau tidak meninggalkannya.

وَعَلَى أَيِّ مَوْضِعٍ حُمِلَ هَذَا، كَانَ هَذَا فِي مَعْنَاهُ.

Dari sisi mana pun ia dipahami, maknanya tetap mengarah ke sini.

وَحَمْلُهُ عَلَى التَّنْزِيهِ صَرْفٌ لَهُ عَنْ ظَاهِرِهِ بِغَيْرِ قِيَاسٍ.

Membawanya kepada anjuran semata berarti memalingkannya dari zahirnya tanpa qiyas.

فَإِنَّ تَحْرِيمَ هَذَا غَيْرُ بَعِيدٍ عَنْ قِيَاسِ الْعَلَامَاتِ وَالِاسْتِصْحَابِ.

Padahal mengharamkan hal ini tidak jauh dari qiyas berdasarkan tanda-tanda dan istishab.

وَلِلْكَثْرَةِ تَأْثِيرٌ فِي تَحْقِيقِ الظَّنِّ.

Banyaknya jumlah berpengaruh dalam menegaskan dugaan.

وَكَذَا لِلْحَصْرِ.

Demikian pula keterbatasan.

وَقَدِ اجْتَمَعَا.

Keduanya telah berkumpul.

حَتَّى قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رضي الله عنه: لَا تَجْتَهِدْ فِي الْأَوَانِي إِلَّا إِذَا كَانَ الطَّاهِرُ هُوَ الأَكْثَرُ.

Sampai Abu Hanifah رضي الله عنه berkata: “Jangan berijtihad dalam urusan bejana kecuali jika yang suci itulah yang lebih banyak.”

فَاشْتَرَطَ اجْتِمَاعَ الِاسْتِصْحَابِ وَالِاجْتِهَادَ بِالْعَلَامَةِ وَقُوَّةَ الْكَثْرَةِ.

Beliau mensyaratkan berkumpulnya istishab, ijtihad berdasarkan tanda, dan kekuatan jumlah.

وَمَنْ قَالَ: يَأْخُذُ أَيَّ آنِيَةٍ أَرَادَ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ.

Adapun orang yang berkata: “Ambillah bejana mana saja yang engkau mau tanpa ijtihad.”

بِنَاءً عَلَى مُجَرَّدِ الِاسْتِصْحَابِ، فَيَجُوزُ الشُّرْبُ أَيْضًا.

Berdasarkan istishab semata, maka minum pun boleh.

فَيَلْزَمُهُ التَّجْوِيزُ هُنَا بِمُجَرَّدِ عَلَامَةِ الْيَدِ.

Maka ia harus membolehkan di sini hanya dengan tanda tangan/kepemilikan.

وَلَا يَجْرِي ذَلِكَ فِي بَوْلٍ اشْتَبَهَ بِمَاءٍ.

Hal itu tidak berlaku pada air kencing yang tercampur dengan air.

إِذْ لَا اسْتِصْحَابَ فِيهِ.

Karena di sana tidak ada istishab.

وَلَا نَطْرُدُهُ أَيْضًا فِي مَيْتَةٍ اشْتَبَهَتْ بِذَكِيَّةٍ.

Dan kami juga tidak menerapkannya pada bangkai yang tercampur dengan hewan sembelihan syar‘i.

إِذْ لَا اسْتِصْحَابَ فِي الْمَيْتَةِ.

Karena pada bangkai tidak ada istishab.

وَالْيَدُ لَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ غَيْرُ مَيْتَةٍ.

Dan tangan tidak menunjukkan bahwa itu bukan bangkai.

وَتَدُلُّ فِي الطَّعَامِ الْمُبَاحِ عَلَى أَنَّهُ مِلْكٌ.

Sedangkan pada makanan mubah, tangan menunjukkan bahwa ia milik.

فَهُنَا أَرْبَعُ مُتَعَلَّقَاتٍ.

Di sini ada empat sandaran.

اسْتِصْحَابٌ.

Yaitu istishab.

وَقِلَّةٌ فِي الْمُخْتَلِطِ أَوْ كَثْرَةٌ.

Sedikit atau banyaknya yang bercampur.

وَانْحِصَارٌ أَوِ اتِّسَاعٌ فِي الْمُخْتَلِطِ.

Terlalu terbatas atau luasnya yang bercampur.

وَعَلَامَةٌ خَاصَّةٌ فِي عَيْنِ الشَّيْءِ يَتَعَلَّقُ بِهَا الِاجْتِهَادُ.

Dan tanda khusus pada benda tertentu yang menjadi dasar ijtihad.

فَمَنْ غَفَلَ عَنْ مَجْمُوعِ الأَرْبَعَةِ رُبَّمَا غَلِطَ.

Barang siapa lalai dari keempatnya sekaligus, bisa jadi ia salah.

فَشَبَّهَ بَعْضَ الْمَسَائِلِ بِمَا لَا يُشْبِهُهُ.

Lalu ia menyamakan sebagian masalah dengan perkara yang tidak serupa.

فَحَصَلَ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ.

Maka dari apa yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan.

أَنَّ الْمُخْتَلِطَ فِي مِلْكِ شَخْصٍ وَاحِدٍ.

Bahwa sesuatu yang bercampur dalam milik satu orang.

إِمَّا أَنْ يَكُونَ الْحَرَامُ أَكْثَرَهُ أَوْ أَقَلَّهُ.

Entah yang haramnya lebih banyak atau lebih sedikit.

وَكُلُّ وَاحِدٍ إِمَّا أَنْ يُعْلَمَ بِيَقِينٍ.

Dan masing-masing bisa diketahui dengan yakin.

أَوْ بِظَنٍّ عَنْ عَلَامَةٍ.

Atau dengan dugaan berdasarkan tanda.

أَوْ تَوَهُّمٍ.

Atau hanya dengan sangkaan.

فَالسُّؤَالُ يَجِبُ فِي مَوْضِعَيْنِ.

Pertanyaan menjadi wajib pada dua keadaan.

وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْحَرَامُ أَكْثَرَ يَقِينًا أَوْ ظَنًّا.

Yaitu jika yang haram itu lebih banyak, baik secara yakin maupun secara dugaan.

كَمَا لَوْ رَأَى تُرْكِيًّا مَجْهُولًا.

Misalnya seseorang melihat orang Turki yang tidak dikenal.

يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ كُلُّ مَالِهِ مِنْ غَنِيمَةٍ.

Dan mungkin saja seluruh hartanya berasal dari rampasan perang.

وَإِنْ كَانَ الأَقَلُّ مَعْلُومًا بِالْيَقِينِ.

Adapun jika yang lebih sedikit diketahui dengan yakin.

فَهُوَ مَحَلُّ التَّوَقُّفِ.

Maka itu menjadi wilayah berhenti.

وَتَكَادُ تَسِيرُ سِيرَ أَكْثَرِ السَّلَفِ.

Dan hampir-hampir hal itu sejalan dengan kebiasaan banyak salaf.

وَضَرُورَةُ الأَحْوَالِ إِلَى الْمَيْلِ إِلَى الرُّخْصَةِ.

Serta tuntutan keadaan yang mendorong kepada kecenderungan mengambil keringanan.

وَأَمَّا الأَقْسَامُ الثَّلَاثَةُ الْبَاقِيَةُ.

Adapun tiga bagian yang tersisa.

فَالسُّؤَالُ وَاجِبٌ فِيهَا أَصْلًا.

Maka pada dasarnya pertanyaan wajib di dalamnya.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا حَضَرَ طَعَامُ إِنْسَانٍ.

Contoh masalah: jika datang makanan milik seseorang.

عُلِمَ أَنَّهُ دَخَلَ فِي يَدِهِ حَرَامٌ.

Diketahui bahwa pernah masuk ke tangannya harta haram.

مِنْ إِدْرَارٍ كَانَ قَدْ أَخَذَهُ أَوْ وَجْهٍ آخَرَ.

Dari tunjangan yang pernah ia terima atau dari jalan lain.

وَلَا يَدْرِي أَبَقِيَ إِلَى الْآنِ أَمْ لَا.

Dan tidak diketahui apakah itu masih tersisa sampai sekarang atau tidak.

فَلْيَقُلِ الأَكْلَ.

Maka hendaklah ia menahan diri dari makan.

وَلَا يَلْزَمُهُ التَّفْتِيشُ.

Ia tidak wajib meneliti.

وَإِنَّمَا التَّفْتِيشُ فِيهِ مِنَ الْوَرَعِ.

Meneliti di sini hanyalah bagian dari wara’.

وَلَوْ عَلِمَ أَنَّهُ قَدْ بَقِيَ مِنْهُ شَيْءٌ.

Jika ia tahu bahwa masih tersisa sesuatu darinya.

وَلَكِنْ لَمْ يَدْرِ أَهُوَ الأَقَلُّ أَمِ الأَكْثَرُ.

Tetapi ia tidak tahu apakah yang tersisa itu sedikit atau banyak.

فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِأَنَّهُ الأَقَلُّ.

Maka ia boleh menganggapnya sebagai yang sedikit.

وَقَدْ سَبَقَ أَنَّ أَمْرَ الأَقَلِّ مُشْكِلٌ.

Padahal telah berlalu bahwa urusan yang sedikit itu memang problematik.

وَهَذَا يَقْرُبُ مِنْهُ.

Dan kasus ini mendekatinya.

مَسْأَلَةٌ: إِذَا كَانَ بِيَدِ الْمُتَوَلِّي لِلْخَيْرَاتِ أَوِ الأَوْقَافِ أَوِ الْوَصَايَا مَالَانِ.

Contoh lain: jika di tangan pengelola kebaikan, wakaf, atau wasiat ada dua harta.

يَسْتَحِقُّ هُوَ أَحَدَهُمَا.

Ia berhak atas salah satunya.

وَلَا يَسْتَحِقُّ الثَّانِي.

Dan tidak berhak atas yang lain.

لِأَنَّهُ غَيْرُ مَوْصُوفٍ بِتِلْكَ الصِّفَةِ.

Karena ia tidak memiliki sifat itu.

فَهَلْ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ مَا يُسَلِّمُهُ إِلَيْهِ صَاحِبُ الْوَقْفِ؟

Apakah ia boleh mengambil apa yang diserahkan kepadanya oleh pemilik wakaf?

نَظَرٌ.

Ini masih dipertimbangkan.

فَإِنْ كَانَتْ تِلْكَ الصِّفَةُ ظَاهِرَةً.

Jika sifat itu tampak jelas.

يَعْرِفُهَا الْمُتَوَلِّي.

Dan pengelolanya mengetahuinya.

وَكَانَ الْمُتَوَلِّي ظَاهِرَ الْعَدَالَةِ.

Sedangkan pengelola itu tampak adil.

فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ بِغَيْرِ بَحْثٍ.

Maka ia boleh mengambil tanpa penelitian.

لِأَنَّ الظَّنَّ بِالْمُتَوَلِّي.

Karena dugaan terhadap pengelola itu.

أَنَّهُ لَا يَصْرِفُ إِلَيْهِ مَا يَصْرِفُهُ إِلَّا مِنَ الْمَالِ الَّذِي يَسْتَحِقُّهُ.

Adalah bahwa ia tidak akan menyerahkan sesuatu kecuali dari harta yang memang layak baginya.

وَإِنْ كَانَتِ الصِّفَةُ خَفِيَّةً.

Tetapi jika sifatnya tersembunyi.

أَوْ كَانَ الْمُتَوَلِّي مِمَّنْ عُرِفَ حَالُهُ أَنَّهُ يُخَالِطُ وَلَا يُبَالِي كَيْفَ يَفْعَلُ.

Atau pengelolanya dikenal suka mencampur dan tidak peduli bagaimana ia bertindak.

فَعَلَيْهِ السُّؤَالُ.

Maka ia wajib bertanya.

إِذْ لَيْسَ هُنَا يَدٌ وَلَا اسْتِصْحَابٌ يُعَوَّلُ عَلَيْهِ.

Karena di sini tidak ada tanda tangan/kepemilikan dan tidak ada istishab yang bisa dijadikan sandaran.

وَهُوَ وَزَانُ سُؤَالِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.

Ini seimbang dengan pertanyaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

عَنِ الصَّدَقَةِ وَالْهَدِيَّةِ.

Tentang sedekah dan hadiah.

عِنْدَ تَرَدُّدِهِ فِيهِمَا.

Ketika beliau ragu di antara keduanya.

لِأَنَّ الْيَدَ لَا تُخَصِّصُ الْهَدِيَّةَ عَنِ الصَّدَقَةِ.

Karena tangan tidak membedakan hadiah dari sedekah.

وَلَا الِاسْتِصْحَابَ.

Dan istishab pun tidak.

فَلَا يُنْجِيهِ إِلَّا السُّؤَالُ.

Maka yang menyelamatkannya hanyalah pertanyaan.

فَإِنَّ السُّؤَالَ حَيْثُ أَسْقَطْنَاهُ فِي الْمَجْهُولِ.

Karena ketika kami menggugurkan pertanyaan pada orang yang tidak dikenal.

أَسْقَطْنَاهُ بِعَلَامَةِ الْيَدِ وَالإِسْلَامِ.

Itu karena adanya tanda tangan/kepemilikan dan Islam.

حَتَّى لَوْ لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ مُسْلِمٌ.

Sehingga jika tidak diketahui bahwa ia muslim.

وَأَرَادَ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ يَدِهِ لَحْمًا مِنْ ذَبِيحَتِهِ.

Lalu seseorang ingin mengambil dari tangannya daging dari sembelihannya.

وَاحْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ مَجُوسِيًّا.

Padahal ada kemungkinan ia Majusi.

لَمْ يَجُزْ لَهُ مَا لَمْ يُعْرَفْ أَنَّهُ مُسْلِمٌ.

Hal itu tidak boleh baginya sampai diketahui bahwa ia muslim.

إِذِ الْيَدُ لَا تَدُلُّ فِي الْمَيْتَةِ.

Karena tangan tidak menunjukkan pada bangkai.

وَلَا الصُّورَةُ تَدُلُّ عَلَى الْإِسْلَامِ.

Dan bentuk lahir tidak menunjukkan Islam.

إِلَّا إِذَا كَانَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْبَلْدَةِ مُسْلِمِينَ.

Kecuali jika kebanyakan penduduk negeri itu muslim.

فَيَجُوزُ أَنْ يُظَنَّ بِالَّذِي لَيْسَ عَلَيْهِ عَلَامَةُ الْكُفْرِ أَنَّهُ مُسْلِمٌ.

Maka boleh berprasangka bahwa orang yang tidak memiliki tanda kekufuran adalah muslim.

وَإِنْ كَانَ الْخَطَأُ مُمْكِنًا فِيهِ.

Walaupun kesalahan dalam hal itu tetap mungkin.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ تَلْتَبِسَ الْمَوَاضِعُ.

Karena itu, jangan sampai bercampur tempat-tempat.

الَّتِي تَشْهَدُ فِيهَا الْيَدُ وَالْحَالُ.

Yang tangan dan keadaan menjadi saksi di dalamnya.

بِالَّتِي لَا تَشْهَدُ.

Dengan tempat-tempat yang tidak menjadi saksi.

مَسْأَلَةٌ: لَهُ أَنْ يَشْتَرِيَ فِي الْبَلَدِ دَارًا.

Contoh masalah: ia boleh membeli rumah di suatu negeri.

وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهَا تَشْتَمِلُ عَلَى دُورٍ مَغْصُوبَةٍ.

Walaupun ia tahu bahwa di dalamnya ada rumah-rumah hasil ghasb.

لِأَنَّ ذَلِكَ الِاخْتِلَاطَ بِغَيْرِ مَحْصُورٍ.

Karena itu termasuk campuran yang tidak terbatas.

وَلَكِنَّ السُّؤَالَ احْتِيَاطٌ وَوَرَعٌ.

Namun bertanya di sini adalah kehati-hatian dan wara’.

وَإِنْ كَانَ فِي سِكَّةٍ عَشْرُ دُورٍ مَثَلًا.

Tetapi jika dalam satu lorong ada sepuluh rumah, misalnya.

إِحْدَاهَا مَغْصُوبٌ أَوْ وَقْفٌ.

Salah satunya hasil ghasb atau wakaf.

لَمْ يَجُزِ الشِّرَاءُ مَا لَمْ يَتَمَيَّزْ.

Maka tidak boleh membeli sebelum dibedakan.

وَيَجِبُ الْبَحْثُ عَنْهُ.

Dan penelitian tentang itu wajib.

وَمَنْ دَخَلَ بَلْدَةً وَفِيهَا رِبَاطَاتٌ.

Barang siapa masuk ke suatu negeri yang di dalamnya terdapat ribath-ribath.

خُصِّصَ بِوَقْفِهَا أَرْبَابُ الْمَذَاهِبِ.

Wakafnya dikhususkan bagi para pemilik mazhab.

وَهُوَ عَلَى مَذْهَبٍ وَاحِدٍ مِنْ جُمْلَةِ تِلْكَ الْمَذَاهِبِ.

Sedangkan ia mengikuti salah satu mazhab dari mazhab-mazhab itu.

فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَسْكُنَ أَيَّهَا شَاءَ.

Maka tidak boleh ia menempati mana saja yang ia mau.

وَلَا يَأْكُلَ مِنْ وَقْفِهَا بِغَيْرِ سُؤَالٍ.

Dan tidak boleh ia makan dari wakafnya tanpa bertanya.

لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ بَابِ اخْتِلَاطِ الْمَحْصُورِ.

Karena itu termasuk campuran yang terbatas.

فَلَا بُدَّ مِنَ التَّمْيِيزِ.

Maka harus ada pembedaan.

وَلَا يَجُوزُ الْهُجُومُ مَعَ الْإِبْهَامِ.

Dan tidak boleh langsung bertindak dalam keadaan kabur.

لِأَنَّ الرِّبَاطَاتِ وَالْمَدَارِسَ فِي الْبَلَدِ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ مَحْصُورَةً.

Karena ribath-ribath dan madrasah-madrasah di negeri itu pasti terbatas.

مَسْأَلَةٌ: حَيْثُ جَعَلْنَا السُّؤَالَ مِنَ الْوَرَعِ.

Contoh masalah: di mana kami menjadikan pertanyaan itu sebagai bagian dari wara’.

فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَسْأَلَ صَاحِبَ الطَّعَامِ وَالْمَالِ.

Maka ia tidak boleh bertanya kepada pemilik makanan dan harta.

إِذَا لَمْ يَأْمَنْ غَضَبَهُ.

Jika ia khawatir pemilik itu akan marah.

وَإِنَّمَا أَوْجَبْنَا السُّؤَالَ إِذَا تَحَقَّقَ أَنَّ أَكْثَرَ مَالِهِ حَرَامٌ.

Kami hanya mewajibkan pertanyaan bila diketahui bahwa kebanyakan hartanya haram.

وَعِنْدَ ذَلِكَ لَا يُبَالِي بِغَضَبِ مِثْلِهِ.

Dalam keadaan seperti itu, ia tidak perlu memedulikan kemarahan orang semacam itu.

إِذْ يَجِبُ إِيذَاءُ الظَّالِمِ بِأَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ.

Karena menyakiti orang zalim memang dituntut lebih dari itu.

وَالْغَالِبُ أَنَّ مِثْلَ هَذَا لَا يَغْضَبُ مِنَ السُّؤَالِ.

Biasanya orang semacam ini tidak marah karena ditanya.

نَعَمْ، إِنْ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ يَدِ وَكِيلِهِ أَوْ غُلَامِهِ أَوْ تِلْمِيذِهِ.

Akan tetapi, jika ia mengambil dari tangan wakilnya, budaknya, muridnya.

أَوْ بَعْضِ أَهْلِهِ مِمَّنْ هُوَ تَحْتَ رِعَايَتِهِ.

Atau sebagian keluarganya yang berada di bawah pengawasannya.

فَلَهُ أَنْ يَسْأَلَ مَهْمَا اسْتَرَابَ.

Maka ia boleh bertanya kapan pun ia merasa ragu.

لِأَنَّهُمْ لَا يَغْضَبُونَ مِنْ سُؤَالِهِ.

Karena mereka tidak akan marah atas pertanyaannya.

وَلِأَنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَسْأَلَ لِيُعَلِّمَهُمْ طَرِيقَ الْحَلَالِ.

Selain itu, ia memang harus bertanya agar mengajarkan mereka jalan yang halal.

وَلِذَلِكَ سَأَلَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه غُلَامَهُ.

Karena itulah Abu Bakar رضي الله عنه pernah bertanya kepada budaknya.

وَسَأَلَ عُمَرُ مَنْ سَقَاهُ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ.

Dan Umar bertanya kepada orang yang memberinya minum dari unta sedekah.

وَسَأَلَ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَيْضًا.

Dan Abu Hurairah رضي الله عنه juga pernah ditanya.

لَمَّا أُقْدِمَ عَلَيْهِ بِمَالٍ كَثِيرٍ.

Ketika dibawakan kepadanya harta yang banyak.

فَقَالَ: وَيْحَكَ، أَكُلُّ هَذَا طَيِّبٌ؟

Beliau berkata: “Celaka engkau, apakah semua ini baik?”

مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ تَعَجَّبَ مِنْ كَثْرَتِهِ.

Maksudnya, beliau heran atas banyaknya harta itu.

وَكَانَ هُوَ مِنْ رَعِيَّتِهِ.

Dan orang itu termasuk bawahannya.

لَا سِيَّمَا وَقَدْ رُفِقَ فِي صِيغَةِ السُّؤَالِ.

Terlebih lagi pertanyaannya diucapkan dengan lemah lembut.

وَكَذَلِكَ قَالَ عَلِيٌّ رضي الله عنه.

Demikian pula Ali رضي الله عنه berkata.

لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَدْلِ إِمَامٍ وَرِفْقِهِ.

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah Ta‘ala daripada keadilan dan kelembutan seorang imam.”

وَلَا شَيْءَ أَبْغَضُ إِلَيْهِ مِنْ جَوْرِهِ وَخُرْقِهِ.

“Dan tidak ada sesuatu yang lebih dibenci-Nya daripada kezaliman dan kekasarannya.”

مَسْأَلَةٌ: قَالَ الْحَارِثُ الْمُحَاسِبِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ.

Contoh masalah: al-Harits al-Muhasibi رحمه الله berkata.

لَوْ كَانَ لَهُ صَدِيقٌ أَوْ أَخٌ.

Seandainya seseorang memiliki teman atau saudara.

وَهُوَ يَأْمَنُ غَضَبَهُ لَوْ سَأَلَهُ.

Dan ia yakin orang itu tidak akan marah jika ditanya.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْأَلَهُ لِأَجْلِ الْوَرَعِ.

Maka tidak patut ia bertanya kepadanya demi wara’.

لِأَنَّهُ رُبَّمَا بَدَا لَهُ مَا كَانَ مَسْتُورًا عَنْهُ.

Karena boleh jadi justru tampak baginya sesuatu yang sebelumnya tertutup.

فَيَكُونَ قَدْ حَمَلَهُ عَلَى هَتْكِ السِّتْرِ.

Sehingga ia mendorongnya untuk membuka aib.

ثُمَّ يَؤُولُ ذَلِكَ إِلَى الْبُغْضَاءِ.

Lalu itu berujung pada kebencian.

وَمَا ذَكَرَهُ حَسَنٌ.

Apa yang beliau sebutkan itu baik.

لِأَنَّ السُّؤَالَ إِذَا كَانَ مِنَ الْوَرَعِ لَا مِنَ الْوُجُوبِ.

Karena bila pertanyaan itu memang demi wara’ dan bukan kewajiban.

فَالْوَرَعُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الأُمُورِ.

Maka wara’ dalam perkara seperti ini.

الِاحْتِرَازُ عَنْ هَتْكِ السِّتْرِ وَإِثَارَةِ الْبُغْضَاءِ أَهَمُّ.

Adalah menjaga diri dari membuka aib dan membangkitkan kebencian, dan itu lebih penting.

وَزَادَ عَلَى هَذَا فَقَالَ.

Beliau juga menambahkan.

وَإِنْ رَابَهُ مِنْهُ شَيْءٌ أَيْضًا لَمْ يَسْأَلْهُ.

Jika sesuatu pun masih meragukannya, jangan ia bertanya.

وَيَظُنُّ بِهِ أَنَّهُ يُطْعِمُهُ مِنَ الطَّيِّبِ.

Hendaknya ia berbaik sangka bahwa orang itu memberinya yang baik.

وَيُجَنِّبُهُ الْخَبِيثَ.

Dan menjauhkannya dari yang buruk.

فَإِنْ كَانَ لَا يَطْمَئِنُّ قَلْبُهُ إِلَيْهِ.

Jika hatinya tidak tenang kepadanya.

فَيَحْتَرِزْ مُتَلَطِّفًا.

Maka hendaklah ia berhati-hati dengan lembut.

وَلَا يَهْتِكْ سِتْرَهُ بِالسُّؤَالِ.

Dan jangan membuka aibnya melalui pertanyaan.

قَالَ: لِأَنِّي لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنَ الْعُلَمَاءِ فَعَلَهُ.

Beliau berkata: “Karena aku tidak melihat seorang pun dari para ulama melakukannya.”

فَهَذَا مِنْهُ، مَعَ مَا اشْتُهِرَ بِهِ مِنَ الزُّهْدِ.

Maka pendapat beliau ini, bersama masyhurnya sikap zuhud beliau.

يَدُلُّ عَلَى مُسَامَحَةٍ.

Menunjukkan adanya keringanan.

فِيمَا إِذَا خَالَطَ الْمَالَ الْحَرَامَ الْقَلِيلَ.

Dalam hal bercampurnya sedikit harta haram.

وَلَكِنَّ ذَلِكَ عِنْدَ التَّوَهُّمِ لَا عِنْدَ التَّحْقِيقِ.

Namun itu pada tingkat sangkaan, bukan pada tingkat kepastian.

لِأَنَّ لَفْظَ الرِّيبَةِ يَدُلُّ عَلَى التَّوَهُّمِ.

Karena lafaz “keraguan” menunjukkan dugaan.

بِدَلَالَةٍ تَدُلُّ عَلَيْهِ.

Dengan suatu petunjuk yang mengarah kepadanya.

وَلَا يُوجِبُ الْيَقِينِ.

Dan tidak menimbulkan kepastian.

فَلْتُرَاعَ هَذِهِ الدَّقَائِقُ بِالسُّؤَالِ.

Maka rincian-rincian semacam ini harus diperhatikan melalui pertanyaan.

مَسْأَلَةٌ: رُبَّمَا يَقُولُ الْقَائِلُ.

Contoh masalah: boleh jadi seseorang berkata.

أَيُّ فَائِدَةٍ فِي السُّؤَالِ مِمَّنْ بَعْضُ مَالِهِ حَرَامٌ؟

“Apa faedah bertanya kepada orang yang sebagian hartanya haram?”

وَمَنْ يَسْتَحِلُّ الْمَالَ الْحَرَامَ رُبَّمَا يَكْذِبُ.

“Dan orang yang menghalalkan harta haram bisa saja berbohong.”

فَإِنْ وَثِقْتَ بِأَمَانَتِهِ فَلْيَثِقْ بِدِيَانَتِهِ فِي الْحَلَالِ.

“Jika engkau percaya kepada amanahnya, maka percayalah juga kepada keberagamaannya dalam urusan halal.”

فَأَقُولُ: مَهْمَا عُلِمَ مُخَالَطَةُ الْحَرَامِ لِمَالِ إِنْسَانٍ.

Aku jawab: kapan pun diketahui bahwa harta seseorang bercampur dengan yang haram.

وَكَانَ لَهُ غَرَضٌ فِي حُضُورِكَ ضِيَافَتَهُ.

Dan ia punya kepentingan agar engkau hadir dalam jamuannya.

أَوْ قَبُولِكَ هَدِيَّتَهُ.

Atau menerima hadiahnya.

فَلَا تَحْصُلُ الثِّقَةُ بِقَوْلِهِ.

Maka tidak akan ada kepercayaan pada ucapannya.

فَلَا فَائِدَةَ لِلسُّؤَالِ مِنْهُ.

Karena itu, tidak ada faedah bertanya kepadanya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يُسْأَلَ مِنْ غَيْرِهِ.

Yang seharusnya ditanya adalah selain dia.

وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَ بَيَّاعًا.

Demikian juga jika ia seorang penjual.

وَهُوَ يَرْغَبُ فِي الْبَيْعِ لِطَلَبِ الرِّبْحِ.

Dan ia ingin menjual demi mencari keuntungan.

فَلَا تَحْصُلُ الثِّقَةُ بِقَوْلِهِ: إِنَّهُ حَلَالٌ.

Maka ucapannya bahwa barang itu halal tidak dapat dipercaya.

وَلَا فَائِدَةَ فِي السُّؤَالِ مِنْهُ.

Dan tidak ada manfaat bertanya kepadanya.

وَإِنَّمَا يُسْأَلُ مِنْ غَيْرِهِ.

Yang ditanya adalah selainnya.

وَإِنَّمَا يُسْأَلُ مِنْ صَاحِبِ الْيَدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مُتَّهَمًا.

Yang ditanya dari صاحب اليد ialah ketika ia tidak tertuduh.

كَمَا يُسْأَلُ الْمُتَوَلِّي عَلَى الْمَالِ.

Sebagaimana pengelola harta ditanya.

الَّذِي يُسَلِّمُهُ أَنَّهُ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ.

Tentang asal sesuatu yang ia serahkan.

وَكَمَا سَأَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْهَدِيَّةِ وَالصَّدَقَةِ.

Dan sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bertanya tentang hadiah dan sedekah.

فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يُؤْذِي.

Karena itu tidak menyakiti.

وَلَا يُتَّهَمُ الْقَائِلُ فِيهِ.

Dan pembicaranya tidak tertuduh karenanya.

وَكَذَلِكَ إِذَا اتَّهَمَهُ بِأَنَّهُ لَيْسَ يَدْرِي طَرِيقَ كَسْبِ الْحَلَالِ.

Demikian pula jika ia menuduhnya tidak mengetahui jalan mencari yang halal.

فَلَا يُتَّهَمُ فِي قَوْلِهِ إِذَا أَخْبَرَ عَنْ طَرِيقٍ صَحِيحٍ.

Maka ia tidak tertuduh dalam ucapannya bila memberi kabar tentang jalan yang benar.

وَكَذَلِكَ يُسْأَلُ عَبْدُهُ وَخَادِمُهُ.

Demikian pula budak dan pelayan ditanya.

لِيُعْرَفَ طَرِيقُ اكْتِسَابِهِ.

Agar diketahui jalan penghasilannya.

فَهُنَا يُفِيدُ السُّؤَالُ.

Di sini pertanyaan memang memberi manfaat.

فَإِذَا كَانَ صَاحِبُ الْمَالِ مُتَّهَمًا.

Tetapi jika pemilik harta tertuduh.

فَلْيُسْأَلْ مِنْ غَيْرِهِ.

Maka hendaklah ia ditanya melalui orang lain.

فَإِذَا أَخْبَرَهُ عَدْلٌ وَاحِدٌ قَبِلَهُ.

Jika seorang yang adil memberitahukan, maka diterima.

وَإِنْ أَخْبَرَهُ فَاسِقٌ.

Jika seorang fasik memberitahukan.

يَعْلَمُ مِنْ قَرِينَةِ حَالِهِ أَنَّهُ لَا يَكْذِبُ.

Tetapi dari tanda keadaannya diketahui bahwa ia tidak berdusta.

حَيْثُ لَا غَرَضَ لَهُ فِيهِ.

Ketika ia tidak punya kepentingan di dalamnya.

جَازَ قَبُولُهُ.

Maka boleh diterima.

لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى.

Karena ini adalah urusan antara dia dan Allah Ta‘ala.

وَالْمَطْلُوبُ ثِقَةُ النَّفْسِ.

Dan yang dicari ialah ketenangan jiwa.

وَقَدْ يَحْصُلُ مِنَ الثِّقَةِ بِقَوْلِ الْفَاسِقِ.

Kadang-kadang kepercayaan kepada ucapan orang fasik.

مَا لَا يَحْصُلُ بِقَوْلِ عَدْلٍ.

Justru lebih besar daripada kepercayaan kepada ucapan orang adil.

فِي بَعْضِ الأَحْوَالِ.

Pada sebagian keadaan.

وَلَيْسَ كُلُّ مَنْ فَسَقَ يَكْذِبُ.

Tidak semua orang fasik berdusta.

وَلَا كُلُّ مَنْ تُرَى الْعَدَالَةُ فِي ظَاهِرِهِ يَصْدُقُ.

Dan tidak semua orang yang tampak adil itu berkata benar.

وَإِنَّمَا نُوطَتِ الشَّهَادَةُ بِالْعَدَالَةِ الظَّاهِرَةِ.

Kesaksian diikat pada keadilan lahiriah.

لِضَرُورَةِ الْحُكْمِ.

Karena kebutuhan hukum.

فَإِنَّ الْبَوَاطِنَ لَا يُطَّلَعُ عَلَيْهَا.

Sebab batin tidak diketahui.

وَقَدْ قَبِلَ أَبُو حَنِيفَةَ رحمه الله شَهَادَةَ الْفَاسِقِ.

Imam Abu Hanifah رحمه الله pernah menerima kesaksian orang fasik.

وَكَمْ مِنْ شَخْصٍ تَعْرِفُهُ.

Betapa banyak orang yang engkau kenal.

وَتَعْرِفُ أَنَّهُ قَدْ يَقْتَحِمُ الْمَعَاصِي.

Dan engkau tahu bahwa ia kadang berani terjatuh ke dalam maksiat.

ثُمَّ إِذَا أَخْبَرَكَ بِشَيْءٍ وَثِقْتَ بِهِ.

Tetapi jika ia memberitahukan sesuatu kepadamu, engkau pun percaya kepadanya.

وَكَذَلِكَ إِذَا أَخْبَرَ بِهِ صَبِيٌّ مُمَيِّزٌ.

Demikian juga jika seorang anak kecil yang mumayyiz memberitahukan sesuatu.

مِمَّنْ عَرَفْتَهُ بِالتَّثَبُّتِ.

Yang engkau kenal sebagai anak yang teliti.

فَقَدْ تَحْصُلُ الثِّقَةُ بِقَوْلِهِ.

Kadang kepercayaan terhadap ucapannya memang ada.

فَيَحِلُّ الِاعْتِمَادُ عَلَيْهِ.

Sehingga boleh dijadikan sandaran.

فَأَمَّا إِذَا أَخْبَرَ بِهِ مَجْهُولٌ.

Adapun jika yang memberitahu adalah orang yang tidak dikenal.

لَا يُدْرَى مِنْ حَالِهِ شَيْءٌ أَصْلًا.

Yang keadaannya sama sekali tidak diketahui.

فَهَذَا مِمَّنْ جَوَّزْنَا الأَكْلَ مِنْ يَدِهِ.

Maka orang semacam inilah yang kami bolehkan untuk diambil dari tangannya.

لِأَنَّ يَدَهُ دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى مُلْكِهِ.

Karena tangannya adalah tanda yang jelas atas kepemilikannya.

وَرُبَّمَا يُقَالُ: إِسْلَامُهُ دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى صِدْقِهِ.

Kadang dikatakan bahwa Islamnya adalah tanda yang jelas atas kejujurannya.

وَهَذَا فِيهِ نَظَرٌ.

Namun hal ini masih dipertimbangkan.

وَلَا يَخْلُو قَوْلُهُ مِنْ أَثَرٍ مَا فِي النَّفْسِ.

Ucapannya tidak lepas dari pengaruh yang dirasakan jiwa.

حَتَّى لَوِ اجْتَمَعَ مِنْهُمْ جَمَاعَةٌ أَفَادَتْ ظَنًّا قَوِيًّا.

Bahkan bila sejumlah orang seperti itu berkumpul, bisa menghasilkan dugaan yang kuat.

إِلَّا أَنَّ أَثَرَ الْوَاحِدِ فِيهِ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ.

Tetapi pengaruh seorang saja sangat lemah.

فَلْيُنْظَرْ إِلَى حَدِّ تَأْثِيرِهِ فِي الْقَلْبِ.

Maka hendaklah diperhatikan batas pengaruhnya di dalam hati.

فَإِنَّ الْمُفْتِي هُوَ الْقَلْبُ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْضِعِ.

Karena dalam kasus seperti ini, hati itulah mufti.

وَلِلْقَلْبِ الْتِفَاتَاتٌ إِلَى قَرَائِنَ خَفِيَّةٍ.

Hati memiliki kecenderungan kepada tanda-tanda halus.

يَضِيقُ عَنْهَا نِطَاقُ النُّطْقِ.

Yang tidak dapat dijangkau oleh ucapan.

فَلْيَتَأَمَّلْ فِيهِ.

Maka renungkanlah itu.

وَيَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ الِالْتِفَاتِ إِلَيْهِ.

Dan dalil atas kewajiban memperhatikan hati adalah.

مَا رُوِيَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ.

Riwayat dari ‘Uqbah bin al-Harits.

أَنَّهُ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.

Bahwa ia datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

فَقَالَ: إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً.

Ia berkata: “Aku telah menikahi seorang perempuan.”

فَجَاءَتْ أَمَةٌ سَوْدَاءُ.

Lalu datang seorang budak perempuan berkulit hitam.

فَزَعَمَتْ أَنَّهَا قَدْ أَرْضَعَتْنَا، وَهِيَ كَاذِبَةٌ.

Ia mengaku bahwa ia telah menyusui kami, padahal ia berdusta.

فَقَالَ: دَعْهَا.

Maka beliau bersabda: “Tinggalkan dia.”

فَقَالَ: إِنَّهَا سَوْدَاءُ يُصَغَّرُ مِنْ شَأْنِهَا.

Ia berkata: “Tetapi dia berkulit hitam dan dipandang rendah.”

فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.

Beliau عليه السلام bersabda.

فَكَيْفَ وَقَدْ زَعَمَتْ أَنَّهَا قَدْ أَرْضَعَتْكُمَا؟

“Bagaimana mungkin, padahal ia mengaku telah menyusui kalian berdua?”

لَا خَيْرَ لَكَ فِيهَا.

“Tidak ada kebaikan bagimu padanya.”

دَعْهَا عَنْكَ.

“Tinggalkan dia darimu.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ؟

Dalam lafaz lain: “Bagaimana mungkin, padahal itu telah dikatakan?”

وَمَهْمَا لَمْ يُعْلَمْ كَذِبُ الْمَجْهُولِ.

Selama kedustaan orang yang tidak dikenal belum diketahui.

وَلَمْ تَظْهَرْ أَمَارَةُ غَرَضٍ لَهُ فِيهِ.

Dan belum tampak tanda bahwa ia punya kepentingan di dalamnya.

كَانَ لَهُ وَقْعٌ فِي الْقَلْبِ لَا مَحَالَةَ.

Maka ucapannya pasti meninggalkan bekas dalam hati.

فَلِذَلِكَ يَتَأَكَّدُ الأَمْرُ بِالِاحْتِرَازِ.

Karena itulah sikap berhati-hati menjadi sangat ditekankan.

فَإِنِ اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ.

Jika hati benar-benar tenang kepadanya.

كَانَ الِاحْتِرَازُ حَتْمًا وَاجِبًا.

Maka sikap hati-hati menjadi kewajiban yang pasti.

مَسْأَلَةٌ: حَيْثُ يَجِبُ السُّؤَالُ.

Contoh masalah: pada tempat yang wajib ditanyakan.

فَلَوْ تَعَارَضَ قَوْلُ عَدْلَيْنِ تَسَاقَطَا.

Apabila ucapan dua orang adil bertentangan, maka keduanya gugur.

وَكَذَلِكَ قَوْلُ فَاسِقَيْنِ.

Demikian pula dua orang fasik.

وَيَجُوزُ أَنْ يَتَرَجَّحَ فِي قَلْبِهِ قَوْلُ أَحَدِ الْعَدْلَيْنِ.

Boleh jadi dalam hati seseorang, ucapan salah satu dari dua orang adil itu lebih kuat.

أَوْ أَحَدِ الْفَاسِقَيْنِ.

Atau salah satu dari dua orang fasik.

وَيَجُوزُ أَنْ يُرَجِّحَ أَحَدُ الْجَانِبَيْنِ بِالْكَثْرَةِ.

Boleh juga salah satu sisi dikuatkan karena jumlahnya lebih banyak.

أَوْ بِالِاخْتِصَاصِ بِالْخِبْرَةِ وَالْمَعْرِفَةِ.

Atau karena khususnya pengalaman dan pengetahuan.

وَذَلِكَ مِمَّا يَتَشَعَّبُ تَصْوِيرُهُ.

Rincian semacam ini memang banyak cabangnya.

مَسْأَلَةٌ: لَوْ نُهِبَ مَتَاعٌ مَخْصُوصٌ.

Contoh masalah: jika suatu barang tertentu dirampas.

فَصَادَفَ مِنْ ذَلِكَ النَّوْعِ مَتَاعًا فِي يَدِ إِنْسَانٍ.

Lalu ia mendapati barang sejenis di tangan seseorang.

وَأَرَادَ أَنْ يَشْتَرِيَهُ.

Dan ia ingin membelinya.

وَاحْتَمَلَ أَنْ لَا يَكُونَ مِنَ الْمَغْصُوبِ.

Sementara ada kemungkinan bahwa itu bukan barang ghasb.

فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الشَّخْصُ مِمَّنْ عَرَفَهُ بِالصَّلَاحِ.

Jika orang itu dikenal saleh.

جَازَ الشِّرَاءُ.

Maka boleh membeli.

وَكَانَ تَرْكُهُ مِنَ الْوَرَعِ.

Dan meninggalkannya adalah wara’.

وَإِنْ كَانَ الرَّجُلُ مَجْهُولًا.

Jika orang itu tidak dikenal.

لَا يَعْرِفُ مِنْهُ شَيْئًا.

Dan tidak diketahui keadaannya.

فَإِنْ كَانَ يَكْثُرُ نَوْعُ ذَلِكَ الْمَتَاعِ مِنْ غَيْرِ الْمَغْصُوبِ.

Jika jenis barang itu banyak terdapat tanpa hasil ghasb.

فَلَهُ أَنْ يَشْتَرِيَ.

Maka ia boleh membeli.

وَإِنْ كَانَ لَا يُوجَدُ ذَلِكَ الْمَتَاعُ فِي تِلْكَ الْبُقْعَةِ إِلَّا نَادِرًا.

Tetapi jika barang semacam itu di sana hanya sedikit.

وَإِنَّمَا كَثُرَ بِسَبَبِ الْغَصْبِ.

Dan kebanyakan justru ada karena ghasb.

فَلَيْسَ بَدَلٌ عَلَى الْحِلِّ إِلَّا الْيَدُ.

Maka yang menjadi dasar kehalalannya hanyalah tangan/kepemilikan.

وَقَدْ عَارَضَتْهَا عَلَامَةٌ خَاصَّةٌ.

Sedangkan tanda khusus telah menentangnya.

مِنْ شَكْلِ الْمَتَاعِ وَنَوْعِهِ.

Dari bentuk dan jenis barang itu.

فَالِامْتِنَاعُ عَنْ شِرَائِهِ مِنَ الْوَرَعِ الْمُهِمِّ.

Karena itu, menahan diri dari membelinya termasuk wara’ yang penting.

وَلَكِنَّ الْوُجُوبَ فِيهِ نَظَرٌ.

Namun kewajiban dalam masalah ini masih dipertimbangkan.

فَإِنَّ الْعَلَامَةَ مُتَعَارِضَةٌ.

Sebab tandanya saling berhadapan.

وَلَسْتُ أَقْدِرُ أَنْ أَحْكُمَ فِيهِ بِحُكْمٍ.

Aku tidak mampu memutuskan hukumnya dengan satu keputusan.

إِلَّا أَرُدَّهُ إِلَى قَلْبِ الْمُسْتَفْتِي.

Kecuali dengan mengembalikannya kepada hati orang yang meminta fatwa.

لِيَنْظُرَ مَا الأَقْوَى فِي نَفْسِهِ.

Agar ia melihat mana yang lebih kuat dalam dirinya.

فَإِنْ كَانَ الأَقْوَى أَنَّهُ مَغْصُوبٌ.

Jika yang lebih kuat adalah bahwa itu hasil ghasb.

لَزِمَهُ تَرْكُهُ.

Wajib baginya meninggalkannya.

وَإِلَّا حَلَّ لَهُ شِرَاؤُهُ.

Jika tidak, maka halal baginya membelinya.

وَأَكْثَرُ هَذِهِ الْوَقَائِعِ يَلْتَبِسُ الأَمْرُ فِيهَا.

Kebanyakan kasus seperti ini samar.

فَهِيَ مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ الَّتِي لَا يَعْرِفُهَا كَثِيرُ النَّاسِ.

Ia termasuk perkara mutasyabihat yang tidak diketahui oleh banyak orang.

فَمَنْ تَوَقَّاهَا فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِعِرْضِهِ وَدِينِهِ.

Barang siapa menjauhinya, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya.

وَمَنْ اقْتَحَمَهَا فَقَدْ حَامَ حَوْلَ الْحِمَى.

Barang siapa menerobosnya, maka ia berputar di sekitar kawasan terlarang.

وَخَاطَرَ بِنَفْسِهِ.

Dan ia mempertaruhkan dirinya.

مَسْأَلَةٌ: لَوْ قَالَ قَائِلٌ.

Contoh masalah: jika ada orang berkata.

قَدْ سَأَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ لَبَنٍ قُدِّمَ إِلَيْهِ.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bertanya tentang susu yang dibawakan kepadanya.

فَذَكَرَ أَنَّهُ مِنْ شَاةٍ.

Lalu disebutkan bahwa itu berasal dari seekor kambing.

فَسَأَلَ عَنِ الشَّاةِ مِنْ أَيْنَ هِيَ.

Beliau lalu bertanya, kambing itu dari mana.

فَذُكِرَ لَهُ، فَسَكَتَ عَنِ السُّؤَالِ.

Dan dijelaskan kepadanya, kemudian beliau diam dan tidak melanjutkan pertanyaan.

فَيَجِبُ السُّؤَالُ عَنْ أَصْلِ الْمَالِ أَمْ لَا؟

Maka apakah wajib bertanya tentang asal harta atau tidak?

وَإِنْ وَجَبَ، فَعَنْ أَصْلٍ وَاحِدٍ أَوْ اثْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ؟

Jika wajib, apakah terhadap satu asal, dua asal, atau tiga asal?

وَمَا الضَّبْطُ فِيهِ؟

Apa ukurannya dalam hal ini?

فَأَقُولُ: لَا ضَبْطَ فِيهِ وَلَا تَقْدِيرَ.

Aku jawab: tidak ada ukuran pasti dalam hal ini dan tidak ada penentuan yang baku.

بَلْ يُنْظَرُ إِلَى الرِّيبَةِ الْمُقْتَضِيَةِ لِلسُّؤَالِ.

Yang dilihat adalah tingkat keraguan yang menuntut pertanyaan.

إِمَّا وُجُوبًا أَوْ وَرَعًا.

Apakah karena kewajiban atau karena wara’.

وَلَا غَايَةَ لِلسُّؤَالِ.

Batas pertanyaan tidak ada.

إِلَّا حَيْثُ تَنْقَطِعُ الرِّيبَةُ الْمُقْتَضِيَةُ لَهُ.

Kecuali ketika keraguan yang menuntutnya sudah berhenti.

وَذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الأَحْوَالِ.

Itu berbeda-beda sesuai keadaan.

فَإِنْ كَانَتِ التُّهْمَةُ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي صَاحِبُ الْيَدِ.

Jika tuduhannya berasal dari sisi bahwa صاحب اليد tidak tahu.

كَيْفَ طَرِيقُ الْكَسْبِ الْحَلَالِ.

Bagaimana jalan mencari yang halal.

فَإِنْ قَالَ: اشْتَرَيْتُ.

Lalu jika ia berkata: “Aku membelinya.”

انْقَطَعَ بِسُؤَالٍ وَاحِدٍ.

Maka cukup dengan satu pertanyaan.

وَإِنْ قَالَ: مِنْ شَاتِي.

Jika ia berkata: “Dari kambingku.”

وَقَعَ الشَّكُّ فِي الشَّاةِ.

Maka keraguan masuk pada kambing itu.

فَإِذَا قَالَ: اشْتَرَيْتُ انْقَطَعَ.

Jika ia mengatakan: “Aku membelinya,” maka berhenti.

وَإِنْ كَانَتِ الرِّيبَةُ مِنَ الظُّلْمِ.

Jika keraguan berasal dari kezaliman.

وَذَلِكَ مِمَّا فِي أَيْدِي الْعَرَبِ.

Dan hal seperti itu memang ada pada harta orang Arab.

وَيَتَوَلَّدُ فِي أَيْدِيهِمُ الْمَغْصُوبُ.

Dan barang hasil ghasb sering lahir di tangan mereka.

فَلَا تَنْقَطِعُ الرِّيبَةُ بِقَوْلِهِ إِنَّهُ مِنْ شَاتِي.

Maka keraguan tidak hilang hanya dengan ucapannya “itu dari kambingku.”

وَلَا بِقَوْلِهِ إِنَّ الشَّاةَ وَلَدَتْهَا شَاتِي.

Dan tidak pula dengan ucapannya bahwa kambing itu dilahirkan oleh kambingnya.

فَإِنْ أَسْنَدَهُ إِلَى الْوِرَاثَةِ مِنْ أَبِيهِ.

Jika ia menghubungkannya kepada warisan dari ayahnya.

وَحَالَةُ أَبِيهِ مَجْهُولَةٌ.

Sedangkan keadaan ayahnya tidak diketahui.

انْقَطَعَ السُّؤَالُ.

Maka pertanyaan berhenti.

وَإِنْ كَانَ يَعْلَمُ أَنَّ جَمِيعَ مَالِ أَبِيهِ حَرَامٌ.

Jika ia mengetahui bahwa seluruh harta ayahnya haram.

فَقَدْ ظَهَرَ التَّحْرِيمُ.

Maka keharamannya telah tampak.

وَإِنْ كَانَ يَعْلَمُ أَنَّ أَكْثَرَهُ حَرَامٌ.

Jika ia mengetahui bahwa kebanyakan hartanya haram.

فَبِكَثْرَةِ التَّوَلُّدِ وَطُولِ الزَّمَانِ.

Dengan banyaknya berkembang dan lamanya waktu.

وَتَطَرُّقِ الْإِرْثِ إِلَيْهِ.

Serta masuknya warisan ke dalamnya.

لَا يَتَغَيَّرُ حُكْمُهُ.

Hukumnya tidak berubah.

فَلْيُنْظَرْ فِي هَذِهِ الْمَعَانِي.

Maka renungkanlah makna-makna ini.

مَسْأَلَةٌ: سُئِلْتُ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ سُكَّانِ خَانْقَاهِ الصُّوفِيَّةِ.

Contoh masalah: aku ditanya tentang sekelompok penghuni خانقاه para sufi.

وَفِي يَدِ خَادِمِهِمُ الَّذِي يُقَدِّمُ إِلَيْهِمُ الطَّعَامَ.

Di tangan pelayan mereka yang menyajikan makanan.

وَقْفٌ عَلَى ذَلِكَ الْمَسْكَنِ.

Ada wakaf untuk tempat tinggal itu.

وَوَقْفٌ آخَرُ عَلَى جِهَةٍ أُخْرَى غَيْرِ هَؤُلَاءِ.

Dan ada wakaf lain untuk pihak lain yang bukan mereka.

وَهُوَ يَخْلِطُ الْكُلَّ.

Ia mencampur semuanya.

وَيُنْفِقُ عَلَى هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ.

Dan membiayai yang ini dan yang itu.

فَأَكْلُ طَعَامِهِ حَلَالٌ أَوْ حَرَامٌ أَوْ شُبْهَةٌ؟

Maka apakah makanan yang ia sajikan halal, haram, atau syubhat?

فَقُلْتُ: إِنَّ هَذَا يَلْتَفِتُ إِلَى سَبْعَةِ أُصُولٍ.

Aku jawab: masalah ini berpulang kepada tujuh pokok.

الْأَصْلُ الأَوَّلُ: أَنَّ الطَّعَامَ الَّذِي يُقَدَّمُ إِلَيْهِمْ فِي الْغَالِبِ يَشْتَرِيهِ بِالْمُعَاطَاةِ.

Pokok pertama: makanan yang diberikan kepada mereka biasanya dibeli dengan sistem mu‘athah.

وَالَّذِي اخْتَرْنَاهُ صِحَّةُ الْمُعَاطَاةِ.

Sedangkan yang kami pilih adalah sahnya mu‘athah.

لَا سِيَّمَا فِي الأَطْعِمَةِ وَالْمُسْتَحْقَرَاتِ.

Terutama dalam urusan makanan dan barang-barang remeh.

فَلَيْسَ فِي هَذَا إِلَّا شُبْهَةُ الْخِلَافِ.

Maka di sini tidak ada kecuali syubhat perbedaan pendapat.

الْأَصْلُ الثَّانِي: أَنْ يُنْظَرَ هَلِ الْخَادِمُ يَشْتَرِيهِ بِعَيْنِ الْمَالِ الْحَرَامِ أَوْ فِي الذِّمَّةِ.

Pokok kedua: dilihat apakah pelayan itu membelinya dengan harta haram itu sendiri atau secara tanggungan.

فَإِنِ اشْتَرَاهُ بِعَيْنِ الْمَالِ الْحَرَامِ فَهُوَ حَرَامٌ.

Jika ia membelinya dengan harta haram itu sendiri, maka haram.

وَإِنْ لَمْ يُعْرَفْ.

Jika tidak diketahui.

فَالْغَالِبُ أَنَّهُ يَشْتَرِي فِي الذِّمَّةِ.

Maka biasanya ia membeli secara tanggungan.

وَيَجُوزُ الأَخْذُ بِالْغَالِبِ.

Boleh mengambil berdasarkan yang umum.

وَلَا يَنْشَأُ مِنْ هَذَا تَحْرِيمٌ.

Dari sini tidak muncul pengharaman.

بَلْ شُبْهَةُ احْتِمَالٍ بَعِيدٍ.

Melainkan syubhat kemungkinan yang jauh.

وَهُوَ شِرَاؤُهُ بِعَيْنِ مَالٍ حَرَامٍ.

Yaitu jika ia membelinya dengan harta haram itu sendiri.

الْأَصْلُ الثَّالِثُ: أَنْ يَشْتَرِيَهُ مِنْ أَيْنَ.

Pokok ketiga: dari mana ia membelinya.

فَإِنِ اشْتَرَى مِمَّنْ أَكْثَرُ مَالِهِ حَرَامٌ لَمْ يَجُزْ.

Jika ia membeli dari orang yang kebanyakan hartanya haram, tidak boleh.

وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مَالِهِ فَفِيهِ نَظَرٌ قَدْ سَبَقَ.

Jika yang haram lebih sedikit, maka itu sudah lewat pembahasannya.

وَإِذَا لَمْ يُعْرَفْ جَازَ لَهُ الأَخْذُ.

Jika tidak diketahui, boleh diasumsikan bahwa ia boleh mengambil.

بِأَنَّهُ يَشْتَرِيهِ مِمَّنْ مَالُهُ حَلَالٌ.

Bahwa ia membelinya dari orang yang hartanya halal.

أَوْ مِمَّنْ لَا يَدْرِي الْمُشْتَرِي حَالَهُ بِيقِينٍ كَالْمَجْهُولِ.

Atau dari orang yang keadaannya tidak diketahui secara pasti, seperti orang tidak dikenal.

وَقَدْ سَبَقَ جَوَازُ الشِّرَاءِ مِنَ الْمَجْهُولِ.

Dan telah berlalu kebolehan membeli dari orang yang tidak dikenal.

لِأَنَّ ذَلِكَ هُوَ الْغَالِبُ.

Karena itulah yang umum.

فَلَا يَنْشَأُ مِنْ هَذَا تَحْرِيمٌ.

Maka dari sini tidak muncul pengharaman.

بَلْ شُبْهَةُ احْتِمَالٍ.

Melainkan syubhat kemungkinan.

الْأَصْلُ الرَّابِعُ: أَنْ يَشْتَرِيَهُ لِنَفْسِهِ أَوْ لِلْقَوْمِ.

Pokok keempat: apakah ia membelinya untuk dirinya sendiri atau untuk kaum itu.

فَإِنَّ الْمُتَوَلِّي وَالْخَادِمَ كَالنَّائِبِ.

Karena pengelola dan pelayan seperti wakil.

وَلَهُ أَنْ يَشْتَرِيَ لَهُ وَلِنَفْسِهِ.

Dan ia boleh membeli untuk mereka dan untuk dirinya sendiri.

وَلَكِنْ يَكُونُ ذَلِكَ بِالنِّيَّةِ أَوْ صَرِيحِ اللَّفْظِ.

Tetapi itu harus dengan niat atau lafaz yang jelas.

وَإِذَا كَانَ الشِّرَاءُ يَجْرِي بِالْمُعَاطَاةِ.

Apabila pembelian berjalan dengan mu‘athah.

فَلَا يَجْرِي اللَّفْظُ.

Maka lafaz tidak berlaku.

وَالْغَالِبُ أَنَّهُ لَا يَنْوِي عِنْدَ الْمُعَاطَاةِ.

Dan biasanya ia tidak berniat ketika mu‘athah.

وَالْقَصَّابُ وَالْخَبَّازُ وَمَنْ يُعَامِلُهُ.

Tukang jagal, tukang roti, dan orang yang bermuamalah dengannya.

يَعْتَمِدُ عَلَيْهِ وَيَقْصِدُ الْبَيْعَ مِنْهُ.

Bersandar kepadanya dan berniat menjual kepadanya.

لَا مِمَّنْ لَا يَحْضُرُونَ.

Bukan kepada orang-orang yang tidak hadir.

فَيَقَعُ عَنْ جَبْهَتِهِ وَيَدْخُلُ فِي مِلْكِهِ.

Maka barang itu lepas darinya dan masuk ke dalam kepemilikannya.

وَهَذَا الأَصْلُ لَيْسَ فِيهِ تَحْرِيمٌ وَلَا شُبْهَةٌ.

Pokok ini tidak mengandung pengharaman dan tidak pula syubhat.

وَلَكِنْ يَثْبُتُ أَنَّهُمْ يَأْكُلُونَ مِنْ مِلْكِ الْخَادِمِ.

Tetapi membuktikan bahwa mereka makan dari milik pelayan.

الْأَصْلُ الْخَامِسُ: أَنَّ الْخَادِمَ يُقَدِّمُ الطَّعَامَ إِلَيْهِمْ.

Pokok kelima: pelayan itu menyajikan makanan kepada mereka.

فَلَا يُمْكِنُ أَنْ يُجْعَلَ ضِيَافَةً وَهَدِيَّةً بِغَيْرِ عِوَضٍ.

Maka tidak mungkin itu dijadikan jamuan atau hadiah tanpa imbalan.

فَإِنَّهُ لَا يَرْضَى بِذَلِكَ.

Sebab ia tidak rela demikian.

وَإِنَّمَا يُقَدِّمُ اعْتِمَادًا عَلَى عِوَضِهِ مِنَ الْوَقْفِ.

Ia menyajikannya dengan bergantung pada imbalannya dari wakaf.

فَهُوَ مُعَاوَضَةٌ.

Itu adalah suatu pertukaran.

وَلَكِنْ لَيْسَ بِبَيْعٍ وَلَا إِقْرَاضٍ.

Tetapi bukan jual beli dan bukan pinjam-meminjam.

لِأَنَّهُ لَوِ انْتَهَضَ لِمُطَالَبَتِهِمْ بِالثَّمَنِ.

Sebab, jika ia bangkit menuntut pembayaran dari mereka.

لَاسْتَبْعَدُوا ذَلِكَ.

Mereka akan menganggapnya jauh.

وَقَرِينَةُ الْحَالِ لَا تَدُلُّ عَلَيْهِ.

Petunjuk keadaan juga tidak menunjukkan hal itu.

فَأَشْبَهَ أَصْلًا تُنَزَّلُ عَلَيْهِ هَذِهِ الْحَالَةُ.

Maka perkara ini menyerupai dasar lain yang dapat diterapkan.

وَهُوَ الْهِبَةُ بِشَرْطِ الثَّوَابِ.

Yaitu hibah dengan syarat balasan.

أَعْنِي هَدِيَّةً لَا لَفْظَ فِيهَا.

Maksudnya, hadiah yang tidak ada lafaznya.

مِنْ شَخْصٍ تَقْتَضِي قَرِينَةُ حَالِهِ أَنَّهُ يَطْمَعُ فِي ثَوَابٍ.

Dari seseorang yang keadaan lahirnya menunjukkan bahwa ia berharap balasan.

وَذَلِكَ صَحِيحٌ وَالثَّوَابُ لَازِمٌ.

Itu sah, dan balasan menjadi wajib.

وَهُنَا مَا طَمِعَ الْخَادِمُ فِي أَنْ يَأْخُذَ ثَوَابًا.

Di sini, pelayan tidak berharap imbalan.

فِيمَا قَدَّمَهُ.

Atas apa yang ia sajikan.

إِلَّا حَقَّهُمْ مِنَ الْوَقْفِ.

Kecuali hak mereka dari wakaf.

لِيَقْضِيَ بِهِ دَيْنَهُ.

Agar ia bisa melunasi utangnya.

مِنَ الْخَبَّازِ وَالْقَصَّابِ وَالْبَقَّالِ.

Kepada tukang roti, tukang jagal, dan penjual bahan makanan.

فَهَذَا لَيْسَ فِيهِ شُبْهَةٌ.

Maka di dalamnya tidak ada syubhat.

إِذْ لَا يُشْتَرَطُ لَفْظٌ فِي الْهَدِيَّةِ.

Karena tidak disyaratkan lafaz dalam hadiah.

وَلَا فِي تَقْدِيمِ الطَّعَامِ.

Dan tidak pula dalam penyajian makanan.

وَإِنْ كَانَ مَعَ انْتِظَارِ الثَّوَابِ.

Walaupun ada harapan balasan.

وَلَا مُبَالَاةَ بِقَوْلِ مَنْ لَا يُصَحِّحُ هَدِيَّةً فِي انْتِظَارِ ثَوَابٍ.

Dan kita tidak peduli dengan pendapat orang yang tidak mensahkan hadiah yang disertai harapan balasan.

الْأَصْلُ السَّادِسُ: أَنَّ الثَّوَابَ الَّذِي يَلْزَمُ فِيهِ خِلَافٌ.

Pokok keenam: balasan yang wajib diberikan di dalamnya terdapat perbedaan pendapat.

فَقِيلَ: إِنَّهُ أَقَلُّ مُتَمَوَّلٍ.

Ada yang mengatakan minimal sesuatu yang bernilai.

وَقِيلَ: قَدْرُ الْقِيمَةِ.

Ada yang mengatakan senilai.

وَقِيلَ: مَا يَرْضَى بِهِ الْوَاهِبُ.

Ada yang mengatakan apa yang diridhai pemberi hadiah.

حَتَّى لَهُ أَنْ لَا يَرْضَى بِأَضْعَافِ الْقِيمَةِ.

Bahkan ia boleh tidak ridha walau dengan kelipatan harga.

وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ يَتْبَعُ رِضَاهُ.

Yang benar, ia mengikuti kerelaannya.

فَإِذَا لَمْ يَرْضَ رُدَّ عَلَيْهِ.

Jika ia tidak ridha, maka barang itu dikembalikan kepadanya.

وَهُنَا الْخَادِمُ قَدْ رَضِيَ بِمَا يَأْخُذُ.

Di sini pelayan itu telah ridha dengan apa yang ia ambil.

مِنْ حَقِّ السُّكَّانِ عَلَى الْوَقْفِ.

Dari hak penghuni wakaf.

فَإِنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ الْحَقِّ بِقَدْرِ مَا أَكَلُوهُ.

Jika memang hak mereka cukup sebanding dengan apa yang mereka makan.

فَقَدْ تَمَّ الأَمْرُ.

Maka urusan selesai.

وَإِنْ كَانَ نَاقِصًا وَرَضِيَ بِهِ الْخَادِمُ صَحَّ أَيْضًا.

Jika kurang, tetapi pelayan ridha, maka itu juga sah.

وَإِنْ عُلِمَ أَنَّ الْخَادِمَ لَا يَرْضَى.

Jika diketahui bahwa pelayan tidak akan ridha.

لَوْلَا أَنَّ فِي يَدِهِ الْوَقْفَ الآخَرَ.

Kecuali karena di tangannya ada wakaf lain.

الَّذِي يَأْخُذُهُ بِقُوَّةِ هَؤُلَاءِ السُّكَّانِ.

Yang ia ambil dengan kekuatan para penghuni ini.

فَكَأَنَّهُ رَضِيَ فِي الثَّوَابِ.

Seakan-akan ia ridha atas balasan itu.

بِمِقْدَارِ بَعْضِهِ حَلَالٌ وَبَعْضِهِ حَرَامٌ.

Dengan kadar yang sebagian halalnya dan sebagian haramnya.

وَالْحَرَامُ لَمْ يَدْخُلْ فِي أَيْدِي السُّكَّانِ.

Sedangkan yang haram itu tidak masuk ke tangan para penghuni.

فَهَذَا كَالْخَلَلِ التَّطَرُّقِ إِلَى الثَّمَنِ.

Ini seperti cacat yang merembes ke harga.

وَقَدْ ذَكَرْنَا حُكْمَهُ مِنْ قَبْلُ.

Kami telah menyebut hukumnya sebelumnya.

وَأَنَّهُ مَتَى يَقْتَضِي التَّحْرِيمَ وَمَتَى يَقْتَضِي الشُّبْهَةَ.

Yaitu kapan ia menuntut pengharaman dan kapan menimbulkan syubhat.

وَهَذَا لَا يَقْتَضِي تَحْرِيمًا عَلَى مَا فَصَّلْنَاهُ.

Kasus ini tidak menuntut pengharaman sebagaimana kami uraikan.

فَلَا تَنْقَلِبُ الْهَدِيَّةُ حَرَامًا.

Maka hadiah itu tidak berubah menjadi haram.

يَتَوَصَّلُ الْمُهْدِي بِسَبَبِ الْهَدِيَّةِ إِلَى حَرَامٍ.

Seolah pemberi hadiah sampai kepada yang haram melalui hadiah itu.

الْأَصْلُ السَّابِعُ: أَنَّهُ يَقْضِي دَيْنَ الْخَبَّازِ وَالْقَصَّابِ وَالْبَقَّالِ.

Pokok ketujuh: ia membayar utang tukang roti, tukang jagal, dan penjual bahan makanan.

مِنْ رِيعِ الْوَقْفَاءِ.

Dari hasil wakaf para wakif.

فَإِنْ وَفَى مَا أَخَذَ مِنْ حَقِّهِمْ.

Jika apa yang ia ambil dari hak mereka cukup.

بِقِيمَةِ مَا أَطْعَمَهُمْ.

Senilai dengan apa yang ia jamukan kepada mereka.

فَقَدْ صَحَّ الأَمْرُ.

Maka urusan menjadi sah.

وَإِنْ قَصَرَ عَنْهُ.

Jika tidak mencukupi.

فَرَضِيَ الْقَصَّابُ وَالْخَبَّازُ بِأَيِّ ثَمَنٍ كَانَ.

Tetapi tukang jagal dan tukang roti ridha dengan harga apa pun.

حَرَامًا أَوْ حَلَالًا.

Baik haram maupun halal.

فَهَذَا خَلَلٌ تَطَرَّقَ إِلَى ثَمَنِ الطَّعَامِ أَيْضًا.

Maka ini juga merupakan cacat yang merembes ke harga makanan.

فَلْيَلْتَفِتْ إِلَى مَا قَدَّمْنَا مِنَ الشِّرَاءِ فِي الذِّمَّةِ.

Karena itu, perhatikan kembali apa yang telah kami jelaskan tentang pembelian secara tanggungan.

ثُمَّ قَضَاءِ الثَّمَنِ مِنَ الْحَرَامِ.

Lalu pelunasan harga dari yang haram.

هَذَا إِذَا عُلِمَ أَنَّهُ قَضَاهُ مِنْ حَرَامٍ.

Ini jika diketahui bahwa ia membayarnya dari yang haram.

فَإِنْ احْتَمَلَ ذَلِكَ وَاحْتَمَلَ غَيْرَهُ.

Jika hanya mungkin demikian dan mungkin pula tidak.

فَالشُّبْهَةُ أَبْعَدُ.

Maka syubhatnya lebih jauh.

وَقَدْ خَرَجَ مِنْ هَذَا.

Dari sini dapat disimpulkan.

أَنَّ أَكْلَ هَذَا لَيْسَ بِحَرَامٍ.

Bahwa memakan makanan itu tidak haram.

وَلَكِنَّهُ أَكْلُ شُبْهَةٍ.

Tetapi termasuk makanan syubhat.

وَهُوَ بَعِيدٌ مِنَ الْوَرَعِ.

Dan itu jauh dari wara’.

لِأَنَّ هَذِهِ الأُصُولَ إِذَا كَثُرَتْ.

Sebab bila pokok-pokok semacam ini banyak.

وَتَطَرَّقَ إِلَى كُلِّ وَاحِدٍ احْتِمَالٌ.

Dan pada tiap pokok ada kemungkinan tertentu.

صَارَ احْتِمَالُ الْحَرَامِ بِكَثْرَتِهِ أَقْوَى فِي النَّفْسِ.

Maka kemungkinan haram menjadi lebih kuat dalam jiwa.

كَمَا أَنَّ الْخَبَرَ إِذَا طَالَ إِسْنَادُهُ.

Sebagaimana sebuah berita jika sanadnya panjang.

صَارَ احْتِمَالُ الْكَذِبِ وَالْغَلَطِ فِيهِ أَقْوَى.

Kemungkinan dusta dan salah di dalamnya menjadi lebih kuat.

مِمَّا إِذَا قَرُبَ إِسْنَادُهُ.

Daripada bila sanadnya dekat.

فَهَذَا حُكْمُ هَذِهِ الْوَاقِعَةِ.

Demikianlah hukum kasus ini.

وَهِيَ مِنَ الْفَتَاوَى.

Dan itu termasuk ranah fatwa.

وَإِنَّمَا أَوْرَدْنَاهَا.

Kami mengemukakannya.

لِيُعْرَفَ كَيْفِيَّةُ تَخْرِيجِ الْوَقَائِعِ الْمُلْتَفَّةِ الْمُلْتَبِسَةِ.

Agar diketahui cara menelurkan hukum bagi kasus-kasus yang rumit dan membingungkan.

وَأَنَّهَا كَيْفَ تُرَدُّ إِلَى الأُصُولِ.

Dan bagaimana semuanya dikembalikan kepada kaidah-kaidah dasar.

فَإِنَّ ذَلِكَ مِمَّا يَعْجِزُ عَنْهُ أَكْثَرُ الْمُفْتِينَ.

Sebab hal itu tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan mufti.